Windows

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

***

Permintaan Pertama: Kembalilah Seperti Dulu

.

.

.

 

Air mata menetes… Terus menetes…. Dia menatap ke bawah. Sedikit lagi.. Satu langkah lagi dan semuanya akan berakhir. Satu langkah lagi semua kesakitannya akan berakhir. Satu langkah lagi, kenangannya tidak akan mengejarnya lagi. Satu langkah lagi dan dia akan melakukannya.

Dia akan melakukannya.

Selamat tinggal dunia!

***

Nafas seorang gadis tersengal-sengal, “Hen-ti-kan…” Katanya dengan tertatih-tatih.

Byur! Dua orang gadis yang memegang kepalanya kemudian mengelamkan lagi wajahnya kedalam air.   Menahannya hingga beberapa detik kemudian mengangkat kepalanya.

“Hadapkan dia kepadaku!” Titah perempuan yang memakai pita di rambutnya.

“Aaah.. Berhenti menarik rambutku…”Gadis tersebut merintih ketika dua orang dibelakangnya mencengkram kepalanya. Memaksa kepalanya menghadap ke gadis yang menggunakan pita di rambutnya.

Wajah kedua perempuan remaja ini bertatapan. Perempuan yang menggunakan pita mengangkat salah satu tangannya, memegang kedua pipinya dan mensejajarkan muka mereka, “Ini peringatan keduaku! Jangan pernah ganggu pacarku. Mengerti!?” Perempuan tersebut membuka sebuah bekal makanan, kemudian menghamburkan makanannya ke muka perempuan di depannya, Setelah selesai mereka, perempuan dengan pita dan kedua temannya meninggalkan gadis tersebut.

Gadis tersebut diam. Dia membersihkan wajahnya dari makanan. Tanpa dia inginkan, air matanya turun. Ini begitu menyakitkan baginya. Di-bully seperti ini. Jangan salahkan dirinya. Merebut pacar orang lain? Bukan. Dia tidak bermaksud seperti itu.

Krystal-gadis itu menutup mulutnya, tangisannya semakin membesar. Hidupnya begitu tidak adil. Dia dijodohkan dengan sahabatnya sendiri. Bukannya seharusnya dia senang? Dia sudah mengenal orang yang akan dijodohkannya sejak lama. Dia sudah akrab dengna orang yang akan dijodohkannya sejak lama.

Nyatanya pemikiran itu sangat salah. Sehun-orang yang dijodohkan dengannya, mantan sahabatnya. Iya, mantan sahabatnya. Mereka memang bersahabat tapi itu dulu. Mereka bersahabat dari TK hingga SMP. Hingga orantua mereka mengumumkan jika mereka akan dijodohkan. Setelah itu persahabatan mereka berakhir. Aneh bukan? Sepertinya Sehun hanya menganggap dirinya sebagai sahabat dan tidak lebih. Jadi mungkin Sehun tidak menerimanya dan menjauh dari dirinya. Tapi, Krystal tidak tahu alasan sesungguhnya. Alasan mengapa Sehun menjauhnya. Alasan sampai… Sehun tidak menganggapnya lagi. Alasan sampai…. Sehun menatap jijik dirinya. Alasan sampai.. Sehun benar-benar tidak mengerti sedikit pun perasaannya.

Ya. Krystal punya perasaan dengan Sehun. Sehun, seorang yang sangat pengertian dan sangat pintar dalam menghibur. Dia juga sosok yang melindungi setiap orang yang didekatnya. Siapa yang tidak jatuh hati? Krystal yakin Sehun tahu perasaannya. Dia yakin sekali. Tapi yang ia dapatkan adalah Sehun berpacaran dengan orang lain, Suzy.

Bae Suzy, gadis cantik yang terkenal di santereo sekolah. Gadis yang sering mem-bully nya karena Krystal amat sangat ingin Sehun menganggapnya lagi. Gadis yang sering mem-bully nya karena dibutakan oleh segelintir fakta, hanya karena dia pacarnya dan tidak suka dengan cewek, siapapun cewek, yang ingin dekat dengan Sehun. Tanpa melihat fakta lain dimana Sehun telah bertunangan dengan dirinya. Dan tahukah jika Sehun tidak pernah membelanya? Tidak pernah.   Krystal merasa jika hati Sehun sudah terkunci. Terkunci sampai tidak bisa dibuka.   Karena Sehun hanya menatapnya datar ketika ia di­-bully.

.

.

.

Bibi Kwon menatap miris Nyonya mudanya. Dia merasa seluruh beban di hidupnya tidak ada apa-apa dengan berat beban Nyonya mudanya. Dia yang sudah merasa pahit getirnya kehidupan, yakin jika Nyonya mudanya merasakan lebih pahit getirnya kehidupan. Dia yang dulunya bersedih dengan kehidupannya. Rumahnya disita, suaminya meninggal, anak-anaknya pergi meninggalkannya, dia harus menjadi pembantu untuk melanjutkan hidup.   Kini, ia bersedih melihat kehidupan Nyonya mudanya.

Nyonya mudanya yang harus menahan beban yang sangat berat. Pura-pura semuanya baik-baik saja di depan orang padahal tidak. Pura-pura jika dirinya bahagia padahal dia bersedih. Bibi Kwon yakin semua kehidupan yang dijalani Nyonya mudanya adalah palsu, tidak ada yang asli. Semuanya hanya pura-pura. Kecuali satu, cintanya kepada Sehun. Sayangnya Sehun tidak merasakan hal yang sama.

Bibi Kwon tersenyum getir melihat Nyonya mudanya yang telah cantik, “Anda selalu cantik nyonya muda…”

Nyonya mudanya tersenyum, “Terimakasih bibi. Doakan agar Sehun baik padaku hari ini ya..”

Bibi Kwon menelan ludahnya dan menganggukkan kepala. Dengan tidak niat, hanya untuk menyenangkan Nyonya mudanya. Krystal tersenyum lebih cerah. Bibi Kwon juga tersenyum tetapi matanya memancarkan kesenduan yang tiada tara. “Semoga berhasil Nyonya muda…”

.

.

.

Sehun terdiam menerawang malam. Sepi tanpa bulan. Tidak ada cermin besar yang memantulkan sinar matahari. Tidak ada yang menemani bintang-bintang malam ini. Malam yang sepi tanpa bulan. Sehun mendesah hebat. Hp-nya terus berdering tapi tak dipedulikannya. Dia sudah tahu siapa yang meneleponnya, Suzy. Tapi, dia tidak punya waktu untuk menjawabnya. Dia mengalami masalah yang sangat besar. Sangat.

Dilain pihak, Krystal memperhatikan Sehun dari jauh. Dia bisa melihat jika tunangannya sedang menatap langit, mencari-cari bulan. Hanya itu. Dia tidak tahu perasaan sebenarnya Sehun. Apakah dia marah?   Apakah dia bersedih?   Apakah dia kesal? Dengan segenap keberanian Krystal melangkahkan kakinya. Dia… Dia benar-benar ingin mengetahui perasaan Sehun. Kali ini saja ia ingin mengerti perasaan Sehun yang telah mengetahui jika perjodohan mereka akan di umumkan, dua bulan lagi tepatnya.

Krystal tak mengetahui rencana itu. Baru tadi. Sehabis makan malam. Sehun tidak merespon apa-apa. Tapi Krystal tahu jika Sehun tidak suka dengan rencana ini. Sehabis makan malam, para orangtua berdiskusi, Sehun pergi entah kemana. Membuat Krystal panik. Dia mencari Sehun kemana-mana. Ke perpustakaan bahkan ke kamar Sehun. Dengan putus asa, dia menyimpulkan jika Sehun sudah ke rumah Suzy untuk memberitahu rencana orangtuanya. Ia ingin menangis dan memilih taman untuk menangis. Betapa terkejutnya ketika dari kejauhan dia melihat Sehun. Dan lebih dari tigapuluh menit, dia terus memandangi Sehun. Memperhatikan pemilik hatinya dari kejauhan.

.

.

.

Sehun mendengar suara kaki, dia memiringkan matanya dan langsung mendesah keras ketika melihat siapa yang datang. “Jangan pura-pura baik menanyakan bagaimana kabarku.” Dingin. Sinis.

Krystal menelan ludah. Dia benar-benar sudah kehilangan kendali. Detak jantungnya tidak bisa ditahan. Rasa rindu yang menguap karena ini pertama kalinya Sehun kembali berbicara kepadanya. Rasa getir yang menyergap karena Sehun masih belum bisa baik kepadanya.

“Ak-Aku sudah tahu jika kau marah hanya saja..”

Sehun menatap dalam Krystal, dengan penuh kebencian, “Kepura-puraanmu untuk baik tidak akan mempengaruhi ku. Perasaanku tidak akan berubah. Aku membencimu.”

Krystal mengangakan mulutnya. “Ak-Aku..” Nada suaranya sudah mulai bergetar.

“Pergilah…” Sehun kembali memotong omongannya. Kemudian membelakangi Krystal. Krystal terdiam. Tapi didalam hatinya keputusan dirinya sudah bulat, dia akan berbicara dengan Sehun. Mengetahui bagaimana perasaan Sehun terhadap rencana ini.

“Aku tidak akan pergi… Aku akan tetap disini. Kau tidak berhak-berhak atas apa-apa kepadaku.” Dingin. Kata-kata itu terucap dari mulut Krystal. Dengan raut wajah yang sedih, dengan susah payah dia mengucapkan hal ini.

Raut wajah Sehun tidak terlihat karena cahaya yang tidak mencukupi, tapi Krystal bisa mendengar desahan nafas dari Sehun, “Benar-benar egois…” Desisnya. Kemudian Sehun bergerak melewati Krystal.

Krystal sudah menitikan airmatanya. Isak tangisnya sudah kedengaran. Ia memegang tangan Sehun, “Kembalilah seperti dulu…” Kata Krystal lirih. Lirih yang menyayat hati.

“Aku tidak mengerti apa arti ucapanmu.” Sehun melepaskan cekalan Krystal. Krystal lebih cepat menahanya, “Tersenyum manis kepadaku. Menyapaku dengan ramah. Menanyakan kabarku baik-baik saja padahal kau bisa melihat jika aku baik-baik saja. Menanyakan apakah aku sudah makan. Menghiburku jika nilaiku kurang. Menceritakan hal-hal yang tidak masuk akal” Omongan Krystal terhenti ketika tangisan membesar. Ia menangis tersedu-sedu. Sehun tetap diam disitu. Dia tidak melepas cekalan tangan Krystal. Dia juga tidak bergeming mendengar penjelasan Krystal, tidak merasa tersentuh dengan kenangan yang diberikan oleh Krystal. Dia benar-benar diam membatu.

Dengan susah payah Krystal mencoba berbicara lagi, “Kumohon.. Hiks.. Hiks… Jangan diam terhadapku… Kembalilah seperti dulu… Hiks. Hiks.. Kumohon… Katakan apa saja…. Apa saja permintanmu kepadaku agar kau kembali semula. Apa saja…”

“Matilah.” Kata itu dengan cepat meluncur dari mulut Sehun. Memberhentikan tangisan Krystal. Menjatuhkan tangan Krystal yang sedang menahannya. Membuat Krystal membisu sesaat, “Matilah dan dengan itu bebanku akan hilang. Aku bisa kembali seperti semula. Matilah.” Kata Sehun mempertegas kalimat semula. Setelah itu dia meninggalkan Krystal. Meninggalkan gadis yang sedang membatu. Meninggalkan gadis yang jiwanya hilang itu sendirian.

.

.

.

Sudah dua minggu sejak terakhir kali nyonya mudanya bertemu dengan Sehun . Sejak saat itu Bibi Kwon menemukan perubahan besar di perilaku nyonya mudanya. Nyonya mudanya diam, tidak pernah tersenyum, matanya menerawang, tatapannya kosong. Nyonya mudanya seperti pahatan pualam putih.

“Saya sedang tidak lapar bi. Taruh saja di situ dan nanti akan saya makan.” Bibi Kwon mengangguk patuh dan menaruh namapan berisi makanan di meja makan Krystal. Lain dengan hatinya yang menentang keadaan ini. Bibi Kwon baru menyadari-baru saja jika Sehun memberi pengaruh besar kepada Nyonya mudanya. Selalu membuat Nyonya mudanya tersenyum tegar. Selalu membuat Nyonya mudanya bekerja keras agar bisa memasak makanan yang lezat. Selalu membuat Nyonya mudanya mempunyai harapan untuk bertahan.

Perilaku dua minggu terakhir dari Nyonya mudanya menunjukkan jika Sehun telah tiada. Nyatanya Sehun masih hidup, sehat malah. Walau Bibi Kwon tidak melihatnya langsung tetapi tidak terdengar kabar buruk tentang Sehun.

Hanya satu kemungkinan. Jika Sehun memupuskan harapan Nyonya mudanya. Memupuskan seluruh harapan dengan kebenciannya. Bibi Kwon mendesah. Dia hanya pekerja rendahan. Tidak mungkin jika ia menanyakan langsung ke Sehun, bisa-bisa dia dianggap kurang ajar. Tidak mungkin juga ia menanyakan langsung ke Nyonya mudanya karena Nyonya mudanya tidak ingin bercerita dengannya.

“Bibi… Aku ingin bertanya sesuatu.” Suara dari Nyonya mudanya menyadarkan dari lamunannya. Bibi Kwon tersenyum lebar, suatu kemajuan Nyonya mudanya ingin berbicara.

“Apakah hidup ini adil?” Bibi Kwon mengerutkan keningnya ketika mendengar pertanyaan Nyonya muda. Apakah hidup ini adil? Bibi Kwon tersenyum getir. Dia… Dia juga sering menanyakan hal itu. Sangat sering.

.

.

.

Sehun mengedarkan pandangan ke seluruh tempat. Krystal tidak ada. Dimana gadis itu? Sudah satu bulan, sejak Krystal menangis sesenggukan di taman, Dia menemukan jika gadis itu menghilang. Lebih bisa dibilang jika gadis itu menghindar darinya. Jadi.. Jadi apakah rencananya berhasil membuat gadis itu menjauh?

“OH SEHUN!” Suara nyaring dari sebelah kanannya mengagetkannya. Sehun hanya merespon dengan Hn membuat dirinya dilototi oleh Suzy. “Kau benar-benar tidak mendengar kataku ya?” Tanya Suzy dengan nada manja.

Sehun tersenyum, “Maafkan aku. Aku banyak pikiran akhir-akhir ini.” Suzy mem-pout bibirnya, “Aku sudah capek-capek menceritakannya dan dirimu tidak mendengarkannya. Perutku sampai lapar karena hal ini. Bercerita tentang hal ini membutuhkan energy yang sangat besar.” Manja Suzy.

Sehun tertawa kemudian mengelus kepala Suzy, “Bilang saja jika dirimu lapar!” Suzy tertawa. “Ayo Oppa kita ke kantin. Aku sudah benar-benar lapar.” Sehun hanya mengangguk.

Seperti biasa, mereka berjalan dengan mengandengkan tangan mereka. Beberapa dari siswa dan siswi selalu menatap mereka dengan iri. Benar-benar pasangan yang sempurna. Jalan ke kantin harus melewati lapangan dulu. Lokasinya terpisah dari sekolah untuk meminimalisir siswa yang bolos. Walaupun lapangannya masih dikelilingi oleh gedung sekolah.

“AAAA..” Teriakan dari seorang salah satu siswi. Para siswa dan siswi yang ada disitu menghampirinya. Sehun dan Suzy menatap mereka bingung. Apa yang terjadi? Mereka juga memutuskan untuk mendekat dan…..

Krystal. Gadis itu terbujur kaku di tanah. Darah mengalir segar dari tubuhnya… Gadis ini… Gadis ini bunuh diri?

Tanpa benar-benar dia sadari, Sehun langsung menuju tubuh Krystal. Memeriksa tubuhnya. Suzy yang masih syok tidak menyadari jika pacarnya telah berada disamping Krystal. “Panggil ambulans! Cepat!” Teriak Sehun. Para siswa dan siswi baru tersadar dan segera menelepon ambulans.

Sehun melihat darah keluar dari nadinya. Astaga! Apakah gadis ini menyayat nadinya terlebih dahulu sebelum meloncat?! Sehun langsung menyobek kain kemeja putihnya. Tidak peduli jika dia akan kelihatan aneh. Sehun menutupi sayatan di nadi Krystal kemudian mengikatnya. Agar pendarahan di nadi Krystal terhenti.

Ketakutan menjalar di tubuh Sehun. Krsytal akan meninggal jika ambulans tidak segera datang. Masalahnya, hanya ini kemampuan yang bisa ia kerahkan. Dia tidak tahu apa-apa lagi. Luka-luka di tubuh Krystal terlalu parah.

Dengan hati-hati Sehun menjulurkan tangannya ke nadi leher Krystal, masih ada detak jantung. “Bertahanlah…” Desis Sehun. Tepat setelah ia berdesis mata Krystal terbuka. “Pergilah…” Kata Krystal lirih.

Sehun ternganga, “Bertahanlah.” Kata Sehun lagi.

Krystal menggeleng lemah, “Pergilah. Biarkan aku mati. Bukankah itu permintaanmu? Aku.. Aku sudah menuruti perintahmu… Biarkan aku mati….” Krystal mengucapkannya pelan dengan nafas tersengal-sengal. Sehun meneteskan air matanya, “Jangan menangis.” Kata Krystal melihat ke arah Sehun. “Bukannya kau sudah berjanji akan tersenyum lagi? Tersenyumlah Hunnie..” Setelah kata itu perlahan-lahan mata Krystal tertutup.

.

.

.

“AAARGGH.. HENTIKAN! HENTIKAN! Ku Mohon….” Perempuan berumur empat puluhan langsung berlari menuju kamar anaknya. “Sehun.. Sehunnie…” Perempuan itu mencoba membangunkan anaknya.

“Hahh.. Hahh… Hahh….” Anaknya terbangun. Nafasnya tersengal-sengal. Ibunya menatap lembut anaknya. Anaknya langsung berhambur memeluk ibunya. “Oemma.. Aku… Aku… Krystal….” Anaknya mulai menangis.

Ibunya menghembuskan nafasnya, “Tenang. Tenang ibu ada disini…” Ibunya mengelus-ngelus punggung anaknya.

.TBC.

Advertisements

2 thoughts on “Flipped (Chapter 1)

  1. huuh.. ini nyesek.. beneran.. dari awal sampai akhir.. si Sehun tega nian memperlakukan Krystal kayak gitu.. emangnya dia sama sekali gak punya secuil rasa minimal sebagai sahabat yang sayang sama Krystal? kan bukan Krystalnya yang minta dijodohin kan? ini rencana orang tua mereka. hmm, kayaknya Sehun bakal merasa penyesalan yang berkepanjangan..
    annyeong.. aku reader.. yaah gak baru juga siih.. tapi sebelmnya cuma sempet ngasih ‘like’ kali ini ngasih comment.. hehehe… ceritanya bagus.. berhasil bikin sebel sama Sehun dan bikin patah hati juga…
    cuma sedikit saran.. kan ada kata cewek sama gadis, kalo menurutku disamakan ajha sih, mau pake gadis apa cewek.. soalnya pemilihan kata menurutku mempengaruhi feelku waktu baca.. hehe.. itu ajha siih.. yang lainnya aku merasa udah pas.. ^^ semangat buat lanjutinnya..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s