Flipped (Chapter 9)

black-and-white-care-depression-girl-favim-com-687006

f I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Orang Yang Paling Menyedihkan Di Muka Bumi

“Bermaksud atau tidak tapi kau yang membuat diriku seperti ini!”

****

Sehun kembali memejamkan matanya, “Hentikan perjodohan ini….”

Krystal menghentikan segala jeritan menyedihkannya. Dia terdiam menatap Sehun nanar. Air matanya masih keluar, tetapi suaranya terkunci didalam otaknya yang lumpuh.

“Meng-hen-ti-kan-per-jo-do-han?” Tanya Krystal dengan tersendat-sendat. Ia pun segera menggeleng. Kepalanya terasa berdenyut, pertanda sudah lelah. “Ah!” Ringis Krystal memegang kepalanya.

Sehun segera bangkit dari kursi, “Kenapa? Tunggu akan kupanggilkan dokter!”

.

.

.

Krystal melihat kalender di meja belajarnya. Tangannya menelusuri setiap tanggal, kemudian berhenti di tanggal yang dilingkari tinta bewarna merah. Oemma yang melingkarinya. Menurut Oemma pada tanggal tersebut akan diadakan makan malam antara Keluarga Jung dan Keluarga Oh. Pada tanggal 17 itulah adalah tanggal yang sangat istimewa-setidaknya menurut Oemma. Krystal sendiri sudah mengetahui arti tanggal tersebut. Sehun sudah memberi tahunya jika pada tanggal tersebut orangtua mereka berdua mengumumkan rencana perjodohan mereka.

Tapi bukannya sudah diumumkan sebelumnya, bukan? Jadi untuk apa diumumkan lagi? Ini karena tidak ada yang tahu jika Krystal sudah mengetahui ia dan Sehun dijodohkan. Tidak ada. Hanya dirinya dan Sehun. Hal tersebut seakan milik mereka berdua. Termasuk rencana penghentian perjodohan mereka. Itu seakan seperti pedang yang mereka berdua siapkan untuk menusuk kedua orangtua mereka.

Tes!

Krystal langsung menghapus kasar air matanya. Tidak ada yang perlu tahu jika ia kembali bersedih. Rencana itu bukannya hanya meremukan hatinya, tetapi juga bisa menghancurkan kedua orangtuanya. Membayangkan jika orangtuanya menginginkan hal ini sejak lama. Tetapi sayang, ia tidak bisa mengikuti keinginan orangtuanya. Karena ini bertentangan dengan yang diinginkan Sehun-orang yang sangat ia cintai.

Tes!

Air mata Krystal kembali jatuh. Betapa menyedihkan dirinya. Betapa menyedihkan hidupnya.

Ting~

Handphone Krystal berkedip. Tanda jika ada sms masuk. Krystal segera mengambilnya. Selang beberapa detik ia kembali menangis.

Perasaan yang ia rasakan sangat bertentangan dengan Sehun rasakan. Sehun sangat ingin hari tersebut datang kepadanya. Sedangkan Krystal berharap ia bisa terus menghindari hari tersebut.

.

.

.

.

Cha!” Nyonya Oh menghidangkan semangkuk sop Kimchi dihadapan Tuan Oh, Sehun, Krystal, dan kedua orangtuanya. “Aku menghidangkan makanan ini agar semuanya lebih bermakna.”
Ibu Krystal tertawa, “Kau benar-benar ingin membuat hari ini akan diingat terus ya? Baiklah. Sebaiknya kita mulai makan.”

Dengan pelan, Krystal mengambil beberapa potongan daging bulgogi. Tatapannya menunduk bersamaan dengan kepercayaan dirinya yang jatuh. Hatinya meringis. Dia… Dia tidak bisa melakukan hal ini.

Krystal pikir semuanya tidak akan berjalan sesulit ini. Mereka hanya makan malam bersama seperti biasanya. Tetapi ternyata tidak. Semuanya menjadi rumit. Sangat rumit hingga hatinya kembali tidak tega untuk melakukan rencana yang telah dibuat. Dan Krystal menghabiskan makanannya dalam diam kesedihan.

“Jangan repot-repot. Biar Oemma saja yang meletakannya di belakang.” Suara Nyonya Oh kembali terdengar. Krystal hanya tersenyum ketika Nyonya Oh mengambil piring kosong.

Hatinya semakin meringis. Sebentar lagi…. Sebentar lagi mereka akan masuk ke pembicaraan. Sebentar lagi dia akan menusuk kedua orangtuanya dari belakang. Krystal memejamkan matanya. Ia ingin lari. Ingin lari dari kenyataan ini.

Trang!

Bunyi nyaring dari meja di depannya terdengar. Oh Sehun tidak sengaja menjatuhkan sendoknya. Sehun mengambilnya dan ketika ia meletakan di meja makan, mata Sehun dan Krystal beradu. Sehun hanya menatapnya datar. Tidak ada ekspresi sedih atau senang. Mata Sehun kemudian melirik ke kanan menyebabkan Krystal juga ikut melirik. Ah! Nyonya Oh sudah kembali ke ruang makan ternyata.

Semua yang berada di meja makan hanya terdiam. Kedua orangtua mereka terlihat semakin melebarkan senyumannya. Krystal dan Sehun semakin menyiapkan diri untuk rencana mereka.

“Kami sudah membuat keputusan….” Suara Nyonya Jung membuka topic pembicaraan malam ini. “Kami memutuskan jika kalian akan dijodohkan.”

Krystal menarik nafasnya. Sudah di mulai. Diam-diam ia mencengkram bajunya. Membuka mulutnya, mencoba mengeluarkan suara. Bersamaan dengan detak jantungya yang semakin kencang.
Di ujung seberang, Sehun menatap Krystal khawatir. Takut jika gadis itu tidak bisa melakukannya. Jika tidak bisa, maka tidak ada lagi kesempatan. Karena jika dia yang mengutarakan tentu akan langsung tidak diterima.

Topik berganti. Sekarang, para orangtua mengucapkan selamat kepada Sehun dan Krystal. Sehun tersenyum tetapi matanya masih mengawasi Krystal. Apakah gadis itu benar-benar tidak bisa mengatakannya? Apakah dia yang harus memulai.

“Aku tidak setuju!”

Deg!

Sehun membulatkan matanya ke arah Krystal. Suaranya sangat kecil tetapi terdengar jelas. Tanpa terasa, hatinya yang sejak tertahan pecah. Ini juga menyakitkan baginya.
“Aku tidak setuju jika aku dan Sehun dijodohkan.” Krystal sekarang menatap kedua orangtuanya. Ia menelan ludahnya. Dengan bibir bergetar ia kembali berbicara, “Maaf, tapi aku tahu jika diriku dan Sehun lebih baik menjadi sahabat dan bukan berteman.”

Suasana menjadi hening. Tidak menyangka dengan Krystal katakan. Seperti yang Nyonya Jung katakan, malam ini akan menjadi malam yang tak terlupakan.

“Krystal…” Desis Nyonya Jung tidak percaya.

“Aku menolak perjodohan ini.” Krystal menatap Nyonya Jung intens. Tangannya mengepal agar agar terlihat seperti yang Sehun inginkan. “Maaf untuk mengatakan hal ini.”

Semuanya menatap Krystal tidak percaya.

“Kami akan membicarakannya.” Nyonya Oh akhirnya membuka suaranya. Walau dengan tatapan sedih, ia mencoba untuk tersenyum, “Kami akan mengadakan pembicaraan khusus orangtua sekarang.”

Tuan Jung mengenggam tangan istrinya yang terlihat sangat menahan amarah, “Tenanglah…”

.

.

.

.

Sehun lagi-lagi melihat jam tangannya. Sudah dua jam mereka berbicara. Apa sangat susah untuk memutuskannya? Padahal Sehun kira semuanya akan terkesan mudah ketika Krystal yang mengutarakan.

Sedangkan Krystal hanya dapat menundukan kepalanya. Ia diam. Tetapi isakan kecil terdengar. Sehun bingung ingin berbicara apa dengan orang disebelahnya. Jelas, jika Krystal tidak menginginkan hal ini terjadi.

Aku telah berjanji…. Gumam Sehun di dalam hatinya.

“Maaf…”

Krystal menoleh ke arah Sehun. Matanya sudah sangat merah.

“Maaf.” Kata Sehun sekali lagi.

“Kau tidak benar-benar tulus mengucapkannya.” Desis Krystal dengan serak dan menahan perasaannya. Bisa terdengar jika ia setengah marah.

“Aku benar-benar tulus mengataknnya!” Bantah Sehun dengan sedikit kekesalan yang tiba-tiba saja terbit. “Aku meminta maaf karena kau membuat orangtua mu kecewa.”

“Oh, benarkah?” Lanjut Krystal dengan suara yang sedikit lebih kencang. Ia menatap Sehun buas, tetapi sedetik kemudian ia kembali menangis.

“Aku menjadi orang yang paling menyedihkan di muka bumi ini karena dirimu. Kemudian dirimu mengucapkan permintaan maaf kepadaku. Seakan-akan hanya dirimulah yang mengetahui apa yang terjadi kepadaku. Dan perbuatan itu, malah membuat diriku semakin menjadi orang yang menyedihkan di muka bumi ini.”

Lembut tapi menusuk. Pelan tetapi membakar hati Sehun. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Aku tidak bermaksud…”

“Bermaksud atau tidak tapi kau yang membuat diriku seperti ini!” Bentak Krystal kepada Sehun. Dengan berurai airmata Krystal kembali berbicara, “Mungkin dalam beberapa waktu kedepan aku akan bersedih karena perjodohan kita dibatalkan. Tetapi, aku yakin aku akan bahagia dengan keputusanmu. Dan suatu saat aku akan mengucapkan terimakasih kepadamu.” Krystal mengeluarkan senyuman sinisnya.

Perasaan mereka berdua bercampur aduk. Sehun yang masih keras kepala dengan pendiriannya. Krystal yang terombang-ambing dengan perasaannya.

Sehun diam bergeming. Krystal kembali berbicara, “Kau tidak harus melakukan apapun untukku lagi. Tapi aku mohon, menjauhlah dari hidupku. Aku ingin menjadi orang yang bahagia di muka bumi ini.”

.TBC.

 

 

 

 

Advertisements

State of Grace (Chapter 13)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Krystal tersentak melihat Wendy sedang di depan gallery. Dia menelan ludahnya, berharap ini bukan dari dampak yang ia ucapkan tadi pagi.

“Ah!” Krystal menahan nyeri ketika Wendy mencengkram erat tangannya. Ia kemudian menarik Krystal kasar pergi menjauhi gallery.

“Yak!” Krystal berusaha menarik tangannya dari cengkraman Wendy. Tapi itu tidak melonggarkan cengkraman tangan Wendy, malah semakin mempereratnya. Menariknya semakin menjauh dari gallery. Menuju sebuah pertigaan dan berbelok mengikuti pertigaan tersebut.

“Wendy-ah, lepaskan tanganku!” Teriak Krystal tertahan rasa nyeri. Sungguh, tangannya pasti sudah memerah saat ini.

“Diam!” Teriak Wendy dengan mata yang menatap tajam Krystal. “Diam dan jangan panggil aku seperti itu!” Wendy mendekatkan dirinya ke arah Krystal, menipiskan jarak di antara mereka, “Jangan pernah merasa akrab dengan diriku!” Katanya tajam. Menusuk pendengaran Krystal.

Krystal menghela nafasnya, “Kalau begitu kau harus melepaskan cengkraman tanganmu. Karena aku juga tidak suka diperlakukan semena-mena!” Krsytal kemudian menatap tajam Wendy, “Apa lagi dengan orang yang tidak ku kenal!”

Perkataan Krystal membuat amarah Wendy naik. Dia memundurkan dirinya beebrapa langkah dari Krystal. Menyebabkan tangan Krystal terlepas dari cengkramannya. Menghirup nafas dalam-dalam. Sedalam rasa ingin berbuat kasar terhadap gadis di depannya.

.

.

.

.

Krystal mengambil ancang-ancang berlari ketika Wendy sedang memejamkan matanya. Berjalan mundur pelan-pelan dan-

“Kau gadis menyebalkan!” Hentakan suara Wendy menghentikan langkahnya. Krystal terdiam. Rasa takut tambah menyerang dirinya.

Wendy kembali membuka matanya. Kali ini, terdapat rasa amarah yang membara di matanya, “Kau pikir kau siapa?! Bisa berpacaran dengan Oh Sehun?! Kau bukan siapa-siapa! Kau hanya seorang yang lebih rendah darinya! Seharusnya kau tahu malu!”

Bentakan Wendy di tengah malam yang sunyi, dan pastinya bukan di tempat yang tepat membuat Krystal semakin ciut. Dia tidak menyangka Wendy adalah tipe yang seperti ini, ‘Akan berbuat apa saja demi yang ia inginkan tercapai.

“Wendy-ah..

Krystal langsung mengumpat di dalam hati ketika kata itu terucap. Kenapa ia lagi-lagi mengucapkan kata itu? Entahlah.

Plak!

Satu tamparan dari Wendy berhasil mendarat di pipi Krystal. Krystal meringis, merasakan panas di pipinya.

“Sudah cukup!” Satu suara dari belakang mengangetkan mereka berdua. Oh, tidak…

.

.

.

.

Sehun menatap gallery ibunya dengan tatapan bingung. Sudah tutup? Ia menatap jam tangannya. Jam tujuh malam. Seharusnya gallery ini belum tutup. Apalagi ketika Krystal bilang jika ia akan pulang jam tujuh malam, seharusnya gallery belum tutup.

Sehun terlihat menimang-nimang sesuatu. Kemudian ia menghela nafas. Apa Krystal berbohong padanya? Tidak. Tidak mungkin. Mungkin Krystal juga baru pulang. Kemudian kelaparan sehingga pergi ke sebuah mini-market untuk membeli makanan? Dan Krystal akan meneleponnya setelah sampai di mini-market ?

Jika ia tidak salah mini market terletak tidak jauh dari gallery ibunya. Baiklah. Dia akan berjalan menuju mini market tersebut. Sehun mulai melangkahkan kakinya. Menjauhi gallery ibunya. Berjalan lurus ke sebuah pertigaan besar. Melewati banguna-bangunan lain yang juga sudah tutup. Daerah ini seperti kota mati sebenarnya. Jika sudah malam, tidak terlihat sedikitpun aktivitas.

Dari kejauhan, seperti gema, Sehun mendengar sebuah suara. Lebih mirip bentakan. Ia tertawa kecil. Suara itu, ia mengenalnya. Tapi mana mungkin orang itu berada disini? Untuk apa?

Deg!

Wendy. Suara itu adalah suara Wendy. Apa yang Wendy lakukan disini? Pikirannya mulai bermikiran hal buruk. Terutama hal yang bersangkutan tentang Krystal. ‘Semoga tidak terjadi apa-apa,’ Gumam Sehun di dalam hati.

Ia mempercepat langkahnya, hampir menyerupai lari.

“Sudah cukup!” Teriak Sehun tanpa sadar melihat apa yang baru saja Wendy lakukan kepada Krystal.

.

.

.

.

Wendy dan Krystal tersentak. Wendy segera mundur beberapa langkah. Sedangkan Krystal menatap Sehun terbelak.

Sehun sendiri melangkahkan kakinya maju. Berada di tengah-tengah mereka. Menatap Wendy tajam dan memunggungi Krystal.

“Wendy-ah…” Suara tajam dari Sehun menggetarkan tubuh Wendy dan Krystal. Teramat takut mendengar suara berat itu.

“Jadi ini sifat aslimu yang sebenarnya?! Jadi ini?! Marah-marah tidak jelas! Sebenarnya hal apa yang membuatmu marah?!”

Wendy menundukan pandangannya. Terlalu takut untuk menghadapi Sehun. Sehun selalu lembut kepadanya. Selalu. Tidak pernah marah seperti ini.

Melihat respon Wendy yang hanya diam membuat amarah Sehun naik. Bahu menengang seiring naiknya amarah.

“Sehun-ah…” Suara lembut dari belakangnya membuat Sehun segera menoleh. Tatapannya melunak, menatap lembut Krystal.

Krystal hanya terdiam menahan nangis. Takut dengan apa yang akan Sehun lakukan selanjutnya, “Hentikan semua ini.” Lirih. Suara itu hampir terdengar seperti bisikan. Krystal kali ini kembali berbicara dengan menatap Sehun, “Hentikan semua ini. Kita pergi saja dari sini.”

Sehun menatap gadis di depannya dengan rasa sakit. Dia tahu dia salah. Dia seharusnya bisa bersikap lebih dewasa. Krystal pasti masih syok karena dibentak oleh Wendy. Ditambah lagi oleh dirinya yang diambang batas sabar, yang bisa saja melakukan hal yang tidak –tidak.

Sehun mengenggam tangan Krystal. Berusaha memberi rasa aman. Dia kemudian berbalik menghadap Wendy, “Masalah ini belum selesai.” Setelah menyelesaikan kalimat itu, ia segera menarik tangan Krystal pergi dari hadapan Wendy.

.

.

.

.

Krystal hanya diam ketika Sehun memasukannya ke dalam mobil. Ketika Sehun menjalankan mobilnya, menembus jalanan macet Seoul, Krystal masih diam menatap kosong jalanan. Sekarang, ketika Sehun menghentikan mobilnya di depan Coffe Shop, Krystal masih belum bersuara sedikit pun.

Sehun menghela nafasnya, “Krys…” Panggil Sehun lembut.

Krystal menoleh. Matanya sedikit berair. Seperti…… Seperti sedang menahan tangisan. Merasa tangisannya akan turun Krystal segera mengalihkan pandangannya. “Maaf aku hanya-“

Krystal berhenti berbicara ketika merasa tangan lembut Sehun menyentuh pipnya. Menolehkan wajahnya ke kanan, kearah Sehun sendiri.

“Kau tidak perlu meminta maaf. Seharusnya akulah yang meminta maaf.” Sehun mengelus pipi Krystal, “Maafkan aku Krystal Jung. Karena tidak bersikap dewasa dan terbawa emosi tadi.”

Tangisan Krystal lolos. Krystal berusaha mengalihkan wajahnya, tertahan oleh tangan Sehun.   Dia menatap Sehun.

“Aku minta maaf….” Ucap Sehun sekali lagi dan menarik Krystal kedalam pelukannya.

.

.

.

.

Dentuman musik yang memekakan telinga bagaikan gaung di telinga Wendy. Di tengah hingar bingar ini, Wendy memfokuskan dirinya untuk meminum segelas cairan memabukan. Cairan yang akan membuatnya lupa tentang fakta yang baru saja terjadi.

“Lagi….” Pinta Wendy parau.

Bartender di depannya menatap Wendy dengan tatapan menyipit, “Kurasa Anda sudah cukup mabuk.”

“Mabuk?! Aku tidak mabuk! Aku baru saja meminum beberapa gelas dan kau bilang aku mabuk?! Kau buta yah?” Wendy berteriak-teriak tidak jelas.

Sang bartender hanya bisa mengelengkan kepalanya dan memberi kembali gelas baru. Tentu masih berisi hal yang sama.

Wendy tersenyum riang. Tangannya menjulur ingin mengambil.

Grep!

Sebuah tangan menahan uluran tangan Wendy. Mencengkram tangan Wendy.

“Kau mabuk!” Kata orang yang menahan tangan Wendy.

Si bartender kembali lagi, “Oh, kau mengenalnya?”

Orang tersebut hanya menganggukan kepalanya, “Biar aku yang mengurusinya. Sekaligus bill nya.”

Bartender mengangguk. Segera ke kasir, menghitung minuman yang Wendy minum, dan kembali lagi membawa bill.

Orang tersebut melihat dan langsung mengambil dompetnya untuk mengeluakan secarik uang, “Ambil saja kembaliannya.”

Bartender mengangguk patuh dan menghilang.

Setelah bartender menghilang, orang tersebut duduk di bangku depan Wendy, “Wendy-ah… Hei…..” Ia sedikit menggucangkan tumbuh Wendy agar Wendy sadar.

“Eunggh….” Lenguh Wendy yang jauh dari kata sadar.
“Wendy….” Katanya masih mencoba untuk menyadarkan Wendy.

Perlahan-lahan mata Wendy terbuka. Kemudian senyum merekah, “Sehun-ah…. Sehun-ah kau datang menjemputku? Kenapa mengkhawatirkanku?”

Orang di depan Wendy menghela nafasnya. Ia bukan Sehun. “Iya. Ayo kita pulang.”

Wendy mengangguk patuh. Orang tersebut membatu Wendy bangkit dan berjalan.

“Apakah kau benar-benar mencintai Sehun?” Tanya orang tersebut di sela-sela keluar dari bar di daerah Gangnam.

Wendy menatap orang disampingnya heran, “Kenapa kau bertanya seperti itu Sehun-ah? Apakah kau masih ragu? Baiklah. Ya, aku benar-benar mencintaimu.”

Orang tersebut memejamkan matanya, “Benarkah?” Tanyanya dengan suara serak. “Bagaimana dengan Mark? Apakah kau sudah melupakannya?”

.TBC.

 

 

[Songfict] Photograph

Photgrap

 Cast: Choi Minho & Choi Sulli

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Ficlet

Author: Ally

***

A/N: Haii semuaaaanyaaaa (?)  Saya akhirnya kembali lagi membawakan fanfiction pertama di bulan September ini ^^  Gak nyangka loh sebentar lagi State of Grace udah satu tahun….  Kali ini saya membuat sebuah Songfict nih… Tentang Minsul.  Ada yang suka couple ini gak?  Okay ngomongnya kebanyakan (?)  Hope you guys like it.

***

 

“Apa? Aku tidak mendengar perkataanmu Key hyung! Sama sekali tidak!” Minho tertawa lepas di sela-sela ia kabur dari amukan Key. Hey, mereka memang sudah tidak muda lagi, tetapi sifat kekanak-kanakan mereka masih ada.

“Yak!! Kembali!!!!” Teriakan Key sukses mengisi droom Shinee yang sudah berbulan-bulan kosong. “Aku tidak mau tahu itu!!! Kembali!!!!!!” Lanjutnya dengan semakin tinggi.

Mereka selalu seperti ini. Onew-Jonghyun-Key-Minho-Taemin. Setiap kali bertemu. Tidak pernah akur. Tapi itulah yang selalu membuat mereka ingin bertemu kembali, ingin berbaikan kendati pada akhirnya menjadi seperti ini.

Minho menghela nafasnya. Lelah akibat terlalu banyak ketawa. Ia merebahkan dirinya ke kasur tidurnya.

Tap! Tap! Tap!

Minho menoleh dan ia segera melotot ke arah orang yang baru saja masuk ke kamarnya, “Jangan terlalu menanggapinya dengan serius hyung. Akukan hanya bercanda.”

Orang yang sekarang telah berada di depan tempat tidurnya mendesis, “Candaanmu membuat diriku semakin tua!”

Minho hanya tertawa kecil, “Seharusnya hyung bisa mengendalikan amarah hyung. Bukan berteriak-teriak tidak jelas seperti tadi.”

“Kau juga jangan suka membuatku marah-marah.” Key mengacak pinggangnya. Kemudian menatap orang yang lebih mudah dengan teduh, “Aku hanya ingin memberi hp-mu. Adik kecilmu menelepon.”

Hening beberapa saat. Minho tidak merespon sama sekali.

“Minho-yah…” Key menyenggol Minho.

 

“Loving can hurt

 

Loving can hurt sometimes

 

Minho menoleh, menerima hp-nya dari tangan Key. Ia bangkit dari tempat tidur dan melihat sebuah missed call. Choi Sulli. Sulli meneleponnya.

“Ada masalah lagi? Dia?”

Minho menghela nafasnya, “Mungkin.”

“Kau harus memperbaiki hal ini Minho. Kau tahu itu.”

Minho hanya bisa menghela nafas lagi, “Bagaimana bisa? Aku tahu aku salah tetapi aku masih mencintainya. Biarkanlah seperti ini.”

“Keadaan dimana dia hanya menganggap dirimu sebagai oppa-nya, kakak laki-lakinya yang akan selalu melindungi dia dan mendukung dia apapun yang terjadi. Tempat dimana dia selalu menceritakan masalah dia apapaun yang terjadi. Meskipun masalah tersebut menyangkut pacarnya yang sama sekali tidak kau sukai karena kau masih mencintainya. Masih mencintainya seperti dulu. Sebagai seorang wanita bukan sebagai saudara.” Key menggigit bibirnya, merasa salah membahasi masalah sensitive ini. Tetapi dia harus membahas hal ini, “Itu menyakitkan Minho. Kau tahu itu.”

“Bukan.” Minho menatap Key, “Keadaannya bukan seperti yang hyung pikirkan. Aku hanya ingin berada disampingnya, mendukungnya apapun yang terjadi. Terus berada disampingnya membantunya dalam semua kesusahan. Sehingga ia sadar, ia sadar jika aku masih mencintainya dengan sepenuh hati.”

Key menatap teman satu grupnya terkejut. Ia kemudian tersenyum pahit, “Terserah dirimu saja. Aku kembali ke ruang tv.”

Minho yang melihat Key pergi juga kembali merebahkan dirinya ke kasur.

 

“But it’s the only thing that I know

 

When it gets hard,

 

You know it can get hard sometimes

 

Dering hp kembali terdengar. Minho kembali melihat hp-nya. Sulli. Lagi-lagi Sulli meneleponnya. Untuk kali ini saja, ia akan membiarkannya. Tidak menjawab telepon Sulli. Hanya sekali ini.

Semua orang disekitar tahu apa yang terjadi antara Sulli-dirinya-dan tentu pacar Sulli. Hanya dirinya-Sulli-dan pacar Sullilah yang tidak tahu kejadian sesungguhnya. Akan berakhir dimanakah hal-hal yang ia lakukan sekarang? Yang lebih penting, kapan ini semua bermulai? Kapan dia yang selalu merasa sakit melihat gadis itu? Sakit melihat gadis itu bahagia. Sakit melihat gadis itu sedih. Kapan?

Sejak mereka bertengkar hebat disebuah malam? Sejak Minho tidak dapat menekan egonya yang kuat untuk meminta maaf duluan? Sejak ia tahu ia terlambat untuk meminta maaf atau memperbaiki hubungan mereka yang sudah berakhir, karena Sulli telah berpacaran dengan orang lain. Ya, sejak itu.

Tapi sebenarnya ia bisa saja memutuskan untuk tidak peduli lagi dengan Sulli. Itu adalah hal yang biasa, dia sudah tidak lagi menjadi pacar Sulli. Kenapa dia harus peduli? Kenapa?

Jawabnnya hanya satu. Karena Minho belum bisa melepaskan Sulli. Minho belum bisa mempercayai orang lain untuk Sulli. Dia masih percaya akan dirinyalah yang bisa melindungi dan membahagiakan Sulli.

 

“It is the only thing that makes us feel alive”

.

.

.

.

Sulli menghela nafas panjang ketika dia tidak menjawab teleponnya. Ia mencampakan hp-nya ke tempat tidurnya. Kemudian, gadis jelita itu melihat sekeliling tempat tidurnya.

Tempat apakah ini? Sangat berantakan. Banyak dari foto-foto Sulli terjatuh dari lantai. Jatuh dari tempat penyimpanannya. Ini semua terjadi karena dia habis bertengkar dengan pacarnya. Bertengkar sangat hebat sampai dia menangis ketika pacarnya pergi. Satu-satunya tempat dia menceritakan keluh kesahnya, Minho oppa, tidak menjawab teleponnya.

Sulli menghela nafasnya. Baiklah. Biarkan masalah dirinya dan Choiza menggantung terlebih dahulu. Ia harus membereskan kamarnya yang sangat berantakan.

Dengan pelan, ia turun dari kasurnya. Memungut foto-foto yang berserakan di lantai. Tangannya terhenti ketika ia memungut salah satu foto favoritenya….

fx-sulli-amber-shinee-jonghyun-key-minho-eithtoo-161

 

“We keep this love in a photograph

 

We made these memories for ourselves

 

Sulli tertawa. Foto ini….. Dia selalu menyimpan foto-foto antara dirinya dengan Minho oppa. Baik foto yang mereka ambil secara sendiri maupun foto yang ia ambil dari internet. Seperti foto yang sekarang ia pegang.

Otaknya memutar kejadian waktu foto tersebut diambil. Minho oppa selalu menjadi orang yang terbaik bagi dirinya. Dia tidak pernah merasa tersanjung seperti itu kecuali dengan Minho oppa.

 

“Where our eyes are never closing

 

Hearts are never broken

 

Times forever frozen still

 

Tatapan Minho oppa yang selalu dalam kepadanya. Penuh makna. Sangat menghargainya. Dan hatinya yang selalu kelelahan karena berdetak terlalu keras setiap melihat matanya. Tetapi senyumannya dan sentuhannya membuat dirinya nyaman. Sangat hangat.

Pada akhirnya, tatapan mata yang selalu meresahkan hatinya berubah makna. Berubah menjadi tatapan yang sangat mencintai dirinya sepenuh hati. Dan Sulli selalu ingin melihat mata yang membuat dirinya sangat nyaman itu.

Deg!

Deg!

Deg!

Sulli memegang jantungnya yang kembali berdetak hebat. Kenangan dulu terlalu menghanyutkan dirinya.

Kriiiing~

Dering handphone membuatnya tersentak. Dengan tangan panjangnya, ia mengambil dan segera mengangkatnya.

“Minho oppa!” Pekiknya senang.

Suara mu terdengar parau Sulli-yah.”

 

“Loving can heal”

 

Hati Sulli menjadi tenang. Satu orang itu yang selalu mengerti dirinya. Dia bahkan tahu jika Sulli habis menangis. Kalimat yang baru saja Dia lontarkan, sedikit menghilangkan kesedihan di hatinya.

“Aku memang payah dalam memberikan saran. Tetapi kau bisa mengandalkanku untuk mendengar seluruh curhatanmu.”

Mendengar kalimat Minho selanjutnya, senyuman Sulli semakin mengembang.

.

.

.

“Loving can mend your soul

 

And it’s the only thing that I know

 

Minho melirik handphone-nya. Tidak ada telepon lagi. Aneh… Biasanya Sulli akan terus meneleponnya sampai ia mengangkatnya. Tapi kenapa gadis itu tidak mengangkatnya?

Minho kemudian mengalihkan pandangannya. Biarkan saja. Untuk sekali ini saja ia ingin… Ingin egois…

Benak itu…. Minho membencinya. Sifat didalam dirinya yang sampai sekarang belum bisa ia kendalikan. Dengan cepat ia mengambil handphone-nya dan segera menelepon Sulli.

“Minho Oppa!” Suara tersebut terdengar parau walau Sulli terdengar senang sekali.

Minho menghela nafas. Mereka bertengkar lagi dan Sulli habis menangis. Gadis ini tipikal pengalah dalam hubungan, termasuk ketika mereka berhubungan.

“Suaramu terdengar parau.” Gumam Minho.

Hening. Sulli tidak menjawab lagi. Mungkinkah? Mungkinkah gadis disebarang itu sedang terdetak karena Minho sangat mengerti dirinya? Ah…. Harapan tersebut kembali muncul. Bersarang di hatinya. Dan entah mengapa, walau hanya sebuah praduga, Minho senang dengan hal itu.

 

“I swear it will get easier

 

Remember that with every piece of ya

 

Lucu tapi nyata. Betapa mudah hati ini terbolak-balik. Bukankah Minho baru saja menanyakan apakah hubungan dirinya-Sulli benar? Sekarang? Dia kembali hanyut kembali kedalam hubungan yang dipertanyakan itu. Juga, dirinya menambahkan ilusi gila kedalam hubungan mereka.

Terkadang kenyataan sangat pahit sehingga orang-orang lebih memilih mengabaikannya. Kemudian menggantikan kenyataan yang lebih pahit itu dengan ilusi berdasarkan apa saja yang membuatnya sakit lakukan.

And if you hurt me

 

That’s OK, baby, only words bleed

 

Inside these pages you just hold me

 

And I won’t ever let you go

.Fin.