Flipped (Chapter 19)

flipped

Previous Chapter: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

KHIANAT

Lima bulan. Ya, lima bulan. Hari ini tepat lima bulan sejak Luhan dan Krystal memutuskan untuk pacaran. Krystal melihat hp-nya yang sudah dipenuhi oleh chat dari Luhan. Salah satunya berisi tentang hari jadi mereka. Hp Krystal kembali berdering. Tapi kali ini bukan sebuah chat yang masuk, melainkan sebuah telepon dari Luhan.

“Hallo…” Jawab Krystal dengan suara khas bangun tidur, menjawab telepon Luhan.

“Happy five month anniversary…”

Krystal tidak dapat menahan senyumannya ketika mendengar suara Luhan, “Happy five month anniversary too….” Balasnya ceria. Ia mulai bangkit dari tempat tidurnya.

“Apa yang ingin kau lakukan hari ini?”

“Ke kampus tentu saja. Aku pulang siang hari ini.”

“Baguslah…”

“Kenapa?”

“Aku akan mengajak mu ke suatu tempat sehabis pulang.”

“Makan?” Tanya Krystal main-main. Ia hanya bercanda. Luhan bukan tipikal orang yang suka pergi ke restaurant jika ingin merayakan sesuatu. Lima bulan bersama dan Luhan suka mengajak Krystal ke tempat sedikt aneh untuk merayakan hari jadi mereka. Seperti taman, museum, atau pernah ke perpustakaan umum. Aneh, tapi Krystal menyukainya.

“Aku akan selalu mengajak mu makan. Ke tempat lain. Rahasia.”

Krystal tertawa mendengar jawaban Luhan yang selalu mengajaknya ke tempat makan. Lucu? Salahkan dia yang terlalu receh. “Baiklah. Dimana kita akan bertemu?”

“Kau tahu aku akan selalu dimana menunggu mu. Sampai nanti Krystal Jung.”

Lagi-lagi, Krystal tidak dapat menahan senyuman dan gejolak hatinya, “Baiklah. Sampai nanti.” Setelah sambungan telepon terputus Krystal memejamkan matanya. Rasanya damai. Keputusannya untuk bersama Luhan sepertinya tidak buruk, bukan?

.

.

.

.

.

Seulgi menatap Krystal yang sangat bahagia hari ini. “Happy five month anniversary…” Kata Seulgi pada akhirnya.

Krystal menoleh dengan tatapan terkejut, “Bagaimana kau tahu jika hari ini adalah—“

“Tentu aku tahu.” Potong Seulgi. “Sudah berkali-kali kau bahagia seperti ini. Tentu lama kelamaan aku juga hafal tanggal jadian mu. Kemana dia akan mengajak mu?”

Seulgi adalah orang yang tahu segalanya. Segalanya tentang hubungan Krystal dan Luhan.

“Oh, entahlah. Dia merahasiakannya.” Kemudian Krystal tersenyum. “Dia pasti sudah menunggu di luar.”

Seulgi mengangguk-angguk malas. “Yang lagi bahagia-bahagianya…”

“Kau iri bukan?” Krystal menatap Seulgi jahil.
Seulgi mendengus, “Apa kau bilang?” Katanya dengan nada yang diusahakan galak. Ayolah… Dia tahu jika Krystal hanya bercanda. Lagipula dia bukanlah seorang jomblo ngenes. “Aku sudah punya pacar…”

“Aku tahu. Aku tahu.”

Tepat setelah Krystal berkata seperti itu, bel pulang berbunyi. Langsung saja Krystal dan Seulgi memasukan novel yang daritadi mereka baca. Dosen Kwan sedang tidak masuk dan mahasiswa yang lain malas mencari guru pengganti. Dosen satu itu sudah sering membuat ulah karena sering tidak masuk sehingga dosen-dosen yang lain menjadi malas menggantikan kelasnya. Daripada mahasiswa-mahasiswa mendengar curhatan dosen yang lain mengenai Dosen Kwan, lebih baik tidak usah. Toh, pada akhirnya Dosen Kwan akan memberi nilai yang bagus karena tidak ingin ribet.

Sambil berbicara Seulgi dan Krystal berjalan keluar. Mata Krystal langsung mencari dimana Luhan ketika ia baru saja keluar dari kelasnya.

“Kemana Luhan?” Seru Seulgi karena Luhan tidak ada di tempat biasanya, di depan kelas Krystal.

Tepat setelah itu, handphone Krystal kembali berdering.

.

.

.

.

.

Benar dugaan Krystal sedari awal. Perayaan mereka bukan di tempat romantis. Malah di tempat yang sangat-sangat Krystal benci, rumah sakit. Walaupun alasan dia berada disini bukan karena niat Luhan.

Luhan mengalami kecelakaan kecil saat sedang co-ass. Seorang pasien yang mabuk mendorongnya dan kepalanya terbentur dinding. Benar-benar suatu hal yang tidak di rencanakan. Untungnya keadaan laki-laki itu baik-baik saja. Bahkan sudah di bolehkan pulang dengan beberapa jahitan di kepalanya.

“Maafkan aku…” Kata Luhan setelah kepalanya selesai di jahit kepada Krystal. Krystal sedari tadi menunggui Luhan. Dari kepala laki-laki itu masih dibersihkan hingga dijahit seperti ini.

Krystal menghela nafas mendengar permintaan maaf Luhan. “Tidak apa-apa Luhan. Sungguh. Apa aku terlihat marah? Tidak bukan?”

“Tapi aku sudah berjanji.”

“Aku tahu. Tapi siapa yang akan menduga ini? Lagipula, sehabis ini kita bisa berjalan-jalan sebentar dan baru pulang. Rencana mu belum sepenuhnya hancur.”

“Astaga…” Luhan menghela nafas lega. “Kukira kau akan menyuruhku pulang ke rumah dan berisitirahat sedangkan aku ingin mengajak mu jalan-jalan.”

Krystal tertawa mendengar hal itu. Satu hal yang ia suka mengenai Luhan adalah bagaimana laki-laki itu menjaga perasaannya dengan sangat baik.

“Tentu saja tidak.” Jawab Krystal. “Dokter tadi bilang jika keadaan mu baik-baik saja. Apa aku salah?”

“Tidak.” Luhan kemudian bangkit, “Aku akan mengurus izin untuk besok. Ingin tunggu di kantin? Biasanya ini memakan waktu setengah jam.”

Krystal dengan senang hati mengiyakan permintaan Luhan. Bagaimanapun juga perutnya sudah meminta jatah. Ia langsung berjalan menuju kantin yang terletak di sisi utara rumah sakit.

Dentingan bel terdengar ketika Krystal memasuki café. Penjaga kantin yang menggunakan seragam suster menyapanya dengan ramah.

“Aku pesan nasi goreng kimchi.” Kata Krystal yang langsung dicatat oleh penjaga kantin ber-name tag Park Hyein. “Minumnya ice lemon tea.”

Ketika Krystal ingin berbalik, terdapat seorang perempuan di belakangnya. Perempuan tersebut sangat cantik. Rambutnya tergerai dan dia menggunakan atasan yang sedikit terbuka, menurut Krystal. Memperlihatkan bahunya yang indah. Perempuan tersebut melihat ke arah Krystal dan tersenyum kecil. Krystal membalas senyuman perempuan itu. Baru setelah itu ia memutuskan untuk duduk di bangku yang terletak di sebelah jendela. Hanya tempat parkir sebagai pemandangannya, tetapi Krystal menyukainya.

“Aku pesan nasi gorengnya satu dan nasi tim. Untuk minumannya satu teh hangat dan satu lagi milkshake strawberry.” Suara perempuan tadi terdengar dengan jelas. Suasana kantin yang sepi dengan beberapa orang membuat apapun terdengar dengan jelas.

DB3Nl1pVoAAGfOG

Krystal yang sedang memandangi mobil lewat langsung menoleh ke pintu ketika terdengar bunyi dentingan. Dia pikir itu adalah Luhan. Tapi melihat siapa yang datang, ia langsung terkesiap keras.

Laki-laki itu menggunakan pakaian bewarna hitam dengan celana jeans. Wajahnya terlihat pucat dan kantung mata dengan jelas tercetak di wajahnya.

“Sehun!” Panggilan dari seseorang membuat Sehun datang mendekat. Krystal sama sekali belum bisa melepaskan pandangannya mengikuti arah gerak Sehun.

Ketika melihat bersama siapa Sehun duduk, ia langsung mengepalkan kedua tangannya hingga jari-jemarinya memutih. Sehun duduk bersama perempuan yang tadi tersenyum ke Krystal. Bersusah payah mengalihkan pandangannya kembali menuju mobil. Krystal menegukan ludah. Bersamaan dengan detak jantungnya yang berdebar keras.

“Aku sudah memesankanmu nasi tim. Kuharap kau suka.” Suara perempuan terdengar kembali.
“Oh, tentu Irene-ah. Tidak usah repot-repot. Kau sudah cukup bersusah payah menemaniku berobat.” Suara berat itu terdengar. Krystal semakin menahan nafasnya.

Rasanya, ia ingin tuli saat itu juga agar ia tidak dapat mendengar percakapan dua orang tersebut. Apalagi saat mendengar suara Sehun kepada perempuan itu.

He’s so care to her. Itu terlihat dari kata-kata yang Sehun ucapkan. And she’s also care to him. Perempuan tersebut-Irene- juga sama perdulinya dengan Sehun. Dia sangat santai membalas pernyataan Sehun yang sedikit keberatan dengan perlakuan Irene.

Unfortunately, he even doesn’t relize there’s you in here, Krystal Jung. Krystal berusaha tidak melihat Sehun lagi sehabis itu dan pura-pura sibuk menatap ke arah jendela.

.

.

.

.

.

Krystal merasa mengkhianati Luhan. Bagaimana dia masih bisa memiliki perasaan suka ke Sehun? Dia tidak menikmati sisa harinya setelah kejadian di café rumah sakit. Dia tersenyum dan tertawa kepada Luhan, tapi dia tidak bisa mengeyahkan kejadian café dalam pikirannya.

Krystal mencoba memejamkan matanya untuk tidur. Tetapi malah berbagai pikiran menyergapinya. Ia mendsah keras akibat kepalanya yang pusing. Segera saja ia mengambil handphone-nya dan menelepon Seulgi.

Halo…” Jawab Seulgi di dering pertama. Nada suaranya belum terdengar mengantuk sama sekali. Mungkin teman dekatnya sedang menonton drama marathon.

“Seulgi…” Ucap Krystal lirih. “Apa aku menganggu mu?”

“Mendengar suara mu sepertinya kau sedang butuh bantuan ku. Ada apa?”

Krystal menarik nafasnya lalu mulai bercerita. Mengenai hari ini yang dicapnya gagal karena bertemu dengan Sehun. Ia menceritakan semua detail. Untuk apa ia datang ke rumah sakit, saat kejadian di café, dan bagaimana perasaannya.

Ku rasa kau sudah harus memutuskannya dari sekarang.” Gumam Seulgi ketika Krystal sudah selesai bercerita.
“Memutuskan?”

“Ya. Memutuskan untuk apa kau berpacaran dengan Luhan. Sebagai pelampiasan Sehun atau hal lainnya.”
“Tentu saja bukan sebagai pelampiasan!” Gerutu Krystal mendadak kesal mendengar Seulgi. “Aku benar-benar ingin serius dengan Luhan.”

“Aku tahu… Jika kau ingin serius maka jangan mudah goyah Krystal Jung. Sekarang kau mempunyai seseorang yang sangat mencintai mu. Apakah kau ingin mencampakkannya demi seseorang yang tidak pernah melihat mu?”

“Rasanya sangat sulit untuk melepaskannya.” Kata Krystal lirih. Matanya terpejam beriringan dengan detak jantungnya yang meningkat, “Aku terkadang membenci diriku yang lembek di hadapan Sehun.”

“Kau mencintai Sehun dalam waktu yang sangat lama. Wajar jika kau tidak bisa melupakannya dengan cepat. Kau ingin saran ku?”

“Tentu.”

“Bandingkan lah keadaan mu dulu ketika mengejar Sehun dibandingkan sekarang, ketika kau mengejar Luhan. Jika kau ingin merasakan sakitnya mengejar Sehun mungkin kau bisa mengingat detail-detail kecil dengan membaca buku diary mu.”

Dahi Krystal mengerut, buku diary nya? Kemana bukunya itu?

.

.

.

.

.

Berbicara mengenai buku diary-nya, Krystal sama sekali belum menemukan buku itu.   Entah dimana buku itu. Gadis tersebut bahkan tidak mengingat dimana ia menyimpan buku tersebut. Bibi Kwon tidak tahu. Padahal biasanya bibi Kwon tahu hal-hal seperti ini. Krystal menghela nafasnya. Setidaknya pikiran dia beralih dari Sehun ke buku diary-nya.

“Bagaimana kabar buku diary mu?”

Suara Seulgi membuat Krystal menoleh kepadanya saat ia mengunyah pada jam makan siang. “Belum.” Jawabnya setelah menelan makanannya. “Aku bahkan tidak dapat mengingat dimana aku menyimpannya.”

Sebelum Seulgi dapat berkomtentar, hp Krystal berbunyi dan dengan sigap ia mengangkatnya. “Hallo…”

Hai…” Suara di ujung seberang membuat Krystal membulatkan matanya. Ia langsung melihat layar handphone untuk memastikan yang meneleponnya adalah Sehun. Dan benar, laki-laki itu meneleponnya.

“Oh, Hai. Ada apa?” Ujar Krystal dengan suara yang diusahakan ceria.

“Aku ingin bertemu dengan mu.”

Hah? Ada apa lagi ini?

“Bertemu dengan ku?”

“Ada hal yang ingin ku sampaikan kepada mu.”

Krystal menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aduh…. Bagaimana ini?

“Aku berada di depan kelas mu.” Perkataa Sehun membuat Krystal melongo. “Tapi kata teman mu kau keluar.”

“Di taman. Ayo kita bertemu di taman.” Ujar Krystal cepat pada akhirnya. Entah apa alasan Sehun, tapi ia harus dengan cepat menuntaskan hal ini.

“Ada apa?” Tanya Seulgi ketika Krystal menutup handphone-nya.

“Nanti akan ku ceritakan.” Krystal langsung lari meninggalkan Seulgi.

.

.

.

.

.

Sepuluh menit kemudian Krystal sampai di taman fakultasnya. Sehun sudah menunggu di situ sambil duduk. Ketika ia melihat Krystal, Sehun pun bangkit dan berjalan mendekat ke arah Krystal. Tangannya membuka tas punggungya dan dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Buku diary mu.” Kata Sehun dan memberikan buku diary milik Krystal.

“Bagaimana bisa?” Tanya Krystal bingung. Tangannya dengan pelan mengulur mengambil buku diary nya. Ia kemudian menatap Sehun, “Bagaimana bisa?”

Sehun menghela nafasnya. “Aku menyimpan buku mu. Tentu saja atas perintah Dokter Kim. Dokter Kim berkata jika ia menginginkan dirimu mengingat secara perlahan akibat masalah amnesia mu.”

Krystal masih menatap Sehun bingung, “Tapi… Itu bisa saja…” Kemudian ia memekik, “Bagaimana kau tahu tentang buku diary ku?”

“Itu tidak sengaja.” Kata Sehun pelan dan wajah datar. Astaga… Laki-laki di depannya hanya memasang wajah sangat santai dan dengan santainya menatap manik mata Krystal. “Banyak hal yang terjadi ketika kau koma. Termasuk saat aku harus tidur di kamar mu ketika orangtua kita masih sibuk berdiskusi. Saat aku ingin tertidur, aku tidak sengaja menemukan buku diary mu di bawah bantal.   Sebenarnya, bisa saja aku menyuruh Bibi Kwon untuk menyimpannya. Tetapi Bibi Kwon tidak enak sehingga aku yang menyimpannya.”

Krystal mengerjapkan matanya beberapa kali saat ia rasa ia tidak dapat menemukan kebohongan dalam kalimat Sehun. Entah Sehun tidak berbohong atau ia terlalu pandai berbohong. Ia berdehem, “Oh, terimakasih.”

Sehun mengangguk, “Aku pamit dulu. Aku harus ke kampus.”

Krystal tidak menjawab. Sehun berbalik. Jadi Sehun sehabis ini akan ke kampus. Pikir Krystal. Tetapi matanya kembali menyipit.

“Tunggu!” Teriak Krystal karena ia mengingat sesuatu, “Bukankah dirimu sakit?”

Sehun yang sudah berbalik ketika Krystal memanggilnya terdiam sejenak. “Oh…” Ia kemudian tertawa kecil, “Itu sudah tidak apa-apa kok.”

“Aku sebenarnya melihatmu bersama teman mu. Tapi aku merasa tidak enak menyapa mu. Kau sedang terlihat mengobrol asyik.” Hening sejenak, kemudian Krystal menambahkan, “Siapa namanya?”

Entah mengapa Sehun tersenyum sangat lebar, “Irene…”

Krystal mencengkram buku diary-nya.

He’s now in front of you, still his thought only for her. Guess, he’s not really ‘looking’ at you.

.TBC.

Hohoho…  Sudah beberapa lama saya absent-kan ff ini?  State of Grace chapter  terbaru udah selesai.  Tapi nanti aja saya publish yaaa..  *evil laugh*  Flipped chapter 20  juga lagi di tulis…  Tape baru 3/4 dan saya lagi males…  See you soon guys….

Advertisements

8 Comments Add yours

  1. dini says:

    ih author!!! ini kenapa ceritanya bikin perasaan aku campur aduk gini sih? kenapa Sehun malah sama Irene? aduh kasian Krystal:( padahal pengennya si Sehun kena butthurt dia cemburu gitu sama Krystal&Luhan ini malah nemu perempuan baru:( semoga endingnya bakalan SeStal ya ya ya ya???? *kedip kedip

    Like

    1. Ally says:

      Aduh.. aduh.. maafkeun saya yah.. ttg irene selanjutnya akan muncul di chapter berikutnya *evil laugh* kemungkinan saya publish besok atau lusa (supaya gk php lusa aja yaa) dan soal ending tunggu aja yaaa menurut story line yg saya buat hanya sampai chapter 22 (kecuali ada ide lain yg buat cerita berkembang gk mungkin lebih) 😉☺

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s