State of Grace (Chapter 24)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Sorak tepuk tangan menghiasi lantai dansa. Krystal mengundurkan diri dari hadapan Sehun. Ia kembali ke teman-temannya.

“Kyaaa….” Teman-teman Krystal berteriak menyambut Krystal.

Krystal meringis. Tentu dia sudah tahu apa maksud teman-temannya.

“Kau masih hidup bukan? Masih bernafas?” Hyeri menghampirinya.

Krystal mendengus, “Apa maksud kalian?”

“Kalau tidak salah tadi dirimu yang sama sekali tidak semangat berdansa!” Eunji melipat kedua tangannya, “Tapi kau mendapatkan Oh Sehun…”

“Itu hanya kebetulan!” Dalam hati Krystal meringis. Kebetulan apa? Ia yakin Sehun memang sudah menargetkannya dari awal. “Jangan berlebihan teman-teman…”

Choa mengerang, “Ugh! Kami tidak bisa Krystal!”

“Aku memotret mu! Kau mau melihatnya?!”   Chanmi mengeluarkan handphone-nya.

Krystal terperanjat. Ini… Dia mengambil handphone Chanmi. Teman-temannya juga ingin melihatnya.

“Kalian terlihat seperti sepasang kekasih!” Komen Eunji.

“Ya ampun… Ini sangat romantis!”

“Cara dia menatap mu Krystal! Dia adalah laki-laki yang hangat!”

“Beruntung sekali yang menjadi kekasihnya!”

Krystal terdiam melihat potretan Chanmi. Bagaimana bisa seperti ini? Maksud Krystal, ia hanya menatap Sehun sekali. Itupun dengan tatapan yang ia usahakan seperti biasa. Tetapi di foto ini sangat kentara.

Chanmi mengambil handphone-nya, “Aku akan mengirimkannya kepada dirimu, Krys.”

Krystal hanya terdiam.

“Permisi semuanya…”

Tiba-tiba hening ketika suara Tifanny terdengar. Tifanny kembali di atas panggung.

“Ku harap kalian menikmati pesta pembukaan ku…” Lanjut Tifanny sambil tersenyum. “Sebelum kita melanjutkan pesta ini, izinkan saya untuk mengucapkan terimakasih terlebih dahulu… Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada sahabat-sahabat yang telah mendukung saya, yang selalu memberikans saya saran. Terimakasih kepada Kim Taeyoen, Kim Hyoyeon, Im Yoonah, Kwon Miran, dan Min Hyorin.”

Orang-orang yang disebutkan oleh Tifanny mengangkat gelas mereka. Hadirin yang lain bertepuk tangan.

“Juga, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada keluarga saya. Suami Saya Oh Siwon dan anak saya Oh Sehun!”

Para hadirin kembali bertepuk tangan. Kali ini sangat keras. Tidak disangka-sangka, Siwon dan Sehun maju ke panggung. Mereka membungkukan badan mereka, menyapa para hadirin yang lain.

“Terimakasih kepada semuanya yang telah hadir disini…” Kata Sehun tanpa disangka-sangka.

Krystal terperangah untuk beberapa saat. Apalagi ketika melihat Sehun tersenyum.

“Aku baru ingat!” Tifanny kembali berbicara. “Sehun disini bersama kekasihnya!”

Krystal menahan nafasnya. Kekasihnya? Dia? Ia tertawa dalam hati. Tifanny mengakuinya atau….
“Biar kupanggilkan dia untuk datang ke panggung.”
Sehun terlihat bingung. Ia berbicara sesuatu ke Tifanny yang juga ditimpali oleh Siwon. Tifanny terlihat tidak peduli.

“Kemana dia ya?” Kata Tifanny lagi. Mata menyapu kerumunan, “Ah, itu dia!”

Jantung Krystal serasa meledak ketika mendengar lanjutan kalimat Tifanny.

.

.

.

.

.

“Krys, kau baik-baik saja?” Tanya Eunji yang melihat Krystal tiba-tiba pucat.

Krystal menoleh. Ia menghirup nafas, setelah beberapa detik tidak. “Baik…” Katanya serak. “Aku baik-baik saja…” Lanjutnya masih sama.

“Kau terlihat tidak.” Kata Eunji masih memperhatikan Krystal.

Krystal menggeleng lemah. “Tenang saja..” Ia kembali menatap ke panggung. Menahan getaran di tangannya seiring dengan Wendy berjalan mendekat.   Senyuman Wendy sangat indah apalagi gaunnya. Krystal mengigit bibirnya. Gaunnya pasti mahal tidak seperti gaun miliknya.

Tifanny kembali berbicara. Tapi kali ini Krystal tidak mendengarkan. Ia bahkan sudah mengalihkan tatapannya dari panggung. Menahan diri tidak menatap Sehun dan berusaha masuk ke pembicaraan teman-temannya.

Chanmi heboh, “Jadi itu kekasihnya?”

“Dia anak Kwon Miran kalau tidak salah…” Eunji kemudian kembali menoleh ke Wendy, “Tapi tidak mempunyai bakat melukis sama sekali…”

“Jangan-jangan mereka bertemu karena latar belakang orangtua mereka?” Tanya Minah.

“Ah, so sweet…” Seru Hyeri.

“Berarti Krys, tadi dirimu sudah termasuk sangat beruntung!” Pekik Seolhyun melihat Krystal.

“Tapi mengapa Sehun mau mengajak Krystal berdansa jika ia sudah punya kekasih?”

Ucapan Chanmi membuat semua menoleh ke Krystal. Krystal terdiam beberapa saat. Kenapa? Karena itu hak-hak Sehun. Dia bahkan tidak tahu jika Wendy disitu. Kalau boleh jujur, dia juga berhak berdansa dengan Sehun. Dia kekasihnya! Kekasih sebenarnya yang tidak diakui oleh ibunya! Krystal mengerjap. Berusaha menghalau air matanya yang ingin terjatuh. “Aku… Tidak… Tahu…” Jawab Krystal pada akhirnya.

“Itu benar. Mana dia tahu. Yang tahu alasan sebenarnya adalah Sehun bukan?” Tanggap Eunji. “Sudahlah jangan terlalu dipikirkan alasannya. Menurutku itu hak-hak Sehun juga. Itu tidak jadi masalah jika Wendy tidak keberatan. Buktinya Krystal baik-baik saja, berarti Wendy tidak keberatan bukan?” Lanjutnya memberikan beberapa alasan.

Tepat setelah itu, alunan musik kembali terdengar. Membuat semuanya menoleh ke atas panggung. Ketika itu Sehun menatap Krystal. Krystal segera mengalihkan pandangannya dari tatapan Sehun. Ia melihat Tifanny dan Siwon mulai berdansa. Suasana jadi sangat canggung sekali di panggung. Dengan Sehun dan Wendy di situ.

“Berdansa! Berdansa! Berdansa!” Teriak orang-orang melihat Sehun dan Wendy.
“Ayo berdansa!!! Apalagi yang mereka tunggu?!” Teriak Chanmi greget melihat mereka.

Sehun terlihat enggan. Ia menggelengkan kepalanya. Masih berusaha tersenyum. Cepat-cepat turun dari panggung. Menjauhi Wendy.

“Ayo berdansalah dengan Wendy!” Seru Tifanny tiba-tiba menghentikan Sehun.

“Ayo!!!!” Krystal menoleh ke teman-temannya, teman-temannya pada menunggu. Krystal menggigit bibirnya. Ini tidak baik. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke panggung.

Wendy mendekat ke Sehun dan menarik Sehun agar berdansa dengannya. Krystal tidak dapat melihat ekspresi Sehun. Semua orang bersorak gembira melihatnya, kecuali Krystal tentunya.

Setelah itu, beberapa teman-temannya ikut lagi berdansa. Krystal terdiam. Ia menghela nafas. Ia hanya ingin pulang sekarang. Diam-diam ia pergi dari ruangan dansa. Berjalan gontai menuju mejanya yang sangat sepi. Semua orang menikmati dansa kecuali dia.

Krystal kemudian duduk. Pandangannya mengabur. Ia menutupi mukanya.

Tes!

Tes!

Air matanya mulai berjatuhan. Sial! Rasanya sakit sekali melihat Wendy bisa berdekatan dengan Sehun. Sedangkan dirinya harus menahan diri agar bisa berdekatan dengan Sehun.

“Ini…” Krystal mendongak mendengar suara seseorang.

Seojoon tersenyum lembut. Memberi sapu tangannya ke Krystal, “Tidak apa-apa jika kau ingin menangis…”

Krystal cepat-cepat menghapus air matanya.

.

.

.

.

.

Seojoon sudah bilang ke Sehun. Tifanny pasti akan menyerang Krystal disana. Tidak secara langsung. Tapi melalui Sehun.   Ucapannya terbukti benar.

Dari bangkunya, Seojoon menoleh ke arah Krystal di ujung sana. Gadis itu terlihat biasa-biasa saja––dari jangkauan tempat duduknya––.
“Apa yang Tifanny lakukan?” Ucap Donghae khawatir melihat ia mengumumkan Wendy sebagai kekasih Sehun. Laki-laki disampingnya terlihat sangat marah.

“Aku tidak tahu paman.” Jawab Seojoon jujur. “Tapi jika seperti ini berarti ada yang harus ku urus.” Ia segera bangkit dari tempat duduknya. Berjalan mendekati Krystal, tidak terlalu dekat tetapi dapat melihat ekspresi wajah Krystal.

Gadis itu berusaha menahan semuanya. Ia tetap disitu. Saat Sehun turun dari panggung, ia tetap disitu. Sampai Wendy dan Sehun mengajaknya berdansa. Krystal terdiam cukup lama. Tiba-tiba ia berbalik.

Seojoon mengikuti Krystal. Gadis itu duduk di bangkunya. Menelungkupkan tangannya di wajahnya. Bahunya mulai bergetar. Seojoon menghela nafas. Ia berjalan mendekati Krystal. Mengeluarkan sapu tangannya.

“Ini…” Katanya menyodorkan sapu tangannya ke Krystal.

Krystal menatapnya. Hal itu membuat Seojoon tersenyum, memberikan sapu tangannya ke Krystal, “Tidak apa-apa jika kau ingin menangis…”

Krystal cepat-cepat menghapus air matanya, “Oppa?!”

Seojoon duduk di samping Krystal, “Tidak apa-apa jika kau ingin menangis…” Katanya lagi.

Krystal menghela nafasnya, “Menangis di depan orang bukanlah kesukaan ku.” Katanya jujur. Ia menatap Seojoon, “Aku orang yang suka tenggelam dalam kesedihanku. Kemudian merasa baikan ketika aku selesai menangis.”
Seojoon menganggukan kepalanya, “Seseorang memang butuh menangis Krys. Kau tahu, menurut Psychology, seseorang wanita menangis jika ada yang salah dan merasa benar ketika ia selesai menangis. Kau tidak perlu malu akan hal itu.”

“Entahlah…”

Ia tersenyum. Setidaknya Krystal tidak terlalu rapuh seperti tadi, “Jadi, ingin berdansa dengan ku?”

Krystal menatap Seojoon bingung.

“Aku tadi memprediksi hal ini ke Sehun. Jika Tifanny akan menyiksamu melalui Sehun. Dan ia melakukan hal itu dengan mengenalkan Wendy. Aku memprediksi jika kau tidak kembali lagi ke sana, Sehun akan segera kesini untuk mencari mu. Aku juga memprediksi dia lagi melihat segela arah mencari mu. Jadi…”

Krystal menundukan kepalanya, “Baiklah…” Ia dan Seojoon bangkit. Menuju kembali ke tempat berdansa dan mulai berdansa.

Sepanjang ia berdansa, ia berusaha untuk tidak melihat Sehun dan Wendy. Rasanya terlalu menyakitkan.

“Apa kau tahu jika Sehun sadari tadi menatap mu?”

Krystal menoleh ke Seojoon dengan tatapan bingung. Ragu-ragu, melihat ke Sehun dan… Seojoon benar. Sehun sedang melihat ke arahnya. Cepat-cepat Krystal mengalihkan pandangannya.

Seojoon kembali berbicara, “Kau lihat tangan Sehun? Dia menyalurkan segala emosinya dalam cengraman tangannya. Aku bingung kenapa Wendy tidak meringis sama sekali…”

Krystal melihat tangan Sehun yang sangat terkepal.

“Aku juga bingung kenapa ia sangat berani menatap Sehun. Sehun sama sekali tidak ingin menatapnya!”
Krystal menunduk. Dia diam-diam tersenyum, “Oppa tidak harus menghina Wendy agar membuatku tersenyum….”

“Setidaknya aku tahu apa yang akan membuat mu tersenyum.”
Krystal mendongak melihat Seojoon, “Oppa!” Dia tersenyum.

Seojoon ikut tersenyum, “Apalagi ya agar kau tertawa? Bagaimana jika kita berdoa agar leher Wendy sakit sehabis ini? Atau ada tulangnya yang salah akibat ia terus mendongak?!”
Jahat memang. Tapi Krystal tertawa mendengarnya.

“Hak sepatunya patah? Gaunnya terinjak?”
Lagu selesai. Seojoon melepaskan tangan Krystal. “Kau tersenyum lebar lagi…”

Krystal menggelengkan kepalanya.

“Sehabis ini kau duduk bersama ku okay? Untuk jaga-jaga. Entah apa yang akan ibuku buat sehabis ini.” Tanpa persetujuan atau apa, Seojoon menarik tangan Krystal.

.

.

.

.

.

Wendy bersumpah, ia membenci Krystal Jung. Sangat membencinya. Lihatlah sekarang! Karena gadis itu Sehun tidak menatapnya sama sekali! Lehernya pegal karena terus mendongak menatap Sehun dan Sehun sama sekali tidak membalasnya! Wendy bersumpah jika sekarang Sehun sedang menatap Krystal Jung.

Bagaimana Wendy tahu? Karena ketika Krystal Jung mulai berdansa dengan laki-laki yang tidak ia kenal, cengkraman tangan Sehun mengencang. Oh, itulah kenapa ia mencari-cari siapa yang Sehun tatap. Karena cengkraman tangan Sehun sangat kencang hingga tangannya dipastikan memerah.

“Sehun!” Wendy mencoba memanggil Sehun.

Tidak ada respon.

“Sehun!”

Masih sama, tidak ada respon.

“Aw!”

Wendy yang kesal akhirnya menginjak kaki Sehun. Membuat pemilik kaki tersebut meringis.

“Apa?!” Tanya Sehun tajam.

Prok! Prok! Prok!
Lagu dansa selesai. Sehun dengan cepat melepaskan tangan Wendy. Ia dengan cepat berjalan melewati Wendy.
“Tunggu!” Wendy terpakasa mengekor dari belakang. Sedikit tergesa-gesa karena jalan Sehun yang sangat cepat.

Hyung!” Sehun memanggil seseorang. Orang tersebut sedang duduk dan akhirnya berdiri.

“Sehun siapa dia?” Tanya Wendy dan melingkarkan tangannya di tangan Sehun.
Sehun menatap Wendy risih.

“Oh Seojoon.” Ucap Seojoon tiba-tiba. Melihat gelagat Sehun, sepertinya adiknya akan menyemburkan semua emosinya kepada Wendy. “Nama ku Oh Seojoon.” Katanya sekali lagi.

Wendy menunduk, “Aku Wendy Son…”

“Aku tahu.” Ujar Seojon santai.

“Dari mana Anda tahu?” Wendy bingung. “Apa kita pernah bertemu.”

“Pernah.”

“Kapan?”

“Di sini.”

Wendy menghela nafasnya. Astaga…. Cukup Sehun yang membuat kesabarannya habis. Lelaki ini tidak usah membuat kesabarannya habis.

Seojoon terkekeh, “Tentu saja tidak pernah. Jika pernah Anda pasti tidak menanyakan siapa saya.”

Nah, ucapan Seojoon malah semakin membuat kesabaran Wendy menipis. Mata Wendy kemudian teralihkan dengan perempuan yang duduk bersama Seojoon. Krystal Jung rupanya.

Wendy tersenyum, “Oh, Krystal? Kenapa kau disini? Bukannya kau seharusnya bersama teman-teman mu?”

“Diamlah dan pergi dari sini!” Sehun menatap Wendy tajam.

Wendy semakin kesal. “Kau menghabiskan waktu dengan lelaki lain? Ku kira kau sudah punya kekasih. Tidak kusangka jika—“

Argh!”

Wendy meringis tak kala Sehun menamparnya.

“Sehun…” Ucap Wendy tidak percaya.

Seojoon menghela nafasnya. “Sehun… Ingat apa yang ku katakan tadi…”

Sehun mengertakan giginya, “Ini terakhir kalinya ku katakan. Pergi dari sini sekarang!”

Tatapan Wendy menyalak, “Kenapa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya! Apa yang salah?!”

Sehun mengerang, “Kau…”

“Sehun…”   Krystal bangun dan menyentuh pundak Sehun. Membuat Sehun menghentikan langkahnya yang sedikit lagi siap menghajar Wendy.

Wendy terpana. Lagi-lagi tatapan Sehun ke Krystal. Kekesalnnya semakin menjadi-jadi.

Byur!

Refleks, Wendy menyiramkan sampanye terdekat yang bisa ia jangkau ke Krystal. Semuanya tersentak hebat.

“Ada apa ini?” Tepat sebelum situasi semakin runyam, Tifanny datang. Menembus kerumunan yang lain. Matanya menatap tajam Krystal ketika melihatnya.

Seojoon menghela nafasnya. Sepertinya suasana malah akan semakin tambah runyam.

“Pergi dari sini!” Seru Tifanny ke Krystal. “Kau membuat keributan disini jadi cepat pergi dari sini!”

“Tapi Wendy lah yang membuat keributan! Krystal sedari tadi hanya diam!” Seru Sehun kepada Tifanny. Ia kemudian menarik tangan Krystal. Membuat Krystal berada di sampingnya, “Krystal akan tetap disini. Bersama ku!”

“Wendy tidak akan membuat keributan jika tidak ada dia!” Tifanny masih tidak ingin mundur. Dia menunjuk ke arah Krystal, “Aku bos mu bukan? Turuti perintah ku!”

Mommy bukan bos Krystal lagi. Dia sudah mommy pecat bukan? Jadi sekarang hak-hak dia ingin berada disini atau tidak!”

Tifanny menatap Krystal semakin tajam, “Wanita jalang! Lihat yang kau buat? Kau membuat anak ku berpihak kepada mu!” Ia kemudian mengerang. “Aku membenci mu!”

Semuanya terkejut mendengar perkataan Tifanny, bahkan Wendy sekalipun. Tak disangka-sangka juga, air mata Krystal turun.

Krystal segera menghapusnya, “Aku pulang duluan. Permisi…” Ia membungkukan badannya dan segera pergi dari situ.

.

.

.

.

.

“Krys, ada apa?” Eunji panik melihat Krystal berlari dari ruangan dansa. Tanganya mencekal tangan Krystal.

Krystal menggeleng, “Tidak apa-apa. Aku harus pulang!” Ia kemudian melepaskan cekalan tangan Krystal.

“Hei—“ Eunji ingin mengejar Krystal jika saja ia tidak melihat pemandangan yang sangat unik. Oh Sehun juga ikut mengejar Krystal.

“Hey, bukan kah itu Krystal?” Seru Choa melihat Krystal keluar. “Kenapa dia? Pulang?”

Eunji mengangkat kedua bahunya, “Entahlah. Dia seperti sangat tertekan.”

“Akhir-akhir ini ku lihat dia juga sangat tidak bersemangat.” Choa kemudian menghela nafasnya, “Ku harap dia tidak keluar. Aku menyukainya.”
Eunji menganggukan kepalanya, “Dia orang yang asyik.” Kemudian matanya menyapu arah lain, “Kemana teman-teman kita yang lain? Apakah mereka sudah selesai muntahnya?”

“Ku rasa kita harus menyusul mereka ke toilet.” Terdengar gerutuan dari Choa, “Mereka ini! Tidak bisa mabuk malah mabuk!”

.TBC.

A/N:

Disetiap kepahitan kan ujung-ujungnya akan hilang…..  Mungkin beberapa chapter akan ada pahitnya tapi juga akan ada manisnya..  We’ll see…  

State of Grace (Chapter 19)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Donghae sudah berada di luar lebih lama dari perkiraan Tifanny dan Wendy. Ia mendengar perkataan Tifanny dan Wendy. Terutama dibagian Tifanny yang mengatakan jika ia akan selalu berada di samping Wendy. Tanpa sadar, Donghae mendesis. Merasa kesal dengan apa yang Tifanny lakukan.

“Kau kenapa?” Tanya Tifanny yang bingung dengan perilaku Donghae. Donghae tidak terlihat seperti biasanya. Ia hanya diam dan melakukan pekerjaannya. Maksud Tifanny Donghae tidak mengajak Tifanny berbicara seperti biasanya. Dia merasakan sebuah kehilangan yang besar akibat hal tersebut. “Apa kau bertengkar dengan Yoonah?” Tanya Tifanny lagi.

Donghae langsung menghentikan kegiatannya. Ia menatap Tifanny tajam, “Istirahatlah. Kau bisa pulang sore nanti. Siwon sudah mengatakan kepadaku jika ia akan menjemputmu.”

“Kenapa aku marah kepada ku?” Kekesalan muncul di benak Tifanny. “Apakah itu karena Siwon yang ingin menjemputku?”

“Bukan!” Teriak Donghae frustasi. Ia langsung mendekatkan dirinya ke Tifanny. Berbicara dengan nada yang sangat dalam dan pelan. Tidak ingin membuat orang di luar curiga dengan apa yang terjadi di dalam. Karena ia tahu, karirnya dipertaruhkan dalam hal ini. “Ini bukan masalah Yoonah dan Siwon, Tifanny. Tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.”

“Tapi kau marah-marah kepadaku!” Kata Tifanny dengan nada yang masih kesal. Detak jantungnya sudah mulai naik.
Donghae menghembuskan nafasnya, “Dengar, aku tidak seharusnya mencampuri urusanmu. Aku menghormati setiap keputusanmu dan setiap pandanganmu. Tapi, kali ini aku tidak tahan.”

Tifanny hanya diam. Menunggu perkataan Donghae yang selanjutnya, “Bukankah kekasih Sehun adalah Krystal Jung bukan Wendy Son?” Mereka sama-sama diam. Hingga akhirnya Donghae kembali berbicara, “Aku mengetahuinya dari Sehun jika kau bertanya-tanya dari siapa aku mengetahuinya. Dengar Tifanny, aku-“
“Keluarlah!” Suara Tifanny terdengar sangat lirih. Air matanya mengenang di pelupuk matanya. “Kumohon……”

Donghae menghela nafasnya sekali lagi. Dia harus mengalah untuk kali ini. “Kita berdua yang paling tahu apa maksud mu dengan Wendy bukan?” Setelah itu Donghae berbalik dan keluar dari kamar Tifanny.

.

.

.

.

Sehun tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Semuanya begitu kacau. Ia memutuskan untuk berdiam diri di apartment Krystal sampai ia bisa memutuskan sesuatu.

Biasanya tempat pelariannya adalah rumah Kai. Tetapi, berhubung masalah ini sudah sangat besar dan kemungkinan besar ayahnya akan sangat marah kepadanya, dia berpikir jika lari ke rumah Kai adalah masalah besar. Bisa-bisa menimbulkan keributan besar di sana. Jadi, mau tidak mau Sehun lari ke apartment Krystal sampai ia menemukan penyelesaian masalah. Ia kembali melihat hp-nya. Menunggu balasan dari Kai.

Tring!

Sebuah pesan masuk dan itu dari Kai. Segera saja Sehun membukanya.

Apa kau yakin dengan yang kau lakukan? Bukankah itu namanya lari dari masalah?

Sehun segera menjawab pesan Kai,

Iya, kau benar. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Tinggal disana sama saja memasukan diriku ke dalam penjara.

Terserah dirimu saja. Baiklah, aku akan melakukannya.

“Sedang menghubungi siapa?”

Sehun tersentak hebat ketika menyadari Krystal sudah ada dibelakangnya. “Ah?” Tanyanya masih syok.

Krystal menatap Sehun curiga, “Kau sedang apa?”

“Sedang mengurus sesuatu.” Jawab Sehun pendek. “Kukira kau sudah tidur.” Karena Sehun memaksa untuk tinggal di apartment Krystal, maka Krystal memaksa Sehun untuk tidur di sofa. Secara kamar yang dimiliki Krystal hanya satu.

“Aku memang sudah tidur. Kemudian aku terbangun karena ingin buang air kecil.” Krystal tersenyum pendek dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.

Setelah Krystal menghilang dari balik pintu kamar mandi, Sehun diam-diam kembali melihat hp-nya. Sebuah pesan masuk lagi, dan masih dari Kai.

            Jangan lupa membayarnya ya!

Sehun mendengus, ia segera membalasnya,

Iya, pelit!

.

.

.

.

Tifanny menuangkan secangkir kopi kepada Siwon. Ia menghela nafas untuk yang kebeberapa kalinya di pagi yang cerah ini. Keadaan di rumah sangat mencekam. Sehun juga tidak pulang kemarin malam.

“Apa kau sudah menyelidiki kemana Sehun pergi?” Tifanny lagi-lagi bertanya kepada Siwon.

Siwon yang masih sibuk dengan tablet-nya menganggukan kepalanya, “Dia tidak ada di rumah Kai ataupun di hotel Seojoon. Dia juga tidak memakai kartu kreditnya kecuali membeli bensin di pom bensin dekat rumah sakit.”

“Adakah yang lebih detail daripada itu? Setidaknya mengatakan jika ia baik-baik saja.”
Siwon menghela nafasnya. Ia meletakan tabletnya dan menatap Tifanny, “Umurnya sudah 23 tahun Tifanny. Dia sudah menyelasaikan kuliah dan sebentar lagi akan di wisuda. Sudah mendapat perkejaan. Dia pasti akan baik-baik saja.”

“Aku tidak mengerti mengapa dirimu sama sekali tidak panik karena dia menghilang.” Kata Tifanny dengan nada sinis.

Siwon kembali menghela nafasnya, “Berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Dia sudah besar dan dia akan kembali kepada kita. Aku yakin jika dia menghilang selama satu hari saja. Hari ini dia pasti akan kembali.”

“Aku masih tidak tenang!”

Siwon menyesap kopinya, “Dengar, aku tetap menyuruh orang untuk mencarinya. Aku juga akan terus memantaunya. Tetapi aku harus berangkat kerja. Ada rapat bersama kolegaku, Tuan Kwon mengenai pembangunan hotel terbaru di Bali dan aku harus menghadirinya.”

Tifanny mendelik, “Tidak bisakah kau lupakan pekerjaan mu sebentar dan mengurusi keluargamu? Ini masalah yang lebih penting Siwon-ah!”

“Masalah penting apa? Sehun hanya kabur seperti biasanya. Dan kamu yang baru keluar dari rumah sakit karena stress. Seojoon yang tiba-tiba muncul tapi aku yakin dia tidak berani macam-macam ke kita. Tidak ada masalah yang penting. Aku yakin kau bisa mengurusnya.” Siwon segera mengurusi barang-barangnya. Memasukan tablet-nya ke dalam tasnya.

Tifanny menunduk. Dia merasa ingin menangis. “Uhm… Pergilah!” Katanya dengan suara yang diusahakan ceria. “Pergilah!”

Siwon menghampiri Tifanny, “Aku akan pulang lusa.” Mengecup singkat pipi Tifanny dan melangkah keluar dari dapur.

Hiks!

Hiks!

Bersamaan dengan itu, air mata Tifanny mengalir.

.

.

.

.

Sehun masih sibuk mengunyah sarapannya, tetapi matanya tidak lepas dari handphone-nya.

“Kau terlihat sangat sibuk.” Gumam Krystal sambil menyesap tehnya.

Sehun menoleh ke arah Krystal, “Mungkin.” Ia kemudian menghentikan kegiatan makannya dan melihat ke arah Krystal, “Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan.”

Melihat sikap Sehun yang sangat gugup membuat Krystal juga ikutan gugup. Ia pun menganggukan kepalanya perlahan.

“Aku…” Sehun diam sejenak. Menghela nafas. “Aku akan pindah ke sebuah apartment. Baru saja aku rencanakan, bukan, maksudku aku merencanakannya tadi malam dan sudah mendapatkan apartment yang bagus dengan harga yang terjangkau, juga dekat dengan kantorku. Oh, apakah aku lupa bilang kepada mu jika aku diterima disuatu biro hukum? Jadi, kurasa mulai dari sekarang aku akan tinggal di apartment.”

Apartment?” Krystal hanya bisa menatap Sehun, “Maksudku tidak tinggal lagi dengan orangtua mu?”
Sehun menganggukan kepalanya.
Terdengar helaan nafas dari Krystal, “Bukannya itu artinya kau melarikan diri dari sebuah masalah? Masalah dengan orangtuamu belum selesai tetapi dirimu sudah memutuskan berpisah dari mereka?”
Sehun terlihat berpikir, “Kau benar.” Akunya. “Aku memang selalu kabur jika bertengkar dengan mereka. Tetapi mengubah seseorang dengan satu malam bukanlah suatu yang mudah. Orangtuaku tetaplah orangtuaku. Aku adalah aku. Kami terbiasa dengan situasi seperti ini, tidak peduli jika Mom akan sangat panik ketika aku menghilang. Ia tetap tidak mengubah kebiasaannya untuk terus menahan pendapatnya hingga aku lelah dan memutuskan untuk kabur.”

“Tetapi ini bukanlah sesuatu yang dapat dibenarkan, kabur dari sebuah masalah.”

“Okay, bagaimana jika seperti ini, aku akan menyelesaikan masalah denganku dengan orangtuaku tetapi tetap tinggal di apartment?”

Krystal akhirnya mengangukan kepalanya, “Baiklah. Itu adalah ide yang bagus.”

Krystal teringat sesuatu, “Tapi kau harus mengatakannya kepada orangtuamu.”

“Apa?!”

“Iya, maksudku memberi tahu orangtuamu mengenai dirimu yang akan pindah ke apartment.” Krystal tiba-tiba mengkerutkan keningnya, “Kau tidak berpikir jika kau pindah tanpa memberi tahu mereka bukan?”

Sehun mendengus, “Memberi tahu mereka adalah ide yang sangat buruk.”

“Sehun…” Baiklah, kali ini Krystal benar-benar menghentikan kegiatan sarapannya  dan menatap ke Sehun, “Bagaimana bisa kau tidak memberi tahu mereka?”

“Tentu saja bisa!”

Krystal berkacak pinggang, “Sesuatu yang buruk dimulai dari sebuah prasangka yang juga buruk. Kau sudah berpikir yang buruk-buruk mengenai kedua orangtua mu. Bagaimana bisa mereka bisa mempercayai mu jika kau juga tidak mempercayai mereka? Bicaralah baik-baik dengan mereka. Katakan jika kau harus pindah ke sana untuk memudahkan pekerjaan mu. Mereka pasti akan mengerti, walaupun tidak pada hari itu juga.”

Sehun terdiam mendengar penjelasan Krystal. Dalam hati Sehun mengakui jika Krystal benar. Ia kembali mendengus, “Baiklah. Aku akan mengatakan pada orangtua ku.” Sehun kemudian berdehem, “Aku akan pulang sekarang.”

“Maksudmu? Tunggu, kau tidak marah kepadaku bukan?” Krystal menghampiri Sehun. Raut wajahnya terlihat khawatir.
Sehun menggeleng, “Tentu saja tidak.” Ia kemudian tersenyum, “Aku benar-benar akan pulang. Kemudian memberi tahu ibuku mengenai hal ini.”

Krystal tetap diam. Bingung ingin berbicara apa, “Aku tidak mengerti dirimu sama sekali.”
Sehun mengangkat kedua bahunya, “Lebih cepat lebih baik. Pemilik apartment menunggu kepastian ku siang ini.   Aku memberi orangtuaku, ke pemilik apartment, dan kita bisa menghias apartment.”

“Apa?” Nada suara Krystal tambah bingung. “Apa-Astaga! Aku sama sekali tidak mengerti dirimu!”

Sehun tersenyum licik, “Bersiaplah jatuh ke dalam pesonaku yang itu Nyonya Oh!”
Tap!

Krystal segera memukul bahu Sehun. Pipinya bersemu merah. Ini memalukan. Tetapi, ini juga membuat dirinya bahagia.

.TBC.

 

 

 

 

 

 

 

 

State of Grace (Chapter 16)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Seojoon terpaksa membatalkan kepulangannya ke Amerika. Menunda sampai waktu yang tidak di tentukan. Sampai ia melihat ibunya tersadar dan Sehun baik-baik saja.

Krystal sendiri masih menemani Sehun di rumah sakit, tentunya bersama Seojoon. Sehun terlihat linglung, tetapi dokter yang memeriksanya mengatakan jika keadaannya baik-baik saja. Sehun hanya butuh beristirahat.

Tifanny beda cerita. Ia masih tidak sadarkan diri. Dokter berkata jika dia mengalami kelelahan akibat stress yang berlebihan. Tifanny memang kelihatan kuat dari luar, tetapi dia rapuh dari dalam. Saat ini harapan terbesarnya adalah menunggu Tifanny sadar dengan sendirinya. Tindakan lebih lanjut akan dilakukan jika besok pagi ia belum sadar.

“Pulanglah.” Kata Sehun kepada Krystal. “Kau pasti lelah. Aku seharusnya tidak membawa dirimu ke dalam hal ini.”

Krystal tersenyum lemah, “Tidak apa-apa.” Katanya pendek. Bingung ingin mengatakan apa. Ia sangat ingin menamani Sehun tetapi keadaan tidak memungkinkan. Bagaimana jika ayah Sehun yang tiba-tiba datang? Atau reaksi pertama Tifanny ketika sudah bangun?”

“Aku akan mengantarnya.” Seojoon berkata tiba-tiba. Ia menatap Sehun, meminta kepercayaan.

Dengan pelan Sehun mengangguk, “Baiklah. Kita akan berbicara lagi nanti.”
Seojoon mengangguk, “Hubungi saja diriku. Dan yang pasti aku akan berpindah hotel.”
Sehun kembali mengangguk. Ia menatap Krystal, “Pulang dan istirahatlah.”

Krystal hanya bisa mengangguk.

.

.

.

.

.

Aroma kopi yang pekat membuat Krystal sedikit pusing. Ia tidak menyukai kopi. Dengan pelan, ia meminum hot chocolate nya. Seojoon yang didepannya sedang asik memakan cheese cake.

Krystal menguap karena sudah mengantuk. Hari ini memang hari yang melelahkan. Seharusnya ia langsung pulang saja tidak menyetujui permintaan Seojoon yang mengajaknya meminum kopi. Tetapi, nada suara Seojoon terdengar begitu serius hingga ia tidak bisa menolak.

Seojoon berdehem membuat Krystal membenarkan posisi duduknya. “Maaf sebelumnya jika harus membuat dirimu terlibat dengan hal ini sangat dalam. Hal ini sangat sensitive.” Berhenti sejenak, Seojoon mulai berbicara kembali, “Kau sudah mendengar hal tadi jadi sepertinya aku tidak perlu menjelaskan banyak hal. Hanya beberapa. Diantaranya keluargaku bukanlah keluarga yang sempurna. Bahkan jauh dikatakan dari sempurna. Yang kedua, aku adalah kakak kandung Sehun, mau kau percayai atau tidak.”

Krystal hanya menganggukan kepalanya.

“Aku tidak ada maksud apa-apa denganmu. Aku tidak akan men-judge mu. Aku hanya ingin mengenal dirimu lebih lanjut.”

“Kenapa?”
Seojoon menatap Krystal dalam, “Karena Sehun mempercayaimu. Itu sangat terlihat dari tatapan matanya. Dan yang terpenting kau juga percaya kepadanya. Aku bisa melihat itu dari segala tindakanmu.”

Krystal menghela nafasnya. Dari mana dia harus cerita? “Tidak banyak tentang diriku.”

Seojoon tersenyum kecil, “Baiklah. Bagaimana jika aku saja yang bercerita lebih dahulu. Ada yang ingin kau tanyakan?”

Krystal terdiam sejenak, kemudian mengangguk pelan, “Jinri. Aku ingin mengetahui tentang Jinri.”

“Jinri adalah adik kecil kami, aku dan Sehun. Dia yang paling muda diantara kami. Meningga karena tenggelam di danau tempat kami biasa rekreasi. Hal itu menimbulkan luka yang dalam. Ditambah dengan diriku yang disitu ketika ia ditemukan meninggal dengan hanya melihat ke arah kolam. Mommy bahkana tidak ingin melihatku lagi dan mengirimkan diriku ke Amerika. Tinggal bersama tante ku disana.”

“Dan kehidupanmu di Amerika?”

“Baik. Tanteku bahkan mengajak diriku ke psikolog. Itulah ketertarikan awalku kepada dunia psikolog dan karena itu mengambil jurusan psikolog ketika kuliah.”

Krystal mengangguk. “Kenapa kembali ke Korea?” Krystal kemudian tersentak, “Tunggu. Aku minta maaf. Itu terlalu lancang.”

Seojoon mengangkat kedua tangannya. Ia merasa sangat tenang dan tersenyum kecil, “Tidak apa-apa. Justru ini adalah hal yang paling ingin ku katakan kepada keluargaku. Tapi kau tahu… Bagaimana kondisinya. Well, aku akan menikah. Jadi aku perlu mengurus beberapa hal disini agar bisa menikah di Amerika. Kau tahu, ini mungkin aneh, ingin membangun sebuah keluarga baru.”
Krystal mengangkat kedua bahunya, “Well, tidak juga. Aku yakin kau pasti akan jadi ayah yang hebat. Walau tidak bersama keluarga intimu tetapi keluargamu di Amerika sangat baik kepadamu. Mereka pasti memberikan contoh yang sangat baik kepadamu juga.”
“Kau tidak tinggal bersama kedua orangtuamu?”

“Hah?!” Krystal menaikan kedua alisnya mendengar pertanyaan Seojoon.

Seojoon mengangkat kedua tangannya, “Maaf. Ini karena kerjaku sebagai psikolog yang mengorek hal yang tidak di inginkan orang. Tapi maaf lagi karena aku harus bertanya tentang hal ini.”

“Aku tinggal bersama orangtuaku.”

“Tapi bukan orangtua kandungmu bukan?”

Krystal menggigit bibirnya, “Aku tidak terlalu suka membahas kedua orangtua kandungku atau apapun yang menyangkut kedua orangtua.”

“Orangtua mu meninggalkanmu?”

Hufh… Dengan perlahan Krystal menganggukan kepalanya, “Yang pertama ayahku yang meninggalkan aku dan ibuku. Kemudian ibuku yang meninggalkanku di panti asuhan.”

“Dan orangtua angkatmu?”

“Mereka baik. Dari segi ekonomi kurang tetapi mereka berusaha mewujudkan impianku. Sekarang mereka tinggal di Tokyo karena beberapa hal. Meninggalkanku dengan saudara angkatku, Amber.”

“Kau juga takut dengan ibuku?”
Krystal menahan nafasnya, “Itu karena latar belakangku.”

“Kau takut ibuku tidak setuju?”

“Aku hanyalah karyawan darinya. Tentu tidak sebanding apa-apa dengan Sehun. Ya, jadi itu mengkhawatirkan ku. Tapi bukan itu yang paling mengkhawatirkanku…” Krystal mulai melihat jari-jarinya. Dengan pelan, dia menyusuri retakan meja dengan ujung telunjuknya, “Aku takut pendapat keluarga Sehun atau orang yang mengenal Sehun kepadaku. Aku takut akan pendapat mereka yang mengaggap diriku mendekati Sehun untuk pekerjaanku. Padahal…. Padahal aku bertemunya sebelum mendapat pekerjaanku bersama Tifanny Sangjanim.” Krystal menghela nafas panjang, ia menggigit bibirnya, “Dan aku takut aku tidak bisa bertahan di sampingnya menghadapi cemoohan dari mereka….”

Seojoon diam, menikmati cangkir kopinya.

Krystal perlahan-lahan tersenyum, “Ini adalah yang pertama kalinya aku membicarakan hal ini. Rasanya lebih tenang.”

“Itu gunanya psikolog.” Seojoon mengangkat kedua bahunya.

“Tapi kita disini bukan untuk sebuah sesi.”

“Anggap saja sebuah acara perkenalan dan sesi.” Seojoon kemudian meminum kembali kopinya, “Kau bilang kau bertemu dengannya sebelum bekerja dengan ibuku. Bisakah kau menceritakan hal tersebut?”

“Ceritanya panjang.”

Seojoon tersenyum kecil, “Percayalah padaku, seberapa panjang ceritamu, aku sudah mendengar cerita yang lebih panjang. Aku akan bersabar mendengar cerita mu dari awal sampai akhir.”

“Baiklah….”

.

.

.

.

.

Sehun terbangun ketika sebuah tangan menepuk pundaknya. Ia menatap orang tersebut dengan wajah mengantuk sebelum mengeluarkan senyum kecilnya.

“Paman…” Sahut Sehun kecil.

Paman atau Lee Donghae, salah satu dokter yang menangani Tifanny juga tersenyum kecil. Ia kemudian duduk di samping Sehun membawakan secangkir teh.

“Hari yang berat?” Tanya Donghae sambil mengulurkan secangkir teh hangat ke Sehun.

Sehun menerima teh terebut dan langsung meminumnya, “Lebih berat hari esok.”

Donghae tersenyum kecil mengerti apa yang Sehun katakan. Pasti akan lebih susah ketika Tifanny tersadar daripada sekarang.

Oemma-mu sangat tertekan hingga ia seperti ini. Aku khawatir, jika ia kembali tertekan ketika bangun, ini akan mempengaruhi sistem syarafnya.”

“Mau bagaimana lagi….” Sehun menatap Donghae, “Keluarga kami sangat unik sampai tidak ingin berbicara masalah dari hati ke hati. Ujung-ujungnya hanya sebuah ledakan dahsyat dan masing-masing dari kami tidak ingin saling mengalah.”

Donghae menganggukan kepalanya, “Aku mengerti bagaimana keluargamu. Tapi aku mempunyai satu permintaan kepadamu. Jika ibumu bangun, jangan buat ia marah. Ketika detak jantungnya naik, tolong mengalah saja padanya. Okay?

Sehun mengangguk patuh ke arah pamannya. Jujur, dia lebih nyaman ketika bersama Donghae, saudara tiri ayahnya daripada dengan ayahnya sendiri.

“Ayahmu bagaimana? Kapan ia akan sampai?” Tanya Donghae tiba-tiba.

Sehun tersenyum kecut, “Mungkin ia tidak akan kerumah sakit. Trafik kenaikan saham lebih berharga daripada keluarganya sendiri.”

.

.

.

.

.

“Eungh…” Lenguh Tifanny ketika ia merasa sebuah cahaya sangat terang. Ia memejamkan matanya. Kemudian kembali membukanya. Mengerjap beberapa kali sebelum tersadar jika ini bukan kamarnya.

Kepalanya sangat berat, tapi ia memaksakan diri untuk menoleh ke sekitar. Putih. Beberapa peralatan rumah sakit.   Tunggu…

“Sudah sadar?”

“Ouhhh…” Tifanny tersentak, “Yak! Lee Donghae!”

Donghae tidak bisa menahan senyum gelinya melihat kelakuan Tifanny.

“Kenapa kau ketawa?!” Tanya Tifanny dengan tajam.

Donghae mengangkat kedua bahunya dan berdehem, “Bagaimana keadaanmu? Pusing? Mual?”

“Apa aku perlu menjawabmu?” Tanya Tifanny yang masih sewot.

“Aku ini seorang dokter yang merawatmu. Jadi tentu kau harus menjawabku…”

Tifanny menghembuskan nafasnya, “Ketika bangun sedikit pusing….” Tifanny diam sebentar sebelum melanjutkannya dengan berapi-api, “Tapi sekarang semuanya hilang ketika kau mengangetkanku!”

Deg!

Tifanny kembali tersentak ketika tangan Donghae menyentuh dahinya, “Panas mu sudah turun. Kurasa dirimu benar-benar sudah baikan. Aku akan terus menge-check mu hingga siang. Jika semuanya baik-baik saja kau bisa pulang hari ini juga.”

“Apa aku baik-baik saja?”

Donghae menghentikan kegiatan mencatatnya, “Tenang saja Tif… Kau tidak terkena penyakit terkutuk itu. Tidak ada yang perlu di khawatirkan…”

Tifanny tersenyum kecil, “Baiklah….”

“Aku akan kembali ke ruanganku.” Donghae membungkukan badannya.

“Donghae-ya…” Tifanny memanggil Donghae pelan, “Apakah Siwon berada disini?”

Donghae terkejut dengan pertanyaan Tifanny, “Ah… Dia…”

Tifanny menghela nafasnya, “Ia pasti tidak datang bukan?”

“Tenang saja Tifanny-ah dia-“

“Tidak apa-apa…” Potong Tifanny. Tifannypun kemudian tertawa hambar, “Walaupun tidak bisa datang ia pasti mengkhawatirkanku.” Kata Tifanny lebih meyakinkan dirinya sendiri.

Donghae hanya diam dan mengangguk. Ia kembali berjalan keluar lagi.

“Donghae-ya…” Panggil Tifanny lagi. Donghae kembali menoleh.

“Titip salam buat Yoona ya…”

Donghae lagi-lagi dibuat terkejut dengan pernyataan Tifanny. Dadanya berdesir hebat. Dengan cepat, ia tersenyum kecil, “Akan kusampaikan. Yoona pasti akan sangat senang mendengarnya.”

.TBC.