Flipped (Chapter 9)

black-and-white-care-depression-girl-favim-com-687006

f I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Orang Yang Paling Menyedihkan Di Muka Bumi

“Bermaksud atau tidak tapi kau yang membuat diriku seperti ini!”

****

Sehun kembali memejamkan matanya, “Hentikan perjodohan ini….”

Krystal menghentikan segala jeritan menyedihkannya. Dia terdiam menatap Sehun nanar. Air matanya masih keluar, tetapi suaranya terkunci didalam otaknya yang lumpuh.

“Meng-hen-ti-kan-per-jo-do-han?” Tanya Krystal dengan tersendat-sendat. Ia pun segera menggeleng. Kepalanya terasa berdenyut, pertanda sudah lelah. “Ah!” Ringis Krystal memegang kepalanya.

Sehun segera bangkit dari kursi, “Kenapa? Tunggu akan kupanggilkan dokter!”

.

.

.

Krystal melihat kalender di meja belajarnya. Tangannya menelusuri setiap tanggal, kemudian berhenti di tanggal yang dilingkari tinta bewarna merah. Oemma yang melingkarinya. Menurut Oemma pada tanggal tersebut akan diadakan makan malam antara Keluarga Jung dan Keluarga Oh. Pada tanggal 17 itulah adalah tanggal yang sangat istimewa-setidaknya menurut Oemma. Krystal sendiri sudah mengetahui arti tanggal tersebut. Sehun sudah memberi tahunya jika pada tanggal tersebut orangtua mereka berdua mengumumkan rencana perjodohan mereka.

Tapi bukannya sudah diumumkan sebelumnya, bukan? Jadi untuk apa diumumkan lagi? Ini karena tidak ada yang tahu jika Krystal sudah mengetahui ia dan Sehun dijodohkan. Tidak ada. Hanya dirinya dan Sehun. Hal tersebut seakan milik mereka berdua. Termasuk rencana penghentian perjodohan mereka. Itu seakan seperti pedang yang mereka berdua siapkan untuk menusuk kedua orangtua mereka.

Tes!

Krystal langsung menghapus kasar air matanya. Tidak ada yang perlu tahu jika ia kembali bersedih. Rencana itu bukannya hanya meremukan hatinya, tetapi juga bisa menghancurkan kedua orangtuanya. Membayangkan jika orangtuanya menginginkan hal ini sejak lama. Tetapi sayang, ia tidak bisa mengikuti keinginan orangtuanya. Karena ini bertentangan dengan yang diinginkan Sehun-orang yang sangat ia cintai.

Tes!

Air mata Krystal kembali jatuh. Betapa menyedihkan dirinya. Betapa menyedihkan hidupnya.

Ting~

Handphone Krystal berkedip. Tanda jika ada sms masuk. Krystal segera mengambilnya. Selang beberapa detik ia kembali menangis.

Perasaan yang ia rasakan sangat bertentangan dengan Sehun rasakan. Sehun sangat ingin hari tersebut datang kepadanya. Sedangkan Krystal berharap ia bisa terus menghindari hari tersebut.

.

.

.

.

Cha!” Nyonya Oh menghidangkan semangkuk sop Kimchi dihadapan Tuan Oh, Sehun, Krystal, dan kedua orangtuanya. “Aku menghidangkan makanan ini agar semuanya lebih bermakna.”
Ibu Krystal tertawa, “Kau benar-benar ingin membuat hari ini akan diingat terus ya? Baiklah. Sebaiknya kita mulai makan.”

Dengan pelan, Krystal mengambil beberapa potongan daging bulgogi. Tatapannya menunduk bersamaan dengan kepercayaan dirinya yang jatuh. Hatinya meringis. Dia… Dia tidak bisa melakukan hal ini.

Krystal pikir semuanya tidak akan berjalan sesulit ini. Mereka hanya makan malam bersama seperti biasanya. Tetapi ternyata tidak. Semuanya menjadi rumit. Sangat rumit hingga hatinya kembali tidak tega untuk melakukan rencana yang telah dibuat. Dan Krystal menghabiskan makanannya dalam diam kesedihan.

“Jangan repot-repot. Biar Oemma saja yang meletakannya di belakang.” Suara Nyonya Oh kembali terdengar. Krystal hanya tersenyum ketika Nyonya Oh mengambil piring kosong.

Hatinya semakin meringis. Sebentar lagi…. Sebentar lagi mereka akan masuk ke pembicaraan. Sebentar lagi dia akan menusuk kedua orangtuanya dari belakang. Krystal memejamkan matanya. Ia ingin lari. Ingin lari dari kenyataan ini.

Trang!

Bunyi nyaring dari meja di depannya terdengar. Oh Sehun tidak sengaja menjatuhkan sendoknya. Sehun mengambilnya dan ketika ia meletakan di meja makan, mata Sehun dan Krystal beradu. Sehun hanya menatapnya datar. Tidak ada ekspresi sedih atau senang. Mata Sehun kemudian melirik ke kanan menyebabkan Krystal juga ikut melirik. Ah! Nyonya Oh sudah kembali ke ruang makan ternyata.

Semua yang berada di meja makan hanya terdiam. Kedua orangtua mereka terlihat semakin melebarkan senyumannya. Krystal dan Sehun semakin menyiapkan diri untuk rencana mereka.

“Kami sudah membuat keputusan….” Suara Nyonya Jung membuka topic pembicaraan malam ini. “Kami memutuskan jika kalian akan dijodohkan.”

Krystal menarik nafasnya. Sudah di mulai. Diam-diam ia mencengkram bajunya. Membuka mulutnya, mencoba mengeluarkan suara. Bersamaan dengan detak jantungya yang semakin kencang.
Di ujung seberang, Sehun menatap Krystal khawatir. Takut jika gadis itu tidak bisa melakukannya. Jika tidak bisa, maka tidak ada lagi kesempatan. Karena jika dia yang mengutarakan tentu akan langsung tidak diterima.

Topik berganti. Sekarang, para orangtua mengucapkan selamat kepada Sehun dan Krystal. Sehun tersenyum tetapi matanya masih mengawasi Krystal. Apakah gadis itu benar-benar tidak bisa mengatakannya? Apakah dia yang harus memulai.

“Aku tidak setuju!”

Deg!

Sehun membulatkan matanya ke arah Krystal. Suaranya sangat kecil tetapi terdengar jelas. Tanpa terasa, hatinya yang sejak tertahan pecah. Ini juga menyakitkan baginya.
“Aku tidak setuju jika aku dan Sehun dijodohkan.” Krystal sekarang menatap kedua orangtuanya. Ia menelan ludahnya. Dengan bibir bergetar ia kembali berbicara, “Maaf, tapi aku tahu jika diriku dan Sehun lebih baik menjadi sahabat dan bukan berteman.”

Suasana menjadi hening. Tidak menyangka dengan Krystal katakan. Seperti yang Nyonya Jung katakan, malam ini akan menjadi malam yang tak terlupakan.

“Krystal…” Desis Nyonya Jung tidak percaya.

“Aku menolak perjodohan ini.” Krystal menatap Nyonya Jung intens. Tangannya mengepal agar agar terlihat seperti yang Sehun inginkan. “Maaf untuk mengatakan hal ini.”

Semuanya menatap Krystal tidak percaya.

“Kami akan membicarakannya.” Nyonya Oh akhirnya membuka suaranya. Walau dengan tatapan sedih, ia mencoba untuk tersenyum, “Kami akan mengadakan pembicaraan khusus orangtua sekarang.”

Tuan Jung mengenggam tangan istrinya yang terlihat sangat menahan amarah, “Tenanglah…”

.

.

.

.

Sehun lagi-lagi melihat jam tangannya. Sudah dua jam mereka berbicara. Apa sangat susah untuk memutuskannya? Padahal Sehun kira semuanya akan terkesan mudah ketika Krystal yang mengutarakan.

Sedangkan Krystal hanya dapat menundukan kepalanya. Ia diam. Tetapi isakan kecil terdengar. Sehun bingung ingin berbicara apa dengan orang disebelahnya. Jelas, jika Krystal tidak menginginkan hal ini terjadi.

Aku telah berjanji…. Gumam Sehun di dalam hatinya.

“Maaf…”

Krystal menoleh ke arah Sehun. Matanya sudah sangat merah.

“Maaf.” Kata Sehun sekali lagi.

“Kau tidak benar-benar tulus mengucapkannya.” Desis Krystal dengan serak dan menahan perasaannya. Bisa terdengar jika ia setengah marah.

“Aku benar-benar tulus mengataknnya!” Bantah Sehun dengan sedikit kekesalan yang tiba-tiba saja terbit. “Aku meminta maaf karena kau membuat orangtua mu kecewa.”

“Oh, benarkah?” Lanjut Krystal dengan suara yang sedikit lebih kencang. Ia menatap Sehun buas, tetapi sedetik kemudian ia kembali menangis.

“Aku menjadi orang yang paling menyedihkan di muka bumi ini karena dirimu. Kemudian dirimu mengucapkan permintaan maaf kepadaku. Seakan-akan hanya dirimulah yang mengetahui apa yang terjadi kepadaku. Dan perbuatan itu, malah membuat diriku semakin menjadi orang yang menyedihkan di muka bumi ini.”

Lembut tapi menusuk. Pelan tetapi membakar hati Sehun. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Aku tidak bermaksud…”

“Bermaksud atau tidak tapi kau yang membuat diriku seperti ini!” Bentak Krystal kepada Sehun. Dengan berurai airmata Krystal kembali berbicara, “Mungkin dalam beberapa waktu kedepan aku akan bersedih karena perjodohan kita dibatalkan. Tetapi, aku yakin aku akan bahagia dengan keputusanmu. Dan suatu saat aku akan mengucapkan terimakasih kepadamu.” Krystal mengeluarkan senyuman sinisnya.

Perasaan mereka berdua bercampur aduk. Sehun yang masih keras kepala dengan pendiriannya. Krystal yang terombang-ambing dengan perasaannya.

Sehun diam bergeming. Krystal kembali berbicara, “Kau tidak harus melakukan apapun untukku lagi. Tapi aku mohon, menjauhlah dari hidupku. Aku ingin menjadi orang yang bahagia di muka bumi ini.”

.TBC.

 

 

 

 

Advertisements

[Songfict] Photograph

Photgrap

 Cast: Choi Minho & Choi Sulli

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Ficlet

Author: Ally

***

A/N: Haii semuaaaanyaaaa (?)  Saya akhirnya kembali lagi membawakan fanfiction pertama di bulan September ini ^^  Gak nyangka loh sebentar lagi State of Grace udah satu tahun….  Kali ini saya membuat sebuah Songfict nih… Tentang Minsul.  Ada yang suka couple ini gak?  Okay ngomongnya kebanyakan (?)  Hope you guys like it.

***

 

“Apa? Aku tidak mendengar perkataanmu Key hyung! Sama sekali tidak!” Minho tertawa lepas di sela-sela ia kabur dari amukan Key. Hey, mereka memang sudah tidak muda lagi, tetapi sifat kekanak-kanakan mereka masih ada.

“Yak!! Kembali!!!!” Teriakan Key sukses mengisi droom Shinee yang sudah berbulan-bulan kosong. “Aku tidak mau tahu itu!!! Kembali!!!!!!” Lanjutnya dengan semakin tinggi.

Mereka selalu seperti ini. Onew-Jonghyun-Key-Minho-Taemin. Setiap kali bertemu. Tidak pernah akur. Tapi itulah yang selalu membuat mereka ingin bertemu kembali, ingin berbaikan kendati pada akhirnya menjadi seperti ini.

Minho menghela nafasnya. Lelah akibat terlalu banyak ketawa. Ia merebahkan dirinya ke kasur tidurnya.

Tap! Tap! Tap!

Minho menoleh dan ia segera melotot ke arah orang yang baru saja masuk ke kamarnya, “Jangan terlalu menanggapinya dengan serius hyung. Akukan hanya bercanda.”

Orang yang sekarang telah berada di depan tempat tidurnya mendesis, “Candaanmu membuat diriku semakin tua!”

Minho hanya tertawa kecil, “Seharusnya hyung bisa mengendalikan amarah hyung. Bukan berteriak-teriak tidak jelas seperti tadi.”

“Kau juga jangan suka membuatku marah-marah.” Key mengacak pinggangnya. Kemudian menatap orang yang lebih mudah dengan teduh, “Aku hanya ingin memberi hp-mu. Adik kecilmu menelepon.”

Hening beberapa saat. Minho tidak merespon sama sekali.

“Minho-yah…” Key menyenggol Minho.

 

“Loving can hurt

 

Loving can hurt sometimes

 

Minho menoleh, menerima hp-nya dari tangan Key. Ia bangkit dari tempat tidur dan melihat sebuah missed call. Choi Sulli. Sulli meneleponnya.

“Ada masalah lagi? Dia?”

Minho menghela nafasnya, “Mungkin.”

“Kau harus memperbaiki hal ini Minho. Kau tahu itu.”

Minho hanya bisa menghela nafas lagi, “Bagaimana bisa? Aku tahu aku salah tetapi aku masih mencintainya. Biarkanlah seperti ini.”

“Keadaan dimana dia hanya menganggap dirimu sebagai oppa-nya, kakak laki-lakinya yang akan selalu melindungi dia dan mendukung dia apapun yang terjadi. Tempat dimana dia selalu menceritakan masalah dia apapaun yang terjadi. Meskipun masalah tersebut menyangkut pacarnya yang sama sekali tidak kau sukai karena kau masih mencintainya. Masih mencintainya seperti dulu. Sebagai seorang wanita bukan sebagai saudara.” Key menggigit bibirnya, merasa salah membahasi masalah sensitive ini. Tetapi dia harus membahas hal ini, “Itu menyakitkan Minho. Kau tahu itu.”

“Bukan.” Minho menatap Key, “Keadaannya bukan seperti yang hyung pikirkan. Aku hanya ingin berada disampingnya, mendukungnya apapun yang terjadi. Terus berada disampingnya membantunya dalam semua kesusahan. Sehingga ia sadar, ia sadar jika aku masih mencintainya dengan sepenuh hati.”

Key menatap teman satu grupnya terkejut. Ia kemudian tersenyum pahit, “Terserah dirimu saja. Aku kembali ke ruang tv.”

Minho yang melihat Key pergi juga kembali merebahkan dirinya ke kasur.

 

“But it’s the only thing that I know

 

When it gets hard,

 

You know it can get hard sometimes

 

Dering hp kembali terdengar. Minho kembali melihat hp-nya. Sulli. Lagi-lagi Sulli meneleponnya. Untuk kali ini saja, ia akan membiarkannya. Tidak menjawab telepon Sulli. Hanya sekali ini.

Semua orang disekitar tahu apa yang terjadi antara Sulli-dirinya-dan tentu pacar Sulli. Hanya dirinya-Sulli-dan pacar Sullilah yang tidak tahu kejadian sesungguhnya. Akan berakhir dimanakah hal-hal yang ia lakukan sekarang? Yang lebih penting, kapan ini semua bermulai? Kapan dia yang selalu merasa sakit melihat gadis itu? Sakit melihat gadis itu bahagia. Sakit melihat gadis itu sedih. Kapan?

Sejak mereka bertengkar hebat disebuah malam? Sejak Minho tidak dapat menekan egonya yang kuat untuk meminta maaf duluan? Sejak ia tahu ia terlambat untuk meminta maaf atau memperbaiki hubungan mereka yang sudah berakhir, karena Sulli telah berpacaran dengan orang lain. Ya, sejak itu.

Tapi sebenarnya ia bisa saja memutuskan untuk tidak peduli lagi dengan Sulli. Itu adalah hal yang biasa, dia sudah tidak lagi menjadi pacar Sulli. Kenapa dia harus peduli? Kenapa?

Jawabnnya hanya satu. Karena Minho belum bisa melepaskan Sulli. Minho belum bisa mempercayai orang lain untuk Sulli. Dia masih percaya akan dirinyalah yang bisa melindungi dan membahagiakan Sulli.

 

“It is the only thing that makes us feel alive”

.

.

.

.

Sulli menghela nafas panjang ketika dia tidak menjawab teleponnya. Ia mencampakan hp-nya ke tempat tidurnya. Kemudian, gadis jelita itu melihat sekeliling tempat tidurnya.

Tempat apakah ini? Sangat berantakan. Banyak dari foto-foto Sulli terjatuh dari lantai. Jatuh dari tempat penyimpanannya. Ini semua terjadi karena dia habis bertengkar dengan pacarnya. Bertengkar sangat hebat sampai dia menangis ketika pacarnya pergi. Satu-satunya tempat dia menceritakan keluh kesahnya, Minho oppa, tidak menjawab teleponnya.

Sulli menghela nafasnya. Baiklah. Biarkan masalah dirinya dan Choiza menggantung terlebih dahulu. Ia harus membereskan kamarnya yang sangat berantakan.

Dengan pelan, ia turun dari kasurnya. Memungut foto-foto yang berserakan di lantai. Tangannya terhenti ketika ia memungut salah satu foto favoritenya….

fx-sulli-amber-shinee-jonghyun-key-minho-eithtoo-161

 

“We keep this love in a photograph

 

We made these memories for ourselves

 

Sulli tertawa. Foto ini….. Dia selalu menyimpan foto-foto antara dirinya dengan Minho oppa. Baik foto yang mereka ambil secara sendiri maupun foto yang ia ambil dari internet. Seperti foto yang sekarang ia pegang.

Otaknya memutar kejadian waktu foto tersebut diambil. Minho oppa selalu menjadi orang yang terbaik bagi dirinya. Dia tidak pernah merasa tersanjung seperti itu kecuali dengan Minho oppa.

 

“Where our eyes are never closing

 

Hearts are never broken

 

Times forever frozen still

 

Tatapan Minho oppa yang selalu dalam kepadanya. Penuh makna. Sangat menghargainya. Dan hatinya yang selalu kelelahan karena berdetak terlalu keras setiap melihat matanya. Tetapi senyumannya dan sentuhannya membuat dirinya nyaman. Sangat hangat.

Pada akhirnya, tatapan mata yang selalu meresahkan hatinya berubah makna. Berubah menjadi tatapan yang sangat mencintai dirinya sepenuh hati. Dan Sulli selalu ingin melihat mata yang membuat dirinya sangat nyaman itu.

Deg!

Deg!

Deg!

Sulli memegang jantungnya yang kembali berdetak hebat. Kenangan dulu terlalu menghanyutkan dirinya.

Kriiiing~

Dering handphone membuatnya tersentak. Dengan tangan panjangnya, ia mengambil dan segera mengangkatnya.

“Minho oppa!” Pekiknya senang.

Suara mu terdengar parau Sulli-yah.”

 

“Loving can heal”

 

Hati Sulli menjadi tenang. Satu orang itu yang selalu mengerti dirinya. Dia bahkan tahu jika Sulli habis menangis. Kalimat yang baru saja Dia lontarkan, sedikit menghilangkan kesedihan di hatinya.

“Aku memang payah dalam memberikan saran. Tetapi kau bisa mengandalkanku untuk mendengar seluruh curhatanmu.”

Mendengar kalimat Minho selanjutnya, senyuman Sulli semakin mengembang.

.

.

.

“Loving can mend your soul

 

And it’s the only thing that I know

 

Minho melirik handphone-nya. Tidak ada telepon lagi. Aneh… Biasanya Sulli akan terus meneleponnya sampai ia mengangkatnya. Tapi kenapa gadis itu tidak mengangkatnya?

Minho kemudian mengalihkan pandangannya. Biarkan saja. Untuk sekali ini saja ia ingin… Ingin egois…

Benak itu…. Minho membencinya. Sifat didalam dirinya yang sampai sekarang belum bisa ia kendalikan. Dengan cepat ia mengambil handphone-nya dan segera menelepon Sulli.

“Minho Oppa!” Suara tersebut terdengar parau walau Sulli terdengar senang sekali.

Minho menghela nafas. Mereka bertengkar lagi dan Sulli habis menangis. Gadis ini tipikal pengalah dalam hubungan, termasuk ketika mereka berhubungan.

“Suaramu terdengar parau.” Gumam Minho.

Hening. Sulli tidak menjawab lagi. Mungkinkah? Mungkinkah gadis disebarang itu sedang terdetak karena Minho sangat mengerti dirinya? Ah…. Harapan tersebut kembali muncul. Bersarang di hatinya. Dan entah mengapa, walau hanya sebuah praduga, Minho senang dengan hal itu.

 

“I swear it will get easier

 

Remember that with every piece of ya

 

Lucu tapi nyata. Betapa mudah hati ini terbolak-balik. Bukankah Minho baru saja menanyakan apakah hubungan dirinya-Sulli benar? Sekarang? Dia kembali hanyut kembali kedalam hubungan yang dipertanyakan itu. Juga, dirinya menambahkan ilusi gila kedalam hubungan mereka.

Terkadang kenyataan sangat pahit sehingga orang-orang lebih memilih mengabaikannya. Kemudian menggantikan kenyataan yang lebih pahit itu dengan ilusi berdasarkan apa saja yang membuatnya sakit lakukan.

And if you hurt me

 

That’s OK, baby, only words bleed

 

Inside these pages you just hold me

 

And I won’t ever let you go

.Fin.

 

 

 

 

 

 

Flipped (Chapter 8)

tumblr_mdzxpaijax1qhh5vwo1_500

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Penggalan Cerita yang Terlupakan

Rantaian kata dari suara orang yang sangat ia cintai terdengar. Pahit. Ini benar-benar terjadi. Pikiran buruk yang selalu menghantuinya. Fakta yang terucap dari tokoh antagonis kisahnya. Hatinya meringis.   Seharusnya dia tidak pernah bertanya hal ini kepada siapapun. Menanyakan siapa yang sebenarnya tokoh antagonis dalam penggalan cerita hidup yang ia lupakan.

****

Sehun sedikit terhuyung ketika mendengar kabar dari ibunya.

“Sehun, Oh Sehun kau tidak apa-apa?”

Sehun mendongak menatap Chanyeol yang sekarang lebih tinggi dari dirinya. Keningnya berkerut, sejak kapan Chanyeol lebih tinggi daripada dirinya?
“Sehun apa yang terjadi? Masih disitu?”

Sekarang Sehun kembali tersentak mendengar suara ibunya.   Dia mengangguk walaupun dia tahu itu tidak berguna, “Aku akan kesana secepatnya.” Gumam Sehun dengan suara serak.
“Hey, kau tidak apa-apa?” Chanyeol kembali bertanya melihat keadaan Sehun.

Sehun hanya diam. Ia menaruh hp kedalam saku celananya kemudian memandang Chanyeol, “Kenapa kau lebih tinggi daripada diriku?”

“Astaga!” Chanyeol menatap Sehun dengan tatapan yang tidak percaya. “Tentu saja. Lihatlah kau terhuyung sampai jatuh ke lantai dan sampai sekarang masih terduduk di lantai.” Cetus Chanyeol tidak sabaran.

Sehun memandang sekeliling. Benar, dia sedang terduduk di lantai. Namun ia tidak menyadarinya. Tidak sama sekali. Rasa sakit ketika terjatuh ke lantai ia tidak merasakan sama sekali. Yang hanya ia rasakan nyeri dari dadanya.

“Sehun kau baik-baik saja?” Untuk kesekian kalinya Chanyeol bertanya.

“Aku harus pergi.” Ucap Sehun tidak mengindahkan pertanyaan Chanyeol. Dia mencoba berdiri.

“Astaga!” Chanyeol menahan Sehun yang bahkan tidak bisa berdiri. “Sehun tenanglah sedikit. Apa yang terjadi?”

Sehun seperti tidak mendengar perkataan Chanyeol, “Tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Aku harus ke rumah sakit.”

“Kau sakit?”

“Park Chanyeol lepaskan aku!” Sehun berusaha melepaskan cengkraman Chanyeol, “Aku benar-benar harus pergi ke rumah sakit.”

“Biar aku antar.” Sahut Chanyeol menatap temannya. “Keadaanmu seperti orang yang setengah sadar. Biar aku yang mengantarmu ke rumah sakit.”

Sehun hanya bisa mengangguk.

.

 

 

.

.

.

Sehun tidak ingat bagaimana dia bisa sampai di rumah sakit. Yang jelas dia ingat Chanyeol yang mengantarkannya. Dia juga ingat ketika Chanyeol menyadarkannya dari lamunan dan saat itu ia tahu jika ia sudah sampai di rumah sakit. Tanpa mengucapkan terimakasih kepada temannya Sehun langsung keluar memasuki rumah sakit. Dia bahkan tidak ingat sudah menutup atau tidak pintu mobil temannya.

Uap-uap hangat dari teh hijau membuat ia jauh lebih tenang. Ia meneguk teh hijaunya kemudian memejamkan matanya. Hufh….

Karena kesadarannya sudah kembali, sepertinya ia harus mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Chanyeol bukan? Karena jika Chanyeol tidak mengantarnya, bisa dipastikan ia tidak akan bisa sampai di rumah sakit dengan selamat seperti sekarang.

“Sehun-ah…” Mendengar suara ibunya membuat Sehun menaruh kembali handphone-nya.

“Sudah larut malam. Sepertinya dirimu harus pulang.” Lanjut ibunya lagi.

Sehun menatap mata lelah ibunya, ia ingin sekali menjawab jika ia ingin berjaga di rumah sakit.

Tetapi sebelum Sehun berkata, ibunya kembali berbicara, “Sebaiknya dirimu pulang. Jangan membuat orangtua Krystal merasa bersalah. Melihat dirimu berjaga disini untuk Krystal dan mengacaukan jadwal kuliahmu, itu akan membuat mereka bersalah.”

Sehun menghela nafas. Ia hanya menganggukan kepalanya.

.

.

.

Kelam. Embusan udara dingin yang berasal dari AC kamar Krystal membuatnya semakin sulit bernafas. Dengan sangat lambat Sehun berjalan mendekati Krystal. Krystal? Dia sedang memandang jendela. Perasaaan mencekam takut Krystal tidak sadar selama dua minggu, tetap menyelimuti diri Sehun, walaupun dia tahu Krystal telah sadar. Keadaannya juga dipastikan baik-baik saja oleh dokter.

“Hai….” Sapa Sehun canggung.

Krystal menoleh tetapi tidak membalas. Hanya mengulas sebuah senyuman.

Sehun berdehem. Tidak tahu harus berbicara apa lagi.

“Apa yang ingin kau tanyakan?”

Sehun menatap Krystal dengan alis terangkat, “Maksudmu?”

Krystal mengangkat kedua bahunya, “Pasti ada yang ingin kau tanyakan bukan? Walaupun hanya satu.”

“Iya. Tapi kurasa ini bukan waktu yang tepat.” Sehun tersenyum kaku. Astaga apa yang sebenarnya terjadi kepada gadis ini?

“Jangan pura-pura baik terhadapku!”

Suara tajam itu membekukan Sehun. Sebenarnya Sehun terdiam bukan hanya mendengar suara tajam, tetapi perkataan itu….. Sehun tersenyum miris. Sekarang ia dapat merasakan apa yang dulu Krystal rasakan.

“Maaf….” Sekarang suara Krystal melembut. Ia menarik nafasnya dengan kasar. “Aku tidak bermaksud kasar.”

“Tidak apa-apa.” Potong Sehun. Sungguh ia merasakan tidak apa-apa, hanya sedikit terkejut.

“Tapi….” Krystal kembali berbicara, “Aku hanya merasa lelah. Saat aku bangun dari komaku semuanya berubah. Memang semua hal pasti akan berubah. Tetapi duniaku benar-benar berubah.”

Sehun mengenggam tangan Krystal. Air mata Krystal turun perlahan. Dengan kasar, Krystal menghapusnya menggunakan tangannya.

“Aku hanya…..   Aku hanya lelah…. Ditambah lagi dengan mimpi-mimpi aneh, rasa sakit kepala yang terus mendera, dan beberapa hal yang kulupakan. Aku lelah…. Aku bahkan tidak mempunyai sahabat terdekat lagi.”
“Apa maksudmu?” Tanya Sehun dengan nada frustasi. Frustasi melihat keadaan yang membingunkan ini. Frustasi melihat Krystal yang kesakitan seperti ini. “Aku selalu ada untuk mu. Kau tahu itu.” Kali ini suara Sehun lebih lembut. Ia menatap Krystal dalam.

Air mata Krystal tak dapat terbendung lagi. “Aku tahu….” Ucapnya parau. “Aku tahu… Tapi aku tidak dapat mempercayaimu…. Aku kehilangan rasa kepercayaan terhadap dirimu…”

“Apa maksudmu?” Tanya Sehun dengan nada yang tidak percaya. Tangannya yang mengenggam tangan Krystal mulai bergetar. Keringat dingin mulai terasa di telapak tangannya. Secepat inikah ingatan Krystal kembali?

Krystal yang menangis mencoba kembali berbicara, “Aku minta maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud….. Hanya saja sejak salah satu memoriku kembali aku kehilangan kepercayaan terhadap dirimu.”

“Memori? Kau mengingat sesuatu?”
Krystal mengangguk, “Iya aku mengingat sesuatu. Kita sedang berada di taman saat malam hari. Awalnya kau sedang menatap bulan. Kemudian aku mendatangi mu.”
Sehun tertegun. Iya, dia mengingatnya. Hari dimana dia mengatakan satu kata terkutuk itu kepada Krystal. Tanpa ia sadari, pegangan tangannya terhadap Krystal melonggar.

Krystal tambah menangis melihat reaksi Sehun. “Jadi itu benar. Kau mengatakan hal itu kepadaku? Jawab aku Sehun! Jawab!”

“Krys….” Hanya itu yang bisa Sehun katakan.

“Kenapa kau tidak menjawab?! Kenapa?! Katakan juga alasan kau tidak pernah membantuku saat aku dibully oleh Suzy!   Katakan! Kumohon…… Tolong…….” Krystal semakin berteriak tidak jelas.

“Aku lelah dengan teka-teki yang ada di hidupku…. Aku kira kau juga mencintaiku tapi kenapa???” Suara Krystal melemah setelah ia berteriak-teriak. “Kenapa kau melakukan ini kepadaku? Apa salahku?”

Sehun memejamkan matanya. Pada akhirnya waktulah yang akan membuka hal ini.

“Karena kau terus mengejarku padahal kau tahu bahwa aku tidak mempunyai perasaan sedikitpun kepadamu.” Sehun mengatakannya dengan nada serak. Lisannya tidak rela mengeluarkan kata-kata itu. Perasaannya menyatakan jika ini adalah sebuah kebohongan nyata, faktanya ia masih mempunyai dan sangat mencintai gadis di depannya. Tapi otaknya menyadarkan ia, hal ini masih harus ia lakukan entah sampai kapan.

Sehun menarik nafasnya dan kembali berbicara, “Kita dijodohkan sejak SMP. Sejak saat itulah persahabatan kita renggang. Bukan. Bukan karena itu. Persahabatan kita renggang sejak dirimu menyatakan cintamu kepadaku. Aku hanya menganggap mu sebagai sahabat tidak lebih. Ku pikir permasalahan ini mudah, kau akan menerimanya. Tetapi tidak. Kau malah mengejarku. Dan ketika aku berpacaran dengan Suzy kau tetap mengajar ku.” Sehun mengehentikan penjelasannya ketika melihat respon Krystal. Gadis di depannya…. Ia terlihat sangat sakit.

“Jadi… Jadi….” Isakan keluar dari mulut Krystal, “Jadi kau menolak ku selama ini karena kita bersahabat?”

“Tidak kurang dan tidak lebih.”

“Tapi yang kau lakukan padaku bukan menunjukan seorang sahabat!” Pekik Krystal kesal. “Kau hanya melakukan apa yang kau kira benar tanpa memperdulikan perasaan orang lain! Kau salah dalam hal ini!”

“Kau pikir kau tidak bersalah?” Teriak Oh Sehun. “Kau tetap melakukan yang kau mau juga!   Menyatakan perasaanmu ketika kita baru dijodohkan. Padahal seharusnya dirimu tahu atau setidaknya mengerti aku yang masih tidak terima dalam perjodohan ini! Tapi dirimu malah menganggap penolakanku sebagai pertanda bahwa suatu saat aku dapat mencintaimu…. Kau salah. Sangat salah dalam hal ini!”
“Terus apa yang kau inginkan?! Katakan kepadaku apa hal yang benar?!” Tanya Krysal yang sudah putus asa. “Apa?!”

Sehun kembali memejamkan matanya, “Hentikan perjodohan ini….”

.TBC.