Unwanted Reverie (Chapter 2)

unwantedreverie

Poster By : NJXAEM@ POSTERCHANNEL

Author: Ally

Cast: f(x)’s Krystal Jung | EXO’s Oh Sehun | RV’s Bae Irene |

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

***

Unwanted #2: Unwise Advised

“Jadi bagaimana Krystal, apakah kau ingin menggoda Oh Sehun?” Joohyun kembali berkata setelah Krystal menatapnya tanpa berkedip hampir tiga menit. Dia mengigit bibirnya.

“Oennie gila bukan? Aku adalah sahabat mu. Oh Sehun adalah tunagan mu. Apa yang ada dipikiran Oennie?” Krystal berangsur-angsur mundur. “Oennie… Astaga! Kau membuatku takut!”

Joohyun menghela nafasnya, “Kumohon Krystal…. Pikirkanlah!”

.

.

.

.

.

Krystal tidak tahu perasaannya sejak ia pulang dari butik Joohyun. Hal yang dijanjikan Joohyun hampir berhasil membuatnya ingin menyetujui. Tapi apakah hal itu benar?

Sebelum Krystal pulang, Joohyun masih menatapnya sambil berharap. Joohyun juga berkata alasan ia memilih Krystal karena ia mempercayai Krystal sebagai sahabatnya. Sahabat yang selalu berada disampingnya. Hal itu bukan membuat Krystal tenang. Malah semakin membuat ia resah, bagaimana jika ia kelewat batas?   Bagaimana jika ia mengkhianati Joohyun pada akhirnya? Semuanya pasti dapat terjadi.

Lagipula, apakah Krystal semurah itu? Menggoda tunangan-lebih tepatnya calon tunangan- terdengar murahan bagi Krystal. Tentu Joohyun tidak bermaksud seperti itu. Gadis itu hanya terluka dan itu satu-satunya hal yang ia pikirkan. Krystal satu-satunya orang yang ia pikir cocok untuk melakukannya.

Helaan nafas terdengar dari bibir Krystal. Ia memijit pelipisnya yang sedari tadi pusing karena berbagai masalah. Ia bangkit dari tempat tidurnya. Ia tidak bisa tidur. Padahal jam sudah menunjuk pukul sebelas malam. Dia lelah tapi pikirannya tetap berkelana. Krystal berjalan menuju jendela kamarnya. Membukanya. Membiarkan bunyi mobil yang masih ramai dari kota New York masuk ke apartment-nya.

Banyak orang tidak ingin tinggal di apartment yang berada tepat di tengah kota New York. Selain karena macet, apartment disitu sangat bising. Kota yang tak pernah tidur ini terlihat dari jalananannya yang tidak pernah sepi. Tapi itulah yang membuat Krystal tinggal di apartment-nya. Ia menyukai suara bising dari mobil yang terkadang di warnai oleh suara klakson. Itu mengisi kekosongan di apartment-nya. Mengisi kekosongan dirinya juga.

Ia tidak pernah mempunyai teman. Krystal menghabiskan masa hidupnya di apartment orangtuanya. Ia tidak bersekolah seperti anak pada umumnya. Ia homeschooling. Dia hanya bersekolah tiga bulan lamanya. Sebelum teman-temannya membulli dirinya dan orangtuanya memutuskan untuk mensekolahkannya dirumah.

Sepupunya adalah temannya. Minho dan Junmyeon. Tapi sekarang mereka tidak dekat lagi. Setelah Junmyeon putus dari Joohyun dan ia lebih memihak Joohyun. Setelah Junmeyon menikah dengan Park Chorong, perempuan yang ia pilih melebihi Joohyun. Minho masih bersikap baik terhadapnya. Apalagi Choi Sulli, istrinya. Tapi entahlah… Krystal menjauhi Minho. Karena dimana ada Minho disitu juga ada Junmyeon. Jika Junmyeon ada, maka ia dan Krystal pasti akan bertengkar.

Krystal menatap jalanan yang tak pernah sepi itu. Di tengah hingar bingar ini ia masih merasakan sepi.

.

.

.

.

.

Tidak mempunyai teman bukan berarti Krystal tidak mempunyai seseorang yang bisa diajak berbicara. Ibunya selalu berada disampingnya. Ibunya lebih dari sekedar ibu baginya. Ia adalah saudaar perempuan Krystal dan juga sahabatnya. Ibunya menjadi tempat Krystal ketika ia bingung.

Kebetulan yang menakjubkan adalah hari ini, sehari setelah Joohyun dan Krystal berbicara, Krystal dari minggu lalu sudah mempunyai janji dengan ibunya. Ibunya baru saja pulang dari dinas kerjanya dan baru hari ini, setelah dua minggu, ia dapat bertemu dengan ibunya.

Krystal asyik menunggu di restaurant italia dekat kantor ibunya. Ketika hampir 15 menit menunggu, ibunya datang. Dengan pakaian formal kantor dan rambut yang digulung ke atas. Wanita yang menginjak akhir 40 ini terlihat tersenyum ke Krystal. “Apakah sudah menunggu lama?” Tanya ibunya dan mulai melihat menu.

Krystal juga ikut melihat menu, “Tidak juga. Aku pikir Oemma akan lebih lama lagi.”

“Rapatnya selesai lebih cepat.” Ujar Jessica pendek. “Ah… Oemma melihat macaroni disini jadi teringat Mac and Cheese di Chichago. Itu sangat lezat.”

Oemma tidak membawakannya untuk ku.” Kata Krystal dengan nada yang pura-pura kesal.

Jessica tertawa, “Oemma pernah membawakan mu makanan tapi kau dan Appa tidak pernah memakannya. Lagipula Oemma dibayarin makan disana.”

Krystal kemudian berdehem, “Kita pesan Lasagna saja bagaimana? Aku bosan dengan spaghetti.”

“Oemma ikut saja dengan mu.”

Krystal dan Jessica memesan Lasagna dengan minuman mereka. Krystal terdiam sejenak. Haruskah ia mengatakannya? Meminta saran Oemma-nya?

“Bagaimana kuliah mu? Apakah rancanganmu diterima oleh Professor Clark?”

Krystal menatap Oemma-nya sejenak, “Tidak. Dia menolaknya. Tapi aku sudah mendapatkan inspirasi baru.”

Jessica menganggukan kepalanya, “Dan bagaimana rencana mu ketika selesai kuliah? Kau sudah mempertimbangkan saran Appa dan Oemma kan?”

Saran Appa dan Oemma membuat Krystal tambah frustasi. Kedua orangtuanya sudah mengetahui jika Krystal langsung ingin membuat brand pakaian. Tapi mereka khawatir. Mereka khawatir karena Krystal harus meminjam uang dari bank. Menurut mereka itu terlalu beresiko. Mereka juga tidak dapat membantu Krystal. Hidup di New York hampir 20 tahun, gaji mereka masih dikatakan terlalu pas-pasan. Mereka ingin Krystal bekerja dulu di boutique seseorang baru membuat brand sendiri.

“Krystal!” Jessica memanggil Krystal yang terdiam. Ia tersenyum sedih, “Kau tidak setuju bukan?”

Krystal berdehem, “Aku mendapat kesempatan lain. Bukan meminjam uang dari bank. Joohyun menawariku bekerja sama untuk pakaian musim panasnya. Itu dapat membuat namaku terkenal dikalangan investor.”

“Itu hal yang bagus sayang!” Jessica bersorak senang. Ia mengenggam kedua tangan Krystal, “Apa kau menerimanya?”

“Belum. Aku masih memikirkan syaratnya.”

Jessica menghela nafasnya dan memijit pelipisnya, “Syarat…. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Jadi katakan kepada Oemma. Apa syaratnya? Apa syaratnya kau harus membagi pendapatan mu atau kau membangun brand dibawah perusahaan miliknya atau apa?”

Krystal menggelengkan kepalanya, “Bukan syarat seperti itu.”

“Bagus! Apa lagi yang kau tunggu Krystal Jung? Atau ia memberikan syarat yang melanggar hukum?”

“Astaga Oemma tentu tidak! Oemma berkata seakan Joohyun orang jahat.”

Jessica kembali mengenggam tangan Krystal, “Kalau begitu apalagi yang harus kau tunggu? Dengar, Oemma tidak tahu persis apa syaratnya tapi menurut Oemma kalau syaratnya tidak merugikan mu, tidak membuat mu melanggar hukum, Joohyun juga mempercayaimu, dan satu lagi Joohyun senang jika kau melakukannya kenapa tidak? Oemma tidak akan bohong kepada mu Krystal, ini adalah kesempatan terbaik mu.”

“Permisi!” Suara dari pelayan wanita mengejutkan mereka berdua. “Pesanan kalian…”

Hmm.. Lasagna datang pada waktu yang tepat.” Ujar Jessica dan mulai memotong Lasagna-nya.

.

.

.

.

.

Berbicara dengan ibunya tidak membuat Krystal sedikitpun tenang. Akhirnya, ketika jam menunjukan pukul 12 malam, ia memutuskan keluar dari apartment-nya menuju bar di sekitar apartment-nya. Dengan pakian tidur tipisnya dilapisi oleh jaket tebal dan panjang. Yang Krystal inginkan saat ini adalah minum-minum.

“Lady… Aku sudah lama tidak melihatmu datang disini.” Seru bartender bar ke Krystal.

Krystal tersenyum kecil, “Hai Micheal! Aku tidak melihat Nick!”

“Oh Nick keluar dari 2 minggu yang lalu. Kekasihnya tidak setuju dia bekerja disini.”

“Sayang sekali… Aku pesan seperti biasa.” Krystal duduk dan melihat layar tv menampilkan tv series berjudul entah apa. Dia sudah lama tidak melihat tv. “Bar sangat sepi malam ini.”

“Ini jam 12 malam Lady… Tentu sudah sepi. Aku mau tutup jika saja kau tidak datang.” Michael kemudian memberikan minumannya. Krystal tersenyum dan meneguk dengan sekali.

“Hai Micheal!” Seseorang datang dan terlihat menjabat tangannya dengan Micheal. “Ku kira bar mu sudah tutup.”

“Hai Kai! Sebenarnya aku sudah ingin tutup jika saja Krystal tidak datang.”

Krystal yang mendengar namanya disebut menoleh ke arah teman Micheal.

“Ini teman ku Kai, Krystal. Dia juga berasal dari Asia seperti mu. Tepatnya dari Korea Selatan.”

Krystal terpaksa mengeluarkan senyumannya. Kalau ingin berdebat, dia akan berkata jika dia benar-benar orang Amerika asli karena lahir dan dibesarkan disini. Keluarganya sudah tiga generasi berada di Amerika. “Aku pesan lagi.”

“Aku seperti biasa.” Ujar Kai dan duduk disamping Krystal.

Mereka terdiam. Krystal benar-benar ingin sendiri kali ini. Ketika minuman datang, ia kembali meneguknya dengan sekali teguk.

“Hari yang buruk?” Tanya Kai menatap Krystal. “Atau masalah yang berat?”

“Masalah yang berat.” Sahut Krystal enteng. Ia mengangkat tangannya untuk memesan lagi.

Kai meneguk minumannya.

“Hari yang buruk atau masalah yang berat?” Tanya Krystal melihat Kai yang juga meminum alkoholnya dengan cepat.

Kai tersenyum, “Dua-duanya.”

“Ku kira aku saja yang menderita.” Kata Krystal kemudian menyesap minumannya.

Kai tertawa, “Tidak bisakah kau memberi simpati kepadaku?”
Krystal menatap Kai. Menyadari jika laki-laki itu memiliki wajah rupawan dengan mata bulat sempurna, hidung yang mancung, dan bibir yang tebal. Ia berdehem, “Aku tidak dapat memberikan simpati karena aku sendiri kekurangan akan hal itu. Mungkin kau bisa memberikan simpati kepadaku?”

Kai menyesap minumannya, “Apakah kau pernah berpikir jika semua hal tidak ada yang sesuai dengan ekspektasi mu? Hari ini aku menyadarinya. Kau mengenalku?”

“Apa kau model yang tidak terlalu terkenal?”

Kai tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban lugas Krystal, “Kau bukan yang pertama yang mengatakan pekerjaan ku model. Tapi kau yang pertama yang mengatakan jika aku model yang tidak terlalu terkenal.” Kai mendekatkan wajahnya ke Krystal, “Aku penari terkenal.”

“Itu bukan duniaku.” Seru Krystal dan lagi-lagi meneguk alkoholnya. Satu-satunya penari yang ia kenal Oh Sehun. Oh, Krystal jadi bertambah muram mengingat hal tersebut.

“Intinya, aku membuat koreagrafer dan berharap koreagrafer ku di pilih untuk acara pembukaan. Tapi tidak malah koreagrafer teman ku. Kemudian teman ku dipilih sebagai center, itu biasanya posisi ku. Dan teman ku, orang yang sama dengan koreagrafernya dipilih dan sebagai center, diberikan durasi solo performance terlama. Kau tahu kenapa begitu? Itu karena dia mempunyai wajah yang tampan.”

“Kau tampan.”

Kai tersenyum mendengar perkataan Krystal, “Dia lebih tampan. Kata murid-murid perempuan yang lain wajahnya membuat mu tidak bisa bernafas.” Ia kembali berkata, “Jadi bagaimana dengan mu?”

Krystal akhirnya bercerita, “Aku mempunyai masalah besar. Teman ku, tiba-tiba berkata kepadaku jika ia akan membantuku. Tapi dengan sebuah syarat. Dan aku pusing dengan syarat itu. Sebelum kau berkata jika syaratnya merugikan diriku atau melanggar hukum maka aku akan menjawab tidak. Syaratnya sedikit gila tapi tidak melanggar hukum.”

“Apa syaratnya?”

Krystal menyesap minumannya dengan muram, “Dia ingin aku menggoda calon tunagannya. Bisakah kau pikirkan itu?! Hidupku memang susah tapi aku tidak semurahan itu!”

“Jauhi saja teman mu. Ku rasa dia meremehkan mu.”

“Aku tidak bisa. Dia mempunyai masa lalu yang buruk tentang tunangan dan pernikahan. Itu yang bisa ia pikirkan dan hanya aku yang ia percaya. Masalah utamanya adalah aku butuh hal yang ia janjikan.”

“Hey, kau ma dengar saran ku?”

Krystal kembali menatap Kai, “Saran dari seseorang yang mabuk?”

Kai mendekatkan wajahnya ke Krystal, “Jika kau menerima saran dari seseorang yang tidak mabuk kau pasti tidak akan mabuk-mabukan.”

Krystal menghela nafas mendegar kalimat Kai yang mengindikasi dia sudah mabuk. Tapi ia tetap diam mendengarkannya.

“Menurutku, kau setuju saja dengan syaratnya. Tapi kau tidak menggoda calon tunangannya. Kau mungkin dekat dengan calon tunagannya tapi tidak sampai menggodanya. Ketika ia bertanya apakah calon tunagannya tergoda olehmu kau tinggal menjawab tidak. Dia pasti percaya padamu. Dan dia pasti tidak akan bertanya kepada calon tunagannya.”

Krystal melihat alkoholnya sejenak sebelum kembali meminumnya. “Kau tahu, kurasa kau teman yang enak diajak ngobrol.” Krystal mengeluarkan uangnya dan memanggil Micheal, “Ambil saja kembaliannya.”

Kai yang melihat Krystal akan pergi juga ikut membayar. “Kenapa kau berhenti minum? Kita bisa mengobrol lagi.”

“Aku ingin tidur.” Jawab Krystal pendek.

“Biar ku antar. Kau mabuk.”

Krystal tertawa dan ia mengibaskan tangannya, “Kau juga mabuk. Lagipula tempat tinggal ku dekat.” Ia berbalik keluar dari bar.

Kai mengikuti Krystal. “Hey, aku rasa aku bisa menemanimu berjalan.” Krystal masih berjalan tanpa menoleh dan Kai mengikuti Krystal. Ia dengan cepat mensejajarkan langkahnya dengan Krystal, kemudian mencekal tangan Krystal, “Atau kita bisa bersenang-senang sedikit? Kau tahu… Aku sedang kesepian. Kau juga.”

Krystal mendekat ke arah Kai dan berbisik, “You’re not lonely. You can ask your fiancée or your wife to company you.” Ia kemudian menatap Kai dengan tatapan tajam, “Lain kali simpan terlebih dahulu cincin mu sebelum menggoda seseorang. Looser!” Ia segera berjalan menjauhi Kai.

Kai menatap punggung Krystal yang semakin menjauh kemudian tersenyum. Dia menyukai gadis itu.

.TBC.

Haiiii… Aku updated agak cepat kali ini. Tapi gak tahu kedepannya soalnya aku udah masuk sekolah lagi. Agak liar bukan? Ya, soalnya mereka hidup di Amerika alias New York jadi aku buat latar kehidupan Krystal agak liar.

Well, Kim Jongin atau Kai sudah muncul menjadi playboy kelas kakap. Sedangkan Oh Sehun belum. Kayaknya sih Sehun muncul di chapter depan.

Okay, See you soon~

Advertisements

Unwanted Reverie (Chapter 1)

unwantedreverie

Poster By : NJXAEM@ POSTERCHANNEL

Author: Ally

Cast: f(x)’s Krystal Jung | EXO’s Oh Sehun | RV’s Bae Irene |

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

***

Unwanted #1 : Making A Brand

Kertas-ketas sudah bertebaran dimana-mana. Banyak dari kertas sudah tak berbentuk lagi akibat dari emosi sang gadis yang asyik mencoret-coret sesuatu. Tak lama kemudian ia kembali meremas kertas, lagi, dan melemparnya sembarangan. Krystal merengut. Ini benar-benar sial! Ide-idenya yang tadi pagi sudah keluar hilang entah kemana. Belum lagi mood nya yang benar-benar buruk.

Sudah dua jam ini gadis yang berambut blonde ini berkutat menyelasaikan satu model pakaian. Satu model saja. Tadinya Krystal sudah memiliki banyak ide bahkan sudah menghubungi pembimbingnya. Mahasiswi semester terakhir yang sedang membuat karya sebagai pembuktian dia siap bekerja merasa yakin dengan karyanya. Yah gitu deh akhirnya… Pembimbing Krystal benar-benar marah dan menolak ide Krystal. Mengatakan jika diri Krystal tidak pernah berkembang. Hanya gambar gadis ini saja yang bagus.

Pembimbingnya mengancam jika dalam tiga minggu Krystal tidak menyelesaikan model pakaiannya ia harus menunggu tahun depan. Belum lagi ia bertemu dengan teman kampusnya yang mengejek dirinya. Mengatakan jika sedari awal Krystal keluar saja dari jurusan mode dan banting setir menjadi seorang pelukis. Jika ia tahu waktunya banyak, Krystal pasti akan membalas omongan gadis sialan itu.

Krystal memijit pelipisnya. Ia meletakan buku sketsanya dan beranjak dari tempat tidurnya. Keluar dari kamarnya untuk memasak makan siangnya sendiri. Krystal mengeluarkan dua bungkus ramyun instan dan mulai memasaknya.

Ting!

Krystal yang sedang asyik melamun tersentak hebat mendengar bunyi yang tak lain dari handphone-nya. Gadis itu menggarukan kepalanya yang tidak gatal. Mencoba mengingat dimana handphone-nya.

Ting!

Bunyi pesan masuk terdengar lagi. Krystal mengecilkan kompornya dan mulai mencari handphone-nya. Pasti ada yang penting. Kalau bukan pekerjaannya sebagai seorang kolomnis disebuah majalah fashion pasti mengenai kedua orangtuanya. Atau dari seseoarang yang dari tadi memang ia tunggu kabarnya.

Gadis itu tersenyum senang ketika menemukan handphone-nya yang tergeletak di ruang tv yang kadang merangkap menjadi ruang tamu. Krystal melihat isi pesan. Beberapa detik kemudian senyuman Krystal langsung merekah. Ia bahkan tersenyum lebar sampai matanya terlihat mengecil. Mood-nya mulai kembali. Dia yakin dia akan menemukan inspirasinya sebentar lagi.

.

.

.

.

.

Jalanan Manhattan yang benar-benar ramai kali ini benar-benar menguji kesabaran Krystal. Setelah terjebak macet hampir sepanjang jalan ia akhirnya memarkirkan mobilnya di depan butik terkenal dengan susah payah. Itupun seetelah berkeliling-keliling tiga kali. Ia keluar dari mobilnya dengan merapikan rambutnya yang sedari tadi ia acak-acak karena kesal. Memasuki butik bernama Red Velvet by Bae Joohyun dan sedikit menyeringit melihat banyaknya pengunjung. Itu pasti karena butik ini sedang memberikan diskon besar-besaran.

“Krystal!”

Krystal menoleh dan melambaikan tangannya kepada Suzy, sekertaris dari Joohyun. Suzy menghampiri Krystal dengan senyuman manisnya.

“Ini gila!” Seru Krystal melihat keadaan sekitar.

Suzy tertawa, “Kau tahu… Kami mengadakan diskon besar-besaran hingga 85%. Ayo kita ke lantai tiga. Disana lebih nyaman.”

Krystal mengikuti Suzy yang membawa dirinya memasuki sebuah lift yang dilapisi kaca, sehingga Krystal masih melihat banyaknya orang ketika ia naik.

“Joohyun Oennie masih ada rapat dengan klien. Ia menyuruh mu bersantai di lantai tiga terlebih dahulu.”

Lift pun mulai naik, Butik ini terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama dan kedua adalah butiknya. Sedangkan lantai tiga adalah ruang kerja para designer. Lantai pertama bisa dijangkau oleh semua orang. Rata-rata orang yang menggesekan kartu kreditnya tanpa berpikir panjang berbelanja dilantai dua, lantai yang diperuntukan untuk pengunjung VIP. Dengan memasuki lift sudah benar-benar berkah bagi Krystal. Dari lift-nya Krystal dapat melihat jika lantai keduanya juga penuh.

Krystal mengeluarkan komentarnya, “Aku tidak tahu orang kaya butuh diskon untuk berbelanja.”

Suzy tersenyum kecil, “Bagi anak kaya yang uangnya masih terbatas mereka membutuhkan diskon. Kau lihat muka mereka semua? Aku lebih memilih melayani orang-orang di lantai bawah daripada melayani mereka. Sombong sekali!”

Bunyi Ting! terdengar dan mereka akhirnya keluar dari lift. Di lantai tiga ini juga sangat ramai.

“Wow! Sepertinya butik ini sangat sibuk sekali!”

“Ini sudah memasuki musim dingin. Kami mengadakan diskon besar-besaran agar baju musim gugur dan panas kami habis. Belum lagi minggu depan kami akan mengeluarkan line musim dingin.” Jelas Suzy. “Joohyun Oennie menyuruhku untuk mengajakmu melihat-lihat line musim dingin. Dia mengatakan kau membutuhkan inspirasi untuk tugas akhir.”

“Dia mengizinkannya?” Tanya Krystal tidak percaya. Melihat line musim dingin pertama kali? Apa?

Suzy tertawa melihat ekspresi terkejut Krystal. “Hei… Kau sangat jelek dengan ekspresi terkejutmu itu.”

Krystal menutup mulutnya yang tadi sempat terbuka. Ia berdehem tapi matanya tetap sangat berbinar.

“Kurasa kau sudah tidak sabar bukan? Ayo ikuti aku….” Suzy membawanya ke tempat yang belum pernah Krystal masuki ketika ia mengunjungi Joohyun. Ia sudah beberapa kali ini mengunjungi Joohyun. Kebanyakan berhubungan dengan tugas kuliahnya. Tapi ia tidak pernah berpikiran ia akan masuk ke ruangan dimana baju-baju indah belum pernah dilihat banyak orang akan ia lihat.

Ketika Suzy ingin membuka ruangan itu dengan kartu ID nya ia bertanya, “Kau baik-baik saja?” Suzy melihat Krystal dengan sorot mata geli. Krysal sangt gugup hingga terdapat bulir-bulir keringat di dahinya. “Yang akan kita temui baju Krystal Jung bukan bos baru mu.”
“Aku hanya terlalu excited Suzy…”

Suzy tersenyum dan menempekan kartu ID. Pintu terbuka. Ruangan itu penuh dengan baju baru yang membuat mata Krystal membesar. Ia mendekat ke salah satu rak baju dan mengambil sebuah gaun bewarna pelangi.

“Sehabis Red Summer dan Autum in Red, kami berpikir jika musim dingin harus memberikan kesan lembut. Nama katalog musim dingin kami adalah Perfect Velvet.   Gaun yang dirimu pegang saat ini adalah gaun untuk makan malam bersama keluarga. Bagaimana menurutmu Krystal?”

“Genius! Merah terlalu membosankan untuk pakaian natal! Begitu juga putih! Atau hitam! Pelangi?!” Krystal terkekeh. “Bae Joohyun memang yang terbaik. Tidak heran baru-baru ini dia berhasil membuka tokonya di Paris.”

Suzy menggelengkan kepalanya melihat Krystal yang masih kagum. “Seperti yang kau lihat sekarang ini. Pakaian kami terdiri dari banyak gliter. Ini karena kami ingin pemakainya bersinar dengan memakainya. Desember merupakan musim libur yang sangat penting. Baju-baju terdiri dari warna lembut tapi juga ada warna yang mencerminkan Desember seperti hijau, gold dan silver. Pakaian bewarna merah tetap ada, tetapi tidak sebanyak pakaian bewarna lembut.

Krystal tidak menjawab karena matanya masih sibuk melihat pakaian-pakaian indah yang ada di ruangan ini. “Menakjubkan bukan?”

Suzy kembali menggelengkan kepalanya..

.

.

.

.

.

Krystal menghabiskan waktu satu setengah jam di ruangan itu dan sekarang inspirasi benar-benar memenuhi kepalanya. Mood-nya juga jauh lebih baik. Melihat rancangan Joohyun membuat ia juga sadar akan satu hal. Pembimbingnya benar., design-nya tadi sangat payah. Suzy sedari tadi terus menemaninya dan memberikan semua jawaban dari pertanyaan Krystal. Seperti untuk apa pakaian tersebut, apa bahannya, bagaimana cara menjahitnya.

Sekarang Krystal masih menunggu Joohyun yang rapatnya belum selesai juga. Suzy berkata jika rapat ini adalah penentuan kontrak dengan para investor. Para investor berdebat mengenai catatan penjualan Joohyun tahun lalu yang memang buruk dibandingkan tahun ini.

Sekarang, Krystal sedang di ruangan kerja Joohyun menikmati jus nanas yang dibawakan oleh pegawai, masih ditemani Suzy. Sejujurnya Krystal akan memilih wine jika ia punya supir yang akan mengantar ia pulang.

“Joohyun Oennie baru saja mengirimkan pesan kepada ku. Ia sudah selesai rapat dan ia akan segera ke sini.”

“Suruh dia untuk tenang saja. Aku yakin otaknya masih panas sehabis berdebat denga para investor.” Krystal kembali meminum jusnya. “Tapi itu artinya kau akan semakin lama dengan ku. Kau sangat bersabar tadi di ruangan itu bersama dengan ku. Jadi terimakasih.”

Suzy mengeluarkan senyumannya, “Tidak usah berterimakasih. Sejujurnya akulah yang harus berterima kasih. Aku tidak tahan harus mendengar perdebatan para investor.”

Krystal dan Suzy sama-sama tertawa.

Brak!
Suara pintu terbuka mengejutkan mereka berdua. Tapi Krystal semakin terkejut menemukan siapa yang datang.

“Joohyun Oennie!” Serunya masih terkaget dengan penampilan Joohyun. “Aku tidak melihat mu selama sebulan dan sekarang rambutnya bewarna pirang?”

Joohyun berlari kecil dan memeluk Krystal. Sedikit susah karena barang yang ia bawa. “Dan kau juga berubah. Rambut mu juga pirang dengan sama dengan ku. Terakhir kali kita betemu rambut mu bewarna merah Jung Soojung.”

Krystal menggaruk kepalanya, “Aku selalu mengganti warna rambut ku jika butuh inspirasi.”

“Jadi apakah kau mendapatkan inspirasi?” Krystal baru saja ingin menjawab tetapi Joohyun kembali berbicara, “Oh, tunggu! Cerita ini pasti sangat panjang dan aku sangat kelaparan dari tadi. Sebaiknya kita mengobrol sambil makan. Aku sempat membelikan makanan untuk dirimu dan Suzy. Kita bisa makan sambil mengobrol.”

“Aku akan sangat senang mendapatkan makanannya. Tapi aku harus menyusun jadwal mu untuk lusa. Jika boleh aku akan memakan sendiri nanti.”

Joohyun menepuk jidadnya pelan, pertanda ia lupa. “Jadwal ku lusa ya… Baiklah ini makanan mu. Terimakasih sudah bersama Soojung sejak tadi.”

Suzy menerima makanan dari Joohyun dengan senang hati. Setelah berpamitan dengan Krystal ia keluar dari ruangan Joohyun.

Joohyun membuka makanannya dan Krystal kemudian kembali bertanya, “Sudah dapat inspirasi?”

“Tentu. Aku mendapat ide gila jika aku akan membuat gaun saja.” Krystal mulai memasukan potongan daging ke mulutnya. “Guru Clark tadi memarahi ku dan mengatakan jika aku tidak berkembang. Membandingkan dengan rancangan Oennie kurasa ia benar.”

“Jangan bersedih… Guru Clark adalah orang yang keras. Ketika aku di semester akhir juga ia mengatan jika rancanganku cocok dipakai di film alien.”

Krystal tersedak mendengar perkataan Joohyun. Ia berusaha untuk tidak tertawa.

Joohyun tertawa geli, “Tertawalah. Jika mengingat perkataannya aku juga menganggap itu lucu. Awalnya memang menjengkelkan. Aku membuat rancangan ku dengan tidak tidur dengan benar selama tiga hari. Ia menolak rancangan ku tak sampai sepuluh menit. Tapi sekarang aku menganggap ia ada benarnya.”
“Oh astaga… Dia jenius tapi entah mengapa lebih memilih jadi guru.”

“Itu adalah passion ia sebenarnya. Nah, sekarang apa yang rencana mu setelah kau lulus?”

“Aku belum tahu hal yang pasti, Oennie. Entahlah… Aku berharap rancangan ku dapat menarik beberapa perusahaan besar sehingga mereka akan memperkejakan ku diperusahaan mereka. Setelah bekerja bertahun-tahun bekerja mungkin aku akan membuat brand ku sendiri. Seperti impian ku. Atau aku akan mendaftar di majalah yang bergerak di bidang fashion dan bekerja disana bertahun-tahun untuk dekat dengan orang-orang penting di bidang fashion sebelum membuat brand ku sendiri.”

Krystal menghela nafas panjang. Rencana yang sebenarnya adalah membuat brand-nya sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Joohyun ketika ia lulus. Tapi itu rencana yang paling tidak mungkin. Ia menatap makanannya dengan tidak berselera, “Atau langsung saja membuat brand ku sendiri seperti yang Oennie lakukan. Dengan kerja keras aku yakin suatu hari brand ku akan terkenal.”

Ya, Krystal harus bekerja sangat keras. Mungkin dengan meminjam uang dari bank? Dan percayalah, ia rasa ia butuh waktu lebih dari lima tahun untuk membuktikan apakah ia sukses atau tidak. Tidak seperti Joohyun dimana brand-nya langsung terkenal dan ia punya toko di pusat Manhattan yang harganya sangat mahal. Krystal perlu latar keluarga chaebol seperti Joohyun agar para investor tidak ragu memberi uang mereka. Sayangnya, satu-satunya yang dapat ia banggakan adalah ia mengenal Joohyun.

“Oennie…” Krystal memanggil Joohyun ketika menyadari Joohyun sedari tadi termenung.

“Oh, maaf.” Joohyun tersenyum malu kepada Krystal. “Ada yang suatu hal yang terus kupikirkan akhir-akhir ini.”

“Ku rasa aku menganggu mu bukan? Kau pasti lelah habis bertemu dengan para investor mu.”

Joohyun semakin tidak enak hati, “Bukan seperti itu Krystal. Kau tidak mungkin menganggu mu. Malah aku sengaja memanggilmu untuk meminta bantuan mu.”

Bantuan?

“Bantuan apa Oennie?

Joohyun meletakan makan siangnya. Ia menautkan kedua jarinya. “Aku ragu mengatakannya. Aku sangat gugup.”

“Oennie kau membuat ku takut…”

Joohyun menarik nafasnya. “Baiklah…” Ia menghembuskan nafasnya perlahan, “Sehun melamar ku….”

“Sehun?” Krystal sangat terkejut hingga ia meletakan makanannya dan bangkit dari kursinya, “Oh Sehun pacar mu selama satu setengah tahun itu? Dia melamar mu?”

“Dia melamar ku ketika anniversary kedua kami Krystal, sekitar tiga bulan yang lalu. Tapi aku belum menerimanya.” Joohyun menginggit bibirnya, “Aku takut…”

“Oh, Oennie…” Krystal mendekat ke Joohyun, “Aku tahu kau pernah gagal menikah dengan sepupu ku Kim Junmyeon. Tapi kau sendiri yang bilang jika Sehun berbeda dari Junmyeon. Dan juga, kau terlihat bahagia dengannya.”

“Krystal…. Aku tetap takut.” Joohyun terlihat seperti akan menangis. Krystal segara memeluknya. “Tapi yang paling membuatku takut adalah meminta bantuan kepada ku…”

“Oennie ingin meminta bantuan apa kepadaku? Oennie ingin aku datang kepadanya dan mengatakan Oennie belum siap?” Krystal melepas pelukannya dan memegang tangan Joohyun. “Katakan saja Oennie…”

“Aku… Aku ingin kau menguji kesetiaannya…”

“Kesetiaan?” Alis Krystal berkerut. Menguji kesetiaan? Bagaimana caranya? Oh, jangan-jangan, “Oennie ingin aku menggodanya agar tahu ia setia atau tidak?”

Joohyun menatap Krystal ragu tetapi ia menganggukan kepalanya, “Aku tahu ide ini terdengar sangat gila. Tapi aku hanya mempercayai mu.” Joohyun melanjutkan, “Aku akan pergi ke Eropa selama satu bulan ini untuk mengunjungi beberapa investor. Ketika aku pergi kau bisa tinggal di apartment ku dan Sehun. Kau juga dapat mengakses lemari ku.”

Mengakses lemari Joohyun? Itu hal yang bagus. Lemari Joohyun yang berisi brand-brand bermerek pasti akan membuat otaknya penuh akan ide.

“Dan juga aku akan membantu mewujudkan impian mu. Kau berkata kau ingin membuat sebuah brand bukan? Percayakan kepada ku. Aku akan mewujudkannya.”

Jadi Jooohyun tadi mendegar perkataannya? Kemudian ia akan membantu Krystal mewujudkan impiannya? Tunggu…

“Oennie…”

“Terakhir dan ini yang terpenting. Aku mempercayai mu karena kau tidak akan mengkhianati mu. Bagaimana?”

Mewujudkan impiannya. Kata-kata itu berhasil berputar di otak Krystal.

.TBC.

 

 

 

Unwanted Reverie (Prologue)

unwantedreverie

Poster By : NJXAEM@ POSTERCHANNEL

Author: Ally

Cast: f(x)’s Krystal Jung | EXO’s Oh Sehun | RV’s Bae Irene |

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

 

 

6a010f023c45bf4fe77409aa89be7311

 

“Selama hal itu tidak menyakiti seseorang aku akan melakukannya. Joohyun tidak akan tersakiti. Dia lebih tersakiti jika ia tidak mengetahui yang sebenarnya. Sehun, laki-laki itu akhirnya akan sadar kesalahannya dan berusaha memperbaiki nya. Dia tidak akan tersakiti olehku. Diriku? Seharusnya aku menghitung kemungkinan ini. Kenyataannya, akulah yang paling tersakiti dari hal ini. Janji, kebohongan, dan cinta yang seharusnya tidak tumbuh.”

––Krystsal Jung––

da1d92323ef979db8d43fc006f744d67--red-velvet-irene-irene-red-velvet-airport

“Perasaan ragu itu terus menghantui ku. Aku membutuhkan pembuktian, bukan didasari oleh perkataan tapi didasari oleh aksi. Hal ini memang gila, tapi walaupun pada akhirnya buruk sangka ku terbukti, aku yang akan meninggalkannya. Bukan ia yang akan meninggalkan ku, seperti dulu.”

––Bae Joohyun­­––

600247-monsieur-oh-sehun

“Aku tidak pernah merasa salah di hidupku. Pertemuan dengan mu merupakan kesalahan bagiku. Tapi, setelah kupikir-pikir, pertemuan dengan mu merupakan suatu yang benar Kau menyadarkanku bahwa yang kulakukan saat ini adalah sebuah kesalahan.”

––Oh Sehun––

.

 .

.

Di hidup Krystal, ia selalu mengimpikan banyak hal. Dia ingin menjadi designer terkenal. Mempunyai brand pakaian terkenal. Namanya menjadi sejarah di dunia fashion. Terdengar sangat mudah di ucapkan ketika ia menuliskan mimpi itu. Umurnya sepuluh tahun waktu itu. Sekarang, diumurnya yang menginjak 24 tahun, Krystal baru mengetahui betapa susah mimpinya tercapai.

Mimpi pertamanya, dia ingin menjadi designer. Itu sudah hampir tercapai. Mengingat dirinya sebentar lagi akan tamat kuliah dan mendapat gelar tersebut. Tapi dua mimpi lainnya seakan susah untuk di raih. Ada dua kemungkinan yang sudah ia susun jauh-jauh agar impian keduanya tercapai. Pertama, dia akan terus bekerja di majalah fashion agar dapat mengenal orang-orang penting di bidang fashion baru membuat brand-nya. Jika sudah membuat brand tinggal menunggu waktu hingga namanya tercatat di sejarah dunia fashion. Yang kedua dia akan meminjam uang dari bank untuk membuat brand-nya sendiri. Cara ini lebih cepat daripada harus bekerja di majalah fashion. Tapi cara dengan cara ini, Krystal harus bersusah payah terlebih dahulu sebelum brand-nya benar-benar dikenal.

Itu adalah dua kemungkinan mengingat ia hanya berasal dari keluarga yang sederhana. Bukan anak seorang kaya tujuh turunan. Bahkan, selama tigapuluh tahun pernikahan orangtuanya, orangtuanya tetap tinggal di apartment.

Sebenarnya, ada satu kemungkinan yang tidak pernah Krystal pikirkan sebelumnya. Kemungkinan itu datang dari Bae Joohyun, teman dekatnya yang umurnya 3 tahun lebih tua daripada Krystal dan bekerja sebagai designer terkenal.

Line

Bae Joohyun adalah seorang designer terkenal yang berhasil mencapai semua impian pada umurnya 25 tahun. Sekarang di umurnya 27 tahun, Bae Joohyun menghadapi masalah yang pelik, baginya. Ia dilamar oleh kekasihnya Oh Sehun. Lamaran itu membuat ia ketakutan dan masa lalu berhasil menghatuinya. Untungnya, selama tiga bulan dia berhasil menghindari Sehun karena sibuk dengan pekerjaannya.

Pada akhirnya, ia mengambil keputusan yang diluar akal. Dengan mempercayai Krystal, teman dekatnya. Joohyun dan Krystal bertemu ketika Joohyun berpacaran dengan Junmyeon, yang tak lain adalah sepupu Krystal. Junmyeon pada akhirnya meninggalkan Joohyun ketika ia lebih memilih berpacaran dengan salah satu rekan kerjanya. Berkata ia tidak bisa menyayangi Joohyun yang saat itu sedang di puncak karirnya. Hubungan dia dan Junmyeon hancur tak berbekas. Hanya saja menghantui Joohyun tentang pengkhianatan Junmyeon.

Lain halnya dengan hubungannya dan Krystal yang semakin kuat. Krystal gadis yang menyenangkan. Krystal gadis yang perduli. Walaupun tampang gadis itu sedingin es, ia sangat peka terhadap lingkungannya sekitar. Krystal adalah gadis yang selalu menepati janjinya dan jarang berbohong. Ia juga membantu Joohyun melewati masa terpuruknya dicampakan Junmyeon. Joohyun masih mengingat dengan jelas, Krystal marah-marah ke Junmyeon setelah ia mencampakan Joohyun.

Joohyun membalas kebaikan Krystal dengan memberikan gadis itu akses ketika gadis itu membutuhkan inspirasi. Ketika Krystal bingung tentang apa yang harus ia lakukan ketika ia lulus kuliah, Joohyun memberikan solusi dengan sebuah syarat yang tentunya didasari karena ia mempercayai Krystal.

Dia akan menggaet Krystal untuk rancangannya pada musim panas. Dengan itu, Krystal akan dapat dikenal oleh orang-orang fashion dengan cepat. Para investor juga mengenalnya dan kemudian tidak ragu berinvestasi untuk membuka brand pakaian Krystal. Syaratnya adalah Krystal menggoda kekasihnya, Oh Sehun.

Line

Oh Sehun. Kekasih Joohyun yang sama sekali tidak mengetahui apa-apa. Ia mencintai Joohyun, sangat. Dia adalah seorang dancer dan telah menari sejak kecil. Hidup untuk menari adalah motonya. Dulu dia adalah dancer yang berkeliling dunia menunjukan kebolehannya. Tapi setelah ia bertemu dengan Joohyun, disebuah pesta sponsornya, setelah ia jatuh cinta dengan Joohyun, Sehun memutuskan untuk menetap di New York agar lebih dekat dengan Joohyun. Memutuskan sebagai guru menari, tentunya di sekolah menari terkenal. Beberapa kali juga mencoba menjadi koreografer.

Bukan hanya kemampuan menarinya yang membuat orang tercengang. Atau wajah rupawannya yang membuat orang sulit bernafas. Sikap Sehun berhasil membuat Krystal ketar-ketir sedari awal. Sehun sendiri menganggap Krystal aneh dan tidak habis pikir bagaimana bisa Joohyun mempunyai teman seperti Krystal.

Keanehan itu berubah menjadi kejengkelan luar biasa. Apalagi Krystal tinggal di apartment-nya dan Joohyun. Joohyun berkata kepada Sehun jika Krystal membutuhkan inspirasi untuk pakaiannya, yang itu sangat benar. Tapi Joohyun tidak bilang ke Sehun bahwa itu juga caranya agar Krystal dapat menggoda Oh Sehun. Apa Krystal menggodanya? Yang jelas, pada akhirnya Sehun tidak tergoda oleh Krystal Jung. Tetapi ia telah jatuh cinta kepada gadis itu.

Line 2.png

 Aku deg-degan sekaleeeh mau publish cerita ini. Terakhir aku buat cerita baru cast utama Sestal tahun 2015, yaitu Flipped. Lama banget sumpah… Tapi gak kerasa aja udah dua tahun yang lalu… Tahun ini aku buat dua cerita tentang Sestal, satu ff judulnya The Wind of Change tapi cerita ini aku canceled sangking buntunya ide aku. Ternyata membuat cerita cinta segi empat tidaklah mudah….

So, aku buat cerita ini… Bagaimana menurut kalian?

 

Sight Seeing and Silence (Chapter 1)

tumblr_nydma3mEJU1rbxeb8o1_500.jpg

Main Cast: Mark Tuan | Son Seunghwan | Oh Sehun | Park Chanyeol

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Jika teman-temannya membicarakan rahasia gelap, pasti mereka akan mengatakan jika mereka pernah mencuri. Atau berbohong kepada orangtua mereka. Atau melewati batas dalam berpacaran. Atau hal-hal lainnya yang dianggap memang dilakukan oleh anak-anak.

Mark sendiri tidak begitu. Dia tidak pernah berbohong kepada orangtuanya. Dia tidak melewati batas dalam berpacaran. Tidak pernah melanggar hal-hal lain yang dilanggar oleh teman-temannya. Bukan karena dia tidak ingin, tetapi ia tidak bisa melakukan hal tersebut.

Mau tahu rahasia gelap dari Mark Tuan?

Rahasia yang membuat bulu kuduk merinding bahkan tidak ingin untuk mengetahuinya, jika orang tersebut bisa mengulang waktu.

Mark seperti remaja cowok pada umumnya. Rambut yang ia biarkan panjang bahkan ia cat menjadi warna menjadi warna platinum. Dengan satu anting di telinga kanan. Baju seragam barunya yang tidak terlihat karena ia mengenakan sweater hitam.

Tok…Tok..Tok…

Ketukan menyadarkan Mark dari lamunanya yang melihat laut yang tenang. Mark segera berjalan menuju pintu.

“Kau sudah sangat rapih. Ayo!” Seru Sehun. Lelaki yang baru ia kenali dua hari ini. Tapi sekarang Mark sudah berada di rumahnya bahkan tinggal disini untuk sementara waktu.

Mark tidak menjawab. Sehun sendiri tidak merasa tersinggung atas perilaku Mark. Mereka baru saja bertemu dan itu merupakan hal wajar. Pikir Sehun.

Selama perjalanan mereka menuju sekolah barunya mereka juga hanya diam. Mark menikmati pemandangan Jindo yang masih asri. Di Los Angeles tidak ada pemandangan seperti ini. Pemandangan rerumputan yang luas dan awan biru yang menenangkan. Damai….

“Hey!”

Panggilan Sehun membuat Mark menoleh. Sehun hanya bosan. Dia butuh teman mengobrol. Perjalan sekolah membutuhkan waktu dua jam dan sudah satu jam ini mereka saling diam

“Mungkin kita bisa mengobrol. Kau tahu… Mendekatkan diri.” Sehun mengutarakan apa yang ia pikirkan sedari tadi. Laki-laki disampingnya membuat benteng seakan Sehun musuh. Yah, mengingat keadaan mereka Sehun tidak bisa menyalahkannya.

“Aku tidak punya keinginan untuk mendekatkan diri kepada mu.”

Jawaban singkat Mark membuat Sehun tertawa. Benar bukan apa yang ia pikirkan? “Biar ku tebak alasan mu. Kau curiga kepada ku bukan?”

Mark menatap Sehun tajam. Menilai laki-laki ini sebelum menjawab, “Baguslah kalau kau sudah tahu.”

“Boleh tahu alasannya?”

“Ku kira kau sudah tahu alasannya. Tidak kah kau berpikir sikap mu tidak biasa?”

Sehun menghembuskan nafasnya dengan keras. Ia menatap supirnya sekilas kemudian menatap Mark, “Aku tidak inign membunuh mu atau mengambil perusahan mu. Aku hanya ingin kita berteman okay? Kalau kau ingin tahu alasannya karena aku butuh koneksi.”

“Baguslah kau jujur. Dan pada akhirnya tidak ada yang tahu sampai dimana pertemanan kita.”

“Kau tidak mengerti!” Sehun terdengar sedikit putus asa.   Ia menarik nafas dan berkata, “Tapi aku tidak akan memaksamu untuk berteman dengan ku. Aku hanya ingin jujur kepadamu.”

“Menurut mu aku akan langsung menaruh percaya kepada mu hanya kau berkata jujur kepada ku?”

Astaga… Laki-laki di depannya benar-benar seorang analitikal. Sehun melirik Mark sekilas sebelum mulai memandangi jalan lagi, “Terserah dirimu saja. Pada akhirnya kau akan tahu siapa aku sebenarnya.”

Mark memilih diam dan menatap jalan kembali. Sisa perjalanan dihabiskan dalam diam. Dari padang rumput yang asli, mereka melewati sebuah hutan yang masih terjaga. Hanya mobil mereka yang melewati jalan tersebut.

“Kau yakin ini jalan menuju sekolah?” Desis Mark karena tidak yakin.

“Aku tidak akan membunuh mu.” Suara Sehun terdengar santai. Ia tersenyum ke Mark.

Entah mengapa, Mark merasa yakin jika Sehun katakan benar. Ia tersenyum dan berkata, “Kau yakin di tas mu tidak ada senjata?”

Sehun menggelengkan kepalanya mendengar candaan Mark.

Setelah dua jam perjalanan, insting dirinya benar. Sehun tidak berbohong. Mereka benar-benar sampai disekolah mereka.

“Selamat datang disekolah baru mu. Sebenarnya sekolah ini mudah ditemui. Tidak terlalu misterius hanya karena aku dan dirimu bersekolah disini. Tapi karena rumah ku yang jauh… Jadi kita harus menempuh dua jam perjalanan.”

“Ku rasa kita menempuh perjalanan dari ujung pantai ke ujung pantai lagi.”

Sehun menganggukan kepalanya dan mereka keluar dari mobil.

“Kau ingin langsung ku antarkan ke ruangan kelas atau ingin jalan sendiri?”

“Kurasa aku akan disini sebentar saja.” Mata Mark menelisik sekolah barunya. Beberapa murid terlihat membawa buku di tangannya. Tas mereka yang kecil membuat buku tersebut tidak muat. Rata-rata rambut perempuan disini digerai. Sedangkan laki-lakinya tidak ada yang cepak.

Deg!

Mark sedikit terpana melihat seorang perempuan berambut coklat dengan poni menutupi dahinya. Perempuan itu terlihat tersenyum seakan sangat bahagia bisa sampai di sekolah. Ia tidak membawa buku ditangannya dan tasnya lebih besar daripada murid-murid yang lain. Perempuan yang sedang ia tatap berhenti dan menengok ke arah kiri dan kanan kemudian terlihat tersenyum lebih lebar.

Mata Mark menangkap seorang laki-laki berambut cepak tengah menyingir ke arah perempuan itu. Mark mengenal laki-laki itu. Park Chanyeol kalau tidak salah namanya. Chanyeol berkata sesuatu dan membuat perempuan itu terlihat kesal. Mereka terus mengobrol hingga tiba-tiba perempuan tersebut memukul-mukul lengan Chanyeol yang membuat Chanyeol tertawa lebar.

Mereka berjalan memasuki gedung sekolah dengan Chanyeol yang masih menghadap perempuan itu dan berbicara kepadanya. Tapi yang Chanyeol dapatkan hanyalah pukulan di tangannya.

“Yang sedang bermesra-mesraan!”

Mark tersentak ketika Sehun memanggil mereka. Ia bahkan melupakan Sehun sejenak akibat melihat perempuan itu.

Chanyeol menyapa Sehun dan mendekat. Perempuan yang masih misterius itu terdiam sebentar sebelum berjalan ke arah Sehun dan menyapa Sehun dengan senyuman yang sangat lebar dan mata yang berkilat senang. Jangan-jangan….

“Mark bukan?” Suara Chanyeol terdengar lagi.

Mark tersenyum menatap Chanyeol, “Iya. Park Chanyeol bukan?”

“Oh, ya. Ini temanku Son Seunghwan.” Sehun memperkenalkan perempuan yang dari tadi ia tatap.

Mark menatap Seunghwan. Seunghwan hanya diam menatap Mark sehingga Mark berkata, “Aku Mark. Murid pindahan di sekolah ini.”

 

.

.

.

.

.

Deburan ombak telah menjadi teman Seunghwan selama hidupnya. Rumahnya tepat berada di depan pantai. Sebuah rumah kecil bewarna putih kecuali di bagian kamar Seunghwan yang bewarna kuning. Satu kamar mandi, dapur kecil, satu ruang tv yang kadang juga digunakan sebagai tempat menerima tamu. Sebuah rumah sederhana yang dibelikan oleh seseorang yang berharga untuknya.

Dengan mengingatnya saja, Seunghwan dibuat tersenyum sendiri. Ia segera menggelengkan kepalanya agar tetap fokus pada sarapannya. Setelah sarapannya selesai, Seunghwan segera mencuci piringnya dan berangkat ke sekolah. Hanya dia sendiri tinggal sendiri. Hidupnya sebatang kara. Dengan ibunya yang meninggal sejak empat tahun yang lalu. Seunghwan sebenarnya punya satu kakak cowok, tetapi dia tidak ingin mengingatnya. Dia memang sudah tidak punya keluarga lagi, tapi dia masih punya orang-orang yang perduli padanya. Teman-temannya. Maka dari itu, Seunghwan sangat menyukai sekolah.

Ketika liburan ia menjadi sangat bosan. Seunghwan tinggal di kota kecil bernama Jindo. Kota yang terletak di paling selatan dari Korea Selatan. Sebenarnya Jindo lebih tepat disebut desa jika dibandingkan dengan Mokpo, kota terdekat dan terbesar dari Jindo. Jarang ada bangunan tinggi. Mobil hanya sedikit yang lewat. Hamparan laut yang luas dan masih banyak rumput hijau. Pantai yang selama ini dia lihat adalah satu-satunya hiburan baginya. Jangan harapkan dia bisa keluar Jindo. Makan di salah satu Café di Jindo bernama Aera’s Signature Ice Cream saja sudah harus membuat Seunghwan menabung selama dua bulan. Apalagi ke Mokpo dimana dia harus naik bis?

“Seunghwan!”

Seunghwan segera saja menoleh dan ia tersenyum melihat siapa yang memanggilnya. Rambut laki-laki tersebut cepak. Satu-satunya laki-laki yang rambutnya cepak disekolahnya. Mamakai kemeja putih tanpa rompi dan menampilkan cengiran khas yang membuat mukanya bodoh.

“Woy! Kemarin kenapa gak bisa dihubungi?”

Seunghwan berdecak, “Mau lihat jawaban fisika bukan?”
Lelaki di depannya hanya tertawa kecil, “Tahu tuh! Kemarin habis kencan sama Yejin dan baru ingat ada tugas. Belum ngerjain nih…”

“Park Chanyeol!” Langsung saja Seunghwan memukul lengan Chanyeol, “Kalau kamu belum mengerjakan pr fisika aku akan dimarahi sama guru Song!” Seru Seunghwan sebal.

“Aku mau mengerjakannya semalam. Tapi kamu gak jawab!” Chanyeol berusaha membela diri, “Maka dari itu lihat dong…”

“Enak saja! Aku akan ajarin kamu tapi kamu gak boleh menyontek.”

“Kenapa harus Son Seunghwan yang menjadi partner fisika? Kim Jongdae bisa dicontek.” Ucap Chanyeol dengan suara hopeless yang didramatiskan.

Seunghwan hanya mencibir, “Aku sudah mengerjakannya capek-capek. Enak saja melihat!”

“Nanti aku bilangi sama Sehun kamu gak mau bantu aku….”

Seunghwan segera menoleh ke Chanyeol dan kembali memukul-mukul lengannya, “Apaan sih! Gak usah bawa-bawa nama Sehun deh!”
Chanyeol tertawa riang. Sehun selalu menjadi senjata rahasia agar Seunghwan bertekuk lutut. Gadis itu sangat-sangat mencintai Sehun. Yah, itu karena Sehun selalu berada di samping Seunghwan selama masa-masa kritisnya. Tetapi gadis itu cukup cerdas karena ia mengetahui Sehun tidak mempunyai perasaan apa-apa kepada dirinya. Seunghwan menempatkan posisinya sebagai sahabat dengan berusaha untuk tidak menunjukan bahwa ia suka. Tapi tetap saja kelihatan. Mata gadis itu membesar ketika melihat Sehun –menjadi antusias-. Seunghwan juga lebih jaim di depan Sehun.

Chanyeol masih berusaha membujuk Seunghwan untuk memberikan pr fisika. Sayang, sama seperti tampangnya yang tolol, Seunghwan malah semakin ganas memukul lengan Chanyeol dan membuat Chanyeol meringis kesakitan.
“Yang sedang bermesra-mesraan!”

Kegiatan Chanyeol dan Seunghwan terhenti. Chanyeol langsung menoleh ke sumber suara dan balik menyapa. Sedangkan Seunghwan terdiam dengan pipi bersemu merah. Sialan Chanyeol! Sehun jadi ngeliatkan.. Desisnya dalam hati.

Seunghwan kemudian menoleh dan melambaikan tangannya, “Sehun!”

“Hai, Seunghwan!” Sapa Sehun seperti biasanya.

“Mark bukan?” Suara Chanyeol terdengar lagi.

Kali ini, Wendy melihat ke samping kiri, seseorang laki-laki berdiri di samping Sehun. Laki-laki itu tersenyum, “Iya. Park Chanyeol bukan?”

“Oh, ya. Ini temanku Son Seunghwan.” Sehun memperkenalkan Seunghwan ke Mark.

Seunghwan yang sedari tadi menatap Mark hanya terdiam ketika Mark menyapanya.
“Aku Mark. Murid pindahan di sekolah ini.”

Seunghwan ternganga sebentar. Baru pertama kali dalam hidupnya, Seunghwan terdiam bingung ingin mengatakan apa karena jantungnya yang berdebar lebih kencang.

.TBC.

 

New story nih… I know.. I know… State of Grace belum tamat. Flipped bagian epilog belum keluar. Terus aku juga lagi ngerjain projek Sestal terbaru… Dan jangan lupa Runaway yang belum pernah ku sentuh sejak 6 bulan yang lalu…

Tapi ini mini-chapter kok… 10 chapter kalau lebih pun cuman 2… See you soon guys…

 

 

tumblr_nydma3mEJU1rbxeb8o1_500.jpg

Flipped (Chapter 20)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Salah Paham


Suara bel diikuti oleh suara perintah membuat semua kegiatan di ruangan tersebut berhenti.

“Taruh saja kertasnya di meja dan silahkan keluar.” Begitulah suara wanita paruh baya–Profesor Yuri- terdengar lagi.

Sehun keluar dari ruangan. Ia menghela nafasnya. Ini merupakan keputusan yang berat. Sampai sekarang ini juga, ia masih ragu akan keputusannya.

“Sehun…” Suara perempuan yang akhir-akhir ini sering menemaninya membuat Sehun tersenyum lembut –menyapa- ke Irene.

“Hai Irene…” Sapanya pada Irene yang sudah menunggu di depan ruagan.

Irene menatap ke Sehun ragu sebelum akhirnya berkata, “Jadi benar?”
Sehun tersenyum kecil. Mengetahui apa maksud Irene, “Ya.” Jawab Sehun pendek.

“Kenapa?”

“Kenapa gak?”

Irene menghela nafasnya, “Kamu udah bicara sama orangtua kamu?”

“Mereka udah setuju, Irene…”
Jawaban singkat dan padat Sehun membuat Irene kembali menghela nafasnya, “Tapi udah yakin?”

Sebelum Sehun menjawab, Irene kembali berkata, “Sudah bicarain sama teman yang lain?”

“Aku udah bicarain sama Chanheol, Junmyeon, dan Xiumin.”

Melihat Irene sekarang tertunduk, Sehun menhela nafasnya, “Kita udah bicarain hal ini bukan?”

“Iya, tapi..”
“Dan kamu udah janji sama aku.”

“Tapi..”

“Tapi apa?”

Irene kini mendongak, matanya sudah berair, “Tapi aku pikir kamu gak akan ngelakuin hal ini.”

“Aku ngelakuin hal ini bukan karena kamu.”

Jawaban Sehun sukses membuat air mata Irene jatuh.

“Irene….”
“Ya, aku tahu! Aku bukan siapa-siapa bagi kamu! Kamu bahkan gak mau nerima persaan aku.”

“Irene…”
“Karena kamu bilang kamu lebih milih perasaan Junmyeon –teman kamu- yang minta ke kamu jangan pacarin mantan pacarnya.”
“Aku gak pernah ngomong kayak gitu.”

“Iya, gak! Tapi aku tahu maksud kamu Sehun…”

Setelah itu Irene berbalik dan meninggalkan Sehun. Sehun lagi-lagi hanya bisa menghela nafasnya.

.

.

.

.

Ada orang yang berkata jika hidup ini bagaikan roda yang berputar. Terkadang kau merasa di atas. Terkadang kau juga merasakan di bawah. Membaca buku-buku kuliahnya yang sedang membahas majas membuat Krystal kembali menghela nafasnya. Kenapa semua majas disini berhubungan dengan penyesalan cinta? Pikirannya semakin kalut.

Ia menutup bukunya dan memejamkan matanya. Sekarang, ia sedang berada di perpustakaan. Tidak ada tugas sama sekali. Dia sedang ini menghabiskan waktunya di perpustakaan, sekaligus menghindari Luhan. Entahlah…. Dia tidak sanggup bertemu dengan Luhan semenjak ia bertemu dengan Sehun. Perasaan cemburunya kepada Sehun menjadi perasaan bersalah ketika melihat Luhan tersenyum.

Drrrt~

Krystal terkesiap ketika handphone-nya berdering. Segera saja ia tersadar dari lamunanya dan mengangkat telepon.

“Hai…” 

Krystal tercekat mendengar suara yang meneleponnya, “Oh, Hai Luhan…” Sapanya berusaha ceria.

Aku tadi mencoba ke kelasmu. Tapi sepertinya dirimu sudah pulang.”

Duh… Krystal jadi merasa bersalahkan.

“Sudah lama kita tidak pulang bersama. Aku rindu padamu…. Kau sedang sibuk-sibuknya ya?”

“Tidak juga.” Krystal berhenti sejenak. Ragu ingin berkata apa. “Uhmmm, Luhan…”

“Iya?”

“Nanti malam co-ass gak?”

“Ada apa?” Tanya Luhan dan Krystal bisa menangkap nada kegembiraan di situ.

“Mau makan malam bersama?”

“Sebenarnya aku sudah ada janji dengan Chanyeol.”

“Oh, kalau begitu tidak usah.”

“Tunggu dulu… Chanyeol akan merayakan ulang tahunnya dan mengundangku.”

“Oh, baiklah…” Krystal masih ragu, “Jadi…”

“Kau ingin menemaniku Krystal Jung? Sebenarnya tadi aku datang ke kelasmu untuk mengajak mu? Kalau kau tidak ingin kita bisa makan malam bersama.”

“Tentu aku ingin menemani mu. Dimana?”
“Aku akan menjemput mu dirumah mu…..”

Setelah itu teleponnya terputus. Kenapa ia dan Luhan menjadi seperti ini? Pikiran Krystal berkelabat mengenai pertemuan nanti malam. Pesta ulang tahun Chanyeol ya? Apakah Sehun ada disana?

.

.

.

.

.

Krystal dan Luhan sampai di tempat acara sedikit terlambat. Ketika mereka memasuki ruangan pesta, yang tak lain adalah apartment Chanyeol, banyak wajah asing yang mereka lihat.

“Krystal!!!” Spa seseorang yang membuat Krystal terpana beberapa saat.

“Sulli!” Seru Krystal dan langsung memeluk Sulli. “Sudah lama tidak bertemu dengan mu.:

“Aku tahu!” Pekik Sulli senang. “Bagaimana kabarmu?” Lanjutnya ketika melepas pelukan.

“Baik… Sangat baik…”

“Jadi, kau temannya Chanyeol?”
Krystal tertawa kecil, “Bisa dibilang begitu… Sebenarnya Luhanlah yang merupakan temannya Chanyeol.”

“Luhan?” Sulli langsung menoleh ke Luhan, seakan baru tersadar Luhan disamping Krystal. “Luhan! Astaga!! Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu!”

Luhan tertawa melihat antusiasme Sulli, “Senang melihatmu juga Sullli ”
“Bagaiman dengan dirimu? Kau juga temannya Chanyeol?” Tanya Krystal membuat Sulli kembali menoleh kepadanya.

Sulli tiba-tiba tersenyum lebar dan mengangkat tangan kannya, “Tunangan..”
Krystal terdiam sesaat, “Ya, ampun… Bagaimana bisa?”
Melihat kedua perempuan itu akan asyik mengobrol, Luhan menyentuh siku Krystal, menghentikan Krystal yang asyik mengobrol dan menoleh ke Luhan, “Aku ke Chanyeol dulu.” Kata Luhan sambl tersenyum.

“Baiklah…” Jawab Krystal pendek dengan senyuman tersungging di bibirnya.

Luhan berjalan melintasi ruang depan menju pintu kamarnya yang entah mengapa sekarang banyak balon, “Chanyeol!”

“Hai, Luhan!” Chanyeol melambaikan tangannya. Ia tersenyum seperti anak 18 tahun daripada umrunya sekarang.

“‘Selamat ulang tahun dan selamat juga untuk pertunaganmu!”

“Terimakasih! Kau datang sendiri kesini?”

“Tidak. Krystal ikut tapi sedang mengobrol dengan Sulli..”

“Aku tahu jika mereka teman SD!”
“Yah.. Dan banyak yang akan mereka bicarakan.”
Chanyeol tertawa kecil mendengar hal itu.

“Bagaiman dengan Sehun? Apakah ia kan datang? Tanya Luhan tiba-tiba.

Chanyeol terdiam sebentar, “Dia ada sedikit masalah di kampus. Tapi dia bialng dia kan datang.”  Ekspres Chanyeol yang sedikit kaku membuat Luhan bertanya-tanya tentang Sehun. Tapi sepertinya tidak baik menyakan hal ini. “Oh, baiklah..” Respon Luhan pada akhirnya.

“Chanyeol!” Suara orang lain membuat mereka berdua menoleh.

“Jongdae!!” Chnayeol kembali tersenyum, “Aku terkesan kau datang kesini. Oh, perkenalkan ini Luhan. Orang yang sekarang menempati kamarmu!”

Luhan akhirnya sibuk mengobrol dengan orang-orang yang dikenalkan Chanyeol. Begitupula dengan Krystal yang asyik bercerita ke Sulli, terutama bagaimana dia bisa berpacaran dengan Luhan. Oh, tentu Krystal tidak menceritakan bahwa ia masih menyukai Sehun. Rasanya memalukan.

“Hai Sulli…” Suara berat yang lagi Krystal coba hindari terdengar. Sontak saja, Krystal dan Sulli berbalik.

“Sehun… Kau terlambat!” Seru Sulli pura-pura kesal.

“Aaah… Ada sedikit masalah dikampus.”

“Alasan.. Sebentar lagikan mau diwisuda! Gak ada tugas-tugas lagi!” Sulli masih bersikeras.

“Ayolah… Jangan sering marah-marah. Kasihan nanti suami mu!”

Dengan sigap, Sulli memukul lengan Sehun dan mereka berdua tertawa.

“Sehun lihatlah.. Krystal ada disini…” Sulli merangkul Krystal. Tetapi, sebelum Sehun menanggapi, Sulli memekik, “Oh! Kau juga tidak datang sendiri! Kenapa tidak memperkenalkannya kepadaku?!”

Krystal yang sedari tadi diam menunduk menoleh ke arah seseorang yang disamping Sehun, “Irene…” Katanya otomatis.

Selama beberapa detik, Krystal menahan nafasnya. Jadi Irene kesini bersama Sehun? Apakah hubungan mereka sudah sangat serius?

Menyadari tatapan Irene yang bingung, Krystal kemudian tersenyum, “Aku mendengar namamu dari Sehun.”

Irene bergumam kecil dan menundukan kepalanya. Terlihat semburat merah di wajahnya.

“Aku Krystal Jung…” Krystal mengulurkan tangannya.

Dengan malu-malu Irene membals uluran tangan Krystal, “Irene Bae.”

Melihat sikap Irene yang entah mengapa sedang berbunga-bunga membuat Krystal sediki merengut. Irene tersentak karena cengkraman tangan Krystal mengeras.

“Senang sekali bisa bertemu dengan mu langsung…” Oh katakanlah Krystal munafik karena memang benar, bukan? Ia sama sekali tidak senang.

“Aku juga.” Sahut Irene sambil tersenyum lebar.

“Kalau gitu Irene harus mengobrol dengan kita, bukan?” Sulli terlihat sangat antusias. “Oh, aku Sulli!”

“Oh…” Irene melirik ke Sehun.

“Aku akan menyampaikan salam mu ke Chanyeol.” Sahut Sehun santai. Ia sedikit tersenyum ke Irene.

“Kau temannya Chanyeol juga? Baiklah kita harus mengobrol. Dan tenang saja! Chanyeol tidak akan marah jika kita mengborol karena aku adalah tuangannya.”
“Mengobrol lah dengan Sulli. Akan kusampaikan.” Sehun kembali tersenyum dan berjalan menghilang dari pandangan mereka.

“Jadi…” Seru Sulli masih antusias.

.

.

.

.

.

Pesta berlangsung sangat lama. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Tidak ada tanda-tanda orang mau pulang. Malah masih ada yang datang. Krystal tersenyum kemudian menyesap minumannya, fruit punch. Tanpa alkohol tentunya. Keadaan pasti sudah chaoss jika alkohol terlibat.

Irene dan Sulli sedang tertawa mengenai sesuatu yang tidak Krystal dengar. Dia benar-benar setengah hati ikut duduk disini sejak Irene ada. Apalagi melihat raut wajah Irena yang sangat bahagia. Entahlah… Lagipula kenapa dia harus cemburu? Tanpa benar-benar Krystal sadari, ia menghembuskan nafasnya.
“Ada apa sayang?” Tanya Sulli khawatir. Melihat temannya menjadi pendiam seperti ini sebenarnya sudah membuat Sulli bingung sedari tadi. Tapi ia mengenyahkannya. Krystal memang pendiam jika bertemu dengan orang baru.

“Bisakah aku bertemu dengan Luhan sebentar? Ada yang harus aku tanyakan kepadanya.” Lagi-lagi ia berbohong. Krystal harus menyingkir sejenak memperbaiki mood-nya sebelum ia membuat semua orang bingung.
“Oh, tentu. Aku tetap setia pada bangku ini.”

Krystal tertawa kecil. Begitupula dengan Irene.

Setelah Krystal menghilang, Irene berkata kepada Sulli, “Aku ingin bertemu dengan Sehun juga kalau boleh.”

.

.

.

.

.

Krystal berjalan menuju ke dapur. Tidak ada hal khusus sebenarnya. Ia hanya perlu berada di sekitar orang asing. Menatap orang asing tidak suka sebagai penyalur mood-nya yang sedang buruk. Krystal asyik menyesap minuman lain, sejenis soda.

“Kau seperti orang yang sedang kesal.”

Suara Luhan yang berasal dari belakang membuat Krystal menoleh dan tersenyum kecil, “Sama sekali tidak. Aku hanya menyukai ini.”

“Ingin kuambilkan lagi?”

Krystal mengangguk kecil dan Luhan terlihat menghilang di antara tamu. Kemudian matanya menyapu kerumunan.

“Sehun!”

Ia merengut ketika dirinya melihat Irene memanggil Sehun. Dan ia semakin merengut karena ia merasa dia tidak pantas menunjukan emosi seperti tadi.

“Ini dia!”

Sontak, Krystal mengambil soda dari tangan Luhan dan meminumnya. “Kau memang yang terbaik!”

“Aku tahu!” Luhan kembali berkata, “Sepertinya kau sangat asyik berbicara dengan Sulli.”

“Kau juga Luhan! Kau menghilang beberapa jam!”

“Krystal Jung juga melakukan hal yang sama!”

“Oh, jadi ini semua salahku?”

Mengobrol dengan Luhan sejenak berhasil mengalihkan pikiran dan perasaan Krystal. Pikirannya sekarang lebih tenang. Perasaannya juga lebih ringan. Krystal tertawa karena senang untuk pertama kalinya semenjak Sehun datang.

“Krystal!” Dari jauh tampak Sulli memanggilnya. Raut wajahnya menyiratkan kegusaran tetapi ia tetap tersenyum.

“Oh, sepertinya ada yang penting. Aku harus kembali ke Sulli!” Krystal kembali menyeruput sodanya. Sedangkan Luhan membiarkan Krystal pergi. Lain kali ia akan membuat pembalasan agar Krystal selalu berada di sampingnya.

“Ada apa Sulli?”

Sulli mengigit bibirnya, “Dengar… Euhm….” Ia terlihat sangat ragu.

“Katakan saja pada ku, Sulli.”

“Sehun tadi datang kepadaku dengan raut wajah yang sedikit menakutkan.”

“Maksudmu?”

“Dia ingin berbicara dengan aku dan dirimu. Jadi..”

“Sulli…”

Sulli memegang tangan Krystal, “Aku tahu kau bingung dan aku juga begitu. Tapi kita harus bertemu dengan Sehun segera.”

“Aku harus pulang.” Elak Krystal.

“Sepuluh menit saja. Walau aku yakin ini tidak akan lama.”

Krystal menghela nafasnya dan mengangguk. “Dimana dia sekarang?”

“Dikamarnya dulu. Katanya kita membutuhkan sedikit privasi.”

Alis Krystal berkerut. Tapi ia mengikuti Sulli yang menuntun mereka ketempat Sehun.
“Sulli sayang!”

“Chanyeol!”

“Kemarilah sebentar!”

Sulli menatap Krystal. Ia begitu ragu meninggalkan Krystal.

“Pergilah. Nanti setelah urusanmu dengan Chanyeol selesai kau bisa menyusul.” Krystal tersenyum tipis. Melihat Sulli yang ragu, Krystal kali ini memegang dan meremas tangannya, “Tidak ada hal buruk yang terjadi. Percayalah.”

Sulli seperti tidak punya pilihan lain. Ia memutuskan untuk mengangguk dan pergi bersama Chanyeol.

Krystal memejamkan matanya untuk mengumpulkan keberanian. Dan..

Trek~
Pintu kamar terbuka. Sehun tengah duduk di tempat tidurnya. Menunggu Krystal dan Sulli.

Melihat Krystal datang, Sehun bangkit, “Dimana Sulli?”

“Chanyeol memanggilnya sebentar. ” Krystal masuk dan menutup pintu kamar. “Kata Sulli kau ingin berbicara padaku dan dia.”

“Iya. Aku ingin berbicara mengenai Irene.”

Krystal terdiam. Tidak tahu ingin berbicara apa.

Sehun kembali berbicara, “Apa yang kalian bicarakan dengan Irene?”

“Maksudmu?”

“Dengar… Hubungan ku dengan Irene tidak seperti yang terlihat.”

Krystal terdiam. Selain tidak tahu ingin berakata apa, ia juga tidak mempercayai pendengarannya.

“Aku tidak mempunyai hubungan khusus dengannya dan kedatangan kami tadi tidak menunjukan apa-apa.”

“Kenapa kau mengatakan ini kepada Sulli dan aku? Kami hanya mengobrol biasa.”

“Iya, tapi respon kalian. Kau berkata pernah mendengar namanya dari ku—”

“—Dan itu benar…” Potong Krystal.
“Tapi..” Sehun kembali memotong, “Respon Sulli juga memperparah keadaan.”

“Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.” Ayolah… Krystal benar-benar bingung dengan keadaan. Dan ia yakin bukan hanya dirinya. “Bisakah kau memberi tahu apa yang terjadi?”

Sehun memejamkan matanya sebelum berkata, “Irene adalah mantan pacar teman ku. Teman akrab ku. Dan ia meminta ku jangan mendekatinya. Kurasa kau sudah mengerti bukan?”

“Apakah kau menyukainya?” Krystal menatap Sehun dalam. Ini benar-benar di luar dugaannya. Tapi masih ada yang menganjal di hatinya.
“Itu tidak penting.”

“Kenapa kau selalu seperti ini?” Suara Krystal tiba-tiba naik. Ia maju dan mencengkram bahu Sehun, “Bersikaplah seperti laki-laki.”

Sehun kaget, tidak menyangka Krystal akan melakukan hal ini.

“Jika kau memang menyukainya, berbicaralah kepada mantan pacarnya. Jangan seperti ini.”

“Krystal….” Sehun memgang kedua tangannya. “Lepaskan!”
“Kau menyukainya?”

Sehun memejamkan matanya. “Ayo kita keluar.”

“Kau menyukainya Oh Sehun?”

“Krystal!”

“Apakah kau menyukai diriku?” Kata-kata itu kembali keluar dari mulut Krystal. Suaranya agak bergetar. “Aku sekarang penasaran. Apa yang membuat dirimu menolak ku?”

“Kau hanyalah sahabatku.”

Cengkraman di bahu Sehun menguat, “Sayang, kau tidak memperlakukanku sebagai sahabat, Oh Sehun. Kau menjauhi ku seakan aku virus.”

“Itu tidak benar.”

“Ingatan ku sudah kembali.”

Sehun sekarang menatap mata Krystal, “Tidak ada gunanya, Krystal. Semuanya telah terlambat.” Dengan kasar, Sehun melepaskan cengkraman Krystal.

“Sehun…” Krystal menghalangi Sehun untuk keluar dari pintu. “Katakan…”

“Kau sudah bersama Luhan. Itu tidak penting.”

“Aku… masih… menyukaimu…” Hancurlah pertahan Krystal yang beberapa bulan ini ia buat. Air matanya menetes, “Ya, jadi itu penting.”

Helaan nafas terdengar, “Perasaanmu kepadaku hanyalah sebuah klise. Atau bahkan hanyalah sebuah rasa penasaran. Sekarang ku tanya kepadamu, apa yang akan kau lakukan jika aku memberi tahu mu? Kurasa tidak ada. Kau pasti akan menganggap hal yang sepele karena sejujurnya perasaan mu tidaklah sedalam yang kau kira. Kau pasti—”

Omongan Sehun terputus dan ia membulatkan matanya. Kedua tangannya bergetar. Krystal Jung sedang menciumnya. Dengan pelan, ia mengangkat tangannya dan mengarahkan ke bahu Krystal, ingin melepaskan ciuman mereka. Tapi dengan pelan juga, bibir Krystal bergerak membuat Sehun menahan nafasnya dan tangannya terhenti tepat di bahu Krystal. Ia meremas bahu Krystal. Ketika bibir Krystal kembali bergerak, Sehun mendorong Krystal hingga kepintu dan ia mulai memejamkan matanya. Nafas mereka memburu ketika mereka melepaskan tautan bibir mereka.

“Hentikan!” Teriak Sehun menatap Krystal dengan tatapan menyalak. “Hentikan, Krystal Jung!” Lanjutnya penuh penekanan.

Krystal menelan ludahnya. Jantungnya berdebar tidak karuan. Sesaat tadi dia benar-benar tidak berpikir. Semuanya mengalir seperti air. Benarkah ini terjadi? Dia belum gila bukan?

“Kurasa… Kau yang tidak tahu pasti Oh Sehun.” Ujar Krystal dengna suaranya yang tiba-tiba serak.

“Kau tidak akan mengkhianati Luhan, Krys….” Seru Sehun masih penuh penekanan dan… Misterius?

“Oh!” Krystal tersentak hebat ketika ada yang membuka pintu kamar. Dia melupakan jika pintu kamar terkunci.
Sehun sedikit menjauh dari Krystal. Begitupula Krystal yang menjauh dari pintu.

“Hallo! Apakah aku terlambat?” Sulli datang dengan santainya. Ia kemudian menurunkan senyumannya melihat Sehun dan Krystal yang berada di dekat pintu. “Atau kalian sudah ingin selesai?”

“Aku harus pulang.” Sahut Sehun dingin. Membuat Sulli menyingkir dari pintu. Tanpa mengucapkan apa-apa, ia pergi meninggalkan Krystal dan Sulli.

“Ternyata sudah selesai.” Sulli masih belum mengerti situasi berusaha mengeluarkan candaannya.

“Aku juga. Ini sudah malam bukan?”

Sulli menatap bingung Krystal, sepertinya banyak yang terjadi di dalam sana bukan?

.TBC.

I know bagian ‘Sulli menatap bingung Krystal’ bukanlah ending yang bagus tapi saya kehabisan ide. Lagipula ini udah 2400 kata… Panjang ya?  Aneh? Membuka krtik dan saran dengan tangan terbuka guys..

And… How about the kiss part? I give you a surprised didn’t i?  Another surprise will be you found in the next chapter… 2 chapter lagi dan Flipped akan selesai, i guess…

State of Grace (Chapter 27)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

“Krys…”

Krystal belum bisa menjawab. Air matanya terus turun dan semakin deras. Manik matanya menatap Sehun dengan tatapan panik.

“Sayang….” Kata Sehun. Lagi. Ia mengenggam tangan Krystal yang dingin. Mencoba menyalurkan ketenangan. Menatap mata Krystal.

“Tetap disini….” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Krystal.

Sehun tidak mengerti apapun. Tetapi ia mengangguk dan menarik Krystal ke dalam pelukannya. “Aku akan selalu disini… Disebelah mu….”

.

.

.

.

.

Sehun terus memeluk Krystal sampai Krystal kembali tertidur pulas. Saat Krystal tertidur pulas, Sehun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan saja. Mereka sudah setengah perjalanan ke busan. Waktu sudah menunjukan pukul 2 pagi. Itu artinya, mereka kira-kira akan sampai Busan pada pukul 5 pagi, untungnya mereka sampai disana tepat pukul 5 pagi.

Seojoon menyewa sebuah villa untuk keluarga Sohee. Semuanya sedang tertidur pulas ketika mereka sampai. Hanya Seojoon dan Sohee yang menyambut Sehun. Itu juga mereka terbangun karena Sohee yang sedang mengidam.

“Krystal kelihatannya sangat lelah. Ku rasa kau harus menggendongnya Sehun-ah.” Begitulah yang kira-kira Sohee noona katakan. Sebenarnya, Sehun juga punya niatan untuk mengendong Krystal. Dengan sukarela ia menggendong Krystal ala bridal style ke kamar yang telah dipersiapkan.

Setelah membawa barang-barang ke atas, Sohee noona kembali berkata, “Kamar mu bukan di sini. Tapi di sebelah.” Kentara sekali ada nada ancaman di situ. Memangnya Sehun mau ngapain sih?

Walau sudah di ancam Sehun tetap nakal. Dia menidurkan dirinya di samping Krystal, pelan-pelan menutup matanya sambil memeluk kekasihnya.

.

.

.

.

.

Ketika bangun, Krystal merasa jika kepalanya sangat berat. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan menemukan wajah Sehun yang sedang tertidur dengan damai. Tangan Sehun yang melingkar memeluk tubuhnya juga mulai terasa. Krystal menyunggingkan senyumnya. Pelan-pelan ia menyentuh pipi Sehun.

“Pagi..”

Krystal terasa terjungkal dari tempat tidur sangking terkejutnya. Sehun tidak dapat untuk tidak tersenyum mendengar bunyi nafas Krystal yang begitu tercekat.

“Mencuri kesempatan ya?” Matanya tiba-tiba terbuka dan mendapati Krystal masih dengan wajah syoknya.

Krystal hanya mendengus. Rona merah sudah terdapat di wajahnya.

Lagi-lagi, Sehun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa.

“Apaan sih?” Gerutu Krystal dan mendorong Sehun pelan. Ia kemudian bangkit dari tempat tidurnya dengan wajah tertekuk.

“Jangan begitu…” Sehun dengan sigap kembali menarik Krystal ke dalam pelukannya. “Biarkan seperti ini untuk berapa saat.” Lanjutnya pelan.

Krystal lagi-lagi pasrah. Habisnya ia juga menyukai berada di pelukan Sehun.

Tok! Tok! Tok!

“Krystal….”

Sehun mengerang mendengar suara Sohee noona.

“Krystal…. Ayo bangun…. Sudah jam 07.30…”

Gantian, Krystal lah yang tertawa melihat raut wajah Sehun. Lagi-lagi ia mendorong Sehun dan bangun. Dengan santai berjalan menuju pintu,”Iya, oennie!”

Cklek~
“Krystal sayang…”   Sohee langsung memeluk tubuh Krystal, “Aku sangat senang kau bisa datang. Bersemangatlah! Kau harus fitting baju dan menemaniku seharian ini.”

“Apa-apaan…” Suara protes Sehun membuat Krystal dan Sohee menoleh.

Melihat Sehun yang berada di tempat tidur membuat Sohee melotot, “Yak, Oh Sehun! Sudah kubilang kamar mu disebelah!”

“Tapi noona tidak menyuruhku untuk tidur di kamar ku bukan?”
Sohee noona kembali melotot ke arah Sehun, “Benar-benar! Cepat sekarang keluar dan pergi ke kamar mu! Kau juga harus bersiap-siap karena akan menemani Seojoon!”

“Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapi!” Potong Sohee tegas. “Cepat!”

Sehun merengut. Aduh… Padahal Sehun berharap hari ini dia akan bersama terus dengan Krystal. Kenapa malah terpisahkan oleh dua calon pengantin ini?

.

.

.

.

.

“Fitting baju jam sembilan dan sehabis itu Krystal akan membantu noona mengurusi beberapa hal. Seperti bunga dan tata letak ruangan. Kau bisa bukan?”

“Tidak!”

Jawaban spontan Sehun membuat Krystal dan Sohee melotot. Mereka sedikit kesal dengan sifat blakblakannya Sehun.

“Tentu eonnie. Aku senang bisa membantu.” Kata Krystal pada akhirnya.

“Tapi—“

“Oh, senangnya…” Sohee noona memotong omongan Sehun. “Terimakasih Krystal…”

Sehun kembali menghela nafasnya. “Noona, kau membuat mood ku hancur.”

“Aku hanya meminjam kekasih mu hari ini saja. Besok-besok ia akan terus di sebelah mu.” Bela Sohee noona.

Sehun ingin melontarkan pembelaannya. Sayang, seseorang memanggil Sohee noona yang membuat ia dengan enaknya melenggang pergi meninggalkan Sehun dan Krystal.

“Sifat asal-asalannya sangat sama seperti hyung. Aku bingung bagaimana mereka menghadapi anak-anak mereka nantinya.” Gerutu Sehun kemudian meminum kopinya.

“Hush, jangan berbicara seperti itu!” Gumam Krystal. “Sohee noona tadi sudah bilang kepadaku dengan yang cara baik-baik kok. Entah mengapa ketika bertemu denganmu berbicaranya menjadi seperti itu.”

Sehun memberengut mendengar penjelasan Krystal. Krystal pun tertawa lepas melihat hal tersebut. Tertawa yang sangat lepas. Sehun melirik Krystal sekilas. Jika gadis itu bisa tertawa selepas itu sekarang, apa yang membuat ia menangis sangat ketakutan kemarin malam?

.

.

.

.

.

Rasa penasaran Sehun belum terjawab juga.. Dua hari dari kedatangan mereka ke Busan dan Sehun hampir tidak mempunyai waktu bersama Krystal. Bukannya ia seorang yang lagi kasmaran yang tidak ingin dipisahkan, hanya saja rasanya aneh karena ia ingin tahu mengenai kejadian malam mereka datang ke Busan.

Krystal dan Sehun menemani calon pengantin secara terpisah. Sohee mengurus ruangan sedangkan Seojoon kerjanya pergian ke tempat catering atau apapun itu. Barulah malam hari mereka bertemu, itupun ketika ingin tidur.   Malam pertama mereka di Busan, Krystal terlihat sangat lelah. Gadis itu benar-benar menemani Sohee mengurusi tata letak.

Sehun yang saat itu ingin bertanya, mengurungkan niatnya dan pada akhirnya hanya melihat Krystal yang mulai terlelap di kasurnya. Saat ingin keluar menuju kamarnya, baru saja ia membuka pintu, Krystal berteriak dan rupanya ia sedang mengalami mimpi buruk. Mata gadis itu terbelak ketakutan yang membuat Sehun entah mengapa sakit dan hanya bisa memeluknya hingga Krystal kembali tertidur. Sehun pun akhirnya kembali lagi tertidur di kamar Krystal.

Begitupula keesokan harinya, Krystal yang sangat lelah kembali dilanda mimpi buruk dan gadis itu sesenggukan akibat mimpinya. Mulutnya yang gatal terdiam karena ia tahu, Krystal tidak akan bisa menceritakannya sekarang. Dan dia berharap gadis itu ingin menceritaknnya nanti.

“Sehun!”

Sehun tersentak kaget ketika Kai memukul kepalanya. Ia menoleh menatap Kai tajam. Begitupula dengan Kai.

“Apa yang kau pikirkan bodoh?! Acara pernikahannya sudah mau di mulai!” Seru Kai tertahan.

Sehun menarik nafasnya dan berjalan dengan pelan menuju tempat pernikahan kakaknya. Ia tidak boleh mengecewakan kedua pengantin yang menunjuknya sebagai their best man.

.

.

.

.

.

Sorak tepuk tangan men-sahkan ikatan Sohee dan Seojoon. Semuanya bersorak senang dan tersenyum lebar. Panasnya mentari terkalahkan dengan semangat para hadirin.

Seojoon dan Sohee menggelar pernikahan mereka di salah satu pantai di Busan. Nuansa putih dan hiasan bunga yang banyak, pernikahan mereka adalah salah satu pernikahan terindah, menurut Sehun. Dan itu bukan hanya Seojoon sebagai kakaknya. Sehun tidak dapat menahan senyumannya. Ia mengerjapkan matanya ketika air matanya mendesak untuk turun. Tidak pernah terpikirkan di benaknya dapat melihat hyung-nya kembali. Atau dapat hadir di pernikahan hyung-nya.

Sohee dan Seojoon kemudian berbalik, melambaikan tangannya kepada para tamu. Tanpa aba-aba, Sohee melemparkan bunganya.

“Wuhuuu~” Sorai para tamu bertepuk tangan ketika bunga sampai di tangan Seulgi.

Seulgi tampak syok kemudian menunduk, menyembunyikan rona di pipinya. Krystal yang berada di samping Seulgi ikut bertepuk tangan juga tersenyum lebar.

Perhatian Sehun sekarang tertuju ke Krystal. Gadis itu selalu cantik dimanapun dan kapanpun. Tapi entah mengapa, rasanya sangat berbeda ketika Krystal, yang kala itu menggunakan gaun bewarna putih pemberian Sohee, tersenyum lebar sambil berbisik-bisik bersama Seulgi.

Acara pernikahan berlanjut. Sehun dengan setia, yang tentunya di dampingi oleh Krystal, menemani Seojoon menyapa keluarga Sohee yang jumlahnya lumayan. Sehun juga bertemu dengan orangtua Sohee yang terbilang sangat santai dan lebih tepatnya tidak mengungkit-ungkit masalah keluarga Sehun. Mereka juga sangat ramah. Jangan lupakan keponakan Sohee yang berjumlah 4 orang masing-masing berumur 3 tahun. Sedari tadi sibuk menyapa Sohee dan Seojoon. Juga ikut bercanda bersama Krystal.

Langit mulai senja saat semua tamu pada pulang. Menyisakan pengantin yang sibuk mengurusi tempat pernikahan mereka kemudian Sehun dan Krystal. Sehun menarik tangan Krystal perlahan menjauhi tempat pernikahan. Menyusuri pantai Busan yang indah dan masih terjaga. Melihat deburan ombak yang tenang. Angin sisa-sisa musim dingin masih terasa dan semakin terasa dengan redupnya sinar mentari.

“Apa kakimu sakit?” Tanya Sehun ke arah Krystal.

Krystal melihat ke arah kakinya yang terbalut high heels putih, “Sedikit.”

Sehun berhenti berjalan dan sedikit membungkukkan badanya. Pelan-pelan ia melepas high heels Krystal.
“Sehun!” Teriak Krystal terkejut karena Sehun tiba-tiba mengendongnya.

“Lihatlah… Kakimu kembali membiru.”

Krystal tidak sempat membalas. Lagi-lagi Sehun berlari menuju bibir pantai. Membuat Krystal tertawa lepas. Ia mengalungkan lengannya ke leher Sehun.

“Kyaaa…” Sehun menjatuhkan Krystal ke pasir lagi dan membuat Krystal kali ini terkena ombak.

Krystal yang kesal mendorong kaki Sehun dan ia juga ikut terjatuh. Mereka akhirnya bermain air hingga Krystal memutuskan untuk menjauh karena kedinginan.

“Menggelikan…” Gumam Krystal kesal.

Sehun hanya tertawa, “Tapi kau senang.” Ia kemudian mengalungkan jasnya ke bahu Krystal. “Sebentar lagi matahari akan terbenam. Kau ingin pulang?”

Krystal menoleh ke arah Sehun, “Bisakah kita melihat matahari terbenam terlebih dahulu? Sudah lama aku tidak melihatnya.”

Sehun mengiyakan. Akhirnya mereka terduduk di pantai. Tepat di depan mereka, matahari siap-siap terbenam.

“Aku jarang sekali ke pantai.” Krystal kembali berbicara. “Aku membenci pantai. Intinya, aku membenci hal-hal yang membuatku bahagia bersama ibu ku.” Ia menghela nafasnya. Sedangkan Sehun diam mendengarkan.

“Merayakan ulang tahun, pergi ke pantai, bernyanyi bersama-sama,” Omongan Krystal terhenti saat air matanya turun. Sehun dengan pelan menarik Krystal ke dalam pelukannya. Krystal mulai lagi berbicara, “Terkadang aku suka bertanya-tanya. Apa yang akan terjadi ketika aku bertemu dengan ibu ku lagi? Apakah aku akan marah dan tetap membencinya? Apakah aku langsung membalikan badan ku dan berjalan seoalah-olah aku sudah melupakannya? Bertahun-tahun aku memupuk rasa benci ku kepada ibu ku. Tapi… Tapi tidak ada satupun yang benar. Aku tercekat nyaris ketakutan ketika melihatnya.”

“Krys…” Sehun pun merasa aneh dengan akhir kalimat Krystal. Ia menatap wajah Krystal yang sedari tadi menempel di dada bidangnya.

Krystal menatap mata Sehun lamat-lamat sebelum ia berkata, “Aku bertemu dengannya. Ketika aku menangis dan mengatakan kepada mu agar jangan meninggalkan ku. Waktu itu semua kenanganku dengannya mengalir begitu saja. Dan aku merasa sudah menemukan jawaban dari pertanyaan ku. Pertanyaan ketika aku bertemu dengannya. Aku tidak akan siap bertemu dengannya. Sampai kapapun. Sampai aku bisa memaafkannya. Dan sayang, aku belum memaafkannya.”

“Aku akan berada di sebelah mu dan tidak akan pernah melepaskan mu.” Ucap Sehun sungguh-sungguh.

Air mata Krystal kembali meleleh. Krystal kembali berbicara. Menggumamkan sebuah kalimat yang tak diduga-duga, “Apakah aku akan menjadi ibu yang baik?”

“Tentu saja Krystal. Tentu saja.” Jawab Sehun cepat dan yakin. “Kau akan menjadi ibu yang baik. Aku yakin itu. Jangan pernah meragukan dirimu hanya karena masa lalumu. Itu sudah berlalu. Lihatlah dirimu yang sekarang.”

Krystal masih terdiam dan meneteskan air matanya.

Dengan lembut, Sehun menghapus air mata Krystal, “Semua akan baik-baik saja.”

Krystal kembali bersandar di dada bidang Sehun. Matanya terpejam menikmati dinginnya angin pantai. Sejenak hanya terdengar deburan ombak.

“Anak laki-laki atau anak perempuan?”

Sehun menoleh ke Krystal, “Apa?”

“Maunya anak laki-laki atau anak perempuan?”

Sebuah senyum tipis tersungging dibibir Sehun, “Bagiku, yang terpenting anak tersebut dilahirkan dari seseorang ibu yang aku cintai dan ibu tersebut sehat. Itu yang terpenting.”

Dalam sunyinya deburan ombak, Sehun kembali mengecup bibir Krystal.

Yah… Gak jadi ngeliat matahari terbenam dong…

.TBC.

Tenang-tenang…  Untuk beberapa chapter ke depan gak ada konflik berat..  Tapi gak tau nanti.  Target nyelesain ini adalah bulan desember/januari tapi kira-kira masih ada 10 chapter lebih (jika tidak ada perubahan konflik) Chapter selanjutnya akan di publish secepatnya *kaburrrrr

Flipped (Chapter 19)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

KHIANAT

Lima bulan. Ya, lima bulan. Hari ini tepat lima bulan sejak Luhan dan Krystal memutuskan untuk pacaran. Krystal melihat hp-nya yang sudah dipenuhi oleh chat dari Luhan. Salah satunya berisi tentang hari jadi mereka. Hp Krystal kembali berdering. Tapi kali ini bukan sebuah chat yang masuk, melainkan sebuah telepon dari Luhan.

“Hallo…” Jawab Krystal dengan suara khas bangun tidur, menjawab telepon Luhan.

“Happy five month anniversary…”

Krystal tidak dapat menahan senyumannya ketika mendengar suara Luhan, “Happy five month anniversary too….” Balasnya ceria. Ia mulai bangkit dari tempat tidurnya.

“Apa yang ingin kau lakukan hari ini?”

“Ke kampus tentu saja. Aku pulang siang hari ini.”

“Baguslah…”

“Kenapa?”

“Aku akan mengajak mu ke suatu tempat sehabis pulang.”

“Makan?” Tanya Krystal main-main. Ia hanya bercanda. Luhan bukan tipikal orang yang suka pergi ke restaurant jika ingin merayakan sesuatu. Lima bulan bersama dan Luhan suka mengajak Krystal ke tempat sedikt aneh untuk merayakan hari jadi mereka. Seperti taman, museum, atau pernah ke perpustakaan umum. Aneh, tapi Krystal menyukainya.

“Aku akan selalu mengajak mu makan. Ke tempat lain. Rahasia.”

Krystal tertawa mendengar jawaban Luhan yang selalu mengajaknya ke tempat makan. Lucu? Salahkan dia yang terlalu receh. “Baiklah. Dimana kita akan bertemu?”

“Kau tahu aku akan selalu dimana menunggu mu. Sampai nanti Krystal Jung.”

Lagi-lagi, Krystal tidak dapat menahan senyuman dan gejolak hatinya, “Baiklah. Sampai nanti.” Setelah sambungan telepon terputus Krystal memejamkan matanya. Rasanya damai. Keputusannya untuk bersama Luhan sepertinya tidak buruk, bukan?

.

.

.

.

.

Seulgi menatap Krystal yang sangat bahagia hari ini. “Happy five month anniversary…” Kata Seulgi pada akhirnya.

Krystal menoleh dengan tatapan terkejut, “Bagaimana kau tahu jika hari ini adalah—“

“Tentu aku tahu.” Potong Seulgi. “Sudah berkali-kali kau bahagia seperti ini. Tentu lama kelamaan aku juga hafal tanggal jadian mu. Kemana dia akan mengajak mu?”

Seulgi adalah orang yang tahu segalanya. Segalanya tentang hubungan Krystal dan Luhan.

“Oh, entahlah. Dia merahasiakannya.” Kemudian Krystal tersenyum. “Dia pasti sudah menunggu di luar.”

Seulgi mengangguk-angguk malas. “Yang lagi bahagia-bahagianya…”

“Kau iri bukan?” Krystal menatap Seulgi jahil.
Seulgi mendengus, “Apa kau bilang?” Katanya dengan nada yang diusahakan galak. Ayolah… Dia tahu jika Krystal hanya bercanda. Lagipula dia bukanlah seorang jomblo ngenes. “Aku sudah punya pacar…”

“Aku tahu. Aku tahu.”

Tepat setelah Krystal berkata seperti itu, bel pulang berbunyi. Langsung saja Krystal dan Seulgi memasukan novel yang daritadi mereka baca. Dosen Kwan sedang tidak masuk dan mahasiswa yang lain malas mencari guru pengganti. Dosen satu itu sudah sering membuat ulah karena sering tidak masuk sehingga dosen-dosen yang lain menjadi malas menggantikan kelasnya. Daripada mahasiswa-mahasiswa mendengar curhatan dosen yang lain mengenai Dosen Kwan, lebih baik tidak usah. Toh, pada akhirnya Dosen Kwan akan memberi nilai yang bagus karena tidak ingin ribet.

Sambil berbicara Seulgi dan Krystal berjalan keluar. Mata Krystal langsung mencari dimana Luhan ketika ia baru saja keluar dari kelasnya.

“Kemana Luhan?” Seru Seulgi karena Luhan tidak ada di tempat biasanya, di depan kelas Krystal.

Tepat setelah itu, handphone Krystal kembali berdering.

.

.

.

.

.

Benar dugaan Krystal sedari awal. Perayaan mereka bukan di tempat romantis. Malah di tempat yang sangat-sangat Krystal benci, rumah sakit. Walaupun alasan dia berada disini bukan karena niat Luhan.

Luhan mengalami kecelakaan kecil saat sedang co-ass. Seorang pasien yang mabuk mendorongnya dan kepalanya terbentur dinding. Benar-benar suatu hal yang tidak di rencanakan. Untungnya keadaan laki-laki itu baik-baik saja. Bahkan sudah di bolehkan pulang dengan beberapa jahitan di kepalanya.

“Maafkan aku…” Kata Luhan setelah kepalanya selesai di jahit kepada Krystal. Krystal sedari tadi menunggui Luhan. Dari kepala laki-laki itu masih dibersihkan hingga dijahit seperti ini.

Krystal menghela nafas mendengar permintaan maaf Luhan. “Tidak apa-apa Luhan. Sungguh. Apa aku terlihat marah? Tidak bukan?”

“Tapi aku sudah berjanji.”

“Aku tahu. Tapi siapa yang akan menduga ini? Lagipula, sehabis ini kita bisa berjalan-jalan sebentar dan baru pulang. Rencana mu belum sepenuhnya hancur.”

“Astaga…” Luhan menghela nafas lega. “Kukira kau akan menyuruhku pulang ke rumah dan berisitirahat sedangkan aku ingin mengajak mu jalan-jalan.”

Krystal tertawa mendengar hal itu. Satu hal yang ia suka mengenai Luhan adalah bagaimana laki-laki itu menjaga perasaannya dengan sangat baik.

“Tentu saja tidak.” Jawab Krystal. “Dokter tadi bilang jika keadaan mu baik-baik saja. Apa aku salah?”

“Tidak.” Luhan kemudian bangkit, “Aku akan mengurus izin untuk besok. Ingin tunggu di kantin? Biasanya ini memakan waktu setengah jam.”

Krystal dengan senang hati mengiyakan permintaan Luhan. Bagaimanapun juga perutnya sudah meminta jatah. Ia langsung berjalan menuju kantin yang terletak di sisi utara rumah sakit.

Dentingan bel terdengar ketika Krystal memasuki café. Penjaga kantin yang menggunakan seragam suster menyapanya dengan ramah.

“Aku pesan nasi goreng kimchi.” Kata Krystal yang langsung dicatat oleh penjaga kantin ber-name tag Park Hyein. “Minumnya ice lemon tea.”

Ketika Krystal ingin berbalik, terdapat seorang perempuan di belakangnya. Perempuan tersebut sangat cantik. Rambutnya tergerai dan dia menggunakan atasan yang sedikit terbuka, menurut Krystal. Memperlihatkan bahunya yang indah. Perempuan tersebut melihat ke arah Krystal dan tersenyum kecil. Krystal membalas senyuman perempuan itu. Baru setelah itu ia memutuskan untuk duduk di bangku yang terletak di sebelah jendela. Hanya tempat parkir sebagai pemandangannya, tetapi Krystal menyukainya.

“Aku pesan nasi gorengnya satu dan nasi tim. Untuk minumannya satu teh hangat dan satu lagi milkshake strawberry.” Suara perempuan tadi terdengar dengan jelas. Suasana kantin yang sepi dengan beberapa orang membuat apapun terdengar dengan jelas.

DB3Nl1pVoAAGfOG

Krystal yang sedang memandangi mobil lewat langsung menoleh ke pintu ketika terdengar bunyi dentingan. Dia pikir itu adalah Luhan. Tapi melihat siapa yang datang, ia langsung terkesiap keras.

Laki-laki itu menggunakan pakaian bewarna hitam dengan celana jeans. Wajahnya terlihat pucat dan kantung mata dengan jelas tercetak di wajahnya.

“Sehun!” Panggilan dari seseorang membuat Sehun datang mendekat. Krystal sama sekali belum bisa melepaskan pandangannya mengikuti arah gerak Sehun.

Ketika melihat bersama siapa Sehun duduk, ia langsung mengepalkan kedua tangannya hingga jari-jemarinya memutih. Sehun duduk bersama perempuan yang tadi tersenyum ke Krystal. Bersusah payah mengalihkan pandangannya kembali menuju mobil. Krystal menegukan ludah. Bersamaan dengan detak jantungnya yang berdebar keras.

“Aku sudah memesankanmu nasi tim. Kuharap kau suka.” Suara perempuan terdengar kembali.
“Oh, tentu Irene-ah. Tidak usah repot-repot. Kau sudah cukup bersusah payah menemaniku berobat.” Suara berat itu terdengar. Krystal semakin menahan nafasnya.

Rasanya, ia ingin tuli saat itu juga agar ia tidak dapat mendengar percakapan dua orang tersebut. Apalagi saat mendengar suara Sehun kepada perempuan itu.

He’s so care to her. Itu terlihat dari kata-kata yang Sehun ucapkan. And she’s also care to him. Perempuan tersebut-Irene- juga sama perdulinya dengan Sehun. Dia sangat santai membalas pernyataan Sehun yang sedikit keberatan dengan perlakuan Irene.

Unfortunately, he even doesn’t relize there’s you in here, Krystal Jung. Krystal berusaha tidak melihat Sehun lagi sehabis itu dan pura-pura sibuk menatap ke arah jendela.

.

.

.

.

.

Krystal merasa mengkhianati Luhan. Bagaimana dia masih bisa memiliki perasaan suka ke Sehun? Dia tidak menikmati sisa harinya setelah kejadian di café rumah sakit. Dia tersenyum dan tertawa kepada Luhan, tapi dia tidak bisa mengeyahkan kejadian café dalam pikirannya.

Krystal mencoba memejamkan matanya untuk tidur. Tetapi malah berbagai pikiran menyergapinya. Ia mendsah keras akibat kepalanya yang pusing. Segera saja ia mengambil handphone-nya dan menelepon Seulgi.

Halo…” Jawab Seulgi di dering pertama. Nada suaranya belum terdengar mengantuk sama sekali. Mungkin teman dekatnya sedang menonton drama marathon.

“Seulgi…” Ucap Krystal lirih. “Apa aku menganggu mu?”

“Mendengar suara mu sepertinya kau sedang butuh bantuan ku. Ada apa?”

Krystal menarik nafasnya lalu mulai bercerita. Mengenai hari ini yang dicapnya gagal karena bertemu dengan Sehun. Ia menceritakan semua detail. Untuk apa ia datang ke rumah sakit, saat kejadian di café, dan bagaimana perasaannya.

Ku rasa kau sudah harus memutuskannya dari sekarang.” Gumam Seulgi ketika Krystal sudah selesai bercerita.
“Memutuskan?”

“Ya. Memutuskan untuk apa kau berpacaran dengan Luhan. Sebagai pelampiasan Sehun atau hal lainnya.”
“Tentu saja bukan sebagai pelampiasan!” Gerutu Krystal mendadak kesal mendengar Seulgi. “Aku benar-benar ingin serius dengan Luhan.”

“Aku tahu… Jika kau ingin serius maka jangan mudah goyah Krystal Jung. Sekarang kau mempunyai seseorang yang sangat mencintai mu. Apakah kau ingin mencampakkannya demi seseorang yang tidak pernah melihat mu?”

“Rasanya sangat sulit untuk melepaskannya.” Kata Krystal lirih. Matanya terpejam beriringan dengan detak jantungnya yang meningkat, “Aku terkadang membenci diriku yang lembek di hadapan Sehun.”

“Kau mencintai Sehun dalam waktu yang sangat lama. Wajar jika kau tidak bisa melupakannya dengan cepat. Kau ingin saran ku?”

“Tentu.”

“Bandingkan lah keadaan mu dulu ketika mengejar Sehun dibandingkan sekarang, ketika kau mengejar Luhan. Jika kau ingin merasakan sakitnya mengejar Sehun mungkin kau bisa mengingat detail-detail kecil dengan membaca buku diary mu.”

Dahi Krystal mengerut, buku diary nya? Kemana bukunya itu?

.

.

.

.

.

Berbicara mengenai buku diary-nya, Krystal sama sekali belum menemukan buku itu.   Entah dimana buku itu. Gadis tersebut bahkan tidak mengingat dimana ia menyimpan buku tersebut. Bibi Kwon tidak tahu. Padahal biasanya bibi Kwon tahu hal-hal seperti ini. Krystal menghela nafasnya. Setidaknya pikiran dia beralih dari Sehun ke buku diary-nya.

“Bagaimana kabar buku diary mu?”

Suara Seulgi membuat Krystal menoleh kepadanya saat ia mengunyah pada jam makan siang. “Belum.” Jawabnya setelah menelan makanannya. “Aku bahkan tidak dapat mengingat dimana aku menyimpannya.”

Sebelum Seulgi dapat berkomtentar, hp Krystal berbunyi dan dengan sigap ia mengangkatnya. “Hallo…”

Hai…” Suara di ujung seberang membuat Krystal membulatkan matanya. Ia langsung melihat layar handphone untuk memastikan yang meneleponnya adalah Sehun. Dan benar, laki-laki itu meneleponnya.

“Oh, Hai. Ada apa?” Ujar Krystal dengan suara yang diusahakan ceria.

“Aku ingin bertemu dengan mu.”

Hah? Ada apa lagi ini?

“Bertemu dengan ku?”

“Ada hal yang ingin ku sampaikan kepada mu.”

Krystal menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aduh…. Bagaimana ini?

“Aku berada di depan kelas mu.” Perkataa Sehun membuat Krystal melongo. “Tapi kata teman mu kau keluar.”

“Di taman. Ayo kita bertemu di taman.” Ujar Krystal cepat pada akhirnya. Entah apa alasan Sehun, tapi ia harus dengan cepat menuntaskan hal ini.

“Ada apa?” Tanya Seulgi ketika Krystal menutup handphone-nya.

“Nanti akan ku ceritakan.” Krystal langsung lari meninggalkan Seulgi.

.

.

.

.

.

Sepuluh menit kemudian Krystal sampai di taman fakultasnya. Sehun sudah menunggu di situ sambil duduk. Ketika ia melihat Krystal, Sehun pun bangkit dan berjalan mendekat ke arah Krystal. Tangannya membuka tas punggungya dan dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Buku diary mu.” Kata Sehun dan memberikan buku diary milik Krystal.

“Bagaimana bisa?” Tanya Krystal bingung. Tangannya dengan pelan mengulur mengambil buku diary nya. Ia kemudian menatap Sehun, “Bagaimana bisa?”

Sehun menghela nafasnya. “Aku menyimpan buku mu. Tentu saja atas perintah Dokter Kim. Dokter Kim berkata jika ia menginginkan dirimu mengingat secara perlahan akibat masalah amnesia mu.”

Krystal masih menatap Sehun bingung, “Tapi… Itu bisa saja…” Kemudian ia memekik, “Bagaimana kau tahu tentang buku diary ku?”

“Itu tidak sengaja.” Kata Sehun pelan dan wajah datar. Astaga… Laki-laki di depannya hanya memasang wajah sangat santai dan dengan santainya menatap manik mata Krystal. “Banyak hal yang terjadi ketika kau koma. Termasuk saat aku harus tidur di kamar mu ketika orangtua kita masih sibuk berdiskusi. Saat aku ingin tertidur, aku tidak sengaja menemukan buku diary mu di bawah bantal.   Sebenarnya, bisa saja aku menyuruh Bibi Kwon untuk menyimpannya. Tetapi Bibi Kwon tidak enak sehingga aku yang menyimpannya.”

Krystal mengerjapkan matanya beberapa kali saat ia rasa ia tidak dapat menemukan kebohongan dalam kalimat Sehun. Entah Sehun tidak berbohong atau ia terlalu pandai berbohong. Ia berdehem, “Oh, terimakasih.”

Sehun mengangguk, “Aku pamit dulu. Aku harus ke kampus.”

Krystal tidak menjawab. Sehun berbalik. Jadi Sehun sehabis ini akan ke kampus. Pikir Krystal. Tetapi matanya kembali menyipit.

“Tunggu!” Teriak Krystal karena ia mengingat sesuatu, “Bukankah dirimu sakit?”

Sehun yang sudah berbalik ketika Krystal memanggilnya terdiam sejenak. “Oh…” Ia kemudian tertawa kecil, “Itu sudah tidak apa-apa kok.”

“Aku sebenarnya melihatmu bersama teman mu. Tapi aku merasa tidak enak menyapa mu. Kau sedang terlihat mengobrol asyik.” Hening sejenak, kemudian Krystal menambahkan, “Siapa namanya?”

Entah mengapa Sehun tersenyum sangat lebar, “Irene…”

Krystal mencengkram buku diary-nya.

He’s now in front of you, still his thought only for her. Guess, he’s not really ‘looking’ at you.

.TBC.

Hohoho…  Sudah beberapa lama saya absent-kan ff ini?  State of Grace chapter  terbaru udah selesai.  Tapi nanti aja saya publish yaaa..  *evil laugh*  Flipped chapter 20  juga lagi di tulis…  Tape baru 3/4 dan saya lagi males…  See you soon guys….

State of Grace (Chapter 26)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Helaan nafas kembali terdengar. Krystal lagi-lagi menghela nafasnya. Milktea-nya sudah mendingin sejak tiga puluh menit yang lalu. Begitu pula dengan Milktea Seulgi. Seulgi sendiri sudah mengundurkan diri sejak setengah jam yang lalu. Bersama Kai.

Seulgi dan Kai datang ke apartment Krystal tadi. Seulgi untuk mengajaknya berbaikan dengan Sehun. Kai sepertinya hanya mengantar Seulgi ke apartment Krystal. Dan meminjam kamar mandinya. Laki-laki tersebut bahkan langsung pergi menunggu di mobil setelah selesai dari toilet. Mungkin karena Seulgi menginginkan hanya dia dan Krystal di ruangan itu.

“Aku adalah orang yang jahat.”

Krystal menyeringit samar mendengar perkataan Seulgi. Seulgi meletakan tehnya dan menatap Krystal.

“Aku minta maaf karena itu.”

Krystal sendiri terdiam sangking bingungnya.

“Teman tidak seharusnya datang ke rumah temannya dengan membawa masalah. Tapi aku datang ke tempat mu dengan membawa masalah.”

Krystal masih terdiam. Menunggu kata-kata Seulgi.

“Masalah mu dan Sehun lebih tepatnya…”

Krystal sudah menebak sedari awal kedatangan Seulgi. Tapi ia diam saja. Toh rasanya memarahi Seulgi atau jutek ke Seulgi tidak baik. Seulgi sama sekali tidak bersalah dalam masalah ini. Krystal pun berusaha meyakinkan Seulgi dengan cara yang ia tempuh. Ia mendiamkan Sehun agar ia dapat berpikir sejenak.

“Kau ingin sebuah rahasia dari ku?”

Krystal bingung setengah mati mendengar pertanyaan Seulgi. Ia terdiam sehingga Seulgi menceritakan keseluruhannya.

“Aku menyukai Kai sejak SMA.”

Rasanya Krystal bingung setengah mati. Sejak SMA? Itu berarti jauh sebelum Kai berpacaran dengan Sulli! Perasaan Seulgi sama sekali tidak berubah hingga sekarang. Tatapan Seulgi meredup seiring ia menceritakan seluruhnya. Gadis itu juga tidak dapat membendung air matanya di sela-sela cerita.

“Dengar Krys, Sehun pasti juga akan memaksamu keluar dari apartment ini. Tapi dia hanya diam dan menunggu mu karena dirimu. Tapi aku tahu jika mengambil sebuah keputusan di tengah kegalauan jarang yang berhasil. Kegalauan muncul akibat adanya resiko. Tapi mengambil resiko bagiku terlihat lebih baik daripada diam seperti menjauhi masalah. Dan kau seharusnya mengambil resiko itu.”

Genggaman Seulgi mengerat seiring nafas Krystal yang juga mulai memberat saat itu. Seulgi tersenyum kepadanya dan kembali berkata,

“Yang harus kau lakukan adalah tetap memegang tangannya a.k.a berada disampingnya…”

Perkataan Seulgi adalah sebuah déjà vu bagi Krystal. Perkataan yang sama seperti Sohee ucapkan.

“Yang perlu kau lakukan adalah mengenggam tangannya apapun yang terjadi.”

Lagi-lagi Krystal menghela nafas. Air matanya kembali turun. Dia selalu mengatakan kepada dirinya sendiri, berhenti menjadi orang cengeng! Tapi dia tidak bisa. Dia melanggarnya. Tatapan Krystal terarah kepada jam yang menggantung di dinding. Sebelum Seulgi pulang, ia menyampaikan agar Krystal dapat pergi bersama Sehun ke pesta pernikahan Seojoon Oppa dan Sohee Oennie. Sehun akan berangkat pukul 10 malam ini.

Jam sendiri menunjukan pukul 9. Apa yang harus ia lakukan?

.

.

.

.

.

Suara hujan deras tak terdengar sama sekali. Suara Sohee noona yang sedang membujuk Sehun agar pergi ke Busan benar-benar mengalahkan segalanya.

“Sehun harus datang loh….”

Sehun memijit pelipisnya, “Iya, noona aku akan datang…. Ini aku sudah bersiap-siap.”

“Seulgi bilang kau tidak ingin pergi karena Krystal. Apa aku harus menelepon Krystal?”

“Tidak apa-apa Sohee noona. Lagipula, Krystal tidak ingin di ganggu. Bagaimanapun juga kalian mempersiapkan pesta ini karena aku bukan? Tentu aku datang.”

“Baiklah…. Tapi beneran loh…”

“Aku tidak akan menarik omongan ku noona…”

“Baiklah. Noona tunggu ya……”

Telepon pun langsung terputus. Sehun memasukan handphone-nya. Dengan malas-malasan ia mematikan seluruh lampu di apartment-nya. Sepertinya ia harus berangkat sendiri. Sepertinya juga ia akan memberi tahu Krystal pergi besok pagi. Gadis terbsebut pasti sudah tidur sekarang. Memperhatikan Krystal dari jauh membuat Sehun tahu beberapa kebiasaan Krystal, termasuk kebiasaan tidurnya.

Dengan ogah-ogahan ia juga menyeret kopernya keluar. Rasanya begitu lambat ketika ia membuka pintu apartement-nya. Seluruh tenaga Sehun terarah untuk membuka pintu apartment-nya.

Nafas Sehun tercekat ketika melihat seseorang yang ia kenal tiba-tiba berhambur ke pelukannya. Memeluk tubuh Sehun dengan tangannya yang mungil.

“Krystal…” Ucap Sehun lirih.

.

.

.

.

.

Tekad Krystal sudah bulat. Ia memutuskan untuk melanggar semua batas. Menembus semua keraguannya. Secepat kilat ia membuka lemarinya. Mengeluarkan baju secara asal, yang terpenting cukup selama empat hari di busan. Dua hari sebelum menikah, hari H menikah, dan H+1 menikah. Segera memasukan kedalam kopernya. Jam menunjukan pukul 21.15.

Sial!
Rutuk Krystal dalam hati. Lingkungan apartment-nya jarang dilewati oleh taksi. Secara semua orang disini adalah kalangan menengah yang lebih suka menggunakan kereta. Krystal berusaha secepat mungkin berjalan menuju ke stasiun. Ketika ia masuk ke kereta, jam menunjukan pukul 21.25. Kereta sampai di stasiun tujuannya tigapuluh menit kemudian. Itupun Krystal harus berjalan cukup jauh untuk sampai di apartment Sehun. Berbeda dengan apartment Krystal yang untuk kalangan menengah, apartment Sehun untuk kalangan ke atas yang menggunakan mobil sebagai transportasi utama.

Krystal ingat, di tengah-tengah perjalanan hujan tiba-tiba turun. Dan dia menangis di tengah-tengah ia berlari ke apartment Sehun. Ia tiba-tiba merasa takut. Bagaimana jika Sehun sudah pergi? Apakah keadaan akan sama setelah Sehun pulang dari Busan? Dua hal itu terus menghantuinya.

Keadaan Krystal cukup mengenaskan ketika ia sampai di apartment Sehun. Jika saja Krystal hanya sekali ke situ, dia pasti dicekal oleh petugas keamanan apartment. Untungnya mereka tahu dan membiarkan Krystal masuk walaupun diiringi tatapan aneh. Beberapa orang yang satu lift dengan dia juga memberikan tatapan aneh. Dia sama sekali tidak peduli.

Entah apa yang sedang terjadi, semuanya sangat pas. Ketika Krystal baru saja sampai di depan pintu dan bersamaan dengan itu Sehun juga membuka pintu apartment-nya. Krystal langsung menghamburkan diri ke pelukan Sehun. Memeluk tubuh tegap Sehun dengan tangannya yang ia rasa kecil dibandingkan tubuh Sehun. Dia kembali menangis.

“Krystal…”   Suara Sehun yang lembut seakan oksigen yang membuat Krystal bisa bernafas dengan lega. Krystal tetap memeluk Sehun. Ia membenamkan wajahnya di dada Sehun.

Perlahan, tangan Sehun juga ikut melingkar ke tubuhnya. Sehun menarik Krystal ke dalam pelukannya. Tangan kananya mengelus pelan kepala Krystal.

Sehun kemudian melonggarkan pelukannya. Tangannya terlepas dari pinggang Krystal. Dia menyentuh lembut wajah Krystal dengan kedua tangannya. “Jangan menangis… Ayo masuk. Kau kehujanan.”
Krystal diam menurut. Dia belum bisa berbicara apa-apa ke Sehun. Dia hanya diam ketika Sehun menyuruhnya untuk mandi dengan air hangat dan memberikan baju ganti yang layak untuk Krystal, sebuah sweater kebesaran bewarna navy blue dan celana dengan panjangnya menutupi paha Krystal. Krystal sebenarnya membawa baju dan dia bisa saja memakai bajunya. Tapi entah mengapa tatapannya hanya tertuju ke Sehun. Dan pikirannya yang menerawang bagaimana cara meminta maaf kepada Sehun.

Sepuluh menit kemudian Krystal keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju Sehun. Dirinya menggusap rambutnya yang basah dengan handuk yang lagi-lagi Sehun berikan. Kemudian berjalan melintasi kamar Sehun untuk mencari Sehun.

Astaga… Apa yang Seulgi lakukan hingga kalian semua seperti ini?”

Suara Sehun terdengar ketika ia membuka pintunya. Krystal langsung menuju ke sumber suara, yaitu dapur. Disana dia juga dapat melihat secangkir teh hangat dan roti yang baru saja dipanggang. Sehun membelakangi dirinya sambil memengang hp.

“Aku. Akan. Datang.” Seru Sehun tidak sabaran. “Aku berjanji akan hal itu….” Setelah itu Sehun kembali berbicara, “Ya. Tenang saja. Jam duabelas pun aku akan menyetir kesana. Pokoknya ketika waktunya fiting aku akan berada di tempat!” Sehun pun kemudian memutuskan telepon dengan kasar. Ketika dia berbalik, Sehun tersenyum mendapati Krystal sudah ada di dapur. Dia berjalan mendekat ke arah Krystal, mengenggam lembut tangan Krystal. “Aku lupa membawa koper mu tadi. Tapi tenang saja, aku sudah memasukannya…”

Perkataan tak terduga dari Sehun membuat pipi Krystal memerah. Bodohnya dirinya yang juga tidak mengingat kopernya. Sehun seperti menghinoptis dirinya dan yang ia inginkan saat itu adalah menatap Sehun. “Ah… Aku…” Hening sejenak, “Aku minta maaf…”

Senyuman Sehun semakin merekah, “Minta maaf karena apa?” Tanyanya dengan suara ringan. Dia terlalu bahagia karena mendengar suara Krystal. “Kau tidak bersalah Krys… Seharusnya aku yang meminta maaf. Aku kembali melanggar janjiku. Aku membuat dirimu tersakiti.”

“Tetap saja….” Suara Krystal bergetar lagi. “Aku membuat kesusahan dalam beberapa hari ini. Aku menjauh. Tidak ingin mendengarkan apapun dari mu.”

“Ssssttt… Tidak apa-apa. Aku akan melakukan apapun untuk mu. Walau harus membelikan bulan. Walau harus terbang ke Mars. Walau harus menjauh darimu. Asalkan kau menginkannya…”

Air mata Krystal kembali menetes.

“Jangan menangis ku mohon… Aku tidak ingin kau bersedih….”

Bodoh! Krystal bahagia…. Sangat bahagia hingga ia seperti ini. Krystal melepaskan tangannya dari Sehun dan segera menghapus air matanya. Sayang air matanya tetap tidak ingin berhenti. Sehun yang melihat hal itu menarik tubuh Krystal dan tiba-tiba menciumnya.

Sebuah perlakuan yang lagi-lagi tak terduga. Krystal pikir Sehun akan memeluknya. Tapi Krystal sama sekali tidak mempermasalahkannya. Dia menerima perlakuan Sehun.

Drrt~

Handphone Sehun kembali berbunyi. Tetapi sepertinya Sehun sama sekali tidak mempunyai niat untuk mengangkatnya.

Drrrt~

“Sehun….” Kata Krystal setelah mendorong Sehun, “Ada telepon.”

Sehun tidak mengatakan apa-apa. Tapi dari wajahnya terpampang kekesalan, “Halo.” Katanya asal-asalan.

“Kau dimana? Sudah berangkat belum?”

Sehun mengerang mendengar suara Seojoon yang sudah dua kali meneleponnya, “Tenang saja… Aku pasti akan berangkat. Krystal juga sudah datang…”

“Cih, aku tidak percaya hanya karena kau mengatakan Krystal sudah datang. Aku akan terus menelepon mu hingga kau sampai, mengerti? Aku sebenarnya ragu kau datang makanya seperti ini—“

Sehun hanya bisa menghela nafas mendengar rentetan kalimat Seojoon. Ia kemudian melirik ke arah Krystal, “Hyung ingin aku membuktikannya? Baiklah…” Sehun memberi hp nya ke Krystal. “Seojoon hyung… Bicaralah dengan ia sebentar.”

Krystal menerimanya, “Seojoon oppa?”

“Astaga Krystal!” Suara Seojoon terdengar sangat kaget, “Aku tidak menyangka kau akan datang malam ini. Tapi baguslah jadinya Sehun bisa semangat datang ke pesta pernikahanku. Ingat ya, kalian harus berangkat malam ini juga!”

“Baik oppa…”

“Eh, ngomong-ngomong apa yang Seulgi lakukan sehingga kau mau merubah pemikiran mu?” Belum sempat Krystal menjawab Seojoon kembali berbicara, “Tapi biarkan aku saja yang memikirkannya. Kalian cepat-cepatlah ke sini…” Sambungan telepon terputus.

“Kurasa kita harus berangkat sekarang…” Putus Sehun dan Krystal hanya mengangguk.

.

.

.

.

.

Krystal mengerjapkan matanya. Dimana dia sekarang? Ia melihat keadaan sekitar dan menemukan Sehun sedang tertidur pulas di samping kirinya. Sepertinya Sehun memutuskan untuk tidur di tempat peristirahatan karena mengantuk. Pelan-pelan, tidak ingin membuat Sehun bangun ia membangkitkan sandaran kursinya. Ia rasa ia akan berjaga sebentar sampai Sehun bangun.

Mata Krystal menelisik lingkungan sekitar. Sehun memilih pom bensin dan banyak mobil lain yang juga memarkir disana. Beberapa di antara mereka keluar membeli snack dan sehabis itu pergi. Adapula yang hanya keluar entah ngapain, kemungkinan besar ke toilet kemudian pergi.

Hampir lama Krystal memandangi mobil yang datang dan pergi. Tersisa tiga mobil di sana. Mobil Sehun, satu mobil sedan yang kira-kira tiga meter dari Krystal, dan tepat di samping mobil sedan ada mobil SUV.

Pelan-pelan, ia melihat seorang laki-laki berjalan sambil memegang kopi di tangan kirinya. Tangan kanannya sedikit ke belakang karena ada yang menarik. Kemudian seorang perempuan yang memegang tangan lelaki berlari kecil kedepan. Mensejajarkan posisinya dengan laki-laki itu. Tersenyum lembut.

Deg!

Krystal menahan nafasnya. Tangannya bergetar secara tiba-tiba. Keringat dingin bermunculan di pelipisnya.

“Sehun…” Panggil Krystal dengan suara serak. Air matanya sudah turun. “Sehun…” Panggilnya lagi karena Sehun belum terbangun. “Oh Sehun!” Serunya agak keras diiringi oleh isak tangis.

Sehun pun akhirnya bangun. Ia langsung panik setengah mati menemukan Krystal yang tiba-tiba menangis. “Ada apa Krys? Ada apa?”

.TBC.

 Hullaaa  i’m back as soon as i can….  maaf ya saya lama updated nya lagi kelas dua belas nihhh  (alasan!).  Tapi ciusan rasanya belajar itu udah gumoh bawaannya…  Special double updated sama Flipped.

And saya punya akun wattpad…  Boleh atuh di follow…  xospringsflowerxo

 

State of Grace (Chapter 25)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Suara sepatu Krystal sangat memperhatikan. Begitu pula dengan kakinya yang sudah membiru.

Brak!

Krystal akhirnya terjatuh ketika hak dari sepatu yang ia gunakan patah.

“Astaga, Krys!” Sehun yang mengejar Krystal langsung berjongkok. “Luruskan kaki mu…” Tanga Sehun terulur menyentuh kaki Krystal.

“Jangan!” Teriak Krystal parau. Menghentikan uluran tangan Sehun. “Jangan….” Katanya lagi.

Sehun terdetak melihatnya. “Krys…” Ia segera mendekat ke Krystal dimana Krystal mencoba untuk menjauh. “Ku mohon…” Katanya dan segera menarik Krystal ke dalam pelukannya.

Tangisan Krystal meledak. Ia menangis di dalam pelukan Sehun. Tersedu-sedu disana.

Tes!

Air mata Sehun juga ikut turun. Sial! Dia baru saja, baru saja berjanji kepada gadis itu agar gadis itu tak tersakit. Sekarang gadis itu menangis akibat tersakiti.

“Kalian!” Seojoon menyusul mereka. Nafasnya terengah-engah. Melihat keadaan Sehun dan Krystal ia menghela nafas. Tanganya terulur ke kaki Krystal. Ia meluruskan kaki Krystal dan melepaskan sepatu Krystal.

Krysal memandang Sehun, tangisannya tidak sekeras tadi.

“Ayo kita pulang!” Ajak Sehun.

“Biar aku yang mengantarnya…” Kata Seojoon tiba-tiba. “Oemma dan Appa panik mencari mu. Ku sarankan kau tetap tinggal demi kenyamanan pesta. Serahkan Krystal kepada ku.”

“Aku tidak perduli hyung… Krystal pulang bersama ku!”

“Aku akan pulang bersama Seojoon oppa…” Krystal meringis tak kala ia bangkit. Ketika berdiri ia tidak terlalu seimbang. Seojoon dan Sehun segera memeganginya.
“Tapi Krys…” Sehun menatap Krystal dengan tatapan memohon.

Krystal menggeleng lemah, “Ku mohon… Kembalilah ke pesta…”

Sehun hanya bisa menghela nafas. Ia menatap Seojoon, “Aku percaya kepada mu hyung…”

Seojoon mengangguk sebagai jawaban.

Sehun kembali menghela nafas dan segera menjauh dari Krystal dan Seojoon.

.

.

.

.

.

Seojoon melirik Krystal yang masih diam memandang jendela. Tatapan gadis itu kosong. Tetapi Seojoon yakin, pikiran gadis itu pasti tidak kosong.

Seojoon berdehem, “Sudah sampai.” Katanya ketika Krystal menoleh.

Krystal mengerjap beberapa kali, “Oh?” Tatapannya segera menyapu sekeliling. Sedikit terkesiap ketika Seojoon benar.

Seojoon menghela nafasnya, “Kau tahu jika aku peduli padamu, Krys…”

“Aku tahu oppa…” Ujar Krystal parau. “Terimakasih telah mengantarkan ku pulang.” Krystal ingin keluar, tetapi Seojoon sama sekali belum membuka pintu mobil.

“Dengarkan aku terlebih dahulu…” Ucapan Seojoon membuat Krystal kembali menoleh ke Seojoon, “Aku tahu kau tidak suka membicarakan masalah mu ke sembarangan orang. Hanya orang-orang terdekat dan pastinya aku bukan merupakan orang itu. Aku tidak memaksamu untuk bercerita sana-sini. Hanya katakan apa yang kau pikirkan. Kau terlihat tertekan Krys. Dan aku tahu, ada satu hal yang terus berputar di otak mu dari tadi.”

Krystal memejamkan matanya, “Entahlah…”

“Aku tidak akan membiarkan mu keluar dari mobil ini!” Ancam Seojoon.

Krystal akhirnya mendengus, “Kurasa…. Bisakah oppa menyampaikan ke Sehun agar menjauhi aku untuk beberapa hari ini? Maksudku—“

“Aku mengerti.” Potong Seojoon. “Aku mengerti maksud mu. Kau ingin waktu untuk berpikir dengan jernih bukan? Tentang masalah ini. Tentang ibu ku. Kau tahu jika Sehun mengejarmu malam ini, memohon minta maaf, kau akan luluh dan memaafkannya. Dan kau tidak ingin itu terjadi sehingga kau ingin waktu untuk meyakinkan perasaan mu bukan?”

“Aku yakin dengan perasaan ku!” Ucap Krystal masih parau. Air matanya mulai menggenang di matanya. Satu kerjapan akan membuat butiran-butiran jernih turun, “Hanya saja—“

“Aku mengerti.” Potong Seojoon lagi. “Sekarang masuklah ke dalam apartment-mu dan berpikir dengan waktu sebanyak yang kau inginkan. Akan ku sampaikan ke Sehun agar menjaga jarak dengan mu.”

“Terimakasih oppa…”

.

.

.

.

.

Hyung!” Teriak Sehun frustasi ketika Seojoon dengan santai keluar dari lift apartment membawa kopi di tangan kananya.

“Wow adik kecilku! Jangan bilang sedari tadi kau menunggu ku dengan mondar-mandir di depan lift?” Tanyanya santai.

Sehun menggaruk kepalanya frustasi, “Mana Krystal?”

“Oh…” Respon Seojoon santai. “Mana apartment mu?”

Sehun semakin bingung. Mau tidak mau dia mengikuti langkah Seojoon yang sok tahu tentang kamarnya.

“Sebelah kanan hyung!” Ucapnya dan menarik tangan Seojoon tepat di depan pintu apartment nya. “Sekarang mana Krystal?”

“Di dalam.”

“Hah?” Sehun tidak percaya tetapi cepat-cepat membuka pintu apartment nya dan masuk. Bodoh! Mana mungkin Krystal bisa disini?

Cklek~
Sehun berbalik ketika mendengar Seojoon mengunci pintu apartment nya, “Bercanda……” Ucapnya datar.

Sehun melongo sesaat. Rasa frustasi dan kesalnya hilang melihat tingkah laku kakaknya. “Maksud hyung…”

“Tentu saja Krystal di apartment nya. Kau cepat ganti baju sana dan siap-siap tidur.”

“Hyung…” Sehun mengerang frustasi, “Aku harus menemuinya segera. Apa maksud hyung menjauhkan ku dengan dia? Itu tidak masuk akal hyung. Sekarang cepat minggir dari pintu—“

“Jangan berlagak seperti anak kecil berumur lima tahun yang kehilangan mainannya.” Lagi-lagi Sehun terdiam melihat Seojoon. Seojoon melipat tangannya tepat di depan dadanya, “Dengar adik kecil ku, Krystal sangat tertekan akibat kejadian tadi dan kurasa ia mempertanyakan perasaannya.”

Sehun menatap Seojoon datar, “Jangan bercanda hyung.”

“Apa kau melihatku bercanda?” Seojoon kembali berkata, “Maka dari itu kusarankan kau mengikuti perkataan ku. Menjauhlah dari dia untuk beberapa saat. Tunjukan kepadanya kau menghargainya juga karena dia memintaku untuk mengatakan kepada mu agar kau menjauhinya.”

“Hyung… Jangan bercanda bisa?” Suara Sehun sangat melas sekarang.

Seojoon menggeleng mantap, “Tidak. Aku tidak bercanda. Kasihlah ia waktu. Aku percaya dia masih mencintai mu. Tapi perasaan ragu menyerangnya. Kalau kau mengikuti permintaan dia itu malah membuatnya lebih memikirkan mu kau tahu?”

Sehun sekarang menatap Seojoon tidak mengerti.

Seojoon menghela nafas, “Krystal masih mencintai mu. Dan aku tahu, kalau kau memohon kepadanya malam ini dia pasti akan memaafkan mu. Tapi itu memunculkan perasaan ragu di hatinya karena ia masih terbayang-bayang oleh Mommy.

Jika kau mengikuti permintaanya, aku memprediksi jika ia pasti menghitung hal itu dan itu mengalihkan perasaan ragu dari Mommy ke dirimu. Ia ragu karena dirimu begitu memperhatikannya. Makanya aku menyetujui permintaannya. Aku tidak seceroboh itu kau tahu? Hanya karena ia tertekan dan memohon kepadaku maka aku akan menurutinya? Aku juga mempertimbangkan dirimu…”

Sehun menghela nafasnya. Jujur, dia tidak tahu harus senang atau sedih. Menurutnya tetap saja hubungan dia dan Krystal tetap di ambang batas.

“Sekarang kau berganti baju dan tidur! Aku yakin sekali tubuh mu membutuhkan hal tersebut!”

.

.

.

.

.

Sehun tahu Seojoon menyuruhnya untuk menjauhkan diri dari Krystal. Tapi ia tidak bisa menahannya. Kalau ia menjauhkan diri butuh berapa lama Krystal kembali padanya? Ia tidak bisa berlama-lama. Apalagi pernikahan Seojoon empat hari lagi. Dipikirannya, ia dan Krystal akan hadir di pernikahan Seojoon dan dia tidak bisa menerima jika Krystal tidak hadir.

“Ingat pernikahan ku! Awas kalau tidak hadir! Sohee pasti akan marah besar kepada mu. Kami sudah bersusah-susah membuat pesta kecil. Mencari baju, makanan yang lezat, tempat indah, bunga-bunga cantik karena dirimu. Jadi kau harus hadir!”

Begitulah yang dikatakan Seojoon kemarin malam. Sebelum hyung nya pulang karena ditunggu oleh Sohee di kamar hotel. Menggelikan!

Sehun menyeruput kopinya dan menghela nafas. Kenapa ia lebih menyukai rasa greentea Krystal? Ia segera menghabiskan kopinya. Jam masih menunjukan pukul enam pagi dan dia masuk kerja jam sembilan. Kenapa ia buru-buru? Karena ia ingin ke suatu tempat sebelum ke kantornya.

Tigapuluh menit kemudian Sehun sudah sampai di depan apartment Krystal. Ia berdiam diri di dalam mobil. Haruskah? Kemudian ia menghela nafas dan mengambil handphone-nya. Langsung tersambung ke kotak suara.

“Hai… Apakah kau masih tidur?” Kata Sehun mencoba untuk biasa saja.

.

.

.

.

.

Krystal bangun dengan mata bengkak. Ia melihat ke kaca, Astaga! Apa yang harus ia lakukan agar bengkaknya hilang? Tidak mungkin ia muncul di f(x) dengan mata sebengkak ini! Krystal segera mencuci muka. Memanaskan air untuk membuat teh. Kemudian membakar roti. Sambil menunggu, ia memilih pakaian yang akan ia gunakan hari ini.

Ting~

Suara nyaring dari pemanggang roti membuat ia segera mengangkat rotinya. Tak berapa lama kemudian suara nyaring dari kompornya. Ia segera mamatikan kompornya dan menuangkan air ke greentea nya. Sambil menunggu makanannya dingin ia memutskan untuk bersiap-siap. Mengganti bajunya dan memubuhkan make up di wajahnya. Terutama dibagian matanya.

Drrrt~
Krystal tersentak hebat ketika mendengar handphone nya berbunyi. Ia segera mencari handphone nya ditumpukan bantal tempat tidurnya.

Sehun.

Tangan Krystal terasa lemas seketika. Ia hanya melihati ponselnya hingga berhenti bergetar. Dan merasakan kelegaan luar biasa ketika handphone nya berhenti bergetar. Krystal segera meninggalkan handphone nya. Dia harus segera makan dan mengejar kereta bukan? Dia tidak ingin berdesak-desakan di rush hour.

Limabelas menit kemudian ia benar-benar siap. Krystal kembali melihat handphone nya. Merasa ragu ketika melihat ada pesan suara, dari Sehun tentunya. Ia menghela nafas kemudian membukanya,

“Hai… Apakah kau masih tidur?” Suara Sehun terdengar ringan seperti biasa. Krystal menahan nafasnya. “Aku tahu kau memintaku untuk menjauh Krys…. Aku minta maaf. Aku berjanji pada mu tetapi aku melanggarnya. Aku…” Terdengar hening sejenak, “Kau tidak harus membalas telepon ku atau sms ku atau apapun yang berhubungan dengan ku. Lakukanlah apa yang membuat mu nyaman. Kau tahu dimana aku akan selalu berada bukan?” Sambungan teleponnya terputus.

Krystal memejamkan matanya ketika bulir-bulir air matanya mendesak keluar.

.

.

.

.

.

“Aku… Tidak… Ingin… Pergi…”

Kai memijit pelipisnya melihat kelakuan temannya yang asyik meringkuk di tempat tidur. “Hey bodoh! Apa kau ingin merengek di depan seorang wanita?”

Yup! Ada Seulgi disini yang juga sibuk menghela nafasnya. Astaga, sejak kapan sepupu ‘tersayangnya’ ini jadi sangat baperan? Okay, Seulgi tahu jika Sehun menangis ketika putus dengan Wendy. Menurut Seulgi itu adalah hal yang wajar karena….   Sehun ketika itu diselingkuhi oleh Wendy. Tetapi uring-uringan di tempat tidur merengek karena Krystal adalah hal yang sedikit…. Bukan! Sangat memalukan!

“Ayolah Sehun…” Seulgi akhirnya membuka suaranya. “Kau tidak memikirkan perasaan Seojoon oppa dan Sohee oennie? Mereka mengadakan pesta ini karena dirimu ingat? Jangan mengecewakan mereka…”

Sehun akhirnya bangun dengan wajah sebal. “Tidaklah kalian mengerti? Aku galau karena Krystal!”

“Huahahaaahahaaa!!!” Kai memegang perutnya yang nyeri akibat tertawa. “Haaahaahaaaa!!!” Lanjutnya tidak mengindahkan tatapan horror Sehun dan Seulgi.

“Dengar Sehun…” Seulgi berbicara kembali. “Bisakah kau memikirkan perasaan Oppa dan Oennie sedikit saja? Jika begini caranya kau pasti yang akan disalahkan bukan Krystal. Karena kau yang tidak ingin datang.”

“Aku akan datang besok pagi!”

Seulgi menggeleng, “Tidak! Harus hari ini! Pernikahan mereka memang dua hari lagi tapi Sohee oennie meminta kita datang pada hari ini. Kau seharusnya bersyukur boleh pergi dari Seoul malam hari bukannya siang seperti yang direncanakan. Dan juga, apa maksudmu besok? Kau ingin berangkat pagi jam berapa? Dari Seoul ke Busan butuh waktu 4-5 jam! Mau jam berapa berangkatnya? Jam enam?! Asalkan acara fitting baju jam 9 pagi!”

Sehun berdecak sebal, “Kenapa mereka mengadakannya di Busan sih? Tidak bisa di Seoul–Arghhhh, yak! Kang Seulgi!” Sehun tidak bisa menyelesaikan omongannya karena Seulgi tiba-tiba menarik kuping Sehun.

“Jangan seperti bocah berumur lima tahun yang merengek karena tidak mendapatkan yang ia inginkan!” Seru Seulgi dengan nada dingin. Itu membuat Kai terkejut dan diam-diam meneguk ludahnya sendiri. Wow! Tipikal calon ibu yang tegas! Pikir Kai.

“Pokoknya aku tidak mau tahu! Kau harus pergi malam ini juga! Paling lama jam sepuluh malam! Aku akan membawa Seojoon oppa atau Sohee oennie pokoknya! Aku akan buat mereka marah-marah kepada mu!” Lanjut Seulgi mengeluarkan death glare nya.

Sehun meringis, “Yak Kang Seulgi…”

Seulgi melepaskan tangannya, “Aku pergi dulu ya!!!” Katanya kemudian tersenyum. “Ayo Kai! Kita tinggalkan dia!”

Kai menatap Seulgi bingung tetapi akhirnya menurut karena Seulgi menatapnya tajam. “Euhm…. Aku pergi dulu!” Ucap Kai ke Sehun.

Sehun menghela nafasnya. Ia mengacak rambutnya frustasi. Apa yang harus ia lakukan? Menelepon Krystal? Gadis itu pasti tidak mengangkatnya. Apalagi Krystal benar-benar mendiami Sehun dua hari ini. Sehun akhirnya menghempaskan dirinya lagi ke kasur. Menyebalkan!

.

.

.

.

.

Krystal menatap handphone-nya. Tidak ada telepon. Tidak ada sms. Hari ini benar-benar tidak ada apapun dari Oh Sehun. Ia menghela nafas. Sekarang ia harus bagaimana? Dia berjauhan dari Sehun karena ia pikir ia dapat berpikir rasional. Memutuskan hal yang tepat. Tetapi itu sama sekali tidak berdampak apapun terhadap hidupnya. Krystal masih ragu antara bayang-bayang Tifanny dan Sehun sendiri.

Krystal mengigit bibirnya, Kenapa ia mengharapkan Sehun menghubunginya? Krystal mendengus. Ini sangat irrasional.

“Hey Krys!” Amber tiba-tiba telah berada di sampingnya.

“Oh, Hai!” Balas Krystal kemudian tersenyum.

“Kau tidak ingin pulang? Jam kerjamu sudah habis bukan? Atau hari ini kau akan tampil di Café Onew Oppa?”

Krystal menggeleng, “Tidak aku akan langsung pulang.”

“Ada apa dengan mu?”

“Heh?” Krystal menatap Amber bingung.

“Kau selalu melihat handphone mu dua hari ini. Sesuatu terjadi?” Ucap Amber menjawab kebingungan Krystal.

“Oh…” Krystal kemudian terkekeh kecil, “Tidak apa-apa. Aku pulang dulu ya…” Putus Krystal. Amber terlihat diam saja. Tahu jika sahabatnya tidak ingin diganggu.

Krystal sampai dirumah satu jam kemudian. Setelah memutuskan mandi ia pun langsung menuju ke jendela kamarnya. Gila, tapi Sehun selalu menunggu di bawah hingga pukul sepuluh malam. Katanya, ia ingin melihat wajah Krystal dan berharap Krystal ingin menyisikan sedikit waktunya untuk melihat ke bawah melalui jendela kamarnya. Awalnya Krystal tidak menghiraukannya dan memutuskan untuk tidur. Iseng-iseng mengintip, Sehun berada disitu dengan posisi kepala mendongak. Tersenyum ke Krystal dan melambaikan tangan. Yang membuat Krystal terkejut setengah mati dan langsung menutup kembali gordennya.

Jujur, pada saat itu ia ingin turun ke bawah dan menanyakan kenapa Sehun melakukan hal bodoh? Di luar selama berjam-jam. Bagaiana jika ia sakit? Tapi Krystal tidak bisa karena keraguannya.

Itu terjadi selama dua hari ini. Bukan itu saja. Sehun meneleponnya pagi hari. Mengingatkan dia untuk makan siang. Benar-benar… Krystal merasa Sehun tidak akan melepaskannya dengan mudah. Itu membuatnya bertambah pusing.

Ting tong~

Krystal mengerjapkan matanya ketika mendengar bel pintu. Siapa yang datang malam-malam begini? Sehun? Krystal kembali melihat ke arah jendela kamarnya. Tidak ada mobil Sehun. Kemudian ia melihat dari jendela ruang tamunya, tetap ia tidak melihat mobil Sehun.

“Krystal-ssi…”

“Oh Seulgi-yah?” Ujar Krystal ketika mendengar suara dari pintu. Seulgi? Kenapa dia ke sini? Sudahlah ia harus berpikiran positif. Seulgi pasti datang kesini sendiri bukan? Ia segera berjalan menuju pintu.

Cklek~

“Krystal!” Pekik Seulgi dan segera memeluknya.

Krystal terlonjak kaget. Tetapi dia membalas pelukan Seulgi. Setelah beberapa detik memeluk Seugli Krystal baru tersadar. Bahwa Seulgi kesini tidak sendiri.

.TBC.

Yang manis-manis ada di chapter depan.  See you there….

State of Grace (Chapter 24)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Sorak tepuk tangan menghiasi lantai dansa. Krystal mengundurkan diri dari hadapan Sehun. Ia kembali ke teman-temannya.

“Kyaaa….” Teman-teman Krystal berteriak menyambut Krystal.

Krystal meringis. Tentu dia sudah tahu apa maksud teman-temannya.

“Kau masih hidup bukan? Masih bernafas?” Hyeri menghampirinya.

Krystal mendengus, “Apa maksud kalian?”

“Kalau tidak salah tadi dirimu yang sama sekali tidak semangat berdansa!” Eunji melipat kedua tangannya, “Tapi kau mendapatkan Oh Sehun…”

“Itu hanya kebetulan!” Dalam hati Krystal meringis. Kebetulan apa? Ia yakin Sehun memang sudah menargetkannya dari awal. “Jangan berlebihan teman-teman…”

Choa mengerang, “Ugh! Kami tidak bisa Krystal!”

“Aku memotret mu! Kau mau melihatnya?!”   Chanmi mengeluarkan handphone-nya.

Krystal terperanjat. Ini… Dia mengambil handphone Chanmi. Teman-temannya juga ingin melihatnya.

“Kalian terlihat seperti sepasang kekasih!” Komen Eunji.

“Ya ampun… Ini sangat romantis!”

“Cara dia menatap mu Krystal! Dia adalah laki-laki yang hangat!”

“Beruntung sekali yang menjadi kekasihnya!”

Krystal terdiam melihat potretan Chanmi. Bagaimana bisa seperti ini? Maksud Krystal, ia hanya menatap Sehun sekali. Itupun dengan tatapan yang ia usahakan seperti biasa. Tetapi di foto ini sangat kentara.

Chanmi mengambil handphone-nya, “Aku akan mengirimkannya kepada dirimu, Krys.”

Krystal hanya terdiam.

“Permisi semuanya…”

Tiba-tiba hening ketika suara Tifanny terdengar. Tifanny kembali di atas panggung.

“Ku harap kalian menikmati pesta pembukaan ku…” Lanjut Tifanny sambil tersenyum. “Sebelum kita melanjutkan pesta ini, izinkan saya untuk mengucapkan terimakasih terlebih dahulu… Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada sahabat-sahabat yang telah mendukung saya, yang selalu memberikans saya saran. Terimakasih kepada Kim Taeyoen, Kim Hyoyeon, Im Yoonah, Kwon Miran, dan Min Hyorin.”

Orang-orang yang disebutkan oleh Tifanny mengangkat gelas mereka. Hadirin yang lain bertepuk tangan.

“Juga, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada keluarga saya. Suami Saya Oh Siwon dan anak saya Oh Sehun!”

Para hadirin kembali bertepuk tangan. Kali ini sangat keras. Tidak disangka-sangka, Siwon dan Sehun maju ke panggung. Mereka membungkukan badan mereka, menyapa para hadirin yang lain.

“Terimakasih kepada semuanya yang telah hadir disini…” Kata Sehun tanpa disangka-sangka.

Krystal terperangah untuk beberapa saat. Apalagi ketika melihat Sehun tersenyum.

“Aku baru ingat!” Tifanny kembali berbicara. “Sehun disini bersama kekasihnya!”

Krystal menahan nafasnya. Kekasihnya? Dia? Ia tertawa dalam hati. Tifanny mengakuinya atau….
“Biar kupanggilkan dia untuk datang ke panggung.”
Sehun terlihat bingung. Ia berbicara sesuatu ke Tifanny yang juga ditimpali oleh Siwon. Tifanny terlihat tidak peduli.

“Kemana dia ya?” Kata Tifanny lagi. Mata menyapu kerumunan, “Ah, itu dia!”

Jantung Krystal serasa meledak ketika mendengar lanjutan kalimat Tifanny.

.

.

.

.

.

“Krys, kau baik-baik saja?” Tanya Eunji yang melihat Krystal tiba-tiba pucat.

Krystal menoleh. Ia menghirup nafas, setelah beberapa detik tidak. “Baik…” Katanya serak. “Aku baik-baik saja…” Lanjutnya masih sama.

“Kau terlihat tidak.” Kata Eunji masih memperhatikan Krystal.

Krystal menggeleng lemah. “Tenang saja..” Ia kembali menatap ke panggung. Menahan getaran di tangannya seiring dengan Wendy berjalan mendekat.   Senyuman Wendy sangat indah apalagi gaunnya. Krystal mengigit bibirnya. Gaunnya pasti mahal tidak seperti gaun miliknya.

Tifanny kembali berbicara. Tapi kali ini Krystal tidak mendengarkan. Ia bahkan sudah mengalihkan tatapannya dari panggung. Menahan diri tidak menatap Sehun dan berusaha masuk ke pembicaraan teman-temannya.

Chanmi heboh, “Jadi itu kekasihnya?”

“Dia anak Kwon Miran kalau tidak salah…” Eunji kemudian kembali menoleh ke Wendy, “Tapi tidak mempunyai bakat melukis sama sekali…”

“Jangan-jangan mereka bertemu karena latar belakang orangtua mereka?” Tanya Minah.

“Ah, so sweet…” Seru Hyeri.

“Berarti Krys, tadi dirimu sudah termasuk sangat beruntung!” Pekik Seolhyun melihat Krystal.

“Tapi mengapa Sehun mau mengajak Krystal berdansa jika ia sudah punya kekasih?”

Ucapan Chanmi membuat semua menoleh ke Krystal. Krystal terdiam beberapa saat. Kenapa? Karena itu hak-hak Sehun. Dia bahkan tidak tahu jika Wendy disitu. Kalau boleh jujur, dia juga berhak berdansa dengan Sehun. Dia kekasihnya! Kekasih sebenarnya yang tidak diakui oleh ibunya! Krystal mengerjap. Berusaha menghalau air matanya yang ingin terjatuh. “Aku… Tidak… Tahu…” Jawab Krystal pada akhirnya.

“Itu benar. Mana dia tahu. Yang tahu alasan sebenarnya adalah Sehun bukan?” Tanggap Eunji. “Sudahlah jangan terlalu dipikirkan alasannya. Menurutku itu hak-hak Sehun juga. Itu tidak jadi masalah jika Wendy tidak keberatan. Buktinya Krystal baik-baik saja, berarti Wendy tidak keberatan bukan?” Lanjutnya memberikan beberapa alasan.

Tepat setelah itu, alunan musik kembali terdengar. Membuat semuanya menoleh ke atas panggung. Ketika itu Sehun menatap Krystal. Krystal segera mengalihkan pandangannya dari tatapan Sehun. Ia melihat Tifanny dan Siwon mulai berdansa. Suasana jadi sangat canggung sekali di panggung. Dengan Sehun dan Wendy di situ.

“Berdansa! Berdansa! Berdansa!” Teriak orang-orang melihat Sehun dan Wendy.
“Ayo berdansa!!! Apalagi yang mereka tunggu?!” Teriak Chanmi greget melihat mereka.

Sehun terlihat enggan. Ia menggelengkan kepalanya. Masih berusaha tersenyum. Cepat-cepat turun dari panggung. Menjauhi Wendy.

“Ayo berdansalah dengan Wendy!” Seru Tifanny tiba-tiba menghentikan Sehun.

“Ayo!!!!” Krystal menoleh ke teman-temannya, teman-temannya pada menunggu. Krystal menggigit bibirnya. Ini tidak baik. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke panggung.

Wendy mendekat ke Sehun dan menarik Sehun agar berdansa dengannya. Krystal tidak dapat melihat ekspresi Sehun. Semua orang bersorak gembira melihatnya, kecuali Krystal tentunya.

Setelah itu, beberapa teman-temannya ikut lagi berdansa. Krystal terdiam. Ia menghela nafas. Ia hanya ingin pulang sekarang. Diam-diam ia pergi dari ruangan dansa. Berjalan gontai menuju mejanya yang sangat sepi. Semua orang menikmati dansa kecuali dia.

Krystal kemudian duduk. Pandangannya mengabur. Ia menutupi mukanya.

Tes!

Tes!

Air matanya mulai berjatuhan. Sial! Rasanya sakit sekali melihat Wendy bisa berdekatan dengan Sehun. Sedangkan dirinya harus menahan diri agar bisa berdekatan dengan Sehun.

“Ini…” Krystal mendongak mendengar suara seseorang.

Seojoon tersenyum lembut. Memberi sapu tangannya ke Krystal, “Tidak apa-apa jika kau ingin menangis…”

Krystal cepat-cepat menghapus air matanya.

.

.

.

.

.

Seojoon sudah bilang ke Sehun. Tifanny pasti akan menyerang Krystal disana. Tidak secara langsung. Tapi melalui Sehun.   Ucapannya terbukti benar.

Dari bangkunya, Seojoon menoleh ke arah Krystal di ujung sana. Gadis itu terlihat biasa-biasa saja––dari jangkauan tempat duduknya––.
“Apa yang Tifanny lakukan?” Ucap Donghae khawatir melihat ia mengumumkan Wendy sebagai kekasih Sehun. Laki-laki disampingnya terlihat sangat marah.

“Aku tidak tahu paman.” Jawab Seojoon jujur. “Tapi jika seperti ini berarti ada yang harus ku urus.” Ia segera bangkit dari tempat duduknya. Berjalan mendekati Krystal, tidak terlalu dekat tetapi dapat melihat ekspresi wajah Krystal.

Gadis itu berusaha menahan semuanya. Ia tetap disitu. Saat Sehun turun dari panggung, ia tetap disitu. Sampai Wendy dan Sehun mengajaknya berdansa. Krystal terdiam cukup lama. Tiba-tiba ia berbalik.

Seojoon mengikuti Krystal. Gadis itu duduk di bangkunya. Menelungkupkan tangannya di wajahnya. Bahunya mulai bergetar. Seojoon menghela nafas. Ia berjalan mendekati Krystal. Mengeluarkan sapu tangannya.

“Ini…” Katanya menyodorkan sapu tangannya ke Krystal.

Krystal menatapnya. Hal itu membuat Seojoon tersenyum, memberikan sapu tangannya ke Krystal, “Tidak apa-apa jika kau ingin menangis…”

Krystal cepat-cepat menghapus air matanya, “Oppa?!”

Seojoon duduk di samping Krystal, “Tidak apa-apa jika kau ingin menangis…” Katanya lagi.

Krystal menghela nafasnya, “Menangis di depan orang bukanlah kesukaan ku.” Katanya jujur. Ia menatap Seojoon, “Aku orang yang suka tenggelam dalam kesedihanku. Kemudian merasa baikan ketika aku selesai menangis.”
Seojoon menganggukan kepalanya, “Seseorang memang butuh menangis Krys. Kau tahu, menurut Psychology, seseorang wanita menangis jika ada yang salah dan merasa benar ketika ia selesai menangis. Kau tidak perlu malu akan hal itu.”

“Entahlah…”

Ia tersenyum. Setidaknya Krystal tidak terlalu rapuh seperti tadi, “Jadi, ingin berdansa dengan ku?”

Krystal menatap Seojoon bingung.

“Aku tadi memprediksi hal ini ke Sehun. Jika Tifanny akan menyiksamu melalui Sehun. Dan ia melakukan hal itu dengan mengenalkan Wendy. Aku memprediksi jika kau tidak kembali lagi ke sana, Sehun akan segera kesini untuk mencari mu. Aku juga memprediksi dia lagi melihat segela arah mencari mu. Jadi…”

Krystal menundukan kepalanya, “Baiklah…” Ia dan Seojoon bangkit. Menuju kembali ke tempat berdansa dan mulai berdansa.

Sepanjang ia berdansa, ia berusaha untuk tidak melihat Sehun dan Wendy. Rasanya terlalu menyakitkan.

“Apa kau tahu jika Sehun sadari tadi menatap mu?”

Krystal menoleh ke Seojoon dengan tatapan bingung. Ragu-ragu, melihat ke Sehun dan… Seojoon benar. Sehun sedang melihat ke arahnya. Cepat-cepat Krystal mengalihkan pandangannya.

Seojoon kembali berbicara, “Kau lihat tangan Sehun? Dia menyalurkan segala emosinya dalam cengraman tangannya. Aku bingung kenapa Wendy tidak meringis sama sekali…”

Krystal melihat tangan Sehun yang sangat terkepal.

“Aku juga bingung kenapa ia sangat berani menatap Sehun. Sehun sama sekali tidak ingin menatapnya!”
Krystal menunduk. Dia diam-diam tersenyum, “Oppa tidak harus menghina Wendy agar membuatku tersenyum….”

“Setidaknya aku tahu apa yang akan membuat mu tersenyum.”
Krystal mendongak melihat Seojoon, “Oppa!” Dia tersenyum.

Seojoon ikut tersenyum, “Apalagi ya agar kau tertawa? Bagaimana jika kita berdoa agar leher Wendy sakit sehabis ini? Atau ada tulangnya yang salah akibat ia terus mendongak?!”
Jahat memang. Tapi Krystal tertawa mendengarnya.

“Hak sepatunya patah? Gaunnya terinjak?”
Lagu selesai. Seojoon melepaskan tangan Krystal. “Kau tersenyum lebar lagi…”

Krystal menggelengkan kepalanya.

“Sehabis ini kau duduk bersama ku okay? Untuk jaga-jaga. Entah apa yang akan ibuku buat sehabis ini.” Tanpa persetujuan atau apa, Seojoon menarik tangan Krystal.

.

.

.

.

.

Wendy bersumpah, ia membenci Krystal Jung. Sangat membencinya. Lihatlah sekarang! Karena gadis itu Sehun tidak menatapnya sama sekali! Lehernya pegal karena terus mendongak menatap Sehun dan Sehun sama sekali tidak membalasnya! Wendy bersumpah jika sekarang Sehun sedang menatap Krystal Jung.

Bagaimana Wendy tahu? Karena ketika Krystal Jung mulai berdansa dengan laki-laki yang tidak ia kenal, cengkraman tangan Sehun mengencang. Oh, itulah kenapa ia mencari-cari siapa yang Sehun tatap. Karena cengkraman tangan Sehun sangat kencang hingga tangannya dipastikan memerah.

“Sehun!” Wendy mencoba memanggil Sehun.

Tidak ada respon.

“Sehun!”

Masih sama, tidak ada respon.

“Aw!”

Wendy yang kesal akhirnya menginjak kaki Sehun. Membuat pemilik kaki tersebut meringis.

“Apa?!” Tanya Sehun tajam.

Prok! Prok! Prok!
Lagu dansa selesai. Sehun dengan cepat melepaskan tangan Wendy. Ia dengan cepat berjalan melewati Wendy.
“Tunggu!” Wendy terpakasa mengekor dari belakang. Sedikit tergesa-gesa karena jalan Sehun yang sangat cepat.

Hyung!” Sehun memanggil seseorang. Orang tersebut sedang duduk dan akhirnya berdiri.

“Sehun siapa dia?” Tanya Wendy dan melingkarkan tangannya di tangan Sehun.
Sehun menatap Wendy risih.

“Oh Seojoon.” Ucap Seojoon tiba-tiba. Melihat gelagat Sehun, sepertinya adiknya akan menyemburkan semua emosinya kepada Wendy. “Nama ku Oh Seojoon.” Katanya sekali lagi.

Wendy menunduk, “Aku Wendy Son…”

“Aku tahu.” Ujar Seojon santai.

“Dari mana Anda tahu?” Wendy bingung. “Apa kita pernah bertemu.”

“Pernah.”

“Kapan?”

“Di sini.”

Wendy menghela nafasnya. Astaga…. Cukup Sehun yang membuat kesabarannya habis. Lelaki ini tidak usah membuat kesabarannya habis.

Seojoon terkekeh, “Tentu saja tidak pernah. Jika pernah Anda pasti tidak menanyakan siapa saya.”

Nah, ucapan Seojoon malah semakin membuat kesabaran Wendy menipis. Mata Wendy kemudian teralihkan dengan perempuan yang duduk bersama Seojoon. Krystal Jung rupanya.

Wendy tersenyum, “Oh, Krystal? Kenapa kau disini? Bukannya kau seharusnya bersama teman-teman mu?”

“Diamlah dan pergi dari sini!” Sehun menatap Wendy tajam.

Wendy semakin kesal. “Kau menghabiskan waktu dengan lelaki lain? Ku kira kau sudah punya kekasih. Tidak kusangka jika—“

Argh!”

Wendy meringis tak kala Sehun menamparnya.

“Sehun…” Ucap Wendy tidak percaya.

Seojoon menghela nafasnya. “Sehun… Ingat apa yang ku katakan tadi…”

Sehun mengertakan giginya, “Ini terakhir kalinya ku katakan. Pergi dari sini sekarang!”

Tatapan Wendy menyalak, “Kenapa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya! Apa yang salah?!”

Sehun mengerang, “Kau…”

“Sehun…”   Krystal bangun dan menyentuh pundak Sehun. Membuat Sehun menghentikan langkahnya yang sedikit lagi siap menghajar Wendy.

Wendy terpana. Lagi-lagi tatapan Sehun ke Krystal. Kekesalnnya semakin menjadi-jadi.

Byur!

Refleks, Wendy menyiramkan sampanye terdekat yang bisa ia jangkau ke Krystal. Semuanya tersentak hebat.

“Ada apa ini?” Tepat sebelum situasi semakin runyam, Tifanny datang. Menembus kerumunan yang lain. Matanya menatap tajam Krystal ketika melihatnya.

Seojoon menghela nafasnya. Sepertinya suasana malah akan semakin tambah runyam.

“Pergi dari sini!” Seru Tifanny ke Krystal. “Kau membuat keributan disini jadi cepat pergi dari sini!”

“Tapi Wendy lah yang membuat keributan! Krystal sedari tadi hanya diam!” Seru Sehun kepada Tifanny. Ia kemudian menarik tangan Krystal. Membuat Krystal berada di sampingnya, “Krystal akan tetap disini. Bersama ku!”

“Wendy tidak akan membuat keributan jika tidak ada dia!” Tifanny masih tidak ingin mundur. Dia menunjuk ke arah Krystal, “Aku bos mu bukan? Turuti perintah ku!”

Mommy bukan bos Krystal lagi. Dia sudah mommy pecat bukan? Jadi sekarang hak-hak dia ingin berada disini atau tidak!”

Tifanny menatap Krystal semakin tajam, “Wanita jalang! Lihat yang kau buat? Kau membuat anak ku berpihak kepada mu!” Ia kemudian mengerang. “Aku membenci mu!”

Semuanya terkejut mendengar perkataan Tifanny, bahkan Wendy sekalipun. Tak disangka-sangka juga, air mata Krystal turun.

Krystal segera menghapusnya, “Aku pulang duluan. Permisi…” Ia membungkukan badannya dan segera pergi dari situ.

.

.

.

.

.

“Krys, ada apa?” Eunji panik melihat Krystal berlari dari ruangan dansa. Tanganya mencekal tangan Krystal.

Krystal menggeleng, “Tidak apa-apa. Aku harus pulang!” Ia kemudian melepaskan cekalan tangan Krystal.

“Hei—“ Eunji ingin mengejar Krystal jika saja ia tidak melihat pemandangan yang sangat unik. Oh Sehun juga ikut mengejar Krystal.

“Hey, bukan kah itu Krystal?” Seru Choa melihat Krystal keluar. “Kenapa dia? Pulang?”

Eunji mengangkat kedua bahunya, “Entahlah. Dia seperti sangat tertekan.”

“Akhir-akhir ini ku lihat dia juga sangat tidak bersemangat.” Choa kemudian menghela nafasnya, “Ku harap dia tidak keluar. Aku menyukainya.”
Eunji menganggukan kepalanya, “Dia orang yang asyik.” Kemudian matanya menyapu arah lain, “Kemana teman-teman kita yang lain? Apakah mereka sudah selesai muntahnya?”

“Ku rasa kita harus menyusul mereka ke toilet.” Terdengar gerutuan dari Choa, “Mereka ini! Tidak bisa mabuk malah mabuk!”

.TBC.

A/N:

Disetiap kepahitan kan ujung-ujungnya akan hilang…..  Mungkin beberapa chapter akan ada pahitnya tapi juga akan ada manisnya..  We’ll see…