In The Snow (Chapter 3/3)

inthesnow

Main Cast: Choi Minho, Choi Sulli, Lee Sungkyung, All Shinee’s member

Rating: T (Teen)

Length: Threeshoot

Author: Ally

Poster By: NJXAEM @ POSTER CHANNEL

Chapter 3

When the temperature goes to 20 up degree, i felt the snow replaced by the flower who blooms.

.

.

.

Seorang laki-laki dengan tergesa-gesa keluar dari sebuah apartment.

Aaah~

Teriakan kencang di susul ledakan besar dari apartment yang baru saja ia keluari membuat ia terdiam sejenak. Kibum menatap apartment tersebut dengan kosong. Segera berjalan menjauhi. Menabrak beberapa orang yang mendekat ke apartment yang terbakar itu. Beberapa menghubungi pemadam kebaran. Beberapa hanya melihat apartment itu sambil berbicara kepada orang disebelahnya apa yang sebenarnya terjadi.

Kibum melangkahkan kakinya dengan cepat menuju apartment-nya. Begitu masuk, ia menemukan ketiga temannya menatapnya penuh harap.

“Bagaimana?” Tanya Jonghyun.

Kibum menggeleng, “Mereka tidak ada.”

“Mereka? Minho dan targetnya?” Kali ini Taemin menatap Kibum khawatir.

“Ku rasa terjadi sesuatu di sana. Aku menemukan darah di lantai. Kaca yang pecah yang kurasa dari tembakan. Tetapi tidak ada sama sekali peluru.” Ia mengeluarkan hp-nya, “Aku memotretnya. Juga mengambil sample darahnya. Ku rasa itu darah dari 2 orang. “ Ia memberikan hp-nya. Tangan Kibum kemudian mengambil sesuatu dari kantongnya. Ia mengeluarkan kotak kecil. “Ini kedua sample darahnya.”

“Jonghyun tolong periksa sample-nya…” Jinki memberikan sample ke Jonghyun yang segera Jonghyun ambil. “Periksa kedua DNA darah kepada Minho. Baru kemudian periksa di database kita.” Jinki menatap Kibum, “Berikan aku ponselmu…”

Kibum menurut. Ia memberikan ke Jinki. Sekarang mereka ia, Kibum, dan Taemin melihat foto-foto yang diambil Kibum.

“Dari melihat fotonya ku rasa memang ada dua orang yang terluka. Satu masih bisa bergerak…” Taemin melihat fotonya dengan seksama. “Tetesan darahnya…”

“Itu mengarah ke lemari, ia mengambil handuk kalau tidak salah.” Kibum yang bersuara.

“Langsung ke lemari?” Kali ini Jinki yang bersuara.

“Mengapa?”

“Kenapa dia tahu jika handuk berada di lemari?”

“Okay, tunggu sebentar…” Kibum mengangkat salah satu tanganya. “Jangan bilang jika yang berjalan adalah Choi Jinri?”

“Minho tidak mungkin tahu dimana letak handuknya…”

“Tapi Minho tidur dengan Choi Jinri. Bisa jadi…” Taemin kembali melihat foto-foto yang Kibum ambil. Kibum dan Jingki menghela nafas lega mendengar perkataan Taemin.

“Hasilnya keluar!” Teriakan Jonghyun membuat mereka bertiga berlari ke sumber suara. “Sample A adalah darah Minho!”

“Sial!” Kibum menghela nafas kasar, “Sample A untuk genangan darah yang paling banyak. Yang tidak berjalan.”

“Bagaimana dengan Sample B?” Jinki menatap Jonghyun.

Jonghyun menatap komputernya, “Tidak ada hasilnya. Aku sudah memeriksa di data kita.”

Hyung…” Taemin mengusap mukanya kasar.

“Coba periksa di data perusahaan. Aku berpikir, bagaimana yang membantu Jinri selama ini bukan keluarga mafia tapi salah satu dari kita?”

“It’s worth to try….” Jari-jari Jonghyun dengan cepat menari di keyboard. Mengoperasikan program data base.

Ting!
“Kita mendapatkannya!” Teriak Jonghyun senang. “Dan ini menarik….”

Kibum melihat komputer dan berkata, “Aku setuju. Ini menarik….”

“Apa?”

“Tidak cocok 100% tapi cocok 55%. Hubungan saudara perempuan… Salah satu dari anggota kita. Namanya Lee Sungkyung. Ia bekerja sebagai dokter di perusahaan.”

“Alibi yang sempurna!” Taemin menggaruk kepala yang tidak gatal, “Coba pikirkan ini… Sungkyung menjadi dokter. Dokter di perusahaan mempunyai kelonggaran. Tugasnya hanya mengobati kita yang terluka. Tapi ia juga boleh cuti jika ia mau. Sungkyung bekerja di perusahaan kita itu artinya ia tahu yang terjadi di perusahaan kita!”

Jinki berbicara, “Dia tahu kapan nama adik perempuannya keluar… Ia tahu kapan adik perempuannya akan dibunuh. Dan ketika ingin di bunuh, Sungkyung mengambil cuti dan dialah yang menghentikannya sendiri.”

“Walau dia dokter tapi ia pasti dilatih untuk menjadi pembunuh bayaran terlebih dahulu. Setidaknya dia bisa menembak bukan?” Kibum mengeluarkan pendapatnya.
“Cari file tentang Sungkyung dan kirim file nya ke hp kami!” Perintah Jinki dan Jonghyun segera melakukannya.

“Di mulai menjadi anggota sejak umur 20 tahun. Merupakan mahasiswi kedokteran ketika masuk ke organisasi dan menjalankan pelatihan selama tiga tahun tetapi tetap memilih jadi dokter. Mendapat nilai tertinggi di menembak dan ahli dalam menembak. Latar belakang berasal dari panti asuhan di kota Mokpo dan diangkat saat umur lima tahun. Kedua orangtua angkat meninggal sejak ia berumur 16 tahun. Meninggalkan ia dan dana tunjangan yang cukup besar untuk membiyai kuliahnya.”

“Aku menemukan sesuatu lagi!” Jonghyun kembali mengirimkan data yang ia dapat ke handphone teman-temannya.

“Ya ini menakjubkan…” Taemin kembali berkata, “Tempat cuti dan tanggal cuti tepat ketika Choi Jinri ingin di bunuh.”

Jinki kembali menatap Jonghyun, “Dimana Lee Sungkyung sekarang?”
Jonghyun segera mencari dan ia tersenyum melihat hasilnya, “Lee Sungkyung sekarang di kota ini. Dia tinggal di apartment sama dengan Jinri dan juga ia bekerja di rumah sakit yang sama dengan Jinri. Satu lagi, sebentar lagi shift kerjanya selesai.”

“Mari kita temui dia….”

.

.

.

.

.

“Hai nyonya Lee Sungkyung…” Kibum membuka tutup kepala Sungkyung.

Sungkyung masih meringis ketika sinar yang begitu terang masuk ke matanya. Ia memejamkan matanya. Kembali membuka ketika tersadar tangannya juga diikat.

“Maafkan kami yang harus memukul kepala Anda. Anda melawan cukup sengit tadi.” Taemin menatap Sungkyung dingin.

“Siapa kalian?” Tanya Sungkyung mencoba untuk tenang.

“Dia pintar berpura-pura bukan? Kau tidak tahu siapa kami?” Jinki menghela nafasnya kasar. Menatap Sungkyung tajam.

“Jangan lupakan ia juga sama seperti kita…” Jonghyun menatap Sungkyung sinis, “Kami satu perusahaan dengan Anda.” Lanjutnya masih sinis.

“Satu perusahaan…. Kalian dokter?”

Keempat orang di depan Sungkyung langsung tertawa keras. “Dia begitu hebat bukan?” Jinki mengeluarkan pistolnya. “Hentikan basa-basi ini. Katakan dimana Choi Minho sebelum kesabaran ku habis…”

“Bagaimana jika kesabaran mu habis? Kau akan menembak ku? Atau menyiksa ku terlebih dahulu?”

Mereka terdiam mendengar omongan Sungkyung. Sungkyung menatap mereka berempat dengan tenang. Terlalu tenang sebenarnya.

“Kau ingin bermain…” Kali ini Taemin bersuara. “Baiklah…” Ia mengeluarkan file Sungkyung, “Kau lihat logo ini… Kau bekerja disini. Sama seperti kita.”

Sungkyung menghembuskan nafasnya kasar, “Baiklah. Aku bekerja untuk ALC sama seperti kalian. Jadi apa sekarang?”

Taemin melemparkan file ke lantai, “Jawab pertanyaan teman ku. Dimana Choi Minho!”

“Aku tidak tahu dimana Choi Minho.”

“Mungkin kita harus memperjelas suatu.” Jinki kembali berbicara. Ia menurunkan pistolnya, “Kau pikir kita tidak tahu siapa kau sebenarnya… Tapi kita tahu! Kau adalah saudara perempuan Choi Jinri yang bekerja di perusahaan ini. Dari mana kami tahu? Kami mencocokan darah Jinri dengan DNA mu. Itu yang mengatakan jika kau saudara perempuannya.

Kau lah yang menghentikan setiap orang yang membunuhnya selama ini. Kami yakin, kau yang membuat teman kami sekarang menghilang. Kau pasti membunuhnya kemarin siang dan membawa mayatnya entah kemana saat ia coba membunuh saudara perempuan mu!”

Sungkyung menatap mereka berempat dengan tatapan tidak percaya, “Kalian membuatku khawatir sekarang! Apakah kalian baik-baik saja?”

Jinki mengarahkan senjatanya ke Sungkyung. Menatap Sungkyung datar. “Katakan yang penting atau kau akan menyesal. Teman ku menghilang dari kemarin siang. Itu petunjuk selanjutnya.”

“Baiklah… Baiklah….” Sungkyung menghela nfasnya, “Aku bekerja sebagai dokter di ALC dan tugasku mengobati pegawai ALC yang terluka. Tapi samaranku selalu sama menjadi dokter di gawat darurat. Sekarang katakan kepada ku, bagaimana aku bisa membunuh teman mu jika kemarin siang ada operasi gawat darurat dan aku baru pulang jam tujuh malam?”

Jinki, Kibum, Jonghyun, dan Taemin saling menatap.

“Aku tidak berbohong. Kau bisa mengeceknya sendiri.”

Jonghyun langsung mundur untuk mengeceknya.

“Ku harap kau tidak berbohong.” Ujar Kibum dingin.

Mereka terdiam hingga cukup lama. Sungkyung tiba-tiba berbicara, “Setelah ini usai aku akan melaporkan hal ini kepada atasan kalian.”
Jinki baru saja ingin menjawab tetapi Jonghyun sudah datang. Mendatangi mereka semua yang berada di ruang tamu. “Alibinya terbukti…”

Sungkyung kali ini tersenyum, “Kalau dipikir-pikir sekarang…. Aku bisa menjawab bagaiman aku bisa bersaudara perempuan dengan Choi Jinri. Ini hanya kemungkinan. Mungkin ayahnya Jinri mempunyai hubungan gelap dengan banyak wanita dan salah satu itu adalah perempuan yang melahirkan ku. Kemudian ayahnya tidak mau bertanggung jawab dan perempuan itu menganggapku sebagai kesialan yang luar biasa dan membuangku di pantai asuhan. Bagaimana?”

Mereka tidak menjawab omongan Sungkyung. Kibum maju dan melepaskan ikatan tangan Sungkyung. Memotong tali dengan pisau lipatnya.

Sungkyung meringis akibat nyeri bekas ikatan. “Barang-barang ku sekarang!”

Taemin mengambil barang-barangnya. Memberikan jaket Sungkyung dan Sungkyung segera memakainya. Kemudian tasnya.

“Selamat tinggal.” Seru Sungkyung dingin. Sungkyung segera berbalik. Ingin mencari jalan keluarnya sendiri. Baru beberapa langkah, tangannya dicekal oleh Jinki yang membuat ia meringis.

“Kami hanya mencoba menyalamtkan teman kami. Tolong pertimbangkan lagi tentang Anda yang ingin melaporkan kami…”

Sungkyung mendekat ke arah Jinki, ia menatap Jinki tajam, “Kau seharusnya mempertimbangkan segala hal termasuk alibi ku sebelum menyertku ke sini!” Sungkyung segera menghentakan tangannya kasar. Berbalik dan menghilang dari apartment.

Mereka terdiam memandang kepergian Sungkyung. Apa sekarang mereka harus menyerah?

.

.

.

.

.

Tidak ada yang berubah sama sekali. Setidaknya selama beberapa jam terakhir. Walau dokter sudah mengatakan ia akan selamat, tapi dirinya masih merasa tidak yakin. Ia menghela nafas. Merasa pengap berada di ruang bawah tanah, tempat persembunyiannya. Untuk beberapa saat disana, beberapa waktu lalu, ia sangat yakin orang yang sedang tidur ini akan pergi meninggalkannya. “Bangunlah….” Ujarnya lirih.

Trek~

Pintu kamar terbuka. Seorang laki-laki berperawakan tinggi masuk. Ia tersenyum sedih melihat orang yang ia sayangi menatap nanar seseorang yang sama sekali tidak ia kenal. “Jinri…” Katanya lirih kepada gadis yang terus menerus menatap laki-laki yang bernama Choi Minho. “Istirahtlah… Kau juga lelah bukan? Jika terjadi apa-apa aku akan merasa sangat bersalah.”

Jinri menggeleng, “Aku tidak bisa Chanyeol! Aku tidak bisa!”

Chanyeol menghela nafasnya. Ia tidak menyangka hasilnya bisa seperti ini. Sungkyung dua hari yang lalu meneleponnya. Mengatakan jika ia butuh bantuan Chanyeol untuk mengurusi orang yang menargetkan Jinri. Ini untuk pertama kalinya bagi Chanyeol. Setahu Chanyeol Sungkyung selalu melakukan hal ini sendiri. Chanyeol akhirnya setuju karena Jinri. Sedikit tidak menyangka ia menembak Jinri yang untungnya terkena di bahu. Chanyeol ingin menembak laki-laki itu tepat di jantung yang meleset ke lehernya. Intinya sama saja buruk, lelaki itu akan meninggal dengan cepat.

Setelah itu Chanyeol segera ke kamar Jinri dan menemukan Jinri sedang menyelamatkan laki-laki itu. Ia melihat untuk pertama kalinya Jinri menangis. Untuk pertama kalinya Jinri mengatakan ia mencintai laki-laki itu. Chanyeol pun luluh. Dia akhirnya menyelamatkan laki-laki itu juga. Demi Jinri, sahabatnya yang pernah membantu Chanyeol dimasa-masa sulit.

“Aku tidak pernah menyalahkan mu Chanyeol…” Jinri berkata lirih. “Kalian semua melakukan ini demi kebaikan ku.”

Chanyeol mendekat dan menggenggam tangan Jinri, “Terimakasih…. Tapi bisakah kau lakukan hal itu untuk ku? Beristirahat?” Chanyeol tersenyum kecil, “Aku ada ide! Bagaimana aku menyediakan kasur disini tapi kau harus tetap di kasur tersebut huh?”

Jinri mengangguk, “Terimakasih…”

“Tidak usah berterimakasih kepadaku…” Chanyeol berbalik. Tapi baru beberapa langkah Jinri kembali memanggilnya. Menanyakan kabar Oennie-nya, “Oennie mu tadi menelepon ku. Ia baik-baik saja. Tapi teman-teman Choi Minho tadi mendatanginya. Untungnya ia punya alibi di rumah sakit.” Setelah itu, Chanyeol meninggalkan ruangan untuk mengambil kasur untuk Jinri.

.

.

.

.

.

Jinri berteriak senang ketika Minho dengan perlahan membuka matanya. Ia baru saja membuka jendela. Membiarkan angin musim semi masuk. Tiga bulan sudah berlalu. Mereka, ia dan Minho tidak lagi berada di bassmen bangunan di Jerman. Tetapi sekarang sudah kembali ke Jindo. Teman-teman Jinri, Sehun, Kai, dan Chanyeol melindunginya saat ini. Memberikan mereka sebuah rumah kecil.

Keadaan juga masih terkontrol untuk saat ini. Terakhir Sungkyung menginformasikan bahwa nama Jinri tidak muncul lagi di perusahaannya. Sungkyung mengatakan jika ada rapat untuk menghilangkan nama Jinri dari target untuk selamanya. Ini dikarenakan Jinri selalu bisa kabur dan Jinri berhasil menghilangkan Choi Minho, yang notabane-nya agen terbaik mereka.

“Minho… Minho kau sadar…” Suara Jinri begitu senang. Airmata menetes tanpa ia sadari.

Perlahan, karena tenaganya yang belum pulih, Minho mengangkat tangannya dan menghapus air mata Jinri. Bibirnya terbuka. Hal itu membuat Jinri mendekatkan wajahnya. “Kau… Cantik dengan rambut pendek mu.”

Jinri tertawa riang. Ia memang memotong rambutnya sangat pendek bermodel bob yang ia cat bewarna strawberry blonde. Untuk menutupi jejaknya.

“Bibirku tidak pedas Choi Jinri…”

Jinri kembali tertawa riang dan dengan cepat mencium bibir Minho.

Ketika Jinri dan Minho sedang berciuman, Chanyeol dan Sungkyung yang baru masuk terperanjat melihat mereka.

“Aku bersumpah dia baru saja sadar.” Bisik Chanyeol ke Sungkyung.

Sungkyung diam menatap Jinri dan Minho datar.

Ehm… Ehm….” Kata Sungkyung ketika Jinri dan Minho melepas tautan bibir mereka.

Jinri menoleh ke Oennie-nya, “Oh, Oennie…

Minho menoleh dengan perlahan, “Oennie?”

Sungkyung belum menjawab. Tetapi Chanyeol berjalan mendekati mereka. Menuju jendela kemudian menutupnya. Tak lupa juga gorden.

“Ada apa ini?” Minho menatap Chanyeol dan Sungkyung was-was. Ia butuh beberapa saat untuk mengenali Park Chanyeol.

“Tidak ada apa-apa. Ini Oennie-ku…” Jinri tersenyum ke arah Minho. Mengenalkan Minho ke Sungkyung yang masih berdiri tak bergeming. Melihat respon Oennie-nya yang masih tidak mempercayai Minho, Jinri memutuskan untuk mengenalkan Minho ke Chanyeol, “Ini sahabatku, Park Chanyeol.”

Chanyeol mengangkat tangan kanannya, “Aku laki-laki yang menembakan peluru ke leher mu.”

Jinri menatap panik kedua orang yang belum menyambut Minho dengan baik.

“Aku mengenal mu Park Chanyeol.” Minho berkata lirih. Masih belum mempunyai tenaga.

“Jinri, kurasa… Kurasa Choi Minho membutuhkan minuman. Bagaimana kau mengambilkannya?” Sungkyung berkata tanpa melihat Jinri. Tatapannya lurus ke Minho.

“Oh….” Jinri ragu meninggalkan Minho kepada Oennie-nya. Bukan karena ia tidak percaya kepada Oennie-nya. Tapi dia takut bagaimana respon Minho nantinya.

“Tidak apa-apa…” Ujar Minho kepada Jinri. Minho dapat menangkap keraguan Jinri. Dia akhirnya berkata seperti itu. Pemikiran dasarnya? Jika orang-orang dekat Jinri ingin ia mati, ia pasti sudah mati dari lama.

Jinri kemudian tersenyum ke Minho, “Baiklah. Aku juga akan membawa makanan. Kau pasti lapar bukan?”

Ketika Jinri melangkah keluar. Chanyeol yang merasa di tatap tajam oleh Sungkyung mengerti ia juga harus keluar. Dengan tenang ia merangkul Jinri dan berkata, “Krystal mengirimkan mu cupcake. Dia berkata jika Olivia senang membuat cupcake akhir-akhir ini.”

“Benarkah?” Setelah itu percakapan mereka tidak terdengar lagi. Mereka sudah keluar dari kamar.

Sungkyung sedikit tersenyum ketika melihat Minho yang mendelik tajam ke Chanyeol dan Jinri. Ia benar-benar mencintai adik ku…
“Choi Minho…” Suara Sungkyung memanggil Minho. “Apakah kau benar-benar mencintai adik ku?”

Minho mengangguk mantap. “Ya.” Katanya untuk tambah meyakinkan Sungkyung.

“Apa yang akan terjadi selanjutnya?”

Minho berpikir sejenak, “Aku akan keluar dari dunia ku agar bisa bersamanya. Aku ingin bersamanya…. Meski itu berarti aku kehilangan dunia ku.”

Mata Sungkyung membesar mendengar jawaban lugas Minho. Ia menganggukan kepalanya, “Kau tidak perlu keluar dari dunia mu. Perusahaan sudah menganggap mu mati. Kau tinggal membuat identitas baru saja.”

“Maksudmu?”

“Aku bekerja di perusahaan mu Minho. Aku menjaga Jinri adik ku dari ALC langsung. Aku memantau namamu dan Jinri. Untukmu, kau sudah aman.”

“Jadi selama ini percobaan pembunuhan Jinri gagal karena dirimu?”

“Ya!”

“Dan kau tidak pernah tertangkap sekalipun?”
Sungkyung menghembuskan nafasnya, “Sekali. Oleh teman mu. Mereka memeriksa darah Jinri dan menemukan kecocokan DNA dengan ku. Mereka menyeretku dan menanyakan dirimu kepada ku.”

“Kau memberi tahu mereka?”

Sungkyung menggeleng, “Tentu tidak. Pertama, itu karena aku sudah berjanji dengan Jinri untuk merahasiakan mu. Kedua, aku berpikir jika mereka mengetahuinya itu bahaya bagi mereka.”

“Apa yang terjadi pada mereka?”

“Aku melaporkan mereka. Mereka mendapat hukuman tapi mereka tetap menjadi agent. Mereka sekarang berpencar.”

“Berpencar? Apakah kau mencari mereka dimana?”

“Apakah aku pembantu mu?”

Minho terdiam mendengar jawaban dingin Sungkyung.

Sungkyung sendiri merasa perkataannya terlalu kasar. Ia menghela nafasnya, “Buat adik ku bahagia. Okay?”

Minho menganggukan kepalanya mantap, “Kau bisa memegang kata-kataku.”

.

.

.

.

.

~ 4 years later ~

Jinki merasa tubuhnya sangat lelah. Ia memasuki apartment yang telah ia tempati selama 4 tahun ini dengan mengusap-ngusap tenguknya. Begitu memasuki, ia merasa sedikit aneh karena ada paket yang tergeletak di meja ruang tamunya. Jinki mengeluarkan pistolnya dan mulai mengecek setiap sudut apartment-nya.

Aneh. Tidak ada seorang pun. Ia menghampiri paket yang merupakan amplop besar. Duduk di bangku sambil memperhatikan amplop tersebut. Terdapat tulisan di amplop tersebut, Untuk Charles Cho. Tangan Jinki bergetar. Tidak mungkin.

Ia segera menyobek amplop tersebut dan mendapati sebuah handphone layar sentuh. Jinki menghidupkan handphone-nya.Tidak ada apa-apa di handphone-nya. Hanya satu aplikasi dan itu merupakan video call. Jinki membuka aplikasi video call dan mendapati hanya ada satu nomor. Jinki menekan nomor tersebut.

“Anyeong hyung….”

Jinki tidak menyangka siapa yang ia lihat sekarang, “Minho…” Suara tercekat. “Itukah dirimu?”

Minho menganggukan kepalanya, “Ini aku.

“Kau selamat! Astaga! Bagaimana bisa?”

Isteri ku yang menyelamatkan ku…”

“Isteri mu?”

Choi Jinri hyung…”
Jinki terkekeh kecil.
Aku tidak bercanda hyung…”

“Aku tahu kau tidak bercanda. Aku hanya tidak menyangka. Hidup ini penuh misteri bukan?” Jinki kembali berbicara, “Jadi Minho, bagaimana bisa kau menyeludupkan amplop ini ke dalam apartment ku?”

Itu dulu apartment ku juga. Aku masih mempunyai kuncinya. Tapi aku meminta bantuan Sungkyung untuk menaruhnya di apartment mu.”

“Sungkyung… Lee Sungkyung?”

Minho mengangguk mantap, “Dia benar-benar saudara perempuan Jinri. Dan semua pemikiran mu terhadapnya benar.

“Jadi dia berbohong ketika menceritakan kemungkinan ia dapat bersaudara dengan Jinri?”

Minho terkekeh kecil dan mengangguk, “Dia berasal dari orangtua yang sama dengan Jinri.” Minho kemudian berkata, “Hyung ada yang ingin ku bicarakan dengan mu. Apakah kau tidak pernah pergi dari kota ini karena menunggu ku pulang? Aku meminta bantuan Sungkyung untuk mengkabari ku tentang kalian.

“Aku tahu setelah aku menghilang kalian tidak lagi menjadi satu tim. Aku tahu kau sudah diminta pindah beberapa kali tapi selalu menolaknya.Apakah karena diriku? Kau menunggu diriku? Apakah karena kau merasa bersalah kepada ku akibat memaksaku menutaskan kasus Jinri dengan segera?

Jinki menatap Minho lembut, “Aku tidak bisa menerima jika aku meninggalkan kota ini.”

Kau melakukan yang bisa kau lakukan. Kata-kata mu waktu itu adalah hal yang benar. Hanya saja hal-hal terjadi tidak sesuai dengan perkiraan. Hidup ini penuh misteri bukan? Jangan terlalu keras kepada dirimu.

Jinki tersenyum, “Setelah menikah kau jadi sangat bijak kau tahu itu?”

“Bisakah hyung keluar dari balkon? Kau bisa melihat ku duduk di café depan apartment yang aku sendiri tidak tahu kapan ini berdiri. Banyak yang berubah dari kota ini dan aku sekarang menganggap kota ini sebenarnya indah.”

Jinki melangkahkan kakinya menuju balkon. Ia tersenyum lebar ketika benar-benar melihat Minho. “Minho!”

Minho tersenyum dan melambaikan tangannya. Jinri juga berada di situ dan ikut menoleh ke arah Jinki. Sambil menggendong bayi, ia tersenyum ke Jinki. Ditengah-tengah Minho dan Jinri terdapat batita yang asyik memakan buburnya.

Hyung… Aku sudah bahagia dengan dunia ku. Bahagialah sekarang….”

.THE END.

A/N:

  • Cerita ini dibuat sebelum tanggal 18/12. Ketika tanggal itu saya sedikit ragu untuk memakai Kim Jonghyun sebagai cast. Tapi setelah saya pikir-pikir, rasanya akan aneh melihat dalam satu tim hanya terdiri dari 4 orang sehingga saya tidak menghilangkan cast Kim Jonghyun. Maaf jika ada yang tersinggung dengan ada cast Kim Jonghyun di cerita ini……
  • Pernah di post di wattpad dalam rangka memperingati ulang tahun Choi Minho di akun author Acil Choi.

 

 

Advertisements

In The Snow (Chapter 2/3)

inthesnow

Main Cast: Choi Minho, Choi Sulli, Lee Sungkyung, All Shinee’s member

Rating: T (Teen)

Length: Threeshoot

Author: Ally

Poster By: NJXAEM @ POSTER CHANNEL

Chapter 2

When the temperature goes up, the snow is gone but i hope you’re not gone.

.

.

.

Apa yang Minho pikirkan pertama kali ketika melihat tulisan Choi Jinri? Dia merasa tidak bernafas. Tercekat. Seluruh udara seketika menghilang dan dia terpaku sejenak. Minho melirik foto targetnya dan informasi targetnya. Baru tiga baris, Minho langsung menutupnya. Ia tidak sanggup. Itu benar-benar Choi Jinri.

Choi Jinri si gadis aneh. Choi Jinri gadis yang tak takut keluar ketika mabuk. Choi Jinri yang mencium bibirnya. Choi Jinri yang menghabiskan waktu bersamanya kemarin malam. Minho meletakan file ke atas meja. Dia terdiam. Red tag, huh?

Red tag dimana ia bisa kabur sebanyak lima kali dan semua yang ingin membunuhnyalah yang mati. Red tag…

Tapi Jinri tidak seperti itu. Dia gadis yang ceroboh. Dia gadis yang aneh. Dia tidak terlihat seperti Minho yang kejam tak berperasaan. Dia gadis yang mempunyai mata polos dengan matanyalah Minho tertarik kepadanya. Dia… Dia berhasil membuat Choi Minho jatuh cinta kepadanya.

Minho menggigit bibirnya. Menatap papan tulisnya yang kosong. Sial!

.

.

.

.

.

Mentari mulai bisa dirasakan. Sinarnya tidak terlalu terang. Suhu dingin juga masih mendominasi. Tetapi sinarnya membuat tumpukan salju mulai meleleh. Burung berkicau sudah mulai terdengar. Minho menyesap kopi hitamnya perlahan. Kembali terdiam.

Sudah hampir empat minggu ia pergi menjauh untuk sementara. Dia tidak bisa menerima yang terjadi saat ini. Hal menakjubkan adalah tidak ada teman satu timnya yang mengetahui hal ini. Hal dimana ia pergi menjauh. Teman-temannya berpikir dia sedang asyik mengintai. Padahal ia sedang menghabiskan waktu di tempat yang jauhnya dua jam dari kota suram itu.

“Ingin menambah kopi lagi?”

Minho tertegun mendengar suara laki-laki di belakangnya.

“Minho…” Jinki kemudian duduk di depan Minho. Tersenyum lembut dan mulai menyesap kopi.

Hyung…” Minho masih bingung kenapa Jinki bisa ada disini. “Kau disini karena kasus baru?” Tanyanya berusaha santai.

Jinki tersenyum, “Aku kesini karena dirimu.”

Minho tertawa kecil, “Aku baik-baik saja. Sedang asyik mengintai.” Bohongnya. Tidak ada yang perlu mengetahui masalah ini. Tidak ada. Dia pasti tidak akan selamat jika ada yang mengetahui masalah ini.

“Benarkah?” Jinki menurunkan senyumannya. “Jadi dimana targetmu?”

Minho kali ini tidak bisa menjawabnya. Ia menyeruput kopi yang tidak hangat lagi.

“Aku datang kesini karena bos menanyakan kepadaku tentang dirimu. Dia ingin kabar kasus terbaru dari mu.”

Minho menghela nafasnya, “Hanya itu?”

“Choi Minho!” Suara Jinki mulai berubah menjadi serius. “Target mu… Aku membaca file nya dan sedikit mengikutinya.”

Kali ini Minho menatap Jinki, “Mengikutinya?”

“Dia tidak tinggal terlalu jauh dari mini market apartment kita. Dia bekerja sebagai perawat di rumah sakit di kota kita.   Dia tidak terlihat bahaya. Tapi aku mulai berpikir kenapa hal itu membuat mu…. Menjauh… Kemudian aku menyelidiki dari mini market dan berhasil mendapatkana informasi dari José. Kau tahu José bukan? Si Penjaga mini market? Dia mengatakan jika target mu dan dirimu mengobrol jauh sebelum dia menjadi target mu. Sebuah pemikiran masuk. Apakah dia yang bersama mu ketika malam tahun baru?”

Minho memejamkan matanya mendengar penjelasan Jinki yang sangat cerdik. Jinki mendesis, “Sial Minho! Jangan katakan aku benar!” Nada suaranya semakin serius.

“Itu benar!”

Jinki menghela nafasnya, “Sial! Aku terkadang benci dengan pemikiranku!”
“Aku butuh menjauh sedikit. Ini gila hyung! Aku bukan hanya tidur dengannya! Aku mengobrol dengannya beberapa kali dan dia—“

“Aku tahu!” Potong Jinki. “Kau memang bisa dikatakan brengsek karena tidur dengan setiap wanita dari kota yang kita singgahi. Tapi aku tahu kau menganggap wanita yang kau tiduri tidak bahaya. Kau berhati-hati dengan itu. Tapi target kita sudah berhasil kabur sebanyak lima kali!”
Minho mengusap mukanya kasar, “Maksudmu ia sengaja mendekati ku karena tahu aku yang akan membunuhnya?”

“Bukan! Bukan itu maksud ku! Target ke kita terpilih secara acak. Satu-satunya cara untuk mengetahui siapa pembunuhnya adalah ketika file nya dikeluarkan. Dia tidak mungkin tahu siapa yang akan membunuhnya. Intinya adalah, dia sudah melakukan ini sejak lama dan dia terbiasa menyamar sebagai orang biasa. Dimatamu mungkin dia aneh atau ceroboh atau bodoh. Tapi itu tidak menunjukan dia tidak tahu dia akan dibunuh. Dia pasti tahu. Entah bagaimana caranya.”

Minho menggeram kesal.

“Minho…” Jinki kali ini memanggil Minho lembut, “Kau sudah membaca file sampai tuntas?”

Minho menggeleng, “Aku tidak bisa.”

“Bacalah kumohon… Bacalah sampai tuntas. Kau harus menghadapi ini.”

Hyung aku—“

“Yang bisa menyelamatkan dirimu sendiri adalah dirimu.” Jinki kembali memotong. “Aku tidak bisa. Tidak ada yang bisa dan kau tahu itu!” Jinki menyeruput kopinya yang sudah dingin, “Aku akan berbohong kepada bos untuk kali ini. Mengatakan jika kau sedang menyamar dan aku sudah mengirimkan pesan untuk mu agar menghubunginya. Paling lambat besok kau akan menghubungi bos. Itu artinya kau harus kembali ke apartment paling lambat besok. Ku harap ketika kau kembali kau juga sudah siap untuk membunuh gadis itu. Jika tidak… Aku akan lepas tangan dari masalah ini.”

Minho terdiam mendengar penjelasan Jinki.

“Aku balik. Berpikirlah dengan jernih Minho!” Ia bangkit dari kursi dan menepuk pundak Minho pelan.
Tak lama setelah kepergian Jinki, Minho memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Berjalan keluar dari restaurant di hotelnya dan menuju lantai tiga. Masuk kekamar 329. Mengambil file yang terletak di tasnya.

Minho memejamkan mata sejenak sebelum mulai membacanya.

Choi Jinri. Jenis Kelamin: Perempuan. Umur: 24 tahun. DOB: Busan, 29 Maret. Lulusan ilmu keperawatan Universitas Sungkyunkwan 2 tahun lalu. Lahir di Busan dan menghabiskan waktu disana sampai berumur 3 tahun, ia dan keluarganya pindah ke kota kecil bernama Jindo dan bekerja sama dengan keluarga mafia lainnya, Keluarga Oh, Keluarga Kim, Keluarga Park, dan Keluarga Tuan. Ia tinggal disana hingga berumur 15 tahun, yaitu saat Choi Enterprise, perusahaan keluarganya bangkrut akibat Skema Ponzi. Ayahnya, Choi Jinsil meninggal di penjara karena dibunuh. Ibunya, Shim Haemin bunuh diri. Keempat anaknya termasuk Jinri melarikan diri. Dua telah berhasil dibunuh sisa dua lagi yang kabur, dimana satu anak sampai saat ini belum diketahui identitasnya. Jinri selama ini berhasil kabur entah bagaimana caranya. Semua orang yang menyelidikinya hilang. Semua orang yang bertugas membunuhnya malah berakhir dibunuh. Kemungkinan terbesar sampai sekarang ia berhasil selamat sampai saat ini karena dibantu oleh keluarga mafia lain.

Minho menghela nafasnya ketika selesai membaca halaman pertama dari file Jinri. Perkataan Jinki berputar di benaknya, Jinri sudah lama berada hidup dengan menyamar.

Minho membuka halaman kedua.

Nama lainnya: Koo Hyunah, Cho JungAh, Yoo Hain, Bae Yunmi. Dia berhasil lulus dari Universitas Sungkyunkwan dengan nama Park Anna dan 2 tahun belakangan ini dia memakai nama lahirnya kembali, Choi Jinri. Dia merupakan sahabat dari Oh Sehun, Kim Jongin, dan Park Chanyeol. Juga sempat mempunyai hubungan dengan Nam Joo Hyuk untuk waktu yang lama. Dari umurnya 14 tahun hinggal 20 tahun.

Setelah itu, tidak ada lagi tulisan. Tetapi semuanya foto-foto. Foto-foto ketika Jinri kecil. Bersama teman-temannya, Oh Sehun, Kim Jongin, dan Park Chanyeol.

Minho tahu mereka. Trio Bangsat. Nama yang disematkan kepada mereka bertiga. Mereka bertiga merupakan pemimpin dari keluarga mafia yang paling merugikan pemerintahan Korea Selatan, tapi tidak bisa ditangkap. Juga ada foto-foto Jinri dengan Nam Joohyuk. Lagi-lagi Minho mengenal Nam Joohyuk. Dia merupakan salah satu anggota keluarga mafia. Well, hidup gadis ini ternyata dikelilingi oleh mafia. Gadis ini terbiasa dengan lingkungan suram.

Minho menutup file nya dan menaruh file dalam tasnya. Baiklah, ia akan mengakhiri ini.

.

.

.

.

.

Minho menunggu Jinri di depan apartment-nya. Di ayunan depan apartment, lebih tepatnya. Setelah membaca file-nya Minho langsung pulang. Memberi tahu bosnya dia akan menyerang Jinri malam ini setelah gadis itu pulang kerja. Minho menatap ke arah depan. Bersiap-siap untuk menembak dengan pistol yang sudah di kasih peredam.

Kriett~

Minho memainkan ayunannya. Mengisi kekosongan dengan suara nyaring besi.

Kriett~

Kriett~

Kemudian Minho dapat mendengar langkah kaki mendekat. Ia melirik jam tangannya sekilas, jam setengah delapan. Jinri pernah bilang jika ia biasa pulang jam tujuh malam bukan? Minho siap-siap berdiri. Mengambil pistolnya ketika ia melihat perempuan berambut hitam panjang yang tak lain adalah Jinri.

“Minho!” Gerakan Minho terhenti. Ia meletakan pistol dengan pelan.

Sial! Jinri melihatnya dan sekarang ia sedang tersenyum ke arah Minho.

“Minho!” Jinri berjalan mendekati Minho dengan tersenyum lebar.

Jangan! Jangan! Jinri harus berbalik sekarang atau tidak Minho tidak akan bisa menembak gadis itu. Jinri harus tidak melihatnya. Minho hanya bisa terdiam ketika Jinri sampai di depannya. Jinri tersenyum sangat lebar di depannya. Mata polosnya berkilat senang.
“Aku tidak melihat mu untuk waktu yang sangat lama!” Seru Jinri senang. Minho dapat merasakan jika Jinri benar-benar senang melihatnya.

Minho terdiam. Sekarang perasan rindu mulai membanjirinya. Merendam rencana yang sudah ia susun tadi. Minho berpikir keras. Bagaimana ia bisa menyelesaikan tugasnya sekarang?

“Aku… Aku merindukan mu…” Lagi-lagi, Minho dapat melihat rona merah menjalar di pipi Jinri. “Kenapa diam saja?”

Minho menarik Jinri kedalam pelukannya. Dengan pikiran buntunya sekarang, ia akan mengeluarkan pistolnya sekarang kemudian akan menggunakannya untuk menembak Jinri. Dengan itu ia dapat menyelesaikan tugas nya dengan cepat. Juga ia tidak harus melihat wajah Jinri.
“Minho!” Lagi-lagi gerakan Minho ingin mengambil pisto terhenti. Jinri melepaskan pelukannya. Memegang wajah Minho dengan kedua tangannya, “Kenapa diam saja? Kau membuatku khawatir?”

Minho bernafas dengan sangat berat sekarang. Ia meletakan kedua tangannya di pinggang Jinri. Mengeratkan pelukannya. “Bolehkah?” Tanyanya sambil melihat bibir Jinri.

Jinri langsung menjawab dengan mencium bibir Minho. Minho membalasnya tak kalah cepat.

“Kau kenapa?” Tanya Jinri ketika tautan bibir mereka terlepas. Nafas Jinri terengah-engah.

Minho mengelus wajah Jinri perlahan, “Aku merindukan mu…” Ia mulai mencium Jinri kembali. Melupakan tujuan awalnya.

.

.

.

.

.

Jinri bangun dan mendapati Minho tidak ada. Ini kedua kalinya Minho menghilang tanpa membangunkannya sedikitpun. Apa ia terlalu lelah hingga Minho berpikir untuk tak membangunaknnya? Jinri ingin ketika ia bangun Minho berada di sampingnya.

Ketika bangun dan melihat apartment seksama, Jinri mendapati Sungkyung duduk di meja dapurnya, yang tak jauh dari tempat tidurnya. Menatap Jinri datang.

“Oennie…”

Sungkyung bangun dan mendekati Jinri.

Plak!

Jinri terperanjat ketika kakak perempuan menampar dirinya, “Oennie…”

“Kau tidak tahu apa yang kau lakukan Choi Jinri!” Sunkyung berteriak di depan muka Jinri, “Apa yang kau lakukan dengna Choi Minho?!”
Oennie dengarkan… Hubungan aku—“

“Tidak kau yang dengarkan!” Sungkyung memotong omongan Jinri. Mukanya merah menahan emosi, “Choi Minho adalah orang yang akan membunuh mu dan kau menidurinya sekarang!”

Oennie pasti bercanda bukan?!”
“Apa aku terlihat sedang bercanda?!” Sungkyun menghela nafasnya kasar, “Aku tidak bercanda! Dia kemarin malam berada di luar apartment mu untuk membunuh mu! Aku sudah bersiap-siap untuk membunuhnya! Jika saja kau tidak mendatanginya kemudian memeluknya sehabis itu berciuman dengannya dan sekarang kau berada di tempat tidur tanpa pakaian!”

Air mata Jinri sudah menetes. Hatinya sakit. “Oennie…” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Jinri. “Dia… Dia tidak seperti itu…”

“Apa yang kau tahu tentang dia Choi Jinri? Hidupnya sebagai pembunuh bayaran seperti ini. Kata apapun yang ia ucapkan adalah kebohongan karena ia hidup di kebohongan!”

“Oennie…”

“Katakan kepadaku… Apa yang kau ketahui tentang dia?”

Jinri terdiam. Tidak ada… Yang dia ingat adalah Minho pernah mengatakan kepadanya jika ia sedang mengekspansi perusahaan jasanya. Yang sekarang terdengar sangat rancu kalau bisa dibilang. Kemudian kedua orangtuanya yang entah mengapa Jinri tidak mempercayainya sekarang.

Jinri memejamkan matanya, “Tidak ada…”

“Bagus.” Sungkyung tersenyum sinis. “Kau pergi sekarang Choi Jinri! Pergi dari kota ini! Dia pasti akan mengejarmu! Serahkan saja ia kepada ku!” Sungkyung berbalik dan berjalan ke arah lemari. Membukanya dan mulai mengeluarkan baju-baju Jinri.

“Kau harus selamat. Hanya kau satu-satunya yang selamat dari keluarga kita!”

Air mata Jinri tidak bisa berhenti menetes. Ia menundukan kepalanya, menatap bulir-bulir terjatuh dan membasahi selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya. Kedua tanganya yang terletak di dadanya meremas selimut dengan kencang. Dia tidak akan berbohong, rasanya sakit… Sakit yang tak pernah ia rasakan. Sakit yang berbeda ketika ia tahu keluarganya satu-satu meninggalkannya.

“Aku tidak ingin…”

Sungkyung menghentikan gerakannya yang mengeluarkan pakaian Jinri ketika mendengar suara lirih. Ia menatap Jinri dengan tatapan tajam.

Jinri menatap Sungkyung, bibirnya bergetar ketika ia mengatakan, “Aku tidak ingin tanpa dirimu… Ayo selesaikan ini bersama-sama!”

.

.

.

.

.

Setelah misi Minho gagal, yang itu merupakan pertama kalinya bagi seorang Choi Minho. Tanpa jeda sedikitpun, ia berencana menyelesaikan misi yang tertunda kemarin hari ini. Minho memasuki mini market untuk membeli 4 sandwich. Rencananya dia akan membawa sandwich ke apartment Jinri. Berbasa-basi sejenak, mengatakan ingin makan siang bersama. Ketika Jinri membuka pintu apartment-nya dan Bam! Semuanya selesai. Misi tercapai!

Ngomong-ngomong, Minho mengetahui Jinri ada di apartment-nya karena ia tidak sengaja membaca jadwal agenda Jinri, yang gadis itu pampangkan di dinding apartment-nya, mengatakan jika hari Jum’at ia libur.

“Porsi makan teman-teman mu berkurang sekarang?”

Minho tersenyum mendengar perkataan José. Dia rasa laki-laki itu sebenarnya ramah, hanya pelanggan saja yang tidak ramah kepadanya. “Ini bukan untuk teman-teman ku. Aku punya rencana lain.”

José mengangungk-anggukan kepalanya seakan dia sudah bisa menebak apa yang terjadi. Penjaga mini market pun menyebutkan harga 4 sandwich dan segera saja Minho membayarnya.

Setelah itu, Minho melangkahkan kakinya menuju apartment Jinri. Ia melangkah dengan pasti. Berharap yang terbaik.

Tok! Tok! Tok!

Minho dengan segala kepercayaan diri yang tersisa mengetuk pintu apartment Jinri.

Tok! Tok! Tok!

“Jinri….”

Tok! Tok! Tok!

Ketika ia mengetuk untuk ketiga kalinya, Minho mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Apa Jinri keluar? Tangannya terulur ke gagang pintu. Membukanya perlahan dan…. Pintu apartment nya tidak di kunci?

Minho mulai memikirkan scenario terburuk. Jinri sudah mengetahui bahwa Minho mengincarnya. Sekarang dia sedang menunggu di dalam dengan memanfaatkan kepanikan Minho karena Jinri tidak membukakan pintu denganya.

Brak!
Minho mendobrak pintu apartment Jinri dan mengacungkan pistolnya. Ia menelan ludahnya ketika melihat Jinri duduk di depan meja rias. Tak jauh dari apartment tidurnya. Memandangi dirinya di depan cermin. Sama sekali tidak bergeming mendengar suara keras tadi. Apartment gadis itu juga agak gelap karena Jinri menutup gordennya.

Perlahan, Minho menurunkan pistolnya. Memperhatikan Jinri seksama. Gadis itu… Rambutnya yang hitam panjang ia biarkan tergerai. Ia memakai kemeja putih dilengkapi oleh celana panjang putih.

“Bisakah kau tutup pintunya? Aku tidak suka pintu yang terbuka.”

Suara dingin Jinri membuat Minho terdiam sesaat. Tetapi ia tetap menutup pintu untuk Jinri.

Jinri sekarang menatap Minho. Tatapan gadis itu dingin. Minho bersumpah ia lebih baik melihat senyuman misteriusnya daripada tatapan dinginnya.

“Kau ingin mendengar sebuah cerita dari ku?” Jinri bertanya tanpa benar-benar menatap Minho. Tatapan gadis itu menarawang ke suatu tempat yang sangat gelap, “Aku membenci pekerjaan mu. Pekerjaan mu merebut semua orang yang ku cintai.” Ia menghela nafasnya, “Ayahku adalah orang terhebat di dunia. Dia mungkin di jalan yang salah, tetapi ia menyayangi keluarganya. Dia hanya ingin anaknya bahagia walau itu tidak sejalan dengannya. Sayang, ia terlibat dengan skema ponzi dan entah kenapa, dia!” Suara Jinri sedikit menjadi lebih tinggi, “Dia… Dia yang tidak bersalah dibunuh oleh pelaku yang sebenarnya… Tunggu, pelaku yang sebenarnya menyewa seseorang untuk membunuhnya lebih tepatnya. Ketika ia pergi, ibuku yang tidak sanggup akhirnya memilih ikut dengannya. Kalian… Kalian membunuh kedua orangtuaku!

“Kalian juga membunuh oppa ku! Oppa ku yang sampai sekarang mayatnya tidak tahu dimana! Dan kalian juga membunuh dongsaeng ku… Dia tidak bersalah… Dia saat itu hanya kelas dua SD…” Air mata Jinri menetes. Ia menghapusnya kasar, “Bagian terhebatnya adalah, karena kalian mengejarku, aku tidak pernah mengenang mereka! Memberikan perpisahan yang layak untuk orang-orang yang meninggalkan ku!”

“Kau masih punya saudara satu lagi. Dan identitas dia masih menjadi misteri hingga saat ini…” Ujar Minho berusaha untuk tenang.

“Aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang! Semuanya kosong! Aku sering menanyakan kenapa aku bisa hidup sampai sekarang? Kenapa tidak ada yang bisa membunuh ku?”

“Cerita sedih mu tidak akan menghentikan ku untuk membunuh mu.” Minho mulai mengacungkan pistol yang tadi sempat ia turunkan.

“Kau tahu sudah berapa lama aku kabur seperti ini? Aku kabur sejak umur 16 tahun. Sudah delapan tahun hidupku menggantung seperti ini.” Jinri mendekat ke arah Minho. Hal itu membuat Minho berekasi. Ia benar-benar mengarahkan pistolnya ke Sulli. Tapi ia tidak menembaknya. Minho berjalan mundur, menjauhi Jinri Kakinya melangkah cepat hingga mereka terpisahkan oleh tempat tidur Jinri.

“Akhiri penderitaan ku kumohon… Tembak aku sekarang… Aku lelah…” Jinri berkata lirh. Sangat lirih. Ia mendekat ke arah Minho yang terdiam. Berhenti ketika jarak mereka sudah tak terlalu jauh, tapi juga tak terlalu dekat.

“Kenapa aku? Kenapa harus aku yang mengakhiri hidup mu?” Suara Minho sekarang mulai bergetar. Dia juga sudah mulai ragu untuk menuntaskan misi ini.

“Impian ku sedari kecil adalah meninggal dikelilingi oleh orang yang kucintai. Mereka sudah pergi sekarang. Tapi… Tapi aku mencintai mu… Kurasa itu yang terbaik.”

“Choi Jinri…” Tangan Minho sekarang sudah bergetar, “Apa kau menantang ku sekarang? Kau pikir aku tidak akan menembakan pistol ini ke arahmu?”

“Aku tahu kau akan menembakannya. Kau yang terbaik dalam eksekusi. Aku tahu…. Aku tidak pernah ragu kepada mu…”

“Akan kulakukan!” Minho membuka gorden apartment Jinri. Membiarkan cahaya masuk agar ia dapat melihat Jinri lebih jelas. Ia mundur dua langkah dan menyiapkan pistolnya.

“Ini mungkin terdengar berlebihan. Tapi bisakah kau memelukku setelah kau menembak ku?” Jinri mulai tersenyum. Senyum itu bukan senyum misterius. Senyum itu merupakan senyum bahagia. “Terimakasih….” Jinri memejamkan matanya.

Tangan Minho mulai bergetar hebat. Ia menelan ludahnya. Sekarang ia ragu. Benar-benar ragu. “Aku tidak bisa!” Minho menurunkan pistolnya. “Aku juga mencintai mu…”

Jinri membuka matanya. Ia menatap Minho tidak percaya. Ia maju selangkah, ingin menggapai Minho. Tetapi terganggu oleh suara nyaring dari kaca jendela kamarnya yang pecah.

“Ah!” Minho terkejut bukan main ketika Jinri dengan sigap memeluknya. Membiarkan dirinya terkena peluru entah dari mana. Jinri mengerang kesakitan dan ia terjatuh. Minho menahan tubuh Jinri.

“Jinri…” Minho menekan luka Jinri yang berada di bahunya.

“Kabur… Lari sekarang Choi Minho…”

“Tidak! Tidak! Aku akan menyelamatkan mu! Tunggu!” Minho mengendong tubuh ringkih Jinri. Ingin membawanya segera ke rumah sakit. Melupakan semua misi bodohnya. Dia tidak akan menyelesaikan misi bodohnya ini.

Tapi Minho tidak melihat, sebuah peluru mengarah kepadanya.

Akh!

“Minho…”

.TBC.

A/N: Pernah di post di wattpad dalam rangka memperingati ulang tahun Choi Minho di akun author Acil Choi.

 

 

In The Snow (Chapter 1/3)

inthesnow

Main Cast: Choi Minho, Choi Sulli, Lee Sungkyung, All Shinee’s member

Rating: T (Teen)

Length: Threeshoot

Author: Ally

Poster By: NJXAEM @ POSTER CHANNEL

Chapter 1

When the temperature goes to minus degree, the snow fall so does you

.

.

.

Minho merapatkan jaketnya. Mulutnya berasa kebas karena terlalu banyak mengumpat. Sial!

Lagi-lagi, ia mengumpat. Minho menghela nafasnya. Membuat udara putih keluar. Dia kembali berjalan melintasi bangunan yang rata-rata sudah mau tutup. Jika ia tadi tidak bertaruh dengan Kibum, Minho tidak akan keluar di suhu minus derajat ini. Sayang, ia tadi terlalu bosan hingga bodohnya memilih untuk bermain dan akhirnya kalah. Minho harus pergi ke mini market terdekat dari asrama mereka dan membeli sandwich.

Teman-teman mengidam-ngidamkan sandwich yang berisi Coronation Chicken di musim dingin yang mencengkam ini. Tidak ada satupun dari mereka yang pulang ke rumah mereka. Mereka tetap melanjutkan pekerjaan mereka. Pekerjaan yang tidak mengenal hari libur.

Suara bel berdenting membawa susasana hangat yang membuat Minho menghela nafas lega. Penjaga toko menatap Minho datar sebentar dan kemudian lanjut menonton tv dimana para artis menyanyi. Tidak ada ramah sama sekali.

Minho sama sekali belum terbiasa dengan ketidak ramahan masyarakat Jerman. Padahal sudah tiga bulan ia disini. Tetapi tetap saja rasa jengkel kerap menghampirinya ketika melihat sikap mereka yang seperti itu.

Ia segera menuju tempat sandwich berada. Mengambil 10 sandwich beku dan menyerahkannya ke kasir untuk dihangatkannya.

Penjaga mini market melihat sandwich malas, “Kau mengadakan pesta anak muda?”

Minho tahu itu sindiran untuknya. Siapa yang membeli sandwich beku sebanyak ini?

“Untuk cadangan makanan di rumah.” Jawabnya malas.

“Cadangan yang banyak.”

“Kau tidak tahu betapa banyak porsi makan teman-teman ku.”

“Sekarang terlihat berapa besarnya dari sandwich yang kau beli. Tunggulah terlebih dahulu… microwave kecilku hanya bisa menghangatkan tiga sandwich.”

Minho hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia memilih duduk di bangku yang disediakan mini market. Bangku beserta meja untuk orang yang memilih makan di mini market ini. Minho mengamati jalanan yang sepi. Mencekam. Tidak ada harapan sama sekali. Hanya dia berharap dia akan pulang secepatnya. Ditarik ke tempat yang lebih hangat. Atau setidaknya lebih ramai.

Ting!

Suara bel, yang bukan dari microwave, tetapi dari pintu mini market berhasil menyadarkan Minho dari lamunannya.

“Hai, José!”

Lady, kau datang lagi…”

Okay, ini menarik. Apakah penjaga mini market yang tidak pernah berbicara itu baru saja membuka mulutnya dan mengeluarkan suara? Minho sedikit menoleh dan mendapati José-yang ternyata namanya- sedang berbincang dengan gadis berambut hitam. Hitam? Ini lebih menarik. Kota kecil ini rata-rata memiliki penduduk dengan rambut cokelat tua.

“Ku harap kau masih ada sandwich dan beberapa kerpik kentang.” Suara gadis itu halus dan entah mengapa Minho bisa menangkap gadis itu sedang tersenyum.

“Tentu. Ada hotdog mana tahu kau bosan.”

“Sempurna…” Gadis itu segera berbalik. Disitulah Minho dapat melihat rupa gadis itu yang ternyata berasa dari Asia, sama sepertinya. Gadis itu langsung saja menuju wilayah makanan ringan.

Merasa ia terlalu banyak memperhatikan orang, yang merupakan kebiasaan yang dianggap buruk disini, Minho memilih memandang jalanan lagi.

“Yang benar saja, Lady…” Suara José kembali terdengar. “Kau membeli 4 sandwich? Apakah kau ingin mengadakan pesta? Jangan lupa keripik kentang dan soda yang juga kau beli!”

Gadis itu tertawa riang, “Teman ku memang datang kesini.”

“Kau ingin sandwich-nya di hangatkan bukan? Kau harus menunggu agak lama. Kau lihat lelaki yang sedang duduk itu? Dia membeli 10 sandwich dan aku baru menghangatkan tiga.”

“Aku akan menunggu nya.”

“Tunggulah…”

Minho dapat mendengar langkah gadis itu mendekat. Dia merasa jika gadis itu duduk tepat di sebelahnya. Menatap jalan yang suram. Kemudian ia menoleh melihat Minho yang mau tidak mau membuat Minho ikut menoleh juga.

“Asia?” Tanya gadis itu sedikit terkejut. “Ku pikir hanya aku saja yang tinggal disini.” Lanjutnya dengan bahasa Jerman kelewat lancar.

Minho sedikit tersenyum, “Aku juga berpikir seperti itu. Selain teman-teman serumahku yang juga berasal dari Asia.”

“Setidaknya kau tidak tinggal sendiri…” Nada suara menggantung di udara. Ia menghela nafasnya, “Senang bertemu dengan mu. Aku Jinri.”

“Apakah kau selalu seperti ini jika bertemu dengan orang? Maksudku kau sangat akrab dengan José tadi.” Minho tidak bersikap kasar. Tidak. Ia hanya bersikap sewajarnya. Kota ini aneh dan lebih bagus jangan terlalu baik dengan orang.

Jinri menarik kedua ujung bibirnya, membentuk senyuman yang Minho tidak tahu apa artinya itu, “Kau pasti menganggap ku aneh bukan? Aku rasa aku memang sedikit gila ketika terdampar disini tanpa mempunyai teman.”

“Bukan itu maksudku…” Sekarang ia merasa bersalah. Minho melihat Jinri sudah menatap kembali jalan. Terdiam. Ia menghela nafas dan juga memilih menatap jalan. “Aku Choi Minho.” Kata Minho akhirnya dengan bahasa korea, “Kau dari Korea bukan?”

“Aku tidak menyangka menemukan seseorang yang berasal dari negara ku di kota kecil ini.” Jinri melebarkan senyumannya. “Choi Jinri.”

“Kita mempunyai nama marga yang sama. Kebetulan yang luar biasa.”

“Ya. Kebetulan yang luar biasa.” Lagi-lagi, suara Jinri menggantung di udara. Ia masih menatap jalan.

“Aku tidak bermaksud bersikap kasar tadi.”

“Aku tahu.” Jawab Jinri pendek. “Aku memang aneh.”

“Bukan itu—“

“Aku mengerti…” Jinri kembali menatap Minho dan tersenyum. “Aku memang aneh.”

Minho menjadi bingung ingin bicara apa. Beruntungnya, kalau bisa dibilang, ia diselamatkan oleh José yang memanggil dirinya mengatakan sandwich sudah hangat.

“Aku duluan…” Ujar Minho pendek dan segera ke kasir. José memasukan sandwich Minho ke kantung belanja dan mengatakan harganya. Minho membayar dalam diam.

“Gadis itu gadis yang baik. Selama menjadi penjaga disini tidak ada yang menyapaku sehangat dia.” José tiba-tiba berbicara kepada Minho, yang dimana itu baru pertama kalinya, diluar konteks beli-membeli, dan dia memberikan kembalian kepada Minho.

“Terimakasih…” Minho sedikit tersenyum ke José. Berbalik dan melambaikan tangannya ke Jinri. Kemudian keluar. Tidak berniat membalas ucapan José. Tidak berniat mengingat siapa Jinri itu.

.

.

.

.

.

Ini kali kedua Minho menuju minimarket. Kali ini ia tidak membeli makanan untuk temannya. Tetapi untuk dirinya sendiri. Setelah teman-temannya menghabiskan satu porsi pizza berukuran besar tanpa menyimpan satupun untuknya. Sama seperti sebelumnya, ia mengutuk kesal teman-temannya. Bingung kenapa bisa ia bertahun-tahun satu tim dengan mereka. Bingung kenapa pekerjaannya lebih berat daripada mereka.

Kau yang terhebat Minho…

Ya. Itu kata atasannya tapi entah mengapa ia malah terdampar disini. Bahkan ketua tim tidak dijabat oleh dia tetapi oleh Jinki. Memasuki minimarket tanpa menyapa dan kemudian langsung mencebik ketika melihat sandwich habis. Satu-satunya pilihan Minho adalah hotdog yang harganya lebih mahal. Tapi daripada lapar, akhirnya ia memilih hotdog. Begitu selesai membayar, Minho segera memakannya.

Rasanya lebih lezat. Entah karena perutnya yang lapar. Atau karena hangatnya hotdog ketika melewati kerongkongannya dan tetap terasa hangat di perutnya. Menyenangkan. Ia Sibuk mengunyah sambil berjalan. Minho asyik memakan hotdog-nya.

Kriett—

Suara besi berkarat terasa begitu keras hingga Minho mengalihkan pandangannya. Menemukan gadis berambut hitam, si Jinri, kalau tidak salah. Menaiki ayunan dengan baju tebalnya sambil menunduk. Apakah gadis itu tidak takut? Ini sudah jam sepuluh malam dan dia masih bermain ayunan tidak jelas. Anehnya, bukannya berjalan tidak peduli, Minho mendekati Jinri. Ia memasukan hotdog ke kantung jaketnya.

“Hai, gadis aneh….” Sapa Minho ketika memasuki taman dipenuhi salju. Tengah-tengahnya terdapat ayunan yang diduduki Jinri.

Jinri dengan pelan menoleh. Mendapati Minho tak jauh darinya sambil tersenyum, Jinri mengeluarkan senyumannya. Minho dapat menyadari jika muka gadis itu memerah akibat alkohol.

“Hai laki-laki kasar…”

Minho tertawa mendengar panggilan Jinri untuknya. “Gadis aneh… Apa yang kau lakukan disini? Kau mabuk?”

Jinri menganggukan kepalanya polos dan mengangkat sekaleng bir, “Aku bosan…”

Minho menghela nafas, ia memilih duduk di ayunan sebelah Jinri, “Apa yang membuat mu datang ke sini? Ke kota membosankan ini?”

Jinri terlihat memejamkan matanya, “Apa ya?”

Astaga… Gadis aneh ini memang mabuk dan dengan tenangnya ia keluar. Dia benar-benar tidak takut? Minho ingin menanyakan bagaimana Jinri bisa sampai disini, sayangnya Jinri berbicara lagi.
“Aku dikirim ke sini…”

Minho menatap Jinri dengan serius, kali ini. “Dikirim ke sini?”

Jinri mengangguk polos, “Iya. Membosankan sekali. Walaupun cuman enam bulan.” Jinri kemudian memiringkan kepalanya, melihat raut wajah Minho dan tersenyum cerah, “Sebelum kau berpikir macam-macam, aku perawat rumah sakit di kota ini. Dikirim dari pusat untuk mengabdi.”

Minho tertawa canggung. Bodoh! Gadis ini terlalu aneh kalau bisa dibilang. “Kau membuatku berpikir macam-macam. Kau tahu apa yang ku pikirkan?” Ia mendekat ke Jinri dan berbisik kecil di depan mukanya, “Kau seorang mata-mata.”

Kali ini Jinri yang tertawa riang, bukang canggung. “Bagaimana dengan mu? Apakah kau mata-mata?”

Minho tersenyum, “Aku bukan mata-mata. Aku bersama teman ku sedang mengekspansi perusahaan jasa kami.” Jasa untuk membunuh lebih tepatnya. Lanjut Minho dalam hati.

“Tempat aneh untuk mengekspansi perusahaan.”

“Ini adalah kota ibu ku. Ayahku berasal dari Korea Selatan dan ibuku berasal dari sini.” Bohong. Minho berbohong. Kedua orantuanya sudah mati atau entahlah…. Dia berasal dari panti asuhan.

Wajah Jinri tiba-tiba semakin mendekat, “Itu menjelaskan satu hal. Kau rupawan.”

Minho tidak bisa berkata-kata untuk beberapa saat. Baru saja ia ingin berkata, Jinri tiba-tiba menciumnya. Menggerakan bibirnya dengan pelan diatas bibir Minho. Hebatnya, Minho membalas ciuman Jinri.

Ketika pautan mereka terlepas, Jinri terkekeh. Masih di depan wajah Minho ia berkata, “Bibir mu… Pedas.”

Minho lagi-lagi butuh beberapa detik untuk mengetahui maksud Jinri sebenarnya. Dia habis memakan hotdog, apa yang bisa diharapkan?

Jinri tiba-tiba berdiri, menunjuk gedung di depan taman, “Kau lihat? Itu flat ku… Aku harus pulang…” Jinri berjalan dengan sempoyongan. Menuju flat yang tadi ia tunjuk.

Minho ikut berdiri. Mengamati gadis aneh dari jauh, untuk mengetahui apakah ia benar-benar ke apartment-nya.

Kemudian Jinri kembali berhenti. Berbalik menatap Minho dengan seyuman misteriusnya, “Lain kali gunakanlah saus tomat. Itu manis kau tahu…”

Jinri kembali berjalan tanpa berniat menoleh. Terlihat tidak berniat mengingat kejadian ini.

Minho mematung. Kembali mengingat bibir Jinri tadi. Manis dan ia bisa merasakan sari-sari alkohol dari bibir Jinri. Memabukan. Bibirnya, bukan alkoholnya.

.

.

.

.

.

“Target berhasil dijatuhkan. Aku segera menuju apartment. Apa? Baiklah aku akan membeli pizza.” Minho segera mematikan handphone-nya dan masuk ke dalam mobil. Tiga hari ini dia sedang tidak ingin kembali ke apartment-nya kalau bisa. Menyusuri kota sepi yang membosankan itu, hanya mengingatkannya kepada kejadian dimana Jinri yang menciumnya. Begitu membakar diri Minho. Jika saja ia hanya orang normal bukan pembunuh bayaran, Minho pasti akan mendatangi tempat kerja Jinri dan mengajaknya untuk kencan.

Setelah melewati perjalanan dua jam plus 45 menit utuk membeli pizza, Minho sampai di apartment-nya dimana teman-temannya tengah duduk menonton tv.

“Kau sudah datang… Cepatlah mandi dan sehabis itu baru makan.” Kata Kibum yang kemudian kembali menonton tv.

Tidak ingin pizza habis kembali, Minho menuju kamarnya dengan pizza. Tak lupa mengunci pintu.

Sepuluh menit kemudian, Minho baru ikut bergabung dengan pizza diikuti kemarahan Kibum akibat pertunya yang sudah keroncongan. Mereka semua makan sambil menonton tv yang menampilkan pesta tahun baru. Menghitung beberapa jam lagi tahun berganti.

Sejujurnya, Minho merasa bodoh karena mengikuti acara itu hingga menit-menit terakhir jam 12, yang artinya sebentar lagi tahun baru.

“Aku mendengar suara banyak orang dari luar.” Kata Jonghyun tiba-tiba. Ia meminum kembali bir-nya.

“Biasa… Orang-orang di kota ini mengadakan pesta tahun baru.” Kibum menjawab pendek. Meminum bir-nya juga.

Kedua temannya, Jinki dan si maknae Taemin sudah tepar karena alkohol juga. Pikiran Minho langsung berterbangan kemana-mana dengan satu tujuan, Jinri. Apakah gadis itu juga ikut pesta? Apakah gadis itu juga bersenang-senang?
“Hey, Minho, kau mau bir lagi tidak?”

Minho bangkit. Sama sekali tidak mengubris pertanyaan Kibum.

“Kau ingin kemana?” Lagi-lagi Kibum bertanya.
“Aku bosan.” Jawab Minho pada akhirnya dan memakai jaket tebalnya.

“Jangan pergi terlalu jauh.” Ucap Kibum lagi.

Minho mengangguk dan keluar dari kamarnya. Berjalan menuruni tangga kemudian keluar dari apartment. Orang-orang banyak berjalan menuju pusat kota. Minho berjalan menjauhinya. Ia menuju taman. Taman tepat di depan apartment Jinri.

Dia bodoh bukan? Dia ingin bertemu Jinri dan Jinri pasti sedang berpesta di tengah kota. Tetapi ia malah menjauhi kota menuju kota mati, bisa dibilang begitu. Toko-toko tutup dan hanya lampu jalan menerangi. Minho hanya berharap dia dapat melihat Jinri baik-baik saja ketika pulang. Itu saja dia sudah lega.

Ia memilih duduk di ayunan. Memainkan ayunan berkarat itu. Meringis ketika mendengar bunyi besi berkarat terdengar jelas.

Kriett—

Kriett—

Kriett—

Duar~

Minho menghentikan ayunannya dan melihat ke langit. Cerah, dipenuhi oleh kembang api bewarna-warni. Ia tersenyum melihatnya. Terus melihatnya hingga kembang api berhenti. Itu artinya pesta tahun baru dimulai. Banyak alkohol pasti disana. Kota ini menyukai alkohol.

Minho menghela nafasnya. Mengeluarkan udara putih dari mulutnya. Memilih memainkan ayunan tua itu lagi. Menunduk menatap sepatu cokelatnya.

“Minho…” Minho terkejut ketika menemukan Jinri sedang berjongkok, dimana ia dapat melihat wajahnya dengan jelas. “Jangan bilang kau mabuk disini.” Lanjutnya dengan nada suara geli.

Minho mengangkat kepalanya. Menatap Jinri lama. Dia… Dia merindukan gadis ini.

“Hey…” Jinri mengibaskan tangannya. “Apakah kau masih sadar?”

“Aku tidak mabuk disini.” Minho kemudian tersenyum lembut. “Kau tidak ikut pesta jinri?”

Jinri mengkerucutkan bibirnya. “Sayangnya tidak…” Terdapat nada kesal disana. “Karena aku orang baru, mereka menukarkan jadwal ku seenaknya. Padahal aku sudah dapat pulang dari jam tujuh tadi… Bagaimana dirimu? Kau tidak ikut berpesta?”

“Aku merasa ini adalah tempat yang pas untuk melihat kembang api. Diantara gedung-gedung ini, cahayanya juga minim, ini tempat yang pas.” Pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran yang kadang merangkap mata-mata membuat Minho pintar beralasan. Ia menyunggingkan sebuah senyum untuk meyakinkan Jinri.

Jinri menatap langit. Ia berbalik badan membelakangi Minho. “Uhm… Aku tidak melihat kembang api sama sekali. Tapi kurasa kau benar.” Ia berbalik dan tersenyum ke Minho

Minho membalas senyuman Jinri, “Kau bilang kau tidak melihat kembang api…”

Mata Jinri berkilat senang entah mengapa. “Aku hampir lupa!” Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan bungku kembang api. Kembang api berbeda yang dimana terdapat tangkai besi untuk memegang. “Aku mendapatkan ini dari pasien ku tadi. Kau ingin ikut menyalakannya?”

Minho tanpa ragu menjawab iya. Mereka menghabiskan seluruh kembang api sambil tertawa. Bercerita. Dimana hampir semua cerita Minho bohong. Ia tidak punya cerita bahagia. Hidupnya penuh dengan darah… Sejujurnya.

Ketika jam berdentang satu kali, pukul satu malam, Minho mengantarkan Jinri ke apartment-nya. Apartment yang terletak tepat di depan ayunan, hanya beberapa langkah darinya. Dia bisa saja duduk dan melihat Jinri dari ayunan jika ia mau.

“Terimakasih…” Ucap Jinri sedikit kikuk.

“Kau menjadi kikuk sekarang? Pertemuan terakhir kita kau bahkan langsung meninggalkan ku.”

Jinri menatap Minho sejenak. Berusaha mengingat, “Ketika—“ Matanya membesar. “Di ayunan itu bukan?”

Kali ini Minho menatap Jinri dengan melotot, “Kau bahkan tidak ingat kejadian itu?”

Jinri terdiam sebentar, “Aku ingat. Tapi tidak semuanya. Hanya sedikit kurasa…”

“Sedikit?” Minho masih melotot.

Jinri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mendekat ke Minho, “Bibirmu… Apa masih pedas?”

Sekarang, Minho lah yang terdiam, “Apa?”

“Kau tahu…” Jinri tersenyum. Senyum yang bagi Minho misterius. Senyum yang tidak dapat diartikan bahagia. Senyum yang sekarang seakaan menggodanya.

Minho berdehem. Menghilangkan kegugupannya akibat kalimat frontal Jinri, “Aku makan pizza dengan saus tomat sekarang. Kupastikan rasanya manis.”

“Kau mengikuti kata ku bukan?” Minho menelan ludahnya gugup. Suara Jinri begitu halus dan serak seakan memanggilnya. Senyuman gadis itu membakar Minho. “Bolehkah?” Jinri melihat bibir Minho sekilas.

Astaga! Gadis ini sedang menatap Minho polos tetapi itulah yang membuat Minho nyaris gila. Minho segera menarik Jinri kedalam pelukannya. Mencium Jinri. Tidak memberikan gadis itu sedikitpun kesempatan. Sepertinya, ia akan lepas kendali.

.

.

.

.

.

Hal pertama yang Minho dapati ketika ia memasuki apartment-nya adalah Kibum, Jonghyun, Jinki, dan Taemin sedang membaca file kasus baru. Sepertinya mereka semua mendapat kasus baru. Ia pulang ke apartment pukul 11 siang.

“Selamat siang Minho.” Jinki yang pertama menyadari kehadirannya. “Aku mungkin mabuk hingga tidak sadarkan diri kemarin malam, tapi Jonghyun atau Kibum mengingatkan dirimu untuk tidak pergi jauh bukan?”

“Kibum mengingatkan ku. Dan aku tidak pergi jauh.” Minho melangkah mendekati teman-temannya.

“Sabun. Kau habis mandi. Dan itu sabun perempuan.” Taemin berkata dengan mata yang tetap fokus membaca.

“Oh!” Ketiga temannya-–Jonghyun, Kibum, dan Jinki–menatap Minho serempak.

“Kau menggunakan wajah rupawan mu untuk meniduri gadis dari setiap kota yang kita singgahi.” Cibir Jonghyun.

Minho mengangkat bahunya, “Bukan salah ku memiliki wajah seperti ini.”

Jinki berdecak kesal. Segera ia melemparkan sebuah file kepada Minho, “Kau mendapat misi baru juga. Batas akhir mu ketika memasuki musim semi, bulan April.”

Minho menatap Jinki heran, “Itu cukup lama.”

Red tag Minho.”

Minho mengerti. Setiap kasus mereka diberi tag berdasarkan targetnya. Jika targetnya orang bodoh yang tidak tahu ia akan dibunuh, kalaupun tahu ia hanya bisa bersembunyi, itu green tag. Target termudah. Kalau targetnya tahu ia akan dibunuh dan menyewa semaca body guard, itu blue tag. Tidak terlalu mudah karena ia harus menyusun rencana terlebih dahulu. Jika targetnya bukan hanya tahu dan menyewa body guard, dia juga berhasil kabur itu diberi red tag. Target tersusah dan biasanya harus mengintai terlebih dahulu agar target benar-benar mati kali ini.

“Ku dengar wanita itu sudah kabur sebanyak 5 kali. Lima orang yang bertugas membunuhnya malah mati.” Kibum kali ini bersuara. “Kau harus menggunakan kesempatan dengan baik atau kau juga akan mati.”

Minho memutuskan untuk berbasa-basi sejenak sebelum ke kamarnya. Mempelajari targetnya. Ia tidak bisa mempelajari targetnya disuasana ramai. Minho menghapus papan tulisnya berkas kasusnya kemarin. Membuka file-nya. Dan menemukan nama….   Choi Jinri?!

.TBC.

A/N: Pernah di post di wattpad dalam rangka memperingati ulang tahun Choi Minho di akun author Acil Choi.

 

 

 

Flipped (Chapter 20)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Salah Paham


Suara bel diikuti oleh suara perintah membuat semua kegiatan di ruangan tersebut berhenti.

“Taruh saja kertasnya di meja dan silahkan keluar.” Begitulah suara wanita paruh baya–Profesor Yuri- terdengar lagi.

Sehun keluar dari ruangan. Ia menghela nafasnya. Ini merupakan keputusan yang berat. Sampai sekarang ini juga, ia masih ragu akan keputusannya.

“Sehun…” Suara perempuan yang akhir-akhir ini sering menemaninya membuat Sehun tersenyum lembut –menyapa- ke Irene.

“Hai Irene…” Sapanya pada Irene yang sudah menunggu di depan ruagan.

Irene menatap ke Sehun ragu sebelum akhirnya berkata, “Jadi benar?”
Sehun tersenyum kecil. Mengetahui apa maksud Irene, “Ya.” Jawab Sehun pendek.

“Kenapa?”

“Kenapa gak?”

Irene menghela nafasnya, “Kamu udah bicara sama orangtua kamu?”

“Mereka udah setuju, Irene…”
Jawaban singkat dan padat Sehun membuat Irene kembali menghela nafasnya, “Tapi udah yakin?”

Sebelum Sehun menjawab, Irene kembali berkata, “Sudah bicarain sama teman yang lain?”

“Aku udah bicarain sama Chanheol, Junmyeon, dan Xiumin.”

Melihat Irene sekarang tertunduk, Sehun menhela nafasnya, “Kita udah bicarain hal ini bukan?”

“Iya, tapi..”
“Dan kamu udah janji sama aku.”

“Tapi..”

“Tapi apa?”

Irene kini mendongak, matanya sudah berair, “Tapi aku pikir kamu gak akan ngelakuin hal ini.”

“Aku ngelakuin hal ini bukan karena kamu.”

Jawaban Sehun sukses membuat air mata Irene jatuh.

“Irene….”
“Ya, aku tahu! Aku bukan siapa-siapa bagi kamu! Kamu bahkan gak mau nerima persaan aku.”

“Irene…”
“Karena kamu bilang kamu lebih milih perasaan Junmyeon –teman kamu- yang minta ke kamu jangan pacarin mantan pacarnya.”
“Aku gak pernah ngomong kayak gitu.”

“Iya, gak! Tapi aku tahu maksud kamu Sehun…”

Setelah itu Irene berbalik dan meninggalkan Sehun. Sehun lagi-lagi hanya bisa menghela nafasnya.

.

.

.

.

Ada orang yang berkata jika hidup ini bagaikan roda yang berputar. Terkadang kau merasa di atas. Terkadang kau juga merasakan di bawah. Membaca buku-buku kuliahnya yang sedang membahas majas membuat Krystal kembali menghela nafasnya. Kenapa semua majas disini berhubungan dengan penyesalan cinta? Pikirannya semakin kalut.

Ia menutup bukunya dan memejamkan matanya. Sekarang, ia sedang berada di perpustakaan. Tidak ada tugas sama sekali. Dia sedang ini menghabiskan waktunya di perpustakaan, sekaligus menghindari Luhan. Entahlah…. Dia tidak sanggup bertemu dengan Luhan semenjak ia bertemu dengan Sehun. Perasaan cemburunya kepada Sehun menjadi perasaan bersalah ketika melihat Luhan tersenyum.

Drrrt~

Krystal terkesiap ketika handphone-nya berdering. Segera saja ia tersadar dari lamunanya dan mengangkat telepon.

“Hai…” 

Krystal tercekat mendengar suara yang meneleponnya, “Oh, Hai Luhan…” Sapanya berusaha ceria.

Aku tadi mencoba ke kelasmu. Tapi sepertinya dirimu sudah pulang.”

Duh… Krystal jadi merasa bersalahkan.

“Sudah lama kita tidak pulang bersama. Aku rindu padamu…. Kau sedang sibuk-sibuknya ya?”

“Tidak juga.” Krystal berhenti sejenak. Ragu ingin berkata apa. “Uhmmm, Luhan…”

“Iya?”

“Nanti malam co-ass gak?”

“Ada apa?” Tanya Luhan dan Krystal bisa menangkap nada kegembiraan di situ.

“Mau makan malam bersama?”

“Sebenarnya aku sudah ada janji dengan Chanyeol.”

“Oh, kalau begitu tidak usah.”

“Tunggu dulu… Chanyeol akan merayakan ulang tahunnya dan mengundangku.”

“Oh, baiklah…” Krystal masih ragu, “Jadi…”

“Kau ingin menemaniku Krystal Jung? Sebenarnya tadi aku datang ke kelasmu untuk mengajak mu? Kalau kau tidak ingin kita bisa makan malam bersama.”

“Tentu aku ingin menemani mu. Dimana?”
“Aku akan menjemput mu dirumah mu…..”

Setelah itu teleponnya terputus. Kenapa ia dan Luhan menjadi seperti ini? Pikiran Krystal berkelabat mengenai pertemuan nanti malam. Pesta ulang tahun Chanyeol ya? Apakah Sehun ada disana?

.

.

.

.

.

Krystal dan Luhan sampai di tempat acara sedikit terlambat. Ketika mereka memasuki ruangan pesta, yang tak lain adalah apartment Chanyeol, banyak wajah asing yang mereka lihat.

“Krystal!!!” Spa seseorang yang membuat Krystal terpana beberapa saat.

“Sulli!” Seru Krystal dan langsung memeluk Sulli. “Sudah lama tidak bertemu dengan mu.:

“Aku tahu!” Pekik Sulli senang. “Bagaimana kabarmu?” Lanjutnya ketika melepas pelukan.

“Baik… Sangat baik…”

“Jadi, kau temannya Chanyeol?”
Krystal tertawa kecil, “Bisa dibilang begitu… Sebenarnya Luhanlah yang merupakan temannya Chanyeol.”

“Luhan?” Sulli langsung menoleh ke Luhan, seakan baru tersadar Luhan disamping Krystal. “Luhan! Astaga!! Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu!”

Luhan tertawa melihat antusiasme Sulli, “Senang melihatmu juga Sullli ”
“Bagaiman dengan dirimu? Kau juga temannya Chanyeol?” Tanya Krystal membuat Sulli kembali menoleh kepadanya.

Sulli tiba-tiba tersenyum lebar dan mengangkat tangan kannya, “Tunangan..”
Krystal terdiam sesaat, “Ya, ampun… Bagaimana bisa?”
Melihat kedua perempuan itu akan asyik mengobrol, Luhan menyentuh siku Krystal, menghentikan Krystal yang asyik mengobrol dan menoleh ke Luhan, “Aku ke Chanyeol dulu.” Kata Luhan sambl tersenyum.

“Baiklah…” Jawab Krystal pendek dengan senyuman tersungging di bibirnya.

Luhan berjalan melintasi ruang depan menju pintu kamarnya yang entah mengapa sekarang banyak balon, “Chanyeol!”

“Hai, Luhan!” Chanyeol melambaikan tangannya. Ia tersenyum seperti anak 18 tahun daripada umrunya sekarang.

“‘Selamat ulang tahun dan selamat juga untuk pertunaganmu!”

“Terimakasih! Kau datang sendiri kesini?”

“Tidak. Krystal ikut tapi sedang mengobrol dengan Sulli..”

“Aku tahu jika mereka teman SD!”
“Yah.. Dan banyak yang akan mereka bicarakan.”
Chanyeol tertawa kecil mendengar hal itu.

“Bagaiman dengan Sehun? Apakah ia kan datang? Tanya Luhan tiba-tiba.

Chanyeol terdiam sebentar, “Dia ada sedikit masalah di kampus. Tapi dia bialng dia kan datang.”  Ekspres Chanyeol yang sedikit kaku membuat Luhan bertanya-tanya tentang Sehun. Tapi sepertinya tidak baik menyakan hal ini. “Oh, baiklah..” Respon Luhan pada akhirnya.

“Chanyeol!” Suara orang lain membuat mereka berdua menoleh.

“Jongdae!!” Chnayeol kembali tersenyum, “Aku terkesan kau datang kesini. Oh, perkenalkan ini Luhan. Orang yang sekarang menempati kamarmu!”

Luhan akhirnya sibuk mengobrol dengan orang-orang yang dikenalkan Chanyeol. Begitupula dengan Krystal yang asyik bercerita ke Sulli, terutama bagaimana dia bisa berpacaran dengan Luhan. Oh, tentu Krystal tidak menceritakan bahwa ia masih menyukai Sehun. Rasanya memalukan.

“Hai Sulli…” Suara berat yang lagi Krystal coba hindari terdengar. Sontak saja, Krystal dan Sulli berbalik.

“Sehun… Kau terlambat!” Seru Sulli pura-pura kesal.

“Aaah… Ada sedikit masalah dikampus.”

“Alasan.. Sebentar lagikan mau diwisuda! Gak ada tugas-tugas lagi!” Sulli masih bersikeras.

“Ayolah… Jangan sering marah-marah. Kasihan nanti suami mu!”

Dengan sigap, Sulli memukul lengan Sehun dan mereka berdua tertawa.

“Sehun lihatlah.. Krystal ada disini…” Sulli merangkul Krystal. Tetapi, sebelum Sehun menanggapi, Sulli memekik, “Oh! Kau juga tidak datang sendiri! Kenapa tidak memperkenalkannya kepadaku?!”

Krystal yang sedari tadi diam menunduk menoleh ke arah seseorang yang disamping Sehun, “Irene…” Katanya otomatis.

Selama beberapa detik, Krystal menahan nafasnya. Jadi Irene kesini bersama Sehun? Apakah hubungan mereka sudah sangat serius?

Menyadari tatapan Irene yang bingung, Krystal kemudian tersenyum, “Aku mendengar namamu dari Sehun.”

Irene bergumam kecil dan menundukan kepalanya. Terlihat semburat merah di wajahnya.

“Aku Krystal Jung…” Krystal mengulurkan tangannya.

Dengan malu-malu Irene membals uluran tangan Krystal, “Irene Bae.”

Melihat sikap Irene yang entah mengapa sedang berbunga-bunga membuat Krystal sediki merengut. Irene tersentak karena cengkraman tangan Krystal mengeras.

“Senang sekali bisa bertemu dengan mu langsung…” Oh katakanlah Krystal munafik karena memang benar, bukan? Ia sama sekali tidak senang.

“Aku juga.” Sahut Irene sambil tersenyum lebar.

“Kalau gitu Irene harus mengobrol dengan kita, bukan?” Sulli terlihat sangat antusias. “Oh, aku Sulli!”

“Oh…” Irene melirik ke Sehun.

“Aku akan menyampaikan salam mu ke Chanyeol.” Sahut Sehun santai. Ia sedikit tersenyum ke Irene.

“Kau temannya Chanyeol juga? Baiklah kita harus mengobrol. Dan tenang saja! Chanyeol tidak akan marah jika kita mengborol karena aku adalah tuangannya.”
“Mengobrol lah dengan Sulli. Akan kusampaikan.” Sehun kembali tersenyum dan berjalan menghilang dari pandangan mereka.

“Jadi…” Seru Sulli masih antusias.

.

.

.

.

.

Pesta berlangsung sangat lama. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Tidak ada tanda-tanda orang mau pulang. Malah masih ada yang datang. Krystal tersenyum kemudian menyesap minumannya, fruit punch. Tanpa alkohol tentunya. Keadaan pasti sudah chaoss jika alkohol terlibat.

Irene dan Sulli sedang tertawa mengenai sesuatu yang tidak Krystal dengar. Dia benar-benar setengah hati ikut duduk disini sejak Irene ada. Apalagi melihat raut wajah Irena yang sangat bahagia. Entahlah… Lagipula kenapa dia harus cemburu? Tanpa benar-benar Krystal sadari, ia menghembuskan nafasnya.
“Ada apa sayang?” Tanya Sulli khawatir. Melihat temannya menjadi pendiam seperti ini sebenarnya sudah membuat Sulli bingung sedari tadi. Tapi ia mengenyahkannya. Krystal memang pendiam jika bertemu dengan orang baru.

“Bisakah aku bertemu dengan Luhan sebentar? Ada yang harus aku tanyakan kepadanya.” Lagi-lagi ia berbohong. Krystal harus menyingkir sejenak memperbaiki mood-nya sebelum ia membuat semua orang bingung.
“Oh, tentu. Aku tetap setia pada bangku ini.”

Krystal tertawa kecil. Begitupula dengan Irene.

Setelah Krystal menghilang, Irene berkata kepada Sulli, “Aku ingin bertemu dengan Sehun juga kalau boleh.”

.

.

.

.

.

Krystal berjalan menuju ke dapur. Tidak ada hal khusus sebenarnya. Ia hanya perlu berada di sekitar orang asing. Menatap orang asing tidak suka sebagai penyalur mood-nya yang sedang buruk. Krystal asyik menyesap minuman lain, sejenis soda.

“Kau seperti orang yang sedang kesal.”

Suara Luhan yang berasal dari belakang membuat Krystal menoleh dan tersenyum kecil, “Sama sekali tidak. Aku hanya menyukai ini.”

“Ingin kuambilkan lagi?”

Krystal mengangguk kecil dan Luhan terlihat menghilang di antara tamu. Kemudian matanya menyapu kerumunan.

“Sehun!”

Ia merengut ketika dirinya melihat Irene memanggil Sehun. Dan ia semakin merengut karena ia merasa dia tidak pantas menunjukan emosi seperti tadi.

“Ini dia!”

Sontak, Krystal mengambil soda dari tangan Luhan dan meminumnya. “Kau memang yang terbaik!”

“Aku tahu!” Luhan kembali berkata, “Sepertinya kau sangat asyik berbicara dengan Sulli.”

“Kau juga Luhan! Kau menghilang beberapa jam!”

“Krystal Jung juga melakukan hal yang sama!”

“Oh, jadi ini semua salahku?”

Mengobrol dengan Luhan sejenak berhasil mengalihkan pikiran dan perasaan Krystal. Pikirannya sekarang lebih tenang. Perasaannya juga lebih ringan. Krystal tertawa karena senang untuk pertama kalinya semenjak Sehun datang.

“Krystal!” Dari jauh tampak Sulli memanggilnya. Raut wajahnya menyiratkan kegusaran tetapi ia tetap tersenyum.

“Oh, sepertinya ada yang penting. Aku harus kembali ke Sulli!” Krystal kembali menyeruput sodanya. Sedangkan Luhan membiarkan Krystal pergi. Lain kali ia akan membuat pembalasan agar Krystal selalu berada di sampingnya.

“Ada apa Sulli?”

Sulli mengigit bibirnya, “Dengar… Euhm….” Ia terlihat sangat ragu.

“Katakan saja pada ku, Sulli.”

“Sehun tadi datang kepadaku dengan raut wajah yang sedikit menakutkan.”

“Maksudmu?”

“Dia ingin berbicara dengan aku dan dirimu. Jadi..”

“Sulli…”

Sulli memegang tangan Krystal, “Aku tahu kau bingung dan aku juga begitu. Tapi kita harus bertemu dengan Sehun segera.”

“Aku harus pulang.” Elak Krystal.

“Sepuluh menit saja. Walau aku yakin ini tidak akan lama.”

Krystal menghela nafasnya dan mengangguk. “Dimana dia sekarang?”

“Dikamarnya dulu. Katanya kita membutuhkan sedikit privasi.”

Alis Krystal berkerut. Tapi ia mengikuti Sulli yang menuntun mereka ketempat Sehun.
“Sulli sayang!”

“Chanyeol!”

“Kemarilah sebentar!”

Sulli menatap Krystal. Ia begitu ragu meninggalkan Krystal.

“Pergilah. Nanti setelah urusanmu dengan Chanyeol selesai kau bisa menyusul.” Krystal tersenyum tipis. Melihat Sulli yang ragu, Krystal kali ini memegang dan meremas tangannya, “Tidak ada hal buruk yang terjadi. Percayalah.”

Sulli seperti tidak punya pilihan lain. Ia memutuskan untuk mengangguk dan pergi bersama Chanyeol.

Krystal memejamkan matanya untuk mengumpulkan keberanian. Dan..

Trek~
Pintu kamar terbuka. Sehun tengah duduk di tempat tidurnya. Menunggu Krystal dan Sulli.

Melihat Krystal datang, Sehun bangkit, “Dimana Sulli?”

“Chanyeol memanggilnya sebentar. ” Krystal masuk dan menutup pintu kamar. “Kata Sulli kau ingin berbicara padaku dan dia.”

“Iya. Aku ingin berbicara mengenai Irene.”

Krystal terdiam. Tidak tahu ingin berbicara apa.

Sehun kembali berbicara, “Apa yang kalian bicarakan dengan Irene?”

“Maksudmu?”

“Dengar… Hubungan ku dengan Irene tidak seperti yang terlihat.”

Krystal terdiam. Selain tidak tahu ingin berakata apa, ia juga tidak mempercayai pendengarannya.

“Aku tidak mempunyai hubungan khusus dengannya dan kedatangan kami tadi tidak menunjukan apa-apa.”

“Kenapa kau mengatakan ini kepada Sulli dan aku? Kami hanya mengobrol biasa.”

“Iya, tapi respon kalian. Kau berkata pernah mendengar namanya dari ku—”

“—Dan itu benar…” Potong Krystal.
“Tapi..” Sehun kembali memotong, “Respon Sulli juga memperparah keadaan.”

“Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.” Ayolah… Krystal benar-benar bingung dengan keadaan. Dan ia yakin bukan hanya dirinya. “Bisakah kau memberi tahu apa yang terjadi?”

Sehun memejamkan matanya sebelum berkata, “Irene adalah mantan pacar teman ku. Teman akrab ku. Dan ia meminta ku jangan mendekatinya. Kurasa kau sudah mengerti bukan?”

“Apakah kau menyukainya?” Krystal menatap Sehun dalam. Ini benar-benar di luar dugaannya. Tapi masih ada yang menganjal di hatinya.
“Itu tidak penting.”

“Kenapa kau selalu seperti ini?” Suara Krystal tiba-tiba naik. Ia maju dan mencengkram bahu Sehun, “Bersikaplah seperti laki-laki.”

Sehun kaget, tidak menyangka Krystal akan melakukan hal ini.

“Jika kau memang menyukainya, berbicaralah kepada mantan pacarnya. Jangan seperti ini.”

“Krystal….” Sehun memgang kedua tangannya. “Lepaskan!”
“Kau menyukainya?”

Sehun memejamkan matanya. “Ayo kita keluar.”

“Kau menyukainya Oh Sehun?”

“Krystal!”

“Apakah kau menyukai diriku?” Kata-kata itu kembali keluar dari mulut Krystal. Suaranya agak bergetar. “Aku sekarang penasaran. Apa yang membuat dirimu menolak ku?”

“Kau hanyalah sahabatku.”

Cengkraman di bahu Sehun menguat, “Sayang, kau tidak memperlakukanku sebagai sahabat, Oh Sehun. Kau menjauhi ku seakan aku virus.”

“Itu tidak benar.”

“Ingatan ku sudah kembali.”

Sehun sekarang menatap mata Krystal, “Tidak ada gunanya, Krystal. Semuanya telah terlambat.” Dengan kasar, Sehun melepaskan cengkraman Krystal.

“Sehun…” Krystal menghalangi Sehun untuk keluar dari pintu. “Katakan…”

“Kau sudah bersama Luhan. Itu tidak penting.”

“Aku… masih… menyukaimu…” Hancurlah pertahan Krystal yang beberapa bulan ini ia buat. Air matanya menetes, “Ya, jadi itu penting.”

Helaan nafas terdengar, “Perasaanmu kepadaku hanyalah sebuah klise. Atau bahkan hanyalah sebuah rasa penasaran. Sekarang ku tanya kepadamu, apa yang akan kau lakukan jika aku memberi tahu mu? Kurasa tidak ada. Kau pasti akan menganggap hal yang sepele karena sejujurnya perasaan mu tidaklah sedalam yang kau kira. Kau pasti—”

Omongan Sehun terputus dan ia membulatkan matanya. Kedua tangannya bergetar. Krystal Jung sedang menciumnya. Dengan pelan, ia mengangkat tangannya dan mengarahkan ke bahu Krystal, ingin melepaskan ciuman mereka. Tapi dengan pelan juga, bibir Krystal bergerak membuat Sehun menahan nafasnya dan tangannya terhenti tepat di bahu Krystal. Ia meremas bahu Krystal. Ketika bibir Krystal kembali bergerak, Sehun mendorong Krystal hingga kepintu dan ia mulai memejamkan matanya. Nafas mereka memburu ketika mereka melepaskan tautan bibir mereka.

“Hentikan!” Teriak Sehun menatap Krystal dengan tatapan menyalak. “Hentikan, Krystal Jung!” Lanjutnya penuh penekanan.

Krystal menelan ludahnya. Jantungnya berdebar tidak karuan. Sesaat tadi dia benar-benar tidak berpikir. Semuanya mengalir seperti air. Benarkah ini terjadi? Dia belum gila bukan?

“Kurasa… Kau yang tidak tahu pasti Oh Sehun.” Ujar Krystal dengna suaranya yang tiba-tiba serak.

“Kau tidak akan mengkhianati Luhan, Krys….” Seru Sehun masih penuh penekanan dan… Misterius?

“Oh!” Krystal tersentak hebat ketika ada yang membuka pintu kamar. Dia melupakan jika pintu kamar terkunci.
Sehun sedikit menjauh dari Krystal. Begitupula Krystal yang menjauh dari pintu.

“Hallo! Apakah aku terlambat?” Sulli datang dengan santainya. Ia kemudian menurunkan senyumannya melihat Sehun dan Krystal yang berada di dekat pintu. “Atau kalian sudah ingin selesai?”

“Aku harus pulang.” Sahut Sehun dingin. Membuat Sulli menyingkir dari pintu. Tanpa mengucapkan apa-apa, ia pergi meninggalkan Krystal dan Sulli.

“Ternyata sudah selesai.” Sulli masih belum mengerti situasi berusaha mengeluarkan candaannya.

“Aku juga. Ini sudah malam bukan?”

Sulli menatap bingung Krystal, sepertinya banyak yang terjadi di dalam sana bukan?

.TBC.

I know bagian ‘Sulli menatap bingung Krystal’ bukanlah ending yang bagus tapi saya kehabisan ide. Lagipula ini udah 2400 kata… Panjang ya?  Aneh? Membuka krtik dan saran dengan tangan terbuka guys..

And… How about the kiss part? I give you a surprised didn’t i?  Another surprise will be you found in the next chapter… 2 chapter lagi dan Flipped akan selesai, i guess…

Flipped (Chapter 18)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Kesempatan

“Krystal…”

Krystal menoleh tak kala ibunya memanggil dirinya dengan lembut.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya ibunya masih dengan nada lembut.

Krystal cepat-cepat mengangguk, “Tentu. Aku baik-baik saja.” Ia tersenyum. Hanya ada hal yang terganjal di benak ku.. Lanjutnya dalam hati. “Oemma tidak jadi ke tempat Imo?”

Oemma Krystal memandang anaknya ragu, “Bagaimana episode Criminal Minds nya?” Tanyanya karena Krystal sedari tadi asyik menonton tv di kamar rumah sakitnya.

“Oh, Reid tetap yang paling ganteng…” Jawab Krystal memuji salah satu tokoh di film tersebut, Dokter Spencer Reid.

“Kau tahu jika Spencer Reid tidak ada di situ. Ia pergi mengunjungi Oemma nya…”

“Oh?” Krystal mengerjap bingung sebelum ia menjawab, “Oemma tahu jika tidak ada yang paling ganteng kecuali Reid bukan?”

Oemma Krystal menghela nafasnya. Ia mengeluarkan handphone-nya, “Oemma akan pergi ke rumah Imo besok saja.”

“Aku tidak apa-apa….” Kata Krystal dengan nada sungguh-sungguh. “Oemma tidak perlu ragu untuk meninggalkan ku…”

Cklek~

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

“Luhan!” Sapa Krystal dengan ceria. Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum.

Luhan membalas lambaian tangan Krystal dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kiri memegang bunga. Kemudian matanya menatap Oemma Krystal, “Ah, Anyeonghaseyo bibi…”

Ibu Krystal ikut tersenyum, “Hai Luhan…. Kau sangat rapih hari ini… Habis dari kampus?”

Luhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia berpakaian rapih ini hanya untuk bertemu Krystal sebenarnya. Juga, ia masih dalam penyembuhan tipes.

“Kau sudah pergi ke kampus? Bukannya kau masih dalam masa penyembuhan? Bagaimana jika kau sakit lagi?” Krystal menatap Luhan dengan mata menyipit.

“Aku baru saja dari dokter ku. Sebelum kesini aku membelikan bunga angrek untuk Krystal.” Elak Luhan.

“Angrek?” Tangan Oemma Krystal terulur ke angrek Luhan. Angrek yang Luhan bawa bewarna ungu, “Sangat indah bukan?”

“Dalam filosofi China angrek artinya ‘Semoga cepat sembuh.’” Seru Luhan sambil tersenyum. Ia berdehem, menghilangkan kegugupannya.

“Sangat indah…” Komentar Oemma Krystal. Ia pun masih asyik memandangi anggrek pemberian Luhan yang sekarang ia taruh di meja dekat kaca.

Hening sejenak, jujur Luhan bukan orang yang bisa memulai percakapan dengan orang baru dan di ruangan ini adalah ibunya Krystal.

“Luhan,” Seru Oemma Krystal tiba-tiba, “Bisakah kamu menjaga Krystal sebentar? Bibi ingin pergi sebentar saja. Sekitar satu jam.”

“Tentu.” Jawab Luhan tanpa berpikir dua kali. Sebuah kesempatan yang tidak akan ia sia-siakan. Dengan ini dia dapat leluasa berbicara dengan Krystal. Termasuk mengutarakan perasaanya.

Oemma Krystal kembali tersenyum lebar. Ia mengambil tasnya dan berjalan ke arah Krystal, “Oemma pergi dulu ya… Tidak akan lama. Oemma janji.” Ibunya kemudian mengecup kedua pipi Krystal. Tak lupa mengucapkan terimakasih ke Luhan sebelum pergi dari kamar.

Terdengar helaan nafas dari Krystal, “Akhirnya…. Aku bosan disini! Aku juga tidak mengerti kenapa aku disini. Ku rasa aku baik-baik saja!” Cerocosnya kemudian ia mengerjapkan matanya. Pipinya merona, “Hey, duduklah… Aku lupa menyuruh mu duduk. Kau masih berdiri tepat di tempat dirimu masuk.”

Luhan terkekeh melihat raut wajah Krystal. Ia menurut dan duduk di sofa yang letaknya tepat di ranjang Krystal.

“Bagaimana denganmu? Bukannya kau seharusnya lebih membutuhkan istirahat daripada ku?” Lanjut Krystal lagi.

Gadis itu tidak terlihat sakit sama sekali jika dilihat dari rupanya yang tidak pucat dan suaranya yang riang. “Tubuhku sudah lumayan sekarang. Tubuhmu lebih membutuhkan istirahat sepertinya. Kau mengalami shock kau tahu itu?”

Tatapan Krystal tiba-tiba meredup. “Ah, jadi kau tahu itu…” Itu menunjukan tentang kasus hilang ingatannya akibat kejadian ia meloncat dari sekolahnya.

“Aku…” Suara Luhan berubah panik.

“Tidak apa-apa.” Potong Krystal. Ia kemudian tersenyum walau menurut Luhan ia tetap terlihat sedih, “Itu terlalu memalukan bagiku sampai aku bingung bagaimana mengatakannya kepada mu. Aku selalu terlihat ceria ketika dulu dan aku ingin kau melihatku dengan cara itu.”

“Mungkin tidak seperti itu. Ketika aku datang aku tidak memikirkan adanya perubahan. Aku masuk dan bertindak seperti biasanya. Seperti dulu. Dan kau sebagai sahabatku tidak ingin menyakitiku sehingga seperti itu—“

“Tidak Luhan.” Potong Krystal lagi. “Aku membenci bagian dari masa itu. Makanya aku tidak ingin memberi tahu hal itu kepada siapa-siapa. Kau adalah orang dari masa yang paling membahagiakan dari ku dan aku tidak ingin menghancurkan masa-masa itu. Sejujurnya, Sehun bukan bagian dari itu. Aku dan Sehun terlibat sesuatu sehingga kami memutuskan komunikasi. Kedatanganmu membuat kami kembali bersatu dan sejujurnya aku senang akan hal itu. Karena kalian sahabat ku…”

Luhan tergugu sejenak mendengar penjelasan Krystal. Nafasnya memberat. Kata-kata Krystal hampir sama seperti kata-kata Sehun. Dia jadi semakin tambah salah. Segitu dia tidak peka terhadap sahabatnya?

“Luhan….” Suara lembut Krystal kembali menyadarkan Luhan. Ia mengeluarkan senyumannya lagi. Tapi kali ini terlihat tulus, “Jangan terlalu dipikirkan kata-kata ku. Kau adalah sahabat yang baik.”

“Kalau aku melebihi sahabat boleh tidak?” Tanya Luhan tiba-tiba. “Maksudku menjadi pacar mu?”

Kali ini Krystal yang terdiam. Jadi benar selama ini Luhan menyukainya? Dia melihatnya dengan jelas dan semua orang melihatnya dengan jelas. Entah mengapa hatinya tidak ingin Luhan mengatakannya. Dan dia tidak tahu alasannya.

Luhan kembali berbicara, “Aku menyukai mu dari dulu. Jika ingin jujur, aku menyukai mu sejak SD. Ketika Sehun mengenalkan dirimu padaku aku biasa saja. Tiba-tiba perasaanku kepada muncul saja. Tanpa alasan yang jelas. Aku telah jatuh cinta kepada mu. Dilain sisi aku juga tidak ingin menghancurkan persahabatan kita sehingga aku berjanji akan memberitahu mu ketika perasaan ku tidak berubah ketika dewasa. Dan perasaan ku tidak berubah ketika dewasa.” Luhan berhenti sejenak, “Maukah kau menjadi pacar ku?”

Luhan menyukainya sedari dulu? Kenapa dia tidak menyadarinya sedari dulu? Apakah dia terlalu buta karena Sehun sehingga dia tidak melihat Luhan? Kalau dipikir-pikir, alasan Luhan tidak mengungkapkan perasaannya dulu juga sama seperti dia tidak mengungkapkannya kepada Sehun. Dia hanya ingin dia yakin sebelum ia memberi tahu Sehun tentang hal itu.

Setidaknya ia yakin pada satu hal sekarang. Sehun tidak menyukainya dan kemungkinan ia bersama dengan Sehun juga kecil. Laki-laki itu akan terus menolaknya dengan alasan yang tidak akan Krystal ketahui sampai entah kapan. Sejujurnya, kenapa dia harus menunggu yang tidak pasti sedangkan yang pasti ada? Sudah seharusnya bukan ia menutup segala hal yang berhubungan dengan Sehun? Apalagi dengan ia mengingat semuanya, itu sudah sangat jelas.

Krystal menatap Luhan, “Ya, aku mau.”

.

.

.

.

.

Chanyeol mengerjap-ngerjapkan matanya ketika mendapati benda yang di lempar dari Sehun. “Bunga?!”   Tanyanya dengan alis berkerut.

“Kau sakit bukan?” Kata Sehun acuh tak acuh kemudian segera merebahkan dirinya ke kasur Chanyeol.

“Cih, Apa-apaan itu?!” Chanyeol dengan asal melemparkan bunga pemberian Sehun ke lantai. Ia juga merebahkan dirinya lagi ke kasur. Tak lama kemudian matanya menatap Sehun tajam, “Apa maksudmu dengan aku sakit?”

“Sakit hati…” Balas Sehun sambil menerawang ke atas.

Chanyeol berdecak, “Bisakah kau tidak membahas hal itu?!” Ia kemudian menghela nafasnya.

“Jangan menjadi pengecut. Minta maaflah karena dirimu masih ada kesempatan.” Kata Sehun lagi dengan masih dengan tidak melihat Chanyeol.

Chanyeol mendengus, “Bagaimana bisa aku meminta maaf kalau ia tidak mengangkat teleponku? Atau kabur setiap kali aku ingin bertemu dengannya?” Chanyeol mengerang frustasi, “Itu sebenarnya hanya masalah kecil Oh Sehun. Aku tidak mengangkat teleponnya dua kali karena saat itu sedang di ruangan Professor Jung. Bagaimana bisa aku mengalihkan fokusku dari dosen galak itu?! Bisa-bisa skripsi ku tidak diterima olehnya dan harus mengulang lagi tahun depan. Seperti yang Junmyeon alami. Tapi dia berteriak marah-marah dan itu membuatku bingung. Tidak biasanya dia seperti itu. Ini pertama kalinya dia seperti itu.”

“Mungkin ada suatu hal yang membuatnya seperti itu. Seperti dia sedang mengalami hal yang buruk. Habis dimarahi oleh dokternya. Atau tersinggung oleh kalimat mu.”

Chanyeol terkesiap. “Tersinggung…..” Ia terlihat berpikir. “Aku hanya mengatakan jika waktu itu aku sedang menghadap Professor Jung. Tiba-tiba ia marah-marah. Sudah kubilang, itu bukan sangat dirinya.”

“Dan ini bukan sangat dirimu Park Chanyeol. Kau sangat pesimis. Ini baru dua hari kau mencoba meminta maaf dengan Sulli dan kau sudah menyerah sekarang? Ayolah…. Kau bisa lebih baik daripada itu.”
“Aku memberikan ia waktu agar ia agak tenangan. Baru aku muncul lagi. Lagipula kesempatan esok atau lusa pasti ada.”

Sehun mengubah posisinya menjadi duduk. Dia menatap gumpalan awan yang dihiasi keemasan matahari dari jendela kamar Chanyeol. “Tidak ada yang tahu mengenai kesempatan. Tidak ada jaminan kau yang mengenalnya sejak dulu bisa bersamanya. Karena kesempatan bukan di tentukan oleh itu. Bukan di tentukan oleh waktu dan tempat. Tapi kesempatan ada karena adanya sebuah usaha. Seseorang yang lebih cerdas bisa memiliki kesempatan lebih besar daripada yang mempunyai segalanya tapi tidak tahu menggunakannya. Itulah kesempatan.”

Chanyeol menatap Sehun dalam. Suara Sehun yang tidak ada main-mainnya, tegas membuat ia menyeringit. Apa yang terjadi dengan temannya?

“Hey, kau juga punya masalah? Kau bisa bercerita padaku kau tahu itu?”

Sehun kemudian berdiri. “Bukan masalah besar sebenarnya. Lupakanlah. Masalahnya sebentar lagi akan selesai.”

“Apa ini tentang Krystal? Kau kehilangan kesempatan dari Luhan?”

Sehun seperti tidak mendengarkan pertanyaan Chanyeol. Ia hanya diam dan memakai jaketnya. Bersiap-siap untuk pulang.

Sebelum membuka pintu Sehun pun berkata, “Pada akhirnya, bukan aku yang tidak ingin menjilat ludahku sendiri. Tapi memang sudah terlambat bahkan harus menjilat ludahku sendiri.”

Pintu berdebum dan Chanyeol kembali sendiri ke kamarnya. Tatapannya masih tetap berada di tempat Sehun sebelumnya. “Ck! Apaan sih… Aku tidak mengerti!”

Dengan malas ia bangun dan mengambil bunga pemberian Sehun. ‘Oh, ada kartu ucapan rupanya.’ Chanyeol segera membaca kartu itu dengan cepat dan secepat itu pula dia menggeram, “Sialan! Aku tahu dia tidak pernah niat datang kepadaku untuk mendengarkan curhatan ku!”

Ia kembali melempar bunga pemberian Sehun ke lantai.

“Untuk Krystal, ku harap kau cepat sembuh. -Oh Sehun-“

.TBC.

Haiiii….

Sebelumnya aku minta maaf karena lama banget updated-nya.  Ada beberapa hal yang buat aku lama updated yang salah satunya adalah karena aku baru naik ke kelas 12 dan rasanya 😫  Baru permulaan tapi udah ingin nangis.  Jadi karena aku udah mulai bimbel 5 hari dalam seminggu (😅)  pulang sekolah sekitar jam 4 dan lanjut bimbel, intinya sampe rumah jam 8, buat ngelanjutin cerita rasanya malas dan ngantuk.  Dua minggu ini aku berkutat di depan laptop yang unjung-unjungnya cuman nulis berapa baris.

Kemarin dapat feel lagi buat nulis…  doain aja ya dapat terus feel nya…

Have a nice day~ 😇☺️😊

Oh, ya,  State of Grace chapter 27 kalau gak besok lusa….😉

Runaway (Chapter 5)

Runaway Poster Fix

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Sulli dan Minho melihat kepergian guru-guru. Saat gerombolan guru telah hilang dari pandangan mereka, mereka menoleh. Menatap satu sama lain.

“Sudah lama tidak berjumpa, Sulli…”

Suara berat itu membuat Sulli tidak bisa bernafas.

.

.

.

.

.

Sulli berdehem berusaha menghilangkan kegugupannya. Ia memaksakan sebuah senyum, “Sudah lama juga tidak berjumpa denganmu, Choi Minho-ssi….” Balas Sulli berusaha menelan kepahitan ketika menyebut nama Minho.

Minho tersenyum sebagai tanggapan. “Ku rasa kita tidak bisa berbicara di sini. Ayo ikut aku.”

Sulli menyetujui perkataan Minho dan segera mengikutinya.

Minho membawa Sulli ke ruang melukis. Membukakan pintu untuk Sulli. Menghidupkan penerangan. Terakhri, tak lupa mengunci pintu ruangan.

“Ruang kerja mu?” Tanya Sulli memperhatikan ruangan kerja Minho yang penuh dengan lukisan anak-anak.

“Iya. Jadi…” Minho terdiam sejenak, menimang-nimang sesuatu, “apa pekerjaan mu?”

Sulli kemudian menoleh, “Aku..” Katanya bingung. Ia menarik nafasnya, “Fashion designer….”
Minho tersenyum lebar, “Kau mendapatkan impian mu bukan?”
Sulli terkekeh kecil, “Aku sedang mengejarnya sekarang. Small steps… Membuka sebuah butik dan berharap akhirnya bisa dikenal ke manca negara.” Ia menghela nafasnya, “Bagaimana denganmu? Kurasa ini sangat tidak sesuai dengan impian mu. Dikelilingi lukisan yang tidak sesuai dengan standar Choi Minho…”

Minho menahan nafasnya ketika Sulli mengatakan ‘Standar Choi Minho’. Ia lupa jika itu adalah kata yang sering ia ucapkan ketika mereka masih berpacaran. “Keadaan bisa berubah.” Tanggap Minho pada akhirnya. “Jadi, bagaimana kabarmu?”

Sulli mengerjapkan matanya, “Aku?” Katanya dengan nada bertanya. Ia mengalihkan tatapannya dari Minho sebelum akhirnya melihatnya lagi, “Baik-baik saja. Seperti yang kau lihat.”

“Aku senang kau baik-baik saja…”

Jantung Sulli langsung berdebar keras ketika mendengar suara berat Minho. Ia menggelengkan kepalanya, “Ada yang harus kubicarakan denganmu…” Kata Sulli dengan nada sedikit ketus. Berusaha menghilangkan kegugupannya.

“Aku juga.” Balas Minho dengan tangan yang ia masukan ke kedua kantong celananya. Sama seperti Sulli, Minho berusaha menahan rasa gugupnya.

“Ini tentang…” Sulli menahan nafasnya. Ia bingung harus mulai darimana. “Sebenarnya aku hanya ingin bertanya kabar mu. Rasanya aneh kita bertemu kemarin seperti tidak saling mengenal.” Kata Sulli pada akhirnya. Ia tidak bisa! Sungguh, ia tidak bisa memberi tahu Minho bahwa ia adalah ayahnya Taemin.

Minho menghela nafasnya, “Aku tidak menyangka akan bertemu dengan mu secepat itu. Dikondisi seperti itu pula….”

“Maksudmu?” Sulli menatap Minho bingung. Secepat itu? Memangnya Minho sudah menunggu-nunggu kedatangan Sulli? Dan apa yang dimaksud dengan ‘Kondisi seperti itu’?

Minho menggigit bibir tebalnya, “Sebenarnya….” Ia terlihat ragu, “Aku tahu tentang Taemin…” Kata Minho pada akhirnya. “Ku rasa kau ingin berbicara padaku karena hal ini bukan?”

Tenguk Sulli langsung dingin akibat keringatnya. Ya Tuhan…. Kenapa? Kenapa Minho bisa tahu?

Feeling seorang Appa…” Jawab Minho. Sepertinya Sulli secara tidak sadar mengutarakan apa yang ia pikirkan.

“Minho…” Sulli menemukan suaranya.

“Aku minta maaf kepada mu karena tidak ada di saat kau paling membutuhkan ku. Aku akui, aku egois. Aku terlalu malu kepada mu ketika melakukan hal itu. Bukan menyesal. Aku malu karena telah menyakiti mu. Kata-kata itu di luar kehendak hati terdalam ku. Itu muncul di tengah keputus asaan ku ketika aku bangun—“
“Berhenti….” Sulli menundukan pandangannya. Air matanya mulai menetes. Hatinya masih sakit mengingat kejadian empat tahun yang lalu. Dia tidak akan bisa menghadapi hal itu.

“Sull…” Tangan Minho berusaha menggapai Sulli.

Tak!

Sulli menepisnya. “Kau egois…” Kata Sulli susah payah. Menahan isak tangisnya. “Kau tidak tahu betapa susahnya aku ketika itu!”

“Aku tahu…” Minho mendekat ke arah Sulli. “Aku tahu… Maka dari itu sekarang, aku akan memperbaikinya….”

“Memperbaikinya?” Sulli tertawa sinis. “Sudah terlambat Choi Minho ssi!” Terdengar helaan nafas, “Kami sudah sempurna sekarang. Aku, Taemin, dan Kai.”

“Maksudmu aku tidak boleh ada di kehidupan Taemin begitu?” Suara Minho seketika tinggi. Apa maksud Sulli? Dia berhak akan Taemin. Dia tetaplah Appa Taemin apapun yang terjadi.

“Jangan menganggu kehidupan Taemin…”

“Maksud mu adalah kehidupan mu?” Balas Minho cepat. Masih dengan amarah.

“Aku jamin, Taemin sudah bahagia dengan Jongin di sampingnya. Tanpa diri mu!”

Sekarang Minho lah yang tertawa sinis, “Terserah kau ingin berkata apa! Ingatlah, aku tidak akan melepaskan Taemin semudah aku melepaskan mu!”

Minho segera berbalik. Keluar dari kelas. Meninggalkan Sulli yang diam tertegun.

.

.

.

.

.

Minho masih diam tak bergeming di depan kanvasnya.

“Apa yang terjadi dengan mu nak?” Suara Oemma nya menginterupsi lamunan Minho.

Minho menoleh ke arah pintu kamarnya. Oemma nya yang kurang lebih berusia 60 tahunan itu tetap terlihat muda. Dengan santainya, Oemma melintasi kamar Minho yang besar. Dimana di kamar itu banyak lukisan indah Minho. Jangan lupa, jendela besar tempat favorit Minho. Disitulah Minho kebanyakan melukis. Menghadap jendala besar. Menatap awan-awan yang indah.

“Sesuatu..” Jawab Minho pada akhirnya. “Ada apa Oemma?”

Oemma terkekeh kecil, “Hanya ingin memastikan mu. Kau terlihat sangat lesu ketika pulang.”

Minho akhirnya tersenyum, “Tidak ada apa-apa Oemma. Hanya sedikit lelah dengan pekerjaan ku. Oemma tahu akhir-akhir ini gallery begitu sibuk. Ku rasa itu ada hubungannya dengan keinginan ku yang ingin keluar jadi Tuan Kwon juga ingin mengadakan exhabisi lagi….” Jelas Minho diakhiri dengan tawa canggung.

Tidak ada di keluarganya yang tahu ia telah keluar dari pekerjaannya bersama Tuan Kwon. Keluarganya yang merupakan keluarga kedokteran adalah keluarga yang kaku. Sangat menjaga kehormatannya. Minho sendirilah yang bertindak sesuka hatinya. Minho yakin, Appa nya sangat marah ketika mengetahui Minho telah keluar dari sana ditambah menjadi seorang guru yang gajinya sangat kecil. Daripada bertengkar lebih baik berbohong.

Oemma Minho menghela nafasnya, “Oemma tahu kau telah keluar dari pekerjaan mu.”

“Ah, Oemma tahu dari mana?” Tanya Minho berusaha untuk mengelak.

“Firast seorang Oemma. Dulu ketika kau bekerja bersama Tuan Kwon kau berangkat sesuka hati mu. Jarang sekali mengikuti sarapan. Pakaian juga sesuka hati mu. Kerjaan mu itu hanya melukis. Sekarang? Kau berangkat sangat pagi pulang sangat sore. Pakaian rapih dan jarang melukis. Kau lebih sibuk dengan buku. Nah, sejak kapan Choi Minho suka buku?” Kata Oemma panjang lebar. “Katakanlah apa yang mengkhawatirkan mu? Apakah pendapat Appa mu?”
Minho mencibir, “Aku tidak peduli dengan pendapat Appa… Hanya masalah lain…” Minho tersenyum. Sedetik kemudian dia menggerang melihat ekspresi Oemma nya yang menatap Minho datar. Masih berusaha mengorek informasi. “Tidak ada apa-apa sungguh!”

Oemma Minho menghela nafasnya, “Baiklah… Baiklah… Oemma menyerah sekarang.”

.

.

.

.

.

“Jongin!” Gumam Krystal tidak percaya melihat siapa yang datang.

Kai mengeluarkan senyuman manisnya, “Kau masih bertahan rupanya…”

Krystal memutar bola matanya, “Aku tidak mengerti maksud mu. Ada apa?”

“Eh, kau galak sekali dengan suami atasan mu? Kau tidak takut kena marah?” Kai berkata dengan suara mengejek. Ah, dia suka membuat Krystal jengkel.

Krystal memutar bola matanya, lagi, “Ah benarkah kau suami atasan ku? Ku pikir kau office boy yang baru!”

Kai mendecih, “Terserah! Aku ingin bertemu dengan istriku!”

“Jangan ganggu Sulli! Dia sedang sibuk!” Teriak Krystal berusaha menghentikan Jongin yang berjalan ke ruangan Sulli.

Tentu, Jongin tidak mengubrisnya. Ia segera memasuki ruang kerja Sulli.

.

.

.

.

.

Jongin membuka ruang kerja Sulli disertai dengan senyuman hangat. Berharap Sulli menyambutnya dengan hangat juga. Keheningan yang menyambutnya. Sulli sedang memunggunginya. Menghadap ke arah komputer kerjanya.

“Sull~” Panggil Jongin pada akhirnya.

Sulli tersentak hebat. Ia segera berbalik, “Jongin~” Ujarnya tidak percaya. “Apa yang kau lakukan disini?”

Jongin tersenyum melihat Sulli yang tidak percaya dengan kehadirannya, “Kenapa? Kau terlihat sangat gembira…”
“Aku tidak menyangka kau datang kesini…” Sulli membereskan tumpukan-tumpukan kertasnya.

Jongin meletakan kantung plastik di atas meja Sulli, “Aku membawakan mu makan siang.   Sekalian ingin berbicara dengan mu.”

Sulli tersenyum, “Kau tidak usah repot-repot…”

“Aku melihat kemarin kau terlihat sangat lelah. Tadi pagi juga. Kurasa beban mu terlalu banyak. Makanya—“

“Aku tahu maksud mu…” Sela Sulli, “Tapi pekerjaan mu pasti masih banyak. Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku…”

“Aku akan melakukan apapun untuk mu Sull~ Kau tahu itu…”

Sulli menunduk. Menghindari tatapan Jongin. “Baiklah, karena kau sudah disini. Juga, apakah kau tidak lapar?” Tangannya mengeluarkan sandwich yang dibeli Jongin di supermarket.

Jongin terkekeh, “Tentu.” Ia menerima sandwich dari Sulli.

“Aku akan pergi selama beberapa hari….” Kata Jongin memecah keheningan di antarnya dan Sulli. “Sebenarnya itu alasan ku kemari. Aku ingin, sebelum aku pergi dirimu tidak apa-apa.”
“Berapa lama?”
“Sebulan? Tiga bulan?” Jongin memasukan sandwich terakhirnya. “Entahlah. Tapi tidak sampai bertahun-tahun.” Jongin mengedipkan matanya.

Sulli terkekeh, “Aku tahu kau ingin bercanda Kim Jongin…”

Jongin iku terkekeh, “Setidaknya kau sudah tertawa.” Kemudian nada suara Jongin kembali serius, “Ada masalah di perusahaan Appa. Aku harus mengurusnya.”

Sulli tidak ingin mengomentari rencana kepergian Jongin. Jika sudah seperti ini, Jongin tidak bisa ditahan. “Aku akan menunggu mu…”

Jongin tertawa kencang, “Apa maksud mu? Kau tentu akan menunggu ku Kim Sulli…”

Sulli membereskan makan siang mereka, “Apa? Tidak ada yang salah dengan omongan ku bukan?” Ia membawa kantung plastik ke tong sampah. Sedikit jauh dari meja kerjanya.

Hug~
Jongin tiba-tiba memeluknya, “Kau tahu aku akan merindukan mu…”

Sulli menoleh ke arah Jongin, “Aku tahu….” Ia mengedipkan matanya.

Jongin mendekatkan wajahnya. Ingin mencium Sulli.

Krek~

Krystal dengan polosnya masuk, “Kurasa aku harus mengetuk pintu dulu bukan?” Katanya melihat posisi Sulli dan Jongin.
Gosh!

Sulli cepat-cepat mendorong Jongin agar melepaskan pelukannya. Jongin mencebik, Pengganggu!

.

.

.

.

.

.

Suasana hati Sulli membaik setelah Jongin membawakannya makan siang. Entah itu karena sandwich nya yang lezat. Atau gurauan Jongin yang biasanya receh tapi kali ini tidak. Sulli bersenandung ria menunggu Taemin datang kepadanya.

Kemana Taemin?

Pikirnya dan melihat jam tangannya. Sudah tigapuluh menit yang berlalu. TK juga sudah mulai sepi. Apakah Taemin menghabiskan waktu bersama Minho?

Sulli berusaha menepis pikiran buruk itu. Ia tidak ingin suasana hatinya hancur. Kemarin suasana hatinya hancur bukan hanya karena Minho menolak mentah-mentah omongan Sulli. Tetapi karena perkataan terakhirnya. Ia tidak akan melepaskan Taemin semudah ia melepaskan Sulli. Itu membuat harga dirinya jatuh. Seakan ia tidak berharga dibandingkan Taemin.

Tapi, kalau dipikir-pikir, maksud Minho bisa juga ia menyesal melepaskan Sulli dulu. Makanya ia akan bertahan di Taemin. Sulli menghela nafasnya. Ia harus cepat-cepat menyingkirkan Minho sebelum suasana hatinya hancur.

Oemma!”

Sulli tersenyum melihat Taemin berjalan ke arahnya. Ketika melihat Taemin membawa sesuatu, senyumannya memudar. “Apa itu Taemin?”

Taemin mengerjap. Entah mengapa, mendengar suara Oemma nya, ia merasa takut.

“Taemin….” Panggil Sulli lagi karena Taemin hanya diam.

“Bukan apa-apa.” Kata Taemin pada akhirnya.

“Taemin….” Nada suara Sulli mulai naik. Astaga, apa yang dipegang Taemin? Itu terlihat seperti bungkusan kanvas. Apakah itu hadiah dari Minho? Tidak tahu dari mana Sulli mempunyai firasat seperti itu.

“Taemin mau pulang Oemma! Pokoknya Taemin mau pulang!”

Tanpa menunggu jawaban dari Sulli, Taemin membuka pintu belakang untuk meletakan benda yang ia pegang. Kemudian duduk di bangku depan.

Sulli menghela nafasnya. Ia mengikuti Taemin.

.

.

.

.

.

Oemma…” Panggil Taemin takut-takut karena dari tadi Sulli hanya diam.

Oemma….” Panggil Taemin lagi.
Sulli mengangkat rem tangannya. Mematikan mobilnya.

“Taemin minta maaf….” Kata Taemin pada akhirnya.

Hati Sulli luluh mendengar Taemin minta maaf. Ia akhirnya melihat Taemin, “Oemma hanya ingin tahu apa benda itu.”

“Tapi Oemma jangan marah ya…”

“Apa itu Taemin…”

Taemin menatap Sulli, “Itu… Lukisan dari Min Seongsangnim sebagai hadiah ulang tahun Taemin….”

Mata Sulli langsung melotot. Hadiah ulang tahun? Min Seonsangnim?

Oemma…” Ujar Taemin takut karena melihat ekspresi Sulli.

.TBC.

Runaway (Chapter 4)

Runaway Poster Fix

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Minho masih diam tidak bergeming sedikitpun ketika Sulli menghilang dari pandangannya.

Perkataan Sulli…. Yah, Minho tahu Sulli tidak bermaksud lebih terutama menyakiti perasaan Minho. Tapi, Minho tetap merasakan sakit hati karena kalimat itu mengatakan kepadanya jika Taemin bukan sepenuhnya tanggung jawab Minho. Tapi ia bisa apa? Bukankah dia yang mengatakan jika ia ingin mengejarkan mimpinya apapun yang terjadi?
Minho hanya bisa menghela nafas menatap kepergian Sulli.

.

.

.

.

.

“Jadi gitu Appa!” Taemin memakan suapan terakhirnya.

Jongin menganggukan kepalanya, Ia juga memasukan suapan terakhirnya. “Jadi Jung Seongsangnim keluar dan yang menggantinkannya adalah Min Seongsangnim?”

Taemin kembali mengangguk, “Benar! Taemin sangat suka kepada Min Seongsangnim… Sangat-sangat suka! Min Seongsangnim baik. Tadi—“

“Taemin…” Sulli menyela omongan Taemin. “Bukankah dirimu harus mengerjakan PR? Tadi guru-guru mengirimkan pesan kepad Oemma agar Taemin mengerjakan semua PR.”

Taemin langsung cemberut, “Mengesalkan!”

“Jangan berbicara kasar Kim Taemin!” Jongin mengingatkan Taemin dengan nada tajam. “Kerjakan PR mu dulu ya? Nanti, sebelum mau tidur kita lanjutkan lagi ceritanya ya?” Kemudian nada bicara Jongin menjadi sangat lembut.

Taemin tetap cemberut. Tetapi, ia menganggukan kepalanya. Taemin segera turun dari kursi meja makan dan berlari menuju kamarnya.

“Kerjakan yang mudah dulu ya! Oemma akan menyusul sebentar lagi!” Teriak Sulli ketika kepada Taemin. Taemin harus diancam atau tidak dia akan main-main.

Sulli bangkit dari kursinya, membereskan piring-piring keluarga kecilnya. Saat mencuci piring, Jongin tiba-tiba memeluknya.

“Bagaimana harimu?” Katanya mengantarkan kehangatan kepada Sulli.

Sulli tersenyum kecil, “Lumayan~”

“Lumayan? Jawaban macam itu?”

Sulli tertawa lepas, ia segera membalikan badannya, “Tidak ada yang special.”

Jongin mengerutkan alisnya, “Tereserah!” Jawabnya cuek. Tangannya mengelus pipi Sulli perlahan. Kemudian ia mendekatkan dirinya ke Sulli.

Cup!

Jongin mencium ujung bibir Sulli. Ujungnya, bukan tepat di bibir Sulli. Pada detik-detik terakhir, Sulli menghindarinya.
“Aku harus cepat mencuci piring agar bisa melihat Taemin…” Katanya sudah berbalik dan kembali mencuci piring.

Jongin tersenyum datar, “Baiklah…”

.

.

.

.

.

Tak! Tak! Tak!

Sulli mengetuk-ngetukan pulpennya. Tatapannya menerawang ke depan. Mejanya, yang dimana berserakan desain-desain model terbaru tidak ia sentuh sama sekali. Sejak datang ke sini, Sulli benar-benar hanya duduk.
“Krystal…” Panggilnya tanpa melihat Krystal.
Krystal yang sibuk melihat desain menoleh, “Apa?”

“Bagaimana caranya berbicara dengan orang yang tidak ingin kau ajak berbicara?”

Krystal mengerutkan keningnya, “Pertanyaan mu sangat aneh. ‘Bagaimana caranya berbicara dengan orang yang tidak ingin kau ajak berbicara?’”

Sulli menghela nafasnya. Ia meletakan pulpennya dan duduk dengan tegak. “Aku tidak ingin bertemu apalagi berbicara dengan orang tersebut. Tetapi aku harus berbicara dengannya.”

Krystal tambah mengerutkan keningnya, “Kau sangat aneh Choi Sulli. Jelas-jelas jika kau ingin berbicara dengan orang harus ada niat ingin berbicara dengan orang itu. Kau saja enggan… Ya, bagaimana mau berbicara dengan orang tesebut?”

Mendengar penjelasan Krystal, Sulli kembali menghela nafas, “Kau benar. Aku memang tidak ingin berbicara dengannya.” Ia tersenyum tipis kemudian, “Baiklah. Masalah itu akan kupikirkan nanti. Sekarang, kita focus kepada desain musim gugur kita. Bagaimana?”

“Baiklah.” Krystal kemudian mulai menjelaskan berbagai macam desain kepada Sulli.

.

.

.

.

Sulli menyelesaikan pekerjaan desainnya pada pukul 1 siang. Sudah menjadi aturannya sendiri jika jam 1 ia akan pulang untuk menjemput Taemin dan sehabis itu menghabiskan waktu bersama Taemin. Sulli membereskan meja kerjanya juga menempelkan beberapa notes di mejanya. Pengingat pekerjaan yang belum selesai. Matanya tidak sengaja melihat salah satu note-nya, “Tembus fashion week tahun depan!!!” Penyemangat dirinya agar lebih sukses sejak ia membuka butiknya, tiga tahun yang lalu dan terus menjadi mimpinya sampai sekarang.

“Aku pulang duluan ya….” Pamit Sulli kepada Krystal. Krystal yang masih sibuk menyusun jadwalnya besok menganggukan kepalanya.
“Jangan lupa jika besok kau akan bertemu dengan Vogue Magazine!” Kata Krystal tanpa menoleh sedikitpun.

“Tentu!” Jawab Sulli pendek dan segera pergi menjemput Taemin.

.

.

.

.

.

Minho meregangkan tubuhnya. Ternyata menjadi seorang guru lebih susah daripada menjadi curator gallery. Tangannya kaku akibat harus mengisi laporan. Belum lagi otaknya harus mendidih karena harus membuat silabus ngajar. Ditambah bahunya yang pegal karena harus menunduk, melihat semua lukisan untuk dinilai. Satu lagi yang paling penting, Minho harus memeras otak dalam memberi nilai karena ia merasa lukisan anak-anak disini tidak sesuai dengan standar Choi Minho. Ia menghela nafasnya.

“Kau terlihat sangat lelah Choi Seongsangnim!”

Minho menoleh dan terkekeh kecil, “Masih banyak yang harus ku nilai….” Respon Minho pendek.

Kekehan kecil terdengar, “Aku pernah merasakan hal itu seperti mu. Pada saat awal-awal mengajar matematika. Kau harus mengerti betapa frustasinya diriku melihat anak-anak yang tidak mengerti di ajar berkali-kali. Padahal ketika TK aku sudah bisa menyelesaikan perkalian!”

Minho hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Orang di depannya adalah Cho Kyuhyun. Senior dalam mengajar. Walaupun begitu, Kyuhyun adalah orang yang baik. Ia tidak membedakan Minho sejak pertama mengajar. Ramah tetapi juga professional. Sedikit aneh karena ia mempunyai latar belakang lulusan Havard di bidang matematika tetapi memilih menjadi guru TK. Tentu saja ia jenius.

“Cho!”

Panggilan dari Shi Seongsangnim membuat Minho dan Kyuhyun menoleh.

“Hari ini jadi kumpul? Di rumah mu?”

Shi Seongsangnim atau bernama lengkap Shim Changmin juga senior bahkan lebih senior dari Kyuhyun. Mengajar sejak umur 18 tahun dan sekarang umurnya 29 tahun. Guru menyanyi di TK ini dan mempunyai vocal yang luar biasa. Sangat-sangat luar biasa. Dia dan Kyuhyun adalah teman dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Ini dikarenakan mereka mempunyai umur yang sama dan bekerja disini ketika sama-sama masih muda.

“Tentu! Oemma ku yang akan memasak makan malam.” Kyuhyun kemudian menoleh ke Minho, “Kau ingin ikut Choi Seongsangnim?”

Minho tidak menyangka di ajak terdiam beberapa saat. “Tidak apa-apa?”

Changmin mengangguk mantap, “Tentu saja tidak apa-apa. Eiih…. Jangan pikir kami hanya berkumpul berdua saja. Lee Seongsangnim juga sering berkumpul dengan kita kok… Ini adalah perkumpulan guru-guru cowok disini.”

Minho akhirnya menganggukan kepalanya, “Boleh juga.”

“Eh, Junmyeon akan pulang bukan?” Tiba-tiba Yoo Seongsangnim menghampiri mereka.

Kyuhyun mengangguk, “Iya. Dia bilang jika bulan madunya dengan Joohyun sudah selesai.”
“Junmyeon?” Tanya Minho bingung.
“Oh, kau belum pernah bertemu dengan Junmyeon ya? Dia guru etika disini dan baru saja menikah.” Yoo Seongsangnim menjelaskan.

Kyuhyun tiba-tiba mendekat, “Junmyeon juga ikut dalam perkumpulan ku. Junmyeon, aku, Changmin, Jonghyun, dan sekarang dirimu.” Bisiknya kepada Minho.

Minho sendiri hanya mangut-mangut karena ini pertama kalinya ia tahu.

Kriiingggg~
Bel pulang berbunyi. Bel yang bukan hanya ditunggu oleh siswa tetapi juga ditunggu oleh guru. Pada bel ini pembelajaran berakhir dan siswa boleh bermain hingga pukul 2 siang. Sedangkan guru untuk jam makan siang, sebelum rapat wajib pada pukul 2 siang.

Minho meletakan kertas terakhir yang harus ia nilai. Ia kemudian berdiri, “Ada yang ingin ikut makan?”

Beberapa guru disana, bukan hanya Cho, Shim, dan Yoo Seongsangnim mengangguk. Mereka berbondong-bondong keluar. Mereka semua akan makan di tempat biasa, tempat makan yang tak jauh dari TK karena sekolah hanya menyediakan makanan khas anak-anak.

“Min Seongsangnim?”

Suara lembut itu seketika menghentikan Minho dari kegiatannya yang sibuk berbicara. Juga menghentikan gerombola guru-guru.

Mata Yoo Seongsangnim membesar, “Oh, Taemin Oemma?”

Minho langsung merasa tidak bisa bernafas.

.

.

.

.

.

Sulli sampai tepat waktu. Ia sudah bertemu Taemin dan Taemin meminta waktu agar bisa bermain pada teman-temannya. Sulli mengiyakan selama 30 menit dari waktu satu jam yang Taemin minta. Saat baru saja selesai berbicara dengan Taemin, matanya tidak sengaja menangkap segerombolan guru yang ingin makan siang. Suara mereka terdengar jelas olehnya. Termasuk suara Minho yang asik bercengkraman.

“Jika kau ingin berbicara dengan orang harus ada niat ingin berbicara dengan orang itu.”

Entah mengapa perkataan Krystal kembali muncul di benak Sulli. Apakah Sulli punya niat berbicara dengan Minho? Tentu saja! Dia ingin berbicara untuk meluruskan beberapa hal kepada Minho. Sulli hanya ragu karena ia bingung bagaimana caranya ia berbicara kepada Minho. Sulli hanya ragu apakah perasaannya akan menyeruak keluar, tidak terbendung, ketika ia melihat mata Minho. Dia harus berpikir jangka panjang karena sekarang dia adalah soerang istri dan ibu. Sulli tidak boleh gegabah.

Mendengar suara Minho saja membuat jantung Sulli berdetak tidak karuan. Astagaaa… Apa yang harus ia lakukan?

Sulli memejamkan matanya. Sekarang atau tidak pernah. Karena ia yakin, jika ia tidak akan bisa mengumpulkan nyali untuk berbicara dengan Minho.

Min Seongsangnim….” Panggil Sulli berusaha agar terdengar biasa saja.

Minho berhenti berbicara. Tetapi ia tidak menoleh. Malah Yoo Seongsangnim, salah satu guru killer-menurut Taemin- yang menoleh. Yoo Seongsangnim tersenyum lebar dan menanyakan kabar Sulli.
Sulli tersenyum tipis, sedikit berbasa-basi sejenak, “Saya ingin berbicara kepada Min Seongsangnim…” Kata Sulli di akhir kalimat.

Yoo Seongsangnim tertawa, “Min Seongsangnim ya?”

Tersadar jika ia salah memanggil nama Minho Sulli hanya tersenyum malu. Menahan mulutnya agar tidak mengoreksi menjadi Choi Seongsangnim. Semua guru-guru pasti bingung karena Sulli, setahu mereka, tidak pernah berkenalan secara formal dengan Minho.

“Kami akan makan siang.” Ucap Cho Seongsangnim dari belakang. “Jadi mungkin sebaiknya Anda harus berbicara lain waktu. Sehabis ini kami ada rapat. Sebaiknya juga Anda memberi tahu sebelumnya agar Choi Seongsangnim bisa mengatur jadwalnya.”
Gawat! Cho Seongsangnim adalah guru yang ditakuti oleh Sulli. Menurut Sulli ia adalah seorang professional yang tidak ragu mengatakan hal yang benar. Termasuk di situasi ini. Seharusnya Sulli memberi tahu sebelumnya. Tapi dia tidak berpikir panjang karena nyatanya ia memang tidak mau berbicara dengan Minho. Ini benar-benar ide yang muncul secara tiba-tiba.
“Tidak apa-apa….”

Deg!

Detak jantung Sulli langsung menggila ketika mendengar suara itu. Sulli mengepalkan tangannya. Tahan dirimu… Tahan dirimu bodoh! Rutuknya dalam hati.

Guru-guru menoleh ke Minho.

Minho membalas tatapan guru-guru, tersenyum meyakinkan, “Pasti ada masalah penting yang tidak dapat di undur hingga Oemma Taemin tidak sempat memberi tahu saya sebelumnya.”

Sulli terdiam mendengar perkataan Minho.

“Saya titip makan siang saya.” Lanjut Minho.

Guru-guru terlihat tidak bisa membantah dan akhirnya mengundurkan diri dari hadapan Minho dan Sulli.
Sulli dan Minho melihat kepergian guru-guru. Saat gerombolan guru telah hilang dari pandangan mereka, mereka menoleh. Menatap satu sama lain.

“Sudah lama tidak berjumpa, Sulli…”

Suara berat itu membuat Sulli tidak bisa bernafas.

.TBC.

Holla… i’m back…  Maaf ya untuk Runaway agak lama update-nya.  Saya mengalami writer block khusus untuk Runaway…

Gimana pendapat mengenai Chapter ini?  Chapter selanjutnya Julli mungkin? 🌝✌️  Karena saya mau ngambil hiatus dulu ya dari tanggal 20 Mei sampai awal Julli atau akhir Juni, jadi kayaknya pertengahan   🙏🏻🙏🏻🙏🏻

State of Grace (Chapter 21)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Lantunan piano menggema di penjuru Café. Mengiringi para penikmat makanan. Krystal memejamkan matanya. Menikmati setiap nada yang ia bentuk.

Prok~ Prok~ Prok~

Tepuk tangan menggema ketika ia menyudahi alunan nadanya. Krystal membuka matanya. Tersenyum kecil ketika mengetahui Jonghyun, sahabatnya datang kepadanya.

“Alunan musik yang bagus Jung!” Kata Jonghyun tersenyum lebar. “Tapi nada lagu terdengar seperti orang yang depresi!”

Krystal tertawa pendek, berharap suara tawanya tidak sumbang. “Benarkah? Padahal aku kira nadanya sangat bahagia…” Lanjutnya lebih kepada dirinya sendiri.

Krystal sudah menghabiskan waktu yang lama di Café milik Jonghyun dkk, Jonghyun, Minho, Taemin, Jinki dan Key. Sahabat-sahabatnya yang merupakan teman akrab Changmin, tunangan Victoria. Dari Changminlah Krystal mengenal mereka.

Setelah kejadian tadi sore, kejadian yang tidak ingin di ingatnya, Krystal menelepon Sulli. Mengajak Sulli untuk pergi bersamanya, menghabiskan waktu bersamanya secara diam-diam, tanpa satupun orang di F(x) mengetahuinya apalagi Amber. Krystal yakin Amber pasti langsung menghajar Sehun ketika mengetahui apa yang terjadi.

Mereka memutuskan pergi ke acara pembukaan Café Jonghyun. Bukan pilihan yang cerdas. Tetapi mereka tahu jika tidak ada satupun orang F(x) yang datang ke sana, mengingat semuanya sudah mengkonfirmasi tidak bisa datang. Ditambah makanan disana gratis, jadi mereka tidak perlu mengeluarkan uang.

Ketika sampai disana, Krystal berharap jika mood-nya akan membaik. Nyatanya tidak. Walaupun ia telah dikelilingi oleh orang-orang yang riang gembira. Untung saja Jonghyun datang, menawarkannya memainkan musik karena temannya telat. Krystal dengan senang hati mengiyakan. Berharap dengan musik mood nya juga akan membaik.

Tapi lihatlah? Mood nya tetap jelek dan sekarang ia menyeret orang-orang untuk bersedih juga.

“Kau tidak ingin cerita?” Tanya Jonghyun membuyarkan lamunan Krystal.

Krystal mengibaskan tangannya, “Bukan hal yang penting.”

“Aku rasa tidak begitu. Kau terlihat murung dari pertama kali datang. Selama disini juga kau terlihat melamun.”

“Bukan masalah penting. Okay?” Krystal menatap Jonghyun dengan tatapan santai. Ia hanya ingin bersenang-senang sekarang. Tanpa harus mengingat kejadian tadi sore.

Jonghyun menghela nafasnya, “Terserah… “ Jonghyun kemudian berbicara lagi, “Temanku datang sebentar lagi.   Dia sampai kira-kira lima menit lagi. Maukah kau memainakan lagu lagi?”

“Tentu. Dengan senang hati….”

Jonghyun pergi dari pandangan Krystal. Krystal memposisikan dirinya kembali bermain piano. Memejamkan matanya. Mulai membayangkan hal-hal indah, hal-hal yang berhubungan dengan melukis.

Tangannya mulai bergerak kembali. Menekan tuts-tuts piano dengan anggun. Mengeluarkan nada sesuai kehendak hatinya. Jari-jari Krystal bergerak membentuk nada minor ketika ia mengingat Tifanny. Ia membuka matanya, tahu jika nadanya akan berubah menjadi sedih. Tangannya bergerak kembali ke mayor dengan terpaksa. Tetapi sarat akan kesedihan. Krystal memejamkan kembali matanya. Membayangkan…. Membayangkan Sehun. Sedikit demi sedikit alunan nada kembali bahagia. Ia terus bermain dan bermain.

Prok~ Prok~ Prok~

Lagi-lagi, tepuk tangan meriah menyambutnya ketika Krystal kembali membuka matanya. Krystal tersenyum, bangkit dari kursi dan membungkukan badannya.

“Krystal Jung!”

Krystal menoleh dan menemukan dirinya terkejut untuk berapa saat, “Chanyeol?”
“Kau kenal Park Chanyeol?” Jonghyun tiba-tiba telah berada di sampingnya. “Ia adalah teman yang kuceritakan kepada mu!” Lanjutnya tanpa menunggu jawaban Krystal. Jonghyun menghadap Chanyeol, “Chanyeol, ini Krystal Jung. Teman akrabku. Dia sangat piawai bermain piano dan melukis.”

Krystal membungkukan badannya. Begitupula Chanyeol.

“Aku mengenal Krystal.” Kata Chanyeol ke Jonghyun. “Dia pernah datang melihat pertunjukan ku. Aku mengetahui jika ia pandai melukis tetapi tidak tahu jika ia pandai bermain piano.”

“Dia sebenarnya pandai. Bukan! Bahkan bisa dikatakan jenius. Kau lihat tadi permainannya?”

Chanyeol menganggukan kepalanya, “Tadi benar-benar mengagumkan.”

“Ku rasa aku akan kembali ke bangku ku.” Krystal mengundurkan diri dari hadapan Chanyeol dan Jonghyun.

“Tunggu!”

Perkataan Chanyeol menghentikan jalan Krystal.

“Bagaimana jika Krystal mengiringi permaianan gitarku? Ide yang bagus bukan?”

Krystal terkejut mendengar ide Chanyeol.

Jonghyun terlihat setuju, “Bagaimana Krys, kau mau?”

Krystal cepat-cepat menggeleng, “Tidak sekarang. Aku akan beristirahat dulu.” Katanya kemudian kembali ke tempat duduknya. Tempat duduknya sebelah Sulli.

Jonghyun tersenyum pendek, “Aku akan membujuknya.”

Chanyeol mengangguk, “Tenang saja teman. Okay, kurasa aku akan bersiap-siap!”

.

.

.

.

.

Sulli mendengus melihat Krystal, “Apa mood-mu belum kembali?”

Krystal menoleh, ia juga mendengus, “Entahlah. Aku benar-benar merasa sedih….”

“Ku rasa satu-satunya alasan adalah bertemu dengan Sehun.” Sulli kemudian mengambil handphone Krystal, “Bagaimana jika aku meneleponnya?”

Krystal segera meraih handphone-nya, “Jangan melakukan hal-hal aneh. Acaranya pasti belum selesai.”

“Tapi kau tidak pantas diperlakukan seperti ini….” Seru Sulli dengan nada geram. “Biarkan aku membantumu untuk sekali saja… Sekali saja setelah kejadian dengan-“

“Selamat malam semuanya….”

Suara Chanyeol berhasil memutuskan omongan Sulli, Ia segera menoleh kepanggung, “Siapa dia?” Tanya Sulli.

“Chanyeol…” Gumam Krystal tanpa sadar. Tatapannya menerawang langit-langit café.

“Oh, kau mengenalnya?”

Krystal menoleh, “Iya.” Jawabnya pendek.

Sulli menatap Krystal tajam, menuntu agar Krystal mengatakan lebih.

“Baiklah…” Kata Krystal dengan malas. “Dia temannya Jonghyun….” Kemudian dilanjutkan dengan nada kecil, “dan Sehun.”

“Sehun, Oh Sehun pacarmu?”

“Siapa Oh Sehun?”

Krystal dan Sulli tersentak. Mereka menemukan Jonghyun sudah berada di depan mereka.

“Pacar?” Tanya Jonghyun lagi.

Krystal mendesah. Ia akhirnya mengangguk.

“Kenapa kau tidak datang dengan pacarmu? Kau bertengkar dengannya?”

“Sehun punya acara. Sebenarnya Krystal ingin mengikuti acara tersebut tetapi aku memaksa Krystal untuk menemaniku ke sini. Jadinya Sehun tidak bisa ikut!” Jelas Sulli dengan senyuman manisnya. Berharap kebohongan kecilnya dipercayai Jonghyun.

Sebagai teman masa kecil Krystal ia tahu mengenai satu hal, Krystal tidak suka menceritakan masalahnya ke orang-orang. Maka dari itu, daripada mood Krystal bertambah hancur karena masalahnya diketahui orang, Sullipun berusaha menutupinya.

“Tapi Sehun akan datang juga kok… Mungkin sebentar lagi….” Lanjut Sulli mencoba meyakinkan.

Apa-apaan? Pekik Krystal dalam hati. Ia menatap Sulli dengan alis mengkerut. Kenapa Sulli bercerita hal-hal aneh bahkan berkata Sehun akan datang? Krystal kemudian menoleh ke Jonghyun, “Dia berjanji akan datang. Tapi aku sendiri tidak memaksanya…” Kata Krystal pada akhirnya ikut berbohong. Rasanya tidak adil menjatuhkan akting apik Sulli dimana akting tersebut juga untuk melindunginya.

Jonghyun hanya bisa menghela nafasnya. “Oh begitu…” Katanya pendek dengan nada tidak percaya. Ia merasa jika dua orang di depannya berbohong. Tetapi mungkin hanya perasaanya saja. “Baiklah, aku akan meninggalkan kalian berdua. Aku akan ikut Chanyeol menyanyi. Dan Krystal, aku benar-benar ingin dirimu bermain piano di atas panggung.”

Jonghyun menghilang di atas panggung. Detik-detik berikutnya Krystal mendapati ia menikimati nyanyian Jonghyun. Suara khas Jonghyun ditambah alunan gitar Chanyeol, sempurna! Suasana menjadi riuh. Sulli pun dari tempat duduknya berteriak-teriak seperti seorang fan girl.

“Astaga Krystal! Kau lihat?” Mata Sulli berkilat-kilat menghadap ke Krystal, “Dia sangat menakjubkan bukan?!”

Krystal menganggukan kepalanya, “Tentu. Jonghyun memang menakjubkan.”

“Bukan Jonghyun!” Dengus Sulli. “Chanyeol! Chanyeol menakjubkan bukan?”

Krystal menatap Sulli berkerut. Entahlah…. Sedari tadi dia hanya mendengar Jonghyun bernyanyi.

“Hey!” Teriak Sulli mencoba menyadarkan Krystal dari lamunan. “Kau melihat Chanyeol tadi tidak? Ketika dia memainkan gitarnya?! Astaga hatiku….”

Krystal tidak dapat menahan senyum gelinya melihat kelakuan temannya ini.

“Mereka sedang beristirahat!” Pekik Sulli.

Krystal melihat ke panggung dan menemukan Chanyeol dan Jonghyun sedang minum.

“Ayo temani aku ke panggung! Aku ingin mengobrol dengan Chanyeol!”

Sebelum Krystal memberi jawaban, ia sudah di tarik oleh Sulli mendekati panggung.

“Haii….” Sapa Sulli dengan senyum manisnya. Mau tidak mau, Krystal juga ikut tersenyum.

“Oh, Chanyeol, perkenalkan ini Sulli, adik kecilku!” Jonghyun memperkenalkan Chanyeol dengan Sulli.

Chanyeol dan Sulli sama-sama membungkukan badannya, “Salam kenal. Aku Park Chanyeol.” Balas Chanyeol sambil tersenyum. “Adik?” Tanyanya lagi.

Sulli terkekeh, “Karena aku adalah yang paling kecil diantara mereka. Ada Krystal yang seumuran aku, tapi entah mengapa orang-orang salah mengartikan umurnya.”

Krystal menatap Sulli tajam. Jonghyun, Chanyeol, dan Sulli tertawa kecil.

“Oh, jadi kau berteman dengan Krystal?” Tanya Chanyeol lagi.

Sulli menganggukan kepalanya, “Krystal adalah sahabatku sedari kecil. Kau mengenal Krystal bukan?”

“Iya, Krystal pernah datang ke pertunjukan ku. Maukah kau datang ke pertunjukan ku?”

Sulli dan Krystal sama-sama terkejut mendengar permintaan Chanyeol yang sangat blak-blakan.

“Tentu. Dengan senang hati.” Jawab Sulli pada akhirnya.

Well, Krystal…” Kata Jonghyun memecah keheningan, “Kau ingin bermain piano? Kurasa kita akan menyanyikan lagu jazz dan itu butuh bantuan mu…”

Sulli menatap Krystal bersemangat. Hal tersebut akhirnya membuat Krystal menyetujui permintaan Jonghyun.

Krystal kembali meposisikan diri untuk bermain piano. Begitu alunan gitar terdengar, ia mengikuti alunan gitar Chanyeol. Berimprovasi dengan nada pianonya sendiri. Untuk pertama kalinya sejak ia datang ke café, Krystal mengulaskan sebuah senyuman. Rasanya semuanya sempurna ketika ia mendetingkan tuts-tuts piano.

Prok~ Prok~ Prok~

“Hebat! Hebat!” Seru Sulli yang terdengar hingga ke atas panggung. Krystal kembali tersenyum.

Chanyeol juga ikut tersenyum. “Test….” Kata Chanyeol berbicara di depan mic. “Terimakasih semuanya… Tadi adalah lagu Cry Me a River oleh Diana Washington. Sebuah lagu jazz yang pastinya tidak akan sempurna jika Krystal Jung tidak memainkan pianonya.”

Suara tepuk tangan terdengar riuh.

“Pada malam ini juga, aku ingin mengucapkan selamat menikmati Soft Opening Café Italiana by Lee Jinki. Dan kita doakan agar apa yang diharapkan para pendiri tercapai. Juga kuucapkan selamat datang pada seseorang yang baru saja datang…”

Krystal mengkerutkan keningnya. Siapa yang datang pada pukul sepuluh malam? Sangat telat.

“Ku ucapkan selamat datang bagi Oh Sehun!”

Sehun?! Segera saja Krystal berdiri dari tempat duduknya. Matanya menyapu penjuru Café. Sehun… Ya, benar ada Sehun! Sehun berada di Café ini dan sedang menatapnya. Krystal merasa jika lututnya melemas. Ia mencengkram piano.

.

.

.

.

.

Sehun mengucapkan terimakasih ketika penjaga pintu membukakan pintu Café. Sesaat setelah memasuki Café, Sehun menemukan jika aroma pasta tercium dengan lezat. Perutnya berbunyi. Rasa lapar kembali menyerangnya. Tetapi dia tidak akan makan sekarang. Tidak, sebelum ia bertemu Krystal.

Matanya menyapu seluruh penjuru Café. Kemana Krystal? Katanya dalam hati. Ia tidak dapat menemukan Krystal. Ia berjalan menjauhi pintu masuk. Semakin memasuki Café.

Deg!

Jantungnya berdetak lebih cepat ketika ia berhasil menemukan Krystal. Di dekat panggung bersama Sulli. Mereka sedang berbicara dengan Chanyeol dan seseorang yang Sehun tidak kenali. Sehun baru saja ingin berjalan ke arah mereka kalau saja Krystal tidak ke atas panggung. Alis Sehun berkerut, ia melihat Krystal duduk di depan piano. Alunan gitar mulai terdengar, jari-jemari Krystal juga mulai bergerak. Mengiringi permainan gitar Chanyeol. Ia menatap Krystal terkejut. Krystal bisa bermain piano?

Sehun mendesah. Masih banyak yang belum ia ketahui dari Krystal. Tatapannya tidak dapat berpindah sedikit pun, terpaku oleh Krystal. Semuanya terasa sempurna. Kemudian bibir tipis Krystal membentuk senyuman. Sehun merasa jantung mencelos. Dia seharusnya bahagia karena Krystal akhirnya tersenyum, pertanda Krystal tidak lagi bersedih, Tetapi dia menginginkan Krystal tersenyum karena dirinya. Hanya dirinya.

Prok~ Prok~ Prok~

Suara tepuk tangan bergema riuh. Lagu selesai. Sehun tetap terpaku oleh Krystal. Ia merasa tidak bisa bergerak. Apakah Krystal menjauhinya ketika ia mendekat? Krystal sendiri terlihat santai. Ia melipat kedua tangannya. Mendengar perkataan Chanyeol. Kemudian kening Krystal mengkerut, ia terlihat berpikir.

“Ku ucapkan selamat datang bagi Oh Sehun!”

Sehun menahan nafasnya. Apa? Apa ia tidak salah dengar? Krystal terlihat langsung berdiri dari kursinya. Menatap ke segala penjuru Café.

Deg!

Rasanya…. Rasanya jantung Sehun tidak dapat berdetak ketika mata Krystal menatapnya. Tatapan itu sangat terkejut hingga membuat Sehun menahan nafasnya.

.

.

.

.

.

“Hey Krys, ada apa?” Jonghyun terlihat khawatir karena Krystal tiba-tiba pucat.

“Apa?” Tanya Krystal linglung. Tersadar membuat Jonghyun khawatir, Krystal mencoba tersenyum, “Tidak apa-apa. Aku permisi sebentar.” Ia pun langsung turun dari panggung tanpa menunggu jawaban dari Jonghyun.

Sehun yang melihat itu memutuskan untuk bergerak. Dia tidak akan membiarkan Krystal lari lagi, karena sepertinya gadis itu ingin menghindarinya. Ia ingin mengakhiri penderitaan ini sekarang. Sekarang juga tanpa menunggu hari esok.

Ia berjalan semakin cepat ke arah Krystal. Krystal sendiri berjalan mejauhi panggung, menjauhi kerumunan orang. Langkah Sehun semakin cepat hingga ia dapat melihat Krystal dengan jelas. Tangannya ingin meraih tangan Krystal.

“Hentikan!”

Kening Sehun mengkerut menatap Laki-laki di depannya. Laki-laki yang sama sekali tidak dikenalnya. Parahnya, ia berdiri di tengah-tengah Sehun dan Krystal dan…. Dan memegang tangan Krystal. Apa-apaan!

“Siapa dirimu?” Tanya orang tersebut tajam.

Sehun juga menatap tajam. Seharusnya ia yang bertanya seperti itu.

“Hey, ada apa?” Sekarang laki-laki lain mendekati mereka. Ah, Sehun mengenali laki-laki tersebut, maksudnya laki-laki itu adalah orang yang tadi berbicara dengan Krystal. “Krys, apakah ia menyakiti mu?” Lanjut laki-laki tersebut.

Krystal melepaskan tangannya dari laki-laki yang pertama dan Sehun merasakan kelegaan yang luar biasa. Bibir tipisnya membentuk senyum kecil, “Tidak apa-apa…” Ucapnya lirih.

“Kenapa kalian semua berkumpul disini?”

Lagi-lagi Sehun menoleh ke arah suara ke tiga. Sulli datang ke arah mereka dengan kening berkerut. Ketika melihat Sehun, matanya terbelak kaget.

“Sehun?! Astaga kau datang?!”

Sehun terkejut mendengar suara Sulli yang sangat besar. Sulli terdengar sangat bergembira.

“Oh, kau Sehun?”

Kemudian Sehun kembali menoleh ke laki-laki kedua, karena bingung dengan yang terjadi, ia hanya mengangguk.

“Siapa dia?” Tanya laki-laki pertama dengan nada tajam.

“Tenanglah Minho-yah… Dia adalah pacar Krystal…” Laki-laki yang kedua terlihat menjelaskan dengan nada santai. Ia kemudian menoleh, “Aku tidak percaya dirimu datang. Aku sudah menunggu-nunggu dirimu.”

Sehun hanya terdiam tidak mengerti maksud orang di depannya.

“Kenalkan, namaku Kim Jonghyun dan teman ku adalah Choi Minho.” Lanjut Jonghyun, laki-laki kedua, kepada Sehun.

Mereka bertiga, Sehun-Minho-Jonghyun, membungkukan badannya.

“Maafkan aku telah berpikir buruk-buruk kepada mu.” Untuk pertama kalinya, Choi Minho berkata dengan suara lembut. “Seseorang yang dekat dengan Krystal juga menjadi orang terdekat kami. Selamat menikmat Soft Opening dari Café kami. Aku permisi terlebih dahulu… “

Setelah Minho mengundurkan diri, Jonghyun juga mengundurkan dirinya.

“Aku masih menunggu mu untuk bermain piano lagi.” Ucap Jonghyun sebelum dia benar-benar menghilang.

Sulli lah yang terakhir pergi. Ia menatap Krystal dengan senyuman lebar.

Untuk pertama kalinya setelah kejadian sore, Sehun mengenggam tangan Krystal. Krystal membiarkannya.

“Bagaimana dengan pesta mu?” Tanya Krystal lirih. Ia sekarang menatap Sehun.

Sehun merasa sangat lega ketika Krystal menatapnya. Senyumannya seketika mengembang, “Bosan.” Akunya. “Tidak ada dirimu.”

Krystal tersenyum pendek, “Benarkah? Meskipun ibu mu ada di situ?”

Sehun mengkerutkan keningnya, “Apa yang ibuku katakan Krystal? Maksudku, kau harus jujur kepadaku. Benar-benar jujur.”

Krystal tetap menatap Sehun, “Kalau aku jujur, apa yang akan dirimu lakukan kepada ibumu?”

“Apakah ibuku berkata sesuatu yang sangat buruk?”

Krystal menggeleng. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikan ekspresi kesedihannya.

“Kurasa aku benar.” Sahut Sehun tajam.

Krystal mengeratkan genggaman tangannya, “Dengar… Seperti yang aku bilang, aku tidak ingin kau bertengkar dengan ibumu hanya karena diriku. Itu tidak etis juga tidak membuat opini ibumu berubah terhadapku. Tentang tadi sore kita biarkan saja, Okay? Aku baik-baik saja, sungguh!” Melihat tatapan Sehun yang menjadi tajam Krystal menghela nafasnya, “Tentu aku bersedih tapi sekarang aku baik-baik saja. Lagipula karena kejadian itu aku sadar akan satu hal…”

Kalimat Krystal menggantung, Sehun menemukan dirinya bertanya-tanya apa yang Krystal ingin ucapkan.

“Aku tersadar jika aku mencintaimu karena kepribadian mu. Bukan karena kekayaan mu ataupun kepintaran mu ataupun jenis pekerjaan mu.”

Sehun menatap Krystal untuk beberapa saat. Krystal juga menatapnya dengan tatapan tersenyum.

Sebuah suara tepuk tangan mengembalikan kesadaran Sehun. Sehun dan Krystal sama-sama melihat ke depan. Belum bisa mencerna, tetapi Krystal tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya. Berjalan menjauhi Sehun menuju atas panggung. Kembali duduk di depan piano.

Sehun kemudian menyungingkan sebuah senyum. Menatap Krystal yang sedang memulai bermain piano. Aku juga mencintai mu karena kepribadian mu. Katanya dalam hati.

.TBC.

State of Grace (Chapter 20)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Sehun benar-benar menempati janjinya. Hampir semuanya. Sehun pergi memberi tahu orangtuanya dan mengabarkan ke pemilik apartment. Tetapi anak satu itu tidak mengajak Krystal untuk menghias apartment-nya. Ternyata, apartment-nya bukanlah apartment seperti biasa yang Krystal beli yang biasanya hanya tersedia ruangan kosong, hanya dapur dan kamar mandi yang diberi furniture. Apartment yang Sehun beli sudah dilengkapi oleh furniture, dari ruang tamu, ruang tidur, ruang keluarga, dan tentunya kamar mandi. Tidak ada lagi yang perlu di hias.

Krystal masih meamndang sekeliling ruang tamu Sehun.

“Bagaimana apartment-ku?” Sehun yang baru saja membawa beberapa kantong belanjaan berisi makanan menyadarkan Krystal dari lamunannya.

“Ini sama sekali tidak sederhana!” Krystal mengacak pinggangnya. “Kau berbohong kepadaku!”

Sehun terkekeh, “Aku tidak bilang ini sederhana. Aku bilang ini simple.”

“Dan ini tidak simple Sehun. Arsitektur apartment ini sangat mengagumkan!”

“Baiklah Nyonya Oh. Hentikan kemarahanmu okay?”

Krystal mendengus.

Sehun kembali tersenyum, “Kita tidak punya waktu yang banyak. Teman-temanku akan datang pukul lima sore. Sekarang, waktu telah menunjukan pukul setengah lima.”

Satu lagi, saat pertama kali menunjukan apartment ke Krystal, pada saat jam satu siang, Saat itu Krystal tidak bisa berkata apa-apa melihat apartment Sehun. Katakanlah ia bodoh karena berpikir jika apartment Sehun hanya terdiri dari ruangan kosong bercat putih. Sehun mengatakan jika ia ingin mengundang teman-temannya seperti Kang Seulgi dan Kai Kim untuk merayakan keberhasilan ia mendapatkan pekerjaan. Krystal mangut-mangut saja. Untuk apa juga ia melarangnya? Akhirnya mereka memutuskan untuk membeli piring kertas dan gelas plastik tetapi berakhir membeli beberapa bahan makanan seperti telur dan roti.

Krystal ingin mengangkat salah satu kantong belanjaan tetapi dengan cepat Sehun membawanya duluan. Mereka akhirnya menyusun bahan makanan dalam kulkas.

“Tadi dirimu berencana untuk membeli pizza bukan?” Krystal bertanya disela-sela ia menyusun buah-buahan.

“Oh, ya benar.” Sehun kemudian menghentikan pekerjaannya, “Tunggu, aku akan memesannya.” Sehun mengambil handphone-nya dan memesan.

Kira-kira sepuluh menit kemudian, Sehun kembali membantu Krystal.

“Aku tidak percaya menyetujui usulanmu.” Keluh Sehun ketika ia mengeluarkan beberapa balon dan perelengkapan pesta.

“Bukannya dirimu sendiri yang mengatakan ingin mempunyai latar yang bagus untuk berfoto? stand photo booth merupakan ide yang bagus!”

“Aku benci balon!” Sehun membuka balon-balon huruf yang tadi mereka beli. Tak lupa mengambil pompa untuk balon yang baru saja ia beli. “Balon adalah benda yang mengerikan! Apalagi ketika meledak!”

Krystal tertawa, “Astaga! Baru kali ini aku melihat laki-laki takut pada balon yang meledak!”

“Krystal….” Sehun menatap Krystal dengan memelas. Ia baru saja memompa balonnya dan balonnya terlihat sedikit terisi.

Krystal menghentikan tawanya dan berjalan menuju Sehun, “Biar aku saja yang memompa balonnya!”

Sehun sendiri kemudian hanya melihati Krystal memompa balonnnya. Kemudian melihat dengan horror balon yang membelendung. Ia pun terpaksa memegang balon ketika Krystal menyuruhnya untuk menempel di dinding. Bagaimanapun juga, rasanya aneh bagi Sehun jika Krystal harus memanjat untuk menempelkan balon huruf.

Ting tong~

Bel apartment Sehun berbunyi.

“Mungkin pizza.” Gumam Sehun. Tangannya masih sibuk menempel balon huruf.

“Serahkan pada ku!” Kata Krystal. Ia segera berjalan menjauhi Sehun yang saat itu berada di ruangan yang bisa disebut ruang keluarga, dengan adanya tv beserta home-theatre.

Cklek~

Tangan Krystal dengan santai membuka pintu.

“Sangjangnim?!”

.

.

.

.

.

Tifanny terperangah untuk beberapa saat ketika Krystal membuka pintunya. Ia mengeluarkan senyuman sinis, “Jadi benar jika kau berpacaran dengan Sehun?”

“Sangjangnim….” Krystal tidak bisa menemukan kata-katanya yang tepat.

“Kau kenapa berada di apartment anak ku?”

Krystal masih terdiam.

“Kau sadar apa yang menjadi penghalang dirimu dan Sehun?”

…..

“Dan kau masih berani untuk menentangnya?”

…..

“Krystal Jung, aku bertanya kepadamu! Kenapa kau bisa berada di apartment Sehun?!”
“Sangjangnim aku…”

“Aku tidak punya waktu banyak. Katakan alasanmu sebelum semua orang melihat kita!”

“Sangjangnim tunggu sebentar aku-“

Tifanny kembali memotong, “Kau tidak pantas berdiri di dekat Sehun. Anak ku… Anak ku bisa mendapat yang lebih baik daripada mu! Bukan hanya masalah ekonomi, masalah pendidikan pun kau jauh dibawah dia. Jadi untuk menyelamatkan harga dirimu, itupun jika masih ada, kuharap kau bisa pergi secepatnya dari apartment Sehun. Sebelum beberapa orang yang ku undang datang untuk merayakan kesuksesan Sehun.”

Nafas Krystal tercekat. Oksigen terasa menipis di sekitarnya. Udara tergantikan oleh kata-kata tajam Tifanny. Kakinya terasa tidak berpijak sangking ia merasa sangat malu, mengambang di tengah ketakutannya.

“Krys, siapa yang datang?” Sehun dengan santai jalan menuju Krystal. Melihat ibunya, ia langsung terkesiap keras, “Mom…”

“Sehun, apa yang ia lakukan disini?” Tanya Tifanny tidak mengindahkan air muka Sehun yang terkejut.

“Apa yang Mom lakukan disini?” Tanya Sehun balik.

“Mom ingin datang ke apartment mu. Tidak boleh? Yang harus dipertanyakan seharusnya dia!” Tifanny menunjuk ke arah Krystal, “Kenapa dia bisa berada disini? Dia seharusnya tidak pernah sedikitpun berada di dekatmu Sehun-ah!”

Sehun merasakan amarahnya naik. Ia ingin membalas ibunya dengan nada tinggi saat itu. Hampir. Jika saja ia tidak melihat Krystal tiba-tiba mundur, mengambil tasnya dan jaketnya kemudian keluar dari apartment Sehun.

“Sehun!” Panggil Tifanny ketika Sehun ikut mengejar Krystal.

Krystal berlari kecil, berharap bisa menghilang dari gedung ini secepatnya.

Grab!


Sehun berhasil memegang tangan Krystal. Dalam satu hentakan, dia berhasil membuat Krystal menghadapnya.

“Tunggu kumohon….” Kata Sehun lirih.

Krystal menundukan kepalanya. Ia tidak sanggup. Ia ingin menangis.

“Krys, mengenai tadi…” Lanjut Sehun dengan suara gugup bercampur panik.

Krystal mendongakan kepalanya. Menatap Lembut Sehun. Dengan sigap, ia mengenggam kedua tangan Sehun, “Aku mengerti.”

“Mengerti apa? Apa yang ibuku katakan kepada mu? Katakanlah kepada ku!”

“Sehun…” Ucap Krystal tenang. “Aku mengerti mengapa ibu mu datang ke apartment mu. Ia ingin merayakan keberhasilanmu. Dia sama sekali tidak melakukan hal yang salah…”

“Krystal…” Seru Sehun frustasi. “Astaga, jangan seperti ini… Ayo kita hadapi ibu ku bersama-sama. Jangan lari dari kenyataan.”

“Aku tidak ingin kau menghardik ibu mu. Ataupun kau memaki ibu mu. Ibu mu benar walau kenyataannya memang menyakitkan. Kehadiranku memang masih harus dipertanyakan….”

Sehun terdiam. Jangan! Jangan! Serunya dalam hati. Jangan! Dia tidak ingin ini menjadi akhir hubungannya dengan Krystal.

“Berjanjilah kepada ku satu hal…” Cengkraman tangan Sehun semakin kencang ketika Krystal berkata seperti itu, “Kita akan bertemu lagi setelah kau merayakan keberhasilan mu okay? Sekarang, kau harus merayakannya bersama ibumu dan teman-teman mu. Setelah itu… Setelah itu kita akan bertemu lagi…”

Ting~

Pintu lift terbuka. Krystal dan Sehun menoleh dan mereka terkejut satu sama lain. Wendy, Seulgi, Kai dan beberapa orang yang tidak Krystal kenali berada di lift itu. Sama seperti Sehun dan Krystal, mereka juga terkejut dengan pemandangan di depan mereka.

Krystal cepat-cepat melepaskan genggamannya. Sehun sendiri berusaha untuk tidak meraih kembali tangan Krystal. Krystal tersenyum lembut ke Sehun sebelum berbalik, berjalan menuju Lift.

“Anyeonghseyo….” Sapa Krystal kepada orang-orang yang keluar dari lift. Mereka terihat membalas sapaan Krystal dengan canggung.

Krystal kembali tersenyum ke Sehun sebelum pintu lift tertutup rapat.

.

.

.

.

.

Acara perayaan Sehun sukses. Semuanya berbahagia, kecuali Sehun tentunya. Dari makanan yang ia sediakan sampai stand photobooth yang Sehun dan Krystal buat sendiri berhasil menghidupkan suasana. Beberapa teman-temannya sudah mengundurukan diri. Pastinya yang lain akan menyusul mengingat waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Hanya Kai yang tidak akan pulang karena Sehun menyuruhnya untuk tinggal menjaga rumah. Sehabis ini, Sehun berencana akan bertemu Krystal langsung tanpa menunggu hari esok. Kejadian tadi sungguh menyiksanya. Apa yang ibunya katakan hingga Krystal mundur teratur seperti itu? Ia ingin tahu. Ia ingin merasakan apa yang Krystal rasakan.

“Oh Sehun!”

Suara akrab dari belakangnya membuat ia menoleh, “Do Kyungsoo!” Balasnya.

“Kau kelihatan sedikit depresi teman! Di pinggiran balkon menghadap ke jalan raya. Well, apapun itu ku ucapkan selamat atas prestasi membanggakan mu. Tapi aku harus pulang.”

Sehun dan Kyungsoo berbincang-bincang sebentar.

“Aku tidak melihat Chanyeol.” Kata Sehun menyadari hanya ada Kyungsoo dan Yixing.

Kyungsoo tertawa canggung, “Chanyeol ada acara. Dia menyampaikan maaf tidak bisa datang.”

Sehun menganggukan kepalanya, “Oh, tentu tidak apa-apa. Baiklah teman, sampai berjumpa lagi…”

Setelah kepergian Kyungsoo, beberapa orang juga ikut mengundurkan diri.

“Hey, sepupu!” Sapa Seulgi ceria.

Sehun hanya tersenyum kecil menanggapinya.

“Baiklah….” Kata Seulgi mengerti jika Sehun tidak ingin diganggu. “Tapi aku penasaran! Apa yang terjadi dengan Krystal? Kupikir kau ingin merayakan dengan dia bukan dengan dia….” Arah pandang Seulgi menunjuk ke Wendy yang sedang berbincang-bincang dengan Jimin.

“Rencananya begitu hingga ibuku datang dan menghardik Krystal…”

“Astaga… Jadi kau tadi putus dengan Krystal?”

Sehun mendesah, “Tidak. Tapi dia ingin aku tidak mengejarnya dan mengikuti pesta ini…”

“Itu artinya kau harus mengejarnya!”

“Aku tahu!” Desis Sehun tajam. “Tapi dia membuatku berjanji untuk menikmati pesta ini. Walaupun begitu aku akan datang kepadanya ketika acara sialan ini berakhir. Makanya kau cepat pulang sana!”

Secercah senyum tiba-tiba terukir di bibir tipis Seulgi, “Kurasa aku dapat ide bagus agar dirimu bisa pergi dari sini!”

.

.

.

.

.

Sehun mengendari mobilnya dengan cepat. Melintasi kota Seoul yang tidak terlalu ramai. Tujuan utamanya ke Café f(x). Berharap Krystal ada di situ untuk menghibur dirinya, berada di tengah-tengah orang yang ia sayangi.

Cklek!
Sehun segera membuka pintu mobilnya dan berlari memasuki Café f(x). Jantungnya kembang-kempis dan ia merasa membutuhkan lebih banyak oksigen. Setelah ia rasa nafasnya kembali normal, segera saja ia mengantri. Tidak enak tiba-tiba memotong dan berbicar langsung ke Luna.

“Selamat malam Sehun…..” Sapa Luna ceria.

“Selamat malam!” Balas Sehun. Berusaha agar terdengar ceria.

“Sebuah kejutan yang menyenangkan! Apa yang ingin Anda pesan?”

Sehun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Sebenarnya…. Sebenarnya ini ada sangkut pautnya dengan Krystal.”

“Bora-ssi, tolong gantikan aku!” Setelah berkata seperti itu Luna kembai menghadap ke Sehun, “Kau, tolong ikuti aku!”

Sehun pun bingung. Tetapi Luna mengatakan hal yang sama sekali lagi membuat ia akhirnya mengikuti Luna. Luna mengajak Sehun kebelakang dapur. Melintasi dapur dimana para Chef sibuk memasak.

Trek~

Dia membuka sebuah pintu, “Tunggu disini sebentar.” Katanya kemudian masuk kedalam ruangan. Sekitar lima menit berada di sana, Luna akhirnya keluar, “Silahkan masuk…”

Sehun benar-benar seperti orang bodoh. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Mungkinkah diruangan itu ada Krystal? Ia memasukinya dengan perlahan.

Dan…………..Bahunya melesak ketika melihat orang yang di dalam. Victoria bukan Krystal.

“Sehun-ssi, selamat datang di ruanganku…” Sapa Victoria.

Sehun membungkukan badannya.

“Silahkan duduk…”

Sehun kemudian duduk di kursi Victoria. “Aku…” Sehun membuka pembicaraan. “Aku kesini untuk mencari Krystal…”

Mata Victoria melebar, “Aku tahu ada yang salah pada hari ini!”

“Maksudmu?”

Victoria menghela nafasnya, “Teman dekat Krystal adalah Amber. Amber adalah orang yang menemaninya dari panti asuhan hingga mereka sama-sama di adopsi. Tetapi Amber terkadang overprotective terhadap Krystal, itu membuatnya tidak bisa terlalu gerak bebas. Sulli juga teman dekatnya. Bersama Sulli mereka suka melakukan hal-hal aneh yang tentunya tidak bisa ia lakukan ketika bersama Amber, termasuk dalam urusan patah hati.

Krystal tadi menelepon Sulli. Sebenarnya hal itu adalah hal yang wajar. Tetapi Luna tidak sengaja mendengar percakapan mereka, mereka merencanankan sesuatu, ke tempat yang tidak akan dirimu jangkau. Luna tahu jika Krystal sedang patah hati, dia menyimpulkan dari arah pembicaraan mereka.”

“Aku tidak…” Sehun terdiam sebentar. Ia menghela nafas, “Dengar… Aku rasa aku membuat ia patah hati. Tapi aku tidak bermaksud seperti itu. Ini semua di luar rencana. Seharusnya hari ini kami bersenang-senang.”

“Kau rasa?”

“Ibu ku datang ke apartment-ku. Krystal yang membukakan pintunya. Ibuku dan Krystal tidak mempunyai hubungan yang baik dan kurasa ibuku mengatakan hal-hal yang tidak pantas pada Krystal jadi….”

Victoria menganggukan kepalanya. Sehun tidak yakin dia mengerti, Victoria seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Victoria sunbaenim-“

Noona… Panggil saja aku Noona.” Potong Victoria

“Victoria Noona, anda tahu dimana Krystal dan Sulli?”

Victoria menggeleng.

Apa-apaaan itu? Sehun berusaha untuk tetap tenang. Walau kekesalan sudah berada di puncak. Jadi buat apa ia kesini dan menceritakan kepada Victoria jika Victoria sendiri tidak tahu?

Merasakan handphone-nya bergetar, Sehun segera mengambil handphone-nya. Ia permisi sebentar kepada Victoria untuk mengangkat handphone-nya.

Anyeonghaseyo…” Sapa Sehun asal-asalan.

Hai, teman ini aku!” Suara bass khas Chanyeol terdengar jelas.

“Aku tahu…” Jawab Sehun pendek.

Ada yang ingin ku sampaikan kepada mu…”

“Kalau soal dirimu yang tidak datang tenang saja…”

“Bukan! Ini tentang Krystal!”

Sehun langsung mencengkram handphone-nya, “Kau tahu dimana dia? Kau melihatnya?”

Terdengar suara tawa dari ujung sana, “Aku tahu kau pasti akan tertarik…”

“Cepat katakan dimana dia!” Seru Sehun geram.

“Tenang teman…. Dia ada di Café teman ku. Temanku baru membuka Café dan ia mengundangku untuk bernyanyi. Krystal disitu dengan seorang gadis cantik. Hey, kau tahu nama gadis cantik tersebut?”

Sehun memutar bola matanya, “Choi Sulli dan dia mantan pacarnya Kai. Sekarang dimana Krystal?”

“Oh benarkah? Sayang sekali. Sepertinya aneh jika aku mendekati Sulli…”

“Chanyeol….”

“Baiklah….. Di Café Italiana by Lee Jinki. Aku akan mengirimkan alamatnya kepada mu!”

Setelah itu Chanyeol memutuskan teleponnya. Sehun menatap Victoria, “Noona tahu Café bernama Italiana by Lee Jinki?”

Mata Victoria membesar, “Mereka disitu?” Ia mengangguk, “Tentu aku tahu. Itu Café temanku. Hari ini adalah Soft Openingnya. Mereka mengundangku, tetapi aku tidak bisa datang karena hari ini aku baru pulang dari Osaka.”

“Baiklah… Kalau begitu aku permisi dulu Noona….”

“Tunggu…”

Langkah Sehun terhenti, ia kembali menghadap Victoria.

Victoria sendiri terlihat membuka laci mejanya dan mencar-cari sesuatu, “Ini…” Katanya mengasih kupon. “Aku baru ingat jika pada Soft Opening hanya orang-orang yang mempunyai kupon ini yang bisa masuk….”

Sehun menerima kupon dari Victoria, “Terimakasih Noona…”

.TBC.

Runaway (Chapter 3)

seasonal-florist1

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Taemin segera berbalik dengan senyum lebarnya, “Oemma ayo berkenalan dengan Min Seongsangnim!”

Sulli langsung tersenyum excited . Akhirnya rasa penasaran terjawab.

Dengan pelan, orang yang dipanggil Min Seongsangnim berdiri.

“Minho?!” Gumam Sulli tanpa sadar.

.

.

.

.

.

Hati Minho tidak bisa berhenti berdebar ketika ia memasuki sebuah TK yang sekarang menjadi tempat ia bekerja selama beberapa bulan kedepan. Ia mengutuk dirinya. Ia sudah terbiasa berbicara di depan orang-orang penting di dunia melukis. Minho biasa saja. Tapi kali ini, ketika ia mengenalkan dirinya untuk pertama kalinya di depan anak kecil berumur tak lebih tujuh tahun beberapa hari yang lalu, Minho sangat gugup dan kikuk. Ia memaksakan sebuah senyuman kepada murid-muridnya. Berharap sambutannya cukup hangat.

Min Seongsangnim!

Minho segera menoleh ke asal suara dengan senyuman lebarnya. Terlihat Taemin berjalan mendekati dirinya. Taemin baru saja datang.

“Taemin hari ini datang sangat pagi.” Kata Minho ketika Taemin sampai di depannya.

Taemin terkekeh kecil, “Taemin tidak ingin terlambat di pelajaran pertama. Pelajaran memasak. Pernah sekali Taemin terlambat, Taemin gak dikasih makan. Menyebalkan!” Taemin bercerita khas anak umur lima tahun. Hal itu membuat Minho gemas dan mencubit pipinya.

“Min Seongsangnim sendiri kenapa datangnya pagi-pagi?”

Satu hal yang Minho sadari dengan Taemin adalah dia sangat susah di atur. Bermain semaunya. Suka mencoret-coret apa saja. Makannya banyak hingga mengambil jatah orang lain. Hingga menyebut nama guru juga terserah dirinya. Contohnya saja dengan Minho. Jika murid-murid memanggil Minho dengan Choi Seongsangnim, Taemin memanggil Minho dengan Min Seongsangnim. Hal itu juga kepada hampir semua guru termasuk kepala sekolah yang dipanggilnya ‘Seongsangnim berkaca mata!’ Rasanya Minho ingin tertawa terbahak-bahak ketika mendengar Taemin berkata seperti itu, tapi ia tahan karena ia berada tepat di depan kepala sekolah. Kepala sekolah terlihat sudah sangat pasrah dengan panggilan Taemin.

“Minho seongsangnim harus menyiapkan peralatan untuk pelajaran pertama.” Jawab Minho. Taemin menganggukan kepalanya.

Sejujurnya, Minho sangat senang berada di dekat Taemin. Dia sangat senang mengetahui segalanya tentang Taemin.

“Taemin tidak ke kelas?”

Taemin terlihat berpikir, “Kelas masih sunyi. Taemin takut. Taemin benci kesunyian.”
“Seperti Oemma Taemin?”

“Bagaimana Min Seongsangnim tahu Oemma tidak suka kesunyian?”

Minho berdehem menghilangkan kegugupannya, “Bagaimana jika Taemin mengikuti Min Seongsangnim menyiapkan peralatan? Nanti ketika sudah ramai baru Taemin ke kelas?”

Taemin menganggukan kepalanya.

.

.

.

.

 

“Min Seongsangnim sudah siap untuk pelajaran pertama?”

Minho menoleh ketika ia menaruh lima warna cat akrilik di meja paling depan, satu-satunya meja yang belum ia taruh. “Iya. Taemin belum mau balik ke kelas?”

Taemin menggeleng, “Nanti saja… Pasti masih sepi…” Katanya dengan suara lusuh.

“Taemin tidak ingin bermain?” Tanya Minho lagi.

Taemin kembali menggeleng, “Tidak ada teman-teman, tidak asik.”

Minho menghela nafasnya, “Jadi Taemin mau apa?”
“Di sini..”

Minho hanya bisa menganggukan kepalanya, “Baiklah. Tapi jangan membuat berantakan okay?”

Taemin menanggukan kepalanya, “Min Seongsangnim ada kerjaan lagi?”

Minho menggelengkan kepalanya, “Kenapa?”

“Min Seongsangnim ingin menceritakan sesuatu? Taemin mengantuk. Kalau Taemin mendengarkan cerita seseorang ketik mengantuk, rasa kantuknya hilang. Min Seongsangnim ingin bercerita?”

Minho terlihat berpikir sejenak, “Tentang apa?”

“Apa saja.”

“Kalau Min Seongsangnim bertanya kepada Taemin tidak apa-apa?”

“Boleh. Tentang apa?”

“Kenapa nama Taemin itu Taemin?”

Taemin mengkertukan keningnya, “Kenapa? Kata Oemma nama Taemin itu penggabungan dua kata. Tae dan Min. Tae adalah nama yang diberi dari Appa. Itu berasal dari nama nenek, Tae-Yeon. Kalo Min itu dari Oemma. Tapi Taemin gak tahu kenpaa Oemma memberi kata itu. Oemma hanya bilang jika itu kata yang sangat special nantinya bagi Taemin.”
Minho tertegun mendengar perkataan Taemin. Kata yang sangat special? Min…. Minho?

“Min Seongsangnim!”

Teriakan Taemin menyadarkan Minho dari lamunanya,

“Kalau Min Seongnim, kenapa Taemin memanggil Min Seongsangnim bukan Choi Seongsangnim?”

Taemin tersenyum, “Karena cuman Taemin yang manggilnya seperti itu. Jadi setiap kali Taemin memanggil Min Seongsangnim, Min Seongsangnim akan tahu yang memanggil itu adalah Taemin!”

.

.

.

.

.

Minho menggumamkan terimakasih ketika Yoo Seongsangnim, salah satu guru di TK memberikan secangkir kopi kepada Minho.

“Hari yang berat?” Suara lembutnya menelisik telinga Minho.

“Lumayan.” Kata Minho dan mulai menyesap kopi.

“Jangan lupa mengisi form penilaian.”

Minho menganggukan kepalanya. “Mengajar di kelas mana lagi?”
Yoo Seongsangnim melihat jadwal mengajarnya, “Kelas Taemin.”

“Taemin?”

“Uhm!” Kata Yoo Seongsangnim dengan antusias. “Kau pasti mengenal Taemin bukan? Ku dengar kau akrab dengan Taemin. Bagaimana bisa? Aku saja tidak bisa mengatur dirinya.”

Minho menggelengkan kepalanya, “Entahlah. Kurasa dia anak yang baik dan imut.”

“Dia memang imut.” Kemudian terdengar helaan nafas, “Tetapi kalau nakalnya mulai… Ngomong-ngomong, tadi pagi aku melihat dirimu dengan Taemin.”

“Oh, dia datang terlalu pagi dan takut ke kelasnya karena masih terlalu sunyi, akhirnya ia ke kelasku.”
“Ke kelasmu?”

“Iya. Melihat diriku bersiap-siap untuk pelajaran pertama.”
“Dan dia hanya melihat? Tidak berbuat apa-apa?”

Minho mengangguk.

Terdengar helaan nafas, “Dia memang selalu baik kepada guru melukis. Jiwanya memang seni melukis sih…Tapi aku berharap jika ia juga sedikit rajin menulis. Dia sama sekali tidak takut ketika aku memarahinya karena tidak mau menulis. Padahal, sebelumnya-“

“Kau tidak ke kelas?” Minho memotong ucapan Yoo Seongsangnim. “Sebentar lagi bel berbunyi.”

“Ya, ampun. Kurasa aku harus cepat-cepat ke kelas. Terimakasih sudah mengingatkanku!”

.

.

.

.

.

“Taemin, ini sudah waktunya pulang. Ayo pulang! Bukannya hari ini Oemma pulang? Taemin tidak ingin melihat Oemma?” Song Seongsangim berusaha membujuk Taemin.

“Taemin ingin maiinnn!!!!!” Teriak Taemin kesal.

“Kok gitu sih?” Tanya Song Seongsangnim dengan nada sedikit tinggi, “Kalau Taemin gak pulang sekarang Song Seongsangnim kasih tugas menghitung. Dua puluh nomor di halaman 15!”
“Gak peduli! Taemin gak peduli! Tadi guru-guru yang lain sudah ngasih tugas. Membaca halaman 16 sebanyak dua lembar, nulis di halaman 17, menghafalkan 5 lagu, bahasa Inggris halaman 18. Sekarang, berhitung halaman 15.”

Terdengar helaan nafas dari guru-guru yang tak jauh dari Taemin dan Song Seongsangnim.

“Ku rasa jika diberi semua tugas mata pelajaran juga ia tidak ingin beranjak.” Keluh Yoo Seongsangnim.

“Choi Seongsangnim, kau ingin mencoba membujuk Taemin?” Tanya Shim Seongsangnim.

Minho tidak berkata apa-apa, tetapi ia sudah melangkah mendekati Taemin. Song Seongsangnim yang menyadari keberadaan Minho menghela nafasnya, “Syukurlah kau datang…” Ia segera berbalik dan menjauh dari Taemin.

“Taemin tidak ingin pulang?” Suara lembut Choi Minho membuat Taemin menatapnya.
“Tidak!” Seru Taemin galak. “Taemin mau pulang jika Oemma menjemput Taemin di sini!!!”
Minho menghela nafasnya. Memutar otaknya agar dapat memberi alasan yang bagus, “Tapikan orangtua menunggunya di depan tidak boleh menunggu ke dalam. Oemma Taemin pasti menunggu Taemin di luar.”

“Taemin tetap tidak peduli! Taemin mau di jemput di sini sama Oemma…” Taemin tetap galak, tetapi di akhir kalimat air matanya menetes.

“Taemin kenapa?” Minho khawatir. Ia mendekatkan dirinya ke Taemin, berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Taemin.

“Taemin mau main sama Oemma. Kalau Taemin pulang sekarang, Oemma pasti langsung bawa Taemin pulang. Taemin gak mau.”

Hati Minho mencelos mendengar jawaban Taemin, “Oemma orang yang baik bukan?” Tanya Minho dengan suara rendah.

Taemin segera mengangguk, “Oemma baik sekali. Cantik. Senyumnya juga menawan. Oemma selalu melindungi Taemin kalau Appa marah.”

Oemma selalu mendengarkan perkataan Taemin?”

“Iya. Selalu.”

“Jadi, kalau Taemin bilang Taemin ingin main dengan Oemma, Oemma yang baik, cantik, punya senyum menawan, dan selalu mendengar perkataan Taemin akan menolak ketika Taemin berkata seperti itu?”

Taemin terlihat berpikir, “Benar juga ya…” Sebuah senyuman kemudian timbul, “Baiklah. Taemin akan pulang!” Taemin kemudian berlari menuju kelasnya.

Para guru-guru menghela nafasnya.
“Kerja yang bagus Minho Seongsangnim!

Entah mengapa, perasaan hangat mengalir ketika salah satu rekan kerjanya-Shim Changmin yang juga mengajar disitu berkata seperti itu kepadanya. Minho merasa bangga ketika orang memanggilnya Minho Seongsangnim. Sangat bangga.

Minho hanya menganggukan kepalanya. Beberapa guru-guru sudah banyak yang bubar. Bersiap-siap untuk pulang. Minho juga begitu. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang guru. Merapihkan barang-barangnya.

“Min Seongsangnim!!!

Semua orang disitu tersentak hebat ketika Taemin memasuki ruang guru, tak terkecuali Minho.

“Ada apa Taemin?”

Taemin tidak menjawab. Tangan kecilnya menarik badan Minho. Dengan kebingungan, Minho mengikuti langkah Taemin.

“Ada apa Taemin?” Tanya Minho sekali lagi ketika mereka sudah keluar dari ruang guru.

“Taemin ingin Min Seongsangnim bertemu Oemma!”
“Apa?!” Minho tidak dapat menutupi keterkejutannya.
“Ayo!! Sekarang!!!” Sepertinya Taemin tidak dapat mendengar perkataan Taemin karena ia sekarang berlari menuju pintu keluar. Beberapa detik kemudian Taemin menghilang dari pandangan Minho.

Minho menggeluarkan nafasnya yang sedari tadi ia tahan. Taemin ingin ia bertemu dengan…. Sepertinya Minho terlalu cepat lega. Taemin kembali datang dengan berlari-lari kecil.

“Min Seongsangnim!!!”

“Ayo!!!”

Dua kalimat itu membuat keringat dingin Minho keluar, “Seongsangnim tidak bisa….” Jawab Minho apa adanya.

Ia memang tidak bisa. Tidak. Dia belum siap bertemu dengan Sulli. Dia belum siap melihat reaksi Sulli. Dia belum siap jika Sulli berpikir ia menjadi guru disini karena Taemin. Tidak. Dia belum siap.

“Tapi Taemin gak mau tahu!”

Minho berjongkok di hadapan Taemin, “Besok saja ya? Jangan sekarang. Minho Seongsangnim harus pulang sekarang.”

Nah, jawaban bodoh apa yang telah Minho berikan? Jawaban bodoh yang anak kecil bisa memberi jawaban yang lebih bagus dari pada hal itu. Tentu saja, Taemin menolaknya mentah-mentah. Bersikeras jika Minho harus bertemu dengan Oemma-nya.

“Taemin…” Suara lembut Sulli memecah keheningan lorong.

Minho lagi-lagi tersentak. Detak jantungnya menjadi tidak teratur.

Taemin segera berbalik dengan senyum lebarnya, “Oemma ayo berkenalan dengan Min Seongsangnim!”

Minho memejamkan matanya. Baiklah, ia tidak bisa mundur. Dengan pelan dan ragu, Minho berdiri. Menatap Sulli dan langsung melihat Sulli terkesiap keras. Min-ho…. Dua kata yang dapat Minho tangkap dari gerakan bibir Sulli. Perempuan itu juga tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

Anyeonghaseyo, Choi Minho imnida… Saya adalah salah satu guru Taemin…” Minho segera membungkukan badannya dan untuk kedua kalinya menatap mata Sulli.

Perempuan di depannya tidak lagi terkejut, tetapi masih tidak bersuara.

Minho menyunggingkan senyumnya. Menutupi kegugupannya. Ayolah… Sulli harus mulai bersuara sebelum ia terlihat seperti orang yang bodoh.

“Ah…” Akhirnya Sulli membuka mulutnya. “Senang bertemu dengan Anda.” Kata Sulli pendek dengan nada yang sama sekali tidak ramah. Sedikit ketus di dalamnya. “Terimakasih telah menjaga Taemin ketika saya pergi. Saya sangat menghargai hal itu.” Sulli kembali melanjutkan perkataannya dengan sorot mata menahan kegugupan. “Dia merasa sangat senang dan saya juga senang ada orang yang menjaganya.” Lanjutnya sebelum berbalik menghadap Taemin. Mengajak Taemin pulang.

.TBC.