Flipped (Chapter 4)

large

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

***

Impian di Atas Segala Impian

“Baiklah.” Seru Sehun pelan. Sehun menatap Bibi Kwon, “Aku akan mengabulkannya. Ketika dia sadar, ketika dia sudah pulih, aku akan memutuskan pertunangan ini. Aku berjanji akan membuatnya bahagia, tidak akan menyulitkan dirinya lagi, dan tidak akan membuatnya sedih ketika ia tersadar.” Lanjut Sehun.

.

.

.

Hari-hari berganti. Sudah tiga bulan semenjak kejadian dimana ia berjanji akan mengabulkan permintaan Bibi Kwon. Menyesal? Tidak juga. Bukankah itu yang Sehun inginkan? Terlepas dari Krystal.

Hari ini, tepat satu tahun kejadian itu. Kejadian yang akan terus di ingatnya. Orangtua Krystal mengajak makan malam keluarganya. Tentu saja keluarga mereka tidak dapat menolaknya dan Sehun harus ikut. Makan malam yang sunyi. Semuanya diam. Berbicara hanya sekali-kali. Terbalik ketika dulu, semuanya sibuk berbincang-bincang. Yah, walaupun hal yang mereka bincangkan sama sekali tidak di sukai oleh Sehun.

Malam beranjak naik. Sehun mendesah. Para orangtua- orangtua dirinya dan Krystal masih asyik berdiskusi. Berapa lama lagi mereka akan berdiskusi? Sehun melihat jam tangannya, sudah jam setengah sembilan malam. Sehun sudah mengantuk. Apa yang harus ia lakukan? Tentu dia sudah mati kutu harus menunggu di taman.

“Permisi…” Suara lembut dari belakang membuat Sehun menoleh.

“Oh… Bibi Kwon. Sudah lama tidak bertemu dengan anda.” Sehun berkata sambil membungkukkan badannya.

Bibi Kwon terdiam sesaat. Merasa aneh dengan sikap Sehun. “Oh… Ya. Sudah lama.” Akhirnya Bibi Kwon menjawab. “Jadi…” Bibi Kwon berbicara lagi, “Ada acara dengan Tuan dan Nyonya?”

Sehun mengangguk. “Ya. Acara makan malam.”

“Sudah lama Anda tidak ke sini. Saya rasa terakhir kelas tiga SMP.”

Sehun terdiam. Tidak menanggapi omongan Bibi Kwon. Hanya tersenyum kecil.

Bibi Kwon menggaruk kepalanya. Sepertinya dia terlalu cepat akrab kepada Sehun. Akhirnya Bibi Kwon berkata, “Saya pikir sebaiknya Anda masuk ke dalam rumah. Sudah mau hujan.”

Sehun menoleh ke Bibi Kwon. Kemudian menatap langit kembali. “Saya rasa Anda benar. Saya permisi dulu.” Sehun lagi-lagi membungkukkan badannya dan berjalan masuk.

Sehun berjalan santai menuju ruang makan tadi. Sepertinya sudah cukup lama dia di luar, setelah orangtuanya dan orangtua Krystal mengusir dirinya. Katanya ada hal yang harus dibicarakan oleh orangtua. Sehun terhenti di depan ruang makan. Para orangtua masih mengobrol. Tetapi Oemma Krystal tersadar dan bilang sesuatu sehingga yang lain melihat ke arah Sehun.

“Apa yang Sehun lakukan disini?” Oemma Sehun bangkit dari tempat duduk. “Kami belum selesai berdiskusi.” Lanjutnya.

“Sebentar lagi akan hujan.” Jawab Sehun dengan tatapan bingung. Berbagai pikiran mulai menyergapinya. Kemudian Sehun menguap. Rasa mengantuk sudah menerjang dirinya.

“Ah… Bagaimana jika kamu ke kamar Krystal saja? Kami belum selesai berdiskusi.”

Sehun hanya mengangguk mendengar perintah Oemma Krystal. Sehun membungkukkan badannya dan kemudian berjalan menuju kamar Krystal.

       Trek! Sehun masuk ke kamar Krystal. Aroma Lily yang menusuk menerjang penciuman Sehun. Sehun mendesah. Krystal menyukai bunga ini. Sangat menyukainya.

Sehun memandang ke sekeliling kamar ini. Kamar bewarna Baby Blue. Satu tempat tidur yang besar. Satu cermin di depannya. Satu lemari yang juga besar. Tak lupa meja belajar Krystal. Juga ada rak buku, meskipun di rak itu juga terdapat beberapa barang selain buku. Sangat berbeda ketika terakhir kali dia ke sini. Dan terakhir kali itu ketika dia kelas 3 SMP. Sudah sangat lama.

Kaki Sehun melangkah ke rak buku. Terdapat banyak novel disana. Oh, ya, gadis ini sangat menyukai novel. Kemudian foto-foto Krystal. Ada foto Krystal bersama dirinya, Sehun ingat hari itu. Hari dimana kunjungan ke museum pengawetan hewan. Mereka berdua berfoto di depan beruang yang di awetkan. Kemudian foto di sebelahnya, foto acara perpisahan SD, Krystal menatap kamera dan tersenyum manis. Oh…. Betapa Sehun merindukan senyuman manis itu. Sedetik kemudian Sehun memberengut, Apa yang baru saja ia pikirkan? Mungkin dia lelah, tidak, dia memang lelah.

Sehun memutuskan untuk langsung ke tempat tidur saja. Sehun membuka coat-nya. Menaruh coat-nya ke sembarangan tempat. Langsung menghempaskan dirinya ke kasur.

       Duk!

“Aaah..” Ringis Sehun. Dia bangun lagi, memegang kepalanya yang kesakitan. Dia menatap bantal Krystal. Kenapa sangat keras? Seperti batu. Sehun mengangkatnya. Dan merasa bahwa bantal lebih berat daripada bantal biasa. Sehun membuka sarung bantalnya. Memasukkan tangannya ke dalam. Ah….. Rupanya ada buku di balik bantal ini. Sehun segera mengambil buku tersebut.

Sehun menatap buku tersebut. Kenapa menaruhnya di bantal? Apakah memang sengaja? Untuk menyembunyikannya? Siapa saja yang mengetahuinya, selain Krystal?

Sehun menarik nafasnya dan membuka buku tersebut. Buku tersebut diberi penanda dan Sehun langsung membuka penanda tersebut. Tanggal 29 Oktober. Tanggal dimana, sehari sebelum Krystal bunuh diri. Sehun langsung membacanya.

………..

        Rabu, 29 Oktober 2014

Ada orang yang pernah bilang, kebahagiaan itu sederhana, asal melihat orang yang dicintainya bahagia, dia akan bahagia.

Hari ini, malam ini, detik ini, aku ingin mengingatnya untuk terakhir kalinya. Mengingat orang terpenting dalam hidupku. Mengingat orang yang telah memberikan pengaruh, pengaruh yang sangat besar untukku. Mengingat orang yang sangat-sangat ingin kubuat bahagia. Aku, ingin mengingat Oh Sehun, untuk yang terakhir kalinya.

Aku bodoh bukan???? Kenapa aku masih mempercayainya? Kenapa aku masih menggantungkan harapan kepadanya?? Kenapa aku masih mencintainya???? Padahal bukti sudah terpampang sangat jelas, dia selalu menyakiti ku. Selalu membuatku sedih. Tapi kenapa???????? Aku lelah. Lelah dengan belengu cinta ini. Hari-hari ku hanya dilewati oleh dua hal, ingin membuat ia melihatku lagi, dimana itu akan membuat diriku bahagia. Atau menyerah, membiarkan dirinya tidak memperhatikanku, berhenti merecokkinya. Dan jika melakukan hal itu, dia akan bahagia. Itulah yang setidaknya ia selalu katakan padaku, Menjaulah! Maka aku akan bahagia!!!

Tapi, malam ini, aku tidak memikirkan apa-apa lagi. Aku sudah senang. Aku tidak lagi gelisah. Aku, aku sudah memutuskannya. Dan kali ini aku yakin, jika apa yang kulakukan akan membuatnya bagaia dan aku juga bahagia. Karena bahagia itu melihat seseorang yang ia cintainya bahagia.

Untuk terakhirnya, aku akan mengingatnya. Hari itu, dua tahun yang lalu, sebuah kejadian yang belum pernah ku tulis di buku ini.   Aneh, karena ku pikir-pikir kejadian itu merupakan sebuah kejadian terindah yang pernah terjadi di hidupku.

Dua tahun yang lalu, di sebuah sore ulang tahun Eunjin, anak tunggal dari Keluarga Song, kolega bisnis keluargaku, di taman yang indah, taman dimana bunga-bunga selalu bermekaran sepanjang tahun karena di taman itu ditanami oleh empat jenis bunga. Pertama bunga yang selalu mekar di musim semi. Kedua bunga yang selalu mekar di musim panas. Ketiga bunga yang selalu mekar di musim gugur. Dan yang keempat adalah bunga yang mekar di musim dingin. Semerbak wanginya bunga di taman itu, melengkapi indahnya sore itu. Waktu itu, aku diajak oleh Seungyeon Oenni ke taman itu, Seungyeon Oenni bilang jika di taman itu banyak sekali bunga-bunga yang indah dan ia ingin melihatnya, tetapi dia takut jika sendirian ke sana. Saat sampai di taman, banyak orang di taman itu dan Seungyeon Oenni mendesah karena dia pikir tidak ada orang yang ada di taman ini kecuali dirinya. Dia kemudian bilang kepadaku jika kau bisa pulang, karena ia tahu aku tidak menyukai taman. Aku ingin pulang, tetapi aku melihat Sehun sedang berbincang-bincang dengan Luhan, salah satu teman akrab Sehun. Sehun berbalik kemudian dia menatapku terkejut, seperti tidak menyangka jika aku berada di sana. Aku tersenyum, melambaikan tangan ke arahnya dan Sehun kemudian tersenyum dan membalas lambaian tanganku. Sehun kemudian berjalan ke arahku kemudian bertanya, kenapa aku datang ketaman? Padahal aku sangat tidak suka dengan taman. Aku tertawa dan membalas jika aku hanya menemani Seongyeon Oenni. Sehun tersenyum dan mengajak aku untuk kembali ke tempat pesta dan aku mengangguk. Saat sedang menuju ke tempat pesta, baru beberapa langkah, aku terjatuh. Ini karena sepatu yang kugunakan …… Kakiku rasanya sakit sekali dan aku tidak bisa berdiri. Sehun yang berada di sampingku terlihat panik karena aku berteriak kesakitan, sebenarnya aku tidak berteriak tetapi mengaduh kesakitan. Sehun membantu aku berdiri, tetapi aku malah terjatuh lagi. Akhirnya…. Akhirnya Sehun mengendong diriku. Astaga…. Hebat bukan? Bedanya dirinya yang dulu dan sekarang. Dan diriku juga lupa menulis hal ini. Yang aku tulis di buku ini adalah hal yang terjadi sehari sesudahnya, tanggal 14 maret yaitu ketika aku harus beristirahat selama dua minggu di rumah karena kakiku yang terkilir. Dan aku menumpahkan kekesalanku pada hari itu dan lupa jika aku mengalami hal yang sangat menakjubkan kemarinya.

Sebenarnya, ini masih menimbulkan pertanyaan kepadaku. Kenapa ia berubah. Tetapi, aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika malam ini aku tidak akan memikirkan apapun lagi. Semuanya telah kutinggalkan. Semua orang memang selalu berubah dengan sebuah alasan. Karena sebuah keadaah yang memaksanya untuk berubah. Mungkin Sehun berubah karena sebuah alasan. Tetapi…. Tetapi, aku berharap jika dia dapat mengingat sebuah alasan lain, dimana alasan tersebut dapat membuatnya bertahan, untuk tidak berubah.

………..

        Sudah. Tulisannya berakhir di situ. Di coretan tersebut. Sehun menatap buku tersebut, kemudian dengan sekali hentakan dia merobek lembaran tanggal 29 Oktober itu. Memasukkan lembarannya kedalam saku coach-nya. Terakhir, menaruh kembali diary Krystal kedalam bantal. Sehun kemudian terdiam, ia terlihat berpikir. Tiga menit kemudian Sehun sudah memakai kembali coat-nya. Dia mengubur rencananya untuk tidur di kamar Krystal dan keluar dari kamar Krystal.

       Trek!

“Sehun..” Bersama dengan Sehun keluar, Oemma berada di depannya. “Baru saja Oemma ingin membangunkanmu.”

“Aku tidak bisa tidur tadi karena pakaian ini.” Potong Sehun. Sehun tahu Oemma pasti akan mencurigai dirinya karena ia tidak tidur. Sehun selalu tidur jam setengah sepuluh malam. Selambat-lambatnya ia tidur jam sepuluh malam. Jadi Oemma pasti curiga jika jam sepuluh lebih anaknya belum tertidur. “Ayo kita pulang!” Lanjut Sehun.

       Oemma hanya terdiam dan mengangguk. Menerima alasan konyol anaknya.

Ditemani hujan yang deras, Sehun dan keluarga keluar dari rumah besar keluarga Jung. Baru tiga menit Sehun menyandarkan tubuhnya di kursi mobil, dia sudah terlelap. Oemma yang berada di samping menatap anaknya, “Aku tahu jika dirimu berbohong. Pasti kau melakukan sesuatu di kamar Krystal sehingga dirimu tidak bisa tidur.” Seru Oemma pelan kepada anaknya yang sedang lelap tertidur.

.

.

.

“Aaaaahh…” Teriak kekecewaan bercampur kesal terdengar dari kelas XII-2. Para siswa menggerutu karena guru terperfectionist mereka, Kim Seongsangnim memberikan tugas membuat rangkuman tentang buku Penciptaan Alam Semesta. Tugas itu harus dikumpulkan dua hari kemudian tepat pukul jam delapan pagi.

Sehun mendesah. Dia memang anak murid yang baik, tapi tugas ini terlalu berat.   Buku yang berisi 151 lembar halaman dan harus selesai dalam waktu dua hari?

“Aku akan mati sebelum bisa menyelesaikan rangkuman buku ini.” Keluh Kai. Wajahnya terlihat sangat lusuh. Dengan tidak semangat, ia memasukkan buku-buku pelajaran. Sangat terbalik dengan beberapa menit yang lalu. Sebelum Kim Seongsangnim memberikan tugas, muka Kai sangat bersemangat karena sebentar lagi dia bisa pulang. “Ayo kita kerjakan bersama-sama di perpustakaan.”

Sehun menatap Kai, “Aku tidak bisa.” Jawabnya. Ia kembali melanjutkan, “Aku ada urusan sehabis ini.”

Kai menghela nafas, “Urusan?” Kai mencondongkan tubuhnya ke arah Sehun. Dengan berbisik Kai berkata, “Menjenguk Krystal?”

Sehun tersenyum dan mengangguk, “Aku duluan…..” Kai menjawab dengan anggukan juga.

Sehun akhir-akhir ini selalu menjenguk Krystal setiap ada kesempatan. Setiap tidak ada pelajaran tambahan. Setiap tidak ada tugas kelompok. Astaga! Kenapa temannya lebih perhatian kepada Krystal sekarang?

.

.

.

Sehun mendesah hebat. Dia bosan. Dia lelah. Sehun menutup buku yang berjudul Penciptaan Alam Semesta. Buku yang Kim Seongsangnim suruh dirangkum. Sehun kemudian berdiri dari kursi tersebut, merenggakan tubuhnya, dan berjalan mendekat ke arah Krystal.

“Kapan kau sadar hmm?” Tanya Sehun kepada Krystal. Gadis itu masih diam. Memejamkan matanya dengan damai.

“Sudah satu tahun tiga bulan Krys…. Sudah satu tahun tiga bulan… Banyak hal yang sudah berubah. Banyak. Aku, aku sekarang sudah di kelas XII. Aku menargetkan Sungkyunkwan University atau Korea University sebagai tempat kuliahku. Aku sudah putus dengan Suzy. Sudah sangat lama. Berapa lama ya?” Sehun terlihat berpikir. Ia kemudian tertawa kecil dan melanjutkan pembicaraannya, “Aku tidak ingat kapan aku putus dengan Suzy. Tapi saat putus dengan Suzy aku merasa lega. Appa benar, dia hanya teman yang baik.”

Sehun menghela nafas kecil, “Apa kau akan mengingat diriku ketika nanti sadar? Bagaimana perasaanmu ketika melihatku lagi?”

       Tap! Tap! Tap!

Suara langkah kaki membuat Sehun menoleh. Bibi Kwon datang. Sehun tersenyum. Sedangkan Bibi Kwon menatap Sehun dengan tatapan sedikit terkejut.

Anyeonghaseyo Tuan Muda. Saya tidak menyangka dapat bertemu Anda di sini.” Bibi Kwon menyapa dengan ramah Sehun. Tak lupa, Bibi Kwon membungkukkan badannya.

Sehun membalas bungkukkan badan Bibi Kwon. “Saya juga tidak menyangka dapat bertemu dengan Anda di sini. Sudah berbulan-bulan Anda tidak menjenguk Krystal.”

“Ah, Anda selalu datang kesini?”

Sehun mengangguk, “Ya.”

“Ah, karena orangtua Anda yang menyuruh bukan?”

Sehun tertawa. “Ya. Dan aku juga mau.”

Bibi Kwon terdiam. Dia tersenyum tipis.

“Silahkan duduk bi. Saya akan melanjutkan tugas saya lagi.” Bibi Kwon mengangguk. Ia duduk di kursi yang tadi Sehun tempati.

Mata Bibi Kwon menerawang. Raut wajahnya terlihat berpikir. Apa maksudnya semua ini? Apa maksud dari perubahan perilaku Sehun? Apa maksud dari perkataan Sehun waktu itu? Perkataan tiga bulan yang lalu. Apa maksudnya?

Flashback Start~

         Bibi Kwon tersenyum kepada perawat yang menghampirinya.

         “Sini biar saya bantu membawakannya.” Kata perawat tersebut ramah. Sang perawat mengambil karangan bunga dari tangan Bibi Kwon dan Bibi Kwon mengucapkan terimakasih. Karena sejujurnya, ia sangat susah berjalan sambil membawa karangan bunga yang sangat besar ini.

       “Anda ingin menjenguk siapa di lantai ini?” Perawat tiba-tiba bertanya.

        “Ingin menjenguk Krystal Jung.” Jawab Bibi Kwon sambil tersenyum.

          “Krystal Jung? Saya rasa tadi ada orang yang juga menjenguknya. Sekitar limabelas menit yang lalu, ada laki-laki remaja yang memasuki kamar Ananda Krystal.”

       “Seorang remaja?” Perawat menganggukkan kepalanya.

Oh Sehun.

        Nama itu langsung terbesit di pikiran Bibi Kwon. Untuk apa?

        “Ah, biar saya saja yang membawa bunga ini sendirian ke dalam. Terimakasih atas bantuan Anda.”   Bibi Kwon langsung mengambil karangan bunga. Menyunggingkan Senyum.

        Perawat tersebut juga membalas senyuman Bibi Kwon.

         Dengan perlahan, seakan tidak ingin membuat suara sedikitpun Bibi Kwon masuk. Cukup susah, tetapi Bibi Kwon berhasil. Lagi-lagi, dengan perlahan Bibi Kwon menutup pintu. Ketika ia menutup pintu, ketika suara dari luar tidak lagi terdengar, Bibi Kwon mulai mendengar suara berat tersebut. Suara berat yang menggema di ruangan itu.

         “Aku…. Aku, tidak tahu jika kau menulis semua kenangan dengan diriku. Aku tidak sempat membaca semuanya, tapi aku membaca halaman terakhir…” Suara isakan kecil terdengar. Setelah dapat mengendalikan, Sehun kembali berbicara, “Aku minta maaf jika aku membaca diary mu tanpa izin terlebih dahulu. Aku hanya….” Terdengar helaan nafas, “Aku tidak menyangka dengan isi halaman terakhir. Tentang sore itu, tanggal 13 Maret, dimana ketika kau jatuh dan aku mengendong mu.   Dan tulisan mu yang berisi, ‘Mungkin Sehun berubah karena sebuah alasan. Tetapi…. Tetapi aku berharap jika dia dapat mengingat alasan lain, dimana alasan tersebut, dapat membuatnya bertahan, untuk tidak berubah’. Tulisan itu, tulisan itu menyadarkanku terhadap sesuatu hal kecil tetapi itu sangat penting. Yang pada saat itu tidak aku ingat karena aku sedang marah, sedang kesal, sehingga aku mengambil sebuah keputusan lain. Karena alasan yang membuatku marah dan kesal.

             “ Hal kecil tersebut adalah…. Adalah saat aku senang berbicara denganmu. Saat aku senang bercerita apa saja kepadamu. Saat aku senang berada di sampingmu. Saat aku menyadari, bahwa sebenarnya aku mencintaimu.”

             Bibi Kwon tersentak. Dia sangat terkejut. Dengan sederap langkah, Bibi Kwon maju, ingin melihat Sehun. Ia tambah terkejut ketika melihat Sehun yang berada di samping nyonya mudanya, menatap nyonya mudanya dengan tatapan lembut, dan salah satu tangan Sehun mengenggam tangan Krystal.

         “Aku mencintaimu….. Sungguh…. Tapi karena sebuah kejadian yang membuatku lupa terhadap perasaanku sendiri. Membuat diriku mengabaikan perasaanku terhadapmu. Padahal jika aku memahami perasaanku sendiri, aku tidak akan berubah.” Sehun kemudian tertawa hambar, “Tapi itu semua sudah terlambat. Sudah terlambat bagiku untuk menyatakan perasaanku padamu…. Lihatlah, karena aku tidak memahami perasaanku sendiri, dirimu ada di sini. Di ruangan ini. Juga, karena alasan utamanya adalah karena aku terlalu pengecut. Aku sangat pengecut Krys…. Aku sangat pengecut karena tidak dapat mengakui bahwa aku yang menyebabkan dirimu di sini. Aku menyembunyikan fakta. Berlagak seperti aku tidak tahu apa-apa. Aku seorang pengecut dan juga brengsek!

Sedangkan dirimu…. Kau terlalu baik untukku… Kau adalah seorang yang hebat karena lebih mementingkan diri orang lain. Mementingkan kebahagian orang lain. Aku adalah seorang yang brengsek, yang tidak tahu diri, yang pengecut! Seseorang yang baru tersadar ketika semuanya sudah hancur. Maka dari itu, ketika kau sadar kembali, aku akan memutuskan pertunangan kita. Aku akan melepaskan dirimu.

        Ini sebagai perminta maaf ku. Ini sebagai penebus kesalahanku yang telah membuat dirimu menderita….. Aku…. Aku hanya punya satu impian diatas segala-galanya, membalas kebaikkan dirimu dengan cara memastikan dirimu bahagia. Karena bahagia itu melihat seseorang yang kau cintai bahagia.” Sehun kemudian bangkit dari kursinya, mengelus pelan pipi Krystal. Ia sedikit menunduk dan kemudian mencium lembut bibir Krystal. “Terimakasih untuk segalanya…”

         Bibi Kwon langsung mundur. Dia begitu terkejut. Segera dia membuka pintu dan keluar. Dengan cepat, tanpa membuang waktu, Bibi Kwon berlari ke lift, berharap ia segera turun dari lantai ini.

Flashback End~

“Bi… Bibi…” Bibi Kwon menoleh ketika Sehun memanggilnya. Orang dihadapannya menatapnya dengan alis berkerut.

“Bibi kenapa menangis?” Tanya Sehun dengan nada khawatir.

Menangis? Bibi Kwon meraba mukanya, benar. Benar dia menangis.

“Ah…”   Bibi Kwon terperangah. Bingung ingin menjelaskan apa. “Saya pergi dulu. Maaf saya harus pergi.” Tanpa menunggu jawaban dari Sehun. Tanpa membungkukkan badan terlebih dahulu, Bibi Kwon bangkit dan keluar.

.TBC.

Karakter Sehun disini memang menyebalkan.  Awalnya mau bikin karakter Sehun gak menyebalkan seperti ini.  Jadinya gini….  Yang sabar ya….

Dan terimakasih sudah mau membaca tulisan saya ^^

Advertisements

State of Grace(Chapter 8)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

     Musim dingin sudah mulai terasa. Kemarin, first snow telah turun. Sehun menghela nafas, dia bermimpi jika dirinya, bersama Krystal ketika first now turun. Tetapi itu hanya mimpi. Lagi pula, hari ini dia akan ke Gallery Mom. Ia akan meminta maaf kepada ibunya. Tidak baik mereka saling tidak menyapa selama tiga hari ini, setelah makan malam, setelah Mom berkata Sehun harus menunda acara ke lapangannya karena Mom dan Wendy telah merancanakan libur bersama, dan Sehun harus ikut. Setelah mereka berdebat panjang karena Sehun berkata, jika acara ke lapangan ditunda maka dia harus menunggu satu tahun lagi, berarti kelulusannya juga akan tertunda. Setelah kemarahan Mom karena Mom bersikukuh Sehun ikut.

Sehun bernafas lega ketika dia sudah sampai di Gallery. Ia segera masuk. Para staf yang mengenali dirinya menyapanya. Dia membalasnya. Well, Sehun sedikit berharap jika Krystal juga menyapanya. Well, sepertinya tidak, karena Krystal Jung sedang sibuk melukis. Krystal Jung juga sedang menggunakan headphone. Pasti dia tidak mendengar para staf yang menyapa. Sehun tersenyum, Krystal terlihat cantik ketika sedang focus mengerjakan sesuatu.

Ia kembali melanjutkan langkahnya. Ke ruangan ibunya. Sehun mengetok pintu terlebih dahulu.

“Masuk.” Suara Mom terdengar. Suaranya lebih dingin dari biasanya, pasti Mom masih marah.

Sehun membuka pintunya. Mom menatap tajam anaknya. Sehun tersenyum, “Hai Mom.” Sapa Sehun. “Sehun pikir, sebaiknya hari ini datang ke Gallery Mom.” Lanjutnya.

“Tentu.” Kata Mom dingin. “Pasti kau juga berpikir untuk bisa berminta maaf dengan Mom bukan?”

Sehun mengangkat kedua bahunya, “Tidak ada salahnya bukan? Kurasa kita harus memperbaiki hubungan kita.”

“Hubungan kita hanya bisa diperbaiki jika dirimu setuju dengan rencana Mom.”
Sehun mengerang. Racun apa yang telah dimasukkan oleh Wendy kepada ibunya?

“Tidak.” Jawab Sehun dengan penuh kepastian. “Tidak. Karena itu akan menunda semua hal. Kelulusanku. Pekerjaan baru ku. Professor Han merekomendasiku untuk bekerja di sebuah perusahaan. Dan itu semua akan hancur jika aku menyetujui rencana liburan itu!”
Well, sebaiknya kau memprioritaskan keluargamu terlebih dahulu. Kelulusan. Pekerjaan. Apa-apaan itu?! Keluargalah yang paling penting.”
Sehun tambah frustasi, “Mom seharusnya juga melihat dari sudut pandangku. Bukan dari sudut pandang Mom saja. Aku melakukan hal ini untuk membanggakan Mom dan Dad. Bukan hanya mengejar cita-citaku.”
Tifanny berada di titik puncak amarahnya. Dia berdiri. Ingin berteriak kepada anaknya.

      Tok! Tok! Tok!

Tifanny dan Sehun terkesiap.

“Ada yang lebih penting di urus.” Sahut Tifanny tajam. “Masuk!” Perintah Tifanny.

Pintu ruangan terbuka denga perlahan. Krystal masuk.

“Maaf menganggu. Saya harap saya tidak menganggu kalian.” Kata Krystal dengan nada takut. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia bisa menebak dari nada suara Tifanny yang tajam. Dan suara berdebat yang sudah kedengaran dari tadi. Menghentikan berapa pekerjaan staf, tetapi meraka berusaha melanjutkannya karena takut dimarahi.

“Tidak. Anda tidak menganggu sama sekali.” Tifanny menjawab. Kali ini nada suaranya sudah lebih sedikit tenang. Tifanny juga sudah tersenyum.

“Dan waktunya tepat sekali!” Sehun segera meninggalkan ruangan.

Krystal tertegun. Ini pertama kalinya ia melihat Sehun marah. Pertama kalinya ia melihat Sehun berkata sedingin itu.

“Krys…” Suara atasannya menyadarkan Krystal.

“Oh….” Krystal tersadar. “Saya ingin melaporkan tentang project yang saya buat.”

.

.

.

Sehun menghela nafas.

Kai menatap dirinya tajam, “Aku memang baru putus dari kekasih ku berapa hari ini, tapi tampang mu lebih mengenaskan daripadaku.”

Sehun menoleh, “Kau sudah putus dengan Sulli dari lima hari yang lalu. Dan kau tidak akan mengenaskan seperti aku karena kau sudah menyerah untuk menjadi kekasihnya.”
“Yak bocah sialan!” Sungut Kai yang tidak terima dengan perkataan Sehun.

Sehun terkekeh. Ia kembali memandang jalanan yang telah dipenuhi oleh salju.

“Hei…” Kai memanggilnya. Sehun menoleh. “Hp-mu berbunyi.”

Sehun segera mengeluarkan hp yang berada di sakunya. Ia tersenyum. Sms masuk dan itu berasal dari Krystal.

“Kau terlihat kesal. Kau baik-baik saja?”

Senyuman Sehun semakin lebar. Ia segera membalas.

Kau mengkhawatirkanku?”

      Buk!

Sehun mengaduh karena kepalanya yang terkena kaca jendela bistro. Ini semua gara-gara Kai. Kai tiba-tiba telah berada di sampingnya dan Sehun terkejut sehingga ia mundur ke belakang.

“Yak!” Gerutu Sehun. Hp berdering kembali. Sehun segera membukanya.

             “Ini pertama kalinya melihat dirimu marah.   Jadi, Ya. Aku mengawatirkan dirimu. Kau baik-baik saja?”

Sehun tambah tersenyum lebar.

“Aku sudah baik-baik saja sekarang…”

Kai di sampingnya menunjukkan raut yang sangat antusias. Sehun menghela nafas, “Ya, ya, ya. Akan kuceritakan.” Dan sms Krystal masuk kembali.

“Syukurlah.”

            “Kau hanya ingin menanyakan hal itu? Tidak ada yang lain?”

            “Kurasa tidak.”

           “Aku berharap kau mengajakku jalan-jalan. Supaya lebih menghiburku. Seharusnya aku mengatakan aku tidak baik.”

          “Kau ingin kita jalan-jalan?”

Sehun menganggukkan kepalanya. Kai menatap sahabatnya gemas.

“Tentu!”

.

.

.

Krystal menggigit bibirnya. Sial! Seharusnya dia tadi tidak menanyakan. Tapi dia benar-benar khawatir. Krystal menekan tombol reply.

“Baiklah. Lagipula pekerjaanku telah selesai.”

“Sekarang? Baiklah. Aku akan menjemputmu.”

            “Tidak usah. Aku akan menunggu di halte.”

            “Okay.”

Krystal segera membuka lokernya. Mengeluarkan coat dan memakainya. Tak lupa sarung tangan. Terakhir dia mengambil tasnya.

“Pekerjaanmu sudah selesai?” Eunji sudah berada di sampingnya. Entah kapan dia masuk ke ruangan loker.

Krystal mengangguk.

“Hebat sekali. Pekerjaan ku masih banyak.”

Krystal tersenyum, “Fighting!” Ucapnya menyemangati Eunji.

Eunji tersenyum, “Terimakasih. Ngomong-ngomong bahasa ingrismu sangat bagus.”

Krystal berdiri, “Terimakasih. Dan aku harus pergi duluan.”

“Hati-hati di jalan!” Seru Eunji. Krystal mengangguk dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan loker.

.

.

.

Sehun tersenyum sangat lebar ketika melihat Krystal menunggu di halte. Ia mengklakson mobilnya dan membuka kaca mobilnya. Krystal tersenyum.
“Ayo masuk!” Seru Sehun.

Krystal menganggukkan kepalanya. Ia berjalan menuju mobil Sehun dan masuk.

“Kau punya mobil?” Tanya Krystal ketika dia sudah masuk.

Sehun mengangguk, “Bukankah sudah pernah kubilang?”

Krystal mengkerutkan keningnya. Berusaha mengingat-ngingat.

“Mobilku rusak. Karena itu aku harus pulang menggunakan kereta.”

Krystal mengangguk. “Aku ingat.” Katanya.

“Jadi, kita mau kemana?” Sehun bertanya sambil menyetir.

Krystal mengangkat kedua bahunya, “Aku tidak punya ide. Terserah kau saja.”
“Bagaiamana jika kita taman hiburan?” Tanya Sehun bersemangat-walau ia masih focus ke depan.

Krystal terlihat berpikir, kemudian menjawab, “Kurasa tidak. Ini sudah jam dua siang. Terlalu sore jika ingin kesana.”

“Tapi kau bilang jika itu terserah diriku. Kenapa protes?” Sehun mengeluarkan nada tidak suka, pura-pura kesal.

“Aku tidak protes. Hanya mengasih saran.” Sanggah Krystal.

“Tapi tadi kau bilang ‘Aku tidak punya ide. Terserah kau saja.’” Sehun masih berakting kesal.

“Baiklah. Aku mengubah kalimatku. Aku tidak punya ide. Apakah kau punya?”

“Ke taman hiburan.”

“Tidak mau.”

“Oh, ayolah…..”

Krystal menggelengkan kepalanya.

Sehun menghembuskan nafas, “Baiklah.”

Krystal tiba-tiba mengeluarkan ide, “Ke Myeongdong?”

“Apa?!” Tanya Sehun tidak percaya. “Kemana?” Lanjutnya.

“Ke Myeongdong? Bagaimana?” Kali ini Krystal yang bersemangat.

“Ke Myeongdong?” Sehun sekarang menoleh ke Krystal, “Ma-Mau belanja disitu?” Tanya Sehun.

Krystal menganggukkan kepalanya. “Jika mood ku tidak baik, aku selalu berbelanja ke Myeongdong.”

“Jika ingin berbelanja ke Gangnam juga bisa.”

Krystal mendecakkan lidahnya, “Gangnam terlalu mahal. Kita ke Myeongdong saja ya… Banyak tempat makan yang enak juga disana. Bagaimana?”
Sehun menghela nafas, kemudian mengangguk. Krystal bersorak senang.

.

.

.

Duapuluh menit kemudian mereka sudah sampai di Myeongdong.

“Jadi, toko apa yang kita akan datangi pertama kali?”

“Maksudmu?” Krystal mengerjap. Kemudian dia mengerti maksud Sehun, “Lebih baik parkirkan mobil ini di suatu tempat dan kita akan berjalan. Tidak mungkin menggunakan mobil karena Myeongdong terlalu ramai.”

“Astaga…” Erang Sehun. Walaupun Krystal tahu Sehun juga akan memparkirkan mobilnya.

Benar saja, Sehun memparkirkan mobilnya.

Sehun lebih mengikuti Krystal. Dia benar-benar tidak tahu Myeondong. Hanya pernah mendengarnya. Dia biasanya berbelanja bersama ibunya di Gangnam. Jadi, dia benar-benar menyerahkan semuanya kepada Krystal. Krystal yang sedari tadi berceloteh ria. Menceritakan tentang Myeondong kepadanya. Sehun tersenyum. Dia sudah merasa lebih, bukan sangat baik. Karena Krystal berada di sampingnya, bercerita dan itu membuat dirinya melupakan sejenak masalah dia dan ibunya. Kedua karena dia senang Krystal telah ceria lagi, tidak menjaga jarak kepadanya.

“Aku akan pergi ke lapangan sebentar lagi.” Kata Sehun tiba-tiba, tanpa dia pikirkan terlebih dahulu alasannya. Mungkin alasannya adalah Krystal harus tahu hal ini?

Krystal menoleh, “Oh… Berapa lama?”

“Sampai bulan February.”

“Itu sangat lama.”

“Kau merindukanku?” Tanya Sehun dan kali ini kata-kata tersebut langsung meluncur dari mulutnya.

Krystal terkekeh tapi tidak menjawab.

“Bilang saja jika kau akan merindukanku.” Goda Sehun dan kali ini Krystal kembali menoleh, “Aku hanya menanggapi perkataanmu saja. Tidak kurang dan tidak lebih.”
Sehun tertawa, “Kau pasti akan merindukanku.”

Krystal tidak menanggapinya.

“Hey, bagaimana jika kita ke sana?” Sehun tiba-tiba menunjuk ke suatu stan kecil. Tanpa menunggu tanggapan Krystal, Sehun segera menarik tangan Krystal ke sana. “Lihat, lucu-lucu bukan?” Tanya Sehun kepada Krystal. Mata Sehun sibuk menatapi gantungan kunci yang terpampang di stan. Krystal juga. “Ya, sangat lucu.” Kata Krystal.

“Bagaimana jika kita beli yang ini?” Sehun menunjukkan dua gantungan kunci boneka beruang.

Krystal mengangguk. Mereka membeli kedua gantungan kunci tersebut.

Setelah itu mereka melanjutkan acara mereka. Berjalan-jalan mengelilingi Myeondong. Selama perjalanan itu, mereka banyak membeli barang-barang. Empat kaos kaki, dua sarung tangan, dua syal, dua topi, dua baju couple, dua gelang tangan.

“Kaki ku sudah sangat sakit. Sebaiknya kita beristirahat dulu.” Keluh Sehun yang baru tersadar jika mereka sudah berjalan sangat lama.

“Kita mau kemana lagi?” Sehun bertanya ke arah Krystal yang sedang asyik melihat barang-barang. Gadis ini sangat suka berbelanja, dia tidak capek karena telah berkeliling-keliling Myeongdong. Sedangkan Sehun, sekarang sudah mulai bosan dan lelah.

Krystal menoleh, “Sehabis ini sepertinya tidak ada lagi. Kurasa kita bisa pulang.” Kemudian Krystal kembali menatap barang-barang. “Kau tahu… Kurasa aku akan memberimu hadiah.”

“Hadiah?” Sahut Sehun bingung. “Untuk apa?”

Krystal terlihat berpikir, “Sebagai ucapan terimakasih karena telah merayakan ulang tahun ku. Dan sebagai…” Krystal terhenti sejenak. “Aku memberinya untuk tugas ke lapanganmu.” Lanjut Krystal.

“Apa? Apa hadiahnya?”

Krystal melihat jamnya, “Beri aku waktu lima belas menit terlebih dahulu. Kau disini saja dan aku akan pergi sebentar… Lima belas menit.”

Sehun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Baiklah.”

.

.

.

“Jadi….” Sehun berkata sambil menaruh barang-barang belanjaan mereka. “Hadiahku, mana?” Tanyanya ketika dia sudah masuk ke dalam mobil. Menatap Krsytal yang sedari tadi sudah duduk disana.

Krystal tersenyum. Dia mengeluarkan sesuatu dari mantelnya. “Ini. Ku harap kau menyukainya.”
Sehun menerimanya, “Bagaimana jika aku tidak menyukainya?”

Krystal terkekeh. Baru saja ia ingin menanggapi, Sehun berbicara, “Tapi sepertinya aku akan menyukainya.”

Sehun melihat hadiah Krystal. Sebuah kartu ucapan. Dia membuka kartu tersebut, “Hasil yang maksimal akan di dapat dari usaha yang maksimal juga… Selamat berjuang Oh Sehun…. Ya. Aku pasti akan merindukanmu.”

“Aku tidak menyangka…” Sehun terdiam sejenak, “Tidak ada yang pernah memberikanku hadiah seperti ini. Terimakasih.” Sehun tersenyum ke Krystal.

Krystal terperangah. Untuk pertama kalinya, dia dapat merasakan sebuah kebahagiaan orang lain. Untuk pertama kalinya sejak dia terjebak di panti. Krystal mengigit bibirnya.

“Kau tidak apa-apa?” Sehun menemukan perubahan pada wajah Krystal. Orang di depannya terlihat lebih sedih.

Krystal menggeleng. Memaksakan sebuah senyuman, “Tidak. Aku tidak apa-apa.”

Sehun mengangguk. Dia tidak menahan keinginannya untuk mengetahui apa yang di sembunyikan oleh Krystal. Sampai kapan orang di depannya menyembunyikan sesuatu kepadanya?

“Hun-ah,” Sehun menoleh. Menatap Krystal yang sedah tertunduk. Krystal mengangkat kepalanya. Menatap Sehun, “Aku… Aku ingin mengatakan alasan kenapa aku berbohong. Alasan kenapa aku menghilang selama lima hari.”

.TBC.

Flipped (Chapter 3)

Flowers (24)

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

***

Permintaan Kedua: Harapan Krystal

.

.

.

Sehun menyandarkan tubuhnya di dinding kelas. Dia menatap serius Suzy, “Aku tidak bercanda.. Aku benar-benar ingin putus denganmu.”

“Tapi kenapa? Apa aku berbuat salah padamu?”

Sehun menggeleng, “Tidak. Aku…. “ Sehun menghembuskan nafasnya, “Akhir-akhir ini aku sedang banyak masalah. Aku butuh menyelesaikan masalahku satu-satu.”
“Jadi kau menganggapku sebagai masalah?” Suzy memotong omongan Sehun.

“Tidak. Tapi dirimu berkaitan dengan masalahku.”

Suzy menatap Sehun tidak percaya. Dia tidak begitu saja menerima alasan Sehun, “Aku tidak mempercayainya. Pasti ada alasan yang lebih rumit!”

Sehun menghela nafas, “Ya. Ada alasan yang lebih rumit. Tapi aku tidak bisa memberitahunya.”
Suzy mendekatkan diri ke arah Sehun, “Katakan kepadaku Oppa.. Mana tahu aku bisa membatumu….”
Sehun menghela nafasnya. Ia terdiam. Ia terlihat memikirkan sesuatu. “Baiklah. Aku telah bertunangan…”

Suzy menatap Sehun dengan alis terangkat. Sedetik kemudian ia tertawa, “Sebegitunyakah dirimu ingin putus denganku Oppa? Tidak adakah alasan yang lebih bagus dari pada itu?” Sehun menatap Suzy tajam. Tentu saja tidak. Sehun telah mengatakan yang sebenarnya.

“Baiklah,” Suzy berbicara kembali, “Dengan siapa dirimu bertunangan?” Sehun terdiam. Dengan siapa? Jika ia bilang Suzy tidak akan percaya. Siapa yang akan percaya dengannya? Mengetahui bagaiamana sikap dia kepada Krystal.

“Ayo dengan siapa?” Tanya Suzy yang sudah tidak sabaran, “Jangan-jangan dengan fans nomor satu mu itu hah? Dengan Krystal Jung?”

“Ya.” Sehun mengucapkannya tanpa berpikir. Tidak ada salahnya mengatakannya. Terserah jika orang-orang ingin percaya atau tidak.

Suzy melongo, “Kau bertunangan dengan Krystal?!” Suzy tertawa, “jika begitu kenapa kau berpacaran denganku? Kenapa diam saja ketika dia di-bully olehku? Kenapa? ” Suzy berhenti sejenak untuk menarik nafas, “Baiklah… Kita putus.”
Sehun menganggukkan kepalanya, “Terimakasih…”

“Untuk?”
Sehun tersenyum lembut ke Suzy, “Terimakasih untuk dua tahun ini. Juga, terimakasih karena sudah ingin putus denganku.”

.

.

.

Bibi Kwon menatap Nyonya mudanya dengan tatapan sedih. Kapan Nyonya mudanya akan tersadar? Sudah tiga bulan ini Bibi Kwon rutin mengunjungi Krystal . Tiga bulan ini juga dia tidak melihat orang sok sedunia-Oh Sehun mengunjungi Krystal sejak Sehun meninggalkannya ketika menangis. Lagi pula kenapa dia mengharapkan Sehun mengunjungi Krystal? Sudah bagus orang bernama Sehun itu tidak mengunjungi Krystal lagi.

Trek! Nyonya Jung terlihat masuk kedalam ruangan. Ia langsung tersenyum melihat Bibi Kwon, “Bibi tidak makan siang terlebih dahulu? Sudah waktunya makan siang dan sebaiknya Bibi makan terlebih dahulu.”

Bibi Kwon tersenyum lembut, “Saya tidak lapar Nyonya. Saya akan makan jika saya ingin.”

“Makanlah terlebih dahulu. Sudah dari pagi anda disini bukan? Sekaligus refreshing… Tidak baik juga di sini terus-menerus. Biarlah saya menjaga Krystal selagi anda makan.”

Bibi Kwon tersenyum kemudian mengangguk. Tidak mungkin lagi ia menolak perintah dari Nyonya-nya. Ini adalah bahasa halus agar dia makan terlebih dahulu. Bibi Kwon tak lupa membungkukkan badannya sebelum pergi.

Ia mendesah.   Menatap kosong ke sekeliling ruangan rumah sakit. Dengan langkah gontai, Bibi Kwon langsung menuju kantin yang terletak di lantai yang paling bawah. Ia memesan ramyun untuk makan siang. Ia meminta ramyunnya di bungkus. Rencananya ia akan makan di taman. Mungkin Nyonyanya benar, tidak baik juga ia terus-terusan di dalam ruangan yang sama.

“Ini pesanannya.” Seorang perempuan berumur 20-an menyerahkan satu kantong plastic ramyun. Bibi Kwon menerimanya dengan senyuman. Dia berbalik. Berbalik menuju taman. Tetapi langkahnya terhenti ketika dia melihat Oh Sehun. Melihat Oh Sehun yang sedang bersama seorang perempuan. Mereka menggunakan seragam sekolah yang sama. Dan namja itu sedang tersenyum lembut kepada perempuan itu.

.

.

.

Sehun tersenyum setengah hati melihat Suzy yang mengajaknya untuk berbicara di taman rumah sakit. Dia menghela nafas. Siapa sangka dia akan menemukan Suzy disini?

Sejak dia memutuskan Suzy, hubungan mereka bisa dibilang biasa-biasa saja. Mereka tidak saling benci-membenci. Malah satu bulan ini Suzy sibuk mengejarnya. Suzy ingin kembali lagi bersamanya. Tentu saja Sehun menolak hal itu. Terlalu banyak masalah yang ada dan dia tidak ingin menambah masalahnya lagi.

Tak disangka dia bertemu Suzy disini. Sehun teringat jika kakeknya Suzy sedang dirawat. Tapi dia tidak menyangka kakeknya dirawat di rumah sakit yang sama dengan Krystal. Akhirnya, dia tidak dapat menghindar lagi dari Suzy.

“Ku dengar Oppa akhir-akhir ini sibuk.” Suzy membuka percakapan ketika mereka sudah sampai di taman.

“Tidak juga.” Jawab Sehun pendek.

Suzy menarik nafasnya, “Aku…”

Sehun langsung memotong, “Aku akan menjawab tidak jika kau ingin berbalikkan lagi.”

Suzy tersenyum miris mendengar omongan Sehun, “Tidak. Aku tidak ingin berbicara itu.”

“Ingin berbicara apa?”

Suzy kembali menarik nafas, “Myungso menyatakan perasaannya kepadaku. Aku hanya bingung dengan perasaanku.”

“Apakah kau menyukai Myungso?” Sehun melipat kedua tangannya.

Suzy mengangguk, “Kurasa. Tapi aku juga masih belum bisa melupakan Oppa.”

“Kurasa? Kau sepertinya tidak yakin.”

“Aku merasa seperti ketika berpacaran denganmu. Menunggu sms-nya. Merasa senang ketika berbicara dengarnya, bukan mendengar suaranya. Selalu mengingatnya. Tapi aku… Ya, Oppa pasti tahu apa yang akan ku katakan.”

“Dengar, aku tidak ingin memutuskan apapun. Itulah adalah pilihanmu. Kau yang menanggung akibatnya.   Lagipula itu bukan urusanku.” Sehun menjawab dengan nada yang tegas.

Suzy menatap Sehun dengan tatapan memelas, “Tidak bisakah Oppa berkata, aku senang jika kau menerimanya?”

Sehun menatap Suzy, “Aku tidak akan pernah mengatakan hal itu. Tapi aku lebih senang jika kau tidak mengharapkan aku lagi.”

“Tapi Oppa-lah yang memberikan aku harapan…” Suara Suzy berubah parau. “Oppa tahu, lupakan percakapan ini. Aku permisi dulu.” Suzy segera bangkit dan meninggalkan Sehun.

Sehun ingin meninggalkan taman ini tetapi dia menangkap jika Bibi Kwon duduk di tempat Suzy tadi duduk.

.

.

.

Bibi Kwon menghela nafasnya. Sesaat tatapannya kosong. Dia melihat makanannya. “Kau ingin anak muda? Tiba-tiba aku tidak selera makan.” Bibi Kwon memberikannya ke Sehun. Sehun memandangnya bingung, “Ku pikir Anda akan langsung marah-marah,” Kata Sehun dengan nada bingung, “tapi terimakasih. Saya sudah makan.” Lanjut Sehun lagi.

“Maaf…” Sahut Bibi Kwon pelan. Matanya masih menerawang ke bawah. Tatapannya masih kosong. “Maaf telah mendengar pembicaraanmu tadi. Aku benar-benar menyesal.”

Sehun menatap orang disampingnya dengan bingung. Ada apa dengan pelayan pribadi Krystal ini? Mengapa dia sangat aneh? Sesaat dia marah-marah ke Sehun. Menyalahkan Sehun. Kemudian merasa menyesal. Meminta maaf ke Sehun. Benar sih jika Bibi Kwon membuat Sehun kesal. Tetapi perminta maafnya bukan karena membuat Sehun kesal. Perminta maaf yang sepertinya memiliki arti yang lebih dalam.

“Saya tidak mengerti apa maksud Anda.” Kata Sehun bingung.

Bibi Kwon tersenyum kecil, “Saya…. Nyonya muda selalu mempercayai Anda. Entah kenapa. Saya juga bingung. Suatau hari, saya pernah bertanya, ‘Mengapa Nyonya Muda sangat mempercayai Oh Sehun?’ Nyonya muda tersenyum. Dengan tenang ia menjawab, ‘Aku selalu bahagia jika di dekatnya. Ia adalah orang yang ramah, lucu, baik, pengertian….. Aku mempunyai harapan jika ia adalah orang yang dapat membahagiakan aku. Aneh bukan? Tapi itulah yang aku harapkan.’ ” Terdiam. Hening. Bibi Kwon tersenyum mengingat kenangan itu.

Masih tersenyum, Bibi Kwon melanjutkan“Aku hanya tertawa ketika mendengar jawaban Nyonya Muda. Yang kupikirkan adalah, Dasar anak muda yang sedang jatuh cinta! Waktu berjalan. Ketika kalian dijodohkan aku tak bisa melupakan betapa bahagianya Nyonya Muda. Tapi setelah itu keadaan berubah. Nyonya muda masih menggantungkan harapannya kepada mu. Entah kenapa ia masih menggantungkannya. Akupun bertanya kembali, ‘Kenapa Nyonya muda masih mengharapkannya? Sedangkan ia melakukan hal yang sangat buruk kepada Nyonya?’ Nyonya muda tersenyum. Tatapan matanya sendu ketika menjawab, ‘Karena aku masih mempunyai harapan kepadanya. Harapan jika dia dapat membuatku bahagia. Entahlah bi…. Aku sendiri lelah membujuk hatiku agar melupakannya. Setelah apa yang ia perbuat kepadaku. Tapi hatiku masih yakin jika ada harapan untuknya.’ Begitulah yang Nyonya muda katakan.”

“Aku masih tidak mengerti apa maksud Anda.” Sahut Sehun yang masih bingung. Jujur, dia memang sangat-sangat bingung. Apa hubungannya dengan permintaan maaf tadi? Hanya cerita tentang Krystal yang lagi-lagi berhubungan dengan dia. “Apa hubungannya dengan perminta maaf Anda?” Tanya Sehun lagi. Tiba-tiba matanya membulat. Ya. Iya teringat kepada sesuatu. “Apakah pembicaraanku tadi mengingatkanmu dengan Krystal?”

Bibi Kwon tersenyum. Dalam hati Sehun tahu dia benar. Tapi Sehun juga bertanya-tanya. Pada bagian apa?

Bibi Kwon menarik nafas dan mulai berbicara lagi, “Perempuan tadi mengingatkan aku dengan Nyonya muda. Sama-sama mempunyai harapan kepadamu. Walau aku tidak tahu apa harapan perempuan tadi. Tapi, situasinya sama dengan keadaan Nyonya muda. Itulah yang membuatku sedih. Hal itu mengingatkanku kepada Nyonya muda.” Terdiam lagi. Hening. Sehun tidak berbicara apa-apa. Sehun tidak berkomentar apa-apa. Ia terdiam dengan pikirannya.

Bibi Kwon menoleh ke kirih. Menatap Sehun, “Mohon maaf jika ini sangat lancang. Sebagai bawahan, seharusnya aku tidak minta dirimu untuk apa-apa. Kali ini saja, kumohon kabulkanlah harapan Nyonya muda. Buatlah Nyonya muda bahagia. Tidak harus menikah dengannya. Putuskan saja perjodohan ini. Jangan membuat Nyonya muda tersiksa dengan perilaku mu yang menolak perjodohan ini. Apakah Anda bisa mengabulkannya?” Bibi Kwon menatap Sehun dalam, “Apakah Anda bisa?” Ulang Bibi Kwon.

.TBC.

Hope you enjoy it….. ^^

 

Flipped (Chapter 2)

Window (2)

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

***

Permintaan Kedua: Harapan Krystal

     Apa kalian pernah mempercayai seseorang? Sangat mempercayainya bahkan dia telah menyakiti kalian? Aku… Aku melakukan hal itu. Sejujurnya, itu adalah hal yang melelahkan. Terikat dalam belengu itu. Terjebak seberapapun kita ingin bebas. Tapi hal ini masih menyisakan pertanyaan di benakku. Kenapa aku mempercayainya? Siapakah dia?

***

     “AAARGGH.. HENTIKAN! HENTIKAN! Ku Mohon….” Perempuan berumur empat puluhan langsung berlari menuju kamar anaknya. “Sehun.. Sehunnie…” Perempuan itu mencoba membangunkan anaknya.

“Hahh.. Hahh… Hahh….” Anaknya terbangun. Nafasnya tersengal-sengal. Ibunya menatap lembut anaknya. Anaknya langsung berhambur memeluk ibunya. “Oemma.. Aku… Aku… Krystal….” Anaknya mulai menangis.

Ibunya menghembuskan nafasnya, “Tenang. Tenang Oemma ada disini…” Ibunya mengelus-ngelus punggung anaknya.

Beberapa saat kemudian tangisannya mulai terhenti, “Oemma..” Anaknya masih bersuara sendu.

“Ssst…” Oemma Sehun menenangkan dirinya. Dielus-elus kepala anaknya seperti dia sewaktu kecil. “Tenanglah… Tenanglah….”

Pagi itu, keadaan ini terus mengulang. Terus mengulang sejak kejadian enam bulan yang lalu.   Sejak Krystal memutuskan untuk bunuh diri.

.

.

.

     Tubuhnya sudah capai tetapi ia paksakan. Sebentar lagi. Sebentar lagi dia akan sampai di UGD.

     “Biarkan kami yang tangani. Mohon tunggu di luar saja.” Seorang perawat menghentikan langkah Sehun agar tidak masuk ke UGD. Sehun mendesah kemudian mengangguk.

     Sehun menoleh ketika ia mendengar suara orang berlari. Oemmanya juga Oemma Krystal.

     “Krystal… Krystal…” Terbata-bata sambil menangis. Oemma Krystal memegang kedua bahu Sehun.

     “Sedang di tangani oleh dokter.” Jawab Sehun lemah kemudian di ikuti dengan pandangan dia yang meredup dan teriakan.

.

.

.

Sehun menatap aneh Oemmanya yang ada di depan kelasnya. Ia menelan ludahnya. Mengingat tadi dia baru saja mengajak Suzy untuk ke kelas bersama. Tapi Suzy berkata Sehun duluan saja karena dia dan team cheerleader-nya ingin membahas sesuatu.

“Anak Oemma…… Kenapa begitu terkejut melihat Oemma?” Oemma memukul pelan bahu anaknya. Perempuan paruh baya tersenyum. Terlihat ia membawa bunga di tangannya.
“Ada apa Oemma datang ke sini?” Tanya Sehun bingung.

     Oemma tersenyum lebar, “Oemma ingin mengajakmu menjenguk Krystal. Ayo cepat!”

Sehun terkejut. Ingin membantah tetapi dia tahu Oemma pasti akan kesal. Sehun hanya mengangguk, ke kelas, dan mengambil tasnya.

“Pulang lebih cepat?! Bagaimana..” Kai, teman akrab Sehun langsung berhenti berbicara ketika Sehun menatapnya tajam. Kemudian Kai mengikuti arah tatapan Sehun, ke Oemma. Kai tersenyum mengerti. Kai adalah satu-satunya orang yang tahu tentang Sehun sebenarnya. Tentang Sehun yang bertunangan dengan Krystal. Tentang Sehun yang berpacaran dengan Suzy.   Tapi Kai bukan tipe orang yang suka ikut campur. Menurutnya, ia akan menyerahkan semuanya kepada Sehun karena Sehunlah pemain utamanya, yang penting dia sudah mengingatkan kepada Sehun jika Krystal sangat mencintai Sehun.

Kai tersenyum, “Ah, ingin pulang cepat? Ada masalah?”

“Tidak ada masalah.” Jawab Sehun acuh. Kai mengangguk. Temannya sangat tertutup semenjak kejadian enam bulan yang lalu. Sehun kemudian menepuk bahu sahabatnya, “Aku duluan.” Lanjut Sehun. Ia mulai melangkah, tapi langkahnya terhenti, Sehun membisikkan sesuatu ke telinga Kai, “Jika Suzy tanya kenapa aku pulang cepat, bilang jika aku ada urusan dan tidak bisa diganggu.” Kemudian ia tersenyum pendek ke arah Kai dan berjalan melewati sahabatnya. Kai hanya mengangguk.

“Kenapa lama sekali?” Decak Oemma Sehun.

“Aku hanya menyampaikan sebuah tugas kepada Kai.”

      Oemma hanya menganggukkan kepalanya.

“Oh, ya siapa Kai?” Tanya Oemma Sehun tiba-tiba. Memecahkan keheningan antara mereka berdua sejak tadi, dari sekolah hingga di mobil.          “Dia temanmu?”
Sehun mengangguk. “Kai temanku. Juga teman Luhan.”
“Benarkah?” Oemma Sehun menatap anaknya dengan tatapan tidak percaya. “Kau punya teman selain Luhan?”
Sehun menatap Oemma kesal. Kenapa Oemma selalu berpikir dia adalah orang yang tidak bisa mempunyai teman? “Tentu saja aku punya teman selain Luhan.” Sahut Sehun kesal.

Aigo…. Anak Oemma kesal.” Oemma Sehun tertawa geli. “Jika begitu lain kali kenalkan Oemma kepadanya.” Lanjut Oemma.

Sehun hanya menganggukkan kepalanya.

“Oh, ya,” Kata Oemma lagi, “setiap selasa Sehun harus mengunjungi Krystal. Itu peraturan baru dari Oemma dan telah di setujui oleh Appa.”

“Apa?!”

     Oemma mengangguk. Masih tidak melihat raut wajah anaknya yang telah berubah, Oemma berkata, “Walau sudah enam bulan, tapi bisa di hitung jari berapa kali Sehun mengunjunginya. Itupun karena Oemma juga mengunjunginya. Lagi pula, meskipun Oemma Krystal belum mengatakan sesuatu. Tapi aku yakin jika dia merasa tidak suka dengan perilakumu yang jarang mengunjungi Krystal. Seakan-akan Sehun tidak peduli dengan Krystal.”

“Itu…. Itu…” Sehun terlihat berpikir keras mencari alasan agar tidak harus menjenguk Krystal. Tapi sialnya, tidak ada ide cemerlang yang terbersit di otaknya.

“Itu apa? Apapun alasanmu tidak akan masuk akal di mata orangtua mereka. Mereka pasti berpikir jika Sehun adalah tunangan yang baik dan peduli, calon menantu yang baik dan peduli, apapun keadaan dirimu pasti Sehun akan sering mengunjungi Krystal.”

Sehun hanya terdiam menatap pemandangan. Sial!

.

.

.

Sehun menatap nanar Krystal. Menghembuskan nafasnya, jari-jarinya bergerak, dengan lembut mengelus pipi Krystal. Kebiasaan baru Sehun, menatap Krystal selama berjam-jam. Itulah yang selalu Sehun lakukan sejak ia diberi jadwal oleh ibunya. Hanya itu. Lidahnya terlalu kelu untuk berkata. Keberaniannya terlalu sedikit untuk keluar. Sebenarnya hanya empat kata yang ingin ia katakan. Empat kata.

     Trek!

Suara pintu yang terbuka membuat Sehun berdiri. Dia bertanya-tanya, Siapa yang datang? Tidak mungkin Oemma Krystal karena sekarang sedang berada di Jepang. Oemma-nya?

Sehun mengerutkan keningnya melihat yang datang. Siapa wanita di depan ini? Wanita ini menggunakan long coat coklat muda. Wajahnya menunjukkan dia berumur sekitar 50-an.

“ASTAGA! Nyonya muda…” Wanita di depannya langsung berteriak histeris. Berlari dengan cepat ke arah Krystal kemudian memeluknya.    “Kenapa Nyonya bisa seperti ini?” Wanita di depannya kemudian menangis.

Sehun terdiam melihat kejadian di depannya. Dia benar-benar masih tidak bisa berpikir. Otaknya masih mengingat-ngingat orang di depannya. Sedangkan wanita di depannya telah menangis sambil mengelus pipi Krystal.

“Ooouhhh Nyonya muda…” Wanita di depannya kemudian menjauh dari tubuh Krystal. Menghapus air matanya. Dan….. Ia baru tersadar jika ada orang lain di depannya. Alis wanita itu mengkerut. Tak berapa lama kemudian dia mendesis tajam, “Kau pasti Oh Sehun bukan? Apa yang kau lakukan disini?”

Sehun menatapnya aneh, “Seharusnya aku yang menanyakan hal itu kepada anda.”
Orang di depannya tertawa, “Dasar anak sombong!” Katanya sambil menatap tajam Sehun. “Aku Kwon Suhyun. Pelayan pribadi Nyonya muda.” Bibi Kwon berkata tanpa membungkukkan badan. Dia tidak peduli jika hal ini sopan atau tidak. Dia benar-benar tidak menyukai orang di depannya.

“Pelayan pribadi?! Sangat tidak sopan memeluk Nyonya muda. Anda sangat berani.”

Bibi Kwon menatap Sehun tajam, “Saya yakin anda lebih berani. Sudah bersalah masih berani datang kesini. Anda tidak takut jika suatu hari alasan Nyonya muda bunuh diri akan terkuak?”

Sehun memasukan salah satu tangannya ke celana, “Aku juga tidak akan kesini jika orangtuaku tidak memaksaku.” Tamparan dari Bibi Kwon mendarat di pipi Sehun. Kulitnya memerah, “Tidak punya hati! Kau masih bisa berlagak seperti dirimu tidak bersalah?! Wow! Itu bahkan lebih berani. Malah sangat berani.” Kemarahan terdengar di telinga Sehun. Kemarahan yang sangat membara.

Sehun tetap tenang, “Ini bukan salahku. Dia yang memutuskan untuk bunuh diri. Walaupun aku menyuruhnya untuk mati tapi dialah yang memutuskan.” Bibi Kwon menganga menatap orang di depannya. Orang yang jalan pikirannya sangat aneh. Orang yang hatinya sekeras batu.

“Kau….” Suara Bibi Kwon bergetar, “Kau tidak tahu betapa Nyonya muda mencintai dirimu? Kau tidak tahu bukan? Atau kau pura-pura tidak tahu?” Air mata turun tanpa Bibi Kwon sadari. Dia langsung menangis terisak-isak.

“Aku tidak punya waktu untuk melihat adegan dari film opera.” Sehun segera mengambil tasnya. Keluar dari ruangan.

.

.

.

Suzy menatap kesal orang yang disampingnya. Lagi-lagi seperti ini. Melamun. Suzy menghela nafas.”Sehunniee kau tidak mendengar perkataanku lagi ya?” Sehun menoleh saat Suzy menyenggol tangannya. Sehun tersenyum tipis. “Kepalaku rasanya ingin meledak karena banyak memikirkan suatu hal. Kau tadi berkata apa?”

Suzy menghela nafas. “Apa yang terjadi denganmu? Kau berubah. Sangat berubah sejak enam bulan yang lalu.”

Sehun menatap Suzy lembut, “Aku benar-benar banyak pikiran beberapa waktu ini. Maaf….” Suzy tersenyum lembut kemudian memeluk Sehun, “Kau benar-benar membuatku khawatir. Berjanjilah padaku untuk kembali tersenyum seperti dulu.” Sehun tersenyum tipis dan membalas pelukan Suzy. Dia kemudian mengelus kepala Suzy. Tangannya terhenti ketika ia melihat Oemma-nya sedang menatap dirinya. Menatap dengan tajam. Menatap dengan alis berkerut. Menatap dengan kemarahan yang memuncak.

.

.

.

“KAU…” Satu tamparan berhasil dilayangkan ke pipi Sehun. Ia meringis. Tamparan Oemma-nya benar-benar sakit. “Bisa-bisanya….” Amarah Oemma-nya terhenti beriringan dengan Oemma-nya menarik nafas. Oemma-nya memijit pelipisnya. “Kau benar-benar dalam bahaya!” Desis Oemma dengan penuh penekanan.

Sehun hanya terdiam mendengar desisan Oemma-nya. Saat ini Oemma-nya terlihat sangat menakutkan. Matanya melotot seakan ingin keluar. Wajahnya memerah seakan ingin meledak.

       Trek! Appa Sehun datang. Oh, bagus. Pasti Appa-nya sudah tahu dengan masalah ini. Sebentar lagi Appa-nya juga membentaknya. Memarahi dirinya. Sehun diam-diam memutar bola matanya.

“Jadi anak muda….” Appa Sehun duduk di depannya, “Lihatlah Appa-mu yang sedang berbicara!” Sehun langsung mendongak ketika Appa membentak dirinya. “Aku mendengar hal yang memalukan dari mu… Sangat memalukan. Tahukah dirimu apa akibatnya jika orangtua Krystal tahu dirimu berpacaran dengan orang lain?” Appa Sehun berkata dengan nada tegas, tenang dan sedikit marah.

“Sudah berapa lama kau berpacaran? Apakah Krystal mengetahuinya? Apakah alsanmu untuk berpacaran? Jawab pertanyaan Appa sekarang!!” Lagi-lagi nada-nada tegas itu menerjang pendengaran Sehun.

Sehun menghela nafas. Dengan malas dia menjawab, “Aku sudah berpacaran hampir dua tahun. Ya, Krystal mengetahuinya. Bahkan dari awal Krystal mengetahuinya.”
“Krystal mengetahuinya?!” Oemma langsung bangkit dari tempat duduk. Menuju ke arah Sehun, “Dan kau tetap berpacaran?” Kata Oemma dengan tatapan tidak percaya.

Sehun mengangkat kedua bahunya, “Kami belum menganggap perjodohan secara serius.”

“Setidaknya kau menghargainya sebagai calon istrimu bukan? Walau kalian belum mengganggap secara serius tetapi seharusnya dirimu juga tidak pacaran.” Oemmanya menjawab lebih cepat.

“Cukup!” Appa Sehun berbicara dengan cukup keras. Oemma Sehun menghela nafas. Kemudan menyilakan kedua tangannya di depan dada. “Jawab pertanyaan Appa yang terakhir. Apa alasanmu untuk berpacaran dengan orang lain? Apa?”

Sehun mendesah secara berlebihan. “Karena….” Dia berhenti berbicara. Menghela nafas kemudian kembali berbicara, “Aku mencintai Suzy. Jadi…. Yah, itulah alasannya.”

“Astaga! Lihatlah anak kita ini…. Benar-benar memalukan…” Oemm-nya menatap dengan tatapan tidak percaya. “Dengar ya Sehunnie.. Aku tidak percaya jika Krystal tidak sakit hati melihat kalian berpacaran. Aku dapat merasakannya dia menyukaimu saat ia melihatmu. Saat ia berbicara denganmu. Jadi tidak mungkin dia merasa baik-baik saja. Kedua, baiklah anggap saja kalian berdua menganggap santai perjodohan ini. Tapi berpacaran bukan dari tindakan mengaggap santai perjodohan. Itu lebih cocok dengan menolak perjodohan ini.” Oemma kemudian mengambil nafas. Dia telah berbicara terlalu cepat.

“Kau dengar perkataan Oemma-mu nak?” Suara lembut Appa membuat Sehun menoleh ke-Appanya. “Oemma-mu benar nak… Semua yang dikatakan Oemma-mu benar. Krystal itu menyukaimu dan itu sangat terlihat dari sikapnya. Aku tidak mengerti kenapa kau tidak bisa melihatnya. Atau kau bisa melihatnya tetapi kau menolaknya. Dan aku tidak setuju dengan alasanmu yang mengatakan dirimu berpacaran dengan orang itu karena kau mencintainya. Mungkin lebih tepatnya kau menyukainya sebagai soerang teman. Jangan melihat Appa seperti itu. Aku adalah Appa-mu. Akulah orang yang paling mengenal dirimu. Aku mengetahui jika dirimu berbohong atau tidak.

“Karena itu, aku mempercayai alasanmu berpacaran adalah untuk…. Untuk menghentikan Krystal mengejarmu bukan? Aku yakin kau mengetahui dia menyukaimu. Tapi dirimu menolaknya dan ia tidak menyerah. Ia tidak menyerah dan tetap mengejarmu. Kau tahu, jika ia tidak menyerah kau akan menyukai dia juga. Sehingga kau berpikir keras untuk menghentikannya bukan? Cara yang tepat adalah dengan menghancurkan hatinya. Jadi, kau berpacaran dengan orang itu. Tapi dia tidak menyerah sedikitpun bukan? Kau semakin bingung bukan?”

“Bukan! Bukan seperti itu..” Sehun menolak mentah-mentah hipotesa aneh ayahnya. “Aku dan Krystal hanya bersahabat. Sampai kapanpun kami akan tetap bersahabat.”

“Itulah masalahnya. Pemikiranmu tentang persahabatan kalian. Aku yakin kau mencintainya. Tapi kau takut dengan persahabatan kalian. Bagaimana jika dia malah semakin menjauh jika kau bilang perasaanmu? Itu bukan yang kau takutkan. Tapi kau tidak akan tahu jika tidak mencobanya bukan?” Appa berkata panjang lebar.
Sehun menggeleng, “Aku hanya menganggapnya sebagai sahabat.”

“Karena kau takut kehilangannya kau mengorbankan perasaanmu untuk terus bersama dia sebagai sahabatnya bukan?” Lagi-lagi ayahnya memotong omongan Sehun. “Dengar nak, terserah dirimu jika kau ingin mengakuinya atau tidak. Tapi yang pertama harus kita lakukan adalah putuskanlah pacarmu itu.   Sebelum hal ini diketahui oleh orangtua Krystal dan mereka pasti membatalkan perjodohan. Karena aku yakin kau menyayangi dirinya.”

 

.TBC.

Hai… Hai… Hai…

I’m back….  Setelah dua bulan lamanya, akhirnya Flipped dilanjutkan lagi.  Sebenarnya, Chapter dua dan Chapter tiga agak ragu untuk mengepostnya…  Entahlah….  Gak suka aja dengan jalan ceritanya..  Tapi aku harap readers menyukainya…  Kalo gak suka juga gak apa-apa, karena penulisnya aja kurang srek gitu….  Sarannya di tunggu yaaaa…