Flipped (Chapter 4)

large

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

***

Impian di Atas Segala Impian

“Baiklah.” Seru Sehun pelan. Sehun menatap Bibi Kwon, “Aku akan mengabulkannya. Ketika dia sadar, ketika dia sudah pulih, aku akan memutuskan pertunangan ini. Aku berjanji akan membuatnya bahagia, tidak akan menyulitkan dirinya lagi, dan tidak akan membuatnya sedih ketika ia tersadar.” Lanjut Sehun.

.

.

.

Hari-hari berganti. Sudah tiga bulan semenjak kejadian dimana ia berjanji akan mengabulkan permintaan Bibi Kwon. Menyesal? Tidak juga. Bukankah itu yang Sehun inginkan? Terlepas dari Krystal.

Hari ini, tepat satu tahun kejadian itu. Kejadian yang akan terus di ingatnya. Orangtua Krystal mengajak makan malam keluarganya. Tentu saja keluarga mereka tidak dapat menolaknya dan Sehun harus ikut. Makan malam yang sunyi. Semuanya diam. Berbicara hanya sekali-kali. Terbalik ketika dulu, semuanya sibuk berbincang-bincang. Yah, walaupun hal yang mereka bincangkan sama sekali tidak di sukai oleh Sehun.

Malam beranjak naik. Sehun mendesah. Para orangtua- orangtua dirinya dan Krystal masih asyik berdiskusi. Berapa lama lagi mereka akan berdiskusi? Sehun melihat jam tangannya, sudah jam setengah sembilan malam. Sehun sudah mengantuk. Apa yang harus ia lakukan? Tentu dia sudah mati kutu harus menunggu di taman.

“Permisi…” Suara lembut dari belakang membuat Sehun menoleh.

“Oh… Bibi Kwon. Sudah lama tidak bertemu dengan anda.” Sehun berkata sambil membungkukkan badannya.

Bibi Kwon terdiam sesaat. Merasa aneh dengan sikap Sehun. “Oh… Ya. Sudah lama.” Akhirnya Bibi Kwon menjawab. “Jadi…” Bibi Kwon berbicara lagi, “Ada acara dengan Tuan dan Nyonya?”

Sehun mengangguk. “Ya. Acara makan malam.”

“Sudah lama Anda tidak ke sini. Saya rasa terakhir kelas tiga SMP.”

Sehun terdiam. Tidak menanggapi omongan Bibi Kwon. Hanya tersenyum kecil.

Bibi Kwon menggaruk kepalanya. Sepertinya dia terlalu cepat akrab kepada Sehun. Akhirnya Bibi Kwon berkata, “Saya pikir sebaiknya Anda masuk ke dalam rumah. Sudah mau hujan.”

Sehun menoleh ke Bibi Kwon. Kemudian menatap langit kembali. “Saya rasa Anda benar. Saya permisi dulu.” Sehun lagi-lagi membungkukkan badannya dan berjalan masuk.

Sehun berjalan santai menuju ruang makan tadi. Sepertinya sudah cukup lama dia di luar, setelah orangtuanya dan orangtua Krystal mengusir dirinya. Katanya ada hal yang harus dibicarakan oleh orangtua. Sehun terhenti di depan ruang makan. Para orangtua masih mengobrol. Tetapi Oemma Krystal tersadar dan bilang sesuatu sehingga yang lain melihat ke arah Sehun.

“Apa yang Sehun lakukan disini?” Oemma Sehun bangkit dari tempat duduk. “Kami belum selesai berdiskusi.” Lanjutnya.

“Sebentar lagi akan hujan.” Jawab Sehun dengan tatapan bingung. Berbagai pikiran mulai menyergapinya. Kemudian Sehun menguap. Rasa mengantuk sudah menerjang dirinya.

“Ah… Bagaimana jika kamu ke kamar Krystal saja? Kami belum selesai berdiskusi.”

Sehun hanya mengangguk mendengar perintah Oemma Krystal. Sehun membungkukkan badannya dan kemudian berjalan menuju kamar Krystal.

       Trek! Sehun masuk ke kamar Krystal. Aroma Lily yang menusuk menerjang penciuman Sehun. Sehun mendesah. Krystal menyukai bunga ini. Sangat menyukainya.

Sehun memandang ke sekeliling kamar ini. Kamar bewarna Baby Blue. Satu tempat tidur yang besar. Satu cermin di depannya. Satu lemari yang juga besar. Tak lupa meja belajar Krystal. Juga ada rak buku, meskipun di rak itu juga terdapat beberapa barang selain buku. Sangat berbeda ketika terakhir kali dia ke sini. Dan terakhir kali itu ketika dia kelas 3 SMP. Sudah sangat lama.

Kaki Sehun melangkah ke rak buku. Terdapat banyak novel disana. Oh, ya, gadis ini sangat menyukai novel. Kemudian foto-foto Krystal. Ada foto Krystal bersama dirinya, Sehun ingat hari itu. Hari dimana kunjungan ke museum pengawetan hewan. Mereka berdua berfoto di depan beruang yang di awetkan. Kemudian foto di sebelahnya, foto acara perpisahan SD, Krystal menatap kamera dan tersenyum manis. Oh…. Betapa Sehun merindukan senyuman manis itu. Sedetik kemudian Sehun memberengut, Apa yang baru saja ia pikirkan? Mungkin dia lelah, tidak, dia memang lelah.

Sehun memutuskan untuk langsung ke tempat tidur saja. Sehun membuka coat-nya. Menaruh coat-nya ke sembarangan tempat. Langsung menghempaskan dirinya ke kasur.

       Duk!

“Aaah..” Ringis Sehun. Dia bangun lagi, memegang kepalanya yang kesakitan. Dia menatap bantal Krystal. Kenapa sangat keras? Seperti batu. Sehun mengangkatnya. Dan merasa bahwa bantal lebih berat daripada bantal biasa. Sehun membuka sarung bantalnya. Memasukkan tangannya ke dalam. Ah….. Rupanya ada buku di balik bantal ini. Sehun segera mengambil buku tersebut.

Sehun menatap buku tersebut. Kenapa menaruhnya di bantal? Apakah memang sengaja? Untuk menyembunyikannya? Siapa saja yang mengetahuinya, selain Krystal?

Sehun menarik nafasnya dan membuka buku tersebut. Buku tersebut diberi penanda dan Sehun langsung membuka penanda tersebut. Tanggal 29 Oktober. Tanggal dimana, sehari sebelum Krystal bunuh diri. Sehun langsung membacanya.

………..

        Rabu, 29 Oktober 2014

Ada orang yang pernah bilang, kebahagiaan itu sederhana, asal melihat orang yang dicintainya bahagia, dia akan bahagia.

Hari ini, malam ini, detik ini, aku ingin mengingatnya untuk terakhir kalinya. Mengingat orang terpenting dalam hidupku. Mengingat orang yang telah memberikan pengaruh, pengaruh yang sangat besar untukku. Mengingat orang yang sangat-sangat ingin kubuat bahagia. Aku, ingin mengingat Oh Sehun, untuk yang terakhir kalinya.

Aku bodoh bukan???? Kenapa aku masih mempercayainya? Kenapa aku masih menggantungkan harapan kepadanya?? Kenapa aku masih mencintainya???? Padahal bukti sudah terpampang sangat jelas, dia selalu menyakiti ku. Selalu membuatku sedih. Tapi kenapa???????? Aku lelah. Lelah dengan belengu cinta ini. Hari-hari ku hanya dilewati oleh dua hal, ingin membuat ia melihatku lagi, dimana itu akan membuat diriku bahagia. Atau menyerah, membiarkan dirinya tidak memperhatikanku, berhenti merecokkinya. Dan jika melakukan hal itu, dia akan bahagia. Itulah yang setidaknya ia selalu katakan padaku, Menjaulah! Maka aku akan bahagia!!!

Tapi, malam ini, aku tidak memikirkan apa-apa lagi. Aku sudah senang. Aku tidak lagi gelisah. Aku, aku sudah memutuskannya. Dan kali ini aku yakin, jika apa yang kulakukan akan membuatnya bagaia dan aku juga bahagia. Karena bahagia itu melihat seseorang yang ia cintainya bahagia.

Untuk terakhirnya, aku akan mengingatnya. Hari itu, dua tahun yang lalu, sebuah kejadian yang belum pernah ku tulis di buku ini.   Aneh, karena ku pikir-pikir kejadian itu merupakan sebuah kejadian terindah yang pernah terjadi di hidupku.

Dua tahun yang lalu, di sebuah sore ulang tahun Eunjin, anak tunggal dari Keluarga Song, kolega bisnis keluargaku, di taman yang indah, taman dimana bunga-bunga selalu bermekaran sepanjang tahun karena di taman itu ditanami oleh empat jenis bunga. Pertama bunga yang selalu mekar di musim semi. Kedua bunga yang selalu mekar di musim panas. Ketiga bunga yang selalu mekar di musim gugur. Dan yang keempat adalah bunga yang mekar di musim dingin. Semerbak wanginya bunga di taman itu, melengkapi indahnya sore itu. Waktu itu, aku diajak oleh Seungyeon Oenni ke taman itu, Seungyeon Oenni bilang jika di taman itu banyak sekali bunga-bunga yang indah dan ia ingin melihatnya, tetapi dia takut jika sendirian ke sana. Saat sampai di taman, banyak orang di taman itu dan Seungyeon Oenni mendesah karena dia pikir tidak ada orang yang ada di taman ini kecuali dirinya. Dia kemudian bilang kepadaku jika kau bisa pulang, karena ia tahu aku tidak menyukai taman. Aku ingin pulang, tetapi aku melihat Sehun sedang berbincang-bincang dengan Luhan, salah satu teman akrab Sehun. Sehun berbalik kemudian dia menatapku terkejut, seperti tidak menyangka jika aku berada di sana. Aku tersenyum, melambaikan tangan ke arahnya dan Sehun kemudian tersenyum dan membalas lambaian tanganku. Sehun kemudian berjalan ke arahku kemudian bertanya, kenapa aku datang ketaman? Padahal aku sangat tidak suka dengan taman. Aku tertawa dan membalas jika aku hanya menemani Seongyeon Oenni. Sehun tersenyum dan mengajak aku untuk kembali ke tempat pesta dan aku mengangguk. Saat sedang menuju ke tempat pesta, baru beberapa langkah, aku terjatuh. Ini karena sepatu yang kugunakan …… Kakiku rasanya sakit sekali dan aku tidak bisa berdiri. Sehun yang berada di sampingku terlihat panik karena aku berteriak kesakitan, sebenarnya aku tidak berteriak tetapi mengaduh kesakitan. Sehun membantu aku berdiri, tetapi aku malah terjatuh lagi. Akhirnya…. Akhirnya Sehun mengendong diriku. Astaga…. Hebat bukan? Bedanya dirinya yang dulu dan sekarang. Dan diriku juga lupa menulis hal ini. Yang aku tulis di buku ini adalah hal yang terjadi sehari sesudahnya, tanggal 14 maret yaitu ketika aku harus beristirahat selama dua minggu di rumah karena kakiku yang terkilir. Dan aku menumpahkan kekesalanku pada hari itu dan lupa jika aku mengalami hal yang sangat menakjubkan kemarinya.

Sebenarnya, ini masih menimbulkan pertanyaan kepadaku. Kenapa ia berubah. Tetapi, aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika malam ini aku tidak akan memikirkan apapun lagi. Semuanya telah kutinggalkan. Semua orang memang selalu berubah dengan sebuah alasan. Karena sebuah keadaah yang memaksanya untuk berubah. Mungkin Sehun berubah karena sebuah alasan. Tetapi…. Tetapi, aku berharap jika dia dapat mengingat sebuah alasan lain, dimana alasan tersebut dapat membuatnya bertahan, untuk tidak berubah.

………..

        Sudah. Tulisannya berakhir di situ. Di coretan tersebut. Sehun menatap buku tersebut, kemudian dengan sekali hentakan dia merobek lembaran tanggal 29 Oktober itu. Memasukkan lembarannya kedalam saku coach-nya. Terakhir, menaruh kembali diary Krystal kedalam bantal. Sehun kemudian terdiam, ia terlihat berpikir. Tiga menit kemudian Sehun sudah memakai kembali coat-nya. Dia mengubur rencananya untuk tidur di kamar Krystal dan keluar dari kamar Krystal.

       Trek!

“Sehun..” Bersama dengan Sehun keluar, Oemma berada di depannya. “Baru saja Oemma ingin membangunkanmu.”

“Aku tidak bisa tidur tadi karena pakaian ini.” Potong Sehun. Sehun tahu Oemma pasti akan mencurigai dirinya karena ia tidak tidur. Sehun selalu tidur jam setengah sepuluh malam. Selambat-lambatnya ia tidur jam sepuluh malam. Jadi Oemma pasti curiga jika jam sepuluh lebih anaknya belum tertidur. “Ayo kita pulang!” Lanjut Sehun.

       Oemma hanya terdiam dan mengangguk. Menerima alasan konyol anaknya.

Ditemani hujan yang deras, Sehun dan keluarga keluar dari rumah besar keluarga Jung. Baru tiga menit Sehun menyandarkan tubuhnya di kursi mobil, dia sudah terlelap. Oemma yang berada di samping menatap anaknya, “Aku tahu jika dirimu berbohong. Pasti kau melakukan sesuatu di kamar Krystal sehingga dirimu tidak bisa tidur.” Seru Oemma pelan kepada anaknya yang sedang lelap tertidur.

.

.

.

“Aaaaahh…” Teriak kekecewaan bercampur kesal terdengar dari kelas XII-2. Para siswa menggerutu karena guru terperfectionist mereka, Kim Seongsangnim memberikan tugas membuat rangkuman tentang buku Penciptaan Alam Semesta. Tugas itu harus dikumpulkan dua hari kemudian tepat pukul jam delapan pagi.

Sehun mendesah. Dia memang anak murid yang baik, tapi tugas ini terlalu berat.   Buku yang berisi 151 lembar halaman dan harus selesai dalam waktu dua hari?

“Aku akan mati sebelum bisa menyelesaikan rangkuman buku ini.” Keluh Kai. Wajahnya terlihat sangat lusuh. Dengan tidak semangat, ia memasukkan buku-buku pelajaran. Sangat terbalik dengan beberapa menit yang lalu. Sebelum Kim Seongsangnim memberikan tugas, muka Kai sangat bersemangat karena sebentar lagi dia bisa pulang. “Ayo kita kerjakan bersama-sama di perpustakaan.”

Sehun menatap Kai, “Aku tidak bisa.” Jawabnya. Ia kembali melanjutkan, “Aku ada urusan sehabis ini.”

Kai menghela nafas, “Urusan?” Kai mencondongkan tubuhnya ke arah Sehun. Dengan berbisik Kai berkata, “Menjenguk Krystal?”

Sehun tersenyum dan mengangguk, “Aku duluan…..” Kai menjawab dengan anggukan juga.

Sehun akhir-akhir ini selalu menjenguk Krystal setiap ada kesempatan. Setiap tidak ada pelajaran tambahan. Setiap tidak ada tugas kelompok. Astaga! Kenapa temannya lebih perhatian kepada Krystal sekarang?

.

.

.

Sehun mendesah hebat. Dia bosan. Dia lelah. Sehun menutup buku yang berjudul Penciptaan Alam Semesta. Buku yang Kim Seongsangnim suruh dirangkum. Sehun kemudian berdiri dari kursi tersebut, merenggakan tubuhnya, dan berjalan mendekat ke arah Krystal.

“Kapan kau sadar hmm?” Tanya Sehun kepada Krystal. Gadis itu masih diam. Memejamkan matanya dengan damai.

“Sudah satu tahun tiga bulan Krys…. Sudah satu tahun tiga bulan… Banyak hal yang sudah berubah. Banyak. Aku, aku sekarang sudah di kelas XII. Aku menargetkan Sungkyunkwan University atau Korea University sebagai tempat kuliahku. Aku sudah putus dengan Suzy. Sudah sangat lama. Berapa lama ya?” Sehun terlihat berpikir. Ia kemudian tertawa kecil dan melanjutkan pembicaraannya, “Aku tidak ingat kapan aku putus dengan Suzy. Tapi saat putus dengan Suzy aku merasa lega. Appa benar, dia hanya teman yang baik.”

Sehun menghela nafas kecil, “Apa kau akan mengingat diriku ketika nanti sadar? Bagaimana perasaanmu ketika melihatku lagi?”

       Tap! Tap! Tap!

Suara langkah kaki membuat Sehun menoleh. Bibi Kwon datang. Sehun tersenyum. Sedangkan Bibi Kwon menatap Sehun dengan tatapan sedikit terkejut.

Anyeonghaseyo Tuan Muda. Saya tidak menyangka dapat bertemu Anda di sini.” Bibi Kwon menyapa dengan ramah Sehun. Tak lupa, Bibi Kwon membungkukkan badannya.

Sehun membalas bungkukkan badan Bibi Kwon. “Saya juga tidak menyangka dapat bertemu dengan Anda di sini. Sudah berbulan-bulan Anda tidak menjenguk Krystal.”

“Ah, Anda selalu datang kesini?”

Sehun mengangguk, “Ya.”

“Ah, karena orangtua Anda yang menyuruh bukan?”

Sehun tertawa. “Ya. Dan aku juga mau.”

Bibi Kwon terdiam. Dia tersenyum tipis.

“Silahkan duduk bi. Saya akan melanjutkan tugas saya lagi.” Bibi Kwon mengangguk. Ia duduk di kursi yang tadi Sehun tempati.

Mata Bibi Kwon menerawang. Raut wajahnya terlihat berpikir. Apa maksudnya semua ini? Apa maksud dari perubahan perilaku Sehun? Apa maksud dari perkataan Sehun waktu itu? Perkataan tiga bulan yang lalu. Apa maksudnya?

Flashback Start~

         Bibi Kwon tersenyum kepada perawat yang menghampirinya.

         “Sini biar saya bantu membawakannya.” Kata perawat tersebut ramah. Sang perawat mengambil karangan bunga dari tangan Bibi Kwon dan Bibi Kwon mengucapkan terimakasih. Karena sejujurnya, ia sangat susah berjalan sambil membawa karangan bunga yang sangat besar ini.

       “Anda ingin menjenguk siapa di lantai ini?” Perawat tiba-tiba bertanya.

        “Ingin menjenguk Krystal Jung.” Jawab Bibi Kwon sambil tersenyum.

          “Krystal Jung? Saya rasa tadi ada orang yang juga menjenguknya. Sekitar limabelas menit yang lalu, ada laki-laki remaja yang memasuki kamar Ananda Krystal.”

       “Seorang remaja?” Perawat menganggukkan kepalanya.

Oh Sehun.

        Nama itu langsung terbesit di pikiran Bibi Kwon. Untuk apa?

        “Ah, biar saya saja yang membawa bunga ini sendirian ke dalam. Terimakasih atas bantuan Anda.”   Bibi Kwon langsung mengambil karangan bunga. Menyunggingkan Senyum.

        Perawat tersebut juga membalas senyuman Bibi Kwon.

         Dengan perlahan, seakan tidak ingin membuat suara sedikitpun Bibi Kwon masuk. Cukup susah, tetapi Bibi Kwon berhasil. Lagi-lagi, dengan perlahan Bibi Kwon menutup pintu. Ketika ia menutup pintu, ketika suara dari luar tidak lagi terdengar, Bibi Kwon mulai mendengar suara berat tersebut. Suara berat yang menggema di ruangan itu.

         “Aku…. Aku, tidak tahu jika kau menulis semua kenangan dengan diriku. Aku tidak sempat membaca semuanya, tapi aku membaca halaman terakhir…” Suara isakan kecil terdengar. Setelah dapat mengendalikan, Sehun kembali berbicara, “Aku minta maaf jika aku membaca diary mu tanpa izin terlebih dahulu. Aku hanya….” Terdengar helaan nafas, “Aku tidak menyangka dengan isi halaman terakhir. Tentang sore itu, tanggal 13 Maret, dimana ketika kau jatuh dan aku mengendong mu.   Dan tulisan mu yang berisi, ‘Mungkin Sehun berubah karena sebuah alasan. Tetapi…. Tetapi aku berharap jika dia dapat mengingat alasan lain, dimana alasan tersebut, dapat membuatnya bertahan, untuk tidak berubah’. Tulisan itu, tulisan itu menyadarkanku terhadap sesuatu hal kecil tetapi itu sangat penting. Yang pada saat itu tidak aku ingat karena aku sedang marah, sedang kesal, sehingga aku mengambil sebuah keputusan lain. Karena alasan yang membuatku marah dan kesal.

             “ Hal kecil tersebut adalah…. Adalah saat aku senang berbicara denganmu. Saat aku senang bercerita apa saja kepadamu. Saat aku senang berada di sampingmu. Saat aku menyadari, bahwa sebenarnya aku mencintaimu.”

             Bibi Kwon tersentak. Dia sangat terkejut. Dengan sederap langkah, Bibi Kwon maju, ingin melihat Sehun. Ia tambah terkejut ketika melihat Sehun yang berada di samping nyonya mudanya, menatap nyonya mudanya dengan tatapan lembut, dan salah satu tangan Sehun mengenggam tangan Krystal.

         “Aku mencintaimu….. Sungguh…. Tapi karena sebuah kejadian yang membuatku lupa terhadap perasaanku sendiri. Membuat diriku mengabaikan perasaanku terhadapmu. Padahal jika aku memahami perasaanku sendiri, aku tidak akan berubah.” Sehun kemudian tertawa hambar, “Tapi itu semua sudah terlambat. Sudah terlambat bagiku untuk menyatakan perasaanku padamu…. Lihatlah, karena aku tidak memahami perasaanku sendiri, dirimu ada di sini. Di ruangan ini. Juga, karena alasan utamanya adalah karena aku terlalu pengecut. Aku sangat pengecut Krys…. Aku sangat pengecut karena tidak dapat mengakui bahwa aku yang menyebabkan dirimu di sini. Aku menyembunyikan fakta. Berlagak seperti aku tidak tahu apa-apa. Aku seorang pengecut dan juga brengsek!

Sedangkan dirimu…. Kau terlalu baik untukku… Kau adalah seorang yang hebat karena lebih mementingkan diri orang lain. Mementingkan kebahagian orang lain. Aku adalah seorang yang brengsek, yang tidak tahu diri, yang pengecut! Seseorang yang baru tersadar ketika semuanya sudah hancur. Maka dari itu, ketika kau sadar kembali, aku akan memutuskan pertunangan kita. Aku akan melepaskan dirimu.

        Ini sebagai perminta maaf ku. Ini sebagai penebus kesalahanku yang telah membuat dirimu menderita….. Aku…. Aku hanya punya satu impian diatas segala-galanya, membalas kebaikkan dirimu dengan cara memastikan dirimu bahagia. Karena bahagia itu melihat seseorang yang kau cintai bahagia.” Sehun kemudian bangkit dari kursinya, mengelus pelan pipi Krystal. Ia sedikit menunduk dan kemudian mencium lembut bibir Krystal. “Terimakasih untuk segalanya…”

         Bibi Kwon langsung mundur. Dia begitu terkejut. Segera dia membuka pintu dan keluar. Dengan cepat, tanpa membuang waktu, Bibi Kwon berlari ke lift, berharap ia segera turun dari lantai ini.

Flashback End~

“Bi… Bibi…” Bibi Kwon menoleh ketika Sehun memanggilnya. Orang dihadapannya menatapnya dengan alis berkerut.

“Bibi kenapa menangis?” Tanya Sehun dengan nada khawatir.

Menangis? Bibi Kwon meraba mukanya, benar. Benar dia menangis.

“Ah…”   Bibi Kwon terperangah. Bingung ingin menjelaskan apa. “Saya pergi dulu. Maaf saya harus pergi.” Tanpa menunggu jawaban dari Sehun. Tanpa membungkukkan badan terlebih dahulu, Bibi Kwon bangkit dan keluar.

.TBC.

Karakter Sehun disini memang menyebalkan.  Awalnya mau bikin karakter Sehun gak menyebalkan seperti ini.  Jadinya gini….  Yang sabar ya….

Dan terimakasih sudah mau membaca tulisan saya ^^

Advertisements

One thought on “Flipped (Chapter 4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s