After School Series #1: Vanilla Milkshake

vm.png

Author: Ally

Cast: Astor’s Cha Eunwoo | Twice’s Kim Dahyun | DIA’s Jung Chaeyeon | NCT’s Jung Jaehyun | G-Friend’s Hwang Sinbi dan Jung Eunha

Rating: T (Teen)

Length: Series // Oneshoot

Thanks to the amazing background and milkshake to the Freepik.com

Line

Dahyun belum bisa menghilangkan rengutan dari wajahnya.  Ia memakan sarapannya dalam diam.  Dengan mata bengkak yang menemaninya.  Lagian siapa suruh menangis semalaman? Dahyun menangis karena harus pindah dari Busan ke Seoul.

Pokoknya kemarin itu Dahyun nangis kencang banget karena tidak ingin berpisah sama Chaeyoung, sahabatnya sejak SD.  Padahal Oemma sudah mengingatkan Dahyun tentang kepindahan mereka sejak lama.  Tetapi tetap saja, Dahyun menangis seakan baru diberitahu kemarin.  Perempuan itu juga menangis ketika ia sampai di rumah barunya, yang berakibat ia tidur baru jam satu malam dengan mata yang sangat bengkak.

Oemma akan mengantarkan ku kan?”  Daehyun menatap Oemma-nya yang sedang memasukkan beberapa file ke dalam tas kerjanya.

Oemmamenatapnya, “Tentu.  Ini kan hari pertama mu.  Tapi nanti Oemma tidak bisa menjemput mu.”

Daehyun mengangguk mengerti, “Tidak apa-apa, Oemma.  Nanti aku akan pulang bersama teman-teman baru ku.”

“Cepat selesaikan makan mu. Tidak enak jika hari pertama mu sudah terlambat.”

Daehyun tambah merengut mendengar perkataan Oemma-nya.  “Iya…  Iya…” Gumamnya.

.

.

.

.

.

Suasana kelas sangat riuh ketika Dahyun memasuki kelas bersama Song Seongsangnim.  Melihat guru matematika datang, sontak murid-murid menjadi diam dan segera memberikan salam kepada Song Seongsangnim.

“Kita kedatangan murid baru.” Kata Song Seongsangnim dan menoleh ke Dahyun.  Menyuruhnya untuk memperkenalkan dirinya.

Dahyun membungkukan badannya, “Anyeonghaseyo….  Nama ku Kim Dahyun.  Aku pindahan dari Busan.  Mohon bantuannya.”

“Dia imut sekali bukan?”

“Dari Busan?  Wow!”

Beberapa siswa dan siswi berbisik-bisik mengenai Dahyun.

“Kim Dahyun silahkan duduk di bangku kanan paling pojok.”  Titah Song Seongsangnim.  Ketika Dahyun berjalan ke bangkunya, Song Seongsangnimsudah membuka percakapan menuju materi. “Hari ini kita akan belajar tentang logika matematika.”  Ujar Song Seongsangnim.  “Silahkan buka buku paket halaman tigapuluh enam.  Baca terlebih dahulu selama lima belas menit.  Nanti baru dijelaskan.”

Dahyun sendiri duduk dengan seorang perempuan yang mengenalkan dirinya bernama Sinbi.

“Dahyun kau mengerti tidak?” Sinbi menatap Dahyun dengan merengut. “Aku benci matematika.”  Ujarnya berbisik.

Dahyun sedikit tersenyum melihat kelakukan Sinbi.  Sinbi mengenalkan dirinya dengna cara yang baik.  Sekarang, ia mengajak ngobrol Dahyun.  “Aku juga tidak mengerti.  Lagipula, Song Seongsangnim belum menjelaskan materi ini.  Kita tunggu saja.”

“Hwang Sinbi!”

Baik Dahyun dan Sinbi menoleh ke arah Song Seongsangnimyang sedang menatap mereka tajam.

“Jangan mengajak teman sebangku mu bicara!”  Seru Song Seongsangnim kepada Sinbi.  “Dan Dahyun, jangan dengarkan Sinbi bahkan suruh dia diam ketika ia berbicara, okay?  Dia sangat suka mengobrol soalnya…”

Sinbi mengembungkan pipinya. Tanda protes perkataan gurunya. Sedangkan Dahyun hanya mengangguk.

“Ya, Dahyun….”  Sinbi kembali memanggil Dahyun setelah Song Seongsangnim mengalihkan pandangannya.  “Nanti istirahat ke kantin bareng ya?”

Dahyun menganggukan kepalanya sambil tersenyum.

.

.

.

.

.

Dahyun sekarang sedang panik. Benar-benar panik.  Bel sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu. Tetapi ia masih tersesat berusaha menemukan kelasnya.  Kenapa tadi tidak mengajak Sinbi dan Eunha sih?

Ketika jam istirahat berbunyi, Sinbi langsung saja mengajak Dahyun ke kantin.  Disana, sudah ada teman-teman Sinbi.  Ada Eunha, Kyulkyung, dan Shannon.  Dahyun sendiri lebih merasa nyaman dengan Sinbi dan Eunha.  Mereka berdua benar-benar seperti saudara kembar, sama-sama cerewet.  Kyulkyung lebih adem walaupun kalau ketemu kakak kelas ganteng ia pasti heboh bisik-bisik. Sedangkan Shannon yang paling normal. Dahyun diam dulu, bobroknya belum keluar.

Rasanya, dia sudah memutari lapangan ini sebanyak tiga kali.  Bagaimana ini?  Dia berhenti berjalan sejenak dan menghapus keringat di pelipisnya. Rasa lelah dan panik melingkupi Dahyun sekarang.

“Yak, awas!”

Mendengar teriakan dari seorang di lapangan membuat Dahyun menoleh ke sumber suara.

Bugh!

Dahyun langsung terhuyung ke belakang ketika sebuah bola menghantam wajahnya.  Ia mengerang kesakitan.  Rasa pusing segera menderangnya.  Dahyun tergeletak di lantai.  Ia memejamkan matanya.  Masih menggerang kesakitan.

“Astaga!”  Seru sebuah suara panik sebelum ia benar-benar hilang kesadaran.

.

.

.

.

.

Perlahan, Dahyun membuka matanya dan langsung meringis kesakitan.

“Dahyun kau sudah sadar?”

Itu suara Eunha.  Ketika menoleh, Eunha tengah menatapnya dengan khawatir.

“Kepalaku sangat sakit, Eunha-yah…”  Rengek Dahyun.

“Kepala mu tidak apa-apa kok…. Setelah di kompres akan hilang sakitnya. Tunggu sebentar ya…  Kim Seongsangnim sedang mengambilkan kompres untuk mu.”

Dahyun hanya meringis.  Ia perlahan menyentuh pelipisnya yang ia rasa sangat berat.  Ia menyeringit.  Sepertinya ada yang aneh dengan pelipisnya.

“Ah, Dahyun-ah…”  Eunha memanggilnya dengan muka yang sedikit panik.

Dahyun tidak menjawab. Tangannya mengambil hp-nya yang tadi ia letakkan di jaket sekolahnya. Ia mengambil dan membuka aplikasi kamera.  Ingin melihat wajahnya.

“Eunha…”  Dahyun tercengang melihat benjolan yang sangat tinggi di dahinya.

“Dahyun tenang saja ya….” Eunha berusaha menenangkannya. “Eunwoo oppatidak sengaja.  Dia benar-benar tidak sengaja.  Ia bahkan sangat panik dan mengantar mu ke UKS.”

Muka Dahyun sudah sangat merah, “Sialan!  Eunwoo laki-laki brengsek!”  Serunya keras.

.

.

.

.

.

Eunwoo terburu-buru mengganti baju olahraganya dengan seragam.  Pikirannya sudah tidak fokus sedari tadi.  Tapi karena pelajaran olahraga dan ia harus menjadi kapten ketika bermain sepak bola tadi, mau tidak mau ia mengikuti pelajaran olahraga sampai akhir.

Dia tidak pernah seperti ini. Menendang bola hingga terkena muka orang lain.  Mana yang terkena bola darinya seorang perempuan.  Eunwoo awalnya ingin menendang bolanya ke Jaehyun, tapi entah mengapa, bola yang ia tendang dengan keras itu malah meleset ke luar lapangan. Eunwoo berteriak agar seorang gadis yang sedang berhenti di pinggir lapangan itu mengelak.

Sayangnya semuanya sudah terlambat. Gadis itu menoleh ke sumber suara dan menemukan bola yang ditendang Eunwoo menghantam mukanya.  Tentu saja semua anak laki-laki sangat syok. Tanpa berpikir dua kali, Eunwoo mendekati gadis itu yang terjatuh di lantai dan sedang meringis.

“Astaga!”  Eunwoo berteriak panik.”  Ia membungkuk dan menemukan gadis itu sudah berhenti meringis. Tetapi terdiam seperti orang yang tertidur.  Atau gadis ini pingsan?  Tanpa berpikir panjang, Eunwoo menggendong gadis itu dan segera berlari menuju UKS

Oppa!  Oppa!”

Saat sedang berlari, Eunha, salah satu adik kelasnya, memanggil Eunwoo.  Eunwoo menghentikan larinya dan berbalik menghadap Eunha, “Eunha, oppa mu sedang dilapangan ya?”   Kemudian lanjut lagi berlari.

“Eunwoo-ssi, gadis ini kenapa?”  Kim Seongsangnim, penjaga UKS menatap panik Eunwoo.

“Dia tidak sengaja terkena tendangan bola dari ku kemudian pingsan, Ssaem.”  Eunwoo meletakan gadis yang belum ia kenal di salah satu ranjang UKS.

Kim Seongsangnim mengangguk dan segera memeriksa gadis tersebut. Eunwoo menatap panik.  Bagaimana jika hal buruk terjadi pada gadis itu? Mengingat tendangan bolanya sangat keras.

“Oppa!”

Eunwoo kembali menoleh dan menemukan Eunha masuk sambil terengah-engah.  Eunha menatap kesal Eunwoo.

“Oppa, tadi aku sudah memanggil mu tapi kau malah lari tidak jelas!”  Serunya sebal.

Eunwoo menghela nafasnya, “Ada apa, Eunha?” Tanyanya lembut.  Mengenal gadis di depannya sejak kecil membuat Eunwoo tahu ia bukan orang yang mudah dibentak.  Kalau seseorang membentak Eunha, adanya masalah tambah runyam.

Eunha menunjuk gadis yang ia buat pingsan, “Oppa apakan Dahyun?”

“Kau mengenalnya?”

Eunha mengangguk, “Dia Kim Dahyun, oppa.  Murid pindahan baru.  Apa yang kau lakukan kepadanya?”

Eunwoo menggaruk kepalanya, “Aku tidak sengaja menendang bola dan terkena ke wajahnya.”

“Yak!  Bagaimana bisa?!”  Eunha sontak memukul lengan Eunwoo.  “Oppa parah sekali!  Dia itu murid baru tapi oppa melakukan hal itu kepadanya?”

“Aku kan tidak sengaja. Benar-benar tidak sengaja.” Ringis Eunwoo.

Pintu UKS kembali terbuka. Kali ini Jung Jaehyun masuk menampilkan wajah terkejut.  “Jung Eunha, apa yang kau lakukan di sini?”  Tanyanya tajam kepada adik kecilnya itu.

Eunha menunjuk Dahyun, “Aku tidak sengaja menemukan teman ku yang dibuat pingsan oleh Eunwoo oppa.”

“Aku kan tidak sengaja!” Protes Eunwoo tidak terima.

“Mohon kecilkan suara kalian…”

Eunwoo, Jaehyun, dan Eunha langsung terdiam sejenak.

“Uhm, Eunwoo.”  Jaehyun kembali membuka suaranya, “Kau dipanggil oleh Park Ssaem untuk mengikuti olahraga. Dia bilang akan ada pengumuman tim inti futsal untuk lomba minggu depan.  Dia ingin kau ada di sana.”

Pandangan Eunwoo kembali mengarah ke Dahyun.  Masa ia meninggalkan Dahyun dengan kondisi yang masih tidak jelas ini?

“Aku tidak bisa.”  Putus Eunwoo pada akhirnya.  “Aku akan menunggu di sini sampai keadaan Dahyun baik-baik saja.”

“Oppa kembali saja ke lapangan.  Aku akan menemani Dahyun dan nanti menjelaskannya.  Sehabis pelajaran, oppa bisa menjenguk Dahyun.”  Eunha menawarkan dirinya.  Hitung-hitung tidak mengikuti pelajaran Bahasa Inggris.

“Apa kau ingin membolos pelajaran Bahasa Inggris, Jung Eunha?”  Jaehyun menatap tajam adiknya lagi.  Membuat Eunha mengembungkan pipinya.

“Aku hanya ingin membantu Eunwoo oppa.  Lagipula, jika tidak ada yang menemani Dahyun kasian Dahyun. Ini adalah hari pertamanya dan dia sudah harus pingsan.”  Melihat Eunwoo yang ingin protes, Eunha cepat-cepat menambahkan, “Tentu saja karena Eunwoo oppa yang tidak sengaja.”

Eunwoo menatap Jaehyun, “Jaehyun tolong aku ya?  Kali ini saja biarkan Eunha menemani gadis itu.  Aku sudah merasa tidak enak karena membuatnya pingsan.”

Melihat sahabatnya memohon membuat Jaehyun menghela nafasnya, “Baiklah.  Eunha akan menemani gadis itu.  Sebaiknya kita segera ke lapangan.  Sebelum Park Ssaem mengirimkan murid lain untuk memanggil kita.”

Setelah itu, Eunwoo kembali lagi ke lapangan dengan pikiran yang tidak fokus.  Semoga saja gadis itu baik-baik saja. Ucap Eunwoo dalam hati.

“Eunwoo kau ingin kemana? Sebentar lagi Sejarah ingin dimulai.”

Baru saja keluar dari kelas setelah meletakkan baju olaharaganya, langkah Eunwoo kembali terhenti, “Tolong izinkan aku ya?  Aku harus ke UKS.”

Chaeyeon menganggukkan kepalanya, “Ingin melihat gadis tadi?  Siapa namanya Dahyun?”

“Iya.  Aku sangat khawatir kepadanya.”

Chaeyeon tersenyum, “Baiklah. Akan ku izinkan.”

Eunwoo tersenyum dan segera berlari ke luar kelas.  Saat menaiki tangga menuju UKS, Eunwoo bertemu dengan Kim Seonsangnim.

“Kim Seongsangnim…”  Teriak Eunwoo dan membungkukkan badannya.  “Seongsangnim, bagaimana keadaan gadis itu?”

Perumpuan berumur tigapuluh tahun itu tersenyum melihat Eunwoo.  “Dia tidak apa-apa.  Walaupun pelipisnya yang kehantam bola benjol sedikit.  Aku ingin mengambil kompresan untuknya.  Dia belum sadar tapi dia baik-baik saja.”

Eunwoo mengangguk dan mengucapkan terimakasih kepada gurunya yang juga penjaga UKS.  Segera saja, Eunwoo kembali berlari menuju UKS.  Baru saja membuka pintu, Eunwoo mendengar sebuah teriakkan,

“Sialan!  Eunwoo laki-laki brengsek!”

Eunwoo terdiam di tempat. Dari tirai putih, ia dapat melihat dua orang.  Eunha dan pastinya Dahyun.  Suara tadi… Dia mengenal suara Eunha.  Jadi itu pasti suara Dahyun.  Ia menelan ludahnya gugup dan perlahan menutup pintu. Untuk pertama kali dalam sejarah, Eunwoo takut meminta maaf.

.

.

.

.

.

Bel makan siang berbunyi.  Masih sama seperti saat olahraga, Eunwoo kembali memikirkan Dahyun.  Tentunya untuk alasan berbeda.  Saat olahraga ia takut gadis itu kenapa-napa.  Sekarang ia takut meminta maaf terhadap gadis itu.

“Kenapa bengong sedari tadi?” Jaehyun menatapnya bingung. Mereka sekarang lagi di kantin. “Ingin ku pesankan makanan?”

Eunwoo mengangguk, “Aku nitip kimbap, ya?”

“Baiklah.  Sekalian aku memesankan ramyun untuk Chaeyeon.” Setelah itu Jaehyun beranjak pergi.

Ia kembali melamun.  Apa yang harus ia lakukan ya?  Duh….  Eunwoo tidak pernah dalam situasi seperti ini.  Image dia itu seperti malaikat.  Tidak pernah menyakiti perempuan.  Selalu hormat sama perempuan.  Bahkan Eunwoo malu menatap perempuan terlalu lama, apalagi jika perempuan itu cantik.

“Berhenti melamun.”  Chaeyeon duduk di depannya.

Eunwoo menoleh sekilas. Chaeyeon bukan hanya cantik, tetapi sahabatnya ini sudah berhasil mengambil hatinya.

“Chaeyeon….”  Panggil Eunwoo membuat Chaeyeon yang sedang membaca buku sastranya menoleh.

“Ada apa?  Kau sudah meminta maaf kepada Dahyun?”

Eunwoo sontak menggeleng, “Aku tidak bisa.”  Ia menghela nafasnya, “Tadi saat ingin menemuinya, aku mendengarkan dirinya mengatakan aku brengsek.”

Chaeyeon menatap Eunwoo terkejut, “Bagaimana bisa ia berkata seperti itu?  Dia juga adik kelas bukan?”

“Aku rasa ia pantas mengatakannya. Bagaimana pun, aku membuat pelipisnya benjol.  Dia pasti sedang marah-marah hingga mengatakan seperti itu.”

Chaeyeon menghembuskan nafasnya. Sedikit terpukau melihat kesabaran Eunwoo, “Jadi bagaimana sekarang?  Kau akan menganggap tidak terjadi apa-apa?”

“Tentu saja tidak!” Tukas Eunwoo. “Aku ingin meminta maaf.  Tapi aku bingung.  Rasanya tidak enak meminta maaf saja.”

Jaehyun kembali dengan membawa pesanan Eunwoo dan Chaeyeon.  Ia memberikan Eunwoo kimbap dan ramyun kepada Chaeyeon.

“Jung Jaehyun!  Kenapa jadi memesan Burger?”  Chaeyeon menatap Jaehyun protes.  “Kau bilang tadi mau pesan ramyun.”

Jaehyun cengengesan, “Tadi burger-nya sedang ada diskon.  Kau mau burger sekarang?”

Chaeyeon menggelengkan kepalanya, “Tidak usah!”  Katanya ketus.  Sedikit kesal karena Jaehyun tiba-tiba memesan burger.  Padahal tadi mau makan ramyun katanya.

Jaehyun hanya cuek dan memakan burgernya.  Eunwoo melihat kedua sahabatnya yang sedang sibuk makan.  Semuanya berubah, ya Eunwoo tahu itu.  Perasaan seseorang juga berubah.  Eunwoo tidak tahu harus cemburu melihat apa yang terjadi di depannya. Rasanya sangat konyol, mengingat mereka telah berteman sejak SD.

“Oh, Eunwoo…”  Chaeyeon kembali menatap Eunwoo, “Bagaimana jika kau meminta maaf kepadanya sambil memberikan sesuatu?  Seperti Strawberry milkshake?”

“Bukannya itu hanya berhasil kepada dirimu?”  Ucap Jaehyun. “Kau kan mudah disogok.”

Chaeyeon memukul lengan Jaehyun. Eunwoo kembali terdiam.  Benar juga ya?

.

.

.

.

.

Antara malu dan kesal.  Ya, itulah yang dirasakan Dahyun sekarang. Dia merengek tidak ingin kembali ke kelas karena alasan pusing.  Padahal, ia hanya malu kembali ke kelas.  Akhirnya, ia terpaksa mati kebosaan di UKS sampai pulang sekolah.  Eunha kembali setelah disuruh Kim Seonsangnim balik.  Ia bahkan meminta tolong Sinbi untuk mengambil tasnya.  Sekarang, ia sedang menunggu di depan sebuah bangunan tepat di samping sekolah.  Di depan bangunan tersebut ada yang menjual milkshake.

“Ah, aku mencari mu kemana-mana.”

Dahyun menoleh.  Itu bukan Sinbi atau Eunha.  Tapi seorang laki-laki asing sedang tersenyum kepadanya.  Dahyun menelan ludahnya.  Tersadar betapa rupawan laki-laki di depannya.

“Kau mencari ku?”  Tanyanya setelah dia beberapa saat.

Laki-laki itu mengangguk, “Aku hanya ingin meminta maaf…”

“Kenapa?”  Tanya Dahyun dengan muka bertambah bingung.

Lelaki itu menggarung kepalanya, “Aku Eunwoo.  Orang yang tadi membuat pelipis mu seperti ini.”  Katanya sambil meringis.  Ia kemudian membungkukkan badannya, “Aku benar-benar minta maaf.  Tadi itu tidak sengaja.”

Dahyun terkejut setengah mati. “Eh, apa?  Maksudku….”  Ia terdiam sejenak.  Kalau begini ia tidak jadi marah-marah kan.  Eunwoo terlalu ganteng.  “Aku sudah memaafkan mu.”  Kata Dahyun pada akhirnya.

“Benarkah?”  Tanya Eunwoo yang terlihat sangat senang. “Syukurlah….  Aku begitu takut ketika kau mengatakan aku brengsek.”

Dahyun membuka kedua mulutnya. Lagi-lagi Eunwoo berhasil membuat ia kehilangan kata-kata, “Aku…  Aku tidak bersungguh-sungguh.  Saat itu tadi aku sedang kesal.  Maafkan aku…”

Eunwoo tersenyum dan itu membuat jantung Dahyun berdetak sangat kencang.  “Bagaimana jika aku mentraktir mu milkshake?”

Jika tidak mengingat teman-temannya, Dahyun akan langsung menyetujuinya.  “Itu…”  Katanya sedikit menggantung.

“Dahyunnn…”  Panggil Sinbi sambil membawa tasnya.  Ia menatap Dahyun terkejut ketika melihat Eunwoo oppa ada bersamanya.  “Anyeonghaseyo oppa…”  Sinbi membungkukkan badannya.

Anyeonghaseyo Sinbi…”  Balas Eunwoo.

Sinbi tersenyum sangat lebar. Astaga…  Bagaimana mungkin Eunwoo oppa mengingat namanya?  Ia kemudian menoleh ke Dahyun, “Dahyun ini tasmu.”  Katanya dan memberikan tas Dahyun yang berwarna hitam.  “Kita jadi pulang bareng kan?”

Dahyun terdiam dan pelan-pelan melirik Eunwoo.  Bagaimana ini?

“Kau ingin pulang?”  Tanya Eunwoo tiba-tiba.  “Baiklah tidak apa-apa.  Lain kali saja aku traktir milkshake-nya.”

Sinbi sekarang menatap kedua orang di depannya terkejut.  Bagaimana Kim Dahyun sangat beruntung?  “Kalau begitu aku pulang duluan saja.  Dahyun minum milkshake saja dengan Eunwoo oppa.”  Putus Sinbi tiba-tiba.

Dahyun menatap Sinbi terkejut, “Eh….”

Sinbi kemudian menoleh ke Eunwoo, “Tapi oppa bisakan mengantar Dahyun sampai kerumahnya kan?  Dahyun belum terlalu hapal daerah Seoul.”

Eunwoo mengangguk, “Tentu saja.”

“Baiklah oppa, aku pulang duluan.  Dahyun hati-hati ya…”  Sinbi pamit ke mereka berdua.

Dahyun masih terdiam. Merutuki kebodohannya yang hanya diam.

Eunwoo kembali tersenyum kepadanya, “Kau ingin milkshake rasa apa?  Strawberry?”

Pelan-pelan Dahyun menggelengkan kepalanya, “Aku ingin Vanilla. Aku tidak terlalu suka Strawberry.”

Eunwoo segera memesan dua milkshake rasa vanillaAhjumma tersenyum seakan Eunwoo itu pelanggan terbaiknya.  Ia kemudian memberikan kursi untuk Eunwoo dan Dahyun.  Dengan canggung, Dahyun duduk di samping Eunwoo.

“Kau tidak suka strawberry?”  Tanya Eunwoo yang memecah keheningan.

Dahyun menggelengkan kepalanya, “Aku tidak menyukainya sama sekali.  Kalau sunbae suka vanilla?”

Eunwoo juga menggelengkan kepalanya, “Aku suka coklat sebenarnya.  Tapi lagi kepingin nyoba yang vanilla…” Kemudian ia kembali berkata, “Ku pikir semua perempuan menyukai strawberry.”

“Aku tidak suka.”  Dahyun pun menambahkan, “Mungkin hanya satu perempuan special bagi sunbae yang sangat menyukai strawberry.”

Eunwoo kembali menatap Dahyun terkejut, “Bagaimana kau tahu?  Chaeyeon sangat menyukai strawberry.”

“Cieee….  Chaeyeon pasti pacar sunbae bukan?”  Goda Dahyun.

“Bukan!”  Tukas Eunwoo cepat.  “Dia sahabat ku sejak SD.  Juga Jaehyun, kakak dari Eunha.”

“Wah…  Pasti Chaeyeon sunbae sangat cantik bukan?”

Eunwoo tersenyum, “Dia sangat cantik.  Kulitnya sangat putih sampai-sampai dulu dia diejek alien.  Tapi dia perempuan yang kuat.  Walau menangis, dia tidak pernah menaruh dendam kepada orang-orang yang mengejeknya.”

“Chaeyeon sunbae pasti sangat beruntung mempunyai sahabat seperti sunbae.”  Dahyun ikut tersenyum.  “Aku jadi penasaran dengan rupa Chaeyeon sunbae.”

“Aku mempunyai fotonya.  Mana tahu kau mau melihatnya.”  Eunwoo mengeluarkan hp-nya.  “Tapi kau harus berhenti memanggilk ku sunbae, okay?  Panggil saja oppa.  Begitupula Chaeyeon, panggil juga eonnie.”  Kemudian Eunwoo menunjukkan foto Chaeyeon ke Dahyun.

“Yakin cuman sahabat?” Dahyun kembali menggodanya.  “Lihatlah foto-foto Chaeyeon eonnie sangat banyak.”

“Aku memang suka memotret kok.” Elak Eunwoo.  “Lihat…  Aku punya banyak foto-foto sahabatku yang lain.”  Sambungnya menunjukkan foto-foto sahabatnya yang lain.

“Tapi Chaeyeon eonnie yang paling banyak.”  Dahyun masih tidak mau kalah.

“Itu karena Chaeyeon selalu meminta ku jadi aku memotretnya.”  Eunwoo juga tidak mau kalah.

“Apaan!  Chaeyeon eonnie jarang melihat ke arah kamera.  Oppa benar-benar suka bukan? Lagipula, Chaeyeon eonnie satu-staunya foto perempuan di hp oppa.  Masih ingin mengelak?”

“Baiklah…  Aku potret diri mu.  Biar Chaeyeon tidak menjadi satu-satunya.”  Eunwoo mengarahkan hp-nya. Bersiap-siap memotret Dahyun.

“Apaan sih, oppa!”  Dahyun menutup wajahnya.  “Pelipis ku masih bengkak!”

“Pelipis mu tidak bengkak lagi! Tadi kan sudah di kompres dan di kasih krim.”  Eunwoo bangkit, “Sini biar ku potret. Bergayalah atau aku potret dengan tampang jelek.”

Dahyun menghela nafasnya.  Ia menurunkan telapak tangannya.  Dengan malas, ia tersenyum.

“Nak, Eunwoo manis sekali. Pacarnya?”  Ahjumma akhirnya membuka suara setelah melihat Eunwoo dan Dahyun mengobrol.  Ia pun memberikan dua milkshake untuk mereka.

Dahyun sontak menggeleng, “Bukan ahjumma.  Bukan…”

Eunwoo juga ikut menggeleng, “Bukan ahjumma.  Ini Dahyun, adik kelas.”

“Tidak usah malu-malu….” Kali ini ahjumma menggoda.  “Ahjumma tinggal dulu ya…  Jangan berbuat macam-macam.”

Mereka kembali terdiam sambil meminum milkshake-nya.

“Hasilnya bagus tidak?” Tanya Dahyun tiba-tiba.

Eunwoo menganggukkan kepalanya, “Bagus kok.  Kenapa ingin di potret lagi?”

Dahyun dan Eunwoo akhirnya kembali mengobrol.  Dengan bantuan Vanilla milkshake, mereka berhasil mengatasi kecanggungan mereka.  Karena Vanilla milkshake mereka berdua menjadi dekat.

finish

Selama liburan aku akan nulis series anak sekolahan…  Judulnya After School Series.  Intinya itu 97-98 line favorite aku.  Couple pertama kita adalah Eunwoo x Dahyun.  Aku suka mereka ketika tampil di Imaginarium. Hehehe…

 

IMG_0406

Hasil foto Kim Dahyun oleh Eunwoo.

Adik kelas Eunwoo dan murid pindahan.   Gak suka strawberry dan vanilla lover.  Cewek kedua yang di foto Eunwoo.  

IMG_0411

Cha Eunwoo pas lagi motret.

Cowok sempurna dari segala sisi yang hobi main futsal.  Gak pernah dimaki cewek sangking sempurnanya, kecuali sama Dahyun.  Suka Chocolate Milkshake.

 

IMG_0413

Hasil potret Jung Chaeyeon oleh Eunwoo.

Sahabat Eunwoo sejak SD dan sekarang lagi disukai oleh Eunwoo secara diam-diam.  Strawberry lover.

 

IMG_0412

Hasil potret Jung Jaehyun oleh Eunwoo

Sahabat Eunwoo sejak kecil dengan kesempurnaan yang hampir sama dengan Eunwoo.

IMG_0414

Jung Eunha lagi selfie.

Adik Jaehyun yang merupakan teman Dahyun di awal-awal.  Cerewet, kebalikan dari kakaknya yang pendiam.

Advertisements

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s