State of Grace (Chapter 18)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

 

Sehun kembali tersenyum. Tidak pernah lelah melihat Krystal yang sedari tadi sibuk memasak makanan untuknya. Perempuan di depannya sibuk ke kanan dan ke kiri. Memotong beberapa sayuran. Mencicipi setiap masakannya. Sebelum akhirnya meletakan makanannya ke meja makan, dimana Sehun dengan setia menunggunya.

Sehun mengambil sebuah sumpit. Ia menunggu Krystal yang sedang mengambilkan nasi untuknya, “Aku sudah tidak sabar untuk menghabiskannya…”

Jantung Krystal berdetak lebih cepat mendengar kalimat yang dilontarkan Sehun. Ia berdehem kemudiam memberi sebuah mangkuk nasi ke Sehun.

“Tentu saja ini pasti sempurna. Yang membuatnya saja sudah sempurna…”

“Cepat habiskan sebelum dingin!” Kata Krystal dengan nada sedikit tinggi. Ia tidak marah. Hanya saja… Hanya saja dia berharap Sehun bisa menghentikan semua gombalannya dan membiarkan jantungnya kembali tenang.

“Yak, kenapa tiba-tiba marah kepadaku? Lagipula aku tidak memakannya karena masih sangat panas!”

Krystal menatap tajam Sehun. Tidak terima jika perkataan Sehun tadi hanya sebuah selingan untuk menunggu makanan menjadi dingin. Dengan cepat Krystal mengambil sumpit dan memakan telur dadarnya, sekedar ingin mebuktikan ucapan Sehun.

“Hey, kau menghabiskan seluruh telur dadarnya!” Pekik Sehun menunjuk piring kosong yang tadinya berisi telur dadar.

Krystal yang sibuk mengunyah makanan tersadar, “Aku… Aku akan membuatkannya lagi. Tenang saja!” Krystal segera bangkit dan berjalan kembali menuju dapur. Menyalakan kompor, menuangkan sedikit minyak ke wajan penggorengan, dan mengambil telur sisa tadi ia memasak.

Hug!

Krystal tersentak ketika sebuah tangan melingkar di pinggangnya. “Sehun…” Kata Krystal tercekat.

“Hmmm…” Sehun memejamkan matanya. Dagunya ia taruh di bahu Krystal.

“Aku tidak bisa memasak jika kau seperti ini….” Krystal bergerak ke samping kanan dan kiri. Berusaha melepaskan dirinya dari Sehun.

Tangan Sehun dengan pelan mengambil telur yang ada di tangan Krystal, kemudian membukanya dan menaruh telur tersebut ke wajan penggorengan. Masih dengan posisi yang sama, tangan kananannya menyentuh tangan kanan Krystal yang memegang sumpit, mengangkat tangan kanan Krystal menuju wajan penggorengan, “Bagaimana? Kau masih belum bisa memasak jika aku memelukmu dari belakang?”

Krystal hanya diam tidak bisa beraksi. Menggelengkan kepala seperti orang bodoh karena perlakuan Sehun. Dengan diam, Krystal memasak telur dadar. Dengan posisi yang masih sama. Tidak beberapa lama, tangan Krystal terulur, ingin mengambil piring yang masih berada di rak pencucian piring.

“Ini…” Tangan kekar Sehun dengan sigap mengambil piring bewarna putih duluan. Memberinya kepada Krystal.

Untuk kedua kalinya, Krystal tidak berkomentar apa-apa dan hanya mengangguk. Ia mematikan kompor dan menaruh telur dadar di piring yang telah diambilkan oleh Sehun. Pelukan Sehun terasa melonggar, Krystal berbalik menghadap Sehun.

Chu!

Dengan lembut dan penuh penekanan, Sehun mencium bibir Krystal. Lagi-lagi Krystal tidak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti alur yang Sehun buat. “Aku mencintai mu…” Ucap Sehun ketika ia melepaskan tautan bibirnya dengan Krystal.

Krystal hanya tersenyum lembut, Aku juga… Katanya dalam hati.

.

.

.

.

Donghae menatap perempuan di depannya dengan raut bingung, “Apakah saya mengenal Anda?”

Perempuan tadi juga menatap Donghae di raut bingung, “Tidak sepertinya. Saya Wendy Son.” Wendy membungkukan badannya.

Wendy Son?! Mantan pacaranya Sehun?! “Ah, sepertinya saya pernah mendengar tentang Anda. Saya Lee Donghae, dokter yang menangani Tifanny.” Donghae membalas bungkukan badan Wendy. “Mari saya antarkan ke kamar Tifanny…” Lanjut Donghae dan Wendy dari belakang mengikutinya.

Sebenarnya Donghae bukanlah seorang yang terlalu perduli dengan setiap orang yang datang menjenguk pasiennya. Tetapi perempuan yang mengikutinya dari belakang berbeda. Dia membawa sebuket bunga yang sangat besar. Bajunya juga sangat rapi, seperti ingin makan malam dengan orang penting daripada menjenguk orang sakit. Yang terakhir adalah permpuan tersebut mencari Tifanny, dimana ia menanyakan ke perawat baru yang tidak mengerti cara mengoperasikan komputer rumah sakit, dan perawat tersebut menuntun Wendy ke Donghae dimana dia langsung menyemburkan pertanyaan yang sama dengan percaya diri dan tanpa rasa malu. Akhirnya adalah reaksi Donghae, “Apakah saya mengenal Anda?”. Bukan bermaksud apa-apa, hanya aneh saja ada orang yang ingin menjenguk Tifanny tetapi Donghae tidak mengenalnya.

Cklek!

Donghae membukakan pintu kamar Tifanny. Wendy mengucapkan terimakasih kepada Donghae.

“Wendy-ah?! Kau menjenguk bibi?” Suara Tiffany terdengar riang dan antusias membuat Donghae yang tadi langsung ingin meninggalkan mereka mengurungkan niatnya.

“Oh, bibi… Apakah bibi baik-baik saja?” Wendy meletakan buket bunga di atas meja yang tidak terlalu jauh dari sofa. Kemudian ia berjalan ke arah Tifanny dan memeluknya.

Tiffany dengan senang membalas pelukan Wendy, “Iya, bibi baik-baik saja…. Sebenarnya sudah lebih baik…”

“Bibi membuatku sangat khawatir…”
Tiffany hanya bisa tertawa kecil dan melepaskan pelukan Wendy. Matanya kemudian menatap Donghae, “Wendy sayang, apakah kau sudah berkenalan dengan Dokter Lee Donghae?”

Donghae tersenyum ke arah Wendy, “Sudah. Tadi kami sudah berkenalan.”

Tiffany menganggukan kepalanya sambil tersenyum, “Tapi tidak ada salahnya jika aku mengenalkan kalian untuk kedua kalinya, kan?”

Donghae dan Wendy hanya bisa tertawa mendengar perkataan Tiffany.

“Perkenalkan ini Lee Donghae. Dokter terbaik pada bidang syaraf di Korea Selatan dan juga Paman Sehun.”

Wendy kembali membungkukan badannya dengan perasaan terkejut. Paman Sehun? Wendy selalu pikir jika Kang Seulong-ayahnya Seulgi adalah satu-satunya Paman Sehun.

“Dan Donghae, perkenalkan ini Wendy Son. Anak dari Ran Miran dan juga kekasihnya Sehun.”

Mata Donghae langsung terbelak. Tetapi cepat-cepat ia membungkukan badannya. Bukankah kekasih Sehun adalah Krystal Jung dan Wendy Son adalah mantan Sehun? Donghae pun kemudian berdehem, “Kurasa aku akan memberikan waktu untuk kalian berdua…” Kemudian Donghae langsung meninggalkan kamar Tiffany.

.

.

.

.

Donghae tidak bisa berpikir tenang selama sisa waktu pekerjaannya. Ia ingin sekali tetap di kamar Tiffany dan mendengarkan baik-baik apa yang Tiffany dan Wendy bicarakan. Semoga pikirannya tidak menjadi kenyataan. Apa ia harus mengundang Yoonah kemari agar Yoonah bisa ikut berbicara dengan Tiffany dan Wendy? Donghae yang hanya diam di ruang kerjanya langsung menggelengkan kepalanya. Ide buruk. Siwon akan kemari. Siwon sendiri yang berkata seperti itu jika hari ini, walaupun belum tahu jam berapa, ia akan kemari. Bagaimana jika Siwon datang ketika Yoonah sedang asyik-asyikanya mengobrol dengan Tiffany? Ia tidak ingin membuka luka Yoonah kembali. Wanita itu sudah bahagia.

Tok! Tok! Tok!

Donghae langsung terkesiap keras ketika seorang mengetuk pintunya. Ia berdehem, “Masuk!” Titahnya.

Seorang perawat ber-tag name Park Inha masuk, “Maaf menganggu Anda, Dokter Donghae. Ini sudah waktunya pengecheckan pasien Tiffany sekaligus pemberian obatnya.”

Donghae melihat jam yang terletak di ruangan kerjanya dan tersadar. Sudah satu setengah jam dia melamun di ruangan kerjanya. Ia kembali menatap perawat, “Terimakasih.”

Perawat tersebut membungkukan badannya sebelum menutup pintu ruangan kerja Donghae. Donghae bangun dari tempat duduknya dan menghela nafas. Saatnya meinggalkan masalah pribadinya.

.

.

.

.

Bukan sekali Wendy dibuat terkejut oleh fakta baru. Selama hampir dua jam disini, ia banyak dikejutkan oleh beberapa fakta baru.   Seperti Tiffany yang sudah mengetahui hubungan Sehun-Krystal. Juga, ucapan dari Tiffany yang benar-benar melambungkan harapannya.

“Apapun yang terjadi bibi akan mendukung dirimu dan Sehun.”

“Bibi….” Wendy menatap Tiffany tidak percaya, “Apa bibi yakin dengan apa yang bibi ucapkan?”

Mata Tiffany menerawang ke langit biru, tetapi suaranya terdengar yakin, “Aku yakin jika hanya dirimulah yang cocok buat Sehun.”

“Bibi….” Lagi-lagi, hanya itu yang bisa Wendy katakan.

“Kau tenang saja, Wendy-ah. Bibi akan selalu berada di samping mu. Mendukung hubungan kalian.” Kali ini, Tiffany menatap Wendy dan mengulum sebuah senyuman.

Senyuman Wendy mulai merekah, “Terimakasih bibi. Ini sangat berharga buatku…”

“Akulah yang seharusnya berterimakasih kepada mu.”

Wendy kembali terdiam. Bingung dengan perkataan Tiffany. Jika boleh jujur, semua yang Tiffany katakan membuat ia kebingungan. Terlalu abstrak. Acak. Penuh kejutan. Twisted. Tapi biarkanlah. Ini sebanding dengan apa yang Wendy harapkan.

Cklek!

Pintu kamar Tiffany terbuka. Dokter Donghae masuk dengan tenang. “Apa aku menganggu acara kalian?”

Wendy dan Tiffany sama-sama menggeleng.

“Baiklah. Aku hanya ingin melakukan pengecekan rutin dan memberi Tiffany,” Donghae terdiam sebentar, “Maksudku pasien Tiffany obat.”

Wendy hanya mengangguk. Handphone-nya yang tiba-tiba berdering menyentekan Wendy. Ia segera membuka hp-nya dan membaca sebuah pesan dari ibunya. Sebuah dengusan langsung terdengar.

“Bibi maafkan aku…” Kata Wendy lembut. “Tapi aku harus pergi sekarang. Oemma mengajak ku makan.”

Tiffany mengangguk lemah, “Titipkan salamku kepada Oemma-mu ya?”

Wendy mengangguk. Ia segera bangkit dari tempat tidurnya dan mengecup pipi kanan Tiffany, menyapa Donghae sejenak, dan menutup pintu ruangan ketika ia keluar.

Donghae menghela nafasnya, sedikit tersenyum kepada Tiffany. Ia berjalan ke arah Tiffany. Dia harus bersikap professional. Harus.

.TBC.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s