Sight Seeing and Silence (Chapter 4)

Poster 1

Main Cast: Mark Tuan | Son Seunghwan | Oh Sehun | Park Chanyeol

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

Author: Ally

Amazing Poster by :  selviakim – Poster Channel  

Previous Chapter: 1 | 2 | 3

garis

Chapter Four: Big Dream Boys

Tidak ada yang tahu perasaan Sehun sebenarnya.  Mark mungkin hanya tidak setuju dengan keinginan ayahnya, tetapi ia mencintai keluarganya.  Sehun berbeda.

Dia tidak setuju dengan keluarganya.  Dia membenci keluarganya.  Dia rela melakukan apapun untuk keluar dari keluarganya.  Iya.  Itulah impiannya.

Seperti yang Seunghwan janjikan, ia dan Mark kembali ke kelas pada saat jam istirahat.  Kembalinya mereka ke kelas di sambut oleh Sehun yang entah kenapa tidak istirahat.

“Sehun!”  Sapa Seunghwan riang seperti biasanya.

Mark diam seperti biasa. Sehun dapat melihat tatapan hangat yang Mark berikan ke Seunghwan hilang.  Tatapan dingin yang Mark berika kepadanya.

“Oh, Hai!  Aku tidak melihat kalian tadi…”

“Kami berkeliling sekolah.” Jawab Mark sedanya.

“Oh…”  Sehun diam tidak melanjutkan bertanya.  Jawaban dan tatapan Mark yang dingin membuat nyali dia ciut seketika.

“Song Seongsangnimtadi mencari mu.  Sepertinya berhubungan dengan Chanyeol.”  Sehun akhirnya memutuskan mengobrol pada Seunghwan.

Seunghwan hanya meringis, “Pasti karena Chanyeol tidak mengerjakan tugasnya.”

“Kurasa bukan itu.  Song Seongsangnimtadi terlihat sangat senang.”

“Benarkah?  Kenapa?  Chanyeolkan tidak mengerjakan tugasnya.”  Raut wajah Seunghwan benar-benar bingung.

“Chanyeol mengerjakan tugasnya tadi kok.  Dengan bantuan Seulgi.”  Terbesit nada bangga di suara Sehun.  Ia tersenyum lebih lebar.

Seunghwan yang melihat hal itu membuang mukanya dan mengkerucutkan bibirnya, “Sepertinya Chanyeol sudah memindahkan tasnya.”  Seunghwan mengallihkan pembicaraan.  “Dia akhirnya duduk dengan Sulli!  Bagaimana reaksinya?”  Keceriaan Seunghwan kembali seketika.  Dia sangat senang terbebas dari seorang Park Chanyeol.

Sehun tertawa kecil sebelum menjawab, “Histeris.  Aku yakin dia akan melakukan segalanya agar kau kembali menjadi teman sebangkunya.”

Mark sendiri meletakan tasnya di bangku sebelah Seunghwan.  Sesuai dengan permintaan Kepala Sekolah, ia dan Seunghwan akan duduk sebangku hingga selama satu semester ini.  Melawan peraturan sekolah dimana setiap sebulan sekali wajib diadakan pertukaran teman sebangku.

“Kenapa tidak ke kantin?” Seunghwan lagi-lagi bertanya ke Sehun. Perempuan itu sepertinya tidak memperdulikan dirinnya semenjak kembali dari ruang anggar.  Padahal perempuan tadi tidak berhenti memuji dirinya ketika Mark memperlihatkan kemampuan anggarnya.  Kemudian dengan lucunya mencoba anggar tetapi hanya bertahan tiga menit karena perempuan itu langsung menyerah.

“Aku benci olahraga dan aku baru ingat jika anggar termasuk olahraga.”  Begitulah yang Seunghwan katakan sebelum mereka memutuskan untuk berbalik ke kelas.

“Seunghwan!!!”  Teriakan seorang Park Chanyeol membuat lamunan buyar. Park Chanyeol tersenyum sangat lebar dan segara menghampiri Seunghwan dengan semangat.

“Cantik kau kemana saja?  Ayo duduk bersama ku….”

Mark meringis mendengar perkataan Chanyeol.  Ia mengharapkan Seunghwan akan jijik juga tetapi Seunghwan hanya menatap Chanyeol datar.

“Wahai kuping gajah, aku sangat senang tidak sebangku lagi dengan mu.”

Sontak saja, Mark dan Sehun tertawa mendengar pernyataan Seunghwan.  Sedangkan Seunghwan dan Chanyeol saling menatap tajam, bersiap-siap untuk bertengkar.

“Cantik kau menyakiti hatiku…” Chanyeol langsung menutupi kupingnya.

“Sangkin besarnya kuping mu, hati mu juga berada di sana.”  Itu bukanlah suara Seunghwan.  Tetapi suara lembut seorang perempuan berambut pendek.

Ia tersenyum lebar, “Aku dengar ada murid pindahan dari Los Angeles.”  Katanya dan mengulurkan tangannya, “Aku Choi Sulli.”

Mark membalas uluran tangan Sulli, “Mark Tuan.”

“Jangan percaya dengan senyum manisnya.  Dia penyuka om-om.”  Detik selanjutnya, suara teriakan Chanyeol terdengar keras.  Sulli tengah menarik rambutnya dengan brutal.

“Nam Joohyuk oppaitu hanya beda satu tahun dari kita.  Dia bukan om-om.”  Teriak Sulli dengan penekanan di setiap katanya.

Seunghwan hanya menghela nafasnya. Joohyuk itu kakak kelas yang umurnya sama seperti Chanyeol.  Tapi Chanyeol memang bodoh sehingga ia terdampar di kelas dua.

“Hey, hey, hey, hentikan pertengkaran kalian.  Tadi kalian sudah bertengkar di kantin.”  Kai pun datang.  Sama seperti Chanyeol dan Sulli, ia juga dari kantin.  Begitupula Naeun dan Seulgi yang mengikuti Kai.

“Seunghwan kau kemana saja…” Seulgi menyapanya.

“Aku habis berkeliling-keliling sekolah.”  Jawab Seunghwan dan tersenyum.

“Ku dengar ada anak baru.” Mata Seulgi langsung menangkap Mark. “Kau anak barunya?  Aku Kang Seulgi.”  Ia membungkukan badannya yang membuat Mark ikut membungkukan badannya.

“Mark Tuan.”

“Ini teman ku Son Naeun…”

Seulgi dan Seunghwan menatap dengan terkejut karena mereka mengucapkannya secara bersama-sama. Sebelum tertawa lebar.

“Kenapa mewakilkan aku?” Naeun mengeluarkan kalimat protesnya. “Aku Son Naeun.”  Kata Naeun dan membungkukan badannya sedikit.  “Semoga kau betah berada disini.  Apalagi disekeliling kami.”

Mereka kemudian tertawa bersama-sama.

“Tadi Yejin mengajak kita untuk merayakan ulang tahunnya ketika pulang sekolah.  Kau harus ikut Seunghwan.”  Seulgi kembali berbicara.

“Benar!  Dia akan mengajak kita berkaroke.  Meskipun Yejin bilang nonton juga bagus.”  Naeun menimpali ucapan Seulgi.

“Yejin dari kelas sebelah? Bagaimana ia bisa akrab dengan kalian?”

“Gara-gara Chanyeol.”  Kali ini Sulli yang berbicara.

Chanyeol senyum dengan bangga. Seunghwan tentu saja tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berdecih tak suka.

“Aku akan ikut.”  Putus Seunghwan pada akhirnya.  “Sepertinya mengasyikkan.”

“Tadi Yejin bertanya bagaimana rencananya.  Kalau karoke saja habis itu makan eskrim di Aera’s Signaturebagus bukan?  Maksudku tempatnya jangan banyak-banyak.  Lebih baik sedikit tempat tapi kita semua puas di tempat itu.”  Jelas Kai panjang lebar.

Semuanya mengangguk setuju. Mereka membicarakan apa yang harus mereka lakukan termasuk membeli kue untuk Yejin secara mendadak.

“Chanyeol saja yang memberikan kuenya.”  Usul Sulli dengan tatapan meledek.

“Apaan sih!”  Seru Chanyeol kesal.

Seunghwan kali ini memicingkan matanya, “Wah…  Wah… Seharusnya aku tahu saat dia bilang dia akan mengajarkan Yejin bermain musik.”

“Bilang saja kau cemburu!” Ledek Chanyeol.

Seunghwan tentu saja membuang mukanya dan mengembungkan pipinya.  Mark menatap Seunghwan, yang kini sedang menatapnya juga, dengan lucu.  Seunghwan tiba-tiba membulatkan matanya membuat Mark terheran.

“Kita belum mengajak Mark!” Seru Seunghwan heboh.  “Bagaimana bisa kita membicarakan ini di depannya tetapi tidak mengajaknya?”

“Eyyhh…”  Mark menyeringit.  Mengaruk kepalanya yang tidak gatal.  “Tidak apa-apa.”

“Kau marah?  Maaf.  Ayo ikut dengan kami.”  Kali ini Sulli menatap dengan panik.

Mark segera mengibaskan tangannya, “Bukan seperti itu…”  Ia bahkan tidak mau ikut sebenarnya.  Tetapi melihat tatapan memohon teman-teman barunya, terutama Seunghwan, Mark menghela nafasnya, “Baiklah aku ikut.”

Teman-teman bersorak senang.

“Jadi bagaiama Chanyeol?”

“Apanya?”  Chanyeol tetap malu-malu kucing.

Kringggg~

Sepertinya kegiatan berdiskusi mereka harus selesai.  Bel masuk berbunyi yang membuat gengmereka bubar.  Sehun dan Kai duduk sebangku.  Begitupula Naeun dan Seulgi.  Juga Chanyeol dan Sulli.

Yoo Seongsangnim, guru mata pelajaran Sejarah, satu-satunya pelajaran yang tidak boleh ditinggalkan walau sudah memilih jurusan IPA, masuk dengan senyum lembutnya.  “Anak-anak, kalian akan ditugaskan merangkum di perpustakaan bersama teman sebangku kalian.”

 

garis

Mark memijat pelipisnya. Kepalanya rasanya pusing sekali membaca huruf-huruf hanggul  yang baru ia pelajari.

“Udah selesai.”  Seunghwan menyadarkannya.

“Aku tidak membantu apa-apa.” Mark menutup buku tebal yang menjadi bahan rangkuman mereka.

“Kau sudah membantuku mengambil buku ini.”  Seunghwan masih asyik merapikan rangkuman mereka.

Mark mendengus, “Selain itu? Kurasa tidak ada.”

“Tidak apa-apa Mark. Lagipula aku suka materi ini.  Aku juga sudah sering membaca buku ini.”

“Aku baru ingat.  Kau anggota klub membaca juga bukan?”

Kali ini Seunghwan menatap Mark, “Benar.  Kau tahu darimana?”

“Sehun.”  Jawab Mark pendek.   Tetapi jawaban itu cukup membuat senyuman terpatri di muka cantik Seunghwan.

“Dia menceritakan ku?” Tanyanya riang.

“Hanya sedikit.”  Jawab Mark dengan raut muka tidak suka.  Kenapa bersamangat sekali dengan semua yang berhubungan dengan Sehun?

Ia berdehem, “Ngomong-ngomong tentang Sehun, sudah berapa lama kau mengenal Sehun?”

Dengan seyuman, Seunghwan menjawab, “Sejak dari kecil.”

Kecil?  Jangan-jangan….  Seunghwan juga termasuk jajaran mafia?

“Rumah Sehun dulu dekat dengan rumah ku. Kami jadi sering bermain bersama-sama.  Dia baik sekali.  Tetapi gitu…. Ketika ibunya meninggal, Sehun pindah bersama tante dan pamannya.  Kau mengenalnya bukan?  Paman Lee Donghae?  Sejak saat itu aku jarang bertemu dengan Sehun.  Awalnya aku mengkhawtirkannya tetapi sepertinya ia baik-baik saja. Keluarga barunya sangat baik. Bahkan paman Lee Donghae memberikan marganya kepada Sehun.  Walau di sekolah ia tetap menggunakan nama Oh Sehun.”

Mark mengangguk-ngangguk.  Ia jadi mengerti mengenai Lee Sehun dan Oh Sehun.

“Pekerjaan kita sudah selesai. Ayo kita kumpulkan….”

garis

Tidak terasa, waktu pulang sudah tiba.  Seunghwan sudah sedari tadi ditarik oleh Sulli untuk menemui Yejin.  Meninggalkan Mark yang masih membaca buku catatan Seunghwan. Sebelum menghembuskan nafas jenuh dan ikut merapikan bukunya.  Ketika ia berbalik, Sehun sudah ada di belakangnya.

“Ku kira kau sudah duluan.” Mark berkata cuek.  Tanpa menunggu jawaban, ia ingin keluar dari kelas.

“Aku ingin bicara dengan mu.”

Mendengar perkataan Sehun, Mark berbalik, “Mengenai apa?”

“Ada yang ingin kau tanyakan kepadaku?”

“Apa?”

“Kau bertanya tentangku kepada Seunghwan, bukan?”

Mark menaikan salah satu alisnya, “Seunghwan mengatakan kepada mu?”

Sehun menggeleng, “Aku mendengarnya di perpustakaan.”

“Itu sama sekali bukan urusan mu.” Mark ingin meninggalkan Sehun.  Tapi tangan Sehun mencegatnya.

“Jauhkan Seunghwan dari masalah ini.  Dia benar-benar tidak tahu apa-apa mengenai ku.  Dia gadis yang baik.”

Setelah itu, Sehun berjalan mendahului Mark.

tbc

 

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s