Flipped Side Story 1: Luhan

flipped

 Previous Chapter: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Luhan selalu penasaran dengan seorang perempuan. Dia tidak mengenal perempuan itu tetaapi perempuan itu mengenal teman sebangkunya, Oh Sehun. Perempuan itu bukan dari kelasnya. Itulah masalahnya. Luhan hanya mengenal perempuan dari kelasnya. Ia terlalu malu untuk bertanya kepada Sehun. Entahlah, mereka terlihat terlalu akrab.

Perempuan itu selalu menyemangati Sehun ketika ia bertanding basket. Tak jarang ketika pulang, Luhan mendapati jika mereka duduk berdua seperti menunggu untuk di jemput. Mereka pasti dekat. Kata Jinyoung, salah satu teman sepak bolanya, Sehun dan perempuan itu telah berteman sejak kelas satu. Ditambah kedua orangtua mereka dekat. Mereka sering bersama bahkan di luar sekolah. Katanya. Luhan tidak pernah melihatnya sendiri.

Hingga saat ini. Luhan benar-benar melihat mereka tertawa bersama di meja seberangnya. Ia terdiam dengan makanannya. Kedua orangtuanya sedang pergi menemui orang yang menjamu pesta ini. Sepertinya kedua orangtua mereka juga seperti itu.

Luhan terus memandangi mereka hingga perempuan itu juga melihat Luhan. Ia tersenyum ke arah Luhan dan itu membuat Sehun ikut melihat Luhan. Sehun juga tersenyum ke Luhan. Kemudian ia berbalik ke arah perempuan itu dan mengatakan sesuatu. Setelah itu, Sehun berjalan ke arahnya.

“Luhan! Aku tidak menyangka dapat bertemu dengan mu disini!” Sapa Sehun ramah.

“Aku juga.” Jawab Luhan seadanya. Dia tidak terlalu pandai berbasa-basi.

“Apa kau sendiri?”

“Iya. Orangtua ku sedang berbicara dengan teman mereka.”

“Bergabunglah dengan kami.”

Luhan menatap Sehun. Kemudian ke perempuan itu, “Tidak terimakasih.”

Sehun terkekeh, “Jangan malu-malu.” Ujarnya dan menarik tangan Luhan. Ia menyeret Luhan ke mejanya, “Nah, perkenalkan, ini Luhan teman sebangku ku sekarang. Dan ini Krystal Jung, teman sebangku ku di kelas 1 dan kelas 2.”

Krystal, perempuan itu, ia menatap ke arah Luhan dan tersenyum. Luhan dapat melihat bagaimana cantiknya mata Krystal ketika ia tersenyum. “Aku Krystal Jung Luhan-ssi. Senang bertemu dengan mu.”

.

.

.

.

.

Everything happens for a reasons. Kalimat itu merupakan kalimat favorit Krystal. Luhan mengingatnya dan sekarang ia mempercayai kalimat tersebut. Semua hal terjadi karena sebuah alasan. Jika Luhan, Krystal, dan Sehun tidak terikat dalam sebuah permainan dari perjanjian bodoh masa kecil, Luhan pasti tidak menyadari kesalah dirinya terhadap ayahnya. Dia pasti masih menyalahkan ayahnya.

Kejadian itu benar-benar mengubah kehidupan Luhan. Memberikan dampak yang jauh lebih besar. Luhan dan ayahnya akhirnya berbaikan. Awalnya canggung, tetapi mereka dapat mengatasinya. Akhirnya, disinilah ia berada. Tinggal bersama ibunya di Beijing. Ayahnya ternyata tidak seburuk yang Luhan kira. Ayahnya dan ibunya masih berhubungan. Ayahnya memberi tahu kabar Luhan kepada ibunya. Ketika mereka berbaikan, ayahnya mengizinkan Luhan untuk tinggal bersama ibunya. Menghabiskan semester terakhirnya di kedokteran sebelum pulang ke Massachusetts untuk di wisuda.

“Luhan, ibu akan pergi dulu mengunjungi bibi mu. Makan malam sudah ibu siapkan.”

Luhan yang baru saja pulang dari rumah sakit tersenyum dan mencium kedua pipi ibunya, “Baiklah bu. Apa ibu ingin ku jemput nanti?”

“Tidak usah. Istirahatlah.” Ujar ibunya juga tersenyum. Kemudian keluar dari apartment mereka, meninggalkan Luhan sendiri.

Luhan akhirnya bersih-bersih dan menyantap makanannya. Ketika asyik menyantap, ia mendapat telepon dari salah satu dokter di rumah sakitnya,”Iya, Tuan Zheng?”
“Kami membutuhkan mu, Luhan. Baru saja ada kecelakaan melibatkan bus dan beberapa sepeda motor. Bisakah kau datang dan mengawasi dokter-dokter yang lebih muda daripada mu? Kami benar-benar kekurangan tenaga kerja.”

Luhan melihat jam dinding di ruang makan dan berkata, “Baiklah. Tapi saya hanya mengawasi dokter-dokter bukan merawat pasien.”

“Siap!”

“Aku akan sampai dalam tigapuluh menit Tuan Zheng.”

“Kami menunggu Anda!”

Setelah telepon terputus, Luhan segera mengakhiri kegiatan makannya dan segera bersiap-siap. Tepat tigapuluh menit kemudian ia sampai di rumah sakit. Langsung saja ia menerima file tentang pasien kecelakaan dari seorang suster senior. Luhan membacanya sejenak. Disekelilingnya sudah ada dokter-dokter yang baru saja bekerja, mereka sudah menunggunya dari tadi.

“Jadi…” Gumam Luhan masih membaca file­-nya, “Tulang kaki pasien ini hancur akibat terjepit. Apa yang harus kita lakukan?”

“Menyusunnya kembali?” Minjia, dokter muda berkaca mata itu mengeluarkan pendapatnya.

“Itu tidak mungkin. Tulangnya terlalu hancur.” Luhan kemudian kembali berkata, “Apa yang harus kita lakukan?”

“Mengamputasi kakinya?” Tanya Huang. Dokter muda yang lain.

Luhan menggelengkan kepalanya, “Itu benar. Tapi itu adalah pilihan terakhir. Ada lagi?” Kali ini dia melihat dengan seksama dokter-dokter muda itu. Kemudian ia menyadari sesuatu, kurang satu orang disini. Luhan ingin bertanya. Tetapi matanya menangkap jika orang ia cari berdiri agak jauh kebelakang dari yang lain.

“Bagaimana menurutmu Xiao?” Tanya Luhan kepada orang tersebut.

Xiao sedikit terkejut ketika ia ditanya. Ia mengerjap beberapa kali sebelum menjawab, “Mengganti tulangnya dengan tulang yang baru.”

“Bagaimana bisa? Memangnya ada orang yang ingin mendonorkan tulangnya?” Tanya Minjia sinis.

“Bukan dari donor tulang. Tetapi kita yang akan membuatnya.” Dokter-dokter yang lain menatap Luhan terkejut. Luhan tersenyum ke Xiao, “Kita akan membuatnya dengan 3D Printer dan itu sudah pernah berhasil.” Luhan kembali berkata, “Semuanya bantu dokter yang lain. Kasus ini akan saya pegang. Kecuali Xiao. Dia ikut dengan ku.”

Xia meneguk ludahnya. Tetapi ia segera mengikuti Luhan yang sudah berjalan terlebih dahulu. Sedikit terpogoh-pogoh ketika memasuki lift.

“Jangan dengarkan perkataan orang lain yang mengatakan kau berada disini karena ayah mu. Sejujurnya kau itu hebat dan memang mewarisi bakat ayah mu.”

Xiao menoleh ke Luhan yang sekarang tengah mentapnya sambil tersenyum lembut. Pipinya dengan cepat bersemu merah akibat perkataan Luhan tadi. Jantungnya juga berdebar dengan sangat cepat. “Terimakasih.” Ia sedikit menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

.

.

.

.

.

“Selamat ulang tahun Luhan!!!”

Luhan tersenyum lebar ketika melihat dua sahabatnya, Sehun dan Krystal, memberinya sebuah kotak besar bewarna biru tua. Sehun terlihat seperti biasa dengan senyum khasnya. Krystal lah yang bersorak paling keras sedari tadi.

“Ayo cepat ambil….” Kata Krystal lagi.

“Ah, terimakasih.” Ucap Luhan kemudian mengambil kotak tersebut. Ia menggoyangkan isi kotaknya, “Boleh aku membukanya?”

“Tentu. Tapi, tunggu dulu! Tiup lilin terlebih dahulu!” Krystal mengangkat piring kecil yang disitu terdapat lilin.

Luhan terkekeh melihat hal itu. Lilin yang Krystal maksud merupakan lilin beneran tanpa kue. Luhan meniupnya.

“Yeaayyy! Sekarang buka!”

Segera saja Luhan membukanya. Ia terkejut mendapati sebuah bola sepak yang ia ingin beli. Luhan meminta hadiah itu kepada ayahnya. Tetapi ayahnya menolak dikarenakan ayahnya berpikir ada yang lebih bermanfaat daripada bola itu. Dia benar-benar kesal dan menceritakannya ke Sehun.

Luhan menatap Sehun. Sehun sendiri tersenyum lebar. Tanpa ia sadari, Luhan meneteskan air matanya.
“Hey, kenapa menangis? Kau tidak suka?” Krystal bertanya dengan nada panik. “Sehun… Apa Luhan benar mau hadiah yang ini?”

“Tentu. Luhan sendiri yang menceritakannya kepada ku.” Sehun juga berkata dengan nada panik.

Luhan berusaha menghentikan air matanya, “Bukan seperti itu. Aku benar-benar menyukainya. Aku hanya tidak menyangka…” Ia kemudian menatap kedua teman-temannya.

“Syukurlah….” Krystal menghembuskan nafas lega. “Tenang saja. Kami akan terus memberikan hadiah untuk mu. Kami berdua dan satu hadiah yang akan selalu kau sukai!”

.

.

.

.

.

“Hadiah dari ku dan Sehun.”

Luhan menghela nafasnya ketika melihat Krystal yang datang di acara kelulusannya. Tentu saja bersama Sehun. Tetapi Luhan belum melihat Sehun sedari tadi.

“Apakah biaya ke Boston sangat mahal hingga satu hadiah untuk dua orang?” Luhan mengambil hadiahnya, sebuah amplop.

“Hadiah ini bahkan lebih mahal daripada biaya ke Boston.” Senyum Krystal tiba-tiba melebar, “Sebenarnya aku ingin menyuruhmu untuk membawaku berkeliling ke Boston malam nanti. Tapi Sehun melarangku. Ia berkata jika kau sudah punya acara untuk malam ini.”

Luhan mengekerutkan keningnya kemudian, “Astaga! Bagaimana—“ Mukanya benar-benar panik. Ia berdehem, “Dari mana kau tahu Krystal Jung?”

“Sehun yang memberi tahu ku. Dan berbicara tentang hadiah kelulusan mu, kami berpikir ingin mengurangi beban mu.”

Kerutan di kening Luhan semakin bertambah.

“Bukalah…. Kau akan mengerti.”

Tangan Luhan dengan cepat menyobek amplop. “Astaga!” Ia memijit kepalanya yang mendadak pusing akibat perilaku jahil kedua temannya. Sebuah tiket pulang-pergi ke Hawaii.

“Sehun berkata jika kau merencanakan bulan madu mu ke Hawaii tetapi uang mu tidak cukup. Setidaknya menurut perkiraan mu yang paling memakan uang itu adalah tiket pulang dan perginya . Jadi kami ingin membantu mu.”

“Aku tidak tahu ketika Sehun berjanji antara diriku dan dia, kau juga ikut termasuk.”

Krystal mem-pout bibirnya, “Aku juga termasuk sahabat mu ingat? Kenapa juga tidak bercerita kepada ku? Termasuk rencanamu ingin melamar kekasih mu itu?”

“Bagaiaman bisa aku bercerita kepada perempuan?” Ringis Luhan.

“Tenang saja. Ini hanya antara diriku dan Sehun.” Ujar Krystal menenangkan.

Ah…. Luhan sangat tidak menyukai perkataan Krystal dulu. Ia sangat iri jika Krystal mengatakan hanya antara dirinya dan Sehun. Dulu…

Luhan mengengagguk, “Baiklah. Lagipula dimana Sehun?”

Krystal melihat sekelilingnya, “Entahlah. Tadi kami datang bersama tetapi ia menyuruhku untuk masuk duluan.” Ia mengeluarkan hp-nya, “Aku akan meneleponnya.”

“Tidak usah!” Suara berat yang sangat mereka kenal membuat Luhan dan Krystal berbalik.

Sehun tidak sendirian disana. Xiao juga ada bersama Sehun. “Aku bingung bagaimana dirimu membiarkan kekasih mu kebingungan mencari dirimu.”

Muka Xiao memerah dengan cepat, “Ah, oppa tadi kan sudah kubilang.” Ujar Xiao ke Sehun dengan senyum malu.

Luhan ingin berbicara, tetapi Krystal tiba-tiba berseru, “Xiao! Aku sudah lama ingin bertemu dengan mu!”

Krystal mendekat ke arah Xiao dan tanpa canggung memeluknya. Kemudian menyapa menggunakan bahasa Cina yang benar-benar mengenaskan.
“Xiao bisa bahasa Korea.” Sela Sehun.

Krystal mengerjap kemudian tersenyum, “Benarkah?” Selanjutnya ia berbicara kepada Xiao menggunakan bahasa Korea.

“Kau berbicara terlalu cepat Krystal Jung. Xiao masih belajar.”

Krystal menatap Sehun jengah. Tetapi ia tersenyum meminta maaf ke Xiao.

Luhan sendiri merengut ke Sehun. Ia menunjukan amplopnya dan itu membuat Sehun tersenyum lebar.

“Kita harus membicarakan hal ini Oh Sehun!” Seru Luhan.

Sehun menanggapinya santai, “Bagaimana jika kita makan siang bersama? Luhan juga dapat mengajak kita berkeliling-keliling Boston sekarang.”

“Oh, benar. Selama di perjalanan kau juga bisa bertanya-tanya mengenai Luhan kepadaku. Aku tahu kau tidak bisa leluasa menanyakan Luhan ke Sehun. Apalagi dengan tampangnya yang begitu dingin.”
Sehun sudah pernah bertemu dengan Xiao sebelumnya. Ketika laki-laki itu ke Beijing karena tugas kuliahnya. Pada malam itu, Krystal tiba-tiba menelepon Luhan. Merasa kesal karena tidak bisa ikut. Krystal berkata jika Sehun mengajaknya ikut karena Krystal juga punya tugas kuliah tetapi Krystal menolaknya.

Melihat kedekatan antara Krystal dan Sehun sekarang, Luhan yakin mereka berhubungan sangat sering. Apakah mereka sedang dalam satu hubungan? Itu yang Luhan tidak ketahui.

“Tapi…” Sehun kali ini berbicara. Mereka benar-benar mengerubungi Xiao. “Xiao pernah memintaku untuk mencari foto Luhan ketika kecil dan aku mendapatkannya. Termasuk foto Luhan ketika di pantai.”

Luhan tercengang. Lain lagi dengan Krystal yang terlihat sangat senang.

“Dia sangat jelek ketika disitu. Kau harus melihatnya Xiao!”

Luhan bersumpah jika ia benar-benar jelek disitu. Kedua sahabatnya akan membuka aibnya? Kepada calon tunangannya?
Yak, kalian berdua! Menjauhlah dari tunagnanku dan cepatlah menikah!” Seru Luhan kesal pada akhirnya.

“Yak!” Protes Sehun dan Krystal secara bersamaan.
“Tunangan?” Tanya Xiao bingung.
Luhan tergagap. Mukanya memerah. Ia pun berdehem, “Sebenarnya aku ingin mengatakannya ketika nanti malam. Tapi mau bagaimana lagi. Aku tahu ini sangat tidak romantis, tapi…”

“Aku mau.” Sela Xiao dengan tersenyum. “Ya. Aku mau.”

Semuanya hening hingga Krystal memekik senang dan memeluk Xiao. Sehun sendiri mendatangi Luhan dan memukul bahu sahabatnya. “Sangat romantis.”

Luhan ikut tersenyum lebar, “Kau menyusulku sebentar lagi.”

.END.

 

 

 

Advertisements

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s