Flipped (Chapter 19)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

KHIANAT

Lima bulan. Ya, lima bulan. Hari ini tepat lima bulan sejak Luhan dan Krystal memutuskan untuk pacaran. Krystal melihat hp-nya yang sudah dipenuhi oleh chat dari Luhan. Salah satunya berisi tentang hari jadi mereka. Hp Krystal kembali berdering. Tapi kali ini bukan sebuah chat yang masuk, melainkan sebuah telepon dari Luhan.

“Hallo…” Jawab Krystal dengan suara khas bangun tidur, menjawab telepon Luhan.

“Happy five month anniversary…”

Krystal tidak dapat menahan senyumannya ketika mendengar suara Luhan, “Happy five month anniversary too….” Balasnya ceria. Ia mulai bangkit dari tempat tidurnya.

“Apa yang ingin kau lakukan hari ini?”

“Ke kampus tentu saja. Aku pulang siang hari ini.”

“Baguslah…”

“Kenapa?”

“Aku akan mengajak mu ke suatu tempat sehabis pulang.”

“Makan?” Tanya Krystal main-main. Ia hanya bercanda. Luhan bukan tipikal orang yang suka pergi ke restaurant jika ingin merayakan sesuatu. Lima bulan bersama dan Luhan suka mengajak Krystal ke tempat sedikt aneh untuk merayakan hari jadi mereka. Seperti taman, museum, atau pernah ke perpustakaan umum. Aneh, tapi Krystal menyukainya.

“Aku akan selalu mengajak mu makan. Ke tempat lain. Rahasia.”

Krystal tertawa mendengar jawaban Luhan yang selalu mengajaknya ke tempat makan. Lucu? Salahkan dia yang terlalu receh. “Baiklah. Dimana kita akan bertemu?”

“Kau tahu aku akan selalu dimana menunggu mu. Sampai nanti Krystal Jung.”

Lagi-lagi, Krystal tidak dapat menahan senyuman dan gejolak hatinya, “Baiklah. Sampai nanti.” Setelah sambungan telepon terputus Krystal memejamkan matanya. Rasanya damai. Keputusannya untuk bersama Luhan sepertinya tidak buruk, bukan?

.

.

.

.

.

Seulgi menatap Krystal yang sangat bahagia hari ini. “Happy five month anniversary…” Kata Seulgi pada akhirnya.

Krystal menoleh dengan tatapan terkejut, “Bagaimana kau tahu jika hari ini adalah—“

“Tentu aku tahu.” Potong Seulgi. “Sudah berkali-kali kau bahagia seperti ini. Tentu lama kelamaan aku juga hafal tanggal jadian mu. Kemana dia akan mengajak mu?”

Seulgi adalah orang yang tahu segalanya. Segalanya tentang hubungan Krystal dan Luhan.

“Oh, entahlah. Dia merahasiakannya.” Kemudian Krystal tersenyum. “Dia pasti sudah menunggu di luar.”

Seulgi mengangguk-angguk malas. “Yang lagi bahagia-bahagianya…”

“Kau iri bukan?” Krystal menatap Seulgi jahil.
Seulgi mendengus, “Apa kau bilang?” Katanya dengan nada yang diusahakan galak. Ayolah… Dia tahu jika Krystal hanya bercanda. Lagipula dia bukanlah seorang jomblo ngenes. “Aku sudah punya pacar…”

“Aku tahu. Aku tahu.”

Tepat setelah Krystal berkata seperti itu, bel pulang berbunyi. Langsung saja Krystal dan Seulgi memasukan novel yang daritadi mereka baca. Dosen Kwan sedang tidak masuk dan mahasiswa yang lain malas mencari guru pengganti. Dosen satu itu sudah sering membuat ulah karena sering tidak masuk sehingga dosen-dosen yang lain menjadi malas menggantikan kelasnya. Daripada mahasiswa-mahasiswa mendengar curhatan dosen yang lain mengenai Dosen Kwan, lebih baik tidak usah. Toh, pada akhirnya Dosen Kwan akan memberi nilai yang bagus karena tidak ingin ribet.

Sambil berbicara Seulgi dan Krystal berjalan keluar. Mata Krystal langsung mencari dimana Luhan ketika ia baru saja keluar dari kelasnya.

“Kemana Luhan?” Seru Seulgi karena Luhan tidak ada di tempat biasanya, di depan kelas Krystal.

Tepat setelah itu, handphone Krystal kembali berdering.

.

.

.

.

.

Benar dugaan Krystal sedari awal. Perayaan mereka bukan di tempat romantis. Malah di tempat yang sangat-sangat Krystal benci, rumah sakit. Walaupun alasan dia berada disini bukan karena niat Luhan.

Luhan mengalami kecelakaan kecil saat sedang co-ass. Seorang pasien yang mabuk mendorongnya dan kepalanya terbentur dinding. Benar-benar suatu hal yang tidak di rencanakan. Untungnya keadaan laki-laki itu baik-baik saja. Bahkan sudah di bolehkan pulang dengan beberapa jahitan di kepalanya.

“Maafkan aku…” Kata Luhan setelah kepalanya selesai di jahit kepada Krystal. Krystal sedari tadi menunggui Luhan. Dari kepala laki-laki itu masih dibersihkan hingga dijahit seperti ini.

Krystal menghela nafas mendengar permintaan maaf Luhan. “Tidak apa-apa Luhan. Sungguh. Apa aku terlihat marah? Tidak bukan?”

“Tapi aku sudah berjanji.”

“Aku tahu. Tapi siapa yang akan menduga ini? Lagipula, sehabis ini kita bisa berjalan-jalan sebentar dan baru pulang. Rencana mu belum sepenuhnya hancur.”

“Astaga…” Luhan menghela nafas lega. “Kukira kau akan menyuruhku pulang ke rumah dan berisitirahat sedangkan aku ingin mengajak mu jalan-jalan.”

Krystal tertawa mendengar hal itu. Satu hal yang ia suka mengenai Luhan adalah bagaimana laki-laki itu menjaga perasaannya dengan sangat baik.

“Tentu saja tidak.” Jawab Krystal. “Dokter tadi bilang jika keadaan mu baik-baik saja. Apa aku salah?”

“Tidak.” Luhan kemudian bangkit, “Aku akan mengurus izin untuk besok. Ingin tunggu di kantin? Biasanya ini memakan waktu setengah jam.”

Krystal dengan senang hati mengiyakan permintaan Luhan. Bagaimanapun juga perutnya sudah meminta jatah. Ia langsung berjalan menuju kantin yang terletak di sisi utara rumah sakit.

Dentingan bel terdengar ketika Krystal memasuki café. Penjaga kantin yang menggunakan seragam suster menyapanya dengan ramah.

“Aku pesan nasi goreng kimchi.” Kata Krystal yang langsung dicatat oleh penjaga kantin ber-name tag Park Hyein. “Minumnya ice lemon tea.”

Ketika Krystal ingin berbalik, terdapat seorang perempuan di belakangnya. Perempuan tersebut sangat cantik. Rambutnya tergerai dan dia menggunakan atasan yang sedikit terbuka, menurut Krystal. Memperlihatkan bahunya yang indah. Perempuan tersebut melihat ke arah Krystal dan tersenyum kecil. Krystal membalas senyuman perempuan itu. Baru setelah itu ia memutuskan untuk duduk di bangku yang terletak di sebelah jendela. Hanya tempat parkir sebagai pemandangannya, tetapi Krystal menyukainya.

“Aku pesan nasi gorengnya satu dan nasi tim. Untuk minumannya satu teh hangat dan satu lagi milkshake strawberry.” Suara perempuan tadi terdengar dengan jelas. Suasana kantin yang sepi dengan beberapa orang membuat apapun terdengar dengan jelas.

DB3Nl1pVoAAGfOG

Krystal yang sedang memandangi mobil lewat langsung menoleh ke pintu ketika terdengar bunyi dentingan. Dia pikir itu adalah Luhan. Tapi melihat siapa yang datang, ia langsung terkesiap keras.

Laki-laki itu menggunakan pakaian bewarna hitam dengan celana jeans. Wajahnya terlihat pucat dan kantung mata dengan jelas tercetak di wajahnya.

“Sehun!” Panggilan dari seseorang membuat Sehun datang mendekat. Krystal sama sekali belum bisa melepaskan pandangannya mengikuti arah gerak Sehun.

Ketika melihat bersama siapa Sehun duduk, ia langsung mengepalkan kedua tangannya hingga jari-jemarinya memutih. Sehun duduk bersama perempuan yang tadi tersenyum ke Krystal. Bersusah payah mengalihkan pandangannya kembali menuju mobil. Krystal menegukan ludah. Bersamaan dengan detak jantungnya yang berdebar keras.

“Aku sudah memesankanmu nasi tim. Kuharap kau suka.” Suara perempuan terdengar kembali.
“Oh, tentu Irene-ah. Tidak usah repot-repot. Kau sudah cukup bersusah payah menemaniku berobat.” Suara berat itu terdengar. Krystal semakin menahan nafasnya.

Rasanya, ia ingin tuli saat itu juga agar ia tidak dapat mendengar percakapan dua orang tersebut. Apalagi saat mendengar suara Sehun kepada perempuan itu.

He’s so care to her. Itu terlihat dari kata-kata yang Sehun ucapkan. And she’s also care to him. Perempuan tersebut-Irene- juga sama perdulinya dengan Sehun. Dia sangat santai membalas pernyataan Sehun yang sedikit keberatan dengan perlakuan Irene.

Unfortunately, he even doesn’t relize there’s you in here, Krystal Jung. Krystal berusaha tidak melihat Sehun lagi sehabis itu dan pura-pura sibuk menatap ke arah jendela.

.

.

.

.

.

Krystal merasa mengkhianati Luhan. Bagaimana dia masih bisa memiliki perasaan suka ke Sehun? Dia tidak menikmati sisa harinya setelah kejadian di café rumah sakit. Dia tersenyum dan tertawa kepada Luhan, tapi dia tidak bisa mengeyahkan kejadian café dalam pikirannya.

Krystal mencoba memejamkan matanya untuk tidur. Tetapi malah berbagai pikiran menyergapinya. Ia mendsah keras akibat kepalanya yang pusing. Segera saja ia mengambil handphone-nya dan menelepon Seulgi.

Halo…” Jawab Seulgi di dering pertama. Nada suaranya belum terdengar mengantuk sama sekali. Mungkin teman dekatnya sedang menonton drama marathon.

“Seulgi…” Ucap Krystal lirih. “Apa aku menganggu mu?”

“Mendengar suara mu sepertinya kau sedang butuh bantuan ku. Ada apa?”

Krystal menarik nafasnya lalu mulai bercerita. Mengenai hari ini yang dicapnya gagal karena bertemu dengan Sehun. Ia menceritakan semua detail. Untuk apa ia datang ke rumah sakit, saat kejadian di café, dan bagaimana perasaannya.

Ku rasa kau sudah harus memutuskannya dari sekarang.” Gumam Seulgi ketika Krystal sudah selesai bercerita.
“Memutuskan?”

“Ya. Memutuskan untuk apa kau berpacaran dengan Luhan. Sebagai pelampiasan Sehun atau hal lainnya.”
“Tentu saja bukan sebagai pelampiasan!” Gerutu Krystal mendadak kesal mendengar Seulgi. “Aku benar-benar ingin serius dengan Luhan.”

“Aku tahu… Jika kau ingin serius maka jangan mudah goyah Krystal Jung. Sekarang kau mempunyai seseorang yang sangat mencintai mu. Apakah kau ingin mencampakkannya demi seseorang yang tidak pernah melihat mu?”

“Rasanya sangat sulit untuk melepaskannya.” Kata Krystal lirih. Matanya terpejam beriringan dengan detak jantungnya yang meningkat, “Aku terkadang membenci diriku yang lembek di hadapan Sehun.”

“Kau mencintai Sehun dalam waktu yang sangat lama. Wajar jika kau tidak bisa melupakannya dengan cepat. Kau ingin saran ku?”

“Tentu.”

“Bandingkan lah keadaan mu dulu ketika mengejar Sehun dibandingkan sekarang, ketika kau mengejar Luhan. Jika kau ingin merasakan sakitnya mengejar Sehun mungkin kau bisa mengingat detail-detail kecil dengan membaca buku diary mu.”

Dahi Krystal mengerut, buku diary nya? Kemana bukunya itu?

.

.

.

.

.

Berbicara mengenai buku diary-nya, Krystal sama sekali belum menemukan buku itu.   Entah dimana buku itu. Gadis tersebut bahkan tidak mengingat dimana ia menyimpan buku tersebut. Bibi Kwon tidak tahu. Padahal biasanya bibi Kwon tahu hal-hal seperti ini. Krystal menghela nafasnya. Setidaknya pikiran dia beralih dari Sehun ke buku diary-nya.

“Bagaimana kabar buku diary mu?”

Suara Seulgi membuat Krystal menoleh kepadanya saat ia mengunyah pada jam makan siang. “Belum.” Jawabnya setelah menelan makanannya. “Aku bahkan tidak dapat mengingat dimana aku menyimpannya.”

Sebelum Seulgi dapat berkomtentar, hp Krystal berbunyi dan dengan sigap ia mengangkatnya. “Hallo…”

Hai…” Suara di ujung seberang membuat Krystal membulatkan matanya. Ia langsung melihat layar handphone untuk memastikan yang meneleponnya adalah Sehun. Dan benar, laki-laki itu meneleponnya.

“Oh, Hai. Ada apa?” Ujar Krystal dengan suara yang diusahakan ceria.

“Aku ingin bertemu dengan mu.”

Hah? Ada apa lagi ini?

“Bertemu dengan ku?”

“Ada hal yang ingin ku sampaikan kepada mu.”

Krystal menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aduh…. Bagaimana ini?

“Aku berada di depan kelas mu.” Perkataa Sehun membuat Krystal melongo. “Tapi kata teman mu kau keluar.”

“Di taman. Ayo kita bertemu di taman.” Ujar Krystal cepat pada akhirnya. Entah apa alasan Sehun, tapi ia harus dengan cepat menuntaskan hal ini.

“Ada apa?” Tanya Seulgi ketika Krystal menutup handphone-nya.

“Nanti akan ku ceritakan.” Krystal langsung lari meninggalkan Seulgi.

.

.

.

.

.

Sepuluh menit kemudian Krystal sampai di taman fakultasnya. Sehun sudah menunggu di situ sambil duduk. Ketika ia melihat Krystal, Sehun pun bangkit dan berjalan mendekat ke arah Krystal. Tangannya membuka tas punggungya dan dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Buku diary mu.” Kata Sehun dan memberikan buku diary milik Krystal.

“Bagaimana bisa?” Tanya Krystal bingung. Tangannya dengan pelan mengulur mengambil buku diary nya. Ia kemudian menatap Sehun, “Bagaimana bisa?”

Sehun menghela nafasnya. “Aku menyimpan buku mu. Tentu saja atas perintah Dokter Kim. Dokter Kim berkata jika ia menginginkan dirimu mengingat secara perlahan akibat masalah amnesia mu.”

Krystal masih menatap Sehun bingung, “Tapi… Itu bisa saja…” Kemudian ia memekik, “Bagaimana kau tahu tentang buku diary ku?”

“Itu tidak sengaja.” Kata Sehun pelan dan wajah datar. Astaga… Laki-laki di depannya hanya memasang wajah sangat santai dan dengan santainya menatap manik mata Krystal. “Banyak hal yang terjadi ketika kau koma. Termasuk saat aku harus tidur di kamar mu ketika orangtua kita masih sibuk berdiskusi. Saat aku ingin tertidur, aku tidak sengaja menemukan buku diary mu di bawah bantal.   Sebenarnya, bisa saja aku menyuruh Bibi Kwon untuk menyimpannya. Tetapi Bibi Kwon tidak enak sehingga aku yang menyimpannya.”

Krystal mengerjapkan matanya beberapa kali saat ia rasa ia tidak dapat menemukan kebohongan dalam kalimat Sehun. Entah Sehun tidak berbohong atau ia terlalu pandai berbohong. Ia berdehem, “Oh, terimakasih.”

Sehun mengangguk, “Aku pamit dulu. Aku harus ke kampus.”

Krystal tidak menjawab. Sehun berbalik. Jadi Sehun sehabis ini akan ke kampus. Pikir Krystal. Tetapi matanya kembali menyipit.

“Tunggu!” Teriak Krystal karena ia mengingat sesuatu, “Bukankah dirimu sakit?”

Sehun yang sudah berbalik ketika Krystal memanggilnya terdiam sejenak. “Oh…” Ia kemudian tertawa kecil, “Itu sudah tidak apa-apa kok.”

“Aku sebenarnya melihatmu bersama teman mu. Tapi aku merasa tidak enak menyapa mu. Kau sedang terlihat mengobrol asyik.” Hening sejenak, kemudian Krystal menambahkan, “Siapa namanya?”

Entah mengapa Sehun tersenyum sangat lebar, “Irene…”

Krystal mencengkram buku diary-nya.

He’s now in front of you, still his thought only for her. Guess, he’s not really ‘looking’ at you.

.TBC.

Hohoho…  Sudah beberapa lama saya absent-kan ff ini?  State of Grace chapter  terbaru udah selesai.  Tapi nanti aja saya publish yaaa..  *evil laugh*  Flipped chapter 20  juga lagi di tulis…  Tape baru 3/4 dan saya lagi males…  See you soon guys….

Advertisements

State of Grace (Chapter 26)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Helaan nafas kembali terdengar. Krystal lagi-lagi menghela nafasnya. Milktea-nya sudah mendingin sejak tiga puluh menit yang lalu. Begitu pula dengan Milktea Seulgi. Seulgi sendiri sudah mengundurkan diri sejak setengah jam yang lalu. Bersama Kai.

Seulgi dan Kai datang ke apartment Krystal tadi. Seulgi untuk mengajaknya berbaikan dengan Sehun. Kai sepertinya hanya mengantar Seulgi ke apartment Krystal. Dan meminjam kamar mandinya. Laki-laki tersebut bahkan langsung pergi menunggu di mobil setelah selesai dari toilet. Mungkin karena Seulgi menginginkan hanya dia dan Krystal di ruangan itu.

“Aku adalah orang yang jahat.”

Krystal menyeringit samar mendengar perkataan Seulgi. Seulgi meletakan tehnya dan menatap Krystal.

“Aku minta maaf karena itu.”

Krystal sendiri terdiam sangking bingungnya.

“Teman tidak seharusnya datang ke rumah temannya dengan membawa masalah. Tapi aku datang ke tempat mu dengan membawa masalah.”

Krystal masih terdiam. Menunggu kata-kata Seulgi.

“Masalah mu dan Sehun lebih tepatnya…”

Krystal sudah menebak sedari awal kedatangan Seulgi. Tapi ia diam saja. Toh rasanya memarahi Seulgi atau jutek ke Seulgi tidak baik. Seulgi sama sekali tidak bersalah dalam masalah ini. Krystal pun berusaha meyakinkan Seulgi dengan cara yang ia tempuh. Ia mendiamkan Sehun agar ia dapat berpikir sejenak.

“Kau ingin sebuah rahasia dari ku?”

Krystal bingung setengah mati mendengar pertanyaan Seulgi. Ia terdiam sehingga Seulgi menceritakan keseluruhannya.

“Aku menyukai Kai sejak SMA.”

Rasanya Krystal bingung setengah mati. Sejak SMA? Itu berarti jauh sebelum Kai berpacaran dengan Sulli! Perasaan Seulgi sama sekali tidak berubah hingga sekarang. Tatapan Seulgi meredup seiring ia menceritakan seluruhnya. Gadis itu juga tidak dapat membendung air matanya di sela-sela cerita.

“Dengar Krys, Sehun pasti juga akan memaksamu keluar dari apartment ini. Tapi dia hanya diam dan menunggu mu karena dirimu. Tapi aku tahu jika mengambil sebuah keputusan di tengah kegalauan jarang yang berhasil. Kegalauan muncul akibat adanya resiko. Tapi mengambil resiko bagiku terlihat lebih baik daripada diam seperti menjauhi masalah. Dan kau seharusnya mengambil resiko itu.”

Genggaman Seulgi mengerat seiring nafas Krystal yang juga mulai memberat saat itu. Seulgi tersenyum kepadanya dan kembali berkata,

“Yang harus kau lakukan adalah tetap memegang tangannya a.k.a berada disampingnya…”

Perkataan Seulgi adalah sebuah déjà vu bagi Krystal. Perkataan yang sama seperti Sohee ucapkan.

“Yang perlu kau lakukan adalah mengenggam tangannya apapun yang terjadi.”

Lagi-lagi Krystal menghela nafas. Air matanya kembali turun. Dia selalu mengatakan kepada dirinya sendiri, berhenti menjadi orang cengeng! Tapi dia tidak bisa. Dia melanggarnya. Tatapan Krystal terarah kepada jam yang menggantung di dinding. Sebelum Seulgi pulang, ia menyampaikan agar Krystal dapat pergi bersama Sehun ke pesta pernikahan Seojoon Oppa dan Sohee Oennie. Sehun akan berangkat pukul 10 malam ini.

Jam sendiri menunjukan pukul 9. Apa yang harus ia lakukan?

.

.

.

.

.

Suara hujan deras tak terdengar sama sekali. Suara Sohee noona yang sedang membujuk Sehun agar pergi ke Busan benar-benar mengalahkan segalanya.

“Sehun harus datang loh….”

Sehun memijit pelipisnya, “Iya, noona aku akan datang…. Ini aku sudah bersiap-siap.”

“Seulgi bilang kau tidak ingin pergi karena Krystal. Apa aku harus menelepon Krystal?”

“Tidak apa-apa Sohee noona. Lagipula, Krystal tidak ingin di ganggu. Bagaimanapun juga kalian mempersiapkan pesta ini karena aku bukan? Tentu aku datang.”

“Baiklah…. Tapi beneran loh…”

“Aku tidak akan menarik omongan ku noona…”

“Baiklah. Noona tunggu ya……”

Telepon pun langsung terputus. Sehun memasukan handphone-nya. Dengan malas-malasan ia mematikan seluruh lampu di apartment-nya. Sepertinya ia harus berangkat sendiri. Sepertinya juga ia akan memberi tahu Krystal pergi besok pagi. Gadis terbsebut pasti sudah tidur sekarang. Memperhatikan Krystal dari jauh membuat Sehun tahu beberapa kebiasaan Krystal, termasuk kebiasaan tidurnya.

Dengan ogah-ogahan ia juga menyeret kopernya keluar. Rasanya begitu lambat ketika ia membuka pintu apartement-nya. Seluruh tenaga Sehun terarah untuk membuka pintu apartment-nya.

Nafas Sehun tercekat ketika melihat seseorang yang ia kenal tiba-tiba berhambur ke pelukannya. Memeluk tubuh Sehun dengan tangannya yang mungil.

“Krystal…” Ucap Sehun lirih.

.

.

.

.

.

Tekad Krystal sudah bulat. Ia memutuskan untuk melanggar semua batas. Menembus semua keraguannya. Secepat kilat ia membuka lemarinya. Mengeluarkan baju secara asal, yang terpenting cukup selama empat hari di busan. Dua hari sebelum menikah, hari H menikah, dan H+1 menikah. Segera memasukan kedalam kopernya. Jam menunjukan pukul 21.15.

Sial!
Rutuk Krystal dalam hati. Lingkungan apartment-nya jarang dilewati oleh taksi. Secara semua orang disini adalah kalangan menengah yang lebih suka menggunakan kereta. Krystal berusaha secepat mungkin berjalan menuju ke stasiun. Ketika ia masuk ke kereta, jam menunjukan pukul 21.25. Kereta sampai di stasiun tujuannya tigapuluh menit kemudian. Itupun Krystal harus berjalan cukup jauh untuk sampai di apartment Sehun. Berbeda dengan apartment Krystal yang untuk kalangan menengah, apartment Sehun untuk kalangan ke atas yang menggunakan mobil sebagai transportasi utama.

Krystal ingat, di tengah-tengah perjalanan hujan tiba-tiba turun. Dan dia menangis di tengah-tengah ia berlari ke apartment Sehun. Ia tiba-tiba merasa takut. Bagaimana jika Sehun sudah pergi? Apakah keadaan akan sama setelah Sehun pulang dari Busan? Dua hal itu terus menghantuinya.

Keadaan Krystal cukup mengenaskan ketika ia sampai di apartment Sehun. Jika saja Krystal hanya sekali ke situ, dia pasti dicekal oleh petugas keamanan apartment. Untungnya mereka tahu dan membiarkan Krystal masuk walaupun diiringi tatapan aneh. Beberapa orang yang satu lift dengan dia juga memberikan tatapan aneh. Dia sama sekali tidak peduli.

Entah apa yang sedang terjadi, semuanya sangat pas. Ketika Krystal baru saja sampai di depan pintu dan bersamaan dengan itu Sehun juga membuka pintu apartment-nya. Krystal langsung menghamburkan diri ke pelukan Sehun. Memeluk tubuh tegap Sehun dengan tangannya yang ia rasa kecil dibandingkan tubuh Sehun. Dia kembali menangis.

“Krystal…”   Suara Sehun yang lembut seakan oksigen yang membuat Krystal bisa bernafas dengan lega. Krystal tetap memeluk Sehun. Ia membenamkan wajahnya di dada Sehun.

Perlahan, tangan Sehun juga ikut melingkar ke tubuhnya. Sehun menarik Krystal ke dalam pelukannya. Tangan kananya mengelus pelan kepala Krystal.

Sehun kemudian melonggarkan pelukannya. Tangannya terlepas dari pinggang Krystal. Dia menyentuh lembut wajah Krystal dengan kedua tangannya. “Jangan menangis… Ayo masuk. Kau kehujanan.”
Krystal diam menurut. Dia belum bisa berbicara apa-apa ke Sehun. Dia hanya diam ketika Sehun menyuruhnya untuk mandi dengan air hangat dan memberikan baju ganti yang layak untuk Krystal, sebuah sweater kebesaran bewarna navy blue dan celana dengan panjangnya menutupi paha Krystal. Krystal sebenarnya membawa baju dan dia bisa saja memakai bajunya. Tapi entah mengapa tatapannya hanya tertuju ke Sehun. Dan pikirannya yang menerawang bagaimana cara meminta maaf kepada Sehun.

Sepuluh menit kemudian Krystal keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju Sehun. Dirinya menggusap rambutnya yang basah dengan handuk yang lagi-lagi Sehun berikan. Kemudian berjalan melintasi kamar Sehun untuk mencari Sehun.

Astaga… Apa yang Seulgi lakukan hingga kalian semua seperti ini?”

Suara Sehun terdengar ketika ia membuka pintunya. Krystal langsung menuju ke sumber suara, yaitu dapur. Disana dia juga dapat melihat secangkir teh hangat dan roti yang baru saja dipanggang. Sehun membelakangi dirinya sambil memengang hp.

“Aku. Akan. Datang.” Seru Sehun tidak sabaran. “Aku berjanji akan hal itu….” Setelah itu Sehun kembali berbicara, “Ya. Tenang saja. Jam duabelas pun aku akan menyetir kesana. Pokoknya ketika waktunya fiting aku akan berada di tempat!” Sehun pun kemudian memutuskan telepon dengan kasar. Ketika dia berbalik, Sehun tersenyum mendapati Krystal sudah ada di dapur. Dia berjalan mendekat ke arah Krystal, mengenggam lembut tangan Krystal. “Aku lupa membawa koper mu tadi. Tapi tenang saja, aku sudah memasukannya…”

Perkataan tak terduga dari Sehun membuat pipi Krystal memerah. Bodohnya dirinya yang juga tidak mengingat kopernya. Sehun seperti menghinoptis dirinya dan yang ia inginkan saat itu adalah menatap Sehun. “Ah… Aku…” Hening sejenak, “Aku minta maaf…”

Senyuman Sehun semakin merekah, “Minta maaf karena apa?” Tanyanya dengan suara ringan. Dia terlalu bahagia karena mendengar suara Krystal. “Kau tidak bersalah Krys… Seharusnya aku yang meminta maaf. Aku kembali melanggar janjiku. Aku membuat dirimu tersakiti.”

“Tetap saja….” Suara Krystal bergetar lagi. “Aku membuat kesusahan dalam beberapa hari ini. Aku menjauh. Tidak ingin mendengarkan apapun dari mu.”

“Ssssttt… Tidak apa-apa. Aku akan melakukan apapun untuk mu. Walau harus membelikan bulan. Walau harus terbang ke Mars. Walau harus menjauh darimu. Asalkan kau menginkannya…”

Air mata Krystal kembali menetes.

“Jangan menangis ku mohon… Aku tidak ingin kau bersedih….”

Bodoh! Krystal bahagia…. Sangat bahagia hingga ia seperti ini. Krystal melepaskan tangannya dari Sehun dan segera menghapus air matanya. Sayang air matanya tetap tidak ingin berhenti. Sehun yang melihat hal itu menarik tubuh Krystal dan tiba-tiba menciumnya.

Sebuah perlakuan yang lagi-lagi tak terduga. Krystal pikir Sehun akan memeluknya. Tapi Krystal sama sekali tidak mempermasalahkannya. Dia menerima perlakuan Sehun.

Drrt~

Handphone Sehun kembali berbunyi. Tetapi sepertinya Sehun sama sekali tidak mempunyai niat untuk mengangkatnya.

Drrrt~

“Sehun….” Kata Krystal setelah mendorong Sehun, “Ada telepon.”

Sehun tidak mengatakan apa-apa. Tapi dari wajahnya terpampang kekesalan, “Halo.” Katanya asal-asalan.

“Kau dimana? Sudah berangkat belum?”

Sehun mengerang mendengar suara Seojoon yang sudah dua kali meneleponnya, “Tenang saja… Aku pasti akan berangkat. Krystal juga sudah datang…”

“Cih, aku tidak percaya hanya karena kau mengatakan Krystal sudah datang. Aku akan terus menelepon mu hingga kau sampai, mengerti? Aku sebenarnya ragu kau datang makanya seperti ini—“

Sehun hanya bisa menghela nafas mendengar rentetan kalimat Seojoon. Ia kemudian melirik ke arah Krystal, “Hyung ingin aku membuktikannya? Baiklah…” Sehun memberi hp nya ke Krystal. “Seojoon hyung… Bicaralah dengan ia sebentar.”

Krystal menerimanya, “Seojoon oppa?”

“Astaga Krystal!” Suara Seojoon terdengar sangat kaget, “Aku tidak menyangka kau akan datang malam ini. Tapi baguslah jadinya Sehun bisa semangat datang ke pesta pernikahanku. Ingat ya, kalian harus berangkat malam ini juga!”

“Baik oppa…”

“Eh, ngomong-ngomong apa yang Seulgi lakukan sehingga kau mau merubah pemikiran mu?” Belum sempat Krystal menjawab Seojoon kembali berbicara, “Tapi biarkan aku saja yang memikirkannya. Kalian cepat-cepatlah ke sini…” Sambungan telepon terputus.

“Kurasa kita harus berangkat sekarang…” Putus Sehun dan Krystal hanya mengangguk.

.

.

.

.

.

Krystal mengerjapkan matanya. Dimana dia sekarang? Ia melihat keadaan sekitar dan menemukan Sehun sedang tertidur pulas di samping kirinya. Sepertinya Sehun memutuskan untuk tidur di tempat peristirahatan karena mengantuk. Pelan-pelan, tidak ingin membuat Sehun bangun ia membangkitkan sandaran kursinya. Ia rasa ia akan berjaga sebentar sampai Sehun bangun.

Mata Krystal menelisik lingkungan sekitar. Sehun memilih pom bensin dan banyak mobil lain yang juga memarkir disana. Beberapa di antara mereka keluar membeli snack dan sehabis itu pergi. Adapula yang hanya keluar entah ngapain, kemungkinan besar ke toilet kemudian pergi.

Hampir lama Krystal memandangi mobil yang datang dan pergi. Tersisa tiga mobil di sana. Mobil Sehun, satu mobil sedan yang kira-kira tiga meter dari Krystal, dan tepat di samping mobil sedan ada mobil SUV.

Pelan-pelan, ia melihat seorang laki-laki berjalan sambil memegang kopi di tangan kirinya. Tangan kanannya sedikit ke belakang karena ada yang menarik. Kemudian seorang perempuan yang memegang tangan lelaki berlari kecil kedepan. Mensejajarkan posisinya dengan laki-laki itu. Tersenyum lembut.

Deg!

Krystal menahan nafasnya. Tangannya bergetar secara tiba-tiba. Keringat dingin bermunculan di pelipisnya.

“Sehun…” Panggil Krystal dengan suara serak. Air matanya sudah turun. “Sehun…” Panggilnya lagi karena Sehun belum terbangun. “Oh Sehun!” Serunya agak keras diiringi oleh isak tangis.

Sehun pun akhirnya bangun. Ia langsung panik setengah mati menemukan Krystal yang tiba-tiba menangis. “Ada apa Krys? Ada apa?”

.TBC.

 Hullaaa  i’m back as soon as i can….  maaf ya saya lama updated nya lagi kelas dua belas nihhh  (alasan!).  Tapi ciusan rasanya belajar itu udah gumoh bawaannya…  Special double updated sama Flipped.

And saya punya akun wattpad…  Boleh atuh di follow…  xospringsflowerxo

 

State of Grace (Chapter 25)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Suara sepatu Krystal sangat memperhatikan. Begitu pula dengan kakinya yang sudah membiru.

Brak!

Krystal akhirnya terjatuh ketika hak dari sepatu yang ia gunakan patah.

“Astaga, Krys!” Sehun yang mengejar Krystal langsung berjongkok. “Luruskan kaki mu…” Tanga Sehun terulur menyentuh kaki Krystal.

“Jangan!” Teriak Krystal parau. Menghentikan uluran tangan Sehun. “Jangan….” Katanya lagi.

Sehun terdetak melihatnya. “Krys…” Ia segera mendekat ke Krystal dimana Krystal mencoba untuk menjauh. “Ku mohon…” Katanya dan segera menarik Krystal ke dalam pelukannya.

Tangisan Krystal meledak. Ia menangis di dalam pelukan Sehun. Tersedu-sedu disana.

Tes!

Air mata Sehun juga ikut turun. Sial! Dia baru saja, baru saja berjanji kepada gadis itu agar gadis itu tak tersakit. Sekarang gadis itu menangis akibat tersakiti.

“Kalian!” Seojoon menyusul mereka. Nafasnya terengah-engah. Melihat keadaan Sehun dan Krystal ia menghela nafas. Tanganya terulur ke kaki Krystal. Ia meluruskan kaki Krystal dan melepaskan sepatu Krystal.

Krysal memandang Sehun, tangisannya tidak sekeras tadi.

“Ayo kita pulang!” Ajak Sehun.

“Biar aku yang mengantarnya…” Kata Seojoon tiba-tiba. “Oemma dan Appa panik mencari mu. Ku sarankan kau tetap tinggal demi kenyamanan pesta. Serahkan Krystal kepada ku.”

“Aku tidak perduli hyung… Krystal pulang bersama ku!”

“Aku akan pulang bersama Seojoon oppa…” Krystal meringis tak kala ia bangkit. Ketika berdiri ia tidak terlalu seimbang. Seojoon dan Sehun segera memeganginya.
“Tapi Krys…” Sehun menatap Krystal dengan tatapan memohon.

Krystal menggeleng lemah, “Ku mohon… Kembalilah ke pesta…”

Sehun hanya bisa menghela nafas. Ia menatap Seojoon, “Aku percaya kepada mu hyung…”

Seojoon mengangguk sebagai jawaban.

Sehun kembali menghela nafas dan segera menjauh dari Krystal dan Seojoon.

.

.

.

.

.

Seojoon melirik Krystal yang masih diam memandang jendela. Tatapan gadis itu kosong. Tetapi Seojoon yakin, pikiran gadis itu pasti tidak kosong.

Seojoon berdehem, “Sudah sampai.” Katanya ketika Krystal menoleh.

Krystal mengerjap beberapa kali, “Oh?” Tatapannya segera menyapu sekeliling. Sedikit terkesiap ketika Seojoon benar.

Seojoon menghela nafasnya, “Kau tahu jika aku peduli padamu, Krys…”

“Aku tahu oppa…” Ujar Krystal parau. “Terimakasih telah mengantarkan ku pulang.” Krystal ingin keluar, tetapi Seojoon sama sekali belum membuka pintu mobil.

“Dengarkan aku terlebih dahulu…” Ucapan Seojoon membuat Krystal kembali menoleh ke Seojoon, “Aku tahu kau tidak suka membicarakan masalah mu ke sembarangan orang. Hanya orang-orang terdekat dan pastinya aku bukan merupakan orang itu. Aku tidak memaksamu untuk bercerita sana-sini. Hanya katakan apa yang kau pikirkan. Kau terlihat tertekan Krys. Dan aku tahu, ada satu hal yang terus berputar di otak mu dari tadi.”

Krystal memejamkan matanya, “Entahlah…”

“Aku tidak akan membiarkan mu keluar dari mobil ini!” Ancam Seojoon.

Krystal akhirnya mendengus, “Kurasa…. Bisakah oppa menyampaikan ke Sehun agar menjauhi aku untuk beberapa hari ini? Maksudku—“

“Aku mengerti.” Potong Seojoon. “Aku mengerti maksud mu. Kau ingin waktu untuk berpikir dengan jernih bukan? Tentang masalah ini. Tentang ibu ku. Kau tahu jika Sehun mengejarmu malam ini, memohon minta maaf, kau akan luluh dan memaafkannya. Dan kau tidak ingin itu terjadi sehingga kau ingin waktu untuk meyakinkan perasaan mu bukan?”

“Aku yakin dengan perasaan ku!” Ucap Krystal masih parau. Air matanya mulai menggenang di matanya. Satu kerjapan akan membuat butiran-butiran jernih turun, “Hanya saja—“

“Aku mengerti.” Potong Seojoon lagi. “Sekarang masuklah ke dalam apartment-mu dan berpikir dengan waktu sebanyak yang kau inginkan. Akan ku sampaikan ke Sehun agar menjaga jarak dengan mu.”

“Terimakasih oppa…”

.

.

.

.

.

Hyung!” Teriak Sehun frustasi ketika Seojoon dengan santai keluar dari lift apartment membawa kopi di tangan kananya.

“Wow adik kecilku! Jangan bilang sedari tadi kau menunggu ku dengan mondar-mandir di depan lift?” Tanyanya santai.

Sehun menggaruk kepalanya frustasi, “Mana Krystal?”

“Oh…” Respon Seojoon santai. “Mana apartment mu?”

Sehun semakin bingung. Mau tidak mau dia mengikuti langkah Seojoon yang sok tahu tentang kamarnya.

“Sebelah kanan hyung!” Ucapnya dan menarik tangan Seojoon tepat di depan pintu apartment nya. “Sekarang mana Krystal?”

“Di dalam.”

“Hah?” Sehun tidak percaya tetapi cepat-cepat membuka pintu apartment nya dan masuk. Bodoh! Mana mungkin Krystal bisa disini?

Cklek~
Sehun berbalik ketika mendengar Seojoon mengunci pintu apartment nya, “Bercanda……” Ucapnya datar.

Sehun melongo sesaat. Rasa frustasi dan kesalnya hilang melihat tingkah laku kakaknya. “Maksud hyung…”

“Tentu saja Krystal di apartment nya. Kau cepat ganti baju sana dan siap-siap tidur.”

“Hyung…” Sehun mengerang frustasi, “Aku harus menemuinya segera. Apa maksud hyung menjauhkan ku dengan dia? Itu tidak masuk akal hyung. Sekarang cepat minggir dari pintu—“

“Jangan berlagak seperti anak kecil berumur lima tahun yang kehilangan mainannya.” Lagi-lagi Sehun terdiam melihat Seojoon. Seojoon melipat tangannya tepat di depan dadanya, “Dengar adik kecil ku, Krystal sangat tertekan akibat kejadian tadi dan kurasa ia mempertanyakan perasaannya.”

Sehun menatap Seojoon datar, “Jangan bercanda hyung.”

“Apa kau melihatku bercanda?” Seojoon kembali berkata, “Maka dari itu kusarankan kau mengikuti perkataan ku. Menjauhlah dari dia untuk beberapa saat. Tunjukan kepadanya kau menghargainya juga karena dia memintaku untuk mengatakan kepada mu agar kau menjauhinya.”

“Hyung… Jangan bercanda bisa?” Suara Sehun sangat melas sekarang.

Seojoon menggeleng mantap, “Tidak. Aku tidak bercanda. Kasihlah ia waktu. Aku percaya dia masih mencintai mu. Tapi perasaan ragu menyerangnya. Kalau kau mengikuti permintaan dia itu malah membuatnya lebih memikirkan mu kau tahu?”

Sehun sekarang menatap Seojoon tidak mengerti.

Seojoon menghela nafas, “Krystal masih mencintai mu. Dan aku tahu, kalau kau memohon kepadanya malam ini dia pasti akan memaafkan mu. Tapi itu memunculkan perasaan ragu di hatinya karena ia masih terbayang-bayang oleh Mommy.

Jika kau mengikuti permintaanya, aku memprediksi jika ia pasti menghitung hal itu dan itu mengalihkan perasaan ragu dari Mommy ke dirimu. Ia ragu karena dirimu begitu memperhatikannya. Makanya aku menyetujui permintaannya. Aku tidak seceroboh itu kau tahu? Hanya karena ia tertekan dan memohon kepadaku maka aku akan menurutinya? Aku juga mempertimbangkan dirimu…”

Sehun menghela nafasnya. Jujur, dia tidak tahu harus senang atau sedih. Menurutnya tetap saja hubungan dia dan Krystal tetap di ambang batas.

“Sekarang kau berganti baju dan tidur! Aku yakin sekali tubuh mu membutuhkan hal tersebut!”

.

.

.

.

.

Sehun tahu Seojoon menyuruhnya untuk menjauhkan diri dari Krystal. Tapi ia tidak bisa menahannya. Kalau ia menjauhkan diri butuh berapa lama Krystal kembali padanya? Ia tidak bisa berlama-lama. Apalagi pernikahan Seojoon empat hari lagi. Dipikirannya, ia dan Krystal akan hadir di pernikahan Seojoon dan dia tidak bisa menerima jika Krystal tidak hadir.

“Ingat pernikahan ku! Awas kalau tidak hadir! Sohee pasti akan marah besar kepada mu. Kami sudah bersusah-susah membuat pesta kecil. Mencari baju, makanan yang lezat, tempat indah, bunga-bunga cantik karena dirimu. Jadi kau harus hadir!”

Begitulah yang dikatakan Seojoon kemarin malam. Sebelum hyung nya pulang karena ditunggu oleh Sohee di kamar hotel. Menggelikan!

Sehun menyeruput kopinya dan menghela nafas. Kenapa ia lebih menyukai rasa greentea Krystal? Ia segera menghabiskan kopinya. Jam masih menunjukan pukul enam pagi dan dia masuk kerja jam sembilan. Kenapa ia buru-buru? Karena ia ingin ke suatu tempat sebelum ke kantornya.

Tigapuluh menit kemudian Sehun sudah sampai di depan apartment Krystal. Ia berdiam diri di dalam mobil. Haruskah? Kemudian ia menghela nafas dan mengambil handphone-nya. Langsung tersambung ke kotak suara.

“Hai… Apakah kau masih tidur?” Kata Sehun mencoba untuk biasa saja.

.

.

.

.

.

Krystal bangun dengan mata bengkak. Ia melihat ke kaca, Astaga! Apa yang harus ia lakukan agar bengkaknya hilang? Tidak mungkin ia muncul di f(x) dengan mata sebengkak ini! Krystal segera mencuci muka. Memanaskan air untuk membuat teh. Kemudian membakar roti. Sambil menunggu, ia memilih pakaian yang akan ia gunakan hari ini.

Ting~

Suara nyaring dari pemanggang roti membuat ia segera mengangkat rotinya. Tak berapa lama kemudian suara nyaring dari kompornya. Ia segera mamatikan kompornya dan menuangkan air ke greentea nya. Sambil menunggu makanannya dingin ia memutskan untuk bersiap-siap. Mengganti bajunya dan memubuhkan make up di wajahnya. Terutama dibagian matanya.

Drrrt~
Krystal tersentak hebat ketika mendengar handphone nya berbunyi. Ia segera mencari handphone nya ditumpukan bantal tempat tidurnya.

Sehun.

Tangan Krystal terasa lemas seketika. Ia hanya melihati ponselnya hingga berhenti bergetar. Dan merasakan kelegaan luar biasa ketika handphone nya berhenti bergetar. Krystal segera meninggalkan handphone nya. Dia harus segera makan dan mengejar kereta bukan? Dia tidak ingin berdesak-desakan di rush hour.

Limabelas menit kemudian ia benar-benar siap. Krystal kembali melihat handphone nya. Merasa ragu ketika melihat ada pesan suara, dari Sehun tentunya. Ia menghela nafas kemudian membukanya,

“Hai… Apakah kau masih tidur?” Suara Sehun terdengar ringan seperti biasa. Krystal menahan nafasnya. “Aku tahu kau memintaku untuk menjauh Krys…. Aku minta maaf. Aku berjanji pada mu tetapi aku melanggarnya. Aku…” Terdengar hening sejenak, “Kau tidak harus membalas telepon ku atau sms ku atau apapun yang berhubungan dengan ku. Lakukanlah apa yang membuat mu nyaman. Kau tahu dimana aku akan selalu berada bukan?” Sambungan teleponnya terputus.

Krystal memejamkan matanya ketika bulir-bulir air matanya mendesak keluar.

.

.

.

.

.

“Aku… Tidak… Ingin… Pergi…”

Kai memijit pelipisnya melihat kelakuan temannya yang asyik meringkuk di tempat tidur. “Hey bodoh! Apa kau ingin merengek di depan seorang wanita?”

Yup! Ada Seulgi disini yang juga sibuk menghela nafasnya. Astaga, sejak kapan sepupu ‘tersayangnya’ ini jadi sangat baperan? Okay, Seulgi tahu jika Sehun menangis ketika putus dengan Wendy. Menurut Seulgi itu adalah hal yang wajar karena….   Sehun ketika itu diselingkuhi oleh Wendy. Tetapi uring-uringan di tempat tidur merengek karena Krystal adalah hal yang sedikit…. Bukan! Sangat memalukan!

“Ayolah Sehun…” Seulgi akhirnya membuka suaranya. “Kau tidak memikirkan perasaan Seojoon oppa dan Sohee oennie? Mereka mengadakan pesta ini karena dirimu ingat? Jangan mengecewakan mereka…”

Sehun akhirnya bangun dengan wajah sebal. “Tidaklah kalian mengerti? Aku galau karena Krystal!”

“Huahahaaahahaaa!!!” Kai memegang perutnya yang nyeri akibat tertawa. “Haaahaahaaaa!!!” Lanjutnya tidak mengindahkan tatapan horror Sehun dan Seulgi.

“Dengar Sehun…” Seulgi berbicara kembali. “Bisakah kau memikirkan perasaan Oppa dan Oennie sedikit saja? Jika begini caranya kau pasti yang akan disalahkan bukan Krystal. Karena kau yang tidak ingin datang.”

“Aku akan datang besok pagi!”

Seulgi menggeleng, “Tidak! Harus hari ini! Pernikahan mereka memang dua hari lagi tapi Sohee oennie meminta kita datang pada hari ini. Kau seharusnya bersyukur boleh pergi dari Seoul malam hari bukannya siang seperti yang direncanakan. Dan juga, apa maksudmu besok? Kau ingin berangkat pagi jam berapa? Dari Seoul ke Busan butuh waktu 4-5 jam! Mau jam berapa berangkatnya? Jam enam?! Asalkan acara fitting baju jam 9 pagi!”

Sehun berdecak sebal, “Kenapa mereka mengadakannya di Busan sih? Tidak bisa di Seoul–Arghhhh, yak! Kang Seulgi!” Sehun tidak bisa menyelesaikan omongannya karena Seulgi tiba-tiba menarik kuping Sehun.

“Jangan seperti bocah berumur lima tahun yang merengek karena tidak mendapatkan yang ia inginkan!” Seru Seulgi dengan nada dingin. Itu membuat Kai terkejut dan diam-diam meneguk ludahnya sendiri. Wow! Tipikal calon ibu yang tegas! Pikir Kai.

“Pokoknya aku tidak mau tahu! Kau harus pergi malam ini juga! Paling lama jam sepuluh malam! Aku akan membawa Seojoon oppa atau Sohee oennie pokoknya! Aku akan buat mereka marah-marah kepada mu!” Lanjut Seulgi mengeluarkan death glare nya.

Sehun meringis, “Yak Kang Seulgi…”

Seulgi melepaskan tangannya, “Aku pergi dulu ya!!!” Katanya kemudian tersenyum. “Ayo Kai! Kita tinggalkan dia!”

Kai menatap Seulgi bingung tetapi akhirnya menurut karena Seulgi menatapnya tajam. “Euhm…. Aku pergi dulu!” Ucap Kai ke Sehun.

Sehun menghela nafasnya. Ia mengacak rambutnya frustasi. Apa yang harus ia lakukan? Menelepon Krystal? Gadis itu pasti tidak mengangkatnya. Apalagi Krystal benar-benar mendiami Sehun dua hari ini. Sehun akhirnya menghempaskan dirinya lagi ke kasur. Menyebalkan!

.

.

.

.

.

Krystal menatap handphone-nya. Tidak ada telepon. Tidak ada sms. Hari ini benar-benar tidak ada apapun dari Oh Sehun. Ia menghela nafas. Sekarang ia harus bagaimana? Dia berjauhan dari Sehun karena ia pikir ia dapat berpikir rasional. Memutuskan hal yang tepat. Tetapi itu sama sekali tidak berdampak apapun terhadap hidupnya. Krystal masih ragu antara bayang-bayang Tifanny dan Sehun sendiri.

Krystal mengigit bibirnya, Kenapa ia mengharapkan Sehun menghubunginya? Krystal mendengus. Ini sangat irrasional.

“Hey Krys!” Amber tiba-tiba telah berada di sampingnya.

“Oh, Hai!” Balas Krystal kemudian tersenyum.

“Kau tidak ingin pulang? Jam kerjamu sudah habis bukan? Atau hari ini kau akan tampil di Café Onew Oppa?”

Krystal menggeleng, “Tidak aku akan langsung pulang.”

“Ada apa dengan mu?”

“Heh?” Krystal menatap Amber bingung.

“Kau selalu melihat handphone mu dua hari ini. Sesuatu terjadi?” Ucap Amber menjawab kebingungan Krystal.

“Oh…” Krystal kemudian terkekeh kecil, “Tidak apa-apa. Aku pulang dulu ya…” Putus Krystal. Amber terlihat diam saja. Tahu jika sahabatnya tidak ingin diganggu.

Krystal sampai dirumah satu jam kemudian. Setelah memutuskan mandi ia pun langsung menuju ke jendela kamarnya. Gila, tapi Sehun selalu menunggu di bawah hingga pukul sepuluh malam. Katanya, ia ingin melihat wajah Krystal dan berharap Krystal ingin menyisikan sedikit waktunya untuk melihat ke bawah melalui jendela kamarnya. Awalnya Krystal tidak menghiraukannya dan memutuskan untuk tidur. Iseng-iseng mengintip, Sehun berada disitu dengan posisi kepala mendongak. Tersenyum ke Krystal dan melambaikan tangan. Yang membuat Krystal terkejut setengah mati dan langsung menutup kembali gordennya.

Jujur, pada saat itu ia ingin turun ke bawah dan menanyakan kenapa Sehun melakukan hal bodoh? Di luar selama berjam-jam. Bagaiana jika ia sakit? Tapi Krystal tidak bisa karena keraguannya.

Itu terjadi selama dua hari ini. Bukan itu saja. Sehun meneleponnya pagi hari. Mengingatkan dia untuk makan siang. Benar-benar… Krystal merasa Sehun tidak akan melepaskannya dengan mudah. Itu membuatnya bertambah pusing.

Ting tong~

Krystal mengerjapkan matanya ketika mendengar bel pintu. Siapa yang datang malam-malam begini? Sehun? Krystal kembali melihat ke arah jendela kamarnya. Tidak ada mobil Sehun. Kemudian ia melihat dari jendela ruang tamunya, tetap ia tidak melihat mobil Sehun.

“Krystal-ssi…”

“Oh Seulgi-yah?” Ujar Krystal ketika mendengar suara dari pintu. Seulgi? Kenapa dia ke sini? Sudahlah ia harus berpikiran positif. Seulgi pasti datang kesini sendiri bukan? Ia segera berjalan menuju pintu.

Cklek~

“Krystal!” Pekik Seulgi dan segera memeluknya.

Krystal terlonjak kaget. Tetapi dia membalas pelukan Seulgi. Setelah beberapa detik memeluk Seugli Krystal baru tersadar. Bahwa Seulgi kesini tidak sendiri.

.TBC.

Yang manis-manis ada di chapter depan.  See you there….

State of Grace (Chapter 24)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Sorak tepuk tangan menghiasi lantai dansa. Krystal mengundurkan diri dari hadapan Sehun. Ia kembali ke teman-temannya.

“Kyaaa….” Teman-teman Krystal berteriak menyambut Krystal.

Krystal meringis. Tentu dia sudah tahu apa maksud teman-temannya.

“Kau masih hidup bukan? Masih bernafas?” Hyeri menghampirinya.

Krystal mendengus, “Apa maksud kalian?”

“Kalau tidak salah tadi dirimu yang sama sekali tidak semangat berdansa!” Eunji melipat kedua tangannya, “Tapi kau mendapatkan Oh Sehun…”

“Itu hanya kebetulan!” Dalam hati Krystal meringis. Kebetulan apa? Ia yakin Sehun memang sudah menargetkannya dari awal. “Jangan berlebihan teman-teman…”

Choa mengerang, “Ugh! Kami tidak bisa Krystal!”

“Aku memotret mu! Kau mau melihatnya?!”   Chanmi mengeluarkan handphone-nya.

Krystal terperanjat. Ini… Dia mengambil handphone Chanmi. Teman-temannya juga ingin melihatnya.

“Kalian terlihat seperti sepasang kekasih!” Komen Eunji.

“Ya ampun… Ini sangat romantis!”

“Cara dia menatap mu Krystal! Dia adalah laki-laki yang hangat!”

“Beruntung sekali yang menjadi kekasihnya!”

Krystal terdiam melihat potretan Chanmi. Bagaimana bisa seperti ini? Maksud Krystal, ia hanya menatap Sehun sekali. Itupun dengan tatapan yang ia usahakan seperti biasa. Tetapi di foto ini sangat kentara.

Chanmi mengambil handphone-nya, “Aku akan mengirimkannya kepada dirimu, Krys.”

Krystal hanya terdiam.

“Permisi semuanya…”

Tiba-tiba hening ketika suara Tifanny terdengar. Tifanny kembali di atas panggung.

“Ku harap kalian menikmati pesta pembukaan ku…” Lanjut Tifanny sambil tersenyum. “Sebelum kita melanjutkan pesta ini, izinkan saya untuk mengucapkan terimakasih terlebih dahulu… Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada sahabat-sahabat yang telah mendukung saya, yang selalu memberikans saya saran. Terimakasih kepada Kim Taeyoen, Kim Hyoyeon, Im Yoonah, Kwon Miran, dan Min Hyorin.”

Orang-orang yang disebutkan oleh Tifanny mengangkat gelas mereka. Hadirin yang lain bertepuk tangan.

“Juga, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada keluarga saya. Suami Saya Oh Siwon dan anak saya Oh Sehun!”

Para hadirin kembali bertepuk tangan. Kali ini sangat keras. Tidak disangka-sangka, Siwon dan Sehun maju ke panggung. Mereka membungkukan badan mereka, menyapa para hadirin yang lain.

“Terimakasih kepada semuanya yang telah hadir disini…” Kata Sehun tanpa disangka-sangka.

Krystal terperangah untuk beberapa saat. Apalagi ketika melihat Sehun tersenyum.

“Aku baru ingat!” Tifanny kembali berbicara. “Sehun disini bersama kekasihnya!”

Krystal menahan nafasnya. Kekasihnya? Dia? Ia tertawa dalam hati. Tifanny mengakuinya atau….
“Biar kupanggilkan dia untuk datang ke panggung.”
Sehun terlihat bingung. Ia berbicara sesuatu ke Tifanny yang juga ditimpali oleh Siwon. Tifanny terlihat tidak peduli.

“Kemana dia ya?” Kata Tifanny lagi. Mata menyapu kerumunan, “Ah, itu dia!”

Jantung Krystal serasa meledak ketika mendengar lanjutan kalimat Tifanny.

.

.

.

.

.

“Krys, kau baik-baik saja?” Tanya Eunji yang melihat Krystal tiba-tiba pucat.

Krystal menoleh. Ia menghirup nafas, setelah beberapa detik tidak. “Baik…” Katanya serak. “Aku baik-baik saja…” Lanjutnya masih sama.

“Kau terlihat tidak.” Kata Eunji masih memperhatikan Krystal.

Krystal menggeleng lemah. “Tenang saja..” Ia kembali menatap ke panggung. Menahan getaran di tangannya seiring dengan Wendy berjalan mendekat.   Senyuman Wendy sangat indah apalagi gaunnya. Krystal mengigit bibirnya. Gaunnya pasti mahal tidak seperti gaun miliknya.

Tifanny kembali berbicara. Tapi kali ini Krystal tidak mendengarkan. Ia bahkan sudah mengalihkan tatapannya dari panggung. Menahan diri tidak menatap Sehun dan berusaha masuk ke pembicaraan teman-temannya.

Chanmi heboh, “Jadi itu kekasihnya?”

“Dia anak Kwon Miran kalau tidak salah…” Eunji kemudian kembali menoleh ke Wendy, “Tapi tidak mempunyai bakat melukis sama sekali…”

“Jangan-jangan mereka bertemu karena latar belakang orangtua mereka?” Tanya Minah.

“Ah, so sweet…” Seru Hyeri.

“Berarti Krys, tadi dirimu sudah termasuk sangat beruntung!” Pekik Seolhyun melihat Krystal.

“Tapi mengapa Sehun mau mengajak Krystal berdansa jika ia sudah punya kekasih?”

Ucapan Chanmi membuat semua menoleh ke Krystal. Krystal terdiam beberapa saat. Kenapa? Karena itu hak-hak Sehun. Dia bahkan tidak tahu jika Wendy disitu. Kalau boleh jujur, dia juga berhak berdansa dengan Sehun. Dia kekasihnya! Kekasih sebenarnya yang tidak diakui oleh ibunya! Krystal mengerjap. Berusaha menghalau air matanya yang ingin terjatuh. “Aku… Tidak… Tahu…” Jawab Krystal pada akhirnya.

“Itu benar. Mana dia tahu. Yang tahu alasan sebenarnya adalah Sehun bukan?” Tanggap Eunji. “Sudahlah jangan terlalu dipikirkan alasannya. Menurutku itu hak-hak Sehun juga. Itu tidak jadi masalah jika Wendy tidak keberatan. Buktinya Krystal baik-baik saja, berarti Wendy tidak keberatan bukan?” Lanjutnya memberikan beberapa alasan.

Tepat setelah itu, alunan musik kembali terdengar. Membuat semuanya menoleh ke atas panggung. Ketika itu Sehun menatap Krystal. Krystal segera mengalihkan pandangannya dari tatapan Sehun. Ia melihat Tifanny dan Siwon mulai berdansa. Suasana jadi sangat canggung sekali di panggung. Dengan Sehun dan Wendy di situ.

“Berdansa! Berdansa! Berdansa!” Teriak orang-orang melihat Sehun dan Wendy.
“Ayo berdansa!!! Apalagi yang mereka tunggu?!” Teriak Chanmi greget melihat mereka.

Sehun terlihat enggan. Ia menggelengkan kepalanya. Masih berusaha tersenyum. Cepat-cepat turun dari panggung. Menjauhi Wendy.

“Ayo berdansalah dengan Wendy!” Seru Tifanny tiba-tiba menghentikan Sehun.

“Ayo!!!!” Krystal menoleh ke teman-temannya, teman-temannya pada menunggu. Krystal menggigit bibirnya. Ini tidak baik. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke panggung.

Wendy mendekat ke Sehun dan menarik Sehun agar berdansa dengannya. Krystal tidak dapat melihat ekspresi Sehun. Semua orang bersorak gembira melihatnya, kecuali Krystal tentunya.

Setelah itu, beberapa teman-temannya ikut lagi berdansa. Krystal terdiam. Ia menghela nafas. Ia hanya ingin pulang sekarang. Diam-diam ia pergi dari ruangan dansa. Berjalan gontai menuju mejanya yang sangat sepi. Semua orang menikmati dansa kecuali dia.

Krystal kemudian duduk. Pandangannya mengabur. Ia menutupi mukanya.

Tes!

Tes!

Air matanya mulai berjatuhan. Sial! Rasanya sakit sekali melihat Wendy bisa berdekatan dengan Sehun. Sedangkan dirinya harus menahan diri agar bisa berdekatan dengan Sehun.

“Ini…” Krystal mendongak mendengar suara seseorang.

Seojoon tersenyum lembut. Memberi sapu tangannya ke Krystal, “Tidak apa-apa jika kau ingin menangis…”

Krystal cepat-cepat menghapus air matanya.

.

.

.

.

.

Seojoon sudah bilang ke Sehun. Tifanny pasti akan menyerang Krystal disana. Tidak secara langsung. Tapi melalui Sehun.   Ucapannya terbukti benar.

Dari bangkunya, Seojoon menoleh ke arah Krystal di ujung sana. Gadis itu terlihat biasa-biasa saja––dari jangkauan tempat duduknya––.
“Apa yang Tifanny lakukan?” Ucap Donghae khawatir melihat ia mengumumkan Wendy sebagai kekasih Sehun. Laki-laki disampingnya terlihat sangat marah.

“Aku tidak tahu paman.” Jawab Seojoon jujur. “Tapi jika seperti ini berarti ada yang harus ku urus.” Ia segera bangkit dari tempat duduknya. Berjalan mendekati Krystal, tidak terlalu dekat tetapi dapat melihat ekspresi wajah Krystal.

Gadis itu berusaha menahan semuanya. Ia tetap disitu. Saat Sehun turun dari panggung, ia tetap disitu. Sampai Wendy dan Sehun mengajaknya berdansa. Krystal terdiam cukup lama. Tiba-tiba ia berbalik.

Seojoon mengikuti Krystal. Gadis itu duduk di bangkunya. Menelungkupkan tangannya di wajahnya. Bahunya mulai bergetar. Seojoon menghela nafas. Ia berjalan mendekati Krystal. Mengeluarkan sapu tangannya.

“Ini…” Katanya menyodorkan sapu tangannya ke Krystal.

Krystal menatapnya. Hal itu membuat Seojoon tersenyum, memberikan sapu tangannya ke Krystal, “Tidak apa-apa jika kau ingin menangis…”

Krystal cepat-cepat menghapus air matanya, “Oppa?!”

Seojoon duduk di samping Krystal, “Tidak apa-apa jika kau ingin menangis…” Katanya lagi.

Krystal menghela nafasnya, “Menangis di depan orang bukanlah kesukaan ku.” Katanya jujur. Ia menatap Seojoon, “Aku orang yang suka tenggelam dalam kesedihanku. Kemudian merasa baikan ketika aku selesai menangis.”
Seojoon menganggukan kepalanya, “Seseorang memang butuh menangis Krys. Kau tahu, menurut Psychology, seseorang wanita menangis jika ada yang salah dan merasa benar ketika ia selesai menangis. Kau tidak perlu malu akan hal itu.”

“Entahlah…”

Ia tersenyum. Setidaknya Krystal tidak terlalu rapuh seperti tadi, “Jadi, ingin berdansa dengan ku?”

Krystal menatap Seojoon bingung.

“Aku tadi memprediksi hal ini ke Sehun. Jika Tifanny akan menyiksamu melalui Sehun. Dan ia melakukan hal itu dengan mengenalkan Wendy. Aku memprediksi jika kau tidak kembali lagi ke sana, Sehun akan segera kesini untuk mencari mu. Aku juga memprediksi dia lagi melihat segela arah mencari mu. Jadi…”

Krystal menundukan kepalanya, “Baiklah…” Ia dan Seojoon bangkit. Menuju kembali ke tempat berdansa dan mulai berdansa.

Sepanjang ia berdansa, ia berusaha untuk tidak melihat Sehun dan Wendy. Rasanya terlalu menyakitkan.

“Apa kau tahu jika Sehun sadari tadi menatap mu?”

Krystal menoleh ke Seojoon dengan tatapan bingung. Ragu-ragu, melihat ke Sehun dan… Seojoon benar. Sehun sedang melihat ke arahnya. Cepat-cepat Krystal mengalihkan pandangannya.

Seojoon kembali berbicara, “Kau lihat tangan Sehun? Dia menyalurkan segala emosinya dalam cengraman tangannya. Aku bingung kenapa Wendy tidak meringis sama sekali…”

Krystal melihat tangan Sehun yang sangat terkepal.

“Aku juga bingung kenapa ia sangat berani menatap Sehun. Sehun sama sekali tidak ingin menatapnya!”
Krystal menunduk. Dia diam-diam tersenyum, “Oppa tidak harus menghina Wendy agar membuatku tersenyum….”

“Setidaknya aku tahu apa yang akan membuat mu tersenyum.”
Krystal mendongak melihat Seojoon, “Oppa!” Dia tersenyum.

Seojoon ikut tersenyum, “Apalagi ya agar kau tertawa? Bagaimana jika kita berdoa agar leher Wendy sakit sehabis ini? Atau ada tulangnya yang salah akibat ia terus mendongak?!”
Jahat memang. Tapi Krystal tertawa mendengarnya.

“Hak sepatunya patah? Gaunnya terinjak?”
Lagu selesai. Seojoon melepaskan tangan Krystal. “Kau tersenyum lebar lagi…”

Krystal menggelengkan kepalanya.

“Sehabis ini kau duduk bersama ku okay? Untuk jaga-jaga. Entah apa yang akan ibuku buat sehabis ini.” Tanpa persetujuan atau apa, Seojoon menarik tangan Krystal.

.

.

.

.

.

Wendy bersumpah, ia membenci Krystal Jung. Sangat membencinya. Lihatlah sekarang! Karena gadis itu Sehun tidak menatapnya sama sekali! Lehernya pegal karena terus mendongak menatap Sehun dan Sehun sama sekali tidak membalasnya! Wendy bersumpah jika sekarang Sehun sedang menatap Krystal Jung.

Bagaimana Wendy tahu? Karena ketika Krystal Jung mulai berdansa dengan laki-laki yang tidak ia kenal, cengkraman tangan Sehun mengencang. Oh, itulah kenapa ia mencari-cari siapa yang Sehun tatap. Karena cengkraman tangan Sehun sangat kencang hingga tangannya dipastikan memerah.

“Sehun!” Wendy mencoba memanggil Sehun.

Tidak ada respon.

“Sehun!”

Masih sama, tidak ada respon.

“Aw!”

Wendy yang kesal akhirnya menginjak kaki Sehun. Membuat pemilik kaki tersebut meringis.

“Apa?!” Tanya Sehun tajam.

Prok! Prok! Prok!
Lagu dansa selesai. Sehun dengan cepat melepaskan tangan Wendy. Ia dengan cepat berjalan melewati Wendy.
“Tunggu!” Wendy terpakasa mengekor dari belakang. Sedikit tergesa-gesa karena jalan Sehun yang sangat cepat.

Hyung!” Sehun memanggil seseorang. Orang tersebut sedang duduk dan akhirnya berdiri.

“Sehun siapa dia?” Tanya Wendy dan melingkarkan tangannya di tangan Sehun.
Sehun menatap Wendy risih.

“Oh Seojoon.” Ucap Seojoon tiba-tiba. Melihat gelagat Sehun, sepertinya adiknya akan menyemburkan semua emosinya kepada Wendy. “Nama ku Oh Seojoon.” Katanya sekali lagi.

Wendy menunduk, “Aku Wendy Son…”

“Aku tahu.” Ujar Seojon santai.

“Dari mana Anda tahu?” Wendy bingung. “Apa kita pernah bertemu.”

“Pernah.”

“Kapan?”

“Di sini.”

Wendy menghela nafasnya. Astaga…. Cukup Sehun yang membuat kesabarannya habis. Lelaki ini tidak usah membuat kesabarannya habis.

Seojoon terkekeh, “Tentu saja tidak pernah. Jika pernah Anda pasti tidak menanyakan siapa saya.”

Nah, ucapan Seojoon malah semakin membuat kesabaran Wendy menipis. Mata Wendy kemudian teralihkan dengan perempuan yang duduk bersama Seojoon. Krystal Jung rupanya.

Wendy tersenyum, “Oh, Krystal? Kenapa kau disini? Bukannya kau seharusnya bersama teman-teman mu?”

“Diamlah dan pergi dari sini!” Sehun menatap Wendy tajam.

Wendy semakin kesal. “Kau menghabiskan waktu dengan lelaki lain? Ku kira kau sudah punya kekasih. Tidak kusangka jika—“

Argh!”

Wendy meringis tak kala Sehun menamparnya.

“Sehun…” Ucap Wendy tidak percaya.

Seojoon menghela nafasnya. “Sehun… Ingat apa yang ku katakan tadi…”

Sehun mengertakan giginya, “Ini terakhir kalinya ku katakan. Pergi dari sini sekarang!”

Tatapan Wendy menyalak, “Kenapa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya! Apa yang salah?!”

Sehun mengerang, “Kau…”

“Sehun…”   Krystal bangun dan menyentuh pundak Sehun. Membuat Sehun menghentikan langkahnya yang sedikit lagi siap menghajar Wendy.

Wendy terpana. Lagi-lagi tatapan Sehun ke Krystal. Kekesalnnya semakin menjadi-jadi.

Byur!

Refleks, Wendy menyiramkan sampanye terdekat yang bisa ia jangkau ke Krystal. Semuanya tersentak hebat.

“Ada apa ini?” Tepat sebelum situasi semakin runyam, Tifanny datang. Menembus kerumunan yang lain. Matanya menatap tajam Krystal ketika melihatnya.

Seojoon menghela nafasnya. Sepertinya suasana malah akan semakin tambah runyam.

“Pergi dari sini!” Seru Tifanny ke Krystal. “Kau membuat keributan disini jadi cepat pergi dari sini!”

“Tapi Wendy lah yang membuat keributan! Krystal sedari tadi hanya diam!” Seru Sehun kepada Tifanny. Ia kemudian menarik tangan Krystal. Membuat Krystal berada di sampingnya, “Krystal akan tetap disini. Bersama ku!”

“Wendy tidak akan membuat keributan jika tidak ada dia!” Tifanny masih tidak ingin mundur. Dia menunjuk ke arah Krystal, “Aku bos mu bukan? Turuti perintah ku!”

Mommy bukan bos Krystal lagi. Dia sudah mommy pecat bukan? Jadi sekarang hak-hak dia ingin berada disini atau tidak!”

Tifanny menatap Krystal semakin tajam, “Wanita jalang! Lihat yang kau buat? Kau membuat anak ku berpihak kepada mu!” Ia kemudian mengerang. “Aku membenci mu!”

Semuanya terkejut mendengar perkataan Tifanny, bahkan Wendy sekalipun. Tak disangka-sangka juga, air mata Krystal turun.

Krystal segera menghapusnya, “Aku pulang duluan. Permisi…” Ia membungkukan badannya dan segera pergi dari situ.

.

.

.

.

.

“Krys, ada apa?” Eunji panik melihat Krystal berlari dari ruangan dansa. Tanganya mencekal tangan Krystal.

Krystal menggeleng, “Tidak apa-apa. Aku harus pulang!” Ia kemudian melepaskan cekalan tangan Krystal.

“Hei—“ Eunji ingin mengejar Krystal jika saja ia tidak melihat pemandangan yang sangat unik. Oh Sehun juga ikut mengejar Krystal.

“Hey, bukan kah itu Krystal?” Seru Choa melihat Krystal keluar. “Kenapa dia? Pulang?”

Eunji mengangkat kedua bahunya, “Entahlah. Dia seperti sangat tertekan.”

“Akhir-akhir ini ku lihat dia juga sangat tidak bersemangat.” Choa kemudian menghela nafasnya, “Ku harap dia tidak keluar. Aku menyukainya.”
Eunji menganggukan kepalanya, “Dia orang yang asyik.” Kemudian matanya menyapu arah lain, “Kemana teman-teman kita yang lain? Apakah mereka sudah selesai muntahnya?”

“Ku rasa kita harus menyusul mereka ke toilet.” Terdengar gerutuan dari Choa, “Mereka ini! Tidak bisa mabuk malah mabuk!”

.TBC.

A/N:

Disetiap kepahitan kan ujung-ujungnya akan hilang…..  Mungkin beberapa chapter akan ada pahitnya tapi juga akan ada manisnya..  We’ll see…  

The Wind of Change (Chapter 1)

tumblr_inline_n5ww00jc5o1s2v6jx

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family,

Length: Chaptered

Author: Ally

***

I must confess
That my loneliness
Is killing me now
Don’t you know I still believe,
That you will be here
And give me a sign?

-Hit Me Baby One More Time- by Britney Spears

Kerutan di dahi laki-laki itu bertambah melihat laporan keuangan yang baru saja ia dapatkan.

Drrrt~

Merasa handphone-nya berbunyi, ia mengambil handphone-nya, tak jauh dari atas mejanya. Disamping tumpukan laporan yang belum ia baca.

Nde halmonie~” Jawabnya muram.

“Aigoo cucuku… Kau terlihat sangat depresi…” Suara halmonie terdengar bahagia di ujung sana.

“Bukan masalah penting.” Kata laki-laki itu acuh tak acuh.

Bukan masalah penting? Sebenarnya, kalau ia boleh jujur, semua yang tidak sesuai di perusahaannya adalah masalah penting. Tetapi berhubung halmonie sudah tua dan tidak mengerti apa yang ia bicarakan, lebih baik tidak mengatakan apa-apa.

“Bagaimana pesta sahabat halmonie? Apakah halmonie merasa disingkirkan?” Sehun kembali berbicara. Memutuskan untuk mengubah topic sebelum nenek tersayangnya kembali mengkhawatirkannya.

“Ah…” Halmonie mengerjap. Seperti baru tersadar akan sesuatu. “Pestanya mengasyikan Sehun-ah…” Jawab halmonie kembali bersemangat, “Aku bertemu dengan teman-teman lamaku. Dan tentu saja bahasa korea ku masih lancar. Kau ingin aku mencobanya?”

Sehun menggelengkan kepalanya sambil terkekeh kecil. “Tidak terimakasih halmonie…” Jawab Sehun menggunakan bahasa Inggris.

Keluarganya keturunan Korea yang sudah tinggal di Amerika sejak lama. Sehun merupakan generasi ke-5. Walaupun semua anggota keluarganya bisa berbahasa Korea bahkan ada yang memutuskan untuk kembali ke Korea, tetapi mereka lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris. Maka dari itu, ia yakin jika bahasa Korea halmonie tidak terlalu lancar. Kalau pun lancar pasti logatnya aneh. Sehun tidak ingin terbahak-bahak mendengarnya.

“Baiklah…” Halmonie menggumam. “Oh, aku juga bertemu dengan tunagan mu Sehun-ah!”

Alis Sehun terangkat. Tunangan? Sehun menggerang.
“Ada apa Sehun-ah?” Tanya halmonie yang khawatir dengan suara Sehun.

Sehun mendengus. Wajahnya kembali mengkerut. “Halmonie tidak mungkin melakukan hal ini kepadaku! Aku tidak ingin dijodohkan! Aku ini sudah dewasa dan juga, kita hidup di zaman apa yang masih ada perjodohan? Satu lagi, apakah Oemma dan Appa setuju?” Cecar Sehun kepada neneknya. Ia tidak bermaksud kurang ajar. Tapi yang benar saja.

Oemma dan Appa mu tidak mungkin melawan halmonie Sehun-ah…” Kata Halmonie dengan nada santai. “Lagipula ini demi kebaikan mu. Kau selalu sendiri tenggelam dalam pekerjaan mu. Tidak ada yang mengingatkan dan juga mengawasi mu. Kau butuh pendamping hidup cucuku tersayang…”

“Aku tidak butuh pendamping hidup!” Kata Sehun mencoba mengalahkan neneknya. “Sekertaris ku akan selalu mengingatkan ku dan aku juga mempunyai security yang selalu menjaga ku selama 24 jam.”

Halmonie meringis, “Dengar, kita bisa membicarakan ini dilain tempat dan waktu…”

Bagus! Kata Sehun dalam hati. Untunglah neneknya tersadar.

“Tapi…” Halmonie kembali berkata, “Kau harus menjemputku sekarang Oh Sehun.”

Sehun memicingkan matanya. Oh Sekyung tadi berangkat bersama supir yang sudah disewa orangtuanya. Kemana supirnya? Bukan itu juga. Walaupun umurnya sudah 65 tahun, Sekyung masih cekatan dan dapat mengingat hal dengan baik. Otak neneknya juga sangat tajam. Sehun merasa ada sesuatu di balik hal itu.

“Aku tidak bisa. Masih banyak pekerjaan yang harus ku urus.” Jawab Sehun pada akhirnya setelah sepuluh detik penuh terdiam.

“Jangan berbohong kepada halmonie…. Bukankah dirimu yang bilang masalah di kantor tidak penting? Maka dari itu cepat kesini. Halmonie tunggu ya!” Oh Sekyung langsung memutuskan teleponnya.

“Sial….” Desis Sehun. Ia menghembuskan nafasnya. Baiklah, dia sepertinya harus menjemput halmonie-nya sebelum neneknya melakukan hal-hal aneh.

“Irene-ssi,” Panggil Sehun kepada sekertarisnya melalui telepon kantor, “Aku harus pergi dulu. Ada yang perlu ku urus. Sepertinya aku juga tidak bisa mengikuti rapat pada malam ini. Tolong di resechedule…” Kata Sehun panjang lebar. Setelah menelepon orang-orang yang menurutnya penting, ia memakai jasnya dan keluar dari ruangannya.

.

.

.

.

.

Krystal meneguk segelas anggur merah. Ia mendesah keras.

“Apakah dirimu mengenal aku anak muda?”

Dahinya berkerut ketika ia mengingat seorang nenek tua entah siapa namanya tiba-tiba menghampirinya.

“Aku terbiasa datang ke rumah nenekmu ketika dirimu masih kecil. Kau sangat suka bermain kejar-kejaran bersama Jongin.”

Dahi Krystal kembali mengerut. Ini tidak benar! Katanya dalam hati. Krystal terjebak bersama neneknya dua jam belakangan ini. Ini karena neneknya ingin ia menjemput dirinya di pesta, tetapi nyatanya dua jam belakangan ini dia menghilang. Krystal malah bertemu dengan nenek-nenek aneh yang berbicara dengan bahasa Korea berlogat Inggris, yang tiba-tiba pura-pura akrab dengannya. Menceritakan hal-hal yang tidak ingin Krystal dengarkan dan ia terpaksa berbohong agar kabur dari nenek-nenek itu.

Krystal mengeluarkan handphone-nya. Ingin menelepon neneknya sekali lagi. Jika tidak dijawab, maka ia akan pulang dan menyuruh supirnya saja untuk menjemput neneknya.

“Nenek dimana?” Tanya Krystal ketika neneknya menjawab teleponnya untuk pertama kalinya selama dua jam. “Aku menunggu nenek selama dua jam! Dua jam!” Serunya dengan nada frustasi.

Terdengar neneknya tertawa kecil di sana, “Cepatlah kesini anak muda. Ke tempat ku. Aku di ruangan VIP dari tadi. Datanglah.”

“Apa?!” Tanya Krystal dengan nada tidak percaya. Apa-apaan? Setelah menunggu dia harus menjemput neneknya?!

“Cepatlah datang. Nenek menunggumu, Okay?” Setelah itu, nenek Krystal memutus sambungan teleponnya.

Krystal kembali menghela nafasnya. Sepertinya ia harus mengikuti permainan neneknya sebelum pulang kerumah.

.

.

.

.

.

Sehun menyereput kopi yang baru saja diberikan oleh pelayan. Memaksakan sebuah senyum sopan kepada orang di depannya, teman neneknya. Sehun yakin jika neneknya sedang merencanakan sesuatu. Dia yakin ini berhubungan dengan perempuan di jodohkan neneknya. Dia juga yakin jika teman neneknya yang duduk di depannya, yang sekarang sedang menelepon seseorang, yang ia juga yakini adalah cucunya, adalah komplotan neneknya.

“Sebentar lagi cucuku akan datang.” Teman neneknya berbicara kembali berbicara. “Oh, kita belum saling mengenakan diri bukan? Nama ku Elsie Jung anak muda. Siapa namamu?”

Sehun kembali memaksakan senyum sopan, “Oh Sehun.” Jawabnya pendek.

“Oh Sehun ya? Kudengar kau pernah tinggal di California. Cucuku juga tinggal di California. Yang akan datang ke sini sebentar lagi.” Kata Elsie Jung sama sekali tidak terlihat tersinggung dengan jawaban Sehun yang pendek.

Sehun hanya menganggukan kepalanya. California? Salah satu kota di Amerika yang pernah ia tinggali. Kota kedua terakhir, sebelum New York, kemudian ia dan keluarganya pindah ke Seoul. Sebenarnya banyak kota yang Sehun tinggali di sana. Hampir setiap tahun ia pindah ke setiap penjuru kota di Amerika seperti Houston, Boston, Chicago, Illinois, Minnesota, Michigan, California, dan terakhir New York. Tetapi California menyimpan kenangan tersendiri baginya.

Sehun melihat dengan seksama Elsie Jung. Rambut panjang wanita ini bewarna putih tetapi ia cat cokelat. Dengan jaket tebal bewarna cokelat tua yang melekat di tubuhnya. Tanpa ia sadari, Sehun mengerutkan keningnya. Dia seperti pernah melihat Elsie Jung. Atau Elsie Jung mengingatkannya kepada seseorang.

“Oh, anak muda, mungkin kau tahu siapa cucuku. Dia bernama Krystal Jung. Kau mengenalnya?”

Sehun tersedak ketika meminum kopinya. Krystal Jung? Krystal Soojung Jung?

“Dia sepertinya terkejut Elsie. Mungkin dia tidak menyangka jika akan dijodohkan dengan model terkenal Elsie.” Neneknya tertawa geli melihat Sehun yang tersedak. Ia mendekatkan dirinya ke Sehun yang masih menunjukan muka syok, “Aku memberikan jodoh yang baik bukan?”

Sehun mencengkram cangkir kopinya. Jodoh yang baik? Juga, apa yang dimaksud dengan model terkenal? Mana dia tahu Krystal Jung model terkenal. Menjadi seorang malaikat pun Sehun tidak terpana.

“Nenek! Ayo kita pulang!”

Sehun mengerutkan kedua keningnya ketika mendengar suara perempuan dari belakangnya. Manja dan tidak sopan. Persis seperti yang ia ingat dari seorang Krystal Jung.

“Krystal Jung…. Jangan tidak sopan!” Elsi mengingatkan Krystal Jung dengan nada tajam. Kemudian ia tersenyum minta maaf, “Cucuku sangat blak-blakan. Tetapi dia sebenarnya gadis yang manis.”

Sehun mencibir dalam hati. Gadis yang manis apanya? Gadis yang sepat dan kurang ajar baru benar.

“Nenek….” Krystal Jung memandang neneknya bingung. “Ayo kita pulang….”

Elsie tampak tidak peduli. Ia menepuk bangku kosong disampingnya, “Duduklah dulu di sini Krystal Jung. Ada yang nenek ingin bicarakan.”

Krystal memandang neneknya bingung. Tetapi dia tahu, dia tidak akan bisa pulang sebelum mengikuti permianan neneknya. Dengan malas, ia menuju bangku yang neneknya tunjuk.

Deg!

“Perkenakan ini cucuku, Krystal Jung. Krystal Jung, ini Oh Sehun.” Elsie Jung mengenalkan kedua anak muda dengan semangat.

Krystal Jung menatap Oh Sehun dengan tajam. Sebelum ia berdehem dan mengulurkan “Krystal Jung.”

“Oh Sehun.” Balas Sehun pendek dan segera menarik kembali tangannya sedetik setelah ia menempelkannya di tangan Krystal.

Apa-apaan? Kata Krystal jengkel ketika melihat gelagat Sehun. Kekesalannya semakin memuncak ketika Sehun mengelap tangan yang ia pakai untuk menyalami Krystal menggunakan celananya.

Mata Krystal kemudian ia alihkan ke orang sebelah Sehun. Ah, ia ingat. Nenek-nenek aneh tadi.

“Ini adalah neneknya Sehun, Oh Sekyung.” Elsie Jung kemudian memperkenalkan Sekyung.

Jadi begitu… Mungkin Oh Sekyung mendekati Krystal untuk memperkenalkan Sehun kepadanya. Ingin mencari tahu tentang Krystal sedikit.
“Hai, Krystal, nama halmonie Oh Sekyung. Senang bertemu kembali dengan mu nak!” Sekyung memperkenalkan dirinya dengan ramah.

Hal itu entah mengapa membuat Krystal senang. Ia tersenyum dan membalas jabatan tangan Sekyung, “Aku juga senang bertemu dengan halmonie kembali.” Diam-diam, Krystal melirik Sehun.Laki-laki di depannya tampak bingung. Tetapi ia beredehem dan mengalihkan tatapannya dari Krystal.

Sehun sendiri menghela nafasnya. Ini buruk. Neneknya tidak mungkin menjodohkan dia dengan Krystal Jung. Perempuan yang ia harapkan selalu jauh darinya. Berada di belahan bumi lainnya. Intinya, Sehun tidak ingin berdekatan dengan Krystal. Apalagi harus menghabiskan waktu dengan perempuan di depannya.

“Aku tahu ini baru pertemuan pertama kalian, tapi aku tidak bisa menahannya lagi…”

Sehun menahan gertakan giginya. Sebaiknya Elsie Jung tidak bertele-tele karena ia ingin segera pergi dari muka Krystal Jung.

“Kau dan Krystal kami jodohkan!”

“Nenek!” Seru Krystal dengan mata melotot. “Dijodohkan?! Apa maksud nenek?” Krystal bertanya dengan nada tinggi.

Teriakan Krystal membuat Sekyung dan Elsie sedikit terkejut melihat tingkah lakunya. Sehun juga tidak menyangka jika Krystal akan berteriak setinggi itu. Tapi itu membuat dirinya tambah yakin terhadap satu hal. Krystal Jung belum berubah.

“Begini Krystal-ah,” Sekyung mengambil alih keadaan.

Krystal sendiri menoleh dengan tatapan tajam. Tetapi tatapannya berubah, ketika Sehun menatapnya dengan melotot.

“Sudah sejak lama aku dan Elsie ingin melakukan hal ini. Tapi seperti yang kau tahu, anak kami dua-duanya perempuan. Maka dari itu, ketika mengetahui cucu kami laki-laki dan perempuan, kami ingin melakukan hal ini kembali.”

“Tapi…” Krystal mencoba menemukan kata yang tepat untuk bantahan. Bagaimana ini?

“Cucuku Oh Sehun. Dia adalah CEO dari perusahaan keluarga kami…” Jelas Sekyung yang kembali bergembira.

Krystal menaikan alisnya, CEO? Cih, yang benar saja!

Sehun melotot mendengar dengusan Krystal. Perempuan kurang ajar! Dia pikir dirinya lebih baik daripada dirinya? Dia hanya seorang model. Bodoh pun asal punya wajah bagus bisa menjadi seorang model.

“Kalau cucuku satu ini bekerja sebagai model.” Lanjut Elsie bersemangat.

Sepertinya yang sangat bersemangat adalah kedua nenek mereka. Krystal dan Sehun sudah sedari tadi ingin beranjak pergi dari sini.

“Model internasional lebih tepatnya…” Krystal akhirnya berbicara. “Sudah dua tahun ini aku keliling dunia untuk pekerjaanku.”

“Dia terlalu sibuk bekerja hingga tidak mempunyai teman. 6 bulan kedepan dia berlibur dan berada di Korea Selatan.” Sekarang Elsie lah yang kembali berbicara.

“Cucuku Oh Sehun hanya 6 bulan ini juga di Korea Selatan. Setelah itu ia akan kembali ke New York.” Kali ini, Sekyung lah yang berbicara.

Elsie mengerjap, seperti tersadar akan sesuatu, “Aku tidak tahu jika perusahaan kalian ada di New York, Sekyung-ah…”

Sekyung tertawa malu, “Sebenarnya dia hanya menjadi CEO pengganti disini. Ketika kakak iparnya sembuh dia akan kembali ke New York, melanjutkan kuliahnya.”

Pfft~ Ternyata hanya anak kuliahan! Seru Krystal dalam hati. Di dalam hatinya juga ia terbahak-bahak melihat keadaan Sehun, sudah sepuluh tahun berlalu semenjak masa SMA dan dia masih di dunia perkuliahan?!

“Bukan melanjutkan kuliah halmonie….” Sehun akhirnya membuka mulutnya. Nada suaranya yang tenang berlainan dengan keinginannya untuk menonjok Krystal, “Aku sedang belajar bersama senior ku dalam membangun restaurant.

“Ah, jadi sebenarnya Sehun bekerja sebagai apa?” Elsie bertanya.

Sehun memaksakan sebuah senyum, “Aku lulusan sekolah bisnis. Aku juga suka dengan makanan. Jadi membuat restaurant adalah kesukaanku. Terkadang aku menjalankannya atau hanya sebagai investor nya.”

“Oh, hebat!” Elsi bertepuk tangan, “Kau punya restaurant di sini anak muda?”

Sehun melirik Krystal yang sekarang terdiam kaku, ia tersenyum, “Tentu. Anda mengetahui Croquer?”

Mata Elsie terbelak, “Croquer? Bukankah waktu itu kita ingin makan kesana tetapi tidak mendapatkan tempat?”

Krystal hanya tersenyum sebagai jawaban. Dulu dia sangat ingin ke Croquer. Menurut teman-temannya, Croquer adalah restaurant dengan konsep makanan ringan, tetapi menyebabkan dirimu kenyang. Teman-teman sesama modelnya mengatakan jika makan disitu menyebabkan dirimu kenyang dengan berat yang tidak bertambah. Krystal benar-benar ingin kesana. Tetapi sekarang? Mengetahuinya saja tidak ingin!

“Ah, maafkan aku.” Ujar Sehun. “Beritahu aku kapan kalian ingin datang. Aku akan memastikan kalian mendapatkan meja disana.”

Krystal lagi-lagi hanya tersenyum. Sehun kembali tersenyum lebar melihat Krystal yang terdiam.

“Mungkin kita bisa kesana bukan Krystal? Mengingat dirimu sekarang libur?”

“Aku tidak bisa.” Jawab Krystal memaksa suaranya tidak ketus. “Tadi manajer ku menelepon.”

“Oh, jangan bilang kau ingin menurutinya untuk bermain film Krystal.” Keluh Elsie menatap datar cucunya.

“Entahlah. Lagian itu merupakan hal yang bagus jika aku mencobanya bukan? Kenapa nenek melarang ku?”

Sehun menatap Krystal datar. Benar-benar! Dia tidak mungkin serius mengajak neneknya berdebat di depan muka Sehun.

Drrrt~

Handphone Sehun yang bergetar menyebabkan ia tersentak. Sehun melihat sebentar dan segera permisi ke neneknya.

“Hai!” Balas Sehun ceria setelah merasa cukup jauh dari meja.

Hai!” Sapa perempuan di ujung sana. “Ku harap aku tidak menganggu pekerjaan mu.”

Sehun tertawa kecil, “Tidak sama sekali. Malah kau menyelamatkanku dari sesuatu yang cukup membosankan.”

“Membosankan?” Suara perempuan itu terdengar tidak percaya. “Rapat lagi hingga tengah malam dan mereka membicarakan hal yang tidak penting.”

“Bukan… Bukan itu.” Kata Sehun gantung, tidak ingin menceritakan yang sebenarnya.

Perempuan di ujung sana tertawa kecil, “Terserah dirimu jika ingin cerita atau tidak.”

“Bagaimana keadaan dirimu?”

Terdengar helaan nafas, “Masih sama.”

“Apa? Kau masih sakit?” Suara Sehun berubah menjadi khawatir.

“Hmm…. Aku masih merindukan mu Oh Sehun~”

Mendengar hal itu membuat Sehun tersenyum lebar, Aku juga merindukan mu Wendy Son~”

Wendy mendengus, “Cepatlah pulang~”

“Setelah semua ini selesai aku berjanji akan pulang.” Pandangan Sehun kembali ke meja. Ia melihat Sekyung menatapnya, segera ia berbalik, “Dengar Wendy, aku sedang bersama halmonie jadi aku tidak bisa berlama-lama.”

“Apakah halmonie tahu tentang diriku?”

Pertanyaan Wendy membuat Sehun menghela nafasnya.

“Sehun, kau tidak mungkin menyembunyikannya seumur hidup mu.”

“Aku tahu… Aku tahu….” Kata Sehun terdengar putus asa. “Sekarang aku benar-benar harus kembali ke halmonie sebelum halmonie datang ke sini, Okay?”

Sekarang Wendy yang menghela nafasnya, “Baiklah…”

Sehun kemudian tersenyum kecil, “Jangan tidur terlalu malam okay?”

Wendy tertawa kecil, “Ini masih pagi, bodoh!”

Sehun ikut tertawa, “Sampai jumpa Wendy Son~”

“Sampai jumpa Oh Sehun” Sebelum Sehun menutup teleponnya, Wendy kembali berkata, “Jangan lupa menelepon ku lagi, okay?”

“Tentu…”

.TBC.

A/N:

Haiiii….  I’m back with a new Sestal fan fiction.  Terakhir post fanfic  baru tenting Sestal sekitar bulan desember tahun 2015…  Hope you guys like it yaa….  

Warm Regards

Allamanda Zahra