Flipped (Chapter 11)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Tiga Serangkai

Itu semua karena satu orang, mereka akhirnya kembali bersatu. Tetapi dalam diam. Hanya menampakan sebuah topeng. Kalut dalam rahasia terpendam. Orang itu, terlalu berharga untuk dihancurkan oleh suatu hal. Orang itu, seharusnya tidak pernah kembali lagi daripada tersakiti oleh hal-hal yang terjadi ketika ia pergi….

***

Krystal sudah menolak di buatkan teh, tetapi pada akhirnya secangkir teh hangat tersaji di depannya. Luhan yang membuatnya, bukan Sehun.

“Lucu bukan aku akhirnya tinggal satu apartment dengan Sehun?”

Krystal tersenyum kecil, “Lebih tepatnya mengejutkan.” Jawabnya jujur.

“Mengejutkan dan aneh aku bisa tinggal bersama Sehun.”

Krystal hanya terdiam. Oh, berbicara tentang Sehun, lelaki itu sedang di kamarnya. Entah apa yang ia katakan pada Luhan sehingga bisa lolos dari Luhan yang meninginkan ia juga ikut meminum teh bersama Krystal. Hal ini membuat Krystal dapat bernafas lebih lega. Setidaknya Sehun menjauh darinya.

Satu lagi, Chanyeol. Laki-laki yang lucu. Setidaknya itu yang Krystal pikirkan ketika Chanyeol memperkenalkan dirinya. Juga nyetrik. Chanyeol juga sedang berada di kamarnya. Mereka berdua-Chanyeol dan Sehun sibuk menyelesaikan proposal penelitian mereka yang deadline-nya sebentar lagi.

“Bagaimana jika kita makan malam di sekitar sini? Sekaligus mengetahui daerah ini?”

Pertanyaan Luhan kembali menyadarkan Krystal dari lamunannya, “Ide yang bagus. Ayo!”

“Aku akan mengajak Sehun juga. Dia pasti sudah mengetahui daerah sini!”

Krystal membulatkan matanya. Tidak! Ide buruk! “Kenapa harus dengan Sehun?”

“Kenapa?” Luhan menatap Krystal aneh.

“Ah…” Krystal sedikit bingung ingin menjawab apa. Dengan satu tarikan nafas, ia menjawab, “Sehun sedang mengerjakan proposal penelitiannya.”

Luhan menganggukan kepalanya, “Kau benar juga…” Ia kemudian tersenyum, “Kalau begitu kita berdua saja. Tunggu, aku akan mengganti bajuku.” Luhan berjalan menuju kamarnya.

Krystal bernafas lega. Ia kembali meminum tehnya.

Trek~

Luhan dan Krystal langsung menoleh ke asal suara, pintu kamar Sehun.

Dengan tenang, Sehun keluar dari kamarnya. Ia menggunakan jaket tebal bewarna hitam dipadu dengan celana jeans dan sepatu hitam. Sehun berhenti sejenak menatap Luhan dan Krystal bergantian.

“Kenapa dengan kalian?” Tanya Sehun masih menatap Luhan dan Krystal bergantian.

“Kau ingin keluar?” Bukannya menjawab, Luhan malah bertanya kepada Sehun.

“Aku ingin makan di luar. Bosan berada di kamar.”

Luhan tersenyum lebar mendengar jawaban Sehun, “Kau harus ikut aku dan Krystal makan malam!”

.

.

.

.

.

Luhan-Krystal-Sehun. Mereka adalah sahabat akrab ketika sekolah dasar. Tiga serangkai adalah nama yang mereka berikan kepada mereka sendiri. Awalnya, Krystal dan Sehun terlebih dahulu yang bersahabat. Berawal dari duduk sebangku, Krystal dan Sehun menjadi teman yang tidak terpisahkan. Ini berlangsung dari kelas 1 hingga kelas 2.

Pada kelas 3, Sehun dan Krystal tidak berada di kelas yang sama. Walau begitu mereka tetap berteman. Tidak sedekat dulu, ditambah mereka berdua telah menemukan dunia mereka masing-masing. Krystal menemukan dunia menulis dan bercita-cita menjadi seorang novelis. Sehun sedang asik-asiknya bermain basket. Mereka hanya bertemu ketika saat makan siang, saat pulang sekolah dimana Sehun selalu menemani Krystal hingga gadis tersebut di jemput, dan saat dimana mereka datang di pesta teman orangtua mereka.

Saat kelas 3 lah Luhan masuk ke kehidupan mereka. Sehun mengenalkan Luhan sebagai teman sebangkunya di sebuah acara teman orangtua mereka. Sejak saat itu Luhan bergabung ke Sehun dan Krystal. Saat makan siang, saat pulang sekolah, dan tentunya saat ada pesta teman orangtua dari masing-masing mereka.

Persahabatan mereka sangat unik. Dimana Sehun adalah ketua basket dan Luhan adalah ketua futsal. Kedua tim yang selalu bertengkar karena masing-masing ingin menjadi penyumbang piala terbanyak di sekolah. Kali ini, dibawah Sehun dan Luhan mereka bersatu. Ditambah Krystal yang sangat membuat iri para perempuan karena bisa dekat dengan dua emas sekolah, Sehun dan Luhan. Bagi para cowok pun, Sehun dan Luhan membuat mereka iri karena bisa selalu di dekat Krystal, perempuan dengan kepribadian riang dan mudah bergaul, tak lupa wajahnya yang rupawan dari kecil. Persahabatan yang sempurna bukan?

Sempurna tetapi tidak selamanya. Semuanya berubah sejak orangtua Luhan memutuskan untuk bercerai. Saat Luhan meninggalkan mereka karena mengikuti ayahnya di Amerika Serikat. Saat-saat dimana Krystal berharap Sehun tidak meninggalkannya, saat itu juga persahabatan mereka hancur karena perjodohan mereka. Saat itulah tiga serangkai menjadi mati.

.

.

.

.

Hanya terdengar dua suara dari tiga orang yang sedang menunggu pesanan ramyun mereka. Luhan dan Krystal. Sehun hanya menatap kedua orang di depannya, sesekali tersenyum, selebihnya diam memainkan handphone-nya.

“Kau dulu memang pendiam tetapi setidaknya masih memperhatikan lingkungan sekitar.” Komentar Luhan kepada Sehun.

Sehun menurunkan handphone-nya dan menatap Luhan, “Semuanya sekarang terdapat pada handphone…”

Luhan mendecakan lidahnya, “Lucu.”

“Hahaha…” Sehun membuat suara ketawa dengan muka datar. Seakan menantang perkataan ‘lucu’ Luhan.

Krystal sedari tadi hanya berbicara kepada Luhan. Hampir tidak pernah melihat ke arah Sehun. Gugup? Atau tidak menyangka ingin bertemu? Entahlah. Tetapi karena melihat tingkah Sehun tadi, ia yang sedang minum tersedak ingin ketawa.

“Dasar receh!” Cibir Sehun.

Kemudian Luhan ikut tertawa. Mengetawai receh nya Krystal yang sedari dulu selalu tertawa karena hal kecil. Melihat kejadian tersebut, perasaan hangat menyusup ke hati Sehun. Sehun ikut terkekeh kecil.

“Pesanan anda…” Seorang pelayan datang membawa tiga mangkuk ramyun.

Krystal langsung mengambil sumpit dan mengaduk ramyunnya. Kemudian ia membelah dua telur rebus.

Grab~

Krystal yang ingin makan terhenti, menatap kuning telurnya yang diambil. Dibawa menuju mangkuk di depannya. Sedangkan Sehun, yang berada di depan Krystal menatap Krystal datar sebelum menghentikan kegiatan mengaduknya. Bagaimana Sehun bisa melakukan kebiasaannya ketika SD? Mengambil kuning telur Krystal otomatis ketika gadis tersebut membagi dua telur rebusnya.

Krystal terdiam sejenak. Begitupula Sehun yang kemudian langsung mengubah kembali tatapannya ke mode datar, “Bagi…”

Ck, kau selalu mengambil dahulu baru meminta.” Kata Luhan yang sudah memakan ramyunnya. Seakaan tidak memiliki kecurigaan dengan kesunyian yang tadi Sehun dan Krystal buat. Seakan-akan itu bukanlah hal yang penting. Setidaknya bukan bagi Luhan karena ia tidak mengetahui apapun tentang mereka.

Tidak ada lagi pembicaraan karena Sehun dan Krystal memutuskan untuk makan dalam diam.

.

.

.

.

.

Perempuan bersurai cokelat menunjuk seorang pemuda sebelum teman di samping kirinya memukul kepalanya. Membuat ia meringis kesakitan dan mulai berbisik-bisik kembali kepada kedua temannya.

Bukannya ia terlalu percaya diri, tetapi Sehun sangat yakin jika perempuan-perempuan tadi menunjuk dirinya. Karena apa? Karena ia mengenal wajah familiar mereka dari flat-nya. Mungkin…. Mungkin mereka sedang berbisik-bisik kenapa Sehun bisa bersabar jalan bersama dua manusia yang aneh di sampingnya.

Sejak dari kedai ramyun hingga hampir sampai di flat Luhan dan Krystal tidak pernah berhenti tertawa. Karena lucu pada awalnya, tetapi tidak juga terus ketawa sepanjang jalan.

“Lihatlah…” Krystal menunjuk Sehun, “Sehun sama sekali tidak mengerti….”

Tawa Luhan dan Krystal kembali meledak. Sedangkan Sehun kembali menghela nafas, “Ayolah… Sampai kapan kalian tertawa?” Gerutu Sehun kesal.

“Sehun kesal… Sehun kesal…”

Suara tertawa masih terdengar hingga mereka benar-benar sampai di depan flat. Krystal menarik nafasnya yang sangat tipis. Paru-paru meringis kesakitan. Tentunya tenggorokannya sangat kering. Luhan hampir sama, tetapi ia sambil melihat handphone-nya. Luhan kemudian mendekatkan handphone-nya ke telinga, “Appa dimana?”

Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, “Hah? Di belakang?”

Mendengar kata tersebut, Sehun, Krystal, dan Luhan segera berbalik.

Samchon!” Sapa Krystal riang menyambut Appa Luhan yang datang ke arah mereka menggunakan tongkat kayu. Sehun membungkukan badannya.

Appa Luhan membungkukan badannya.

Luhan, berjalan mendekat ke Appa-nya, “Appa sudah lama menunggu? Kenapa tidak telepon terlebih dahulu jika sudah sampai?”

Appa menelepon mu.”

Mendengar jawaban pendek Appa-nya Luhan menepuk pelan jidadnya, “Aku men-silence hp ku!”

“Aku pulang dulu ya…” Suara Krystal menginterupsi Luhan dan Appa-nya, “Samchon, aku pulang duluan ya… Sudah malam.” Tak lupa, ia menampilkan senyuman andalannya.

“Aku…” Luhan terlihat ragu. Memilih antara Appa atau Krystal, “Naiklah sebentar. Appa hanya sebentar setelah itu aku akan mengantar mu.”

“Tidak usah! Appa mu sudah menunggu sejak lama. Lagipula ini masih belum larut, bus masih ada.”

“Sebentar saja. Setelah itu aku akan mengantarmu ke halte.”

“Sehun saja yang mengantarku..” ; “Aku saja!”

Krystal dan Sehun sama-sama tersentak ketika kalimat itu mereka dengar. Sekuat tenaga mereka tidak saling menatap satu sama lain dan tetap melihat Luhan.

Luhan menganggukan kepalanya ragu, “Baiklah. Sampai jumpa lagi Krys….”

Krystal membalas lambaian kecil Luhan. Tak lupa membungkukan badan ke arah Appa Luhan yang di balas dengan anggukan kepala. Mereka masih mematung hingga sosok Luhan hilang dari balik pintu. Sehun berdehem, “Ayo…. Bus terakhir jam Sembilan malam, lima belas menit lagi.”

.TBC.

Note: Mungkin ini update -an terkahir di bulan January… Hehehe (?) Who Knows… #update lagi cepet #tapi gak tau besom #maafkan saya yang nulis tergantung mood

 

Flipped (Chapter 10)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Benang Merah yang Tak Pernah Putus

Krystal berhenti sejenak sambil menatap laptopnya.  Sebuah pertanyaan yang tidak terduga dan dari orang yang juga tak terduga.

***

Brak!
“Aaahhhh…..” Sehun meringis ketika Chanyeol melempar proposal penelitian setebal 50 halaman. “Park Chanyeol!” Geram Sehun dengan tatapan marah.

Bukannya meminta maaf, Chanyeol berbicara dengan suara yang lumayan kencang, “Bangun!!!! Hari ini bagian dirimu yang membeli sarapan!”
Sehun meringis. Pertama, karena kepalanya yang berdenyut. Kedua, karena ia tidak pernah menyangka harus tinggal selama dua tahun ini menghadapi Chanyeol, yang notabane-nya lebih cerewet daripada ibunya.

Dengan malas Sehun bangun. Tidak gosok gigi atau mencuci muka, ia mengambil coat-nya. Memakainya untuk menutup baju tidurnya.

“Setidaknya pakailah baju yang benar. Kau tidak takut sakit akibat angin musim gugur yang semakin dingin?”

“Yang penting aku mau membelinya.” Jawab Sehun. Cuek.

Sepanjang jalan keluar dari flat banyak yang menyapanya. Rata-rata adalah mahasiswi yang juga tinggal di flat mereka. Hanya dirinya, Chanyeol dan Jongdae yang mahasiswa. Tapi sekarang Jongdae sudah pindah, menyisakan satu kamar kosong.

Flat yang ia tempati dekat dengan kampusnya. Hanya satu kali naik bus. Banyak minimarket dan restaurant. Dan tentunya wifi dimana-mana. Membuat segalanya menjadi hemat.

Sudah dua tahun ini dia tinggal di Flat. Karena retaknya hubungan dia dan orangtuanya. Kedua terlihat sangat kecewa karena mereka berdua yakin Sehun ikut andil atau setidaknya tahu rencana malam itu.   Setelah hampir tiga bulan lamanya dia dan kedua orangtuanya saling diam, Sehun akhirnya memutuskan untuk pindah dari rumahnya. Menyewa flat yang sekarang ia tempati dengan Chanyeol dan Jongdae. Bahkan ia tidak pernah menerima uang saku dari kedua orangtuanya. Orantuanya hanya membayar uang kuliah.

Perlu dia akui jika tinggal di rumahnya jauh sangat-sangat-sangat nyaman daripada di flat. Apalagi dengan atap yang selalu bocor setiap hujan. Angin yang selalu menerobos karena jendala yang rusak. Jangan lupa, perjanjian konyol dirinya dan Chanyeol tentang pembagian tugas dirumah, yang entah mengapa ia setujui membuatnya sangat malas. Siapa yang menyangka jika Chanyeol orangnya sangat bersih? Sehingga mewajibkan seluruh orang yang tinggal di flat menyapu, mengepel, menyikat kamar mandi. Ia bahkan membuat jadwal piket. Barang siapa yang tidak melakukannya…. Buku atau teriakan kencang akan tersaji.

“Seperti biasa bukan?”
Sehun mengangguk. Ia langsung memberikan sejumlah uang kepada Bibi Koo, salah satu pemilik kedai makanan yang selalu menjual roti bakar setiap paginya.

“Kemana teman flat mu yang sangat manis itu? Aku tidak melihatnya beberapa minggu ini.”

Sehun tersenyum kecil mendengarnya. Pasti Jongdae. Ia mengenal beberapa panggilan kedua temannya di lingkungan ini. Chanyeol si cowok hiperaktif. Jongdae si manis. Sedangkan dia? Mungkin, Sehun si datar.

“Jongdae pindah. Dia tinggal bersama kakak perempuannya sekarang.”

“Sayang sekali…” Kata Bibi Koo dengan raut yang benar-benar sedih. Dia kemudian memberikan makanan yang dipesan dan uang kembalian.

“Terimakasih Bibi Koo.” Sehun membungkukan badannya sebelum pergi menjauhi kedai.

.

.

.

.

Sehun sudah agak segaran. Wajahnya tidak lagi seperti baru bangun tidur. Dia sudah mandi. Ia segera duduk di sofa yang terletak di tengah-tengah dari kamarnya, kamar Chanyeol, dan kamar Jongdae-dulunya. Mengambil rotinya. Kemudian melahapnya sambil melihat tv dengan Chanyeol.

Penampilan Chanyeol lebih rapi daripada Sehun. Sehun sudah mengetahui mengapa Chanyeol seperti itu. Chanyeol selalu mengunjungi orangtuanya setiap hari Sabtu. Menginap selama satu hari dan pada hari minggunya ia kembali ke flat-nya. Sebuah hal yang tidak pernah ia lakukan semenjak keluar dari rumahnya.

“Kau tidak kemana-manakan?”
Sehun menjawab pertanyaan Chanyeol dengan mengangguk.
“Bagus. Ada orang yang ingin melihat kamar Jongdae. Tolong urus dia.”

Sehun kini menatap Chanyeol, “Penyewa baru?” Tanya Sehun dengan antusias. Okay, ini adalah berita yang sangat bagus. Dengan tidak adanya Jongdae, dia dan Chanyeol membagi dua biaya sewa mereka dan itu hampir membuatnya putus asa. Harus menyesuaikan kondisi keuangannya.

Chanyeol mengangkat bahunya, “Belum tahu. Dia bilang jika ingin melihat terlebih dahulu. Menurutku sih, itu adalah hal yang sangat lumrah. Jadi urusin dia ya? Perlakukan ia dengan baik-“

“Ya, ya, ya.” Potong Sehun malas. Malas mendengarkan rentetan kalimat Chanyeol yang sangat panjang. Terlalu cerewet, gumam Sehun di dalam hatinya. Sehun kemudian berdehem, “Serahkan saja padaku.”

.

.

.

.

Krystal terhenti sejenak sambil menatap laptopnya. Sebuah pertanyaan yang tidak diduga-duga dan dari orang yang juga tak terduga.

“Bagaimana kabar Sehun juga? Kau tetap berhubungan bukan dengannya?”

Ia menghela nafas. Kemudian memberengut. Kenapa pula Sehun harus disebut-sebut? Setelah menimang-nimang sejenak, ia membalas email dari sahabat kecilnya.

“Kami sibuk dengan urusan kami masing-masing.”

Jarinya langsung menekan tanda sent dengan tenaga yang lebih kuat dari seharusnya. Tentunya tanpa ia sadari.

Krek~

Kali ini bukan sebuah email yang masuk melainkan bibi Kwon yang masuk. Bibi Kwon mengeluarkan sebuah senyum simpul. Terukir manis di balik garis wajah yang sudah tua. Meletakan sebuah nampan berisi makanan. Kemudian kembali keluar.

Krystal menoleh sedikit, menatap makanan apa yang di antar. Ia menghela nafas melihat makanan tersebut. Sup Ayam. Kenapa harus itu? Sup? Ayolah…. Dia bukanlah seorang yang sedang sakit.

Mungkin jika melihat seorang mengantarkan makanan kepadanya, ke kamarnya, juga makanan tersebut adalah Sup Ayam, sebagian besar mengira jika Krystal sedang sakit. Tetapi dia tidak sakit. Itu adalah peraturan di rumahnya. Peraturan tidak tertulis sejak kejadian sekitar dua tahun itu. Mungkin kedua orangtuanya terlalu kecewa kepadanya hingga melakukan hal ini. Mereka tidak pernah lagi berbicara. Ah, jangankan berbicara, bertatap muka lagipun tidak pernah. Semua perlengkapannya dikirim ke kamarnya. Termasuk makan pagi, siang, dan malam. Kehidupannya berjalan di sekolah dan kamarnya saja.

Tring!

Krystal tersentak dari lamunannya. Ia masih saja mengingat hubungan dirinya dengan kedua orangtuanya. Walaupun sudah ratusan kali atau bahkan ribuan, tetap saja dia merasa tersakiti dengan fakta tersebut.

Krystal kembali menatap laptopnya. Ia membuka pesan dari sahabatnya.

“Benarkah? Kurasa dunia perkuliahan memang sangat sibuk. Dimana kau kuliah? Oh, ya aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan dirimu lagi.”

Dengan cepat dia membalas,

“Aku juga tidak sabar untuk bertemu dengan dirimu lagi. Kapan dirimu sampai di Korea?”

Lagi-lagi ia memencet tombol kirim. Krystal berbalik, mengambil makan siangnya dan memakannya di depan laptopnya. Setelah 20 detik, sebuah email masuk.

“Hari ini. Aku sedang berada di dalam pesawat. Tapi kita mungkin baru bisa bertemu lusa atau minggu depan. Setelah aku menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah.”

“Astaga! Kau tadi berkata seakan-akan baru pulang minggu depan 😀 Hahahahaha … Tenang saja tentang kita bertemu. Yang penting dirimu merasa nyaman kembali di sini.”

“Aku merindukanmu Krystal.”

“Aku juga”

Setelah 15 menit tidak ada balasan lagi, Krystal keluar dari email-nya. Mematikan laptopnya. Kembali menyantap mangkuk berisi sup ayam yang hangat.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Hiks….. Hiks…. Hiks…” Krystal kembali menghapus airmatanya.

Kenapa dia harus menangis? Dia juga tidak tahu. Dia hanya bertemu dengan ibunya Sehun. Kenapa semuanya terasa menyakitkan?

Tring!

Krystal mengambil hp-nya yang ada di atas meja. Sms dari Luhan.

Kau mengecewakanku Krys~

Helaan nafas keluar. Luhan memang seseorang yang baik. Ditambah tampangnya yang sangat imut. Tetapi ia paling tidak suka dikhianati. Bahkan seseorang yang membatalkan janjinya saja ia sangat tidak suka. Intinya, sekali dirimu berbicara sesuatu maka harus ditepati.

Maaf… Ini benar-benar keadaan darurat. Ku harap kau bisa mengerti.

Krystal menekan tombol send. Hanya tiga detik, sebuah balasan masuk,

Aku mengerti…. Tetapi tetap saja, kau mengecewakanku.

Krystal mendecak sebal. Ya, ampun…. Apa tidak ada yang benar-benar mengerti dirinya? Menuntut dan menuntut! Dengan kesal, Krystal membalas pesan Luhan,

Kalau dirimu mengerti setidaknya dirimu tidak akan mengatakan kecewa kepadaku! Kau seharusnya mengatakan, ‘Tidak apa-apa, Krys.. Ini bukan masalah penting’.

Send~

Tidak lama kemudian, Krystal kembali mendecak. Kesal, terhadap dirinya sendiri yang terlalu terbawa emosi. Luhan memang seperti itu, seharusnya ia mengerti.

Luhan….

Krystal mengirim pesan baru. Berharap Luhan membalasnya, walau ia yakin Luhan akan menyapanya beberapa hari kemudian.

Luhan….

Krystal kembali mengirim pesan 10 menit kemudian.

Luhan….

Pesan ketiga terkirim. Setelah limabelas menit berlalu, Krystal menutup harapan jika Luhan akan membalas pesannya.

Tring~

Krystal tersentak. Dengan penuh harap, ia membuka pesan yang masuk dari Luhan.

Temui aku di apartment ku… Kau harus menjemputku sebelum kita pergi bersama, mengerti?

Krystal tersenyum lega. Tanpa maaf ia tahu, Luhan telah memaafkannya.

.

.

.

.

Hufh~

Sebuah uap keluar dari mulut Krystal. Ia mengeluarkan lipbalm dari kantong jaketnya, menempelkannya di bibirnya yang kering. Setelah selesai, ia menaruhnya kembali dan mengambil handphone-nya. Yang juga berada di dalam kantong jaketnya. Mengecek nomor yang tertera di sebuah gedung dengan yang ada di pesan Luhan. Sama. Krystal melihat gedung dengan seksama, terlalu sederhana untuk di tempati oleh anak seperti Luhan, yang notabane-nya anak orang kaya.

“Hahahahaha…. Ia kelihatan sangat culun bukan?”

“Ini apartment-mu?”

“Eum, benar!”
Krystal menoleh ke arah dua perempuan yang sedang berjalan ke arahnya. Sebuah ide pun muncul. Sebuah senyuman terukir dari bibirnya. Kedua perempuan tidak menyadari keadaan Krystal. Salah seorang dari mereka, yang memakai jaket hitam mengeluarkan kunci dan membuka pintu. Saat mereka berdua masuk, Krystal diam-diam menahan pintunya dan juga ikut masuk.

“Astaga!” Krystal tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebuah tangga yang…. Errr… Dia tidak bisa membayangkan untuk menge-check setiap kamar untuk mengetahui kamar Luhan di setiap lantai dengan tangga seperti ini.

“Lantai lima bukan?”

Lagi-lagi Krystal menoleh dan mendapati dua orang perempuan masuk. Ia menarik sudut bibirnya. Sebuah ide muncul.

“Permisi…” Sapa Krystal kepada dua orang perempuan yang baru saja masuk. “Sahabatku berada disini. Namanya Luhan, ia baru saja pindah ke sini. Tadi dia mengizinkan ku masuk tapi lupa memberi tahu letak kamarnya. Ia bilang cari saja sendiri nanti juga ketemu. Tapi aku tidak yakin, aku selalu tersesat. Bisakah kalian menunjukannya pada ku?” Krystal mengulas senyumannya di akhir kalimat. Memberi polesan terakhir untuk aktingnya yang apik.

“Luhan…” Perempuan yang membawa buku terlihat berpikir, “Aku tidak pernah mendengarnya. Apakah dia laki-laki?”

Krystal merasa aneh, tetapi ia hanya mengangguk pelan.
“Hey, kudengar ada yang baru saja menggantikan Jongdae. Mungkin itu dia?”

Perempuan yang pertama kali bicara menghadap temannya, “Oh, benarkah? Aku tidak mengetahui hal itu.” Ia kemudian menoleh ke arah Krystal, “Kalau begitu kamar 309. Di lantai tiga. Nanti dari tangga belok ke kiri. Kamarnya tidak jauh dari tangga tersebut. Letaknya di bagian kanan.”

Krystal mengucapkan terimakasih kepada dua orang tersebut. Bersama-sama, mereka menaiki tangga. Tetapi Krystal membiarkan mereka berdua lewat. Ia tidak yakin tangga kuat menopang tiga orang karena, dua orang saja tangga terasa goyang. Ia bersandar di dinding menahan rasa takut.

Saat ia rasa tangga tidak terlalu goyang, Krystal mulai melangkah. Cepat tetapi tidak sampai membuat tangga bergoyang. Dia selalu berdoa agar tidak jatuh setiap kali beberapa perempuan terburu-buru melewati tangga mengerikan ini.

Tap!

Krystal bernafas lega ketika sudah sampai di lantai tiga. Mengikuti petunjuk dari dua orang tadi, Krystal dengan mudah menemukan kamar Luhan. Sesuai dikatakan perempuan tadi, belok kiri dari tangga, tidak jauh dari situ kamarnya di sebelah kanan. Dengan yakin Krystal mengetok pintu kamarnya.

Tok~ Tok~ Tok~

Ketuk Krystal untuk kedua kalinya.

Trek~

Pintu terbuka. Krystal langsung memasang senyum lebarnya.

“Krystal?!”

“Sehun…” Ucap Krystal lirih. “Apa yang kau lakukan di flat milik Luhan?”

Sehun sedikit terkejut. “Ini juga flat-ku.”

Krystal terdiam. Menundukan kepalanya. Kemudian menghela nafas, “Aku ingin bertemu dengan Luhan.”

Sehun menganggukan kepalanya, “Luhan tadi pergi bersama Chanyeol. Masuklah. Tunggu sebentar di dalam. Kau tidak mungkin menunggu di luar bukan?”

Krystal menelan ludahnya. Ide yang buruk. Sangat buruk. Apa yang Sehun lakukan? Dia kira semua keadaan sudah baik-baik saja?

“Aku tidak ada maksud lebih apalagi menganggap semua keadaan baik-baik saja. Aku hanya menawarkan dirimu masuk ke flat agar tidak kedinginan di luar. Itupun kalau dirimu mau.”

Krystal masih diam. Hanya menatap Sehun.
“Kau terlalu banyak berpikir. Baiklah akan ku tutup.” Sehun kemudian mundur dari pintu. Tangan kanannya mendorong untuk menutup pintu.

“Tunggu! Aku masuk!”

Krystal langsung mendorong pintu.

Deg!

Krystal sangat terkejut ketika tangan Sehun tiba-tiba mencegat dirinya di depan pintu. “Kamar ini sangat berantakan. Jangan protes.” Sehun langsung berbalik dan membiarkan Krystal masuk, juga menutup pintunya.

“Hah?!”

Sehun mencebik, “Bukannya sudah ku bilang jangan protes?”

Krystal kembali menatap Sehun dan tidak bisa berkata apa-apa. “Ini… Dimana aku bisa duduk?” Tanya Krystal sambil melihat tumpukan kertas di mana-mana. Termasuk di sofa.

“Duduklah di ruang makan.” Jawab Sehun cuek. “Kau perlu aku buatkan teh? Jika tidak, aku akan masuk ke kamarku.”

Krystal hanya menggeleng lemah.

.TBC.

Flipped (Chapter 9)

black-and-white-care-depression-girl-favim-com-687006

f I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Orang Yang Paling Menyedihkan Di Muka Bumi

“Bermaksud atau tidak tapi kau yang membuat diriku seperti ini!”

****

Sehun kembali memejamkan matanya, “Hentikan perjodohan ini….”

Krystal menghentikan segala jeritan menyedihkannya. Dia terdiam menatap Sehun nanar. Air matanya masih keluar, tetapi suaranya terkunci didalam otaknya yang lumpuh.

“Meng-hen-ti-kan-per-jo-do-han?” Tanya Krystal dengan tersendat-sendat. Ia pun segera menggeleng. Kepalanya terasa berdenyut, pertanda sudah lelah. “Ah!” Ringis Krystal memegang kepalanya.

Sehun segera bangkit dari kursi, “Kenapa? Tunggu akan kupanggilkan dokter!”

.

.

.

Krystal melihat kalender di meja belajarnya. Tangannya menelusuri setiap tanggal, kemudian berhenti di tanggal yang dilingkari tinta bewarna merah. Oemma yang melingkarinya. Menurut Oemma pada tanggal tersebut akan diadakan makan malam antara Keluarga Jung dan Keluarga Oh. Pada tanggal 17 itulah adalah tanggal yang sangat istimewa-setidaknya menurut Oemma. Krystal sendiri sudah mengetahui arti tanggal tersebut. Sehun sudah memberi tahunya jika pada tanggal tersebut orangtua mereka berdua mengumumkan rencana perjodohan mereka.

Tapi bukannya sudah diumumkan sebelumnya, bukan? Jadi untuk apa diumumkan lagi? Ini karena tidak ada yang tahu jika Krystal sudah mengetahui ia dan Sehun dijodohkan. Tidak ada. Hanya dirinya dan Sehun. Hal tersebut seakan milik mereka berdua. Termasuk rencana penghentian perjodohan mereka. Itu seakan seperti pedang yang mereka berdua siapkan untuk menusuk kedua orangtua mereka.

Tes!

Krystal langsung menghapus kasar air matanya. Tidak ada yang perlu tahu jika ia kembali bersedih. Rencana itu bukannya hanya meremukan hatinya, tetapi juga bisa menghancurkan kedua orangtuanya. Membayangkan jika orangtuanya menginginkan hal ini sejak lama. Tetapi sayang, ia tidak bisa mengikuti keinginan orangtuanya. Karena ini bertentangan dengan yang diinginkan Sehun-orang yang sangat ia cintai.

Tes!

Air mata Krystal kembali jatuh. Betapa menyedihkan dirinya. Betapa menyedihkan hidupnya.

Ting~

Handphone Krystal berkedip. Tanda jika ada sms masuk. Krystal segera mengambilnya. Selang beberapa detik ia kembali menangis.

Perasaan yang ia rasakan sangat bertentangan dengan Sehun rasakan. Sehun sangat ingin hari tersebut datang kepadanya. Sedangkan Krystal berharap ia bisa terus menghindari hari tersebut.

.

.

.

.

Cha!” Nyonya Oh menghidangkan semangkuk sop Kimchi dihadapan Tuan Oh, Sehun, Krystal, dan kedua orangtuanya. “Aku menghidangkan makanan ini agar semuanya lebih bermakna.”
Ibu Krystal tertawa, “Kau benar-benar ingin membuat hari ini akan diingat terus ya? Baiklah. Sebaiknya kita mulai makan.”

Dengan pelan, Krystal mengambil beberapa potongan daging bulgogi. Tatapannya menunduk bersamaan dengan kepercayaan dirinya yang jatuh. Hatinya meringis. Dia… Dia tidak bisa melakukan hal ini.

Krystal pikir semuanya tidak akan berjalan sesulit ini. Mereka hanya makan malam bersama seperti biasanya. Tetapi ternyata tidak. Semuanya menjadi rumit. Sangat rumit hingga hatinya kembali tidak tega untuk melakukan rencana yang telah dibuat. Dan Krystal menghabiskan makanannya dalam diam kesedihan.

“Jangan repot-repot. Biar Oemma saja yang meletakannya di belakang.” Suara Nyonya Oh kembali terdengar. Krystal hanya tersenyum ketika Nyonya Oh mengambil piring kosong.

Hatinya semakin meringis. Sebentar lagi…. Sebentar lagi mereka akan masuk ke pembicaraan. Sebentar lagi dia akan menusuk kedua orangtuanya dari belakang. Krystal memejamkan matanya. Ia ingin lari. Ingin lari dari kenyataan ini.

Trang!

Bunyi nyaring dari meja di depannya terdengar. Oh Sehun tidak sengaja menjatuhkan sendoknya. Sehun mengambilnya dan ketika ia meletakan di meja makan, mata Sehun dan Krystal beradu. Sehun hanya menatapnya datar. Tidak ada ekspresi sedih atau senang. Mata Sehun kemudian melirik ke kanan menyebabkan Krystal juga ikut melirik. Ah! Nyonya Oh sudah kembali ke ruang makan ternyata.

Semua yang berada di meja makan hanya terdiam. Kedua orangtua mereka terlihat semakin melebarkan senyumannya. Krystal dan Sehun semakin menyiapkan diri untuk rencana mereka.

“Kami sudah membuat keputusan….” Suara Nyonya Jung membuka topic pembicaraan malam ini. “Kami memutuskan jika kalian akan dijodohkan.”

Krystal menarik nafasnya. Sudah di mulai. Diam-diam ia mencengkram bajunya. Membuka mulutnya, mencoba mengeluarkan suara. Bersamaan dengan detak jantungya yang semakin kencang.
Di ujung seberang, Sehun menatap Krystal khawatir. Takut jika gadis itu tidak bisa melakukannya. Jika tidak bisa, maka tidak ada lagi kesempatan. Karena jika dia yang mengutarakan tentu akan langsung tidak diterima.

Topik berganti. Sekarang, para orangtua mengucapkan selamat kepada Sehun dan Krystal. Sehun tersenyum tetapi matanya masih mengawasi Krystal. Apakah gadis itu benar-benar tidak bisa mengatakannya? Apakah dia yang harus memulai.

“Aku tidak setuju!”

Deg!

Sehun membulatkan matanya ke arah Krystal. Suaranya sangat kecil tetapi terdengar jelas. Tanpa terasa, hatinya yang sejak tertahan pecah. Ini juga menyakitkan baginya.
“Aku tidak setuju jika aku dan Sehun dijodohkan.” Krystal sekarang menatap kedua orangtuanya. Ia menelan ludahnya. Dengan bibir bergetar ia kembali berbicara, “Maaf, tapi aku tahu jika diriku dan Sehun lebih baik menjadi sahabat dan bukan berteman.”

Suasana menjadi hening. Tidak menyangka dengan Krystal katakan. Seperti yang Nyonya Jung katakan, malam ini akan menjadi malam yang tak terlupakan.

“Krystal…” Desis Nyonya Jung tidak percaya.

“Aku menolak perjodohan ini.” Krystal menatap Nyonya Jung intens. Tangannya mengepal agar agar terlihat seperti yang Sehun inginkan. “Maaf untuk mengatakan hal ini.”

Semuanya menatap Krystal tidak percaya.

“Kami akan membicarakannya.” Nyonya Oh akhirnya membuka suaranya. Walau dengan tatapan sedih, ia mencoba untuk tersenyum, “Kami akan mengadakan pembicaraan khusus orangtua sekarang.”

Tuan Jung mengenggam tangan istrinya yang terlihat sangat menahan amarah, “Tenanglah…”

.

.

.

.

Sehun lagi-lagi melihat jam tangannya. Sudah dua jam mereka berbicara. Apa sangat susah untuk memutuskannya? Padahal Sehun kira semuanya akan terkesan mudah ketika Krystal yang mengutarakan.

Sedangkan Krystal hanya dapat menundukan kepalanya. Ia diam. Tetapi isakan kecil terdengar. Sehun bingung ingin berbicara apa dengan orang disebelahnya. Jelas, jika Krystal tidak menginginkan hal ini terjadi.

Aku telah berjanji…. Gumam Sehun di dalam hatinya.

“Maaf…”

Krystal menoleh ke arah Sehun. Matanya sudah sangat merah.

“Maaf.” Kata Sehun sekali lagi.

“Kau tidak benar-benar tulus mengucapkannya.” Desis Krystal dengan serak dan menahan perasaannya. Bisa terdengar jika ia setengah marah.

“Aku benar-benar tulus mengataknnya!” Bantah Sehun dengan sedikit kekesalan yang tiba-tiba saja terbit. “Aku meminta maaf karena kau membuat orangtua mu kecewa.”

“Oh, benarkah?” Lanjut Krystal dengan suara yang sedikit lebih kencang. Ia menatap Sehun buas, tetapi sedetik kemudian ia kembali menangis.

“Aku menjadi orang yang paling menyedihkan di muka bumi ini karena dirimu. Kemudian dirimu mengucapkan permintaan maaf kepadaku. Seakan-akan hanya dirimulah yang mengetahui apa yang terjadi kepadaku. Dan perbuatan itu, malah membuat diriku semakin menjadi orang yang menyedihkan di muka bumi ini.”

Lembut tapi menusuk. Pelan tetapi membakar hati Sehun. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Aku tidak bermaksud…”

“Bermaksud atau tidak tapi kau yang membuat diriku seperti ini!” Bentak Krystal kepada Sehun. Dengan berurai airmata Krystal kembali berbicara, “Mungkin dalam beberapa waktu kedepan aku akan bersedih karena perjodohan kita dibatalkan. Tetapi, aku yakin aku akan bahagia dengan keputusanmu. Dan suatu saat aku akan mengucapkan terimakasih kepadamu.” Krystal mengeluarkan senyuman sinisnya.

Perasaan mereka berdua bercampur aduk. Sehun yang masih keras kepala dengan pendiriannya. Krystal yang terombang-ambing dengan perasaannya.

Sehun diam bergeming. Krystal kembali berbicara, “Kau tidak harus melakukan apapun untukku lagi. Tapi aku mohon, menjauhlah dari hidupku. Aku ingin menjadi orang yang bahagia di muka bumi ini.”

.TBC.

 

 

 

 

Flipped (Chapter 8)

tumblr_mdzxpaijax1qhh5vwo1_500

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Penggalan Cerita yang Terlupakan

Rantaian kata dari suara orang yang sangat ia cintai terdengar. Pahit. Ini benar-benar terjadi. Pikiran buruk yang selalu menghantuinya. Fakta yang terucap dari tokoh antagonis kisahnya. Hatinya meringis.   Seharusnya dia tidak pernah bertanya hal ini kepada siapapun. Menanyakan siapa yang sebenarnya tokoh antagonis dalam penggalan cerita hidup yang ia lupakan.

****

Sehun sedikit terhuyung ketika mendengar kabar dari ibunya.

“Sehun, Oh Sehun kau tidak apa-apa?”

Sehun mendongak menatap Chanyeol yang sekarang lebih tinggi dari dirinya. Keningnya berkerut, sejak kapan Chanyeol lebih tinggi daripada dirinya?
“Sehun apa yang terjadi? Masih disitu?”

Sekarang Sehun kembali tersentak mendengar suara ibunya.   Dia mengangguk walaupun dia tahu itu tidak berguna, “Aku akan kesana secepatnya.” Gumam Sehun dengan suara serak.
“Hey, kau tidak apa-apa?” Chanyeol kembali bertanya melihat keadaan Sehun.

Sehun hanya diam. Ia menaruh hp kedalam saku celananya kemudian memandang Chanyeol, “Kenapa kau lebih tinggi daripada diriku?”

“Astaga!” Chanyeol menatap Sehun dengan tatapan yang tidak percaya. “Tentu saja. Lihatlah kau terhuyung sampai jatuh ke lantai dan sampai sekarang masih terduduk di lantai.” Cetus Chanyeol tidak sabaran.

Sehun memandang sekeliling. Benar, dia sedang terduduk di lantai. Namun ia tidak menyadarinya. Tidak sama sekali. Rasa sakit ketika terjatuh ke lantai ia tidak merasakan sama sekali. Yang hanya ia rasakan nyeri dari dadanya.

“Sehun kau baik-baik saja?” Untuk kesekian kalinya Chanyeol bertanya.

“Aku harus pergi.” Ucap Sehun tidak mengindahkan pertanyaan Chanyeol. Dia mencoba berdiri.

“Astaga!” Chanyeol menahan Sehun yang bahkan tidak bisa berdiri. “Sehun tenanglah sedikit. Apa yang terjadi?”

Sehun seperti tidak mendengar perkataan Chanyeol, “Tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Aku harus ke rumah sakit.”

“Kau sakit?”

“Park Chanyeol lepaskan aku!” Sehun berusaha melepaskan cengkraman Chanyeol, “Aku benar-benar harus pergi ke rumah sakit.”

“Biar aku antar.” Sahut Chanyeol menatap temannya. “Keadaanmu seperti orang yang setengah sadar. Biar aku yang mengantarmu ke rumah sakit.”

Sehun hanya bisa mengangguk.

.

 

 

.

.

.

Sehun tidak ingat bagaimana dia bisa sampai di rumah sakit. Yang jelas dia ingat Chanyeol yang mengantarkannya. Dia juga ingat ketika Chanyeol menyadarkannya dari lamunan dan saat itu ia tahu jika ia sudah sampai di rumah sakit. Tanpa mengucapkan terimakasih kepada temannya Sehun langsung keluar memasuki rumah sakit. Dia bahkan tidak ingat sudah menutup atau tidak pintu mobil temannya.

Uap-uap hangat dari teh hijau membuat ia jauh lebih tenang. Ia meneguk teh hijaunya kemudian memejamkan matanya. Hufh….

Karena kesadarannya sudah kembali, sepertinya ia harus mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Chanyeol bukan? Karena jika Chanyeol tidak mengantarnya, bisa dipastikan ia tidak akan bisa sampai di rumah sakit dengan selamat seperti sekarang.

“Sehun-ah…” Mendengar suara ibunya membuat Sehun menaruh kembali handphone-nya.

“Sudah larut malam. Sepertinya dirimu harus pulang.” Lanjut ibunya lagi.

Sehun menatap mata lelah ibunya, ia ingin sekali menjawab jika ia ingin berjaga di rumah sakit.

Tetapi sebelum Sehun berkata, ibunya kembali berbicara, “Sebaiknya dirimu pulang. Jangan membuat orangtua Krystal merasa bersalah. Melihat dirimu berjaga disini untuk Krystal dan mengacaukan jadwal kuliahmu, itu akan membuat mereka bersalah.”

Sehun menghela nafas. Ia hanya menganggukan kepalanya.

.

.

.

Kelam. Embusan udara dingin yang berasal dari AC kamar Krystal membuatnya semakin sulit bernafas. Dengan sangat lambat Sehun berjalan mendekati Krystal. Krystal? Dia sedang memandang jendela. Perasaaan mencekam takut Krystal tidak sadar selama dua minggu, tetap menyelimuti diri Sehun, walaupun dia tahu Krystal telah sadar. Keadaannya juga dipastikan baik-baik saja oleh dokter.

“Hai….” Sapa Sehun canggung.

Krystal menoleh tetapi tidak membalas. Hanya mengulas sebuah senyuman.

Sehun berdehem. Tidak tahu harus berbicara apa lagi.

“Apa yang ingin kau tanyakan?”

Sehun menatap Krystal dengan alis terangkat, “Maksudmu?”

Krystal mengangkat kedua bahunya, “Pasti ada yang ingin kau tanyakan bukan? Walaupun hanya satu.”

“Iya. Tapi kurasa ini bukan waktu yang tepat.” Sehun tersenyum kaku. Astaga apa yang sebenarnya terjadi kepada gadis ini?

“Jangan pura-pura baik terhadapku!”

Suara tajam itu membekukan Sehun. Sebenarnya Sehun terdiam bukan hanya mendengar suara tajam, tetapi perkataan itu….. Sehun tersenyum miris. Sekarang ia dapat merasakan apa yang dulu Krystal rasakan.

“Maaf….” Sekarang suara Krystal melembut. Ia menarik nafasnya dengan kasar. “Aku tidak bermaksud kasar.”

“Tidak apa-apa.” Potong Sehun. Sungguh ia merasakan tidak apa-apa, hanya sedikit terkejut.

“Tapi….” Krystal kembali berbicara, “Aku hanya merasa lelah. Saat aku bangun dari komaku semuanya berubah. Memang semua hal pasti akan berubah. Tetapi duniaku benar-benar berubah.”

Sehun mengenggam tangan Krystal. Air mata Krystal turun perlahan. Dengan kasar, Krystal menghapusnya menggunakan tangannya.

“Aku hanya…..   Aku hanya lelah…. Ditambah lagi dengan mimpi-mimpi aneh, rasa sakit kepala yang terus mendera, dan beberapa hal yang kulupakan. Aku lelah…. Aku bahkan tidak mempunyai sahabat terdekat lagi.”
“Apa maksudmu?” Tanya Sehun dengan nada frustasi. Frustasi melihat keadaan yang membingunkan ini. Frustasi melihat Krystal yang kesakitan seperti ini. “Aku selalu ada untuk mu. Kau tahu itu.” Kali ini suara Sehun lebih lembut. Ia menatap Krystal dalam.

Air mata Krystal tak dapat terbendung lagi. “Aku tahu….” Ucapnya parau. “Aku tahu… Tapi aku tidak dapat mempercayaimu…. Aku kehilangan rasa kepercayaan terhadap dirimu…”

“Apa maksudmu?” Tanya Sehun dengan nada yang tidak percaya. Tangannya yang mengenggam tangan Krystal mulai bergetar. Keringat dingin mulai terasa di telapak tangannya. Secepat inikah ingatan Krystal kembali?

Krystal yang menangis mencoba kembali berbicara, “Aku minta maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud….. Hanya saja sejak salah satu memoriku kembali aku kehilangan kepercayaan terhadap dirimu.”

“Memori? Kau mengingat sesuatu?”
Krystal mengangguk, “Iya aku mengingat sesuatu. Kita sedang berada di taman saat malam hari. Awalnya kau sedang menatap bulan. Kemudian aku mendatangi mu.”
Sehun tertegun. Iya, dia mengingatnya. Hari dimana dia mengatakan satu kata terkutuk itu kepada Krystal. Tanpa ia sadari, pegangan tangannya terhadap Krystal melonggar.

Krystal tambah menangis melihat reaksi Sehun. “Jadi itu benar. Kau mengatakan hal itu kepadaku? Jawab aku Sehun! Jawab!”

“Krys….” Hanya itu yang bisa Sehun katakan.

“Kenapa kau tidak menjawab?! Kenapa?! Katakan juga alasan kau tidak pernah membantuku saat aku dibully oleh Suzy!   Katakan! Kumohon…… Tolong…….” Krystal semakin berteriak tidak jelas.

“Aku lelah dengan teka-teki yang ada di hidupku…. Aku kira kau juga mencintaiku tapi kenapa???” Suara Krystal melemah setelah ia berteriak-teriak. “Kenapa kau melakukan ini kepadaku? Apa salahku?”

Sehun memejamkan matanya. Pada akhirnya waktulah yang akan membuka hal ini.

“Karena kau terus mengejarku padahal kau tahu bahwa aku tidak mempunyai perasaan sedikitpun kepadamu.” Sehun mengatakannya dengan nada serak. Lisannya tidak rela mengeluarkan kata-kata itu. Perasaannya menyatakan jika ini adalah sebuah kebohongan nyata, faktanya ia masih mempunyai dan sangat mencintai gadis di depannya. Tapi otaknya menyadarkan ia, hal ini masih harus ia lakukan entah sampai kapan.

Sehun menarik nafasnya dan kembali berbicara, “Kita dijodohkan sejak SMP. Sejak saat itulah persahabatan kita renggang. Bukan. Bukan karena itu. Persahabatan kita renggang sejak dirimu menyatakan cintamu kepadaku. Aku hanya menganggap mu sebagai sahabat tidak lebih. Ku pikir permasalahan ini mudah, kau akan menerimanya. Tetapi tidak. Kau malah mengejarku. Dan ketika aku berpacaran dengan Suzy kau tetap mengajar ku.” Sehun mengehentikan penjelasannya ketika melihat respon Krystal. Gadis di depannya…. Ia terlihat sangat sakit.

“Jadi… Jadi….” Isakan keluar dari mulut Krystal, “Jadi kau menolak ku selama ini karena kita bersahabat?”

“Tidak kurang dan tidak lebih.”

“Tapi yang kau lakukan padaku bukan menunjukan seorang sahabat!” Pekik Krystal kesal. “Kau hanya melakukan apa yang kau kira benar tanpa memperdulikan perasaan orang lain! Kau salah dalam hal ini!”

“Kau pikir kau tidak bersalah?” Teriak Oh Sehun. “Kau tetap melakukan yang kau mau juga!   Menyatakan perasaanmu ketika kita baru dijodohkan. Padahal seharusnya dirimu tahu atau setidaknya mengerti aku yang masih tidak terima dalam perjodohan ini! Tapi dirimu malah menganggap penolakanku sebagai pertanda bahwa suatu saat aku dapat mencintaimu…. Kau salah. Sangat salah dalam hal ini!”
“Terus apa yang kau inginkan?! Katakan kepadaku apa hal yang benar?!” Tanya Krysal yang sudah putus asa. “Apa?!”

Sehun kembali memejamkan matanya, “Hentikan perjodohan ini….”

.TBC.

 

Flipped (Chapter 7)

tumblr_mazh9mnhhh1r0ik5uo1_r1_500

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Teka-teki Waktu

Krystal menghela nafas. Ia menatap jam dinding di kamarnya dan kembali menghela nafas. Jam duabelas malam dan dia masih belum tidur. Dia ingin, tetapi dia tidak bisa. Semenjak dia pulang dari rumah sakit dia tidak bisa tidur. Ketika dia menginjakan kaki kerumahnya, keadaan berubah dan itu membuat ia terus memikirkannya. Apalagi mimpi buruk yang selalu menyerangnya ketika dia tidur. Dia membencinya.

Tapi dia harus tidur. Harus jika dia tidak ingin mendengar omelan Bibi Kwon, ibunya dan yang terakhir Sehun.

Krystal kembali menarik selimutnya dan memejamkan matanya.

“Selamat malam….”

.

.

.

“Jangan pura-pura baik menanyakan bagaimana kabarku.” Dingin. Sinis.

Krystal menelan ludah. Apa maksudnya? Kenapa Sehun berubah menjadi dingin dan sinis kepadanya? Dilain pihak dia merasa aneh. Dia merasa rindu kepada Sehun. Tapi lagi-lagi kenapa? Hubungannya dengan Sehun baik-baik saja. Kemudian dia merasakan perasaan sakit dan untuk kesekian kalinya kenapa? Sehun tidak pernah menyakiti dirinya. Tidak, sepengetahuan dirinya.

“Kepura-puraanmu untuk baik tidak akan mempengaruhi ku. Perasaanku tidak akan berubah. Aku membencimu.”

Krystal mengangakan mulutnya.   Sehun membencinya. Krystal menjambak dirinya. Merasa frustasi dengan keadaan ini. Begitu banyak yang tidak dia ketahui dan dia membencinya! Dia ingin mengingat semuanya!

“Pergilah…” Sehun kembali berbicara, sama masih dingin. Ia kemudian membelakangi Krystal. Krystal terdiam. Apa yang harus ia lakukan? Dan ia merasa air matanya turun. Dia menangis. Kenapa? Kenapa, kenapa, kenapa, kenapa?????

Raut wajah Sehun tidak terlihat karena cahaya yang tidak mencukupi, tapi Krystal bisa mendengar desahan nafas dari Sehun, “Benar-benar egois…” Desisnya. Kemudian Sehun bergerak melewati Krystal.

Arah pandangan Krystal mengikuti Sehun. Air matanya masih turun dan sepertinya tidak akan berhenti. Isak tangisnya sudah kedengaran. Ia memegang tangan Sehun, “Kembalilah seperti dulu…” Kata Krystal lirih.

“Aku tidak mengerti apa arti ucapanmu.” Sehun melepaskan cekalan Krystal. Krystal merasa kepalanya berdenyut sehabis itu. Dia memegang kepalanya. Tapi sebuah potongan kejadian, sepotong kejadian yang memperlihatkan dirinya menangis, memegang tangan Sehun. Krystal menangis tersedu-sedu dan Sehun masih diam di tempatnya.

“Ahhh… Astaga!” Ringis Krystal memegang kepalanya. Ini menyakitkan. Ini sangat menyakitkan.

“Katakan apa saja…. Apa saja permintanmu kepadaku agar kau kembali semula. Apa saja…”

“Matilah.”

.

.

.

.

.

Krystal langsung membuka matanya diiringi oleh sakit kepala yang mencengkam.
Matilah…

Apa maksudnya?

.

.

.

Sehun bersenandung lirih ketika berjalan melewati lorong kampusnya. Dari baju yang ian gunakan, Sehun terlihat bukan seperti orang yang ingin mengikuti kuliah, lebih tepatnya ingin pergi liburan. Itulah yang dipikirkan oleh perempuan-perempuan yang menggilai Sehun. Ketampanannya, ketangkasannya, dan juga ketekunannya, siapa yang tidak jatuh hati?

Sehun menjatuhkan tas ranselnya ke kursi dan itu membuat teman sebangkunya menoleh, “Maaf.” Jawab Sehun sambil tersenyum kecil.

Teman sebangkunya menoleh, kemudian mendecakan lidahnya, “Kau selalu melakukannya setiap hari.”

Masih dengan tersenyum Sehun berkata, “Dan kau selalu melihat gadis itu setiap harinya.”

“Oh diamlah!” Teriak Chanyeol-teman sebangku Sehun sebal. “Aku tidak melihatnya setiap hari. Hanya sekali. Dan tidak pernah lagi!” Lanjut Chanyeol dengan melotot.

Sehun mengangkat kedua bahunya, “Mengakuinya juga tidak apa-apa.”

“Chanyeol-ah!”

Suara seorang perempuan dari depan pintu kelas membuat Sehun dan Chanyeol menoleh.

“Sulli?!” Kata Sehun dan Chanyeol bersamaan. Sedetik setelah itu mereka berpandangan, “Kau mengenalnya?” Tanya mereka lagi-lagi sama.

“Park Chanyeol!” Dengan langkah lebar Sulli mendatangi meja Chanyeol, dan tentunya meja Sehun.

“Park Chanyeol!”

Suara Sulli yang semakin meninggi membuat Chanyeol dan Sehun menatap Sulli.

“Oh, ini Choi Sulli pacarku.” Chanyeol mengenalkan Sulli ke Sehun, “ Dan ini adalah-“

“Oh Sehun?” Potong Sulli ketika melihat ke arah Sehun, “Oh, astaga sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu. Senang sekali bisa bertemu denganmu lagi.” Sulli sekarang benar-benar memandang Sehun dan mengulurkan tangannya ke Sehun.

Sehun menerima uluran tangan Sulli, “Benar. Sudah lama sekali kita tidak bertemu.”
“Jadi kalian saling mengenal?” Tanya Chanyeol dengan penasaran.

“Yak, Choi Sulli dia cinta pertama mu?” Tanya Chanyeol lagi.

“Atau dia cowok yang pernah mematahkan hatimu dengan memacari kakak kelas?”

“Kenapa tidak pernah menyebut namanya sekalipun di hadapanku?”

“Diam!” Teriak Choi Sulli menatap Chanyeol sebal.

Chanyeol terdiam tetapi ia terlihat mencibir perilaku Sulli. Sedangkan Sehun hanya menatap Sulli dengan tatapan ngeri, perempuan di depannya sudah sangat berubah, dulu Choi Sulli bahkan tidak bisa berteriak. Suaranya selalu lembut.

“Dia bukan cinta pertamaku dan dia bukan cowok yang pernah mematahkan hatiku! Aku tidak pernah berpacaran dengannya!” Jawab Sulli dengan nada tinggi. Membuat beberapa orang menatap ke arah mereka, Chanyeol, Sulli, dan Sehun. “Lagipula, bagaiamana aku bisa menyimpan perasaannya jika sahabatku, Kryst-“ Sulli menghentikan ucapannya kemudian menatap Sehun. Ia dengan cepat memutar otaknya, “Intinya aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Oh Sehun.” Lanjutnya dengan nada yang lebih pelan.

Chanyeol ingin mengeluarkan komentar, tetapi Sulli kembali berbicara, “Sehun, apakah kau tahu bagaimana keadaan Krystal? Aku berusaha menghubunginya dengan UFO Town, tetapi tidak pernah di balas. Apakah kau tahu bagaimana acara menghubunginya? Sudah sangat lama juga aku tidak berhubungan dengan Krystal.”

.

.

.

“Kau belum makan siang?”
Krystal menghela nafas mendengar suara orang yang sedang duduk di kursi taman. Tidak seperti biasanya, ia hari ini malas mendengar suaranya bahkan melihat orang di belakangnya. “Belum.” Jawab Krystal tanpa memandang orang tersebut.

“Kenapa?”
“Aku sedang tidak ingin makan Sehun-ah.”

Sehun menatap Krystal dengan alis terangkat, “Okay. Tapi setidaknya kau harus makan, walaupun sedikit.”

“Aku akan makan jika aku menginginkannya.” Jawab Krystal, masih tidak menatap Sehun. Ia sibuk memotong bunga-bunga mawar yang sedang bermekaran di taman belakang.

Ada sesuatu yang janggal. Pikir Sehun melihat gerak-gerik Krystal. “Aku bertemu dengan Choi Sulli. Kau mengingatnya bukan? Sahabatmu ketika SD dan SMP.”
“Ya. Aku mengingatnya.” Jawab Krystal. Dengan nada yang tidak ada antusiasnya. Masih tidak menatap Sehun.

“Ia menanyakan kepadaku kenapa kau tidak pernah aktif lagi di UFO Town. Dia ingin kau aktif lagi di UFO Town.”

“Aku melupakan password UFO Town-ku.”

“Bagaimana bisa?” Tanya Sehun penasaran. Krystal mempunyai UFO Town pada saat SMP. Bagaimana bisa ia melupakannya?

“Kurasa aku mengganti password-nya.”

“Kau bisa mengubahnya dengan meng-klik forgot my password kau tahu?”

“Iya. Tapi aku tidak tertarik.”

“Apakah kau sedang marah kepadaku? Kenapa sama sekali tidak menatapku ketika aku berbicara kepada mu?” Tanya Sehun yang sudah tidak tahan dengan gerak-gerik Krystal.

Krystal menghela nafasnya. Ia meletakan gunting di dalam keranjang. Kemudian ia mengangkat keranjang tersebut, berdiri.

Sehun ingin bertanya lagi karena sepertinya Krystal tidak akan menjawab pertanyaannya. Hanya beberapa langkah, Krystal akan melewati dirinya.

“Aku sedang tidak ingin berbicara dengan mu.” Jawab Krystal menatap Sehun dengan tatapan…. Tatapan dingin.

Sejenak, Sehun tidak bisa berkata apa-apa. Ini pertama kalinya gadis ini menatapnya dengan tatapan seperti itu. Apa yang terjadi kepada gadis itu? Kenapa gadis itu berubah dalam sekejap?

.

.

.

Sudah lama Krystal dan Sehun tidak berhubungan. Kenapa? Entahlah, Krystal tidak mengetahui jawabannya secara pasti. Mungkin karena Krystal terus mendiaminya ketika Sehun berbicara kepadanya, sehingga Sehun malas berbicara dengannya? Atau mungkin Sehun berpikir Krystal sedang dalam kondisi yang tidak bagus sehingga ia memilih untuk menjauh dari Krystal? Entahlah. Krystal tidak tahu.

Sebenarnya ia tidak marah kepada Sehun. Sama sekali tidak marah ketika bertemu dengan Sehun dan ketika Sehun berbicara kepadanya. Hanya saja setiap kali dia melihat Sehun, Krystal merasakan ia sulit bernapas. Entah mengapa dia merasa sangat sedih dan merasa sangat bersalah ketika ia melihat Sehun. Entah kenapa.

Krystal meraba pelipisnya yang berkedut. Ia membenci keadaannya yang sekarang. Benar-benar membencinya.

“Krystal Jung?”

Krystal menoleh ketika suara perempuan memanggilnya. Perempuan itu….. Krystal tidak mengenalnya.

“Ah, benar dugaanku. Krystal Jung bukan?” Perempuan tersebut tersenyum semakin lebar. Nada suaranya sangat ceria. Dia benar-benar sangat cantik.

Masih dalam keadaan bingung, Krystal menganggukan kepalanya.

“Astaga!” Kata perempuan tersebut dengan nada tidak percaya. “Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi. Jadi kau akhirnya bersekolah lagi disini? Benar-benar kejutan yang menyenangkan.”

“Maaf, aku tidak mengenalmu.” Kata Krystal dengan sangat hati-hati.

Perempuan tersebut terkesiap tetapi ia langsung mengangguk mengerti, “Maaf, aku lupa memperkenalkan diri. Aku Bae Suzy.” Kata Suzy ramah.

Kemudian mereka terdiam. Rasa canggung mengelilingi Krystal dan Suzy.

Suzy berdehem, “Aku tahu kau mungkin tidak mengingatku…” Dia tertawa canggung, “Tidak apa-apa. Tapi aku ingin minta maaf kepadamu atas perlakuanku dulu. Sungguh aku sangat menyesal.”

Krystal terdiam menatap heran. Suzypun kembali melanjutkan perkataanya, “Tidak apa-apa jika kau tidak mengingatnya. Aku juga tidak berharap kau mengingatnya karena apa yang kulakukan merupakan kenangan yang sangat buruk. Tetapi ketika kau mengingatnya suatu hari, aku ingin kau juga mengingat jika aku menyesali perbuatan ku.”

Krystal masih terdiam. Tapi kali ini ia merespon dengan sebuah anggukan. “Tapi Suzy-ssi,” Krystal kembali terdiam, terlihat memikirkan sesuatu, “Hmmm… Apa yang menyebabkan kau berlaku buruk kepadaku?”

Suzy menatap enggan Krystal. Jelas sekali ia juga ingin melupakan hal-hal yang telah ia lakukan. “Well…. Kau ingat Oh Sehun? Aku dulu berpacaran dengannya.”

Apa?!

“Tapi sepertinya kau sangat menyukai Oh Sehun dan berusaha mengejarnya….”

Apa?!

“Jadi….. Jadi karena aku cemburu….” Suzy menghela nafasnya, “Sungguh, aku sangat menyesali perbuatanku padamu dulu. Seharusnya aku tidak berlaku kasar seperti itu.”

“Sehun mengetahui perbuatanmu kepadaku?”
Suzy terkejut mendengar perkataan Krystal. Ia menghela nafas. Kemudian menganggukan kepalanya.

“Apa yang ia lakukan ketika ia mengatahui perbuatan ini?”

.

.

.

.

Bibi Kwon tidak pernah merasa kepanikan seperti ini. Tanganya sudah dingin sedari tadi. Begitu juga bibirnya yang terus bergetar, “Tolonglah Nyonya muda…. Buka pintunya…”

Bibi Kwon tidak tahu darimana asal usul Nyonya muda mengunci dirinya di kamar mandi. Ketika pulang sekolah, Nyonya mudanya sudah kelihatan tidak sangat baik. Mukanya pucat dan suhu tubuhnya lebih dingin.

“Saya hanya kelelahan.” Begitulah yang Nyonya mudanya katakan.

Bibi Kwon hanya mengangguk ragu. Ia kemudian pamit keluar dari kamarnya, agar Nyonya mudanya beristirahat.

Pukul empat sore, ia mengunjungi kamar Nyonya mudanya. Dan Krystal menghilang. Tidak ada di tempat tidur. Kemudian dia mendengar suara Krystal meanngis dari kamar mandi. Takut terjadi apa-apa, ia langsung menyuruh orang lain melaporkan hal ini kepada Nyonya Jung dan ia sedari tadi mencoba membujuk Nyonya mudanya keluar dari kamar mandi.

“Bibi… Bi ada apa?” Nyonya Jung masuk ke kamar Krystal dengan nada panik. Diikuti oleh beberapa pelayan dan pengawal.

Bibi Kwon hanya bisa menunjuk ke arah pintu kamar mandi.

“Krystal sayang apa yang terjadi? Tolong buka pintunya…” Nyonya Jung mendekat ke arah pintu dan berkata dengan lembut.

Tidak terdengar jawaban. Hanya tangisan yang semakin membesar. Tangisan itu mendekat ke arah pintu. Semuanya menahan nafas mendengar Nyonya muda mereka akhirnya ingin keluar dari kamar mandi. Tapi…

“Krystal! Krystal Jung!” Teriak panik Nyonya Jung ketika mendengar benda-benda berjatuhan. Nyonya Jung mengarahkan tatapannya ke pengawal yang ikut masuk. Memberikan perintah untuk mendobrak pintu kamar mandi.

Brak!

Pengawal yang mendobrak pintu hanya diam melihat isi kamar mandi.
“Apa?! Apa yang terjadi?!” Tanya Nyonya Jung dengan suara yang bergetar hebat. Ia langsung masuk ke kamar mandi dan….
“Nyonya Jung!” Semua orang bertambah panik melihat Nyonya Jung pingsan. Untung saja tubuhnya ditahan oleh sang pengawal.
“Panggil ambulans! Cepat!” Sang pengawal yang sudah tersadar berteriak.

Beberapa pelayan langsung pergi untuk menelepon ambulans. Dengan hati-hati, Bibi Kwon masuk kamar mandi.

Dan…..

Ia merasa jantungnya berhenti berdetak melihat Nyonya mudanya tersungkur di lantai. Dengan urat nadi yang terpotong.

.TBC.

 

 

Flipped (Chapter 6)

tumblr_mkac3lo1p91qd89zjo1_500

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

***

Note: Gak bisa janji jika meng-update denken konsisten ^^

Anak Kambing Atau Anak Harimau?

Sebuah tangan menepuk bahu Sehun, “Tidak! Tidak! Jangan sekarang! Kumohon! Tunggu….. aku tidak ingin meninggalkannya sekaraaaang!”

 

.

.

.

Siapakah Engkau?

Aku seperti mengenalmu. Aku seperti tahu akan dirimu.

Suara mu selalu menggema di sanubariku.

Ingin ku menjawab, tapi aku masih bertanya di mana aku.

Dimana aku yang terjebak di tempat yang gelap.

Jangankan tempat, siapa aku?

Jika aku kembali, dapatkah aku mengetahui diriku?

Jika aku kembali, akankah aku melihatmu?

Jika aku kembali, bisakah kau tetap berada di sisiku?

 

***

Dengan perlahan-lahan ia membuka matanya. Krystal langsung memejamkan matanya kembali ketika sebuah cahaya putih menyilaukan masuk ke matanya. Kemudian, ia membuka matanya kembali.

Putih.

Belum selesai ia melihat keadaan atas, Krystal menyadari jika seorang sedang memeluknya. Orang tersebut memeluknya erat sambil menangis terisak-isak. Dengan sekuat tenaga, ia mengangkat tangan kananya dan menepuk bahu kanan orang tersebut.

“Tidak! Tidak! Jangan sekarang! Kumohon! Tunggu…. Aku tidak ingin meninggalkannya sekaraaaang!” Teriak orang tersebut. Orang tersebut semakin mengeratkan pelukannya. Dengan tubuh yang lemah, Krystal merasa tidak bisa menahan tenaga orang tersebut dan mulai merasakan sesak.

“Aaa.. Aaakuuu Tiidak.. Bii.. Saa… Ber.. Na… Fas…”

“Krys?!” Sehun segera melepaskan pelukannya.

“Sehunniee?!”

Dan Sehun merasa tidak bisa bernafas. Dadanya terlalu berat. Rasa sesak menggerogoti dirinya.

Kenapa Krystal mengingat dirinya?

.

.

.

Sehun menarik nafasnya. Ia menatap pintu di depannya dan akhirnya memutuskan untuk masuk. Baru beberapa langkah memasuki ruangan nafasnya kembali tercekat. Dia mengepal kedua tangannya, berusaha untuk tidak kehilangan kesadaran lagi. Sehun kemudian membuang nafasnya dan duduk sedikit menjauh dari ranjang Krystal.

Gadis itu sedang tertidur pulas, dan Sehun tidak ingin menganggunya. Sebenarnya ia bahkan tidak punya keberanian untuk melihat gadis itu bangun dari tidurnya. Tidak setelah Krystal masih mengingat dirinya. Walaupun kata orangtuanya, Krystal telah kehilangan separuh ingatannya, ingatan sekitar dua tahun yang lalu, ingatan masa-masa SMA.

“Ehm…” Terdengar lenguhan Krystal.

“Krys….” Kata Sehun pelan. Dia mengenggam kedua jari Krystal.

“Heeh…” Krystal masih belum sadar. Dia menggerakan kepalanya.

“Krys…” Kata Sehun lagi.

Krystal seperti tidak mendengarnya. Dia terus menggerakan ke kanan dan kiri kepalanya.

“Aaaah….” Bersamaan dengan itu, Krystal terbangun dengan nafas terengah-engah.

Sehun masih di samping, masih mengenggam tangan Krystal, “Krys…. Krys kau tidak apa-apa?”

Krystal menoleh ke samping, “Sehunniee…”

Sehun menelan ludahnya. Kenapa Krystal mengingatnya? Kenapa?

“Iya. Ini aku Sehun.” Kata Sehun dengan susah payah.

“Aku mimpi buruk.   Aku mimpi buruk.” Suara Krystal bergetar. “Aku mimpi buruk… Sangat buruk…” Tangisan Krystal keluar.

Sehun memeluk Krystal, “Tenanglah…. Aku berada di sisimu…”

“Apakah kau akan terus berada di sisiku?”

“Apa?” Sehun langsung melepaskan pelukannya. Dia menatap Krystal curiga.

Krystal tersadar ucapannya. Entah kenapa dia merasa bingung dengan ucapannya. Kata-kata itu langsung meluncur dari mulutnya, tanpa ia sadari.

“Aa…. Aku tidak tahu apa yang ku maksud. Hanya meluncur saja dari mulutku.”

Sehun menghela nafasnya dan mengulas senyum, “Tidak apa-apa.” Ia kemudian duduk kembali di kursi, “Apa yang kau mimpikan?”

Krystal terlihat mengingat-ingat, “Entahlah. Aku tidak tahu darimana asalnya. Tapi yang jelas aku berada di dalam air. Ada yang menahan kepalaku. Aku tidak bisa bernafas. Aku mencoba untuk melawan tetapi tidak bisa. Dan itu terus berlangsung sampai aku bangun.”
Nafas Sehun langsung tercekat, apa yang Krystal katakan? Apakah dia sudah ingat? Apakah ini hanya sebuah acting untuk menjebaknya?

Tentu saja Sehun mengingat jika Krystal selalu di bully oleh Suzy. Dan Suzy selalu merendam kepala Krsytal di wastafel toilet. Kenapa Krystal memimpikannya? Atau…. Atau ini hanya jebakan? Krystal ingin balas dendam kepadanya?

“Sehunnie, apa yang kau pikirkan? Apakah kau mengetahui sesuatu?”

Suara Krystal kembal menghentakan Sehun. Sehun menatap Krystal, “Tidak. Aku sama sekali tidak mengetahui hal itu. Mungkin itu hanya mimpi buruk.”

.

.

.

Didalam kebingungannya, Sehun berusaha untuk mencari jalan keluar. Butuh beberapa hari untuk meyakinkan dokter Krystal agar berbicara kepadanya. Sehun akan mencari tahu. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Krystal. Dia tidak boleh terus-terusan didera rasa ketakutan, dia harus kembali memegang kendali lagi.

Tok! Tok! Tok!

Sehun mengetuk pintu ruangan dokter Krystal, Dokter Kim Jong Nam.

Cklek~

Seorang perawat membukakan pintu ruangan, “Dokter Kim sedang beristirahat. Mohon temui beliau ketika istirahatnya selesai.”

Sehun segera menahan perawat yang akan menutup pintu, “Saya punya janji dengan Dokter Kim. Bilang jika Oh Sehun sudah datang.”

Perawat tersebut menatap Sehun bingung, “Tunggu sebentar.” Kata perawat tersebut. Perawat tersebut kemudian menjauh dari pintu, membiarkan pintu ruangan sedikit terbuka.

“Oh Sehun?” Tak butuh waktu lama, perawat kembali lagi ke pintu, “Dokter Kim sudah menunggu Anda.” Perawat tersebut mengulas senyuman. Ia membukakan pintu untuk Sehun dan saat Sehun masuk, perawat tersebut keluar dari ruangan.

“Jangan memasang raut wajah curiga seperti itu.” Suara Dokter Kim membuat Sehun menoleh menatap dokter tersebut setelah sebelumnya menatap pintu yang ditutup oleh perawat. “Ini adalah pertemuan rahasia. Hanya kita berdua yang mengetahui apa yang dibicarakan.” Lanjut Dokter Kim dengan senyum manisnya. “Silahkan duduk.”

Sehun mengangguk dan duduk di kursi, yang terletak pas di depan Dokter Kim, “Maaf jika saya menganggu istirahat Anda.”

Dokter Kim tertawa, “Sama sekali tidak. Saya malah menunggu kedatangan Anda.”

“Untuk?”
Dokter Kim membenarkan posisi duduknya. Kali ini dia benar-benar dalam posisi yang sangat serius, “Saya yakin Anda bisa membantu Krystal mengembalikan ingatannya.”

Bagus! Apa Krystal benar-benar berencana menjebaknya?

“Kenapa Anda berpikir seperti itu?” Tanya Sehun dengan suara yang ditahankan. Agar suara tidak terlalu terlihat tidak suka.

“Karena Anda sangat serius mencari apa yang terjadi dengan Krystal. Anda percaya jika keadaan Krystal bukan hanya kehilangan ingatan seperti biasa.” Dokter Kim kembali berbicara, “Ini saya simpulkan karena kegigihan Anda. Selama empat hari ini Anda terus mengejar saya. Mengatakan jika pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Krystal. Saya yang awalnya hanya menganggap angin lalu mulai memperhatikan Anda ketika orangtua Krystal bilang jika Anda adalah sahabat Krystal. Sebagai sahabat, Anda pasti tahu jika ada yang tidak beres dengan sahabat Anda. Maka dari itu saya meninjau keadaan Krystal kembali. Dan saya berkesimpulan jika keadaan Krystal bukan hilang ingatan semata.”

“Bukan hilang ingatan semata?”

Dokter Kim kembali menjelaskan, “Amnesia biasa terjadi kepada orang yang kepalanya terbentur. Ini terjadi karena hippocampus (re: hɪpə(ʊ)ˈkampəs) atau bagian otak yang menyimpan perasaan dan emosi terkena guncangan. Dalam kasus Krystal, entah apa yang terjadi pada dirinya, otaknya menunjukan tidak ada kerusakan tetapi dia mengalami anemia.

“Sebelum hasil otaknya keluar, saya memvonisnya mengalami Post-traumatic Amnesia. Yaitu jenis amnesia yang biasa dialami pasien sehabis kecalakaan. Ketika saya sudah bisa menanyai, dia hanya melupakan kejadian dua tahun dalam hidupnya, sayapun memvonisnya dengan Lacunar Amnesia. Jenis Amnesia yang hanya melupakan sebagian kejadian, tetapi tetap sama, karena Hippocampus terkena guncangan. Tetapi setelah menerima hasil tes otaknya saya memiliki simpulan. Saya yakin jika Krystal mengalami Repressed Memory.”

Repressed Memory?”

Dokter Kim mengangguk, “Repressed Memory atau dulunya dikenal sebagai Psychogenic Amnesia. Itu adalah hilang ingatan yang disebabkan oleh keadaan stress atau keadaan trauma akibat sesuatu. Ingatan itu masih ada tetapi tidak bisa diakses karena merupakan pertahanan psikologi orang tersebut.   Seperti orang yang mempunyai kepribadian ganda dimana baru muncul sebagai pertahanan terhadap dirinya. Keadaan yang dialami Krystal sama, cuman dalam kasusnya ingatan yang menyakitkan ini terkunci tidak bisa di akses.”

“Dan…. Dan ada menyimpulkannya setelah mengetahui ia bunuh diri?”

Dokter Kim kembali mengangguk, “Ketika orang memutuskan untuk bunuh diri, pasti sesuatu yang besar telah terjadi kepadanya. Bagaimanapun juga, meskipun negeri kita masih membudidayakan bunuh diri, hal ini tetap menjadi langkah yang besar.”

Sehun langsung berdiri dari kursinya, “Saya tidak bisa membantunya.”

Ya. Dia tidak bisa membantunya. Karena dialah yang menyebabkan Krystal bunuh diri. Ia tidak bisa. Rasa takut kembali menyelimuti dirinya.

Dokter Kim juga iktu berdiri, “Tenanglah nak… Saya mengerti jika Anda belum siap menghadapi hal ini-“

Sehun menggelengkan kepalanya. Dokter Kim memegang tangan Sehun, “Tenanglah… Anda tidak harus memutuskannya sekarang. Saya memberikan Anda waktu atau saya harus membicarakan ini dengan orangtua Anda dan Krystal.”

Sehun menghela nafasnya, “Tidak usah. Berikan saya waktu untuk berpikir.”

Dokter Kim tersenyum dan menganggukan kepalanya, “Pikirkanlah dengan baik-baik nak….”

.

.

.

Jam menunjukan pukul satu malam. Semua orang sudah terlelap. Kota Seoul menjadi sangat damai pada jam-jam segini.   Hanya beberapa mobil yang melintas. Suara angin lembut terdengar.

Tapi Sehun masih terjaga. Dia tidak bisa terlelap. Hatinya resah tak ada satu tempat tersisa untuk ketenangan. Segala macam hal-hal yang buruk melintas di otaknya, dan semuanya bergemuruh di dalam sanubarinya.

Apa yang harus ia lakukan?

Ia tidak bisa lari dari masalah ini.

Tapi ia takut untuk menghadapinya.

Oh, bukannya ia pengecut?

Ya, ia adalah seorang pengecut.

Jika ia bukan seorang pengecut, ia tidak akan berada disini.

Mendapatkan kasih sayang dari orang tua Krystal padahal dia membunuh anak mereka.

Sehun mengusap mukanya kasar. Sepertinya dia tidak akan menemukan penyelesain malam ini.

.

.

.

“Maaf saya terlambat.”

Sehun segera menoleh, dengan lusuh diapun tersenyum, “Tidak apa-apa.”

Bibi Kwon mengangguk dan duduk di depan Sehun. Ia menatap Sehun dengan aneh, “Anda tidak apa-apa Tuan muda?”

Sehun menggelengkan kepalanya, “Entahlah.”

Bibi Kwon hanya mengangguk. Pura-pura tidak peduli padahal berbagai pertanyaan melintas di dalam benaknya. Kenapa Tuan muda terlihat sangat… Sangat tidak bersemangat? Lingkaran mata, rambut acak-acakan.

“Saya harap saya tidak menganggu pekerjaan Anda.” Suara Sehun kembali menghentakan Bibi Kwon.

Bibi Kwon kembali mengangguk, “Tentu saja tidak. Ada apa?”

“Ini tentang Krystal.”

Dan entah kenapa perasaan tidak enak kembali menyerang. Walaupun Krystal sudah sadar, tetapi tetap saja keadaannya masih simpang siur. “Ada apa dengan Nyonya muda?”
“Krystal mengalami Repressed Memory. Keadaan dimana dia tidak bisa mengingat kejadian tertentu yang dianggap menyakitkan. Ini disimpulkan oleh para dokter karena tidak ada kerusakan pada otaknya tetapi ia mengalami hilang ingatan. Dan juga karena ia melakukan bunuh diri. Yang terakhir adalah dia melupakan masa-masa SMAnya.” Sehun terdiam sejenak, “Bibi tahu bukan alasan dia bunuh diri dan juga apa yang terjadi ketika masa SMA Krystal. Tapi bukan itu yang akan saya bahas.” Sehun kembali terdiam.

Bibi Kwon semakin khawatir. Apa yang akan dibahas Sehun? Apakah Sehun akan melakukan hal-hal yang aneh? Sama seperti Nyonya mudanya?

“Krystal akan melakukan perawatan. Saya ingin dia mengingat dengan perlahan, tidak ada unsur rasa sakit. Bagaimanapun juga mengembalikan sebuah ingatan memberikan rasa sakit yang luar biasa. Apalagi membiarkan ingatan menyakitkan kembali hadir. Maka dari itu, saya mohon kepada Anda agar menyembunyikan buku diary Krystal.”

.

.

.

Krystal tidak dapat berhenti untuk tersenyum. Ia merasa sangat bahagia. Hari ini, dia diizinkan untuk pulang ke rumah. Berbagai macam hal-hal sudah terlintas di otaknya. “Krystal-ssi…” Dokter Kim tersenyum hangat kepada Krystal.

Krystal membalasnya, “Anyeonghaseyo Dokter…”

“Bagaimana keadaan mu? Sudah siap untuk pulang?”

Krystal menganggukan kepalanya, “Tentu saja. Aku sudah bosan di rumah sakit.”

Dokter Kim tertawa, “Ya, saya mengerti apa maksud Anda. Siapa yang betah tinggal di sini?”

“Hai, Krys!”
Sapa riang membuat Dokter Kim dan Krystal menoleh. Dokter Kim sedikit terkejut tetapi ia segera menampilkan senyuman ramahnya. Sedangkan Krystal semakin tersenyum lebar.

“Sehunniee..”

Sehun ikut tersenyum dan melambaikan tangannya.

“Sedang apa kau disini?” Tanya Krystal riang. Dia benar-benar tidak dapat menghilangkan senyum kebahagiaan dari wajahnya.

“Menjemput mu. Kau ingin pulang bukan?”

Krystal kembali menganggukan kepalanya, “Iya. Kau menjemput ku? Apa ini tidak merepotkan mu?”

“Sepertinya saya akan keluar untuk berbicara dengan orangtua Anda.” Dokter Kim memotong pembicaraan Krystal dan Sehun. Ia menatap Krystal dan Sehun bergantian, tersenyum kepada mereka, dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan.

Sehun mengangkat kedua bahunya, “Kenapa aku harus merasa keberatan?”

Kemudian Dokter Kim mendengar suara tawa Krystal dan beberapa kata yang tidak terlalu dapat ia dengar karena jarak tidak dekat. Dokter Kim belum menghilang dari kamar, ia masih berada di depan pintu, dan dia dapat dengan jelas melihat Krystal dan Sehun berbicara.

“Dokter Kim!” Dokter Kim menoleh. Ibu Krystal telah datang. Lagi-lagi dia tersenyum dan menjabat tangan Ibu Krystal. Mereka berbicara tentang apa yang harus ibu Krystal lakukan ketika Krystal di rumah. Sebelum perawatan Krystal dimulai.

Ketika Ibu Krystal pergi menjauh untuk mengangkat telepon, Dokter Kim kembali mengarahkan pandangannya ke Krystal dan Sehun. Krystal sedang melihat sesuatu dari hp dan Sehun, Sehun menoleh dan sedang menatapnya. Dan laki-laki itu tersenyum kepada Dokter Kim dan menganggukan kepalanya.

Sehun menganggukan kepalanya? Ia menyetujui permintaannya? Dia tidak bodoh. Dia yakin sekali jika Sehun menyetujui permintaannya. Dokter Kim mengulas senyumannya. Dan senyumannya terukir arti yang mengucapkan terimakasih.

“Ah, tadi sampai mana Dokter Kim?”

Dokter Kim kembali menoleh, “Ah, sampai makanan bukan?” Dan ia kembali menjelaskan kepada Ibu Krystal.

.TBC.

Flipped (Chapter 5)

tumblr_nxtutvlegp1uckjo7o1_500

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

***

Pungguk Merindukan Rembulan.

.

.

.

Langit mulai mendung.   Beberapa orang di taman mulai memasuki gedung rumah sakit. Menghindar dari serbuan rintik hujan. Kilatan muncul. Disusul dengan suara menggelegar-petir. Sehun melihat semua ini dari jendela kamar Krystal. Ia tersenyum muram. Dia menginginkan jika hari ini cerah. Matahari bersinar terang. Tapi itu seperti mengharapkan angin malam berhembus dari laut ke daratan. Tidak mungkin.

Sama…

Sama seperti ia mengharapkan Krystal bangun.

Flashback start~

          Semua murid kelas XII berteriak senang. Hari Chuseok membuat mereka seperti itu.   Walau cuman satu hari, tapi siapa yang tidak senang?

          Kai memasukkan buku-buku pelajarannya. Ia saat itu terlihat sangat ganteng, karena senyuman mempesonanya. Senyuman yang muncul karena dia telah memikirkan bagaimana menghabiskan satu hari itu. Disebalahnya, Sehun juga seperti itu. Sudah membayangkan bagaimana besok. Satu hari tanpa ia harus belajar. Pasti menyenangkan bukan?

         Kai menepuk bahu Sehun, “Ayo kita ke café Kyungsoo.”

         Sehun menganggukkan kepalanya, “Sudah lama kita tidak kumpul-kumpul bareng.”

        “Kau benar.”

        Mereka berdua kemudian keluar dari kelas. Dengan santai berjalan menuju parkiran mobil.

………

         Sehun mengambil handphonenya. Melihatnya sejenak kemudian menjawab.

        “Nde Oemma.” Sehun diam mendengarkan Oemmanya. Raut wajah kekhawatiran muncul,    “Kenapa? Ada apa?” Oemma Sehun berbicara lagi. “Baiklah. Sehun akan kesana.”

        “Kenapa?” Tanya Kai yang melihat kekhawatiran Sehun.

        “Aku harus pergi sekarang. Ada urusan mendadak.”

        Kai belum menjawab. Sehun sudah pergi meninggalkannya. Kemudian Kai melihat Sehun dan mengangkat kedua bahunya tidak peduli.

.

.

.

        Sehun memasukki rumah sakit dengan langkah yang terburu-buru. Dengan tergesa-gesa ia menuju kamar Krystal.

        “Ada apa? Apa yang terjadi?” Tanya Sehun ketika ia melihat ibunya. “Oemma ada apa?” Tanyanya lagi karena ibunya hanya menatap dengan tatapan kosong.

       “Masuklah… Masuklah ke kamar Krystal.”

        Krystal kenapa?

        Sehun mengangkat kedua tangannya yang telah bergetar dan meletakan ke dua bahu ibunya, “Apa yang terjadi Oemma?”Tanya Sehun dengan suara yang serak.

Oemma Sehun mengeluarkan tangisan kecil. Dengan terbata-bata ia memegang kedua tangan Sehun yang sudah dingin. Dengan berbisik ia mengatakan sesuatu kepada Sehun.

       Dan sungguh. Kata-kata itu membuat Sehun merasa jika hidupnya telah gagal. Sehun terduduk ke lantai. Ia menangis. Menangis untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

.

.

.

        Sehun terduduk di taman rumah sakit dengan tatapan yang kosong. Ditemani dengan perasaan bersalah yang terus menderanya.

“Kemungkinan Krystal sadar sangat sedikit… Dokter sudah menyarankan agar peralatannya dicabut….”

       Sehun mendesis kesal. Mengingat perkataan ibunya.

“Dan orangtua Krystal sudah setuju…”

        Dan perkataan tadi, perkataan yang mengatakan jika orangtua Krystal setuju membuat air matanya kembali turun. Orangtuanya telah menyerah… Tapi kenapa? Tapi, kalau dipikir-pikir Sehun tidak punya kuasa untuk menyanggah omongan orangtua Krystal.

       Sehun menghela nafas. Sial! Sial semuanya! Dia menghapus mukanya dengan kasar. Apa yang harus ia lakukan? Pasti ada yang bisa ia lakukan bukan? Tapi apa?

       “Tuan muda Sehun?”

       Suara Bibi Kwon membuat Sehun menoleh. Sehun menarik bibirnya sedikit, sebagai pertanda ia tersenyum.

       “Bibi… Bibi juga datang?”

       Bibi Kwon duduk di sebelah Sehun. Ia mengangguk. “Anda sedih mendengar kabar ini?”

       Sehun menoleh, “Apa Anda tidak sedih? Anda selalu bersama Krystal sejak ia kecil.”

       Bibi Kwon membuang nafasnya, “Tentu saya sedih.”Jawabnya dengan nada yang teramat sedih. “Tapi Anda pasti juga sedih. Anda teman nyonya muda sejak kecil. Terlebih Anda juga..” Bibi Kwon menghentikan kata-katanya. Dia baru teringat jika dia mengetahui sesuatu yang seharusnya tak boleh diketahui, yaitu Sehun yang menyukai Krystal.

       “Terlebih apa Bi?” Tanya Sehun yang tengah menatap Bibi Kwon dengan tatapan penasaran.

        Bibi Kwon langsung menggeleng, “Tidak apa-apa. Saya hanya salah berbicara.”

        Sehun menatap Bibi Kwon dengan tatapan tidak percaya. Diam-diam Bibi Kwon menelan ludahnya. Gawat!

        “Bi..”

        Bibi Kwon menggigit bibirnya ketika Sehun meminta penjelasan lebih. Sehun masih menatap Bibi Kwon. Dan dilain pihak Bibi Kwon masih berusaha memutar otaknya, mencari alasan.

        “Ah.. Ah..” Bibi Kwon tidak bisa mencari alasan yang tepat. Sedangkan Sehun menatap dengan tatapan yang semakin dalam. “Baiklah.” Kata Bibi Kwon menyerah.

       Bibi Kwon menarik nafasnya dan menghembuskan dengan perlahan, “Saya… Saya tidak sengaja mendengarnya. Sungguh! Saya tidak sengaja mendengarnya!”

       “Mendengar apa Bi?” Tanya Sehun tidak mengerti.

       Bibi Kwon meneguk ludahnya, “Mendengar ketika Anda bilang ke Nyonya muda jika Anda mencintai nyonya muda.” Bibi Kwon terdiam sebentar. Ia benar-benar gugup sampai susah bernafas, “Saya sungguh tidak bermaksud mendengar perkataan Anda. Hari itu saya ingin menjenguk nyonya muda. Dan ketika saya masuk saya mendengar perkataan Anda. Sungguh saya tidak bermaksud lebih! Dan saya benar-benar tidak sengaja!” Jelas Bibi Kwon dengan nada ketakutan.

       Sehun tersenyum geli. Entah kenapa dia merasa tenang Bibi Kwon mengetahuinya. Seperti dia mempercayai Bibi Kwon dan yakin Bibi Kwon tidak akan membocorkannya. “Tenang saja Bi. Saya tidak akan membunuh Anda karena hal itu.”

       Bibi Kwon menghela nafasnya. Ia lega. “Terimakasih Tuan muda.”

       Sehun hanya mengangguk. Hp Sehun berdering. Ada sms masuk. Sehun melihatnya. Dari Oemma.

“Sehun cepatlah ke sini. Kau tidak ingin memberi salam perpisahan kepada Krystal?”

        Sehun menghembuskan nafasnya. Perpisahan?!

        “Bi, kurasa aku harus pergi duluan. Aku akan ke kamar Krystal terlebih dahulu.” Sehun terdiam sejenak, “Untuk memberi salam perpisahan.” Katanya lirih.

       Bibi Kwon mebulatkan matanya. Merasa tidak menyangka hal ini akan terjadi.

       Sehun membungkukan badannya sebelum pergi meninggalkan Bibi Kwon.

Flashback End~

Dan sekarang disinilah Sehun. Masih berdiam diri, belum mengucapkan sepatah katapaun kepada Krystal. Dia sedari-tadi hanya mondar-mandir, mengulurkan waktu, dan berharap Krystal tersadar sekarang juga.

       Cklek~
      Pintu ruangan terbuka. Oemma masuk ke kamar dan menatap anaknya, menatap Sehun yang hanya berdiri menatap kosong Krystal dengan prihatin.

“Waktunya duapuluh menit lagi.” Kata Oemma. Kemudian Oemma berbalik lagi, keluar dari kamar Krystal.

Sehun menghela nafasnya. Duapuluh menit lagi. Dengan gontai dia duduk di kursi dekat Krystal. Dengan perlahan, Sehun mengenggam tangan Krystal.

“Aku mempunyai janji kepada diriku. Aku akan membahagiakan dirimu.” Suara Sehun bergetar. Menahan semua rasa perih di hatinya, “tapi bagaimana aku dapat membahagiakan dirimu, jika…. Jika kau tidak sadar Krys…” Suara Sehun berubah menjadi tangisan.

“Aku tahu, aku tahu, aku berbuat suatu yang salah. Kau boleh marah kepadaku. Kau boleh tidak ingin melihatku lagi. Tapi bangunlah…..” Kata Sehun bersusah payah. Ia bangkit dari kursi dan memeluk Krystal. “Bangunlah… Kumohon…. Bangunlah…”

Suara tangisan Sehun semakin membesar. Pelukannya terhadap Krystal semakin erat.

Dan…

Suara dari layar monitor Krystal menjadi berubah. Sehun tercekat.

Tangisan Sehun semakin menjadi-jadi, “Jangan pergi. Jangan pergi.”

Sebuah tangan menepuk bahu Sehun, “Tidak! Tidak! Jangan sekarang! Kumohon! Tunggu….. aku tidak ingin meninggalkannya sekarang!”

.TBC.

Flipped (Chapter 4)

large

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

***

Impian di Atas Segala Impian

“Baiklah.” Seru Sehun pelan. Sehun menatap Bibi Kwon, “Aku akan mengabulkannya. Ketika dia sadar, ketika dia sudah pulih, aku akan memutuskan pertunangan ini. Aku berjanji akan membuatnya bahagia, tidak akan menyulitkan dirinya lagi, dan tidak akan membuatnya sedih ketika ia tersadar.” Lanjut Sehun.

.

.

.

Hari-hari berganti. Sudah tiga bulan semenjak kejadian dimana ia berjanji akan mengabulkan permintaan Bibi Kwon. Menyesal? Tidak juga. Bukankah itu yang Sehun inginkan? Terlepas dari Krystal.

Hari ini, tepat satu tahun kejadian itu. Kejadian yang akan terus di ingatnya. Orangtua Krystal mengajak makan malam keluarganya. Tentu saja keluarga mereka tidak dapat menolaknya dan Sehun harus ikut. Makan malam yang sunyi. Semuanya diam. Berbicara hanya sekali-kali. Terbalik ketika dulu, semuanya sibuk berbincang-bincang. Yah, walaupun hal yang mereka bincangkan sama sekali tidak di sukai oleh Sehun.

Malam beranjak naik. Sehun mendesah. Para orangtua- orangtua dirinya dan Krystal masih asyik berdiskusi. Berapa lama lagi mereka akan berdiskusi? Sehun melihat jam tangannya, sudah jam setengah sembilan malam. Sehun sudah mengantuk. Apa yang harus ia lakukan? Tentu dia sudah mati kutu harus menunggu di taman.

“Permisi…” Suara lembut dari belakang membuat Sehun menoleh.

“Oh… Bibi Kwon. Sudah lama tidak bertemu dengan anda.” Sehun berkata sambil membungkukkan badannya.

Bibi Kwon terdiam sesaat. Merasa aneh dengan sikap Sehun. “Oh… Ya. Sudah lama.” Akhirnya Bibi Kwon menjawab. “Jadi…” Bibi Kwon berbicara lagi, “Ada acara dengan Tuan dan Nyonya?”

Sehun mengangguk. “Ya. Acara makan malam.”

“Sudah lama Anda tidak ke sini. Saya rasa terakhir kelas tiga SMP.”

Sehun terdiam. Tidak menanggapi omongan Bibi Kwon. Hanya tersenyum kecil.

Bibi Kwon menggaruk kepalanya. Sepertinya dia terlalu cepat akrab kepada Sehun. Akhirnya Bibi Kwon berkata, “Saya pikir sebaiknya Anda masuk ke dalam rumah. Sudah mau hujan.”

Sehun menoleh ke Bibi Kwon. Kemudian menatap langit kembali. “Saya rasa Anda benar. Saya permisi dulu.” Sehun lagi-lagi membungkukkan badannya dan berjalan masuk.

Sehun berjalan santai menuju ruang makan tadi. Sepertinya sudah cukup lama dia di luar, setelah orangtuanya dan orangtua Krystal mengusir dirinya. Katanya ada hal yang harus dibicarakan oleh orangtua. Sehun terhenti di depan ruang makan. Para orangtua masih mengobrol. Tetapi Oemma Krystal tersadar dan bilang sesuatu sehingga yang lain melihat ke arah Sehun.

“Apa yang Sehun lakukan disini?” Oemma Sehun bangkit dari tempat duduk. “Kami belum selesai berdiskusi.” Lanjutnya.

“Sebentar lagi akan hujan.” Jawab Sehun dengan tatapan bingung. Berbagai pikiran mulai menyergapinya. Kemudian Sehun menguap. Rasa mengantuk sudah menerjang dirinya.

“Ah… Bagaimana jika kamu ke kamar Krystal saja? Kami belum selesai berdiskusi.”

Sehun hanya mengangguk mendengar perintah Oemma Krystal. Sehun membungkukkan badannya dan kemudian berjalan menuju kamar Krystal.

       Trek! Sehun masuk ke kamar Krystal. Aroma Lily yang menusuk menerjang penciuman Sehun. Sehun mendesah. Krystal menyukai bunga ini. Sangat menyukainya.

Sehun memandang ke sekeliling kamar ini. Kamar bewarna Baby Blue. Satu tempat tidur yang besar. Satu cermin di depannya. Satu lemari yang juga besar. Tak lupa meja belajar Krystal. Juga ada rak buku, meskipun di rak itu juga terdapat beberapa barang selain buku. Sangat berbeda ketika terakhir kali dia ke sini. Dan terakhir kali itu ketika dia kelas 3 SMP. Sudah sangat lama.

Kaki Sehun melangkah ke rak buku. Terdapat banyak novel disana. Oh, ya, gadis ini sangat menyukai novel. Kemudian foto-foto Krystal. Ada foto Krystal bersama dirinya, Sehun ingat hari itu. Hari dimana kunjungan ke museum pengawetan hewan. Mereka berdua berfoto di depan beruang yang di awetkan. Kemudian foto di sebelahnya, foto acara perpisahan SD, Krystal menatap kamera dan tersenyum manis. Oh…. Betapa Sehun merindukan senyuman manis itu. Sedetik kemudian Sehun memberengut, Apa yang baru saja ia pikirkan? Mungkin dia lelah, tidak, dia memang lelah.

Sehun memutuskan untuk langsung ke tempat tidur saja. Sehun membuka coat-nya. Menaruh coat-nya ke sembarangan tempat. Langsung menghempaskan dirinya ke kasur.

       Duk!

“Aaah..” Ringis Sehun. Dia bangun lagi, memegang kepalanya yang kesakitan. Dia menatap bantal Krystal. Kenapa sangat keras? Seperti batu. Sehun mengangkatnya. Dan merasa bahwa bantal lebih berat daripada bantal biasa. Sehun membuka sarung bantalnya. Memasukkan tangannya ke dalam. Ah….. Rupanya ada buku di balik bantal ini. Sehun segera mengambil buku tersebut.

Sehun menatap buku tersebut. Kenapa menaruhnya di bantal? Apakah memang sengaja? Untuk menyembunyikannya? Siapa saja yang mengetahuinya, selain Krystal?

Sehun menarik nafasnya dan membuka buku tersebut. Buku tersebut diberi penanda dan Sehun langsung membuka penanda tersebut. Tanggal 29 Oktober. Tanggal dimana, sehari sebelum Krystal bunuh diri. Sehun langsung membacanya.

………..

        Rabu, 29 Oktober 2014

Ada orang yang pernah bilang, kebahagiaan itu sederhana, asal melihat orang yang dicintainya bahagia, dia akan bahagia.

Hari ini, malam ini, detik ini, aku ingin mengingatnya untuk terakhir kalinya. Mengingat orang terpenting dalam hidupku. Mengingat orang yang telah memberikan pengaruh, pengaruh yang sangat besar untukku. Mengingat orang yang sangat-sangat ingin kubuat bahagia. Aku, ingin mengingat Oh Sehun, untuk yang terakhir kalinya.

Aku bodoh bukan???? Kenapa aku masih mempercayainya? Kenapa aku masih menggantungkan harapan kepadanya?? Kenapa aku masih mencintainya???? Padahal bukti sudah terpampang sangat jelas, dia selalu menyakiti ku. Selalu membuatku sedih. Tapi kenapa???????? Aku lelah. Lelah dengan belengu cinta ini. Hari-hari ku hanya dilewati oleh dua hal, ingin membuat ia melihatku lagi, dimana itu akan membuat diriku bahagia. Atau menyerah, membiarkan dirinya tidak memperhatikanku, berhenti merecokkinya. Dan jika melakukan hal itu, dia akan bahagia. Itulah yang setidaknya ia selalu katakan padaku, Menjaulah! Maka aku akan bahagia!!!

Tapi, malam ini, aku tidak memikirkan apa-apa lagi. Aku sudah senang. Aku tidak lagi gelisah. Aku, aku sudah memutuskannya. Dan kali ini aku yakin, jika apa yang kulakukan akan membuatnya bagaia dan aku juga bahagia. Karena bahagia itu melihat seseorang yang ia cintainya bahagia.

Untuk terakhirnya, aku akan mengingatnya. Hari itu, dua tahun yang lalu, sebuah kejadian yang belum pernah ku tulis di buku ini.   Aneh, karena ku pikir-pikir kejadian itu merupakan sebuah kejadian terindah yang pernah terjadi di hidupku.

Dua tahun yang lalu, di sebuah sore ulang tahun Eunjin, anak tunggal dari Keluarga Song, kolega bisnis keluargaku, di taman yang indah, taman dimana bunga-bunga selalu bermekaran sepanjang tahun karena di taman itu ditanami oleh empat jenis bunga. Pertama bunga yang selalu mekar di musim semi. Kedua bunga yang selalu mekar di musim panas. Ketiga bunga yang selalu mekar di musim gugur. Dan yang keempat adalah bunga yang mekar di musim dingin. Semerbak wanginya bunga di taman itu, melengkapi indahnya sore itu. Waktu itu, aku diajak oleh Seungyeon Oenni ke taman itu, Seungyeon Oenni bilang jika di taman itu banyak sekali bunga-bunga yang indah dan ia ingin melihatnya, tetapi dia takut jika sendirian ke sana. Saat sampai di taman, banyak orang di taman itu dan Seungyeon Oenni mendesah karena dia pikir tidak ada orang yang ada di taman ini kecuali dirinya. Dia kemudian bilang kepadaku jika kau bisa pulang, karena ia tahu aku tidak menyukai taman. Aku ingin pulang, tetapi aku melihat Sehun sedang berbincang-bincang dengan Luhan, salah satu teman akrab Sehun. Sehun berbalik kemudian dia menatapku terkejut, seperti tidak menyangka jika aku berada di sana. Aku tersenyum, melambaikan tangan ke arahnya dan Sehun kemudian tersenyum dan membalas lambaian tanganku. Sehun kemudian berjalan ke arahku kemudian bertanya, kenapa aku datang ketaman? Padahal aku sangat tidak suka dengan taman. Aku tertawa dan membalas jika aku hanya menemani Seongyeon Oenni. Sehun tersenyum dan mengajak aku untuk kembali ke tempat pesta dan aku mengangguk. Saat sedang menuju ke tempat pesta, baru beberapa langkah, aku terjatuh. Ini karena sepatu yang kugunakan …… Kakiku rasanya sakit sekali dan aku tidak bisa berdiri. Sehun yang berada di sampingku terlihat panik karena aku berteriak kesakitan, sebenarnya aku tidak berteriak tetapi mengaduh kesakitan. Sehun membantu aku berdiri, tetapi aku malah terjatuh lagi. Akhirnya…. Akhirnya Sehun mengendong diriku. Astaga…. Hebat bukan? Bedanya dirinya yang dulu dan sekarang. Dan diriku juga lupa menulis hal ini. Yang aku tulis di buku ini adalah hal yang terjadi sehari sesudahnya, tanggal 14 maret yaitu ketika aku harus beristirahat selama dua minggu di rumah karena kakiku yang terkilir. Dan aku menumpahkan kekesalanku pada hari itu dan lupa jika aku mengalami hal yang sangat menakjubkan kemarinya.

Sebenarnya, ini masih menimbulkan pertanyaan kepadaku. Kenapa ia berubah. Tetapi, aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika malam ini aku tidak akan memikirkan apapun lagi. Semuanya telah kutinggalkan. Semua orang memang selalu berubah dengan sebuah alasan. Karena sebuah keadaah yang memaksanya untuk berubah. Mungkin Sehun berubah karena sebuah alasan. Tetapi…. Tetapi, aku berharap jika dia dapat mengingat sebuah alasan lain, dimana alasan tersebut dapat membuatnya bertahan, untuk tidak berubah.

………..

        Sudah. Tulisannya berakhir di situ. Di coretan tersebut. Sehun menatap buku tersebut, kemudian dengan sekali hentakan dia merobek lembaran tanggal 29 Oktober itu. Memasukkan lembarannya kedalam saku coach-nya. Terakhir, menaruh kembali diary Krystal kedalam bantal. Sehun kemudian terdiam, ia terlihat berpikir. Tiga menit kemudian Sehun sudah memakai kembali coat-nya. Dia mengubur rencananya untuk tidur di kamar Krystal dan keluar dari kamar Krystal.

       Trek!

“Sehun..” Bersama dengan Sehun keluar, Oemma berada di depannya. “Baru saja Oemma ingin membangunkanmu.”

“Aku tidak bisa tidur tadi karena pakaian ini.” Potong Sehun. Sehun tahu Oemma pasti akan mencurigai dirinya karena ia tidak tidur. Sehun selalu tidur jam setengah sepuluh malam. Selambat-lambatnya ia tidur jam sepuluh malam. Jadi Oemma pasti curiga jika jam sepuluh lebih anaknya belum tertidur. “Ayo kita pulang!” Lanjut Sehun.

       Oemma hanya terdiam dan mengangguk. Menerima alasan konyol anaknya.

Ditemani hujan yang deras, Sehun dan keluarga keluar dari rumah besar keluarga Jung. Baru tiga menit Sehun menyandarkan tubuhnya di kursi mobil, dia sudah terlelap. Oemma yang berada di samping menatap anaknya, “Aku tahu jika dirimu berbohong. Pasti kau melakukan sesuatu di kamar Krystal sehingga dirimu tidak bisa tidur.” Seru Oemma pelan kepada anaknya yang sedang lelap tertidur.

.

.

.

“Aaaaahh…” Teriak kekecewaan bercampur kesal terdengar dari kelas XII-2. Para siswa menggerutu karena guru terperfectionist mereka, Kim Seongsangnim memberikan tugas membuat rangkuman tentang buku Penciptaan Alam Semesta. Tugas itu harus dikumpulkan dua hari kemudian tepat pukul jam delapan pagi.

Sehun mendesah. Dia memang anak murid yang baik, tapi tugas ini terlalu berat.   Buku yang berisi 151 lembar halaman dan harus selesai dalam waktu dua hari?

“Aku akan mati sebelum bisa menyelesaikan rangkuman buku ini.” Keluh Kai. Wajahnya terlihat sangat lusuh. Dengan tidak semangat, ia memasukkan buku-buku pelajaran. Sangat terbalik dengan beberapa menit yang lalu. Sebelum Kim Seongsangnim memberikan tugas, muka Kai sangat bersemangat karena sebentar lagi dia bisa pulang. “Ayo kita kerjakan bersama-sama di perpustakaan.”

Sehun menatap Kai, “Aku tidak bisa.” Jawabnya. Ia kembali melanjutkan, “Aku ada urusan sehabis ini.”

Kai menghela nafas, “Urusan?” Kai mencondongkan tubuhnya ke arah Sehun. Dengan berbisik Kai berkata, “Menjenguk Krystal?”

Sehun tersenyum dan mengangguk, “Aku duluan…..” Kai menjawab dengan anggukan juga.

Sehun akhir-akhir ini selalu menjenguk Krystal setiap ada kesempatan. Setiap tidak ada pelajaran tambahan. Setiap tidak ada tugas kelompok. Astaga! Kenapa temannya lebih perhatian kepada Krystal sekarang?

.

.

.

Sehun mendesah hebat. Dia bosan. Dia lelah. Sehun menutup buku yang berjudul Penciptaan Alam Semesta. Buku yang Kim Seongsangnim suruh dirangkum. Sehun kemudian berdiri dari kursi tersebut, merenggakan tubuhnya, dan berjalan mendekat ke arah Krystal.

“Kapan kau sadar hmm?” Tanya Sehun kepada Krystal. Gadis itu masih diam. Memejamkan matanya dengan damai.

“Sudah satu tahun tiga bulan Krys…. Sudah satu tahun tiga bulan… Banyak hal yang sudah berubah. Banyak. Aku, aku sekarang sudah di kelas XII. Aku menargetkan Sungkyunkwan University atau Korea University sebagai tempat kuliahku. Aku sudah putus dengan Suzy. Sudah sangat lama. Berapa lama ya?” Sehun terlihat berpikir. Ia kemudian tertawa kecil dan melanjutkan pembicaraannya, “Aku tidak ingat kapan aku putus dengan Suzy. Tapi saat putus dengan Suzy aku merasa lega. Appa benar, dia hanya teman yang baik.”

Sehun menghela nafas kecil, “Apa kau akan mengingat diriku ketika nanti sadar? Bagaimana perasaanmu ketika melihatku lagi?”

       Tap! Tap! Tap!

Suara langkah kaki membuat Sehun menoleh. Bibi Kwon datang. Sehun tersenyum. Sedangkan Bibi Kwon menatap Sehun dengan tatapan sedikit terkejut.

Anyeonghaseyo Tuan Muda. Saya tidak menyangka dapat bertemu Anda di sini.” Bibi Kwon menyapa dengan ramah Sehun. Tak lupa, Bibi Kwon membungkukkan badannya.

Sehun membalas bungkukkan badan Bibi Kwon. “Saya juga tidak menyangka dapat bertemu dengan Anda di sini. Sudah berbulan-bulan Anda tidak menjenguk Krystal.”

“Ah, Anda selalu datang kesini?”

Sehun mengangguk, “Ya.”

“Ah, karena orangtua Anda yang menyuruh bukan?”

Sehun tertawa. “Ya. Dan aku juga mau.”

Bibi Kwon terdiam. Dia tersenyum tipis.

“Silahkan duduk bi. Saya akan melanjutkan tugas saya lagi.” Bibi Kwon mengangguk. Ia duduk di kursi yang tadi Sehun tempati.

Mata Bibi Kwon menerawang. Raut wajahnya terlihat berpikir. Apa maksudnya semua ini? Apa maksud dari perubahan perilaku Sehun? Apa maksud dari perkataan Sehun waktu itu? Perkataan tiga bulan yang lalu. Apa maksudnya?

Flashback Start~

         Bibi Kwon tersenyum kepada perawat yang menghampirinya.

         “Sini biar saya bantu membawakannya.” Kata perawat tersebut ramah. Sang perawat mengambil karangan bunga dari tangan Bibi Kwon dan Bibi Kwon mengucapkan terimakasih. Karena sejujurnya, ia sangat susah berjalan sambil membawa karangan bunga yang sangat besar ini.

       “Anda ingin menjenguk siapa di lantai ini?” Perawat tiba-tiba bertanya.

        “Ingin menjenguk Krystal Jung.” Jawab Bibi Kwon sambil tersenyum.

          “Krystal Jung? Saya rasa tadi ada orang yang juga menjenguknya. Sekitar limabelas menit yang lalu, ada laki-laki remaja yang memasuki kamar Ananda Krystal.”

       “Seorang remaja?” Perawat menganggukkan kepalanya.

Oh Sehun.

        Nama itu langsung terbesit di pikiran Bibi Kwon. Untuk apa?

        “Ah, biar saya saja yang membawa bunga ini sendirian ke dalam. Terimakasih atas bantuan Anda.”   Bibi Kwon langsung mengambil karangan bunga. Menyunggingkan Senyum.

        Perawat tersebut juga membalas senyuman Bibi Kwon.

         Dengan perlahan, seakan tidak ingin membuat suara sedikitpun Bibi Kwon masuk. Cukup susah, tetapi Bibi Kwon berhasil. Lagi-lagi, dengan perlahan Bibi Kwon menutup pintu. Ketika ia menutup pintu, ketika suara dari luar tidak lagi terdengar, Bibi Kwon mulai mendengar suara berat tersebut. Suara berat yang menggema di ruangan itu.

         “Aku…. Aku, tidak tahu jika kau menulis semua kenangan dengan diriku. Aku tidak sempat membaca semuanya, tapi aku membaca halaman terakhir…” Suara isakan kecil terdengar. Setelah dapat mengendalikan, Sehun kembali berbicara, “Aku minta maaf jika aku membaca diary mu tanpa izin terlebih dahulu. Aku hanya….” Terdengar helaan nafas, “Aku tidak menyangka dengan isi halaman terakhir. Tentang sore itu, tanggal 13 Maret, dimana ketika kau jatuh dan aku mengendong mu.   Dan tulisan mu yang berisi, ‘Mungkin Sehun berubah karena sebuah alasan. Tetapi…. Tetapi aku berharap jika dia dapat mengingat alasan lain, dimana alasan tersebut, dapat membuatnya bertahan, untuk tidak berubah’. Tulisan itu, tulisan itu menyadarkanku terhadap sesuatu hal kecil tetapi itu sangat penting. Yang pada saat itu tidak aku ingat karena aku sedang marah, sedang kesal, sehingga aku mengambil sebuah keputusan lain. Karena alasan yang membuatku marah dan kesal.

             “ Hal kecil tersebut adalah…. Adalah saat aku senang berbicara denganmu. Saat aku senang bercerita apa saja kepadamu. Saat aku senang berada di sampingmu. Saat aku menyadari, bahwa sebenarnya aku mencintaimu.”

             Bibi Kwon tersentak. Dia sangat terkejut. Dengan sederap langkah, Bibi Kwon maju, ingin melihat Sehun. Ia tambah terkejut ketika melihat Sehun yang berada di samping nyonya mudanya, menatap nyonya mudanya dengan tatapan lembut, dan salah satu tangan Sehun mengenggam tangan Krystal.

         “Aku mencintaimu….. Sungguh…. Tapi karena sebuah kejadian yang membuatku lupa terhadap perasaanku sendiri. Membuat diriku mengabaikan perasaanku terhadapmu. Padahal jika aku memahami perasaanku sendiri, aku tidak akan berubah.” Sehun kemudian tertawa hambar, “Tapi itu semua sudah terlambat. Sudah terlambat bagiku untuk menyatakan perasaanku padamu…. Lihatlah, karena aku tidak memahami perasaanku sendiri, dirimu ada di sini. Di ruangan ini. Juga, karena alasan utamanya adalah karena aku terlalu pengecut. Aku sangat pengecut Krys…. Aku sangat pengecut karena tidak dapat mengakui bahwa aku yang menyebabkan dirimu di sini. Aku menyembunyikan fakta. Berlagak seperti aku tidak tahu apa-apa. Aku seorang pengecut dan juga brengsek!

Sedangkan dirimu…. Kau terlalu baik untukku… Kau adalah seorang yang hebat karena lebih mementingkan diri orang lain. Mementingkan kebahagian orang lain. Aku adalah seorang yang brengsek, yang tidak tahu diri, yang pengecut! Seseorang yang baru tersadar ketika semuanya sudah hancur. Maka dari itu, ketika kau sadar kembali, aku akan memutuskan pertunangan kita. Aku akan melepaskan dirimu.

        Ini sebagai perminta maaf ku. Ini sebagai penebus kesalahanku yang telah membuat dirimu menderita….. Aku…. Aku hanya punya satu impian diatas segala-galanya, membalas kebaikkan dirimu dengan cara memastikan dirimu bahagia. Karena bahagia itu melihat seseorang yang kau cintai bahagia.” Sehun kemudian bangkit dari kursinya, mengelus pelan pipi Krystal. Ia sedikit menunduk dan kemudian mencium lembut bibir Krystal. “Terimakasih untuk segalanya…”

         Bibi Kwon langsung mundur. Dia begitu terkejut. Segera dia membuka pintu dan keluar. Dengan cepat, tanpa membuang waktu, Bibi Kwon berlari ke lift, berharap ia segera turun dari lantai ini.

Flashback End~

“Bi… Bibi…” Bibi Kwon menoleh ketika Sehun memanggilnya. Orang dihadapannya menatapnya dengan alis berkerut.

“Bibi kenapa menangis?” Tanya Sehun dengan nada khawatir.

Menangis? Bibi Kwon meraba mukanya, benar. Benar dia menangis.

“Ah…”   Bibi Kwon terperangah. Bingung ingin menjelaskan apa. “Saya pergi dulu. Maaf saya harus pergi.” Tanpa menunggu jawaban dari Sehun. Tanpa membungkukkan badan terlebih dahulu, Bibi Kwon bangkit dan keluar.

.TBC.

Karakter Sehun disini memang menyebalkan.  Awalnya mau bikin karakter Sehun gak menyebalkan seperti ini.  Jadinya gini….  Yang sabar ya….

Dan terimakasih sudah mau membaca tulisan saya ^^

Flipped (Chapter 3)

Flowers (24)

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

***

Permintaan Kedua: Harapan Krystal

.

.

.

Sehun menyandarkan tubuhnya di dinding kelas. Dia menatap serius Suzy, “Aku tidak bercanda.. Aku benar-benar ingin putus denganmu.”

“Tapi kenapa? Apa aku berbuat salah padamu?”

Sehun menggeleng, “Tidak. Aku…. “ Sehun menghembuskan nafasnya, “Akhir-akhir ini aku sedang banyak masalah. Aku butuh menyelesaikan masalahku satu-satu.”
“Jadi kau menganggapku sebagai masalah?” Suzy memotong omongan Sehun.

“Tidak. Tapi dirimu berkaitan dengan masalahku.”

Suzy menatap Sehun tidak percaya. Dia tidak begitu saja menerima alasan Sehun, “Aku tidak mempercayainya. Pasti ada alasan yang lebih rumit!”

Sehun menghela nafas, “Ya. Ada alasan yang lebih rumit. Tapi aku tidak bisa memberitahunya.”
Suzy mendekatkan diri ke arah Sehun, “Katakan kepadaku Oppa.. Mana tahu aku bisa membatumu….”
Sehun menghela nafasnya. Ia terdiam. Ia terlihat memikirkan sesuatu. “Baiklah. Aku telah bertunangan…”

Suzy menatap Sehun dengan alis terangkat. Sedetik kemudian ia tertawa, “Sebegitunyakah dirimu ingin putus denganku Oppa? Tidak adakah alasan yang lebih bagus dari pada itu?” Sehun menatap Suzy tajam. Tentu saja tidak. Sehun telah mengatakan yang sebenarnya.

“Baiklah,” Suzy berbicara kembali, “Dengan siapa dirimu bertunangan?” Sehun terdiam. Dengan siapa? Jika ia bilang Suzy tidak akan percaya. Siapa yang akan percaya dengannya? Mengetahui bagaiamana sikap dia kepada Krystal.

“Ayo dengan siapa?” Tanya Suzy yang sudah tidak sabaran, “Jangan-jangan dengan fans nomor satu mu itu hah? Dengan Krystal Jung?”

“Ya.” Sehun mengucapkannya tanpa berpikir. Tidak ada salahnya mengatakannya. Terserah jika orang-orang ingin percaya atau tidak.

Suzy melongo, “Kau bertunangan dengan Krystal?!” Suzy tertawa, “jika begitu kenapa kau berpacaran denganku? Kenapa diam saja ketika dia di-bully olehku? Kenapa? ” Suzy berhenti sejenak untuk menarik nafas, “Baiklah… Kita putus.”
Sehun menganggukkan kepalanya, “Terimakasih…”

“Untuk?”
Sehun tersenyum lembut ke Suzy, “Terimakasih untuk dua tahun ini. Juga, terimakasih karena sudah ingin putus denganku.”

.

.

.

Bibi Kwon menatap Nyonya mudanya dengan tatapan sedih. Kapan Nyonya mudanya akan tersadar? Sudah tiga bulan ini Bibi Kwon rutin mengunjungi Krystal . Tiga bulan ini juga dia tidak melihat orang sok sedunia-Oh Sehun mengunjungi Krystal sejak Sehun meninggalkannya ketika menangis. Lagi pula kenapa dia mengharapkan Sehun mengunjungi Krystal? Sudah bagus orang bernama Sehun itu tidak mengunjungi Krystal lagi.

Trek! Nyonya Jung terlihat masuk kedalam ruangan. Ia langsung tersenyum melihat Bibi Kwon, “Bibi tidak makan siang terlebih dahulu? Sudah waktunya makan siang dan sebaiknya Bibi makan terlebih dahulu.”

Bibi Kwon tersenyum lembut, “Saya tidak lapar Nyonya. Saya akan makan jika saya ingin.”

“Makanlah terlebih dahulu. Sudah dari pagi anda disini bukan? Sekaligus refreshing… Tidak baik juga di sini terus-menerus. Biarlah saya menjaga Krystal selagi anda makan.”

Bibi Kwon tersenyum kemudian mengangguk. Tidak mungkin lagi ia menolak perintah dari Nyonya-nya. Ini adalah bahasa halus agar dia makan terlebih dahulu. Bibi Kwon tak lupa membungkukkan badannya sebelum pergi.

Ia mendesah.   Menatap kosong ke sekeliling ruangan rumah sakit. Dengan langkah gontai, Bibi Kwon langsung menuju kantin yang terletak di lantai yang paling bawah. Ia memesan ramyun untuk makan siang. Ia meminta ramyunnya di bungkus. Rencananya ia akan makan di taman. Mungkin Nyonyanya benar, tidak baik juga ia terus-terusan di dalam ruangan yang sama.

“Ini pesanannya.” Seorang perempuan berumur 20-an menyerahkan satu kantong plastic ramyun. Bibi Kwon menerimanya dengan senyuman. Dia berbalik. Berbalik menuju taman. Tetapi langkahnya terhenti ketika dia melihat Oh Sehun. Melihat Oh Sehun yang sedang bersama seorang perempuan. Mereka menggunakan seragam sekolah yang sama. Dan namja itu sedang tersenyum lembut kepada perempuan itu.

.

.

.

Sehun tersenyum setengah hati melihat Suzy yang mengajaknya untuk berbicara di taman rumah sakit. Dia menghela nafas. Siapa sangka dia akan menemukan Suzy disini?

Sejak dia memutuskan Suzy, hubungan mereka bisa dibilang biasa-biasa saja. Mereka tidak saling benci-membenci. Malah satu bulan ini Suzy sibuk mengejarnya. Suzy ingin kembali lagi bersamanya. Tentu saja Sehun menolak hal itu. Terlalu banyak masalah yang ada dan dia tidak ingin menambah masalahnya lagi.

Tak disangka dia bertemu Suzy disini. Sehun teringat jika kakeknya Suzy sedang dirawat. Tapi dia tidak menyangka kakeknya dirawat di rumah sakit yang sama dengan Krystal. Akhirnya, dia tidak dapat menghindar lagi dari Suzy.

“Ku dengar Oppa akhir-akhir ini sibuk.” Suzy membuka percakapan ketika mereka sudah sampai di taman.

“Tidak juga.” Jawab Sehun pendek.

Suzy menarik nafasnya, “Aku…”

Sehun langsung memotong, “Aku akan menjawab tidak jika kau ingin berbalikkan lagi.”

Suzy tersenyum miris mendengar omongan Sehun, “Tidak. Aku tidak ingin berbicara itu.”

“Ingin berbicara apa?”

Suzy kembali menarik nafas, “Myungso menyatakan perasaannya kepadaku. Aku hanya bingung dengan perasaanku.”

“Apakah kau menyukai Myungso?” Sehun melipat kedua tangannya.

Suzy mengangguk, “Kurasa. Tapi aku juga masih belum bisa melupakan Oppa.”

“Kurasa? Kau sepertinya tidak yakin.”

“Aku merasa seperti ketika berpacaran denganmu. Menunggu sms-nya. Merasa senang ketika berbicara dengarnya, bukan mendengar suaranya. Selalu mengingatnya. Tapi aku… Ya, Oppa pasti tahu apa yang akan ku katakan.”

“Dengar, aku tidak ingin memutuskan apapun. Itulah adalah pilihanmu. Kau yang menanggung akibatnya.   Lagipula itu bukan urusanku.” Sehun menjawab dengan nada yang tegas.

Suzy menatap Sehun dengan tatapan memelas, “Tidak bisakah Oppa berkata, aku senang jika kau menerimanya?”

Sehun menatap Suzy, “Aku tidak akan pernah mengatakan hal itu. Tapi aku lebih senang jika kau tidak mengharapkan aku lagi.”

“Tapi Oppa-lah yang memberikan aku harapan…” Suara Suzy berubah parau. “Oppa tahu, lupakan percakapan ini. Aku permisi dulu.” Suzy segera bangkit dan meninggalkan Sehun.

Sehun ingin meninggalkan taman ini tetapi dia menangkap jika Bibi Kwon duduk di tempat Suzy tadi duduk.

.

.

.

Bibi Kwon menghela nafasnya. Sesaat tatapannya kosong. Dia melihat makanannya. “Kau ingin anak muda? Tiba-tiba aku tidak selera makan.” Bibi Kwon memberikannya ke Sehun. Sehun memandangnya bingung, “Ku pikir Anda akan langsung marah-marah,” Kata Sehun dengan nada bingung, “tapi terimakasih. Saya sudah makan.” Lanjut Sehun lagi.

“Maaf…” Sahut Bibi Kwon pelan. Matanya masih menerawang ke bawah. Tatapannya masih kosong. “Maaf telah mendengar pembicaraanmu tadi. Aku benar-benar menyesal.”

Sehun menatap orang disampingnya dengan bingung. Ada apa dengan pelayan pribadi Krystal ini? Mengapa dia sangat aneh? Sesaat dia marah-marah ke Sehun. Menyalahkan Sehun. Kemudian merasa menyesal. Meminta maaf ke Sehun. Benar sih jika Bibi Kwon membuat Sehun kesal. Tetapi perminta maafnya bukan karena membuat Sehun kesal. Perminta maaf yang sepertinya memiliki arti yang lebih dalam.

“Saya tidak mengerti apa maksud Anda.” Kata Sehun bingung.

Bibi Kwon tersenyum kecil, “Saya…. Nyonya muda selalu mempercayai Anda. Entah kenapa. Saya juga bingung. Suatau hari, saya pernah bertanya, ‘Mengapa Nyonya Muda sangat mempercayai Oh Sehun?’ Nyonya muda tersenyum. Dengan tenang ia menjawab, ‘Aku selalu bahagia jika di dekatnya. Ia adalah orang yang ramah, lucu, baik, pengertian….. Aku mempunyai harapan jika ia adalah orang yang dapat membahagiakan aku. Aneh bukan? Tapi itulah yang aku harapkan.’ ” Terdiam. Hening. Bibi Kwon tersenyum mengingat kenangan itu.

Masih tersenyum, Bibi Kwon melanjutkan“Aku hanya tertawa ketika mendengar jawaban Nyonya Muda. Yang kupikirkan adalah, Dasar anak muda yang sedang jatuh cinta! Waktu berjalan. Ketika kalian dijodohkan aku tak bisa melupakan betapa bahagianya Nyonya Muda. Tapi setelah itu keadaan berubah. Nyonya muda masih menggantungkan harapannya kepada mu. Entah kenapa ia masih menggantungkannya. Akupun bertanya kembali, ‘Kenapa Nyonya muda masih mengharapkannya? Sedangkan ia melakukan hal yang sangat buruk kepada Nyonya?’ Nyonya muda tersenyum. Tatapan matanya sendu ketika menjawab, ‘Karena aku masih mempunyai harapan kepadanya. Harapan jika dia dapat membuatku bahagia. Entahlah bi…. Aku sendiri lelah membujuk hatiku agar melupakannya. Setelah apa yang ia perbuat kepadaku. Tapi hatiku masih yakin jika ada harapan untuknya.’ Begitulah yang Nyonya muda katakan.”

“Aku masih tidak mengerti apa maksud Anda.” Sahut Sehun yang masih bingung. Jujur, dia memang sangat-sangat bingung. Apa hubungannya dengan permintaan maaf tadi? Hanya cerita tentang Krystal yang lagi-lagi berhubungan dengan dia. “Apa hubungannya dengan perminta maaf Anda?” Tanya Sehun lagi. Tiba-tiba matanya membulat. Ya. Iya teringat kepada sesuatu. “Apakah pembicaraanku tadi mengingatkanmu dengan Krystal?”

Bibi Kwon tersenyum. Dalam hati Sehun tahu dia benar. Tapi Sehun juga bertanya-tanya. Pada bagian apa?

Bibi Kwon menarik nafas dan mulai berbicara lagi, “Perempuan tadi mengingatkan aku dengan Nyonya muda. Sama-sama mempunyai harapan kepadamu. Walau aku tidak tahu apa harapan perempuan tadi. Tapi, situasinya sama dengan keadaan Nyonya muda. Itulah yang membuatku sedih. Hal itu mengingatkanku kepada Nyonya muda.” Terdiam lagi. Hening. Sehun tidak berbicara apa-apa. Sehun tidak berkomentar apa-apa. Ia terdiam dengan pikirannya.

Bibi Kwon menoleh ke kirih. Menatap Sehun, “Mohon maaf jika ini sangat lancang. Sebagai bawahan, seharusnya aku tidak minta dirimu untuk apa-apa. Kali ini saja, kumohon kabulkanlah harapan Nyonya muda. Buatlah Nyonya muda bahagia. Tidak harus menikah dengannya. Putuskan saja perjodohan ini. Jangan membuat Nyonya muda tersiksa dengan perilaku mu yang menolak perjodohan ini. Apakah Anda bisa mengabulkannya?” Bibi Kwon menatap Sehun dalam, “Apakah Anda bisa?” Ulang Bibi Kwon.

.TBC.

Hope you enjoy it….. ^^

 

Flipped (Chapter 2)

Window (2)

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

***

Permintaan Kedua: Harapan Krystal

     Apa kalian pernah mempercayai seseorang? Sangat mempercayainya bahkan dia telah menyakiti kalian? Aku… Aku melakukan hal itu. Sejujurnya, itu adalah hal yang melelahkan. Terikat dalam belengu itu. Terjebak seberapapun kita ingin bebas. Tapi hal ini masih menyisakan pertanyaan di benakku. Kenapa aku mempercayainya? Siapakah dia?

***

     “AAARGGH.. HENTIKAN! HENTIKAN! Ku Mohon….” Perempuan berumur empat puluhan langsung berlari menuju kamar anaknya. “Sehun.. Sehunnie…” Perempuan itu mencoba membangunkan anaknya.

“Hahh.. Hahh… Hahh….” Anaknya terbangun. Nafasnya tersengal-sengal. Ibunya menatap lembut anaknya. Anaknya langsung berhambur memeluk ibunya. “Oemma.. Aku… Aku… Krystal….” Anaknya mulai menangis.

Ibunya menghembuskan nafasnya, “Tenang. Tenang Oemma ada disini…” Ibunya mengelus-ngelus punggung anaknya.

Beberapa saat kemudian tangisannya mulai terhenti, “Oemma..” Anaknya masih bersuara sendu.

“Ssst…” Oemma Sehun menenangkan dirinya. Dielus-elus kepala anaknya seperti dia sewaktu kecil. “Tenanglah… Tenanglah….”

Pagi itu, keadaan ini terus mengulang. Terus mengulang sejak kejadian enam bulan yang lalu.   Sejak Krystal memutuskan untuk bunuh diri.

.

.

.

     Tubuhnya sudah capai tetapi ia paksakan. Sebentar lagi. Sebentar lagi dia akan sampai di UGD.

     “Biarkan kami yang tangani. Mohon tunggu di luar saja.” Seorang perawat menghentikan langkah Sehun agar tidak masuk ke UGD. Sehun mendesah kemudian mengangguk.

     Sehun menoleh ketika ia mendengar suara orang berlari. Oemmanya juga Oemma Krystal.

     “Krystal… Krystal…” Terbata-bata sambil menangis. Oemma Krystal memegang kedua bahu Sehun.

     “Sedang di tangani oleh dokter.” Jawab Sehun lemah kemudian di ikuti dengan pandangan dia yang meredup dan teriakan.

.

.

.

Sehun menatap aneh Oemmanya yang ada di depan kelasnya. Ia menelan ludahnya. Mengingat tadi dia baru saja mengajak Suzy untuk ke kelas bersama. Tapi Suzy berkata Sehun duluan saja karena dia dan team cheerleader-nya ingin membahas sesuatu.

“Anak Oemma…… Kenapa begitu terkejut melihat Oemma?” Oemma memukul pelan bahu anaknya. Perempuan paruh baya tersenyum. Terlihat ia membawa bunga di tangannya.
“Ada apa Oemma datang ke sini?” Tanya Sehun bingung.

     Oemma tersenyum lebar, “Oemma ingin mengajakmu menjenguk Krystal. Ayo cepat!”

Sehun terkejut. Ingin membantah tetapi dia tahu Oemma pasti akan kesal. Sehun hanya mengangguk, ke kelas, dan mengambil tasnya.

“Pulang lebih cepat?! Bagaimana..” Kai, teman akrab Sehun langsung berhenti berbicara ketika Sehun menatapnya tajam. Kemudian Kai mengikuti arah tatapan Sehun, ke Oemma. Kai tersenyum mengerti. Kai adalah satu-satunya orang yang tahu tentang Sehun sebenarnya. Tentang Sehun yang bertunangan dengan Krystal. Tentang Sehun yang berpacaran dengan Suzy.   Tapi Kai bukan tipe orang yang suka ikut campur. Menurutnya, ia akan menyerahkan semuanya kepada Sehun karena Sehunlah pemain utamanya, yang penting dia sudah mengingatkan kepada Sehun jika Krystal sangat mencintai Sehun.

Kai tersenyum, “Ah, ingin pulang cepat? Ada masalah?”

“Tidak ada masalah.” Jawab Sehun acuh. Kai mengangguk. Temannya sangat tertutup semenjak kejadian enam bulan yang lalu. Sehun kemudian menepuk bahu sahabatnya, “Aku duluan.” Lanjut Sehun. Ia mulai melangkah, tapi langkahnya terhenti, Sehun membisikkan sesuatu ke telinga Kai, “Jika Suzy tanya kenapa aku pulang cepat, bilang jika aku ada urusan dan tidak bisa diganggu.” Kemudian ia tersenyum pendek ke arah Kai dan berjalan melewati sahabatnya. Kai hanya mengangguk.

“Kenapa lama sekali?” Decak Oemma Sehun.

“Aku hanya menyampaikan sebuah tugas kepada Kai.”

      Oemma hanya menganggukkan kepalanya.

“Oh, ya siapa Kai?” Tanya Oemma Sehun tiba-tiba. Memecahkan keheningan antara mereka berdua sejak tadi, dari sekolah hingga di mobil.          “Dia temanmu?”
Sehun mengangguk. “Kai temanku. Juga teman Luhan.”
“Benarkah?” Oemma Sehun menatap anaknya dengan tatapan tidak percaya. “Kau punya teman selain Luhan?”
Sehun menatap Oemma kesal. Kenapa Oemma selalu berpikir dia adalah orang yang tidak bisa mempunyai teman? “Tentu saja aku punya teman selain Luhan.” Sahut Sehun kesal.

Aigo…. Anak Oemma kesal.” Oemma Sehun tertawa geli. “Jika begitu lain kali kenalkan Oemma kepadanya.” Lanjut Oemma.

Sehun hanya menganggukkan kepalanya.

“Oh, ya,” Kata Oemma lagi, “setiap selasa Sehun harus mengunjungi Krystal. Itu peraturan baru dari Oemma dan telah di setujui oleh Appa.”

“Apa?!”

     Oemma mengangguk. Masih tidak melihat raut wajah anaknya yang telah berubah, Oemma berkata, “Walau sudah enam bulan, tapi bisa di hitung jari berapa kali Sehun mengunjunginya. Itupun karena Oemma juga mengunjunginya. Lagi pula, meskipun Oemma Krystal belum mengatakan sesuatu. Tapi aku yakin jika dia merasa tidak suka dengan perilakumu yang jarang mengunjungi Krystal. Seakan-akan Sehun tidak peduli dengan Krystal.”

“Itu…. Itu…” Sehun terlihat berpikir keras mencari alasan agar tidak harus menjenguk Krystal. Tapi sialnya, tidak ada ide cemerlang yang terbersit di otaknya.

“Itu apa? Apapun alasanmu tidak akan masuk akal di mata orangtua mereka. Mereka pasti berpikir jika Sehun adalah tunangan yang baik dan peduli, calon menantu yang baik dan peduli, apapun keadaan dirimu pasti Sehun akan sering mengunjungi Krystal.”

Sehun hanya terdiam menatap pemandangan. Sial!

.

.

.

Sehun menatap nanar Krystal. Menghembuskan nafasnya, jari-jarinya bergerak, dengan lembut mengelus pipi Krystal. Kebiasaan baru Sehun, menatap Krystal selama berjam-jam. Itulah yang selalu Sehun lakukan sejak ia diberi jadwal oleh ibunya. Hanya itu. Lidahnya terlalu kelu untuk berkata. Keberaniannya terlalu sedikit untuk keluar. Sebenarnya hanya empat kata yang ingin ia katakan. Empat kata.

     Trek!

Suara pintu yang terbuka membuat Sehun berdiri. Dia bertanya-tanya, Siapa yang datang? Tidak mungkin Oemma Krystal karena sekarang sedang berada di Jepang. Oemma-nya?

Sehun mengerutkan keningnya melihat yang datang. Siapa wanita di depan ini? Wanita ini menggunakan long coat coklat muda. Wajahnya menunjukkan dia berumur sekitar 50-an.

“ASTAGA! Nyonya muda…” Wanita di depannya langsung berteriak histeris. Berlari dengan cepat ke arah Krystal kemudian memeluknya.    “Kenapa Nyonya bisa seperti ini?” Wanita di depannya kemudian menangis.

Sehun terdiam melihat kejadian di depannya. Dia benar-benar masih tidak bisa berpikir. Otaknya masih mengingat-ngingat orang di depannya. Sedangkan wanita di depannya telah menangis sambil mengelus pipi Krystal.

“Ooouhhh Nyonya muda…” Wanita di depannya kemudian menjauh dari tubuh Krystal. Menghapus air matanya. Dan….. Ia baru tersadar jika ada orang lain di depannya. Alis wanita itu mengkerut. Tak berapa lama kemudian dia mendesis tajam, “Kau pasti Oh Sehun bukan? Apa yang kau lakukan disini?”

Sehun menatapnya aneh, “Seharusnya aku yang menanyakan hal itu kepada anda.”
Orang di depannya tertawa, “Dasar anak sombong!” Katanya sambil menatap tajam Sehun. “Aku Kwon Suhyun. Pelayan pribadi Nyonya muda.” Bibi Kwon berkata tanpa membungkukkan badan. Dia tidak peduli jika hal ini sopan atau tidak. Dia benar-benar tidak menyukai orang di depannya.

“Pelayan pribadi?! Sangat tidak sopan memeluk Nyonya muda. Anda sangat berani.”

Bibi Kwon menatap Sehun tajam, “Saya yakin anda lebih berani. Sudah bersalah masih berani datang kesini. Anda tidak takut jika suatu hari alasan Nyonya muda bunuh diri akan terkuak?”

Sehun memasukan salah satu tangannya ke celana, “Aku juga tidak akan kesini jika orangtuaku tidak memaksaku.” Tamparan dari Bibi Kwon mendarat di pipi Sehun. Kulitnya memerah, “Tidak punya hati! Kau masih bisa berlagak seperti dirimu tidak bersalah?! Wow! Itu bahkan lebih berani. Malah sangat berani.” Kemarahan terdengar di telinga Sehun. Kemarahan yang sangat membara.

Sehun tetap tenang, “Ini bukan salahku. Dia yang memutuskan untuk bunuh diri. Walaupun aku menyuruhnya untuk mati tapi dialah yang memutuskan.” Bibi Kwon menganga menatap orang di depannya. Orang yang jalan pikirannya sangat aneh. Orang yang hatinya sekeras batu.

“Kau….” Suara Bibi Kwon bergetar, “Kau tidak tahu betapa Nyonya muda mencintai dirimu? Kau tidak tahu bukan? Atau kau pura-pura tidak tahu?” Air mata turun tanpa Bibi Kwon sadari. Dia langsung menangis terisak-isak.

“Aku tidak punya waktu untuk melihat adegan dari film opera.” Sehun segera mengambil tasnya. Keluar dari ruangan.

.

.

.

Suzy menatap kesal orang yang disampingnya. Lagi-lagi seperti ini. Melamun. Suzy menghela nafas.”Sehunniee kau tidak mendengar perkataanku lagi ya?” Sehun menoleh saat Suzy menyenggol tangannya. Sehun tersenyum tipis. “Kepalaku rasanya ingin meledak karena banyak memikirkan suatu hal. Kau tadi berkata apa?”

Suzy menghela nafas. “Apa yang terjadi denganmu? Kau berubah. Sangat berubah sejak enam bulan yang lalu.”

Sehun menatap Suzy lembut, “Aku benar-benar banyak pikiran beberapa waktu ini. Maaf….” Suzy tersenyum lembut kemudian memeluk Sehun, “Kau benar-benar membuatku khawatir. Berjanjilah padaku untuk kembali tersenyum seperti dulu.” Sehun tersenyum tipis dan membalas pelukan Suzy. Dia kemudian mengelus kepala Suzy. Tangannya terhenti ketika ia melihat Oemma-nya sedang menatap dirinya. Menatap dengan tajam. Menatap dengan alis berkerut. Menatap dengan kemarahan yang memuncak.

.

.

.

“KAU…” Satu tamparan berhasil dilayangkan ke pipi Sehun. Ia meringis. Tamparan Oemma-nya benar-benar sakit. “Bisa-bisanya….” Amarah Oemma-nya terhenti beriringan dengan Oemma-nya menarik nafas. Oemma-nya memijit pelipisnya. “Kau benar-benar dalam bahaya!” Desis Oemma dengan penuh penekanan.

Sehun hanya terdiam mendengar desisan Oemma-nya. Saat ini Oemma-nya terlihat sangat menakutkan. Matanya melotot seakan ingin keluar. Wajahnya memerah seakan ingin meledak.

       Trek! Appa Sehun datang. Oh, bagus. Pasti Appa-nya sudah tahu dengan masalah ini. Sebentar lagi Appa-nya juga membentaknya. Memarahi dirinya. Sehun diam-diam memutar bola matanya.

“Jadi anak muda….” Appa Sehun duduk di depannya, “Lihatlah Appa-mu yang sedang berbicara!” Sehun langsung mendongak ketika Appa membentak dirinya. “Aku mendengar hal yang memalukan dari mu… Sangat memalukan. Tahukah dirimu apa akibatnya jika orangtua Krystal tahu dirimu berpacaran dengan orang lain?” Appa Sehun berkata dengan nada tegas, tenang dan sedikit marah.

“Sudah berapa lama kau berpacaran? Apakah Krystal mengetahuinya? Apakah alsanmu untuk berpacaran? Jawab pertanyaan Appa sekarang!!” Lagi-lagi nada-nada tegas itu menerjang pendengaran Sehun.

Sehun menghela nafas. Dengan malas dia menjawab, “Aku sudah berpacaran hampir dua tahun. Ya, Krystal mengetahuinya. Bahkan dari awal Krystal mengetahuinya.”
“Krystal mengetahuinya?!” Oemma langsung bangkit dari tempat duduk. Menuju ke arah Sehun, “Dan kau tetap berpacaran?” Kata Oemma dengan tatapan tidak percaya.

Sehun mengangkat kedua bahunya, “Kami belum menganggap perjodohan secara serius.”

“Setidaknya kau menghargainya sebagai calon istrimu bukan? Walau kalian belum mengganggap secara serius tetapi seharusnya dirimu juga tidak pacaran.” Oemmanya menjawab lebih cepat.

“Cukup!” Appa Sehun berbicara dengan cukup keras. Oemma Sehun menghela nafas. Kemudan menyilakan kedua tangannya di depan dada. “Jawab pertanyaan Appa yang terakhir. Apa alasanmu untuk berpacaran dengan orang lain? Apa?”

Sehun mendesah secara berlebihan. “Karena….” Dia berhenti berbicara. Menghela nafas kemudian kembali berbicara, “Aku mencintai Suzy. Jadi…. Yah, itulah alasannya.”

“Astaga! Lihatlah anak kita ini…. Benar-benar memalukan…” Oemm-nya menatap dengan tatapan tidak percaya. “Dengar ya Sehunnie.. Aku tidak percaya jika Krystal tidak sakit hati melihat kalian berpacaran. Aku dapat merasakannya dia menyukaimu saat ia melihatmu. Saat ia berbicara denganmu. Jadi tidak mungkin dia merasa baik-baik saja. Kedua, baiklah anggap saja kalian berdua menganggap santai perjodohan ini. Tapi berpacaran bukan dari tindakan mengaggap santai perjodohan. Itu lebih cocok dengan menolak perjodohan ini.” Oemma kemudian mengambil nafas. Dia telah berbicara terlalu cepat.

“Kau dengar perkataan Oemma-mu nak?” Suara lembut Appa membuat Sehun menoleh ke-Appanya. “Oemma-mu benar nak… Semua yang dikatakan Oemma-mu benar. Krystal itu menyukaimu dan itu sangat terlihat dari sikapnya. Aku tidak mengerti kenapa kau tidak bisa melihatnya. Atau kau bisa melihatnya tetapi kau menolaknya. Dan aku tidak setuju dengan alasanmu yang mengatakan dirimu berpacaran dengan orang itu karena kau mencintainya. Mungkin lebih tepatnya kau menyukainya sebagai soerang teman. Jangan melihat Appa seperti itu. Aku adalah Appa-mu. Akulah orang yang paling mengenal dirimu. Aku mengetahui jika dirimu berbohong atau tidak.

“Karena itu, aku mempercayai alasanmu berpacaran adalah untuk…. Untuk menghentikan Krystal mengejarmu bukan? Aku yakin kau mengetahui dia menyukaimu. Tapi dirimu menolaknya dan ia tidak menyerah. Ia tidak menyerah dan tetap mengejarmu. Kau tahu, jika ia tidak menyerah kau akan menyukai dia juga. Sehingga kau berpikir keras untuk menghentikannya bukan? Cara yang tepat adalah dengan menghancurkan hatinya. Jadi, kau berpacaran dengan orang itu. Tapi dia tidak menyerah sedikitpun bukan? Kau semakin bingung bukan?”

“Bukan! Bukan seperti itu..” Sehun menolak mentah-mentah hipotesa aneh ayahnya. “Aku dan Krystal hanya bersahabat. Sampai kapanpun kami akan tetap bersahabat.”

“Itulah masalahnya. Pemikiranmu tentang persahabatan kalian. Aku yakin kau mencintainya. Tapi kau takut dengan persahabatan kalian. Bagaimana jika dia malah semakin menjauh jika kau bilang perasaanmu? Itu bukan yang kau takutkan. Tapi kau tidak akan tahu jika tidak mencobanya bukan?” Appa berkata panjang lebar.
Sehun menggeleng, “Aku hanya menganggapnya sebagai sahabat.”

“Karena kau takut kehilangannya kau mengorbankan perasaanmu untuk terus bersama dia sebagai sahabatnya bukan?” Lagi-lagi ayahnya memotong omongan Sehun. “Dengar nak, terserah dirimu jika kau ingin mengakuinya atau tidak. Tapi yang pertama harus kita lakukan adalah putuskanlah pacarmu itu.   Sebelum hal ini diketahui oleh orangtua Krystal dan mereka pasti membatalkan perjodohan. Karena aku yakin kau menyayangi dirinya.”

 

.TBC.

Hai… Hai… Hai…

I’m back….  Setelah dua bulan lamanya, akhirnya Flipped dilanjutkan lagi.  Sebenarnya, Chapter dua dan Chapter tiga agak ragu untuk mengepostnya…  Entahlah….  Gak suka aja dengan jalan ceritanya..  Tapi aku harap readers menyukainya…  Kalo gak suka juga gak apa-apa, karena penulisnya aja kurang srek gitu….  Sarannya di tunggu yaaaa…