seasonal-florist1

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

3rd January 2013

Tangan yang dilumuri oleh cat-cat hitam itu mematikan puntung rokoknya yang ingin habis. Mengambil puntung rokok yang baru dan menghidupkannya.

Fuuhh~

Asap nikotin kembali melayang di udara. Menusuk penciuman laki-laki yang sedang menerima telepon.

“Kau gila?! Jika ayahmu tahu kau merokok, kau akan di bakar hidup-hidup!”
“Nyatanya dia tidak tahu.” Jawab laki-laki tersebut cuek.

“Ini tinggal menunggu waktu sampai ayahmu tahu… Astaga Minho-yah… Sejak kapan kau menjadi seorang perokok?!”
“Ck! Kau terdengar mirip seperti ibuku Kim Jonghyun. Sudahlah… Jangan khawatirkan masalah ini. Aku yang akan menanggungnya.”

“Kapan kau pulang?”

Minho menghentikan kegiatan merokoknya, berpikir sejenak, “Untuk apa?”

“Pulang saja…..”

“Kau pikir pulang dari Korea itu murah?”

Terdengar hening sejenak, “Tidak sih… Tapi ini ada masalah penting. Sebaiknya kau pulang.”

“Jika ada masalah penting aku pasti sudah mengetahuinya. Nyatanya semuanya tenang-tenang saja. Ada apa denganmu? Kau terlihat mencurigakan.”

Hening kembali. “Entahlah.” Jawab Jonghyun terdengar putus asa, “Aku bingung ingin berkata seperti apa kepadamu. Lebih tepatnya aku takut mendengar jawabanmu.”

“Kau sedang aneh. Aku akan menelepon mu kembali ketika kau sedang normal, okay?”

“Minggu nanti!”
Minho menghentikan tanggannya yang hampir saja memutuskan telepon, “Apa? Ada apa dengan hari itu?”
Tut~ Tut~ Tut~

Telepon terputus. Minhun menyeringit bingung. Tetapi mengangkat kedua bahunya-tanda tidak peduli.

.

.

.

.

.

6th January 2014

Minho kembali menyesap minuman bertitik rendah itu. Rasa pahit mengiringinya. Ia tidak perduli. Rasa pusing mulai menyerang dirinya. Ditambah pandangannya yang sudah mengabur.

“Aku mencintaimu~”

“Minggu nanti!”

Minho tertawa hambar meningat dua percakapan tadi. Gila! Pikirnya dalam hati. Percakapan pertama dari seorang wanita yang benar-benar ia cintai. Yang kedua adalah dari sahabat terdekatnya yang mengabarkan, jika wanita yang ia cintai akan menikah-bukan sudah menikah lebih tepatnya.

Tidak perduli sudah berapa kali Minho meminumnya, pikiran dia masih melayang ke percakapan itu.   Minho menggeram. Dia datang kesini untuk mengalihkan pikirannya. Tapi malah semakin terjerumus ke dalam pikiran tersebut.

“Hallo liefde, u lijkt te zijn erg verdrietig (Hai sayang, kau kelihatannya sangat muram).” Seorang perempuan berambut pirang, entah dari mana tiba-tiba menghampiri Minho. Tanpa malu, memeluk tubuhnya dan menyandarkan dagunya ke bahu lebar Minho. Berbicara tepat di telinga Minho.

Minho tersenyum miring. Ia menolehkan kepalanya, menatap perempuan tersebut, “ Wat ik heb gekend? (Apa aku mengenalmu?)”

Perempuan tersebut tertawa. “Tidak.” Katanya dengan bahasa Belanda. “Tapi kita bisa berkenalan sekarang bukan?”

Hembusan nafas keluar dari Minho. Mungkin seharusnya ia tidak datang ke sebuah club sendirian. Mungkin minum dirumah sampai tak sadarkan diri lebih baik daripada harus di ganggu oleh orang-orang tak jelas. “Aku harus pergi!” Kata Minho dingin.

“Ohh, ayolah….” Perempuan tersebut masih bertahan di posisinya. Tangannya sekarang memeluk pinggang Minho.

Brak!

Minho yang kesal dengan perlakukan perempuan tersebut kepadanya langsung bangkit dan menyebabkan perempuan tersebut terhuyung ke belakang, dan kemudian jatuh ke lantai.

Bugh~

Satu pukulan mendarat di pipi kanan Minho.

Wat doe je aan Nima? (Apa yang kau lakukan kepada Nima?)” Seorang laki-laki botak menatap Minho tajam.

Beberapa orang mengerubungi Minho, perempuan yang bernama Nima tersebut, dan laki-laki yang sama sekali tak dikenalnya.

“Katakan kepadanya jangan menganggu ku!”

Bugh~

Satu pukulan kembali Minho dapatkan. Ia meringis. Kali ini, dia bisa merasakaan sebuah bau anyir. Minho menyentuh hidungnya, darah segar tengah mengalir.

Bugh~

Kali ini, sebuah pukulan Minho layangkan kepada laki-laki yang sama sekali ia tidak ketahui namanya tersebut.

.

.

.

.

.

23rd December 2013

Kehidupan Minho memburuk. Setelah perkalian di club yang memperlibatkan seorang perempuan bernama Nima, Minho harus menemukan dirinya kalah telak dalam perkalian tersebut. Minho dirawat di rumah sakit selama dua minggu. Itupun karena ia memaksakan untuk pulang agar masalah ini tidak tercium oleh keluarganya. Tapi, bukannya meredup, masalah barupun muncul.

Minho yang diberi obat peringan rasa sakit menjadi candu akan obat-obatnya itu. Sangkin candunya, ia tidak dapat melewati tes bulanan universitasnya, dimana di tes itu juga terdapat tes narkoba. Akibatnya, ia di keluarkan dari universitasnya, di deportasi dari Belgia, dan sekarang mendekam di balik rumah sakit khusus orang-orang sakau.

Minho sendiri, selama tiga bulan dirawat di rumah sakit menunjukan perubahan yang sangat baik. Bahkan sudah bisa dikatakan bersih. Tetapi Dokter belum mau melepaskan Minho karena psikis-nya yang belum membaik. Menurut Dokter, dia seperti itu karena stress yang berlebihan. Jadi, sebelum mereka bisa menemukan masalah stress Minho, Dokter tidak mengizinkan Minho keluar dari rumah sakit.

Cklek~

Pintu kamarnya terbuka. Minho pura-pura memejamkan matanya-tidur agar tidak diberi pertanyaan tidak penting oleh perawat disini. Bagi Minho mereka bukan seperti seorang perawat, tetapi seseorang yang memiliki tujuan lain.

“Obatnya!”

Suara nyaring itu membuat Minho membuka mata dan ia tersenyum lebar mendapati Jonghyun mengunjungi dirinya.

“Kau terlihat senang.” Kata Jonghyun yang menaruh tasnya di sebuah sofa tak jauh dari tempat tidur Minho.

“Tidak ada yang pernah menjenguk ku selama ini.” Aku Minho jujur. Ayahnya terlalu muak melihat dia yang selalu membuat masalah. Sedangkan anggota keluarga yang lain takut untuk mengunjungi dirinya karena ayahnya. Tidak ada yang berani melawan keputusan Ayahnya.

Jonghyun menganggukan kepalanya. Ia kemudian duduk di bangku bersebelahan dengan tempat tidur Minho, “Ibu mu memberi salam untukmu. Ia berkata akan kesini secepatnya.”
Minho menghembuskan nafasnya, “Katakan padanya agar jangan membuat ayah marah. Aku tidak ingin bertemu dengannya jika ia melanggar perintah ayah.”

Jonghyun menganguk patuh. “Ehm…” Ia berdehem, “Sebenarnya, aku mempunyai tujuan lain untuk datang kesini….” Jonghyun kemudian mengambil sebuah dompet dari saku jeans-nya. Membukanya dan mengambil sebuah foto.

Minho yang melihat foto tersebut tertawa, “Astaga Jonghyun-ah… Apakah kau ingin mempraktekan apa yang dokter sini telah praktekan kepadaku? Bercerita dengan sebuah foto?”

Jonghyun mendengus, “Kau sudah melewati fase itu kau tahu! Sekarang dokter hanya menyuruhmu menuliskan cerita bukan?”

“Bagaimana kau tahu?”

Sebuah seringai pun muncul, “Aku berbicara dengan perawat cantik di depan.”
Minho tersenyum kecil. Percayalah, Jonghyun adalah seorang playboy sejati. Ia pasti hanya menyapa si perawat tadi dengan senyumannya. Berbasa-basi sebentar, mungkin mengenalkan dirinya yang juga lulusan kedokteran, dan akhirnya perawat tadi melakukan apapun yang Jonghyun inginkan. Termasuk menceritakan keadaan Minho yang sangat rahasia.

Karena tidak ada tanggapan dari Minho, Jonghyun kembali berbicara, “Aku memang akan bercerita. Tapi kujamin tidak sepanjang cerita doktermu.” Ia kembali berdehem, “Namanya Taemin dan umurnya tiga bulan. Dia… Dia adalah anakmu.”
Mata Minho langsung terbelak. Tetapi belum Minho memberikan komentar, Jonghyun kembali berbicara, “Dia anak mu dengan Sulli. Itu adalah alasan Sulli menikah dengan Jongin. Untuk menyelamatkan Taemin. Dia yakin, jika dia hamil di luar nikah, keluarganya pasti menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya. Dan juga dirimu yang lebih memilih kuliah karena tekanan keluargamu. Kecil kemungkinan kau akan bertanggung jawab. Jongin tiba-tiba melamar Sulli ditengah kekalutannya. Dia… Dia tidak bisa melakukan apapun kecuali menerimanya…” Helaan nafas terdengar dari Jonghyun, “Sulli pasti akan membunuhku jika ia tahu aku memberi tahu hal ini kepada mu. Tapi aku tidak bisa. Serapi apapun rahasia di tutupi, dia akan keluar pada akhirnya. Pada akhirnya, Taemin akan mengetahui siapa ayah kandungnya. Dan aku… Aku hanya tidak bisa membayangkan jika ia menemukan ayah kandungnya berada disini.”

Tangan Minho tiba-tiba mengambil foto Taemin dan menatapnya, “Matanya… Matanya sangat lucu.” Ia terkekeh kecil.

Jonghyun tersenyum kecil, “Matanya mirip Sulli. Tetapi bibirnya seperti dirimu. Aku hanya berharap dia tidak irit bicara seperti mu!”
Minho mendelik ke arah Jonghyun, tetapi dengan cepat kembali menatap foto Taemin, “Aku ingin melihatnya secara langsung…”

Jonghyun menatap Minho penuh harap. Berharap agar apa yang ia sudah korbankan, kepercayaan Sulli setimpal dengan bangkitnya Minho dari keterpurukannya. “Kau harus keluar dari sini terlebih dahulu teman!”
Minho mengiyakan omongan Jonghyun.

.

.

.

.

Present Day~

Butuh 4 tahun bagi Minho untuk mengatur ulang kehidupannya. Ia menghabiskan waktu satu tahun berada di rumah sakit sebelum sekolah kembali ke Jerman, dimana dia berhasil mendapat beasiswa selama 2 tahun. Setahun belakangan ini, Minho sibuk menjadi kurator gallery.

“Minho!” Suara lantang Tuan Kwon-pemilik galeri, membuat Minho tergesa-gesa datang kepadanya. Tuan Kwon tidak sendiri, ia bersama laki-laki yang berumur kira-kira 40 tahun. Minho yakin jika laki-laki itu akan menggantikannya menjadi curator di museum ini.

Seminggu yang lalu dia memutuskan mengundurkan diri menjadi kurator gallery. Rasanya membosankan. Ia ingin mencoba hal yang lebih menantang. Seperti, ikut bersama para arkeolog meneliti lukisan zaman dahulu? Entahlah.

Anyeonghaseyo sangjangnim.” Sapa Minho ramah. Tidak lupa ia juga membungkukan badannya.

Tuan Kwon hanya tersenyum, “Kenalkan, aku sudah membawa pengganti mu. Namanya Jung Jaewoon.”

Orang yang bernama Jung Jaewoon tersenyum lebar menatap Minho, “Sungguh kehormatan bisa bertemu denganmu.” Mengulurkan tangannya untuk menjabat Minho.

Minho menjabat tangan Jung Jaewoon, “Sunggu kehormatan bagiku juga.”

Tuan Kwon mengangguk-anggukan kepalanya, “Sepertinya aku akan menyerahkan semuanya kepada dirimu Minho-yah!

Minho mengangguk patuh, “Tentu.” Ia kemudian membungkukan badannya kembali ketika Tuan Kwon pergi. Kemudian menatap Jung Jaewoon, “Baiklah Jung Jaewon-ssi, sebaiknya kita mulai dari koleksi-koleksi yang ada di museum ini.”

.

.

.

.

.

Jung Jaewoon tidak pernah merasa segugup ini dihidupnya. Ia baru saja mengenal orang di sampingnya, tetapi mendengar dari cerita Tuan Kwon-bos barunya membuat ia sangat segan terhadap orang ini. Umur mereka berbeda sangat jauh. Hampir 2 windu berbeda, orang disebelah Jung Jaewoon sangat muda, tetapi sangat-sangat berpengalaman dibanding dirinya. Bagaimana tidak? Langsung tamat kuliah dia dipercaya memegang gallery paling bagus di Seoul. Tanpa perlu riwayat pekerjaan. Asalkan Jung Jaewoon? Dia terseok-seok sampai akhirnya memberanikan diri melamar di gallery tersebut.

“Belok kiri Jung Jaewoon-ssi?”

Jung Jaewoon menoleh ke arah Minho, “Iya. Belok kiri.” Katanya dengan gugup.

Minho tersenyum kemudian membelokan mobilnya. Setelah pelatihan singkat di gallery Minho menawarkan mengantar Jung Jaewoon. Laki-laki ini tiba-tiba terlihat sangat gugup setelah mengangkat sebuah telepon. Jung Jaewoon juga tidak membawa kendaraan. Sedangkan Minho yang tidak ada kerjaan lagi akhirnya memutuskan untuk mengantarkan Jaewoon.

“Disini tempatnya.”

Minho segera memberhentikan mobilnya tepat di depan sekolah untuk anak berusia 3-7 tahun. “Jadi disini tempat kerja anda, Jung Jaewoon-ssi?

Jung Jaewoon mengangguk, “Benar.”

Minho melihat sekilas ke arah anak-anak yang baru pulang.

Deg!

Detak jantungnya tiba-tiba berdetak sangat cepat. Mata itu…. Oh, ia sedang tertawa dan menyebabkan matanya membentuk bulan sabit.

“Minho-ssi…” Jung Jaewoon menatap Minho aneh. Minho tersadar dan segera berdehem.

“Maaf. Uhm.. Jung Jaewoon-ssi,”

Jung Jaewoon mengurungkan niatnya untuk keluar. Ia menatap Minho sekali lagi,

“Jika kau keluar maka sekolah ini membutuhkan guru baru bukan?”

Jung Jaewoon hanya bisa mengangguk, “Iya. Pendaftarannya sudah di buka. Tapi belum ada yang mendaftar.”

Minho sekarang menatap Jung Jaewoon, “Bagaimana jika aku mendaftar menjadi guru disekolah ini?”

Jung Jaewoon membulatkan matanya. Tidak dapat menyembunyikan terkejutannya, “Anda yakin?”
Minho menganggukan kepalanya, “Iya. Lagipula penelitian baru akan dimulai 4 bulan lagi. Jadi… Tidak ada salahnya mencoba hal yang baru bukan?”

Lagi-lagi, Jung Jaewoon hanya bisa mengangguk. “Baiklah. Silahkan datang ke sekolah ini besok pagi, pukul 7.15. Membawa CV Anda. Berpakaianlah yang rapi seeprti orang-orang yang ingin datang ke kantor.” Jung Jaewoon berhenti sejenak, “Maksud saya berpakaian formal.”

Minho menganguk-anggukan kepalanya.
“Baiklah, Choi Minho-ssi. Saya permisi terlebih dahulu. Terimakasih.”

Minho mengangguk sekali lagi. Ketika Jung Jaewoon benar-benar sudah keluar dari mobilnya, mata Minho kembali menerawang ke sekolah tadi. Tidak salah, itu adalah Taemin. Sebuah kerinduan menyusup di benaknya.

Taemin, sebentar lagi Appa berada di dekatmu.

.TBC.

Notes: Long Time No See guys….  Jadi, karena Minho sekolah di Belgia dan di Belgia 59% menggunakan bahasa belanda jadi ada beberapa percakapan yang aku buat menggunakan bahasa belanda.  Tapi maaf nih, kalo bahasanya salah.  Soalnya aku 100% translate doang 😅  See You Soon ya…. 😊

Advertisements

2 thoughts on “Runaway (Chapter 2)

  1. Akhirnya update juga
    Wah ternyata kehidupan minho setelah d tinggal sull berat bgt, untung jonghyun kasih tau semuanya,,penasaran gimana caranya minho deketin anaknya😂
    Update lagi sampai selesai he

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s