Runaway (Chapter 3)

seasonal-florist1

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Taemin segera berbalik dengan senyum lebarnya, “Oemma ayo berkenalan dengan Min Seongsangnim!”

Sulli langsung tersenyum excited . Akhirnya rasa penasaran terjawab.

Dengan pelan, orang yang dipanggil Min Seongsangnim berdiri.

“Minho?!” Gumam Sulli tanpa sadar.

.

.

.

.

.

Hati Minho tidak bisa berhenti berdebar ketika ia memasuki sebuah TK yang sekarang menjadi tempat ia bekerja selama beberapa bulan kedepan. Ia mengutuk dirinya. Ia sudah terbiasa berbicara di depan orang-orang penting di dunia melukis. Minho biasa saja. Tapi kali ini, ketika ia mengenalkan dirinya untuk pertama kalinya di depan anak kecil berumur tak lebih tujuh tahun beberapa hari yang lalu, Minho sangat gugup dan kikuk. Ia memaksakan sebuah senyuman kepada murid-muridnya. Berharap sambutannya cukup hangat.

Min Seongsangnim!

Minho segera menoleh ke asal suara dengan senyuman lebarnya. Terlihat Taemin berjalan mendekati dirinya. Taemin baru saja datang.

“Taemin hari ini datang sangat pagi.” Kata Minho ketika Taemin sampai di depannya.

Taemin terkekeh kecil, “Taemin tidak ingin terlambat di pelajaran pertama. Pelajaran memasak. Pernah sekali Taemin terlambat, Taemin gak dikasih makan. Menyebalkan!” Taemin bercerita khas anak umur lima tahun. Hal itu membuat Minho gemas dan mencubit pipinya.

“Min Seongsangnim sendiri kenapa datangnya pagi-pagi?”

Satu hal yang Minho sadari dengan Taemin adalah dia sangat susah di atur. Bermain semaunya. Suka mencoret-coret apa saja. Makannya banyak hingga mengambil jatah orang lain. Hingga menyebut nama guru juga terserah dirinya. Contohnya saja dengan Minho. Jika murid-murid memanggil Minho dengan Choi Seongsangnim, Taemin memanggil Minho dengan Min Seongsangnim. Hal itu juga kepada hampir semua guru termasuk kepala sekolah yang dipanggilnya ‘Seongsangnim berkaca mata!’ Rasanya Minho ingin tertawa terbahak-bahak ketika mendengar Taemin berkata seperti itu, tapi ia tahan karena ia berada tepat di depan kepala sekolah. Kepala sekolah terlihat sudah sangat pasrah dengan panggilan Taemin.

“Minho seongsangnim harus menyiapkan peralatan untuk pelajaran pertama.” Jawab Minho. Taemin menganggukan kepalanya.

Sejujurnya, Minho sangat senang berada di dekat Taemin. Dia sangat senang mengetahui segalanya tentang Taemin.

“Taemin tidak ke kelas?”

Taemin terlihat berpikir, “Kelas masih sunyi. Taemin takut. Taemin benci kesunyian.”
“Seperti Oemma Taemin?”

“Bagaimana Min Seongsangnim tahu Oemma tidak suka kesunyian?”

Minho berdehem menghilangkan kegugupannya, “Bagaimana jika Taemin mengikuti Min Seongsangnim menyiapkan peralatan? Nanti ketika sudah ramai baru Taemin ke kelas?”

Taemin menganggukan kepalanya.

.

.

.

.

 

“Min Seongsangnim sudah siap untuk pelajaran pertama?”

Minho menoleh ketika ia menaruh lima warna cat akrilik di meja paling depan, satu-satunya meja yang belum ia taruh. “Iya. Taemin belum mau balik ke kelas?”

Taemin menggeleng, “Nanti saja… Pasti masih sepi…” Katanya dengan suara lusuh.

“Taemin tidak ingin bermain?” Tanya Minho lagi.

Taemin kembali menggeleng, “Tidak ada teman-teman, tidak asik.”

Minho menghela nafasnya, “Jadi Taemin mau apa?”
“Di sini..”

Minho hanya bisa menganggukan kepalanya, “Baiklah. Tapi jangan membuat berantakan okay?”

Taemin menanggukan kepalanya, “Min Seongsangnim ada kerjaan lagi?”

Minho menggelengkan kepalanya, “Kenapa?”

“Min Seongsangnim ingin menceritakan sesuatu? Taemin mengantuk. Kalau Taemin mendengarkan cerita seseorang ketik mengantuk, rasa kantuknya hilang. Min Seongsangnim ingin bercerita?”

Minho terlihat berpikir sejenak, “Tentang apa?”

“Apa saja.”

“Kalau Min Seongsangnim bertanya kepada Taemin tidak apa-apa?”

“Boleh. Tentang apa?”

“Kenapa nama Taemin itu Taemin?”

Taemin mengkertukan keningnya, “Kenapa? Kata Oemma nama Taemin itu penggabungan dua kata. Tae dan Min. Tae adalah nama yang diberi dari Appa. Itu berasal dari nama nenek, Tae-Yeon. Kalo Min itu dari Oemma. Tapi Taemin gak tahu kenpaa Oemma memberi kata itu. Oemma hanya bilang jika itu kata yang sangat special nantinya bagi Taemin.”
Minho tertegun mendengar perkataan Taemin. Kata yang sangat special? Min…. Minho?

“Min Seongsangnim!”

Teriakan Taemin menyadarkan Minho dari lamunanya,

“Kalau Min Seongnim, kenapa Taemin memanggil Min Seongsangnim bukan Choi Seongsangnim?”

Taemin tersenyum, “Karena cuman Taemin yang manggilnya seperti itu. Jadi setiap kali Taemin memanggil Min Seongsangnim, Min Seongsangnim akan tahu yang memanggil itu adalah Taemin!”

.

.

.

.

.

Minho menggumamkan terimakasih ketika Yoo Seongsangnim, salah satu guru di TK memberikan secangkir kopi kepada Minho.

“Hari yang berat?” Suara lembutnya menelisik telinga Minho.

“Lumayan.” Kata Minho dan mulai menyesap kopi.

“Jangan lupa mengisi form penilaian.”

Minho menganggukan kepalanya. “Mengajar di kelas mana lagi?”
Yoo Seongsangnim melihat jadwal mengajarnya, “Kelas Taemin.”

“Taemin?”

“Uhm!” Kata Yoo Seongsangnim dengan antusias. “Kau pasti mengenal Taemin bukan? Ku dengar kau akrab dengan Taemin. Bagaimana bisa? Aku saja tidak bisa mengatur dirinya.”

Minho menggelengkan kepalanya, “Entahlah. Kurasa dia anak yang baik dan imut.”

“Dia memang imut.” Kemudian terdengar helaan nafas, “Tetapi kalau nakalnya mulai… Ngomong-ngomong, tadi pagi aku melihat dirimu dengan Taemin.”

“Oh, dia datang terlalu pagi dan takut ke kelasnya karena masih terlalu sunyi, akhirnya ia ke kelasku.”
“Ke kelasmu?”

“Iya. Melihat diriku bersiap-siap untuk pelajaran pertama.”
“Dan dia hanya melihat? Tidak berbuat apa-apa?”

Minho mengangguk.

Terdengar helaan nafas, “Dia memang selalu baik kepada guru melukis. Jiwanya memang seni melukis sih…Tapi aku berharap jika ia juga sedikit rajin menulis. Dia sama sekali tidak takut ketika aku memarahinya karena tidak mau menulis. Padahal, sebelumnya-“

“Kau tidak ke kelas?” Minho memotong ucapan Yoo Seongsangnim. “Sebentar lagi bel berbunyi.”

“Ya, ampun. Kurasa aku harus cepat-cepat ke kelas. Terimakasih sudah mengingatkanku!”

.

.

.

.

.

“Taemin, ini sudah waktunya pulang. Ayo pulang! Bukannya hari ini Oemma pulang? Taemin tidak ingin melihat Oemma?” Song Seongsangim berusaha membujuk Taemin.

“Taemin ingin maiinnn!!!!!” Teriak Taemin kesal.

“Kok gitu sih?” Tanya Song Seongsangnim dengan nada sedikit tinggi, “Kalau Taemin gak pulang sekarang Song Seongsangnim kasih tugas menghitung. Dua puluh nomor di halaman 15!”
“Gak peduli! Taemin gak peduli! Tadi guru-guru yang lain sudah ngasih tugas. Membaca halaman 16 sebanyak dua lembar, nulis di halaman 17, menghafalkan 5 lagu, bahasa Inggris halaman 18. Sekarang, berhitung halaman 15.”

Terdengar helaan nafas dari guru-guru yang tak jauh dari Taemin dan Song Seongsangnim.

“Ku rasa jika diberi semua tugas mata pelajaran juga ia tidak ingin beranjak.” Keluh Yoo Seongsangnim.

“Choi Seongsangnim, kau ingin mencoba membujuk Taemin?” Tanya Shim Seongsangnim.

Minho tidak berkata apa-apa, tetapi ia sudah melangkah mendekati Taemin. Song Seongsangnim yang menyadari keberadaan Minho menghela nafasnya, “Syukurlah kau datang…” Ia segera berbalik dan menjauh dari Taemin.

“Taemin tidak ingin pulang?” Suara lembut Choi Minho membuat Taemin menatapnya.
“Tidak!” Seru Taemin galak. “Taemin mau pulang jika Oemma menjemput Taemin di sini!!!”
Minho menghela nafasnya. Memutar otaknya agar dapat memberi alasan yang bagus, “Tapikan orangtua menunggunya di depan tidak boleh menunggu ke dalam. Oemma Taemin pasti menunggu Taemin di luar.”

“Taemin tetap tidak peduli! Taemin mau di jemput di sini sama Oemma…” Taemin tetap galak, tetapi di akhir kalimat air matanya menetes.

“Taemin kenapa?” Minho khawatir. Ia mendekatkan dirinya ke Taemin, berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Taemin.

“Taemin mau main sama Oemma. Kalau Taemin pulang sekarang, Oemma pasti langsung bawa Taemin pulang. Taemin gak mau.”

Hati Minho mencelos mendengar jawaban Taemin, “Oemma orang yang baik bukan?” Tanya Minho dengan suara rendah.

Taemin segera mengangguk, “Oemma baik sekali. Cantik. Senyumnya juga menawan. Oemma selalu melindungi Taemin kalau Appa marah.”

Oemma selalu mendengarkan perkataan Taemin?”

“Iya. Selalu.”

“Jadi, kalau Taemin bilang Taemin ingin main dengan Oemma, Oemma yang baik, cantik, punya senyum menawan, dan selalu mendengar perkataan Taemin akan menolak ketika Taemin berkata seperti itu?”

Taemin terlihat berpikir, “Benar juga ya…” Sebuah senyuman kemudian timbul, “Baiklah. Taemin akan pulang!” Taemin kemudian berlari menuju kelasnya.

Para guru-guru menghela nafasnya.
“Kerja yang bagus Minho Seongsangnim!

Entah mengapa, perasaan hangat mengalir ketika salah satu rekan kerjanya-Shim Changmin yang juga mengajar disitu berkata seperti itu kepadanya. Minho merasa bangga ketika orang memanggilnya Minho Seongsangnim. Sangat bangga.

Minho hanya menganggukan kepalanya. Beberapa guru-guru sudah banyak yang bubar. Bersiap-siap untuk pulang. Minho juga begitu. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang guru. Merapihkan barang-barangnya.

“Min Seongsangnim!!!

Semua orang disitu tersentak hebat ketika Taemin memasuki ruang guru, tak terkecuali Minho.

“Ada apa Taemin?”

Taemin tidak menjawab. Tangan kecilnya menarik badan Minho. Dengan kebingungan, Minho mengikuti langkah Taemin.

“Ada apa Taemin?” Tanya Minho sekali lagi ketika mereka sudah keluar dari ruang guru.

“Taemin ingin Min Seongsangnim bertemu Oemma!”
“Apa?!” Minho tidak dapat menutupi keterkejutannya.
“Ayo!! Sekarang!!!” Sepertinya Taemin tidak dapat mendengar perkataan Taemin karena ia sekarang berlari menuju pintu keluar. Beberapa detik kemudian Taemin menghilang dari pandangan Minho.

Minho menggeluarkan nafasnya yang sedari tadi ia tahan. Taemin ingin ia bertemu dengan…. Sepertinya Minho terlalu cepat lega. Taemin kembali datang dengan berlari-lari kecil.

“Min Seongsangnim!!!”

“Ayo!!!”

Dua kalimat itu membuat keringat dingin Minho keluar, “Seongsangnim tidak bisa….” Jawab Minho apa adanya.

Ia memang tidak bisa. Tidak. Dia belum siap bertemu dengan Sulli. Dia belum siap melihat reaksi Sulli. Dia belum siap jika Sulli berpikir ia menjadi guru disini karena Taemin. Tidak. Dia belum siap.

“Tapi Taemin gak mau tahu!”

Minho berjongkok di hadapan Taemin, “Besok saja ya? Jangan sekarang. Minho Seongsangnim harus pulang sekarang.”

Nah, jawaban bodoh apa yang telah Minho berikan? Jawaban bodoh yang anak kecil bisa memberi jawaban yang lebih bagus dari pada hal itu. Tentu saja, Taemin menolaknya mentah-mentah. Bersikeras jika Minho harus bertemu dengan Oemma-nya.

“Taemin…” Suara lembut Sulli memecah keheningan lorong.

Minho lagi-lagi tersentak. Detak jantungnya menjadi tidak teratur.

Taemin segera berbalik dengan senyum lebarnya, “Oemma ayo berkenalan dengan Min Seongsangnim!”

Minho memejamkan matanya. Baiklah, ia tidak bisa mundur. Dengan pelan dan ragu, Minho berdiri. Menatap Sulli dan langsung melihat Sulli terkesiap keras. Min-ho…. Dua kata yang dapat Minho tangkap dari gerakan bibir Sulli. Perempuan itu juga tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

Anyeonghaseyo, Choi Minho imnida… Saya adalah salah satu guru Taemin…” Minho segera membungkukan badannya dan untuk kedua kalinya menatap mata Sulli.

Perempuan di depannya tidak lagi terkejut, tetapi masih tidak bersuara.

Minho menyunggingkan senyumnya. Menutupi kegugupannya. Ayolah… Sulli harus mulai bersuara sebelum ia terlihat seperti orang yang bodoh.

“Ah…” Akhirnya Sulli membuka mulutnya. “Senang bertemu dengan Anda.” Kata Sulli pendek dengan nada yang sama sekali tidak ramah. Sedikit ketus di dalamnya. “Terimakasih telah menjaga Taemin ketika saya pergi. Saya sangat menghargai hal itu.” Sulli kembali melanjutkan perkataannya dengan sorot mata menahan kegugupan. “Dia merasa sangat senang dan saya juga senang ada orang yang menjaganya.” Lanjutnya sebelum berbalik menghadap Taemin. Mengajak Taemin pulang.

.TBC.

Advertisements

2 thoughts on “Runaway (Chapter 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s