State of Grace (Chapter 4)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Wendy awalnya ingin menemui Sehun. Dia rasa, dia harus segera berbicara dengan Oh Sehun. Wendy pergi ke Universitas Sehun, tetapi gurunya bilang Sehun sudah pulang sejak tadi siang. Gurunya menyarankan agar menyarinya di sebuah jalan dekat kampus yang disitu terdapat cafe-cafe. Biasanya, mahasiswa menyusun skripsinya disana. Ia pun menemukan Sehun disebuah cafe, Sehun terlihat mengerjakan tugasnya dan disampingya terdapat temannya. Tak berapa lama kemudian, Sehun terlihat merapikan barangnya dan meninggalkan temannya.

Wendy panik ketika melihat Sehun keluar dari cafe. Ia tetap diposisinya, melihat kedalam dan pura-pura tidak tahu Sehun ada didekatnya. Sehun sepertinya tidak menyadari keberadaan Wendy dan berjalan terus. Wendy menghembuskan nafasnya. Wendy kemudian mengikuti Sehun.

Ada rasa aneh dibenak Wendy. Ia ingin berbicara tetapi tidak mempunyai keberanian bertatap muka dengan Sehun. Sekarang, ia mengikuti Sehun tanpa alasan yang jelas.

Langkah Wendy terhenti ketika Sehun juga berhenti. Sehun terlihat menatap sebuah teater kecil, ia kemudian terlihat berpikir, sehabis itu meminggir, dan memasukkan tangannya ke sakunya.

Wendy menggingit bibirnya. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk berbicara. Sehun sedang berhenti berjalan sekarang. Ia pun menarik nafas kemudian menghembuskannya. Setelah dia merasa dirinya tenang, Wendy melangkahkan kakinya. Hanya beberapa langkah. Hanya.

Wendy melihat seorang perempuan keluar. Sehun terlihat berbicara. Awalnya ia bingung kepada siapa Sehun berbicara. Tetapi, ketika perempuan tersebut berbalik, ia menatap Sehun dengan terkejut kemudian berbicara. Sehun menanggapinya. Mereka berbicara sebentar sebelum berjalan bersama-sama.

Siapa perempuan itu?

Apakah Sehun tadi menunggunya?

Wendy melangkahkan kakinya mengikuti mereka. Ia berusaha tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh. Jika terlalu dekat, ia akan ketahuan oleh Sehun. Jika terlalu jauh, ia akan kehilangan mereka. Sehun dan perempuan itu terlihat bercengkraman. Wendy menatap perempuan itu sebal. Seharusnya dirinyalah yang ada diposisi itu. Ketika ia menatap Sehun, timbulah rasa sakit. Sehun benar-benar sudah melupakannya.

Deg! Langkah Wendy berhenti ketika dia melihat Sehun tertawa dan… Dan… Dan memegang kepala gadis itu. Tidak! Lebih tepatnya mengelus kepala gadis itu.

Tidak ada yang bisa Wendy pikirkan saat ini. Rasa cemburu lebih mendominasi dirinya. Tapi ketika ia melihat , siapa dirinya. Ketika melihat, apa yang telah dia perbuat kepada Oh Sehun. Wendy tahu jika ia.. Ia harus menerima hal ini.

Mata Wendy mulai berkaca-kaca. Ia tidak bisa lagi membendung perasaannya. Bulir-bulir air mata mulai turun. Ia berbalik. Cukup lama-untuk Wendy dia menangis dalam diam, Wendy mengeluarkan hp dan menelepon supirnya.

“Tolong jemput aku segera. Aku tidak tahu dimana diriku, tetapi belum jauh dari jalan yang tadi. Gak pake lama.” Wendy memasukkan hp-nya kembali.

Suaranya bergetar, “Oppa.. Oppa benar-benar sudah melupakanku ya?” Tanyanya entah pada siapa. Mungkin kepada dirinya sendiri?

.

.

.

Sambil bersendar di kursi warung makan, Krystal terpekur menatap Sehun yang sedang makan.

“Aaah.. Ini enak sekali.” Sehun menyeruput kuahnya. Ia kemudian meletakkan mangkuknya di sebelah kanan. Kemudian mengangkat tangannya.

Krystal yang melihat hal itu langsung men-death glare Sehun. Sehun tersenyum, “Hanbamal (satu kali lagi)..” Pinta Sehun.

Krystal mendecakkan lidahnya, “Baiklah… Satu kali lagi dan hanya satu mangkuk.”

Sehun tersenyum bertepatan dengan seorang pelayan datang, “Satu mangkuk lagi.” Kata Sehun.

Pelayan tersebut mengangguk dan meninggalkan Sehun.

“Tenanglah. Ini cuman sebentar.”

Krystal menatap tajam Sehun kemudian ia mendesah, “Terserah.” Katanya lirih.

Krystal melirik mangkuk-mangkuk yang terletak disebelah kanan Sehun. Berapa mangkuk yang ada disitu? Lima? Enam? Entahlah. Mereka benar-benar makan malam di warung makan yang disarankan oleh Krystal. Warung makan ini menyediakan ramyun berbagai rasa yang sangat lezat. Ketika awal makan, semuanya terasa menyenangkan. Sekarang… Tidak begitu. Krystal sudah bosan setengah mati menunggu Sehun selesai makan. Laki-laki di depannya terus memesan lagi dan lagi. Mesti diketahui, menunggu bukanlah hal yang paling disukai Krystal.

Krystal sebenarnya bisa saja pulang duluan. Tapi, dia tidak sengaja bilang-untuk kedua kalinya dia mengucapkan sesuatu tanpa benar-benar berpikir, jika ia akan mengambil surat yang menyatakan dia diterima atau tidak di pekerjaan barunya. Tadi salah satu karyawan menelponnya dan bilang jika keputusan sudah dibuat, Krystal harus mengambilnya malam ini juga. Sehun bertanya tentag telepon tadi dan ia menjawabnya. Sehun mengatakan jika ia ingin ikut. Dia tertarik dengan pekerjaan baru Krystal ini, bahkan ia menanyai tentang pekerjaan baru Krystal ini. Krystal menolak menjawabnya, belum saatnya, kata Krystal dan Sehun terlihat tidak ingin memaksa.

Krystal mengangkat tangannya, “Sudah waktunya kita membayar.”

Sehun mengangguk.

Pelayan datang dan Krystal meminta billnya. Pelayan tersebut kemudian berjalan menuju kasir untuk mengambil bill dan ke meja mereka lagi. “Ini totalnya.” Kata pelayan itu.

Krystal melihat bill dan membayarnya dengan uang pas. Sehun juga begitu. Mereka kemudian meninggalkan warung makan.

“Kami harap anda datang kembali.” Pelayan di depan pintu membungkukkan badannya.

Krystal tertawa mendengarnya.

“Apanya yang lucu?” Sehun menatap Krystal bingung.

“Pelayan tadi.” Jawab Krystal.

“Apanya yang lucu? Dia hanya berbicara seperti biasa.”

Krystal menatap Sehun sebal, “Lupakan.”

Sehun menoel-noel pipi Krystal, “Kau sangat cepat marahnya.”

“Aisshh.. Hentikan.” Kata Krystal mencoba menghentikan tangan Sehun kemudian mereka berdua tertawa.

“Kau tahu, sebenarnya aku tak yakin dirimu sempat mengambil surat penerimaanmu malam ini juga. Ini terlihat sudah sangat malam.”

“Ini semua gara-gara dirimu!”

Sehun kembali mengacak-ngacak rambut Krystal, “Apa maksudmu gara-gara diriku?”

“Oh, astaga… Hentikan…” Lagi-lagi Krystal mencoba menghentikan tangan Sehun yang sedang mengacak-ngacak rambutnya. Sehun kemudian berhenti dan tertawa.

“Kau terlihat sangat jelek.” Kata Sehun disela-sela tawanya.

“Aisshh..” Krystal merapikan rambutnya kemudian menatap Sehun sebal. Bukannya merasa bersalah, Sehun malah tertawa tambah keras.

.

.

.

Keesokan Paginya,

Mrs. Oh melirik Sehun yang sedang menuju ke meja makan, “Pulang jam berapa kemarin?” Tanyanya ketika Sehun sudah duduk.

Sehun menguap, “Entahlah. Jam sepuluh mungkin?” Tangan Sehun mengambil roti tawar dan selai kacang.

“Kenapa pulang sangat malam? Kemana saja?”

“Tenang saja Mom. Sehun tidak melakukan hal buruk.” Sehun menyantap rotinya.

Mrs. Oh menghembuskan nafas, “Sepertinya, Mom akan pulang telat malam ini. Seperti yang dirimu tahu jika tahun ini Mom akan membuka galeri baru.”

Sehun mengangguk, “Semoga sukses!” Sehun menyemangati ibunya.

Mrs. Oh tersenyum, “Mom berangkat dulu.” Mrs. Oh mencium pipi Sehun kemudian melangkahkan kakinya.

.

.

.

“Katakan kepada saya Sekeratis Ahn.” Mrs. Oh berbicara kepada sekertarisnya. Mrs. Oh sudah sampai di tempat yang akan menjadi galeri barunya. Pagi ini, dia akan bertemu dengan kandidat-kandidat yang akan menjadi penanggung jawab galeri ini.

Sekertarisnya mengangguk, “Kandidat akan datang pada jam satu siang. Ada empat kandidat dan mereka menunggu di ruangan saya. Ini adalah profil kandidat-kandidatnya.” Sekertaris Ahn mengasih sebuah folder dan Mrs. Oh menerimanya. Mrs. Oh kemudian memasuki ruang kantornya.

Mrs. Oh mulai membuka folder yang diberikan Sekertaris Ahn, folder yang berisi tentang data-data pribadi kandidat. Ia membacanya dengan sungguh-sungguh. Tentu saja. Penanggung jawab galeri sangat penting baginya. Sama pentingnya dengan para pengoleksi. Jika penanggun jawab galeri tidak bekerja dengan baik, maka nama Mrs. Oh akan tercoreng dan dirinya tidak mau itu terjadi.

            Tok! Tok! Tok

            Mrs. Oh mengalihakan pandangnya ke arah pintu, “Silahkan masuk.”

Trek. Sekertaris Ahn masuk, “Maaf menganggu. Orang yang kemarin sudah datang.”

“Persilahkan dia masuk.” Sekertaris Ahn mengangguk dan menutup pintu Mrs. Oh. Tidak lama kemudian, seorang gadis memasuki ruangan Mrs. Oh.

“Silahkan duduk.” Mrs. Oh mempersilakan tamunya duduk. “Saya ingin meminta maaf soal kemarin malam.”

“Ah, itu tidak apa-apa.” Perempuan tersebut tersenyum ramah.

Mrs. Oh terlihat mencari sebuah kertas, ketika sudah menemukannya, ia memegang kertasnya dan membacanya, “Baiklah, jadi nama anda Krystal Jung. Lahir di California dan pindah ke Korea pada umur sepuluh tahun.” Mrs. Oh berhenti sejenak kemudian berbicara lagi, “Anda pasti sangat lancar berbahasa inggris.”

Krystal mengangguk, “Iya. Bahasa inggris saya lumayan lancar, walaupun logatnya sudah tidak sama persis.”

“Ah, begitu. Dengar Krystal,” Mrs. Oh menatap Krystal serius, “Orang yang menyarankan pekerjaan ini adalah teman dekatku dan aku sangat mempercayainya. Dia sangat memujimu. Tetapi ini adalah pekerjaan yang sangat serius. Anda akan melukis bagian depan galeri saya, lebih tepatnya dinding bagian depan galeri saya, dan saya akan mengambil hal ini dengan sangat serius. Jika lukisan anda tidak bagus akan berpengaruh kepada para pengoleksi tentang isi dari galeri saya. Saya tidak mau itu terjadi!”

Krystal terdiam. Diam-diam dia menulan ludah. “Maka dari itu saya ingin anda melukis.” Perkataan terakhir Mrs. Oh membuat ia terkejut.

“Ah, baiklah.” Kata Krystal.

“Kita mulai sekarang. Duduklah di sofa ruangan saya dan mulailah melukis. Saya akan memberikan peralatannya.”

Krystal membulatkan matanya, “Ah.. Ah..”

Mrs. Oh menaikkan alisnya, “Mengapa? Anda tidak bisa?”

“Bukan begitu. Saya ingin bertanya sesuatu. Apakah anda keberatan jika saya mempunyai pekerjaan lain selain disini?”

Mrs. Oh kembali menatap Krystal dengan serius, “Apa saja pekerjaan anda?”

“Pekerjaan saya… saya bekerja sebagai pelayan di kafe, pengajar, dan sebagai staf tata panggung di suatu teater.”

Mrs. Oh menatap Krystal lebih serius, “Dengar nyonya Jung,” Katanya dengan suara yang sangat-sangat serius, “Ini adalah pekerjaan serius. Jadi saya minta anda berhenti dari semua pekerjaan anda. Anda harus fokus dalam hal ini.”

“Ah, begitu..”

“Kenapa anda keberatan?”

“Tidak. Tapi bolehkah saya tidak berhenti bekerja di teater terlebih dahulu? Hanya sampai panggung yang saya buat selesai…”

Mrs. Oh menghempaskan dirinya ke kursi. Dia jelas tidak suka hal ini. ‘Lihat dulu lukisannya..’

Deg! Mrs. Oh teringat dengan perkataan temannya. Hyoyeon menyuruhnya untuk melihat lukisan gadis ini dulu. “Hal itu, nanti akan saya pertimbangkan. Pertama-tama, saya ingin anda melukis terlebih dahulu.”

Krystal mengangguk, “Baiklah.”

.

.

.

Mrs. Oh tersenyum tipis. Dia.. Dia senang. Bahkan sangat senang. Mrs. Oh menatap lukisan Krystal dan kembali tersenyum. Temannya benar. Gadis itu menakjubkan. Tidak heran Hyoyeon sangat memuji gadis tersebut. Dia menatap lukisan Krystal dengan tatapan kagum. Ini adalah bakat. Juga, gadis ini memiliki teknik yang sangat sempurna.

Lebih lama Mrs. Oh melihat lukisan Krystal, dia semakin tersadar jika Krystal mengingatkan dirinya kepada seseorang. Orang itu adalah teman akrabnya sewaktu kuliah, bersama-sama dengan Hyoyeon. Tapi itu dulu, berpuluh-puluh tahun yang lalu. Mrs. Oh bahkan tidak tahu dimana temannya sekarang. “Dimana dirimu? Apakah sekarang kau bahagia?” Tanyanya ketika mengingat temannya, Jessica Jung.

.TBC.

Advertisements

2 thoughts on “State of Grace (Chapter 4)

    1. Jessica ada hubungannya gak ya??? Maaf ya moment Sehun Krystalnya kurang.. Next chapter aku usahain agar banyak.. Thanks ya uda baca dan komen di setiap chapter 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s