State of Grace (Chapter 32)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

Previous Chapter: 1 | 2 | 3 | 4  | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Hari sabtu yang tidak seperti biasanya. Bagi Sehun, berkumpul dengan kedua orangtuanya akhir-akhir ini sangat tidak mugkin. Jika mereka berkumpul pun, maka suasana canggung akan sangat terasa. Seperti sekarang.

Mereka akhirnya berkumpul kembali demi menghadiri acara makan malam salah satu kolega ayahnya. Bersyukurlah karena disitu Kang Seulgi ada di sini. Sialnya, Son Seunghwan juga ada di sini.

“Ini anakku Oh Sehun.” Ujar Siwon kepada tuan rumah yang juga merupakan kliennya.

“Ah, jadi dirimu yang bernama Oh Sehun. Appa mu sangat bangga dengan mu dan kudengar darinya kau ingin mandiri sehingga bekerja di firma?” Orang tersebut tersenyum, “Aduh bagaimana ini. Masa aku lupa mengenalkan diriku terlebih dahulu. Park Junsu, itu nama ku anak muda.”

Sehun membungkukan badannya dan tersenyum sopan. Menahan kegerahan yang tiba-tiba menghampirinya ketika Park Jungsu mengatakan Appa-nya sangat membanggakan dirinya. “Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Tuan Park.”

Park Junsu semakin melebarkan senyumannya. Kemudian Siwon dan Junsu mengobrol panjang dan Sehun mengundurkan diri dari hadapan Park Junsu. Dia tentunya menghampiri Seulgi.

“Sudah lama kau tidak ikut pesta lagi.” Komentar Seulgi dan menyesap minumannya. “Kau tidak membawa Krystal?”

“Apa kau menghinaku sekarang?” Sahut Sehun dengan sebal. “Aku ingin… Tapi tidak bisa. Lagipula aku tidak ingin dia terluka.”

So sweet sekali…” Seulgi tersenyum mengejek ke Sehun. “Akhirnya sepupu ku jatuh cinta. Aku benar-benar harus memberi Krystal Jung hadiah karena membuat mu jatuh cinta.”

“Kang Seulgi….” Sehun menghela nafasnya kasar. “Dimana Kris?”

Seulgi melotot, “Kau tahu darimana jika aku berpacaran dengan Kris?”

“Kai.” Jawab Sehun pendek dan ikut menyesap minumannya. “Kau tidak pernah berkata apa-apa padaku dan tiba-tiba kau berpacaran dengannya.”

Seulgi menampilkan ekspresi tidak enak, “Bukan begitu. Semuanya terjadi dengan cepat.” Seulgi tersenyum kecut, “Sudahlah… Lain kali saja ku kenalkan Kris kepada mu. Dia sunbae di tempat kulihaku dan dia benar-benar orang yang baik. Juga pekerja keras.”

“Duh….   Kenapa kau jadi bersedih sih… Padahal sudah punya pacar. Kau seharusnya merasa senang.”

Seulgi tiba-tiba tersenyum. Sebuah ide jahil muncul di benaknya, “Kau kan juga pernah bersedih dan galau. Apalagi ketika Seojoon oppa mau nikah. ‘Aku galau karena Krystal….’” Seulgi pun menirukan nada suara Sehun waktu itu. Ia tertawa lepas melihat muka Sehun yang menampilkan ekspresi kesal.

“Seulgi dan Sehun….” Suara lembut dari Yoonah berhasil membuat Seulgi dan Sehun terkejut.

Sontak saja, mereka berdua menoleh dan menyapa Yoonah.

“Aku sangat terkejut bibi bisa datang.” Seru Sehun.

“Paman Donghae juga ikut datang?” Tanya Seulgi

Yoonah dan Donghae bukanlah pasangan yang suka datang ke pesta. Setahu Sehun, mereka lebih suka menghabiskan waktu sendiri. Pamannya pernah bilang jika ia tidak menyukai pesta karena hanya berisi orang-orang yang menyombongkan diri.

Yoonah tersenyum lembut, “Tentu. Donghae sedang menyapa Park Junsu. Orangtua kalian mana?”

Seulgi mengangkat bahunya, “Entahlah. Aku dan Sehun hanya mengobrol tentang Krystal.”

Sehun melotot, “Dan Kris.” Sahutnya cepat untuk membalas Seulgi.

“Kris?” Tanya Yoonah bingung.

“Pacar baru Seulgi.” Jawab Sehun cepat. Ia tersenyum lebar ketika Seulgi menampilkan ekspresi kesal.

“Ah, begitu… Dua orang yang sedang jatuh cinta bukan?” Lagi-lagi, senyum manis terpatri di wajah Yoonah.

“Wah… Wah.. Wah…” Donghae datang dan memeluk pingga Yoonah. “Apa yang sedang kalian bicarakan?”
“Aku tidak menyangka paman datang!” Seru Seulgi bingung.

Donghae hanya terseyum, “Sekali-kali kan tidak apa-apa. Lagipula aku harus datang karena Junsu adalah investor utama rumah sakit ku.”
“Sehun dan Seulgi…” Yoonah kali ini berbicara, “Kami rasa kami akan menyapa tamu yang lain.”

Sehun dan Seulgi hanya mengiyakan. “Menurutmu, jam berapa pesta ini berakhir? Aku sudah bosan.” Seulgi lagi-lagi menghela nafasnya dan menyesap kembali minumannya.

.

.

.

.

.

Sehun merasa seperti orang bodoh sekarang. Pertama, dia sudah menahan rasa bosannya setengah mati. Dia tidak pernah suka pesta atau acara makan seperti ini. Kedua, dia berpikir akan bisa langsung pulang tanpa harus terlibat dengan drama orangtuanya. Ayahnya yang tiba-tiba pulang duluan karena ada urusan dan ibunya yang tetap ingin disini karena masih harus mengobrol dengna temannya. Ketiga, dia tidak mengharapkan orangtuanya terutama ibunya akan memaksa ia bersama Wendy lagi. Nyatanya sekarang mereka, ibunya dan dirinya, sedang mencapai titik jenuh setelah ibunya mengutarakan niatnya. Ia ingin Sehun bersama Wendy.
Sehun merasa bodoh karena dia berpikir semuanya akan baik-baik saja tanpa kendala berarti. Yang terpenting adalah menahan dirinya dari rasa bosan. Itu semua terbukti salah besar.

Ia dan ibunya terduduk di sofa sang pemilik rumah berhadapan dengan perapian. Sehun memandang perapian tanpa niat. Sedangkan Tifanny menyesap red wine-nya.

“Kenapa Mommy selalu memaksa ku tentang masalah ini? Aku tidak mengerti.” Akhirnya Sehun berbicara lagi. Dia menampilkan ekspres jengah. Ia tidak perduli lagi jika raut ketidaksukaan dilihat orang-orang. Dia juga tidak perduli dengan orang lain pikirkan.

“Karena Wendy adalah orang yang cocok untuk mu.”

“Tapi aku tidak mencintainya!” Balas Sehun tegas. “Aku mencintai Krystal Mom… Bukan Wendy.”

“Wendy lah yang pantas untuk mu bukan Krystal.” Tifanny menyesap wine-nya, “Cinta itu bisa tumbuh Sehun. Waktu membuat cinta tumbuh. Kalau kau mau bersama Wendy, pada akhirnya kau akan mencintainya.”

Sehun bangkit, ingin menyudahi pembicaraan ia dengan ibunya, “Aku akan berjuang untuk hal ini dan aku tidak perduli. Meskipun aku akan kehilangan segalanya. Mom benar jika cinta itu dapat tumbuh karena waktu. Tapi itu tidak bisa menjelaskan kenapa Wendy lebih baik daripada Krystal. Krystal lebih baik daripada Wendy dan dia sempurna untuk ku.” Sehun segera berbalik meninggalkan ibunya.

.

.

.

.

.

Ini sebuah kesalahan. Ya, Donghae tahu itu. Kenapa ia harus mendengar percakapan antara Tifanny dan Sehun. Ia tidak sengaja melewati mereka ketika Tifanny berkata jika cinta itu akan tumbuh. Waktu lah yang membuat cinta itu tumbuh. Entah kenapa, tanpa bisa dicegah, perasaan yang telah tersimpan rapi dan terkunci di dirinya terbuka kembali.

.

.

.

.

.

Flashback on~

“Ayo kita putus Tifanny!” Donghae menatap kekasihnya, Tifanny Hwang. Kekasihnya sejak SMA hingga mereka duduk di bangku kuliah.

Tifanny yang sedang asyik memakan makan siangnya langsung menatap Donghae, “Apa maksudmu Hae-yah? Apa ini april mop?” Nada suaranya kelewat santai. Menyangka jika kekasihnya hanya bermain-main.

“Ini tanggal 10 Mei bukan 1 April.” Donghae berkata dengan serius. “Aku serius Tifanny Hwang. Ayo kita putus.”

Kali ini Tifanny menghentikan kegiatan makannya, “Aku tahu pasti waktu kuliah mu akan membuat mu sibuk dan jenuh. Tapi itu bukanlah penghalang untuk hubungan kita.” Tifanny ingin memgang tangan Donghae, tetapi Donghae dengan cepat menarik tangannya.

“Kita harus putus Tifanny.” Donghae tetap bersikukuh.

Mata Tifanny mulai berkaca-kaca, “Katakan kepadaku. Katakan kenapa kita harus putus!”

Donghae memejamkan matanya, “Aku tidak lagi mencintai mu…”

Bukan…. Aku tidak bisa mencintai mu lagi. Maafkan aku. Donghae membatin. Ia menatap Tifanny yang sudah mengeluarkan air matanya.

Ia bangkit dari tempat duduknya. Membuat Tifanny tercengang. Siapa yang menyangka jika acara makan siang mereka di tengah jadwal kuliah malah berakhir seperti ini.

“Aku sudah mengatakan kita putus. Terserah kau ingin menganggapnya apa. Tapi bagiku, kita bukanlah siapa-siapa lagi.” Setelah itu Donghae berbalik. Bergegas meninggalkan Tifanny.

Donghae meneteskan air matanya ketika ia sudah agak jauh. Ia tidak pernah merasa sesedih ini setelah sekian lama. Setelah kedua orangtuanya bercerai.

.

.

.

.

.

Tifanny tidak masuk kampus seminggu ini.

Ya, begitulah yang dikatakan Taeyeon kepada Donghae. Sahabat Tifanny itu tadi menemui Donghae untuk menanyakan Tifanny. Hanya menemukan fakta jika ia dan Tifanny tidak ada hubungan apa-apa lagi. Donghae memang kelewat cuek ketika berkata ia tidak tahu dimana Tifanny. Sifatnya juga menunjukan ia tidak perduli dan tidak akan mencari Tifanny. Tapi itu hanya di luar saja ia terlihat seperti itu. Di dalam hatinya ia sangat panik.

Aku tidak bisa mencintainya lagi…

Kata itu terus Donghae ulang-ulang. Donghae menghempaskan dirinya ke kasur. Menatap langit kamarnya yang sudah bocor. Ah, kamar Siwon pasti tidak bocor bukan? Jangankan bocor, catnya saja diganti oleh Appa tirinya. Tidak seperti kamarnya yang kusam ini.

Ting~~

Donghae merasakan hp bergetar. Ia terlalu lelah hingga malas berganti pakaian. Ia mengeluarkan hp dari celananya. Pesan dari Tifanny.

Drrrt~

Ia menahan nafasnya. Telepon dari Tifanny. Haruskah ia mengangkatnya? Ia mencengkram hp hingga berhenti bergetar. Tidak. Dia tidak boleh mengangkatnya. Telepon dari Tifanny ia lewatkan begitu saja. Tetapi Tifanny meninggalkan pesan suara.

“Donghae aku…” Suara Tifanny sengau. “Tolong aku… Orangtua ku ingin menjodohkan ku dan aku tidak mau… Aku tahu kita sudah putus tapi tolong aku… Aku hanya percaya dengan mu… Bisakah kau mengangkat telepon mu? Ataukah kau begitu sibuk? Kau punya kekasih baru bukan?” Tifanny kembali menangis kemudian pesan suara dihentikan.
Tanpa bisa dicegah, air mata Donghae kembali turun. Akhir-akhir ini dia sering menangis. Bagi seorang Lee Donghae, pantang baginya untuk menangis. Dia mencamkan hal itu ketika kedua orangtuanya bercerai. Ketika ayahnya tidak ingin mengasuh dirinya.

Donghae harus menelan kepahitannya ketika ayah tirinya tidak ingin Donghae memakai marganya, yaitu Oh. Donghae juga harus banyak mengalah, walau kesabarannya sudah habis, terhadap sauadra tirinya di banyak hal. Contoh terkecilnya saja dalah kamar tidur. Donghae harus rela ibunya lebih mengutamakan saudara tirinya demi ayah tirinya itu. Donghae harus menelan kekecewaan ketika kedua orangtuanya menyebutkan Siwon pintar dimana Donghae adalah anak jurusan kedokteran dan Siwon jurusan hukum. Hanya karena Siwon akan melanjutkan tugas Appa-nya sebagai pengacar terkenal sedangkan Donghae mengejar cita-citanya.

Dia harus mengerti jika apapun yang dia lakukan kepada kedua orangtuanya tidak akan terlihat. Karena hanya Siwon yang mereka lihat. Dia tahu. Dia hidup dengan itu. Dia tidak pernah menyalahkan siapa-siapa. Tapi… Donghae merasa seperti orang yang tidak berdaya dan frustasi ketika ayah tirinya menyuruhnya untuk berpisah dengan Tifanny.

Bahkan Siwon akan merebut Tifanny.

Bahkan Siwon yang akan menikahi Tifanny.

Tanpa ia tahu, kedua orangtuanya dan orangtua Tifanny mengadakan perjodohan. Appa-nya adalah pengacara kedua orangtua Tifanny dan menyelamatkan perusahaan Tifanny. Kemudian kedua orangtua tersebut menjadi dekat dan mengadakan perjodohan itu.

Donghae tahu…. Siwonlah yang akan ditunjuk bukan dia.

Meskipun Donghae yang berpacaran dengan Tifanny. Nyatanya, Appa tirinya tidak perduli akan hal itu. Ia malah mengancam Donghae berpisah dengan Tifanny. Berkata jika ia bebal, ia akan terkena kesulitan, begitupula dengan Tifanny.

Oh, Donghae pernah terpikir untuk kabur saja bersama Tifanny. Tapi pikiran itu langsung terbantahkan karena Appa tirinya itu.berkata itu tidak mungkin karena kekuasaan orangtua Tifanny sangat besar. Ia hanya akan membuat Tifanny kesulitan. Dan yang membuatnya semakin terpukul adalah ibunya juga memintanya melakukan hal itu.

Rasa tidak berdaya dan frustasi menjalarinya dari saat itu. Kenapa dia harus seperti ini? Kenapa ibunya harus seperti itu? Kenapa? Ia bertanya-tanya sekarang.

Donghae kembali menangis.

Dasar anak cengeng!

Kemudian ia tertawa ketika mengingat hal itu. Itulah yang Appa katakan kepadanya. Dan Appa-nya benar, dia adalah anak cengeng!

.

.

.

.

.

Minggu pagi, rumah keluarga Oh telah disulap. Mereka akan kedatangan tamu penting yang tak lain adalah keluarga Hwang. Ibunya sedari tadi sibuk memperhatikan apakah ada hal kurang seperti makanan dan juga dekorasi rumah. Appa tirinya dan Siwon sedang mengobrol. Donghae diam sedari tadi menatap tanpa minat.

Kalau bisa dibilang, hatinya sudah beku. Ia yang pernah terpukul akibat perlakuan ayahnya dulu dan perkataan ayahnya, termasuk mengatakan jika ia anak cengeng, membuat Donghae menjadi orang yang memendam semuanya. Sekarang, karena masalah ini, karena tidak dimengerti oleh keluarganya, dia memutuskan untuk menutup hatinya kepada kedua orangtuanya. Yang ia inginkan adalah pergi dari rumah ini secepat mungkin dan sukses sendiri.

Tin~ Tin~

Suara klakson dari mobil keluarga Hwang membuat semua anggota keluarga bertambah panik. Ibunya langsung menarik ayahnya untuk menyambut tamu. Meninggalkan dirinya dengan Siwon.

“Kenapa kau tidak membantah perintah Appa?” Siwon menatap tajam Donghae.

Hubungan dirinya dan Siwon tidak pernah baik sedari awal. Donghae tersenyum mengejek, “Bagaimana bisa aku membantahnya? Seharusnya kau yang membantahnya. Kau adalah anak kesayangannya.”

“Putra-putra ku berada di ruang keluarga.” Suara Appa terdengar kembali disusul suara lelaki paruh baya yang Donghae yakini kepala keluarga Hwang. Donghae menghela nafasnya. Posisi dia dan Siwon sangat canggung. Ia pun lagi-lagi mengalah dan mendekatkan dirinya ke Siwon.

Donghae dapat melihat kedua orangtuanya dan kedua orangtua Tifanny. Juga Tifanny yang terus menunduk.

“Ini adalah kedua putraku Siwon dan Donghae.”

Baik Siwon dan Donghae membungkukan badannya. Donghae dapat melihat Tifanny terkejut menatapnya.   Tetapi sebuah senyum keluar dari wajah Tifanny.

Appa menarik Siwon agar lebih dekat dengan keluarga Hwang, “Dan ini tunanganmu, Tifanny, Oh Siwon.”

Tifanny menatap Siwon kemudian Donghae bergantian. Donghae menghela nafasnya.

Maafkan aku… Aku seorang pengecut….

.TBC.

H-1 UN. Lagi jenuh belajar B. Indonesia dan voila… Mana peraturan SBMPTN katanya berubah dimana benar gak tentu +4 dan salah gak pasti -1 hadeuhh…   Kenapa coba ngasih tahunya gak jauh-jauh hari? Suka bingung sama pemerintah Indonesia…

Yah, jadi gitu deh…. Mungkin bisa menjawab kebingungan antara Tifanny dan Donghae… Chapter depannya aku akan masih membahas hubungan flashback kedua orangtua Sehun.
Kapan update-nya?

Hehehe…

Itu sih…

Setelah UN?

See you soon~

 

Advertisements

10 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s