State of Grace (Chapter 12)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Krek~

Dengan hati-hati Sehun membuka pintu rumahnya. Jika yang Wendy katakan benar, jika ibunya khawatir ia belum pulang ketika sudah melewati jam makan malam. Berarti ibunya belum tidur dan menunggu dirinya pulang. Dan Sehun tidak ingin bertemu dengan ibunya malam ini. Ia lelah dan ingin tidur. Ia tidak ingin berdebat dengan ibunya.

“Sehun-ah itukah dirimu?”

Suara dari dapur membuat rasa frustasi Sehun naik.

“Sehun-ah…” Ibunya memanggil dirinya lagi.

Tifanny tersenyum lebar melihat anak semata wayangnya telah pulang, “Ah, benar itu dirimu. Kau tahu betapa khawatirnya Mom.” Tifanny memeluk Sehun.

Sehun menghela nafasnya dan memeluk ibunya, “Kenapa selalu khawatir kepada diriku?”

“Karena kau adalah anakku satu-satunya.” Tifanny kemudian menambahkan, “Kau sudah makan? Mom membuatkan sup jamur, makanan kesukaanmu.”

Sehun menggeleng, “Aku sangat lelah Mom. Aku hanya ingin tidur.”

“Oh…” Respon Tifanny dengan sedikit rasa kekecewaan di matanya. “Baiklah. Tidurlah yang cukup. Oh, tinggalkan saja barang-barangmu disini. Mom akan menyuruh orang untuk membereskannya.”

Sehun tersenyum melihat sikap ibunya yang sudah seperti biasa, walaupun ia tidak tahu apakah hubungan mereka sudah baik-baik saja. “Uhm…   Selamat malam Mom…”

“Selamat malam Sehun-ah….

.

.

.

.

Pada pagi harinya, Sehun masih merasa lelah. Tapi ia tidak ingin berdiam di rumah. Terutama di hari Minggu yang cerah, ketika ayahnya berada di rumah.

Sehun pamit kepada kedua orangtuanya sebelum ia berangkat kuliah. Ketika ia sedang menunggu untuk bertemu dosen pembimbingnya, pikirannya kembali melayang. Melayang kepada kedua orangtuanya. Ia masih bingung dengan hubungan ia dan orangtuanya. Apakah sudah baikan atau belum? Apakah ibunya sudah melupakan masalah liburan atau belum? Apakah ayahnya sudah berhenti menyalahkan dirinya karena masalah liburan tersebut atau belum? Tapi dia malas bertanya. Dia terlalu malas menanggapi kedua orangtuanya. Sehun menghela nafas.

Sehun berpikir mempunyai keluarga seperti Kai lebih baik. Walaupun Kai anaknya sering bolos kuliah dan tentu saja ia selalu dimarahi oleh orangtuanya, terutama ibunya, tetapi keluarga Kai adalah keluarga yang hangat. Keluarga yang tidak ada sama sekali pemisah di antara mereka. Tidak ada yang disembunyikan di antara mereka. Tidak seperti keluarganya yang entah mengapa membuat Sehun terlebih dahulu menyerah daripada harus menghadapi sekat diantara dirinya, ibunya, dan juga ayahnya.

“Oh Sehun!”

Sehun mengerjap dan menoleh, “Oh, maaf. Ya.” Sehun segera bangkit dari kursinya dan masuk ke ruang dosen pembimbingnya.

.

.

.

Wendy kembali melangkahkan kakinya ke gallery milik Tifanny. Ia menghela nafas. Kejadian kemarin sudah dia anggap cukup buruk tetapi sudahlah. Dia harus bersabar. Cinta butuh pengorbanan bukan?

Wendy memasuki gallery dengan tampang tidak peduli. Lagipula kenapa dia harus peduli? Tujuan dia hanya satu bukan? Bertemu dengan Tifanny.

“Oh, entahlah Hyeri-yah aku tidak tahu aku bisa menggantikan dirimu atau tidak. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku hingga nanti sore ini.”
“Oh begitu? Baiklah tidak apa-apa. Kurasa aku harus membatalkan kencanku hari ini.”

“Maaf, waktunya tidak tepat. Jika bisa aku pasti akan membantu mu kok!”
“Tenang saja Krystal-ah. Aku tahu kau pasti akan membantu ku. Hanya saja waktunya yang tidak tepat.” Perempuan di depan Krystal tertawa canggung, “Baiklah. Silahkan lanjutkan pekerjaanmu. Maaf mengganggu.” Lanjutnya lagi.

Dan Krystal, Krystal Jung tersenyum kepada perempuan di depannya dan kemudian menganggukkan kepalanya. Setelah perempuan di depannya pergi, Krystal melanjutkan kembali pekerjaannya.

Wendy tertegun. Ia tidak ingin mengakuinya. Sangat tidak ingin mengakuinya. Bahkan membiarkan pikiran itu berkelabat di otaknya saja ia tidak ingin. Tetapi ia tahu, jika Krystal Jung lebih unggul dari dirinya bukan karena ia bisa merebut hati Sehun, tetapi perempuan itu sudah unggul dari dirinya.

Wendy menghela nafasnya dan menggelengkan kedua kepalanya. Mencoba menyingkirkan apa yang baru saja ia akui walaupun ia tidak ingin mengakuinya. Tapi dia penasaran. Dia ingin mengenal Krystal Jung lebih dekat.

.

.

.

.

“Hai…”

Krystal menghentikan aktivitasnya ketika mendengar suara dari sisi kirinya. Ia melepas earphone-nya dan segera membulatkan matanya ketika melihat siapa yang menyapanya, “Oh, hai….” Balas Krsytal canggung.

Wendy tersenyum terpaksa. Jelas sekali ia tidak ingin tersenyum kepada Krystal, “Bolehkah aku melihat pekerjaan mu?”
Krystal tertawa canggung kemudian menganggukan kepalanya, “Tentu saja. Saya merasa senang Anda melihat pekerjaan saya.”
Formal. Benar-benar formal. Wendy menghela nafasnya. Krsytal Jung kembali melakukan pekerjaannya walaupun kali ini dia tidak memakai earphone.

“Aku iri padamu.”

Krystal kembali menghentikan pekerjaannya. Ia menatap Wendy.

Wendy tersenyum sambil menatap lukisan di depannya, “Aku benar-benar iri padamu.” Lanjutnya tanpa melihat Krystal.

“Kau bisa mengambil hati Sehun dengan cepat, menggantikan diriku yang merupakan cinta pertamanya.

“Kau juga bisa mengambil hati Kim Taeyon dengan cepat, seseorang yang sangat dihormati ibuku dan membuat diriku malu setengah mati dihadapannya.

“Tapi aku bersyukur” Ucap Wendy yang kemudian menoleh ke arah Krsytal. “Aku bersyukur karena…… Karena kau belum mengambil hati Tifanny Hwang, bos mu dan ibunya Sehun. Kau memang unggul dibandingkan karyawan lainnya tetapi tetap saja, tidak seunggul diriku di hatinya.”

Krystal menoleh ke arah Wendy dengan kaku. Dirinya sudah tahu kemana arah pembicaraan Wendy. “Aku tidak mengerti dimana arah pembicaraanmu…” Respon Krystal dingin, sedingin keringat yang sudah membasahi tenguknya.

Wendy mengulas sebuah senyum, “Dengan begitu kita masih bisa berkompetisi merebutkan Oh Sehun. Kau sendiri tanpa bantuan siapapun dan aku dibantu dengan ibunya.”

“Kau pikir-“

Wendy memotong omongan Krystal, “Kita lihat sejauh mana kau bisa bertahan mengejar Sehun. Aku tidak yakin jika kau bisa bertahan lama, karena ibunya adalah segalanya baginya. Dan aku yakin, meski ibunya menyukai dirimu dia belum tentu setuju jika Sehun berpacaran dengan dirimu. Kau tahu mengapa bukan? Atau harus kujelaskan alasannya?” Jelas Wendy panjang lebar.

Tubuh Krystal menengang. Dia merasakan amarahnya naik. Dia sudah tahu dari awal arah pembicaraanya Dia juga mengakui jika yang Wendy katakan benar. Sangat benar kecuali satu hal,

“Aku yakin tanpa memenangkan hati Tifanny sangjangnim aku bisa berpacaran dengan Sehun,” Ujar Krystal dengan nada rendah. “Jangan menatapku seperti itu. Yang ku katakan adalah benar. Aku telah berpacaran dengan Oh Sehun.”

.

.

.

.

Aku telah berpacaran dengan Oh Sehun….

Wendy memberengut mengingat rentetan kata yang diucapkan oleh Miss Jung. Apa maksudnya? Apa Krystal hanya mengertaknya? Lihat saja jika Krystal hanya ingin mengertaknya, Krystal akan kehilangan segalanya.

Tapi….. Tapi tak dapat dapat dipungkuri jika Wendy merasa goyah ketika mendengar perkataan Krystal. Tatapan matanya dan suaranya…. Cukup! Dia benci mengingat hal itu.

Sekarang…. Sekarang ada satu hal terpenting yang harus ia lakukan. Apalagi jika tidak meng-konfirmasikan langsung kepada Sehun. Sayang, Sehun sepertinya memblokir nomornya karena kejadian kemarin. Berarti hanya tersisa satu cara, ia menemui Sehun secara langsung dan menanyakannya secara face to face.

“Permisi, satu smoke beef and mushroom quiche dan satu cappuccino?” Tanya seorang pelayan dengan logat korea yang kental.

Wendy menoleh dan menganggukan kepalanya. “Terimakasih.” Ucap Wendy tanpa melihat pelayan dan mulai memakan pesanannya. Memenuhi permintaan perutnya di sela-sela kegiatan menunggu Sehun di café kesukaannya yang terletak di dekat kampusnya. Jika perkiraannya benar, Sehun tidak pernah absen ke café ini jika ia masuk kuliah.

.

.

.

“Ada yang ingin Anda pesan lagi?”

Wendy mengalihkan pandangan dari hp-nya dan menatap pelayan, “Tidak.” Jawab Wendy pendek. “Aku akan memanggilmu jika ingin memesan lagi.”

Si Pelayan tersenyum sopan, “Baiklah. Saya taruh menunya disini.” Ujar si Pelayan sebelum membungkukan badannya dan berbalik kembali menuju pantry.

Wendy mengembuskan nafasnya dan melihat jam di hp-nya. Ia kembali mengembuskan nafasnya.

Tring~

Bel pintu café berbunyi menandakan jika ada orang yang datang. Wendy segera menoleh ke pintu berharap yang masuk adalah Sehun. Dan sebuah senyuman lebar langsung terpancara dari wajahnya.

“Ah, benarkah? Yak, bocah busuk kau tidak berbohong kepadaku kan?”

“Apakah aku terlihat berbohong?” Sehun menjawab perkataan Kai sambil terus menatap hp-nya.

Geez… Awas saja kala-“ Kai yang melihat Wendy menghentikan omongannya. Sehun yang merasa aneh karena Kai berhenti berbicara menatap Kai, kemudian mengikuti arah pandang Kai. Ia langsung mencengkram handphone-nya melihat siapa yang sedang ia tatap.
“Sehun-ah!” Sapa Wendy dengan riang. Wendy langsung berjalan menuju Kai dan Sehun.

“Ehm…” Kai berdehem, berusaha menghilangkan kecangungan yang tiba-tiba menyeruak. “Hai Wendy sedang apa-“
“Apa yang kau lakukan disini?”

Wendy mengabaikan perkataan Sehun dan tetap tersenyum cerah, “Aku ingin bertemu dengan Sehun. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya.”

Kai hanya tersenyum kikuk. Gawat! Sehun sedang tidak baik akhir-akhir ini karena masalah orangtuanya dan perempuan di depannya berusaha menguji batas Sehun…. Jujur, dia tidak ingin terlibat kedalam hal yang seperti ini.

“Sudah kubilang tidak ada hal yang bisa kita bicarakan.” Sehun kemudian berbalik ke arah keluar dari café. “Ayo kita cari tempat makan lain Kai.”

Kai dengan patuh mengangguk. Ia melangkahkan kakinya lebih cepat untuk keluar dari café dan diikuti oleh Sehun.

Wendy hampir ingin mengikuti, tapi seorang pelayan menahan langkahnya.

“Maaf anda belum membayar pesanan Anda.”
Wendy menggerutu tidak jelas kemudian mengeluarkan dompetnya dan beberapa carik uang yang sepertinya sangat berlebih untuk membayar pesanannya. Ia segera keluar dari café.

“Sehun-ah… Sehun-ah… Yak! Oh Sehun!” Teriak Wendy dan kali ini ia berhasil memegang tangan Sehun. Berusaha menarik Sehun agar ia tidak masuk kedalam mobilnya.

Sehun menatap Wendy tajam, “Bisakah kau berhenti bersikap kekanak-kanakan? Kau benar-benar membuatku malu!”

“Aku hanya ingin berbicara pada mu. Ini semua tidak akan terjadi jika kau ingin mendengar perkataanku baik-baik.” Ujar Wendy dengan sebal.

“Tidak ada alasan aku perlu perlu berbicara kepadamu.” Sehun segera berbalik dan dengan sekuat tenaga dia menarik lengannya yang dicengkram oleh Wendy.

“Yak, Sehun-ah kumohon… Kai bantu aku!”

“Hah?! Apa?!” Kai menatap Wendy dengan tatapan tidak percaya. Seharusnya yang berkata seperti itu adalah Sehun bukan Wendy. Itupun jika salah satu dari mereka masih berpikir logis. Walaupun Sehun yang merupakan sahabatnya berkata seperti itu Kai tidak ingin membantunya. Apalagi Wendy. Kai mengangkat kedua tangannya, tanda ia menyerahkan masalah ini ke mereka berdua.

Wendy juga dengan sekuat tenaga menahan Sehun agar tidak pergi. Sehun menghela nafasnya, “Lepaskan tanganku!”
“Tidak! Kau pasti akan langsung melarikan diri.”
Sehun kembali berbalik menghadap Wendy, “Lepaskan tanganku dan kita akan berbicara.”

“Aku meragukannya Oh Sehun! Aku yakin jika kau langsung kabur ketika aku melepaskannya!” Tuduh Wendy dengan mata berkilat sebal.

Sehun mendengus, “Terserah padamu jika begitu.” Dan ia kembali memunggungi Sehun dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Wendy lagi.

Wendy akhirnya melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Sehun. Jujur, ia merasa lelah menahan Sehun yang tenaganya lebih kuat dari dirinya. “Baiklah, sekarang kita bisa berbicara?”
Sehun berbalik menatap datar Wendy, “Apa yang ingin kau bicarakan?”
“Apakah kau berpacaran dengan Krystal?”

Sehun menaikan sedikit alisnya. Darimana Wendy mengetahuinya? Ibunya? Tunggu, jika ibunya mengetahuinya berarti Krystal….

“Darimana kau mengetahuinya?” Tanya Sehun tidak mengindahkan pertanyaan Wendy.

“Dari Krystal. Krystal yang mengatakan kepadaku. Katakan jika hal itu tidak benar. Katakan jika Krystal hanya ingin menakuti diriku!”
“Bagaimaan bisa dia mengatakan hal ini kepada mu?”
Wendy tersenyum lebar, “Jadi itu bohongankan? Dia bukan pacar mu kan?”
“Bagaiamana bisa dia mengatakan hal ini kepada mu?” Tanya Sehun sekali lagi.

Wendy mendengus, “Tadi aku berbicara kepadanya. Dan ia mengatakannya.”

“Ia tidak akan berkata seperti itu jika kau hanya berbicara kepadanya.” Sehun kemudian menatap tajam Wendy, “Kau mengancamnya?”

“Tidak!” Jawab Wendy tidak terima dengan perkataan Sehun. “Apa maksudmu?” Wendy kemudian tertawa, “Aku hanya mengatakan yang sebenarnya kepadanya. Jika ia tidak akan bisa memenangkan hati Mom.”

.

.

.

Kai tidak dapat melihat ekspresi Sehun, karena bocah busuk itu membelakanginya. Tapi Kai tahu, Sehun pasti sedang melotot atau setidaknya mengertakan giginya karena tubuhnya sudah tegang mendengar perkataan Wendy, dengan kata lain Sehun sedang diambang batas kesabarannya.

Kai hampir saja tergoda untuk masuk ke mobil Sehun, meninggalkan Sehun dengan Wendy jika saja ia tidak teringat jika Sehun adalah sahabatnya.

“Wendy…” Sehun berbicara dengan nada suara rendah dan Kai menelan ludahnya. Bagaikan hidup dan mati, itulah batas kesabaran Sehun. “Aku akan mengingatkan hal ini kepada mu, jangan pernah sekali-kali menyakiti hati Krystal!”

“Apa?!”

“Memang hanya kemungkinan kecil dia bisa memenangkan hati Mom, tapi dia sudah pasti memenangkan hati ku”
“Apa?!”
Kai melihat jika bahu Sehun melemas. Dan Kai mengeluarkan nafas lega, amarah Sehun telah turun.

“Dia adalah pacarku Wendy-ah. Ya. Aku dan Krystal berpacaran.” Jawab Sehun pada akhirnya dengan nada suara yang ringan.

“Kau…” Hanya itu respon yang Wendy berikan.

Sehun tidak perduli. Baginya ia sudah menjawab pertanyaan Wendy. Ia segera membalikan badannya dan memasukan mobilnya. Dan Kai mengikutinya.

.

.

.

.

Kai melirik Sehun dan kemudian memejamkan matanya. Benar-benar yang Sehun lakukan menganggu kegiatan makannya.

“Ehm….” Kai menatap lurus ke arah Sehun.
“Apa?” Tanya Sehun polos.

“Bisakah kau memilih satu kegiatan saja? Makan atau melihat handphone-mu?”

Sehun menghela nafasnya dan langsung melihat handphone-nya.
“Astaga…..”
“Apa?” Tanya Sehun lagi.

“Okay, sekarang letakan handphone-mu. Kita perlu berbicara Oh Sehun.”

Sehun mengelihkan pandangan dari handphone-nya, “Jangan mengucapkan kata ‘Kita perlu berbicara’, itu membuat perutku mual.”

“Tapi ini penting.” Ucap Kai mengacuhkan perkataan Sehun. “Kau berpacaran dengan Krystal?”
“Astaga….” Sehun mendesah berlebihan. “Aku benar. Kau terlihat cocok dengan Wendy. Pacaran saja dengannya.”
“Apa maksudmu?” Tanya Kai memberengut. “Aku sudah cukup melihat kejadian tadi. Aku sudah yakin jika aku tidak akan jatuh cinta kepadanya. Dan jika aku jatuh cinta kepadanya, ingatlah,” Kai mendekat ke arah Sehun, “Aku sedang tidak waras dan tolong bawa aku menemui dokter ahli kejiwaan segera.”

Sehun tertawa mendengar perkataan Kai, “Ya. Aku berpacaran dengan Krystal.” Jawab Sehun pada akhirnya.

Kai mengangguk, “Dan sepertinya kau mencintainya?”
“Apa maksud perkataanmu? Tentu saja aku mencintainya….” Kemudian Sehun menghela nafasnya, “Tapi, aku takut kehilangan dirinya.” Ia menatap Kai, “Kau tahu kenapa aku merasakan hal tersebut bukan?”
Kai lagi-lagi hanya mengangguk. “Hidupmu sangat rumit, kau tahu itu bukan?”

Sehun mendengus, walau dalam hatinya ia mengakui apa yang Kai ucapkan.

.TBC.

 

 

 

 

State of Grace (Chapter 11)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Krystal menatap tidak percaya kemana mereka pergi. Restaurant …….. Restaurant termahal, termewa, tereksklusif di Korea. Ia turun dari mobil …. Tifanny dan masih menatap Restaurant dengan tatapan tidak percaya.

Drrrt~

Krystal meraba coat-nya dan kembali menghela nafas. Ia tahu siapa yang menelepon.   Tapi tidak mungkin dia mengangkatnya di depan bosnya yang merupakan ibunya. Dan di depan mantan pacarnya.

“Kurasa kau harus mengangkat teleponmu.” Cetus Wendy dengan tatapan sinis. “Akan menganggu diskusi nantinya.” Lanjutnya lagi.

“Wendy benar. Angkat dulu teleponmu.” Tifanny membenarkan, “Kami akan menunggu di dalam. Bilang saja ke maître d’ reservasi oleh Kim Taeyeon.” Lanjutnya kemudian melangkah masuk ke dalam bersama Wendy.

Krystal menghela nafasnya.

Drrrt~

Krystal!   Apa yang terjadi? Kau membuatku khawatir.”

Krystal meringis mendengar rentetan kalimat yang Sehun katakan. “Maaf…..” Katanya pendek karena tidak tahu harus berkata apa.

“Apa yang terjadi huh? Kau benar-benar membuatku khawatir.”

“Tidak apa-apa.” Jawab Krystal yang lagi-lagi pendek. “Hanya ada sedikit kejadian yang mengejutkan?” Tambahnya dengan nada tidak yakin hampir seperti nada bertanya. “Tapi aku tidak apa-apa sungguh. Hanya sedikit shock.”

“Syukurlah…” Nada suara Sehun lebih lega. “Kalau begitu sampai jumpa nanti malam Krys…”

“Nanti malam? Bukannya kau pulang dua minggu lagi?”
Terdengar helaan nafas, “Aku dari tadi menelepon mu untuk mengabarkan berita ini. Bahwa aku akan pulang nanti malam, sebenarnya sore ini. Jadi kita bisa bertemu malam ini.”

“Kau tidak ingin bertemu dengan orangtuamu terlebih dahulu?”

Sehun tertawa kecil, “Terimakasih tapi tidak. Aku masih bertengkar dengan ibuku. Sekarang ayahku juga ikutan kesal kepadaku. Jadi terimakasih.”

“Aku hanya menyarankan. Baiklah kita bertemu di mana?”

“Entahlah… Aku juga belum tahu…”

“Di taman tempat teman mu biasa nyanyi? Bagaimana?”

“Untuk mendengar mereka bernyanyi?”

“Kenapa? Itu ide yang bagus bukan? Aku akan membawakan makan malam, kita makan malam di taman sambil melihat mereka nanyi. Kurasa itu ide yang bagus.”

“Kau akan memasak makanan sendiri?”

“Tentu.”

“Baiklah. Sampai bertemu nanti malam…..

Krystal mendengus tetapi tidak dapat menghilangkan senyuman bodohnya. Ia melihat jam dari hp-nya dan tersentak, Oh my! Dia harus cepat-cepat masuk.

.

.

.

“Ini Krystal, orang yang kuceritakan kepada mu.” Suara Tifanny adalah suara pertama yang terdengar ketika Krystal masuk ke dalam ruangan tempat makan siang mereka.

Krystal tersenyum kepada Kim Taeyeon, Tifanny, dan terakhir Wendy, “Maaf. Ku harap aku tidak ketinggalan banyak.”

“Tidak-tidak. Kau tidak ketinggalan apa-apa.” Balas Taeyeon. Taeyeon kemudian berdiri, mengelurkan tangannya ke Krystal, “Senang dapat bertemu langsung. Aku sudah melihat lukisan mu di depan gallery dan itu sangat menakjubkan.”

Krystal tersipu malu mendengar pujian dari salah satu idolanya, “Anda terlalu berlebihan. Lukisan saya tidak ada bandingannya dengan Anda.”

“Tifanny, kau sangat beruntung bisa memperkejakan dirinya.” Kata Taeyeon ketika Krystal sudah duduk di sebelah…. Wendy.

Tifanny tertawa, “Tentu saja.” Jawabnya pendek dan membuat dirinya, Taeyeon, Wendy dan Krystal tertawa.

“Kami sudah memesankan makanan untuk mu.” Kata Wendy tiba-tiba. “Ku harap kau tidak keberatan dengan makanan yang kami pesan.”
“Tentu saja tidak.” Krystal tersenyum ke arah Wendy.

“Kita bisa memulai diskusinya bukan?”

.

.

.

Wendy memasukan potongan daging dengan memberengut. Dia menatap dua orang di depannya, Tifanny Hwang dan Kim Taeyeon bergantian. Hebat!

Satu jam di sini dan dia merasa jika dia adalah obat nyamuk. Semua perhatian tertuju kepada Krystal. Wendy bisa mengerti hal ini. Krystal lebih mengerti seni daripada dia. Wendy jadi bertanya-tanya apa maksud Tifanny mengajak dia makan siang bersama jika akhirnya dia hanya menjadi obat nyamuk? Menjadi orang yang tidak berguna. Walaupun mereka mengajak Wendy mengobrol, itu hanya sesekali dan bisa dihitung oleh jari.

“Jadi, Wendy kau masuk jurusan apa?”

Wendy menoleh ke arah Taeyon, “Masuk jurusan Musik.”

“Jurusan musik?!”

Wendy tersenyum tetapi sepercik kekeasalan terbit di hatinya, “Aku awalnya masuk di jurusan seni murni. Tapi aku tidak berbakat dalam mengambar jadi…. Jadi aku pindah jurusan ke jurusan musik.” Jelas Wendy panjang lebar.

Taeyon meneguk anggur merahnya, “Sayang sekali. Ibu mu adalah orang yang sangat berbakat dalam melukis dan sepertinya itu tidak menurun kepadamu.”

Tifanny terkesiap keras mendengar komentar Taeyeon, “Tayeon-ah!” Protes Tifanny, “Wendy mempunyai jiwa seni juga. Dia hanya tidak terlalu jago dalam mengambar.” Bela Tifanny.
“Tapi tetap saja. Dia tidak mewarisi bakat ibunya.”

Tifanny menghela nafas dan meneguk anggur merahnya. Kebiasaan buruk Kim Taeyeon! Keluhnya dalam hati.

“Bagaimana dengan mu Krystal? Kurasa kau mewarisi bakat dari salah satu orangtua mu?”

Terketuklah Krystal Jung! Teriak Wendy dalam hati. Perempuan di sampingnya ini dengan mudah menggantikan dirinya di hati Sehun. Dan dengan mudah mengambil hati orang yang dihormati oleh ibunya. Wendy meneguk anggurnya. Menenangkan diri sebelum mendengar jawaban Krystal yang pastinya jika kedua orangtuanya bisa melukis. Dan Kim Taeyeon pasti akan sangat senang dan dirinya akan dibanding-bandingkan.

Dan terkutuklah dengan jiwa seni dan bakat melukis! Dua kata tersebut selalu menjadi beban baginya sejak dulu. Mengingat ibunya, Kwon MiRan, salah satu pelukis terkenal di Korea dan banyak orang menantikan putri semata wayangnya bisa mengikuti kesuksesan ibunya.   Sayang, Wendy bahkan tidak bisa mengambar dengan baik. Dia mengikuti ayahnya yang pintar bermusik. Tetapi kebanyakan orang pasti menyerangnya dengan kata-kata Taeyeon ucapkan. Tidak terima jika dia tidak bisa melukis dan disitulah kekesalannya muncul. Orangtuanya menerima jika ia tidak mempunyai bakat dalam melukis, kenapa mereka, yang bukan siapa-siapa baginya tidak terima?

“Orangutaku bukan pelukis.”

Wendy menoleh mendengar jawaban aneh Krystal.

Taeyeon mengangkat salah satu alisnya, “Oh?”

“Ibuku seorang akuntan dan ayahku seorang arsitek.” Lanjut Krystal.

“Tapi melihat dirimu kurasa itu bakat. Arsitek…. Tentu ayahmu bisa mengambar tetapi aku tidak yakin ia mempunyai kreativitas yang tinggi.”

“Oh, Taeyeon-ah…” Sela Tifanny menatap Taeyeon gemas.

“Ayahku sebenarnya hebat tetapi dia memilih untuk menjadi arsitek.”

“Benarkah? Jadi-“
“Taeyeon bisakah kita kembali ke topic utama?” Sela Tifanny dengan sedikit kekasalan dalam matanya.

Taeyeon menatap sahabatnya dan menghela nafas, “Baiklah tidak usah senewen seperti itu. Kita kembali ke topic utama kita.”

Wendy dan Krystal menghela nafas. Wendy menghela nafas karena dia harus bertahan dalam kebosanannya yang sudah sampai di ubun-ubun. Krystal menghela nafas karena rahasianya sebagai anak angkat tidak terbongkar.

.

.

.

Krystal, Wendy, dan Tifanny sama-sama terdiam dalam perjalanan mereka menuju, stasiun bagi Krystal dan entah kemana bagi Wendy dan Tifanny. Krystal memilih untuk tidak peduli dengan urusan Wendy dan Tifanny.

Tifanny berdehem, “Aku meminta maaf terhadap perilaku Taeyeon tentang komentar-komentarnya kepada kalian. Dia adalah orang yang baik, tetapi terkadang berkomentar sangat pedas.”

Krystal dan Wendy menoleh ke arah Tifanny yang duduk di tengah-tengah mereka.

“Tentu.”

“Tentu.”

Jawab Krystal dan Wendy bersamaan. Mereka berdua saling tatap dan kemudian kembali menoleh menatap pemandangan.

“Oh, dan Krystal, sebenarnya aku juga penasaran dengan bakat melukismu….”

Krystal menahan nafasnya dan menoleh kepada Tifanny, “Bakat melukisku dari orangtuaku. Tetapi mereka tidak ingin menjadi pelukis.” Kata Krystal, berbohong kepada Tifanny.

.

.

.

“hwimorachineun sungan nae sesange meomchwoseon neon naui Only one”

Sehun memasukan makanannya sambil memeperhatikan Krystal. Melihat Krystal tersenyum, ia juga ikut tersenyum.

“Aku berharap kita saling mengobrol.”

“Hm?” Krystal menoleh ke Sehun, “Kenapa kau berharap seperti itu?”

Sehun memasukan makanan buatan Krystal, “Karena aku merindukan dirimu. Terlebih lagi suara mu. Senyumanmu. Raut wajahmu ketika kau bercerita. Dan aku merindukan dirimu menatap ku.” Sehun tersenyum, “Karena sedari tadi kau hanya melihat teman-temanku bernyanyi.”

Krystal berhenti mengunyah makanannya. Ia sama sekali diam, tidak bisa menjawab pertanyaan Sehun. Ia sedari tadi berusaha menahan dirinya. Berusaha agar mukanya tidak memerah mendengar perkataan Sehun. Berusaha mengendalikan detak jantungnya agar tidak terdengar oleh Sehun.

“Apa hanya aku yang merasa seperti itu? Merasakan rindu seperti itu?”

Krystal berdehem kemudian menggeleng, “Tidak. Aku sangat merindukan dirimu. Sangat merindukan suaramu, senyuman mu, gerak-gerikmu, tatapanmu. Tapi ketika kita bertemu perasaan itu menguap. Apa hanya aku yang merasa seperti itu?”

Sehun menatap Krystal dengan tatapan serius. Awalnya Sehun hanya bercanda. Ia hanya ingin melihat ekspresi malu gadis itu ketika ia mengatakan hal tersebut. Tapi sepertinya Krystal menanggapinya dengan serius. Malah dengan sangat serius.

.

.

.

Krystal tahu jika Sehun tidak serius mengatakan hal tersebut. Tapi ia tidak tahu kenapa ia menanggapi perkataan Sehun dengan terlalu serius. Dia mulai merasakan jika tindakannya salah karena melihat Sehun menjadi sedikit tegang. Mungkin Sehun tidak suka dengan perkataannya?

“Sehun-ah….” Respon Krystal ketika Sehun tiba-tiba mendekat kepadanya.

Krystal menahan nafasnya. Ia tahu. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan ia akan membiarkan hal itu terjadi.

.

.

.

“Ehm…”
Sehun langsung menjauhkan dirinya dari Krystal. Kemudian ia menoleh. “Park Chanyeol.” Respon Sehun datar.

“Apa aku merusak suasana kalian?” Tanya Chanyeol dengan senyuman lebar.   Sama sekali tidak merasa bersalah.

“Ya.”

Krystal langsung menoleh ke arah Sehun. Apa yang Sehun katakan?! Rasa panas mulai terasa di pipinya. Krystal yakin sudah terdapat rona merah di pipinya.

“Apa kau iri?” Tanya Sehun dengan muka datar.

Chanyeol tertawa, “Apa kau bermaksud menyindir diriku yang jomblo ini?”

“Mungkin kau yang memang merasa jika dirimu itu jomblo hingga pertanyaanku kau anggap sebagai sindiran.”

Chanyeol menatap Sehun dengan tatapan pura-pura kesal, “Kau berkata seperti itu karena kau mempunyai pacar. Ingat dulunya Oh Sehun anggota dari perkumpulan orang-orang jomblo.” Chanyeol kemudian tersenyum lebar kembali, “Well, aku akan kembali lagi ke panggung. Terserah kalian ingin melakukan apapun. Tapi tolong jangan mengalihkan perhatian para penontonku seperti melakukan kegiatan tadi.”

Krystal hanya bisa menundukan kepalanya. Ia merasa sangat malu. Ia kembali memasukan ……. ke dalam mulutnya.
“Krys…”

“Ya.” Krystal menoleh ke Sehun. Sedetik kemudian ia tersadar jika pipinya masih memerah karena malu.

Sehun yang melihat hal itu tersenyum. Otomatis Krystal memunggungi Sehun.

“Ada apa?” Tanya Krystal tanpa menatap Sehun.

Aku tidak akan mencium mu. Setidaknya tidak disini, di tempat yang membuat mu merasa malu.” Bisik Sehun.

Celaka! Krystal tidak akan selamat pada malam ini. Dia akan terkena serangan jantung karena jantungnya berdetak sangat kencang hingga ia tidak bisa bernafas. Bukan kerena kalimat yang dibisikan Sehun, tetapi karena perasaannya ketika Sehun berbisik kepadanya. Ini benar-benar gawat!

……. (Dering hp)

Sehun meraba saku jasnya, ia melihat siapa yang meneleponnya kemudian memberengut. Ia segera meletakna kembali hp-nya ke saku jasnya.

“Kenapa Wendy meneleponmu?” Tanya Krystal dengan nada cemburu.

“Kau cemburu?” Tanya Sehun sambil tersenyum.

Krystal menatap Sehun jengkel. Bisa-bisanya Sehun tersenyum kepadanya. Ia menghela nafas. “Lupakan.”

“Hei, kau benar-benar cemburu ya?” Sehun menarik lengan baju Krystal.

Krystal yang hanya menunduk menatap makanannya kembali menoleh lagi, “Entahlah.” Kata Krystal dengan suara yang lebih lembut, tidak seperti ketika ia bertanya.

“Aku tidak tahu kenapa ia meneleponku Krys. Tapi ingatlah, hubunganku dengan dia sudah berakhir, sudah sejak lama.”

“Tapi dia cinta pertama mu Sehun-ah.

“Terus kenapa jika ia cinta pertama ku?”

“Itulah yang membuatnya special. Dia adalah yang pertama. Ada di dalam dirinya yang tidak pernah dihapuskan oleh memorimu bukan?”

“Tidak perduli jika ia yang pertama atau tidak, dipikiranku hanya ada dirimu. Dan kau tahu Krys, walaupun dia yang pertama, tetapi bersama dirimu banyak hal yang pertama kali aku rasakan.”

Krystal terdiam menatap Sehun, menunggu kata-kata selanjutnya.

“Seperti perasaan jika aku hanya ingin membuat dirimu bahagia.”

“Aku akan mengingat hal itu.”

Sehunpun tersenyum melihat mood Krystal yang sudah membaik.

.

.

.

Sehun dan Krystal akhirnya meninggalkan taman pada pukul setengah sepuluh malam. Acara musik sudah selesai pada pukul setengah Sembilan, tetapi Sehun dan teman-temannya mengobrol terlebih dahulu dan Krystal membiarkannya. Barulah pada pukul Sembilan mereka pulang.

“Sudah sampai.” Kata Sehun ketika ia sudah memarkirkan mobilnya di depan apartment Krystal.

Krystal mengangguk, “Ya.” Ia menoleh ke arah Sehun, “Terimakasih Sehun-ah.”

Sehun mengangguk, “Krys-ah….” Sehun mencegah Krystal keluar dari mobilnya.

“Biar ku antar sampai depan apartmen-mu.” Sehun membuka seat belt-nya dan keluar dari mobil.

“Terimakasih.” Kata Krystal ketika sudah sampai di depan pintu apartment-nya. “Terimakasih untuk hari ini.” Lanjutnya.

“Terimakasih juga untuk hari ini.”

Krystal tersenyum dan mengangguk, “Hati-hati di jalan. Ini sudah sangat larut.”

Chu~

Krystal tidak menyangka jika Sehun mencium pipinya, “Tentu.” Bisik Sehun lagi-lagi ke telinganya.

Sehun memasukan kedua tangannya ke jaketnya, “Kurasa aku harus pulang. Selamat malam Krystal Jung.”

“Selamat malam.” Balas Krystal masih dengan keadaan syok.

Sehun melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam mobilnya. Krystal tersenyum dan membalas lambaian tangan Sehun. Ia baru masuk ke apartment-nya ketika mobil Sehun mulai berjalan.

.

.

.

.

.

.

Sehun menghela nafasnya, ia menghentikan mobilnya di sebuah minimarket dekat rumahnya kemudian menjawab telepon yang sedari tadi membuat hp-nya berdering.

Apa yang membuat dirimu lama sekali menjawab telepon ku?”

“Apa yang membuat dirimu berpikir aku akan menjawab teleponmu?” Jawab Sehun dengan nada tidak suka. “Kenapa terus menelepon diriku Wendy-ah?”

Karena aku mengkhawatirkan mu.”

“Apa?”
Mom bilang jika kau akan pulang malam ini. Tapi sampai selesai makan malam dirimu belum juga pulang. Mom khawatir tetapi ia tidak bisa meneleponmu.”
“Tidak bisa meneleponku?” Tanya Sehun tidak mengerti. Tapi kemudian ia menghela nafasnya. Tidak bisa meneleponnya karena mereka sedang marah-marahan. “Hebat!”

Apa maksudmu dengan hebat?! Apakah dirimu tersinggung karena Mom tidak menelepon mu? Dia melakukan hal itu karena-“

“Oh, berhentilah menceramahiku. Kurasa kau perlu berkaca dahulu sebelum menceramahi diriku.” Potong Sehun dengan kesal.

Apa-“

“Jangan pernah meneleponku lagi!” Sehun segera memutus sambungan teleponnya dan menaruh hp-nya di kursi mobilnya. Ia menghela nafas. “Susah sekali ingin pulang ke rumah.”

.TBC.

A/N:

Haii semuanya….  Bagaimana kabarnya?  Semoga semuanya baik-baik saja.  Sebelumnya, walaupun sudah sangat terlambat saya ingin mengucapkan idul Fitri ke kalian semua.  Saya juga mau minta maaf karena tidak bisa meng-update pada bulan Julli.  Dan yang terakhir saya mau minta maaf karena State of Grace  baru bisa di-publish  sekarang.  Jujur saya gak inget sama sekali loh tentang ff ini…  Saya kira beberapa chapter yang udah saya buat sudah ke-publish, ternyata belum…..

 

Dan tentu yang terakhir saya sangat berharap kalian semua menikmati tulisan yang saya baca….

Salam Hangat

Ally ^^

 

 

 

 

 

Flipped (Chapter 8)

tumblr_mdzxpaijax1qhh5vwo1_500

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Penggalan Cerita yang Terlupakan

Rantaian kata dari suara orang yang sangat ia cintai terdengar. Pahit. Ini benar-benar terjadi. Pikiran buruk yang selalu menghantuinya. Fakta yang terucap dari tokoh antagonis kisahnya. Hatinya meringis.   Seharusnya dia tidak pernah bertanya hal ini kepada siapapun. Menanyakan siapa yang sebenarnya tokoh antagonis dalam penggalan cerita hidup yang ia lupakan.

****

Sehun sedikit terhuyung ketika mendengar kabar dari ibunya.

“Sehun, Oh Sehun kau tidak apa-apa?”

Sehun mendongak menatap Chanyeol yang sekarang lebih tinggi dari dirinya. Keningnya berkerut, sejak kapan Chanyeol lebih tinggi daripada dirinya?
“Sehun apa yang terjadi? Masih disitu?”

Sekarang Sehun kembali tersentak mendengar suara ibunya.   Dia mengangguk walaupun dia tahu itu tidak berguna, “Aku akan kesana secepatnya.” Gumam Sehun dengan suara serak.
“Hey, kau tidak apa-apa?” Chanyeol kembali bertanya melihat keadaan Sehun.

Sehun hanya diam. Ia menaruh hp kedalam saku celananya kemudian memandang Chanyeol, “Kenapa kau lebih tinggi daripada diriku?”

“Astaga!” Chanyeol menatap Sehun dengan tatapan yang tidak percaya. “Tentu saja. Lihatlah kau terhuyung sampai jatuh ke lantai dan sampai sekarang masih terduduk di lantai.” Cetus Chanyeol tidak sabaran.

Sehun memandang sekeliling. Benar, dia sedang terduduk di lantai. Namun ia tidak menyadarinya. Tidak sama sekali. Rasa sakit ketika terjatuh ke lantai ia tidak merasakan sama sekali. Yang hanya ia rasakan nyeri dari dadanya.

“Sehun kau baik-baik saja?” Untuk kesekian kalinya Chanyeol bertanya.

“Aku harus pergi.” Ucap Sehun tidak mengindahkan pertanyaan Chanyeol. Dia mencoba berdiri.

“Astaga!” Chanyeol menahan Sehun yang bahkan tidak bisa berdiri. “Sehun tenanglah sedikit. Apa yang terjadi?”

Sehun seperti tidak mendengar perkataan Chanyeol, “Tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Aku harus ke rumah sakit.”

“Kau sakit?”

“Park Chanyeol lepaskan aku!” Sehun berusaha melepaskan cengkraman Chanyeol, “Aku benar-benar harus pergi ke rumah sakit.”

“Biar aku antar.” Sahut Chanyeol menatap temannya. “Keadaanmu seperti orang yang setengah sadar. Biar aku yang mengantarmu ke rumah sakit.”

Sehun hanya bisa mengangguk.

.

 

 

.

.

.

Sehun tidak ingat bagaimana dia bisa sampai di rumah sakit. Yang jelas dia ingat Chanyeol yang mengantarkannya. Dia juga ingat ketika Chanyeol menyadarkannya dari lamunan dan saat itu ia tahu jika ia sudah sampai di rumah sakit. Tanpa mengucapkan terimakasih kepada temannya Sehun langsung keluar memasuki rumah sakit. Dia bahkan tidak ingat sudah menutup atau tidak pintu mobil temannya.

Uap-uap hangat dari teh hijau membuat ia jauh lebih tenang. Ia meneguk teh hijaunya kemudian memejamkan matanya. Hufh….

Karena kesadarannya sudah kembali, sepertinya ia harus mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Chanyeol bukan? Karena jika Chanyeol tidak mengantarnya, bisa dipastikan ia tidak akan bisa sampai di rumah sakit dengan selamat seperti sekarang.

“Sehun-ah…” Mendengar suara ibunya membuat Sehun menaruh kembali handphone-nya.

“Sudah larut malam. Sepertinya dirimu harus pulang.” Lanjut ibunya lagi.

Sehun menatap mata lelah ibunya, ia ingin sekali menjawab jika ia ingin berjaga di rumah sakit.

Tetapi sebelum Sehun berkata, ibunya kembali berbicara, “Sebaiknya dirimu pulang. Jangan membuat orangtua Krystal merasa bersalah. Melihat dirimu berjaga disini untuk Krystal dan mengacaukan jadwal kuliahmu, itu akan membuat mereka bersalah.”

Sehun menghela nafas. Ia hanya menganggukan kepalanya.

.

.

.

Kelam. Embusan udara dingin yang berasal dari AC kamar Krystal membuatnya semakin sulit bernafas. Dengan sangat lambat Sehun berjalan mendekati Krystal. Krystal? Dia sedang memandang jendela. Perasaaan mencekam takut Krystal tidak sadar selama dua minggu, tetap menyelimuti diri Sehun, walaupun dia tahu Krystal telah sadar. Keadaannya juga dipastikan baik-baik saja oleh dokter.

“Hai….” Sapa Sehun canggung.

Krystal menoleh tetapi tidak membalas. Hanya mengulas sebuah senyuman.

Sehun berdehem. Tidak tahu harus berbicara apa lagi.

“Apa yang ingin kau tanyakan?”

Sehun menatap Krystal dengan alis terangkat, “Maksudmu?”

Krystal mengangkat kedua bahunya, “Pasti ada yang ingin kau tanyakan bukan? Walaupun hanya satu.”

“Iya. Tapi kurasa ini bukan waktu yang tepat.” Sehun tersenyum kaku. Astaga apa yang sebenarnya terjadi kepada gadis ini?

“Jangan pura-pura baik terhadapku!”

Suara tajam itu membekukan Sehun. Sebenarnya Sehun terdiam bukan hanya mendengar suara tajam, tetapi perkataan itu….. Sehun tersenyum miris. Sekarang ia dapat merasakan apa yang dulu Krystal rasakan.

“Maaf….” Sekarang suara Krystal melembut. Ia menarik nafasnya dengan kasar. “Aku tidak bermaksud kasar.”

“Tidak apa-apa.” Potong Sehun. Sungguh ia merasakan tidak apa-apa, hanya sedikit terkejut.

“Tapi….” Krystal kembali berbicara, “Aku hanya merasa lelah. Saat aku bangun dari komaku semuanya berubah. Memang semua hal pasti akan berubah. Tetapi duniaku benar-benar berubah.”

Sehun mengenggam tangan Krystal. Air mata Krystal turun perlahan. Dengan kasar, Krystal menghapusnya menggunakan tangannya.

“Aku hanya…..   Aku hanya lelah…. Ditambah lagi dengan mimpi-mimpi aneh, rasa sakit kepala yang terus mendera, dan beberapa hal yang kulupakan. Aku lelah…. Aku bahkan tidak mempunyai sahabat terdekat lagi.”
“Apa maksudmu?” Tanya Sehun dengan nada frustasi. Frustasi melihat keadaan yang membingunkan ini. Frustasi melihat Krystal yang kesakitan seperti ini. “Aku selalu ada untuk mu. Kau tahu itu.” Kali ini suara Sehun lebih lembut. Ia menatap Krystal dalam.

Air mata Krystal tak dapat terbendung lagi. “Aku tahu….” Ucapnya parau. “Aku tahu… Tapi aku tidak dapat mempercayaimu…. Aku kehilangan rasa kepercayaan terhadap dirimu…”

“Apa maksudmu?” Tanya Sehun dengan nada yang tidak percaya. Tangannya yang mengenggam tangan Krystal mulai bergetar. Keringat dingin mulai terasa di telapak tangannya. Secepat inikah ingatan Krystal kembali?

Krystal yang menangis mencoba kembali berbicara, “Aku minta maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud….. Hanya saja sejak salah satu memoriku kembali aku kehilangan kepercayaan terhadap dirimu.”

“Memori? Kau mengingat sesuatu?”
Krystal mengangguk, “Iya aku mengingat sesuatu. Kita sedang berada di taman saat malam hari. Awalnya kau sedang menatap bulan. Kemudian aku mendatangi mu.”
Sehun tertegun. Iya, dia mengingatnya. Hari dimana dia mengatakan satu kata terkutuk itu kepada Krystal. Tanpa ia sadari, pegangan tangannya terhadap Krystal melonggar.

Krystal tambah menangis melihat reaksi Sehun. “Jadi itu benar. Kau mengatakan hal itu kepadaku? Jawab aku Sehun! Jawab!”

“Krys….” Hanya itu yang bisa Sehun katakan.

“Kenapa kau tidak menjawab?! Kenapa?! Katakan juga alasan kau tidak pernah membantuku saat aku dibully oleh Suzy!   Katakan! Kumohon…… Tolong…….” Krystal semakin berteriak tidak jelas.

“Aku lelah dengan teka-teki yang ada di hidupku…. Aku kira kau juga mencintaiku tapi kenapa???” Suara Krystal melemah setelah ia berteriak-teriak. “Kenapa kau melakukan ini kepadaku? Apa salahku?”

Sehun memejamkan matanya. Pada akhirnya waktulah yang akan membuka hal ini.

“Karena kau terus mengejarku padahal kau tahu bahwa aku tidak mempunyai perasaan sedikitpun kepadamu.” Sehun mengatakannya dengan nada serak. Lisannya tidak rela mengeluarkan kata-kata itu. Perasaannya menyatakan jika ini adalah sebuah kebohongan nyata, faktanya ia masih mempunyai dan sangat mencintai gadis di depannya. Tapi otaknya menyadarkan ia, hal ini masih harus ia lakukan entah sampai kapan.

Sehun menarik nafasnya dan kembali berbicara, “Kita dijodohkan sejak SMP. Sejak saat itulah persahabatan kita renggang. Bukan. Bukan karena itu. Persahabatan kita renggang sejak dirimu menyatakan cintamu kepadaku. Aku hanya menganggap mu sebagai sahabat tidak lebih. Ku pikir permasalahan ini mudah, kau akan menerimanya. Tetapi tidak. Kau malah mengejarku. Dan ketika aku berpacaran dengan Suzy kau tetap mengajar ku.” Sehun mengehentikan penjelasannya ketika melihat respon Krystal. Gadis di depannya…. Ia terlihat sangat sakit.

“Jadi… Jadi….” Isakan keluar dari mulut Krystal, “Jadi kau menolak ku selama ini karena kita bersahabat?”

“Tidak kurang dan tidak lebih.”

“Tapi yang kau lakukan padaku bukan menunjukan seorang sahabat!” Pekik Krystal kesal. “Kau hanya melakukan apa yang kau kira benar tanpa memperdulikan perasaan orang lain! Kau salah dalam hal ini!”

“Kau pikir kau tidak bersalah?” Teriak Oh Sehun. “Kau tetap melakukan yang kau mau juga!   Menyatakan perasaanmu ketika kita baru dijodohkan. Padahal seharusnya dirimu tahu atau setidaknya mengerti aku yang masih tidak terima dalam perjodohan ini! Tapi dirimu malah menganggap penolakanku sebagai pertanda bahwa suatu saat aku dapat mencintaimu…. Kau salah. Sangat salah dalam hal ini!”
“Terus apa yang kau inginkan?! Katakan kepadaku apa hal yang benar?!” Tanya Krysal yang sudah putus asa. “Apa?!”

Sehun kembali memejamkan matanya, “Hentikan perjodohan ini….”

.TBC.