State of Grace (Chapter 19)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Donghae sudah berada di luar lebih lama dari perkiraan Tifanny dan Wendy. Ia mendengar perkataan Tifanny dan Wendy. Terutama dibagian Tifanny yang mengatakan jika ia akan selalu berada di samping Wendy. Tanpa sadar, Donghae mendesis. Merasa kesal dengan apa yang Tifanny lakukan.

“Kau kenapa?” Tanya Tifanny yang bingung dengan perilaku Donghae. Donghae tidak terlihat seperti biasanya. Ia hanya diam dan melakukan pekerjaannya. Maksud Tifanny Donghae tidak mengajak Tifanny berbicara seperti biasanya. Dia merasakan sebuah kehilangan yang besar akibat hal tersebut. “Apa kau bertengkar dengan Yoonah?” Tanya Tifanny lagi.

Donghae langsung menghentikan kegiatannya. Ia menatap Tifanny tajam, “Istirahatlah. Kau bisa pulang sore nanti. Siwon sudah mengatakan kepadaku jika ia akan menjemputmu.”

“Kenapa aku marah kepada ku?” Kekesalan muncul di benak Tifanny. “Apakah itu karena Siwon yang ingin menjemputku?”

“Bukan!” Teriak Donghae frustasi. Ia langsung mendekatkan dirinya ke Tifanny. Berbicara dengan nada yang sangat dalam dan pelan. Tidak ingin membuat orang di luar curiga dengan apa yang terjadi di dalam. Karena ia tahu, karirnya dipertaruhkan dalam hal ini. “Ini bukan masalah Yoonah dan Siwon, Tifanny. Tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.”

“Tapi kau marah-marah kepadaku!” Kata Tifanny dengan nada yang masih kesal. Detak jantungnya sudah mulai naik.
Donghae menghembuskan nafasnya, “Dengar, aku tidak seharusnya mencampuri urusanmu. Aku menghormati setiap keputusanmu dan setiap pandanganmu. Tapi, kali ini aku tidak tahan.”

Tifanny hanya diam. Menunggu perkataan Donghae yang selanjutnya, “Bukankah kekasih Sehun adalah Krystal Jung bukan Wendy Son?” Mereka sama-sama diam. Hingga akhirnya Donghae kembali berbicara, “Aku mengetahuinya dari Sehun jika kau bertanya-tanya dari siapa aku mengetahuinya. Dengar Tifanny, aku-“
“Keluarlah!” Suara Tifanny terdengar sangat lirih. Air matanya mengenang di pelupuk matanya. “Kumohon……”

Donghae menghela nafasnya sekali lagi. Dia harus mengalah untuk kali ini. “Kita berdua yang paling tahu apa maksud mu dengan Wendy bukan?” Setelah itu Donghae berbalik dan keluar dari kamar Tifanny.

.

.

.

.

Sehun tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Semuanya begitu kacau. Ia memutuskan untuk berdiam diri di apartment Krystal sampai ia bisa memutuskan sesuatu.

Biasanya tempat pelariannya adalah rumah Kai. Tetapi, berhubung masalah ini sudah sangat besar dan kemungkinan besar ayahnya akan sangat marah kepadanya, dia berpikir jika lari ke rumah Kai adalah masalah besar. Bisa-bisa menimbulkan keributan besar di sana. Jadi, mau tidak mau Sehun lari ke apartment Krystal sampai ia menemukan penyelesaian masalah. Ia kembali melihat hp-nya. Menunggu balasan dari Kai.

Tring!

Sebuah pesan masuk dan itu dari Kai. Segera saja Sehun membukanya.

Apa kau yakin dengan yang kau lakukan? Bukankah itu namanya lari dari masalah?

Sehun segera menjawab pesan Kai,

Iya, kau benar. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Tinggal disana sama saja memasukan diriku ke dalam penjara.

Terserah dirimu saja. Baiklah, aku akan melakukannya.

“Sedang menghubungi siapa?”

Sehun tersentak hebat ketika menyadari Krystal sudah ada dibelakangnya. “Ah?” Tanyanya masih syok.

Krystal menatap Sehun curiga, “Kau sedang apa?”

“Sedang mengurus sesuatu.” Jawab Sehun pendek. “Kukira kau sudah tidur.” Karena Sehun memaksa untuk tinggal di apartment Krystal, maka Krystal memaksa Sehun untuk tidur di sofa. Secara kamar yang dimiliki Krystal hanya satu.

“Aku memang sudah tidur. Kemudian aku terbangun karena ingin buang air kecil.” Krystal tersenyum pendek dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.

Setelah Krystal menghilang dari balik pintu kamar mandi, Sehun diam-diam kembali melihat hp-nya. Sebuah pesan masuk lagi, dan masih dari Kai.

            Jangan lupa membayarnya ya!

Sehun mendengus, ia segera membalasnya,

Iya, pelit!

.

.

.

.

Tifanny menuangkan secangkir kopi kepada Siwon. Ia menghela nafas untuk yang kebeberapa kalinya di pagi yang cerah ini. Keadaan di rumah sangat mencekam. Sehun juga tidak pulang kemarin malam.

“Apa kau sudah menyelidiki kemana Sehun pergi?” Tifanny lagi-lagi bertanya kepada Siwon.

Siwon yang masih sibuk dengan tablet-nya menganggukan kepalanya, “Dia tidak ada di rumah Kai ataupun di hotel Seojoon. Dia juga tidak memakai kartu kreditnya kecuali membeli bensin di pom bensin dekat rumah sakit.”

“Adakah yang lebih detail daripada itu? Setidaknya mengatakan jika ia baik-baik saja.”
Siwon menghela nafasnya. Ia meletakan tabletnya dan menatap Tifanny, “Umurnya sudah 23 tahun Tifanny. Dia sudah menyelasaikan kuliah dan sebentar lagi akan di wisuda. Sudah mendapat perkejaan. Dia pasti akan baik-baik saja.”

“Aku tidak mengerti mengapa dirimu sama sekali tidak panik karena dia menghilang.” Kata Tifanny dengan nada sinis.

Siwon kembali menghela nafasnya, “Berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Dia sudah besar dan dia akan kembali kepada kita. Aku yakin jika dia menghilang selama satu hari saja. Hari ini dia pasti akan kembali.”

“Aku masih tidak tenang!”

Siwon menyesap kopinya, “Dengar, aku tetap menyuruh orang untuk mencarinya. Aku juga akan terus memantaunya. Tetapi aku harus berangkat kerja. Ada rapat bersama kolegaku, Tuan Kwon mengenai pembangunan hotel terbaru di Bali dan aku harus menghadirinya.”

Tifanny mendelik, “Tidak bisakah kau lupakan pekerjaan mu sebentar dan mengurusi keluargamu? Ini masalah yang lebih penting Siwon-ah!”

“Masalah penting apa? Sehun hanya kabur seperti biasanya. Dan kamu yang baru keluar dari rumah sakit karena stress. Seojoon yang tiba-tiba muncul tapi aku yakin dia tidak berani macam-macam ke kita. Tidak ada masalah yang penting. Aku yakin kau bisa mengurusnya.” Siwon segera mengurusi barang-barangnya. Memasukan tablet-nya ke dalam tasnya.

Tifanny menunduk. Dia merasa ingin menangis. “Uhm… Pergilah!” Katanya dengan suara yang diusahakan ceria. “Pergilah!”

Siwon menghampiri Tifanny, “Aku akan pulang lusa.” Mengecup singkat pipi Tifanny dan melangkah keluar dari dapur.

Hiks!

Hiks!

Bersamaan dengan itu, air mata Tifanny mengalir.

.

.

.

.

Sehun masih sibuk mengunyah sarapannya, tetapi matanya tidak lepas dari handphone-nya.

“Kau terlihat sangat sibuk.” Gumam Krystal sambil menyesap tehnya.

Sehun menoleh ke arah Krystal, “Mungkin.” Ia kemudian menghentikan kegiatan makannya dan melihat ke arah Krystal, “Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan.”

Melihat sikap Sehun yang sangat gugup membuat Krystal juga ikutan gugup. Ia pun menganggukan kepalanya perlahan.

“Aku…” Sehun diam sejenak. Menghela nafas. “Aku akan pindah ke sebuah apartment. Baru saja aku rencanakan, bukan, maksudku aku merencanakannya tadi malam dan sudah mendapatkan apartment yang bagus dengan harga yang terjangkau, juga dekat dengan kantorku. Oh, apakah aku lupa bilang kepada mu jika aku diterima disuatu biro hukum? Jadi, kurasa mulai dari sekarang aku akan tinggal di apartment.”

Apartment?” Krystal hanya bisa menatap Sehun, “Maksudku tidak tinggal lagi dengan orangtua mu?”
Sehun menganggukan kepalanya.
Terdengar helaan nafas dari Krystal, “Bukannya itu artinya kau melarikan diri dari sebuah masalah? Masalah dengan orangtuamu belum selesai tetapi dirimu sudah memutuskan berpisah dari mereka?”
Sehun terlihat berpikir, “Kau benar.” Akunya. “Aku memang selalu kabur jika bertengkar dengan mereka. Tetapi mengubah seseorang dengan satu malam bukanlah suatu yang mudah. Orangtuaku tetaplah orangtuaku. Aku adalah aku. Kami terbiasa dengan situasi seperti ini, tidak peduli jika Mom akan sangat panik ketika aku menghilang. Ia tetap tidak mengubah kebiasaannya untuk terus menahan pendapatnya hingga aku lelah dan memutuskan untuk kabur.”

“Tetapi ini bukanlah sesuatu yang dapat dibenarkan, kabur dari sebuah masalah.”

“Okay, bagaimana jika seperti ini, aku akan menyelesaikan masalah denganku dengan orangtuaku tetapi tetap tinggal di apartment?”

Krystal akhirnya mengangukan kepalanya, “Baiklah. Itu adalah ide yang bagus.”

Krystal teringat sesuatu, “Tapi kau harus mengatakannya kepada orangtuamu.”

“Apa?!”

“Iya, maksudku memberi tahu orangtuamu mengenai dirimu yang akan pindah ke apartment.” Krystal tiba-tiba mengkerutkan keningnya, “Kau tidak berpikir jika kau pindah tanpa memberi tahu mereka bukan?”

Sehun mendengus, “Memberi tahu mereka adalah ide yang sangat buruk.”

“Sehun…” Baiklah, kali ini Krystal benar-benar menghentikan kegiatan sarapannya  dan menatap ke Sehun, “Bagaimana bisa kau tidak memberi tahu mereka?”

“Tentu saja bisa!”

Krystal berkacak pinggang, “Sesuatu yang buruk dimulai dari sebuah prasangka yang juga buruk. Kau sudah berpikir yang buruk-buruk mengenai kedua orangtua mu. Bagaimana bisa mereka bisa mempercayai mu jika kau juga tidak mempercayai mereka? Bicaralah baik-baik dengan mereka. Katakan jika kau harus pindah ke sana untuk memudahkan pekerjaan mu. Mereka pasti akan mengerti, walaupun tidak pada hari itu juga.”

Sehun terdiam mendengar penjelasan Krystal. Dalam hati Sehun mengakui jika Krystal benar. Ia kembali mendengus, “Baiklah. Aku akan mengatakan pada orangtua ku.” Sehun kemudian berdehem, “Aku akan pulang sekarang.”

“Maksudmu? Tunggu, kau tidak marah kepadaku bukan?” Krystal menghampiri Sehun. Raut wajahnya terlihat khawatir.
Sehun menggeleng, “Tentu saja tidak.” Ia kemudian tersenyum, “Aku benar-benar akan pulang. Kemudian memberi tahu ibuku mengenai hal ini.”

Krystal tetap diam. Bingung ingin berbicara apa, “Aku tidak mengerti dirimu sama sekali.”
Sehun mengangkat kedua bahunya, “Lebih cepat lebih baik. Pemilik apartment menunggu kepastian ku siang ini.   Aku memberi orangtuaku, ke pemilik apartment, dan kita bisa menghias apartment.”

“Apa?” Nada suara Krystal tambah bingung. “Apa-Astaga! Aku sama sekali tidak mengerti dirimu!”

Sehun tersenyum licik, “Bersiaplah jatuh ke dalam pesonaku yang itu Nyonya Oh!”
Tap!

Krystal segera memukul bahu Sehun. Pipinya bersemu merah. Ini memalukan. Tetapi, ini juga membuat dirinya bahagia.

.TBC.

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s