State of Grace (Chapter 2)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Game

Unless you play it with good and right

-State of Grace by T.S-

“Kau benar-benar tidak berguna!” Suara nyaring Seulgi membangunkan Sehun dari tidurnya.

“Sial!” Rutuk Sehun. Sehun kemudian memandang Seulgi yang sedang di ambang pintu kamarnya dengan tatapan tajam, “Kepalaku sudah hilang pusingnya. Mendengar teriakanmu membuat kepalaku nyeri lagi!” Desisnya dengan tajam.

“Ohhhh… Benar-benar pusing? Karena mobilmu atau karena mantan pacarmu?”

“Jika tidak ada hal yang berguna dalam perkataanmu, pergilah dari sini!” Lagi-lagi Sehun mendesis tajam.

Seulgi mengangkat kedua tangannya, “Baiklah, aku akan segera pergi.” Seulgi menutup pintu kamar Sehun tetapi ia membukanya kembali, “Oh,ya. Professor Park mencari dirimu. Dia menyampaikan kepadaku agara kau datang hari ini sebelum makan siang.”

Blam!

Seulgi benar-benar sudah menghilang dari pandangan Sehun. Sehun mengacak rambutnya. Kekesalannya semakin memuncak. Pertama, karena Seulgi membangunkan tidurnya. Kedua, karena Professor Park. Ia menghela nafasnya dan bangkit dari tempat tidur.

‘Aku seharusnya tidak menyetujui permintaannya.’ Rutuk Sehun ketika memilih pakaian. Ia tidak lupa membawa jaket. Dia tidak ingin mengulangi kesalahannya kemarin. Sehun mengerjapkan matanya, kemudian ia berlari menuju meja belajaranya. Ia kemudian mengobrak-ngabrik tumpukan barang yang ada disana, Sehun tersenyum lebar ketika menemukan barang yang dicarinya. Sebuah sarung tangan. Sarung tangan yang diberikan oleh Krystal.

Limabelas menit kemudian Sehun sudah berpakaian lengkap. Tak lupa ia memakai sarung tangan yang diberi oleh Krystal. Ia tersenyum melihat sarung tangan yang dipakainya. Sarung tangan ini benar-benar hangat dan itulah yang membuat Sehun menyukai sarung tangan ini.

Sehun kemudian melangkahkan kaki keluar kamar. Pada saat dibawah, Sehun dihadang oleh ibunya yang menanyakan kenapa ia keluar rumah padahal ia sedang sakit. Sehun menjawab jika ia ada jadwal mendadak sehingga ia harus keluar rumah. Sehun menambahkan jika ia akan pulang sebelum jam makan malam, lebih tepatnya sebelum pukul delapan malam.

“Oh Sial! Aku harus naik kereta.” Keluh Sehun ketika ia keluar dari rumahnya.

.

.

.

This day just got even better

Itu adalah sebuah kalimat yang sangat tepat mendeskripsikan hari ini, untuk Sehun. Dengan kepalanya pusing, udara yang sangat dingin, Sehun harus berkutat dengan bahan materi yang akan diajarkan oleh Professor Park besok. Sehun melepaskan kacamatanya dan memijit pelipisnya.

Professor Park adalah salah satu dosen di jurusan hukum Universitas Yonsei. Ia sangat terkenal karena cara mengajarnya yang tidak membosankan. Sayangnya, asistennya keluar dan ia bingung siapa yang akan membantunya menyiapkan materi. Maka dari itu, Professor Park meminta Sehun, murid emasnya yang sedang menyusun skripsi menjadi asisten dadakan.

Awalnya Sehun menerimanya dengan senang hati karena itu merupakan suatu kebanggaan baginya. Ditunjuk membuat bahan mengajar untuk seorang dosen paling terkenal di jurusan hukum. Tetapi sekarang ia merutuki pilihannya. Ini karena tuntutan kesempurnaan oleh Professor Park. Sehun tidak menyalahkan karena jika bahan materinya mengandung sedikit saja kesalahan akan menurunkan citra Professor Park. Masalahnya sekarang kepalanya sangat pusing dan Professor Park menyurhnya menyeselasaikan materinya hari ini juga. Professor Park sudah menyediakan buku-bukunya, tetapi Sehun harus merangkumnya. Itulah kenapa ia merutuki pilihannya.

Sehun memutar-mutar pulpennya, tanda jika ia sedang berpikir. Sehun kemudian bangkit dari tempat duduknya dan melihat kesekeliling. Ini merupakan kebiasaan jika otaknya tidak bisa berpikir. Tiba-tiba mata Sehun berhenti ketika melihat seorang gadis yang sedang memunggunginya. Gadis tersebut sedang berbicara dengan penjaga perpustakaan.

Sehun terus melihatnya, ia merasa seperti pernah melihat orang ini. Gadis tersebut kemudian berbalik dan Sehun ingat siapa orang itu. Krystal. Krystal saat ini juga sedang melihat Sehun. Sepertinya matanya juga menangkap sosok Sehun ketika berbalik. Sehun melambaikan tangan ke arah Krystal dan ia membalas lambaian tangan Sehun. Kemudian Krystal melangkahkan kakinya menuju tempat lain.

.

.

.

Krystal POV

          Aku keluar dari perpustakaan besar ini dengan langkah gontai. Pertama, aku belum makan dari tadi siang. Kedua, aku harus mencari buku yang tepat agar tidak dua kali kesini. Akhirnya, setelah empat jam mencari buku yang bagus, aku menemukan bukunya. Buku tersebut terdiri dari empat jilid. Tak apalah. Dengan tenaga yang tersisa aku mendorong pintu kaca perpustakaan. Tetapi tangan seorang pun mendahului diriku. Aku pun menoleh ke belakang, untuk melihat siapa yang melakukan itu.

.

.

.

Krystal terkejut ketika ia melihat Sehun di belakangnya. Sehun sedang mendorong pintu untuk mereka berdua. Dia bingung untuk bereaksi seperti apa. Tetapi ia tetap melangkahkan kakinya keluar perpustakaan.

Di luar, udara sudah sangat dingin. Krystal menggosokkan hidungnya karena ingin bersih.

“Aku tidak menyangka akan bertemu dirimu disini.” Sehun membuka percakapa di antara mereka.

“Aku juga.” Jawab Krystal pendek. Karena ia tidak tahu harus berbicara apa lagi.

“Ini adalah pertama kalinya aku melihat mu. Jadi, kau pasti bukan mahasiswi di sini.”

Krystal menganggukan kepalanya, “Iya. Aku hanya meminjam buku disini. Jadi, kau pasti kuliah di sini.”

“Iya. Lebih tepatnya di jurusan hukum. Kau kuliah dimana?”

Krystal terdiam. Dari matanya terlihat ke enganan untuk menjawab.

“Kau tidak harus menjawabnya jika kau tidak mau.” Kata Sehun. Ia sebenarnya merasa sangat penasaran, tetapi ia harus menahannya. Gadis ini tidak nyaman dengan topik yang dibicarakan Sehun.

“Aku tidak kuliah. Aku hanya lulusan SMA. Sekarang aku hanya pekerja lepas biasa.” Krystal akhirnya menjawab. Dengan suara yang kaku seperti dia malu terhadap dirinya.

Sehun menatap teduh Krystal, “Kau tidak harus malu. Tidak semua orang sukses dulunya kuliah.”

Krystal mendongak ke arah Sehun dan Sehun tersenyum tipis.

“Jadi buku yang kau pinjam pasti ada hubungannya dengan pekerjaan mu?”

Krystal membuka mulutnya. Bukan untuk menjawab tetapi untuk bersin.

Sehun mendecakkan lidahnya, “Kau ini sudah pakai jaket tetapi masih saja bersin.”

“Walaupun sudah memakai jaket tetapi aku tidak bisa bertahan lama di udara dingin.” Krystal berkata sambil menggosokkan hidungnya.

Sehun tersadar. Mereka sudah lama berada di luar. Ia tidak menyadari hal itu, “Sebaiknya kita mengobrol sambil berjalan. Kau pasti naik kereta bukan?”

Krystal tidak menjawab tetapi mengikuti Sehun yang berjalan mendahuluinya.

“Jadi, buku apa yang kau pinjam?” Tanya Sehun ketika langkah mereka sudah sama.

“Tentang tata letak panggung.”

“Jadi kau bekerja di teater?”

“Bisa jadi.”

Sehun menatap bingung Krystal, “Jelaskan apa maksudmu ‘bisa jadi’.”

“Oh, astaga! Kita ini orang asing!”

Sehun mengerang kesal, “Lupakan kata itu. Kita sudah saling mengenal nama.”

“Cuman nama.” Krystal menambahkan.

Sehun menggerutu, “Kita masih bisa saling mengenal bukan?”

“Tapi aku tidak mengenal mu. Bisa jadi kau adalah orang jahat.”

Sehun menggaruk kepalanya, tanda jika kekesalannya memuncak, “Aku bisa pastikan jika aku bukan orang jahat. Kau yang mungkin orang jahat.”

Krystal menatap Sehun tajam, “Kau yang mungkin orang jahat. Jelas kau yang menanyai diriku. Bukan aku.”

“Oh, jawab saja pertanyaanku!!”

“Baiklah.” Krystal akhirnya mengalah, “Aku ini adalah pekerja bebas. Jadi pekerjaanku banyak. Rata-rata aku bekerja di tiga tempat dalam satu hari. Aku mempunyai enam pekerjaan. Tiga mengajar, dua menjadi pelayan di kafe, satu lagi bekerja di teater.”

Sehun menatap gadis di sampingnya dengan takjub. Ia ingin berkomentar, tetapi telepon Krystal berbunyi.

“Hallo. Iya ada apa? Oh, diganti jam delapan? Baiklah saya bisa. Iya. Iya. Saya minta maaf atas hal ini. Baiklah. Terimakasih.” Krystal kemudian menaruh hp-nya di sakunya.

“Kau harus bekerja lagi malam ini?”

Krystal mengangguk.

“Jadi kau pulang dulu baru mengajar?”

Krystal menatap Sehun aneh. Sepertinya Sehun sangat ingin tahu kehidupannya, “Tidak.” Jawabnya pendek. “Aku makan malam dahulu habis itu langsung ke tempat mengajar. Pulang ke rumah menghabiskan ongkosku.” Lanjutnya lagi.

Sehun mengangguk, “Jika begitu aku akan mentraktirmu makan malam.”

“Untuk apa?!” Tanya Krystal dengan nada aneh dan terkejut.

“Entahlah. Mungkin untuk berbicara lebih lama denganmu. Kau orang yang asyik di ajak berbicara.”

Krystal terdiam. Ia merasa suaranya tidak keluar, seperti tidak ada udara. Udaranya terasa sangat menipis karena jantungnya berdetak sangat kencang.

‘ Oh, ayolah…..Kata-kata seperti g tadi banyak mengandung arti. Bukan hanya ia tertarik kepada mu bukan?’

“Krystal.” Sehun menyadarkan Krystal dari pikirannya sendiri.

“Baiklah.” Jawabnya singkat. Krystal tidak dapat berbohong jika keinginan menghabiskan waktu dengan Oh Sehun lebih kuat. Ia tidak mementingkan rasa sakit yang mungkin ia dapatkan nanti. Pokoknya, ia ingin menghabiskan waktu berharga bersama Oh Sehun.

“Ummm…” Lagi-lagi suara Sehun menyadarkan Krystal dari lamunannya. “Kau suka makanan Jepang? Aku tahu restoran Jepang yang enak.”

.

.

.

Sehun POV

          Jujur aku sangat lelah. Tetapi hari ini sangat menarik. Maksudku, setiap aku bertemu dengan Krystal hari-hariku menjadi menarik. Ia gadis yang menyenangkan. Sangat menyenangkan. Kami bercerita sangat banyak tadi. Mulai dari keluarga kami, teman-teman masa kecil kami, hal-hal lucu yang pernah kami alami, dan tentang liburan yang paling buruk. Kami seperti teman lama yang bertemu kembali. Sayangnya kami baru bertemu kemarin.

          “Aku duluan.” Krystal membungkuk hormat kepada ku. Aku juga membungku walaupun tidak sempurna karena aku sedang duduk.

          Aku melihat gadis yang sedang turun itu dari jendela, aku kemudian melambaikan tangan ke arahnya. Setelah kereta berjalan, aku melihat jam, hampir mau jam delapan dan Krystal masih harus mengajar. Ia berkata jika jam mengajarnya selesai pada pukul jam sembilan. Itu Dari tempat mengajarnya ke rumahnya membutuhkan satu jam. Itu artinya, ia sampai pada pukul sepuluh malam. Aku menggelengkan kepalaku. Aku sudah tidur pada jam segitu. Suara speaker kereta membuyarkan lamunan ku. Rupanya aku melamun sedari tadi sehingga tidak tersadar jika sudah sampai stasiun rumah.

          Udara sangat dingin sehingga aku merapatkan jaketku. Rumahku sangat dekat dengan stasiun. Dulu ayahku membeli rumah disini karena dekat dengan stasiun, ia bekerja menggunakan kereta. Sekarang ia menggunakan mobil.   Bagi ku yang baru beberapa kali menggunakan kereta, jarak dari stasiun sangat jauh.

          Huff…

          Aku menghembuskan nafasku ketika sudah sampai di depan rumahku.

.

.

.

Sehun membuka pintu rumahnya dengan tenaga yang terakhirnya. Sehun mengedarkan pandangannya ke ruang tamu. Ada yang aneh, begitulah yang dipikirkan Sehun ketika melihat ruang tamunya. Seperti ada tamu. Siapa yang datang malam-malam?

Mom..” Panggil Sehun. Ia merasa yakin ibunya belum tidur. Karena dari minuman yang ada di meja, tamunya baru saja pulang.

“Iya sayang..” Mrs.Oh menghampiri Sehun.

“Oh tidak ada apa-apa. Hanya memanggil untuk memastikan Mom belum tidur.”

Mrs. Oh tersenyum, “Mom memang belum tidur. Mom baru saja menerima tamu. Oh, ya kamu tahu siapa yang datang kesini?”

“Tidak.” Jawab Sehun dengan malas. Ibunya pasti membicarakan teman arisannya.

“Wendy datang kesini. Ia mencarimu tetapi Mom bilang jika kamu belum pulang. Akhirnya kami bercerita panjang lebar.”

Wendy?!

          . Bahunya yang tegap menurun. Ia juga bernafas sangat lambat. Mendengar nama Wendy sama saja seperti sedang menaruh beban berat ke pundaknya, “Sehun langsung ke kamar ya Mom.” Sehun langsung meninggalkan ibunya.

“Sehun tidak makan dulu?”

“Tidak. Sehun langsung ingin tidur saja.” Jawabnya tanpa menoleh ke ibunya.

.TBC.

State of Grace (Chapter 1)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Game

Unless you play it with good and right

-State of Grace by T.S-

Seoul, ibukota dari Korea Selatan. Pusat dari Negara Korea. Kota yang tidak pernah tidur. Selalu ramai. Apalagi pada saat jam lima sore. Jam pulang kerja dan jam pulang anak sekolah. Jalan yang melempang kosong sekarang terisi oleh mobil-mobil. Trotar rasanya tidak cukup menampung pejalan kaki. Semuanya terlihat seperti semut berjalan.

Seorang perempuan merapatkan jaketnya. Ia menghelakan nafasnya. Udara terasa sangat dingin. Padahal baru memasuki musim gugur. Ia mempercepat langkah kakinya. Sudah pukul lima lewat limabelas. Ia harus cepat atau terlambat bekerja.

Tap!

Langkah perempuan terhenti ketika melihat sebuah kedai kopi. Diudara yang sangat dingin ini menyesap kopi merupakan ide yang bagus bukan? Ia pun melangkahkan kakinya ke kedai kopi tersebut.

“Selamat datang di kedai kopi kami. Anda ingin memesan apa?” Pelayan ber-name tag Shikyung tersenyum ramah kepadanya.

Caffe Latte-nya satu.”

Pelayan tersebut kemudian menggambil gelas kopi, “Siapa nama anda?”

“Krystal.”

Pelayan tersebut menuliskan namanya di gelas kopi, “Baiklah tunggu sebentar. Jika sudah selesai, saya akan memanggil anda.”

Krystal hanya mengangguk. Ia meminggir dari kasir. Udara sangat dingin kali ini. Itulah yang dipikirkan oleh Krystal. Bisa ia pastikan jika bibirnya sudah pucat pasi.

“Nyonya Krystal.”

Krystal tersentak kemudian menuju ke arah kasir, “Terimakasih.” Ucapnya ketika mengambil pesanannya.

Ia melangkahkan kakinya kembali dan menuju stasiun terdekat. Krystal menghela nafas lega ketika memasuki stasiun. Udara di stasiun lebih hangat daripada udara di luar. Krystal membeli tiket kemudian menunggu kereta datang. Tidak sampai limabelas menit kerata datang. Krystal segera masuk dan ia menghela nafas lega-untuk kedua kalinya karena ada tempat duduk yang kosong.

Krystal merasakan kehangatan diseluruh tubuhnya ketika ia menyesap Coffe Latte-nya. Ia menyesap kembali Coffe Latte untuk kedua kalinya.

Krystal merasakan jika kereta melambat, sudah memasuki stasiun baru rupanya. Ia pun kembali menyesap Coffe Latte-nya tanda jika ia tidak peduli.

“Hosh…Hosh..Hosh..”

Krystal langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan ia melihat seorang laki-laki yang aneh. Itulah yang dapat ia katakan. Maksudnya, dimusim gugur ini dia hanya memakai kaos berlengan panjang dan celana panjang. Pasti ia kedinginan. Dan pasti suara nafasnya tadi karena ia harus berlari supaya bisa cepat sampai di stasiun, yang notabane-nya lebih hangat.

Laki-laki tersebut duduk disebelahnya. Dan mata Krystal terus melihatnya. Laki-laki tersebut menoleh ke arah Krystal, lebih tepatnya ke arah Coffe Latte-nya.

“Kau mau?” Krystal menyodorkan Coffe Latte-nya.

Lelaki tersebut hanya bisa tersenyum malu, “Tidak terimakasih.”

“Tidak apa-apa ini.” Krystal meletakkan Coffe Latte ditangan laki-laki tersebut.

Lelaki tersebut nampak bingung, tetapi ia meminum Coffe Latte Krystal. Dan Krystal harus menahan tawanya melihat ekspresi laki-laki tersebut ketika menyesap Coffe Latte. Seperti orang yang tidak bisa bernafas akhirnya bisa bernafas.

“Terimakasih…” Lelaki tersebut melihat nama yang tertera di cup, “Terimakasih Krystal.”

“Ya. Sama-sama.”

Tangan laki-laki tersebut menyodorkan cup Coffe Krystal ke dirinya. Dan ia mengambilnya.

Deg!

                  Jantung Krystal rasanya berhenti ketika tangan laki-laki tersebut mengenggam tangannya. Dengan cepat ia menarik tangannya. Lelaki tersebut menatapnya dengan aneh, beberapa detik kemudian mukanya memerah, menahan malu.

“Maaf. Aku tidak bermaksud membuat mu takut. Hanya saja tanganmu hangat.”

“Ma-maksudku…” Laki-laki tersebut kembali berbicara ketika melihat ekspresi aneh yang tertera di wajah Krystal, “Tanganku mati kedinginan. Jadi.. Yah…”

“Itu salahmu memakai pakaian seperti ini dimusim gugur.”

Lelaki tersebut menoleh dan raut wajahnya berubah, ia terlihat kesal, “Well… Aku tidak akan memakai pakaian ini jika saja…” Tiba-tiba ia berhenti berbicara, “Lupakan. Kita orang asing.” Lanjutnya.

“Aku tidak bermaksud membuat mu marah. Maafkan aku.”

Laki-laki tersebut terenyuh ketika melihat wajah menyesal Krystal, “Aku yang seharusnya meminta maaf, untuk kedua kalinya. Aku hanya kesal karena mobil ku rusak padahal aku harus menghadiri acara keluarga malam ini.”

Krystal pun melepas sarung tanganya, “Ini. Untukmu.”

Lelaki tersebut tertawa, “Tidak usah. Sungguh aku tidak apa-apa.”

“Kau akan sakit. Aku tidak bisa memberi jaketku karena jujur, aku akan kedinginan. Tetapi aku bisa memberi sarung tanganku. Tanganku memang akan kedinginan, tetapi aku dapat menaruhnya di kantong jaketku.”

Lelaki tersebut menatap Krystal aneh, “Aku tidak mengerti dirimu. Sungguh. Tapi sepertinya dirimu memaksa,” Lelaki tersebut mengambil sarung tangan Krystal, “Jadi aku akan mengambilnya.”

Krystal pun hanya terdiam. Tidak tahu apa yang harus ia bicarakan.

“Aku Oh Sehun.”

Krystal tersentak, “Apa? Maksudku kenapa kau memberi tahu namamu?”

Sehun tersenyum jahil, “Supaya kau dapat mengingatku. “

Krystal merasakan dirinya tidak bisa bernafas. Apa dia jatuh cinta kepada laki-laki disampingnya ini? Apakah Sehun juga merasakan hal yang sama?

“Karena jika kau mengingatku, kau dapat membantu ku. Tentu saja jika kita bertemu lagi.”

Krystal membuang nafasnya, merutuki pikiran bodohnya tadi. Ia menoleh ke jendela dan matanya membulat, “Ya ampun! Permisi aku harus turun sekarang. Senang bertemu denganmu!” Tanpa babibu lebih lama dia langsung keluar dari kereta.

“Oh dear, untung saja stasiun ini tidak terlewat.” Krystal membetulkan letak tasnya dan melangkahkan kakinya kembali.

.

.

.

“Ya ampun sayang! Apa yang terjadi dengan dirimu?” Mrs. Oh syok ketika ia melihat anaknya, Oh Sehun pulang.

Sehun terlihat seperti es batu karena udara yang sangat dingin. Rambutnya berantakan karena angin yang sangat kencang. Mukanya sangat pucat. Bibirnya bewarna ungu.

“Sehun dirimu   sudah pulang? Cepatlah bersiap-siap…..” Seorang pria paruh baya, tepatnya ayah Sehun menghentikan kalimatnya ketika melihat anaknya.

Mrs. Oh segera menghampiri Sehun, “Sayang lihatlah anak kita. Ia sepertinya akan sakit. Bagaimana jika…”

“Tidak!” Mr.Oh memotong ucapan istrinya, “Dia harus tetap ikut apapun yang terjadi.”

Mrs. Oh menatap Sehun dan Mr. Oh bergantian, “Tapi.. Dia…”

Sehun menepuk pundak ibunya, “Aku merasa sehat Mom. Dad tunggulah sebentar, aku akan bersiap-siap.” Sehun langsung melewati kedua orangtuanya.

.

.

.

Kulitnya terlihat tidak terlalu pucat lagi. Bibirnya juga tidak lagi bewarna ungu. Sehun sekarang sedang menyisir rambutnya. Sebenarnya, ia merasa agak pusing. Tapi ia tidak dapat melawan ayahnya yang sangat keras kepala.

“Sayang..”

Sehun menoleh dan mendapati ibunya di ambang pintu kamarnya.

Mrs. Oh terlihat sangat cantik malam ini. Ia mengenakan gaun hitam. Rambutnya disanggul. Terdapat kalung mutiara yang membuatnya semakin bersinar malam ini.

Mrs. Oh mendekati Sehun untuk memasangkan dasi ke anaknya.

“Anak mom terlihat sangat ganteng malam ini.” Mrs.Oh mengelus pelan kepala Sehun, “Ayo kita berangkat.”

Sehun menerima uluran tangan Mrs. Oh dengan senyuman, “Ya. Sebaiknya kita berangkat sekarang atau akan terlambat.”

.

.

.

Selama makan malam Sehun tidak bisa tenang. Sesekali ia melirik jam tangannya untuk memastikan waktu sudah pukul 21.00 KST. Selama di perjalanan ia bisa tidur tetapi sekarang, sejak setengah jam yang lalu, tentu ia tidak tidur lagi. Akibatnya, kepalanya yang tadi pusing, yang sempat hilang ketika tidur, muncul kembali dan sepertinya semakin parah.

Sehun menoleh ke samping kirinya.

“Aku memanggil mu dari tadi. Ada apa Oh Sehun?” Tanya Seulgi, sepupu terdekat Sehun.

Sehun memberengut, “Hanya sedikit pusing.”

“Bukannya dirimu selalu seperti itu? Pusing jika mengikuti acara seperti ini?”

Sehun terdiam. Memang benar yang dikatakan Seulgi, tapi pusing karena terlalu banyak beban yang ia pikirkan bukan pusing karena sakit.

“Aku tadi lupa membawa jaket. Mobilku juga rusak. Jadi aku harus pulang menggunakan kereta. Itulah mengapa aku sedikit pusing.”

Seulgi tertawa, “Kau harus menahan rasa pusing mu itu. Malam ini temanku datang dan ia sangat ingin bertemu dengan mu.”

Sehun memutar bola matanya, “Maksudmu salah satu temanmu lagi? Dulu Seungyeon sekarang siapa?”

“Seunghon.”

Sehun terlihat berpikir ketika mendengar nama tersebut. Seulgi yang disampingnya menarik nafas, “Wendy Seunghon Son. Itu yang ingin bertemu denganmu. Apakah kau lupa siapa itu..”

“Ya. Aku ingat dia. Tunggu dia?!”

Seulgi tersenyum lebar, “Benar. Mantan pacarmu pulang lagi ke Korea. Dia berkata jika ia sangat kangen denganmu.”

Sehun tidak memberi tanggapan lagi. Ia berpura-pura fokus ke makanannya. Entahlah. Ia hanya merasa perasaannya berubah.

.

.

.

Sehun POV

                  Kepalaku benar-benar pusing saat ini. Aku memang selalu pusing jika menghadiri acara makan malam yang disebut sebagai acara makan malam keluarga. Sebenarnya ini adalah acara makan malam keluarga kaya. Mereka mengadakan acara ini untuk menaikkan status sosial mereka. Itulah menurutku.

                  Maksudku mereka benar-benar berusaha yang terbaik ketika datang ke pesta ini. Baju-baju mereka. Dan akting mereka sebagai keluarga yang bahagia.

                  Contohnya adalah diriku. Aku juga bukan seorang anak yang broken home tetapi ini terasa sangat memuakkan. Dipaksa ikut untuk menghindari gosip. Harus baik kepada semua orang agar tidak di cemooh. Ini benar-benar memuakkan.

                  Seulgi, sepupu terdekatku adalah orang yang paling menghibur disini. Satu-satunya teman mengobrol ku dimana aku tidak harus menjaga sikapku.

                  “Wendy SeungHon Son. Itulah orang yang ingin bertemu denganmu. Apakah kau lupa siap…”

                  Wendy…

                  “Ya aku ingat. Tunggu dia?!”

                  Gadis lily..

                  Cinta pertamaku…

                  Pacar pertamaku…

                  Orang yang mencampakanku…

                  Orang yang paling menyakiti ku..

                  Rasanya, pusing di kepalaku hilang. Namanya… Benar-benar membuatku kacau.

                 “Benar. Mantan pacarmu pulang lagi ke Korea. Dia berkata jika ia sangat kangen denganmu.”

                  Aku pun menyantap makananku. Walau aku sama sekali tidak menikmatinya.

                  “Sehun apakah engkau…”

                  Aku meletakkan garpu, “Tidak. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Katakan kepada dia jika aku pulang duluan karena harus belajar untuk kuliah esok.”

                  “Tapi tadi katamu, kepala mu pusing..”

                  “Kalau begitu katakanlah jika aku sakit dan butuh istirahat!”

.TBC.