flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Tiga Serangkai

Itu semua karena satu orang, mereka akhirnya kembali bersatu. Tetapi dalam diam. Hanya menampakan sebuah topeng. Kalut dalam rahasia terpendam. Orang itu, terlalu berharga untuk dihancurkan oleh suatu hal. Orang itu, seharusnya tidak pernah kembali lagi daripada tersakiti oleh hal-hal yang terjadi ketika ia pergi….

***

Krystal sudah menolak di buatkan teh, tetapi pada akhirnya secangkir teh hangat tersaji di depannya. Luhan yang membuatnya, bukan Sehun.

“Lucu bukan aku akhirnya tinggal satu apartment dengan Sehun?”

Krystal tersenyum kecil, “Lebih tepatnya mengejutkan.” Jawabnya jujur.

“Mengejutkan dan aneh aku bisa tinggal bersama Sehun.”

Krystal hanya terdiam. Oh, berbicara tentang Sehun, lelaki itu sedang di kamarnya. Entah apa yang ia katakan pada Luhan sehingga bisa lolos dari Luhan yang meninginkan ia juga ikut meminum teh bersama Krystal. Hal ini membuat Krystal dapat bernafas lebih lega. Setidaknya Sehun menjauh darinya.

Satu lagi, Chanyeol. Laki-laki yang lucu. Setidaknya itu yang Krystal pikirkan ketika Chanyeol memperkenalkan dirinya. Juga nyetrik. Chanyeol juga sedang berada di kamarnya. Mereka berdua-Chanyeol dan Sehun sibuk menyelesaikan proposal penelitian mereka yang deadline-nya sebentar lagi.

“Bagaimana jika kita makan malam di sekitar sini? Sekaligus mengetahui daerah ini?”

Pertanyaan Luhan kembali menyadarkan Krystal dari lamunannya, “Ide yang bagus. Ayo!”

“Aku akan mengajak Sehun juga. Dia pasti sudah mengetahui daerah sini!”

Krystal membulatkan matanya. Tidak! Ide buruk! “Kenapa harus dengan Sehun?”

“Kenapa?” Luhan menatap Krystal aneh.

“Ah…” Krystal sedikit bingung ingin menjawab apa. Dengan satu tarikan nafas, ia menjawab, “Sehun sedang mengerjakan proposal penelitiannya.”

Luhan menganggukan kepalanya, “Kau benar juga…” Ia kemudian tersenyum, “Kalau begitu kita berdua saja. Tunggu, aku akan mengganti bajuku.” Luhan berjalan menuju kamarnya.

Krystal bernafas lega. Ia kembali meminum tehnya.

Trek~

Luhan dan Krystal langsung menoleh ke asal suara, pintu kamar Sehun.

Dengan tenang, Sehun keluar dari kamarnya. Ia menggunakan jaket tebal bewarna hitam dipadu dengan celana jeans dan sepatu hitam. Sehun berhenti sejenak menatap Luhan dan Krystal bergantian.

“Kenapa dengan kalian?” Tanya Sehun masih menatap Luhan dan Krystal bergantian.

“Kau ingin keluar?” Bukannya menjawab, Luhan malah bertanya kepada Sehun.

“Aku ingin makan di luar. Bosan berada di kamar.”

Luhan tersenyum lebar mendengar jawaban Sehun, “Kau harus ikut aku dan Krystal makan malam!”

.

.

.

.

.

Luhan-Krystal-Sehun. Mereka adalah sahabat akrab ketika sekolah dasar. Tiga serangkai adalah nama yang mereka berikan kepada mereka sendiri. Awalnya, Krystal dan Sehun terlebih dahulu yang bersahabat. Berawal dari duduk sebangku, Krystal dan Sehun menjadi teman yang tidak terpisahkan. Ini berlangsung dari kelas 1 hingga kelas 2.

Pada kelas 3, Sehun dan Krystal tidak berada di kelas yang sama. Walau begitu mereka tetap berteman. Tidak sedekat dulu, ditambah mereka berdua telah menemukan dunia mereka masing-masing. Krystal menemukan dunia menulis dan bercita-cita menjadi seorang novelis. Sehun sedang asik-asiknya bermain basket. Mereka hanya bertemu ketika saat makan siang, saat pulang sekolah dimana Sehun selalu menemani Krystal hingga gadis tersebut di jemput, dan saat dimana mereka datang di pesta teman orangtua mereka.

Saat kelas 3 lah Luhan masuk ke kehidupan mereka. Sehun mengenalkan Luhan sebagai teman sebangkunya di sebuah acara teman orangtua mereka. Sejak saat itu Luhan bergabung ke Sehun dan Krystal. Saat makan siang, saat pulang sekolah, dan tentunya saat ada pesta teman orangtua dari masing-masing mereka.

Persahabatan mereka sangat unik. Dimana Sehun adalah ketua basket dan Luhan adalah ketua futsal. Kedua tim yang selalu bertengkar karena masing-masing ingin menjadi penyumbang piala terbanyak di sekolah. Kali ini, dibawah Sehun dan Luhan mereka bersatu. Ditambah Krystal yang sangat membuat iri para perempuan karena bisa dekat dengan dua emas sekolah, Sehun dan Luhan. Bagi para cowok pun, Sehun dan Luhan membuat mereka iri karena bisa selalu di dekat Krystal, perempuan dengan kepribadian riang dan mudah bergaul, tak lupa wajahnya yang rupawan dari kecil. Persahabatan yang sempurna bukan?

Sempurna tetapi tidak selamanya. Semuanya berubah sejak orangtua Luhan memutuskan untuk bercerai. Saat Luhan meninggalkan mereka karena mengikuti ayahnya di Amerika Serikat. Saat-saat dimana Krystal berharap Sehun tidak meninggalkannya, saat itu juga persahabatan mereka hancur karena perjodohan mereka. Saat itulah tiga serangkai menjadi mati.

.

.

.

.

Hanya terdengar dua suara dari tiga orang yang sedang menunggu pesanan ramyun mereka. Luhan dan Krystal. Sehun hanya menatap kedua orang di depannya, sesekali tersenyum, selebihnya diam memainkan handphone-nya.

“Kau dulu memang pendiam tetapi setidaknya masih memperhatikan lingkungan sekitar.” Komentar Luhan kepada Sehun.

Sehun menurunkan handphone-nya dan menatap Luhan, “Semuanya sekarang terdapat pada handphone…”

Luhan mendecakan lidahnya, “Lucu.”

“Hahaha…” Sehun membuat suara ketawa dengan muka datar. Seakan menantang perkataan ‘lucu’ Luhan.

Krystal sedari tadi hanya berbicara kepada Luhan. Hampir tidak pernah melihat ke arah Sehun. Gugup? Atau tidak menyangka ingin bertemu? Entahlah. Tetapi karena melihat tingkah Sehun tadi, ia yang sedang minum tersedak ingin ketawa.

“Dasar receh!” Cibir Sehun.

Kemudian Luhan ikut tertawa. Mengetawai receh nya Krystal yang sedari dulu selalu tertawa karena hal kecil. Melihat kejadian tersebut, perasaan hangat menyusup ke hati Sehun. Sehun ikut terkekeh kecil.

“Pesanan anda…” Seorang pelayan datang membawa tiga mangkuk ramyun.

Krystal langsung mengambil sumpit dan mengaduk ramyunnya. Kemudian ia membelah dua telur rebus.

Grab~

Krystal yang ingin makan terhenti, menatap kuning telurnya yang diambil. Dibawa menuju mangkuk di depannya. Sedangkan Sehun, yang berada di depan Krystal menatap Krystal datar sebelum menghentikan kegiatan mengaduknya. Bagaimana Sehun bisa melakukan kebiasaannya ketika SD? Mengambil kuning telur Krystal otomatis ketika gadis tersebut membagi dua telur rebusnya.

Krystal terdiam sejenak. Begitupula Sehun yang kemudian langsung mengubah kembali tatapannya ke mode datar, “Bagi…”

Ck, kau selalu mengambil dahulu baru meminta.” Kata Luhan yang sudah memakan ramyunnya. Seakaan tidak memiliki kecurigaan dengan kesunyian yang tadi Sehun dan Krystal buat. Seakan-akan itu bukanlah hal yang penting. Setidaknya bukan bagi Luhan karena ia tidak mengetahui apapun tentang mereka.

Tidak ada lagi pembicaraan karena Sehun dan Krystal memutuskan untuk makan dalam diam.

.

.

.

.

.

Perempuan bersurai cokelat menunjuk seorang pemuda sebelum teman di samping kirinya memukul kepalanya. Membuat ia meringis kesakitan dan mulai berbisik-bisik kembali kepada kedua temannya.

Bukannya ia terlalu percaya diri, tetapi Sehun sangat yakin jika perempuan-perempuan tadi menunjuk dirinya. Karena apa? Karena ia mengenal wajah familiar mereka dari flat-nya. Mungkin…. Mungkin mereka sedang berbisik-bisik kenapa Sehun bisa bersabar jalan bersama dua manusia yang aneh di sampingnya.

Sejak dari kedai ramyun hingga hampir sampai di flat Luhan dan Krystal tidak pernah berhenti tertawa. Karena lucu pada awalnya, tetapi tidak juga terus ketawa sepanjang jalan.

“Lihatlah…” Krystal menunjuk Sehun, “Sehun sama sekali tidak mengerti….”

Tawa Luhan dan Krystal kembali meledak. Sedangkan Sehun kembali menghela nafas, “Ayolah… Sampai kapan kalian tertawa?” Gerutu Sehun kesal.

“Sehun kesal… Sehun kesal…”

Suara tertawa masih terdengar hingga mereka benar-benar sampai di depan flat. Krystal menarik nafasnya yang sangat tipis. Paru-paru meringis kesakitan. Tentunya tenggorokannya sangat kering. Luhan hampir sama, tetapi ia sambil melihat handphone-nya. Luhan kemudian mendekatkan handphone-nya ke telinga, “Appa dimana?”

Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, “Hah? Di belakang?”

Mendengar kata tersebut, Sehun, Krystal, dan Luhan segera berbalik.

Samchon!” Sapa Krystal riang menyambut Appa Luhan yang datang ke arah mereka menggunakan tongkat kayu. Sehun membungkukan badannya.

Appa Luhan membungkukan badannya.

Luhan, berjalan mendekat ke Appa-nya, “Appa sudah lama menunggu? Kenapa tidak telepon terlebih dahulu jika sudah sampai?”

Appa menelepon mu.”

Mendengar jawaban pendek Appa-nya Luhan menepuk pelan jidadnya, “Aku men-silence hp ku!”

“Aku pulang dulu ya…” Suara Krystal menginterupsi Luhan dan Appa-nya, “Samchon, aku pulang duluan ya… Sudah malam.” Tak lupa, ia menampilkan senyuman andalannya.

“Aku…” Luhan terlihat ragu. Memilih antara Appa atau Krystal, “Naiklah sebentar. Appa hanya sebentar setelah itu aku akan mengantar mu.”

“Tidak usah! Appa mu sudah menunggu sejak lama. Lagipula ini masih belum larut, bus masih ada.”

“Sebentar saja. Setelah itu aku akan mengantarmu ke halte.”

“Sehun saja yang mengantarku..” ; “Aku saja!”

Krystal dan Sehun sama-sama tersentak ketika kalimat itu mereka dengar. Sekuat tenaga mereka tidak saling menatap satu sama lain dan tetap melihat Luhan.

Luhan menganggukan kepalanya ragu, “Baiklah. Sampai jumpa lagi Krys….”

Krystal membalas lambaian kecil Luhan. Tak lupa membungkukan badan ke arah Appa Luhan yang di balas dengan anggukan kepala. Mereka masih mematung hingga sosok Luhan hilang dari balik pintu. Sehun berdehem, “Ayo…. Bus terakhir jam Sembilan malam, lima belas menit lagi.”

.TBC.

Note: Mungkin ini update -an terkahir di bulan January… Hehehe (?) Who Knows… #update lagi cepet #tapi gak tau besom #maafkan saya yang nulis tergantung mood

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s