State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

Author Note: Hai.. Hai…  Maaf ya lama update kkk.. Gak kerasa loh uda 3 minggu gak update-update…  Okay, kayaknya segitu aja #-_- Langsung aja ya…

***

Love is Ruthless Escaped

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

            “Apa yang Wendy lakukan disini? Belajar? Liburan? Keluarganya sakit? Apaa?!” Sehun langsung menyemburkan berbagai pertanyaan ke Seulgi, padahal ia baru mengangkat telepon.

Ck! Astaga Oh Sehunnnnn!!! Hanya itu yang ingin kau tanyakan? Apa tidak ada waktu yang lain? Harus malam-malam menganggu orang yang sedang tidur.”

“Iya aku hanya menanyakan hal itu! Dan jika kau tidak menjawab pertanyaanku dengan benar aku akan buat dirimu tidak bisa tidur!” Sehun mengatakannya dengan suara yang dalam dan nada yang bersungguh-sungguh.

“Astaga!” Erang Seulgi, “Wendy pulang lagi ke sini. Ia…”

            Belum Seulgi berbicara Sehun sudah berteriak, “Apa?! Ia pulang lagi kesini?”

Astaga! Bocah terkutuk! Sialan!” Sungut Seulgi. “Aku belum selesai berbicara!”Lanjutnya. “Iya ia pulang lagi kesini. Ia juga berkata jika ia ingin berbaikkan dengan mu.”

“Terus apa yang kau katakan kepadanya? Aku ingin berbaikkan dengannya atau apa?”

“Tenang saja. Aku tidak mengatakan hal itu kepadanya. Aku hanya berkata jika ingin berbaikkan maka semua keputusan ada ditanganmu dan aku tidak ingin ikut campur.”

Sehun terdiam mendengar penjelasan Seulgi. Sekarang masalahnya bertambah dengan kehadiran Wendy.

Sehun-ah! Yak Bocah kecil! Kau dengar aku tidak?! Baiklah aku tutup.
            Terdengar nada terputus. Sehunpun menutup hp-flipnya. Ia memijit pelipisnya. Ini akan menjadi masalah besar. Yah, ini pasti akan menjadi masalah besar.

.

.

.

Sehun menatap alarm dengan kesal kemudian men-snoze nya lagi. Lima menit kemudian alarm berbunyi kembali. Sehun masih diam tidak berkutik. Sudah lebih dari tigapuluh menit alarmnya menjerit tetapi Sehun tidak bangung-bangun.

“Tok..Tok…Tok….”

Sehun membuka matanya, bukan karena alarm tetapi karena ada yang mengetuk pintu kamarnya.

Nuguseyo?” Tanya Sehun dengan suara khas bangun tidur.

“Tok..Tok..Tok…”

“Aisssshhhh….” Sehun mengacak rambutnya dan bangkit dari tempat tidur menuju pintu. Ia membuka pintu kamarnya dan….. “Wendy-ah?!” Kata Sehun dengan suara tercekat, “Ken-Kenapa kamu bisa dirumahku?” Lanjutnya.

.

.

.

Wendy pun menghela nafasnya. Pagi-pagi, lebih tepatnya jam enam pagi dia sudah berangkat dari rumahnya. Ini sangat lucu. Dia biasanya baru bangun jam setengah tujuh pagi. Ini semua karena Sehun. Sehunlah alasan Wendy bangun sepagi ini. Ia akan kerumahnya pagi ini, untuk menemui ibunya karena mereka akan berbelanja bareng dan ia juga ingin bertemu dengan Sehun.

“Nyonya muda.” Sang Supir menyadarkan Wendy dari lamunannya. Tanpa mengucapkan apa-apa Wendy keluar dari mobilnya. Ia menatap rumah di depannya sambil menghelakan nafas. Wendy memencet interkom.

“Anyeonghaseyo.” Katanya pada bel interkom.

“Oh Wendy-ah.” Jawab seseorang dari bel interkom. Pintu pagar langsung terbuka dan Wendy segera memasukinya. Pintu rumah Sehun terbuka dan Mrs. Oh muncul dengan senyum manis.

“Wendy sayang. Kamu datang terlalu pagi. Sehun bahkan belum bangun pagi ini.” Mrs.Oh menyambut Wendy kemudian memeluknya.

Wendy membalas pelukkan Mrs. Oh, “Wendy sudah biasa bangun pagi-pagi.” Jawab Wendy ketika selesai berpelukkan.

“Ayo masuk. Panggil saja Mom ya?” Wendy mengangguk.

Wendy dan Mrs. Oh kemudian duduk di ruang tamu dan berbincang-bincang. Seorang pelayan datang dan memberikan teh hangat ke Wendy.

“Yewon, apakah sarapan sudah siap?” Mrs. Oh bertanya ke pelayannya yang sedang memberikan teh.

“Sudah Nyonya.”

“Apakah tuan muda sudah bangun?”

“Saya rasa belum Nyonya.”

“Anak-“

Kringgg…

Telepon rumah Sehun berbunyi. Yewon segera mengangkatnya, tak berapa lama ia memberikan teleponnya ke Mrs. Oh, “Dari Sekertaris Ahn.” Kata Yewon.

Anyeonghaseyo Sekertaris Ahn, ada apa?”

“Nde? Apa?” Mrs. Oh melihat jam kemudian berkata, “Tunggu sebentar Sekertaris Ahn.” Mrs. Oh kemudian menoleh ke Wendy, “Wendy-ah bisakah kamu membangunkan Sehun? Jika pelayan yang membangunkan dia tidak akan bangun. Mungkin denganmu bisa. Bisakah?”

Wendy mengerjap bingung. Ini benar-benar kejutan baginya. “Ah, baiklah.”

“Yewon, tolong antarkan Wendy ke kamar Sehun!”

Yewon mengangguk dan membungkukkan badannya. Dia dan Wendy kemudian berjalan menuju kamar Sehun.

“Ini kamar tuan muda , Nona Wendy.” Kata Yewon ketika sampai di depan kamar Sehun. Wendy mengangguk. Yewon membungkukkan badannya dan berjalan menjauhi Wendy.

Wendy menatap pintu kamar Sehun dengan bimbang. Apakah Sehun akan senang melihatnya? Apakah Sehun marah ketika melihatnya? Dua pertanyaan itu terus terngian di otaknya. Wendy menghembuskan nafasnya kemudian mengetuk pintu kamar Sehun. Sudah saatnya ia mengetahui reaksi Sehun.

Nuguseyo?”

Deg!

Jantung Wendy serasa berhenti berdetak ketika ia mendengar suara Sehun. Ia begitu merindukkan suara tersebut. Wendy panik. Otaknya tidak bisa berpikir jernih. Yang ia pikirkan adalah dapat ia mendengar suara Sehun. Wendy memilih mengetuk pintu kamar Sehun lagi.

Hening. Wendy menghembuskan nafasnya. Sehun tidak bangun dari tidur?

Cklek!

Wendy segera menatap pintu Sehun ketika suara pintu terbuka. Sehun di depannya dan… Menatapnya dengan terkejut, tetapi hanya sebentar karena mukanya berubah menjadi datar. Datar, tanpa ada ekspresi.

“Wendy-ah?!” Wendy dapat mendengar suara Sehun yang tercekat! Apa maksudnya? Mengapa suara Sehun tercekat? “Ken-Kenapa kamu bisa dirumahku?”

“Ah…” Wendy kembali tersadar dari lamunannya ketika Sehun selesai bertanya, “Hanya ada sedikit urusan dengan Mom. Tadi Mom menyuruh aku membangunkan dirimu karena sarapan sudah siap.” Wendy berusaha mengontrol suaranya. Ia tidak ingin terdengar gugup.

.

.

.

Wajah Sehun   berubah menjadi sinis ketika mendengar alasan Wendy, “Benarkah hanya itu? Hanya itu alasanmu datang kerumahku?”

Sehun dapat air muka Wendy yang berubah. Tetapi Wendy dapat mengontrolnya kembali, “Ya.”

“Baiklah. Aku akan turun sebentar lagi.” Sehun segera menutup pintu kamarnya.

Sehun tetap terdiam sampai ia tidak mendengar lagi suara langkah Wendy dan kemudian…

“ASTAGA… Mimpi buruk apa aku semalam hingga bisa sesial ini?” Dia menggaruk kepalanya.

Sehun segera ke kamar mandi untuk mandi. Lima belas menit kemudian dia sudah siap dan turun kebawah.

Mom pikir kamu tertidur kembali. Ayo cepat sarapan. Ada janji dengan Proffesor bukan?”

Sehun mengangguk. Ia memilih untuk diam dan tidak mengeluarkan sedikit pun. Sehun duduk di depan Wendy.

“Sehun-ah, Mom dan Wendy akan shopping hari ini. Tahukah jika Wendy akan memperkenalkan..”

“ Sehun akan langsung berangkat.” Sehun bangkit dari kursi.

Mrs. Oh menatap anaknya bingung, “Makan pagi itu sangat penting.”

“Sehun sedang tidak ada nafsu untuk makan. Sehun berangkat dulu.” Katanya langsung meninggalkan dapur. Langsung meninggalkan ibunya dan Wendy. Langsung meninggalkan Wendy yang sedang menatapnya nanar.

.

.

.

“Astaga benarkah seperti itu?”

“Hmm..”

“Maksudku dia mendekatkan ibumu untuk berbaikkan denganmu?”

“Iya. Bukannya sudah bilang dari tadi!”

Laki-laki di samping Sehun mengangkat kedua tangannya, “Tenang saja poker face. Hanya ingin memastikan. Ini benar-benar gila.”

“Iya ide itu benar-benar gila. Dia selalu membuatku gila. Dulu dan sekarang.”

Lelaki di samping Sehun tertawa, “Mantan pacar memang selalu mengerikan.”

“Benarkah? Kenapa Kai Kim masih mengejar salah satu mantan pacarnya?”

Kai menjitak kepala Sehun, “Mantan pacarku tidak segila mantan pacarmu!”

“Mantan pacarmu memang tidak gila. Tapi mungkin yang sedang mengejarnyalah yang gila. Kau tahu, kau mungkin bisa bersama Wendy. Sama-sama mengejar mantan pacar.”

Kai menatap Sehun gemas. Baru saja ia ingin menerkam Sehun, Sehun bangkit dari tempat duduknya, “Aku duluan.” Kata Sehun tersenyum lebar.

“Bocah terkutuk!” Rutuk Kai melihat kepergian Sehun.

Sehun keluar dari cafe sambil memakai coat-nya. Dia melangkahkan kaki menyusuri jalan sekitar kampusnya. Di jalan ini terdiri dari banyak cafe. Kebanyakan mahasiswa/mahasiswi menyusun skripsi mereka di cafe-cafe. Baru saja beberapa langkah, Sehun menangkap sesuatu yang aneh.

Bukan setan. Tapi seorang gadis berambut panjang dibiarkan tergerai. Gadis tersebut memegang beberapa kotak kardus menghalangi pandangannya. Mukanya tidak terlihat Sehun. Tapi Sehun tahu siapa gadis itu. Ia mengetahui daari gerak-gerik tubuhnya.

Sehun menghampiri gadis tersebut. Gadis tersebut berhenti berjalan karena Sehun berada di dapannya.

“Permisi barang bawaan ku berat.” Kata gadis itu dibalik kotak.

Sehun mengambil dua kotak dari tiga kotak yang dibawa gadis tersebut, “Aku bisa membantu mu Krystal –ssi.”

Krystal membulatkan matanya, kemudian tersenyum, “Sehun-ssi. Sedang apa disini?”

Mereka berdua berjalan sambil membawa kardus Krystal.

“Baru bertemu teman. Kau?”

“Aku ingin ke tempat kerjaku.”

“Dengan membawa ini?”

“Iya. Itu dibutuhkan di tempat kerjaku.”

Sehun mengangguk, “Dimana tempat kerjamu?” Tanyanya lagi.

“Di teater kecil di dekat sini. Kenapa?”

“Hanya bertanya.”

Mereka terus berjalan sambil mengobrol. Tak terasa, meraka sudah sampai di tempat kerja Krystal.

Anyeonghaseyo Krystal-ssi.”

            Krystal menganggukkan kepalanya. Tentu dia tidak bisa membungkukkan badannya karena sedang membawa kardus.

Anyeonghaseyo Minseok-ssi.” Balas Krystal.

“Sudah membawa barang-barangnya? Langsung ingin mulai?”

Krystal mengangguk kemudian melangkahkan kakinya menuju salah satu studio. Sehun mengikuti dirinya.

“Taruh disini saja.” Krystal menunjuk bagian sisi panggung dan Sehun meletakkannya. “Terimakasih.” Katanya sambil tersenyum.

Sehun juga tersenyum, “Jangan sungkan.”

“Ada urusan lagi?”

Sehun menganggukkan kepalanya, “Kurasa… Sampai jumpa lagi Krystal-ssi.”

            “Iya. Sampai jumpa lagi Sehun-ssi.”

.

.

.

Krystal merenggangkan tubuhnya. Sudah hampir lima jam ia berkutat untuk mengecat background untuk scene pertama. Krystal tidak sendirian, ada tujuh orang yang bertugas sebagai tata letak, khususnya membuat properti. Tapi dirinya yang bertugas mengecat background dan properti. Ia diterima karena menurut pemilik teater kecil ini, Kim Heechul, teknik melukisnya sangat sempurna. Krystal melirik jam tangannya, sudah waktunya dia untuk pulang. Krystal membereskan barang-barangnya kemudian keluar dari studio.

“Hati-hati dijalan Krystal-ssi.” Kata Minseok. Minseok bertugas sebagai asisten tuan Kim dan penjaga teater ini. Dia tinggal di teater ini.

“Terimakasih.” Krystal membungkukkan badannya. Krystal berjalan keluar teater dan ia melangkahkan kakinya menuju stasiun.

“Bagaimana pekerjaan barumu?” Suara dibelakang Krystal mengagetkannya. Krystal kenal suara itu, tapi apakah mungkin orang itu menunggunya?

“Ah?” Krystal berbalik dan ia membulatkan matanya, “Apa…. Apa yang kau lakukan disini?” Tanyana menatap Oh Sehun.

Apakah Oh Sehun menunggunya? Benarkah ia menunggunya? Maksudnya apa yang laki-laki ini lakukan pada jam sekarang? Tidak mungkin habis menyusun skirpsinya dan kebetulan lewat bukan?

“Menunggumu.” Satu kata itu membuat Krystal…… Bolehkah ia berharap?

“Aku habis menyelesaikan skripsiku dan kebetulan lewat disini. Aku berpikir, apakah dirimu sudah pulang? Tapi aku bekesimpulan dirimu belum pulang karena teater ini belum ditutup, maksudku biasanya teater ini sudah ditutup pada jam segini, jika belum ditutup pasti ada sesuatu yang terjadi.”

“Ah…” Kata Krystal dengan nada kecewa, “Jadi hanya kebetulan lewat.”

“Tidak. Aku menunggumu.”

“Ya, ya, ya.. Aku mengerti.” Kata Krystal pada akhirnya. Dia mengerti. Sehun memang menunggunya. Tapi dia berharap jika Sehun menunggunya karena ingin bertemu dengan dia, bukan karena rasa penasaran apakah dia sudah pulang atau belum. Hah…. Dia sudah berharap bahkan sebelum otaknya berpikir bolehkah dia berharap.

“Jalan ke stasiun bareng?” Tawar Sehun.

“Boleh.” Kata Krystal dan mulai berjalan lagi.

“Jadi, ada kerjaan lagi?”

Krystal menggeleng, “Tidak. Aku bisa langsung pulang sehabis ini.”

“Oh begitu. Langsung pulang? Atau ketempat lain dulu, seperti membeli makan malam.”

Krystal menatap Sehun, sebentar saja kemudian menatap jalan lagi, “Kenapa kau ingin tahu kehidupanku?”

“Hanya penasaran. Kau berbeda. Baru pertama kali aku menemukan orang seperti mu.”

Krystal menatap Sehun, “Benarkah?”

Sehun menatap Krystal, “Iya. Kenapa? Merasa keberatan?”

Krystal dapat melihat kesungguhan di mata Sehun. Tetapi alasannya hanya penasaran. Ini benar-benar membuatnya gila.

“Aku akan membelinya ketika ingin pulang ke rumah. Biasanya aku akan memasaknya, tetapi aku lelah jadi aku akan beli saja.”

“Wow, kau bisa memasak?”

Krystal menatap Sehun, kali ini dengan tatapan aneh, “Iya. Seorang sepertiku harus bisa masak atau tidak akan selamat. Membeli makanan membutuhkan biaya yang sangat mahal daripada masak. Tapi terkadang aku lelah, jadi membeli. Lagipula, aku belum belanja bulanan.” Krystal menjelaskannya panjang lebar. Dia memang seperti itu. Suka menjelaskan suatu panjang lebar tanpa harus ditanya.

“Ah begitu.” Kata Sehun sambil mengangguk, “Jadi kapan dirimu akan belanja?”

Krystal terlihat berpikir, “Entahlah. Mungkin besok?”

“Jadi, dimana kau akan membeli makan malammu?”

“Di stasiun. Ada warung makan yang enak. Hey, kau mau makan disana bersama ku? Kau harus mencobanya, makanan disana sangat enak.” Entah datang darimana ide tersebut muncul. Sungguh, didalam hati Krystal tidak ada mengajak Sehun makan bersamanya untuk menghabiskan waktu lebih lama bersama Sehun. Tapi Krystal tidak dapat menarik kata-katanya kembali bukan?

“Sepertinya menarik.” Kata Oh Sehun sambil tersenyum, “Siapa yang akan mentraktir kali ini?”

“Mentraktir?! Enak saja! Bayar sendiri-sendiri.” Kata Krystal sewot.

Sehun tertawa kemudian mengelus pelan kepala Krystal, “Kupikir akan ditraktir.”

Krystal mengembungkan pipinya, “Jangan pernah mengharapkan akan ditraktir olehku.”

“Iya. Iya. Baiklah, berjalanlah lebih cepat supaya cepat sampai. Perutku sudah lapar.” Sehun kemudian mempercepat langkah kakinya. Krystal mengeluh kemudian mengikutinya.

.

.

.

Dari jauh, Wendy melihat Sehun dan Krystal. Ia tak tahu sudah berapa lama ia terus mengikuti mereka. Matanya berkaca-kaca. Kesempatannya sudah hancur. Kesempatannya untuk kembali bersama Oh Sehun. Karena, sepertinya Oh Sehun sudah mendapatkan sosok lain. Itukah mengapa Sehun memberikan respon yang aneh ketika bertemu dengan Wendy?

Tanpa dapat dicegah, bulir-bulir air matanya turun. Wendy segera berbalik. Ia tidak bisa melihat mereka lebih lama lagi. Ia akan seperti orang gila yang menangis ketika melihat mereka lebih lama lagi.

Wendy mengeluarkan hp-nya, “Tolong jemput aku segera. Aku tidak tahu dimana diriku, tetapi belum jauh dari jalan yang tadi. Gak pake lama.” Dan ia memasukkan hp-nya lagi.

Oppa.. Oppa benar-benar sudah melupakanku ya?” Tanyanya entah pada siapa. Mungkin kepada dirinya sendiri?

.TBC.

Advertisements

2 thoughts on “State of Grace (Chapter 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s