In The Snow (Chapter 3/3)

inthesnow

Main Cast: Choi Minho, Choi Sulli, Lee Sungkyung, All Shinee’s member

Rating: T (Teen)

Length: Threeshoot

Author: Ally

Poster By: NJXAEM @ POSTER CHANNEL

Chapter 3

When the temperature goes to 20 up degree, i felt the snow replaced by the flower who blooms.

.

.

.

Seorang laki-laki dengan tergesa-gesa keluar dari sebuah apartment.

Aaah~

Teriakan kencang di susul ledakan besar dari apartment yang baru saja ia keluari membuat ia terdiam sejenak. Kibum menatap apartment tersebut dengan kosong. Segera berjalan menjauhi. Menabrak beberapa orang yang mendekat ke apartment yang terbakar itu. Beberapa menghubungi pemadam kebaran. Beberapa hanya melihat apartment itu sambil berbicara kepada orang disebelahnya apa yang sebenarnya terjadi.

Kibum melangkahkan kakinya dengan cepat menuju apartment-nya. Begitu masuk, ia menemukan ketiga temannya menatapnya penuh harap.

“Bagaimana?” Tanya Jonghyun.

Kibum menggeleng, “Mereka tidak ada.”

“Mereka? Minho dan targetnya?” Kali ini Taemin menatap Kibum khawatir.

“Ku rasa terjadi sesuatu di sana. Aku menemukan darah di lantai. Kaca yang pecah yang kurasa dari tembakan. Tetapi tidak ada sama sekali peluru.” Ia mengeluarkan hp-nya, “Aku memotretnya. Juga mengambil sample darahnya. Ku rasa itu darah dari 2 orang. “ Ia memberikan hp-nya. Tangan Kibum kemudian mengambil sesuatu dari kantongnya. Ia mengeluarkan kotak kecil. “Ini kedua sample darahnya.”

“Jonghyun tolong periksa sample-nya…” Jinki memberikan sample ke Jonghyun yang segera Jonghyun ambil. “Periksa kedua DNA darah kepada Minho. Baru kemudian periksa di database kita.” Jinki menatap Kibum, “Berikan aku ponselmu…”

Kibum menurut. Ia memberikan ke Jinki. Sekarang mereka ia, Kibum, dan Taemin melihat foto-foto yang diambil Kibum.

“Dari melihat fotonya ku rasa memang ada dua orang yang terluka. Satu masih bisa bergerak…” Taemin melihat fotonya dengan seksama. “Tetesan darahnya…”

“Itu mengarah ke lemari, ia mengambil handuk kalau tidak salah.” Kibum yang bersuara.

“Langsung ke lemari?” Kali ini Jinki yang bersuara.

“Mengapa?”

“Kenapa dia tahu jika handuk berada di lemari?”

“Okay, tunggu sebentar…” Kibum mengangkat salah satu tanganya. “Jangan bilang jika yang berjalan adalah Choi Jinri?”

“Minho tidak mungkin tahu dimana letak handuknya…”

“Tapi Minho tidur dengan Choi Jinri. Bisa jadi…” Taemin kembali melihat foto-foto yang Kibum ambil. Kibum dan Jingki menghela nafas lega mendengar perkataan Taemin.

“Hasilnya keluar!” Teriakan Jonghyun membuat mereka bertiga berlari ke sumber suara. “Sample A adalah darah Minho!”

“Sial!” Kibum menghela nafas kasar, “Sample A untuk genangan darah yang paling banyak. Yang tidak berjalan.”

“Bagaimana dengan Sample B?” Jinki menatap Jonghyun.

Jonghyun menatap komputernya, “Tidak ada hasilnya. Aku sudah memeriksa di data kita.”

Hyung…” Taemin mengusap mukanya kasar.

“Coba periksa di data perusahaan. Aku berpikir, bagaimana yang membantu Jinri selama ini bukan keluarga mafia tapi salah satu dari kita?”

“It’s worth to try….” Jari-jari Jonghyun dengan cepat menari di keyboard. Mengoperasikan program data base.

Ting!
“Kita mendapatkannya!” Teriak Jonghyun senang. “Dan ini menarik….”

Kibum melihat komputer dan berkata, “Aku setuju. Ini menarik….”

“Apa?”

“Tidak cocok 100% tapi cocok 55%. Hubungan saudara perempuan… Salah satu dari anggota kita. Namanya Lee Sungkyung. Ia bekerja sebagai dokter di perusahaan.”

“Alibi yang sempurna!” Taemin menggaruk kepala yang tidak gatal, “Coba pikirkan ini… Sungkyung menjadi dokter. Dokter di perusahaan mempunyai kelonggaran. Tugasnya hanya mengobati kita yang terluka. Tapi ia juga boleh cuti jika ia mau. Sungkyung bekerja di perusahaan kita itu artinya ia tahu yang terjadi di perusahaan kita!”

Jinki berbicara, “Dia tahu kapan nama adik perempuannya keluar… Ia tahu kapan adik perempuannya akan dibunuh. Dan ketika ingin di bunuh, Sungkyung mengambil cuti dan dialah yang menghentikannya sendiri.”

“Walau dia dokter tapi ia pasti dilatih untuk menjadi pembunuh bayaran terlebih dahulu. Setidaknya dia bisa menembak bukan?” Kibum mengeluarkan pendapatnya.
“Cari file tentang Sungkyung dan kirim file nya ke hp kami!” Perintah Jinki dan Jonghyun segera melakukannya.

“Di mulai menjadi anggota sejak umur 20 tahun. Merupakan mahasiswi kedokteran ketika masuk ke organisasi dan menjalankan pelatihan selama tiga tahun tetapi tetap memilih jadi dokter. Mendapat nilai tertinggi di menembak dan ahli dalam menembak. Latar belakang berasal dari panti asuhan di kota Mokpo dan diangkat saat umur lima tahun. Kedua orangtua angkat meninggal sejak ia berumur 16 tahun. Meninggalkan ia dan dana tunjangan yang cukup besar untuk membiyai kuliahnya.”

“Aku menemukan sesuatu lagi!” Jonghyun kembali mengirimkan data yang ia dapat ke handphone teman-temannya.

“Ya ini menakjubkan…” Taemin kembali berkata, “Tempat cuti dan tanggal cuti tepat ketika Choi Jinri ingin di bunuh.”

Jinki kembali menatap Jonghyun, “Dimana Lee Sungkyung sekarang?”
Jonghyun segera mencari dan ia tersenyum melihat hasilnya, “Lee Sungkyung sekarang di kota ini. Dia tinggal di apartment sama dengan Jinri dan juga ia bekerja di rumah sakit yang sama dengan Jinri. Satu lagi, sebentar lagi shift kerjanya selesai.”

“Mari kita temui dia….”

.

.

.

.

.

“Hai nyonya Lee Sungkyung…” Kibum membuka tutup kepala Sungkyung.

Sungkyung masih meringis ketika sinar yang begitu terang masuk ke matanya. Ia memejamkan matanya. Kembali membuka ketika tersadar tangannya juga diikat.

“Maafkan kami yang harus memukul kepala Anda. Anda melawan cukup sengit tadi.” Taemin menatap Sungkyung dingin.

“Siapa kalian?” Tanya Sungkyung mencoba untuk tenang.

“Dia pintar berpura-pura bukan? Kau tidak tahu siapa kami?” Jinki menghela nafasnya kasar. Menatap Sungkyung tajam.

“Jangan lupakan ia juga sama seperti kita…” Jonghyun menatap Sungkyung sinis, “Kami satu perusahaan dengan Anda.” Lanjutnya masih sinis.

“Satu perusahaan…. Kalian dokter?”

Keempat orang di depan Sungkyung langsung tertawa keras. “Dia begitu hebat bukan?” Jinki mengeluarkan pistolnya. “Hentikan basa-basi ini. Katakan dimana Choi Minho sebelum kesabaran ku habis…”

“Bagaimana jika kesabaran mu habis? Kau akan menembak ku? Atau menyiksa ku terlebih dahulu?”

Mereka terdiam mendengar omongan Sungkyung. Sungkyung menatap mereka berempat dengan tenang. Terlalu tenang sebenarnya.

“Kau ingin bermain…” Kali ini Taemin bersuara. “Baiklah…” Ia mengeluarkan file Sungkyung, “Kau lihat logo ini… Kau bekerja disini. Sama seperti kita.”

Sungkyung menghembuskan nafasnya kasar, “Baiklah. Aku bekerja untuk ALC sama seperti kalian. Jadi apa sekarang?”

Taemin melemparkan file ke lantai, “Jawab pertanyaan teman ku. Dimana Choi Minho!”

“Aku tidak tahu dimana Choi Minho.”

“Mungkin kita harus memperjelas suatu.” Jinki kembali berbicara. Ia menurunkan pistolnya, “Kau pikir kita tidak tahu siapa kau sebenarnya… Tapi kita tahu! Kau adalah saudara perempuan Choi Jinri yang bekerja di perusahaan ini. Dari mana kami tahu? Kami mencocokan darah Jinri dengan DNA mu. Itu yang mengatakan jika kau saudara perempuannya.

Kau lah yang menghentikan setiap orang yang membunuhnya selama ini. Kami yakin, kau yang membuat teman kami sekarang menghilang. Kau pasti membunuhnya kemarin siang dan membawa mayatnya entah kemana saat ia coba membunuh saudara perempuan mu!”

Sungkyung menatap mereka berempat dengan tatapan tidak percaya, “Kalian membuatku khawatir sekarang! Apakah kalian baik-baik saja?”

Jinki mengarahkan senjatanya ke Sungkyung. Menatap Sungkyung datar. “Katakan yang penting atau kau akan menyesal. Teman ku menghilang dari kemarin siang. Itu petunjuk selanjutnya.”

“Baiklah… Baiklah….” Sungkyung menghela nfasnya, “Aku bekerja sebagai dokter di ALC dan tugasku mengobati pegawai ALC yang terluka. Tapi samaranku selalu sama menjadi dokter di gawat darurat. Sekarang katakan kepada ku, bagaimana aku bisa membunuh teman mu jika kemarin siang ada operasi gawat darurat dan aku baru pulang jam tujuh malam?”

Jinki, Kibum, Jonghyun, dan Taemin saling menatap.

“Aku tidak berbohong. Kau bisa mengeceknya sendiri.”

Jonghyun langsung mundur untuk mengeceknya.

“Ku harap kau tidak berbohong.” Ujar Kibum dingin.

Mereka terdiam hingga cukup lama. Sungkyung tiba-tiba berbicara, “Setelah ini usai aku akan melaporkan hal ini kepada atasan kalian.”
Jinki baru saja ingin menjawab tetapi Jonghyun sudah datang. Mendatangi mereka semua yang berada di ruang tamu. “Alibinya terbukti…”

Sungkyung kali ini tersenyum, “Kalau dipikir-pikir sekarang…. Aku bisa menjawab bagaiman aku bisa bersaudara perempuan dengan Choi Jinri. Ini hanya kemungkinan. Mungkin ayahnya Jinri mempunyai hubungan gelap dengan banyak wanita dan salah satu itu adalah perempuan yang melahirkan ku. Kemudian ayahnya tidak mau bertanggung jawab dan perempuan itu menganggapku sebagai kesialan yang luar biasa dan membuangku di pantai asuhan. Bagaimana?”

Mereka tidak menjawab omongan Sungkyung. Kibum maju dan melepaskan ikatan tangan Sungkyung. Memotong tali dengan pisau lipatnya.

Sungkyung meringis akibat nyeri bekas ikatan. “Barang-barang ku sekarang!”

Taemin mengambil barang-barangnya. Memberikan jaket Sungkyung dan Sungkyung segera memakainya. Kemudian tasnya.

“Selamat tinggal.” Seru Sungkyung dingin. Sungkyung segera berbalik. Ingin mencari jalan keluarnya sendiri. Baru beberapa langkah, tangannya dicekal oleh Jinki yang membuat ia meringis.

“Kami hanya mencoba menyalamtkan teman kami. Tolong pertimbangkan lagi tentang Anda yang ingin melaporkan kami…”

Sungkyung mendekat ke arah Jinki, ia menatap Jinki tajam, “Kau seharusnya mempertimbangkan segala hal termasuk alibi ku sebelum menyertku ke sini!” Sungkyung segera menghentakan tangannya kasar. Berbalik dan menghilang dari apartment.

Mereka terdiam memandang kepergian Sungkyung. Apa sekarang mereka harus menyerah?

.

.

.

.

.

Tidak ada yang berubah sama sekali. Setidaknya selama beberapa jam terakhir. Walau dokter sudah mengatakan ia akan selamat, tapi dirinya masih merasa tidak yakin. Ia menghela nafas. Merasa pengap berada di ruang bawah tanah, tempat persembunyiannya. Untuk beberapa saat disana, beberapa waktu lalu, ia sangat yakin orang yang sedang tidur ini akan pergi meninggalkannya. “Bangunlah….” Ujarnya lirih.

Trek~

Pintu kamar terbuka. Seorang laki-laki berperawakan tinggi masuk. Ia tersenyum sedih melihat orang yang ia sayangi menatap nanar seseorang yang sama sekali tidak ia kenal. “Jinri…” Katanya lirih kepada gadis yang terus menerus menatap laki-laki yang bernama Choi Minho. “Istirahtlah… Kau juga lelah bukan? Jika terjadi apa-apa aku akan merasa sangat bersalah.”

Jinri menggeleng, “Aku tidak bisa Chanyeol! Aku tidak bisa!”

Chanyeol menghela nafasnya. Ia tidak menyangka hasilnya bisa seperti ini. Sungkyung dua hari yang lalu meneleponnya. Mengatakan jika ia butuh bantuan Chanyeol untuk mengurusi orang yang menargetkan Jinri. Ini untuk pertama kalinya bagi Chanyeol. Setahu Chanyeol Sungkyung selalu melakukan hal ini sendiri. Chanyeol akhirnya setuju karena Jinri. Sedikit tidak menyangka ia menembak Jinri yang untungnya terkena di bahu. Chanyeol ingin menembak laki-laki itu tepat di jantung yang meleset ke lehernya. Intinya sama saja buruk, lelaki itu akan meninggal dengan cepat.

Setelah itu Chanyeol segera ke kamar Jinri dan menemukan Jinri sedang menyelamatkan laki-laki itu. Ia melihat untuk pertama kalinya Jinri menangis. Untuk pertama kalinya Jinri mengatakan ia mencintai laki-laki itu. Chanyeol pun luluh. Dia akhirnya menyelamatkan laki-laki itu juga. Demi Jinri, sahabatnya yang pernah membantu Chanyeol dimasa-masa sulit.

“Aku tidak pernah menyalahkan mu Chanyeol…” Jinri berkata lirih. “Kalian semua melakukan ini demi kebaikan ku.”

Chanyeol mendekat dan menggenggam tangan Jinri, “Terimakasih…. Tapi bisakah kau lakukan hal itu untuk ku? Beristirahat?” Chanyeol tersenyum kecil, “Aku ada ide! Bagaimana aku menyediakan kasur disini tapi kau harus tetap di kasur tersebut huh?”

Jinri mengangguk, “Terimakasih…”

“Tidak usah berterimakasih kepadaku…” Chanyeol berbalik. Tapi baru beberapa langkah Jinri kembali memanggilnya. Menanyakan kabar Oennie-nya, “Oennie mu tadi menelepon ku. Ia baik-baik saja. Tapi teman-teman Choi Minho tadi mendatanginya. Untungnya ia punya alibi di rumah sakit.” Setelah itu, Chanyeol meninggalkan ruangan untuk mengambil kasur untuk Jinri.

.

.

.

.

.

Jinri berteriak senang ketika Minho dengan perlahan membuka matanya. Ia baru saja membuka jendela. Membiarkan angin musim semi masuk. Tiga bulan sudah berlalu. Mereka, ia dan Minho tidak lagi berada di bassmen bangunan di Jerman. Tetapi sekarang sudah kembali ke Jindo. Teman-teman Jinri, Sehun, Kai, dan Chanyeol melindunginya saat ini. Memberikan mereka sebuah rumah kecil.

Keadaan juga masih terkontrol untuk saat ini. Terakhir Sungkyung menginformasikan bahwa nama Jinri tidak muncul lagi di perusahaannya. Sungkyung mengatakan jika ada rapat untuk menghilangkan nama Jinri dari target untuk selamanya. Ini dikarenakan Jinri selalu bisa kabur dan Jinri berhasil menghilangkan Choi Minho, yang notabane-nya agen terbaik mereka.

“Minho… Minho kau sadar…” Suara Jinri begitu senang. Airmata menetes tanpa ia sadari.

Perlahan, karena tenaganya yang belum pulih, Minho mengangkat tangannya dan menghapus air mata Jinri. Bibirnya terbuka. Hal itu membuat Jinri mendekatkan wajahnya. “Kau… Cantik dengan rambut pendek mu.”

Jinri tertawa riang. Ia memang memotong rambutnya sangat pendek bermodel bob yang ia cat bewarna strawberry blonde. Untuk menutupi jejaknya.

“Bibirku tidak pedas Choi Jinri…”

Jinri kembali tertawa riang dan dengan cepat mencium bibir Minho.

Ketika Jinri dan Minho sedang berciuman, Chanyeol dan Sungkyung yang baru masuk terperanjat melihat mereka.

“Aku bersumpah dia baru saja sadar.” Bisik Chanyeol ke Sungkyung.

Sungkyung diam menatap Jinri dan Minho datar.

Ehm… Ehm….” Kata Sungkyung ketika Jinri dan Minho melepas tautan bibir mereka.

Jinri menoleh ke Oennie-nya, “Oh, Oennie…

Minho menoleh dengan perlahan, “Oennie?”

Sungkyung belum menjawab. Tetapi Chanyeol berjalan mendekati mereka. Menuju jendela kemudian menutupnya. Tak lupa juga gorden.

“Ada apa ini?” Minho menatap Chanyeol dan Sungkyung was-was. Ia butuh beberapa saat untuk mengenali Park Chanyeol.

“Tidak ada apa-apa. Ini Oennie-ku…” Jinri tersenyum ke arah Minho. Mengenalkan Minho ke Sungkyung yang masih berdiri tak bergeming. Melihat respon Oennie-nya yang masih tidak mempercayai Minho, Jinri memutuskan untuk mengenalkan Minho ke Chanyeol, “Ini sahabatku, Park Chanyeol.”

Chanyeol mengangkat tangan kanannya, “Aku laki-laki yang menembakan peluru ke leher mu.”

Jinri menatap panik kedua orang yang belum menyambut Minho dengan baik.

“Aku mengenal mu Park Chanyeol.” Minho berkata lirih. Masih belum mempunyai tenaga.

“Jinri, kurasa… Kurasa Choi Minho membutuhkan minuman. Bagaimana kau mengambilkannya?” Sungkyung berkata tanpa melihat Jinri. Tatapannya lurus ke Minho.

“Oh….” Jinri ragu meninggalkan Minho kepada Oennie-nya. Bukan karena ia tidak percaya kepada Oennie-nya. Tapi dia takut bagaimana respon Minho nantinya.

“Tidak apa-apa…” Ujar Minho kepada Jinri. Minho dapat menangkap keraguan Jinri. Dia akhirnya berkata seperti itu. Pemikiran dasarnya? Jika orang-orang dekat Jinri ingin ia mati, ia pasti sudah mati dari lama.

Jinri kemudian tersenyum ke Minho, “Baiklah. Aku juga akan membawa makanan. Kau pasti lapar bukan?”

Ketika Jinri melangkah keluar. Chanyeol yang merasa di tatap tajam oleh Sungkyung mengerti ia juga harus keluar. Dengan tenang ia merangkul Jinri dan berkata, “Krystal mengirimkan mu cupcake. Dia berkata jika Olivia senang membuat cupcake akhir-akhir ini.”

“Benarkah?” Setelah itu percakapan mereka tidak terdengar lagi. Mereka sudah keluar dari kamar.

Sungkyung sedikit tersenyum ketika melihat Minho yang mendelik tajam ke Chanyeol dan Jinri. Ia benar-benar mencintai adik ku…
“Choi Minho…” Suara Sungkyung memanggil Minho. “Apakah kau benar-benar mencintai adik ku?”

Minho mengangguk mantap. “Ya.” Katanya untuk tambah meyakinkan Sungkyung.

“Apa yang akan terjadi selanjutnya?”

Minho berpikir sejenak, “Aku akan keluar dari dunia ku agar bisa bersamanya. Aku ingin bersamanya…. Meski itu berarti aku kehilangan dunia ku.”

Mata Sungkyung membesar mendengar jawaban lugas Minho. Ia menganggukan kepalanya, “Kau tidak perlu keluar dari dunia mu. Perusahaan sudah menganggap mu mati. Kau tinggal membuat identitas baru saja.”

“Maksudmu?”

“Aku bekerja di perusahaan mu Minho. Aku menjaga Jinri adik ku dari ALC langsung. Aku memantau namamu dan Jinri. Untukmu, kau sudah aman.”

“Jadi selama ini percobaan pembunuhan Jinri gagal karena dirimu?”

“Ya!”

“Dan kau tidak pernah tertangkap sekalipun?”
Sungkyung menghembuskan nafasnya, “Sekali. Oleh teman mu. Mereka memeriksa darah Jinri dan menemukan kecocokan DNA dengan ku. Mereka menyeretku dan menanyakan dirimu kepada ku.”

“Kau memberi tahu mereka?”

Sungkyung menggeleng, “Tentu tidak. Pertama, itu karena aku sudah berjanji dengan Jinri untuk merahasiakan mu. Kedua, aku berpikir jika mereka mengetahuinya itu bahaya bagi mereka.”

“Apa yang terjadi pada mereka?”

“Aku melaporkan mereka. Mereka mendapat hukuman tapi mereka tetap menjadi agent. Mereka sekarang berpencar.”

“Berpencar? Apakah kau mencari mereka dimana?”

“Apakah aku pembantu mu?”

Minho terdiam mendengar jawaban dingin Sungkyung.

Sungkyung sendiri merasa perkataannya terlalu kasar. Ia menghela nafasnya, “Buat adik ku bahagia. Okay?”

Minho menganggukan kepalanya mantap, “Kau bisa memegang kata-kataku.”

.

.

.

.

.

~ 4 years later ~

Jinki merasa tubuhnya sangat lelah. Ia memasuki apartment yang telah ia tempati selama 4 tahun ini dengan mengusap-ngusap tenguknya. Begitu memasuki, ia merasa sedikit aneh karena ada paket yang tergeletak di meja ruang tamunya. Jinki mengeluarkan pistolnya dan mulai mengecek setiap sudut apartment-nya.

Aneh. Tidak ada seorang pun. Ia menghampiri paket yang merupakan amplop besar. Duduk di bangku sambil memperhatikan amplop tersebut. Terdapat tulisan di amplop tersebut, Untuk Charles Cho. Tangan Jinki bergetar. Tidak mungkin.

Ia segera menyobek amplop tersebut dan mendapati sebuah handphone layar sentuh. Jinki menghidupkan handphone-nya.Tidak ada apa-apa di handphone-nya. Hanya satu aplikasi dan itu merupakan video call. Jinki membuka aplikasi video call dan mendapati hanya ada satu nomor. Jinki menekan nomor tersebut.

“Anyeong hyung….”

Jinki tidak menyangka siapa yang ia lihat sekarang, “Minho…” Suara tercekat. “Itukah dirimu?”

Minho menganggukan kepalanya, “Ini aku.

“Kau selamat! Astaga! Bagaimana bisa?”

Isteri ku yang menyelamatkan ku…”

“Isteri mu?”

Choi Jinri hyung…”
Jinki terkekeh kecil.
Aku tidak bercanda hyung…”

“Aku tahu kau tidak bercanda. Aku hanya tidak menyangka. Hidup ini penuh misteri bukan?” Jinki kembali berbicara, “Jadi Minho, bagaimana bisa kau menyeludupkan amplop ini ke dalam apartment ku?”

Itu dulu apartment ku juga. Aku masih mempunyai kuncinya. Tapi aku meminta bantuan Sungkyung untuk menaruhnya di apartment mu.”

“Sungkyung… Lee Sungkyung?”

Minho mengangguk mantap, “Dia benar-benar saudara perempuan Jinri. Dan semua pemikiran mu terhadapnya benar.

“Jadi dia berbohong ketika menceritakan kemungkinan ia dapat bersaudara dengan Jinri?”

Minho terkekeh kecil dan mengangguk, “Dia berasal dari orangtua yang sama dengan Jinri.” Minho kemudian berkata, “Hyung ada yang ingin ku bicarakan dengan mu. Apakah kau tidak pernah pergi dari kota ini karena menunggu ku pulang? Aku meminta bantuan Sungkyung untuk mengkabari ku tentang kalian.

“Aku tahu setelah aku menghilang kalian tidak lagi menjadi satu tim. Aku tahu kau sudah diminta pindah beberapa kali tapi selalu menolaknya.Apakah karena diriku? Kau menunggu diriku? Apakah karena kau merasa bersalah kepada ku akibat memaksaku menutaskan kasus Jinri dengan segera?

Jinki menatap Minho lembut, “Aku tidak bisa menerima jika aku meninggalkan kota ini.”

Kau melakukan yang bisa kau lakukan. Kata-kata mu waktu itu adalah hal yang benar. Hanya saja hal-hal terjadi tidak sesuai dengan perkiraan. Hidup ini penuh misteri bukan? Jangan terlalu keras kepada dirimu.

Jinki tersenyum, “Setelah menikah kau jadi sangat bijak kau tahu itu?”

“Bisakah hyung keluar dari balkon? Kau bisa melihat ku duduk di café depan apartment yang aku sendiri tidak tahu kapan ini berdiri. Banyak yang berubah dari kota ini dan aku sekarang menganggap kota ini sebenarnya indah.”

Jinki melangkahkan kakinya menuju balkon. Ia tersenyum lebar ketika benar-benar melihat Minho. “Minho!”

Minho tersenyum dan melambaikan tangannya. Jinri juga berada di situ dan ikut menoleh ke arah Jinki. Sambil menggendong bayi, ia tersenyum ke Jinki. Ditengah-tengah Minho dan Jinri terdapat batita yang asyik memakan buburnya.

Hyung… Aku sudah bahagia dengan dunia ku. Bahagialah sekarang….”

.THE END.

A/N:

  • Cerita ini dibuat sebelum tanggal 18/12. Ketika tanggal itu saya sedikit ragu untuk memakai Kim Jonghyun sebagai cast. Tapi setelah saya pikir-pikir, rasanya akan aneh melihat dalam satu tim hanya terdiri dari 4 orang sehingga saya tidak menghilangkan cast Kim Jonghyun. Maaf jika ada yang tersinggung dengan ada cast Kim Jonghyun di cerita ini……
  • Pernah di post di wattpad dalam rangka memperingati ulang tahun Choi Minho di akun author Acil Choi.

 

 

Advertisements

In The Snow (Chapter 2/3)

inthesnow

Main Cast: Choi Minho, Choi Sulli, Lee Sungkyung, All Shinee’s member

Rating: T (Teen)

Length: Threeshoot

Author: Ally

Poster By: NJXAEM @ POSTER CHANNEL

Chapter 2

When the temperature goes up, the snow is gone but i hope you’re not gone.

.

.

.

Apa yang Minho pikirkan pertama kali ketika melihat tulisan Choi Jinri? Dia merasa tidak bernafas. Tercekat. Seluruh udara seketika menghilang dan dia terpaku sejenak. Minho melirik foto targetnya dan informasi targetnya. Baru tiga baris, Minho langsung menutupnya. Ia tidak sanggup. Itu benar-benar Choi Jinri.

Choi Jinri si gadis aneh. Choi Jinri gadis yang tak takut keluar ketika mabuk. Choi Jinri yang mencium bibirnya. Choi Jinri yang menghabiskan waktu bersamanya kemarin malam. Minho meletakan file ke atas meja. Dia terdiam. Red tag, huh?

Red tag dimana ia bisa kabur sebanyak lima kali dan semua yang ingin membunuhnyalah yang mati. Red tag…

Tapi Jinri tidak seperti itu. Dia gadis yang ceroboh. Dia gadis yang aneh. Dia tidak terlihat seperti Minho yang kejam tak berperasaan. Dia gadis yang mempunyai mata polos dengan matanyalah Minho tertarik kepadanya. Dia… Dia berhasil membuat Choi Minho jatuh cinta kepadanya.

Minho menggigit bibirnya. Menatap papan tulisnya yang kosong. Sial!

.

.

.

.

.

Mentari mulai bisa dirasakan. Sinarnya tidak terlalu terang. Suhu dingin juga masih mendominasi. Tetapi sinarnya membuat tumpukan salju mulai meleleh. Burung berkicau sudah mulai terdengar. Minho menyesap kopi hitamnya perlahan. Kembali terdiam.

Sudah hampir empat minggu ia pergi menjauh untuk sementara. Dia tidak bisa menerima yang terjadi saat ini. Hal menakjubkan adalah tidak ada teman satu timnya yang mengetahui hal ini. Hal dimana ia pergi menjauh. Teman-temannya berpikir dia sedang asyik mengintai. Padahal ia sedang menghabiskan waktu di tempat yang jauhnya dua jam dari kota suram itu.

“Ingin menambah kopi lagi?”

Minho tertegun mendengar suara laki-laki di belakangnya.

“Minho…” Jinki kemudian duduk di depan Minho. Tersenyum lembut dan mulai menyesap kopi.

Hyung…” Minho masih bingung kenapa Jinki bisa ada disini. “Kau disini karena kasus baru?” Tanyanya berusaha santai.

Jinki tersenyum, “Aku kesini karena dirimu.”

Minho tertawa kecil, “Aku baik-baik saja. Sedang asyik mengintai.” Bohongnya. Tidak ada yang perlu mengetahui masalah ini. Tidak ada. Dia pasti tidak akan selamat jika ada yang mengetahui masalah ini.

“Benarkah?” Jinki menurunkan senyumannya. “Jadi dimana targetmu?”

Minho kali ini tidak bisa menjawabnya. Ia menyeruput kopi yang tidak hangat lagi.

“Aku datang kesini karena bos menanyakan kepadaku tentang dirimu. Dia ingin kabar kasus terbaru dari mu.”

Minho menghela nafasnya, “Hanya itu?”

“Choi Minho!” Suara Jinki mulai berubah menjadi serius. “Target mu… Aku membaca file nya dan sedikit mengikutinya.”

Kali ini Minho menatap Jinki, “Mengikutinya?”

“Dia tidak tinggal terlalu jauh dari mini market apartment kita. Dia bekerja sebagai perawat di rumah sakit di kota kita.   Dia tidak terlihat bahaya. Tapi aku mulai berpikir kenapa hal itu membuat mu…. Menjauh… Kemudian aku menyelidiki dari mini market dan berhasil mendapatkana informasi dari José. Kau tahu José bukan? Si Penjaga mini market? Dia mengatakan jika target mu dan dirimu mengobrol jauh sebelum dia menjadi target mu. Sebuah pemikiran masuk. Apakah dia yang bersama mu ketika malam tahun baru?”

Minho memejamkan matanya mendengar penjelasan Jinki yang sangat cerdik. Jinki mendesis, “Sial Minho! Jangan katakan aku benar!” Nada suaranya semakin serius.

“Itu benar!”

Jinki menghela nafasnya, “Sial! Aku terkadang benci dengan pemikiranku!”
“Aku butuh menjauh sedikit. Ini gila hyung! Aku bukan hanya tidur dengannya! Aku mengobrol dengannya beberapa kali dan dia—“

“Aku tahu!” Potong Jinki. “Kau memang bisa dikatakan brengsek karena tidur dengan setiap wanita dari kota yang kita singgahi. Tapi aku tahu kau menganggap wanita yang kau tiduri tidak bahaya. Kau berhati-hati dengan itu. Tapi target kita sudah berhasil kabur sebanyak lima kali!”
Minho mengusap mukanya kasar, “Maksudmu ia sengaja mendekati ku karena tahu aku yang akan membunuhnya?”

“Bukan! Bukan itu maksud ku! Target ke kita terpilih secara acak. Satu-satunya cara untuk mengetahui siapa pembunuhnya adalah ketika file nya dikeluarkan. Dia tidak mungkin tahu siapa yang akan membunuhnya. Intinya adalah, dia sudah melakukan ini sejak lama dan dia terbiasa menyamar sebagai orang biasa. Dimatamu mungkin dia aneh atau ceroboh atau bodoh. Tapi itu tidak menunjukan dia tidak tahu dia akan dibunuh. Dia pasti tahu. Entah bagaimana caranya.”

Minho menggeram kesal.

“Minho…” Jinki kali ini memanggil Minho lembut, “Kau sudah membaca file sampai tuntas?”

Minho menggeleng, “Aku tidak bisa.”

“Bacalah kumohon… Bacalah sampai tuntas. Kau harus menghadapi ini.”

Hyung aku—“

“Yang bisa menyelamatkan dirimu sendiri adalah dirimu.” Jinki kembali memotong. “Aku tidak bisa. Tidak ada yang bisa dan kau tahu itu!” Jinki menyeruput kopinya yang sudah dingin, “Aku akan berbohong kepada bos untuk kali ini. Mengatakan jika kau sedang menyamar dan aku sudah mengirimkan pesan untuk mu agar menghubunginya. Paling lambat besok kau akan menghubungi bos. Itu artinya kau harus kembali ke apartment paling lambat besok. Ku harap ketika kau kembali kau juga sudah siap untuk membunuh gadis itu. Jika tidak… Aku akan lepas tangan dari masalah ini.”

Minho terdiam mendengar penjelasan Jinki.

“Aku balik. Berpikirlah dengan jernih Minho!” Ia bangkit dari kursi dan menepuk pundak Minho pelan.
Tak lama setelah kepergian Jinki, Minho memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Berjalan keluar dari restaurant di hotelnya dan menuju lantai tiga. Masuk kekamar 329. Mengambil file yang terletak di tasnya.

Minho memejamkan mata sejenak sebelum mulai membacanya.

Choi Jinri. Jenis Kelamin: Perempuan. Umur: 24 tahun. DOB: Busan, 29 Maret. Lulusan ilmu keperawatan Universitas Sungkyunkwan 2 tahun lalu. Lahir di Busan dan menghabiskan waktu disana sampai berumur 3 tahun, ia dan keluarganya pindah ke kota kecil bernama Jindo dan bekerja sama dengan keluarga mafia lainnya, Keluarga Oh, Keluarga Kim, Keluarga Park, dan Keluarga Tuan. Ia tinggal disana hingga berumur 15 tahun, yaitu saat Choi Enterprise, perusahaan keluarganya bangkrut akibat Skema Ponzi. Ayahnya, Choi Jinsil meninggal di penjara karena dibunuh. Ibunya, Shim Haemin bunuh diri. Keempat anaknya termasuk Jinri melarikan diri. Dua telah berhasil dibunuh sisa dua lagi yang kabur, dimana satu anak sampai saat ini belum diketahui identitasnya. Jinri selama ini berhasil kabur entah bagaimana caranya. Semua orang yang menyelidikinya hilang. Semua orang yang bertugas membunuhnya malah berakhir dibunuh. Kemungkinan terbesar sampai sekarang ia berhasil selamat sampai saat ini karena dibantu oleh keluarga mafia lain.

Minho menghela nafasnya ketika selesai membaca halaman pertama dari file Jinri. Perkataan Jinki berputar di benaknya, Jinri sudah lama berada hidup dengan menyamar.

Minho membuka halaman kedua.

Nama lainnya: Koo Hyunah, Cho JungAh, Yoo Hain, Bae Yunmi. Dia berhasil lulus dari Universitas Sungkyunkwan dengan nama Park Anna dan 2 tahun belakangan ini dia memakai nama lahirnya kembali, Choi Jinri. Dia merupakan sahabat dari Oh Sehun, Kim Jongin, dan Park Chanyeol. Juga sempat mempunyai hubungan dengan Nam Joo Hyuk untuk waktu yang lama. Dari umurnya 14 tahun hinggal 20 tahun.

Setelah itu, tidak ada lagi tulisan. Tetapi semuanya foto-foto. Foto-foto ketika Jinri kecil. Bersama teman-temannya, Oh Sehun, Kim Jongin, dan Park Chanyeol.

Minho tahu mereka. Trio Bangsat. Nama yang disematkan kepada mereka bertiga. Mereka bertiga merupakan pemimpin dari keluarga mafia yang paling merugikan pemerintahan Korea Selatan, tapi tidak bisa ditangkap. Juga ada foto-foto Jinri dengan Nam Joohyuk. Lagi-lagi Minho mengenal Nam Joohyuk. Dia merupakan salah satu anggota keluarga mafia. Well, hidup gadis ini ternyata dikelilingi oleh mafia. Gadis ini terbiasa dengan lingkungan suram.

Minho menutup file nya dan menaruh file dalam tasnya. Baiklah, ia akan mengakhiri ini.

.

.

.

.

.

Minho menunggu Jinri di depan apartment-nya. Di ayunan depan apartment, lebih tepatnya. Setelah membaca file-nya Minho langsung pulang. Memberi tahu bosnya dia akan menyerang Jinri malam ini setelah gadis itu pulang kerja. Minho menatap ke arah depan. Bersiap-siap untuk menembak dengan pistol yang sudah di kasih peredam.

Kriett~

Minho memainkan ayunannya. Mengisi kekosongan dengan suara nyaring besi.

Kriett~

Kriett~

Kemudian Minho dapat mendengar langkah kaki mendekat. Ia melirik jam tangannya sekilas, jam setengah delapan. Jinri pernah bilang jika ia biasa pulang jam tujuh malam bukan? Minho siap-siap berdiri. Mengambil pistolnya ketika ia melihat perempuan berambut hitam panjang yang tak lain adalah Jinri.

“Minho!” Gerakan Minho terhenti. Ia meletakan pistol dengan pelan.

Sial! Jinri melihatnya dan sekarang ia sedang tersenyum ke arah Minho.

“Minho!” Jinri berjalan mendekati Minho dengan tersenyum lebar.

Jangan! Jangan! Jinri harus berbalik sekarang atau tidak Minho tidak akan bisa menembak gadis itu. Jinri harus tidak melihatnya. Minho hanya bisa terdiam ketika Jinri sampai di depannya. Jinri tersenyum sangat lebar di depannya. Mata polosnya berkilat senang.
“Aku tidak melihat mu untuk waktu yang sangat lama!” Seru Jinri senang. Minho dapat merasakan jika Jinri benar-benar senang melihatnya.

Minho terdiam. Sekarang perasan rindu mulai membanjirinya. Merendam rencana yang sudah ia susun tadi. Minho berpikir keras. Bagaimana ia bisa menyelesaikan tugasnya sekarang?

“Aku… Aku merindukan mu…” Lagi-lagi, Minho dapat melihat rona merah menjalar di pipi Jinri. “Kenapa diam saja?”

Minho menarik Jinri kedalam pelukannya. Dengan pikiran buntunya sekarang, ia akan mengeluarkan pistolnya sekarang kemudian akan menggunakannya untuk menembak Jinri. Dengan itu ia dapat menyelesaikan tugas nya dengan cepat. Juga ia tidak harus melihat wajah Jinri.
“Minho!” Lagi-lagi gerakan Minho ingin mengambil pisto terhenti. Jinri melepaskan pelukannya. Memegang wajah Minho dengan kedua tangannya, “Kenapa diam saja? Kau membuatku khawatir?”

Minho bernafas dengan sangat berat sekarang. Ia meletakan kedua tangannya di pinggang Jinri. Mengeratkan pelukannya. “Bolehkah?” Tanyanya sambil melihat bibir Jinri.

Jinri langsung menjawab dengan mencium bibir Minho. Minho membalasnya tak kalah cepat.

“Kau kenapa?” Tanya Jinri ketika tautan bibir mereka terlepas. Nafas Jinri terengah-engah.

Minho mengelus wajah Jinri perlahan, “Aku merindukan mu…” Ia mulai mencium Jinri kembali. Melupakan tujuan awalnya.

.

.

.

.

.

Jinri bangun dan mendapati Minho tidak ada. Ini kedua kalinya Minho menghilang tanpa membangunkannya sedikitpun. Apa ia terlalu lelah hingga Minho berpikir untuk tak membangunaknnya? Jinri ingin ketika ia bangun Minho berada di sampingnya.

Ketika bangun dan melihat apartment seksama, Jinri mendapati Sungkyung duduk di meja dapurnya, yang tak jauh dari tempat tidurnya. Menatap Jinri datang.

“Oennie…”

Sungkyung bangun dan mendekati Jinri.

Plak!

Jinri terperanjat ketika kakak perempuan menampar dirinya, “Oennie…”

“Kau tidak tahu apa yang kau lakukan Choi Jinri!” Sunkyung berteriak di depan muka Jinri, “Apa yang kau lakukan dengna Choi Minho?!”
Oennie dengarkan… Hubungan aku—“

“Tidak kau yang dengarkan!” Sungkyung memotong omongan Jinri. Mukanya merah menahan emosi, “Choi Minho adalah orang yang akan membunuh mu dan kau menidurinya sekarang!”

Oennie pasti bercanda bukan?!”
“Apa aku terlihat sedang bercanda?!” Sungkyun menghela nafasnya kasar, “Aku tidak bercanda! Dia kemarin malam berada di luar apartment mu untuk membunuh mu! Aku sudah bersiap-siap untuk membunuhnya! Jika saja kau tidak mendatanginya kemudian memeluknya sehabis itu berciuman dengannya dan sekarang kau berada di tempat tidur tanpa pakaian!”

Air mata Jinri sudah menetes. Hatinya sakit. “Oennie…” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Jinri. “Dia… Dia tidak seperti itu…”

“Apa yang kau tahu tentang dia Choi Jinri? Hidupnya sebagai pembunuh bayaran seperti ini. Kata apapun yang ia ucapkan adalah kebohongan karena ia hidup di kebohongan!”

“Oennie…”

“Katakan kepadaku… Apa yang kau ketahui tentang dia?”

Jinri terdiam. Tidak ada… Yang dia ingat adalah Minho pernah mengatakan kepadanya jika ia sedang mengekspansi perusahaan jasanya. Yang sekarang terdengar sangat rancu kalau bisa dibilang. Kemudian kedua orangtuanya yang entah mengapa Jinri tidak mempercayainya sekarang.

Jinri memejamkan matanya, “Tidak ada…”

“Bagus.” Sungkyung tersenyum sinis. “Kau pergi sekarang Choi Jinri! Pergi dari kota ini! Dia pasti akan mengejarmu! Serahkan saja ia kepada ku!” Sungkyung berbalik dan berjalan ke arah lemari. Membukanya dan mulai mengeluarkan baju-baju Jinri.

“Kau harus selamat. Hanya kau satu-satunya yang selamat dari keluarga kita!”

Air mata Jinri tidak bisa berhenti menetes. Ia menundukan kepalanya, menatap bulir-bulir terjatuh dan membasahi selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya. Kedua tanganya yang terletak di dadanya meremas selimut dengan kencang. Dia tidak akan berbohong, rasanya sakit… Sakit yang tak pernah ia rasakan. Sakit yang berbeda ketika ia tahu keluarganya satu-satu meninggalkannya.

“Aku tidak ingin…”

Sungkyung menghentikan gerakannya yang mengeluarkan pakaian Jinri ketika mendengar suara lirih. Ia menatap Jinri dengan tatapan tajam.

Jinri menatap Sungkyung, bibirnya bergetar ketika ia mengatakan, “Aku tidak ingin tanpa dirimu… Ayo selesaikan ini bersama-sama!”

.

.

.

.

.

Setelah misi Minho gagal, yang itu merupakan pertama kalinya bagi seorang Choi Minho. Tanpa jeda sedikitpun, ia berencana menyelesaikan misi yang tertunda kemarin hari ini. Minho memasuki mini market untuk membeli 4 sandwich. Rencananya dia akan membawa sandwich ke apartment Jinri. Berbasa-basi sejenak, mengatakan ingin makan siang bersama. Ketika Jinri membuka pintu apartment-nya dan Bam! Semuanya selesai. Misi tercapai!

Ngomong-ngomong, Minho mengetahui Jinri ada di apartment-nya karena ia tidak sengaja membaca jadwal agenda Jinri, yang gadis itu pampangkan di dinding apartment-nya, mengatakan jika hari Jum’at ia libur.

“Porsi makan teman-teman mu berkurang sekarang?”

Minho tersenyum mendengar perkataan José. Dia rasa laki-laki itu sebenarnya ramah, hanya pelanggan saja yang tidak ramah kepadanya. “Ini bukan untuk teman-teman ku. Aku punya rencana lain.”

José mengangungk-anggukan kepalanya seakan dia sudah bisa menebak apa yang terjadi. Penjaga mini market pun menyebutkan harga 4 sandwich dan segera saja Minho membayarnya.

Setelah itu, Minho melangkahkan kakinya menuju apartment Jinri. Ia melangkah dengan pasti. Berharap yang terbaik.

Tok! Tok! Tok!

Minho dengan segala kepercayaan diri yang tersisa mengetuk pintu apartment Jinri.

Tok! Tok! Tok!

“Jinri….”

Tok! Tok! Tok!

Ketika ia mengetuk untuk ketiga kalinya, Minho mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Apa Jinri keluar? Tangannya terulur ke gagang pintu. Membukanya perlahan dan…. Pintu apartment nya tidak di kunci?

Minho mulai memikirkan scenario terburuk. Jinri sudah mengetahui bahwa Minho mengincarnya. Sekarang dia sedang menunggu di dalam dengan memanfaatkan kepanikan Minho karena Jinri tidak membukakan pintu denganya.

Brak!
Minho mendobrak pintu apartment Jinri dan mengacungkan pistolnya. Ia menelan ludahnya ketika melihat Jinri duduk di depan meja rias. Tak jauh dari apartment tidurnya. Memandangi dirinya di depan cermin. Sama sekali tidak bergeming mendengar suara keras tadi. Apartment gadis itu juga agak gelap karena Jinri menutup gordennya.

Perlahan, Minho menurunkan pistolnya. Memperhatikan Jinri seksama. Gadis itu… Rambutnya yang hitam panjang ia biarkan tergerai. Ia memakai kemeja putih dilengkapi oleh celana panjang putih.

“Bisakah kau tutup pintunya? Aku tidak suka pintu yang terbuka.”

Suara dingin Jinri membuat Minho terdiam sesaat. Tetapi ia tetap menutup pintu untuk Jinri.

Jinri sekarang menatap Minho. Tatapan gadis itu dingin. Minho bersumpah ia lebih baik melihat senyuman misteriusnya daripada tatapan dinginnya.

“Kau ingin mendengar sebuah cerita dari ku?” Jinri bertanya tanpa benar-benar menatap Minho. Tatapan gadis itu menarawang ke suatu tempat yang sangat gelap, “Aku membenci pekerjaan mu. Pekerjaan mu merebut semua orang yang ku cintai.” Ia menghela nafasnya, “Ayahku adalah orang terhebat di dunia. Dia mungkin di jalan yang salah, tetapi ia menyayangi keluarganya. Dia hanya ingin anaknya bahagia walau itu tidak sejalan dengannya. Sayang, ia terlibat dengan skema ponzi dan entah kenapa, dia!” Suara Jinri sedikit menjadi lebih tinggi, “Dia… Dia yang tidak bersalah dibunuh oleh pelaku yang sebenarnya… Tunggu, pelaku yang sebenarnya menyewa seseorang untuk membunuhnya lebih tepatnya. Ketika ia pergi, ibuku yang tidak sanggup akhirnya memilih ikut dengannya. Kalian… Kalian membunuh kedua orangtuaku!

“Kalian juga membunuh oppa ku! Oppa ku yang sampai sekarang mayatnya tidak tahu dimana! Dan kalian juga membunuh dongsaeng ku… Dia tidak bersalah… Dia saat itu hanya kelas dua SD…” Air mata Jinri menetes. Ia menghapusnya kasar, “Bagian terhebatnya adalah, karena kalian mengejarku, aku tidak pernah mengenang mereka! Memberikan perpisahan yang layak untuk orang-orang yang meninggalkan ku!”

“Kau masih punya saudara satu lagi. Dan identitas dia masih menjadi misteri hingga saat ini…” Ujar Minho berusaha untuk tenang.

“Aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang! Semuanya kosong! Aku sering menanyakan kenapa aku bisa hidup sampai sekarang? Kenapa tidak ada yang bisa membunuh ku?”

“Cerita sedih mu tidak akan menghentikan ku untuk membunuh mu.” Minho mulai mengacungkan pistol yang tadi sempat ia turunkan.

“Kau tahu sudah berapa lama aku kabur seperti ini? Aku kabur sejak umur 16 tahun. Sudah delapan tahun hidupku menggantung seperti ini.” Jinri mendekat ke arah Minho. Hal itu membuat Minho berekasi. Ia benar-benar mengarahkan pistolnya ke Sulli. Tapi ia tidak menembaknya. Minho berjalan mundur, menjauhi Jinri Kakinya melangkah cepat hingga mereka terpisahkan oleh tempat tidur Jinri.

“Akhiri penderitaan ku kumohon… Tembak aku sekarang… Aku lelah…” Jinri berkata lirh. Sangat lirih. Ia mendekat ke arah Minho yang terdiam. Berhenti ketika jarak mereka sudah tak terlalu jauh, tapi juga tak terlalu dekat.

“Kenapa aku? Kenapa harus aku yang mengakhiri hidup mu?” Suara Minho sekarang mulai bergetar. Dia juga sudah mulai ragu untuk menuntaskan misi ini.

“Impian ku sedari kecil adalah meninggal dikelilingi oleh orang yang kucintai. Mereka sudah pergi sekarang. Tapi… Tapi aku mencintai mu… Kurasa itu yang terbaik.”

“Choi Jinri…” Tangan Minho sekarang sudah bergetar, “Apa kau menantang ku sekarang? Kau pikir aku tidak akan menembakan pistol ini ke arahmu?”

“Aku tahu kau akan menembakannya. Kau yang terbaik dalam eksekusi. Aku tahu…. Aku tidak pernah ragu kepada mu…”

“Akan kulakukan!” Minho membuka gorden apartment Jinri. Membiarkan cahaya masuk agar ia dapat melihat Jinri lebih jelas. Ia mundur dua langkah dan menyiapkan pistolnya.

“Ini mungkin terdengar berlebihan. Tapi bisakah kau memelukku setelah kau menembak ku?” Jinri mulai tersenyum. Senyum itu bukan senyum misterius. Senyum itu merupakan senyum bahagia. “Terimakasih….” Jinri memejamkan matanya.

Tangan Minho mulai bergetar hebat. Ia menelan ludahnya. Sekarang ia ragu. Benar-benar ragu. “Aku tidak bisa!” Minho menurunkan pistolnya. “Aku juga mencintai mu…”

Jinri membuka matanya. Ia menatap Minho tidak percaya. Ia maju selangkah, ingin menggapai Minho. Tetapi terganggu oleh suara nyaring dari kaca jendela kamarnya yang pecah.

“Ah!” Minho terkejut bukan main ketika Jinri dengan sigap memeluknya. Membiarkan dirinya terkena peluru entah dari mana. Jinri mengerang kesakitan dan ia terjatuh. Minho menahan tubuh Jinri.

“Jinri…” Minho menekan luka Jinri yang berada di bahunya.

“Kabur… Lari sekarang Choi Minho…”

“Tidak! Tidak! Aku akan menyelamatkan mu! Tunggu!” Minho mengendong tubuh ringkih Jinri. Ingin membawanya segera ke rumah sakit. Melupakan semua misi bodohnya. Dia tidak akan menyelesaikan misi bodohnya ini.

Tapi Minho tidak melihat, sebuah peluru mengarah kepadanya.

Akh!

“Minho…”

.TBC.

A/N: Pernah di post di wattpad dalam rangka memperingati ulang tahun Choi Minho di akun author Acil Choi.

 

 

In The Snow (Chapter 1/3)

inthesnow

Main Cast: Choi Minho, Choi Sulli, Lee Sungkyung, All Shinee’s member

Rating: T (Teen)

Length: Threeshoot

Author: Ally

Poster By: NJXAEM @ POSTER CHANNEL

Chapter 1

When the temperature goes to minus degree, the snow fall so does you

.

.

.

Minho merapatkan jaketnya. Mulutnya berasa kebas karena terlalu banyak mengumpat. Sial!

Lagi-lagi, ia mengumpat. Minho menghela nafasnya. Membuat udara putih keluar. Dia kembali berjalan melintasi bangunan yang rata-rata sudah mau tutup. Jika ia tadi tidak bertaruh dengan Kibum, Minho tidak akan keluar di suhu minus derajat ini. Sayang, ia tadi terlalu bosan hingga bodohnya memilih untuk bermain dan akhirnya kalah. Minho harus pergi ke mini market terdekat dari asrama mereka dan membeli sandwich.

Teman-teman mengidam-ngidamkan sandwich yang berisi Coronation Chicken di musim dingin yang mencengkam ini. Tidak ada satupun dari mereka yang pulang ke rumah mereka. Mereka tetap melanjutkan pekerjaan mereka. Pekerjaan yang tidak mengenal hari libur.

Suara bel berdenting membawa susasana hangat yang membuat Minho menghela nafas lega. Penjaga toko menatap Minho datar sebentar dan kemudian lanjut menonton tv dimana para artis menyanyi. Tidak ada ramah sama sekali.

Minho sama sekali belum terbiasa dengan ketidak ramahan masyarakat Jerman. Padahal sudah tiga bulan ia disini. Tetapi tetap saja rasa jengkel kerap menghampirinya ketika melihat sikap mereka yang seperti itu.

Ia segera menuju tempat sandwich berada. Mengambil 10 sandwich beku dan menyerahkannya ke kasir untuk dihangatkannya.

Penjaga mini market melihat sandwich malas, “Kau mengadakan pesta anak muda?”

Minho tahu itu sindiran untuknya. Siapa yang membeli sandwich beku sebanyak ini?

“Untuk cadangan makanan di rumah.” Jawabnya malas.

“Cadangan yang banyak.”

“Kau tidak tahu betapa banyak porsi makan teman-teman ku.”

“Sekarang terlihat berapa besarnya dari sandwich yang kau beli. Tunggulah terlebih dahulu… microwave kecilku hanya bisa menghangatkan tiga sandwich.”

Minho hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia memilih duduk di bangku yang disediakan mini market. Bangku beserta meja untuk orang yang memilih makan di mini market ini. Minho mengamati jalanan yang sepi. Mencekam. Tidak ada harapan sama sekali. Hanya dia berharap dia akan pulang secepatnya. Ditarik ke tempat yang lebih hangat. Atau setidaknya lebih ramai.

Ting!

Suara bel, yang bukan dari microwave, tetapi dari pintu mini market berhasil menyadarkan Minho dari lamunannya.

“Hai, José!”

Lady, kau datang lagi…”

Okay, ini menarik. Apakah penjaga mini market yang tidak pernah berbicara itu baru saja membuka mulutnya dan mengeluarkan suara? Minho sedikit menoleh dan mendapati José-yang ternyata namanya- sedang berbincang dengan gadis berambut hitam. Hitam? Ini lebih menarik. Kota kecil ini rata-rata memiliki penduduk dengan rambut cokelat tua.

“Ku harap kau masih ada sandwich dan beberapa kerpik kentang.” Suara gadis itu halus dan entah mengapa Minho bisa menangkap gadis itu sedang tersenyum.

“Tentu. Ada hotdog mana tahu kau bosan.”

“Sempurna…” Gadis itu segera berbalik. Disitulah Minho dapat melihat rupa gadis itu yang ternyata berasa dari Asia, sama sepertinya. Gadis itu langsung saja menuju wilayah makanan ringan.

Merasa ia terlalu banyak memperhatikan orang, yang merupakan kebiasaan yang dianggap buruk disini, Minho memilih memandang jalanan lagi.

“Yang benar saja, Lady…” Suara José kembali terdengar. “Kau membeli 4 sandwich? Apakah kau ingin mengadakan pesta? Jangan lupa keripik kentang dan soda yang juga kau beli!”

Gadis itu tertawa riang, “Teman ku memang datang kesini.”

“Kau ingin sandwich-nya di hangatkan bukan? Kau harus menunggu agak lama. Kau lihat lelaki yang sedang duduk itu? Dia membeli 10 sandwich dan aku baru menghangatkan tiga.”

“Aku akan menunggu nya.”

“Tunggulah…”

Minho dapat mendengar langkah gadis itu mendekat. Dia merasa jika gadis itu duduk tepat di sebelahnya. Menatap jalan yang suram. Kemudian ia menoleh melihat Minho yang mau tidak mau membuat Minho ikut menoleh juga.

“Asia?” Tanya gadis itu sedikit terkejut. “Ku pikir hanya aku saja yang tinggal disini.” Lanjutnya dengan bahasa Jerman kelewat lancar.

Minho sedikit tersenyum, “Aku juga berpikir seperti itu. Selain teman-teman serumahku yang juga berasal dari Asia.”

“Setidaknya kau tidak tinggal sendiri…” Nada suara menggantung di udara. Ia menghela nafasnya, “Senang bertemu dengan mu. Aku Jinri.”

“Apakah kau selalu seperti ini jika bertemu dengan orang? Maksudku kau sangat akrab dengan José tadi.” Minho tidak bersikap kasar. Tidak. Ia hanya bersikap sewajarnya. Kota ini aneh dan lebih bagus jangan terlalu baik dengan orang.

Jinri menarik kedua ujung bibirnya, membentuk senyuman yang Minho tidak tahu apa artinya itu, “Kau pasti menganggap ku aneh bukan? Aku rasa aku memang sedikit gila ketika terdampar disini tanpa mempunyai teman.”

“Bukan itu maksudku…” Sekarang ia merasa bersalah. Minho melihat Jinri sudah menatap kembali jalan. Terdiam. Ia menghela nafas dan juga memilih menatap jalan. “Aku Choi Minho.” Kata Minho akhirnya dengan bahasa korea, “Kau dari Korea bukan?”

“Aku tidak menyangka menemukan seseorang yang berasal dari negara ku di kota kecil ini.” Jinri melebarkan senyumannya. “Choi Jinri.”

“Kita mempunyai nama marga yang sama. Kebetulan yang luar biasa.”

“Ya. Kebetulan yang luar biasa.” Lagi-lagi, suara Jinri menggantung di udara. Ia masih menatap jalan.

“Aku tidak bermaksud bersikap kasar tadi.”

“Aku tahu.” Jawab Jinri pendek. “Aku memang aneh.”

“Bukan itu—“

“Aku mengerti…” Jinri kembali menatap Minho dan tersenyum. “Aku memang aneh.”

Minho menjadi bingung ingin bicara apa. Beruntungnya, kalau bisa dibilang, ia diselamatkan oleh José yang memanggil dirinya mengatakan sandwich sudah hangat.

“Aku duluan…” Ujar Minho pendek dan segera ke kasir. José memasukan sandwich Minho ke kantung belanja dan mengatakan harganya. Minho membayar dalam diam.

“Gadis itu gadis yang baik. Selama menjadi penjaga disini tidak ada yang menyapaku sehangat dia.” José tiba-tiba berbicara kepada Minho, yang dimana itu baru pertama kalinya, diluar konteks beli-membeli, dan dia memberikan kembalian kepada Minho.

“Terimakasih…” Minho sedikit tersenyum ke José. Berbalik dan melambaikan tangannya ke Jinri. Kemudian keluar. Tidak berniat membalas ucapan José. Tidak berniat mengingat siapa Jinri itu.

.

.

.

.

.

Ini kali kedua Minho menuju minimarket. Kali ini ia tidak membeli makanan untuk temannya. Tetapi untuk dirinya sendiri. Setelah teman-temannya menghabiskan satu porsi pizza berukuran besar tanpa menyimpan satupun untuknya. Sama seperti sebelumnya, ia mengutuk kesal teman-temannya. Bingung kenapa bisa ia bertahun-tahun satu tim dengan mereka. Bingung kenapa pekerjaannya lebih berat daripada mereka.

Kau yang terhebat Minho…

Ya. Itu kata atasannya tapi entah mengapa ia malah terdampar disini. Bahkan ketua tim tidak dijabat oleh dia tetapi oleh Jinki. Memasuki minimarket tanpa menyapa dan kemudian langsung mencebik ketika melihat sandwich habis. Satu-satunya pilihan Minho adalah hotdog yang harganya lebih mahal. Tapi daripada lapar, akhirnya ia memilih hotdog. Begitu selesai membayar, Minho segera memakannya.

Rasanya lebih lezat. Entah karena perutnya yang lapar. Atau karena hangatnya hotdog ketika melewati kerongkongannya dan tetap terasa hangat di perutnya. Menyenangkan. Ia Sibuk mengunyah sambil berjalan. Minho asyik memakan hotdog-nya.

Kriett—

Suara besi berkarat terasa begitu keras hingga Minho mengalihkan pandangannya. Menemukan gadis berambut hitam, si Jinri, kalau tidak salah. Menaiki ayunan dengan baju tebalnya sambil menunduk. Apakah gadis itu tidak takut? Ini sudah jam sepuluh malam dan dia masih bermain ayunan tidak jelas. Anehnya, bukannya berjalan tidak peduli, Minho mendekati Jinri. Ia memasukan hotdog ke kantung jaketnya.

“Hai, gadis aneh….” Sapa Minho ketika memasuki taman dipenuhi salju. Tengah-tengahnya terdapat ayunan yang diduduki Jinri.

Jinri dengan pelan menoleh. Mendapati Minho tak jauh darinya sambil tersenyum, Jinri mengeluarkan senyumannya. Minho dapat menyadari jika muka gadis itu memerah akibat alkohol.

“Hai laki-laki kasar…”

Minho tertawa mendengar panggilan Jinri untuknya. “Gadis aneh… Apa yang kau lakukan disini? Kau mabuk?”

Jinri menganggukan kepalanya polos dan mengangkat sekaleng bir, “Aku bosan…”

Minho menghela nafas, ia memilih duduk di ayunan sebelah Jinri, “Apa yang membuat mu datang ke sini? Ke kota membosankan ini?”

Jinri terlihat memejamkan matanya, “Apa ya?”

Astaga… Gadis aneh ini memang mabuk dan dengan tenangnya ia keluar. Dia benar-benar tidak takut? Minho ingin menanyakan bagaimana Jinri bisa sampai disini, sayangnya Jinri berbicara lagi.
“Aku dikirim ke sini…”

Minho menatap Jinri dengan serius, kali ini. “Dikirim ke sini?”

Jinri mengangguk polos, “Iya. Membosankan sekali. Walaupun cuman enam bulan.” Jinri kemudian memiringkan kepalanya, melihat raut wajah Minho dan tersenyum cerah, “Sebelum kau berpikir macam-macam, aku perawat rumah sakit di kota ini. Dikirim dari pusat untuk mengabdi.”

Minho tertawa canggung. Bodoh! Gadis ini terlalu aneh kalau bisa dibilang. “Kau membuatku berpikir macam-macam. Kau tahu apa yang ku pikirkan?” Ia mendekat ke Jinri dan berbisik kecil di depan mukanya, “Kau seorang mata-mata.”

Kali ini Jinri yang tertawa riang, bukang canggung. “Bagaimana dengan mu? Apakah kau mata-mata?”

Minho tersenyum, “Aku bukan mata-mata. Aku bersama teman ku sedang mengekspansi perusahaan jasa kami.” Jasa untuk membunuh lebih tepatnya. Lanjut Minho dalam hati.

“Tempat aneh untuk mengekspansi perusahaan.”

“Ini adalah kota ibu ku. Ayahku berasal dari Korea Selatan dan ibuku berasal dari sini.” Bohong. Minho berbohong. Kedua orantuanya sudah mati atau entahlah…. Dia berasal dari panti asuhan.

Wajah Jinri tiba-tiba semakin mendekat, “Itu menjelaskan satu hal. Kau rupawan.”

Minho tidak bisa berkata-kata untuk beberapa saat. Baru saja ia ingin berkata, Jinri tiba-tiba menciumnya. Menggerakan bibirnya dengan pelan diatas bibir Minho. Hebatnya, Minho membalas ciuman Jinri.

Ketika pautan mereka terlepas, Jinri terkekeh. Masih di depan wajah Minho ia berkata, “Bibir mu… Pedas.”

Minho lagi-lagi butuh beberapa detik untuk mengetahui maksud Jinri sebenarnya. Dia habis memakan hotdog, apa yang bisa diharapkan?

Jinri tiba-tiba berdiri, menunjuk gedung di depan taman, “Kau lihat? Itu flat ku… Aku harus pulang…” Jinri berjalan dengan sempoyongan. Menuju flat yang tadi ia tunjuk.

Minho ikut berdiri. Mengamati gadis aneh dari jauh, untuk mengetahui apakah ia benar-benar ke apartment-nya.

Kemudian Jinri kembali berhenti. Berbalik menatap Minho dengan seyuman misteriusnya, “Lain kali gunakanlah saus tomat. Itu manis kau tahu…”

Jinri kembali berjalan tanpa berniat menoleh. Terlihat tidak berniat mengingat kejadian ini.

Minho mematung. Kembali mengingat bibir Jinri tadi. Manis dan ia bisa merasakan sari-sari alkohol dari bibir Jinri. Memabukan. Bibirnya, bukan alkoholnya.

.

.

.

.

.

“Target berhasil dijatuhkan. Aku segera menuju apartment. Apa? Baiklah aku akan membeli pizza.” Minho segera mematikan handphone-nya dan masuk ke dalam mobil. Tiga hari ini dia sedang tidak ingin kembali ke apartment-nya kalau bisa. Menyusuri kota sepi yang membosankan itu, hanya mengingatkannya kepada kejadian dimana Jinri yang menciumnya. Begitu membakar diri Minho. Jika saja ia hanya orang normal bukan pembunuh bayaran, Minho pasti akan mendatangi tempat kerja Jinri dan mengajaknya untuk kencan.

Setelah melewati perjalanan dua jam plus 45 menit utuk membeli pizza, Minho sampai di apartment-nya dimana teman-temannya tengah duduk menonton tv.

“Kau sudah datang… Cepatlah mandi dan sehabis itu baru makan.” Kata Kibum yang kemudian kembali menonton tv.

Tidak ingin pizza habis kembali, Minho menuju kamarnya dengan pizza. Tak lupa mengunci pintu.

Sepuluh menit kemudian, Minho baru ikut bergabung dengan pizza diikuti kemarahan Kibum akibat pertunya yang sudah keroncongan. Mereka semua makan sambil menonton tv yang menampilkan pesta tahun baru. Menghitung beberapa jam lagi tahun berganti.

Sejujurnya, Minho merasa bodoh karena mengikuti acara itu hingga menit-menit terakhir jam 12, yang artinya sebentar lagi tahun baru.

“Aku mendengar suara banyak orang dari luar.” Kata Jonghyun tiba-tiba. Ia meminum kembali bir-nya.

“Biasa… Orang-orang di kota ini mengadakan pesta tahun baru.” Kibum menjawab pendek. Meminum bir-nya juga.

Kedua temannya, Jinki dan si maknae Taemin sudah tepar karena alkohol juga. Pikiran Minho langsung berterbangan kemana-mana dengan satu tujuan, Jinri. Apakah gadis itu juga ikut pesta? Apakah gadis itu juga bersenang-senang?
“Hey, Minho, kau mau bir lagi tidak?”

Minho bangkit. Sama sekali tidak mengubris pertanyaan Kibum.

“Kau ingin kemana?” Lagi-lagi Kibum bertanya.
“Aku bosan.” Jawab Minho pada akhirnya dan memakai jaket tebalnya.

“Jangan pergi terlalu jauh.” Ucap Kibum lagi.

Minho mengangguk dan keluar dari kamarnya. Berjalan menuruni tangga kemudian keluar dari apartment. Orang-orang banyak berjalan menuju pusat kota. Minho berjalan menjauhinya. Ia menuju taman. Taman tepat di depan apartment Jinri.

Dia bodoh bukan? Dia ingin bertemu Jinri dan Jinri pasti sedang berpesta di tengah kota. Tetapi ia malah menjauhi kota menuju kota mati, bisa dibilang begitu. Toko-toko tutup dan hanya lampu jalan menerangi. Minho hanya berharap dia dapat melihat Jinri baik-baik saja ketika pulang. Itu saja dia sudah lega.

Ia memilih duduk di ayunan. Memainkan ayunan berkarat itu. Meringis ketika mendengar bunyi besi berkarat terdengar jelas.

Kriett—

Kriett—

Kriett—

Duar~

Minho menghentikan ayunannya dan melihat ke langit. Cerah, dipenuhi oleh kembang api bewarna-warni. Ia tersenyum melihatnya. Terus melihatnya hingga kembang api berhenti. Itu artinya pesta tahun baru dimulai. Banyak alkohol pasti disana. Kota ini menyukai alkohol.

Minho menghela nafasnya. Mengeluarkan udara putih dari mulutnya. Memilih memainkan ayunan tua itu lagi. Menunduk menatap sepatu cokelatnya.

“Minho…” Minho terkejut ketika menemukan Jinri sedang berjongkok, dimana ia dapat melihat wajahnya dengan jelas. “Jangan bilang kau mabuk disini.” Lanjutnya dengan nada suara geli.

Minho mengangkat kepalanya. Menatap Jinri lama. Dia… Dia merindukan gadis ini.

“Hey…” Jinri mengibaskan tangannya. “Apakah kau masih sadar?”

“Aku tidak mabuk disini.” Minho kemudian tersenyum lembut. “Kau tidak ikut pesta jinri?”

Jinri mengkerucutkan bibirnya. “Sayangnya tidak…” Terdapat nada kesal disana. “Karena aku orang baru, mereka menukarkan jadwal ku seenaknya. Padahal aku sudah dapat pulang dari jam tujuh tadi… Bagaimana dirimu? Kau tidak ikut berpesta?”

“Aku merasa ini adalah tempat yang pas untuk melihat kembang api. Diantara gedung-gedung ini, cahayanya juga minim, ini tempat yang pas.” Pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran yang kadang merangkap mata-mata membuat Minho pintar beralasan. Ia menyunggingkan sebuah senyum untuk meyakinkan Jinri.

Jinri menatap langit. Ia berbalik badan membelakangi Minho. “Uhm… Aku tidak melihat kembang api sama sekali. Tapi kurasa kau benar.” Ia berbalik dan tersenyum ke Minho

Minho membalas senyuman Jinri, “Kau bilang kau tidak melihat kembang api…”

Mata Jinri berkilat senang entah mengapa. “Aku hampir lupa!” Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan bungku kembang api. Kembang api berbeda yang dimana terdapat tangkai besi untuk memegang. “Aku mendapatkan ini dari pasien ku tadi. Kau ingin ikut menyalakannya?”

Minho tanpa ragu menjawab iya. Mereka menghabiskan seluruh kembang api sambil tertawa. Bercerita. Dimana hampir semua cerita Minho bohong. Ia tidak punya cerita bahagia. Hidupnya penuh dengan darah… Sejujurnya.

Ketika jam berdentang satu kali, pukul satu malam, Minho mengantarkan Jinri ke apartment-nya. Apartment yang terletak tepat di depan ayunan, hanya beberapa langkah darinya. Dia bisa saja duduk dan melihat Jinri dari ayunan jika ia mau.

“Terimakasih…” Ucap Jinri sedikit kikuk.

“Kau menjadi kikuk sekarang? Pertemuan terakhir kita kau bahkan langsung meninggalkan ku.”

Jinri menatap Minho sejenak. Berusaha mengingat, “Ketika—“ Matanya membesar. “Di ayunan itu bukan?”

Kali ini Minho menatap Jinri dengan melotot, “Kau bahkan tidak ingat kejadian itu?”

Jinri terdiam sebentar, “Aku ingat. Tapi tidak semuanya. Hanya sedikit kurasa…”

“Sedikit?” Minho masih melotot.

Jinri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mendekat ke Minho, “Bibirmu… Apa masih pedas?”

Sekarang, Minho lah yang terdiam, “Apa?”

“Kau tahu…” Jinri tersenyum. Senyum yang bagi Minho misterius. Senyum yang tidak dapat diartikan bahagia. Senyum yang sekarang seakaan menggodanya.

Minho berdehem. Menghilangkan kegugupannya akibat kalimat frontal Jinri, “Aku makan pizza dengan saus tomat sekarang. Kupastikan rasanya manis.”

“Kau mengikuti kata ku bukan?” Minho menelan ludahnya gugup. Suara Jinri begitu halus dan serak seakan memanggilnya. Senyuman gadis itu membakar Minho. “Bolehkah?” Jinri melihat bibir Minho sekilas.

Astaga! Gadis ini sedang menatap Minho polos tetapi itulah yang membuat Minho nyaris gila. Minho segera menarik Jinri kedalam pelukannya. Mencium Jinri. Tidak memberikan gadis itu sedikitpun kesempatan. Sepertinya, ia akan lepas kendali.

.

.

.

.

.

Hal pertama yang Minho dapati ketika ia memasuki apartment-nya adalah Kibum, Jonghyun, Jinki, dan Taemin sedang membaca file kasus baru. Sepertinya mereka semua mendapat kasus baru. Ia pulang ke apartment pukul 11 siang.

“Selamat siang Minho.” Jinki yang pertama menyadari kehadirannya. “Aku mungkin mabuk hingga tidak sadarkan diri kemarin malam, tapi Jonghyun atau Kibum mengingatkan dirimu untuk tidak pergi jauh bukan?”

“Kibum mengingatkan ku. Dan aku tidak pergi jauh.” Minho melangkah mendekati teman-temannya.

“Sabun. Kau habis mandi. Dan itu sabun perempuan.” Taemin berkata dengan mata yang tetap fokus membaca.

“Oh!” Ketiga temannya-–Jonghyun, Kibum, dan Jinki–menatap Minho serempak.

“Kau menggunakan wajah rupawan mu untuk meniduri gadis dari setiap kota yang kita singgahi.” Cibir Jonghyun.

Minho mengangkat bahunya, “Bukan salah ku memiliki wajah seperti ini.”

Jinki berdecak kesal. Segera ia melemparkan sebuah file kepada Minho, “Kau mendapat misi baru juga. Batas akhir mu ketika memasuki musim semi, bulan April.”

Minho menatap Jinki heran, “Itu cukup lama.”

Red tag Minho.”

Minho mengerti. Setiap kasus mereka diberi tag berdasarkan targetnya. Jika targetnya orang bodoh yang tidak tahu ia akan dibunuh, kalaupun tahu ia hanya bisa bersembunyi, itu green tag. Target termudah. Kalau targetnya tahu ia akan dibunuh dan menyewa semaca body guard, itu blue tag. Tidak terlalu mudah karena ia harus menyusun rencana terlebih dahulu. Jika targetnya bukan hanya tahu dan menyewa body guard, dia juga berhasil kabur itu diberi red tag. Target tersusah dan biasanya harus mengintai terlebih dahulu agar target benar-benar mati kali ini.

“Ku dengar wanita itu sudah kabur sebanyak 5 kali. Lima orang yang bertugas membunuhnya malah mati.” Kibum kali ini bersuara. “Kau harus menggunakan kesempatan dengan baik atau kau juga akan mati.”

Minho memutuskan untuk berbasa-basi sejenak sebelum ke kamarnya. Mempelajari targetnya. Ia tidak bisa mempelajari targetnya disuasana ramai. Minho menghapus papan tulisnya berkas kasusnya kemarin. Membuka file-nya. Dan menemukan nama….   Choi Jinri?!

.TBC.

A/N: Pernah di post di wattpad dalam rangka memperingati ulang tahun Choi Minho di akun author Acil Choi.

 

 

 

Runaway (Chapter 5)

Runaway Poster Fix

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Sulli dan Minho melihat kepergian guru-guru. Saat gerombolan guru telah hilang dari pandangan mereka, mereka menoleh. Menatap satu sama lain.

“Sudah lama tidak berjumpa, Sulli…”

Suara berat itu membuat Sulli tidak bisa bernafas.

.

.

.

.

.

Sulli berdehem berusaha menghilangkan kegugupannya. Ia memaksakan sebuah senyum, “Sudah lama juga tidak berjumpa denganmu, Choi Minho-ssi….” Balas Sulli berusaha menelan kepahitan ketika menyebut nama Minho.

Minho tersenyum sebagai tanggapan. “Ku rasa kita tidak bisa berbicara di sini. Ayo ikut aku.”

Sulli menyetujui perkataan Minho dan segera mengikutinya.

Minho membawa Sulli ke ruang melukis. Membukakan pintu untuk Sulli. Menghidupkan penerangan. Terakhri, tak lupa mengunci pintu ruangan.

“Ruang kerja mu?” Tanya Sulli memperhatikan ruangan kerja Minho yang penuh dengan lukisan anak-anak.

“Iya. Jadi…” Minho terdiam sejenak, menimang-nimang sesuatu, “apa pekerjaan mu?”

Sulli kemudian menoleh, “Aku..” Katanya bingung. Ia menarik nafasnya, “Fashion designer….”
Minho tersenyum lebar, “Kau mendapatkan impian mu bukan?”
Sulli terkekeh kecil, “Aku sedang mengejarnya sekarang. Small steps… Membuka sebuah butik dan berharap akhirnya bisa dikenal ke manca negara.” Ia menghela nafasnya, “Bagaimana denganmu? Kurasa ini sangat tidak sesuai dengan impian mu. Dikelilingi lukisan yang tidak sesuai dengan standar Choi Minho…”

Minho menahan nafasnya ketika Sulli mengatakan ‘Standar Choi Minho’. Ia lupa jika itu adalah kata yang sering ia ucapkan ketika mereka masih berpacaran. “Keadaan bisa berubah.” Tanggap Minho pada akhirnya. “Jadi, bagaimana kabarmu?”

Sulli mengerjapkan matanya, “Aku?” Katanya dengan nada bertanya. Ia mengalihkan tatapannya dari Minho sebelum akhirnya melihatnya lagi, “Baik-baik saja. Seperti yang kau lihat.”

“Aku senang kau baik-baik saja…”

Jantung Sulli langsung berdebar keras ketika mendengar suara berat Minho. Ia menggelengkan kepalanya, “Ada yang harus kubicarakan denganmu…” Kata Sulli dengan nada sedikit ketus. Berusaha menghilangkan kegugupannya.

“Aku juga.” Balas Minho dengan tangan yang ia masukan ke kedua kantong celananya. Sama seperti Sulli, Minho berusaha menahan rasa gugupnya.

“Ini tentang…” Sulli menahan nafasnya. Ia bingung harus mulai darimana. “Sebenarnya aku hanya ingin bertanya kabar mu. Rasanya aneh kita bertemu kemarin seperti tidak saling mengenal.” Kata Sulli pada akhirnya. Ia tidak bisa! Sungguh, ia tidak bisa memberi tahu Minho bahwa ia adalah ayahnya Taemin.

Minho menghela nafasnya, “Aku tidak menyangka akan bertemu dengan mu secepat itu. Dikondisi seperti itu pula….”

“Maksudmu?” Sulli menatap Minho bingung. Secepat itu? Memangnya Minho sudah menunggu-nunggu kedatangan Sulli? Dan apa yang dimaksud dengan ‘Kondisi seperti itu’?

Minho menggigit bibir tebalnya, “Sebenarnya….” Ia terlihat ragu, “Aku tahu tentang Taemin…” Kata Minho pada akhirnya. “Ku rasa kau ingin berbicara padaku karena hal ini bukan?”

Tenguk Sulli langsung dingin akibat keringatnya. Ya Tuhan…. Kenapa? Kenapa Minho bisa tahu?

Feeling seorang Appa…” Jawab Minho. Sepertinya Sulli secara tidak sadar mengutarakan apa yang ia pikirkan.

“Minho…” Sulli menemukan suaranya.

“Aku minta maaf kepada mu karena tidak ada di saat kau paling membutuhkan ku. Aku akui, aku egois. Aku terlalu malu kepada mu ketika melakukan hal itu. Bukan menyesal. Aku malu karena telah menyakiti mu. Kata-kata itu di luar kehendak hati terdalam ku. Itu muncul di tengah keputus asaan ku ketika aku bangun—“
“Berhenti….” Sulli menundukan pandangannya. Air matanya mulai menetes. Hatinya masih sakit mengingat kejadian empat tahun yang lalu. Dia tidak akan bisa menghadapi hal itu.

“Sull…” Tangan Minho berusaha menggapai Sulli.

Tak!

Sulli menepisnya. “Kau egois…” Kata Sulli susah payah. Menahan isak tangisnya. “Kau tidak tahu betapa susahnya aku ketika itu!”

“Aku tahu…” Minho mendekat ke arah Sulli. “Aku tahu… Maka dari itu sekarang, aku akan memperbaikinya….”

“Memperbaikinya?” Sulli tertawa sinis. “Sudah terlambat Choi Minho ssi!” Terdengar helaan nafas, “Kami sudah sempurna sekarang. Aku, Taemin, dan Kai.”

“Maksudmu aku tidak boleh ada di kehidupan Taemin begitu?” Suara Minho seketika tinggi. Apa maksud Sulli? Dia berhak akan Taemin. Dia tetaplah Appa Taemin apapun yang terjadi.

“Jangan menganggu kehidupan Taemin…”

“Maksud mu adalah kehidupan mu?” Balas Minho cepat. Masih dengan amarah.

“Aku jamin, Taemin sudah bahagia dengan Jongin di sampingnya. Tanpa diri mu!”

Sekarang Minho lah yang tertawa sinis, “Terserah kau ingin berkata apa! Ingatlah, aku tidak akan melepaskan Taemin semudah aku melepaskan mu!”

Minho segera berbalik. Keluar dari kelas. Meninggalkan Sulli yang diam tertegun.

.

.

.

.

.

Minho masih diam tak bergeming di depan kanvasnya.

“Apa yang terjadi dengan mu nak?” Suara Oemma nya menginterupsi lamunan Minho.

Minho menoleh ke arah pintu kamarnya. Oemma nya yang kurang lebih berusia 60 tahunan itu tetap terlihat muda. Dengan santainya, Oemma melintasi kamar Minho yang besar. Dimana di kamar itu banyak lukisan indah Minho. Jangan lupa, jendela besar tempat favorit Minho. Disitulah Minho kebanyakan melukis. Menghadap jendala besar. Menatap awan-awan yang indah.

“Sesuatu..” Jawab Minho pada akhirnya. “Ada apa Oemma?”

Oemma terkekeh kecil, “Hanya ingin memastikan mu. Kau terlihat sangat lesu ketika pulang.”

Minho akhirnya tersenyum, “Tidak ada apa-apa Oemma. Hanya sedikit lelah dengan pekerjaan ku. Oemma tahu akhir-akhir ini gallery begitu sibuk. Ku rasa itu ada hubungannya dengan keinginan ku yang ingin keluar jadi Tuan Kwon juga ingin mengadakan exhabisi lagi….” Jelas Minho diakhiri dengan tawa canggung.

Tidak ada di keluarganya yang tahu ia telah keluar dari pekerjaannya bersama Tuan Kwon. Keluarganya yang merupakan keluarga kedokteran adalah keluarga yang kaku. Sangat menjaga kehormatannya. Minho sendirilah yang bertindak sesuka hatinya. Minho yakin, Appa nya sangat marah ketika mengetahui Minho telah keluar dari sana ditambah menjadi seorang guru yang gajinya sangat kecil. Daripada bertengkar lebih baik berbohong.

Oemma Minho menghela nafasnya, “Oemma tahu kau telah keluar dari pekerjaan mu.”

“Ah, Oemma tahu dari mana?” Tanya Minho berusaha untuk mengelak.

“Firast seorang Oemma. Dulu ketika kau bekerja bersama Tuan Kwon kau berangkat sesuka hati mu. Jarang sekali mengikuti sarapan. Pakaian juga sesuka hati mu. Kerjaan mu itu hanya melukis. Sekarang? Kau berangkat sangat pagi pulang sangat sore. Pakaian rapih dan jarang melukis. Kau lebih sibuk dengan buku. Nah, sejak kapan Choi Minho suka buku?” Kata Oemma panjang lebar. “Katakanlah apa yang mengkhawatirkan mu? Apakah pendapat Appa mu?”
Minho mencibir, “Aku tidak peduli dengan pendapat Appa… Hanya masalah lain…” Minho tersenyum. Sedetik kemudian dia menggerang melihat ekspresi Oemma nya yang menatap Minho datar. Masih berusaha mengorek informasi. “Tidak ada apa-apa sungguh!”

Oemma Minho menghela nafasnya, “Baiklah… Baiklah… Oemma menyerah sekarang.”

.

.

.

.

.

“Jongin!” Gumam Krystal tidak percaya melihat siapa yang datang.

Kai mengeluarkan senyuman manisnya, “Kau masih bertahan rupanya…”

Krystal memutar bola matanya, “Aku tidak mengerti maksud mu. Ada apa?”

“Eh, kau galak sekali dengan suami atasan mu? Kau tidak takut kena marah?” Kai berkata dengan suara mengejek. Ah, dia suka membuat Krystal jengkel.

Krystal memutar bola matanya, lagi, “Ah benarkah kau suami atasan ku? Ku pikir kau office boy yang baru!”

Kai mendecih, “Terserah! Aku ingin bertemu dengan istriku!”

“Jangan ganggu Sulli! Dia sedang sibuk!” Teriak Krystal berusaha menghentikan Jongin yang berjalan ke ruangan Sulli.

Tentu, Jongin tidak mengubrisnya. Ia segera memasuki ruang kerja Sulli.

.

.

.

.

.

Jongin membuka ruang kerja Sulli disertai dengan senyuman hangat. Berharap Sulli menyambutnya dengan hangat juga. Keheningan yang menyambutnya. Sulli sedang memunggunginya. Menghadap ke arah komputer kerjanya.

“Sull~” Panggil Jongin pada akhirnya.

Sulli tersentak hebat. Ia segera berbalik, “Jongin~” Ujarnya tidak percaya. “Apa yang kau lakukan disini?”

Jongin tersenyum melihat Sulli yang tidak percaya dengan kehadirannya, “Kenapa? Kau terlihat sangat gembira…”
“Aku tidak menyangka kau datang kesini…” Sulli membereskan tumpukan-tumpukan kertasnya.

Jongin meletakan kantung plastik di atas meja Sulli, “Aku membawakan mu makan siang.   Sekalian ingin berbicara dengan mu.”

Sulli tersenyum, “Kau tidak usah repot-repot…”

“Aku melihat kemarin kau terlihat sangat lelah. Tadi pagi juga. Kurasa beban mu terlalu banyak. Makanya—“

“Aku tahu maksud mu…” Sela Sulli, “Tapi pekerjaan mu pasti masih banyak. Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku…”

“Aku akan melakukan apapun untuk mu Sull~ Kau tahu itu…”

Sulli menunduk. Menghindari tatapan Jongin. “Baiklah, karena kau sudah disini. Juga, apakah kau tidak lapar?” Tangannya mengeluarkan sandwich yang dibeli Jongin di supermarket.

Jongin terkekeh, “Tentu.” Ia menerima sandwich dari Sulli.

“Aku akan pergi selama beberapa hari….” Kata Jongin memecah keheningan di antarnya dan Sulli. “Sebenarnya itu alasan ku kemari. Aku ingin, sebelum aku pergi dirimu tidak apa-apa.”
“Berapa lama?”
“Sebulan? Tiga bulan?” Jongin memasukan sandwich terakhirnya. “Entahlah. Tapi tidak sampai bertahun-tahun.” Jongin mengedipkan matanya.

Sulli terkekeh, “Aku tahu kau ingin bercanda Kim Jongin…”

Jongin iku terkekeh, “Setidaknya kau sudah tertawa.” Kemudian nada suara Jongin kembali serius, “Ada masalah di perusahaan Appa. Aku harus mengurusnya.”

Sulli tidak ingin mengomentari rencana kepergian Jongin. Jika sudah seperti ini, Jongin tidak bisa ditahan. “Aku akan menunggu mu…”

Jongin tertawa kencang, “Apa maksud mu? Kau tentu akan menunggu ku Kim Sulli…”

Sulli membereskan makan siang mereka, “Apa? Tidak ada yang salah dengan omongan ku bukan?” Ia membawa kantung plastik ke tong sampah. Sedikit jauh dari meja kerjanya.

Hug~
Jongin tiba-tiba memeluknya, “Kau tahu aku akan merindukan mu…”

Sulli menoleh ke arah Jongin, “Aku tahu….” Ia mengedipkan matanya.

Jongin mendekatkan wajahnya. Ingin mencium Sulli.

Krek~

Krystal dengan polosnya masuk, “Kurasa aku harus mengetuk pintu dulu bukan?” Katanya melihat posisi Sulli dan Jongin.
Gosh!

Sulli cepat-cepat mendorong Jongin agar melepaskan pelukannya. Jongin mencebik, Pengganggu!

.

.

.

.

.

.

Suasana hati Sulli membaik setelah Jongin membawakannya makan siang. Entah itu karena sandwich nya yang lezat. Atau gurauan Jongin yang biasanya receh tapi kali ini tidak. Sulli bersenandung ria menunggu Taemin datang kepadanya.

Kemana Taemin?

Pikirnya dan melihat jam tangannya. Sudah tigapuluh menit yang berlalu. TK juga sudah mulai sepi. Apakah Taemin menghabiskan waktu bersama Minho?

Sulli berusaha menepis pikiran buruk itu. Ia tidak ingin suasana hatinya hancur. Kemarin suasana hatinya hancur bukan hanya karena Minho menolak mentah-mentah omongan Sulli. Tetapi karena perkataan terakhirnya. Ia tidak akan melepaskan Taemin semudah ia melepaskan Sulli. Itu membuat harga dirinya jatuh. Seakan ia tidak berharga dibandingkan Taemin.

Tapi, kalau dipikir-pikir, maksud Minho bisa juga ia menyesal melepaskan Sulli dulu. Makanya ia akan bertahan di Taemin. Sulli menghela nafasnya. Ia harus cepat-cepat menyingkirkan Minho sebelum suasana hatinya hancur.

Oemma!”

Sulli tersenyum melihat Taemin berjalan ke arahnya. Ketika melihat Taemin membawa sesuatu, senyumannya memudar. “Apa itu Taemin?”

Taemin mengerjap. Entah mengapa, mendengar suara Oemma nya, ia merasa takut.

“Taemin….” Panggil Sulli lagi karena Taemin hanya diam.

“Bukan apa-apa.” Kata Taemin pada akhirnya.

“Taemin….” Nada suara Sulli mulai naik. Astaga, apa yang dipegang Taemin? Itu terlihat seperti bungkusan kanvas. Apakah itu hadiah dari Minho? Tidak tahu dari mana Sulli mempunyai firasat seperti itu.

“Taemin mau pulang Oemma! Pokoknya Taemin mau pulang!”

Tanpa menunggu jawaban dari Sulli, Taemin membuka pintu belakang untuk meletakan benda yang ia pegang. Kemudian duduk di bangku depan.

Sulli menghela nafasnya. Ia mengikuti Taemin.

.

.

.

.

.

Oemma…” Panggil Taemin takut-takut karena dari tadi Sulli hanya diam.

Oemma….” Panggil Taemin lagi.
Sulli mengangkat rem tangannya. Mematikan mobilnya.

“Taemin minta maaf….” Kata Taemin pada akhirnya.

Hati Sulli luluh mendengar Taemin minta maaf. Ia akhirnya melihat Taemin, “Oemma hanya ingin tahu apa benda itu.”

“Tapi Oemma jangan marah ya…”

“Apa itu Taemin…”

Taemin menatap Sulli, “Itu… Lukisan dari Min Seongsangnim sebagai hadiah ulang tahun Taemin….”

Mata Sulli langsung melotot. Hadiah ulang tahun? Min Seonsangnim?

Oemma…” Ujar Taemin takut karena melihat ekspresi Sulli.

.TBC.

Runaway (Chapter 4)

Runaway Poster Fix

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Minho masih diam tidak bergeming sedikitpun ketika Sulli menghilang dari pandangannya.

Perkataan Sulli…. Yah, Minho tahu Sulli tidak bermaksud lebih terutama menyakiti perasaan Minho. Tapi, Minho tetap merasakan sakit hati karena kalimat itu mengatakan kepadanya jika Taemin bukan sepenuhnya tanggung jawab Minho. Tapi ia bisa apa? Bukankah dia yang mengatakan jika ia ingin mengejarkan mimpinya apapun yang terjadi?
Minho hanya bisa menghela nafas menatap kepergian Sulli.

.

.

.

.

.

“Jadi gitu Appa!” Taemin memakan suapan terakhirnya.

Jongin menganggukan kepalanya, Ia juga memasukan suapan terakhirnya. “Jadi Jung Seongsangnim keluar dan yang menggantinkannya adalah Min Seongsangnim?”

Taemin kembali mengangguk, “Benar! Taemin sangat suka kepada Min Seongsangnim… Sangat-sangat suka! Min Seongsangnim baik. Tadi—“

“Taemin…” Sulli menyela omongan Taemin. “Bukankah dirimu harus mengerjakan PR? Tadi guru-guru mengirimkan pesan kepad Oemma agar Taemin mengerjakan semua PR.”

Taemin langsung cemberut, “Mengesalkan!”

“Jangan berbicara kasar Kim Taemin!” Jongin mengingatkan Taemin dengan nada tajam. “Kerjakan PR mu dulu ya? Nanti, sebelum mau tidur kita lanjutkan lagi ceritanya ya?” Kemudian nada bicara Jongin menjadi sangat lembut.

Taemin tetap cemberut. Tetapi, ia menganggukan kepalanya. Taemin segera turun dari kursi meja makan dan berlari menuju kamarnya.

“Kerjakan yang mudah dulu ya! Oemma akan menyusul sebentar lagi!” Teriak Sulli ketika kepada Taemin. Taemin harus diancam atau tidak dia akan main-main.

Sulli bangkit dari kursinya, membereskan piring-piring keluarga kecilnya. Saat mencuci piring, Jongin tiba-tiba memeluknya.

“Bagaimana harimu?” Katanya mengantarkan kehangatan kepada Sulli.

Sulli tersenyum kecil, “Lumayan~”

“Lumayan? Jawaban macam itu?”

Sulli tertawa lepas, ia segera membalikan badannya, “Tidak ada yang special.”

Jongin mengerutkan alisnya, “Tereserah!” Jawabnya cuek. Tangannya mengelus pipi Sulli perlahan. Kemudian ia mendekatkan dirinya ke Sulli.

Cup!

Jongin mencium ujung bibir Sulli. Ujungnya, bukan tepat di bibir Sulli. Pada detik-detik terakhir, Sulli menghindarinya.
“Aku harus cepat mencuci piring agar bisa melihat Taemin…” Katanya sudah berbalik dan kembali mencuci piring.

Jongin tersenyum datar, “Baiklah…”

.

.

.

.

.

Tak! Tak! Tak!

Sulli mengetuk-ngetukan pulpennya. Tatapannya menerawang ke depan. Mejanya, yang dimana berserakan desain-desain model terbaru tidak ia sentuh sama sekali. Sejak datang ke sini, Sulli benar-benar hanya duduk.
“Krystal…” Panggilnya tanpa melihat Krystal.
Krystal yang sibuk melihat desain menoleh, “Apa?”

“Bagaimana caranya berbicara dengan orang yang tidak ingin kau ajak berbicara?”

Krystal mengerutkan keningnya, “Pertanyaan mu sangat aneh. ‘Bagaimana caranya berbicara dengan orang yang tidak ingin kau ajak berbicara?’”

Sulli menghela nafasnya. Ia meletakan pulpennya dan duduk dengan tegak. “Aku tidak ingin bertemu apalagi berbicara dengan orang tersebut. Tetapi aku harus berbicara dengannya.”

Krystal tambah mengerutkan keningnya, “Kau sangat aneh Choi Sulli. Jelas-jelas jika kau ingin berbicara dengan orang harus ada niat ingin berbicara dengan orang itu. Kau saja enggan… Ya, bagaimana mau berbicara dengan orang tesebut?”

Mendengar penjelasan Krystal, Sulli kembali menghela nafas, “Kau benar. Aku memang tidak ingin berbicara dengannya.” Ia tersenyum tipis kemudian, “Baiklah. Masalah itu akan kupikirkan nanti. Sekarang, kita focus kepada desain musim gugur kita. Bagaimana?”

“Baiklah.” Krystal kemudian mulai menjelaskan berbagai macam desain kepada Sulli.

.

.

.

.

Sulli menyelesaikan pekerjaan desainnya pada pukul 1 siang. Sudah menjadi aturannya sendiri jika jam 1 ia akan pulang untuk menjemput Taemin dan sehabis itu menghabiskan waktu bersama Taemin. Sulli membereskan meja kerjanya juga menempelkan beberapa notes di mejanya. Pengingat pekerjaan yang belum selesai. Matanya tidak sengaja melihat salah satu note-nya, “Tembus fashion week tahun depan!!!” Penyemangat dirinya agar lebih sukses sejak ia membuka butiknya, tiga tahun yang lalu dan terus menjadi mimpinya sampai sekarang.

“Aku pulang duluan ya….” Pamit Sulli kepada Krystal. Krystal yang masih sibuk menyusun jadwalnya besok menganggukan kepalanya.
“Jangan lupa jika besok kau akan bertemu dengan Vogue Magazine!” Kata Krystal tanpa menoleh sedikitpun.

“Tentu!” Jawab Sulli pendek dan segera pergi menjemput Taemin.

.

.

.

.

.

Minho meregangkan tubuhnya. Ternyata menjadi seorang guru lebih susah daripada menjadi curator gallery. Tangannya kaku akibat harus mengisi laporan. Belum lagi otaknya harus mendidih karena harus membuat silabus ngajar. Ditambah bahunya yang pegal karena harus menunduk, melihat semua lukisan untuk dinilai. Satu lagi yang paling penting, Minho harus memeras otak dalam memberi nilai karena ia merasa lukisan anak-anak disini tidak sesuai dengan standar Choi Minho. Ia menghela nafasnya.

“Kau terlihat sangat lelah Choi Seongsangnim!”

Minho menoleh dan terkekeh kecil, “Masih banyak yang harus ku nilai….” Respon Minho pendek.

Kekehan kecil terdengar, “Aku pernah merasakan hal itu seperti mu. Pada saat awal-awal mengajar matematika. Kau harus mengerti betapa frustasinya diriku melihat anak-anak yang tidak mengerti di ajar berkali-kali. Padahal ketika TK aku sudah bisa menyelesaikan perkalian!”

Minho hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Orang di depannya adalah Cho Kyuhyun. Senior dalam mengajar. Walaupun begitu, Kyuhyun adalah orang yang baik. Ia tidak membedakan Minho sejak pertama mengajar. Ramah tetapi juga professional. Sedikit aneh karena ia mempunyai latar belakang lulusan Havard di bidang matematika tetapi memilih menjadi guru TK. Tentu saja ia jenius.

“Cho!”

Panggilan dari Shi Seongsangnim membuat Minho dan Kyuhyun menoleh.

“Hari ini jadi kumpul? Di rumah mu?”

Shi Seongsangnim atau bernama lengkap Shim Changmin juga senior bahkan lebih senior dari Kyuhyun. Mengajar sejak umur 18 tahun dan sekarang umurnya 29 tahun. Guru menyanyi di TK ini dan mempunyai vocal yang luar biasa. Sangat-sangat luar biasa. Dia dan Kyuhyun adalah teman dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Ini dikarenakan mereka mempunyai umur yang sama dan bekerja disini ketika sama-sama masih muda.

“Tentu! Oemma ku yang akan memasak makan malam.” Kyuhyun kemudian menoleh ke Minho, “Kau ingin ikut Choi Seongsangnim?”

Minho tidak menyangka di ajak terdiam beberapa saat. “Tidak apa-apa?”

Changmin mengangguk mantap, “Tentu saja tidak apa-apa. Eiih…. Jangan pikir kami hanya berkumpul berdua saja. Lee Seongsangnim juga sering berkumpul dengan kita kok… Ini adalah perkumpulan guru-guru cowok disini.”

Minho akhirnya menganggukan kepalanya, “Boleh juga.”

“Eh, Junmyeon akan pulang bukan?” Tiba-tiba Yoo Seongsangnim menghampiri mereka.

Kyuhyun mengangguk, “Iya. Dia bilang jika bulan madunya dengan Joohyun sudah selesai.”
“Junmyeon?” Tanya Minho bingung.
“Oh, kau belum pernah bertemu dengan Junmyeon ya? Dia guru etika disini dan baru saja menikah.” Yoo Seongsangnim menjelaskan.

Kyuhyun tiba-tiba mendekat, “Junmyeon juga ikut dalam perkumpulan ku. Junmyeon, aku, Changmin, Jonghyun, dan sekarang dirimu.” Bisiknya kepada Minho.

Minho sendiri hanya mangut-mangut karena ini pertama kalinya ia tahu.

Kriiingggg~
Bel pulang berbunyi. Bel yang bukan hanya ditunggu oleh siswa tetapi juga ditunggu oleh guru. Pada bel ini pembelajaran berakhir dan siswa boleh bermain hingga pukul 2 siang. Sedangkan guru untuk jam makan siang, sebelum rapat wajib pada pukul 2 siang.

Minho meletakan kertas terakhir yang harus ia nilai. Ia kemudian berdiri, “Ada yang ingin ikut makan?”

Beberapa guru disana, bukan hanya Cho, Shim, dan Yoo Seongsangnim mengangguk. Mereka berbondong-bondong keluar. Mereka semua akan makan di tempat biasa, tempat makan yang tak jauh dari TK karena sekolah hanya menyediakan makanan khas anak-anak.

“Min Seongsangnim?”

Suara lembut itu seketika menghentikan Minho dari kegiatannya yang sibuk berbicara. Juga menghentikan gerombola guru-guru.

Mata Yoo Seongsangnim membesar, “Oh, Taemin Oemma?”

Minho langsung merasa tidak bisa bernafas.

.

.

.

.

.

Sulli sampai tepat waktu. Ia sudah bertemu Taemin dan Taemin meminta waktu agar bisa bermain pada teman-temannya. Sulli mengiyakan selama 30 menit dari waktu satu jam yang Taemin minta. Saat baru saja selesai berbicara dengan Taemin, matanya tidak sengaja menangkap segerombolan guru yang ingin makan siang. Suara mereka terdengar jelas olehnya. Termasuk suara Minho yang asik bercengkraman.

“Jika kau ingin berbicara dengan orang harus ada niat ingin berbicara dengan orang itu.”

Entah mengapa perkataan Krystal kembali muncul di benak Sulli. Apakah Sulli punya niat berbicara dengan Minho? Tentu saja! Dia ingin berbicara untuk meluruskan beberapa hal kepada Minho. Sulli hanya ragu karena ia bingung bagaimana caranya ia berbicara kepada Minho. Sulli hanya ragu apakah perasaannya akan menyeruak keluar, tidak terbendung, ketika ia melihat mata Minho. Dia harus berpikir jangka panjang karena sekarang dia adalah soerang istri dan ibu. Sulli tidak boleh gegabah.

Mendengar suara Minho saja membuat jantung Sulli berdetak tidak karuan. Astagaaa… Apa yang harus ia lakukan?

Sulli memejamkan matanya. Sekarang atau tidak pernah. Karena ia yakin, jika ia tidak akan bisa mengumpulkan nyali untuk berbicara dengan Minho.

Min Seongsangnim….” Panggil Sulli berusaha agar terdengar biasa saja.

Minho berhenti berbicara. Tetapi ia tidak menoleh. Malah Yoo Seongsangnim, salah satu guru killer-menurut Taemin- yang menoleh. Yoo Seongsangnim tersenyum lebar dan menanyakan kabar Sulli.
Sulli tersenyum tipis, sedikit berbasa-basi sejenak, “Saya ingin berbicara kepada Min Seongsangnim…” Kata Sulli di akhir kalimat.

Yoo Seongsangnim tertawa, “Min Seongsangnim ya?”

Tersadar jika ia salah memanggil nama Minho Sulli hanya tersenyum malu. Menahan mulutnya agar tidak mengoreksi menjadi Choi Seongsangnim. Semua guru-guru pasti bingung karena Sulli, setahu mereka, tidak pernah berkenalan secara formal dengan Minho.

“Kami akan makan siang.” Ucap Cho Seongsangnim dari belakang. “Jadi mungkin sebaiknya Anda harus berbicara lain waktu. Sehabis ini kami ada rapat. Sebaiknya juga Anda memberi tahu sebelumnya agar Choi Seongsangnim bisa mengatur jadwalnya.”
Gawat! Cho Seongsangnim adalah guru yang ditakuti oleh Sulli. Menurut Sulli ia adalah seorang professional yang tidak ragu mengatakan hal yang benar. Termasuk di situasi ini. Seharusnya Sulli memberi tahu sebelumnya. Tapi dia tidak berpikir panjang karena nyatanya ia memang tidak mau berbicara dengan Minho. Ini benar-benar ide yang muncul secara tiba-tiba.
“Tidak apa-apa….”

Deg!

Detak jantung Sulli langsung menggila ketika mendengar suara itu. Sulli mengepalkan tangannya. Tahan dirimu… Tahan dirimu bodoh! Rutuknya dalam hati.

Guru-guru menoleh ke Minho.

Minho membalas tatapan guru-guru, tersenyum meyakinkan, “Pasti ada masalah penting yang tidak dapat di undur hingga Oemma Taemin tidak sempat memberi tahu saya sebelumnya.”

Sulli terdiam mendengar perkataan Minho.

“Saya titip makan siang saya.” Lanjut Minho.

Guru-guru terlihat tidak bisa membantah dan akhirnya mengundurkan diri dari hadapan Minho dan Sulli.
Sulli dan Minho melihat kepergian guru-guru. Saat gerombolan guru telah hilang dari pandangan mereka, mereka menoleh. Menatap satu sama lain.

“Sudah lama tidak berjumpa, Sulli…”

Suara berat itu membuat Sulli tidak bisa bernafas.

.TBC.

Holla… i’m back…  Maaf ya untuk Runaway agak lama update-nya.  Saya mengalami writer block khusus untuk Runaway…

Gimana pendapat mengenai Chapter ini?  Chapter selanjutnya Julli mungkin? 🌝✌️  Karena saya mau ngambil hiatus dulu ya dari tanggal 20 Mei sampai awal Julli atau akhir Juni, jadi kayaknya pertengahan   🙏🏻🙏🏻🙏🏻

State of Grace (Chapter 21)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Lantunan piano menggema di penjuru Café. Mengiringi para penikmat makanan. Krystal memejamkan matanya. Menikmati setiap nada yang ia bentuk.

Prok~ Prok~ Prok~

Tepuk tangan menggema ketika ia menyudahi alunan nadanya. Krystal membuka matanya. Tersenyum kecil ketika mengetahui Jonghyun, sahabatnya datang kepadanya.

“Alunan musik yang bagus Jung!” Kata Jonghyun tersenyum lebar. “Tapi nada lagu terdengar seperti orang yang depresi!”

Krystal tertawa pendek, berharap suara tawanya tidak sumbang. “Benarkah? Padahal aku kira nadanya sangat bahagia…” Lanjutnya lebih kepada dirinya sendiri.

Krystal sudah menghabiskan waktu yang lama di Café milik Jonghyun dkk, Jonghyun, Minho, Taemin, Jinki dan Key. Sahabat-sahabatnya yang merupakan teman akrab Changmin, tunangan Victoria. Dari Changminlah Krystal mengenal mereka.

Setelah kejadian tadi sore, kejadian yang tidak ingin di ingatnya, Krystal menelepon Sulli. Mengajak Sulli untuk pergi bersamanya, menghabiskan waktu bersamanya secara diam-diam, tanpa satupun orang di F(x) mengetahuinya apalagi Amber. Krystal yakin Amber pasti langsung menghajar Sehun ketika mengetahui apa yang terjadi.

Mereka memutuskan pergi ke acara pembukaan Café Jonghyun. Bukan pilihan yang cerdas. Tetapi mereka tahu jika tidak ada satupun orang F(x) yang datang ke sana, mengingat semuanya sudah mengkonfirmasi tidak bisa datang. Ditambah makanan disana gratis, jadi mereka tidak perlu mengeluarkan uang.

Ketika sampai disana, Krystal berharap jika mood-nya akan membaik. Nyatanya tidak. Walaupun ia telah dikelilingi oleh orang-orang yang riang gembira. Untung saja Jonghyun datang, menawarkannya memainkan musik karena temannya telat. Krystal dengan senang hati mengiyakan. Berharap dengan musik mood nya juga akan membaik.

Tapi lihatlah? Mood nya tetap jelek dan sekarang ia menyeret orang-orang untuk bersedih juga.

“Kau tidak ingin cerita?” Tanya Jonghyun membuyarkan lamunan Krystal.

Krystal mengibaskan tangannya, “Bukan hal yang penting.”

“Aku rasa tidak begitu. Kau terlihat murung dari pertama kali datang. Selama disini juga kau terlihat melamun.”

“Bukan masalah penting. Okay?” Krystal menatap Jonghyun dengan tatapan santai. Ia hanya ingin bersenang-senang sekarang. Tanpa harus mengingat kejadian tadi sore.

Jonghyun menghela nafasnya, “Terserah… “ Jonghyun kemudian berbicara lagi, “Temanku datang sebentar lagi.   Dia sampai kira-kira lima menit lagi. Maukah kau memainakan lagu lagi?”

“Tentu. Dengan senang hati….”

Jonghyun pergi dari pandangan Krystal. Krystal memposisikan dirinya kembali bermain piano. Memejamkan matanya. Mulai membayangkan hal-hal indah, hal-hal yang berhubungan dengan melukis.

Tangannya mulai bergerak kembali. Menekan tuts-tuts piano dengan anggun. Mengeluarkan nada sesuai kehendak hatinya. Jari-jari Krystal bergerak membentuk nada minor ketika ia mengingat Tifanny. Ia membuka matanya, tahu jika nadanya akan berubah menjadi sedih. Tangannya bergerak kembali ke mayor dengan terpaksa. Tetapi sarat akan kesedihan. Krystal memejamkan kembali matanya. Membayangkan…. Membayangkan Sehun. Sedikit demi sedikit alunan nada kembali bahagia. Ia terus bermain dan bermain.

Prok~ Prok~ Prok~

Lagi-lagi, tepuk tangan meriah menyambutnya ketika Krystal kembali membuka matanya. Krystal tersenyum, bangkit dari kursi dan membungkukan badannya.

“Krystal Jung!”

Krystal menoleh dan menemukan dirinya terkejut untuk berapa saat, “Chanyeol?”
“Kau kenal Park Chanyeol?” Jonghyun tiba-tiba telah berada di sampingnya. “Ia adalah teman yang kuceritakan kepada mu!” Lanjutnya tanpa menunggu jawaban Krystal. Jonghyun menghadap Chanyeol, “Chanyeol, ini Krystal Jung. Teman akrabku. Dia sangat piawai bermain piano dan melukis.”

Krystal membungkukan badannya. Begitupula Chanyeol.

“Aku mengenal Krystal.” Kata Chanyeol ke Jonghyun. “Dia pernah datang melihat pertunjukan ku. Aku mengetahui jika ia pandai melukis tetapi tidak tahu jika ia pandai bermain piano.”

“Dia sebenarnya pandai. Bukan! Bahkan bisa dikatakan jenius. Kau lihat tadi permainannya?”

Chanyeol menganggukan kepalanya, “Tadi benar-benar mengagumkan.”

“Ku rasa aku akan kembali ke bangku ku.” Krystal mengundurkan diri dari hadapan Chanyeol dan Jonghyun.

“Tunggu!”

Perkataan Chanyeol menghentikan jalan Krystal.

“Bagaimana jika Krystal mengiringi permaianan gitarku? Ide yang bagus bukan?”

Krystal terkejut mendengar ide Chanyeol.

Jonghyun terlihat setuju, “Bagaimana Krys, kau mau?”

Krystal cepat-cepat menggeleng, “Tidak sekarang. Aku akan beristirahat dulu.” Katanya kemudian kembali ke tempat duduknya. Tempat duduknya sebelah Sulli.

Jonghyun tersenyum pendek, “Aku akan membujuknya.”

Chanyeol mengangguk, “Tenang saja teman. Okay, kurasa aku akan bersiap-siap!”

.

.

.

.

.

Sulli mendengus melihat Krystal, “Apa mood-mu belum kembali?”

Krystal menoleh, ia juga mendengus, “Entahlah. Aku benar-benar merasa sedih….”

“Ku rasa satu-satunya alasan adalah bertemu dengan Sehun.” Sulli kemudian mengambil handphone Krystal, “Bagaimana jika aku meneleponnya?”

Krystal segera meraih handphone-nya, “Jangan melakukan hal-hal aneh. Acaranya pasti belum selesai.”

“Tapi kau tidak pantas diperlakukan seperti ini….” Seru Sulli dengan nada geram. “Biarkan aku membantumu untuk sekali saja… Sekali saja setelah kejadian dengan-“

“Selamat malam semuanya….”

Suara Chanyeol berhasil memutuskan omongan Sulli, Ia segera menoleh kepanggung, “Siapa dia?” Tanya Sulli.

“Chanyeol…” Gumam Krystal tanpa sadar. Tatapannya menerawang langit-langit café.

“Oh, kau mengenalnya?”

Krystal menoleh, “Iya.” Jawabnya pendek.

Sulli menatap Krystal tajam, menuntu agar Krystal mengatakan lebih.

“Baiklah…” Kata Krystal dengan malas. “Dia temannya Jonghyun….” Kemudian dilanjutkan dengan nada kecil, “dan Sehun.”

“Sehun, Oh Sehun pacarmu?”

“Siapa Oh Sehun?”

Krystal dan Sulli tersentak. Mereka menemukan Jonghyun sudah berada di depan mereka.

“Pacar?” Tanya Jonghyun lagi.

Krystal mendesah. Ia akhirnya mengangguk.

“Kenapa kau tidak datang dengan pacarmu? Kau bertengkar dengannya?”

“Sehun punya acara. Sebenarnya Krystal ingin mengikuti acara tersebut tetapi aku memaksa Krystal untuk menemaniku ke sini. Jadinya Sehun tidak bisa ikut!” Jelas Sulli dengan senyuman manisnya. Berharap kebohongan kecilnya dipercayai Jonghyun.

Sebagai teman masa kecil Krystal ia tahu mengenai satu hal, Krystal tidak suka menceritakan masalahnya ke orang-orang. Maka dari itu, daripada mood Krystal bertambah hancur karena masalahnya diketahui orang, Sullipun berusaha menutupinya.

“Tapi Sehun akan datang juga kok… Mungkin sebentar lagi….” Lanjut Sulli mencoba meyakinkan.

Apa-apaan? Pekik Krystal dalam hati. Ia menatap Sulli dengan alis mengkerut. Kenapa Sulli bercerita hal-hal aneh bahkan berkata Sehun akan datang? Krystal kemudian menoleh ke Jonghyun, “Dia berjanji akan datang. Tapi aku sendiri tidak memaksanya…” Kata Krystal pada akhirnya ikut berbohong. Rasanya tidak adil menjatuhkan akting apik Sulli dimana akting tersebut juga untuk melindunginya.

Jonghyun hanya bisa menghela nafasnya. “Oh begitu…” Katanya pendek dengan nada tidak percaya. Ia merasa jika dua orang di depannya berbohong. Tetapi mungkin hanya perasaanya saja. “Baiklah, aku akan meninggalkan kalian berdua. Aku akan ikut Chanyeol menyanyi. Dan Krystal, aku benar-benar ingin dirimu bermain piano di atas panggung.”

Jonghyun menghilang di atas panggung. Detik-detik berikutnya Krystal mendapati ia menikimati nyanyian Jonghyun. Suara khas Jonghyun ditambah alunan gitar Chanyeol, sempurna! Suasana menjadi riuh. Sulli pun dari tempat duduknya berteriak-teriak seperti seorang fan girl.

“Astaga Krystal! Kau lihat?” Mata Sulli berkilat-kilat menghadap ke Krystal, “Dia sangat menakjubkan bukan?!”

Krystal menganggukan kepalanya, “Tentu. Jonghyun memang menakjubkan.”

“Bukan Jonghyun!” Dengus Sulli. “Chanyeol! Chanyeol menakjubkan bukan?”

Krystal menatap Sulli berkerut. Entahlah…. Sedari tadi dia hanya mendengar Jonghyun bernyanyi.

“Hey!” Teriak Sulli mencoba menyadarkan Krystal dari lamunan. “Kau melihat Chanyeol tadi tidak? Ketika dia memainkan gitarnya?! Astaga hatiku….”

Krystal tidak dapat menahan senyum gelinya melihat kelakuan temannya ini.

“Mereka sedang beristirahat!” Pekik Sulli.

Krystal melihat ke panggung dan menemukan Chanyeol dan Jonghyun sedang minum.

“Ayo temani aku ke panggung! Aku ingin mengobrol dengan Chanyeol!”

Sebelum Krystal memberi jawaban, ia sudah di tarik oleh Sulli mendekati panggung.

“Haii….” Sapa Sulli dengan senyum manisnya. Mau tidak mau, Krystal juga ikut tersenyum.

“Oh, Chanyeol, perkenalkan ini Sulli, adik kecilku!” Jonghyun memperkenalkan Chanyeol dengan Sulli.

Chanyeol dan Sulli sama-sama membungkukan badannya, “Salam kenal. Aku Park Chanyeol.” Balas Chanyeol sambil tersenyum. “Adik?” Tanyanya lagi.

Sulli terkekeh, “Karena aku adalah yang paling kecil diantara mereka. Ada Krystal yang seumuran aku, tapi entah mengapa orang-orang salah mengartikan umurnya.”

Krystal menatap Sulli tajam. Jonghyun, Chanyeol, dan Sulli tertawa kecil.

“Oh, jadi kau berteman dengan Krystal?” Tanya Chanyeol lagi.

Sulli menganggukan kepalanya, “Krystal adalah sahabatku sedari kecil. Kau mengenal Krystal bukan?”

“Iya, Krystal pernah datang ke pertunjukan ku. Maukah kau datang ke pertunjukan ku?”

Sulli dan Krystal sama-sama terkejut mendengar permintaan Chanyeol yang sangat blak-blakan.

“Tentu. Dengan senang hati.” Jawab Sulli pada akhirnya.

Well, Krystal…” Kata Jonghyun memecah keheningan, “Kau ingin bermain piano? Kurasa kita akan menyanyikan lagu jazz dan itu butuh bantuan mu…”

Sulli menatap Krystal bersemangat. Hal tersebut akhirnya membuat Krystal menyetujui permintaan Jonghyun.

Krystal kembali meposisikan diri untuk bermain piano. Begitu alunan gitar terdengar, ia mengikuti alunan gitar Chanyeol. Berimprovasi dengan nada pianonya sendiri. Untuk pertama kalinya sejak ia datang ke café, Krystal mengulaskan sebuah senyuman. Rasanya semuanya sempurna ketika ia mendetingkan tuts-tuts piano.

Prok~ Prok~ Prok~

“Hebat! Hebat!” Seru Sulli yang terdengar hingga ke atas panggung. Krystal kembali tersenyum.

Chanyeol juga ikut tersenyum. “Test….” Kata Chanyeol berbicara di depan mic. “Terimakasih semuanya… Tadi adalah lagu Cry Me a River oleh Diana Washington. Sebuah lagu jazz yang pastinya tidak akan sempurna jika Krystal Jung tidak memainkan pianonya.”

Suara tepuk tangan terdengar riuh.

“Pada malam ini juga, aku ingin mengucapkan selamat menikmati Soft Opening Café Italiana by Lee Jinki. Dan kita doakan agar apa yang diharapkan para pendiri tercapai. Juga kuucapkan selamat datang pada seseorang yang baru saja datang…”

Krystal mengkerutkan keningnya. Siapa yang datang pada pukul sepuluh malam? Sangat telat.

“Ku ucapkan selamat datang bagi Oh Sehun!”

Sehun?! Segera saja Krystal berdiri dari tempat duduknya. Matanya menyapu penjuru Café. Sehun… Ya, benar ada Sehun! Sehun berada di Café ini dan sedang menatapnya. Krystal merasa jika lututnya melemas. Ia mencengkram piano.

.

.

.

.

.

Sehun mengucapkan terimakasih ketika penjaga pintu membukakan pintu Café. Sesaat setelah memasuki Café, Sehun menemukan jika aroma pasta tercium dengan lezat. Perutnya berbunyi. Rasa lapar kembali menyerangnya. Tetapi dia tidak akan makan sekarang. Tidak, sebelum ia bertemu Krystal.

Matanya menyapu seluruh penjuru Café. Kemana Krystal? Katanya dalam hati. Ia tidak dapat menemukan Krystal. Ia berjalan menjauhi pintu masuk. Semakin memasuki Café.

Deg!

Jantungnya berdetak lebih cepat ketika ia berhasil menemukan Krystal. Di dekat panggung bersama Sulli. Mereka sedang berbicara dengan Chanyeol dan seseorang yang Sehun tidak kenali. Sehun baru saja ingin berjalan ke arah mereka kalau saja Krystal tidak ke atas panggung. Alis Sehun berkerut, ia melihat Krystal duduk di depan piano. Alunan gitar mulai terdengar, jari-jemari Krystal juga mulai bergerak. Mengiringi permainan gitar Chanyeol. Ia menatap Krystal terkejut. Krystal bisa bermain piano?

Sehun mendesah. Masih banyak yang belum ia ketahui dari Krystal. Tatapannya tidak dapat berpindah sedikit pun, terpaku oleh Krystal. Semuanya terasa sempurna. Kemudian bibir tipis Krystal membentuk senyuman. Sehun merasa jantung mencelos. Dia seharusnya bahagia karena Krystal akhirnya tersenyum, pertanda Krystal tidak lagi bersedih, Tetapi dia menginginkan Krystal tersenyum karena dirinya. Hanya dirinya.

Prok~ Prok~ Prok~

Suara tepuk tangan bergema riuh. Lagu selesai. Sehun tetap terpaku oleh Krystal. Ia merasa tidak bisa bergerak. Apakah Krystal menjauhinya ketika ia mendekat? Krystal sendiri terlihat santai. Ia melipat kedua tangannya. Mendengar perkataan Chanyeol. Kemudian kening Krystal mengkerut, ia terlihat berpikir.

“Ku ucapkan selamat datang bagi Oh Sehun!”

Sehun menahan nafasnya. Apa? Apa ia tidak salah dengar? Krystal terlihat langsung berdiri dari kursinya. Menatap ke segala penjuru Café.

Deg!

Rasanya…. Rasanya jantung Sehun tidak dapat berdetak ketika mata Krystal menatapnya. Tatapan itu sangat terkejut hingga membuat Sehun menahan nafasnya.

.

.

.

.

.

“Hey Krys, ada apa?” Jonghyun terlihat khawatir karena Krystal tiba-tiba pucat.

“Apa?” Tanya Krystal linglung. Tersadar membuat Jonghyun khawatir, Krystal mencoba tersenyum, “Tidak apa-apa. Aku permisi sebentar.” Ia pun langsung turun dari panggung tanpa menunggu jawaban dari Jonghyun.

Sehun yang melihat itu memutuskan untuk bergerak. Dia tidak akan membiarkan Krystal lari lagi, karena sepertinya gadis itu ingin menghindarinya. Ia ingin mengakhiri penderitaan ini sekarang. Sekarang juga tanpa menunggu hari esok.

Ia berjalan semakin cepat ke arah Krystal. Krystal sendiri berjalan mejauhi panggung, menjauhi kerumunan orang. Langkah Sehun semakin cepat hingga ia dapat melihat Krystal dengan jelas. Tangannya ingin meraih tangan Krystal.

“Hentikan!”

Kening Sehun mengkerut menatap Laki-laki di depannya. Laki-laki yang sama sekali tidak dikenalnya. Parahnya, ia berdiri di tengah-tengah Sehun dan Krystal dan…. Dan memegang tangan Krystal. Apa-apaan!

“Siapa dirimu?” Tanya orang tersebut tajam.

Sehun juga menatap tajam. Seharusnya ia yang bertanya seperti itu.

“Hey, ada apa?” Sekarang laki-laki lain mendekati mereka. Ah, Sehun mengenali laki-laki tersebut, maksudnya laki-laki itu adalah orang yang tadi berbicara dengan Krystal. “Krys, apakah ia menyakiti mu?” Lanjut laki-laki tersebut.

Krystal melepaskan tangannya dari laki-laki yang pertama dan Sehun merasakan kelegaan yang luar biasa. Bibir tipisnya membentuk senyum kecil, “Tidak apa-apa…” Ucapnya lirih.

“Kenapa kalian semua berkumpul disini?”

Lagi-lagi Sehun menoleh ke arah suara ke tiga. Sulli datang ke arah mereka dengan kening berkerut. Ketika melihat Sehun, matanya terbelak kaget.

“Sehun?! Astaga kau datang?!”

Sehun terkejut mendengar suara Sulli yang sangat besar. Sulli terdengar sangat bergembira.

“Oh, kau Sehun?”

Kemudian Sehun kembali menoleh ke laki-laki kedua, karena bingung dengan yang terjadi, ia hanya mengangguk.

“Siapa dia?” Tanya laki-laki pertama dengan nada tajam.

“Tenanglah Minho-yah… Dia adalah pacar Krystal…” Laki-laki yang kedua terlihat menjelaskan dengan nada santai. Ia kemudian menoleh, “Aku tidak percaya dirimu datang. Aku sudah menunggu-nunggu dirimu.”

Sehun hanya terdiam tidak mengerti maksud orang di depannya.

“Kenalkan, namaku Kim Jonghyun dan teman ku adalah Choi Minho.” Lanjut Jonghyun, laki-laki kedua, kepada Sehun.

Mereka bertiga, Sehun-Minho-Jonghyun, membungkukan badannya.

“Maafkan aku telah berpikir buruk-buruk kepada mu.” Untuk pertama kalinya, Choi Minho berkata dengan suara lembut. “Seseorang yang dekat dengan Krystal juga menjadi orang terdekat kami. Selamat menikmat Soft Opening dari Café kami. Aku permisi terlebih dahulu… “

Setelah Minho mengundurkan diri, Jonghyun juga mengundurkan dirinya.

“Aku masih menunggu mu untuk bermain piano lagi.” Ucap Jonghyun sebelum dia benar-benar menghilang.

Sulli lah yang terakhir pergi. Ia menatap Krystal dengan senyuman lebar.

Untuk pertama kalinya setelah kejadian sore, Sehun mengenggam tangan Krystal. Krystal membiarkannya.

“Bagaimana dengan pesta mu?” Tanya Krystal lirih. Ia sekarang menatap Sehun.

Sehun merasa sangat lega ketika Krystal menatapnya. Senyumannya seketika mengembang, “Bosan.” Akunya. “Tidak ada dirimu.”

Krystal tersenyum pendek, “Benarkah? Meskipun ibu mu ada di situ?”

Sehun mengkerutkan keningnya, “Apa yang ibuku katakan Krystal? Maksudku, kau harus jujur kepadaku. Benar-benar jujur.”

Krystal tetap menatap Sehun, “Kalau aku jujur, apa yang akan dirimu lakukan kepada ibumu?”

“Apakah ibuku berkata sesuatu yang sangat buruk?”

Krystal menggeleng. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikan ekspresi kesedihannya.

“Kurasa aku benar.” Sahut Sehun tajam.

Krystal mengeratkan genggaman tangannya, “Dengar… Seperti yang aku bilang, aku tidak ingin kau bertengkar dengan ibumu hanya karena diriku. Itu tidak etis juga tidak membuat opini ibumu berubah terhadapku. Tentang tadi sore kita biarkan saja, Okay? Aku baik-baik saja, sungguh!” Melihat tatapan Sehun yang menjadi tajam Krystal menghela nafasnya, “Tentu aku bersedih tapi sekarang aku baik-baik saja. Lagipula karena kejadian itu aku sadar akan satu hal…”

Kalimat Krystal menggantung, Sehun menemukan dirinya bertanya-tanya apa yang Krystal ingin ucapkan.

“Aku tersadar jika aku mencintaimu karena kepribadian mu. Bukan karena kekayaan mu ataupun kepintaran mu ataupun jenis pekerjaan mu.”

Sehun menatap Krystal untuk beberapa saat. Krystal juga menatapnya dengan tatapan tersenyum.

Sebuah suara tepuk tangan mengembalikan kesadaran Sehun. Sehun dan Krystal sama-sama melihat ke depan. Belum bisa mencerna, tetapi Krystal tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya. Berjalan menjauhi Sehun menuju atas panggung. Kembali duduk di depan piano.

Sehun kemudian menyungingkan sebuah senyum. Menatap Krystal yang sedang memulai bermain piano. Aku juga mencintai mu karena kepribadian mu. Katanya dalam hati.

.TBC.

Runaway (Chapter 3)

seasonal-florist1

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Taemin segera berbalik dengan senyum lebarnya, “Oemma ayo berkenalan dengan Min Seongsangnim!”

Sulli langsung tersenyum excited . Akhirnya rasa penasaran terjawab.

Dengan pelan, orang yang dipanggil Min Seongsangnim berdiri.

“Minho?!” Gumam Sulli tanpa sadar.

.

.

.

.

.

Hati Minho tidak bisa berhenti berdebar ketika ia memasuki sebuah TK yang sekarang menjadi tempat ia bekerja selama beberapa bulan kedepan. Ia mengutuk dirinya. Ia sudah terbiasa berbicara di depan orang-orang penting di dunia melukis. Minho biasa saja. Tapi kali ini, ketika ia mengenalkan dirinya untuk pertama kalinya di depan anak kecil berumur tak lebih tujuh tahun beberapa hari yang lalu, Minho sangat gugup dan kikuk. Ia memaksakan sebuah senyuman kepada murid-muridnya. Berharap sambutannya cukup hangat.

Min Seongsangnim!

Minho segera menoleh ke asal suara dengan senyuman lebarnya. Terlihat Taemin berjalan mendekati dirinya. Taemin baru saja datang.

“Taemin hari ini datang sangat pagi.” Kata Minho ketika Taemin sampai di depannya.

Taemin terkekeh kecil, “Taemin tidak ingin terlambat di pelajaran pertama. Pelajaran memasak. Pernah sekali Taemin terlambat, Taemin gak dikasih makan. Menyebalkan!” Taemin bercerita khas anak umur lima tahun. Hal itu membuat Minho gemas dan mencubit pipinya.

“Min Seongsangnim sendiri kenapa datangnya pagi-pagi?”

Satu hal yang Minho sadari dengan Taemin adalah dia sangat susah di atur. Bermain semaunya. Suka mencoret-coret apa saja. Makannya banyak hingga mengambil jatah orang lain. Hingga menyebut nama guru juga terserah dirinya. Contohnya saja dengan Minho. Jika murid-murid memanggil Minho dengan Choi Seongsangnim, Taemin memanggil Minho dengan Min Seongsangnim. Hal itu juga kepada hampir semua guru termasuk kepala sekolah yang dipanggilnya ‘Seongsangnim berkaca mata!’ Rasanya Minho ingin tertawa terbahak-bahak ketika mendengar Taemin berkata seperti itu, tapi ia tahan karena ia berada tepat di depan kepala sekolah. Kepala sekolah terlihat sudah sangat pasrah dengan panggilan Taemin.

“Minho seongsangnim harus menyiapkan peralatan untuk pelajaran pertama.” Jawab Minho. Taemin menganggukan kepalanya.

Sejujurnya, Minho sangat senang berada di dekat Taemin. Dia sangat senang mengetahui segalanya tentang Taemin.

“Taemin tidak ke kelas?”

Taemin terlihat berpikir, “Kelas masih sunyi. Taemin takut. Taemin benci kesunyian.”
“Seperti Oemma Taemin?”

“Bagaimana Min Seongsangnim tahu Oemma tidak suka kesunyian?”

Minho berdehem menghilangkan kegugupannya, “Bagaimana jika Taemin mengikuti Min Seongsangnim menyiapkan peralatan? Nanti ketika sudah ramai baru Taemin ke kelas?”

Taemin menganggukan kepalanya.

.

.

.

.

 

“Min Seongsangnim sudah siap untuk pelajaran pertama?”

Minho menoleh ketika ia menaruh lima warna cat akrilik di meja paling depan, satu-satunya meja yang belum ia taruh. “Iya. Taemin belum mau balik ke kelas?”

Taemin menggeleng, “Nanti saja… Pasti masih sepi…” Katanya dengan suara lusuh.

“Taemin tidak ingin bermain?” Tanya Minho lagi.

Taemin kembali menggeleng, “Tidak ada teman-teman, tidak asik.”

Minho menghela nafasnya, “Jadi Taemin mau apa?”
“Di sini..”

Minho hanya bisa menganggukan kepalanya, “Baiklah. Tapi jangan membuat berantakan okay?”

Taemin menanggukan kepalanya, “Min Seongsangnim ada kerjaan lagi?”

Minho menggelengkan kepalanya, “Kenapa?”

“Min Seongsangnim ingin menceritakan sesuatu? Taemin mengantuk. Kalau Taemin mendengarkan cerita seseorang ketik mengantuk, rasa kantuknya hilang. Min Seongsangnim ingin bercerita?”

Minho terlihat berpikir sejenak, “Tentang apa?”

“Apa saja.”

“Kalau Min Seongsangnim bertanya kepada Taemin tidak apa-apa?”

“Boleh. Tentang apa?”

“Kenapa nama Taemin itu Taemin?”

Taemin mengkertukan keningnya, “Kenapa? Kata Oemma nama Taemin itu penggabungan dua kata. Tae dan Min. Tae adalah nama yang diberi dari Appa. Itu berasal dari nama nenek, Tae-Yeon. Kalo Min itu dari Oemma. Tapi Taemin gak tahu kenpaa Oemma memberi kata itu. Oemma hanya bilang jika itu kata yang sangat special nantinya bagi Taemin.”
Minho tertegun mendengar perkataan Taemin. Kata yang sangat special? Min…. Minho?

“Min Seongsangnim!”

Teriakan Taemin menyadarkan Minho dari lamunanya,

“Kalau Min Seongnim, kenapa Taemin memanggil Min Seongsangnim bukan Choi Seongsangnim?”

Taemin tersenyum, “Karena cuman Taemin yang manggilnya seperti itu. Jadi setiap kali Taemin memanggil Min Seongsangnim, Min Seongsangnim akan tahu yang memanggil itu adalah Taemin!”

.

.

.

.

.

Minho menggumamkan terimakasih ketika Yoo Seongsangnim, salah satu guru di TK memberikan secangkir kopi kepada Minho.

“Hari yang berat?” Suara lembutnya menelisik telinga Minho.

“Lumayan.” Kata Minho dan mulai menyesap kopi.

“Jangan lupa mengisi form penilaian.”

Minho menganggukan kepalanya. “Mengajar di kelas mana lagi?”
Yoo Seongsangnim melihat jadwal mengajarnya, “Kelas Taemin.”

“Taemin?”

“Uhm!” Kata Yoo Seongsangnim dengan antusias. “Kau pasti mengenal Taemin bukan? Ku dengar kau akrab dengan Taemin. Bagaimana bisa? Aku saja tidak bisa mengatur dirinya.”

Minho menggelengkan kepalanya, “Entahlah. Kurasa dia anak yang baik dan imut.”

“Dia memang imut.” Kemudian terdengar helaan nafas, “Tetapi kalau nakalnya mulai… Ngomong-ngomong, tadi pagi aku melihat dirimu dengan Taemin.”

“Oh, dia datang terlalu pagi dan takut ke kelasnya karena masih terlalu sunyi, akhirnya ia ke kelasku.”
“Ke kelasmu?”

“Iya. Melihat diriku bersiap-siap untuk pelajaran pertama.”
“Dan dia hanya melihat? Tidak berbuat apa-apa?”

Minho mengangguk.

Terdengar helaan nafas, “Dia memang selalu baik kepada guru melukis. Jiwanya memang seni melukis sih…Tapi aku berharap jika ia juga sedikit rajin menulis. Dia sama sekali tidak takut ketika aku memarahinya karena tidak mau menulis. Padahal, sebelumnya-“

“Kau tidak ke kelas?” Minho memotong ucapan Yoo Seongsangnim. “Sebentar lagi bel berbunyi.”

“Ya, ampun. Kurasa aku harus cepat-cepat ke kelas. Terimakasih sudah mengingatkanku!”

.

.

.

.

.

“Taemin, ini sudah waktunya pulang. Ayo pulang! Bukannya hari ini Oemma pulang? Taemin tidak ingin melihat Oemma?” Song Seongsangim berusaha membujuk Taemin.

“Taemin ingin maiinnn!!!!!” Teriak Taemin kesal.

“Kok gitu sih?” Tanya Song Seongsangnim dengan nada sedikit tinggi, “Kalau Taemin gak pulang sekarang Song Seongsangnim kasih tugas menghitung. Dua puluh nomor di halaman 15!”
“Gak peduli! Taemin gak peduli! Tadi guru-guru yang lain sudah ngasih tugas. Membaca halaman 16 sebanyak dua lembar, nulis di halaman 17, menghafalkan 5 lagu, bahasa Inggris halaman 18. Sekarang, berhitung halaman 15.”

Terdengar helaan nafas dari guru-guru yang tak jauh dari Taemin dan Song Seongsangnim.

“Ku rasa jika diberi semua tugas mata pelajaran juga ia tidak ingin beranjak.” Keluh Yoo Seongsangnim.

“Choi Seongsangnim, kau ingin mencoba membujuk Taemin?” Tanya Shim Seongsangnim.

Minho tidak berkata apa-apa, tetapi ia sudah melangkah mendekati Taemin. Song Seongsangnim yang menyadari keberadaan Minho menghela nafasnya, “Syukurlah kau datang…” Ia segera berbalik dan menjauh dari Taemin.

“Taemin tidak ingin pulang?” Suara lembut Choi Minho membuat Taemin menatapnya.
“Tidak!” Seru Taemin galak. “Taemin mau pulang jika Oemma menjemput Taemin di sini!!!”
Minho menghela nafasnya. Memutar otaknya agar dapat memberi alasan yang bagus, “Tapikan orangtua menunggunya di depan tidak boleh menunggu ke dalam. Oemma Taemin pasti menunggu Taemin di luar.”

“Taemin tetap tidak peduli! Taemin mau di jemput di sini sama Oemma…” Taemin tetap galak, tetapi di akhir kalimat air matanya menetes.

“Taemin kenapa?” Minho khawatir. Ia mendekatkan dirinya ke Taemin, berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Taemin.

“Taemin mau main sama Oemma. Kalau Taemin pulang sekarang, Oemma pasti langsung bawa Taemin pulang. Taemin gak mau.”

Hati Minho mencelos mendengar jawaban Taemin, “Oemma orang yang baik bukan?” Tanya Minho dengan suara rendah.

Taemin segera mengangguk, “Oemma baik sekali. Cantik. Senyumnya juga menawan. Oemma selalu melindungi Taemin kalau Appa marah.”

Oemma selalu mendengarkan perkataan Taemin?”

“Iya. Selalu.”

“Jadi, kalau Taemin bilang Taemin ingin main dengan Oemma, Oemma yang baik, cantik, punya senyum menawan, dan selalu mendengar perkataan Taemin akan menolak ketika Taemin berkata seperti itu?”

Taemin terlihat berpikir, “Benar juga ya…” Sebuah senyuman kemudian timbul, “Baiklah. Taemin akan pulang!” Taemin kemudian berlari menuju kelasnya.

Para guru-guru menghela nafasnya.
“Kerja yang bagus Minho Seongsangnim!

Entah mengapa, perasaan hangat mengalir ketika salah satu rekan kerjanya-Shim Changmin yang juga mengajar disitu berkata seperti itu kepadanya. Minho merasa bangga ketika orang memanggilnya Minho Seongsangnim. Sangat bangga.

Minho hanya menganggukan kepalanya. Beberapa guru-guru sudah banyak yang bubar. Bersiap-siap untuk pulang. Minho juga begitu. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang guru. Merapihkan barang-barangnya.

“Min Seongsangnim!!!

Semua orang disitu tersentak hebat ketika Taemin memasuki ruang guru, tak terkecuali Minho.

“Ada apa Taemin?”

Taemin tidak menjawab. Tangan kecilnya menarik badan Minho. Dengan kebingungan, Minho mengikuti langkah Taemin.

“Ada apa Taemin?” Tanya Minho sekali lagi ketika mereka sudah keluar dari ruang guru.

“Taemin ingin Min Seongsangnim bertemu Oemma!”
“Apa?!” Minho tidak dapat menutupi keterkejutannya.
“Ayo!! Sekarang!!!” Sepertinya Taemin tidak dapat mendengar perkataan Taemin karena ia sekarang berlari menuju pintu keluar. Beberapa detik kemudian Taemin menghilang dari pandangan Minho.

Minho menggeluarkan nafasnya yang sedari tadi ia tahan. Taemin ingin ia bertemu dengan…. Sepertinya Minho terlalu cepat lega. Taemin kembali datang dengan berlari-lari kecil.

“Min Seongsangnim!!!”

“Ayo!!!”

Dua kalimat itu membuat keringat dingin Minho keluar, “Seongsangnim tidak bisa….” Jawab Minho apa adanya.

Ia memang tidak bisa. Tidak. Dia belum siap bertemu dengan Sulli. Dia belum siap melihat reaksi Sulli. Dia belum siap jika Sulli berpikir ia menjadi guru disini karena Taemin. Tidak. Dia belum siap.

“Tapi Taemin gak mau tahu!”

Minho berjongkok di hadapan Taemin, “Besok saja ya? Jangan sekarang. Minho Seongsangnim harus pulang sekarang.”

Nah, jawaban bodoh apa yang telah Minho berikan? Jawaban bodoh yang anak kecil bisa memberi jawaban yang lebih bagus dari pada hal itu. Tentu saja, Taemin menolaknya mentah-mentah. Bersikeras jika Minho harus bertemu dengan Oemma-nya.

“Taemin…” Suara lembut Sulli memecah keheningan lorong.

Minho lagi-lagi tersentak. Detak jantungnya menjadi tidak teratur.

Taemin segera berbalik dengan senyum lebarnya, “Oemma ayo berkenalan dengan Min Seongsangnim!”

Minho memejamkan matanya. Baiklah, ia tidak bisa mundur. Dengan pelan dan ragu, Minho berdiri. Menatap Sulli dan langsung melihat Sulli terkesiap keras. Min-ho…. Dua kata yang dapat Minho tangkap dari gerakan bibir Sulli. Perempuan itu juga tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

Anyeonghaseyo, Choi Minho imnida… Saya adalah salah satu guru Taemin…” Minho segera membungkukan badannya dan untuk kedua kalinya menatap mata Sulli.

Perempuan di depannya tidak lagi terkejut, tetapi masih tidak bersuara.

Minho menyunggingkan senyumnya. Menutupi kegugupannya. Ayolah… Sulli harus mulai bersuara sebelum ia terlihat seperti orang yang bodoh.

“Ah…” Akhirnya Sulli membuka mulutnya. “Senang bertemu dengan Anda.” Kata Sulli pendek dengan nada yang sama sekali tidak ramah. Sedikit ketus di dalamnya. “Terimakasih telah menjaga Taemin ketika saya pergi. Saya sangat menghargai hal itu.” Sulli kembali melanjutkan perkataannya dengan sorot mata menahan kegugupan. “Dia merasa sangat senang dan saya juga senang ada orang yang menjaganya.” Lanjutnya sebelum berbalik menghadap Taemin. Mengajak Taemin pulang.

.TBC.

Runaway (Chapter 2)

seasonal-florist1

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

3rd January 2013

Tangan yang dilumuri oleh cat-cat hitam itu mematikan puntung rokoknya yang ingin habis. Mengambil puntung rokok yang baru dan menghidupkannya.

Fuuhh~

Asap nikotin kembali melayang di udara. Menusuk penciuman laki-laki yang sedang menerima telepon.

“Kau gila?! Jika ayahmu tahu kau merokok, kau akan di bakar hidup-hidup!”
“Nyatanya dia tidak tahu.” Jawab laki-laki tersebut cuek.

“Ini tinggal menunggu waktu sampai ayahmu tahu… Astaga Minho-yah… Sejak kapan kau menjadi seorang perokok?!”
“Ck! Kau terdengar mirip seperti ibuku Kim Jonghyun. Sudahlah… Jangan khawatirkan masalah ini. Aku yang akan menanggungnya.”

“Kapan kau pulang?”

Minho menghentikan kegiatan merokoknya, berpikir sejenak, “Untuk apa?”

“Pulang saja…..”

“Kau pikir pulang dari Korea itu murah?”

Terdengar hening sejenak, “Tidak sih… Tapi ini ada masalah penting. Sebaiknya kau pulang.”

“Jika ada masalah penting aku pasti sudah mengetahuinya. Nyatanya semuanya tenang-tenang saja. Ada apa denganmu? Kau terlihat mencurigakan.”

Hening kembali. “Entahlah.” Jawab Jonghyun terdengar putus asa, “Aku bingung ingin berkata seperti apa kepadamu. Lebih tepatnya aku takut mendengar jawabanmu.”

“Kau sedang aneh. Aku akan menelepon mu kembali ketika kau sedang normal, okay?”

“Minggu nanti!”
Minho menghentikan tanggannya yang hampir saja memutuskan telepon, “Apa? Ada apa dengan hari itu?”
Tut~ Tut~ Tut~

Telepon terputus. Minhun menyeringit bingung. Tetapi mengangkat kedua bahunya-tanda tidak peduli.

.

.

.

.

.

6th January 2014

Minho kembali menyesap minuman bertitik rendah itu. Rasa pahit mengiringinya. Ia tidak perduli. Rasa pusing mulai menyerang dirinya. Ditambah pandangannya yang sudah mengabur.

“Aku mencintaimu~”

“Minggu nanti!”

Minho tertawa hambar meningat dua percakapan tadi. Gila! Pikirnya dalam hati. Percakapan pertama dari seorang wanita yang benar-benar ia cintai. Yang kedua adalah dari sahabat terdekatnya yang mengabarkan, jika wanita yang ia cintai akan menikah-bukan sudah menikah lebih tepatnya.

Tidak perduli sudah berapa kali Minho meminumnya, pikiran dia masih melayang ke percakapan itu.   Minho menggeram. Dia datang kesini untuk mengalihkan pikirannya. Tapi malah semakin terjerumus ke dalam pikiran tersebut.

“Hallo liefde, u lijkt te zijn erg verdrietig (Hai sayang, kau kelihatannya sangat muram).” Seorang perempuan berambut pirang, entah dari mana tiba-tiba menghampiri Minho. Tanpa malu, memeluk tubuhnya dan menyandarkan dagunya ke bahu lebar Minho. Berbicara tepat di telinga Minho.

Minho tersenyum miring. Ia menolehkan kepalanya, menatap perempuan tersebut, “ Wat ik heb gekend? (Apa aku mengenalmu?)”

Perempuan tersebut tertawa. “Tidak.” Katanya dengan bahasa Belanda. “Tapi kita bisa berkenalan sekarang bukan?”

Hembusan nafas keluar dari Minho. Mungkin seharusnya ia tidak datang ke sebuah club sendirian. Mungkin minum dirumah sampai tak sadarkan diri lebih baik daripada harus di ganggu oleh orang-orang tak jelas. “Aku harus pergi!” Kata Minho dingin.

“Ohh, ayolah….” Perempuan tersebut masih bertahan di posisinya. Tangannya sekarang memeluk pinggang Minho.

Brak!

Minho yang kesal dengan perlakukan perempuan tersebut kepadanya langsung bangkit dan menyebabkan perempuan tersebut terhuyung ke belakang, dan kemudian jatuh ke lantai.

Bugh~

Satu pukulan mendarat di pipi kanan Minho.

Wat doe je aan Nima? (Apa yang kau lakukan kepada Nima?)” Seorang laki-laki botak menatap Minho tajam.

Beberapa orang mengerubungi Minho, perempuan yang bernama Nima tersebut, dan laki-laki yang sama sekali tak dikenalnya.

“Katakan kepadanya jangan menganggu ku!”

Bugh~

Satu pukulan kembali Minho dapatkan. Ia meringis. Kali ini, dia bisa merasakaan sebuah bau anyir. Minho menyentuh hidungnya, darah segar tengah mengalir.

Bugh~

Kali ini, sebuah pukulan Minho layangkan kepada laki-laki yang sama sekali ia tidak ketahui namanya tersebut.

.

.

.

.

.

23rd December 2013

Kehidupan Minho memburuk. Setelah perkalian di club yang memperlibatkan seorang perempuan bernama Nima, Minho harus menemukan dirinya kalah telak dalam perkalian tersebut. Minho dirawat di rumah sakit selama dua minggu. Itupun karena ia memaksakan untuk pulang agar masalah ini tidak tercium oleh keluarganya. Tapi, bukannya meredup, masalah barupun muncul.

Minho yang diberi obat peringan rasa sakit menjadi candu akan obat-obatnya itu. Sangkin candunya, ia tidak dapat melewati tes bulanan universitasnya, dimana di tes itu juga terdapat tes narkoba. Akibatnya, ia di keluarkan dari universitasnya, di deportasi dari Belgia, dan sekarang mendekam di balik rumah sakit khusus orang-orang sakau.

Minho sendiri, selama tiga bulan dirawat di rumah sakit menunjukan perubahan yang sangat baik. Bahkan sudah bisa dikatakan bersih. Tetapi Dokter belum mau melepaskan Minho karena psikis-nya yang belum membaik. Menurut Dokter, dia seperti itu karena stress yang berlebihan. Jadi, sebelum mereka bisa menemukan masalah stress Minho, Dokter tidak mengizinkan Minho keluar dari rumah sakit.

Cklek~

Pintu kamarnya terbuka. Minho pura-pura memejamkan matanya-tidur agar tidak diberi pertanyaan tidak penting oleh perawat disini. Bagi Minho mereka bukan seperti seorang perawat, tetapi seseorang yang memiliki tujuan lain.

“Obatnya!”

Suara nyaring itu membuat Minho membuka mata dan ia tersenyum lebar mendapati Jonghyun mengunjungi dirinya.

“Kau terlihat senang.” Kata Jonghyun yang menaruh tasnya di sebuah sofa tak jauh dari tempat tidur Minho.

“Tidak ada yang pernah menjenguk ku selama ini.” Aku Minho jujur. Ayahnya terlalu muak melihat dia yang selalu membuat masalah. Sedangkan anggota keluarga yang lain takut untuk mengunjungi dirinya karena ayahnya. Tidak ada yang berani melawan keputusan Ayahnya.

Jonghyun menganggukan kepalanya. Ia kemudian duduk di bangku bersebelahan dengan tempat tidur Minho, “Ibu mu memberi salam untukmu. Ia berkata akan kesini secepatnya.”
Minho menghembuskan nafasnya, “Katakan padanya agar jangan membuat ayah marah. Aku tidak ingin bertemu dengannya jika ia melanggar perintah ayah.”

Jonghyun menganguk patuh. “Ehm…” Ia berdehem, “Sebenarnya, aku mempunyai tujuan lain untuk datang kesini….” Jonghyun kemudian mengambil sebuah dompet dari saku jeans-nya. Membukanya dan mengambil sebuah foto.

Minho yang melihat foto tersebut tertawa, “Astaga Jonghyun-ah… Apakah kau ingin mempraktekan apa yang dokter sini telah praktekan kepadaku? Bercerita dengan sebuah foto?”

Jonghyun mendengus, “Kau sudah melewati fase itu kau tahu! Sekarang dokter hanya menyuruhmu menuliskan cerita bukan?”

“Bagaimana kau tahu?”

Sebuah seringai pun muncul, “Aku berbicara dengan perawat cantik di depan.”
Minho tersenyum kecil. Percayalah, Jonghyun adalah seorang playboy sejati. Ia pasti hanya menyapa si perawat tadi dengan senyumannya. Berbasa-basi sebentar, mungkin mengenalkan dirinya yang juga lulusan kedokteran, dan akhirnya perawat tadi melakukan apapun yang Jonghyun inginkan. Termasuk menceritakan keadaan Minho yang sangat rahasia.

Karena tidak ada tanggapan dari Minho, Jonghyun kembali berbicara, “Aku memang akan bercerita. Tapi kujamin tidak sepanjang cerita doktermu.” Ia kembali berdehem, “Namanya Taemin dan umurnya tiga bulan. Dia… Dia adalah anakmu.”
Mata Minho langsung terbelak. Tetapi belum Minho memberikan komentar, Jonghyun kembali berbicara, “Dia anak mu dengan Sulli. Itu adalah alasan Sulli menikah dengan Jongin. Untuk menyelamatkan Taemin. Dia yakin, jika dia hamil di luar nikah, keluarganya pasti menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya. Dan juga dirimu yang lebih memilih kuliah karena tekanan keluargamu. Kecil kemungkinan kau akan bertanggung jawab. Jongin tiba-tiba melamar Sulli ditengah kekalutannya. Dia… Dia tidak bisa melakukan apapun kecuali menerimanya…” Helaan nafas terdengar dari Jonghyun, “Sulli pasti akan membunuhku jika ia tahu aku memberi tahu hal ini kepada mu. Tapi aku tidak bisa. Serapi apapun rahasia di tutupi, dia akan keluar pada akhirnya. Pada akhirnya, Taemin akan mengetahui siapa ayah kandungnya. Dan aku… Aku hanya tidak bisa membayangkan jika ia menemukan ayah kandungnya berada disini.”

Tangan Minho tiba-tiba mengambil foto Taemin dan menatapnya, “Matanya… Matanya sangat lucu.” Ia terkekeh kecil.

Jonghyun tersenyum kecil, “Matanya mirip Sulli. Tetapi bibirnya seperti dirimu. Aku hanya berharap dia tidak irit bicara seperti mu!”
Minho mendelik ke arah Jonghyun, tetapi dengan cepat kembali menatap foto Taemin, “Aku ingin melihatnya secara langsung…”

Jonghyun menatap Minho penuh harap. Berharap agar apa yang ia sudah korbankan, kepercayaan Sulli setimpal dengan bangkitnya Minho dari keterpurukannya. “Kau harus keluar dari sini terlebih dahulu teman!”
Minho mengiyakan omongan Jonghyun.

.

.

.

.

Present Day~

Butuh 4 tahun bagi Minho untuk mengatur ulang kehidupannya. Ia menghabiskan waktu satu tahun berada di rumah sakit sebelum sekolah kembali ke Jerman, dimana dia berhasil mendapat beasiswa selama 2 tahun. Setahun belakangan ini, Minho sibuk menjadi kurator gallery.

“Minho!” Suara lantang Tuan Kwon-pemilik galeri, membuat Minho tergesa-gesa datang kepadanya. Tuan Kwon tidak sendiri, ia bersama laki-laki yang berumur kira-kira 40 tahun. Minho yakin jika laki-laki itu akan menggantikannya menjadi curator di museum ini.

Seminggu yang lalu dia memutuskan mengundurkan diri menjadi kurator gallery. Rasanya membosankan. Ia ingin mencoba hal yang lebih menantang. Seperti, ikut bersama para arkeolog meneliti lukisan zaman dahulu? Entahlah.

Anyeonghaseyo sangjangnim.” Sapa Minho ramah. Tidak lupa ia juga membungkukan badannya.

Tuan Kwon hanya tersenyum, “Kenalkan, aku sudah membawa pengganti mu. Namanya Jung Jaewoon.”

Orang yang bernama Jung Jaewoon tersenyum lebar menatap Minho, “Sungguh kehormatan bisa bertemu denganmu.” Mengulurkan tangannya untuk menjabat Minho.

Minho menjabat tangan Jung Jaewoon, “Sunggu kehormatan bagiku juga.”

Tuan Kwon mengangguk-anggukan kepalanya, “Sepertinya aku akan menyerahkan semuanya kepada dirimu Minho-yah!

Minho mengangguk patuh, “Tentu.” Ia kemudian membungkukan badannya kembali ketika Tuan Kwon pergi. Kemudian menatap Jung Jaewoon, “Baiklah Jung Jaewon-ssi, sebaiknya kita mulai dari koleksi-koleksi yang ada di museum ini.”

.

.

.

.

.

Jung Jaewoon tidak pernah merasa segugup ini dihidupnya. Ia baru saja mengenal orang di sampingnya, tetapi mendengar dari cerita Tuan Kwon-bos barunya membuat ia sangat segan terhadap orang ini. Umur mereka berbeda sangat jauh. Hampir 2 windu berbeda, orang disebelah Jung Jaewoon sangat muda, tetapi sangat-sangat berpengalaman dibanding dirinya. Bagaimana tidak? Langsung tamat kuliah dia dipercaya memegang gallery paling bagus di Seoul. Tanpa perlu riwayat pekerjaan. Asalkan Jung Jaewoon? Dia terseok-seok sampai akhirnya memberanikan diri melamar di gallery tersebut.

“Belok kiri Jung Jaewoon-ssi?”

Jung Jaewoon menoleh ke arah Minho, “Iya. Belok kiri.” Katanya dengan gugup.

Minho tersenyum kemudian membelokan mobilnya. Setelah pelatihan singkat di gallery Minho menawarkan mengantar Jung Jaewoon. Laki-laki ini tiba-tiba terlihat sangat gugup setelah mengangkat sebuah telepon. Jung Jaewoon juga tidak membawa kendaraan. Sedangkan Minho yang tidak ada kerjaan lagi akhirnya memutuskan untuk mengantarkan Jaewoon.

“Disini tempatnya.”

Minho segera memberhentikan mobilnya tepat di depan sekolah untuk anak berusia 3-7 tahun. “Jadi disini tempat kerja anda, Jung Jaewoon-ssi?

Jung Jaewoon mengangguk, “Benar.”

Minho melihat sekilas ke arah anak-anak yang baru pulang.

Deg!

Detak jantungnya tiba-tiba berdetak sangat cepat. Mata itu…. Oh, ia sedang tertawa dan menyebabkan matanya membentuk bulan sabit.

“Minho-ssi…” Jung Jaewoon menatap Minho aneh. Minho tersadar dan segera berdehem.

“Maaf. Uhm.. Jung Jaewoon-ssi,”

Jung Jaewoon mengurungkan niatnya untuk keluar. Ia menatap Minho sekali lagi,

“Jika kau keluar maka sekolah ini membutuhkan guru baru bukan?”

Jung Jaewoon hanya bisa mengangguk, “Iya. Pendaftarannya sudah di buka. Tapi belum ada yang mendaftar.”

Minho sekarang menatap Jung Jaewoon, “Bagaimana jika aku mendaftar menjadi guru disekolah ini?”

Jung Jaewoon membulatkan matanya. Tidak dapat menyembunyikan terkejutannya, “Anda yakin?”
Minho menganggukan kepalanya, “Iya. Lagipula penelitian baru akan dimulai 4 bulan lagi. Jadi… Tidak ada salahnya mencoba hal yang baru bukan?”

Lagi-lagi, Jung Jaewoon hanya bisa mengangguk. “Baiklah. Silahkan datang ke sekolah ini besok pagi, pukul 7.15. Membawa CV Anda. Berpakaianlah yang rapi seeprti orang-orang yang ingin datang ke kantor.” Jung Jaewoon berhenti sejenak, “Maksud saya berpakaian formal.”

Minho menganguk-anggukan kepalanya.
“Baiklah, Choi Minho-ssi. Saya permisi terlebih dahulu. Terimakasih.”

Minho mengangguk sekali lagi. Ketika Jung Jaewoon benar-benar sudah keluar dari mobilnya, mata Minho kembali menerawang ke sekolah tadi. Tidak salah, itu adalah Taemin. Sebuah kerinduan menyusup di benaknya.

Taemin, sebentar lagi Appa berada di dekatmu.

.TBC.

Notes: Long Time No See guys….  Jadi, karena Minho sekolah di Belgia dan di Belgia 59% menggunakan bahasa belanda jadi ada beberapa percakapan yang aku buat menggunakan bahasa belanda.  Tapi maaf nih, kalo bahasanya salah.  Soalnya aku 100% translate doang 😅  See You Soon ya…. 😊

Runaway (Chapter 1)

seasonal-florist1

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Kring…. Kring… Kring…

Perlahan tapi pasti, Sulli membuka matanya. Mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum ia mengambil handphone-nya dan mematikan alarm.

Jongin juga ikut bangun. Ia menyibakan selimutnya, “Sudah jam enam pagi?”

Sulli mengangguk pelan menjawab pertanyaan Jongin. Kemudian, mereka berdua turun dari tempat tidur. Jongin bersegera mandi. Sulli pergi ke kamar Taemin, anaknya untuk membangunkannya. Setelah itu Sulli akan bergegas membuat sarapan untuk Jongin dan Taemin. Saat Taemin dan Jongin sarapan, Sulli baru akan mandi. Dia baru akan memakan sarapannya di kantornya, butik pakaiannya Seoul-Ri sesudah ia mengantar Taemin terlebih dahulu.

Inilah rutinitas Sulli setelah menjadi istri Jongin. Berusaha menjadi ibu yang baik bagi Taemin. Juga membangun karirnya sebagai fashion designer.

.

.

.

.

“Tentu saja kau harus ikut pertemuan ini. Astaga Sul…” Krystal menarik nafasnya yang sudah habis. Kemudian kembali berbicara dengan nada mendesak, “ Dengan pertemuan ini, butik kita dikenal oleh orang-orang penting dari majalah di Seoul. Jika mereka tertarik dengan rancangan kita, mereka bisa mengontrak kita. Itu adalah hal yang sangat-sangat-sangat-sangat-sangat sangat sangat sangat-“

Sulli meringis mendengar rentetan kalimat Krystal, sekertarisnya juga teman masa kecilnya yang baru menyelesaikan kuliah fashion designer-nya di Paris. Yang entah mengapa ingin bekerja dengan Sulli, dibawah kendali Sulli. Padahal gadis ini lebih cocok disebut co-worker sangking berkuasanya. Secara, tidak ada sekertaris yang berani menentang dan menyuruh-nyuruh atasannya.

Helaan nafas keluar dari mulut Sulli. Ia memijit pelipisnya yang sudah berdenyut sebelum pukul sepuluh pagi, “Aku mengerti… Tapi siapa yang akan menjaga Taemin? Pertemuan ini akan diadakan selama 5 hari….”

“Ayolah Sul…” Pinta Krystal dengan nada memohon, “Kau itu diundang oleh mereka. Jika kau menolaknya entah apa yang terjadi dengan butik kita. Juga, jika pakaianmu sudah digunakan di majalah, berarti dirimu sudah melangkah lebih dekat ke impian besarmu, runaway fashion!!

Kembali, Sulli menghela nafas. Sulli juga menatap Krystal dengan tatapan memohon, “Kau harus mengerti…”

“Kau bisa mengajaknya bukan? Ayolah dia masih TK. Bukan sebuah masalah jika ia bolos selama lima hari…. Benarkan?”

“Jongin tidak mengizinkannya…”
“Apa?!” Nada suara Krystal meninggi bersamaan dengan emosi yang meningkat, “Maksudmu…” Krystal mendelik, “Bagaimana bisa dia…”

Sulli menunggu Krystal dengan was-was. Takut jika emosi Krystal meledak.
Krystal mulai berbicara kembali, “Bagaimana….”

“Aku akan membicarakan ini dengan Jongin, okay? Kau tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja.” Sulli kemudian memasang senyum manisnya.

Krystal hanya bisa mendengus, “Awas saja jika Jongin tidak ingin menjaga Taemin.”

Sulli mengangkat kedua bahunya, “Kau kan bisa.”

“Apa?!” Krystal kembali mendelik ke arah Sulli. Dia sangat tidak menyukai anak-anak. No… No… No…

“Cepat kembali ke ruanganmu. Pekerjaan sudah menunggu!” Titah Sulli putus asa. Tidak berani menaikan emosi Krystal. Dasar, sekertaris terburuk! Untung saja teman dekat.

.

.

.

.

.

Flash kamera menyambut Sulli dan Krystal ketika mereka keluar dari mobil. Panasnya busan langsung terasa, seakan menyambut mereka. Perkumpulan para fashion designer seluruh Korea, baik yang sudah terkenal hingga ke mancanegara sampai yang seperti Sulli, beberapa kalangan saja diadakan. Acara selama lima hari ini dimaksudkan sebagai ajang berbagi pengalaman juga mengenalkan koleksi mereka ke khalayak yang lebih luas.

Mereka berdua, Krystal dan Sulli menggunakan koleksi S/S Collection terbaru butik Seoul-Ri. Sulli menggunakan Summer Dress bermotif yang di dominasi oleh putih gading. Rambutnya ia ikat sederhana. Juga dilengkapi oleh makeup minimalis. Sedangkan Krystal menggunakan Jumpsuit bermotif bunga-bunga. Rambutnya ia biarkan tergerai, dengan make up yang juga tidak terlalu tebal. Gelang di tangan kanannya melengkapi gaya chick nya.

Nafas Sulli mulai memendek ketika ia mulai berjalan mendekati wartawan. Ia menghembuskan nafasnya secara perlahan. Tidak boleh gugup! Tidak boleh gugup! Tidak boleh gugup! Ucapnya dalam hati menyemangati dirinya.

“Bisa di wawancarai sebentar….” Sulli bersumpah jika detik itu juga, tanggannya langsung menjadi dingin.

.

.

.

.

.

Oemma! Oemma!” Suara riang Taemin berhasil menyadarkan Sulli kembali. Perlahan, ia memukul kecil pipinya agar tersadar.

Nde….” Jawab Sulli mengantuk berbalik dengan Taemin yang masih sangat riang. Sulli menggerutu. Pasti Taemin sekarang sedang di jaga oleh Eunso, adik tirinya Jongin. Sedangkan Jongin pasti belum pulang. Hal ini melanggar perjanjian mereka dimana Jongin akan selalu menemani Taemin dari jam lima sore. Karena Taemin orangnya sangat rewel dan tidak bisa diatur kecuali oleh Sulli dan Jongin.

“Tadi di sekolah Taemin kedatangan guru baru. Guru yang menggantikan Jung Seongsangnim!”

“Taemin semangat sekali menceritakannya. Padahalkan Taemin sedih ketika Jung Seongsangnim keluar.”

“Iya itu karena gurunya lebih asik dan seru! Terus perhatian, ramah, gak pernah marah…. Pokoknya seru banget! Habis itu dia ngerti lagi apa yang Taemin tanyakan. Lukisannya juga bagus… Pokoknya Taemin seneng banget!”

“Taemin tahu dari mana jika gurunya gak pernah marah? Nanti kalau dia marah gimana?”
“Ih… Gak. Pokoknya Min Seongsangnim gak pernah marah!”

Sulli terkekeh kecil. Namanya juga anak kecil.

.

.

.

.

.

Sekarang Sulli bertanya-tanya. Ia bingung dengan Taemin. Selama lima hari di Busan selama itu pula Taemin menceritakan guru barunya.

“Taemin entah mengapa sangat menyukai Min Seongsangnim.”

“Melebihi suka Taemin kepada Appa?”

“Iya. Melebihi Appa!”
Itulah yang membuat Sulli bingung. Apa sih yang dilakukan oleh guru baru itu hingga Taemin sangat menyukainya? Pikiran Sulli kembali melayang ke hari selanjutnya, dengan tema yang masih sama, Min Seongsangnim.

Kenapa Taemin sangat menyukai Min Seongsangnim? Memangnya Min Seongsangnim pernah melakukan hal-hal berbeda yang tidak dilakukan oleh guru-guru yang lainnya?”
“Gak ada sih… Sama seperti yang lain. Tapi begini
Oemma, Taemin itu suka aja ngeliat Min Seongsangnim. Inginnya dekat-dekat dengan dia.

Tambah bingung kan? Krystal bercanda mengatakan jika Taemin mungkin tertarik dengan guru barunya. Yang membuat Sulli langsung tak bisa tidur nyenyak selama di Busan. Amit-amit deh…. Sulli belum bisa membayangkan jika anaknya memiliki perilaku seksual yang menyimpang.

Tidak dapat dipungkiri, Sulli mulai mempercayai perkataan Krystal. Ia sampai-sampai membayangkan jika guru baru itu juga tertarik dengan Taemin. Amit-amit…. Maka dari itu, hari ini, Sulli yang baru saja menginjakan kakinya ke Seoul langsung memutuskan untuk menjemput Taemin.

Krystal hanya tersenyum jahil kepada Sulli. Sangat bahagia karena Sulli masuk ke dalam perangkapnya. Sulli sih masa bodoh. Mau Krystal anggap dia apapun hingga disebut terlalu parno Sulli tidak peduli. Soalnya ini masalah anaknya. #Eaaa

.

.

.

.

Terlalu bersemangat hingga Sulli terlalu cepat sampai. Ia mendesah. Bingung ingin melakukan apa. Akhirnya Sulli memutuskan untuk memainkan hp-nya. Mengabari info ini kepada Krystal yang menyebabkan gadis itu kembali mengetawai Sulli. Sulli hanya bisa mendengus dan membalas, ‘Kau akan seperti diriku jika sudah punya anak!” dan Krystal langsung menjawab dengan satu kata, “Diamlah!”

Berganti, Sulli-lah yang tertawa. Temannya itu sangat tidak menyukai anak kecil, bahkan sampai tidak mau punya anak. Menurutnya mereka itu rewel, berisik, cengeng, intinya menganggu. Benar sih… Tapikan beda rasa antara anak sendiri dengan orang lain.

“Yeaaayy…”

Suara ramai menandakan anak-anak sudah pulang. Sulli segera menutup chat-nya, meletakan handphone-nya, dan keluar dari mobilnya. Menunggu Taemin dengan hati yang berdebar-debar. Menahan rindunya kepada Taemin. Ia menunggu cukup lama karena Taemin selalu keluar yang paling terakhir. Taemin sangat suka bermain di TK-nya hingga harus diseret pulang oleh guru-gurunya.

Akhirnya Taemin datang. Taemin melambaikan tanggannya kepada Sulli. Sulli langsung tersenyum sangat lebar dan membalas lambaian tangan Sulli. Tetapi Taemin tiba-tiba berbalik. Kemudian mendengus.

Oemma tunggu sebentar ya!”

Dahi Sulli bekerut. Kenapa Taemin tiba-tiba berbalik? Ia menghela nafasnya dan berjalan searah dengan Taemin.

“Tapi Min Seongsangnim harus bertemu dengan Oemma! Taemin tidak mau tahu!” Suara Taemin langsung terdengar dari lorong-lorong TK yang sepi. Remang-remang, tetapi Sulli bisa melihat Taemin berbicara dengan seseorang. Orang tersebut berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Taemin sehingga Sulli tidak dapat melihat wajahnya yang tertutup dengan badan Taemin.
“Taemin…” Panggil Sulli lembut.

Taemin segera berbalik dengan senyum lebarnya, “Oemma ayo berkenalan dengan Min Seongsangnim!

Sulli langsung tersenyum excited . Akhirnya rasa penasaran terjawab.

Dengan pelan, orang yang dipanggil Min Seongsangnim berdiri.

“Minho?!” Gumam Sulli tanpa sadar.

.TBC.

 

Runaway (Prolog)

seasonal-florist1

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

 

“Hiks…. Hiks… Hiks…” Isak tangis seorang gadis mengisi kekosongan kamarnya. Sang gadis mengusap kasar air matanya. Ia memejamkan matanya.

Tes!

Air matanya kembali turun.

“Apakah kau mau menikah denganku?”

Lagi-lagi, air matanya kembali turun. Ia mencoba mengatur pernafasannya. Menghirup udara dan mengeluarkannya dengan perlahan, mencoba membuat dirinya tenang.

Hufh~

Sulli-gadis tersebut sudah mulai merasa tenang. Ia bangkit dari tempat tidurnya, berjalan menuju cermin. Menatap bayangan dirinya.

Kemudian, kembali memejamkan matanya kembali. Rasa frustasi kembali menjalari dirinya. Sulli masih mencoba mengatur pernafasannya.

Tenang Sulli… Kau pasti bisa melewati hal ini….

Dengan perlahan, tangannya membuka laci dan mengambil kotak kecil bewarna merah. Sulli membuka kotak tersebut, sebuah cincin bertaburkan berlian terdapat di kotak tersebut.

“Aku tahu ini bukan cincin pernikahan seperti biasanya. Tetapi aku tahu ini akan cocok untukmu.”

Sulli mengambil cincin tersebut. Melihatnya dengan seksama.

Mungkin pernikahan ini adalah jalan keluarku?

Ia kembali menghembuskan nafasnya, sebelum akhirnya menyematkan cicin tersebut ke jari manisnya.

tumblr_static_original

.

.

.

.

.

Sulli menahan nafasnya. Ia begitu terkejut dengan semua ini. Kedatangan Jonghyun yang tiba-tiba. Tatapan Jonghyun yang marah. Suaranya yang dingin. Ia juga memegang kedua bahu Sulli. Membuat jarak mereka menjadi sangat dekat.

“Apa benar kau akan menikah dengan Jongin?! Sulli jawab aku!”

Suara Jonghyun kembali mengembalikan fokus Sulli yang tadi hilang entah kemana. Sulli mengerjap, “Euhm… Kenapa?”

Jonghyun melepaskan kedua tangannya. Ia menjambak rambutnya frustasi, “Bagaimana bisa?”
“Tentu saja bisa.”

“Bukan maksudku…” Jonghyun menghela nafasnya, mencoa menghilangkan rasa frustasi, “Bagaimana dengan…. Kau tahu…. Kau baru saja bertemu dengan Minho dan sekarang memutuskan menikah dengan Jongin.”

Sulli menghembuskan nafasnya, “Aku memikirkan keputusan ini dengan matang-matang Jonghyun-ah….” Ia mengenggam tangan Jonghyun, “Ini adalah keputusan yang terbaik.”

“Bukan begitu…. Aku merasa ragu… Kau baru saja berhubungan dengan Minho kembali.”

Sulli mengangkat tangannya, “Lupakan Minho. Ku mohon. Sekarang hanya ada Jongin tidak ada lagi Minho.”

“Bagaimana jika dia masih menyukai mu Sulli-yah? Kau juga masih menyukainya bukan?”
Air mata Sulli turun perlahan. Ia menggelengkan kepalanya, “Ia tidak akan pergi lagi jika masih mencintai ku.”

“Aku akan mencari dirinya. Membawa dirinya kembali ke sini. Ja-“

“Itu tidak cukup!” Teriak Sulli tiba-tiba. “Itu tidak cukup! Kau butuh waktu berapa lama untuk membawanya kesini? Berhari-hari? Berminggu-minggu? Atau bahkan berbulan-bulan? Atau ia tidak ingin kembali kepadaku?”

“Sulli…”

“Aku hamil anaknya.”

“Apa?!”
Sulli mulai terisak. Ia menggigit bibirnya, berusaha mengontrol isakannya, “Aku hamil anak Minho, Jonghyun-ah. Aku kalang kabut ketika pertama kali mengetahuinya. Maksudku… Maksudku apa yang akan kulakukan? Minho sudah pergi melanjutkan sekolahnya keluar negeri. Ia jelas-jelas mengatakan kepadaku jika itu merupakan pertemuan terakhir mereka. Aku tidak bisa mengatakannya kepada siapapun. Aku bisa kehilangan segalanya karena hal ini-hal yang mereka anggap memalukan. Di tengah kekalutanku Jongin tiba-tiba melamarku. Menurutmu apa yang harus kulakukan? Menolaknya?” Sulli menghapus air matanya, “Sudah kubilang, aku sudah memikirkan hal ini dengan baik-baik.”

Jonghyun menghela nafasnya, “Maaf. Aku benar-benar tidak tahu. Aku pikir kau gegabah.”
“Tidak apa-apa. Terimakasih karena telah mengkhawatirkanku.”

.

.

.

.

.

.

Choi Sulli namanya. Ia masih muda. Masih sangat muda. Umurnya baru 23 tahun. Tetapi dia memutuskan untuk menikahi kekasihnya, Kim Jongin. Sayangnya, kekasihnya bukan pemilik hatinya. Pemilik hatinya adalah Choi Minho. Kakak kelasnya di fakultas sama dengannya. Kalau Sulli mengambil jurusan mendesign baju atau fashion designer makan Minho memilih jurusan seni murni.

Jujur, Sulli hanya berpura-pura saja ingin berpacaran dengan Minho. Karena tantangan dari teman-temannya jika Minho menyukai Sulli. Benar saja, laki-laki tersebut sangat menyukainya. Selama enam bulan Sulli menjadi pacarnya, laki-laki itu selalu melakukan yang terbaik kepada Sulli. Kadang-kadang memang sedikit mengecewakan, tetapi sorot laki-laki itu sangat jujur, menyanyanginya sehingga Sulli melupakan rasa tersebut. Rasa cinta muncul kepadanya secara tiba-tiba. Ia terjerat dalam cinta itu.

Lain seperti Minho yang memang mencintai Sulli dari awal dengan tulus, Sulli hanya ingin bermain-main dengan Minho pada awalnya. Itulah malapetaka dari jalan cerita mereka. Minho mengetahuinya dan memutuskannya. Ia terbelengu dengan cinta Minho, kesalahannya, juga kekesalannya kepada teman-temannya yang memberi tahu tentang ini.

Teman-temannya berkilah jika mereka memberi tahu Minho karena menurut mereka ada yang lebih baik dari Minho, seperti Oh Sehun atau Kim Jongin yang jelas-jelas menyukainya. Sulli mencebik, darimana mereka tahu?

Hatinya tambah meringis ketika mengetahui jika Minho memutuskan untuk mengambil beasiswa ke Belgia. Rasanya…. Entahlah… Dia merasa sangat sesak tidak terekspresikan. Kecewa terhadap dirinya. Sangat kecewa. Kim Jongin datang di kehidupannya. Sorot matanya sama seperti Minho sehingga Sulli berharap jika Jongin dapat menggantikan posisi Minho.

Tapi Jongin tidak dapat menggantikan Minho. Sorot matanya memberikan ketenangan kepada Sulli. Kata-kata dari mulutnya memberi kehangatan di hatinya. Tetapi jantungnya tidak berdebar-debar. Begitu tenang hingga rasanya tak berdetak seperti orang yang mati. Sulli belum bisa melupakan Minho. Ia masih terbelengu dalam cinta Minho.

Ketika mendengar Minho kembali, Sulli mencoba keberuntungannya. Ia ingin menjelaskan semuanya kepada Minho. Semuanya. Ketika bertemu dengan Minho, susah awalnya karena Minho menyambutnya dengan sangat-sangat dingin. Tetapi tak dapat dipungkiri, dengan sedikit saja memohon kepada Minho, laki-laki itu luluh kepadanya. Mereka berbicara berdua, di tempat yang lebih sepi dari sebuah café yang biasa Minho kunjungi.

Entah apa yang terjadi, Sulli tidak tahu. Mungkin dari efek Minho yang memeluknya ketika ia menangis. Atau otaknya yang tidak dapat berpikir jernih karena jantungnya berdetak sangat keras. Karena emosinya yang tidak stabil. Karena hatinya yang kacau. Malam itu benar-benar kelabu hingga Sulli tidak merasakan apapun. Hanya panik di pagi hari ketika ia mengetahui apa yang benar-benar terjadi.

Pagi itu, ketika ia bangun, Minho sudah berada di sampingnya. Menatapnya dengan lembut hingga ketakutan Sulli langsung senyap. Hanya menyisakan kegilaan akibat detak jantungnya yang berdegup sangat cepat karena tatapan Minho. Mereka berbicara dari hati ke hati sehabis itu.

“Aku… Aku minta maaf jika aku menyakitimu. Sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu. Kemarin terasa seperti, klise. Begitu cepat hingga kita terjatuh sangat dalam. Aku mencintaimu sungguh… Tidak peduli apa yang kau lakukan kepadaku. Tapi aku tidak bisa melepaskan mimpiku. Aku tidak boleh mundur untuk mengejar mimpiku.

Sulli langsung mengerti. Ia tidak dapat membuat Minho untuk tinggal. Maka dari itu, harapan dia pupus Minho ingin kembali kepadanya jika mendengar kabar tentang dirinya. Ia tidak bisa membayangkan Minho menolaknya. Sullipun hampir saja bunuh diri jika Jongin, yang entah mengapa melamarnya. Mengajak ia menikah.

Dan dari hal-hal bodoh yang ia lakukan, disinilah Sulli. Di ruang penuh tamu. Memaksakan sebuah senyum bahagia selagi ia menyapa tamu-tamu pernikahannya. Membalas ucapan para tamu dengan nada suara yang harus bahagia.

Disinilah Sulli, disamping Jongin.

.FIN.