State of Grace (Chapter 12)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Krek~

Dengan hati-hati Sehun membuka pintu rumahnya. Jika yang Wendy katakan benar, jika ibunya khawatir ia belum pulang ketika sudah melewati jam makan malam. Berarti ibunya belum tidur dan menunggu dirinya pulang. Dan Sehun tidak ingin bertemu dengan ibunya malam ini. Ia lelah dan ingin tidur. Ia tidak ingin berdebat dengan ibunya.

“Sehun-ah itukah dirimu?”

Suara dari dapur membuat rasa frustasi Sehun naik.

“Sehun-ah…” Ibunya memanggil dirinya lagi.

Tifanny tersenyum lebar melihat anak semata wayangnya telah pulang, “Ah, benar itu dirimu. Kau tahu betapa khawatirnya Mom.” Tifanny memeluk Sehun.

Sehun menghela nafasnya dan memeluk ibunya, “Kenapa selalu khawatir kepada diriku?”

“Karena kau adalah anakku satu-satunya.” Tifanny kemudian menambahkan, “Kau sudah makan? Mom membuatkan sup jamur, makanan kesukaanmu.”

Sehun menggeleng, “Aku sangat lelah Mom. Aku hanya ingin tidur.”

“Oh…” Respon Tifanny dengan sedikit rasa kekecewaan di matanya. “Baiklah. Tidurlah yang cukup. Oh, tinggalkan saja barang-barangmu disini. Mom akan menyuruh orang untuk membereskannya.”

Sehun tersenyum melihat sikap ibunya yang sudah seperti biasa, walaupun ia tidak tahu apakah hubungan mereka sudah baik-baik saja. “Uhm…   Selamat malam Mom…”

“Selamat malam Sehun-ah….

.

.

.

.

Pada pagi harinya, Sehun masih merasa lelah. Tapi ia tidak ingin berdiam di rumah. Terutama di hari Minggu yang cerah, ketika ayahnya berada di rumah.

Sehun pamit kepada kedua orangtuanya sebelum ia berangkat kuliah. Ketika ia sedang menunggu untuk bertemu dosen pembimbingnya, pikirannya kembali melayang. Melayang kepada kedua orangtuanya. Ia masih bingung dengan hubungan ia dan orangtuanya. Apakah sudah baikan atau belum? Apakah ibunya sudah melupakan masalah liburan atau belum? Apakah ayahnya sudah berhenti menyalahkan dirinya karena masalah liburan tersebut atau belum? Tapi dia malas bertanya. Dia terlalu malas menanggapi kedua orangtuanya. Sehun menghela nafas.

Sehun berpikir mempunyai keluarga seperti Kai lebih baik. Walaupun Kai anaknya sering bolos kuliah dan tentu saja ia selalu dimarahi oleh orangtuanya, terutama ibunya, tetapi keluarga Kai adalah keluarga yang hangat. Keluarga yang tidak ada sama sekali pemisah di antara mereka. Tidak ada yang disembunyikan di antara mereka. Tidak seperti keluarganya yang entah mengapa membuat Sehun terlebih dahulu menyerah daripada harus menghadapi sekat diantara dirinya, ibunya, dan juga ayahnya.

“Oh Sehun!”

Sehun mengerjap dan menoleh, “Oh, maaf. Ya.” Sehun segera bangkit dari kursinya dan masuk ke ruang dosen pembimbingnya.

.

.

.

Wendy kembali melangkahkan kakinya ke gallery milik Tifanny. Ia menghela nafas. Kejadian kemarin sudah dia anggap cukup buruk tetapi sudahlah. Dia harus bersabar. Cinta butuh pengorbanan bukan?

Wendy memasuki gallery dengan tampang tidak peduli. Lagipula kenapa dia harus peduli? Tujuan dia hanya satu bukan? Bertemu dengan Tifanny.

“Oh, entahlah Hyeri-yah aku tidak tahu aku bisa menggantikan dirimu atau tidak. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku hingga nanti sore ini.”
“Oh begitu? Baiklah tidak apa-apa. Kurasa aku harus membatalkan kencanku hari ini.”

“Maaf, waktunya tidak tepat. Jika bisa aku pasti akan membantu mu kok!”
“Tenang saja Krystal-ah. Aku tahu kau pasti akan membantu ku. Hanya saja waktunya yang tidak tepat.” Perempuan di depan Krystal tertawa canggung, “Baiklah. Silahkan lanjutkan pekerjaanmu. Maaf mengganggu.” Lanjutnya lagi.

Dan Krystal, Krystal Jung tersenyum kepada perempuan di depannya dan kemudian menganggukkan kepalanya. Setelah perempuan di depannya pergi, Krystal melanjutkan kembali pekerjaannya.

Wendy tertegun. Ia tidak ingin mengakuinya. Sangat tidak ingin mengakuinya. Bahkan membiarkan pikiran itu berkelabat di otaknya saja ia tidak ingin. Tetapi ia tahu, jika Krystal Jung lebih unggul dari dirinya bukan karena ia bisa merebut hati Sehun, tetapi perempuan itu sudah unggul dari dirinya.

Wendy menghela nafasnya dan menggelengkan kedua kepalanya. Mencoba menyingkirkan apa yang baru saja ia akui walaupun ia tidak ingin mengakuinya. Tapi dia penasaran. Dia ingin mengenal Krystal Jung lebih dekat.

.

.

.

.

“Hai…”

Krystal menghentikan aktivitasnya ketika mendengar suara dari sisi kirinya. Ia melepas earphone-nya dan segera membulatkan matanya ketika melihat siapa yang menyapanya, “Oh, hai….” Balas Krsytal canggung.

Wendy tersenyum terpaksa. Jelas sekali ia tidak ingin tersenyum kepada Krystal, “Bolehkah aku melihat pekerjaan mu?”
Krystal tertawa canggung kemudian menganggukan kepalanya, “Tentu saja. Saya merasa senang Anda melihat pekerjaan saya.”
Formal. Benar-benar formal. Wendy menghela nafasnya. Krsytal Jung kembali melakukan pekerjaannya walaupun kali ini dia tidak memakai earphone.

“Aku iri padamu.”

Krystal kembali menghentikan pekerjaannya. Ia menatap Wendy.

Wendy tersenyum sambil menatap lukisan di depannya, “Aku benar-benar iri padamu.” Lanjutnya tanpa melihat Krystal.

“Kau bisa mengambil hati Sehun dengan cepat, menggantikan diriku yang merupakan cinta pertamanya.

“Kau juga bisa mengambil hati Kim Taeyon dengan cepat, seseorang yang sangat dihormati ibuku dan membuat diriku malu setengah mati dihadapannya.

“Tapi aku bersyukur” Ucap Wendy yang kemudian menoleh ke arah Krsytal. “Aku bersyukur karena…… Karena kau belum mengambil hati Tifanny Hwang, bos mu dan ibunya Sehun. Kau memang unggul dibandingkan karyawan lainnya tetapi tetap saja, tidak seunggul diriku di hatinya.”

Krystal menoleh ke arah Wendy dengan kaku. Dirinya sudah tahu kemana arah pembicaraan Wendy. “Aku tidak mengerti dimana arah pembicaraanmu…” Respon Krystal dingin, sedingin keringat yang sudah membasahi tenguknya.

Wendy mengulas sebuah senyum, “Dengan begitu kita masih bisa berkompetisi merebutkan Oh Sehun. Kau sendiri tanpa bantuan siapapun dan aku dibantu dengan ibunya.”

“Kau pikir-“

Wendy memotong omongan Krystal, “Kita lihat sejauh mana kau bisa bertahan mengejar Sehun. Aku tidak yakin jika kau bisa bertahan lama, karena ibunya adalah segalanya baginya. Dan aku yakin, meski ibunya menyukai dirimu dia belum tentu setuju jika Sehun berpacaran dengan dirimu. Kau tahu mengapa bukan? Atau harus kujelaskan alasannya?” Jelas Wendy panjang lebar.

Tubuh Krystal menengang. Dia merasakan amarahnya naik. Dia sudah tahu dari awal arah pembicaraanya Dia juga mengakui jika yang Wendy katakan benar. Sangat benar kecuali satu hal,

“Aku yakin tanpa memenangkan hati Tifanny sangjangnim aku bisa berpacaran dengan Sehun,” Ujar Krystal dengan nada rendah. “Jangan menatapku seperti itu. Yang ku katakan adalah benar. Aku telah berpacaran dengan Oh Sehun.”

.

.

.

.

Aku telah berpacaran dengan Oh Sehun….

Wendy memberengut mengingat rentetan kata yang diucapkan oleh Miss Jung. Apa maksudnya? Apa Krystal hanya mengertaknya? Lihat saja jika Krystal hanya ingin mengertaknya, Krystal akan kehilangan segalanya.

Tapi….. Tapi tak dapat dapat dipungkuri jika Wendy merasa goyah ketika mendengar perkataan Krystal. Tatapan matanya dan suaranya…. Cukup! Dia benci mengingat hal itu.

Sekarang…. Sekarang ada satu hal terpenting yang harus ia lakukan. Apalagi jika tidak meng-konfirmasikan langsung kepada Sehun. Sayang, Sehun sepertinya memblokir nomornya karena kejadian kemarin. Berarti hanya tersisa satu cara, ia menemui Sehun secara langsung dan menanyakannya secara face to face.

“Permisi, satu smoke beef and mushroom quiche dan satu cappuccino?” Tanya seorang pelayan dengan logat korea yang kental.

Wendy menoleh dan menganggukan kepalanya. “Terimakasih.” Ucap Wendy tanpa melihat pelayan dan mulai memakan pesanannya. Memenuhi permintaan perutnya di sela-sela kegiatan menunggu Sehun di café kesukaannya yang terletak di dekat kampusnya. Jika perkiraannya benar, Sehun tidak pernah absen ke café ini jika ia masuk kuliah.

.

.

.

“Ada yang ingin Anda pesan lagi?”

Wendy mengalihkan pandangan dari hp-nya dan menatap pelayan, “Tidak.” Jawab Wendy pendek. “Aku akan memanggilmu jika ingin memesan lagi.”

Si Pelayan tersenyum sopan, “Baiklah. Saya taruh menunya disini.” Ujar si Pelayan sebelum membungkukan badannya dan berbalik kembali menuju pantry.

Wendy mengembuskan nafasnya dan melihat jam di hp-nya. Ia kembali mengembuskan nafasnya.

Tring~

Bel pintu café berbunyi menandakan jika ada orang yang datang. Wendy segera menoleh ke pintu berharap yang masuk adalah Sehun. Dan sebuah senyuman lebar langsung terpancara dari wajahnya.

“Ah, benarkah? Yak, bocah busuk kau tidak berbohong kepadaku kan?”

“Apakah aku terlihat berbohong?” Sehun menjawab perkataan Kai sambil terus menatap hp-nya.

Geez… Awas saja kala-“ Kai yang melihat Wendy menghentikan omongannya. Sehun yang merasa aneh karena Kai berhenti berbicara menatap Kai, kemudian mengikuti arah pandang Kai. Ia langsung mencengkram handphone-nya melihat siapa yang sedang ia tatap.
“Sehun-ah!” Sapa Wendy dengan riang. Wendy langsung berjalan menuju Kai dan Sehun.

“Ehm…” Kai berdehem, berusaha menghilangkan kecangungan yang tiba-tiba menyeruak. “Hai Wendy sedang apa-“
“Apa yang kau lakukan disini?”

Wendy mengabaikan perkataan Sehun dan tetap tersenyum cerah, “Aku ingin bertemu dengan Sehun. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya.”

Kai hanya tersenyum kikuk. Gawat! Sehun sedang tidak baik akhir-akhir ini karena masalah orangtuanya dan perempuan di depannya berusaha menguji batas Sehun…. Jujur, dia tidak ingin terlibat kedalam hal yang seperti ini.

“Sudah kubilang tidak ada hal yang bisa kita bicarakan.” Sehun kemudian berbalik ke arah keluar dari café. “Ayo kita cari tempat makan lain Kai.”

Kai dengan patuh mengangguk. Ia melangkahkan kakinya lebih cepat untuk keluar dari café dan diikuti oleh Sehun.

Wendy hampir ingin mengikuti, tapi seorang pelayan menahan langkahnya.

“Maaf anda belum membayar pesanan Anda.”
Wendy menggerutu tidak jelas kemudian mengeluarkan dompetnya dan beberapa carik uang yang sepertinya sangat berlebih untuk membayar pesanannya. Ia segera keluar dari café.

“Sehun-ah… Sehun-ah… Yak! Oh Sehun!” Teriak Wendy dan kali ini ia berhasil memegang tangan Sehun. Berusaha menarik Sehun agar ia tidak masuk kedalam mobilnya.

Sehun menatap Wendy tajam, “Bisakah kau berhenti bersikap kekanak-kanakan? Kau benar-benar membuatku malu!”

“Aku hanya ingin berbicara pada mu. Ini semua tidak akan terjadi jika kau ingin mendengar perkataanku baik-baik.” Ujar Wendy dengan sebal.

“Tidak ada alasan aku perlu perlu berbicara kepadamu.” Sehun segera berbalik dan dengan sekuat tenaga dia menarik lengannya yang dicengkram oleh Wendy.

“Yak, Sehun-ah kumohon… Kai bantu aku!”

“Hah?! Apa?!” Kai menatap Wendy dengan tatapan tidak percaya. Seharusnya yang berkata seperti itu adalah Sehun bukan Wendy. Itupun jika salah satu dari mereka masih berpikir logis. Walaupun Sehun yang merupakan sahabatnya berkata seperti itu Kai tidak ingin membantunya. Apalagi Wendy. Kai mengangkat kedua tangannya, tanda ia menyerahkan masalah ini ke mereka berdua.

Wendy juga dengan sekuat tenaga menahan Sehun agar tidak pergi. Sehun menghela nafasnya, “Lepaskan tanganku!”
“Tidak! Kau pasti akan langsung melarikan diri.”
Sehun kembali berbalik menghadap Wendy, “Lepaskan tanganku dan kita akan berbicara.”

“Aku meragukannya Oh Sehun! Aku yakin jika kau langsung kabur ketika aku melepaskannya!” Tuduh Wendy dengan mata berkilat sebal.

Sehun mendengus, “Terserah padamu jika begitu.” Dan ia kembali memunggungi Sehun dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Wendy lagi.

Wendy akhirnya melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Sehun. Jujur, ia merasa lelah menahan Sehun yang tenaganya lebih kuat dari dirinya. “Baiklah, sekarang kita bisa berbicara?”
Sehun berbalik menatap datar Wendy, “Apa yang ingin kau bicarakan?”
“Apakah kau berpacaran dengan Krystal?”

Sehun menaikan sedikit alisnya. Darimana Wendy mengetahuinya? Ibunya? Tunggu, jika ibunya mengetahuinya berarti Krystal….

“Darimana kau mengetahuinya?” Tanya Sehun tidak mengindahkan pertanyaan Wendy.

“Dari Krystal. Krystal yang mengatakan kepadaku. Katakan jika hal itu tidak benar. Katakan jika Krystal hanya ingin menakuti diriku!”
“Bagaimaan bisa dia mengatakan hal ini kepada mu?”
Wendy tersenyum lebar, “Jadi itu bohongankan? Dia bukan pacar mu kan?”
“Bagaiamana bisa dia mengatakan hal ini kepada mu?” Tanya Sehun sekali lagi.

Wendy mendengus, “Tadi aku berbicara kepadanya. Dan ia mengatakannya.”

“Ia tidak akan berkata seperti itu jika kau hanya berbicara kepadanya.” Sehun kemudian menatap tajam Wendy, “Kau mengancamnya?”

“Tidak!” Jawab Wendy tidak terima dengan perkataan Sehun. “Apa maksudmu?” Wendy kemudian tertawa, “Aku hanya mengatakan yang sebenarnya kepadanya. Jika ia tidak akan bisa memenangkan hati Mom.”

.

.

.

Kai tidak dapat melihat ekspresi Sehun, karena bocah busuk itu membelakanginya. Tapi Kai tahu, Sehun pasti sedang melotot atau setidaknya mengertakan giginya karena tubuhnya sudah tegang mendengar perkataan Wendy, dengan kata lain Sehun sedang diambang batas kesabarannya.

Kai hampir saja tergoda untuk masuk ke mobil Sehun, meninggalkan Sehun dengan Wendy jika saja ia tidak teringat jika Sehun adalah sahabatnya.

“Wendy…” Sehun berbicara dengan nada suara rendah dan Kai menelan ludahnya. Bagaikan hidup dan mati, itulah batas kesabaran Sehun. “Aku akan mengingatkan hal ini kepada mu, jangan pernah sekali-kali menyakiti hati Krystal!”

“Apa?!”

“Memang hanya kemungkinan kecil dia bisa memenangkan hati Mom, tapi dia sudah pasti memenangkan hati ku”
“Apa?!”
Kai melihat jika bahu Sehun melemas. Dan Kai mengeluarkan nafas lega, amarah Sehun telah turun.

“Dia adalah pacarku Wendy-ah. Ya. Aku dan Krystal berpacaran.” Jawab Sehun pada akhirnya dengan nada suara yang ringan.

“Kau…” Hanya itu respon yang Wendy berikan.

Sehun tidak perduli. Baginya ia sudah menjawab pertanyaan Wendy. Ia segera membalikan badannya dan memasukan mobilnya. Dan Kai mengikutinya.

.

.

.

.

Kai melirik Sehun dan kemudian memejamkan matanya. Benar-benar yang Sehun lakukan menganggu kegiatan makannya.

“Ehm….” Kai menatap lurus ke arah Sehun.
“Apa?” Tanya Sehun polos.

“Bisakah kau memilih satu kegiatan saja? Makan atau melihat handphone-mu?”

Sehun menghela nafasnya dan langsung melihat handphone-nya.
“Astaga…..”
“Apa?” Tanya Sehun lagi.

“Okay, sekarang letakan handphone-mu. Kita perlu berbicara Oh Sehun.”

Sehun mengelihkan pandangan dari handphone-nya, “Jangan mengucapkan kata ‘Kita perlu berbicara’, itu membuat perutku mual.”

“Tapi ini penting.” Ucap Kai mengacuhkan perkataan Sehun. “Kau berpacaran dengan Krystal?”
“Astaga….” Sehun mendesah berlebihan. “Aku benar. Kau terlihat cocok dengan Wendy. Pacaran saja dengannya.”
“Apa maksudmu?” Tanya Kai memberengut. “Aku sudah cukup melihat kejadian tadi. Aku sudah yakin jika aku tidak akan jatuh cinta kepadanya. Dan jika aku jatuh cinta kepadanya, ingatlah,” Kai mendekat ke arah Sehun, “Aku sedang tidak waras dan tolong bawa aku menemui dokter ahli kejiwaan segera.”

Sehun tertawa mendengar perkataan Kai, “Ya. Aku berpacaran dengan Krystal.” Jawab Sehun pada akhirnya.

Kai mengangguk, “Dan sepertinya kau mencintainya?”
“Apa maksud perkataanmu? Tentu saja aku mencintainya….” Kemudian Sehun menghela nafasnya, “Tapi, aku takut kehilangan dirinya.” Ia menatap Kai, “Kau tahu kenapa aku merasakan hal tersebut bukan?”
Kai lagi-lagi hanya mengangguk. “Hidupmu sangat rumit, kau tahu itu bukan?”

Sehun mendengus, walau dalam hatinya ia mengakui apa yang Kai ucapkan.

.TBC.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s