State of Grace (Chapter 41)

on

jpg2

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

Previous Chapter: 1 | 2 | 3 | 4  | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40

Beautiful Cover: selviakimposter channel

Tangannya terasa kaku ketika ingin mendorong pintu yang memisahkan dirinya dan ibunya. Sehun melihat ke arah Seojoon. Seojoon menganggukan kepalanya, berusaha meyakinkan Sehun apa yang ia lakukan benar.

“Hyung gak mau masuk?”

Seojoon menggeleng mendengar pertanyaan Sehun, “Kita harus melakukan ini pelan-pelan. Pertama dirimu dulu yang menyelesaikan masalah baru aku.”

Sehun menghela nafasnya. Menyelesaikan masalah. Ini sudah dua hari sejak Seojoon menemukan Krystal. Hyung-nya masih diam tidak ingin memberi tahu sebelum Sehun melakukan syarat yang ia buat. Butuh dua hari bagi Sehun untuk benar-benar mau menemui ibunya, walau sampai sekarang masih terselip rasa ragu.

Trek~

Sehun akhirnya membuka pintu kamar ibunya di rawat. Ibunya menatap ke arah pintu dengan terkejut. Rasanya lama sekali sejak ia bertemu terakhir dengan ibunya. Ibunya banyak berubah, dengan cekung di matanya dan tulang pipi yang bisa Sehun lihat. Ibunya semakin kurus.

“Sehun….” Tifanny menatap Sehun tidak percaya.

“Hai mom…” Sapa Sehun canggung. Dia benar-benar kehilangan kata-kata saat bertatap langsung dengan ibunya. Sehun berjalan masih dengan rasa canggung, mendekat ke arah ibunya dan duduk di samping ibunya. Meletakan bunga mawar yang tadi Seojoon beli. “Maaf…”

Tifanny tersenyum sedih, “Gak apa-apa. Kamu pasti sibuk bukan?”

Sehun menggeleng, “Bukan untuk itu. Aku mau minta maaf karena akhir-akhir ini keras kepala.” Sehun menghela nafasnya, “Kita sama-sama salah tapi Sehun rasa…..” Sehun kembali menghela nafasnya, “Sehun merasa daripada membentak Mom, kita bisa membicarakan ini baik-baik. Jadi maaf… Maaf untuk tidak bisa membicarakan ini secara baik-baik.”

Tifanny terdiam. Bukan karena ia tidak mengerti apa yang Sehun katakan. Dia sangat mengerti hanya saja dia tidak pernah menyangka Sehun akan meminta maaf kepadanya. “Momhanya ingin yang terbaik untuk mu…..” Tifanny berkata susah payah. “Tapi Momrasa keputusan yang Mombuat hanya terbaik untuk Mombukan untuk mu.” Mata Tifanny kali ini telah berkaca-kaca, “Krystal…. Gadis itu pergi karena Mom bukan?”

Sehun menghapus pelan air mata ibunya, “Bukan. Ini salah Sehun.”

“Sehun Mom minta maaf.” Tangisan Tifanny membesar.

“Kita semua salah.” Sehun akhirnya mengenggam tangan ibunya. “Dan soal Krystal, dia memang pergi tapi sebentar lagi dia akan kembali. Aku akan menjemputnya.”

Selama dua jam berikutnya, Sehun masih menemani Tifanny yang lagi-lagi menggumamkan kata maaf.

.

.

.

.

“Kopi hitam?”

Seojoon mendongak dan menemukan Paman Donghae sedang berdiri di depannya dan menyodorkan satu cup yang Seojoon yakini kopi hitam.

Seojoon tersenyum dan mengambil kopi hitam, “Terimakasih Paman.”

“Kau tidak masuk?” Lee Donghae duduk di samping Seojoon. “Sejak satu jam yang lalu kau hanya terduduk di ruang tunggu.”

Seojoon menyesap kopinya, “Setelah masalah dengan Sehun selesai, aku akan masuk.”

“Kau tidak masuk bukan karena ragukan?”

Seojoon sontak menggeleng, “Aku khawatir tapi sudah saatnya aku mengobrol dengan Mom.”

“Menobrolah dengannya. Ia masih, bukan, ia selalu menyayangi mu.”

Seojoon menghela nafasnya, “Jika ia menyayangi ku, ia tidak akan mengirim ku ke Amerika.”

“Setiap orang punya cara yang berbeda Seojoon. Kau tidak mengerti sekarang. Tetapi ketika sudah berbicara dengannya, mungkin kau akan mengerti.”

Seojoon akhirnya menoleh ke pamannya, “Apakah paman masih mencintai Mom?”

Donghae menatap Seojoon terkejut, “Apa yang kau maksud Seojoon—”

Seojoon memotong omongan Donghae, “Aku sudah menemukan Krystal.”

“Bagaimana kabar gadis itu?” Tanya Donghae hati-hati.

“Baik. Aku juga mengobrol dengannya tentang alasan ia pergi. Dan ia menceritakannya. Termasuk ketika paman mendatanginya dan menyuruhnya untuk pergi.”

Donghae menahan nafasnya sejenak, “Aku tidak mencintai ibu mu lagi.” Kemudian ia menghela nafas, “Perasaan itu sudah lama hilang. Tapi sampai kapanpun, aku akan selalu peduli kepadanya.”

.

.

.

.

.

Setelah Sehun dan ibunya saling berbicara, Seojoon sudah ingin memberitahu dimana Krystal berada. Tetapi Sehun mengubah keputusannya di detik-detik terakir. Bukan, dia bukannya tidak mau bertemu Krystal. Sehun hanya ingin Seojoon berbaikan dulu dengan Tifanny. Seojoon mungkin berkata ini dan itu, tapi Sehun tahu hyungnya hanya enggan bertemu ibunya. Bukan belum siap, karena sampai kapanpun, Sehun yakin Seojoon tidak akan pernah siap.

Seojoon telah berada di samping Sehun ketika ia benar-benar dalam kegelapan. Kalau bisa dibilang seperti itu. Sekarang, Sehun ingin ia melakukan sesuatu untuk hyungnya juga. Dan itu ia lakukan dengan membujukhyung agar bertemu dengan Tifanny.

Tidak seperti biasanya, kali ini Sehun tidak masuk ke kamar rawat ibunya tetapi terduduk di ruang tunggu. Dia sedang mengirim pesan kepada seseorang. Selain ibunya, ada orang lain yang perlu ia temui untuk meluruskan masalah.

“Ayo kita pulang.”

Sehun mendongak. Ia melihat hyung-nya. Seojoon tersenyum. Bukan tersenyum biasa karena matanya terlihat sangat bahagia walau sedikit bengkak.

Hyung sudah mengobrol dengan Mom?”

Seojoon menganggukan kepalanya. Masih dengan tersenyum ia berkata, “Aku sudah berbicara termasuk alasan ia mengirim ku ke Amerika. Mommerasa bersalah setiap kali ia melihat ku. Aku mengingatkannya kepada Jinri, kepada kelalaiannya yang menyebabkan Jinri meninggal. Maka dari itu ia mengirim ku pergi. It seems so wrong, tapi aku memaafkannya. Setiap orang punya cara yang berbeda. Lagipula, ketika melihatnya menangis dan menggumamkan maaf, aku tidak bisa marah kepadnya.”

Sehun mengangguk mengerti, “Aku juga masih merasa sedikit bersalah dengannya.”

“Aku tetap penasaran terhadap satu hal.” Seojoon berbicara sambil mereka berjalan keluar dari rumah sakit. “Apakah dadtidak pernah menjenguk mom?”

Sehun mencebik, “Tidak pernah. Daddan Mombahkan tidak tidur sekamar lagi. Hubungan mereka sangat buruk.”
Seojoon menghela nafasnya, “Tidak kusangka. Oh, ya…” Ia sekarang menatap Sehun, “Sohee mau datang kesini. Dia bilang dia kangen kepada ku.”

Sehun menatap datar hyung-nya yang sedang tersenyum sangat lebar, “Norak sekali kalian berdua.”
“Jangan seperti itu. Kau pasti juga sering bermanja-manja dengan Krystal bukan?” Seojoon berbicara lagi, “Ngomong-ngomong, kau mau tahu dimana Krystal, tidak?”

“Tentu aku mau. Dimana alamatnya?”

“Aku sangat aneh dengan keputusan mu yang enggan. Kalau boleh tahu kenapa?”

Sehun menghela nafasnya, “Hyung berada di samping ku ketika aku sedang stress-stress nya waktu ditinggal Krystal. Aku juga ingin berada di samping hyung ketika hyung galau.”

Seojoon mengangguk-anggukan kepalanya, “Kalau kau ingin membalas apa yang sudah ku lakukan, kau bisa mengizinkan ku dan Sohee untuk tinggal di apartment-mu.”

“Yak tidak bisa!” Seru Sehun kesal. “Paman Donghae bilang kepada ku agar Momtinggal bersama ku selama satu bulan. Untuk mengontrol keadaan Mom. Sekarang, hyung juga mau tinggal di apartment-ku?”

“Kenapa tidak? Apartmentmu itu sangat besar Sehun-ah. Punya tiga kamar. Lagipula sangat asyik jika Mom, aku, Sohee, dirimu, dan sebentar lagi Krystal tinggal disitu. Keluarga besar yang akan selalu kumpul.”

“Hyung…” Sehun kembali dibuat pusing dengan tingkah absurd Seojoon. Sehun ingin memprotes jika saja sebua pesan tidak masuk ke hp-nya. Sehun membaca pesan tersebut. “Aku pergi duluan. Ada yang harus kuselesaikan.”

“Bagaimana dengan Krystal?”

“Kita bicarakan hal tersebut ketika makan malam.”

.

.

.

.

.

Haruskah Wendy senang? Kalau dipikir-pikir, ia seharusnya sangat-sangat senang. Ini merupakan suatu keajaiban Sehun ingin bertemu dengannya. Walau ia belum tahu alasan Sehun ingin menemuinya. Tetapi berpikir positif merupakan hal baik. Jadi Wendy akan berpikir positif.

“Sudah lama menunggu?” Sehun akhirnya datang dan tersenyum kecil kepadanya.

Wendy tersenyum lebar, “Tidak juga. Kau ingin pesan sesuatu terlebih dahulu?”

“Boleh. Ingin kupesankan juga?”

Wendy menahan nafasnya melihat sikap baik Sehun. Sudah sangat lama Sehun tidak bersikap sehangat ini. Bolehkah ia berharap lebih?

“Boleh. Aku pesan Iced Mochaccino.”

Sehun mengangguk dan segera memesankan minuman untuk mereka berdua. Lima menit kemudian, Sehun balik dengan membawa pesanan. Ia memberikan Iced Mochaccino-nya ke Wendy. Sedangkan dirinya sendiri memesan kopi hitam.

“Kau ingin berbicara apa?”

“Santai saja.” Sehun menyesap kopinya. “Kita bisa membicarakan ini setelah minum.”

Wendy menganggukan kepalanya. Ia meminum Mochaccino-nya. Cukup lama mereka diam hingga Sehun berkata.

“Aku sudah membuat keputusan.” Sehun menatap Wendy, “Jangan harapkan aku lagi, Wendy. Hubungan kita sudah berakhir sejak lama.”

Wendy mencengkram gelas plastik yang ada digenggamannya, “Sehun….”

“Hubungan kita sudah berakhir sejak lama. Dan aku harus meningatkan lagi kepada mu jika berakhirnya hubungan kita gara-gara dirimu. Selain itu aku sudah punya Krystal.”

“Krystal pergi. Ia telah pergi.” Wendy menatap Sehun dengan tatapan yang tak terbaca.

“Dia memang pergi. Tapi aku akan menjemputnya sebentar lagi.” Sehun menyesap kopinya.

“Ia telah pergi, Sehun!”

Sehun menghela nafasnya, “Aku sudah mengetahui keberadaannya sekarang dan aku akan membawanya lagi ke kehidupan ku. Tapi sebelum itu, aku perlu menyelesaikan beberapa hal.”

“Tapi, ia telah pergi!”

Sehun menatap Wendy jengah, “Ia pergi dengan alasan yang bisa aku mengerti Wendy Son. Lagipula, aku tidak perduli jika alasannya sangat sepele. Aku mencintainya. Itu sudah lebih dari cukup.”

Mata Wendy sekarang sudah berkaca-kaca. Dia sudah mempunyai firasat tadi tapi ia mengenyahkan firasat tersebut. “Apakah…. Apakah kau tidak bisa membuka hatimu lagi untuk ku?”

Sehun sontak menggelengkan kepalanya, “Ia pergi agar hubungan ku dan ibu ku membaik. Sedangkan dirimu membuat hubungan dengan ibu ku memburuk. Bagaimana bisa kau menggantikannya?”

Cukup! Wendy segera berdiri. Tanpa berkata apa-apa ia meninggalkan Sehun. Sehun sendiri agak terkejut dengan apa yang Wendy lakukan. Tapi ia menyesap kopinya tak berapa lama. Tugas dia sudah selesai. Juga, Wendy membutuhkan waktu sendiri. Mengejar Wendy sepertinya akan membuat gadis itu berpikir Sehun masih mencintainya.

Di lain tempat, Wendy memasuki mobilnya dengan isak tangis semakin membesar. Sial! Ia benci jika dirinya seperti ini. Tapi dia harus mengaku. Dia harus mengaku jika ia kalah oleh Krystal Jung.

.TBC.

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s