Flipped Epilogue

flipped

Previous Chapter: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | Side Story #1: Luhan | Side Story #2: Krystal | Side Story #3: Sehun

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande

Sehun sedikit mengerjap sebelum menyadari jika Krystal tidak ada di sampingnya. Ia melihat jam dinding yang terpampang di kamar mereka. Jam masih menunjukan pukul satu dini hari. Apa Krystal kembali bergadang untuk menyelasaikan novelnya? Tunggu, bukannya Krystal bilang jika novelnya sudah selesai? Lagipula jika Krystal benar mengetik novelnya Sehun akan menyeretnya kembali untuk tidur.

Krystal seakan lupa waktu jika sudah ada ide gila untuk ceritanya. Sehun masih ingat Krystal pernah menulis dari pukul sembilan malam hingga pukul enam pagi ia belum tidur. Idenya masih ada, kalau tidur nanti takut lupa. Begitulah yang Krystal katakan. Sehun yakin, jika Krystal tidak harus menyiapkan keperluan Sehun bekerja, Krystal kembali menggelamkan dirinya ke dalam dunia menulis.

Tidak heran jika Krystal bisa menyelasaikan novel yang berisi ratusan halaman dalam dua bulan jika cara menulisnya begini.

Makanya Sehun selalu waspada jika Krystal mengatakan ia punya ide untuk cerita barunya. Walaupun Krystal mengatakan hanya akan mengetik hingga jam sepuluh malam, Sehun sendiri tidak percaya. Ia akan bangun pukul sepuluh malam kemudian menarik Krystal untuk tidur. Istrinya biasanya akan marah-marah di pelukan Sehun tapi ujung-ujungnya juga tertidur. Oh, Sehun hampir lupa, dia dan Krystal sudah menikah tiga bulan yang lalu.

Hiks… hiks… hiks…” Krystal rupanya tengah menangis menatap pemandangan kota Seoul dari apartment mereka. Istrinya juga tidak menyadari keberadaan Sehun.

Dengan pelan, Sehun mendekati istrinya dan memeluknya.
“Sehun?”

“Siapa lagi kalau bukan aku?”

Krystal dengan cepat menghapus air matanya. Sehun kemudian membalikan badan Krystal. Ia menatap wajah istrinya yang sudah sangat sembab.

“Ada apa? Kenapa menangis sendiri?”

Krystal kembali menundukan kepalanya.

“Krystal Oh….”

“Novel ku ditolak oleh penerbit. Mereka mengatakan jika ide yang kutulis terlalu biasa. Mereka mengharapkan hal lain.” Air mata Krystal sudah mulai turun lagi, “Aku menulis itu berbulan-bulan tapi mereka menolaknya dalam hitungan menit.”
Sehun menarik Krystal ke dalam pelukannya ketika tangisan Krystal semakin membesar.

Tapi Krystal mendorongnya, “Sehun…” Krystal menyeringit, “Sehun bau mu sangat aneh.”

“Ah?”

“Bau badan mu sangat aneh.” Krystal mendorong Sehun semakin jauh.

“Aku rasa bau badan ku tidak aneh.” Seru Sehun bingung. “Aku akan berganti baju. Kau mau kumasakan sesuatu?”

Krystal tiba-tiba menguap, “Kurasa rasa kantuk ku sudah datang. Aku mau tidur saja.”

“Baiklah.”

.

.

.

.

.

Seperti biasanya, Krystal selalu memasak sarapan untuk Sehun. Sehun tidak pernah meminta sesuatu yang ribet, menurut Sehun roti dengan selai cokelat saja sudah cukup. Tapi Krystal selalu berinisiatif memasak nasi goreng.

“Selamat makan!” Seru Krystal tersenyum.

Sehun tersenyum melihat istrinya sudah tidak bersedih lagi. “Selamat makan!” Balas Sehun dan memulai makan. Baru beberapa suap, Sehun berhenti mengunyah.

“Kenapa?” Tanya Krystal bingung melihat Sehun.

Sehun dengan cepat menggeleng dan kembali memakan nasi gorengnya. Rasanya sedikit hambar, pikir Sehun.

“Krystal, apa nasi gorengnya—“ Omongan Sehun terhenti ketika Krystal meletakan sendoknya dan langsung berlalri ke luar dapur.

Sehun menatap istri-nya bingung. Ia mengikuti Krystal yang menuju kamar mandi mereka.

“Krys…” Panggil Sehun pelan.

“Jangan masuk, sebentar…” Krystal mendorong pintu kamar mandi.

Sehun tetap memasuki kamar mandi. Dia sedikit terkejut melihat Krystal yang muntah. Dengan sabar, ia mengusap punggung Krystal. Sehun tambah terkejut ketika merasakan tenguk istrinya dingin.

“Kau sakit…” Kata Sehun dengan lembut.

“Aku hanya kecapekan karena membuat novel. Makan ku jadi tidak teratur.”

“Tapi tenguk mu sangat dingin, Krystal Oh. Ayo kita ke dokter.”

“Aku akan beristirahat saja.”

“Tidak ada tapi-tapi Krystal Oh.”
Yah, gitu deh… Kalau Sehun sudah berkata demikian, Krystal tahu keputusan Sehun tidak dapat diubah.

.

.

.

.

.

Sehun menyadari keputusannya untuk membawa Krystal ke rumah sakit benar. Apalagi melihat istri selalu muntah-muntah sedari tadi.

“Bagaimana keadaan istri saya dok?” Tanya Sehun setelah Dokter Park Hyein selesai memeriksa Krystal.

Dokter perempuan itu tersenyum, “Sebelum ini apakah istri Anda pernah muntah-muntah?”

Sehun menggeleng, “Baru pagi ini.”

“Sebenarnya istri Anda tidak sakit apa-apa. Istri Anda hamil.”

Sehun dan Krystal saling bertatap senang.

“Saya hamil dok?” Tanya Krystal tak percaya.

Dokter Park Hyein kembali mengangguk, “Benar. Usia kandungan Anda adalah 3 minggu. Jangan terlalu capek.”

Setelah mereka keluar dari rumah sakit pun Krystal dan Sehun masih diam dalam pikiran mereka masing-masing. Tentu mereka berdua bahagia.

“Aku akan menjadi ayah….” Seru Sehun tiba-tiba dan menarik Krystal ke dalam pelukannya. “Terimakasih, Krystal…”

Krystal dengan cepat mendorong Sehun. Ia menutup mulutnya, terlihat ingin muntah lagi. “Sehun… Bau mu benar-benar aneh.”

.

.

.

.

.

Hormon kehamilan Krystal memberikan warna baru bagi kehidupan rumah tangga mereka. Semenjak Krystal hamil, Sehun selalu berusaha pulang pukul tujuh malam. Selain untuk menikmati makan malam, ia juga ingin menjaga Krystal di jam mual-mualnya.

Seperti sekarang ini, setelah Sehun selesai berganti baju dan ia tidak bisa menemukan Krystal di dapur, Krystal sedang di kamar mandi karena mual. Sehun kembali menemani Krystal dan mengusap punggunnya lembut.

“Aku akhir-akhir ini selalu mual hingga tidak bisa ngapa-ngapain.” Keluh Krystal dan berkumur-kumur. “Aku bahkan tidak berhasil memasak sup untuk mu karena terlalu sering ke kamar mandi.”
“Tidak apa-apa sungguh…” Ujar Sehun lembut. Ia ingin memeluk Krystal tapi ragu. Akhir-akhir ini jika Sehun memeluk Krystal pasti Krystal akan kembali mual-mual.

Krystal mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya. Kemudian menyemprotkan ke Sehun.

Sehun terkejut, bau strawberry?
“Aku suka bau strawberry.” Kata Krystal tersenyum polos.

Sehun tanpa ragu menarik Krystal ke dalam pelukannya.

“Dan aku jadi tidak mual lagi…” Kata Krystal di dalam pelukan Sehun.

“Aku juga jadi suka bau strawberry sehabis ini.” Sahut Sehun.

Mereka berdua akhirnya keluar dari kamar mandi. Baru sampai dapur, Krystal kembali mual.

“Sehun… Sepertinya aku tidak kuat memasak…”

Sehun mengangguk mengerti. “Tenang saja. Suami mu inikan pintar masak. Kau sendiri sudah makan?”
Krystal menggeleng. “Aku tidak selera makan.”

“Aku masakin mau?”

Krystal terlihat berpikir sejenak, “Baiklah tapi jangan pakai garam ya… Lada juga jangan…”

Sehun mengangguk tapi ia jadi bingung. Masak apa tanpa garam dan lada? Tiba-tiba sebuah ide datang. Ia bersyukur Krystal sudah memotong sayur-sayuran. Ia mengambil setengah sayuran dan menaruhnya ke mangkuk. Langkahnya langsung ke kulkas. Mencari-cari sesuatu. Ia tersenyum ketika mendapatkan mayonise. Sehun menuangkan mayonise-nya.

“Nah, ini coba makan salad dulu. Jika saladnya habis aku berjanji akan membuat salad untuk mu terus.”

Krystal dengan pelan memasukkan saladnya. Berharap mualnya tidak datang lagi. Dengan pelan juga ia mengunyahnya. Ia bersyukur di sendokan pertama mualnya belum datang. Ia memakan lagi. Terus hingga saladnya habis.

Setelah malam tersebut, Sehun memutuskan untuk memasak baik itu untuk sarapan pagi atau makan malam. Untuk sarapan pagi, Sehun biasanya hanya membakar roti. Tapi untuk makan malam ia bisa memasak sup hingga mie saja.

Sehun juga selalu membuatkan makanan untuk Krystal. Awal-awalnya, ia bingung karena takut Krystal bosan dengan salad buatannya. Sehun sampai menyempatkan diri mencari resep tanpa garam dan lada dan menyadari jika makanan seperti itu untuk orang diet. Ia sampai konsul ke dokter kandungan.

Untung saja dokter kandungan mengatakan tidak apa-apa. Asalkan Krystal mengkonsumsi makanan lemak tambahan seperti susu kambing ataupun eskrim.

Menginjak usia kandungan keenam, isi kulkas mereka tergantikan oleh sayur-sayuran dan susu. Jangan lupa freezer mereka juga penuh dengan eskrim.

Masalah makanan mungkin terselesaikan. Tapi Sehun juga kadang dipusingkan oleh sikap Krystal yang berubah.

“Sehun… Tiba-tiba aku mendapatkan inspirasi baru.” Kata Krystal ketika mereka menikmati makan malam mereka. Krystal akhir-akhir ini lagi uring-uringan karena tidak mendapat inspriasi novel baru. Perempuan itu ingin membuat novel tetapi tidak ada inspirasi. Kalaupun ada, Krystal merasa tulisan yang ia buat sangat jelek. Padahal ketika Sehun membacanya, ia merasakan tulisan Krystal masih sama bagusnya.

“Aku juga sudah menuliskannya dan hasilnya sangat bagus. Nanti baca ya… Ceritanya tentang seorang cupid perempuan yang salah menembakan mantranya. Sang cupid kehilangan kekuatannya dan membuat ia ketahuan oleh targetnya.”

Sehun mengangguk. Ia lelah sebenarnya. Lagi-lagi, Krystal sering memaksa akhir-akhir ini. Jika tidak dituruti maka perempuan itu akan ngambek terus-terusan.

Setelah selesai makan malam Krystal menunjukan file novel dari laptopnya. Sehun sedikit menyeringit melihat halaman novelnya sudah mencapai duapuluh.

“Aku tidak menyangka sudah menuliskan tiga bab.” Krystal berkata dengan nada senang.

Sehun menghela nafasnya. Jam berapa lagi ia tidur? Tapi pada akhirnya ia tetap membacanya. Berharap tidak tertidur ketika membaca.

Butuh waktu dua jam bagi Sehun untuk menyelasaikan bacaannya. Jam sudah menunjukan pukul setengah duabelas malam. Krystal masih asyik di sampingnya, menunggu sang suami selesai membaca karyanya. Sehun jadi tidak bisa tidur ketika selesai membaca ceritanya.

“Kau bilang ini cerita tentang cupid yang salah menembak targetnya…”

Krystal mengangguk. “Bagus tidak?”

Sehun menatap Krystal horror, “Tapi mengapa ada vampire-nya juga? Jangan lupa tentang siluman naga dan sebagainya itu…”

“Kau tidak suka?” Raut wajah Krystal mulai cemberut. “Disitu juga ada mermaid-nya.”

“Iya, mermaid yang membawa orang ke laut kemudian menghisap darahnya.” Sehun masih bergeridik ngeri.

“Apakah tulisan ku sangat jelek?”

“Eh, gak bagus kok…. Aku hanya masih syok dengan genre-nya. Ini bagus. Jangan di hapus ya…”

“Aku tidak menghapusnya. Malah aku ingin menambahkan scene mermaid-nya. Menurut mu bagaimana?”

Sehun hanya bisa pasrah mengangguk. Duh kok ia jadi benar-benar merinding ya…. Istrinya yang lagi hamil bisa membuat novel sekejam itu.

.

.

.

.

.

Sembilan bulan berlalu dengan cepat. Sekarang, kebahagian masih bisa Sehun dan Krystal rasakan. Krystal masih senang dengan bayi mereka yang laki-laki. Ia terlihat main bersama Seulgi, Sulli, dan Irene. Sehun melihat itu dari jauh sambil tersenyum.

“Wah selamat ya….” Ucap Suho dan memberikan bungkusan yang sangat besar.

“Terimakasih teman!” Sehun tertawa memberikan bungkusan itu.

“Lihatlah… Wajahnya sangat dingin…” Suara Sulli terdengar mengomentari wajah rupawan anaknya.

“Wajahnya mirip sekali dengan Sehun. Padahal aku sudah susah-susah mengandung Sembilan bulan!” Keluh Krystal menatap anaknya. “Tapi lihat, bukankah Jaehyun juga rupawan?” Lanjutnya sambil tersenyum lebar.

Krystal dan Sehun setuju menamakan anak mereka Jaehyun. Ini juga bukan pertama kalinya Krystal mengeluhkan wajah anak mereka yang sangat mirip Sehun. Sebenarnya, Sehun juga mengalami kesusahan menghadapi Krystal. Eh… Kenapa dia jadi mengeluh seperti ini?

“Kapan adiknya nyusul?” Pertanyaan dari Cahnyeol membuat Sehun dan Krystal melotot.

“Jangan dulu… Habis ini aku mau nerbitin novel lagi…”

Sehun diam-diam meringis. Krystal memang akan menerbitkan novelnya tiga bulan lagi. Masalahnya novel yang akan Krystal terbitkan adalah novel tentang cupid itu. Sehun benar-benar pusing karena Krystal sampai mengadakan riset mengenai pembunuhan dan sebagainya ditengah kehamilannya.

“Ceritanya tentang fantasy loh…” Sahut Krystal dengan senang.

“Wah… Wah… Ada yang pindah dari romance ke fantasy nih…” Celutuk Sulli.

“Mana tahu sehabis ini Krystal bisa menjadi penulis buku anak-anak.” Sahut Irene.

“Benar. Boleh juga tuh…” Seru Krystal senang.

Sehun menghela nafasnya. Krystal menjadi ibu rumah tanggapun tidak apa-apa. Asalkan jangan menulis cerita seperti itu lagi.

.

.

.

.

.

Tujuh tahun kemudian~

Jaehyun yang merasa lelah setelah ekskul basketnya berjalan gontai keluar sekolahnya. Adik kecilnya, Eunha, yang hanya beda satu tahun darinya pasti sudah keluar sekolah duluan. Eunha sangat suka bermain ke rumah Yuna, temannya yang tinggalnya di dekat sekolah, jadi Eunha selalu pulang bersama Jaehyun.

Hiks! Hiks! Hiks!
Langkah Jaehyun terhenti ketika ia mendengar suara tangisan samar-samar. Jaehyun menoleh ke arah ayunan. Ah… Lagi-lagi perempuan itu sedang menangis. Jaehyun berjalan mendekatinya. Kali ini, dia bahkan membawa tisu basah takut untuk ketiga kalinya ia nanti tetap melakukan kesalahan.

“Chaeyeon, kau menangis lagi?” Tanyanya lembut.

Perempuan yang dipanggil Chaeyeon menoleh dengan mata sembab, “Apakah aku sangat jelek hingga mereka memanggil ku alien? Mereka bahkan berusaha mewarnai wajah ku dengan crayon karena terlalu putih.”

Jaehyun dengan cepat menggeleng. Ia mengeluarkan tisu basah dari tasnya dan dengan pelan menghapus crayon dari wajah Chaeyeon. “Kau cantik kok…” Ujarnya dengan nada polos khas anak kecil. “Oemma ku bilang tidak apa-apa punya kulit warna apapun. Dari putuh hingga cokelat. Yang penting ia baik. Lagipula, warna kulit seperti mu tidak sendiri kok… Appa ku kulitnya juga sangat putih. Aku juga kulitnya putih seperti dirimu.” Kata Jaehyun mengulang perkataan Oemma-nya.

Oemma-nya berkata seperti itu ketika memarahi Eunha. Dua hari yang lalu, saat Jaehyun pertama kali menemukan Chaeyeon menangis karena hal yang sama, Eunha tiba-tiba datang dan langsung bergeridik ketakutan. Mengatakan jika Chaeyeon alien karena kulitnya yang putih. Tentu saja ia tidak setuju dan melaporkan hal tersebut keapda ibunya. Pada akhirnya, baik ia dan Eunha mendapat wejangan Mama Krystal.

Chayeon tersenyum mendengar perkataan Jaehyun, “Seperti Eunwoo juga putih…”

“Iya…” Balas Jaehyun sambil tersenyum.

“Chaeyeon! Jaehyun!” Eunwoo datang sambil membawa satu bungkus plastic.

“Chaeyeon, kau sudah menunggu lama?” Tanya Eunwoo sambil tersenyum. “Aku membawakan mu susu! Juga ada susu untuk mu juga Jaehyun!”

“Wah… Terimakasih… “ Jaehyun menerima susu dari Eunwoo.

Mereka bertiga akhirnya berjalan bersama-sama. Eunwoo bercerita tentang latihan sepak bolanya dan pertandingan sebentar lagi. Jaehyun bercerita tentang ia berharap dipilih sebagai tim basket.

“Jaehyun….”

Jaehyun menoleh ketika ia mendengar suara ibunya.

Krystal tersenyum dengan Eunha bersamanya. Ia berjalan mendekati Jaehyun.

“Eunha sudah bilang. Oppa pasti bersama dengan teman barunya.” Seru Eunha ke ibunya.

“Jaehyun punya teman baru rupanya. Tidak ingin memperkenalkan kepada Oemma?” Tanya Krystal ramah.

Jaehyun mengangguk, “Oemma perkenalkan. Ini adalah Jung Chaeyeon. Dan ini adalah Cha Eunwoo.”

Krystal terdiam sejenak. Oh Jaehyun, Jung Chaeyeon, dan Cha Eunwoo. Untung saja Cha Eunwoo tidak bernam Lu Eunwoo. Eh?

Kenapa ia merasa déjà vu seperti ini?

.FIN.

  • Entah kenapa aku kepikiran ending seperti ini. But i still not have intended to make Jaehyun, Chaeyeon, and Eunwoo version.
  • Aku updatednya sampai end biar aku nya gak kepikiran terus. Tolong baca part terakhir ini. Part habis ini semacam behind the scene-nya… Tolong comment, gak apa-apa comment-nya digabung di behind the scene aja… Hehehe
Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s