Flipped (Chapter 22) (END)

flipped

 Previous Chapter: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Kebenaran

 

Luhan merasa ayahnya adalah orang yang paling egois di dunia. Keegoisan ayahnya membuat Luhan harus berpisah dari ibunya. Sampai sekarangpun ia tidak dapat bertemu dengan ibunya karena keputusan ayahnya. Sekali ayahnya memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa mengubahnya. Banyak keputusan ayahnya hanya berorientasi kepada dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain. Luhan tahu jika ayahnya sangat mencintai Luhan. Ayahnya ingin Luhan tetap bersamanya makanya ia menjauhkan Luhan dari ibunya yang jelas-jelas juga ingin bersama Luhan. Karena pengaruh ayahnya yang lumayan kuat, akhirnya Luhan bisa bersama ayahnya. Memori yang Luhan ingat terakhir kali bersama ibunya adalah ketika ibunya menyuruh ia menjadi anak baik sambil menangis. Luhan sampai sekarang menyesal ia hanya bisa terdiam melihat ibunya. Sekali saja ia ingin memeluk ibunya kalau bisa.

Apakah Luhan membenci ayahnya? Sayang, ia tidak bisa. Luhan tidak bisa membenci ayahnya walaupun ayahnya memisahkan ia dengan ibunya. Luhan benci terhadap dirinya yang tidak bisa membenci ayahnya. Cita-citanya ketika ayahnya membawanya pergi menjauhi Korea yang juga untuk menjauhi ibunya adalah lepas dari cengkraman ayahnya. Luhan menyusun mimpinya. Itulah yang membuat ia selama bertahun-tahun fokus belajar demi menggapai cita-citanya. Teman-temannya di Amerika menganggap dia sangat dingin dan anti sosial karena ketidak pedulian. Yang hanya ia pedulikan adalah belajar. Kurangnya interaksi sesama teman membuat nama Krystal selalu di hatinya meski mereka lama tidak bertemu. Dia menganggap suatu hari dia dapat kembali bertemu Krystal dan mungkin dapat menjalin hubungan lebih dari pertemanan. Setidaknya musuh terberat –dalam mendekati Krystal- juga sahabat terdekatnya sudah berjanji tidak akan mendekati Krystal.

Ketika menemukan Krystal menangis di taman. Menanyakan janjinya dengan Sehun untuk tidak mendekati Krystal, Luhan tersadar akan satu hal. Buah tidak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya. Ia memiliki keegoisan yang sama dengan ayahnya. Semua yang ia lakukan juga penuh dengan keegoisan. Tentang bagaimana cita-citanya lepas dari cengkraman ayahnya. Tentang Krystal. Tentang Sehun. Apakah dia tidak pernah berpikir untuk melihat keadaan sekitarnya sekali saja? Apakah dia tidak pernah berpikir jika orang tersebut tersenyum bukan berarti orang tersebut baik-baik saja?

Akhirnya, disini Luhan. Terdiam dan menyandarkan tubuhnya ke mobilnya. Disampingnya ada Sehun yang sama-sama terdiam.

“Dia masih di taman. Aku bahkan tidak berhasil memdekatinya.” Luhan berkata lirih. Menundukan pandangannya. “Ku rasa kau yang harus kesana dan membujuknya.”

“Luhan…”
“Kau adalah orang yang baik. Aku tahu itu dan aku sangat mempercayai mu. Tentang perjanjian konyol kita belasan tahun yang lalu, ku rasa itu sudah berakhir. Kau berhak mendekati seseorang siapapun itu. Kau tidak seharusnya dilarang. Aku salah melarang mu mendekati Krystal.”

“Luhan….”

“Aku hanya ingin Krystal untuk ku. Karena aku bahagia jika di dekatnya. Sifat riang dan recehnya… Tapi ia tidak pernah bahagia berada di dekat ku. Sedikit pun.” Luhan mengerjapkan matanya. Menahan air matanya yang ingin jatuh.

“Luhan ak—”

Luhan berdehem dan lagi-lagi memotong omongan Sehun, “Sekali saja aku ingin melakukan sesuatu untuk orang lain. Bukan hanya untuk diriku sendiri. Aku ingin Krystal bahagia. Karena seseorang dapat bahagia ketika melihat orang yang ia cintai bahagia.” Luhan menghela nafasnya. “Aku harus masuk. Jam istirahatku sudah habis dari tadi. Aku duluan.” Ia segera berjalan memasuki rumah sakit. Tanpa melihat Sehun sedikit pun. Ia tidak bisa.

“Luhan tunggu!”

Luhan berhenti. Tapi badanya tidak berbalik sedikitpun. Air matanya sudah menetes.

Sehun menghela nafasnya sebelum berkata, “Beritahu tahu aku ketika kau ingin di wisuda Aku akan senang melihat dirimu lulus dengan cita-cita mu sejak kecil. Atau setidaknya aku ingin ada karangan bunga dari ku.”

Mendengar hal itu Luhan menghela nafas gusar. Kalimat yang Sehun ucapkan membuat hatinya bergetar. Laki-laki itu terlalu baik. Sungguh. Dan Luhan pernah menyalahgunakan kebaikan laki-laki itu karena ke egoisannya. Karena keegoisannya pula Luhan tidak bisa berbalik ke Sehun dengan air mata berlinang. Ia hanya bisa mengangguk dan kembali melanjutkan jalannya.

Kau adalah dan tetap sahabatku…

.

.

.

.

.

Langit sudah menunjukan warna jingga menyala ketika Sehun sampai di taman. Taman tersebut berjarak duapuluh menit dari rumah sakit Luhan. Dia hampir saja putus asa ketika selama hampir dua jam berkeliling Seoul tidak bisa menemukan Krystal. Tiba-tiba saja, sekitar pukul empat sore Luhan meneleponnya. Mengatakan jika ia tahu dimana Krystal tapi mengajaknya untuk bertemu terlebih dahulu. Luhan mengajak bertemu di rumah sakit tempatnya bekerja. Sehun sedari tadi berusaha menghalau pikiran buruknya yang mengatakan Krystal di rumah sakit. Ia ingin mencengkram kerah Luhan dan menanyakan dimana Krystal jika saja Luhan tidak berkata lirih, ‘Aku memiliki sifat egois yang sama dengan ayah ku.’

Sehabis mendengar hal itu, Sehun memutuskan untuk mendengar Luhan berbicara terlebih dahulu. Ia tahu…. Sudah saatnya mereka membicarakan perjanjian konyol ketika mereka berumur sepuluh tahun itu. Dia ingin berbicara baik-baik. Tidak menyangka dengan keputusan Luhan. Satu-satu harapannya adalah Luhan dapat mengerti dari kalimat yang ia ucapkan tadi, ketika ia ingin hadir di wisuda Luhan, menunjukan jika ia tidak membenci Luhan. Tidak sedikitpun.

Sehun mengehla nafas. Sudah waktunya ia keluar dan bertemu Krystal. Langkah Sehun terasa berat. Dia berhenti ketika menemukan Krystal menundukan kepalanya.

“Krys…” Kata Sehun lirih.

Krystal menatapnya dengan mata yang berair dan sudah sangat merah. “Sehun…” Setelah mengatakan hal tersebut Krystal menangis lagi.

Sehun segera mendekat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia mendekap Krystal. “Maaf.”

“Bodoh! Bodoh!” Krysta memukul-mukul dada Sehun. “Bodoh!”

“Maaf…”

Lagi-lagi Krystal menangis. Sehun semakin mempererat pelukannya. “Maaf….” Kata Sehun lagi.

Krystal mendorong Sehun perlahan. Tangan kanannya ia gunakan untuk menghapus air matanya, “Jangan pergi…”

“Aku….”

Sehun menatap Krystal ragu. Itu bukan suatu hal yang ia harapkan.  Jangan pergi?  Seberapa besar Krystal menyukai Sehun, bukan, mencintai Sehun?
“Kau tidak ingin menanyakan apa yang terjadi sebenarnya?”

Krystal sangat mengerti pertanyaan Sehun. Ia dengan cepat menggeleng. “Aku takut.”

Sehun dengan pelan mengenggam kedua Krystal. Membuat Krystal terpaksa melihatnya kemudian mengunci tatapan Krystal.

“Luhan tiba-tiba datang kepada ku. Itu saat ulang tahun keluarga Song. Ketika kakimu patah kau ingat? Kau melihatku berbicara dengan Luhan saat itu. Saat itulah aku dan dirinya membuat perjanjian konyol itu. Kita masih terlalu muda saat itu. Saat itu juga semua hal berubah dengan cepat. Orangtua Luhan bercerai. Luhan yang tiba-tiba pergi dan meninggalkan kita. Aku bahkan masih ingat tangisan mu ketika Luhan pergi.”

“Itu karena dia sahabatku!” Pekik Krystal kesal.

Tidak ingin menjawab, Sehun kembali melanjutkan ceritanya, “…. Puncaknya adalah ketika kita dijodohkan. Aku sempat menolak perjodohan ini mentah-mentah dibelakang. Tapi kedua orantuaku tidak peduli. Yang aku ingat saat itu adalah aku mempunyai janji pada Luhan dan tangisan mu ketika Luhan pergi. Aku sangat optimis kau menyukai Luhan. Tapi tidak setelah kau mengatakan kau juga menyukai ku. Bahkan saat itu aku masih mengingat janji ku kepada Luhan. Aku dengan bodohnya lebih mementingkan janji itu.” Sehun menghentikan ceritanya sejenak. Menarik nafasnya dengan berat.

“Aku pikir dengan aku berpacaran kau akan menyerah.” Lanjutnya lagi. “Kurasa aku terlalu bodoh hingga hanya mengingat perjanjianku dengan Luhan dan semua yang ku katakan hingga menyebabkan dirimu melakukan… Kau tahu, loncat dari gedung sekolah…” Air mata Sehun mulai turun. “Saat kejadian itu dan kau koma, aku merasa bersalah tetapi masih mengingat perjanjian itu. Tidak sampai kau membaca buku diary mu dan entah mengapa aku merasa sangat-sangat bodoh…

“Kemudian rasa bersalah yang sangat besar muncul dan aku merasa tidak pantas bersama mu. Aku tidak bisa melihat mu lagi atas perbuatanku sehingga, lagi-lagi, aku menyakitimu dengan menghentikan perjodohan kita. Saat kita bertemu lagi dengan Luhan dan ambisi Luhan, aku tahu aku sudah cukup bodoh selama ini. Tapi menghentikan semua ini rasanya juga sudah sangat terlambat. Aku senang ketika kau berpacaran dengan Luhan karena… Itu rasanya memudahkan ku untuk melepaskan mu.

“Anehnya aku malah tidak nyaman melihat mu dan Luhan bersama. Aku mulai berpikir lagi, jika aku tidak melihat kalian pasti semuanya akan lebih mudah. Dan satu-satunya cara adalah dengan mengambil sekolah di luar negeri.”

Krystal kali ini memeluk Sehun. Ia berbisik, “Jangan pergi kumohon…”

“Setelah apa yang kulakukan?”

“Semua itu bukan salah mu Sehun…. Kau masih bodoh saat itu. Luhan masih bodoh. Aku juga masih bodoh. Itu salah kita. Tidak semuanya salah mu. Kau pernah berkata jika aku juga tidak peka dalam kondisi mu yang masih syok akibat perjodohan bodoh kita. Jangan terlalu menyalahkan dirimu.” Lanjut Krystal masih berbisik. Air matanya kembali turun.

Mendengar Krystal yang sudah mulai menangis, Sehun melepaskan pelukan mereka dan memegang wajah Krystal, “Berapa banyak kau menangis karena diriku?”

“Berapa kali aku membuat mu stress Oh Sehun? Ini semua bukan salah mu. Jangan pergi…”

Sehun menggelengkan kepalanya. Itu membuat tangisan Krystal langsung membesar. “Kita butuh waktu…” Ujar Sehun lirih. Ia mencoba memberikan senyumannya.

“Aku mencintai mu Oh Sehun.”

“Aku juga mencintai mu Krysal Jung.”

Satu baris kalimat yang selalu Krystal tunggu bertahun-tahun lamanya. Satu kalimat yang terus ia harapkan. Krystal mengeluarkan senyumnya. Melupakan seketika rasa sakit yang ia rasakan. Ia memejamkan matanya ketika Sehun dengan lembut menyatukan bibir mereka.

.

.

.

.

.

Sehun akhirnya pergi. Ia melanjutkan sekolahnya ke Jepang. Laki-laki itu pergi tepat dua hari setelah semuanya terungkap. Tidak ada Luhan yang mengantarnya. Krystal berharap Luhan juga tidak ada. Ia masih membenci Luhan. Walau ia sendiri berkata itu karena kebodohan masa kecil mereka. Sehun juga meyakinkannya seperti itu.

Hubungan ia dan Sehun sebelum pergi bisa dibilang baik-baik saja. Mereka tidak dalam hubungan berpacaran. Tidak. Krystal merasakan mereka seperti sahabat lagi. Meskipun tidak ada sahabat yang berciuman dan Sehun dengan bodohnya mencium Krystal di depan kedua orangtua mereka dan membuat Krystal menanggung malu setelah itu. Tunggu, apakah itu pertanda untuk kedua orangtua mereka?

“Woy!”

Krystal tersentak ketika melihat Kang Seulgi menaruh beberapa buku tebal yang pastinya buku sastra tingkat tinggi.

“Sedang apa?” Tanya Seulgi duduk dan memakai kacamatanya.

Krystal terkekeh, “Entahlah…”

Seulgi menggelengkan kepalanya dan membuka salah satu buku, “Galau? Aku tidak melihat Luhan beberapa hari ini. Bertengkar?”

“Kami sudah tidak ada hubungan lagi.”

Mendengar jawaban Krystal, Seulgi menghentikan kegiatan membacanya, “Okay.” Dan ia lanjut membaca bukunya.

Kali ini Krystal yang menggelengkan kepalanya, “Apa yang kau pikirkan Kang Seulgi?”

“Kau terlihat tidak seperti seseorang yang habis putus. Hahahahaha… Atau perasaan ku saja. Bagaimana dengan tuan brengsek Oh Sehun?”

“Jangan panggil dia brengsek. Hubungan kami sudah baik-baik saja.”

Seulgi kali ini menatap Krystal dengan tatapan terkejut. “Jadi…”

“Aku jamin itu tidak seperti yang kau pikirkan.” Seru Krystal yang sebenarnya tidak ingin mendengarkan teori menakjubkan Kang Seulgi. Ketika hp-nya berdering, Krysal tersenyum senang karena ia mempunyai cara untuk menghindari Kang Seulgi, “Aku harus mengangkat ini.”

“Dan kemudian bilang aku harus pergi karena ada urusan. Klasik.” Seulgi kemudian mendengus, “Sialan Professor Yang! Jika karena bukan salah sangka aku tidak akan bekerja rodi seperti ini selama dua minggu. Tidur saja tidak bisa apalagi berbicara dengan Soojung!” Sambil bersungut-sungut, ia kembali membaca buku.

“Seulgi, ingin ke mall? Aku ingin menonton…” Krystal sudah berbalik dan menatap Seulgi penuh harap.

“Kau tahu jika bukan karena salah sangka yang berhubungan dengan Im Jaebum aku tidak akan tetap disini dan membaca buku sialan ini? Aku memang pecinta sastra tapi tidak dengan harus membaca buku sastra selama dua minggu berturut-turut. Aku butuh hal-hal lain seperti tidur atau pergi ke mall atau apapun yang tidak berhubungan dengan buku dan laptop.” Setelah mengeluarkan unek-uneknya Seulgi mulai tersenyum, “Ayo.”

Ia mengambil tasnya dan merasa sangat malas harus mengembalikan buku-bukunya. “Biarkan saja…. Aku malas mengembalikannya.”

Krystal terkekeh melihat kelakuan temannya. “Terserah dirimu saja.” Jawabnya dengna lirih karena mereka di perpustakaan.

Seulgi mengandeng tangan Krystal dan menatap Krystal dengan penasaran, “Jadi katakan kepadaku Krystal Jung, apakah hubungan mu dengan Sehun hanya sebatas sahabat atau kau ingin lebih?”

Krystal mendengus. Lupakan teori menakjubkan Kang Seulgi jika temannya bisa menyimpulkan sendiri. Krystal dulu sempat bertanya-tanya kenapa temannya dapat menyimpulkan segala hal dengan luar biasa. Dan jawaban Seulgi sangat mudah, ‘Aku hanya menebak.’ Karena itulah Krystal menoleh dan tersenyum kepada Seulgi. Membiarkan temannya menebak.

.END.

Calm down guys…  There’s an epilogue, yang pasting di bayangan aku udah ada 3 epilog.  Dimana di 3 epilog terdapat sudut pandang tiga tokoh utama, Krystal, Sehun, dan Luhan.

First epilogue goes to Luhan….

And, i wanna say thank you to you guys…  All of you who already read this ff…  Thankyou so much!  See you soon…

Advertisements

3 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s