State of Grace (Chapter 9)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

        Sehun termenung. Mengingat-ngingat kejadian tadi sore. Kejadian dimana Krystal menceritakan semuanya. Menceritakan bahwa Krystal ditinggalkan oleh ibunya di panti asuhan. Dan bagaimana akhirnya dia berakhir disini, bersama Victoria, Amber, Sulli, dan Luna.

Seukir senyuman terbentuk dari bibirnya. Mengingat bagaimana Krystal menatap dirinya, berharap jika Sehun mempercayainya. Dan dia memang mempercayai gadis itu. Karena dia mencintai gadis itu. Karena dia sudah melihat kebaikkan dari gadis itu. Karena dia memang sudah percaya kepada gadis itu.

        Trek~

Ibu Sehun memasuki kamarnya, “Sehunniee..”

Sehun menghembuskan nafas, menghadap ke ibunya dan tersenyum.

“Uhm… Mom minta maaf soal kejadian tadi pagi. Sehun benar. Kelulusan mu yang paling penting. Lagi pula liburannya bisa ditunda. Mungkin sehabis…”

Sehun menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskan dengan kasar, “Apa maksud semua ini Mom? Acara liburan ini untuk apa? Apa Mom bermaksud menjodohkanku dengan Wendy?”

Tifanny terlihat berpikir-pikir. Kemudian ia menghembuskan nafasnya, “Mom pikir Wendy merupakan perempuan yang tepat untuk mu.”

        Perempuan yang tepat?

“Dari mana pemikiran itu berasal?” Suara Sehun menjadi tinggi. “Dari teman-teman sialan Mom?”

Tifanny mendekat ke anaknya, “Kau bilang apa kepada teman-teman ku?” Desis Tifanny.

“Sialan! Itu yang Sehun bilang.”

“Astaga! Kau bersikap tidak sopan!” Tifanny mendecakkan lidahnya, “Kenapa selalu membuat masalah kecil menjadi hal yang besar? Mom ingin meminta maaf kepadamu tetapi kau malah membuat Mom marah besar!”

Sehun memijat pelipisnya, “Sehun lelah. Sehun ingin tidur dan…. Mom harus keluar dari kamarku.”

Tifanny terdiam sejenak. Kemudian berteriak, “Kau baru saja mengusirku?! Aku ini ibu mu! Ibu mu! Bukan orang lain yang bisa seenaknya kau usir!”

“Kalau begitu perlakukan aku seperti seorang anak!” Balas Sehun dengan suara yang sama kerasnya Sehun. “Mom tidak pernah memperhatikan aku dan ayah sedikitpun. Hanya mendengarkan perkataan teman-teman Mom.   Tetapi Mom berlagak seperti Mom telah melakukan segalanya untuk kami! Segalanya yang kami inginkan! Bukan yang teman-teman Mom inginkan!”

Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Tifanny. Dengan cepat Tifanny menghapusnya. Tanpa berkata apa-apa Tifanny keluar dari kamar Sehun.

.

.

.

“Sehun?!” Ucap Krystal tidak percaya. Maksudnya, apakah ia benar-benar berhalusinasi? Melihat Sehun di depan pintu kamarnya. Dengan rambut yang acak-acakan. Lingkaran kantung mata. Dan…. Dan pakaian Sehun yang masih aneh.

“Hai Kris.” Sapa Sehun. Serak. Ia mengulas sebuah senyum.

“Ap… Apa yang kau lakukan di sini? Di.. Di depan kamarku?” Tanya Krystal tergagap. Ia masih belum bisa berpikir jernih.

“Aku…. Aku hanya berkunjung.”

“Berkunjung? Pada jam setengah tujuh ?!” Respon Krystal tak percaya. Apa yang ada di pikiran Oh Sehun?
Sehun menghela nafasnya, “Aku habis bertengkar dengan mom. Dan aku tidak ingin bertemu dengannya pagi ini. Jadi…”

Krystal menatap Sehun dengna tatapan tidak percaya. Ia ingin mengeluarkan komentar, ingin. Karena Sehun telah berbicara kembali.

“Aku tidak ada maksud apa-apa. Sungguh! Aku telah mencoba ke rumah Kai. Tapi bocah itu tidak membukakan pintu rumahnya kepadaku. Maka dari itu….” Sehun berhenti berbicara. Ia terlihat berpikir. Senyuman jail terukir di wajahnya, “Kau tidak ingin aku ke rumah Wendy bukan? Wendy pasti senang menerimaku.”

Sehun tersenyum geli melihat ekspresi tidak suka Krystal. “Kau tidak mengizinkan aku masuk? Sudah lumayan lama aku berdiri di luar.”

Krystal menghela nafas dan mengizinkan Sehun masuk. Dan ia segera menutup pintunya.

“Kenapa?” Tanya Krystal was-was.

Saat ini Sehun sedang memandang Flat-nya. Entah kenapa sebuah perasaan khawatir muncul di dalam benaknya.

Sehun tersenyum, “Flat-mu sangat bersih.” Sehun melanjutkan omongannya, “Aku pikir Flat-mu akan penuh dengan lukisan atau coretan-coretan gambar.”
Krystal tertawa, “Aku mempunyai keinginan untuk menggantungkan lukisan yang kubuat.”

“Tapi….”

Krystal terlihat berpikir, kemudian berdehem, “Tidak ada apa-apa. Oh, ya, aku akan bernagkat kerja satu jam lagi jadi….”

“Ya aku mengerti,” Potong Sehun, “ aku juga akan meninggalkan flat mu satu jam lagi. Lagipula, aku akan masuk kuliah jam delapan. Jadi aku akan bersiap-siap. Tidak keberatan jika aku mandi di sini bukan? Aku sudah membawa baju.”

Krystal mengangguk, “Silahkan saja. Aku akan menyiapkan sarapan.” Krystal berbalik memunggungi Sehun. Berjalan ke arah dapur.

“Sarapan?! Kenapa aku merasa jika kita adalah sebuah keluarga kecil?”

Krystal menghentikan langkahnya. Jantungnya berdetak tidak karuan. Mukanya memerah, menahan gejolak hatinya. “Kau tidak keberatan jika aku memasak roti bakar bukan?”

“Apa saja. Asalkan kau yang membuat.”
Dan kali ini Krystal merasa seperti tidak berpijak dengan bumi. Tangannya mengepal di kedua sisi, berusaha menenangkan dirinya. Dan… Dan Krystal bernapas lega ketika Sehun masuk ke kamar mandi. Apa-apaan ini? Kenapa dia berubah menjadi sangat aneh?

.

.

.

Krystal terlihat merapikan meja makan. Terlihat dua buah roti bakar beroleskan selai kacang telah ada disana. Dilengkapi dengan teh hangat.

        Tok! Tok! Tok!

Mendengar ketukan pintu, dia segera membuka celemeknya dan melangkah ke pintu.

         Trek!

Hai Princess…” Sapa Amber riang. Sahabat Krystal dari kecil sedang di depan pintu kamar Krystal sambil tersenyum lebar.

Hai handsome prince….” Balas Krystal dengan senyuman lebar. Krystal kemudian memeluk Amber, “Apa yang membawamu kesini?”

Amber melepas pelukan Krystal, “Something important.”

What you waiting for? Come in…” Krystal mempersilahkan Amber masuk.

Dilain pihak, seperti biasa Amber membuka sepatunya. “Hmmm…” Amber menghadap ke Krystal, “Bread Toast? (Roti bakar?)”

          Deg!

Krystal langsung tersadar. Sehun. Sehun sedang berada di rumahnya. Pada pagi hari. Dan Amber juga ada di rumahnya. Ottoekae?!

“Aah…” Krystal tergagap mencari alasan. “Kau ingin-“

“Krystal apakah-“ Sehun yang baru saja keluar dari kamar mandi menghentikan langkah dan omongannya. Matanya langsung membulat. Amber…. Amber sedang berada di sini? “Ah, Amber-ssi.” Sehun langsung membunggkuk, menyapa Amber.

Amber masih belum bisa sadar. Dia masih terus menatap Sehun. Hingga… Hingga ia menggelengkan kepalanya. Menyadarkan jika ini bukan mimpi semata. Mata Amber, mata Amber membulat. Bersamaan dengan mulut yang ternganga dan telunjuk terangkat menunjuk Sehun.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Amber to the point.

.

.

.

Wangi roti panggang sudah hilang dari kamar Krystal. Bukan karena habis dimakan, tetapi karena didiamkan dingin. Penyantapnya, Krystal dan Sehun hanya diam. Diam menatap gugup Amber yang duduk di depan mereka.

Saat ini, Amber, Krystal, dan Sehun hanya diam duduk di meja makan. Krystal dan Sehun duduk bersebelahan. Sedangkan Amber duduk di depan mereka. Dengan tatapan yang menyelidiki.

“Ehm…” Amber berdehem. Ia mengalihkan tatapannya ke Krsytal. “Bukannya kau harus bersiap-siap berangkat kerja?”

Krystal langsung tersadar, “Ah… Ah….” Tapi kekhawatiran dirinya meninggalkan Sehun dengan Amber muncul.

“Kenapa? Kau tidak bekerja hari ini?”

Krystal langsung menggeleng. “Aku… Aku baru saja akan bersiap-siap.” Dengan derap ragu-ragu ia bangun dari kursi. Melangkah dengan sangat pelan keluar dari dapur.

Dari dapur, Amber mengawasi Krystal, hingga ia hilang dari pandangan. Kemudian, ia kembali menatap Sehun.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Amber lagi.

Sehun menghembuskan nafasnya, “Hanya… Hanya menumpang untuk sarapan.”

Terdengar tawaan kecil, “Kau pikir aku akan percaya dengan hal yang bodoh itu? Jika hanya menumpang untuk sarapan, kenapa keluar dari kamar mandinya?” Terdengar helaan nafas. Amber kembali berkata lagi, “Saat pertama kali kita bertemu, aku biasa-biasa saja karena aku berpikir mungkin kau hanya akan sekali atau dua kali lagi bertemu dengan Krystal. Tapi setelah… Setelah hal ini kau membuat ku curiga kepada mu.”

“Tidak ada yang terjadi. Sungguh…” Sehun mencoba meyakinkan Amber. Mencoba untuk meluruskan kesalah pahaman.

“Baiklah. Kenapa kau bisa disini? Kenapa kau sangat percaya diri untuk mampir ke rumahnya pada waktu yang membuat curiga? Kenapa?”
Sehun memejamkan matanya. Haruskah ia bilang? Apakah Krystal belum bilang? Walaupun baru satu hari tapi seharusnya ia sudah bilang ke teman-teman terdekatnya bukan?

Sehun membuka kembali matanya, “Karena… Karena aku dan Krystal berpacaran.”

“Apa?!” Tanya Amber tidak percaya. “Berpacaran? Bagaimana bisa?”

“Aku telah mengatakan kepada Krystal beberapa hari yang lalu. Tetapi ia baru menjawab kemarin-“

“Apa kau tahu… Apakah ia menceritakan tentang masa lalunya?” Tanya Amber hati-hati.

Sehun mengangguk. “Iya. Dia-“

“Dan kau tahu bagaimana sakitnya dia? Bagaimana menderitanya dia?”
“Ya.” Jawab Sehun dengan nada sedikit tidak suka. “Kenapa? Kenapa kau… Kau seperti tidak mempercayaiku?”

“Aku bisa melihat jika kau adalah anak orang kaya. Bukannya menghina orang kaya, kau tidak sedang mempermainkan Krystal bukan?”

Sehun menatap orang di depannya dengan tatapan tidak percaya, “Apa maksudmu dengan mempermainkannya? Apa aku terlihat seperti seoarang playboy?”

“Aku tidak tahu. Tapi teman melambangkan sifat. Temanmu, Kai. Kau harus tahu apa yang ia lakukan kemarin kepada adik kecilku, Sulli. Bagaimana dia menyakitinya. Kau harus tahu.”
“Aku bukan Kai!” Kata Sehun dengan nada sedikit tinggi. “Aku bukan Kai. Jangan samakan aku dengan Kai. Ya, kami berteman. Ya, kami mempunyai beberapa kesamaan. Tapi aku adalah Sehun, Oh Sehun. Dan Kai adalah Kai Kim. Kami tidak sama. Kami adalah diri kami masing masing!” Jelas Sehun panjang lebar.

“Amber-ah…

Suara panggilan Krystal membuat suasana hampir memanas mendadak menjadi dingin. Amber dan Sehun, yang secara tidak sadar menjadi sangat dekat yang hanya terpisahkan oleh meja kembali duduk di bangku mereka berdua.

“Kau ingin ku buatkan roti panggang?” Tanya Krystal riang.

Amber menatap sahabatnya dan menggeleng, “Tidak usah. Kau sudah terlambat bukan?”

Krystal hanya tersenyum. Kemudian ia menatap Sehun, “Kau ingin membawanya ke kampus?”

“Tentu saja.” Jawab Sehun cepat. “Aku pinjam dulu tempat makanmu. Nanti akan ku kembalikan.”

“Hmm…” Respon Krystal. Krystal melangkahkan kakinya ke salah satu lacinya. Ia mengambil dua tempat makan, menaruh rotinya dan roti Sehun di tempat yang berbeda, dan kemudian memberikan kepada Sehun.

Sehun menerimanya dan berkata, “Aku akan mengambil tas ku.”

Krystal hanya tersenyum kemudian menghadap ke Amber, “Tadi apa yang ingin kau bicarakan?”

Amber menggeleng, “Bisa ditunda. Sebaiknya aku pergi duluan. Datanglah ke apartment ku malam ini…”

Krystal tersenyum dan mengangguk, “Akan ku bawa makan malam untuk kita.”

“Sebaiknya begitu.”

Dan Krystal tertawa mendengar jawaban Amber.

        Blam!

Bunyi pintu terdengar. Menandakan Amber telah pergi dari apartment Krystal.

“Amber sudah pergi?” Sehun telah kembali dari dapur. Kali ini dia sudah memakai tas dan coat.

Krystal mengangguk. “Iya.”

“Ayo ku antar ke tempat kerjamu.”

Krystal menghentikan kegiatannya yang sedang memasukkan sarapan paginya ke dalam tas.

        Ke tempat kerjaku?

“Tidak usah. Aku akan naik bus.”

“Krys….” Tangan Sehun memegang tangan Krystal yang akan meninggalkan dapur, “Ayo kita berangkat bersama. Kau boleh turun di tempat manapun yang kau inginkan. Tidak harus di tempat kerja. Bisakah?”

Krystal menatap Sehun sesaat. Ada perasaan aneh menyerang dirinya. Perasaan yang mengatakan jika… Jika ada yang salah dengan Sehun.

“Kenapa… Kenapa kau bersikap aneh?”

Sehun menggeleng, “Aku tidak bersikap aneh. Aku hanya ingin berangkat bersama mu.”

Krystal menghela nafas, melepaskan tangannya dari Sehun, “Baiklah. Kita berangkat bersama. Dan aku yang memilih turun dimana.”
Sehun mengulum senyumannya dan mengangguk. Mereka keluar dari apartmen Krystal.

Sehun menghela nafasnya ketika melihat Krystal berjalan di depannya. Ia melihat punggung perempuannya.

         Aku… Aku rasa akan banyak hal yang akan menghalangi kita.

“Ehm..” Sehun berdehem dan berjalan lebih cepat. Menyejajarkan langkahnya dengan Krystal.

“Sehun-ah..” Krystal langsung reflex memandang Sehun ketika Sehun mengenggam kedua tangannya.

“Kau tidak keberatan bukan?”

Dengan cepat Krystal menggeleng, “Tidak. Sama sekali tidak.”

Sehun tertawa.

          Tapi, kau akan berada di samping ku bukan?

          Kau akan membuatku tertawa kan?

         Kau tidak akan menangis, bukan?

.

.

.

.

.

.

.

.TBC.

Advertisements

2 thoughts on “State of Grace (Chapter 9)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s