State of Grace (Chapter 13)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Krystal tersentak melihat Wendy sedang di depan gallery. Dia menelan ludahnya, berharap ini bukan dari dampak yang ia ucapkan tadi pagi.

“Ah!” Krystal menahan nyeri ketika Wendy mencengkram erat tangannya. Ia kemudian menarik Krystal kasar pergi menjauhi gallery.

“Yak!” Krystal berusaha menarik tangannya dari cengkraman Wendy. Tapi itu tidak melonggarkan cengkraman tangan Wendy, malah semakin mempereratnya. Menariknya semakin menjauh dari gallery. Menuju sebuah pertigaan dan berbelok mengikuti pertigaan tersebut.

“Wendy-ah, lepaskan tanganku!” Teriak Krystal tertahan rasa nyeri. Sungguh, tangannya pasti sudah memerah saat ini.

“Diam!” Teriak Wendy dengan mata yang menatap tajam Krystal. “Diam dan jangan panggil aku seperti itu!” Wendy mendekatkan dirinya ke arah Krystal, menipiskan jarak di antara mereka, “Jangan pernah merasa akrab dengan diriku!” Katanya tajam. Menusuk pendengaran Krystal.

Krystal menghela nafasnya, “Kalau begitu kau harus melepaskan cengkraman tanganmu. Karena aku juga tidak suka diperlakukan semena-mena!” Krsytal kemudian menatap tajam Wendy, “Apa lagi dengan orang yang tidak ku kenal!”

Perkataan Krystal membuat amarah Wendy naik. Dia memundurkan dirinya beebrapa langkah dari Krystal. Menyebabkan tangan Krystal terlepas dari cengkramannya. Menghirup nafas dalam-dalam. Sedalam rasa ingin berbuat kasar terhadap gadis di depannya.

.

.

.

.

Krystal mengambil ancang-ancang berlari ketika Wendy sedang memejamkan matanya. Berjalan mundur pelan-pelan dan-

“Kau gadis menyebalkan!” Hentakan suara Wendy menghentikan langkahnya. Krystal terdiam. Rasa takut tambah menyerang dirinya.

Wendy kembali membuka matanya. Kali ini, terdapat rasa amarah yang membara di matanya, “Kau pikir kau siapa?! Bisa berpacaran dengan Oh Sehun?! Kau bukan siapa-siapa! Kau hanya seorang yang lebih rendah darinya! Seharusnya kau tahu malu!”

Bentakan Wendy di tengah malam yang sunyi, dan pastinya bukan di tempat yang tepat membuat Krystal semakin ciut. Dia tidak menyangka Wendy adalah tipe yang seperti ini, ‘Akan berbuat apa saja demi yang ia inginkan tercapai.

“Wendy-ah..

Krystal langsung mengumpat di dalam hati ketika kata itu terucap. Kenapa ia lagi-lagi mengucapkan kata itu? Entahlah.

Plak!

Satu tamparan dari Wendy berhasil mendarat di pipi Krystal. Krystal meringis, merasakan panas di pipinya.

“Sudah cukup!” Satu suara dari belakang mengangetkan mereka berdua. Oh, tidak…

.

.

.

.

Sehun menatap gallery ibunya dengan tatapan bingung. Sudah tutup? Ia menatap jam tangannya. Jam tujuh malam. Seharusnya gallery ini belum tutup. Apalagi ketika Krystal bilang jika ia akan pulang jam tujuh malam, seharusnya gallery belum tutup.

Sehun terlihat menimang-nimang sesuatu. Kemudian ia menghela nafas. Apa Krystal berbohong padanya? Tidak. Tidak mungkin. Mungkin Krystal juga baru pulang. Kemudian kelaparan sehingga pergi ke sebuah mini-market untuk membeli makanan? Dan Krystal akan meneleponnya setelah sampai di mini-market ?

Jika ia tidak salah mini market terletak tidak jauh dari gallery ibunya. Baiklah. Dia akan berjalan menuju mini market tersebut. Sehun mulai melangkahkan kakinya. Menjauhi gallery ibunya. Berjalan lurus ke sebuah pertigaan besar. Melewati banguna-bangunan lain yang juga sudah tutup. Daerah ini seperti kota mati sebenarnya. Jika sudah malam, tidak terlihat sedikitpun aktivitas.

Dari kejauhan, seperti gema, Sehun mendengar sebuah suara. Lebih mirip bentakan. Ia tertawa kecil. Suara itu, ia mengenalnya. Tapi mana mungkin orang itu berada disini? Untuk apa?

Deg!

Wendy. Suara itu adalah suara Wendy. Apa yang Wendy lakukan disini? Pikirannya mulai bermikiran hal buruk. Terutama hal yang bersangkutan tentang Krystal. ‘Semoga tidak terjadi apa-apa,’ Gumam Sehun di dalam hati.

Ia mempercepat langkahnya, hampir menyerupai lari.

“Sudah cukup!” Teriak Sehun tanpa sadar melihat apa yang baru saja Wendy lakukan kepada Krystal.

.

.

.

.

Wendy dan Krystal tersentak. Wendy segera mundur beberapa langkah. Sedangkan Krystal menatap Sehun terbelak.

Sehun sendiri melangkahkan kakinya maju. Berada di tengah-tengah mereka. Menatap Wendy tajam dan memunggungi Krystal.

“Wendy-ah…” Suara tajam dari Sehun menggetarkan tubuh Wendy dan Krystal. Teramat takut mendengar suara berat itu.

“Jadi ini sifat aslimu yang sebenarnya?! Jadi ini?! Marah-marah tidak jelas! Sebenarnya hal apa yang membuatmu marah?!”

Wendy menundukan pandangannya. Terlalu takut untuk menghadapi Sehun. Sehun selalu lembut kepadanya. Selalu. Tidak pernah marah seperti ini.

Melihat respon Wendy yang hanya diam membuat amarah Sehun naik. Bahu menengang seiring naiknya amarah.

“Sehun-ah…” Suara lembut dari belakangnya membuat Sehun segera menoleh. Tatapannya melunak, menatap lembut Krystal.

Krystal hanya terdiam menahan nangis. Takut dengan apa yang akan Sehun lakukan selanjutnya, “Hentikan semua ini.” Lirih. Suara itu hampir terdengar seperti bisikan. Krystal kali ini kembali berbicara dengan menatap Sehun, “Hentikan semua ini. Kita pergi saja dari sini.”

Sehun menatap gadis di depannya dengan rasa sakit. Dia tahu dia salah. Dia seharusnya bisa bersikap lebih dewasa. Krystal pasti masih syok karena dibentak oleh Wendy. Ditambah lagi oleh dirinya yang diambang batas sabar, yang bisa saja melakukan hal yang tidak –tidak.

Sehun mengenggam tangan Krystal. Berusaha memberi rasa aman. Dia kemudian berbalik menghadap Wendy, “Masalah ini belum selesai.” Setelah menyelesaikan kalimat itu, ia segera menarik tangan Krystal pergi dari hadapan Wendy.

.

.

.

.

Krystal hanya diam ketika Sehun memasukannya ke dalam mobil. Ketika Sehun menjalankan mobilnya, menembus jalanan macet Seoul, Krystal masih diam menatap kosong jalanan. Sekarang, ketika Sehun menghentikan mobilnya di depan Coffe Shop, Krystal masih belum bersuara sedikit pun.

Sehun menghela nafasnya, “Krys…” Panggil Sehun lembut.

Krystal menoleh. Matanya sedikit berair. Seperti…… Seperti sedang menahan tangisan. Merasa tangisannya akan turun Krystal segera mengalihkan pandangannya. “Maaf aku hanya-“

Krystal berhenti berbicara ketika merasa tangan lembut Sehun menyentuh pipnya. Menolehkan wajahnya ke kanan, kearah Sehun sendiri.

“Kau tidak perlu meminta maaf. Seharusnya akulah yang meminta maaf.” Sehun mengelus pipi Krystal, “Maafkan aku Krystal Jung. Karena tidak bersikap dewasa dan terbawa emosi tadi.”

Tangisan Krystal lolos. Krystal berusaha mengalihkan wajahnya, tertahan oleh tangan Sehun.   Dia menatap Sehun.

“Aku minta maaf….” Ucap Sehun sekali lagi dan menarik Krystal kedalam pelukannya.

.

.

.

.

Dentuman musik yang memekakan telinga bagaikan gaung di telinga Wendy. Di tengah hingar bingar ini, Wendy memfokuskan dirinya untuk meminum segelas cairan memabukan. Cairan yang akan membuatnya lupa tentang fakta yang baru saja terjadi.

“Lagi….” Pinta Wendy parau.

Bartender di depannya menatap Wendy dengan tatapan menyipit, “Kurasa Anda sudah cukup mabuk.”

“Mabuk?! Aku tidak mabuk! Aku baru saja meminum beberapa gelas dan kau bilang aku mabuk?! Kau buta yah?” Wendy berteriak-teriak tidak jelas.

Sang bartender hanya bisa mengelengkan kepalanya dan memberi kembali gelas baru. Tentu masih berisi hal yang sama.

Wendy tersenyum riang. Tangannya menjulur ingin mengambil.

Grep!

Sebuah tangan menahan uluran tangan Wendy. Mencengkram tangan Wendy.

“Kau mabuk!” Kata orang yang menahan tangan Wendy.

Si bartender kembali lagi, “Oh, kau mengenalnya?”

Orang tersebut hanya menganggukan kepalanya, “Biar aku yang mengurusinya. Sekaligus bill nya.”

Bartender mengangguk. Segera ke kasir, menghitung minuman yang Wendy minum, dan kembali lagi membawa bill.

Orang tersebut melihat dan langsung mengambil dompetnya untuk mengeluakan secarik uang, “Ambil saja kembaliannya.”

Bartender mengangguk patuh dan menghilang.

Setelah bartender menghilang, orang tersebut duduk di bangku depan Wendy, “Wendy-ah… Hei…..” Ia sedikit menggucangkan tumbuh Wendy agar Wendy sadar.

“Eunggh….” Lenguh Wendy yang jauh dari kata sadar.
“Wendy….” Katanya masih mencoba untuk menyadarkan Wendy.

Perlahan-lahan mata Wendy terbuka. Kemudian senyum merekah, “Sehun-ah…. Sehun-ah kau datang menjemputku? Kenapa mengkhawatirkanku?”

Orang di depan Wendy menghela nafasnya. Ia bukan Sehun. “Iya. Ayo kita pulang.”

Wendy mengangguk patuh. Orang tersebut membatu Wendy bangkit dan berjalan.

“Apakah kau benar-benar mencintai Sehun?” Tanya orang tersebut di sela-sela keluar dari bar di daerah Gangnam.

Wendy menatap orang disampingnya heran, “Kenapa kau bertanya seperti itu Sehun-ah? Apakah kau masih ragu? Baiklah. Ya, aku benar-benar mencintaimu.”

Orang tersebut memejamkan matanya, “Benarkah?” Tanyanya dengan suara serak. “Bagaimana dengan Mark? Apakah kau sudah melupakannya?”

.TBC.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s