Runaway (Chapter 4)

Runaway Poster Fix

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Minho masih diam tidak bergeming sedikitpun ketika Sulli menghilang dari pandangannya.

Perkataan Sulli…. Yah, Minho tahu Sulli tidak bermaksud lebih terutama menyakiti perasaan Minho. Tapi, Minho tetap merasakan sakit hati karena kalimat itu mengatakan kepadanya jika Taemin bukan sepenuhnya tanggung jawab Minho. Tapi ia bisa apa? Bukankah dia yang mengatakan jika ia ingin mengejarkan mimpinya apapun yang terjadi?
Minho hanya bisa menghela nafas menatap kepergian Sulli.

.

.

.

.

.

“Jadi gitu Appa!” Taemin memakan suapan terakhirnya.

Jongin menganggukan kepalanya, Ia juga memasukan suapan terakhirnya. “Jadi Jung Seongsangnim keluar dan yang menggantinkannya adalah Min Seongsangnim?”

Taemin kembali mengangguk, “Benar! Taemin sangat suka kepada Min Seongsangnim… Sangat-sangat suka! Min Seongsangnim baik. Tadi—“

“Taemin…” Sulli menyela omongan Taemin. “Bukankah dirimu harus mengerjakan PR? Tadi guru-guru mengirimkan pesan kepad Oemma agar Taemin mengerjakan semua PR.”

Taemin langsung cemberut, “Mengesalkan!”

“Jangan berbicara kasar Kim Taemin!” Jongin mengingatkan Taemin dengan nada tajam. “Kerjakan PR mu dulu ya? Nanti, sebelum mau tidur kita lanjutkan lagi ceritanya ya?” Kemudian nada bicara Jongin menjadi sangat lembut.

Taemin tetap cemberut. Tetapi, ia menganggukan kepalanya. Taemin segera turun dari kursi meja makan dan berlari menuju kamarnya.

“Kerjakan yang mudah dulu ya! Oemma akan menyusul sebentar lagi!” Teriak Sulli ketika kepada Taemin. Taemin harus diancam atau tidak dia akan main-main.

Sulli bangkit dari kursinya, membereskan piring-piring keluarga kecilnya. Saat mencuci piring, Jongin tiba-tiba memeluknya.

“Bagaimana harimu?” Katanya mengantarkan kehangatan kepada Sulli.

Sulli tersenyum kecil, “Lumayan~”

“Lumayan? Jawaban macam itu?”

Sulli tertawa lepas, ia segera membalikan badannya, “Tidak ada yang special.”

Jongin mengerutkan alisnya, “Tereserah!” Jawabnya cuek. Tangannya mengelus pipi Sulli perlahan. Kemudian ia mendekatkan dirinya ke Sulli.

Cup!

Jongin mencium ujung bibir Sulli. Ujungnya, bukan tepat di bibir Sulli. Pada detik-detik terakhir, Sulli menghindarinya.
“Aku harus cepat mencuci piring agar bisa melihat Taemin…” Katanya sudah berbalik dan kembali mencuci piring.

Jongin tersenyum datar, “Baiklah…”

.

.

.

.

.

Tak! Tak! Tak!

Sulli mengetuk-ngetukan pulpennya. Tatapannya menerawang ke depan. Mejanya, yang dimana berserakan desain-desain model terbaru tidak ia sentuh sama sekali. Sejak datang ke sini, Sulli benar-benar hanya duduk.
“Krystal…” Panggilnya tanpa melihat Krystal.
Krystal yang sibuk melihat desain menoleh, “Apa?”

“Bagaimana caranya berbicara dengan orang yang tidak ingin kau ajak berbicara?”

Krystal mengerutkan keningnya, “Pertanyaan mu sangat aneh. ‘Bagaimana caranya berbicara dengan orang yang tidak ingin kau ajak berbicara?’”

Sulli menghela nafasnya. Ia meletakan pulpennya dan duduk dengan tegak. “Aku tidak ingin bertemu apalagi berbicara dengan orang tersebut. Tetapi aku harus berbicara dengannya.”

Krystal tambah mengerutkan keningnya, “Kau sangat aneh Choi Sulli. Jelas-jelas jika kau ingin berbicara dengan orang harus ada niat ingin berbicara dengan orang itu. Kau saja enggan… Ya, bagaimana mau berbicara dengan orang tesebut?”

Mendengar penjelasan Krystal, Sulli kembali menghela nafas, “Kau benar. Aku memang tidak ingin berbicara dengannya.” Ia tersenyum tipis kemudian, “Baiklah. Masalah itu akan kupikirkan nanti. Sekarang, kita focus kepada desain musim gugur kita. Bagaimana?”

“Baiklah.” Krystal kemudian mulai menjelaskan berbagai macam desain kepada Sulli.

.

.

.

.

Sulli menyelesaikan pekerjaan desainnya pada pukul 1 siang. Sudah menjadi aturannya sendiri jika jam 1 ia akan pulang untuk menjemput Taemin dan sehabis itu menghabiskan waktu bersama Taemin. Sulli membereskan meja kerjanya juga menempelkan beberapa notes di mejanya. Pengingat pekerjaan yang belum selesai. Matanya tidak sengaja melihat salah satu note-nya, “Tembus fashion week tahun depan!!!” Penyemangat dirinya agar lebih sukses sejak ia membuka butiknya, tiga tahun yang lalu dan terus menjadi mimpinya sampai sekarang.

“Aku pulang duluan ya….” Pamit Sulli kepada Krystal. Krystal yang masih sibuk menyusun jadwalnya besok menganggukan kepalanya.
“Jangan lupa jika besok kau akan bertemu dengan Vogue Magazine!” Kata Krystal tanpa menoleh sedikitpun.

“Tentu!” Jawab Sulli pendek dan segera pergi menjemput Taemin.

.

.

.

.

.

Minho meregangkan tubuhnya. Ternyata menjadi seorang guru lebih susah daripada menjadi curator gallery. Tangannya kaku akibat harus mengisi laporan. Belum lagi otaknya harus mendidih karena harus membuat silabus ngajar. Ditambah bahunya yang pegal karena harus menunduk, melihat semua lukisan untuk dinilai. Satu lagi yang paling penting, Minho harus memeras otak dalam memberi nilai karena ia merasa lukisan anak-anak disini tidak sesuai dengan standar Choi Minho. Ia menghela nafasnya.

“Kau terlihat sangat lelah Choi Seongsangnim!”

Minho menoleh dan terkekeh kecil, “Masih banyak yang harus ku nilai….” Respon Minho pendek.

Kekehan kecil terdengar, “Aku pernah merasakan hal itu seperti mu. Pada saat awal-awal mengajar matematika. Kau harus mengerti betapa frustasinya diriku melihat anak-anak yang tidak mengerti di ajar berkali-kali. Padahal ketika TK aku sudah bisa menyelesaikan perkalian!”

Minho hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Orang di depannya adalah Cho Kyuhyun. Senior dalam mengajar. Walaupun begitu, Kyuhyun adalah orang yang baik. Ia tidak membedakan Minho sejak pertama mengajar. Ramah tetapi juga professional. Sedikit aneh karena ia mempunyai latar belakang lulusan Havard di bidang matematika tetapi memilih menjadi guru TK. Tentu saja ia jenius.

“Cho!”

Panggilan dari Shi Seongsangnim membuat Minho dan Kyuhyun menoleh.

“Hari ini jadi kumpul? Di rumah mu?”

Shi Seongsangnim atau bernama lengkap Shim Changmin juga senior bahkan lebih senior dari Kyuhyun. Mengajar sejak umur 18 tahun dan sekarang umurnya 29 tahun. Guru menyanyi di TK ini dan mempunyai vocal yang luar biasa. Sangat-sangat luar biasa. Dia dan Kyuhyun adalah teman dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Ini dikarenakan mereka mempunyai umur yang sama dan bekerja disini ketika sama-sama masih muda.

“Tentu! Oemma ku yang akan memasak makan malam.” Kyuhyun kemudian menoleh ke Minho, “Kau ingin ikut Choi Seongsangnim?”

Minho tidak menyangka di ajak terdiam beberapa saat. “Tidak apa-apa?”

Changmin mengangguk mantap, “Tentu saja tidak apa-apa. Eiih…. Jangan pikir kami hanya berkumpul berdua saja. Lee Seongsangnim juga sering berkumpul dengan kita kok… Ini adalah perkumpulan guru-guru cowok disini.”

Minho akhirnya menganggukan kepalanya, “Boleh juga.”

“Eh, Junmyeon akan pulang bukan?” Tiba-tiba Yoo Seongsangnim menghampiri mereka.

Kyuhyun mengangguk, “Iya. Dia bilang jika bulan madunya dengan Joohyun sudah selesai.”
“Junmyeon?” Tanya Minho bingung.
“Oh, kau belum pernah bertemu dengan Junmyeon ya? Dia guru etika disini dan baru saja menikah.” Yoo Seongsangnim menjelaskan.

Kyuhyun tiba-tiba mendekat, “Junmyeon juga ikut dalam perkumpulan ku. Junmyeon, aku, Changmin, Jonghyun, dan sekarang dirimu.” Bisiknya kepada Minho.

Minho sendiri hanya mangut-mangut karena ini pertama kalinya ia tahu.

Kriiingggg~
Bel pulang berbunyi. Bel yang bukan hanya ditunggu oleh siswa tetapi juga ditunggu oleh guru. Pada bel ini pembelajaran berakhir dan siswa boleh bermain hingga pukul 2 siang. Sedangkan guru untuk jam makan siang, sebelum rapat wajib pada pukul 2 siang.

Minho meletakan kertas terakhir yang harus ia nilai. Ia kemudian berdiri, “Ada yang ingin ikut makan?”

Beberapa guru disana, bukan hanya Cho, Shim, dan Yoo Seongsangnim mengangguk. Mereka berbondong-bondong keluar. Mereka semua akan makan di tempat biasa, tempat makan yang tak jauh dari TK karena sekolah hanya menyediakan makanan khas anak-anak.

“Min Seongsangnim?”

Suara lembut itu seketika menghentikan Minho dari kegiatannya yang sibuk berbicara. Juga menghentikan gerombola guru-guru.

Mata Yoo Seongsangnim membesar, “Oh, Taemin Oemma?”

Minho langsung merasa tidak bisa bernafas.

.

.

.

.

.

Sulli sampai tepat waktu. Ia sudah bertemu Taemin dan Taemin meminta waktu agar bisa bermain pada teman-temannya. Sulli mengiyakan selama 30 menit dari waktu satu jam yang Taemin minta. Saat baru saja selesai berbicara dengan Taemin, matanya tidak sengaja menangkap segerombolan guru yang ingin makan siang. Suara mereka terdengar jelas olehnya. Termasuk suara Minho yang asik bercengkraman.

“Jika kau ingin berbicara dengan orang harus ada niat ingin berbicara dengan orang itu.”

Entah mengapa perkataan Krystal kembali muncul di benak Sulli. Apakah Sulli punya niat berbicara dengan Minho? Tentu saja! Dia ingin berbicara untuk meluruskan beberapa hal kepada Minho. Sulli hanya ragu karena ia bingung bagaimana caranya ia berbicara kepada Minho. Sulli hanya ragu apakah perasaannya akan menyeruak keluar, tidak terbendung, ketika ia melihat mata Minho. Dia harus berpikir jangka panjang karena sekarang dia adalah soerang istri dan ibu. Sulli tidak boleh gegabah.

Mendengar suara Minho saja membuat jantung Sulli berdetak tidak karuan. Astagaaa… Apa yang harus ia lakukan?

Sulli memejamkan matanya. Sekarang atau tidak pernah. Karena ia yakin, jika ia tidak akan bisa mengumpulkan nyali untuk berbicara dengan Minho.

Min Seongsangnim….” Panggil Sulli berusaha agar terdengar biasa saja.

Minho berhenti berbicara. Tetapi ia tidak menoleh. Malah Yoo Seongsangnim, salah satu guru killer-menurut Taemin- yang menoleh. Yoo Seongsangnim tersenyum lebar dan menanyakan kabar Sulli.
Sulli tersenyum tipis, sedikit berbasa-basi sejenak, “Saya ingin berbicara kepada Min Seongsangnim…” Kata Sulli di akhir kalimat.

Yoo Seongsangnim tertawa, “Min Seongsangnim ya?”

Tersadar jika ia salah memanggil nama Minho Sulli hanya tersenyum malu. Menahan mulutnya agar tidak mengoreksi menjadi Choi Seongsangnim. Semua guru-guru pasti bingung karena Sulli, setahu mereka, tidak pernah berkenalan secara formal dengan Minho.

“Kami akan makan siang.” Ucap Cho Seongsangnim dari belakang. “Jadi mungkin sebaiknya Anda harus berbicara lain waktu. Sehabis ini kami ada rapat. Sebaiknya juga Anda memberi tahu sebelumnya agar Choi Seongsangnim bisa mengatur jadwalnya.”
Gawat! Cho Seongsangnim adalah guru yang ditakuti oleh Sulli. Menurut Sulli ia adalah seorang professional yang tidak ragu mengatakan hal yang benar. Termasuk di situasi ini. Seharusnya Sulli memberi tahu sebelumnya. Tapi dia tidak berpikir panjang karena nyatanya ia memang tidak mau berbicara dengan Minho. Ini benar-benar ide yang muncul secara tiba-tiba.
“Tidak apa-apa….”

Deg!

Detak jantung Sulli langsung menggila ketika mendengar suara itu. Sulli mengepalkan tangannya. Tahan dirimu… Tahan dirimu bodoh! Rutuknya dalam hati.

Guru-guru menoleh ke Minho.

Minho membalas tatapan guru-guru, tersenyum meyakinkan, “Pasti ada masalah penting yang tidak dapat di undur hingga Oemma Taemin tidak sempat memberi tahu saya sebelumnya.”

Sulli terdiam mendengar perkataan Minho.

“Saya titip makan siang saya.” Lanjut Minho.

Guru-guru terlihat tidak bisa membantah dan akhirnya mengundurkan diri dari hadapan Minho dan Sulli.
Sulli dan Minho melihat kepergian guru-guru. Saat gerombolan guru telah hilang dari pandangan mereka, mereka menoleh. Menatap satu sama lain.

“Sudah lama tidak berjumpa, Sulli…”

Suara berat itu membuat Sulli tidak bisa bernafas.

.TBC.

Holla… i’m back…  Maaf ya untuk Runaway agak lama update-nya.  Saya mengalami writer block khusus untuk Runaway…

Gimana pendapat mengenai Chapter ini?  Chapter selanjutnya Julli mungkin? 🌝✌️  Karena saya mau ngambil hiatus dulu ya dari tanggal 20 Mei sampai awal Julli atau akhir Juni, jadi kayaknya pertengahan   🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Advertisements

2 thoughts on “Runaway (Chapter 4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s