Flipped (Chapter 10)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Benang Merah yang Tak Pernah Putus

Krystal berhenti sejenak sambil menatap laptopnya.  Sebuah pertanyaan yang tidak terduga dan dari orang yang juga tak terduga.

***

Brak!
“Aaahhhh…..” Sehun meringis ketika Chanyeol melempar proposal penelitian setebal 50 halaman. “Park Chanyeol!” Geram Sehun dengan tatapan marah.

Bukannya meminta maaf, Chanyeol berbicara dengan suara yang lumayan kencang, “Bangun!!!! Hari ini bagian dirimu yang membeli sarapan!”
Sehun meringis. Pertama, karena kepalanya yang berdenyut. Kedua, karena ia tidak pernah menyangka harus tinggal selama dua tahun ini menghadapi Chanyeol, yang notabane-nya lebih cerewet daripada ibunya.

Dengan malas Sehun bangun. Tidak gosok gigi atau mencuci muka, ia mengambil coat-nya. Memakainya untuk menutup baju tidurnya.

“Setidaknya pakailah baju yang benar. Kau tidak takut sakit akibat angin musim gugur yang semakin dingin?”

“Yang penting aku mau membelinya.” Jawab Sehun. Cuek.

Sepanjang jalan keluar dari flat banyak yang menyapanya. Rata-rata adalah mahasiswi yang juga tinggal di flat mereka. Hanya dirinya, Chanyeol dan Jongdae yang mahasiswa. Tapi sekarang Jongdae sudah pindah, menyisakan satu kamar kosong.

Flat yang ia tempati dekat dengan kampusnya. Hanya satu kali naik bus. Banyak minimarket dan restaurant. Dan tentunya wifi dimana-mana. Membuat segalanya menjadi hemat.

Sudah dua tahun ini dia tinggal di Flat. Karena retaknya hubungan dia dan orangtuanya. Kedua terlihat sangat kecewa karena mereka berdua yakin Sehun ikut andil atau setidaknya tahu rencana malam itu.   Setelah hampir tiga bulan lamanya dia dan kedua orangtuanya saling diam, Sehun akhirnya memutuskan untuk pindah dari rumahnya. Menyewa flat yang sekarang ia tempati dengan Chanyeol dan Jongdae. Bahkan ia tidak pernah menerima uang saku dari kedua orangtuanya. Orantuanya hanya membayar uang kuliah.

Perlu dia akui jika tinggal di rumahnya jauh sangat-sangat-sangat nyaman daripada di flat. Apalagi dengan atap yang selalu bocor setiap hujan. Angin yang selalu menerobos karena jendala yang rusak. Jangan lupa, perjanjian konyol dirinya dan Chanyeol tentang pembagian tugas dirumah, yang entah mengapa ia setujui membuatnya sangat malas. Siapa yang menyangka jika Chanyeol orangnya sangat bersih? Sehingga mewajibkan seluruh orang yang tinggal di flat menyapu, mengepel, menyikat kamar mandi. Ia bahkan membuat jadwal piket. Barang siapa yang tidak melakukannya…. Buku atau teriakan kencang akan tersaji.

“Seperti biasa bukan?”
Sehun mengangguk. Ia langsung memberikan sejumlah uang kepada Bibi Koo, salah satu pemilik kedai makanan yang selalu menjual roti bakar setiap paginya.

“Kemana teman flat mu yang sangat manis itu? Aku tidak melihatnya beberapa minggu ini.”

Sehun tersenyum kecil mendengarnya. Pasti Jongdae. Ia mengenal beberapa panggilan kedua temannya di lingkungan ini. Chanyeol si cowok hiperaktif. Jongdae si manis. Sedangkan dia? Mungkin, Sehun si datar.

“Jongdae pindah. Dia tinggal bersama kakak perempuannya sekarang.”

“Sayang sekali…” Kata Bibi Koo dengan raut yang benar-benar sedih. Dia kemudian memberikan makanan yang dipesan dan uang kembalian.

“Terimakasih Bibi Koo.” Sehun membungkukan badannya sebelum pergi menjauhi kedai.

.

.

.

.

Sehun sudah agak segaran. Wajahnya tidak lagi seperti baru bangun tidur. Dia sudah mandi. Ia segera duduk di sofa yang terletak di tengah-tengah dari kamarnya, kamar Chanyeol, dan kamar Jongdae-dulunya. Mengambil rotinya. Kemudian melahapnya sambil melihat tv dengan Chanyeol.

Penampilan Chanyeol lebih rapi daripada Sehun. Sehun sudah mengetahui mengapa Chanyeol seperti itu. Chanyeol selalu mengunjungi orangtuanya setiap hari Sabtu. Menginap selama satu hari dan pada hari minggunya ia kembali ke flat-nya. Sebuah hal yang tidak pernah ia lakukan semenjak keluar dari rumahnya.

“Kau tidak kemana-manakan?”
Sehun menjawab pertanyaan Chanyeol dengan mengangguk.
“Bagus. Ada orang yang ingin melihat kamar Jongdae. Tolong urus dia.”

Sehun kini menatap Chanyeol, “Penyewa baru?” Tanya Sehun dengan antusias. Okay, ini adalah berita yang sangat bagus. Dengan tidak adanya Jongdae, dia dan Chanyeol membagi dua biaya sewa mereka dan itu hampir membuatnya putus asa. Harus menyesuaikan kondisi keuangannya.

Chanyeol mengangkat bahunya, “Belum tahu. Dia bilang jika ingin melihat terlebih dahulu. Menurutku sih, itu adalah hal yang sangat lumrah. Jadi urusin dia ya? Perlakukan ia dengan baik-“

“Ya, ya, ya.” Potong Sehun malas. Malas mendengarkan rentetan kalimat Chanyeol yang sangat panjang. Terlalu cerewet, gumam Sehun di dalam hatinya. Sehun kemudian berdehem, “Serahkan saja padaku.”

.

.

.

.

Krystal terhenti sejenak sambil menatap laptopnya. Sebuah pertanyaan yang tidak diduga-duga dan dari orang yang juga tak terduga.

“Bagaimana kabar Sehun juga? Kau tetap berhubungan bukan dengannya?”

Ia menghela nafas. Kemudian memberengut. Kenapa pula Sehun harus disebut-sebut? Setelah menimang-nimang sejenak, ia membalas email dari sahabat kecilnya.

“Kami sibuk dengan urusan kami masing-masing.”

Jarinya langsung menekan tanda sent dengan tenaga yang lebih kuat dari seharusnya. Tentunya tanpa ia sadari.

Krek~

Kali ini bukan sebuah email yang masuk melainkan bibi Kwon yang masuk. Bibi Kwon mengeluarkan sebuah senyum simpul. Terukir manis di balik garis wajah yang sudah tua. Meletakan sebuah nampan berisi makanan. Kemudian kembali keluar.

Krystal menoleh sedikit, menatap makanan apa yang di antar. Ia menghela nafas melihat makanan tersebut. Sup Ayam. Kenapa harus itu? Sup? Ayolah…. Dia bukanlah seorang yang sedang sakit.

Mungkin jika melihat seorang mengantarkan makanan kepadanya, ke kamarnya, juga makanan tersebut adalah Sup Ayam, sebagian besar mengira jika Krystal sedang sakit. Tetapi dia tidak sakit. Itu adalah peraturan di rumahnya. Peraturan tidak tertulis sejak kejadian sekitar dua tahun itu. Mungkin kedua orangtuanya terlalu kecewa kepadanya hingga melakukan hal ini. Mereka tidak pernah lagi berbicara. Ah, jangankan berbicara, bertatap muka lagipun tidak pernah. Semua perlengkapannya dikirim ke kamarnya. Termasuk makan pagi, siang, dan malam. Kehidupannya berjalan di sekolah dan kamarnya saja.

Tring!

Krystal tersentak dari lamunannya. Ia masih saja mengingat hubungan dirinya dengan kedua orangtuanya. Walaupun sudah ratusan kali atau bahkan ribuan, tetap saja dia merasa tersakiti dengan fakta tersebut.

Krystal kembali menatap laptopnya. Ia membuka pesan dari sahabatnya.

“Benarkah? Kurasa dunia perkuliahan memang sangat sibuk. Dimana kau kuliah? Oh, ya aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan dirimu lagi.”

Dengan cepat dia membalas,

“Aku juga tidak sabar untuk bertemu dengan dirimu lagi. Kapan dirimu sampai di Korea?”

Lagi-lagi ia memencet tombol kirim. Krystal berbalik, mengambil makan siangnya dan memakannya di depan laptopnya. Setelah 20 detik, sebuah email masuk.

“Hari ini. Aku sedang berada di dalam pesawat. Tapi kita mungkin baru bisa bertemu lusa atau minggu depan. Setelah aku menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah.”

“Astaga! Kau tadi berkata seakan-akan baru pulang minggu depan 😀 Hahahahaha … Tenang saja tentang kita bertemu. Yang penting dirimu merasa nyaman kembali di sini.”

“Aku merindukanmu Krystal.”

“Aku juga”

Setelah 15 menit tidak ada balasan lagi, Krystal keluar dari email-nya. Mematikan laptopnya. Kembali menyantap mangkuk berisi sup ayam yang hangat.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Hiks….. Hiks…. Hiks…” Krystal kembali menghapus airmatanya.

Kenapa dia harus menangis? Dia juga tidak tahu. Dia hanya bertemu dengan ibunya Sehun. Kenapa semuanya terasa menyakitkan?

Tring!

Krystal mengambil hp-nya yang ada di atas meja. Sms dari Luhan.

Kau mengecewakanku Krys~

Helaan nafas keluar. Luhan memang seseorang yang baik. Ditambah tampangnya yang sangat imut. Tetapi ia paling tidak suka dikhianati. Bahkan seseorang yang membatalkan janjinya saja ia sangat tidak suka. Intinya, sekali dirimu berbicara sesuatu maka harus ditepati.

Maaf… Ini benar-benar keadaan darurat. Ku harap kau bisa mengerti.

Krystal menekan tombol send. Hanya tiga detik, sebuah balasan masuk,

Aku mengerti…. Tetapi tetap saja, kau mengecewakanku.

Krystal mendecak sebal. Ya, ampun…. Apa tidak ada yang benar-benar mengerti dirinya? Menuntut dan menuntut! Dengan kesal, Krystal membalas pesan Luhan,

Kalau dirimu mengerti setidaknya dirimu tidak akan mengatakan kecewa kepadaku! Kau seharusnya mengatakan, ‘Tidak apa-apa, Krys.. Ini bukan masalah penting’.

Send~

Tidak lama kemudian, Krystal kembali mendecak. Kesal, terhadap dirinya sendiri yang terlalu terbawa emosi. Luhan memang seperti itu, seharusnya ia mengerti.

Luhan….

Krystal mengirim pesan baru. Berharap Luhan membalasnya, walau ia yakin Luhan akan menyapanya beberapa hari kemudian.

Luhan….

Krystal kembali mengirim pesan 10 menit kemudian.

Luhan….

Pesan ketiga terkirim. Setelah limabelas menit berlalu, Krystal menutup harapan jika Luhan akan membalas pesannya.

Tring~

Krystal tersentak. Dengan penuh harap, ia membuka pesan yang masuk dari Luhan.

Temui aku di apartment ku… Kau harus menjemputku sebelum kita pergi bersama, mengerti?

Krystal tersenyum lega. Tanpa maaf ia tahu, Luhan telah memaafkannya.

.

.

.

.

Hufh~

Sebuah uap keluar dari mulut Krystal. Ia mengeluarkan lipbalm dari kantong jaketnya, menempelkannya di bibirnya yang kering. Setelah selesai, ia menaruhnya kembali dan mengambil handphone-nya. Yang juga berada di dalam kantong jaketnya. Mengecek nomor yang tertera di sebuah gedung dengan yang ada di pesan Luhan. Sama. Krystal melihat gedung dengan seksama, terlalu sederhana untuk di tempati oleh anak seperti Luhan, yang notabane-nya anak orang kaya.

“Hahahahaha…. Ia kelihatan sangat culun bukan?”

“Ini apartment-mu?”

“Eum, benar!”
Krystal menoleh ke arah dua perempuan yang sedang berjalan ke arahnya. Sebuah ide pun muncul. Sebuah senyuman terukir dari bibirnya. Kedua perempuan tidak menyadari keadaan Krystal. Salah seorang dari mereka, yang memakai jaket hitam mengeluarkan kunci dan membuka pintu. Saat mereka berdua masuk, Krystal diam-diam menahan pintunya dan juga ikut masuk.

“Astaga!” Krystal tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebuah tangga yang…. Errr… Dia tidak bisa membayangkan untuk menge-check setiap kamar untuk mengetahui kamar Luhan di setiap lantai dengan tangga seperti ini.

“Lantai lima bukan?”

Lagi-lagi Krystal menoleh dan mendapati dua orang perempuan masuk. Ia menarik sudut bibirnya. Sebuah ide muncul.

“Permisi…” Sapa Krystal kepada dua orang perempuan yang baru saja masuk. “Sahabatku berada disini. Namanya Luhan, ia baru saja pindah ke sini. Tadi dia mengizinkan ku masuk tapi lupa memberi tahu letak kamarnya. Ia bilang cari saja sendiri nanti juga ketemu. Tapi aku tidak yakin, aku selalu tersesat. Bisakah kalian menunjukannya pada ku?” Krystal mengulas senyumannya di akhir kalimat. Memberi polesan terakhir untuk aktingnya yang apik.

“Luhan…” Perempuan yang membawa buku terlihat berpikir, “Aku tidak pernah mendengarnya. Apakah dia laki-laki?”

Krystal merasa aneh, tetapi ia hanya mengangguk pelan.
“Hey, kudengar ada yang baru saja menggantikan Jongdae. Mungkin itu dia?”

Perempuan yang pertama kali bicara menghadap temannya, “Oh, benarkah? Aku tidak mengetahui hal itu.” Ia kemudian menoleh ke arah Krystal, “Kalau begitu kamar 309. Di lantai tiga. Nanti dari tangga belok ke kiri. Kamarnya tidak jauh dari tangga tersebut. Letaknya di bagian kanan.”

Krystal mengucapkan terimakasih kepada dua orang tersebut. Bersama-sama, mereka menaiki tangga. Tetapi Krystal membiarkan mereka berdua lewat. Ia tidak yakin tangga kuat menopang tiga orang karena, dua orang saja tangga terasa goyang. Ia bersandar di dinding menahan rasa takut.

Saat ia rasa tangga tidak terlalu goyang, Krystal mulai melangkah. Cepat tetapi tidak sampai membuat tangga bergoyang. Dia selalu berdoa agar tidak jatuh setiap kali beberapa perempuan terburu-buru melewati tangga mengerikan ini.

Tap!

Krystal bernafas lega ketika sudah sampai di lantai tiga. Mengikuti petunjuk dari dua orang tadi, Krystal dengan mudah menemukan kamar Luhan. Sesuai dikatakan perempuan tadi, belok kiri dari tangga, tidak jauh dari situ kamarnya di sebelah kanan. Dengan yakin Krystal mengetok pintu kamarnya.

Tok~ Tok~ Tok~

Ketuk Krystal untuk kedua kalinya.

Trek~

Pintu terbuka. Krystal langsung memasang senyum lebarnya.

“Krystal?!”

“Sehun…” Ucap Krystal lirih. “Apa yang kau lakukan di flat milik Luhan?”

Sehun sedikit terkejut. “Ini juga flat-ku.”

Krystal terdiam. Menundukan kepalanya. Kemudian menghela nafas, “Aku ingin bertemu dengan Luhan.”

Sehun menganggukan kepalanya, “Luhan tadi pergi bersama Chanyeol. Masuklah. Tunggu sebentar di dalam. Kau tidak mungkin menunggu di luar bukan?”

Krystal menelan ludahnya. Ide yang buruk. Sangat buruk. Apa yang Sehun lakukan? Dia kira semua keadaan sudah baik-baik saja?

“Aku tidak ada maksud lebih apalagi menganggap semua keadaan baik-baik saja. Aku hanya menawarkan dirimu masuk ke flat agar tidak kedinginan di luar. Itupun kalau dirimu mau.”

Krystal masih diam. Hanya menatap Sehun.
“Kau terlalu banyak berpikir. Baiklah akan ku tutup.” Sehun kemudian mundur dari pintu. Tangan kanannya mendorong untuk menutup pintu.

“Tunggu! Aku masuk!”

Krystal langsung mendorong pintu.

Deg!

Krystal sangat terkejut ketika tangan Sehun tiba-tiba mencegat dirinya di depan pintu. “Kamar ini sangat berantakan. Jangan protes.” Sehun langsung berbalik dan membiarkan Krystal masuk, juga menutup pintunya.

“Hah?!”

Sehun mencebik, “Bukannya sudah ku bilang jangan protes?”

Krystal kembali menatap Sehun dan tidak bisa berkata apa-apa. “Ini… Dimana aku bisa duduk?” Tanya Krystal sambil melihat tumpukan kertas di mana-mana. Termasuk di sofa.

“Duduklah di ruang makan.” Jawab Sehun cuek. “Kau perlu aku buatkan teh? Jika tidak, aku akan masuk ke kamarku.”

Krystal hanya menggeleng lemah.

.TBC.

Advertisements

2 thoughts on “Flipped (Chapter 10)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s