State of Grace (Chapter 6)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Krystal memberengut. Dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih, tidak dengan terus memikirkan kejadian tadi. Krystal mengacak-ngacak rambutnya, kemudian ia merutuki hal tersebut. Rambutnya menjadi berantakan dan dia harus merapikan rambutnya atau rambutnya akan masuk ke dalam masakan. Krystal sangat jijik dengan hal itu, rambut yang terdapat di makanan.

Tok.. Tok… Tok… Krystal segera berjalan ke arah pintu.   Ah, Amber. Krystal merapikan penampilannya-terutama rambutnya, kemudian ia membuka pintu, “Amber-ah.. What are you doing in this time?” Krystal bertanya sembari membiarkan Amber masuk.

I dunno. I just wanna come. Gak boleh?”   Kata Amber sembari memakai sandalnya. Sudah menjadi kebiasaan di Amber jika ia selalu melatakkan sandalnya di Flat-nya Krystal.

Krystal mengendikkan bahunya, “Tentu tidak apa-apa.”

Amber terdiam. Jujur, tidak ada alasan penting bagi Amber untuk ke-Flat Krystal. Walaupun dia dan Krystal telah berteman sejak lama, Amber tetap tidak ingin menjadi orang seenaknya ke Flat Krystal, dia biasanya memberi tahu terlebih dahulu.   Malam ini, entahlah. Amber menemukan jika ia mempunyai firasat yang tidak enak.

Krystal kemudian menghembuskan sebuah nafas kemudian langsung menghamburkan diri ke sofa.

Had a bad day princess?”

Krystal menoleh menatap Amber, “Kurasa.” Jawabnya pendek. Krystal kemudian menghembuskan nafas lagi. “Entahlah. Aku bingung. Mungkin hanya mood-ku saja yang sedang buruk.”
Amber menatap dalam Krystal, “Krys…”

Krystal tersenyum tipis. Dia tahu jika Amber selalu pengertian kepadanya. Nyatanya, Amberlah orang yang paling mengerti dirinya. Amber pasti tahu jika terjadi sesuatu kepadanya. Hanya saja… Kali ini dia tidak ingin membagi cerita ke siapa-siapa. “Tidak apa-apa.”

Amber memberengut, “A liar.” Setelah mengucapkan kata itu, mata Amber membulat. Amber teringat akan sesuatu. “Aku ingin bertanya tentang Sehun.”

Raut wajah Krystal langsung berubah. Ah, Amber mengerti. Krystal kurang pandai menyembunyikan ekspresinya. Terutama ke hal-hal yang ia tidak sukai. “There’s a problem..”

“I don’t want talk about him….” Potong Krystal, “At least not know (Setidaknya gak sekarang).” Lanjutnya lagi.

“Ada apa Princess? Apa dia membuatmu kesal?” Amber tidak memperdulikkan kata-kata Krystal.

“Hentikan!” Jawab Krystal ketus.

“Jawab dan akan ku hentikan.” Amber menjawab tegas.

Krystal menghela nafas, “I got jealous…” Akhirnya Krystal menjawab dengan suara lirih. “Mwo?! Kau cembur?” Amber langsung heboh mendengar jawaban Krystal, dia langsung duduk rapi, seperti anak TK yang ingin mendengarkan cerita dongeng.

“Bisakah kau percaya jika aku jatuh cinta dengannya pada pandangan pertama?” Tubuh Krystal mulai santai, “It’s so ridiculous you know…

Amber tertawa kecil, “Cinta memang ridiculous.”

Krystal menoleh ke arah Amber, “Tapi aku takut dengan perasaanku….” Amber menatap sahabatnya dengan tatapan teduh, “Kau harus mencobanya Stal…. Lupakanlah masa lalu.” Krystal menggeleng, “Aku takut jika ini berakhir buruk dan aku tambah terpuruk.” Amber menghela nafas. Dia menghampiri Krystal, “I always got your back.” Kemudian dia memeluk sahabatnya.

.

.

.

Keesokan Hari,

“Aku tidak percaya ini.” Keluh Sehun. Pagi yang cerah ini sama sekali tidak membuat mood-nya cerah. Nyatanya, Sehun sama sekali tidak bersemangat pagi ini. “Mom, ayolah. Masa aku harus ikut ke gallery Mom yang baru? Aku tidak mau!” Tolak Sehun.

Tifanny yang sedari tadi asyik dengan handphone-nya menatap anak semata wayangnya, “Hanya sebentar saja. Berkenalan dengan staf-staf gallery sehabis itu cha! Terserah anak Mommy ingin kemana.”

Sehun mendecakkan lidahnya. Pasti ini berhubungan dengan geng ibunya. Dia kemudian menatap ke arah jendela.

“Ah, Sehun-ah..” Suara ibunya membuat Sehun menoleh, “Bersikap yang sopan dan..”

“Nde.. Sehun sudah tahu apa yang harus Sehun lakukan.” Potong Sehun kemudian menatap arah jendela lagi.

“Jangan cemburut…” Tangan ibunya mencubit pipi Sehun.

.

.

.

Sekertaris Ahn membetulkan kacamatanya, “Ingat ya, kalian harus bersikap sopan dengan Tuan Muda. Jangan sampai membuat Tuan Muda marah atau tersinggung dengan perilaku kalian.”

Semua staf di gallery-pun menganggukkan kepalanya. Mereka kemudian membungkukkan badan sebelum bubar. Mereka tidak langsung bekerja, tetapi menunggu di dekat pintu masuk untuk menyambut Tuan Muda.

“Ku dengar jika Tuan Muda sangat ganteng loh..” Seolhyun memulai percekapannya.

“Tentu saja dia ganteng . Lihat, Bos kita sangat cantik. Dan jangan lupa ayahnya juga sangat ganteng.” Kata Eunji.

Bomi mengatupkan tangannya, “Aku benar-benar ingin bertemu dengannya. Eh, apakah dia ramah?”

Suasana berubah menjadi ramai. Masing-masing berpendapat apakah Tuan Muda ramah atau tidak. Ada yang bilang jika ia ramah karena ibunya ramah.   Ada yang bilang ia sombong dikarenakan ibunya orang terkenal. Ada juga yang bilang ia pura-pura baik.

“Bos kita sudah datang!” Teriakan dari Chanmi membuat mereka berbaris rapi. Bersiap-siap untuk menyambut Tuan Muda.

Tap!

Tap!

“Selamat datang di gallery..” Staf-staf gallery langsung membungkukkan badan ketika Bos dan Tuan Muda mereka masuk. Mereka tidak melihat wajah Tuan Muda dulu, tetapi langsung membungkuk. Barulah setelah membungkuk mereka meliaht wajah Tuan Muda mereka yang sedang tersenyum. Semuanya terdiam. Bukan karena gugup. Semuanya diam karena terikat dengan pesona senyuman Tuan Muda.

“Saya tidak tahu jika kalian akan menyambut anak saya seperti ini. Ya Ampun, apakah saya merepotkan kalian?” Tifannya tersenyum lebar.

“Tidak. Tidak sama sekali.” Jawab staf-staf gallery dengan tatapan ke Sehun.

“Saya harap kedatangan saya tidak menganggu kalian.” Sehun akhirnya membuka suaranya.

“Tidak. Tidak sama sekali. Kami sangat senang dengan kedatangan anda.” Jawab staf gallery.

“Ah, kalau begitu mom akan memperkenalkan dirimu dengan staf-staf disini.” Para staf-staf hampir tidak bernafas ketika Tifanny berkata seperti itu. Siapa yang tidak ingin berjabat langsung dengna anak bos yang sangat ganteng? Semuanya pada tidak sabar untuk melakukan itu. “Yang pertama adalah..”

Tap!

Suara langkah masuk membuyarkan focus semua orang.   Mereka semua memandang ke arah pintu, termasuk Tifanny dan Sehun.

Krystal berada di ambang pintu. Dia terkejut. Bukan karena orang-orang yang menatapnya. Tetapi karena ia mendapati Sehun disini.

.

.

.

“Maaf.. Apakah saya..” Krystal masih belum bisa fokus. Tetapi diam bisa membuat semua tambah ruwet.

“Ah, kamu baru datang?” Krystal mengangguk, kemudian berbicara “Saya tadi ada keperluan sebentar. A-“

Tifanny langsung berbicara tanpa membiarkan Krystal menyelesaikan kalimatnya, “Ah begitu. Tenang saja tidak ada acara penting. Anak saya kebetulan ikut datang kesini. Saya juga ingin anak saya berkenalan dengan para staf. “ Tifanny kemudian memandang ke staf-staf lain, “Kurasa kita harus melanjutkannya lagi bukan?” Semuanya mengangguk. “Baiklah yang pertama adalah Krystal.”

Krystal terkejut. Dia?!

.

.

.

Krystal membasuh mukanya. Hari yang sangat buruk. Sangat. Sangat. Sangat. Krystal mengehela nafasnya.

Puk!

Seorang dari belakang memukul pelan pundaknya, “Dirimu mengejutkan kami semua.” Eunji menghampiri Krystal.

Krystal menoleh, “Siapa yang menyangka jika aku akan datang terlambat?” Katanya sambil menghela nafas. “Hari ini benar-benar buruk!” Keluh Krystal.

Eunji tersenyum, “Dia seperti mengenalmu. Kau mengenalnya?”

Krystal terdiam. Dari mana… Gadis ini… “Tentu saja aku tidak mengenalnya. Dari mana aku bisa mengenalnya?” Jawab Krystal pada akhirnya. Tepat dengan hal itu hp Krystal berbunyi. Ada tanda SMS masuk.

 

From: Oh Sehun

Galerry ini membosankan. Aku tidak mengerti apa yang staf katakan. Ngomong-ngomong, aku ingin pulang.

 

Krystal memutar bola matanya setelah selesai membaca. “Siapa?” Tanya Eunji. Krystal refleks menutup hp-nya. “Seseorang.” Jawabnya pendek. “Kurasa aku harus duluan.” Kata Krystal kemudian menjauh.

Eunji hanya menatap Krystal bingung, kemudian berkaca.

Krystal menghembuskan nafasnya. Ia membuka hp-nya dengan sangat hati-hati. Takut orang lain melihat isi sms dari Sehun. Bisa bahaya jika mereka mengetahuinya. Tapi langkanya terhenti ketika ia melihat Sehun. Sehun sedang memandang tembok putih, yang akan di lukis oleh Krystal.

“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” Krystal bertanya dengan sopan.

Sehun menoleh, “Kenapa formal sekali? Ayolah jangan seperti itu. Itu agak aneh.”

Krystal meringis, “Tapi anda adalah anak dari bos saya. Jadi..”

Sehun memutar bola matanya, “Kesini. Mendekatlah.”
Krystal terdiam. “Apa?” Tanyanya tidak mengerti.

Sehun memegang siku Krystal dan menariknya dekat. “Seperti ini. Dengan seperti ini tidak ada yang mencurigai kita jika kita saling mengenal.”

Krystal terkekeh tetapi hanya sebentar ketika melihat ekspresi serius Sehun. “Kau benar-benar harus bertanggung jawab jika aku kehilangan pekerjaanku.” Desis Krystal.

Sehun terkekeh, “Jangan terlalu parno.”

Krystal hanya mendesah. “Kenapa tidak pulang?”
Sehun kembali tertawa kecil, “Kau benar-benar mengusirku ya?”

“Pulanglah… “ Bukannya menjawab, Krystal malah tambah mengusir.

“Okay, sebelumnya aku ada persyaratan.”

Krystal mendecakkan lidahnya, “Apa?”

“Pertama, kau ingin melukis apa di dinding ini?”

Krystal terdiam, “Aku tidak ingin menjawab hal ini. Aku belum mengasih ideku jadi aku belum berani.”

“Ah seperti itu.” Respon Sehun. “Baiklah. Yang kedua, perayaan kita malam ini benar-benar harus jadi. Apapun yang terjadi. Walaupun perempuan kemarin muncul dan bilang jika aku ada urasan atau apapun. Karena aku benar-benar ada waktu kosong nanti malam.”
Krystal membeku. Dia.. Dia hanya menatap dinding, “Aku akan pulang.” Sehun menyadarkannya. Tetapi Krystal hanya mengangguk.

Krystal menggigit bibirnya ketika ia merasa Sehun sudah pergi. Dia berbalik, dan… Semua orang meantapnya. Krystal tidak memperdulikan dan menuju toilet. Dia langsung masuk ke toilet yang kosong.

Tes!

Tes!
Butir-butir air mata segera turun. Kenapa aku harus jatuh cinta kepada seseorang yang sangat sempurna? Rintih hati Krystal.

.

.

.

Sehun menatap jam untuk ke-empat kalinya. Apakah gadis ini benar-benar datang?

“Maaf..” Sebuah suara membuatnya menoleh ke kiri.   Sehun tersenyum, “Kenapa lama sekali?” Tanyanya kepada Krystal.

“Sediki urusan di kantor.” Jawab Krystal pendek. Sehun mengangguk.

“Kau suka sushi?” Krystal menggeleng mendengar pertanyaan Sehun. “Kita akan makan masakkan jepang?” Tanya Krystal.

Sehun menggeleng. “Tidak hanya bertanya. Kita akan memakan di restaurant favorite-ku.”

Krystal hanya ber-oh riya. Sehun menatap Krystal aneh. Gadis ini tseperti tidak nyaman. Apa karena kejadian tadi pagi? Well Sehun menyimpulkan jika itu adalah penyebabnya. Diam-diam Sehun mendesah. Dia tidak menyukai hal ini.

.

.

.

“Kau.. Kau yakin jika kita akan makan disini?” Nada suara Krystal menyiratkan kekhawatiran.

Krystal terlalu banyak berpikir sehingga dia tidak menyadari kemana Sehun membawa dirinya. Krystal baru menyadarinya ketika mereka tinggal beberapa langkah lagi sampai. Sampai ditempat restaurant yang Sehun katakan.

Sebenarnya dia seharusnya sadar ketika Sehun bilang restaurant berarti ia akan ke tempat yang sangat…. Tidak cocok untuknya.

“Ya. Memangnya kenapa?” Jawab Sehun tanpa menatap Krystal.

Krystal melihat dirinya, “Kurasa aku akan di usir. Lihat pakaianku.” Krystal hanya menggunakan celana panjang bewarna hitam dengna baju bewarna senada. Yang ditutupi oleh Long coat coklat. Tidak seperti orang-orang yang datang kesana yang menggunakan gaun, walaupun musim gugur sudah semakin terasa.

“Tenang. Asalkan dirimu membayar makanan disana kau tidak akan diusir.”

Krystal mendecakkan lidahnya mendengarkan jawaban Sehun, “Aku bahkan tidak bisa membayarnya.” Kata Krystal. Sehun terkekeh, “Maksudku tenang saja. Aku akan membayar semuanya.”

Mereka berdua memasukki pintu restaurant. Krystal mendesah hebat. Ini benar-benar mengagumkan. Dia melihat ke seluruh penjuru restaurant. Benar-benar menakjubkan. Restaurant ini menyediakan masakan khas Korea, arsitektur dibuat seperti Korea pada zaman dahulu. Ini benar-benar menakjubkan.

“Tunggu disini sebentar ya..” Sehun kemudian meninggalkan Krystal sendirian. Krystal masih bisa melihat Sehun karena ia sedang berbicara dengan salah satu pelayan. Kemudian Sehun dan pelayan itu pergi. Dia kemudian mengedarkan pandangannya ke penjuru restaurant.

Hampir limabelas menit Krystal menunggu Sehun. Ia harus menerima tatapan aneh tamu-tamu lain. Tentu saja karena gayanya sama sekali tidak cocok.

Krystal menghela nafas lega ketika melihat Sehun datang, “Maaf membuatmu menunggu lama.” Kata Sehun dan tanpa Krystal sadari dia tersenyum. Tersenyum tulus untuk pertama kalinya di hari ini.”Tenang saja.” Jawab Krystal pendek.

“Silahkan mengikuti saya.” Sebuah pelayan menghampiri mereka. Krystal menatap Sehun, seolah ingin menanyakan apa yang terjadi. Sehun hanya tersenyum kecil kemudian menggenggam tangan Krystal. Menariknya mengikuti pelayan tadi.

Pelayan tadi membawa Krystal dan Sehun ke sebuah ruangan khusus. Dimana hanya sedikit orang yang menyantap makanannya disana.

Pelayan tersebut kemudian menuju sebuah meja yang dekat dengan kolam, “Ini adalah meja anda.” Krystal dan Sehun langsung duduk. Tak lupa mereka mengucapkan terimakasih.

Krystal menatap Sehun dengan tatapan yang sangat-sangat-sangat bingung. Lain dengan Sehun, dia menatap semuanya dengan tenang dan mantap. Dengan langkah tenang, Sehun mengambil menu yang berada di meja. Krystal bingung tetapi dia mengikuti gerakan Sehun.

“Ingin memakan apa?” Sehun bertanya sambil melihat menu.

“Ah?!” Krystal mengangkat wajahnya, “Terserah dirimu saja.” Lanjutnya.

Sehun hanya mengangguk. Dia langsung mengangkat tangannya memanggil pelayan. “Saya pesan menu seperti biasa.” Kata Sehun. “Ah jangan lupa. Saya menggunakan kartu diskon saya.” Lanjutnya. Pelayan mengangguk kemudian meninggalkan meja.

Krystal menatap heran, “Restaurant seperti ini mempunyai kartu diskon?”
Sehun mengangguk. “Memang aneh bukan? Restaurant sebesar ini memberi kartu diskon kepada pengunjungnya?” Krystal merespon dengan mengangguk. Sebenarnya Restaurant ini tidak mempunyai kartu diskon. Sehun berkata kartu diskon sebagai kode keluarga yang datang ke Restaurant ini. Ya, Restaurant ini punya orangtua Seulgi. Tetapi untuk apa memberi tahu Krystal? Bisa-bisa gadis ini tambah tidak nyaman.

“Ehm..” Sehun mencoba membuat suasana cair. “Kau tahu….” Suasana hening sejenak. Sehun menghela nafas, “Lupakan. Aku tidak jadi bilang sesuatu.” Lanjutnya sambil tersenyum. Krystal hanya mengangguk. Sehun terdiam merutuki dirinya karena sangat malu.

“Permisi…” Seorang pelayan datang memberikan dua gelas air putih.

Sehun dengan cepat mengambilnya dan meminumnya. Menenangkan dirinya. Pengecutnya dia karena tidak bisa bilang jika ia senang bisa makan malam bersama Krsytal.

“Krys..” Panggil Sehun kembali. Krystal mendongak menatap Sehun, “Ya..” Jawabnya.

“Ku harap kau tidak tegang. Kau tahu, aku suka dengan dirimu yang ceria.”
Krystal terkejut. Raut wajahnya langsung berubah. Ia cepat-cepat menunduk. Ini benar-benar bahaya.

.TBC.

Advertisements

Flipped (Chapter 1)

Windows

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

***

Permintaan Pertama: Kembalilah Seperti Dulu

.

.

.

 

Air mata menetes… Terus menetes…. Dia menatap ke bawah. Sedikit lagi.. Satu langkah lagi dan semuanya akan berakhir. Satu langkah lagi semua kesakitannya akan berakhir. Satu langkah lagi, kenangannya tidak akan mengejarnya lagi. Satu langkah lagi dan dia akan melakukannya.

Dia akan melakukannya.

Selamat tinggal dunia!

***

Nafas seorang gadis tersengal-sengal, “Hen-ti-kan…” Katanya dengan tertatih-tatih.

Byur! Dua orang gadis yang memegang kepalanya kemudian mengelamkan lagi wajahnya kedalam air.   Menahannya hingga beberapa detik kemudian mengangkat kepalanya.

“Hadapkan dia kepadaku!” Titah perempuan yang memakai pita di rambutnya.

“Aaah.. Berhenti menarik rambutku…”Gadis tersebut merintih ketika dua orang dibelakangnya mencengkram kepalanya. Memaksa kepalanya menghadap ke gadis yang menggunakan pita di rambutnya.

Wajah kedua perempuan remaja ini bertatapan. Perempuan yang menggunakan pita mengangkat salah satu tangannya, memegang kedua pipinya dan mensejajarkan muka mereka, “Ini peringatan keduaku! Jangan pernah ganggu pacarku. Mengerti!?” Perempuan tersebut membuka sebuah bekal makanan, kemudian menghamburkan makanannya ke muka perempuan di depannya, Setelah selesai mereka, perempuan dengan pita dan kedua temannya meninggalkan gadis tersebut.

Gadis tersebut diam. Dia membersihkan wajahnya dari makanan. Tanpa dia inginkan, air matanya turun. Ini begitu menyakitkan baginya. Di-bully seperti ini. Jangan salahkan dirinya. Merebut pacar orang lain? Bukan. Dia tidak bermaksud seperti itu.

Krystal-gadis itu menutup mulutnya, tangisannya semakin membesar. Hidupnya begitu tidak adil. Dia dijodohkan dengan sahabatnya sendiri. Bukannya seharusnya dia senang? Dia sudah mengenal orang yang akan dijodohkannya sejak lama. Dia sudah akrab dengna orang yang akan dijodohkannya sejak lama.

Nyatanya pemikiran itu sangat salah. Sehun-orang yang dijodohkan dengannya, mantan sahabatnya. Iya, mantan sahabatnya. Mereka memang bersahabat tapi itu dulu. Mereka bersahabat dari TK hingga SMP. Hingga orantua mereka mengumumkan jika mereka akan dijodohkan. Setelah itu persahabatan mereka berakhir. Aneh bukan? Sepertinya Sehun hanya menganggap dirinya sebagai sahabat dan tidak lebih. Jadi mungkin Sehun tidak menerimanya dan menjauh dari dirinya. Tapi, Krystal tidak tahu alasan sesungguhnya. Alasan mengapa Sehun menjauhnya. Alasan sampai… Sehun tidak menganggapnya lagi. Alasan sampai…. Sehun menatap jijik dirinya. Alasan sampai.. Sehun benar-benar tidak mengerti sedikit pun perasaannya.

Ya. Krystal punya perasaan dengan Sehun. Sehun, seorang yang sangat pengertian dan sangat pintar dalam menghibur. Dia juga sosok yang melindungi setiap orang yang didekatnya. Siapa yang tidak jatuh hati? Krystal yakin Sehun tahu perasaannya. Dia yakin sekali. Tapi yang ia dapatkan adalah Sehun berpacaran dengan orang lain, Suzy.

Bae Suzy, gadis cantik yang terkenal di santereo sekolah. Gadis yang sering mem-bully nya karena Krystal amat sangat ingin Sehun menganggapnya lagi. Gadis yang sering mem-bully nya karena dibutakan oleh segelintir fakta, hanya karena dia pacarnya dan tidak suka dengan cewek, siapapun cewek, yang ingin dekat dengan Sehun. Tanpa melihat fakta lain dimana Sehun telah bertunangan dengan dirinya. Dan tahukah jika Sehun tidak pernah membelanya? Tidak pernah.   Krystal merasa jika hati Sehun sudah terkunci. Terkunci sampai tidak bisa dibuka.   Karena Sehun hanya menatapnya datar ketika ia di­-bully.

.

.

.

Bibi Kwon menatap miris Nyonya mudanya. Dia merasa seluruh beban di hidupnya tidak ada apa-apa dengan berat beban Nyonya mudanya. Dia yang sudah merasa pahit getirnya kehidupan, yakin jika Nyonya mudanya merasakan lebih pahit getirnya kehidupan. Dia yang dulunya bersedih dengan kehidupannya. Rumahnya disita, suaminya meninggal, anak-anaknya pergi meninggalkannya, dia harus menjadi pembantu untuk melanjutkan hidup.   Kini, ia bersedih melihat kehidupan Nyonya mudanya.

Nyonya mudanya yang harus menahan beban yang sangat berat. Pura-pura semuanya baik-baik saja di depan orang padahal tidak. Pura-pura jika dirinya bahagia padahal dia bersedih. Bibi Kwon yakin semua kehidupan yang dijalani Nyonya mudanya adalah palsu, tidak ada yang asli. Semuanya hanya pura-pura. Kecuali satu, cintanya kepada Sehun. Sayangnya Sehun tidak merasakan hal yang sama.

Bibi Kwon tersenyum getir melihat Nyonya mudanya yang telah cantik, “Anda selalu cantik nyonya muda…”

Nyonya mudanya tersenyum, “Terimakasih bibi. Doakan agar Sehun baik padaku hari ini ya..”

Bibi Kwon menelan ludahnya dan menganggukkan kepala. Dengan tidak niat, hanya untuk menyenangkan Nyonya mudanya. Krystal tersenyum lebih cerah. Bibi Kwon juga tersenyum tetapi matanya memancarkan kesenduan yang tiada tara. “Semoga berhasil Nyonya muda…”

.

.

.

Sehun terdiam menerawang malam. Sepi tanpa bulan. Tidak ada cermin besar yang memantulkan sinar matahari. Tidak ada yang menemani bintang-bintang malam ini. Malam yang sepi tanpa bulan. Sehun mendesah hebat. Hp-nya terus berdering tapi tak dipedulikannya. Dia sudah tahu siapa yang meneleponnya, Suzy. Tapi, dia tidak punya waktu untuk menjawabnya. Dia mengalami masalah yang sangat besar. Sangat.

Dilain pihak, Krystal memperhatikan Sehun dari jauh. Dia bisa melihat jika tunangannya sedang menatap langit, mencari-cari bulan. Hanya itu. Dia tidak tahu perasaan sebenarnya Sehun. Apakah dia marah?   Apakah dia bersedih?   Apakah dia kesal? Dengan segenap keberanian Krystal melangkahkan kakinya. Dia… Dia benar-benar ingin mengetahui perasaan Sehun. Kali ini saja ia ingin mengerti perasaan Sehun yang telah mengetahui jika perjodohan mereka akan di umumkan, dua bulan lagi tepatnya.

Krystal tak mengetahui rencana itu. Baru tadi. Sehabis makan malam. Sehun tidak merespon apa-apa. Tapi Krystal tahu jika Sehun tidak suka dengan rencana ini. Sehabis makan malam, para orangtua berdiskusi, Sehun pergi entah kemana. Membuat Krystal panik. Dia mencari Sehun kemana-mana. Ke perpustakaan bahkan ke kamar Sehun. Dengan putus asa, dia menyimpulkan jika Sehun sudah ke rumah Suzy untuk memberitahu rencana orangtuanya. Ia ingin menangis dan memilih taman untuk menangis. Betapa terkejutnya ketika dari kejauhan dia melihat Sehun. Dan lebih dari tigapuluh menit, dia terus memandangi Sehun. Memperhatikan pemilik hatinya dari kejauhan.

.

.

.

Sehun mendengar suara kaki, dia memiringkan matanya dan langsung mendesah keras ketika melihat siapa yang datang. “Jangan pura-pura baik menanyakan bagaimana kabarku.” Dingin. Sinis.

Krystal menelan ludah. Dia benar-benar sudah kehilangan kendali. Detak jantungnya tidak bisa ditahan. Rasa rindu yang menguap karena ini pertama kalinya Sehun kembali berbicara kepadanya. Rasa getir yang menyergap karena Sehun masih belum bisa baik kepadanya.

“Ak-Aku sudah tahu jika kau marah hanya saja..”

Sehun menatap dalam Krystal, dengan penuh kebencian, “Kepura-puraanmu untuk baik tidak akan mempengaruhi ku. Perasaanku tidak akan berubah. Aku membencimu.”

Krystal mengangakan mulutnya. “Ak-Aku..” Nada suaranya sudah mulai bergetar.

“Pergilah…” Sehun kembali memotong omongannya. Kemudian membelakangi Krystal. Krystal terdiam. Tapi didalam hatinya keputusan dirinya sudah bulat, dia akan berbicara dengan Sehun. Mengetahui bagaimana perasaan Sehun terhadap rencana ini.

“Aku tidak akan pergi… Aku akan tetap disini. Kau tidak berhak-berhak atas apa-apa kepadaku.” Dingin. Kata-kata itu terucap dari mulut Krystal. Dengan raut wajah yang sedih, dengan susah payah dia mengucapkan hal ini.

Raut wajah Sehun tidak terlihat karena cahaya yang tidak mencukupi, tapi Krystal bisa mendengar desahan nafas dari Sehun, “Benar-benar egois…” Desisnya. Kemudian Sehun bergerak melewati Krystal.

Krystal sudah menitikan airmatanya. Isak tangisnya sudah kedengaran. Ia memegang tangan Sehun, “Kembalilah seperti dulu…” Kata Krystal lirih. Lirih yang menyayat hati.

“Aku tidak mengerti apa arti ucapanmu.” Sehun melepaskan cekalan Krystal. Krystal lebih cepat menahanya, “Tersenyum manis kepadaku. Menyapaku dengan ramah. Menanyakan kabarku baik-baik saja padahal kau bisa melihat jika aku baik-baik saja. Menanyakan apakah aku sudah makan. Menghiburku jika nilaiku kurang. Menceritakan hal-hal yang tidak masuk akal” Omongan Krystal terhenti ketika tangisan membesar. Ia menangis tersedu-sedu. Sehun tetap diam disitu. Dia tidak melepas cekalan tangan Krystal. Dia juga tidak bergeming mendengar penjelasan Krystal, tidak merasa tersentuh dengan kenangan yang diberikan oleh Krystal. Dia benar-benar diam membatu.

Dengan susah payah Krystal mencoba berbicara lagi, “Kumohon.. Hiks.. Hiks… Jangan diam terhadapku… Kembalilah seperti dulu… Hiks. Hiks.. Kumohon… Katakan apa saja…. Apa saja permintanmu kepadaku agar kau kembali semula. Apa saja…”

“Matilah.” Kata itu dengan cepat meluncur dari mulut Sehun. Memberhentikan tangisan Krystal. Menjatuhkan tangan Krystal yang sedang menahannya. Membuat Krystal membisu sesaat, “Matilah dan dengan itu bebanku akan hilang. Aku bisa kembali seperti semula. Matilah.” Kata Sehun mempertegas kalimat semula. Setelah itu dia meninggalkan Krystal. Meninggalkan gadis yang sedang membatu. Meninggalkan gadis yang jiwanya hilang itu sendirian.

.

.

.

Sudah dua minggu sejak terakhir kali nyonya mudanya bertemu dengan Sehun . Sejak saat itu Bibi Kwon menemukan perubahan besar di perilaku nyonya mudanya. Nyonya mudanya diam, tidak pernah tersenyum, matanya menerawang, tatapannya kosong. Nyonya mudanya seperti pahatan pualam putih.

“Saya sedang tidak lapar bi. Taruh saja di situ dan nanti akan saya makan.” Bibi Kwon mengangguk patuh dan menaruh namapan berisi makanan di meja makan Krystal. Lain dengan hatinya yang menentang keadaan ini. Bibi Kwon baru menyadari-baru saja jika Sehun memberi pengaruh besar kepada Nyonya mudanya. Selalu membuat Nyonya mudanya tersenyum tegar. Selalu membuat Nyonya mudanya bekerja keras agar bisa memasak makanan yang lezat. Selalu membuat Nyonya mudanya mempunyai harapan untuk bertahan.

Perilaku dua minggu terakhir dari Nyonya mudanya menunjukkan jika Sehun telah tiada. Nyatanya Sehun masih hidup, sehat malah. Walau Bibi Kwon tidak melihatnya langsung tetapi tidak terdengar kabar buruk tentang Sehun.

Hanya satu kemungkinan. Jika Sehun memupuskan harapan Nyonya mudanya. Memupuskan seluruh harapan dengan kebenciannya. Bibi Kwon mendesah. Dia hanya pekerja rendahan. Tidak mungkin jika ia menanyakan langsung ke Sehun, bisa-bisa dia dianggap kurang ajar. Tidak mungkin juga ia menanyakan langsung ke Nyonya mudanya karena Nyonya mudanya tidak ingin bercerita dengannya.

“Bibi… Aku ingin bertanya sesuatu.” Suara dari Nyonya mudanya menyadarkan dari lamunannya. Bibi Kwon tersenyum lebar, suatu kemajuan Nyonya mudanya ingin berbicara.

“Apakah hidup ini adil?” Bibi Kwon mengerutkan keningnya ketika mendengar pertanyaan Nyonya muda. Apakah hidup ini adil? Bibi Kwon tersenyum getir. Dia… Dia juga sering menanyakan hal itu. Sangat sering.

.

.

.

Sehun mengedarkan pandangan ke seluruh tempat. Krystal tidak ada. Dimana gadis itu? Sudah satu bulan, sejak Krystal menangis sesenggukan di taman, Dia menemukan jika gadis itu menghilang. Lebih bisa dibilang jika gadis itu menghindar darinya. Jadi.. Jadi apakah rencananya berhasil membuat gadis itu menjauh?

“OH SEHUN!” Suara nyaring dari sebelah kanannya mengagetkannya. Sehun hanya merespon dengan Hn membuat dirinya dilototi oleh Suzy. “Kau benar-benar tidak mendengar kataku ya?” Tanya Suzy dengan nada manja.

Sehun tersenyum, “Maafkan aku. Aku banyak pikiran akhir-akhir ini.” Suzy mem-pout bibirnya, “Aku sudah capek-capek menceritakannya dan dirimu tidak mendengarkannya. Perutku sampai lapar karena hal ini. Bercerita tentang hal ini membutuhkan energy yang sangat besar.” Manja Suzy.

Sehun tertawa kemudian mengelus kepala Suzy, “Bilang saja jika dirimu lapar!” Suzy tertawa. “Ayo Oppa kita ke kantin. Aku sudah benar-benar lapar.” Sehun hanya mengangguk.

Seperti biasa, mereka berjalan dengan mengandengkan tangan mereka. Beberapa dari siswa dan siswi selalu menatap mereka dengan iri. Benar-benar pasangan yang sempurna. Jalan ke kantin harus melewati lapangan dulu. Lokasinya terpisah dari sekolah untuk meminimalisir siswa yang bolos. Walaupun lapangannya masih dikelilingi oleh gedung sekolah.

“AAAA..” Teriakan dari seorang salah satu siswi. Para siswa dan siswi yang ada disitu menghampirinya. Sehun dan Suzy menatap mereka bingung. Apa yang terjadi? Mereka juga memutuskan untuk mendekat dan…..

Krystal. Gadis itu terbujur kaku di tanah. Darah mengalir segar dari tubuhnya… Gadis ini… Gadis ini bunuh diri?

Tanpa benar-benar dia sadari, Sehun langsung menuju tubuh Krystal. Memeriksa tubuhnya. Suzy yang masih syok tidak menyadari jika pacarnya telah berada disamping Krystal. “Panggil ambulans! Cepat!” Teriak Sehun. Para siswa dan siswi baru tersadar dan segera menelepon ambulans.

Sehun melihat darah keluar dari nadinya. Astaga! Apakah gadis ini menyayat nadinya terlebih dahulu sebelum meloncat?! Sehun langsung menyobek kain kemeja putihnya. Tidak peduli jika dia akan kelihatan aneh. Sehun menutupi sayatan di nadi Krystal kemudian mengikatnya. Agar pendarahan di nadi Krystal terhenti.

Ketakutan menjalar di tubuh Sehun. Krsytal akan meninggal jika ambulans tidak segera datang. Masalahnya, hanya ini kemampuan yang bisa ia kerahkan. Dia tidak tahu apa-apa lagi. Luka-luka di tubuh Krystal terlalu parah.

Dengan hati-hati Sehun menjulurkan tangannya ke nadi leher Krystal, masih ada detak jantung. “Bertahanlah…” Desis Sehun. Tepat setelah ia berdesis mata Krystal terbuka. “Pergilah…” Kata Krystal lirih.

Sehun ternganga, “Bertahanlah.” Kata Sehun lagi.

Krystal menggeleng lemah, “Pergilah. Biarkan aku mati. Bukankah itu permintaanmu? Aku.. Aku sudah menuruti perintahmu… Biarkan aku mati….” Krystal mengucapkannya pelan dengan nafas tersengal-sengal. Sehun meneteskan air matanya, “Jangan menangis.” Kata Krystal melihat ke arah Sehun. “Bukannya kau sudah berjanji akan tersenyum lagi? Tersenyumlah Hunnie..” Setelah kata itu perlahan-lahan mata Krystal tertutup.

.

.

.

“AAARGGH.. HENTIKAN! HENTIKAN! Ku Mohon….” Perempuan berumur empat puluhan langsung berlari menuju kamar anaknya. “Sehun.. Sehunnie…” Perempuan itu mencoba membangunkan anaknya.

“Hahh.. Hahh… Hahh….” Anaknya terbangun. Nafasnya tersengal-sengal. Ibunya menatap lembut anaknya. Anaknya langsung berhambur memeluk ibunya. “Oemma.. Aku… Aku… Krystal….” Anaknya mulai menangis.

Ibunya menghembuskan nafasnya, “Tenang. Tenang ibu ada disini…” Ibunya mengelus-ngelus punggung anaknya.

.TBC.