State of Grace (Chapter 17)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Tifanny mengaduk-ngaduk buburnya. Ia tidak nafsu makan. Terlalu banyak yang membuat pikirannya pusing. Termasuk bubur hambar satu ini. Ia berdecak kesal.

Trek~

Ia menoleh ke arah pintu dan langsung mendecak sebal, “Oh, datang menjenguk Mommy?” Desis Tifanny melihat ke arah Sehun.

Sehun menghela nafasnya. Ini baru permulaan tetapi rasanya ia ingin membuang muka dari ibunya. Rasa bencinya terhadap ibunya sudah sangat mendominasi saat ini.

“Itu bukannya pertanda bagus?” Sehun kemudian duduk di kursi dekat ranjang ibunya.

Tak!

Tifanny meletakan sendoknya dengan keras, “Hahahahaa lucu…”

Tiiit… Tiiit….

Sehun menoleh ketika detak jantung ibunya naik. Ia menghela nafasnya, “Dengar Mom, Sehun hanya ingin melihat keadaan Mom.”

“Kau menginginkan aku cepat mati bukan?”

Mom!” Sehun menatap Tifanny tajam. Ia memejamkan matanya, mencoba menenangkan dirinya, “Aku hanya khawatir dengan keadaan Mom. Okay? Dan aku mengakui jika aku salah…”

Tifanny menghela nafasnya bersamaan dengan detak jantungnya yang menurun, “Kau sepertinya sudah sadar akan hal itu. Jadi, kau sudah putus dengan Krystal?”

“Apa?!” Sehun kembali menatap Tifanny tajam. “Putus? Tunggu… Jangan pikir…” Sehun menghentikan omongannya sebelum menghela nafas panjang, “Astaga! Aku memang mengakui jika aku salah tetapi itu bukan berarti Mom juga tidak salah!”

“Apa? Bagaimana bisa aku salah? Aku ini hanya korban dari kekhawatiran akan anak satu-satunya yang sedang dipengaruhi oleh orang aneh. Aku juga jadi seperti ini karena shock mendengar anakku dikelilingi oleh orang yang tidak pantas.”

“Apa maksud Mom?” Tanya Sehun dengan setengah berteriak, “Tidak pantas? Siapa yang tidak pantas? Krystal? Atau Seojoon hyung?”

Prang!

“Cukup keluar!” Tifanny dan Sehun sama-sama tersentak ketika suara dingin Donghae terdengar. Rupanya Donghae telah berada di dalam kamar dan menatap mereka dengan tatapan marah.

“Aku tahu ini akan terjadi jika kalian dipertemukan. Sehun, apa yang telah ku sampaikan?”
Sehun menundukan kepalanya, “Aku tahu….”

“Keluar!” Perintah Donghae kepada Sehun.

“Tung-“ Tifanny terhenti ketika Donghae menatapnya tajam.

“Yang dirimu butuhkan saat ini adalah beristirahat sampai pulih!” Titah Donghae kepada Tifanny.

.

.

.

Krystal mencoba untuk memulai harinya seperti biasa. Mencoba bangun pagi dengan pikiran positif. Mencoba untuk berangkat kerja dengan pakaian terbaik. Mencoba untuk tidak terlambat ke gallery. Yang terakhir dan yang paling menegangkan, mencoba menginjakan kakinya ke gallery setelah apa yang terjadi kemarin malam. Setelah ia melihat reaksi Tifanny.

Persiapan untuk grand opening sudah mendekati 85%. Lukisan yang Krystal buat sudah selesai. Sudah dua minggu ini pekerjaan Krystal membantu teman-temannya yang lain. Mendekor gallery. Teman-temannya bercanda kepadanya jika ini hanya sementara karena menurut rumor yang beredar Krystal akan diangkat menjadi sekertaris kedua Tifanny. Krystal hanya menanggapi mereka dengan tersenyum. Ia tidak berani berharap.

Jam menunjukan pukul 12 siang, waktunya makan siang. Waktu istirahat makan siang cukup lama, yaitu sampai jam 2 siang. Krystal mengambil hp-nya dari loker. Ia sudah memutuskan akan mengirim sebuah pesan ke Sehun ketika istirahat. Menanyakan kabar lelaki itu. Bagaimanapun juga, Sehunlah yang menghadapi masalah terberat.

Kau baik-baik saja?

Tidak sampai satu menit, sebuah balasan masuk.

Semuanya berjalan baik-baik saja. Aku baru saja menyelesaikan pertemuanku dengan dosen ku.

Aku tidak menanyakan semua keadaan baik-baik saja. Aku menanyakan apakah kau baik-baik saja?

Aku akan makan siang.

Krystal merasakan nafasnya tercekat melihat balasan Sehun. Apakah Sehun mulai menjauhi dirinya? Ia menyandarkan punggungnya ke dinding loker.

Tolong jawab pertanyaan ku… Kau membuatku khawatir.

            Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir….

Sebuah helaan nafas keluar dari bibir mungil Krystal. Jari-jemarinya dengan lincah mengantarkan Krystal keluar dari chat room dan menekan nomor Sehun. Diam sejenak. Mencekam menunggu Sehun membalas teleponnya.

“Hallo…”

“Sehun!” Teriak Krystal ketika Sehun menganggkat teleponnya.

.

.

.

.

.

Tes~

Sebuah air mata jatuh. Dengan cepat jemari putih susu itu menghapus jejak-jejak air mata dari wajahnya. Ia berdehem.

Tes~

Air matanya kembali turun. Malah semakin deras. Ia menggeram. Ia tidak boleh terlihat lemah. Ia adalah pelindung gadis itu. Suara tangisan tak dapat ia tahan. Bersamaan dengan suara lembut yang terdengar di telinganya.

“Yang membuat diriku khawatir adalah kau menutup dirimu dari orang lain, termasuk diriku. Kau harus berbagi kesakitan mu Sehun. Percayalah, itu adalah satu-satunya cara melewati masa tersebut. Karena aku bisa melewati masa tersebut ketika aku melakukan hal itu. Melakukan hal tersebut bukan berarti dirimu lemah, itu menunjukan jika dirimu ingin melakukan sebuah perubahan. Ingin orang lain membantu mu dari masalah itu.”

Rasa nyaman mengalir dalam diri Sehun. Akhirnya, dia mempunyai seseorang sebagai tempat bersendernya. Seharusnya ia senang—- Nyatanya ia senang. Ia hanya tidak menyangka jika ia bisa merasakan hal itu.

“Aku mencintaimu…” Hanya itu yang kata yang terucap dari mulut Sehun. Ia mengatakannya di sela tangisan dia, dengan suara serak. Nafasnya sudah tercekat akibat tangisannya. Dengan lunglai, ia menjatuhkan dirinya untuk duduk di lantai dingin rumah sakit.

.

.

.

.

Donghae menghela nafasnya. Rasa sesak memenuhi dadanya melihat Sehun seperti itu. Dengan cepat, ia kembali melangkah menuju kantornya. Berusaha menghilangkan bayangan Sehun. Ini adalah hal yang sangat berat, bagi Sehun dan juga dirinya. Apalagi ketika mendengar semua cerita dari Seojoon. Dia tidak seharusnya masuk ke masalah ini.

“Paman!” Suara Seojoon membuat langkah Donghae terhenti.

Donghae menoleh ke sumber suara. Sebuah senyuman muncul, “Seojoon-ah!” Balas Donghae dengan suara bersahaja, “Ada apa datang ke kesini?”

Seojoon tersenyum kecil, “Aku ingin meminta sebuah bantuan ke paman.”

“Tentu saja bisa.”

Tertawa kecil terdengar, “Tapi aku ingin membicarakannya di tempat yang tidak umum.”

“Tentu. Mari kita bicarakan di ruanganku.”

.

.

.

.

Sehun mengkerutkan keningnya ketika mendapati Seojoon keluar dari ruangan Donghae. Apa yang dilakukan oleh kakaknya? Dengan cepat Sehun menghampiri Seojoon dan Donghae.

“Hyung!” Panggil Sehun tak jauh dari mereka.

Seojoon dan Donghae sama-sama terkejut. “Sehun-ah?!” Kata Seojoon tidak percaya melihat Sehun disini.

“Apa yang hyung lakukan disini?” Sehun langsung bertanya tanpa menghiraukan sapaan Seojoon.

“Seojoon memintaku untuk menjadi saksinya dalam pernikahannya.”
“Apa?!”

Seojoon menghela nafasnya. Masalah baru lagi. “Aku ingin memberi tahu mu ketika aku pulang. Tapi kau tahu apa yang terjadi… Awalnya aku ingin mengadakannya di Amerika.”

“Bagus!” Desis Sehun menatap Seojoon tajam.

“Aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun kepadamu…”
“Ya, aku mengerti!” Lanjut Sehun masih menatap Seojoon tajam.

Seojoon mengangkat kedua tangannya, “Dengar Sehun, aku ingin memperbaiki hubungan ku dengan mu tapi aku tidak tahu ingin mulai darimana. Jadi aku melakukan sebuah pendekatan, memulai lagi dari awal. Aku hanya memberi tahumu dengan pemikiran kau melihatku sudah mulai terbuka sehingga kau kembali lagi terbuka kepadaku. Jika aku menyuruhmu datang, pasti akan tegang dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”

“Tapi kenapa kau melakukannya disini?”

Sebuah helaan nafas keluar, “Sohye hamil. Orangtuanya menuntut pernikahan secepatnya. Penundaan kepulanganku ke Amerika menunda pernikahan kami. Jadi keluarganya memutuskan untuk mengadakan pernikahan di Korea saja.”

“Bagaimana bisa hyung mengadakan pernikahan dengan keluarga hyung yang seperti ini?”
“Sehun!” Terdengar teguran dari Donghae. Dokter itu menatap tajam Sehun.

“Sohye mengetahui tentang keluargaku. Seperti ku bilang sebelumnya, keluarganya menuntut pernikahan kami secepatnya. Tidak peduli harus seperti apa, yang terpenting adalah sebuah pernikahan.”

“Jadi kau hanya ingin mengadkan sebuah ucapan janji dan mendaftarkan pernikahan mu begitu? Tanpa pesta?”

“Iya. Itu dilakukan di kantor sipil. Aku butuh sebuah saksi.”

Sehun terlihat berpikir, “Jadikan aku sebagai saksi mu!”

Seojoon membulatkan matanya, merasa tidak menyangka dengan ucapan Sehun.

“Kau bilang kau ingin memperbaiki hubungan kita. Jika kau ingin memperbaikinya, kau harus mengikuti ku kedalam hal-hal penting dalam hidupmu.”

Hug!

Seojoon langsung menarik Sehun kedalam pelukannya, “Terimakasih…”

Sehun membalas pelukan Seojoon. Ia tersenyum, “Oh, hyung!” Kata Sehun tiba-tiba, “Kau harus mengadakan pesta kecil. Setidaknya sebuah makan malam dengan ku!”

.

.

.

.

“Hati-hati ketika ingin berjalan!”
Krystal hanya bisa mengucapkan permintaan maaf berkali-kali. Dia yang salah dalam hal ini. Menabrak seorang ibu-ibu di depannya dan menyebabkan dia harus menahan malu. Ini bukan yang pertama kalinya Krystal membuat kesalahan. Sejak dari kejadian Sehun menangis ketika ia menelepon Sehun, yang sebenarnya ia sangat jelas mendengarnya tetapi pura-pura tidak tahu, pikiran Krystal melayang kepada laki-laki itu. Membuat kesabaran Sekertaris Ahn diambang batas melihat tingkah lakunya. Konsekuensinya, ia disuruh istirahat oleh Sekertaris Ahn dan diizinkan masuk jika jika sudah siap kerja. Di stasiun kereta tadi saja ia tidak fokus hingga harus diteriaki oleh orang-orang agar cepat membayar tiket.

Hufhh~

Krystal menghela nafasnya. Fokus! Fokus! Fokus! Ucap Krystal kepada dirinya sendiri. Dengan cepat ia berjalan menyebrangi sebuah jalan raya. Jalan raya penghubung ke apartment-nya. Tangan Krystal langsung memasukan password apartment-nya.

“Kau tidak apa-apa?”

Krystal langsung menoleh dengan cepat. Terdiam beberapa saat ketika melihat siapa yang di depannya. Tidak mungkin! Tanpa Krystal sadari ia menggelengkan kepalanya.

“Hey, kau tidak apa-apa?”

Krystal mengerjapkan matanya. “Sehun!” Pekiknya langsung memeluk Sehun.

Sehun harus menahan dirinya agar tidak terjungkal akibat Krystal yang tiba-tiba melemparkan dirinya ke Sehun. Ia terkekeh kecil, “Ada apa hmm?” Tanyanya lembut.

Krystal melepaskan pelukannya, “Apakah kau baik-baik saja?”

Sehun menganggukan kepalanya, “Dan lapar.” Sehun kemudian mendekat ke arah Krystal, “Ingin membuatkanku sebuah makan sore menjelang malam?”

Krystal mendengus. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikan senyumannya, “Kau terlihat aneh!”

“Kenapa aneh?!”

Krystal hanya diam dan kembali melanjutkan aktifitas sebelumnya, membuka pintu apartment-nya. “Ayo masuk. Akan ku buatkan makanan…”

.TBC.

A/N:

Apa kabar semuanya??? 😬  Saya sendiri tidak baik-baik saja (?) #gak ada yang nanya.  Gak disangka-sangka State of Grace udah mau tamat…  And i can smell the ending …..  Tinggal tunggu beberapa chapter yang kira-kira (?) akan saya update dengan cepat (Karena ide lagi mengucur deras dan tangan gatal mau nulis) hinga ff ini tamat…  Well, tapi resikonya adalah Flipped akan kehambat 😔…  Mianhae untuk memberi tahu hal ini.  Tapi saya akan berusaha untuk meng-update Flipped disela-sela menamatkan State of Grace…  See you really soon guys 🤓

Runaway (Chapter 1)

seasonal-florist1

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Kring…. Kring… Kring…

Perlahan tapi pasti, Sulli membuka matanya. Mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum ia mengambil handphone-nya dan mematikan alarm.

Jongin juga ikut bangun. Ia menyibakan selimutnya, “Sudah jam enam pagi?”

Sulli mengangguk pelan menjawab pertanyaan Jongin. Kemudian, mereka berdua turun dari tempat tidur. Jongin bersegera mandi. Sulli pergi ke kamar Taemin, anaknya untuk membangunkannya. Setelah itu Sulli akan bergegas membuat sarapan untuk Jongin dan Taemin. Saat Taemin dan Jongin sarapan, Sulli baru akan mandi. Dia baru akan memakan sarapannya di kantornya, butik pakaiannya Seoul-Ri sesudah ia mengantar Taemin terlebih dahulu.

Inilah rutinitas Sulli setelah menjadi istri Jongin. Berusaha menjadi ibu yang baik bagi Taemin. Juga membangun karirnya sebagai fashion designer.

.

.

.

.

“Tentu saja kau harus ikut pertemuan ini. Astaga Sul…” Krystal menarik nafasnya yang sudah habis. Kemudian kembali berbicara dengan nada mendesak, “ Dengan pertemuan ini, butik kita dikenal oleh orang-orang penting dari majalah di Seoul. Jika mereka tertarik dengan rancangan kita, mereka bisa mengontrak kita. Itu adalah hal yang sangat-sangat-sangat-sangat-sangat sangat sangat sangat-“

Sulli meringis mendengar rentetan kalimat Krystal, sekertarisnya juga teman masa kecilnya yang baru menyelesaikan kuliah fashion designer-nya di Paris. Yang entah mengapa ingin bekerja dengan Sulli, dibawah kendali Sulli. Padahal gadis ini lebih cocok disebut co-worker sangking berkuasanya. Secara, tidak ada sekertaris yang berani menentang dan menyuruh-nyuruh atasannya.

Helaan nafas keluar dari mulut Sulli. Ia memijit pelipisnya yang sudah berdenyut sebelum pukul sepuluh pagi, “Aku mengerti… Tapi siapa yang akan menjaga Taemin? Pertemuan ini akan diadakan selama 5 hari….”

“Ayolah Sul…” Pinta Krystal dengan nada memohon, “Kau itu diundang oleh mereka. Jika kau menolaknya entah apa yang terjadi dengan butik kita. Juga, jika pakaianmu sudah digunakan di majalah, berarti dirimu sudah melangkah lebih dekat ke impian besarmu, runaway fashion!!

Kembali, Sulli menghela nafas. Sulli juga menatap Krystal dengan tatapan memohon, “Kau harus mengerti…”

“Kau bisa mengajaknya bukan? Ayolah dia masih TK. Bukan sebuah masalah jika ia bolos selama lima hari…. Benarkan?”

“Jongin tidak mengizinkannya…”
“Apa?!” Nada suara Krystal meninggi bersamaan dengan emosi yang meningkat, “Maksudmu…” Krystal mendelik, “Bagaimana bisa dia…”

Sulli menunggu Krystal dengan was-was. Takut jika emosi Krystal meledak.
Krystal mulai berbicara kembali, “Bagaimana….”

“Aku akan membicarakan ini dengan Jongin, okay? Kau tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja.” Sulli kemudian memasang senyum manisnya.

Krystal hanya bisa mendengus, “Awas saja jika Jongin tidak ingin menjaga Taemin.”

Sulli mengangkat kedua bahunya, “Kau kan bisa.”

“Apa?!” Krystal kembali mendelik ke arah Sulli. Dia sangat tidak menyukai anak-anak. No… No… No…

“Cepat kembali ke ruanganmu. Pekerjaan sudah menunggu!” Titah Sulli putus asa. Tidak berani menaikan emosi Krystal. Dasar, sekertaris terburuk! Untung saja teman dekat.

.

.

.

.

.

Flash kamera menyambut Sulli dan Krystal ketika mereka keluar dari mobil. Panasnya busan langsung terasa, seakan menyambut mereka. Perkumpulan para fashion designer seluruh Korea, baik yang sudah terkenal hingga ke mancanegara sampai yang seperti Sulli, beberapa kalangan saja diadakan. Acara selama lima hari ini dimaksudkan sebagai ajang berbagi pengalaman juga mengenalkan koleksi mereka ke khalayak yang lebih luas.

Mereka berdua, Krystal dan Sulli menggunakan koleksi S/S Collection terbaru butik Seoul-Ri. Sulli menggunakan Summer Dress bermotif yang di dominasi oleh putih gading. Rambutnya ia ikat sederhana. Juga dilengkapi oleh makeup minimalis. Sedangkan Krystal menggunakan Jumpsuit bermotif bunga-bunga. Rambutnya ia biarkan tergerai, dengan make up yang juga tidak terlalu tebal. Gelang di tangan kanannya melengkapi gaya chick nya.

Nafas Sulli mulai memendek ketika ia mulai berjalan mendekati wartawan. Ia menghembuskan nafasnya secara perlahan. Tidak boleh gugup! Tidak boleh gugup! Tidak boleh gugup! Ucapnya dalam hati menyemangati dirinya.

“Bisa di wawancarai sebentar….” Sulli bersumpah jika detik itu juga, tanggannya langsung menjadi dingin.

.

.

.

.

.

Oemma! Oemma!” Suara riang Taemin berhasil menyadarkan Sulli kembali. Perlahan, ia memukul kecil pipinya agar tersadar.

Nde….” Jawab Sulli mengantuk berbalik dengan Taemin yang masih sangat riang. Sulli menggerutu. Pasti Taemin sekarang sedang di jaga oleh Eunso, adik tirinya Jongin. Sedangkan Jongin pasti belum pulang. Hal ini melanggar perjanjian mereka dimana Jongin akan selalu menemani Taemin dari jam lima sore. Karena Taemin orangnya sangat rewel dan tidak bisa diatur kecuali oleh Sulli dan Jongin.

“Tadi di sekolah Taemin kedatangan guru baru. Guru yang menggantikan Jung Seongsangnim!”

“Taemin semangat sekali menceritakannya. Padahalkan Taemin sedih ketika Jung Seongsangnim keluar.”

“Iya itu karena gurunya lebih asik dan seru! Terus perhatian, ramah, gak pernah marah…. Pokoknya seru banget! Habis itu dia ngerti lagi apa yang Taemin tanyakan. Lukisannya juga bagus… Pokoknya Taemin seneng banget!”

“Taemin tahu dari mana jika gurunya gak pernah marah? Nanti kalau dia marah gimana?”
“Ih… Gak. Pokoknya Min Seongsangnim gak pernah marah!”

Sulli terkekeh kecil. Namanya juga anak kecil.

.

.

.

.

.

Sekarang Sulli bertanya-tanya. Ia bingung dengan Taemin. Selama lima hari di Busan selama itu pula Taemin menceritakan guru barunya.

“Taemin entah mengapa sangat menyukai Min Seongsangnim.”

“Melebihi suka Taemin kepada Appa?”

“Iya. Melebihi Appa!”
Itulah yang membuat Sulli bingung. Apa sih yang dilakukan oleh guru baru itu hingga Taemin sangat menyukainya? Pikiran Sulli kembali melayang ke hari selanjutnya, dengan tema yang masih sama, Min Seongsangnim.

Kenapa Taemin sangat menyukai Min Seongsangnim? Memangnya Min Seongsangnim pernah melakukan hal-hal berbeda yang tidak dilakukan oleh guru-guru yang lainnya?”
“Gak ada sih… Sama seperti yang lain. Tapi begini
Oemma, Taemin itu suka aja ngeliat Min Seongsangnim. Inginnya dekat-dekat dengan dia.

Tambah bingung kan? Krystal bercanda mengatakan jika Taemin mungkin tertarik dengan guru barunya. Yang membuat Sulli langsung tak bisa tidur nyenyak selama di Busan. Amit-amit deh…. Sulli belum bisa membayangkan jika anaknya memiliki perilaku seksual yang menyimpang.

Tidak dapat dipungkiri, Sulli mulai mempercayai perkataan Krystal. Ia sampai-sampai membayangkan jika guru baru itu juga tertarik dengan Taemin. Amit-amit…. Maka dari itu, hari ini, Sulli yang baru saja menginjakan kakinya ke Seoul langsung memutuskan untuk menjemput Taemin.

Krystal hanya tersenyum jahil kepada Sulli. Sangat bahagia karena Sulli masuk ke dalam perangkapnya. Sulli sih masa bodoh. Mau Krystal anggap dia apapun hingga disebut terlalu parno Sulli tidak peduli. Soalnya ini masalah anaknya. #Eaaa

.

.

.

.

Terlalu bersemangat hingga Sulli terlalu cepat sampai. Ia mendesah. Bingung ingin melakukan apa. Akhirnya Sulli memutuskan untuk memainkan hp-nya. Mengabari info ini kepada Krystal yang menyebabkan gadis itu kembali mengetawai Sulli. Sulli hanya bisa mendengus dan membalas, ‘Kau akan seperti diriku jika sudah punya anak!” dan Krystal langsung menjawab dengan satu kata, “Diamlah!”

Berganti, Sulli-lah yang tertawa. Temannya itu sangat tidak menyukai anak kecil, bahkan sampai tidak mau punya anak. Menurutnya mereka itu rewel, berisik, cengeng, intinya menganggu. Benar sih… Tapikan beda rasa antara anak sendiri dengan orang lain.

“Yeaaayy…”

Suara ramai menandakan anak-anak sudah pulang. Sulli segera menutup chat-nya, meletakan handphone-nya, dan keluar dari mobilnya. Menunggu Taemin dengan hati yang berdebar-debar. Menahan rindunya kepada Taemin. Ia menunggu cukup lama karena Taemin selalu keluar yang paling terakhir. Taemin sangat suka bermain di TK-nya hingga harus diseret pulang oleh guru-gurunya.

Akhirnya Taemin datang. Taemin melambaikan tanggannya kepada Sulli. Sulli langsung tersenyum sangat lebar dan membalas lambaian tangan Sulli. Tetapi Taemin tiba-tiba berbalik. Kemudian mendengus.

Oemma tunggu sebentar ya!”

Dahi Sulli bekerut. Kenapa Taemin tiba-tiba berbalik? Ia menghela nafasnya dan berjalan searah dengan Taemin.

“Tapi Min Seongsangnim harus bertemu dengan Oemma! Taemin tidak mau tahu!” Suara Taemin langsung terdengar dari lorong-lorong TK yang sepi. Remang-remang, tetapi Sulli bisa melihat Taemin berbicara dengan seseorang. Orang tersebut berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Taemin sehingga Sulli tidak dapat melihat wajahnya yang tertutup dengan badan Taemin.
“Taemin…” Panggil Sulli lembut.

Taemin segera berbalik dengan senyum lebarnya, “Oemma ayo berkenalan dengan Min Seongsangnim!

Sulli langsung tersenyum excited . Akhirnya rasa penasaran terjawab.

Dengan pelan, orang yang dipanggil Min Seongsangnim berdiri.

“Minho?!” Gumam Sulli tanpa sadar.

.TBC.