State of Grace (Chapter 29)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Sehun dan Krystal sampai di tempat makan siang pukul satu siang. Sehun tidak dapat melupakan bagaimana senyuman hangat Seohyun-ibu Krystal- ketika menyapanya dan menerima dari hadiahnya. Begitupula dengan tingkah laku ayah Krystal –Kyuhyun- yang seakan ingin membunuh Sehun karena berani dekat-dekat dengan anaknya. Kyuhyun bahkan tidak mengeluarkan kalimat dengan SPOK yang lengkap sedari tadi. Kyuhyun hanya mengunggam tidak jelas yang membuat Seohyun mendelik tajam. Krystal tersenyum, tetapi matanya menunjukan kekhawatiran yang akhirnya membuat Sehun harus berakting santai. Kalau dia ketakutan, Krystal pasti juga bertambah khawatir.

Kyuhyun menatap Sehun tajam. Entah mengapa, posisi duduk mereka membuat Sehun bertambah kikuk. Seohyun dan Kyuhyun duduk berhadapan dengan Sehun dan Krystal. Dimana Seohyun dan Krystal saling menghadap. Sehun harus menghadap Kyuhyun.

“Ku harap kau tidak pernah mencampakan anak perempuan ku.”

Omongan Kyuhyun yang sangat tiba-tiba membuat semua orang yang berada di meja makan terbatuk dengan keras. Seohyun sudah menatap Kyuhyun dengan tatapan buas. Krystal menundukan pandangannya dan merutuk dalam hati. Sehun buru-buru minum.

Kyuhyun kembali berkata, “Aku hanya mengatakannya sekali jadi gunakan kesempatan itu baik-baik. Aku akan mendatangimu jika kau macam-macam.”

Sehun mengangguk kaku. Krystal disampingnya tiba-tiba tertawa geli begitupula dengan Seohyun.

“Itu artinya ia menyetujui mu dengan Krystal.” Seru Seohyun dengan nada geli di dalamnya. Kyuhyun menatapnya tajam tapi Seohyun hanya menatap Kyuhyun geli.

“Jadi, ceritakan tentang pertemuan pertama kalian. Dimana kalian bertemu?” Seohyun kembali berkata. Tapi kali ini suasana tiba-tiba terasa berbeda. Tidak sekaku tadi.

Krystal mulai menceritakan dan kali ini Sehun juga lebih leluasa berbicara. Mereka juga tertawa bersama-sama. Saat makanan sudah mulai habis, Kyuhyun kembali berbicara.

“Karena dirimu sudah memilih mug yang indah untuk istri ku, maukah kau menemaniku untuk memilih mug di restaurant ini? Mug ini untuk bos ku.”

Sehun tentu tidak dapat menolaknya. Ia akhirnya mengangguk dan pergi bersama Kyuhyun ke sudut lain restaurant. Restaurant tempat mereka makan siang ini juga menjual pernak-pernik khas Busan. Sepertinya Kyuhyun belum selesai mengetesnya.

“Jadi…” Mata Kyuhyun menyapu barisan mug, “Aku sebenarnya masih ragu. Mug apa yang cocok?”

Sehun mulai memandangi mug-mug, “Bagaimana kebiasaan bos Anda?” Sehun berhenti dan menggaruk tenguknya. Ini terlalu kaku. “Maksud say—“

“Panggil saja Kyuhyun-ssi. Kau seperti menjelaskan sesuatu kepada klien.” Potong Kyuhyun.

“Bagaiana kebiasaan bos Anda, Kyuhyun-ssi? Atau warna kesukaannya? Atau bisa juga dengan minuman kesukaannya seperti kopi dan teh.”

Kyuhyun tertawa mendengar penjalasan Sehun, “Kau terlalu logis dan Krystal terlalu imajinatif.” Ia menunjuk sebuah mug bermotif tomat. Cukup aneh menurut Sehun. “Ini mug yang cocok untuk bos ku.” Setelah itu Kyuhyun menghela nafasnya keras-keras, “Dengar… Aku adalah orang yang tidak pandai berbasa-basi. Aku dan isteriku bagaikan langit dan bumi sebenarnya. Isteriku sangat ramah sedangkan aku berbicara saat diperlukan saja. Krystal adalah orang yang imajinatif. Sangat imajinatif. Jika orang imajinatif akan menuangkan ke dalam tulisan atau lagu, Krystal menuangkannya kedalam lukisannya. Ia sangat imajinatif sampai terkadang hal-hal yang ia lakukan sangat tidak masuk akal. Ketika pacarnya mencampakannya, ketika itu juga ia memutuskan ke Seoul, itu adalah pertama kalinya ia melakukan hal-hal gila dihadapan ku. Aku tahu ia terluka. Tolong jaga dia. Dia memang terlihat tegar dari luar tapi ia gadis yang sangat rapuh. Aku harap kau bisa menjangkau bagian rapuhnya.”

Sehun terdiam mendengarkan perkataan Kyuhyun. “Aku…”

“Dia percaya padamu. Aku bisa melihatnya.”

Tepat setelah Kyuhyun berkata seperti itu, hp Sehun berbunyi. Sehun mengeluarkannya dan menahan nafasnya sebentar.

“Sepertinya kau harus menjawab teleponnya. Aku akan membayar mug ini.”  Kyuhyun mengambil mug yang tadi ia tunjuk dan pergi ke kasir. Sehun kembali melihat hp-nya yang belum berhenti bergetar. Dengan gusar, ia mengangkatnya.

“Jadi katakan kepada ayah mu Sehun. Kau menolak makan siang dengan ayah mu sedangkan dirimu menghabiskan waktu memilih mug dengan Cho Kyuhyun.”

Mendengar perkataan ayahnya, sontak saja Sehun memperhatikan sekitar. “Apa?”

Dad sedang di kamar mandi. Aku tidak sengaja berpapasan dengan mu. Bahkan kau tidak sadar ketika Dad melewati mu. Jangan bilang Cho Kyuhyun adalah klien-mu Oh Sehun.”

Sehun mendesis kesal, “Dari mana Dad tahu Cho Kyuhyun? Ngomong-ngomong dia bukan klien ku.”

Terdengar suara tawa dari ujung sana, “Ya, aku tahu. Jadi Cho Kyuhyun benar-benar ayah angkat Krystal ya? Ini pasti menarik.”

“Jangan macam-macam kepada Krystal!”

“Ada yang harus kita bicarakan Oh Sehun! Sekarang juga ke kamar mandi! Atau aku akan muncul di depan Cho Kyuhyun langsung. Percayalah, hubungan mu dan Kyuhyun pasti akan menjadi sangat buruk!”

Sehun langsung memutuskan sambungan telepon. Sehun menghela nafasnya dan sedikit memijit pelipisnya. Akhirnya, Sehun permisi sebentar ke toilet kepada Cho Kyuhyun. Semoga saja Kyuhyun tidak mencium hal-hal aneh.

“Ada apa?” Tanya Sehun langsung kepada Siwon yang sedang asyik bercermin.

“Kau baru saja melewati kesempatan emas mu kau tahu? Makan siang ini dengan kolega ku. Jika kau ikut kupastikan kau akan langsung ditunjuk ke perusahaan besar. Bukan firma biasa tempat mu bekerja.”

Sehun menatap Siwon datar. Untuknya? Sehun tidak yakin akan hal itu. Ini pasti berkaitan juga dengan image Ayahnya yang terkenal dengan sayang keluarga. “Aku tidak membutuhkan namamu untuk bekerja. Aku akan berusaha sendiri.” Ujar Sehun datar.

Siwon menatap Sehun tajam, “Namaku terlalu terkenal Sehun. Itu bukan hanya bisa memberi mu akses pekerjaan tapi juga dipecat.” Siwon sekarang menghadap ke Sehun, “Klien ku mengundang keluarga kita untuk makan malam. Tentu aku tidak bisa menolaknya bukan? Jadi kosongkan waktu mu sabtu depan dan jangan coba-coba untuk kabur.”

“Atau?”

“Ibu mu pasti senang mengetahui kedua orantua Krystal bukan?”
Siwon kali ini tersenyum dan Sehun menahan amarahnya.

Siwon menepuk pundak anaknya, “Kau tahu, aku sangat membenci Kyuhyun karena ia berhasil membuat kepalaku pusing dan juga membuat klien ku selalu marah-marah kepada ku. Tapi dia ada untungnya juga rupanya.” Setelah itu Siwon langsung pergi.

Sehun menghela nafasnya. Ia membuka keran wastafel dan mencuci mukanya.

.

.

.

.

.

Balik lagi ke Seohyun dan Krystal. Seohyun menatap Kyuhyun dan Sehun pergi sebelum melihat Krystal, “Kau tahu Appa mu sangat bisa diandalkan?”

Krystal menatap Seohyun bingung.

Appa dan Oemma langsung kesini karena ada hal penting yang harus kita bicarakan. “ Seohyun menarik nafasnya dan entah mengapa Krystal langsung khawatir. “Oemma mu, Oemma kandung mu menelepon Appa dan Oemma. Ia mengatakan ingin bertemu dengan mu.”

Krystal menatap Seohyun panik. “Apakah…”

Seohyun mengenggam tangan Krystal, “Tentu saja kami tidak mengizinkannya. Kami tahu ini sangat berat bagi mu. Kami menyerahkan keputusan kepada mu. Apapun keputusan mu kami akan mendukungnya.”
“Bagaimana bisa? Apakah ia menceritakan kenapa ia meninggalkan ku?”

Seohyun menatap ragu. Ia mengangguk. “Dia menceritakan semuanya. Appa mu marah-marah kepadanya dan benar-benar menyalahkannya. Tapi ia juga benar-benar berusaha untuk berhubungan dengannmu. Mendengar alasannya… Aku… Sedikit mengerti maksudnya.”

Krystal menundukan kepalanya dan tiba-tiba ia tersenyum, “Apapun itu dia tidak seharusnya membuang ku. Aku tidak ingin bertemu dengannya.”

Seohyun menganggukan kepalanya, “Jika ia menelepon lagi kami tidak akan menganggkatnya.”

“Jadi…” Kyuhyun balik dengan membawa satu kantung belanja. Ia kembali duduk di sebelah Seohyun dan mengeluarkan mug pilihannya, “Aku bagus dalam memilih bukan?”

Setelah tidak mengeluarkan tatapan mautnya, Soehyun menatap tajam Kyuhyun, “Tomat? Apakah kau yakin akan memberikannya kepada bos mu?”

“Dia tidak akan marah. Appa mu ini sangat jenius Krystal Jung. Dia pasti akan bersabar melihat segala tindakan ku. Apalagi setelah aku menyelamatkan perusahaannya.”

Krystal hanya menggelengkan kepalanya. Seohyun hanya menghela nafas. Sabar…..

“Jadi dimana Sehun?”

Kyuhyun mentap istrinya, “Oh, anak itu? Dia tadi permisi ke kamar mandi. Dia lama sekali… Kurasa ia terlalu gugup hingga sakit perut.”

Seohyun dan Krystal tertawa mendengarnya. “Sehun terlihat tenang tadi. Tidak mungkin…” Elak Seohyun sambil tertawa. “Oh itu Sehun!” Seru Seohyun dan tersenyum hangat ke Sehun.

Sehun membalas senyuman Seohyun. Ia kemudian menatap Krystal sebentar sebelum melihat kedua orang di depannya. Krystal terdiam sebentar. Entahlah… Tapi ada yang aneh dengan Sehun.

.

.

.

.

.

Sehun dan Krystal pada akhirnya memutuskan untuk tinggal di Busan sehari lagi. Mereka menghabiskan waktu terlalu lama dengan Kyuhyun dan Seohyun. Acara makan siang baru selesai pada pukul lima sore. Sehun mengatakan jika mereka pulang ke Seoul sekarang akan sampai di sana larut sekali, sekitar pukul 10 malam. Dia tidak mau itu. Sehun beralasan jika sampai di Seoul ia tidak punya alasan untuk tidak bekerja. Tetapi jika masih di Busan, ia memilikinya.

Itu adalah alasan yang Sehun berikan kepada Krystal. Alasan Sehun sendiri adalah ia ingin menghabiskan waktu bersama Krystal lebih lama. Hehehe….

“Jadi kamarnya dua tempat tidur bukan?” Tanya Krystal sambil mengeluarkan koper mereka dari mobil.

“Tidak.”

Jawaban pendek Sehun membuat Krystal menatap Sehun, “Heh, mesum, kita baru melakukannya semalam!”

Sehun tidak dapat menahan dirinya untuk tidak tertawa. “Kau yang mesum! Aku tidak ada maksud apa-apa malam ini. Aku terlalu lelah. Sebenarnya, aku tidak memilih yang ada dua tempat tidurnya karena pemandangannya jelek.”

“Alasan! Kau sendiri yang berkata kau terlalu lelah. Untuk apa melihat pemandangan?”

Krystal meringis ketika Sehun menekan hidungnya. “Sudah jangan cerewet. Ayo kita masuk hotelnya.” Sehun membawa kopernya dan tidak lupa mengandeng tangan Krystal.

Krystal sedikit meneguk ludahnya ketika ia memasuki hotel dimana mereka akan menginap. “Kau yakin kita akan menginap disini?” Tanyanya karena hotel yang mereka masuki terlihat sangat mahal.

Sehun menatap Krystal, ia tersenyum lembut, “Aku tahu apa yang kau takutkan…”

“Bagus kalau begitu!”

“Aku membawa uang kok!”

Sekarang gantian Sehun yang meringis akibat dicubit pinggangnya oleh Krystal. “Aku rasa ini terlalu berlebihan untuk ku.” Krystal berkata dengan suara pelan.

“Nama mu Krystal. Krystal adalah benda yang mahal. Ini tidak berlebihan untuk mu…”

Krystal menghela nafasnya, “Selain banyak alasan kau juga banyak menggombal!”

“Permisi…” Krystal dan Sehun sontak saja menoleh ke sumber suara. “Ada yang bisa saya bantu?”

Krystal dan Sehun terdiam sejenak sebelum mereka mengerti jika sedari tadi mereka sibuk berdebat hingga salah satu pegawai hotel datang.

“Oh, kami ingin menginap di sini.” Seru Sehun kepada pegawai itu.

Pegawai hotel tersenyum, “Baiklah, apakah Anda sudah memesan kamar?”

Sehun menggelengkan kepalanya, “Belum. Bisakah Anda memberikan kamar dengan pemandangan terbaik?”

Pegawai hotel menganggukan kepalanya. “Tunggu sebentar.”

Sehun tersenyum kepada Krystal dan menarik tangan Krystal mengikuti pegawai hotel.

“Untuk beberapa hari?” Tanya pegawai hotel dengan mata fokus ke komputer.

“Untuk satu malam saja.” Jawab Sehun. Krystal terdiam memperhatikan design hotel.

Tak berapa lama kemudian pegawai memberikan kunci kamarnya, “Ini kuncinya. Di lantai 12 kamar 124.”

“Terimakasih.” Ujar Sehun. “Hey!” Panggil Sehun kepada Krystal yang masih asyik memperhatikan design.
“Oh, sudah selesai?”

Ketika perjalanan mereka menuju kamar diisi oleh perdebatan. Lagi-lagi, Krystal dan Sehun berdebat tentang kegiatan mereka nanti pagi. Sehun ingin mengajak Krystal makan di sebuah café dekat pantai. Krystal ingin makan saja di hotel karena mereka telah diberi voucher.

“Ayolah… Kapan lagi kita kesana?”

“Tapi voucher-nya Sehun!” Krystal menatap Sehun dengan tatapan sedikit kesal.

“Bagaimana jika kita makan pagi di hotel kemudian makan pagi lagi di café tersebut?”

Krystal baru saja memprotes ketika suara yang begitu familiar terdengar padanya. Suara yang bertahun-tahun berusaha ia lupakan. Krystal mencengkram tangan Sehun.

“Tidak… Tidak… Bukan itu maksud ku….” Suara lembut itu tetap sama.

Krystal sedikit terkesiap melihat orang di depannya.

Ia menelan ludahnya. Rambut wanita di depannya lebih panjang daripada yang terakhir kali ia lihat. Ia memakai coat bewarna cokelat muda. Hampir sama seperti yang Krystal gunakan. Wanita yang sibuk menelepon melirik Krystal sebentar dan ikut terdiam.
“Nanti akan kutelepon lagi.” Kata wanita itu dan segera mematikan teleponnya.

Sehun memandang Krystal bingung. Ia ragu untuk bertindak. Ia melihat wanita di depannya dengan tatapan bingung dan menyadari sesuatu. Perempuan di depannya mirip dengan Krystal.

“Soojung…” Lirih wanita di depannya. “Soojung, kau masih ingat Oemma?”

Oemma? Jangan-jangan….

.TBC.

Hey…. Aku balik lagi…. Aku tahu aku punya janji ke kalian yang lagi-lagi gak aku tepati. Aku minta maaf untuk itu. Awalnya aku mau double update tanggal 18 tapi gak jadi karena ada kabar duka….. Malam itu aku langsung blank terus deg-degan, gak nyangka sama apa yang terjadi. Aku tahu itu pas mau maghrib, beritanya baru aja keluar. Tahunya dari ig. Awalnya sih aku mau buka ig untuk ngeliat ig Sunan Kalijaga (setelah group teman-teman aku rame Taqy-Alma cerai), nyesel banget sih ngebuka ig saat itu… Tapi kalau dipikir-pikir pastinya aku juga akhirnya tahu. Dan aku akan lebih nyesel kalau tahunya belakangan. Langsung merinding karena aku lagi ngejer deadline ff Minsul yang ada member Shinee termasuk dia. Aku ngebayangi mereka sebagai tim yang solid di ff itu. Aku juga bahagia sih soalnyakan Shinee mau comeback berlima untuk tour Jepang.

Shinee itu punya dampak besar dihidup aku… Karena merekalah aku masuk ke dunia k-pop. Bias aku di Shinee itu Minho karena ia ganteng (sederhana banget alasannya) dan senyumannya menawan. Tapi aku jatuh cinta sama lagu Shinee karena suara serak Jonghyun yang menurut aku gak tergantikan dan buat aku dengerin lagu Shinee sepanjang hari. Kalau Shinee gak ngeyakinin aku saat itu, aku gak akan dengerin SNSD’s Gee, Super Junior’s Super Girl, f(x)’s Electric Shock (I’m so SM biased since the beginning TBH…).

Aku ngerasa bersalah gak tahu gimana penderitaan dia. Tahun 2017 aku gak terlalu ngikutin kpop. Fokus ke kelas 12 dan teman-teman aku juga gak ada yang kpopers bangetlah… Mereka pada lagu barat semua. Tahunya lagu kpop tahun 2011 aja…. Aku berpikir, kalau aku ngikutin dia, benar-benar ngikutin dia, aku tahu ada yang salah sama dia dan aku gak akan se-syok ini.

He IS a very talented musician, tapi dia ngerasa gak memenuhi ekspektasi dia. Dan itu membuat aku mengingat gimana aku mau mulai nerbitin tulisan aku secara online… Ada yang baca gak ya? Ada yang suka gak ya? Pada awal-awal aku masuk wattpad juga begitu… Dan aku memang belum merasa puas sama tulisan aku… Tapi karena dia, aku jadi mengubah persepsi aku. Mungkin yang aku ekspektasikan gak pernah terwujud karena itulah diriku, manusia yang penuh kekurangan. Yang bisa aku lakukan adalah menghargai apa yang aku punya, apa yang sudah menjadi diri ku. Aku berkata dalam hati, ketika ia sekarang udah gak ada, dia masih ngebuat aku ngerasa lebih baik. Hal itu yang membuat aku melepaskannya.,,

Dia orang yang benar-benar baik dan semua orang terpukul dengan kepergiannya. Uri Yerim yang pasti sangat terpukul karena kehilangan orang yang ada disampingnya dari H-1 ia debut. Uri Taeyeon yang kehilangan orang yang benar-benar mengerti dia Uri Soojung yang kehilangan sosok oppa, orang yang berhasil menyentuh bagian rapuhnya. Uri member Shinee yang kehilangan sahabat bahkan saudara seperjuangan dari masa nol hingga sekarang dan pastinya mereka gak ada yang nyangka. TBH, siapa yang nyangka sih?

You doing well Kim Jonghyun…

Oh, dan maaf kalau aku curhat panjang banget 🙂 Hehehe… Makasih loh yang udah baca ini…

Advertisements

Runaway (Chapter 4)

Runaway Poster Fix

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Minho masih diam tidak bergeming sedikitpun ketika Sulli menghilang dari pandangannya.

Perkataan Sulli…. Yah, Minho tahu Sulli tidak bermaksud lebih terutama menyakiti perasaan Minho. Tapi, Minho tetap merasakan sakit hati karena kalimat itu mengatakan kepadanya jika Taemin bukan sepenuhnya tanggung jawab Minho. Tapi ia bisa apa? Bukankah dia yang mengatakan jika ia ingin mengejarkan mimpinya apapun yang terjadi?
Minho hanya bisa menghela nafas menatap kepergian Sulli.

.

.

.

.

.

“Jadi gitu Appa!” Taemin memakan suapan terakhirnya.

Jongin menganggukan kepalanya, Ia juga memasukan suapan terakhirnya. “Jadi Jung Seongsangnim keluar dan yang menggantinkannya adalah Min Seongsangnim?”

Taemin kembali mengangguk, “Benar! Taemin sangat suka kepada Min Seongsangnim… Sangat-sangat suka! Min Seongsangnim baik. Tadi—“

“Taemin…” Sulli menyela omongan Taemin. “Bukankah dirimu harus mengerjakan PR? Tadi guru-guru mengirimkan pesan kepad Oemma agar Taemin mengerjakan semua PR.”

Taemin langsung cemberut, “Mengesalkan!”

“Jangan berbicara kasar Kim Taemin!” Jongin mengingatkan Taemin dengan nada tajam. “Kerjakan PR mu dulu ya? Nanti, sebelum mau tidur kita lanjutkan lagi ceritanya ya?” Kemudian nada bicara Jongin menjadi sangat lembut.

Taemin tetap cemberut. Tetapi, ia menganggukan kepalanya. Taemin segera turun dari kursi meja makan dan berlari menuju kamarnya.

“Kerjakan yang mudah dulu ya! Oemma akan menyusul sebentar lagi!” Teriak Sulli ketika kepada Taemin. Taemin harus diancam atau tidak dia akan main-main.

Sulli bangkit dari kursinya, membereskan piring-piring keluarga kecilnya. Saat mencuci piring, Jongin tiba-tiba memeluknya.

“Bagaimana harimu?” Katanya mengantarkan kehangatan kepada Sulli.

Sulli tersenyum kecil, “Lumayan~”

“Lumayan? Jawaban macam itu?”

Sulli tertawa lepas, ia segera membalikan badannya, “Tidak ada yang special.”

Jongin mengerutkan alisnya, “Tereserah!” Jawabnya cuek. Tangannya mengelus pipi Sulli perlahan. Kemudian ia mendekatkan dirinya ke Sulli.

Cup!

Jongin mencium ujung bibir Sulli. Ujungnya, bukan tepat di bibir Sulli. Pada detik-detik terakhir, Sulli menghindarinya.
“Aku harus cepat mencuci piring agar bisa melihat Taemin…” Katanya sudah berbalik dan kembali mencuci piring.

Jongin tersenyum datar, “Baiklah…”

.

.

.

.

.

Tak! Tak! Tak!

Sulli mengetuk-ngetukan pulpennya. Tatapannya menerawang ke depan. Mejanya, yang dimana berserakan desain-desain model terbaru tidak ia sentuh sama sekali. Sejak datang ke sini, Sulli benar-benar hanya duduk.
“Krystal…” Panggilnya tanpa melihat Krystal.
Krystal yang sibuk melihat desain menoleh, “Apa?”

“Bagaimana caranya berbicara dengan orang yang tidak ingin kau ajak berbicara?”

Krystal mengerutkan keningnya, “Pertanyaan mu sangat aneh. ‘Bagaimana caranya berbicara dengan orang yang tidak ingin kau ajak berbicara?’”

Sulli menghela nafasnya. Ia meletakan pulpennya dan duduk dengan tegak. “Aku tidak ingin bertemu apalagi berbicara dengan orang tersebut. Tetapi aku harus berbicara dengannya.”

Krystal tambah mengerutkan keningnya, “Kau sangat aneh Choi Sulli. Jelas-jelas jika kau ingin berbicara dengan orang harus ada niat ingin berbicara dengan orang itu. Kau saja enggan… Ya, bagaimana mau berbicara dengan orang tesebut?”

Mendengar penjelasan Krystal, Sulli kembali menghela nafas, “Kau benar. Aku memang tidak ingin berbicara dengannya.” Ia tersenyum tipis kemudian, “Baiklah. Masalah itu akan kupikirkan nanti. Sekarang, kita focus kepada desain musim gugur kita. Bagaimana?”

“Baiklah.” Krystal kemudian mulai menjelaskan berbagai macam desain kepada Sulli.

.

.

.

.

Sulli menyelesaikan pekerjaan desainnya pada pukul 1 siang. Sudah menjadi aturannya sendiri jika jam 1 ia akan pulang untuk menjemput Taemin dan sehabis itu menghabiskan waktu bersama Taemin. Sulli membereskan meja kerjanya juga menempelkan beberapa notes di mejanya. Pengingat pekerjaan yang belum selesai. Matanya tidak sengaja melihat salah satu note-nya, “Tembus fashion week tahun depan!!!” Penyemangat dirinya agar lebih sukses sejak ia membuka butiknya, tiga tahun yang lalu dan terus menjadi mimpinya sampai sekarang.

“Aku pulang duluan ya….” Pamit Sulli kepada Krystal. Krystal yang masih sibuk menyusun jadwalnya besok menganggukan kepalanya.
“Jangan lupa jika besok kau akan bertemu dengan Vogue Magazine!” Kata Krystal tanpa menoleh sedikitpun.

“Tentu!” Jawab Sulli pendek dan segera pergi menjemput Taemin.

.

.

.

.

.

Minho meregangkan tubuhnya. Ternyata menjadi seorang guru lebih susah daripada menjadi curator gallery. Tangannya kaku akibat harus mengisi laporan. Belum lagi otaknya harus mendidih karena harus membuat silabus ngajar. Ditambah bahunya yang pegal karena harus menunduk, melihat semua lukisan untuk dinilai. Satu lagi yang paling penting, Minho harus memeras otak dalam memberi nilai karena ia merasa lukisan anak-anak disini tidak sesuai dengan standar Choi Minho. Ia menghela nafasnya.

“Kau terlihat sangat lelah Choi Seongsangnim!”

Minho menoleh dan terkekeh kecil, “Masih banyak yang harus ku nilai….” Respon Minho pendek.

Kekehan kecil terdengar, “Aku pernah merasakan hal itu seperti mu. Pada saat awal-awal mengajar matematika. Kau harus mengerti betapa frustasinya diriku melihat anak-anak yang tidak mengerti di ajar berkali-kali. Padahal ketika TK aku sudah bisa menyelesaikan perkalian!”

Minho hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Orang di depannya adalah Cho Kyuhyun. Senior dalam mengajar. Walaupun begitu, Kyuhyun adalah orang yang baik. Ia tidak membedakan Minho sejak pertama mengajar. Ramah tetapi juga professional. Sedikit aneh karena ia mempunyai latar belakang lulusan Havard di bidang matematika tetapi memilih menjadi guru TK. Tentu saja ia jenius.

“Cho!”

Panggilan dari Shi Seongsangnim membuat Minho dan Kyuhyun menoleh.

“Hari ini jadi kumpul? Di rumah mu?”

Shi Seongsangnim atau bernama lengkap Shim Changmin juga senior bahkan lebih senior dari Kyuhyun. Mengajar sejak umur 18 tahun dan sekarang umurnya 29 tahun. Guru menyanyi di TK ini dan mempunyai vocal yang luar biasa. Sangat-sangat luar biasa. Dia dan Kyuhyun adalah teman dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Ini dikarenakan mereka mempunyai umur yang sama dan bekerja disini ketika sama-sama masih muda.

“Tentu! Oemma ku yang akan memasak makan malam.” Kyuhyun kemudian menoleh ke Minho, “Kau ingin ikut Choi Seongsangnim?”

Minho tidak menyangka di ajak terdiam beberapa saat. “Tidak apa-apa?”

Changmin mengangguk mantap, “Tentu saja tidak apa-apa. Eiih…. Jangan pikir kami hanya berkumpul berdua saja. Lee Seongsangnim juga sering berkumpul dengan kita kok… Ini adalah perkumpulan guru-guru cowok disini.”

Minho akhirnya menganggukan kepalanya, “Boleh juga.”

“Eh, Junmyeon akan pulang bukan?” Tiba-tiba Yoo Seongsangnim menghampiri mereka.

Kyuhyun mengangguk, “Iya. Dia bilang jika bulan madunya dengan Joohyun sudah selesai.”
“Junmyeon?” Tanya Minho bingung.
“Oh, kau belum pernah bertemu dengan Junmyeon ya? Dia guru etika disini dan baru saja menikah.” Yoo Seongsangnim menjelaskan.

Kyuhyun tiba-tiba mendekat, “Junmyeon juga ikut dalam perkumpulan ku. Junmyeon, aku, Changmin, Jonghyun, dan sekarang dirimu.” Bisiknya kepada Minho.

Minho sendiri hanya mangut-mangut karena ini pertama kalinya ia tahu.

Kriiingggg~
Bel pulang berbunyi. Bel yang bukan hanya ditunggu oleh siswa tetapi juga ditunggu oleh guru. Pada bel ini pembelajaran berakhir dan siswa boleh bermain hingga pukul 2 siang. Sedangkan guru untuk jam makan siang, sebelum rapat wajib pada pukul 2 siang.

Minho meletakan kertas terakhir yang harus ia nilai. Ia kemudian berdiri, “Ada yang ingin ikut makan?”

Beberapa guru disana, bukan hanya Cho, Shim, dan Yoo Seongsangnim mengangguk. Mereka berbondong-bondong keluar. Mereka semua akan makan di tempat biasa, tempat makan yang tak jauh dari TK karena sekolah hanya menyediakan makanan khas anak-anak.

“Min Seongsangnim?”

Suara lembut itu seketika menghentikan Minho dari kegiatannya yang sibuk berbicara. Juga menghentikan gerombola guru-guru.

Mata Yoo Seongsangnim membesar, “Oh, Taemin Oemma?”

Minho langsung merasa tidak bisa bernafas.

.

.

.

.

.

Sulli sampai tepat waktu. Ia sudah bertemu Taemin dan Taemin meminta waktu agar bisa bermain pada teman-temannya. Sulli mengiyakan selama 30 menit dari waktu satu jam yang Taemin minta. Saat baru saja selesai berbicara dengan Taemin, matanya tidak sengaja menangkap segerombolan guru yang ingin makan siang. Suara mereka terdengar jelas olehnya. Termasuk suara Minho yang asik bercengkraman.

“Jika kau ingin berbicara dengan orang harus ada niat ingin berbicara dengan orang itu.”

Entah mengapa perkataan Krystal kembali muncul di benak Sulli. Apakah Sulli punya niat berbicara dengan Minho? Tentu saja! Dia ingin berbicara untuk meluruskan beberapa hal kepada Minho. Sulli hanya ragu karena ia bingung bagaimana caranya ia berbicara kepada Minho. Sulli hanya ragu apakah perasaannya akan menyeruak keluar, tidak terbendung, ketika ia melihat mata Minho. Dia harus berpikir jangka panjang karena sekarang dia adalah soerang istri dan ibu. Sulli tidak boleh gegabah.

Mendengar suara Minho saja membuat jantung Sulli berdetak tidak karuan. Astagaaa… Apa yang harus ia lakukan?

Sulli memejamkan matanya. Sekarang atau tidak pernah. Karena ia yakin, jika ia tidak akan bisa mengumpulkan nyali untuk berbicara dengan Minho.

Min Seongsangnim….” Panggil Sulli berusaha agar terdengar biasa saja.

Minho berhenti berbicara. Tetapi ia tidak menoleh. Malah Yoo Seongsangnim, salah satu guru killer-menurut Taemin- yang menoleh. Yoo Seongsangnim tersenyum lebar dan menanyakan kabar Sulli.
Sulli tersenyum tipis, sedikit berbasa-basi sejenak, “Saya ingin berbicara kepada Min Seongsangnim…” Kata Sulli di akhir kalimat.

Yoo Seongsangnim tertawa, “Min Seongsangnim ya?”

Tersadar jika ia salah memanggil nama Minho Sulli hanya tersenyum malu. Menahan mulutnya agar tidak mengoreksi menjadi Choi Seongsangnim. Semua guru-guru pasti bingung karena Sulli, setahu mereka, tidak pernah berkenalan secara formal dengan Minho.

“Kami akan makan siang.” Ucap Cho Seongsangnim dari belakang. “Jadi mungkin sebaiknya Anda harus berbicara lain waktu. Sehabis ini kami ada rapat. Sebaiknya juga Anda memberi tahu sebelumnya agar Choi Seongsangnim bisa mengatur jadwalnya.”
Gawat! Cho Seongsangnim adalah guru yang ditakuti oleh Sulli. Menurut Sulli ia adalah seorang professional yang tidak ragu mengatakan hal yang benar. Termasuk di situasi ini. Seharusnya Sulli memberi tahu sebelumnya. Tapi dia tidak berpikir panjang karena nyatanya ia memang tidak mau berbicara dengan Minho. Ini benar-benar ide yang muncul secara tiba-tiba.
“Tidak apa-apa….”

Deg!

Detak jantung Sulli langsung menggila ketika mendengar suara itu. Sulli mengepalkan tangannya. Tahan dirimu… Tahan dirimu bodoh! Rutuknya dalam hati.

Guru-guru menoleh ke Minho.

Minho membalas tatapan guru-guru, tersenyum meyakinkan, “Pasti ada masalah penting yang tidak dapat di undur hingga Oemma Taemin tidak sempat memberi tahu saya sebelumnya.”

Sulli terdiam mendengar perkataan Minho.

“Saya titip makan siang saya.” Lanjut Minho.

Guru-guru terlihat tidak bisa membantah dan akhirnya mengundurkan diri dari hadapan Minho dan Sulli.
Sulli dan Minho melihat kepergian guru-guru. Saat gerombolan guru telah hilang dari pandangan mereka, mereka menoleh. Menatap satu sama lain.

“Sudah lama tidak berjumpa, Sulli…”

Suara berat itu membuat Sulli tidak bisa bernafas.

.TBC.

Holla… i’m back…  Maaf ya untuk Runaway agak lama update-nya.  Saya mengalami writer block khusus untuk Runaway…

Gimana pendapat mengenai Chapter ini?  Chapter selanjutnya Julli mungkin? 🌝✌️  Karena saya mau ngambil hiatus dulu ya dari tanggal 20 Mei sampai awal Julli atau akhir Juni, jadi kayaknya pertengahan   🙏🏻🙏🏻🙏🏻