State of Grace (Chapter 16)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Seojoon terpaksa membatalkan kepulangannya ke Amerika. Menunda sampai waktu yang tidak di tentukan. Sampai ia melihat ibunya tersadar dan Sehun baik-baik saja.

Krystal sendiri masih menemani Sehun di rumah sakit, tentunya bersama Seojoon. Sehun terlihat linglung, tetapi dokter yang memeriksanya mengatakan jika keadaannya baik-baik saja. Sehun hanya butuh beristirahat.

Tifanny beda cerita. Ia masih tidak sadarkan diri. Dokter berkata jika dia mengalami kelelahan akibat stress yang berlebihan. Tifanny memang kelihatan kuat dari luar, tetapi dia rapuh dari dalam. Saat ini harapan terbesarnya adalah menunggu Tifanny sadar dengan sendirinya. Tindakan lebih lanjut akan dilakukan jika besok pagi ia belum sadar.

“Pulanglah.” Kata Sehun kepada Krystal. “Kau pasti lelah. Aku seharusnya tidak membawa dirimu ke dalam hal ini.”

Krystal tersenyum lemah, “Tidak apa-apa.” Katanya pendek. Bingung ingin mengatakan apa. Ia sangat ingin menamani Sehun tetapi keadaan tidak memungkinkan. Bagaimana jika ayah Sehun yang tiba-tiba datang? Atau reaksi pertama Tifanny ketika sudah bangun?”

“Aku akan mengantarnya.” Seojoon berkata tiba-tiba. Ia menatap Sehun, meminta kepercayaan.

Dengan pelan Sehun mengangguk, “Baiklah. Kita akan berbicara lagi nanti.”
Seojoon mengangguk, “Hubungi saja diriku. Dan yang pasti aku akan berpindah hotel.”
Sehun kembali mengangguk. Ia menatap Krystal, “Pulang dan istirahatlah.”

Krystal hanya bisa mengangguk.

.

.

.

.

.

Aroma kopi yang pekat membuat Krystal sedikit pusing. Ia tidak menyukai kopi. Dengan pelan, ia meminum hot chocolate nya. Seojoon yang didepannya sedang asik memakan cheese cake.

Krystal menguap karena sudah mengantuk. Hari ini memang hari yang melelahkan. Seharusnya ia langsung pulang saja tidak menyetujui permintaan Seojoon yang mengajaknya meminum kopi. Tetapi, nada suara Seojoon terdengar begitu serius hingga ia tidak bisa menolak.

Seojoon berdehem membuat Krystal membenarkan posisi duduknya. “Maaf sebelumnya jika harus membuat dirimu terlibat dengan hal ini sangat dalam. Hal ini sangat sensitive.” Berhenti sejenak, Seojoon mulai berbicara kembali, “Kau sudah mendengar hal tadi jadi sepertinya aku tidak perlu menjelaskan banyak hal. Hanya beberapa. Diantaranya keluargaku bukanlah keluarga yang sempurna. Bahkan jauh dikatakan dari sempurna. Yang kedua, aku adalah kakak kandung Sehun, mau kau percayai atau tidak.”

Krystal hanya menganggukan kepalanya.

“Aku tidak ada maksud apa-apa denganmu. Aku tidak akan men-judge mu. Aku hanya ingin mengenal dirimu lebih lanjut.”

“Kenapa?”
Seojoon menatap Krystal dalam, “Karena Sehun mempercayaimu. Itu sangat terlihat dari tatapan matanya. Dan yang terpenting kau juga percaya kepadanya. Aku bisa melihat itu dari segala tindakanmu.”

Krystal menghela nafasnya. Dari mana dia harus cerita? “Tidak banyak tentang diriku.”

Seojoon tersenyum kecil, “Baiklah. Bagaimana jika aku saja yang bercerita lebih dahulu. Ada yang ingin kau tanyakan?”

Krystal terdiam sejenak, kemudian mengangguk pelan, “Jinri. Aku ingin mengetahui tentang Jinri.”

“Jinri adalah adik kecil kami, aku dan Sehun. Dia yang paling muda diantara kami. Meningga karena tenggelam di danau tempat kami biasa rekreasi. Hal itu menimbulkan luka yang dalam. Ditambah dengan diriku yang disitu ketika ia ditemukan meninggal dengan hanya melihat ke arah kolam. Mommy bahkana tidak ingin melihatku lagi dan mengirimkan diriku ke Amerika. Tinggal bersama tante ku disana.”

“Dan kehidupanmu di Amerika?”

“Baik. Tanteku bahkan mengajak diriku ke psikolog. Itulah ketertarikan awalku kepada dunia psikolog dan karena itu mengambil jurusan psikolog ketika kuliah.”

Krystal mengangguk. “Kenapa kembali ke Korea?” Krystal kemudian tersentak, “Tunggu. Aku minta maaf. Itu terlalu lancang.”

Seojoon mengangkat kedua tangannya. Ia merasa sangat tenang dan tersenyum kecil, “Tidak apa-apa. Justru ini adalah hal yang paling ingin ku katakan kepada keluargaku. Tapi kau tahu… Bagaimana kondisinya. Well, aku akan menikah. Jadi aku perlu mengurus beberapa hal disini agar bisa menikah di Amerika. Kau tahu, ini mungkin aneh, ingin membangun sebuah keluarga baru.”
Krystal mengangkat kedua bahunya, “Well, tidak juga. Aku yakin kau pasti akan jadi ayah yang hebat. Walau tidak bersama keluarga intimu tetapi keluargamu di Amerika sangat baik kepadamu. Mereka pasti memberikan contoh yang sangat baik kepadamu juga.”
“Kau tidak tinggal bersama kedua orangtuamu?”

“Hah?!” Krystal menaikan kedua alisnya mendengar pertanyaan Seojoon.

Seojoon mengangkat kedua tangannya, “Maaf. Ini karena kerjaku sebagai psikolog yang mengorek hal yang tidak di inginkan orang. Tapi maaf lagi karena aku harus bertanya tentang hal ini.”

“Aku tinggal bersama orangtuaku.”

“Tapi bukan orangtua kandungmu bukan?”

Krystal menggigit bibirnya, “Aku tidak terlalu suka membahas kedua orangtua kandungku atau apapun yang menyangkut kedua orangtua.”

“Orangtua mu meninggalkanmu?”

Hufh… Dengan perlahan Krystal menganggukan kepalanya, “Yang pertama ayahku yang meninggalkan aku dan ibuku. Kemudian ibuku yang meninggalkanku di panti asuhan.”

“Dan orangtua angkatmu?”

“Mereka baik. Dari segi ekonomi kurang tetapi mereka berusaha mewujudkan impianku. Sekarang mereka tinggal di Tokyo karena beberapa hal. Meninggalkanku dengan saudara angkatku, Amber.”

“Kau juga takut dengan ibuku?”
Krystal menahan nafasnya, “Itu karena latar belakangku.”

“Kau takut ibuku tidak setuju?”

“Aku hanyalah karyawan darinya. Tentu tidak sebanding apa-apa dengan Sehun. Ya, jadi itu mengkhawatirkan ku. Tapi bukan itu yang paling mengkhawatirkanku…” Krystal mulai melihat jari-jarinya. Dengan pelan, dia menyusuri retakan meja dengan ujung telunjuknya, “Aku takut pendapat keluarga Sehun atau orang yang mengenal Sehun kepadaku. Aku takut akan pendapat mereka yang mengaggap diriku mendekati Sehun untuk pekerjaanku. Padahal…. Padahal aku bertemunya sebelum mendapat pekerjaanku bersama Tifanny Sangjanim.” Krystal menghela nafas panjang, ia menggigit bibirnya, “Dan aku takut aku tidak bisa bertahan di sampingnya menghadapi cemoohan dari mereka….”

Seojoon diam, menikmati cangkir kopinya.

Krystal perlahan-lahan tersenyum, “Ini adalah yang pertama kalinya aku membicarakan hal ini. Rasanya lebih tenang.”

“Itu gunanya psikolog.” Seojoon mengangkat kedua bahunya.

“Tapi kita disini bukan untuk sebuah sesi.”

“Anggap saja sebuah acara perkenalan dan sesi.” Seojoon kemudian meminum kembali kopinya, “Kau bilang kau bertemu dengannya sebelum bekerja dengan ibuku. Bisakah kau menceritakan hal tersebut?”

“Ceritanya panjang.”

Seojoon tersenyum kecil, “Percayalah padaku, seberapa panjang ceritamu, aku sudah mendengar cerita yang lebih panjang. Aku akan bersabar mendengar cerita mu dari awal sampai akhir.”

“Baiklah….”

.

.

.

.

.

Sehun terbangun ketika sebuah tangan menepuk pundaknya. Ia menatap orang tersebut dengan wajah mengantuk sebelum mengeluarkan senyum kecilnya.

“Paman…” Sahut Sehun kecil.

Paman atau Lee Donghae, salah satu dokter yang menangani Tifanny juga tersenyum kecil. Ia kemudian duduk di samping Sehun membawakan secangkir teh.

“Hari yang berat?” Tanya Donghae sambil mengulurkan secangkir teh hangat ke Sehun.

Sehun menerima teh terebut dan langsung meminumnya, “Lebih berat hari esok.”

Donghae tersenyum kecil mengerti apa yang Sehun katakan. Pasti akan lebih susah ketika Tifanny tersadar daripada sekarang.

Oemma-mu sangat tertekan hingga ia seperti ini. Aku khawatir, jika ia kembali tertekan ketika bangun, ini akan mempengaruhi sistem syarafnya.”

“Mau bagaimana lagi….” Sehun menatap Donghae, “Keluarga kami sangat unik sampai tidak ingin berbicara masalah dari hati ke hati. Ujung-ujungnya hanya sebuah ledakan dahsyat dan masing-masing dari kami tidak ingin saling mengalah.”

Donghae menganggukan kepalanya, “Aku mengerti bagaimana keluargamu. Tapi aku mempunyai satu permintaan kepadamu. Jika ibumu bangun, jangan buat ia marah. Ketika detak jantungnya naik, tolong mengalah saja padanya. Okay?

Sehun mengangguk patuh ke arah pamannya. Jujur, dia lebih nyaman ketika bersama Donghae, saudara tiri ayahnya daripada dengan ayahnya sendiri.

“Ayahmu bagaimana? Kapan ia akan sampai?” Tanya Donghae tiba-tiba.

Sehun tersenyum kecut, “Mungkin ia tidak akan kerumah sakit. Trafik kenaikan saham lebih berharga daripada keluarganya sendiri.”

.

.

.

.

.

“Eungh…” Lenguh Tifanny ketika ia merasa sebuah cahaya sangat terang. Ia memejamkan matanya. Kemudian kembali membukanya. Mengerjap beberapa kali sebelum tersadar jika ini bukan kamarnya.

Kepalanya sangat berat, tapi ia memaksakan diri untuk menoleh ke sekitar. Putih. Beberapa peralatan rumah sakit.   Tunggu…

“Sudah sadar?”

“Ouhhh…” Tifanny tersentak, “Yak! Lee Donghae!”

Donghae tidak bisa menahan senyum gelinya melihat kelakuan Tifanny.

“Kenapa kau ketawa?!” Tanya Tifanny dengan tajam.

Donghae mengangkat kedua bahunya dan berdehem, “Bagaimana keadaanmu? Pusing? Mual?”

“Apa aku perlu menjawabmu?” Tanya Tifanny yang masih sewot.

“Aku ini seorang dokter yang merawatmu. Jadi tentu kau harus menjawabku…”

Tifanny menghembuskan nafasnya, “Ketika bangun sedikit pusing….” Tifanny diam sebentar sebelum melanjutkannya dengan berapi-api, “Tapi sekarang semuanya hilang ketika kau mengangetkanku!”

Deg!

Tifanny kembali tersentak ketika tangan Donghae menyentuh dahinya, “Panas mu sudah turun. Kurasa dirimu benar-benar sudah baikan. Aku akan terus menge-check mu hingga siang. Jika semuanya baik-baik saja kau bisa pulang hari ini juga.”

“Apa aku baik-baik saja?”

Donghae menghentikan kegiatan mencatatnya, “Tenang saja Tif… Kau tidak terkena penyakit terkutuk itu. Tidak ada yang perlu di khawatirkan…”

Tifanny tersenyum kecil, “Baiklah….”

“Aku akan kembali ke ruanganku.” Donghae membungkukan badannya.

“Donghae-ya…” Tifanny memanggil Donghae pelan, “Apakah Siwon berada disini?”

Donghae terkejut dengan pertanyaan Tifanny, “Ah… Dia…”

Tifanny menghela nafasnya, “Ia pasti tidak datang bukan?”

“Tenang saja Tifanny-ah dia-“

“Tidak apa-apa…” Potong Tifanny. Tifannypun kemudian tertawa hambar, “Walaupun tidak bisa datang ia pasti mengkhawatirkanku.” Kata Tifanny lebih meyakinkan dirinya sendiri.

Donghae hanya diam dan mengangguk. Ia kembali berjalan keluar lagi.

“Donghae-ya…” Panggil Tifanny lagi. Donghae kembali menoleh.

“Titip salam buat Yoona ya…”

Donghae lagi-lagi dibuat terkejut dengan pernyataan Tifanny. Dadanya berdesir hebat. Dengan cepat, ia tersenyum kecil, “Akan kusampaikan. Yoona pasti akan sangat senang mendengarnya.”

.TBC.

 

 

Advertisements

State of Grace (Chapter 15)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

“Maaf ini semua salahku.” Wendy menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap orang di depannya.

Sehun mendengus, “Tentu ini salahmu!”

“Sehun-ah, aku ingin memberi tahu lebih awal-“
“Memberi tahu lebih awal?” Sehun menatap jengah Wendy. Kekesalan mulai terpancar dari wajahnya, “Wendy… Astaga!!! Itu bukan penyelesaian masalah! Kau jelas-jelas selingkuh di belakang ku dan bilang jika kau akan memberi tahu perselingkuhanmu lebih awal?”

“Bukan.” Wendy mulai menatap Sehun. Nafasnya tercekat, tetapi dengan pelan-pelan, sebuah kalimat terluncur dari bibir tipisnya, “Aku ingin memberi tahu mu jika hubungan kita sebaiknya tidak dilanjutkan.”

Sehun terdiam cukup lama. Sebuah kalimat yang tidak pernah disangkanya. Setelah diam beberapa detik, Sehun tersenyum sinis. “Tidak kusangka….” Ia kemudian menatap Wendy, “Tapi apalagi yang bisa kulakukan? Menahanmu? Lakukanlah terserah dirimu… Aku juga tidak ingin bersama dirimu lagi!”

Deg!

Wendy langsung membuka matanya. Ia meletakan tangannya di atas dada, merasakan jantungnya yang masih berdetak kencang. Kenapa dia harus bermimpi hal itu?

Tring~

Wendy kembali tersentak ketika hp-nya berbunyi. Merasa bodoh karena hal itu, ia mengambil handphone-nya dengan merengut.

Hari ini narasumber kita datang. Tolong wawancara dia. Aku telah mengirimkan email mengenai dirinya.

“Astaga… Di hari minggu yang cerah ini?” Wendy menatap malas hp-nya. Dengan tenang, ia kembali menarik selimut meliputi tubuhnya dan kembali terlelap.

.

.

.

.

“Ini? Atau ini?”
“Kau cantik dengan apapun yang kau pakai…” Amber kembali menatap malas Krystal. “Dan berhenti mengeluarkan semua baju dari lemari mu!”

Krystal teriak frustasi. “Aku harus menemukan baju yang cantik. Ini adalah makan siang ku bersama teman-teman Sehun.”

“Mereka hanya teman-teman Sehun Soojung-ah.”
“Tetap saja…”

Tangan Krystal masih sibuk memilih-milih baju dari lemarinya. Sedangkan Amber kembali menatap handphone-nya.

“Apa yang harus kupilih?” Tanya Krystal lebih ke dirinya.

“Amber! Menurutmu apakah aku cantik menggunakan warna pink?”

“Apa?!” Amber langsung menatap Krystal dengan tatapan tidak percaya. “Sejak kapan kau suka menggunakan warna pink?”

Krystal mengangkat kedua bahunya, “Hanya mencoba hal baru. Ayolah…. Bantu aku memilih bajunya…”

Amber mendecak sebal tetapi ia bangkit dari tempat tidur Krystal. Berjalan ke arah lemari, “Kurasa jangan memakai hiasan di rambutmu karena itu akan membuat dirimu sangat manis. Kau harus kelihatan cantik. Jadi…. Bagaimana ini?” Amber memperlihatkan sebuah blouse bewarna putih, “Tidak. Ini terlalu simple…” Lanjut Amber dengan sendirinya, “Ini? Ini?” Amber ikut-ikutan mengeluarkan baju seperti Krystal, “Bagaimana dengan yang ini?” Sebuah kemeja bewarna biru tersodorkan ke depan Krystal.

“Jangan!” Kata Amber lagi, mendahului Krystal yang baru saja ingin berbicara. “Atau kau memakai kaus oblong saja?” Amber terlihat berpikir keras, kemudian menghela nafas. “Kau saja yang pilih. Aku lelah.”
“Yak!” Tangan kanan Krystal dengan cepat memukul bahu Amber.

.

.

.

Slurp~

Sehun mendesah lega ketika hot chocolate melewati tenggorokannya. Mengusir rasa dingin yang dari tadi ia rasakan. Sehun menoleh ke sebelah kiri, dan ia tersenyum lebar melihat Krystal yang sibuk tertawa bersama Seulgi. Agak kesal memang karena Krystal lebih banyak mengobrol dengan teman-temannya, tetapi ia tidak dapat memungkiri, senyuman dan tawa gadis itu menghilangkan segalanya.

“Oh Sehun…”

“Hm…” Respon Sehun pendek. Karena ia tahu siapa yang memanggilnya-Kai.

“Yak! Bocah busuk!” Kai memukul kepala Sehun. Membuat Sehun meringis, “Cepat bantu kami mengambil bahan makanan untuk makan malam!”

“Tidak usah memukul kepalaku!” Desis Sehun geram. Ia segera bangkit, mengikuti arah Kai pergi.

Dilain pihak, Krystal dan Seulgi masih berbicara tentang melukis. Terlihat, mereka nyaman dengan lawan bicara mereka.

“Benarkah?” Tanya Seulgi antusias. “Wow! Kau seharusnya mengikuti lomba melukis internasional. Aku yakin kau akan menang.”
Krystal tertawa kecil, “Kau terlalu berlebihan Seulgi-yah. Lukisanmu itu sangat bagus. Apalagi yang ….. itu sangat menakjubkan!”
“Dan lukisan abstrak-mu juga sangat-sangat menakjubkan! Ah, pokoknya aku yakin dirimu pasti akan menang!”

Krystal dan Seulgi kemudian saling diam. Bingung ingin berbicara apa lagi.

“Bagaimana jika besok aku datang ke rumahmu? Kau tau… Kita bisa saling berbagi pengalaman tentang melukis.”

“Seulgi-yah..” Krystal menatap Seulgi dengan tatapan yang hampir tidak percaya.

“Jika kau mau.” Lanjut Seulgi dengan tersenyum lebar. “Atau jika dirimu tidak sabar kita bisa memulai malam ini. Dengan dirimu yang menginap di rumahku terlebih dahulu. Untuk baju, tenang saja, kau bisa meminjam baju ku dulu. Paginya kita akan berangkat kerumah mu. Bagaimana?” Kedua alis Seulgi terangkat. Senyum jahil tertampil di wajahnya.

“Seulgi-yah…” Kali ini, tawa Krystal kembali meledak. Ia kalah menghadapi Seulgi yang orangnya menggampangkan segala hal. Berbeda dengan dirinya. Juga berbeda dengan Sehun, dimana dia baru menyadari hal ini ketika berbincang dengan Seulgi.

Seulgi juga ikut tertawa. Menurutnya, Krystal memiliki tampang dingin seperti sepupunya-Sehun yang membuatnya sedikit…. Tidak ingin berbicara padanya karena takut akan seperti sepupunya yang sangat irit berbicara. Tetapi, ketika berbicara dengan Krystal, gadis ini membalasnya. Bahkan Krystal orang yang mudah hanyut dalam pembicaraan.

“Krystal!”
Seulgi dan Krystal tersentak ketika suara Sehun menginterupsi. Entah dari kapan Sehun berada di depan mereka.

“Aku butuh berbicara dengan Krystal.” Tanga Sehun melingkar di pergelangan tangan Krystal. Sebelum Seulgi merespon, ia sudah menarik Krystal menjauh dari Seulgi

.

.

.

Mereka masih saling diam- Krystal dan Sehun. Krystal sendiri bingung ingin berbicara apa ke Sehun. Laki-laki disampingnya ini terkesan menutupi sesuatu. Tegang bercampur cemas terlihat di wajahnya. Sayangnya, setiap Krystal ingin bertanya Sehun hanya menjawab ‘Jangan khawatirkan aku,’; atau ‘Tidak ada apa-apa. Aku hanya harus pulang cepat.’.

Dalam keheningan mereka, mobil sudah memasuki jalan besar Seoul. Memotong ke segala arah untuk mencapai tujuan. Alis Krystal sedikit bertaut ketika mobil Sehun melewati f(x).

Krystal menoleh, ingin bertanya. Tetapi kembali diam ketika melihat Sehun yang sedikit panik.

….. (Mobil berhenti).

“Aku akan keluar sebentar.” Sehun segera membuka seatbelt.

Grab!

Tangan Krystal menahan tangan Sehun. Krystal tersenyum lembut, “Aku akan berada di sini.”

Sehun bernafas lega untuk pertama kalinya sejak ia menerima telepon tersebut. Nada suara Krystal begitu lembut. Juga makna dari katanya yang memiliki arti lebih-baginya. Sebuah senyuman terbentuk dari bibirnya. Sehun mengangguk dan keluar dari mobil.

.

.

.

.

.

Mata Krystal sedari tadi terus melihat gerak-gerik Sehun. Sehun rupanya bertemu dengan laki-laki yang ia temui di café ketika terakhir kali dia ke sana. Kalau tidak salah nama laki-laki ini adalah Seojoon. Mereka sedang berbicara di trotoar jalan depan sebuah hotel. Sedikit tegang karena sepertinya mereka membicarakan suatu yang sangat serius. Seojoon lebih tenang dari Sehun. Sehun seperti terburu-buru, bukan! Lebih benar dikatakan ia menuntut sesuatu dari Seojoon.

Sehun dan Seojoon terus berbicara hingga ada orang yang menghampiri mereka. Seketika, Krystal langsung membulatkan matanya. Tifanny Sangjanim. Ibu dari Sehun. Wanita itu terlihat sangat tidak baik. Ia benar-benar marah. Langsung berdiri di tengah-tengah mereka.

Keadaanpun menjadi sangat tidak baik. Sehun berubah menjadi emosi. Krystal? Dia hanya bisa menyaksikan semua ini dari balik jendela mobil. Tidak mungkin ia turun. Pasti hal ini akan menambah sebuah masalah. Krystal hanya bisa melihat tanpa membantu sedikitpun.

Tes!

Air mata Krystal menetas dikarenakan hal tersebut.

.

.

.

.

.

Seojoon merasa kepala berkedut. Apakah ia salah memberi tahu Sehun jika ia ingin kembali ke Amerika? Apakah salah jika ia memberi tahu berita ini kepada adik kandungnya sendiri?

Yang jelas, salah atau tidak sepertinya ibunya menganggap hal ini salah.   Jelas terlihat bagaimaan perdebatan panas antara Sehun dan ibunya.

Mommy tidak pernah sudi sampai kapanpun!” Teriak Tifanny. “Jangan pernah dekat lagi dengan dia!”

Seojoon tersentak. Bahkan ibunya tidak memanggil namanya

“Dia?” Sehun sekarang berteriak, “Dia itu punya nama! Bagaimana Mommy tidak pernah memanggil namanya?!”
Sudah! Teriak Seojoon dalam hati. Jangan mempertanyakan hal yang sudah jelas.

Tifanny mendengus, “Suatu saat dirimu bersyukur karena telah berjauhan dari dia!” Ia menatap Seojoon tajam sebelum kembali menatap Sehun, “Ayo kita pulang! Mom akan pastikan dirimu pulang! Jadi kita akan pulang bersama!” Tifanny berbalik, bukan ke mobilnya melainkan ke mobil Sehun.

Melihat hal tersebut Sehun langsung menahan ibunya. Wajahnya terlihat sangat panik. Seperti tidak ingin ibunya berjalan menuju mobilnya.

Mom…” Panggil Sehun kepada ibunya yang terus berusaha jalan menuju mobilnya.

Seojoon membuang nafas. Tangannya terulur menyentuh tangan ibunya setelah bertahun-tahun lamanya.

“Lepaskan Sehun, dia tidak bersalah!” Kata Seojoon dalam.

Tifanny menatap Seojoon dengan sangat marah, “Lepaskan Sehun?!” Ulang Tifanny dengan nada suara mengejek. Ia kemudian tertawa kencang, “Jadi sekarang dirimu melindunginya?!” Sekarang, posisi Tifanny benar-benar berbalik,badannya benar-benar menghadap Seojoon.

Seojoon kembali menghela nafas, “Dia adalah adik ku.”

Plak!

Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Seojoon, “Kau tak pantas bilang itu kepada siapapun!” Desis Tifanny tajam. “Tidak setelah perbuatanmu terhadap Jinri.”
“Apa yang terjadi kepada Jinri?” Tanya Sehun tiba-tiba.

Tifanny tersenyum sinis, “Kau tidak tahu yang terjadi? Oh, mungkin ini saatnya dirimu tahu yang terjadi.”
“Hentikan semua ini!” Teriak Seojoon tiba-tiba.
“Lihatlah dia, dia tidak ingin kebenaran terungkap.”

“Aku tidak bersalah!”
“Dengarkan Mommy, dia berada di situ dan hanya melihat Jinri tenggelam. Dia tidak melakukan apapun kecuali menangis!”

Sehun terhuyung ke belakang. Kenyataan pahit ini…

Seojoon berjalan mendakiti Sehun. Berusaha menggapainya.

Tak!

Sehun menepis tangan Seojoon.

“Dengarkan aku terlebih dahulu….” Pinta Seojoon.

“Aku memang melihatnya tenggelam, tapi aku mencoba mencari pertolongan. Aku berteriak meminta tolong. Tidak ada yang datang.” Seojoon menceritakan kejadian terburuknya untuk pertama kalinya kepada adik kandungnya.

“Pembohong!” Teriak Tifanny yang tidak terima, “Itu semua bohong!”
Dengan sigap, Seojoon berbalik ke arah Tifanny, “Aku tidak bohong! Bukankah semua ini adalah salahmu? Membiarkan Jinri bermain tanpa pengawasan sehingga ia jatuh ke kolam?”

Plak!

Lagi-lagi Tifanny menampar Seojoon. “Jangan pernah mengajariku bagaimana cara merawat anak. Aku tahu cara itu.”

Brak~

Tifanny dan Seojoon berbalik karena suara tersebut. Sehun menabrak pintu mobilnya sendiri. Ia terlihat sangat kosong. Dengan sisa tenaga terakhir, Sehun membuka pintu mobilnya. Satu detik lagi Sehun akan jatuh.

“Sehun-ah!”

“Krystal?”
.

.

.

.

.

Krystal tidak dapat menahan dirinya lagi untuk diam. Melihat keadaan Sehun yang sangat shock. Dia bergegas keluar. Segera menahan tubuh Sehun.

“Sehun-ah!”

“Krystal?”

Suara Tifanny membekukan Krystal. Dia hanya dapat melihat Tifanny dengan segenap rasa takut, “Sangjanim…

Tifanny masih terkejut. Tetapi kemudian ia tersenyum sinis. “Ini adalah hal yang paling tidak mungkin terjadi. Mengapa dirimu disini? Apakah….” Tifanny terdiam sejenak. Terlihat takut dengan apa yang ia utarakan, takut akan apa yang ia rasakan benar. “Apakah kau berpacaran dengan Sehun?”

Jari-jemari Krystal mencengkram lengan Sehun. Dia begitu takut dan merasa sangat dipermalukan. Krystal kembali menunduk.
“Ayolah, hanya jawab tidak apakah itu susah?” Tanya Tifanny lagi. Tidak ada jawaban dari Krystal Tifanny menatap Sehun, “Apakah benar dia pacarmu?”

“Iya.”

Pengakuan Sehun membuat Krystal mendongak. Ketika ia mendongak, ia menemukan Tifanny terhuyung ke belakang. Yang pasti badan sangjanim-nya akan membentur aspal jika saja Seojoon tidak menangkapnya.

.TBC.