State of Grace (Chapter 5)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

“Jadi.. Kau menerimanya Fanny-chan?”

Tifannya mengangguk, “Tentu. Dia sangat-sangat hebat. Menakjubkan.”

Terdengar suara tawa dari ujung seberang, “Sudah kubilang jika ia menakjubkan. Jadi, apa dia memberi persyaratan yang susah?”

Sekarang Tifanny-lah yang tertawa, “Tidak. Jikapun susah aku akan menyanggupinya, dia sangat berharga. Hanya ingin aku mengizinkannya bekerja di teater sampai panggung selesai dan gaji yang diberi setiap minggu.”

“Ah, begitu. Tifanny-ah, Mmm..   Bukannya dia mirip sekali dengan Jessica? Teknik melukisnya, bukannya mirip sekali dengan Jessica?”

“Iya aku tahu. Mirip sekali. Apa mungkin jika Jessica sempat mengajarnya? Jessica pindah ke Amerika dan dulu dia tinggal di Amerika.”

“Ya, ampun. Amerika itu besar. Terdiri dari 50 negara bagian.”

“Ah, benar juga. Oh, Hyoyeon-ah nanti kita sambung lagi ya… Aku sudah sampai rumah. Bye!” Tifanny kemudian menutup hp dan keluar dari mobilnya.

Trek! Ia membuka pintunya dan berjalan menuju kamarnya. Tetapi langkah Tifanny terhenti ketika ia melihat anak satu-satunya tertidur di ruang keluarga. Tifanny mendekat ke arah anaknya, “Sehun-ah.. Sehun-ah.. Sehun-ah ireonna… Jangan tidur disini…” Tifanny menguncang-guncang bahu anaknya.

Mata Sehun sedikit-sedikit terbuka, “Mom? Mom sudah pulang?”

.

.

.

Keesokan harinya,

Krystal menghembuskan nafasnya ketika keluar dari Cafe tempat dulu ia kerja. Sungguh, ini terasa sangat berat, keluar dari pekerjaan ini. Victoria Oemma-atasannya sekaligus pemilik Cafe tersebut berkata, ia senang Krystal mendapat pekerjaannya yang lebih baik. Krystal menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arah Cafe, Cafe tersebut bernama f(x). Aneh bukan? Seperti nama persamaan dalam rumus matematika. Tapi, tempat tersebut menyimpan jutaan kenangan di pikiran Krystal.

Victoria Oemma, sebenarnya dia lahir tahun 1887, tapi Krystal memanggilnya Oemma, sudah seperti sahabat baiknya bahkan ibunya sendiri. Menggantikan peran ibunya yang meninggalkannya di panti asuhan. Kemudian Luna, penjaga kasir yang talk-active, lebih tua dari Krystal tetapi Krystal sangat suka menjahilinya karena Luna sok bisa bahasa inggris. Amber, gadis tomboy yang selalu menjaganya, menghiburnya, menyemangatinya. Yang terakhir Sulli, gadis seumuran dengannya yang sangat cantik, sopan, ramah, dan ceria. Sulli sangat pandai membuat orang tertawa dan mempunyai senyum yang sangat cantik. Krystal akan merindukan mereka semua. Merindukan perhatian Victoria. Merindukan celotehan Luna. Merindukan Amber yang selalu ada disampingnya. Merindukan senyuman manis Sulli. Dia… Dia akan merindukkan apapun yang terjadi di Cafe tersebut.

.

.

.

Sehun terlihat berlari-lari kecil kemudian masuk ke mobilnya Kai.

“Yak babo, kenapa lama sekali?” Sapa Kai ketika Sehun masuk.

“Untung mau datang. “ Sehun merapikan rambutnya yang berantakkan.

Kai hanya mendengus, “Ingat ya..”

“Ya.. Ya..” Potong Sehun, “Aku ingat. Kita akan masuk ke Cafe itu dan aku berpura-pura baik kepadamu supaya pacarmu itu melihat jika dirimu sudah berubah. Mengerti. Ya, ya aku mengerti.”

Kai tersenyum puas, “Baguslah. Oh, dan ingat apa yang akan dirimu katakan.”

Sehun mendesah, “Ya, aku sudah ingat. Aku akan berkata, ‘dirimu pasti Sulli bukan? Kai selalu membicarakanmu.’ Iya, aku ingat..”

Kai kembali tersenyum puas, “Kalau begitu ayo!”

“Tunggu!” Sehun menghentikan gerakkan Kai, “Yang mana pacarmu? Tunjukkan kepadaku. Jangan sampai aku berbicara seperti tadi pada orang yang salah.”

Kai menatap Sehun gemas, “Itu.. Yang paling menarik perhatian.” Tunjuk Kai ke dua orang cewek yang sedang berbicara di depan sebuah Cafe.

“Astaga! Kau.. Kau berpacaran dengan cowok?!”

“Yak! Babo! Yang disebelahnya! Bukannya sudah kubilang jika yang paling menarik perhatian?!” Kai menunjuk cewek yang sedang tersenyum manis.

“Ah, yang itu.” Kata Sehun melirik gadis yang ditunjuk Kai. Sehun kemudian menoleh ke Kai, “Tadi kau bilang yang paling menarik bukan? Yang disebelahnya…”

Kai memotong omongan Sehun, “Yak, cepatlah!” Katanya kemudian keluar dari mobil. Sehun tersenyum geli kemudian mengikuti Kai.

Mereka berdua berjalan dan memasukki Cafe tempat pacar Kai bekerja, Cafe tersebut bernama f(x) seperti rumus persamaan di matematika.

“Selamat datang di Cafe kami..” Sapa perempuan yang beradai di kasir. Kai dan Sehun hanya tersenyum. “Oh, kau Kai Kim bukan? Pacarnya Sulli?” Tunjuk perempuan itu ke… Ke Sehun.

Sontak saja Sehun menahan tawanya. “Anyi-ya.. Ini ora-ng-nya..” Kata Sehun terbata-bata sambil menunjuk Kai. Kai hanya tersenyum pura-pura manis.

Gadis kasir tertawa, “Oh, maafkan aku. Senang bertemu denganmu Kai-ssi. Aku Luna, silahkan duduk.” Gadis bernama Luna tersenyum.

Sehun dan Kai kemudian berjalan ke arah meja-meja yang disediakan. Mereka memilih meja yang berada di pojokkan. Kai mengeluarkan laptopnya, Sehun memerhatikan Cafe ini.

“Maaf lama. Salah satu pegawai kami yang biasa bekerja pagi berhenti. Ingin pesan apa?” Cowok tadi, tunggu, Sehun bingung dia cowok atau cewek karena suaranya seperti perempuan.

“Sehun..” Kai menyenggol Sehun, “Oh..” Sehun mengerjapkan matanya, Ia melirik Kai, “Terserah..”

Kai mengangguk dan memesan dua minuman untuk mereka. Tak lupa juga snack. Pelayan tadi kemudian pergi meninggalkan mereka.

“Jongin-ah..” Sulli menghampiri mereka.

Kai tersenyum sangat manis, “Sulli-yah..” Cukup lama Kai memandangi Sulli hingga membuat Sehun keki karena bingung harus melakukan apa.

“Siapa dia? Temanmu?” Tunjuk Sulli ke arah Sehun.

Kai menoleh dan seakan-akan baru sadar jika Sehun berada di situ, “Ah.. Iya dia temanku. Perkenalkan dia Oh Sehun. Sehun dia Sulli.”

Sehun tersenyum, “Oh, dia Sulli ya.. Hai, Sulli kau harus tahu jika Kai terus-terusan membicarakan tentang dirimu.”

Sulli tertawa, “Benarkah? Pasti dirimu bosan karena ia terus membicarakan diriku?”

“Benar.” Jawab Sehun dan mereka bertiga tertawa, Well sebenarnya Kai lebih ingin menjitak sahabat karibnya daripada tertawa.

“Kai, aku sudah membawa bukunya. Ingin diambil sekarang?” Sulli kembali menoleh ke arah Kai.

Kai yang tetap tersenyum, mengangguk, “Sehun, tunggu sebentar ya..”

Sehun mengangguk. Setelah Kai dan Sulli pergi Sehun menghembuskan nafasnya. Ini pasti sangat lama. Sehun terlalu malas untuk mengerjakan skripsinya, dia masih malas. Apalagi minuman dan snack belum datang, Sehun memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar ruangan agar lebih bisa melihat dekorasi.

Deg! Langkah Sehun terhenti ketika ia melihat pajangan foto di salah satu dinding Cafe. Salah satu foto tersebut terdapat lima orang, Luna, pegawai yang membuat Sehun bingung dia cewek atau cowok, Sulli, salah satu perempuan yang tidak Sehun kenal, satu lagi…. Krystal Jung. Ya, Krystal Jung!

Suatu pemikiran terbesit oleh Sehun, Ah, Krystal pasti bekerja di Cafe ini. Sehun terus memandangi foto mereka berlima. Kemudian ia melihat ke arah pigura yang lain, dan menyadari jika mereka berlima, memiliki foto tersendiri dengan nama mereka dan pekerjaan mereka. Perempuan yang tidak Sehun kenal bernama Victoria Song, dia sebagai manajer disini. Luna bernama Park Sunyoung dan menjadi kasir disini. Pegawai yang membuat Sehun bingung ternyata adalah perempuan, Sehun menyimpulkan berdasarkan namanya yaitu Amber Liu. Amber bekerja sebagai karyawan shift sore-malam. Sulli bernama lengkap Choi Sulli dan bekerja sebagai karyawan shift pagi-sore. Yang terakhir Krystal, gadis itu nama lengkapnya Krystal Soojung Jung, dan bekerja sebagai karyawan shift pagi saja. Sehun juga menangkap foto Krystal dan Sulli disana. Mereka terlihat berpelukkan dan tersenyum lebar. Pasti mereka sangat dekat, pikir Sehun.

“Wow, kau juga menyukai Sulli?” Suara datar dari samping kiri Sehun mengejutkannya.

“Amber-ssi.. Kau mengejetukanku.” Sehun melotot ke arah Amber, “Dan, tidak! Aku tidak menyukai Sulli!” Lanjut Sehun.

Amber tertawa, “Kenapa melihat fotonya?” Tunjuk Amber ke foto Sulli dan Krystal.

Sehun tersenyum, “Aku tidak melihat Sulli. Aku melihat Krystal.” Kata Sehun tenang.

Amber menatap Sehun bingung, “Cara dirimu menyebut namanya seperti bukan yang pertama kali. Kau mengenalnya?”

“Hmm.. Aku mengenalnya. Mungkin aku awalnya mengenalnya dengan nama Krystal Jung. Dia mempunyai enam pekerjaan, 2 menjadi pelayan Cafe, 3 mengajar, dan satu lagi menjadi pekerja di teater.”

Amber menatap Sehun dengan tatapan penyidik bukan, “Kau bukan penguntit bukan?” Tentu pertanyaan ini membuat Sehun terkejut, “Siapa namamu?”

“Oh Sehun, namaku Oh Sehun.”

Mata amber langsung membulat, “Jadi, kau Oh Sehun?” Tanya Amber dengan suara terkejut.

Flashback Start~

Tok! Tok! Tok! Amber yang kedinginan terus-terusan mengetok pintu flat Krystal.

Cklek! Krystal membuka pintunya, “Maaf membuatmu menunggu lama. Masuklah.” Krystal mempersilahkan Amber masuk. “Baiklah nyonya cantik, tolong pasang lampu di kamar mandiku dan sebagai gantinya akan kusajikan sup ayam.”

Amber mengangguk dan memasuki kamar mandi Krystal agar menggantinya. Krystal menuju dapur untuk menuangkan semangkuk sup ayam ke kotak makanan. Tidak mungkin Amber makan disini karena Krystal harus bekerja.

“Kau sudah mandi?” Teriak Amber dari kamar mandi.

“Ya, aku sudah mandi.” Jawab Krystal sambil berteriak.

“Benarkah?! Bagaimana bisa? Kaukan takut kegelapan?”

Krystal tertawa, “Well.. Aku membuka pintunya ketika aku mandi..”

“Astaga Nyonya Jung…” Teriak Amber dan Krystal tertawa.

Lima menit kemudian Amber keluar dari kamar mandi, “Sudah aku kerjakan. Mana sup ku?” Krystal tertawa kemudian memberikan kotak makanannya, “Selamat menikmatinya Nyonya Liu, tentu saja di appaterment-mu karena aku harus bekerja.”

Krystal kemudian mengambil jaket panjangnya dan tasnya, ia ingin berjalan ke arah pintu, tetapi ia mendesah dan berjalan ke kamarnya.

“Ada apa? Melupakan sesuatu?” Tanya Amber yang mengikuti langkah Krystal.

Krystal mengambil sarung tangan bewarna pink, “Sarung tanganku..”

“Tunggu Nyonya Jung, kemana sarung tangan biasamu?”

Krystal tersenyum, “Aku memberikkannya kemarin. Kamu harus tahu jika kemarin ada orang yang tahu jika musim gugur sudah masuk, tapi dia hanya memakai celana panjang dan t-shirt. Jadi aku memberikannya.”

Amber menatap Krystal dengan tatapan terkejut, “Tapi… Kau sangat menyukai sarung tangan itu..” Krystal tidak menjawab dan hanya tersenyum. “Apakah kau menyukainya?” Krystal tetap tidak menjawab, “Well, siapa namanya?” Krystal menoleh, “Oh Sehun. Namanya Oh Sehun.”

Flashback End~

“Krystal berbicara tentang ku?” Tanya Sehun ketika melihat ekspresi Amber.

Amber tertawa kecil, “Tidak.”

Sehun yang yakin jika Krystal membicarakan dirinya bertanya lagi, “Benarkah?”

“Sungguh. Ini berawal ketika aku menemukan dirinya tidak memakai sarung tangan favorite-nya, kaukan tahu sarung tangan bewarna coklat tua? Krystal menjawab jika dia sudah memberikan kepada orang yang kedinginan bernama Oh Sehun.” Jelas Amber dan Sehun mengangguk.

Sehun terlihat berpikir, “Amber-ah, kemana Krystal? Bukannya dia seharusnya bekerja?”

“Dia sudah berhenti.” Jawaban Amber membuat Sehun terkejut. “Karena ia menemukan pekerjaan yang baru, atasannya yang baru menyuruhnya untuk berhenti dari semua pekerjaannya.” Amber memberikan penjelasan setelah melihat ekspresi Sehun.

“Kenapa kalian membiarkannya?”

“Kami bisa apa lagi. Krystal menemukan pekerjaan yang lebih bagus daripada disini.” Amber tersenyum tipis.

Sehun menangguk, “Jadi, dimana dia bekerja?”

Amber menatap Sehun tajam, “Kenapa ingin tahu sekali urusannya! Kalian hanya bertemu sekali!”

“Siapa bilang sekali! Sering malah! Terakhir aku bertemu dengan Krystal dua hari yang lalu!”

Amber langsung terkejut mendengarnya, “Benarkah?! Mengapa Krystal tidak bicara apa-apa. Hey, ceritakanlah kepadaku.”

“Kenapa ingin tahu!” Jawab Sehun ketus kemudian ia tersenyum geli melihat ekspresi Amber, “Beri tahu dulu pekerjaan barunya dan.. Dan nomor hp-nya..”

Amber terlihat berpikir, “Baiklah…”

.

.

.

Krystal menatap bingung sms dari orang yang tak dikenalnya. Pertama kali terjadi saat pagi hari, orang tersebut mengirimkan sebuah SMS yang berisi, “Ku ucapkan selamat atas pekerjaan barumu….”. Yang kedua pada siang hari, “Bagaimana pekerjaan barumu? Aku sangat bosan. Hey, aku ada ide, ayo kita rayakan pekerjaan barumu nanti malam. Bagaimana?”. Yang ketiga dua jam yang lalu, “Hey, kenapa tidak menjawab sms ku?” Sebenarnya Krystal sendiri bingung harus menjawab apa. Dia benar-benar tidak kenal dengan nomor ini.

Krystal meletakkan hp-nya disakunya kemudian memakai jaketnya. Dia akan pulang. Tring! Hp-nya berbunyi lagi, dan ada sms masuk. Krystal mengeluarkan hp-nya dan keningnya semakin berkerut ketika melihat siapa yang meng-sms. Orang yang tak dikenal mengirim sms lagi. Krystal membuka sms-nya, “Aku ada di depan tempat kerja mu. Keluarlah….” Krystal langsung membulatkan matanya. Siapakah orang itu?

“Krystal-ssi galery-nya sudah ingin ditutup.” Suara Sekertaris Ahn mengangetkan Krystal. Dia segera mengangguk dan membawa tasnya. Tak lupa ia membungkukkan badannya.

Krystal menghembuskan nafasnya, dia benar-benar takut jika orang itu akan berbuat buruk kepadanya. Pada saat keluar dari galery, Krystal melihat ke kiri- ke kanan, melihat jika ada orang aneh.

“Kenapa tidak menjawab sms-ku?”

Krystal segera menimpukkan tas ke arah suara, “Yak, ini aku! Ini aku!” Seorang cowok berusaha menangkis tas Krystal. Krystal membulatkan matanya ketika melihat orang tersebut adalah Oh Sehun, “Apa yang kau lakukan disini?”

“Ku lakukan disini? Menunggumu! Kau tidak menjawab sms ku untuk merayakan pekerjaan baru mu jadi….” Sehun berhenti berbicara, “Aku hanya ingin mengajak dirimu.. Mengajak melakukan perayaan kecil.”

“Kau yang meng-sms ku dari tadi? Jangan salahkan diriku karena tidak membalasnya. Kau langsung memberikan pernyataan aneh seperti ‘Selamat atas pekerjaan baru mu…’ Orang-orang lain juga pasti berpikir itu adalah orang asing.” Krystal menarik nafasnya karena berbicara terlalu cepat.

“Memangnya siapa lagi yang tahu tentang pekerjaan barumu itu? Hanya Victoria, Luna, Amber, Sulli , dan diriku. Kau pasti punya contact mereka tapi tidak mempunyai contact ku. Makanya aku tidak menuliskan namaku karena ku pikir dirimu pasti mengetahuinya.”

Alis Krystal berkerut samar, “Tunggu, darimana dirimu mengetahui Victoria Oemma, Lunna unni, Amber, dan Sulli?”

Sehun tersenyum, “Aku ke tempat Cafe mu bekerja tadi pagi. Awalnya aku tidak menyadarinya hingga aku melihat fotomu dengan empat orang yang tak kukenal.”

Krystal mengangguk, “Ah, aku mengerti.” Krystal kemudian tersadar dan mengeluarkan hp-nya untuk melihat jam, “Kurasa aku harus pergi sekarang. Sampai bertemu lagi..” Krystal kemudian berjalan melewati Sehun.

“Kau tidak ingin merayakannya denganku?”

Langkah Krystal terhenti, Merayakan? Oh, merayakan pekerjaan barunya. Ia menoleh, “Malam ini?”

Sehun mendecakkan lidahnya, “Tentu. Kan sudah kubilang ‘Ayo kita rayakan pekerjaan barumu nanti malam,’ tapi dirimu tidak membalasnya.”

Krystal menyengir, “Kurasa aku tidak bisa malam ini. Aku mempunyai kegiatan lain. Aku akan membuatkan hadiah malam ini untuk Victoria Oemma, Luna Unni, Amber, dan Sulli. Jadi aku tidak bisa malam ini.”

“Membuatkan hadiah? Kau akan memasak?”

Krystal terkejut, “Bagaimana kau tahu? Ya, aku akan memasak. Malam ini, aku harus membeli bahan-bahannya jadi aku tidak bisa.”

“Maksudmu malam ini kau akan berbelanja bahan makanan?”

Krystal mengangguk. Dia baru saja akan pamit untuk kedua kalinya, Sehun tersenyum lebar.

“Aku tahu,” Kata Sehun, “Bagaimana jika aku ikut dirimu berbelanja, terus kita akan merayakannya? Bagaimana?”

Krystal mendecakkan lidahnya. Dia belum memutuskan seperti apa hubungannya dengan Sehun, Sehun menyeretnya lebih dekat. Krystal sangat tidak menyukai hal ini. Dia… Dia takut jika ini semua akan berakhir buruk.

“Krystal-ah..” Sehun melambaikan tangannya ke Krystal yang sedang melamun.

“Ah..” Krystal tersadar, “Ara…” Kata Krystal pasrah.

.

.

.

Wendy terus membuntuti Sehun sejak kejadia beberapa malam yang lalu. Dia ingin tahu apakah Sehun dekat dengan perempuan yang membuatnya jealous atau tidak. Hari ini, Wendy mendapatkan jawabannya bahwa Sehun memang dekat dengan perempuan itu.

Wendy membuntuti Sehun sejak pagi-pagi. Pagi hari Sehun ke sebuah Cafe sampai malam. Pada malam harinya, Sehun ke galery ibunya dan itu membuat Wendy bertanya-tanya. Rupanya, perempuan itu bekerja di galery ibunya Sehun. Mereka berbincang-bincang, cukup lama, bagi Wendy. Mereka-Sehun dan perempuan itu – berjalan bersama.

“Tolong ikuti mereka.” Perintah Wendy ke supirnya.

Mobil Wendy mengikuti mereka yang menaikki bus, mereka turun di sebuah supermarket. Wendy mengkerutkan keningnya. Untuk apa?

Satu jam. Satu jam dan mereka belum keluar. Wendy yang sudah tidak sabar memutuskan untuk keluar. Dia memasukki supermarket tersebut. Wendy berlari-lari agar dapat menemukan Oh Sehun. Hal yang tidak mungkin karena supermarket ini lumayan besar.

Tapi, dewi fortuna sedang berpihak kepadanya. Wendy menemukan Sehun dibagian bumbu dapur, tentu saja bersama perempuan itu. Melihat kedekatan mereka membuat Wendy kembali jealous. Ide terlintas di benak Wendy. Dia berjalan mendekati mereka berdua yang sedang berdebat sesuatu.

“Sehun-ah itukah dirimu?”

Mereka berdua terkejut dan menoleh ke arah Wendy, Krystal menatap Wendy bingung dan Sehun menatap Wendy terkejut.

“Apa yang dirimu lakukan disini? Bukannya dirimu bilang tidak bisa ikut kami makan-makan karena harus mengerjakan skripsimu?”

Sehun tambah terkejut. Apa maksud Wendy? Perempuan satu ini pasti tidak mempunyai akal lagi.

“Ah benarkah?” Krystal mengeluarkan suaranya. Wendy dan Sehun menoleh kepadanya. Krystal menoleh ke Sehun, “Kenapa harus bilang kepada teman-temanmu harus mengerjakan skripsi padahal kita ingin makan bersama malam ini?”

Wendy sekarang seperti orang bodoh. Dia.. Dia ingin membuat perempuan di depannya merasa jika Sehun ada yang memiliki, ingin membuat perempuan di depannya berpikir dua kali jika ingin mendekati Sehun, ingin membuat perempuan di depannya CEMBURU. Faktanya, dialah yang cemburu disini.

Sehun dan Wendy sama-sama terdiam, “Sepertinya kalian mempunyai masalah yang harus diselesaikkan segera. Aku tinggal kalian berdua ya…” Krystal mengambil bumbu karinya kemudian mendorong troli-nya, hanya beberapa langkah, Krystal berbalik lagi, “Makannya besok saja. Sehabis aku pulang kerja.” Katanya untuk Sehun dan sehabis itu dia terus mendorong trolinya, menjauh dari Sehun dan Wendy.

Sehun menatap Wendy tajam, “Apa yang kau lakukan disini?” Desis Sehun.

Oppa..” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Wendy. Wendy berusaha mengontrol dirinya, “Ak-Aku hanya ingin berbicara denganmu.. Tapi kau terus menjauh, jadi..”

“Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan.” Potong Sehun. “Hubungan kita sudah berakhir. Aku juga tidak ingin berbaikkan denganmu.” Sehun mendekati dirinya ke Wendy dan ia berbisik ke telinga Wendy, “Aku bukan bonekamu.” Ia kemudian menjauh kembali, “Menjaulah dariku. Ingat, ini semua adalah salahmu bukan?” Sehun kemudian meninggalkan Wendy.

Lagi-lagi, Wendy harus menerima dirinya, tersakiti oleh Oh Sehun.

.TBC.

 

 

 

State of Grace (Chapter 4)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Wendy awalnya ingin menemui Sehun. Dia rasa, dia harus segera berbicara dengan Oh Sehun. Wendy pergi ke Universitas Sehun, tetapi gurunya bilang Sehun sudah pulang sejak tadi siang. Gurunya menyarankan agar menyarinya di sebuah jalan dekat kampus yang disitu terdapat cafe-cafe. Biasanya, mahasiswa menyusun skripsinya disana. Ia pun menemukan Sehun disebuah cafe, Sehun terlihat mengerjakan tugasnya dan disampingya terdapat temannya. Tak berapa lama kemudian, Sehun terlihat merapikan barangnya dan meninggalkan temannya.

Wendy panik ketika melihat Sehun keluar dari cafe. Ia tetap diposisinya, melihat kedalam dan pura-pura tidak tahu Sehun ada didekatnya. Sehun sepertinya tidak menyadari keberadaan Wendy dan berjalan terus. Wendy menghembuskan nafasnya. Wendy kemudian mengikuti Sehun.

Ada rasa aneh dibenak Wendy. Ia ingin berbicara tetapi tidak mempunyai keberanian bertatap muka dengan Sehun. Sekarang, ia mengikuti Sehun tanpa alasan yang jelas.

Langkah Wendy terhenti ketika Sehun juga berhenti. Sehun terlihat menatap sebuah teater kecil, ia kemudian terlihat berpikir, sehabis itu meminggir, dan memasukkan tangannya ke sakunya.

Wendy menggingit bibirnya. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk berbicara. Sehun sedang berhenti berjalan sekarang. Ia pun menarik nafas kemudian menghembuskannya. Setelah dia merasa dirinya tenang, Wendy melangkahkan kakinya. Hanya beberapa langkah. Hanya.

Wendy melihat seorang perempuan keluar. Sehun terlihat berbicara. Awalnya ia bingung kepada siapa Sehun berbicara. Tetapi, ketika perempuan tersebut berbalik, ia menatap Sehun dengan terkejut kemudian berbicara. Sehun menanggapinya. Mereka berbicara sebentar sebelum berjalan bersama-sama.

Siapa perempuan itu?

Apakah Sehun tadi menunggunya?

Wendy melangkahkan kakinya mengikuti mereka. Ia berusaha tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh. Jika terlalu dekat, ia akan ketahuan oleh Sehun. Jika terlalu jauh, ia akan kehilangan mereka. Sehun dan perempuan itu terlihat bercengkraman. Wendy menatap perempuan itu sebal. Seharusnya dirinyalah yang ada diposisi itu. Ketika ia menatap Sehun, timbulah rasa sakit. Sehun benar-benar sudah melupakannya.

Deg! Langkah Wendy berhenti ketika dia melihat Sehun tertawa dan… Dan… Dan memegang kepala gadis itu. Tidak! Lebih tepatnya mengelus kepala gadis itu.

Tidak ada yang bisa Wendy pikirkan saat ini. Rasa cemburu lebih mendominasi dirinya. Tapi ketika ia melihat , siapa dirinya. Ketika melihat, apa yang telah dia perbuat kepada Oh Sehun. Wendy tahu jika ia.. Ia harus menerima hal ini.

Mata Wendy mulai berkaca-kaca. Ia tidak bisa lagi membendung perasaannya. Bulir-bulir air mata mulai turun. Ia berbalik. Cukup lama-untuk Wendy dia menangis dalam diam, Wendy mengeluarkan hp dan menelepon supirnya.

“Tolong jemput aku segera. Aku tidak tahu dimana diriku, tetapi belum jauh dari jalan yang tadi. Gak pake lama.” Wendy memasukkan hp-nya kembali.

Suaranya bergetar, “Oppa.. Oppa benar-benar sudah melupakanku ya?” Tanyanya entah pada siapa. Mungkin kepada dirinya sendiri?

.

.

.

Sambil bersendar di kursi warung makan, Krystal terpekur menatap Sehun yang sedang makan.

“Aaah.. Ini enak sekali.” Sehun menyeruput kuahnya. Ia kemudian meletakkan mangkuknya di sebelah kanan. Kemudian mengangkat tangannya.

Krystal yang melihat hal itu langsung men-death glare Sehun. Sehun tersenyum, “Hanbamal (satu kali lagi)..” Pinta Sehun.

Krystal mendecakkan lidahnya, “Baiklah… Satu kali lagi dan hanya satu mangkuk.”

Sehun tersenyum bertepatan dengan seorang pelayan datang, “Satu mangkuk lagi.” Kata Sehun.

Pelayan tersebut mengangguk dan meninggalkan Sehun.

“Tenanglah. Ini cuman sebentar.”

Krystal menatap tajam Sehun kemudian ia mendesah, “Terserah.” Katanya lirih.

Krystal melirik mangkuk-mangkuk yang terletak disebelah kanan Sehun. Berapa mangkuk yang ada disitu? Lima? Enam? Entahlah. Mereka benar-benar makan malam di warung makan yang disarankan oleh Krystal. Warung makan ini menyediakan ramyun berbagai rasa yang sangat lezat. Ketika awal makan, semuanya terasa menyenangkan. Sekarang… Tidak begitu. Krystal sudah bosan setengah mati menunggu Sehun selesai makan. Laki-laki di depannya terus memesan lagi dan lagi. Mesti diketahui, menunggu bukanlah hal yang paling disukai Krystal.

Krystal sebenarnya bisa saja pulang duluan. Tapi, dia tidak sengaja bilang-untuk kedua kalinya dia mengucapkan sesuatu tanpa benar-benar berpikir, jika ia akan mengambil surat yang menyatakan dia diterima atau tidak di pekerjaan barunya. Tadi salah satu karyawan menelponnya dan bilang jika keputusan sudah dibuat, Krystal harus mengambilnya malam ini juga. Sehun bertanya tentag telepon tadi dan ia menjawabnya. Sehun mengatakan jika ia ingin ikut. Dia tertarik dengan pekerjaan baru Krystal ini, bahkan ia menanyai tentang pekerjaan baru Krystal ini. Krystal menolak menjawabnya, belum saatnya, kata Krystal dan Sehun terlihat tidak ingin memaksa.

Krystal mengangkat tangannya, “Sudah waktunya kita membayar.”

Sehun mengangguk.

Pelayan datang dan Krystal meminta billnya. Pelayan tersebut kemudian berjalan menuju kasir untuk mengambil bill dan ke meja mereka lagi. “Ini totalnya.” Kata pelayan itu.

Krystal melihat bill dan membayarnya dengan uang pas. Sehun juga begitu. Mereka kemudian meninggalkan warung makan.

“Kami harap anda datang kembali.” Pelayan di depan pintu membungkukkan badannya.

Krystal tertawa mendengarnya.

“Apanya yang lucu?” Sehun menatap Krystal bingung.

“Pelayan tadi.” Jawab Krystal.

“Apanya yang lucu? Dia hanya berbicara seperti biasa.”

Krystal menatap Sehun sebal, “Lupakan.”

Sehun menoel-noel pipi Krystal, “Kau sangat cepat marahnya.”

“Aisshh.. Hentikan.” Kata Krystal mencoba menghentikan tangan Sehun kemudian mereka berdua tertawa.

“Kau tahu, sebenarnya aku tak yakin dirimu sempat mengambil surat penerimaanmu malam ini juga. Ini terlihat sudah sangat malam.”

“Ini semua gara-gara dirimu!”

Sehun kembali mengacak-ngacak rambut Krystal, “Apa maksudmu gara-gara diriku?”

“Oh, astaga… Hentikan…” Lagi-lagi Krystal mencoba menghentikan tangan Sehun yang sedang mengacak-ngacak rambutnya. Sehun kemudian berhenti dan tertawa.

“Kau terlihat sangat jelek.” Kata Sehun disela-sela tawanya.

“Aisshh..” Krystal merapikan rambutnya kemudian menatap Sehun sebal. Bukannya merasa bersalah, Sehun malah tertawa tambah keras.

.

.

.

Keesokan Paginya,

Mrs. Oh melirik Sehun yang sedang menuju ke meja makan, “Pulang jam berapa kemarin?” Tanyanya ketika Sehun sudah duduk.

Sehun menguap, “Entahlah. Jam sepuluh mungkin?” Tangan Sehun mengambil roti tawar dan selai kacang.

“Kenapa pulang sangat malam? Kemana saja?”

“Tenang saja Mom. Sehun tidak melakukan hal buruk.” Sehun menyantap rotinya.

Mrs. Oh menghembuskan nafas, “Sepertinya, Mom akan pulang telat malam ini. Seperti yang dirimu tahu jika tahun ini Mom akan membuka galeri baru.”

Sehun mengangguk, “Semoga sukses!” Sehun menyemangati ibunya.

Mrs. Oh tersenyum, “Mom berangkat dulu.” Mrs. Oh mencium pipi Sehun kemudian melangkahkan kakinya.

.

.

.

“Katakan kepada saya Sekeratis Ahn.” Mrs. Oh berbicara kepada sekertarisnya. Mrs. Oh sudah sampai di tempat yang akan menjadi galeri barunya. Pagi ini, dia akan bertemu dengan kandidat-kandidat yang akan menjadi penanggung jawab galeri ini.

Sekertarisnya mengangguk, “Kandidat akan datang pada jam satu siang. Ada empat kandidat dan mereka menunggu di ruangan saya. Ini adalah profil kandidat-kandidatnya.” Sekertaris Ahn mengasih sebuah folder dan Mrs. Oh menerimanya. Mrs. Oh kemudian memasuki ruang kantornya.

Mrs. Oh mulai membuka folder yang diberikan Sekertaris Ahn, folder yang berisi tentang data-data pribadi kandidat. Ia membacanya dengan sungguh-sungguh. Tentu saja. Penanggung jawab galeri sangat penting baginya. Sama pentingnya dengan para pengoleksi. Jika penanggun jawab galeri tidak bekerja dengan baik, maka nama Mrs. Oh akan tercoreng dan dirinya tidak mau itu terjadi.

            Tok! Tok! Tok

            Mrs. Oh mengalihakan pandangnya ke arah pintu, “Silahkan masuk.”

Trek. Sekertaris Ahn masuk, “Maaf menganggu. Orang yang kemarin sudah datang.”

“Persilahkan dia masuk.” Sekertaris Ahn mengangguk dan menutup pintu Mrs. Oh. Tidak lama kemudian, seorang gadis memasuki ruangan Mrs. Oh.

“Silahkan duduk.” Mrs. Oh mempersilakan tamunya duduk. “Saya ingin meminta maaf soal kemarin malam.”

“Ah, itu tidak apa-apa.” Perempuan tersebut tersenyum ramah.

Mrs. Oh terlihat mencari sebuah kertas, ketika sudah menemukannya, ia memegang kertasnya dan membacanya, “Baiklah, jadi nama anda Krystal Jung. Lahir di California dan pindah ke Korea pada umur sepuluh tahun.” Mrs. Oh berhenti sejenak kemudian berbicara lagi, “Anda pasti sangat lancar berbahasa inggris.”

Krystal mengangguk, “Iya. Bahasa inggris saya lumayan lancar, walaupun logatnya sudah tidak sama persis.”

“Ah, begitu. Dengar Krystal,” Mrs. Oh menatap Krystal serius, “Orang yang menyarankan pekerjaan ini adalah teman dekatku dan aku sangat mempercayainya. Dia sangat memujimu. Tetapi ini adalah pekerjaan yang sangat serius. Anda akan melukis bagian depan galeri saya, lebih tepatnya dinding bagian depan galeri saya, dan saya akan mengambil hal ini dengan sangat serius. Jika lukisan anda tidak bagus akan berpengaruh kepada para pengoleksi tentang isi dari galeri saya. Saya tidak mau itu terjadi!”

Krystal terdiam. Diam-diam dia menulan ludah. “Maka dari itu saya ingin anda melukis.” Perkataan terakhir Mrs. Oh membuat ia terkejut.

“Ah, baiklah.” Kata Krystal.

“Kita mulai sekarang. Duduklah di sofa ruangan saya dan mulailah melukis. Saya akan memberikan peralatannya.”

Krystal membulatkan matanya, “Ah.. Ah..”

Mrs. Oh menaikkan alisnya, “Mengapa? Anda tidak bisa?”

“Bukan begitu. Saya ingin bertanya sesuatu. Apakah anda keberatan jika saya mempunyai pekerjaan lain selain disini?”

Mrs. Oh kembali menatap Krystal dengan serius, “Apa saja pekerjaan anda?”

“Pekerjaan saya… saya bekerja sebagai pelayan di kafe, pengajar, dan sebagai staf tata panggung di suatu teater.”

Mrs. Oh menatap Krystal lebih serius, “Dengar nyonya Jung,” Katanya dengan suara yang sangat-sangat serius, “Ini adalah pekerjaan serius. Jadi saya minta anda berhenti dari semua pekerjaan anda. Anda harus fokus dalam hal ini.”

“Ah, begitu..”

“Kenapa anda keberatan?”

“Tidak. Tapi bolehkah saya tidak berhenti bekerja di teater terlebih dahulu? Hanya sampai panggung yang saya buat selesai…”

Mrs. Oh menghempaskan dirinya ke kursi. Dia jelas tidak suka hal ini. ‘Lihat dulu lukisannya..’

Deg! Mrs. Oh teringat dengan perkataan temannya. Hyoyeon menyuruhnya untuk melihat lukisan gadis ini dulu. “Hal itu, nanti akan saya pertimbangkan. Pertama-tama, saya ingin anda melukis terlebih dahulu.”

Krystal mengangguk, “Baiklah.”

.

.

.

Mrs. Oh tersenyum tipis. Dia.. Dia senang. Bahkan sangat senang. Mrs. Oh menatap lukisan Krystal dan kembali tersenyum. Temannya benar. Gadis itu menakjubkan. Tidak heran Hyoyeon sangat memuji gadis tersebut. Dia menatap lukisan Krystal dengan tatapan kagum. Ini adalah bakat. Juga, gadis ini memiliki teknik yang sangat sempurna.

Lebih lama Mrs. Oh melihat lukisan Krystal, dia semakin tersadar jika Krystal mengingatkan dirinya kepada seseorang. Orang itu adalah teman akrabnya sewaktu kuliah, bersama-sama dengan Hyoyeon. Tapi itu dulu, berpuluh-puluh tahun yang lalu. Mrs. Oh bahkan tidak tahu dimana temannya sekarang. “Dimana dirimu? Apakah sekarang kau bahagia?” Tanyanya ketika mengingat temannya, Jessica Jung.

.TBC.

State of Grace (Chapter 3)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

Author Note: Hai.. Hai…  Maaf ya lama update kkk.. Gak kerasa loh uda 3 minggu gak update-update…  Okay, kayaknya segitu aja #-_- Langsung aja ya…

***

Love is Ruthless Escaped

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

            “Apa yang Wendy lakukan disini? Belajar? Liburan? Keluarganya sakit? Apaa?!” Sehun langsung menyemburkan berbagai pertanyaan ke Seulgi, padahal ia baru mengangkat telepon.

Ck! Astaga Oh Sehunnnnn!!! Hanya itu yang ingin kau tanyakan? Apa tidak ada waktu yang lain? Harus malam-malam menganggu orang yang sedang tidur.”

“Iya aku hanya menanyakan hal itu! Dan jika kau tidak menjawab pertanyaanku dengan benar aku akan buat dirimu tidak bisa tidur!” Sehun mengatakannya dengan suara yang dalam dan nada yang bersungguh-sungguh.

“Astaga!” Erang Seulgi, “Wendy pulang lagi ke sini. Ia…”

            Belum Seulgi berbicara Sehun sudah berteriak, “Apa?! Ia pulang lagi kesini?”

Astaga! Bocah terkutuk! Sialan!” Sungut Seulgi. “Aku belum selesai berbicara!”Lanjutnya. “Iya ia pulang lagi kesini. Ia juga berkata jika ia ingin berbaikkan dengan mu.”

“Terus apa yang kau katakan kepadanya? Aku ingin berbaikkan dengannya atau apa?”

“Tenang saja. Aku tidak mengatakan hal itu kepadanya. Aku hanya berkata jika ingin berbaikkan maka semua keputusan ada ditanganmu dan aku tidak ingin ikut campur.”

Sehun terdiam mendengar penjelasan Seulgi. Sekarang masalahnya bertambah dengan kehadiran Wendy.

Sehun-ah! Yak Bocah kecil! Kau dengar aku tidak?! Baiklah aku tutup.
            Terdengar nada terputus. Sehunpun menutup hp-flipnya. Ia memijit pelipisnya. Ini akan menjadi masalah besar. Yah, ini pasti akan menjadi masalah besar.

.

.

.

Sehun menatap alarm dengan kesal kemudian men-snoze nya lagi. Lima menit kemudian alarm berbunyi kembali. Sehun masih diam tidak berkutik. Sudah lebih dari tigapuluh menit alarmnya menjerit tetapi Sehun tidak bangung-bangun.

“Tok..Tok…Tok….”

Sehun membuka matanya, bukan karena alarm tetapi karena ada yang mengetuk pintu kamarnya.

Nuguseyo?” Tanya Sehun dengan suara khas bangun tidur.

“Tok..Tok..Tok…”

“Aisssshhhh….” Sehun mengacak rambutnya dan bangkit dari tempat tidur menuju pintu. Ia membuka pintu kamarnya dan….. “Wendy-ah?!” Kata Sehun dengan suara tercekat, “Ken-Kenapa kamu bisa dirumahku?” Lanjutnya.

.

.

.

Wendy pun menghela nafasnya. Pagi-pagi, lebih tepatnya jam enam pagi dia sudah berangkat dari rumahnya. Ini sangat lucu. Dia biasanya baru bangun jam setengah tujuh pagi. Ini semua karena Sehun. Sehunlah alasan Wendy bangun sepagi ini. Ia akan kerumahnya pagi ini, untuk menemui ibunya karena mereka akan berbelanja bareng dan ia juga ingin bertemu dengan Sehun.

“Nyonya muda.” Sang Supir menyadarkan Wendy dari lamunannya. Tanpa mengucapkan apa-apa Wendy keluar dari mobilnya. Ia menatap rumah di depannya sambil menghelakan nafas. Wendy memencet interkom.

“Anyeonghaseyo.” Katanya pada bel interkom.

“Oh Wendy-ah.” Jawab seseorang dari bel interkom. Pintu pagar langsung terbuka dan Wendy segera memasukinya. Pintu rumah Sehun terbuka dan Mrs. Oh muncul dengan senyum manis.

“Wendy sayang. Kamu datang terlalu pagi. Sehun bahkan belum bangun pagi ini.” Mrs.Oh menyambut Wendy kemudian memeluknya.

Wendy membalas pelukkan Mrs. Oh, “Wendy sudah biasa bangun pagi-pagi.” Jawab Wendy ketika selesai berpelukkan.

“Ayo masuk. Panggil saja Mom ya?” Wendy mengangguk.

Wendy dan Mrs. Oh kemudian duduk di ruang tamu dan berbincang-bincang. Seorang pelayan datang dan memberikan teh hangat ke Wendy.

“Yewon, apakah sarapan sudah siap?” Mrs. Oh bertanya ke pelayannya yang sedang memberikan teh.

“Sudah Nyonya.”

“Apakah tuan muda sudah bangun?”

“Saya rasa belum Nyonya.”

“Anak-“

Kringgg…

Telepon rumah Sehun berbunyi. Yewon segera mengangkatnya, tak berapa lama ia memberikan teleponnya ke Mrs. Oh, “Dari Sekertaris Ahn.” Kata Yewon.

Anyeonghaseyo Sekertaris Ahn, ada apa?”

“Nde? Apa?” Mrs. Oh melihat jam kemudian berkata, “Tunggu sebentar Sekertaris Ahn.” Mrs. Oh kemudian menoleh ke Wendy, “Wendy-ah bisakah kamu membangunkan Sehun? Jika pelayan yang membangunkan dia tidak akan bangun. Mungkin denganmu bisa. Bisakah?”

Wendy mengerjap bingung. Ini benar-benar kejutan baginya. “Ah, baiklah.”

“Yewon, tolong antarkan Wendy ke kamar Sehun!”

Yewon mengangguk dan membungkukkan badannya. Dia dan Wendy kemudian berjalan menuju kamar Sehun.

“Ini kamar tuan muda , Nona Wendy.” Kata Yewon ketika sampai di depan kamar Sehun. Wendy mengangguk. Yewon membungkukkan badannya dan berjalan menjauhi Wendy.

Wendy menatap pintu kamar Sehun dengan bimbang. Apakah Sehun akan senang melihatnya? Apakah Sehun marah ketika melihatnya? Dua pertanyaan itu terus terngian di otaknya. Wendy menghembuskan nafasnya kemudian mengetuk pintu kamar Sehun. Sudah saatnya ia mengetahui reaksi Sehun.

Nuguseyo?”

Deg!

Jantung Wendy serasa berhenti berdetak ketika ia mendengar suara Sehun. Ia begitu merindukkan suara tersebut. Wendy panik. Otaknya tidak bisa berpikir jernih. Yang ia pikirkan adalah dapat ia mendengar suara Sehun. Wendy memilih mengetuk pintu kamar Sehun lagi.

Hening. Wendy menghembuskan nafasnya. Sehun tidak bangun dari tidur?

Cklek!

Wendy segera menatap pintu Sehun ketika suara pintu terbuka. Sehun di depannya dan… Menatapnya dengan terkejut, tetapi hanya sebentar karena mukanya berubah menjadi datar. Datar, tanpa ada ekspresi.

“Wendy-ah?!” Wendy dapat mendengar suara Sehun yang tercekat! Apa maksudnya? Mengapa suara Sehun tercekat? “Ken-Kenapa kamu bisa dirumahku?”

“Ah…” Wendy kembali tersadar dari lamunannya ketika Sehun selesai bertanya, “Hanya ada sedikit urusan dengan Mom. Tadi Mom menyuruh aku membangunkan dirimu karena sarapan sudah siap.” Wendy berusaha mengontrol suaranya. Ia tidak ingin terdengar gugup.

.

.

.

Wajah Sehun   berubah menjadi sinis ketika mendengar alasan Wendy, “Benarkah hanya itu? Hanya itu alasanmu datang kerumahku?”

Sehun dapat air muka Wendy yang berubah. Tetapi Wendy dapat mengontrolnya kembali, “Ya.”

“Baiklah. Aku akan turun sebentar lagi.” Sehun segera menutup pintu kamarnya.

Sehun tetap terdiam sampai ia tidak mendengar lagi suara langkah Wendy dan kemudian…

“ASTAGA… Mimpi buruk apa aku semalam hingga bisa sesial ini?” Dia menggaruk kepalanya.

Sehun segera ke kamar mandi untuk mandi. Lima belas menit kemudian dia sudah siap dan turun kebawah.

Mom pikir kamu tertidur kembali. Ayo cepat sarapan. Ada janji dengan Proffesor bukan?”

Sehun mengangguk. Ia memilih untuk diam dan tidak mengeluarkan sedikit pun. Sehun duduk di depan Wendy.

“Sehun-ah, Mom dan Wendy akan shopping hari ini. Tahukah jika Wendy akan memperkenalkan..”

“ Sehun akan langsung berangkat.” Sehun bangkit dari kursi.

Mrs. Oh menatap anaknya bingung, “Makan pagi itu sangat penting.”

“Sehun sedang tidak ada nafsu untuk makan. Sehun berangkat dulu.” Katanya langsung meninggalkan dapur. Langsung meninggalkan ibunya dan Wendy. Langsung meninggalkan Wendy yang sedang menatapnya nanar.

.

.

.

“Astaga benarkah seperti itu?”

“Hmm..”

“Maksudku dia mendekatkan ibumu untuk berbaikkan denganmu?”

“Iya. Bukannya sudah bilang dari tadi!”

Laki-laki di samping Sehun mengangkat kedua tangannya, “Tenang saja poker face. Hanya ingin memastikan. Ini benar-benar gila.”

“Iya ide itu benar-benar gila. Dia selalu membuatku gila. Dulu dan sekarang.”

Lelaki di samping Sehun tertawa, “Mantan pacar memang selalu mengerikan.”

“Benarkah? Kenapa Kai Kim masih mengejar salah satu mantan pacarnya?”

Kai menjitak kepala Sehun, “Mantan pacarku tidak segila mantan pacarmu!”

“Mantan pacarmu memang tidak gila. Tapi mungkin yang sedang mengejarnyalah yang gila. Kau tahu, kau mungkin bisa bersama Wendy. Sama-sama mengejar mantan pacar.”

Kai menatap Sehun gemas. Baru saja ia ingin menerkam Sehun, Sehun bangkit dari tempat duduknya, “Aku duluan.” Kata Sehun tersenyum lebar.

“Bocah terkutuk!” Rutuk Kai melihat kepergian Sehun.

Sehun keluar dari cafe sambil memakai coat-nya. Dia melangkahkan kaki menyusuri jalan sekitar kampusnya. Di jalan ini terdiri dari banyak cafe. Kebanyakan mahasiswa/mahasiswi menyusun skripsi mereka di cafe-cafe. Baru saja beberapa langkah, Sehun menangkap sesuatu yang aneh.

Bukan setan. Tapi seorang gadis berambut panjang dibiarkan tergerai. Gadis tersebut memegang beberapa kotak kardus menghalangi pandangannya. Mukanya tidak terlihat Sehun. Tapi Sehun tahu siapa gadis itu. Ia mengetahui daari gerak-gerik tubuhnya.

Sehun menghampiri gadis tersebut. Gadis tersebut berhenti berjalan karena Sehun berada di dapannya.

“Permisi barang bawaan ku berat.” Kata gadis itu dibalik kotak.

Sehun mengambil dua kotak dari tiga kotak yang dibawa gadis tersebut, “Aku bisa membantu mu Krystal –ssi.”

Krystal membulatkan matanya, kemudian tersenyum, “Sehun-ssi. Sedang apa disini?”

Mereka berdua berjalan sambil membawa kardus Krystal.

“Baru bertemu teman. Kau?”

“Aku ingin ke tempat kerjaku.”

“Dengan membawa ini?”

“Iya. Itu dibutuhkan di tempat kerjaku.”

Sehun mengangguk, “Dimana tempat kerjamu?” Tanyanya lagi.

“Di teater kecil di dekat sini. Kenapa?”

“Hanya bertanya.”

Mereka terus berjalan sambil mengobrol. Tak terasa, meraka sudah sampai di tempat kerja Krystal.

Anyeonghaseyo Krystal-ssi.”

            Krystal menganggukkan kepalanya. Tentu dia tidak bisa membungkukkan badannya karena sedang membawa kardus.

Anyeonghaseyo Minseok-ssi.” Balas Krystal.

“Sudah membawa barang-barangnya? Langsung ingin mulai?”

Krystal mengangguk kemudian melangkahkan kakinya menuju salah satu studio. Sehun mengikuti dirinya.

“Taruh disini saja.” Krystal menunjuk bagian sisi panggung dan Sehun meletakkannya. “Terimakasih.” Katanya sambil tersenyum.

Sehun juga tersenyum, “Jangan sungkan.”

“Ada urusan lagi?”

Sehun menganggukkan kepalanya, “Kurasa… Sampai jumpa lagi Krystal-ssi.”

            “Iya. Sampai jumpa lagi Sehun-ssi.”

.

.

.

Krystal merenggangkan tubuhnya. Sudah hampir lima jam ia berkutat untuk mengecat background untuk scene pertama. Krystal tidak sendirian, ada tujuh orang yang bertugas sebagai tata letak, khususnya membuat properti. Tapi dirinya yang bertugas mengecat background dan properti. Ia diterima karena menurut pemilik teater kecil ini, Kim Heechul, teknik melukisnya sangat sempurna. Krystal melirik jam tangannya, sudah waktunya dia untuk pulang. Krystal membereskan barang-barangnya kemudian keluar dari studio.

“Hati-hati dijalan Krystal-ssi.” Kata Minseok. Minseok bertugas sebagai asisten tuan Kim dan penjaga teater ini. Dia tinggal di teater ini.

“Terimakasih.” Krystal membungkukkan badannya. Krystal berjalan keluar teater dan ia melangkahkan kakinya menuju stasiun.

“Bagaimana pekerjaan barumu?” Suara dibelakang Krystal mengagetkannya. Krystal kenal suara itu, tapi apakah mungkin orang itu menunggunya?

“Ah?” Krystal berbalik dan ia membulatkan matanya, “Apa…. Apa yang kau lakukan disini?” Tanyana menatap Oh Sehun.

Apakah Oh Sehun menunggunya? Benarkah ia menunggunya? Maksudnya apa yang laki-laki ini lakukan pada jam sekarang? Tidak mungkin habis menyusun skirpsinya dan kebetulan lewat bukan?

“Menunggumu.” Satu kata itu membuat Krystal…… Bolehkah ia berharap?

“Aku habis menyelesaikan skripsiku dan kebetulan lewat disini. Aku berpikir, apakah dirimu sudah pulang? Tapi aku bekesimpulan dirimu belum pulang karena teater ini belum ditutup, maksudku biasanya teater ini sudah ditutup pada jam segini, jika belum ditutup pasti ada sesuatu yang terjadi.”

“Ah…” Kata Krystal dengan nada kecewa, “Jadi hanya kebetulan lewat.”

“Tidak. Aku menunggumu.”

“Ya, ya, ya.. Aku mengerti.” Kata Krystal pada akhirnya. Dia mengerti. Sehun memang menunggunya. Tapi dia berharap jika Sehun menunggunya karena ingin bertemu dengan dia, bukan karena rasa penasaran apakah dia sudah pulang atau belum. Hah…. Dia sudah berharap bahkan sebelum otaknya berpikir bolehkah dia berharap.

“Jalan ke stasiun bareng?” Tawar Sehun.

“Boleh.” Kata Krystal dan mulai berjalan lagi.

“Jadi, ada kerjaan lagi?”

Krystal menggeleng, “Tidak. Aku bisa langsung pulang sehabis ini.”

“Oh begitu. Langsung pulang? Atau ketempat lain dulu, seperti membeli makan malam.”

Krystal menatap Sehun, sebentar saja kemudian menatap jalan lagi, “Kenapa kau ingin tahu kehidupanku?”

“Hanya penasaran. Kau berbeda. Baru pertama kali aku menemukan orang seperti mu.”

Krystal menatap Sehun, “Benarkah?”

Sehun menatap Krystal, “Iya. Kenapa? Merasa keberatan?”

Krystal dapat melihat kesungguhan di mata Sehun. Tetapi alasannya hanya penasaran. Ini benar-benar membuatnya gila.

“Aku akan membelinya ketika ingin pulang ke rumah. Biasanya aku akan memasaknya, tetapi aku lelah jadi aku akan beli saja.”

“Wow, kau bisa memasak?”

Krystal menatap Sehun, kali ini dengan tatapan aneh, “Iya. Seorang sepertiku harus bisa masak atau tidak akan selamat. Membeli makanan membutuhkan biaya yang sangat mahal daripada masak. Tapi terkadang aku lelah, jadi membeli. Lagipula, aku belum belanja bulanan.” Krystal menjelaskannya panjang lebar. Dia memang seperti itu. Suka menjelaskan suatu panjang lebar tanpa harus ditanya.

“Ah begitu.” Kata Sehun sambil mengangguk, “Jadi kapan dirimu akan belanja?”

Krystal terlihat berpikir, “Entahlah. Mungkin besok?”

“Jadi, dimana kau akan membeli makan malammu?”

“Di stasiun. Ada warung makan yang enak. Hey, kau mau makan disana bersama ku? Kau harus mencobanya, makanan disana sangat enak.” Entah datang darimana ide tersebut muncul. Sungguh, didalam hati Krystal tidak ada mengajak Sehun makan bersamanya untuk menghabiskan waktu lebih lama bersama Sehun. Tapi Krystal tidak dapat menarik kata-katanya kembali bukan?

“Sepertinya menarik.” Kata Oh Sehun sambil tersenyum, “Siapa yang akan mentraktir kali ini?”

“Mentraktir?! Enak saja! Bayar sendiri-sendiri.” Kata Krystal sewot.

Sehun tertawa kemudian mengelus pelan kepala Krystal, “Kupikir akan ditraktir.”

Krystal mengembungkan pipinya, “Jangan pernah mengharapkan akan ditraktir olehku.”

“Iya. Iya. Baiklah, berjalanlah lebih cepat supaya cepat sampai. Perutku sudah lapar.” Sehun kemudian mempercepat langkah kakinya. Krystal mengeluh kemudian mengikutinya.

.

.

.

Dari jauh, Wendy melihat Sehun dan Krystal. Ia tak tahu sudah berapa lama ia terus mengikuti mereka. Matanya berkaca-kaca. Kesempatannya sudah hancur. Kesempatannya untuk kembali bersama Oh Sehun. Karena, sepertinya Oh Sehun sudah mendapatkan sosok lain. Itukah mengapa Sehun memberikan respon yang aneh ketika bertemu dengan Wendy?

Tanpa dapat dicegah, bulir-bulir air matanya turun. Wendy segera berbalik. Ia tidak bisa melihat mereka lebih lama lagi. Ia akan seperti orang gila yang menangis ketika melihat mereka lebih lama lagi.

Wendy mengeluarkan hp-nya, “Tolong jemput aku segera. Aku tidak tahu dimana diriku, tetapi belum jauh dari jalan yang tadi. Gak pake lama.” Dan ia memasukkan hp-nya lagi.

Oppa.. Oppa benar-benar sudah melupakanku ya?” Tanyanya entah pada siapa. Mungkin kepada dirinya sendiri?

.TBC.