Flipped (Chapter 21)

flipped

 Previous Chapter: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Meluruskan Kesalah Pahaman

 

Krystal terbangun pada pagi hari dengan rasa pusing menyerang kepalanya. Matanya juga bengkak. Ketika pulang, yaitu pada pukul sebelas malam, yang Krystal lakukan adalah menuju tempat tidurnya dan menangis sepuasnya hingga terlelap. Krystal menatap dirinya di cermin dan menggerutu pelan. Kemarin hari yang buruk! Tetapi jantungnya berdetak lebih kencang mengingat apa yang terjadi pada hari kemarin juga. Hal gila yang ia lakukan kepada Sehun. Krystal memejamkan matanya dan mulai bangkit dari tempat tidurnya. Setelah lebih dari sepuluh menit melihat dirinya melalui kamera hp di atas tempat tidur.

Ia menuju kamar mandi. Berpikir air segar dapat menyegarkan pikirannya. Krystal terbiasa mandi dengan air hangat. Entah itu musim semi, musim panas, musim gugur, ataupun musim dingin. Ia selalu menggunakan air hangat. Untuk kali ini saja Krystal ingin mencoba menggunakan air dingin. Mungkin sebuah perubahan dapat merubah sesuatu dari dirinya, terutama masalah hatinya.

Cukup lama Krystal berada di kamar mandi dengan terdiam di shower menikmati air dingin lebih dari setengah jam, ia keluar dari dan segera mengenakan pakaian rumah. Perasaannya mungkin kacau. Tetapi pikirinnya masih jernih. Ia mengingat dengan baik jika hari ini tidak ada jadwal kuliah. Selesai berpakaian ia kembali ke kasur dan melihat handphone-nya.

Mencari kesibukan. Melihat materi kuliahnya hingga chat dari Luhan masuk. Krystal tersenyum tipis membaca chat dari Luhan. Dia segera membalas. Berharap setelah ini Luhan akan meneleponnya. Ketika hp-nya berdering, tangan Krystal berasa agar. Bukan Luhan yang meneleponnya, melainkan Sehun. Dengan tangan bergetar, Krystal mengangkatnya.

“Apa aku menganggu?”

Suara berat itu selalu berhasil membuat ia kesulitan bernafas. Krystal menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab, “Tidak. Ada apa menelepon ku?” Itu bukanlah suara ramah. Ataupun suara antusias. Nada suara Krystal penuh dengan ke kakuan yang pasti membuat Sehun berpikir jika Krystal tidak ingin berbicara dengannya.

“Soal kemarin…”

Mata Krystal terpejam. Nafasnya semakin tidak beraturan. “Oh…”

“Aku minta maaf.”

Jantung Krystal langsung berhenti berdetak. Perkataan berikutnya semakin membuat jantungnya berdetak lebih lambat.

“Tentang ciuman kemarin, aku merasa bersalah telah membalasnya.”

Air mata Krystal turun. Ia tahu yang Sehun katakan benar. Ia juga berpikir jika Sehun terbayang-bayang oleh rasa bersalah tersebut. Tapi sayangnya Krystal sama sekali tidak. Itulah yang membuat dirinya sedih. Ia merasa ia sama sekali tidak mempunyai harapan apa-apa terhadap Sehun.

“Krysta, kau masih disana?”

.

.

.

.

Lagu Too Good at Goodbyes Sam Smith mengalun di sudut café. Café yang terletak tak jauh dari kampus orang yang Krystal tunggu. Mengingat orang tersebut mempunyai jadwal kuliah. Kalau tidak salah laki-laki tersebut sudah mau di wiusda. Tapi entah mengapa Sehun berkata jika ia masih harus ke kampus.

Krystal yang sibuk menatap hp-nya, mencoba menetralisir gejolak hatinya. Kue yang ia pesan tadi sama sekali tidak mengunggah seleranya. Dia mendapat pesan dari Seulgi. Seulgi berkata jika keputusan Krystal bertemu dengan Sehun adalah keputusan yang tidak masuk akal. Setidaknya Seulgi belum tahu kejadian Krystal mencium Sehun. Jika tahu dia sudah di cap gila oleh Seulgi.

Luhan juga mengirimkannya pesan. Berkata untuk makan siang bersama. Laki-laki itu tahu jika Krystal menemui Sehun. Krystal yang mengatakannya ketika Luhan meneleponnya tak lama setelah Sehun meneleponnya. Krystal hanya berkata jika ia ingin bertemu dengan Sehun karena ingin menyelasaikan kesalah pahaman. Alasan yang sama kenapa Sehun ingin mengajak Krystal bertemu.

“Hei.” Sapa orang yang ditunggunya membuat Krystal mendongak. Sehun tersenyum tipis, mencoba untuk ramah, pikir Krystal akibat kakunya senyuman Sehun.

Krystal menjawab dengan senyuman. Dengan canggung, Sehun menarik kursi di depan Krystal dan duduk disana.

Sehun berdehem. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Krystal masih menatap Sehun dengan tangannya yang mulai dingin mencengkram hp.

“Soal kemarin…” Akhirnya, setelah keheningan mencekam Sehun membuka suaranya.

“Ada yang ingin ku katakan.” Sela Krystal menatap lurus ke arah Sehun. Ia sudah memikirkan hal ini sejak Sehun meneleponnya untuk meluruskan kesalah pahaman mereka. Rencana-rencana telah ia susun. Semua ia yang memutuskan. Memberi tahu Seulgi hanyalah sebuah cara untuk menetralisir detak jantung Krystal. Kali ini dia yang memutuskan semuanya dengan hati-hati.

“Baiklah. Kau duluan saja yang berbicara.” Ujar Sehun pendek.

“Ku rasa kau benar. Perasaanku mungkin hanyalah sebuah fatamorgana. Tidak sedalam yang ku kira. Aku mempunyai Luhan sekarang, jadi semuanya telah berubah. Kemarin…” Krystal berhenti sejenak. Menarik nafas sebelum kembali berkata, “Aku hanya pensaran, kurasa. Tapi yang pasti itu adalah kesalahan. Dan aku minta maaf telah membuat dirimu merasa bersalah.”

Sehun terpekur untuk beberapa saaat. Krystal memandang Sehun dengan tatapan ragu. Sorot mata Sehun berubah. Sehun mengerjap beberapa kali sebelum ia kembali menatap mata Krystal. Tatapannya aneh membuat Krystal seakan sulit bernafas.

“Kurasa itu salahku.” Kata Sehun pada akhirnya. Melihat Krystal akan memprotes, Sehun berucap, “Dengarkan aku dulu.”

Krystal menghela nafasnya dan mengangguk.

“Aku seharusnya menjelaskan masalah kita ketika dirimu terbangun dari koma. Aku hanya merasa sejak aku memilih diam dan bersikap kepadamu layaknya seorang sahabat, hubungan kita semakin rumit. Tidak ada yang membenarkan perbuatan aku kepadamu ketika masa-masa SMA.”

“Lupakan hal tersebut. Aku tidak ingin mengingatnya.” Potong Krystal dengan nada yang tegas dan dingin.

“Aku bahkan tidak pernah meminta maaf kepadamu tentang perbuatan ku kepadamu. Jadi, aku minta maaf untuk hal itu. Kemudian pada akhirnya, kita seperti kucing dan tikus. Ada sesuatu yang membuat kita tidak ingin saling bertemu. Aku hanya ingin meluruskan hubungan kita, tidak harus sampai bersahabat seperti dulu. Setidaknya tidak ada lagi yang kita pendam.”

Mereka sama-sama terdiam. Memikirkan dengan baik apa yang harus dikatakan.

“Kau berkata seperti akan pergi.” Kata Krystal pada akhirnya. “Ini terlalu tiba-tiba dan rasanya aneh.”

Sehun lagi-lagi terpekur. Tapi kali ini ekspresi wajahnya terlihat lesu.

“Kau benar-benar akan pergi?” Krystal bertanya dengan nada khawatir sekarang.

“Aku mendapat beasiswa S2 di Jepang.” Kata Sehun pada akhirnya. “Kau benar ini terlalu tiba-tiba dan aneh. Sebenarnya, aku hanya berpikir akan lebih aneh jika tiba-tiba aku pergi tanpa bilang apa-apa.”

Krystal menundukan wajahnya. “Ah…”

“Krys…”

“Selamat…” Menampilkan senyum lebarnya. Sayang, matanya juga tidak ikut tersenyum.

Sehun lagi-lagi terdiam. “Terimakasih…” Kata Sehun pada akhirnya.

Krystal mengigit bibirnya, terlihat memikirkan sesuatu. “Jadi…. Apakah setelah ini kita akan seperti orang yang tidak mengenal?”

“Aku tidak tahu..” Jawab Sehun seadanya. “Kurasa semuanya menjadi sangat rumit.”

Krystal mengangkat tangan kanannya. Menelengkupkan semau jari-jarinya kecuali jari kelingkingnya, “Sahabat lagi?”

Sehun menatap Krystal dengan tatapan tidak percaya. “Kau yakin? Setelah apa yang ku lakukan?”

“Bukankah kita sudah meluruskannya?”

Sehun lagi-lagi terdiam. Ia memejamkan matanya sebelum membalas tautan kelingking Krystal, “Sahabat….” Ucapnya ragu.

Pinky promise!”

Sehun hanya bisa menghela nafas melihat Krystal tersenyum lebar. Tapi ia ikut tersenyum. “Kau tidak pernah berubah Krystal Jung.”

“Kapan kau akan berangkat? Aku ingin mengantarmu. Boleh tidak?” Lanjut Krystal dengan nada yang berbeda. Nadanya ringan dan ia terlihat lebih ceria.

“Tiga hari lagi aku akan berangkat.” Sehun tersenyum kecil.

“Baiklah.” Krystal mengangguk.

Dia akan mengatar Sehun pergi ke Jepang. Dia akan melepaskan Sehun. Sahabat? Itu sudah cukup baginya. Krystal jadi bertanya-tanya. Apakah mereka memang ditakdirkan sebagai sahabat?

.

.

.

.

.

Akhirnya hari keberangkatan Sehun tiba. Krystal tengah duduk anggun menunggu Oemma Sehun yang sedang membuatkan minuman. Luhan tidak ikut mengantar karena bentrok dengan jadwal co-ass nya.

“Ini sirupnya Krystal..” Oemma Sehun datang membawakan sirup leci yang membuat Krystal tersenyum lebar.

“Terimakasih bibi!” Ia segera meminumnya. “Jadi, Sehun belum siap?”

“Oh, anak itu baru dari kampusnya dengan badan penuh dengan krim. Jok mobil sampai kotor karena ia terlalu malas membersihkan diri. Ia sedang mandi di kamarnya.”  Oemma Sehun menceritakan dengan semangat. “Pesawat akan berangkat dua jam lagi dan dia masih dirumah.  Awas saja ia memindahkan jam terbangnya karena akan terlambat.”

Krystal tertawa kecil. “Aku tidak tahu ia mandi dengan sangat lama.”

Oemma Krystal terdiam sejenak, “Iya ya… Aneh. Oemma akan mengecek Sehun terlebih dahulu.”  Oemma Sehun bangkit tetapi ia kemudian menghentikan langkahnya, “Kau ingin menonton tv atau apa? Pasti membosankan menunggu Sehun.”

“Tidak apa-apa bibi. Aku disini saja.”
Oemma Sehun mendengus mendengar jawaban Krystal, “Kenapa malu-malu? Ayo sini menonton tv saja! Tidak ada penolakan!”

Krystal yang tidak enak hati akhirnya tersenyum dan mengikuti ibu Sehun. Ia tersadar jika cat rumah Sehun telah berubah.  Ahhh..  Sudah lama sejak terakhir kali ia datang ke rumah Sehun.

“Sayang…” Suara berat yang merupakan suara Appa Sehun membuat Krystal tersenyum.

“Paman!!!” Sapa Krystal dan ia melambaikan tangannya.

“Krystal!”  Appa Sehun tidak dapat menyembunyikan senyumannya.

“Krystal akan mengantar Sehun ke bandara.” Jelas Oemma Sehun. “Bersama Luhan sebenarnya. Tapi tadi Krystal mengatakan jika Luhan ada jadwal co-ass.”

“Wah… Sudah lama sekali tidak melihat Luhan.” Komentar Appa Sehun. “Apakah wajahnya berubah?”

“Dia sangat awet muda paman.” Jawab Krystal sambil tersenyum.

“Sayang sekali aku tidak bisa melihatnya.”

Mendengar jawaban dari Appa Sehun, Krystal tertawa kecil.

“Ada apa tadi memanggil?” Tanya Oemma Sehun.

“Melihat kaca mata coklat ku?”

Oemma Sehun kembali mendengus. “Di atas tv kamar.”

“Tidak ada!”

“Di atas tv kamar!” Oemma Sehun masih kekeh.

Appa Sehun yang kali ini menghela nafasnya, “Tidak ada, sayang…

“Baiklah… Akan dibantu mencarikannya.”  Oemma Krystal kemudian berteriak, “Bibi Ahn!” Tapi langsung saja ia menepuk jidadnya, “Bibi Ahn sudah pulang tadi.” Ia kemudian menoleh, “Krystal…”

Krystal tersenyum menunggu perkataan Oemma Sehun. Jangan bilang jika harus ia yang datang ke kamar Sehun.

“Bisakah kau datang ke kamar Sehun?” Astaga!

“Iya, bibi?” Krystal tidak salah dengar bukan.

“Tolong bibi ya… Atau Krystal ingin membantu paman mencari kaca mata?”

“Akan ku beri tahu bibi.” Putus Krystal pada akhirnya.

Oemma Sehun tersenyum dan segera menghilang ke lantai atas. Krystal menghela nafasnya dan mulai menaiku tangga.

Ia memegang jantungnya yang berdegup kencang. Tenang…. Tangan mengetuk pintu kamar Sehun. “Sehun…” Tidak ada jawaban. Atau jangan-jangan Sehun masih di kamar mandi? Haruskah ia masuk? Tidak ingin lancang sebenarnya. Ia kembali mengetuk.

“Krystal masuk saja. Sepertinya ia masih di kamar mandi.” Suara Appa Sehun menyentakan Krystal.  Appa baru saja keluar dari kamar dan turun ke bawah.

Dengan ragu-ragu, Krystal memasuki kamar Sehun. “Sehun…” Benar saja. Sehun masih mandi karena ia mendengar suara air. “Sehun…” Teriak Krystal lebih kencang. Ia sudah masuk ke kamar Sehun.

“Bentar Oemma! Aku sedang mencuci rambut ku!” Teriak Sehun dari kamar mandi.

Krystal tertawa kecil mendengar jawaban Sehun. Apakah teriakan Krystal seperti Oemma-nya? Ia menatap sekeliling kamar Sehun. Terlalu rapih untuk ukuran cowok. Mungkin saja ini karena Sehun ingin pergi ke Jepang. Mata Krystal tidak sengaja menangkap sebuah buku besar terletak di atas meja Sehun. Ia tidak tahu apakah lancang, Krystal mendekat ke arah meja Sehun. Memperhatikan jika di buku ini terdapat beberapa foto dan sebuah kertas. Tanpa bisa ia cegah, Krystal membaca isi kertas tersebut.

Rabu, 29 Oktober 2014

Ada orang yang pernah bilang, kebahagiaan itu sederhana, asal melihat orang yang dicintainya bahagia, dia akan bahagia.

Ah… itu merupakan potongan diary Krystal. Tapi mengapa bisa ada di Sehun? Dia tidak melihat diary-nya sama sekali setelah Sehun mengembalikannya. Krystal meletakan kertas itu. Ingin menanyakan kepada Sehun nantinya. Saat meletakan kertasnya, mata Krystal menangkap jika di buku itu juga terdapat foto-foto yang berserakan. Ia tidak terlalu memperhatikan tadi. Tapi setelah ia memperhatikannya, semua itu adalah foto Krystal bersama Sehun dulu…

Tangan Krystal mengambil foto-foto tersebut sebelum ia memutuskan untuk membaca buku yang sengaja Sehun biarkan terbuka. Krystal membacanya sebaris dan ia langsung tercekat. Tangannya bergetar hingga foto yang ia pegang jatuh. Ia dengan cepat membuka halaman di belakangnya. Membacanya dengan cepat. Kemudian kembali membuka halaman belakang. Kembali membacanya dengan cepat. Ia membuka halaman buku tersebut dengan asal hingga sampai di halaman yang Sehun lipat, membacanya sejenak, hingga tak tersadar air matanya telah menetes.

.

.

.

.

.

Sehun keluar dari kamar mandi dengan perasaan aneh. Entah mengapa. Ia melemparkan handuknya sembarangan dan segera memakai bajunya. Tak sampai lima menit, ia sudah siap dan memutuskan untuk keluar.
“Sehun!”  Oemma nya telah di depan pintu dengan wajah panik. “Apakah dirimu melihat Krystal?”

“Krystal?” Sehun mengeretukan alisnya.

“Krystal datang. Apakah ia ada di kamar mu?”

Jangan-jangan.. Sial! Ia lupa sesuatu!

“Sehun!”  Oemma-nya kembali memanggil.

“Krystal tidak ada di bawah?” Tanya Sehun pada akhirnya.

“Berarti dia tidak ada di kamarmu?”  Oemma Sehun benar-benar panik sekarang.

“Tenanglah Oemma. Aku akan mengecek hp ku terlebih dahulu. Mungkin tadi dia ada urusan mendadak yang membuatnya langsung pergi.”
“Baiklah. Kabari Oemma segera.  Oemma harus mengurusi kopermu terlebih dahulu.”

Sehun kembali masuk kamar. Ia mengambil handphone-nya. Tapi ia tidak langsung menelepon Krystal. Ia berjalan ke arah meja belajarnya. Menyadari jika foto-foto yang tadi terletak rapih di atas bukunya terjatuh, Sehun segera mengambilnya dan memejamkan matanya. Bodoh! Rutuknya dalam hati. Ia meletakan foto tersebut di samping bukunya dan melihat buku tersebut. Melihat halaman yang terakhir Krystal baca. Sehun segera mencengkram hp-nya. Tapi itu tak lama. Tangannya dengan cepat menelepon seseorang.

“Luhan! Kau melihat Krystal?! Atau kau dengar kabar darinya?! Kumohon cari dia sekarang! Aku takut ia melakukan hal-hal bodoh seperti bunuh diri lagi…”

Sehun langsung keluar dari kamarnya.

“Sehun ada apa? Dimana Krystal?”  Oemma Sehun melihat anaknya aneh karena Sehun berlari ke arah pintu rumah.

Sehun menghentikan langkahnya, menatap Oemma nya, “Tolong tunda keberangkatan Sehun terlebih dahulu. Krystal dalam bahaya.”

“Apa?!”  Oemma Krystal berteriak panik. Tapi sebelum ia bisa mengatakan hal lain, Sehun telah menghilang dari pandangannya. Kemudian ia mendengar suara mobil.

.

.

.

.

.

Luhan terdiam sejenak setelah panggilan Sehun terputus. Ia masih mencoba untuk focus dalam menyetir mobilnya. Suara Sehun yang panik membuatnya bingung. Dia bingung apa yang terjadi dengan Krystal. Krystal sebenarnya telah meneleponnya. Jauh sebelum Sehun meneleponnnya. Suara gadis itu berbeda. Ia meminta Luhan untuk menemuinya di taman tak jauh dari rumah sakit Luhan. Ada yang ingin ia bicarakan. Penting katanya. Luhan berpikir Krystal hanya ingin berbicara biasa. Tapi tidak setelah gadis itu mengatakan jangan beritahu Sehun jika ia menanyakan dimana dirinya.

Memantapkan diri, Luhan membuka seatbelt-nya dan turun dari mobil. Dari lapangan parkir pun, Luhan dapat melihat Krystal yang sedang duduk menatap lalu lintas. Luhan mempercepat langkahnya hingga ia sampai tepat di depan Krystal. Agak jauh dari Krystal tapi Krystal pasti melihatnya. Ia ingin mengeluarkan senyumannya. Tapi entah mengapa, melihat ekspresi dingin Krystal, bibirnya tidak bisa terangkat membentuk sebuah lengkungan.

“Berhenti!” Seru Krystal tiba-tiba. “Jangan mendekat kumohon…” Suaranya tidak dingin. Tetapi sarat akan kesedihan.

“Krystal..” Luhan semakin bertambah bingung. “Apa yang terjadi?”

“Ada yang ingin ku tanyakan kepadamu.” Krystal kembali berkata. Tidak punya niat sedikitpun menjawab pertanyaan Luhan. “Apakah… Apakah…” Suara Krystal agak bergetar. Ia memejamkan matanya dan berkata lirih, “Apakah kau melarang Sehun untuk menyukai ku?”

“Aku…” Luhan tercekat. Tapi ia maju kedepan.

“Berhenti Luhan! Jangan mendekat!” Krystal berdiri dari kursinya dan mundur kebelakang. Menjauh dari Luhan. “Kenapa kau melarangnya? Apakah itu karena kau juga menyukai ku?”

“Krystal aku bisa jelaskan—”

“Aku tidak butuh penjelasan mu Luhan!” Potong Krystal. Sekarang ia benar-benar menangis. “Apakah kau melarang Sehun untuk menyukai ku?”

“Jawab Luhan!” Krystal berteriak. “Jawab! Apakah kau tidak tahu aku menyukai nya?”

Tangisan Krystal membesar. Ia terjatuh. Menutupi mukanya dengan tangisan yang semakin membesar.

“Sehun menyukai mu dari dulu. Tidakkah kau sadar? Dia selalu berada di samping mu. Bahkan ketika kalian beda kelas. Dia selalu datang ke kelasmu mengajak mu ke kantin. Menunggu mu sampai dirimu di jemput. Selalu mendengar ocehan mu tanpa sekalipun memotong atau berkata ia bosan mendengar dirimu bercerita. Apakah kau tahu banyak gadis yang menyatakan perasaannya tapi ia menolaknya. Karena ia berkata jika ia menyukai mu. Itulah tatapan iri dari para gadis setiap mereka melihatmu.”

.TBC.

Next chapter will be the end…  See you soon guys

 

Advertisements

5 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s