State of Grace (Chapter 11)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Krystal menatap tidak percaya kemana mereka pergi. Restaurant …….. Restaurant termahal, termewa, tereksklusif di Korea. Ia turun dari mobil …. Tifanny dan masih menatap Restaurant dengan tatapan tidak percaya.

Drrrt~

Krystal meraba coat-nya dan kembali menghela nafas. Ia tahu siapa yang menelepon.   Tapi tidak mungkin dia mengangkatnya di depan bosnya yang merupakan ibunya. Dan di depan mantan pacarnya.

“Kurasa kau harus mengangkat teleponmu.” Cetus Wendy dengan tatapan sinis. “Akan menganggu diskusi nantinya.” Lanjutnya lagi.

“Wendy benar. Angkat dulu teleponmu.” Tifanny membenarkan, “Kami akan menunggu di dalam. Bilang saja ke maître d’ reservasi oleh Kim Taeyeon.” Lanjutnya kemudian melangkah masuk ke dalam bersama Wendy.

Krystal menghela nafasnya.

Drrrt~

Krystal!   Apa yang terjadi? Kau membuatku khawatir.”

Krystal meringis mendengar rentetan kalimat yang Sehun katakan. “Maaf…..” Katanya pendek karena tidak tahu harus berkata apa.

“Apa yang terjadi huh? Kau benar-benar membuatku khawatir.”

“Tidak apa-apa.” Jawab Krystal yang lagi-lagi pendek. “Hanya ada sedikit kejadian yang mengejutkan?” Tambahnya dengan nada tidak yakin hampir seperti nada bertanya. “Tapi aku tidak apa-apa sungguh. Hanya sedikit shock.”

“Syukurlah…” Nada suara Sehun lebih lega. “Kalau begitu sampai jumpa nanti malam Krys…”

“Nanti malam? Bukannya kau pulang dua minggu lagi?”
Terdengar helaan nafas, “Aku dari tadi menelepon mu untuk mengabarkan berita ini. Bahwa aku akan pulang nanti malam, sebenarnya sore ini. Jadi kita bisa bertemu malam ini.”

“Kau tidak ingin bertemu dengan orangtuamu terlebih dahulu?”

Sehun tertawa kecil, “Terimakasih tapi tidak. Aku masih bertengkar dengan ibuku. Sekarang ayahku juga ikutan kesal kepadaku. Jadi terimakasih.”

“Aku hanya menyarankan. Baiklah kita bertemu di mana?”

“Entahlah… Aku juga belum tahu…”

“Di taman tempat teman mu biasa nyanyi? Bagaimana?”

“Untuk mendengar mereka bernyanyi?”

“Kenapa? Itu ide yang bagus bukan? Aku akan membawakan makan malam, kita makan malam di taman sambil melihat mereka nanyi. Kurasa itu ide yang bagus.”

“Kau akan memasak makanan sendiri?”

“Tentu.”

“Baiklah. Sampai bertemu nanti malam…..

Krystal mendengus tetapi tidak dapat menghilangkan senyuman bodohnya. Ia melihat jam dari hp-nya dan tersentak, Oh my! Dia harus cepat-cepat masuk.

.

.

.

“Ini Krystal, orang yang kuceritakan kepada mu.” Suara Tifanny adalah suara pertama yang terdengar ketika Krystal masuk ke dalam ruangan tempat makan siang mereka.

Krystal tersenyum kepada Kim Taeyeon, Tifanny, dan terakhir Wendy, “Maaf. Ku harap aku tidak ketinggalan banyak.”

“Tidak-tidak. Kau tidak ketinggalan apa-apa.” Balas Taeyeon. Taeyeon kemudian berdiri, mengelurkan tangannya ke Krystal, “Senang dapat bertemu langsung. Aku sudah melihat lukisan mu di depan gallery dan itu sangat menakjubkan.”

Krystal tersipu malu mendengar pujian dari salah satu idolanya, “Anda terlalu berlebihan. Lukisan saya tidak ada bandingannya dengan Anda.”

“Tifanny, kau sangat beruntung bisa memperkejakan dirinya.” Kata Taeyeon ketika Krystal sudah duduk di sebelah…. Wendy.

Tifanny tertawa, “Tentu saja.” Jawabnya pendek dan membuat dirinya, Taeyeon, Wendy dan Krystal tertawa.

“Kami sudah memesankan makanan untuk mu.” Kata Wendy tiba-tiba. “Ku harap kau tidak keberatan dengan makanan yang kami pesan.”
“Tentu saja tidak.” Krystal tersenyum ke arah Wendy.

“Kita bisa memulai diskusinya bukan?”

.

.

.

Wendy memasukan potongan daging dengan memberengut. Dia menatap dua orang di depannya, Tifanny Hwang dan Kim Taeyeon bergantian. Hebat!

Satu jam di sini dan dia merasa jika dia adalah obat nyamuk. Semua perhatian tertuju kepada Krystal. Wendy bisa mengerti hal ini. Krystal lebih mengerti seni daripada dia. Wendy jadi bertanya-tanya apa maksud Tifanny mengajak dia makan siang bersama jika akhirnya dia hanya menjadi obat nyamuk? Menjadi orang yang tidak berguna. Walaupun mereka mengajak Wendy mengobrol, itu hanya sesekali dan bisa dihitung oleh jari.

“Jadi, Wendy kau masuk jurusan apa?”

Wendy menoleh ke arah Taeyon, “Masuk jurusan Musik.”

“Jurusan musik?!”

Wendy tersenyum tetapi sepercik kekeasalan terbit di hatinya, “Aku awalnya masuk di jurusan seni murni. Tapi aku tidak berbakat dalam mengambar jadi…. Jadi aku pindah jurusan ke jurusan musik.” Jelas Wendy panjang lebar.

Taeyon meneguk anggur merahnya, “Sayang sekali. Ibu mu adalah orang yang sangat berbakat dalam melukis dan sepertinya itu tidak menurun kepadamu.”

Tifanny terkesiap keras mendengar komentar Taeyeon, “Tayeon-ah!” Protes Tifanny, “Wendy mempunyai jiwa seni juga. Dia hanya tidak terlalu jago dalam mengambar.” Bela Tifanny.
“Tapi tetap saja. Dia tidak mewarisi bakat ibunya.”

Tifanny menghela nafas dan meneguk anggur merahnya. Kebiasaan buruk Kim Taeyeon! Keluhnya dalam hati.

“Bagaimana dengan mu Krystal? Kurasa kau mewarisi bakat dari salah satu orangtua mu?”

Terketuklah Krystal Jung! Teriak Wendy dalam hati. Perempuan di sampingnya ini dengan mudah menggantikan dirinya di hati Sehun. Dan dengan mudah mengambil hati orang yang dihormati oleh ibunya. Wendy meneguk anggurnya. Menenangkan diri sebelum mendengar jawaban Krystal yang pastinya jika kedua orangtuanya bisa melukis. Dan Kim Taeyeon pasti akan sangat senang dan dirinya akan dibanding-bandingkan.

Dan terkutuklah dengan jiwa seni dan bakat melukis! Dua kata tersebut selalu menjadi beban baginya sejak dulu. Mengingat ibunya, Kwon MiRan, salah satu pelukis terkenal di Korea dan banyak orang menantikan putri semata wayangnya bisa mengikuti kesuksesan ibunya.   Sayang, Wendy bahkan tidak bisa mengambar dengan baik. Dia mengikuti ayahnya yang pintar bermusik. Tetapi kebanyakan orang pasti menyerangnya dengan kata-kata Taeyeon ucapkan. Tidak terima jika dia tidak bisa melukis dan disitulah kekesalannya muncul. Orangtuanya menerima jika ia tidak mempunyai bakat dalam melukis, kenapa mereka, yang bukan siapa-siapa baginya tidak terima?

“Orangutaku bukan pelukis.”

Wendy menoleh mendengar jawaban aneh Krystal.

Taeyeon mengangkat salah satu alisnya, “Oh?”

“Ibuku seorang akuntan dan ayahku seorang arsitek.” Lanjut Krystal.

“Tapi melihat dirimu kurasa itu bakat. Arsitek…. Tentu ayahmu bisa mengambar tetapi aku tidak yakin ia mempunyai kreativitas yang tinggi.”

“Oh, Taeyeon-ah…” Sela Tifanny menatap Taeyeon gemas.

“Ayahku sebenarnya hebat tetapi dia memilih untuk menjadi arsitek.”

“Benarkah? Jadi-“
“Taeyeon bisakah kita kembali ke topic utama?” Sela Tifanny dengan sedikit kekasalan dalam matanya.

Taeyeon menatap sahabatnya dan menghela nafas, “Baiklah tidak usah senewen seperti itu. Kita kembali ke topic utama kita.”

Wendy dan Krystal menghela nafas. Wendy menghela nafas karena dia harus bertahan dalam kebosanannya yang sudah sampai di ubun-ubun. Krystal menghela nafas karena rahasianya sebagai anak angkat tidak terbongkar.

.

.

.

Krystal, Wendy, dan Tifanny sama-sama terdiam dalam perjalanan mereka menuju, stasiun bagi Krystal dan entah kemana bagi Wendy dan Tifanny. Krystal memilih untuk tidak peduli dengan urusan Wendy dan Tifanny.

Tifanny berdehem, “Aku meminta maaf terhadap perilaku Taeyeon tentang komentar-komentarnya kepada kalian. Dia adalah orang yang baik, tetapi terkadang berkomentar sangat pedas.”

Krystal dan Wendy menoleh ke arah Tifanny yang duduk di tengah-tengah mereka.

“Tentu.”

“Tentu.”

Jawab Krystal dan Wendy bersamaan. Mereka berdua saling tatap dan kemudian kembali menoleh menatap pemandangan.

“Oh, dan Krystal, sebenarnya aku juga penasaran dengan bakat melukismu….”

Krystal menahan nafasnya dan menoleh kepada Tifanny, “Bakat melukisku dari orangtuaku. Tetapi mereka tidak ingin menjadi pelukis.” Kata Krystal, berbohong kepada Tifanny.

.

.

.

“hwimorachineun sungan nae sesange meomchwoseon neon naui Only one”

Sehun memasukan makanannya sambil memeperhatikan Krystal. Melihat Krystal tersenyum, ia juga ikut tersenyum.

“Aku berharap kita saling mengobrol.”

“Hm?” Krystal menoleh ke Sehun, “Kenapa kau berharap seperti itu?”

Sehun memasukan makanan buatan Krystal, “Karena aku merindukan dirimu. Terlebih lagi suara mu. Senyumanmu. Raut wajahmu ketika kau bercerita. Dan aku merindukan dirimu menatap ku.” Sehun tersenyum, “Karena sedari tadi kau hanya melihat teman-temanku bernyanyi.”

Krystal berhenti mengunyah makanannya. Ia sama sekali diam, tidak bisa menjawab pertanyaan Sehun. Ia sedari tadi berusaha menahan dirinya. Berusaha agar mukanya tidak memerah mendengar perkataan Sehun. Berusaha mengendalikan detak jantungnya agar tidak terdengar oleh Sehun.

“Apa hanya aku yang merasa seperti itu? Merasakan rindu seperti itu?”

Krystal berdehem kemudian menggeleng, “Tidak. Aku sangat merindukan dirimu. Sangat merindukan suaramu, senyuman mu, gerak-gerikmu, tatapanmu. Tapi ketika kita bertemu perasaan itu menguap. Apa hanya aku yang merasa seperti itu?”

Sehun menatap Krystal dengan tatapan serius. Awalnya Sehun hanya bercanda. Ia hanya ingin melihat ekspresi malu gadis itu ketika ia mengatakan hal tersebut. Tapi sepertinya Krystal menanggapinya dengan serius. Malah dengan sangat serius.

.

.

.

Krystal tahu jika Sehun tidak serius mengatakan hal tersebut. Tapi ia tidak tahu kenapa ia menanggapi perkataan Sehun dengan terlalu serius. Dia mulai merasakan jika tindakannya salah karena melihat Sehun menjadi sedikit tegang. Mungkin Sehun tidak suka dengan perkataannya?

“Sehun-ah….” Respon Krystal ketika Sehun tiba-tiba mendekat kepadanya.

Krystal menahan nafasnya. Ia tahu. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan ia akan membiarkan hal itu terjadi.

.

.

.

“Ehm…”
Sehun langsung menjauhkan dirinya dari Krystal. Kemudian ia menoleh. “Park Chanyeol.” Respon Sehun datar.

“Apa aku merusak suasana kalian?” Tanya Chanyeol dengan senyuman lebar.   Sama sekali tidak merasa bersalah.

“Ya.”

Krystal langsung menoleh ke arah Sehun. Apa yang Sehun katakan?! Rasa panas mulai terasa di pipinya. Krystal yakin sudah terdapat rona merah di pipinya.

“Apa kau iri?” Tanya Sehun dengan muka datar.

Chanyeol tertawa, “Apa kau bermaksud menyindir diriku yang jomblo ini?”

“Mungkin kau yang memang merasa jika dirimu itu jomblo hingga pertanyaanku kau anggap sebagai sindiran.”

Chanyeol menatap Sehun dengan tatapan pura-pura kesal, “Kau berkata seperti itu karena kau mempunyai pacar. Ingat dulunya Oh Sehun anggota dari perkumpulan orang-orang jomblo.” Chanyeol kemudian tersenyum lebar kembali, “Well, aku akan kembali lagi ke panggung. Terserah kalian ingin melakukan apapun. Tapi tolong jangan mengalihkan perhatian para penontonku seperti melakukan kegiatan tadi.”

Krystal hanya bisa menundukan kepalanya. Ia merasa sangat malu. Ia kembali memasukan ……. ke dalam mulutnya.
“Krys…”

“Ya.” Krystal menoleh ke Sehun. Sedetik kemudian ia tersadar jika pipinya masih memerah karena malu.

Sehun yang melihat hal itu tersenyum. Otomatis Krystal memunggungi Sehun.

“Ada apa?” Tanya Krystal tanpa menatap Sehun.

Aku tidak akan mencium mu. Setidaknya tidak disini, di tempat yang membuat mu merasa malu.” Bisik Sehun.

Celaka! Krystal tidak akan selamat pada malam ini. Dia akan terkena serangan jantung karena jantungnya berdetak sangat kencang hingga ia tidak bisa bernafas. Bukan kerena kalimat yang dibisikan Sehun, tetapi karena perasaannya ketika Sehun berbisik kepadanya. Ini benar-benar gawat!

……. (Dering hp)

Sehun meraba saku jasnya, ia melihat siapa yang meneleponnya kemudian memberengut. Ia segera meletakna kembali hp-nya ke saku jasnya.

“Kenapa Wendy meneleponmu?” Tanya Krystal dengan nada cemburu.

“Kau cemburu?” Tanya Sehun sambil tersenyum.

Krystal menatap Sehun jengkel. Bisa-bisanya Sehun tersenyum kepadanya. Ia menghela nafas. “Lupakan.”

“Hei, kau benar-benar cemburu ya?” Sehun menarik lengan baju Krystal.

Krystal yang hanya menunduk menatap makanannya kembali menoleh lagi, “Entahlah.” Kata Krystal dengan suara yang lebih lembut, tidak seperti ketika ia bertanya.

“Aku tidak tahu kenapa ia meneleponku Krys. Tapi ingatlah, hubunganku dengan dia sudah berakhir, sudah sejak lama.”

“Tapi dia cinta pertama mu Sehun-ah.

“Terus kenapa jika ia cinta pertama ku?”

“Itulah yang membuatnya special. Dia adalah yang pertama. Ada di dalam dirinya yang tidak pernah dihapuskan oleh memorimu bukan?”

“Tidak perduli jika ia yang pertama atau tidak, dipikiranku hanya ada dirimu. Dan kau tahu Krys, walaupun dia yang pertama, tetapi bersama dirimu banyak hal yang pertama kali aku rasakan.”

Krystal terdiam menatap Sehun, menunggu kata-kata selanjutnya.

“Seperti perasaan jika aku hanya ingin membuat dirimu bahagia.”

“Aku akan mengingat hal itu.”

Sehunpun tersenyum melihat mood Krystal yang sudah membaik.

.

.

.

Sehun dan Krystal akhirnya meninggalkan taman pada pukul setengah sepuluh malam. Acara musik sudah selesai pada pukul setengah Sembilan, tetapi Sehun dan teman-temannya mengobrol terlebih dahulu dan Krystal membiarkannya. Barulah pada pukul Sembilan mereka pulang.

“Sudah sampai.” Kata Sehun ketika ia sudah memarkirkan mobilnya di depan apartment Krystal.

Krystal mengangguk, “Ya.” Ia menoleh ke arah Sehun, “Terimakasih Sehun-ah.”

Sehun mengangguk, “Krys-ah….” Sehun mencegah Krystal keluar dari mobilnya.

“Biar ku antar sampai depan apartmen-mu.” Sehun membuka seat belt-nya dan keluar dari mobil.

“Terimakasih.” Kata Krystal ketika sudah sampai di depan pintu apartment-nya. “Terimakasih untuk hari ini.” Lanjutnya.

“Terimakasih juga untuk hari ini.”

Krystal tersenyum dan mengangguk, “Hati-hati di jalan. Ini sudah sangat larut.”

Chu~

Krystal tidak menyangka jika Sehun mencium pipinya, “Tentu.” Bisik Sehun lagi-lagi ke telinganya.

Sehun memasukan kedua tangannya ke jaketnya, “Kurasa aku harus pulang. Selamat malam Krystal Jung.”

“Selamat malam.” Balas Krystal masih dengan keadaan syok.

Sehun melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam mobilnya. Krystal tersenyum dan membalas lambaian tangan Sehun. Ia baru masuk ke apartment-nya ketika mobil Sehun mulai berjalan.

.

.

.

.

.

.

Sehun menghela nafasnya, ia menghentikan mobilnya di sebuah minimarket dekat rumahnya kemudian menjawab telepon yang sedari tadi membuat hp-nya berdering.

Apa yang membuat dirimu lama sekali menjawab telepon ku?”

“Apa yang membuat dirimu berpikir aku akan menjawab teleponmu?” Jawab Sehun dengan nada tidak suka. “Kenapa terus menelepon diriku Wendy-ah?”

Karena aku mengkhawatirkan mu.”

“Apa?”
Mom bilang jika kau akan pulang malam ini. Tapi sampai selesai makan malam dirimu belum juga pulang. Mom khawatir tetapi ia tidak bisa meneleponmu.”
“Tidak bisa meneleponku?” Tanya Sehun tidak mengerti. Tapi kemudian ia menghela nafasnya. Tidak bisa meneleponnya karena mereka sedang marah-marahan. “Hebat!”

Apa maksudmu dengan hebat?! Apakah dirimu tersinggung karena Mom tidak menelepon mu? Dia melakukan hal itu karena-“

“Oh, berhentilah menceramahiku. Kurasa kau perlu berkaca dahulu sebelum menceramahi diriku.” Potong Sehun dengan kesal.

Apa-“

“Jangan pernah meneleponku lagi!” Sehun segera memutus sambungan teleponnya dan menaruh hp-nya di kursi mobilnya. Ia menghela nafas. “Susah sekali ingin pulang ke rumah.”

.TBC.

A/N:

Haii semuanya….  Bagaimana kabarnya?  Semoga semuanya baik-baik saja.  Sebelumnya, walaupun sudah sangat terlambat saya ingin mengucapkan idul Fitri ke kalian semua.  Saya juga mau minta maaf karena tidak bisa meng-update pada bulan Julli.  Dan yang terakhir saya mau minta maaf karena State of Grace  baru bisa di-publish  sekarang.  Jujur saya gak inget sama sekali loh tentang ff ini…  Saya kira beberapa chapter yang udah saya buat sudah ke-publish, ternyata belum…..

 

Dan tentu yang terakhir saya sangat berharap kalian semua menikmati tulisan yang saya baca….

Salam Hangat

Ally ^^

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s