[Songfict] Photograph

Photgrap

 Cast: Choi Minho & Choi Sulli

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Ficlet

Author: Ally

***

A/N: Haii semuaaaanyaaaa (?)  Saya akhirnya kembali lagi membawakan fanfiction pertama di bulan September ini ^^  Gak nyangka loh sebentar lagi State of Grace udah satu tahun….  Kali ini saya membuat sebuah Songfict nih… Tentang Minsul.  Ada yang suka couple ini gak?  Okay ngomongnya kebanyakan (?)  Hope you guys like it.

***

 

“Apa? Aku tidak mendengar perkataanmu Key hyung! Sama sekali tidak!” Minho tertawa lepas di sela-sela ia kabur dari amukan Key. Hey, mereka memang sudah tidak muda lagi, tetapi sifat kekanak-kanakan mereka masih ada.

“Yak!! Kembali!!!!” Teriakan Key sukses mengisi droom Shinee yang sudah berbulan-bulan kosong. “Aku tidak mau tahu itu!!! Kembali!!!!!!” Lanjutnya dengan semakin tinggi.

Mereka selalu seperti ini. Onew-Jonghyun-Key-Minho-Taemin. Setiap kali bertemu. Tidak pernah akur. Tapi itulah yang selalu membuat mereka ingin bertemu kembali, ingin berbaikan kendati pada akhirnya menjadi seperti ini.

Minho menghela nafasnya. Lelah akibat terlalu banyak ketawa. Ia merebahkan dirinya ke kasur tidurnya.

Tap! Tap! Tap!

Minho menoleh dan ia segera melotot ke arah orang yang baru saja masuk ke kamarnya, “Jangan terlalu menanggapinya dengan serius hyung. Akukan hanya bercanda.”

Orang yang sekarang telah berada di depan tempat tidurnya mendesis, “Candaanmu membuat diriku semakin tua!”

Minho hanya tertawa kecil, “Seharusnya hyung bisa mengendalikan amarah hyung. Bukan berteriak-teriak tidak jelas seperti tadi.”

“Kau juga jangan suka membuatku marah-marah.” Key mengacak pinggangnya. Kemudian menatap orang yang lebih mudah dengan teduh, “Aku hanya ingin memberi hp-mu. Adik kecilmu menelepon.”

Hening beberapa saat. Minho tidak merespon sama sekali.

“Minho-yah…” Key menyenggol Minho.

 

“Loving can hurt

 

Loving can hurt sometimes

 

Minho menoleh, menerima hp-nya dari tangan Key. Ia bangkit dari tempat tidur dan melihat sebuah missed call. Choi Sulli. Sulli meneleponnya.

“Ada masalah lagi? Dia?”

Minho menghela nafasnya, “Mungkin.”

“Kau harus memperbaiki hal ini Minho. Kau tahu itu.”

Minho hanya bisa menghela nafas lagi, “Bagaimana bisa? Aku tahu aku salah tetapi aku masih mencintainya. Biarkanlah seperti ini.”

“Keadaan dimana dia hanya menganggap dirimu sebagai oppa-nya, kakak laki-lakinya yang akan selalu melindungi dia dan mendukung dia apapun yang terjadi. Tempat dimana dia selalu menceritakan masalah dia apapaun yang terjadi. Meskipun masalah tersebut menyangkut pacarnya yang sama sekali tidak kau sukai karena kau masih mencintainya. Masih mencintainya seperti dulu. Sebagai seorang wanita bukan sebagai saudara.” Key menggigit bibirnya, merasa salah membahasi masalah sensitive ini. Tetapi dia harus membahas hal ini, “Itu menyakitkan Minho. Kau tahu itu.”

“Bukan.” Minho menatap Key, “Keadaannya bukan seperti yang hyung pikirkan. Aku hanya ingin berada disampingnya, mendukungnya apapun yang terjadi. Terus berada disampingnya membantunya dalam semua kesusahan. Sehingga ia sadar, ia sadar jika aku masih mencintainya dengan sepenuh hati.”

Key menatap teman satu grupnya terkejut. Ia kemudian tersenyum pahit, “Terserah dirimu saja. Aku kembali ke ruang tv.”

Minho yang melihat Key pergi juga kembali merebahkan dirinya ke kasur.

 

“But it’s the only thing that I know

 

When it gets hard,

 

You know it can get hard sometimes

 

Dering hp kembali terdengar. Minho kembali melihat hp-nya. Sulli. Lagi-lagi Sulli meneleponnya. Untuk kali ini saja, ia akan membiarkannya. Tidak menjawab telepon Sulli. Hanya sekali ini.

Semua orang disekitar tahu apa yang terjadi antara Sulli-dirinya-dan tentu pacar Sulli. Hanya dirinya-Sulli-dan pacar Sullilah yang tidak tahu kejadian sesungguhnya. Akan berakhir dimanakah hal-hal yang ia lakukan sekarang? Yang lebih penting, kapan ini semua bermulai? Kapan dia yang selalu merasa sakit melihat gadis itu? Sakit melihat gadis itu bahagia. Sakit melihat gadis itu sedih. Kapan?

Sejak mereka bertengkar hebat disebuah malam? Sejak Minho tidak dapat menekan egonya yang kuat untuk meminta maaf duluan? Sejak ia tahu ia terlambat untuk meminta maaf atau memperbaiki hubungan mereka yang sudah berakhir, karena Sulli telah berpacaran dengan orang lain. Ya, sejak itu.

Tapi sebenarnya ia bisa saja memutuskan untuk tidak peduli lagi dengan Sulli. Itu adalah hal yang biasa, dia sudah tidak lagi menjadi pacar Sulli. Kenapa dia harus peduli? Kenapa?

Jawabnnya hanya satu. Karena Minho belum bisa melepaskan Sulli. Minho belum bisa mempercayai orang lain untuk Sulli. Dia masih percaya akan dirinyalah yang bisa melindungi dan membahagiakan Sulli.

 

“It is the only thing that makes us feel alive”

.

.

.

.

Sulli menghela nafas panjang ketika dia tidak menjawab teleponnya. Ia mencampakan hp-nya ke tempat tidurnya. Kemudian, gadis jelita itu melihat sekeliling tempat tidurnya.

Tempat apakah ini? Sangat berantakan. Banyak dari foto-foto Sulli terjatuh dari lantai. Jatuh dari tempat penyimpanannya. Ini semua terjadi karena dia habis bertengkar dengan pacarnya. Bertengkar sangat hebat sampai dia menangis ketika pacarnya pergi. Satu-satunya tempat dia menceritakan keluh kesahnya, Minho oppa, tidak menjawab teleponnya.

Sulli menghela nafasnya. Baiklah. Biarkan masalah dirinya dan Choiza menggantung terlebih dahulu. Ia harus membereskan kamarnya yang sangat berantakan.

Dengan pelan, ia turun dari kasurnya. Memungut foto-foto yang berserakan di lantai. Tangannya terhenti ketika ia memungut salah satu foto favoritenya….

fx-sulli-amber-shinee-jonghyun-key-minho-eithtoo-161

 

“We keep this love in a photograph

 

We made these memories for ourselves

 

Sulli tertawa. Foto ini….. Dia selalu menyimpan foto-foto antara dirinya dengan Minho oppa. Baik foto yang mereka ambil secara sendiri maupun foto yang ia ambil dari internet. Seperti foto yang sekarang ia pegang.

Otaknya memutar kejadian waktu foto tersebut diambil. Minho oppa selalu menjadi orang yang terbaik bagi dirinya. Dia tidak pernah merasa tersanjung seperti itu kecuali dengan Minho oppa.

 

“Where our eyes are never closing

 

Hearts are never broken

 

Times forever frozen still

 

Tatapan Minho oppa yang selalu dalam kepadanya. Penuh makna. Sangat menghargainya. Dan hatinya yang selalu kelelahan karena berdetak terlalu keras setiap melihat matanya. Tetapi senyumannya dan sentuhannya membuat dirinya nyaman. Sangat hangat.

Pada akhirnya, tatapan mata yang selalu meresahkan hatinya berubah makna. Berubah menjadi tatapan yang sangat mencintai dirinya sepenuh hati. Dan Sulli selalu ingin melihat mata yang membuat dirinya sangat nyaman itu.

Deg!

Deg!

Deg!

Sulli memegang jantungnya yang kembali berdetak hebat. Kenangan dulu terlalu menghanyutkan dirinya.

Kriiiing~

Dering handphone membuatnya tersentak. Dengan tangan panjangnya, ia mengambil dan segera mengangkatnya.

“Minho oppa!” Pekiknya senang.

Suara mu terdengar parau Sulli-yah.”

 

“Loving can heal”

 

Hati Sulli menjadi tenang. Satu orang itu yang selalu mengerti dirinya. Dia bahkan tahu jika Sulli habis menangis. Kalimat yang baru saja Dia lontarkan, sedikit menghilangkan kesedihan di hatinya.

“Aku memang payah dalam memberikan saran. Tetapi kau bisa mengandalkanku untuk mendengar seluruh curhatanmu.”

Mendengar kalimat Minho selanjutnya, senyuman Sulli semakin mengembang.

.

.

.

“Loving can mend your soul

 

And it’s the only thing that I know

 

Minho melirik handphone-nya. Tidak ada telepon lagi. Aneh… Biasanya Sulli akan terus meneleponnya sampai ia mengangkatnya. Tapi kenapa gadis itu tidak mengangkatnya?

Minho kemudian mengalihkan pandangannya. Biarkan saja. Untuk sekali ini saja ia ingin… Ingin egois…

Benak itu…. Minho membencinya. Sifat didalam dirinya yang sampai sekarang belum bisa ia kendalikan. Dengan cepat ia mengambil handphone-nya dan segera menelepon Sulli.

“Minho Oppa!” Suara tersebut terdengar parau walau Sulli terdengar senang sekali.

Minho menghela nafas. Mereka bertengkar lagi dan Sulli habis menangis. Gadis ini tipikal pengalah dalam hubungan, termasuk ketika mereka berhubungan.

“Suaramu terdengar parau.” Gumam Minho.

Hening. Sulli tidak menjawab lagi. Mungkinkah? Mungkinkah gadis disebarang itu sedang terdetak karena Minho sangat mengerti dirinya? Ah…. Harapan tersebut kembali muncul. Bersarang di hatinya. Dan entah mengapa, walau hanya sebuah praduga, Minho senang dengan hal itu.

 

“I swear it will get easier

 

Remember that with every piece of ya

 

Lucu tapi nyata. Betapa mudah hati ini terbolak-balik. Bukankah Minho baru saja menanyakan apakah hubungan dirinya-Sulli benar? Sekarang? Dia kembali hanyut kembali kedalam hubungan yang dipertanyakan itu. Juga, dirinya menambahkan ilusi gila kedalam hubungan mereka.

Terkadang kenyataan sangat pahit sehingga orang-orang lebih memilih mengabaikannya. Kemudian menggantikan kenyataan yang lebih pahit itu dengan ilusi berdasarkan apa saja yang membuatnya sakit lakukan.

And if you hurt me

 

That’s OK, baby, only words bleed

 

Inside these pages you just hold me

 

And I won’t ever let you go

.Fin.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “[Songfict] Photograph

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s