Flipped (Chapter 2)

Window (2)

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

***

Permintaan Kedua: Harapan Krystal

     Apa kalian pernah mempercayai seseorang? Sangat mempercayainya bahkan dia telah menyakiti kalian? Aku… Aku melakukan hal itu. Sejujurnya, itu adalah hal yang melelahkan. Terikat dalam belengu itu. Terjebak seberapapun kita ingin bebas. Tapi hal ini masih menyisakan pertanyaan di benakku. Kenapa aku mempercayainya? Siapakah dia?

***

     “AAARGGH.. HENTIKAN! HENTIKAN! Ku Mohon….” Perempuan berumur empat puluhan langsung berlari menuju kamar anaknya. “Sehun.. Sehunnie…” Perempuan itu mencoba membangunkan anaknya.

“Hahh.. Hahh… Hahh….” Anaknya terbangun. Nafasnya tersengal-sengal. Ibunya menatap lembut anaknya. Anaknya langsung berhambur memeluk ibunya. “Oemma.. Aku… Aku… Krystal….” Anaknya mulai menangis.

Ibunya menghembuskan nafasnya, “Tenang. Tenang Oemma ada disini…” Ibunya mengelus-ngelus punggung anaknya.

Beberapa saat kemudian tangisannya mulai terhenti, “Oemma..” Anaknya masih bersuara sendu.

“Ssst…” Oemma Sehun menenangkan dirinya. Dielus-elus kepala anaknya seperti dia sewaktu kecil. “Tenanglah… Tenanglah….”

Pagi itu, keadaan ini terus mengulang. Terus mengulang sejak kejadian enam bulan yang lalu.   Sejak Krystal memutuskan untuk bunuh diri.

.

.

.

     Tubuhnya sudah capai tetapi ia paksakan. Sebentar lagi. Sebentar lagi dia akan sampai di UGD.

     “Biarkan kami yang tangani. Mohon tunggu di luar saja.” Seorang perawat menghentikan langkah Sehun agar tidak masuk ke UGD. Sehun mendesah kemudian mengangguk.

     Sehun menoleh ketika ia mendengar suara orang berlari. Oemmanya juga Oemma Krystal.

     “Krystal… Krystal…” Terbata-bata sambil menangis. Oemma Krystal memegang kedua bahu Sehun.

     “Sedang di tangani oleh dokter.” Jawab Sehun lemah kemudian di ikuti dengan pandangan dia yang meredup dan teriakan.

.

.

.

Sehun menatap aneh Oemmanya yang ada di depan kelasnya. Ia menelan ludahnya. Mengingat tadi dia baru saja mengajak Suzy untuk ke kelas bersama. Tapi Suzy berkata Sehun duluan saja karena dia dan team cheerleader-nya ingin membahas sesuatu.

“Anak Oemma…… Kenapa begitu terkejut melihat Oemma?” Oemma memukul pelan bahu anaknya. Perempuan paruh baya tersenyum. Terlihat ia membawa bunga di tangannya.
“Ada apa Oemma datang ke sini?” Tanya Sehun bingung.

     Oemma tersenyum lebar, “Oemma ingin mengajakmu menjenguk Krystal. Ayo cepat!”

Sehun terkejut. Ingin membantah tetapi dia tahu Oemma pasti akan kesal. Sehun hanya mengangguk, ke kelas, dan mengambil tasnya.

“Pulang lebih cepat?! Bagaimana..” Kai, teman akrab Sehun langsung berhenti berbicara ketika Sehun menatapnya tajam. Kemudian Kai mengikuti arah tatapan Sehun, ke Oemma. Kai tersenyum mengerti. Kai adalah satu-satunya orang yang tahu tentang Sehun sebenarnya. Tentang Sehun yang bertunangan dengan Krystal. Tentang Sehun yang berpacaran dengan Suzy.   Tapi Kai bukan tipe orang yang suka ikut campur. Menurutnya, ia akan menyerahkan semuanya kepada Sehun karena Sehunlah pemain utamanya, yang penting dia sudah mengingatkan kepada Sehun jika Krystal sangat mencintai Sehun.

Kai tersenyum, “Ah, ingin pulang cepat? Ada masalah?”

“Tidak ada masalah.” Jawab Sehun acuh. Kai mengangguk. Temannya sangat tertutup semenjak kejadian enam bulan yang lalu. Sehun kemudian menepuk bahu sahabatnya, “Aku duluan.” Lanjut Sehun. Ia mulai melangkah, tapi langkahnya terhenti, Sehun membisikkan sesuatu ke telinga Kai, “Jika Suzy tanya kenapa aku pulang cepat, bilang jika aku ada urusan dan tidak bisa diganggu.” Kemudian ia tersenyum pendek ke arah Kai dan berjalan melewati sahabatnya. Kai hanya mengangguk.

“Kenapa lama sekali?” Decak Oemma Sehun.

“Aku hanya menyampaikan sebuah tugas kepada Kai.”

      Oemma hanya menganggukkan kepalanya.

“Oh, ya siapa Kai?” Tanya Oemma Sehun tiba-tiba. Memecahkan keheningan antara mereka berdua sejak tadi, dari sekolah hingga di mobil.          “Dia temanmu?”
Sehun mengangguk. “Kai temanku. Juga teman Luhan.”
“Benarkah?” Oemma Sehun menatap anaknya dengan tatapan tidak percaya. “Kau punya teman selain Luhan?”
Sehun menatap Oemma kesal. Kenapa Oemma selalu berpikir dia adalah orang yang tidak bisa mempunyai teman? “Tentu saja aku punya teman selain Luhan.” Sahut Sehun kesal.

Aigo…. Anak Oemma kesal.” Oemma Sehun tertawa geli. “Jika begitu lain kali kenalkan Oemma kepadanya.” Lanjut Oemma.

Sehun hanya menganggukkan kepalanya.

“Oh, ya,” Kata Oemma lagi, “setiap selasa Sehun harus mengunjungi Krystal. Itu peraturan baru dari Oemma dan telah di setujui oleh Appa.”

“Apa?!”

     Oemma mengangguk. Masih tidak melihat raut wajah anaknya yang telah berubah, Oemma berkata, “Walau sudah enam bulan, tapi bisa di hitung jari berapa kali Sehun mengunjunginya. Itupun karena Oemma juga mengunjunginya. Lagi pula, meskipun Oemma Krystal belum mengatakan sesuatu. Tapi aku yakin jika dia merasa tidak suka dengan perilakumu yang jarang mengunjungi Krystal. Seakan-akan Sehun tidak peduli dengan Krystal.”

“Itu…. Itu…” Sehun terlihat berpikir keras mencari alasan agar tidak harus menjenguk Krystal. Tapi sialnya, tidak ada ide cemerlang yang terbersit di otaknya.

“Itu apa? Apapun alasanmu tidak akan masuk akal di mata orangtua mereka. Mereka pasti berpikir jika Sehun adalah tunangan yang baik dan peduli, calon menantu yang baik dan peduli, apapun keadaan dirimu pasti Sehun akan sering mengunjungi Krystal.”

Sehun hanya terdiam menatap pemandangan. Sial!

.

.

.

Sehun menatap nanar Krystal. Menghembuskan nafasnya, jari-jarinya bergerak, dengan lembut mengelus pipi Krystal. Kebiasaan baru Sehun, menatap Krystal selama berjam-jam. Itulah yang selalu Sehun lakukan sejak ia diberi jadwal oleh ibunya. Hanya itu. Lidahnya terlalu kelu untuk berkata. Keberaniannya terlalu sedikit untuk keluar. Sebenarnya hanya empat kata yang ingin ia katakan. Empat kata.

     Trek!

Suara pintu yang terbuka membuat Sehun berdiri. Dia bertanya-tanya, Siapa yang datang? Tidak mungkin Oemma Krystal karena sekarang sedang berada di Jepang. Oemma-nya?

Sehun mengerutkan keningnya melihat yang datang. Siapa wanita di depan ini? Wanita ini menggunakan long coat coklat muda. Wajahnya menunjukkan dia berumur sekitar 50-an.

“ASTAGA! Nyonya muda…” Wanita di depannya langsung berteriak histeris. Berlari dengan cepat ke arah Krystal kemudian memeluknya.    “Kenapa Nyonya bisa seperti ini?” Wanita di depannya kemudian menangis.

Sehun terdiam melihat kejadian di depannya. Dia benar-benar masih tidak bisa berpikir. Otaknya masih mengingat-ngingat orang di depannya. Sedangkan wanita di depannya telah menangis sambil mengelus pipi Krystal.

“Ooouhhh Nyonya muda…” Wanita di depannya kemudian menjauh dari tubuh Krystal. Menghapus air matanya. Dan….. Ia baru tersadar jika ada orang lain di depannya. Alis wanita itu mengkerut. Tak berapa lama kemudian dia mendesis tajam, “Kau pasti Oh Sehun bukan? Apa yang kau lakukan disini?”

Sehun menatapnya aneh, “Seharusnya aku yang menanyakan hal itu kepada anda.”
Orang di depannya tertawa, “Dasar anak sombong!” Katanya sambil menatap tajam Sehun. “Aku Kwon Suhyun. Pelayan pribadi Nyonya muda.” Bibi Kwon berkata tanpa membungkukkan badan. Dia tidak peduli jika hal ini sopan atau tidak. Dia benar-benar tidak menyukai orang di depannya.

“Pelayan pribadi?! Sangat tidak sopan memeluk Nyonya muda. Anda sangat berani.”

Bibi Kwon menatap Sehun tajam, “Saya yakin anda lebih berani. Sudah bersalah masih berani datang kesini. Anda tidak takut jika suatu hari alasan Nyonya muda bunuh diri akan terkuak?”

Sehun memasukan salah satu tangannya ke celana, “Aku juga tidak akan kesini jika orangtuaku tidak memaksaku.” Tamparan dari Bibi Kwon mendarat di pipi Sehun. Kulitnya memerah, “Tidak punya hati! Kau masih bisa berlagak seperti dirimu tidak bersalah?! Wow! Itu bahkan lebih berani. Malah sangat berani.” Kemarahan terdengar di telinga Sehun. Kemarahan yang sangat membara.

Sehun tetap tenang, “Ini bukan salahku. Dia yang memutuskan untuk bunuh diri. Walaupun aku menyuruhnya untuk mati tapi dialah yang memutuskan.” Bibi Kwon menganga menatap orang di depannya. Orang yang jalan pikirannya sangat aneh. Orang yang hatinya sekeras batu.

“Kau….” Suara Bibi Kwon bergetar, “Kau tidak tahu betapa Nyonya muda mencintai dirimu? Kau tidak tahu bukan? Atau kau pura-pura tidak tahu?” Air mata turun tanpa Bibi Kwon sadari. Dia langsung menangis terisak-isak.

“Aku tidak punya waktu untuk melihat adegan dari film opera.” Sehun segera mengambil tasnya. Keluar dari ruangan.

.

.

.

Suzy menatap kesal orang yang disampingnya. Lagi-lagi seperti ini. Melamun. Suzy menghela nafas.”Sehunniee kau tidak mendengar perkataanku lagi ya?” Sehun menoleh saat Suzy menyenggol tangannya. Sehun tersenyum tipis. “Kepalaku rasanya ingin meledak karena banyak memikirkan suatu hal. Kau tadi berkata apa?”

Suzy menghela nafas. “Apa yang terjadi denganmu? Kau berubah. Sangat berubah sejak enam bulan yang lalu.”

Sehun menatap Suzy lembut, “Aku benar-benar banyak pikiran beberapa waktu ini. Maaf….” Suzy tersenyum lembut kemudian memeluk Sehun, “Kau benar-benar membuatku khawatir. Berjanjilah padaku untuk kembali tersenyum seperti dulu.” Sehun tersenyum tipis dan membalas pelukan Suzy. Dia kemudian mengelus kepala Suzy. Tangannya terhenti ketika ia melihat Oemma-nya sedang menatap dirinya. Menatap dengan tajam. Menatap dengan alis berkerut. Menatap dengan kemarahan yang memuncak.

.

.

.

“KAU…” Satu tamparan berhasil dilayangkan ke pipi Sehun. Ia meringis. Tamparan Oemma-nya benar-benar sakit. “Bisa-bisanya….” Amarah Oemma-nya terhenti beriringan dengan Oemma-nya menarik nafas. Oemma-nya memijit pelipisnya. “Kau benar-benar dalam bahaya!” Desis Oemma dengan penuh penekanan.

Sehun hanya terdiam mendengar desisan Oemma-nya. Saat ini Oemma-nya terlihat sangat menakutkan. Matanya melotot seakan ingin keluar. Wajahnya memerah seakan ingin meledak.

       Trek! Appa Sehun datang. Oh, bagus. Pasti Appa-nya sudah tahu dengan masalah ini. Sebentar lagi Appa-nya juga membentaknya. Memarahi dirinya. Sehun diam-diam memutar bola matanya.

“Jadi anak muda….” Appa Sehun duduk di depannya, “Lihatlah Appa-mu yang sedang berbicara!” Sehun langsung mendongak ketika Appa membentak dirinya. “Aku mendengar hal yang memalukan dari mu… Sangat memalukan. Tahukah dirimu apa akibatnya jika orangtua Krystal tahu dirimu berpacaran dengan orang lain?” Appa Sehun berkata dengan nada tegas, tenang dan sedikit marah.

“Sudah berapa lama kau berpacaran? Apakah Krystal mengetahuinya? Apakah alsanmu untuk berpacaran? Jawab pertanyaan Appa sekarang!!” Lagi-lagi nada-nada tegas itu menerjang pendengaran Sehun.

Sehun menghela nafas. Dengan malas dia menjawab, “Aku sudah berpacaran hampir dua tahun. Ya, Krystal mengetahuinya. Bahkan dari awal Krystal mengetahuinya.”
“Krystal mengetahuinya?!” Oemma langsung bangkit dari tempat duduk. Menuju ke arah Sehun, “Dan kau tetap berpacaran?” Kata Oemma dengan tatapan tidak percaya.

Sehun mengangkat kedua bahunya, “Kami belum menganggap perjodohan secara serius.”

“Setidaknya kau menghargainya sebagai calon istrimu bukan? Walau kalian belum mengganggap secara serius tetapi seharusnya dirimu juga tidak pacaran.” Oemmanya menjawab lebih cepat.

“Cukup!” Appa Sehun berbicara dengan cukup keras. Oemma Sehun menghela nafas. Kemudan menyilakan kedua tangannya di depan dada. “Jawab pertanyaan Appa yang terakhir. Apa alasanmu untuk berpacaran dengan orang lain? Apa?”

Sehun mendesah secara berlebihan. “Karena….” Dia berhenti berbicara. Menghela nafas kemudian kembali berbicara, “Aku mencintai Suzy. Jadi…. Yah, itulah alasannya.”

“Astaga! Lihatlah anak kita ini…. Benar-benar memalukan…” Oemm-nya menatap dengan tatapan tidak percaya. “Dengar ya Sehunnie.. Aku tidak percaya jika Krystal tidak sakit hati melihat kalian berpacaran. Aku dapat merasakannya dia menyukaimu saat ia melihatmu. Saat ia berbicara denganmu. Jadi tidak mungkin dia merasa baik-baik saja. Kedua, baiklah anggap saja kalian berdua menganggap santai perjodohan ini. Tapi berpacaran bukan dari tindakan mengaggap santai perjodohan. Itu lebih cocok dengan menolak perjodohan ini.” Oemma kemudian mengambil nafas. Dia telah berbicara terlalu cepat.

“Kau dengar perkataan Oemma-mu nak?” Suara lembut Appa membuat Sehun menoleh ke-Appanya. “Oemma-mu benar nak… Semua yang dikatakan Oemma-mu benar. Krystal itu menyukaimu dan itu sangat terlihat dari sikapnya. Aku tidak mengerti kenapa kau tidak bisa melihatnya. Atau kau bisa melihatnya tetapi kau menolaknya. Dan aku tidak setuju dengan alasanmu yang mengatakan dirimu berpacaran dengan orang itu karena kau mencintainya. Mungkin lebih tepatnya kau menyukainya sebagai soerang teman. Jangan melihat Appa seperti itu. Aku adalah Appa-mu. Akulah orang yang paling mengenal dirimu. Aku mengetahui jika dirimu berbohong atau tidak.

“Karena itu, aku mempercayai alasanmu berpacaran adalah untuk…. Untuk menghentikan Krystal mengejarmu bukan? Aku yakin kau mengetahui dia menyukaimu. Tapi dirimu menolaknya dan ia tidak menyerah. Ia tidak menyerah dan tetap mengejarmu. Kau tahu, jika ia tidak menyerah kau akan menyukai dia juga. Sehingga kau berpikir keras untuk menghentikannya bukan? Cara yang tepat adalah dengan menghancurkan hatinya. Jadi, kau berpacaran dengan orang itu. Tapi dia tidak menyerah sedikitpun bukan? Kau semakin bingung bukan?”

“Bukan! Bukan seperti itu..” Sehun menolak mentah-mentah hipotesa aneh ayahnya. “Aku dan Krystal hanya bersahabat. Sampai kapanpun kami akan tetap bersahabat.”

“Itulah masalahnya. Pemikiranmu tentang persahabatan kalian. Aku yakin kau mencintainya. Tapi kau takut dengan persahabatan kalian. Bagaimana jika dia malah semakin menjauh jika kau bilang perasaanmu? Itu bukan yang kau takutkan. Tapi kau tidak akan tahu jika tidak mencobanya bukan?” Appa berkata panjang lebar.
Sehun menggeleng, “Aku hanya menganggapnya sebagai sahabat.”

“Karena kau takut kehilangannya kau mengorbankan perasaanmu untuk terus bersama dia sebagai sahabatnya bukan?” Lagi-lagi ayahnya memotong omongan Sehun. “Dengar nak, terserah dirimu jika kau ingin mengakuinya atau tidak. Tapi yang pertama harus kita lakukan adalah putuskanlah pacarmu itu.   Sebelum hal ini diketahui oleh orangtua Krystal dan mereka pasti membatalkan perjodohan. Karena aku yakin kau menyayangi dirinya.”

 

.TBC.

Hai… Hai… Hai…

I’m back….  Setelah dua bulan lamanya, akhirnya Flipped dilanjutkan lagi.  Sebenarnya, Chapter dua dan Chapter tiga agak ragu untuk mengepostnya…  Entahlah….  Gak suka aja dengan jalan ceritanya..  Tapi aku harap readers menyukainya…  Kalo gak suka juga gak apa-apa, karena penulisnya aja kurang srek gitu….  Sarannya di tunggu yaaaa…

 

Advertisements