State of Grace (Chapter 38)

jpg2

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

Previous Chapter: 1 | 2 | 3 | 4  | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37

Beautiful Cover: selviakimposter channel

Hal pertama yang Krystal lihat ketika ia sadar dari pingsannya adalah wajah Oemmanya yang sangat khawatir.  Krystal mengerjap sebentar sebelum menyadari ia berada di rumah sakit.

Trek~

Pintu ruangan terbuka dan tak lama kemudian seorang dokter muncul.

Dokter Park.  Begitulah nama yang tertera di name tag nya.  Dokter Park tersenyum lembut, “Apakah Anda sudah tidak pusing lagi Nona Jung?”

Krystal sontak menggeleng.

“Apakah anak saya baik-baik saja, dok?”  Jessica kali ini berbicara dengan nada khawatir.

Dokter Park tetap tersenyum, “Dia baik-baik saja.  Ini adalah hal yang wajar terjadi.”

“Maksud Anda?”  Krystal bertanya dengan nada raut bingung.

Masih dengan tersenyum Dokter Park menjawab, “Anda hamil Nona Jung.  Umur janin Anda sudah dua minggu.”

Baik Jessica dan Krystal terdiam karena terlalu terkejut.

“Maaf?”  Akhirnya, setelah hampir tigapuluh detik tidak berbicara, Krystal bertanya dalam kalut.  “Saya hamil?” Nadanya menggantung.

“Iya, Anda hamil.”  Ulang Dokter Park masih dengan nada senang. “Selamat sekali lagi!  Anda tadi pingsan karena terlalu capai.  Saya sarankan Anda membatasi waktu kerja Anda selama beberapa bulan kedepan.  Dan jangan stress, itu dapat membawa pengaruh buruk kepada janin Anda.”

Lagi-lagi, Jessica dan Krystal hanya dapat terdiam.

.

.

.

.

.

Baik Jessica dan Krystal terdiam selama di perjalanan.   Mereka terdiam memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya.  Sedari tadi, Krystal memandangi bangunan tinggi di Busan dengan kosong.

“Apakah Sehun ayahnya?” Jessica memecah keheningan.  Bertanya sehati-hati mungkin.

Krystal menghela nafasnya, tetapi ia mengangguk.  “Iya. Sehun ayahnya.”  Katanya  mempertegas lagi.

“Sekarang apa yang akan kau lakukan?  Kau akan memberitahunya?”

“Aku tidak tahu Oemma…”  Ia sekarang menghadap ke Jessica.

“Jangan bilang kau akan menyembunyikannnya.”  Ucap Jessica tidak percaya.  “Sehun ayahnya, Krystal.  Dia berhak tahu.”

Krystal tahu Sehun berhak tahu… Ia sangat tahu.  Tetapi ini bukan hanya masalah antara dirinya dan Sehun saja sekarang.  Krystal harus memikirkan anak yang dikandungnya sekarang.  Ia hanya terpikir, bagaimana anaknya harus menerima jika neneknya membenci dirinya?  Krystal tidak ingin seperti itu.

Oemma…”  Krystal kembali menghela nafasnya, “Biarkan aku berpikir sejenak.”  Putus Krystal pada akhirnya.

.

.

.

.

.

Sehabis pulang dari rumah sakit, hal  pertama yang Krystal lakukan adalah memasuki kamarnya, berganti baju, kemudian termenung hingga cukup lama.  HIngga hampir melewatkan jam makan malam.  Untung saja Jessica mengetuk ppintu kamarnya dan membwakan makan malam. Ia makan malam sebelum termenung lagi.

Apa yang harus ia lakukan? Bagaiman jika ia kembali lagi? Apakah keadaan masih tetap sama, masih ada yang menentang hubungan mereka?
Sontak, ia menggeleng.  Bagaimana jika ia tidak diterima lagi?  Tetapi sekarang, beban pikiran Krystal bertambah. Bagaimana jika anaknya yang tidak diterima?  Anaknya harus hidup dengan seorang anggota keluarga yang membencinya?

Dia memejamkan matanya ketika bulir air mata mendesak untuk turun.  Ia menarik nafas dalam sebelum memutuskan, maafkan aku Sehun.  Aku tidak akan kembali lagi.

.

.

.

.

.

Teh yang ia pesan sudah dingin. Ia masih bergeming memeluk tasnya. Hari ini tidak seperti yang diharapkannya.  Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat ke apartment Sehun.  Ia mengkhawatirkan Sehun.  Sudah tiga minggu ini Sehun tidak keluar dariapartment-nya dan menolak untuk menerima tamu.

Ketika sampai disana, bukan hanya ada dirinya yang ingin bertemu dan memeriksa keadaan Sehun.  Ada dua orang lainnya dan salah satunya pegawai dari kantor tempat Sehun bekerja.

“Aku harus bertemu dengannya. Ini penting.  Teleponlah ia.”  Pegawai itu tetap memaksa.

Resepsionis yang terlihat jengah itupun menggelengkan kepalanya, “Mohon maaf.  Tapi Tuan Oh Sehun tidak ingin diganggu.”

“Telepon saja tidak bisa? Tolong bilang kepadanya jika Kang Seulgi ada di bawah.  Bilang saja.” Kali ini Seulgi yang berbicara.

“Tidak bisa!”  Seru sang resepsionis kesal.  Ia menghembuskan nafasnya perlahan sebelum menjawab, “Itu perintah dari tuan Sehun.  Dia tidak ingin menerima tamu ataupun telepon.”

Seulgi hanya berdecak malas, membuat nyalinya ciut seketika.

“Ngapain kau disini?”  Teriak Seulgi berapi-api. “Aku saja tidak ingin ia temui apalagi kau!”
“Maaf  dilarang berisik…”

Perkataan resepsionis membut Seulgi hanya bisa mendegus dan membuang mukanya.

“Ya sudah.  Kalau begitu aku titip surat saja kepada mu.”  Pegawai tersebut mengeluarkan surat dari tas kerjanya. “Tolong disampaikan kepadanya. Kalau tidak bisa, setikdanya ketika Oh Sehun keluar kasih kepadanya.  Jangan lupa.”

“Tunggu…. Tunggu…”  Seulgi menahan pegawai yang ingin pergi, “Maaf jika boleh tahu apa isi suratnya ya?  Saya keluarganya Oh Sehun.”

“Saya hanya menyampaikan surat pemecatannya karena tidak masuk hampir tiga minggu.”

Tatapan tajam Seulgi langsung ia dapati, “Jika saja kau tidak kembali ke Seoul, hal ii pasti tidak terjadi.” Masih dengan nada dinign ia menambahkan, “Lihat apa yang kau buat kepada Sehun!  Ia mengurung diri tiga minggu ini.  Tante sakit dan paman yang entah kemana.  Sekarang, kau membuat ia dipecat dari pekerjaan impiannya!  Jangan lupa kau membuat orang yang sangat ia percayai, keluarganya, berbalik menyerang dirinya!  Yang paling fatal, kau mengenyahkan orang yang ia cintai!  Tapi sayang, kau belum mendapatkannya!”

Wendy tercekat mendengar perkataan Seulgi.  Ia langsung mundur kebelakang dan pergi dari apartmentSehun dengan menangis.

Ia berhenti di café, berharap makan dapat menghentikan kegundahannya, tetapi sekarang, ia kembali menangis.

Tak~
Bunyi gelas di taruh di atas meja membuat Wendy mendongak.  Melihat lelaki yang sangat ia kenal membawa kopinya. Tersenyum kepadanya.

“Kenapa menangis?”  Suara baritone laki-laki itu yang terdengar sangat lembut membuat ia menangis.  Lagi.  “Kau tidak disendiri di sini. Menangislah…”  Laki-laki itu kemudian memegang tangan Wendy.

Masih dengan sesenggukan, Wendy berbicara, “Terimakasih….  Mark.”

.

.

.

.

.

Krystal memandangi dirinya yang sekarang berambut pendek.  Ia tersenyum kecil.  Perutnya dengan lembut ia elus.  Itu merupakan hobinya selama dua minggu terakhir.

Ia menoleh ketika mendapati pintu terbuka.  Jessica memasuki kamar membuat sebuah buku kecil yang Krystal yakini passport.

“Nah, identitas baru mu telah keluar….”  Jessica memberikan bukan hanya passport, tetapi kartu tanda penduduk dan juga sim.

Clara Jung.

Yah, itulah nama baru Krystal. Arti Clara sama saja dengan Krystal.

“Nama itu hanya berlaku di passport, ktp dan sim.  Untuk di kantor, tetap memakai nama Krystal Jung.”

Krystal menganggukan kepalanya. “Bagaimana dengan tiketnya?”

Jessica dengan santai memberikan tiket.  “Tiket ke Jeju menggunakan kapal.  Oemma telah membelikan rumah untuk mu disitu.  Jisoo juga sudah ke Jeju duluan.  Apakah kau sudah siap?”

Dia lagi-lagi menganggukan kepalanya.  Tapi menyeringit melihat tiket yang hanya bertuliskan “Untuk Clara Jung”.

Oemma  hanya bercanda.”  Jessica menatap Krystal geli.  “Kau tidak butuh tiket karena kapalnya bukan kapal komersial.  Pokoknya kapal mu akan aman dan terakhir Oemmamenaikinya aman kok.  Gak bikin mual.”

“Kapan Oemmamenaikinya?”
“Dua hari yang lalu.   Kau kan bilang Oemmaharus mencobanya.”

Krystal tertawa keras, “Hahaha.. Ya ampun…  Oemmaakukan hanya bercanda kenapa Oemma melakukan beneran…. Jangan bilang sehabis sampai di Jeju Oemmalangsung pulang?”

Jessica mengangguk kemudian mengembungkan pipinya melihat tawa anaknya semakin keras.  Terkadang, Jisoo suka geleng-geleng kepala melihat interaksi mereka berdua.  Jisoo bahkan menambahkan jika mereka lebih cocok sebagai kakak adek daripada ibu dan anak.

“Sudah…  sudah….  Oemmaakan mengantarkan mu sekarang.  Semakin sore akan semakin bahaya.  Jangan lupa memakai kacamata hitam mu dan jangan melepaskannya kecuali di dalam kapal.”  Ia memijit pelipis mu, “Oemmaheran sekali dengan kekasih mu yang masih gigih mencari dirimu dengan bantuan detektif.”

Oemma…”

Mendengar suara protes anaknya, Jessica dengan enteng berkata, “Dia kan masih kekasih mu.  Kau meninggalkannya bukan memutuskannya.”

Krystal menghela nafasnya sedangkan Jessica kembali berbicara, “Detektif-nya juga sangat gigih sekali. Jika saja Sehun tidak segigih ini mencari mu, kau akan naik pesawat bukan naik kapal.  Ayo…  Ayo… Kita terlambat.”

Krystal merasa ibunya semakin hari semakin cerewet saja.  Mulai dari makan Krystal yang berkurang semenjak ia suka mual bahkan kacamata hitam ketika keluar kemana-mana.  Bahkan menyuruh Krystal memotong rambut Krystal pendek setelah sebelumnya mengusulkan mengcat rambut menjadi pirang.  Rencananya, kalau Krystal mengecat rambutnya pirang maka Jessica akan ikut.  Biar kayak kembar katanya.

Krystal mengambil tas juga kopernya.  Ia memutuskan untuk tidak pergi ke New York, tetapi pindah ke Jeju.  Jeju, akan menjadi tempat tinggal barunya.

.TBC.

Setelah hampir seminggu tak bertemu….

Akhir-akhir ini entah mengapa aku ngerasa tulisan aku jelek banget terutama di State of Grace…

Ngomong-ngomong, agak telat memang, Selamat Menjalankan Ibadah Puasa….  Semoga puasa tahun ini lebih baik daripada tahun sebelumnya. hehehe….

Chapter selanjutnya lagi aku tulis.  Semoga sabtu sudah kelar.

 

Advertisements

6 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s