State of Grace(Chapter 8)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

     Musim dingin sudah mulai terasa. Kemarin, first snow telah turun. Sehun menghela nafas, dia bermimpi jika dirinya, bersama Krystal ketika first now turun. Tetapi itu hanya mimpi. Lagi pula, hari ini dia akan ke Gallery Mom. Ia akan meminta maaf kepada ibunya. Tidak baik mereka saling tidak menyapa selama tiga hari ini, setelah makan malam, setelah Mom berkata Sehun harus menunda acara ke lapangannya karena Mom dan Wendy telah merancanakan libur bersama, dan Sehun harus ikut. Setelah mereka berdebat panjang karena Sehun berkata, jika acara ke lapangan ditunda maka dia harus menunggu satu tahun lagi, berarti kelulusannya juga akan tertunda. Setelah kemarahan Mom karena Mom bersikukuh Sehun ikut.

Sehun bernafas lega ketika dia sudah sampai di Gallery. Ia segera masuk. Para staf yang mengenali dirinya menyapanya. Dia membalasnya. Well, Sehun sedikit berharap jika Krystal juga menyapanya. Well, sepertinya tidak, karena Krystal Jung sedang sibuk melukis. Krystal Jung juga sedang menggunakan headphone. Pasti dia tidak mendengar para staf yang menyapa. Sehun tersenyum, Krystal terlihat cantik ketika sedang focus mengerjakan sesuatu.

Ia kembali melanjutkan langkahnya. Ke ruangan ibunya. Sehun mengetok pintu terlebih dahulu.

“Masuk.” Suara Mom terdengar. Suaranya lebih dingin dari biasanya, pasti Mom masih marah.

Sehun membuka pintunya. Mom menatap tajam anaknya. Sehun tersenyum, “Hai Mom.” Sapa Sehun. “Sehun pikir, sebaiknya hari ini datang ke Gallery Mom.” Lanjutnya.

“Tentu.” Kata Mom dingin. “Pasti kau juga berpikir untuk bisa berminta maaf dengan Mom bukan?”

Sehun mengangkat kedua bahunya, “Tidak ada salahnya bukan? Kurasa kita harus memperbaiki hubungan kita.”

“Hubungan kita hanya bisa diperbaiki jika dirimu setuju dengan rencana Mom.”
Sehun mengerang. Racun apa yang telah dimasukkan oleh Wendy kepada ibunya?

“Tidak.” Jawab Sehun dengan penuh kepastian. “Tidak. Karena itu akan menunda semua hal. Kelulusanku. Pekerjaan baru ku. Professor Han merekomendasiku untuk bekerja di sebuah perusahaan. Dan itu semua akan hancur jika aku menyetujui rencana liburan itu!”
Well, sebaiknya kau memprioritaskan keluargamu terlebih dahulu. Kelulusan. Pekerjaan. Apa-apaan itu?! Keluargalah yang paling penting.”
Sehun tambah frustasi, “Mom seharusnya juga melihat dari sudut pandangku. Bukan dari sudut pandang Mom saja. Aku melakukan hal ini untuk membanggakan Mom dan Dad. Bukan hanya mengejar cita-citaku.”
Tifanny berada di titik puncak amarahnya. Dia berdiri. Ingin berteriak kepada anaknya.

      Tok! Tok! Tok!

Tifanny dan Sehun terkesiap.

“Ada yang lebih penting di urus.” Sahut Tifanny tajam. “Masuk!” Perintah Tifanny.

Pintu ruangan terbuka denga perlahan. Krystal masuk.

“Maaf menganggu. Saya harap saya tidak menganggu kalian.” Kata Krystal dengan nada takut. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia bisa menebak dari nada suara Tifanny yang tajam. Dan suara berdebat yang sudah kedengaran dari tadi. Menghentikan berapa pekerjaan staf, tetapi meraka berusaha melanjutkannya karena takut dimarahi.

“Tidak. Anda tidak menganggu sama sekali.” Tifanny menjawab. Kali ini nada suaranya sudah lebih sedikit tenang. Tifanny juga sudah tersenyum.

“Dan waktunya tepat sekali!” Sehun segera meninggalkan ruangan.

Krystal tertegun. Ini pertama kalinya ia melihat Sehun marah. Pertama kalinya ia melihat Sehun berkata sedingin itu.

“Krys…” Suara atasannya menyadarkan Krystal.

“Oh….” Krystal tersadar. “Saya ingin melaporkan tentang project yang saya buat.”

.

.

.

Sehun menghela nafas.

Kai menatap dirinya tajam, “Aku memang baru putus dari kekasih ku berapa hari ini, tapi tampang mu lebih mengenaskan daripadaku.”

Sehun menoleh, “Kau sudah putus dengan Sulli dari lima hari yang lalu. Dan kau tidak akan mengenaskan seperti aku karena kau sudah menyerah untuk menjadi kekasihnya.”
“Yak bocah sialan!” Sungut Kai yang tidak terima dengan perkataan Sehun.

Sehun terkekeh. Ia kembali memandang jalanan yang telah dipenuhi oleh salju.

“Hei…” Kai memanggilnya. Sehun menoleh. “Hp-mu berbunyi.”

Sehun segera mengeluarkan hp yang berada di sakunya. Ia tersenyum. Sms masuk dan itu berasal dari Krystal.

“Kau terlihat kesal. Kau baik-baik saja?”

Senyuman Sehun semakin lebar. Ia segera membalas.

Kau mengkhawatirkanku?”

      Buk!

Sehun mengaduh karena kepalanya yang terkena kaca jendela bistro. Ini semua gara-gara Kai. Kai tiba-tiba telah berada di sampingnya dan Sehun terkejut sehingga ia mundur ke belakang.

“Yak!” Gerutu Sehun. Hp berdering kembali. Sehun segera membukanya.

             “Ini pertama kalinya melihat dirimu marah.   Jadi, Ya. Aku mengawatirkan dirimu. Kau baik-baik saja?”

Sehun tambah tersenyum lebar.

“Aku sudah baik-baik saja sekarang…”

Kai di sampingnya menunjukkan raut yang sangat antusias. Sehun menghela nafas, “Ya, ya, ya. Akan kuceritakan.” Dan sms Krystal masuk kembali.

“Syukurlah.”

            “Kau hanya ingin menanyakan hal itu? Tidak ada yang lain?”

            “Kurasa tidak.”

           “Aku berharap kau mengajakku jalan-jalan. Supaya lebih menghiburku. Seharusnya aku mengatakan aku tidak baik.”

          “Kau ingin kita jalan-jalan?”

Sehun menganggukkan kepalanya. Kai menatap sahabatnya gemas.

“Tentu!”

.

.

.

Krystal menggigit bibirnya. Sial! Seharusnya dia tadi tidak menanyakan. Tapi dia benar-benar khawatir. Krystal menekan tombol reply.

“Baiklah. Lagipula pekerjaanku telah selesai.”

“Sekarang? Baiklah. Aku akan menjemputmu.”

            “Tidak usah. Aku akan menunggu di halte.”

            “Okay.”

Krystal segera membuka lokernya. Mengeluarkan coat dan memakainya. Tak lupa sarung tangan. Terakhir dia mengambil tasnya.

“Pekerjaanmu sudah selesai?” Eunji sudah berada di sampingnya. Entah kapan dia masuk ke ruangan loker.

Krystal mengangguk.

“Hebat sekali. Pekerjaan ku masih banyak.”

Krystal tersenyum, “Fighting!” Ucapnya menyemangati Eunji.

Eunji tersenyum, “Terimakasih. Ngomong-ngomong bahasa ingrismu sangat bagus.”

Krystal berdiri, “Terimakasih. Dan aku harus pergi duluan.”

“Hati-hati di jalan!” Seru Eunji. Krystal mengangguk dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan loker.

.

.

.

Sehun tersenyum sangat lebar ketika melihat Krystal menunggu di halte. Ia mengklakson mobilnya dan membuka kaca mobilnya. Krystal tersenyum.
“Ayo masuk!” Seru Sehun.

Krystal menganggukkan kepalanya. Ia berjalan menuju mobil Sehun dan masuk.

“Kau punya mobil?” Tanya Krystal ketika dia sudah masuk.

Sehun mengangguk, “Bukankah sudah pernah kubilang?”

Krystal mengkerutkan keningnya. Berusaha mengingat-ngingat.

“Mobilku rusak. Karena itu aku harus pulang menggunakan kereta.”

Krystal mengangguk. “Aku ingat.” Katanya.

“Jadi, kita mau kemana?” Sehun bertanya sambil menyetir.

Krystal mengangkat kedua bahunya, “Aku tidak punya ide. Terserah kau saja.”
“Bagaiamana jika kita taman hiburan?” Tanya Sehun bersemangat-walau ia masih focus ke depan.

Krystal terlihat berpikir, kemudian menjawab, “Kurasa tidak. Ini sudah jam dua siang. Terlalu sore jika ingin kesana.”

“Tapi kau bilang jika itu terserah diriku. Kenapa protes?” Sehun mengeluarkan nada tidak suka, pura-pura kesal.

“Aku tidak protes. Hanya mengasih saran.” Sanggah Krystal.

“Tapi tadi kau bilang ‘Aku tidak punya ide. Terserah kau saja.’” Sehun masih berakting kesal.

“Baiklah. Aku mengubah kalimatku. Aku tidak punya ide. Apakah kau punya?”

“Ke taman hiburan.”

“Tidak mau.”

“Oh, ayolah…..”

Krystal menggelengkan kepalanya.

Sehun menghembuskan nafas, “Baiklah.”

Krystal tiba-tiba mengeluarkan ide, “Ke Myeongdong?”

“Apa?!” Tanya Sehun tidak percaya. “Kemana?” Lanjutnya.

“Ke Myeongdong? Bagaimana?” Kali ini Krystal yang bersemangat.

“Ke Myeongdong?” Sehun sekarang menoleh ke Krystal, “Ma-Mau belanja disitu?” Tanya Sehun.

Krystal menganggukkan kepalanya. “Jika mood ku tidak baik, aku selalu berbelanja ke Myeongdong.”

“Jika ingin berbelanja ke Gangnam juga bisa.”

Krystal mendecakkan lidahnya, “Gangnam terlalu mahal. Kita ke Myeongdong saja ya… Banyak tempat makan yang enak juga disana. Bagaimana?”
Sehun menghela nafas, kemudian mengangguk. Krystal bersorak senang.

.

.

.

Duapuluh menit kemudian mereka sudah sampai di Myeongdong.

“Jadi, toko apa yang kita akan datangi pertama kali?”

“Maksudmu?” Krystal mengerjap. Kemudian dia mengerti maksud Sehun, “Lebih baik parkirkan mobil ini di suatu tempat dan kita akan berjalan. Tidak mungkin menggunakan mobil karena Myeongdong terlalu ramai.”

“Astaga…” Erang Sehun. Walaupun Krystal tahu Sehun juga akan memparkirkan mobilnya.

Benar saja, Sehun memparkirkan mobilnya.

Sehun lebih mengikuti Krystal. Dia benar-benar tidak tahu Myeondong. Hanya pernah mendengarnya. Dia biasanya berbelanja bersama ibunya di Gangnam. Jadi, dia benar-benar menyerahkan semuanya kepada Krystal. Krystal yang sedari tadi berceloteh ria. Menceritakan tentang Myeondong kepadanya. Sehun tersenyum. Dia sudah merasa lebih, bukan sangat baik. Karena Krystal berada di sampingnya, bercerita dan itu membuat dirinya melupakan sejenak masalah dia dan ibunya. Kedua karena dia senang Krystal telah ceria lagi, tidak menjaga jarak kepadanya.

“Aku akan pergi ke lapangan sebentar lagi.” Kata Sehun tiba-tiba, tanpa dia pikirkan terlebih dahulu alasannya. Mungkin alasannya adalah Krystal harus tahu hal ini?

Krystal menoleh, “Oh… Berapa lama?”

“Sampai bulan February.”

“Itu sangat lama.”

“Kau merindukanku?” Tanya Sehun dan kali ini kata-kata tersebut langsung meluncur dari mulutnya.

Krystal terkekeh tapi tidak menjawab.

“Bilang saja jika kau akan merindukanku.” Goda Sehun dan kali ini Krystal kembali menoleh, “Aku hanya menanggapi perkataanmu saja. Tidak kurang dan tidak lebih.”
Sehun tertawa, “Kau pasti akan merindukanku.”

Krystal tidak menanggapinya.

“Hey, bagaimana jika kita ke sana?” Sehun tiba-tiba menunjuk ke suatu stan kecil. Tanpa menunggu tanggapan Krystal, Sehun segera menarik tangan Krystal ke sana. “Lihat, lucu-lucu bukan?” Tanya Sehun kepada Krystal. Mata Sehun sibuk menatapi gantungan kunci yang terpampang di stan. Krystal juga. “Ya, sangat lucu.” Kata Krystal.

“Bagaimana jika kita beli yang ini?” Sehun menunjukkan dua gantungan kunci boneka beruang.

Krystal mengangguk. Mereka membeli kedua gantungan kunci tersebut.

Setelah itu mereka melanjutkan acara mereka. Berjalan-jalan mengelilingi Myeondong. Selama perjalanan itu, mereka banyak membeli barang-barang. Empat kaos kaki, dua sarung tangan, dua syal, dua topi, dua baju couple, dua gelang tangan.

“Kaki ku sudah sangat sakit. Sebaiknya kita beristirahat dulu.” Keluh Sehun yang baru tersadar jika mereka sudah berjalan sangat lama.

“Kita mau kemana lagi?” Sehun bertanya ke arah Krystal yang sedang asyik melihat barang-barang. Gadis ini sangat suka berbelanja, dia tidak capek karena telah berkeliling-keliling Myeongdong. Sedangkan Sehun, sekarang sudah mulai bosan dan lelah.

Krystal menoleh, “Sehabis ini sepertinya tidak ada lagi. Kurasa kita bisa pulang.” Kemudian Krystal kembali menatap barang-barang. “Kau tahu… Kurasa aku akan memberimu hadiah.”

“Hadiah?” Sahut Sehun bingung. “Untuk apa?”

Krystal terlihat berpikir, “Sebagai ucapan terimakasih karena telah merayakan ulang tahun ku. Dan sebagai…” Krystal terhenti sejenak. “Aku memberinya untuk tugas ke lapanganmu.” Lanjut Krystal.

“Apa? Apa hadiahnya?”

Krystal melihat jamnya, “Beri aku waktu lima belas menit terlebih dahulu. Kau disini saja dan aku akan pergi sebentar… Lima belas menit.”

Sehun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Baiklah.”

.

.

.

“Jadi….” Sehun berkata sambil menaruh barang-barang belanjaan mereka. “Hadiahku, mana?” Tanyanya ketika dia sudah masuk ke dalam mobil. Menatap Krsytal yang sedari tadi sudah duduk disana.

Krystal tersenyum. Dia mengeluarkan sesuatu dari mantelnya. “Ini. Ku harap kau menyukainya.”
Sehun menerimanya, “Bagaimana jika aku tidak menyukainya?”

Krystal terkekeh. Baru saja ia ingin menanggapi, Sehun berbicara, “Tapi sepertinya aku akan menyukainya.”

Sehun melihat hadiah Krystal. Sebuah kartu ucapan. Dia membuka kartu tersebut, “Hasil yang maksimal akan di dapat dari usaha yang maksimal juga… Selamat berjuang Oh Sehun…. Ya. Aku pasti akan merindukanmu.”

“Aku tidak menyangka…” Sehun terdiam sejenak, “Tidak ada yang pernah memberikanku hadiah seperti ini. Terimakasih.” Sehun tersenyum ke Krystal.

Krystal terperangah. Untuk pertama kalinya, dia dapat merasakan sebuah kebahagiaan orang lain. Untuk pertama kalinya sejak dia terjebak di panti. Krystal mengigit bibirnya.

“Kau tidak apa-apa?” Sehun menemukan perubahan pada wajah Krystal. Orang di depannya terlihat lebih sedih.

Krystal menggeleng. Memaksakan sebuah senyuman, “Tidak. Aku tidak apa-apa.”

Sehun mengangguk. Dia tidak menahan keinginannya untuk mengetahui apa yang di sembunyikan oleh Krystal. Sampai kapan orang di depannya menyembunyikan sesuatu kepadanya?

“Hun-ah,” Sehun menoleh. Menatap Krystal yang sedah tertunduk. Krystal mengangkat kepalanya. Menatap Sehun, “Aku… Aku ingin mengatakan alasan kenapa aku berbohong. Alasan kenapa aku menghilang selama lima hari.”

.TBC.

Advertisements

One thought on “State of Grace(Chapter 8)

  1. Aahhh.. suka banget sama chapter ini.. entahlah.. selama chapter berlangsung bibir gak bisa diem buat gak tersenyum.. terutama pas sehun senyum2 bales smsnya krystal.. kai ajha sampe bingung ngliatiannya.. hmm kayaknya mamanya sehun berada di pihak wendy ya?? Entah kenapa sedikit gak rela.. fighting buat lanjutannya..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s