Flipped (Chapter 6)

tumblr_mkac3lo1p91qd89zjo1_500

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

***

Note: Gak bisa janji jika meng-update denken konsisten ^^

Anak Kambing Atau Anak Harimau?

Sebuah tangan menepuk bahu Sehun, “Tidak! Tidak! Jangan sekarang! Kumohon! Tunggu….. aku tidak ingin meninggalkannya sekaraaaang!”

 

.

.

.

Siapakah Engkau?

Aku seperti mengenalmu. Aku seperti tahu akan dirimu.

Suara mu selalu menggema di sanubariku.

Ingin ku menjawab, tapi aku masih bertanya di mana aku.

Dimana aku yang terjebak di tempat yang gelap.

Jangankan tempat, siapa aku?

Jika aku kembali, dapatkah aku mengetahui diriku?

Jika aku kembali, akankah aku melihatmu?

Jika aku kembali, bisakah kau tetap berada di sisiku?

 

***

Dengan perlahan-lahan ia membuka matanya. Krystal langsung memejamkan matanya kembali ketika sebuah cahaya putih menyilaukan masuk ke matanya. Kemudian, ia membuka matanya kembali.

Putih.

Belum selesai ia melihat keadaan atas, Krystal menyadari jika seorang sedang memeluknya. Orang tersebut memeluknya erat sambil menangis terisak-isak. Dengan sekuat tenaga, ia mengangkat tangan kananya dan menepuk bahu kanan orang tersebut.

“Tidak! Tidak! Jangan sekarang! Kumohon! Tunggu…. Aku tidak ingin meninggalkannya sekaraaaang!” Teriak orang tersebut. Orang tersebut semakin mengeratkan pelukannya. Dengan tubuh yang lemah, Krystal merasa tidak bisa menahan tenaga orang tersebut dan mulai merasakan sesak.

“Aaa.. Aaakuuu Tiidak.. Bii.. Saa… Ber.. Na… Fas…”

“Krys?!” Sehun segera melepaskan pelukannya.

“Sehunniee?!”

Dan Sehun merasa tidak bisa bernafas. Dadanya terlalu berat. Rasa sesak menggerogoti dirinya.

Kenapa Krystal mengingat dirinya?

.

.

.

Sehun menarik nafasnya. Ia menatap pintu di depannya dan akhirnya memutuskan untuk masuk. Baru beberapa langkah memasuki ruangan nafasnya kembali tercekat. Dia mengepal kedua tangannya, berusaha untuk tidak kehilangan kesadaran lagi. Sehun kemudian membuang nafasnya dan duduk sedikit menjauh dari ranjang Krystal.

Gadis itu sedang tertidur pulas, dan Sehun tidak ingin menganggunya. Sebenarnya ia bahkan tidak punya keberanian untuk melihat gadis itu bangun dari tidurnya. Tidak setelah Krystal masih mengingat dirinya. Walaupun kata orangtuanya, Krystal telah kehilangan separuh ingatannya, ingatan sekitar dua tahun yang lalu, ingatan masa-masa SMA.

“Ehm…” Terdengar lenguhan Krystal.

“Krys….” Kata Sehun pelan. Dia mengenggam kedua jari Krystal.

“Heeh…” Krystal masih belum sadar. Dia menggerakan kepalanya.

“Krys…” Kata Sehun lagi.

Krystal seperti tidak mendengarnya. Dia terus menggerakan ke kanan dan kiri kepalanya.

“Aaaah….” Bersamaan dengan itu, Krystal terbangun dengan nafas terengah-engah.

Sehun masih di samping, masih mengenggam tangan Krystal, “Krys…. Krys kau tidak apa-apa?”

Krystal menoleh ke samping, “Sehunniee…”

Sehun menelan ludahnya. Kenapa Krystal mengingatnya? Kenapa?

“Iya. Ini aku Sehun.” Kata Sehun dengan susah payah.

“Aku mimpi buruk.   Aku mimpi buruk.” Suara Krystal bergetar. “Aku mimpi buruk… Sangat buruk…” Tangisan Krystal keluar.

Sehun memeluk Krystal, “Tenanglah…. Aku berada di sisimu…”

“Apakah kau akan terus berada di sisiku?”

“Apa?” Sehun langsung melepaskan pelukannya. Dia menatap Krystal curiga.

Krystal tersadar ucapannya. Entah kenapa dia merasa bingung dengan ucapannya. Kata-kata itu langsung meluncur dari mulutnya, tanpa ia sadari.

“Aa…. Aku tidak tahu apa yang ku maksud. Hanya meluncur saja dari mulutku.”

Sehun menghela nafasnya dan mengulas senyum, “Tidak apa-apa.” Ia kemudian duduk kembali di kursi, “Apa yang kau mimpikan?”

Krystal terlihat mengingat-ingat, “Entahlah. Aku tidak tahu darimana asalnya. Tapi yang jelas aku berada di dalam air. Ada yang menahan kepalaku. Aku tidak bisa bernafas. Aku mencoba untuk melawan tetapi tidak bisa. Dan itu terus berlangsung sampai aku bangun.”
Nafas Sehun langsung tercekat, apa yang Krystal katakan? Apakah dia sudah ingat? Apakah ini hanya sebuah acting untuk menjebaknya?

Tentu saja Sehun mengingat jika Krystal selalu di bully oleh Suzy. Dan Suzy selalu merendam kepala Krsytal di wastafel toilet. Kenapa Krystal memimpikannya? Atau…. Atau ini hanya jebakan? Krystal ingin balas dendam kepadanya?

“Sehunnie, apa yang kau pikirkan? Apakah kau mengetahui sesuatu?”

Suara Krystal kembal menghentakan Sehun. Sehun menatap Krystal, “Tidak. Aku sama sekali tidak mengetahui hal itu. Mungkin itu hanya mimpi buruk.”

.

.

.

Didalam kebingungannya, Sehun berusaha untuk mencari jalan keluar. Butuh beberapa hari untuk meyakinkan dokter Krystal agar berbicara kepadanya. Sehun akan mencari tahu. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Krystal. Dia tidak boleh terus-terusan didera rasa ketakutan, dia harus kembali memegang kendali lagi.

Tok! Tok! Tok!

Sehun mengetuk pintu ruangan dokter Krystal, Dokter Kim Jong Nam.

Cklek~

Seorang perawat membukakan pintu ruangan, “Dokter Kim sedang beristirahat. Mohon temui beliau ketika istirahatnya selesai.”

Sehun segera menahan perawat yang akan menutup pintu, “Saya punya janji dengan Dokter Kim. Bilang jika Oh Sehun sudah datang.”

Perawat tersebut menatap Sehun bingung, “Tunggu sebentar.” Kata perawat tersebut. Perawat tersebut kemudian menjauh dari pintu, membiarkan pintu ruangan sedikit terbuka.

“Oh Sehun?” Tak butuh waktu lama, perawat kembali lagi ke pintu, “Dokter Kim sudah menunggu Anda.” Perawat tersebut mengulas senyuman. Ia membukakan pintu untuk Sehun dan saat Sehun masuk, perawat tersebut keluar dari ruangan.

“Jangan memasang raut wajah curiga seperti itu.” Suara Dokter Kim membuat Sehun menoleh menatap dokter tersebut setelah sebelumnya menatap pintu yang ditutup oleh perawat. “Ini adalah pertemuan rahasia. Hanya kita berdua yang mengetahui apa yang dibicarakan.” Lanjut Dokter Kim dengan senyum manisnya. “Silahkan duduk.”

Sehun mengangguk dan duduk di kursi, yang terletak pas di depan Dokter Kim, “Maaf jika saya menganggu istirahat Anda.”

Dokter Kim tertawa, “Sama sekali tidak. Saya malah menunggu kedatangan Anda.”

“Untuk?”
Dokter Kim membenarkan posisi duduknya. Kali ini dia benar-benar dalam posisi yang sangat serius, “Saya yakin Anda bisa membantu Krystal mengembalikan ingatannya.”

Bagus! Apa Krystal benar-benar berencana menjebaknya?

“Kenapa Anda berpikir seperti itu?” Tanya Sehun dengan suara yang ditahankan. Agar suara tidak terlalu terlihat tidak suka.

“Karena Anda sangat serius mencari apa yang terjadi dengan Krystal. Anda percaya jika keadaan Krystal bukan hanya kehilangan ingatan seperti biasa.” Dokter Kim kembali berbicara, “Ini saya simpulkan karena kegigihan Anda. Selama empat hari ini Anda terus mengejar saya. Mengatakan jika pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Krystal. Saya yang awalnya hanya menganggap angin lalu mulai memperhatikan Anda ketika orangtua Krystal bilang jika Anda adalah sahabat Krystal. Sebagai sahabat, Anda pasti tahu jika ada yang tidak beres dengan sahabat Anda. Maka dari itu saya meninjau keadaan Krystal kembali. Dan saya berkesimpulan jika keadaan Krystal bukan hilang ingatan semata.”

“Bukan hilang ingatan semata?”

Dokter Kim kembali menjelaskan, “Amnesia biasa terjadi kepada orang yang kepalanya terbentur. Ini terjadi karena hippocampus (re: hɪpə(ʊ)ˈkampəs) atau bagian otak yang menyimpan perasaan dan emosi terkena guncangan. Dalam kasus Krystal, entah apa yang terjadi pada dirinya, otaknya menunjukan tidak ada kerusakan tetapi dia mengalami anemia.

“Sebelum hasil otaknya keluar, saya memvonisnya mengalami Post-traumatic Amnesia. Yaitu jenis amnesia yang biasa dialami pasien sehabis kecalakaan. Ketika saya sudah bisa menanyai, dia hanya melupakan kejadian dua tahun dalam hidupnya, sayapun memvonisnya dengan Lacunar Amnesia. Jenis Amnesia yang hanya melupakan sebagian kejadian, tetapi tetap sama, karena Hippocampus terkena guncangan. Tetapi setelah menerima hasil tes otaknya saya memiliki simpulan. Saya yakin jika Krystal mengalami Repressed Memory.”

Repressed Memory?”

Dokter Kim mengangguk, “Repressed Memory atau dulunya dikenal sebagai Psychogenic Amnesia. Itu adalah hilang ingatan yang disebabkan oleh keadaan stress atau keadaan trauma akibat sesuatu. Ingatan itu masih ada tetapi tidak bisa diakses karena merupakan pertahanan psikologi orang tersebut.   Seperti orang yang mempunyai kepribadian ganda dimana baru muncul sebagai pertahanan terhadap dirinya. Keadaan yang dialami Krystal sama, cuman dalam kasusnya ingatan yang menyakitkan ini terkunci tidak bisa di akses.”

“Dan…. Dan ada menyimpulkannya setelah mengetahui ia bunuh diri?”

Dokter Kim kembali mengangguk, “Ketika orang memutuskan untuk bunuh diri, pasti sesuatu yang besar telah terjadi kepadanya. Bagaimanapun juga, meskipun negeri kita masih membudidayakan bunuh diri, hal ini tetap menjadi langkah yang besar.”

Sehun langsung berdiri dari kursinya, “Saya tidak bisa membantunya.”

Ya. Dia tidak bisa membantunya. Karena dialah yang menyebabkan Krystal bunuh diri. Ia tidak bisa. Rasa takut kembali menyelimuti dirinya.

Dokter Kim juga iktu berdiri, “Tenanglah nak… Saya mengerti jika Anda belum siap menghadapi hal ini-“

Sehun menggelengkan kepalanya. Dokter Kim memegang tangan Sehun, “Tenanglah… Anda tidak harus memutuskannya sekarang. Saya memberikan Anda waktu atau saya harus membicarakan ini dengan orangtua Anda dan Krystal.”

Sehun menghela nafasnya, “Tidak usah. Berikan saya waktu untuk berpikir.”

Dokter Kim tersenyum dan menganggukan kepalanya, “Pikirkanlah dengan baik-baik nak….”

.

.

.

Jam menunjukan pukul satu malam. Semua orang sudah terlelap. Kota Seoul menjadi sangat damai pada jam-jam segini.   Hanya beberapa mobil yang melintas. Suara angin lembut terdengar.

Tapi Sehun masih terjaga. Dia tidak bisa terlelap. Hatinya resah tak ada satu tempat tersisa untuk ketenangan. Segala macam hal-hal yang buruk melintas di otaknya, dan semuanya bergemuruh di dalam sanubarinya.

Apa yang harus ia lakukan?

Ia tidak bisa lari dari masalah ini.

Tapi ia takut untuk menghadapinya.

Oh, bukannya ia pengecut?

Ya, ia adalah seorang pengecut.

Jika ia bukan seorang pengecut, ia tidak akan berada disini.

Mendapatkan kasih sayang dari orang tua Krystal padahal dia membunuh anak mereka.

Sehun mengusap mukanya kasar. Sepertinya dia tidak akan menemukan penyelesain malam ini.

.

.

.

“Maaf saya terlambat.”

Sehun segera menoleh, dengan lusuh diapun tersenyum, “Tidak apa-apa.”

Bibi Kwon mengangguk dan duduk di depan Sehun. Ia menatap Sehun dengan aneh, “Anda tidak apa-apa Tuan muda?”

Sehun menggelengkan kepalanya, “Entahlah.”

Bibi Kwon hanya mengangguk. Pura-pura tidak peduli padahal berbagai pertanyaan melintas di dalam benaknya. Kenapa Tuan muda terlihat sangat… Sangat tidak bersemangat? Lingkaran mata, rambut acak-acakan.

“Saya harap saya tidak menganggu pekerjaan Anda.” Suara Sehun kembali menghentakan Bibi Kwon.

Bibi Kwon kembali mengangguk, “Tentu saja tidak. Ada apa?”

“Ini tentang Krystal.”

Dan entah kenapa perasaan tidak enak kembali menyerang. Walaupun Krystal sudah sadar, tetapi tetap saja keadaannya masih simpang siur. “Ada apa dengan Nyonya muda?”
“Krystal mengalami Repressed Memory. Keadaan dimana dia tidak bisa mengingat kejadian tertentu yang dianggap menyakitkan. Ini disimpulkan oleh para dokter karena tidak ada kerusakan pada otaknya tetapi ia mengalami hilang ingatan. Dan juga karena ia melakukan bunuh diri. Yang terakhir adalah dia melupakan masa-masa SMAnya.” Sehun terdiam sejenak, “Bibi tahu bukan alasan dia bunuh diri dan juga apa yang terjadi ketika masa SMA Krystal. Tapi bukan itu yang akan saya bahas.” Sehun kembali terdiam.

Bibi Kwon semakin khawatir. Apa yang akan dibahas Sehun? Apakah Sehun akan melakukan hal-hal yang aneh? Sama seperti Nyonya mudanya?

“Krystal akan melakukan perawatan. Saya ingin dia mengingat dengan perlahan, tidak ada unsur rasa sakit. Bagaimanapun juga mengembalikan sebuah ingatan memberikan rasa sakit yang luar biasa. Apalagi membiarkan ingatan menyakitkan kembali hadir. Maka dari itu, saya mohon kepada Anda agar menyembunyikan buku diary Krystal.”

.

.

.

Krystal tidak dapat berhenti untuk tersenyum. Ia merasa sangat bahagia. Hari ini, dia diizinkan untuk pulang ke rumah. Berbagai macam hal-hal sudah terlintas di otaknya. “Krystal-ssi…” Dokter Kim tersenyum hangat kepada Krystal.

Krystal membalasnya, “Anyeonghaseyo Dokter…”

“Bagaimana keadaan mu? Sudah siap untuk pulang?”

Krystal menganggukan kepalanya, “Tentu saja. Aku sudah bosan di rumah sakit.”

Dokter Kim tertawa, “Ya, saya mengerti apa maksud Anda. Siapa yang betah tinggal di sini?”

“Hai, Krys!”
Sapa riang membuat Dokter Kim dan Krystal menoleh. Dokter Kim sedikit terkejut tetapi ia segera menampilkan senyuman ramahnya. Sedangkan Krystal semakin tersenyum lebar.

“Sehunniee..”

Sehun ikut tersenyum dan melambaikan tangannya.

“Sedang apa kau disini?” Tanya Krystal riang. Dia benar-benar tidak dapat menghilangkan senyum kebahagiaan dari wajahnya.

“Menjemput mu. Kau ingin pulang bukan?”

Krystal kembali menganggukan kepalanya, “Iya. Kau menjemput ku? Apa ini tidak merepotkan mu?”

“Sepertinya saya akan keluar untuk berbicara dengan orangtua Anda.” Dokter Kim memotong pembicaraan Krystal dan Sehun. Ia menatap Krystal dan Sehun bergantian, tersenyum kepada mereka, dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan.

Sehun mengangkat kedua bahunya, “Kenapa aku harus merasa keberatan?”

Kemudian Dokter Kim mendengar suara tawa Krystal dan beberapa kata yang tidak terlalu dapat ia dengar karena jarak tidak dekat. Dokter Kim belum menghilang dari kamar, ia masih berada di depan pintu, dan dia dapat dengan jelas melihat Krystal dan Sehun berbicara.

“Dokter Kim!” Dokter Kim menoleh. Ibu Krystal telah datang. Lagi-lagi dia tersenyum dan menjabat tangan Ibu Krystal. Mereka berbicara tentang apa yang harus ibu Krystal lakukan ketika Krystal di rumah. Sebelum perawatan Krystal dimulai.

Ketika Ibu Krystal pergi menjauh untuk mengangkat telepon, Dokter Kim kembali mengarahkan pandangannya ke Krystal dan Sehun. Krystal sedang melihat sesuatu dari hp dan Sehun, Sehun menoleh dan sedang menatapnya. Dan laki-laki itu tersenyum kepada Dokter Kim dan menganggukan kepalanya.

Sehun menganggukan kepalanya? Ia menyetujui permintaannya? Dia tidak bodoh. Dia yakin sekali jika Sehun menyetujui permintaannya. Dokter Kim mengulas senyumannya. Dan senyumannya terukir arti yang mengucapkan terimakasih.

“Ah, tadi sampai mana Dokter Kim?”

Dokter Kim kembali menoleh, “Ah, sampai makanan bukan?” Dan ia kembali menjelaskan kepada Ibu Krystal.

.TBC.

State of Grace (Chapter 9)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

        Sehun termenung. Mengingat-ngingat kejadian tadi sore. Kejadian dimana Krystal menceritakan semuanya. Menceritakan bahwa Krystal ditinggalkan oleh ibunya di panti asuhan. Dan bagaimana akhirnya dia berakhir disini, bersama Victoria, Amber, Sulli, dan Luna.

Seukir senyuman terbentuk dari bibirnya. Mengingat bagaimana Krystal menatap dirinya, berharap jika Sehun mempercayainya. Dan dia memang mempercayai gadis itu. Karena dia mencintai gadis itu. Karena dia sudah melihat kebaikkan dari gadis itu. Karena dia memang sudah percaya kepada gadis itu.

        Trek~

Ibu Sehun memasuki kamarnya, “Sehunniee..”

Sehun menghembuskan nafas, menghadap ke ibunya dan tersenyum.

“Uhm… Mom minta maaf soal kejadian tadi pagi. Sehun benar. Kelulusan mu yang paling penting. Lagi pula liburannya bisa ditunda. Mungkin sehabis…”

Sehun menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskan dengan kasar, “Apa maksud semua ini Mom? Acara liburan ini untuk apa? Apa Mom bermaksud menjodohkanku dengan Wendy?”

Tifanny terlihat berpikir-pikir. Kemudian ia menghembuskan nafasnya, “Mom pikir Wendy merupakan perempuan yang tepat untuk mu.”

        Perempuan yang tepat?

“Dari mana pemikiran itu berasal?” Suara Sehun menjadi tinggi. “Dari teman-teman sialan Mom?”

Tifanny mendekat ke anaknya, “Kau bilang apa kepada teman-teman ku?” Desis Tifanny.

“Sialan! Itu yang Sehun bilang.”

“Astaga! Kau bersikap tidak sopan!” Tifanny mendecakkan lidahnya, “Kenapa selalu membuat masalah kecil menjadi hal yang besar? Mom ingin meminta maaf kepadamu tetapi kau malah membuat Mom marah besar!”

Sehun memijat pelipisnya, “Sehun lelah. Sehun ingin tidur dan…. Mom harus keluar dari kamarku.”

Tifanny terdiam sejenak. Kemudian berteriak, “Kau baru saja mengusirku?! Aku ini ibu mu! Ibu mu! Bukan orang lain yang bisa seenaknya kau usir!”

“Kalau begitu perlakukan aku seperti seorang anak!” Balas Sehun dengan suara yang sama kerasnya Sehun. “Mom tidak pernah memperhatikan aku dan ayah sedikitpun. Hanya mendengarkan perkataan teman-teman Mom.   Tetapi Mom berlagak seperti Mom telah melakukan segalanya untuk kami! Segalanya yang kami inginkan! Bukan yang teman-teman Mom inginkan!”

Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Tifanny. Dengan cepat Tifanny menghapusnya. Tanpa berkata apa-apa Tifanny keluar dari kamar Sehun.

.

.

.

“Sehun?!” Ucap Krystal tidak percaya. Maksudnya, apakah ia benar-benar berhalusinasi? Melihat Sehun di depan pintu kamarnya. Dengan rambut yang acak-acakan. Lingkaran kantung mata. Dan…. Dan pakaian Sehun yang masih aneh.

“Hai Kris.” Sapa Sehun. Serak. Ia mengulas sebuah senyum.

“Ap… Apa yang kau lakukan di sini? Di.. Di depan kamarku?” Tanya Krystal tergagap. Ia masih belum bisa berpikir jernih.

“Aku…. Aku hanya berkunjung.”

“Berkunjung? Pada jam setengah tujuh ?!” Respon Krystal tak percaya. Apa yang ada di pikiran Oh Sehun?
Sehun menghela nafasnya, “Aku habis bertengkar dengan mom. Dan aku tidak ingin bertemu dengannya pagi ini. Jadi…”

Krystal menatap Sehun dengna tatapan tidak percaya. Ia ingin mengeluarkan komentar, ingin. Karena Sehun telah berbicara kembali.

“Aku tidak ada maksud apa-apa. Sungguh! Aku telah mencoba ke rumah Kai. Tapi bocah itu tidak membukakan pintu rumahnya kepadaku. Maka dari itu….” Sehun berhenti berbicara. Ia terlihat berpikir. Senyuman jail terukir di wajahnya, “Kau tidak ingin aku ke rumah Wendy bukan? Wendy pasti senang menerimaku.”

Sehun tersenyum geli melihat ekspresi tidak suka Krystal. “Kau tidak mengizinkan aku masuk? Sudah lumayan lama aku berdiri di luar.”

Krystal menghela nafas dan mengizinkan Sehun masuk. Dan ia segera menutup pintunya.

“Kenapa?” Tanya Krystal was-was.

Saat ini Sehun sedang memandang Flat-nya. Entah kenapa sebuah perasaan khawatir muncul di dalam benaknya.

Sehun tersenyum, “Flat-mu sangat bersih.” Sehun melanjutkan omongannya, “Aku pikir Flat-mu akan penuh dengan lukisan atau coretan-coretan gambar.”
Krystal tertawa, “Aku mempunyai keinginan untuk menggantungkan lukisan yang kubuat.”

“Tapi….”

Krystal terlihat berpikir, kemudian berdehem, “Tidak ada apa-apa. Oh, ya, aku akan bernagkat kerja satu jam lagi jadi….”

“Ya aku mengerti,” Potong Sehun, “ aku juga akan meninggalkan flat mu satu jam lagi. Lagipula, aku akan masuk kuliah jam delapan. Jadi aku akan bersiap-siap. Tidak keberatan jika aku mandi di sini bukan? Aku sudah membawa baju.”

Krystal mengangguk, “Silahkan saja. Aku akan menyiapkan sarapan.” Krystal berbalik memunggungi Sehun. Berjalan ke arah dapur.

“Sarapan?! Kenapa aku merasa jika kita adalah sebuah keluarga kecil?”

Krystal menghentikan langkahnya. Jantungnya berdetak tidak karuan. Mukanya memerah, menahan gejolak hatinya. “Kau tidak keberatan jika aku memasak roti bakar bukan?”

“Apa saja. Asalkan kau yang membuat.”
Dan kali ini Krystal merasa seperti tidak berpijak dengan bumi. Tangannya mengepal di kedua sisi, berusaha menenangkan dirinya. Dan… Dan Krystal bernapas lega ketika Sehun masuk ke kamar mandi. Apa-apaan ini? Kenapa dia berubah menjadi sangat aneh?

.

.

.

Krystal terlihat merapikan meja makan. Terlihat dua buah roti bakar beroleskan selai kacang telah ada disana. Dilengkapi dengan teh hangat.

        Tok! Tok! Tok!

Mendengar ketukan pintu, dia segera membuka celemeknya dan melangkah ke pintu.

         Trek!

Hai Princess…” Sapa Amber riang. Sahabat Krystal dari kecil sedang di depan pintu kamar Krystal sambil tersenyum lebar.

Hai handsome prince….” Balas Krystal dengan senyuman lebar. Krystal kemudian memeluk Amber, “Apa yang membawamu kesini?”

Amber melepas pelukan Krystal, “Something important.”

What you waiting for? Come in…” Krystal mempersilahkan Amber masuk.

Dilain pihak, seperti biasa Amber membuka sepatunya. “Hmmm…” Amber menghadap ke Krystal, “Bread Toast? (Roti bakar?)”

          Deg!

Krystal langsung tersadar. Sehun. Sehun sedang berada di rumahnya. Pada pagi hari. Dan Amber juga ada di rumahnya. Ottoekae?!

“Aah…” Krystal tergagap mencari alasan. “Kau ingin-“

“Krystal apakah-“ Sehun yang baru saja keluar dari kamar mandi menghentikan langkah dan omongannya. Matanya langsung membulat. Amber…. Amber sedang berada di sini? “Ah, Amber-ssi.” Sehun langsung membunggkuk, menyapa Amber.

Amber masih belum bisa sadar. Dia masih terus menatap Sehun. Hingga… Hingga ia menggelengkan kepalanya. Menyadarkan jika ini bukan mimpi semata. Mata Amber, mata Amber membulat. Bersamaan dengan mulut yang ternganga dan telunjuk terangkat menunjuk Sehun.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Amber to the point.

.

.

.

Wangi roti panggang sudah hilang dari kamar Krystal. Bukan karena habis dimakan, tetapi karena didiamkan dingin. Penyantapnya, Krystal dan Sehun hanya diam. Diam menatap gugup Amber yang duduk di depan mereka.

Saat ini, Amber, Krystal, dan Sehun hanya diam duduk di meja makan. Krystal dan Sehun duduk bersebelahan. Sedangkan Amber duduk di depan mereka. Dengan tatapan yang menyelidiki.

“Ehm…” Amber berdehem. Ia mengalihkan tatapannya ke Krsytal. “Bukannya kau harus bersiap-siap berangkat kerja?”

Krystal langsung tersadar, “Ah… Ah….” Tapi kekhawatiran dirinya meninggalkan Sehun dengan Amber muncul.

“Kenapa? Kau tidak bekerja hari ini?”

Krystal langsung menggeleng. “Aku… Aku baru saja akan bersiap-siap.” Dengan derap ragu-ragu ia bangun dari kursi. Melangkah dengan sangat pelan keluar dari dapur.

Dari dapur, Amber mengawasi Krystal, hingga ia hilang dari pandangan. Kemudian, ia kembali menatap Sehun.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Amber lagi.

Sehun menghembuskan nafasnya, “Hanya… Hanya menumpang untuk sarapan.”

Terdengar tawaan kecil, “Kau pikir aku akan percaya dengan hal yang bodoh itu? Jika hanya menumpang untuk sarapan, kenapa keluar dari kamar mandinya?” Terdengar helaan nafas. Amber kembali berkata lagi, “Saat pertama kali kita bertemu, aku biasa-biasa saja karena aku berpikir mungkin kau hanya akan sekali atau dua kali lagi bertemu dengan Krystal. Tapi setelah… Setelah hal ini kau membuat ku curiga kepada mu.”

“Tidak ada yang terjadi. Sungguh…” Sehun mencoba meyakinkan Amber. Mencoba untuk meluruskan kesalah pahaman.

“Baiklah. Kenapa kau bisa disini? Kenapa kau sangat percaya diri untuk mampir ke rumahnya pada waktu yang membuat curiga? Kenapa?”
Sehun memejamkan matanya. Haruskah ia bilang? Apakah Krystal belum bilang? Walaupun baru satu hari tapi seharusnya ia sudah bilang ke teman-teman terdekatnya bukan?

Sehun membuka kembali matanya, “Karena… Karena aku dan Krystal berpacaran.”

“Apa?!” Tanya Amber tidak percaya. “Berpacaran? Bagaimana bisa?”

“Aku telah mengatakan kepada Krystal beberapa hari yang lalu. Tetapi ia baru menjawab kemarin-“

“Apa kau tahu… Apakah ia menceritakan tentang masa lalunya?” Tanya Amber hati-hati.

Sehun mengangguk. “Iya. Dia-“

“Dan kau tahu bagaimana sakitnya dia? Bagaimana menderitanya dia?”
“Ya.” Jawab Sehun dengan nada sedikit tidak suka. “Kenapa? Kenapa kau… Kau seperti tidak mempercayaiku?”

“Aku bisa melihat jika kau adalah anak orang kaya. Bukannya menghina orang kaya, kau tidak sedang mempermainkan Krystal bukan?”

Sehun menatap orang di depannya dengan tatapan tidak percaya, “Apa maksudmu dengan mempermainkannya? Apa aku terlihat seperti seoarang playboy?”

“Aku tidak tahu. Tapi teman melambangkan sifat. Temanmu, Kai. Kau harus tahu apa yang ia lakukan kemarin kepada adik kecilku, Sulli. Bagaimana dia menyakitinya. Kau harus tahu.”
“Aku bukan Kai!” Kata Sehun dengan nada sedikit tinggi. “Aku bukan Kai. Jangan samakan aku dengan Kai. Ya, kami berteman. Ya, kami mempunyai beberapa kesamaan. Tapi aku adalah Sehun, Oh Sehun. Dan Kai adalah Kai Kim. Kami tidak sama. Kami adalah diri kami masing masing!” Jelas Sehun panjang lebar.

“Amber-ah…

Suara panggilan Krystal membuat suasana hampir memanas mendadak menjadi dingin. Amber dan Sehun, yang secara tidak sadar menjadi sangat dekat yang hanya terpisahkan oleh meja kembali duduk di bangku mereka berdua.

“Kau ingin ku buatkan roti panggang?” Tanya Krystal riang.

Amber menatap sahabatnya dan menggeleng, “Tidak usah. Kau sudah terlambat bukan?”

Krystal hanya tersenyum. Kemudian ia menatap Sehun, “Kau ingin membawanya ke kampus?”

“Tentu saja.” Jawab Sehun cepat. “Aku pinjam dulu tempat makanmu. Nanti akan ku kembalikan.”

“Hmm…” Respon Krystal. Krystal melangkahkan kakinya ke salah satu lacinya. Ia mengambil dua tempat makan, menaruh rotinya dan roti Sehun di tempat yang berbeda, dan kemudian memberikan kepada Sehun.

Sehun menerimanya dan berkata, “Aku akan mengambil tas ku.”

Krystal hanya tersenyum kemudian menghadap ke Amber, “Tadi apa yang ingin kau bicarakan?”

Amber menggeleng, “Bisa ditunda. Sebaiknya aku pergi duluan. Datanglah ke apartment ku malam ini…”

Krystal tersenyum dan mengangguk, “Akan ku bawa makan malam untuk kita.”

“Sebaiknya begitu.”

Dan Krystal tertawa mendengar jawaban Amber.

        Blam!

Bunyi pintu terdengar. Menandakan Amber telah pergi dari apartment Krystal.

“Amber sudah pergi?” Sehun telah kembali dari dapur. Kali ini dia sudah memakai tas dan coat.

Krystal mengangguk. “Iya.”

“Ayo ku antar ke tempat kerjamu.”

Krystal menghentikan kegiatannya yang sedang memasukkan sarapan paginya ke dalam tas.

        Ke tempat kerjaku?

“Tidak usah. Aku akan naik bus.”

“Krys….” Tangan Sehun memegang tangan Krystal yang akan meninggalkan dapur, “Ayo kita berangkat bersama. Kau boleh turun di tempat manapun yang kau inginkan. Tidak harus di tempat kerja. Bisakah?”

Krystal menatap Sehun sesaat. Ada perasaan aneh menyerang dirinya. Perasaan yang mengatakan jika… Jika ada yang salah dengan Sehun.

“Kenapa… Kenapa kau bersikap aneh?”

Sehun menggeleng, “Aku tidak bersikap aneh. Aku hanya ingin berangkat bersama mu.”

Krystal menghela nafas, melepaskan tangannya dari Sehun, “Baiklah. Kita berangkat bersama. Dan aku yang memilih turun dimana.”
Sehun mengulum senyumannya dan mengangguk. Mereka keluar dari apartmen Krystal.

Sehun menghela nafasnya ketika melihat Krystal berjalan di depannya. Ia melihat punggung perempuannya.

         Aku… Aku rasa akan banyak hal yang akan menghalangi kita.

“Ehm..” Sehun berdehem dan berjalan lebih cepat. Menyejajarkan langkahnya dengan Krystal.

“Sehun-ah..” Krystal langsung reflex memandang Sehun ketika Sehun mengenggam kedua tangannya.

“Kau tidak keberatan bukan?”

Dengan cepat Krystal menggeleng, “Tidak. Sama sekali tidak.”

Sehun tertawa.

          Tapi, kau akan berada di samping ku bukan?

          Kau akan membuatku tertawa kan?

         Kau tidak akan menangis, bukan?

.

.

.

.

.

.

.

.TBC.

Flipped (Chapter 5)

tumblr_nxtutvlegp1uckjo7o1_500

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

***

Pungguk Merindukan Rembulan.

.

.

.

Langit mulai mendung.   Beberapa orang di taman mulai memasuki gedung rumah sakit. Menghindar dari serbuan rintik hujan. Kilatan muncul. Disusul dengan suara menggelegar-petir. Sehun melihat semua ini dari jendela kamar Krystal. Ia tersenyum muram. Dia menginginkan jika hari ini cerah. Matahari bersinar terang. Tapi itu seperti mengharapkan angin malam berhembus dari laut ke daratan. Tidak mungkin.

Sama…

Sama seperti ia mengharapkan Krystal bangun.

Flashback start~

          Semua murid kelas XII berteriak senang. Hari Chuseok membuat mereka seperti itu.   Walau cuman satu hari, tapi siapa yang tidak senang?

          Kai memasukkan buku-buku pelajarannya. Ia saat itu terlihat sangat ganteng, karena senyuman mempesonanya. Senyuman yang muncul karena dia telah memikirkan bagaimana menghabiskan satu hari itu. Disebalahnya, Sehun juga seperti itu. Sudah membayangkan bagaimana besok. Satu hari tanpa ia harus belajar. Pasti menyenangkan bukan?

         Kai menepuk bahu Sehun, “Ayo kita ke café Kyungsoo.”

         Sehun menganggukkan kepalanya, “Sudah lama kita tidak kumpul-kumpul bareng.”

        “Kau benar.”

        Mereka berdua kemudian keluar dari kelas. Dengan santai berjalan menuju parkiran mobil.

………

         Sehun mengambil handphonenya. Melihatnya sejenak kemudian menjawab.

        “Nde Oemma.” Sehun diam mendengarkan Oemmanya. Raut wajah kekhawatiran muncul,    “Kenapa? Ada apa?” Oemma Sehun berbicara lagi. “Baiklah. Sehun akan kesana.”

        “Kenapa?” Tanya Kai yang melihat kekhawatiran Sehun.

        “Aku harus pergi sekarang. Ada urusan mendadak.”

        Kai belum menjawab. Sehun sudah pergi meninggalkannya. Kemudian Kai melihat Sehun dan mengangkat kedua bahunya tidak peduli.

.

.

.

        Sehun memasukki rumah sakit dengan langkah yang terburu-buru. Dengan tergesa-gesa ia menuju kamar Krystal.

        “Ada apa? Apa yang terjadi?” Tanya Sehun ketika ia melihat ibunya. “Oemma ada apa?” Tanyanya lagi karena ibunya hanya menatap dengan tatapan kosong.

       “Masuklah… Masuklah ke kamar Krystal.”

        Krystal kenapa?

        Sehun mengangkat kedua tangannya yang telah bergetar dan meletakan ke dua bahu ibunya, “Apa yang terjadi Oemma?”Tanya Sehun dengan suara yang serak.

Oemma Sehun mengeluarkan tangisan kecil. Dengan terbata-bata ia memegang kedua tangan Sehun yang sudah dingin. Dengan berbisik ia mengatakan sesuatu kepada Sehun.

       Dan sungguh. Kata-kata itu membuat Sehun merasa jika hidupnya telah gagal. Sehun terduduk ke lantai. Ia menangis. Menangis untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

.

.

.

        Sehun terduduk di taman rumah sakit dengan tatapan yang kosong. Ditemani dengan perasaan bersalah yang terus menderanya.

“Kemungkinan Krystal sadar sangat sedikit… Dokter sudah menyarankan agar peralatannya dicabut….”

       Sehun mendesis kesal. Mengingat perkataan ibunya.

“Dan orangtua Krystal sudah setuju…”

        Dan perkataan tadi, perkataan yang mengatakan jika orangtua Krystal setuju membuat air matanya kembali turun. Orangtuanya telah menyerah… Tapi kenapa? Tapi, kalau dipikir-pikir Sehun tidak punya kuasa untuk menyanggah omongan orangtua Krystal.

       Sehun menghela nafas. Sial! Sial semuanya! Dia menghapus mukanya dengan kasar. Apa yang harus ia lakukan? Pasti ada yang bisa ia lakukan bukan? Tapi apa?

       “Tuan muda Sehun?”

       Suara Bibi Kwon membuat Sehun menoleh. Sehun menarik bibirnya sedikit, sebagai pertanda ia tersenyum.

       “Bibi… Bibi juga datang?”

       Bibi Kwon duduk di sebelah Sehun. Ia mengangguk. “Anda sedih mendengar kabar ini?”

       Sehun menoleh, “Apa Anda tidak sedih? Anda selalu bersama Krystal sejak ia kecil.”

       Bibi Kwon membuang nafasnya, “Tentu saya sedih.”Jawabnya dengan nada yang teramat sedih. “Tapi Anda pasti juga sedih. Anda teman nyonya muda sejak kecil. Terlebih Anda juga..” Bibi Kwon menghentikan kata-katanya. Dia baru teringat jika dia mengetahui sesuatu yang seharusnya tak boleh diketahui, yaitu Sehun yang menyukai Krystal.

       “Terlebih apa Bi?” Tanya Sehun yang tengah menatap Bibi Kwon dengan tatapan penasaran.

        Bibi Kwon langsung menggeleng, “Tidak apa-apa. Saya hanya salah berbicara.”

        Sehun menatap Bibi Kwon dengan tatapan tidak percaya. Diam-diam Bibi Kwon menelan ludahnya. Gawat!

        “Bi..”

        Bibi Kwon menggigit bibirnya ketika Sehun meminta penjelasan lebih. Sehun masih menatap Bibi Kwon. Dan dilain pihak Bibi Kwon masih berusaha memutar otaknya, mencari alasan.

        “Ah.. Ah..” Bibi Kwon tidak bisa mencari alasan yang tepat. Sedangkan Sehun menatap dengan tatapan yang semakin dalam. “Baiklah.” Kata Bibi Kwon menyerah.

       Bibi Kwon menarik nafasnya dan menghembuskan dengan perlahan, “Saya… Saya tidak sengaja mendengarnya. Sungguh! Saya tidak sengaja mendengarnya!”

       “Mendengar apa Bi?” Tanya Sehun tidak mengerti.

       Bibi Kwon meneguk ludahnya, “Mendengar ketika Anda bilang ke Nyonya muda jika Anda mencintai nyonya muda.” Bibi Kwon terdiam sebentar. Ia benar-benar gugup sampai susah bernafas, “Saya sungguh tidak bermaksud mendengar perkataan Anda. Hari itu saya ingin menjenguk nyonya muda. Dan ketika saya masuk saya mendengar perkataan Anda. Sungguh saya tidak bermaksud lebih! Dan saya benar-benar tidak sengaja!” Jelas Bibi Kwon dengan nada ketakutan.

       Sehun tersenyum geli. Entah kenapa dia merasa tenang Bibi Kwon mengetahuinya. Seperti dia mempercayai Bibi Kwon dan yakin Bibi Kwon tidak akan membocorkannya. “Tenang saja Bi. Saya tidak akan membunuh Anda karena hal itu.”

       Bibi Kwon menghela nafasnya. Ia lega. “Terimakasih Tuan muda.”

       Sehun hanya mengangguk. Hp Sehun berdering. Ada sms masuk. Sehun melihatnya. Dari Oemma.

“Sehun cepatlah ke sini. Kau tidak ingin memberi salam perpisahan kepada Krystal?”

        Sehun menghembuskan nafasnya. Perpisahan?!

        “Bi, kurasa aku harus pergi duluan. Aku akan ke kamar Krystal terlebih dahulu.” Sehun terdiam sejenak, “Untuk memberi salam perpisahan.” Katanya lirih.

       Bibi Kwon mebulatkan matanya. Merasa tidak menyangka hal ini akan terjadi.

       Sehun membungkukan badannya sebelum pergi meninggalkan Bibi Kwon.

Flashback End~

Dan sekarang disinilah Sehun. Masih berdiam diri, belum mengucapkan sepatah katapaun kepada Krystal. Dia sedari-tadi hanya mondar-mandir, mengulurkan waktu, dan berharap Krystal tersadar sekarang juga.

       Cklek~
      Pintu ruangan terbuka. Oemma masuk ke kamar dan menatap anaknya, menatap Sehun yang hanya berdiri menatap kosong Krystal dengan prihatin.

“Waktunya duapuluh menit lagi.” Kata Oemma. Kemudian Oemma berbalik lagi, keluar dari kamar Krystal.

Sehun menghela nafasnya. Duapuluh menit lagi. Dengan gontai dia duduk di kursi dekat Krystal. Dengan perlahan, Sehun mengenggam tangan Krystal.

“Aku mempunyai janji kepada diriku. Aku akan membahagiakan dirimu.” Suara Sehun bergetar. Menahan semua rasa perih di hatinya, “tapi bagaimana aku dapat membahagiakan dirimu, jika…. Jika kau tidak sadar Krys…” Suara Sehun berubah menjadi tangisan.

“Aku tahu, aku tahu, aku berbuat suatu yang salah. Kau boleh marah kepadaku. Kau boleh tidak ingin melihatku lagi. Tapi bangunlah…..” Kata Sehun bersusah payah. Ia bangkit dari kursi dan memeluk Krystal. “Bangunlah… Kumohon…. Bangunlah…”

Suara tangisan Sehun semakin membesar. Pelukannya terhadap Krystal semakin erat.

Dan…

Suara dari layar monitor Krystal menjadi berubah. Sehun tercekat.

Tangisan Sehun semakin menjadi-jadi, “Jangan pergi. Jangan pergi.”

Sebuah tangan menepuk bahu Sehun, “Tidak! Tidak! Jangan sekarang! Kumohon! Tunggu….. aku tidak ingin meninggalkannya sekarang!”

.TBC.