The Wind of Change (Chapter 1)

tumblr_inline_n5ww00jc5o1s2v6jx

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family,

Length: Chaptered

Author: Ally

***

I must confess
That my loneliness
Is killing me now
Don’t you know I still believe,
That you will be here
And give me a sign?

-Hit Me Baby One More Time- by Britney Spears

Kerutan di dahi laki-laki itu bertambah melihat laporan keuangan yang baru saja ia dapatkan.

Drrrt~

Merasa handphone-nya berbunyi, ia mengambil handphone-nya, tak jauh dari atas mejanya. Disamping tumpukan laporan yang belum ia baca.

Nde halmonie~” Jawabnya muram.

“Aigoo cucuku… Kau terlihat sangat depresi…” Suara halmonie terdengar bahagia di ujung sana.

“Bukan masalah penting.” Kata laki-laki itu acuh tak acuh.

Bukan masalah penting? Sebenarnya, kalau ia boleh jujur, semua yang tidak sesuai di perusahaannya adalah masalah penting. Tetapi berhubung halmonie sudah tua dan tidak mengerti apa yang ia bicarakan, lebih baik tidak mengatakan apa-apa.

“Bagaimana pesta sahabat halmonie? Apakah halmonie merasa disingkirkan?” Sehun kembali berbicara. Memutuskan untuk mengubah topic sebelum nenek tersayangnya kembali mengkhawatirkannya.

“Ah…” Halmonie mengerjap. Seperti baru tersadar akan sesuatu. “Pestanya mengasyikan Sehun-ah…” Jawab halmonie kembali bersemangat, “Aku bertemu dengan teman-teman lamaku. Dan tentu saja bahasa korea ku masih lancar. Kau ingin aku mencobanya?”

Sehun menggelengkan kepalanya sambil terkekeh kecil. “Tidak terimakasih halmonie…” Jawab Sehun menggunakan bahasa Inggris.

Keluarganya keturunan Korea yang sudah tinggal di Amerika sejak lama. Sehun merupakan generasi ke-5. Walaupun semua anggota keluarganya bisa berbahasa Korea bahkan ada yang memutuskan untuk kembali ke Korea, tetapi mereka lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris. Maka dari itu, ia yakin jika bahasa Korea halmonie tidak terlalu lancar. Kalau pun lancar pasti logatnya aneh. Sehun tidak ingin terbahak-bahak mendengarnya.

“Baiklah…” Halmonie menggumam. “Oh, aku juga bertemu dengan tunagan mu Sehun-ah!”

Alis Sehun terangkat. Tunangan? Sehun menggerang.
“Ada apa Sehun-ah?” Tanya halmonie yang khawatir dengan suara Sehun.

Sehun mendengus. Wajahnya kembali mengkerut. “Halmonie tidak mungkin melakukan hal ini kepadaku! Aku tidak ingin dijodohkan! Aku ini sudah dewasa dan juga, kita hidup di zaman apa yang masih ada perjodohan? Satu lagi, apakah Oemma dan Appa setuju?” Cecar Sehun kepada neneknya. Ia tidak bermaksud kurang ajar. Tapi yang benar saja.

Oemma dan Appa mu tidak mungkin melawan halmonie Sehun-ah…” Kata Halmonie dengan nada santai. “Lagipula ini demi kebaikan mu. Kau selalu sendiri tenggelam dalam pekerjaan mu. Tidak ada yang mengingatkan dan juga mengawasi mu. Kau butuh pendamping hidup cucuku tersayang…”

“Aku tidak butuh pendamping hidup!” Kata Sehun mencoba mengalahkan neneknya. “Sekertaris ku akan selalu mengingatkan ku dan aku juga mempunyai security yang selalu menjaga ku selama 24 jam.”

Halmonie meringis, “Dengar, kita bisa membicarakan ini dilain tempat dan waktu…”

Bagus! Kata Sehun dalam hati. Untunglah neneknya tersadar.

“Tapi…” Halmonie kembali berkata, “Kau harus menjemputku sekarang Oh Sehun.”

Sehun memicingkan matanya. Oh Sekyung tadi berangkat bersama supir yang sudah disewa orangtuanya. Kemana supirnya? Bukan itu juga. Walaupun umurnya sudah 65 tahun, Sekyung masih cekatan dan dapat mengingat hal dengan baik. Otak neneknya juga sangat tajam. Sehun merasa ada sesuatu di balik hal itu.

“Aku tidak bisa. Masih banyak pekerjaan yang harus ku urus.” Jawab Sehun pada akhirnya setelah sepuluh detik penuh terdiam.

“Jangan berbohong kepada halmonie…. Bukankah dirimu yang bilang masalah di kantor tidak penting? Maka dari itu cepat kesini. Halmonie tunggu ya!” Oh Sekyung langsung memutuskan teleponnya.

“Sial….” Desis Sehun. Ia menghembuskan nafasnya. Baiklah, dia sepertinya harus menjemput halmonie-nya sebelum neneknya melakukan hal-hal aneh.

“Irene-ssi,” Panggil Sehun kepada sekertarisnya melalui telepon kantor, “Aku harus pergi dulu. Ada yang perlu ku urus. Sepertinya aku juga tidak bisa mengikuti rapat pada malam ini. Tolong di resechedule…” Kata Sehun panjang lebar. Setelah menelepon orang-orang yang menurutnya penting, ia memakai jasnya dan keluar dari ruangannya.

.

.

.

.

.

Krystal meneguk segelas anggur merah. Ia mendesah keras.

“Apakah dirimu mengenal aku anak muda?”

Dahinya berkerut ketika ia mengingat seorang nenek tua entah siapa namanya tiba-tiba menghampirinya.

“Aku terbiasa datang ke rumah nenekmu ketika dirimu masih kecil. Kau sangat suka bermain kejar-kejaran bersama Jongin.”

Dahi Krystal kembali mengerut. Ini tidak benar! Katanya dalam hati. Krystal terjebak bersama neneknya dua jam belakangan ini. Ini karena neneknya ingin ia menjemput dirinya di pesta, tetapi nyatanya dua jam belakangan ini dia menghilang. Krystal malah bertemu dengan nenek-nenek aneh yang berbicara dengan bahasa Korea berlogat Inggris, yang tiba-tiba pura-pura akrab dengannya. Menceritakan hal-hal yang tidak ingin Krystal dengarkan dan ia terpaksa berbohong agar kabur dari nenek-nenek itu.

Krystal mengeluarkan handphone-nya. Ingin menelepon neneknya sekali lagi. Jika tidak dijawab, maka ia akan pulang dan menyuruh supirnya saja untuk menjemput neneknya.

“Nenek dimana?” Tanya Krystal ketika neneknya menjawab teleponnya untuk pertama kalinya selama dua jam. “Aku menunggu nenek selama dua jam! Dua jam!” Serunya dengan nada frustasi.

Terdengar neneknya tertawa kecil di sana, “Cepatlah kesini anak muda. Ke tempat ku. Aku di ruangan VIP dari tadi. Datanglah.”

“Apa?!” Tanya Krystal dengan nada tidak percaya. Apa-apaan? Setelah menunggu dia harus menjemput neneknya?!

“Cepatlah datang. Nenek menunggumu, Okay?” Setelah itu, nenek Krystal memutus sambungan teleponnya.

Krystal kembali menghela nafasnya. Sepertinya ia harus mengikuti permainan neneknya sebelum pulang kerumah.

.

.

.

.

.

Sehun menyereput kopi yang baru saja diberikan oleh pelayan. Memaksakan sebuah senyum sopan kepada orang di depannya, teman neneknya. Sehun yakin jika neneknya sedang merencanakan sesuatu. Dia yakin ini berhubungan dengan perempuan di jodohkan neneknya. Dia juga yakin jika teman neneknya yang duduk di depannya, yang sekarang sedang menelepon seseorang, yang ia juga yakini adalah cucunya, adalah komplotan neneknya.

“Sebentar lagi cucuku akan datang.” Teman neneknya berbicara kembali berbicara. “Oh, kita belum saling mengenakan diri bukan? Nama ku Elsie Jung anak muda. Siapa namamu?”

Sehun kembali memaksakan senyum sopan, “Oh Sehun.” Jawabnya pendek.

“Oh Sehun ya? Kudengar kau pernah tinggal di California. Cucuku juga tinggal di California. Yang akan datang ke sini sebentar lagi.” Kata Elsie Jung sama sekali tidak terlihat tersinggung dengan jawaban Sehun yang pendek.

Sehun hanya menganggukan kepalanya. California? Salah satu kota di Amerika yang pernah ia tinggali. Kota kedua terakhir, sebelum New York, kemudian ia dan keluarganya pindah ke Seoul. Sebenarnya banyak kota yang Sehun tinggali di sana. Hampir setiap tahun ia pindah ke setiap penjuru kota di Amerika seperti Houston, Boston, Chicago, Illinois, Minnesota, Michigan, California, dan terakhir New York. Tetapi California menyimpan kenangan tersendiri baginya.

Sehun melihat dengan seksama Elsie Jung. Rambut panjang wanita ini bewarna putih tetapi ia cat cokelat. Dengan jaket tebal bewarna cokelat tua yang melekat di tubuhnya. Tanpa ia sadari, Sehun mengerutkan keningnya. Dia seperti pernah melihat Elsie Jung. Atau Elsie Jung mengingatkannya kepada seseorang.

“Oh, anak muda, mungkin kau tahu siapa cucuku. Dia bernama Krystal Jung. Kau mengenalnya?”

Sehun tersedak ketika meminum kopinya. Krystal Jung? Krystal Soojung Jung?

“Dia sepertinya terkejut Elsie. Mungkin dia tidak menyangka jika akan dijodohkan dengan model terkenal Elsie.” Neneknya tertawa geli melihat Sehun yang tersedak. Ia mendekatkan dirinya ke Sehun yang masih menunjukan muka syok, “Aku memberikan jodoh yang baik bukan?”

Sehun mencengkram cangkir kopinya. Jodoh yang baik? Juga, apa yang dimaksud dengan model terkenal? Mana dia tahu Krystal Jung model terkenal. Menjadi seorang malaikat pun Sehun tidak terpana.

“Nenek! Ayo kita pulang!”

Sehun mengerutkan kedua keningnya ketika mendengar suara perempuan dari belakangnya. Manja dan tidak sopan. Persis seperti yang ia ingat dari seorang Krystal Jung.

“Krystal Jung…. Jangan tidak sopan!” Elsi mengingatkan Krystal Jung dengan nada tajam. Kemudian ia tersenyum minta maaf, “Cucuku sangat blak-blakan. Tetapi dia sebenarnya gadis yang manis.”

Sehun mencibir dalam hati. Gadis yang manis apanya? Gadis yang sepat dan kurang ajar baru benar.

“Nenek….” Krystal Jung memandang neneknya bingung. “Ayo kita pulang….”

Elsie tampak tidak peduli. Ia menepuk bangku kosong disampingnya, “Duduklah dulu di sini Krystal Jung. Ada yang nenek ingin bicarakan.”

Krystal memandang neneknya bingung. Tetapi dia tahu, dia tidak akan bisa pulang sebelum mengikuti permianan neneknya. Dengan malas, ia menuju bangku yang neneknya tunjuk.

Deg!

“Perkenakan ini cucuku, Krystal Jung. Krystal Jung, ini Oh Sehun.” Elsie Jung mengenalkan kedua anak muda dengan semangat.

Krystal Jung menatap Oh Sehun dengan tajam. Sebelum ia berdehem dan mengulurkan “Krystal Jung.”

“Oh Sehun.” Balas Sehun pendek dan segera menarik kembali tangannya sedetik setelah ia menempelkannya di tangan Krystal.

Apa-apaan? Kata Krystal jengkel ketika melihat gelagat Sehun. Kekesalannya semakin memuncak ketika Sehun mengelap tangan yang ia pakai untuk menyalami Krystal menggunakan celananya.

Mata Krystal kemudian ia alihkan ke orang sebelah Sehun. Ah, ia ingat. Nenek-nenek aneh tadi.

“Ini adalah neneknya Sehun, Oh Sekyung.” Elsie Jung kemudian memperkenalkan Sekyung.

Jadi begitu… Mungkin Oh Sekyung mendekati Krystal untuk memperkenalkan Sehun kepadanya. Ingin mencari tahu tentang Krystal sedikit.
“Hai, Krystal, nama halmonie Oh Sekyung. Senang bertemu kembali dengan mu nak!” Sekyung memperkenalkan dirinya dengan ramah.

Hal itu entah mengapa membuat Krystal senang. Ia tersenyum dan membalas jabatan tangan Sekyung, “Aku juga senang bertemu dengan halmonie kembali.” Diam-diam, Krystal melirik Sehun.Laki-laki di depannya tampak bingung. Tetapi ia beredehem dan mengalihkan tatapannya dari Krystal.

Sehun sendiri menghela nafasnya. Ini buruk. Neneknya tidak mungkin menjodohkan dia dengan Krystal Jung. Perempuan yang ia harapkan selalu jauh darinya. Berada di belahan bumi lainnya. Intinya, Sehun tidak ingin berdekatan dengan Krystal. Apalagi harus menghabiskan waktu dengan perempuan di depannya.

“Aku tahu ini baru pertemuan pertama kalian, tapi aku tidak bisa menahannya lagi…”

Sehun menahan gertakan giginya. Sebaiknya Elsie Jung tidak bertele-tele karena ia ingin segera pergi dari muka Krystal Jung.

“Kau dan Krystal kami jodohkan!”

“Nenek!” Seru Krystal dengan mata melotot. “Dijodohkan?! Apa maksud nenek?” Krystal bertanya dengan nada tinggi.

Teriakan Krystal membuat Sekyung dan Elsie sedikit terkejut melihat tingkah lakunya. Sehun juga tidak menyangka jika Krystal akan berteriak setinggi itu. Tapi itu membuat dirinya tambah yakin terhadap satu hal. Krystal Jung belum berubah.

“Begini Krystal-ah,” Sekyung mengambil alih keadaan.

Krystal sendiri menoleh dengan tatapan tajam. Tetapi tatapannya berubah, ketika Sehun menatapnya dengan melotot.

“Sudah sejak lama aku dan Elsie ingin melakukan hal ini. Tapi seperti yang kau tahu, anak kami dua-duanya perempuan. Maka dari itu, ketika mengetahui cucu kami laki-laki dan perempuan, kami ingin melakukan hal ini kembali.”

“Tapi…” Krystal mencoba menemukan kata yang tepat untuk bantahan. Bagaimana ini?

“Cucuku Oh Sehun. Dia adalah CEO dari perusahaan keluarga kami…” Jelas Sekyung yang kembali bergembira.

Krystal menaikan alisnya, CEO? Cih, yang benar saja!

Sehun melotot mendengar dengusan Krystal. Perempuan kurang ajar! Dia pikir dirinya lebih baik daripada dirinya? Dia hanya seorang model. Bodoh pun asal punya wajah bagus bisa menjadi seorang model.

“Kalau cucuku satu ini bekerja sebagai model.” Lanjut Elsie bersemangat.

Sepertinya yang sangat bersemangat adalah kedua nenek mereka. Krystal dan Sehun sudah sedari tadi ingin beranjak pergi dari sini.

“Model internasional lebih tepatnya…” Krystal akhirnya berbicara. “Sudah dua tahun ini aku keliling dunia untuk pekerjaanku.”

“Dia terlalu sibuk bekerja hingga tidak mempunyai teman. 6 bulan kedepan dia berlibur dan berada di Korea Selatan.” Sekarang Elsie lah yang kembali berbicara.

“Cucuku Oh Sehun hanya 6 bulan ini juga di Korea Selatan. Setelah itu ia akan kembali ke New York.” Kali ini, Sekyung lah yang berbicara.

Elsie mengerjap, seperti tersadar akan sesuatu, “Aku tidak tahu jika perusahaan kalian ada di New York, Sekyung-ah…”

Sekyung tertawa malu, “Sebenarnya dia hanya menjadi CEO pengganti disini. Ketika kakak iparnya sembuh dia akan kembali ke New York, melanjutkan kuliahnya.”

Pfft~ Ternyata hanya anak kuliahan! Seru Krystal dalam hati. Di dalam hatinya juga ia terbahak-bahak melihat keadaan Sehun, sudah sepuluh tahun berlalu semenjak masa SMA dan dia masih di dunia perkuliahan?!

“Bukan melanjutkan kuliah halmonie….” Sehun akhirnya membuka mulutnya. Nada suaranya yang tenang berlainan dengan keinginannya untuk menonjok Krystal, “Aku sedang belajar bersama senior ku dalam membangun restaurant.

“Ah, jadi sebenarnya Sehun bekerja sebagai apa?” Elsie bertanya.

Sehun memaksakan sebuah senyum, “Aku lulusan sekolah bisnis. Aku juga suka dengan makanan. Jadi membuat restaurant adalah kesukaanku. Terkadang aku menjalankannya atau hanya sebagai investor nya.”

“Oh, hebat!” Elsi bertepuk tangan, “Kau punya restaurant di sini anak muda?”

Sehun melirik Krystal yang sekarang terdiam kaku, ia tersenyum, “Tentu. Anda mengetahui Croquer?”

Mata Elsie terbelak, “Croquer? Bukankah waktu itu kita ingin makan kesana tetapi tidak mendapatkan tempat?”

Krystal hanya tersenyum sebagai jawaban. Dulu dia sangat ingin ke Croquer. Menurut teman-temannya, Croquer adalah restaurant dengan konsep makanan ringan, tetapi menyebabkan dirimu kenyang. Teman-teman sesama modelnya mengatakan jika makan disitu menyebabkan dirimu kenyang dengan berat yang tidak bertambah. Krystal benar-benar ingin kesana. Tetapi sekarang? Mengetahuinya saja tidak ingin!

“Ah, maafkan aku.” Ujar Sehun. “Beritahu aku kapan kalian ingin datang. Aku akan memastikan kalian mendapatkan meja disana.”

Krystal lagi-lagi hanya tersenyum. Sehun kembali tersenyum lebar melihat Krystal yang terdiam.

“Mungkin kita bisa kesana bukan Krystal? Mengingat dirimu sekarang libur?”

“Aku tidak bisa.” Jawab Krystal memaksa suaranya tidak ketus. “Tadi manajer ku menelepon.”

“Oh, jangan bilang kau ingin menurutinya untuk bermain film Krystal.” Keluh Elsie menatap datar cucunya.

“Entahlah. Lagian itu merupakan hal yang bagus jika aku mencobanya bukan? Kenapa nenek melarang ku?”

Sehun menatap Krystal datar. Benar-benar! Dia tidak mungkin serius mengajak neneknya berdebat di depan muka Sehun.

Drrrt~

Handphone Sehun yang bergetar menyebabkan ia tersentak. Sehun melihat sebentar dan segera permisi ke neneknya.

“Hai!” Balas Sehun ceria setelah merasa cukup jauh dari meja.

Hai!” Sapa perempuan di ujung sana. “Ku harap aku tidak menganggu pekerjaan mu.”

Sehun tertawa kecil, “Tidak sama sekali. Malah kau menyelamatkanku dari sesuatu yang cukup membosankan.”

“Membosankan?” Suara perempuan itu terdengar tidak percaya. “Rapat lagi hingga tengah malam dan mereka membicarakan hal yang tidak penting.”

“Bukan… Bukan itu.” Kata Sehun gantung, tidak ingin menceritakan yang sebenarnya.

Perempuan di ujung sana tertawa kecil, “Terserah dirimu jika ingin cerita atau tidak.”

“Bagaimana keadaan dirimu?”

Terdengar helaan nafas, “Masih sama.”

“Apa? Kau masih sakit?” Suara Sehun berubah menjadi khawatir.

“Hmm…. Aku masih merindukan mu Oh Sehun~”

Mendengar hal itu membuat Sehun tersenyum lebar, Aku juga merindukan mu Wendy Son~”

Wendy mendengus, “Cepatlah pulang~”

“Setelah semua ini selesai aku berjanji akan pulang.” Pandangan Sehun kembali ke meja. Ia melihat Sekyung menatapnya, segera ia berbalik, “Dengar Wendy, aku sedang bersama halmonie jadi aku tidak bisa berlama-lama.”

“Apakah halmonie tahu tentang diriku?”

Pertanyaan Wendy membuat Sehun menghela nafasnya.

“Sehun, kau tidak mungkin menyembunyikannya seumur hidup mu.”

“Aku tahu… Aku tahu….” Kata Sehun terdengar putus asa. “Sekarang aku benar-benar harus kembali ke halmonie sebelum halmonie datang ke sini, Okay?”

Sekarang Wendy yang menghela nafasnya, “Baiklah…”

Sehun kemudian tersenyum kecil, “Jangan tidur terlalu malam okay?”

Wendy tertawa kecil, “Ini masih pagi, bodoh!”

Sehun ikut tertawa, “Sampai jumpa Wendy Son~”

“Sampai jumpa Oh Sehun” Sebelum Sehun menutup teleponnya, Wendy kembali berkata, “Jangan lupa menelepon ku lagi, okay?”

“Tentu…”

.TBC.

A/N:

Haiiii….  I’m back with a new Sestal fan fiction.  Terakhir post fanfic  baru tenting Sestal sekitar bulan desember tahun 2015…  Hope you guys like it yaa….  

Warm Regards

Allamanda Zahra

State of Grace (Chapter 19)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Donghae sudah berada di luar lebih lama dari perkiraan Tifanny dan Wendy. Ia mendengar perkataan Tifanny dan Wendy. Terutama dibagian Tifanny yang mengatakan jika ia akan selalu berada di samping Wendy. Tanpa sadar, Donghae mendesis. Merasa kesal dengan apa yang Tifanny lakukan.

“Kau kenapa?” Tanya Tifanny yang bingung dengan perilaku Donghae. Donghae tidak terlihat seperti biasanya. Ia hanya diam dan melakukan pekerjaannya. Maksud Tifanny Donghae tidak mengajak Tifanny berbicara seperti biasanya. Dia merasakan sebuah kehilangan yang besar akibat hal tersebut. “Apa kau bertengkar dengan Yoonah?” Tanya Tifanny lagi.

Donghae langsung menghentikan kegiatannya. Ia menatap Tifanny tajam, “Istirahatlah. Kau bisa pulang sore nanti. Siwon sudah mengatakan kepadaku jika ia akan menjemputmu.”

“Kenapa aku marah kepada ku?” Kekesalan muncul di benak Tifanny. “Apakah itu karena Siwon yang ingin menjemputku?”

“Bukan!” Teriak Donghae frustasi. Ia langsung mendekatkan dirinya ke Tifanny. Berbicara dengan nada yang sangat dalam dan pelan. Tidak ingin membuat orang di luar curiga dengan apa yang terjadi di dalam. Karena ia tahu, karirnya dipertaruhkan dalam hal ini. “Ini bukan masalah Yoonah dan Siwon, Tifanny. Tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.”

“Tapi kau marah-marah kepadaku!” Kata Tifanny dengan nada yang masih kesal. Detak jantungnya sudah mulai naik.
Donghae menghembuskan nafasnya, “Dengar, aku tidak seharusnya mencampuri urusanmu. Aku menghormati setiap keputusanmu dan setiap pandanganmu. Tapi, kali ini aku tidak tahan.”

Tifanny hanya diam. Menunggu perkataan Donghae yang selanjutnya, “Bukankah kekasih Sehun adalah Krystal Jung bukan Wendy Son?” Mereka sama-sama diam. Hingga akhirnya Donghae kembali berbicara, “Aku mengetahuinya dari Sehun jika kau bertanya-tanya dari siapa aku mengetahuinya. Dengar Tifanny, aku-“
“Keluarlah!” Suara Tifanny terdengar sangat lirih. Air matanya mengenang di pelupuk matanya. “Kumohon……”

Donghae menghela nafasnya sekali lagi. Dia harus mengalah untuk kali ini. “Kita berdua yang paling tahu apa maksud mu dengan Wendy bukan?” Setelah itu Donghae berbalik dan keluar dari kamar Tifanny.

.

.

.

.

Sehun tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Semuanya begitu kacau. Ia memutuskan untuk berdiam diri di apartment Krystal sampai ia bisa memutuskan sesuatu.

Biasanya tempat pelariannya adalah rumah Kai. Tetapi, berhubung masalah ini sudah sangat besar dan kemungkinan besar ayahnya akan sangat marah kepadanya, dia berpikir jika lari ke rumah Kai adalah masalah besar. Bisa-bisa menimbulkan keributan besar di sana. Jadi, mau tidak mau Sehun lari ke apartment Krystal sampai ia menemukan penyelesaian masalah. Ia kembali melihat hp-nya. Menunggu balasan dari Kai.

Tring!

Sebuah pesan masuk dan itu dari Kai. Segera saja Sehun membukanya.

Apa kau yakin dengan yang kau lakukan? Bukankah itu namanya lari dari masalah?

Sehun segera menjawab pesan Kai,

Iya, kau benar. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Tinggal disana sama saja memasukan diriku ke dalam penjara.

Terserah dirimu saja. Baiklah, aku akan melakukannya.

“Sedang menghubungi siapa?”

Sehun tersentak hebat ketika menyadari Krystal sudah ada dibelakangnya. “Ah?” Tanyanya masih syok.

Krystal menatap Sehun curiga, “Kau sedang apa?”

“Sedang mengurus sesuatu.” Jawab Sehun pendek. “Kukira kau sudah tidur.” Karena Sehun memaksa untuk tinggal di apartment Krystal, maka Krystal memaksa Sehun untuk tidur di sofa. Secara kamar yang dimiliki Krystal hanya satu.

“Aku memang sudah tidur. Kemudian aku terbangun karena ingin buang air kecil.” Krystal tersenyum pendek dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.

Setelah Krystal menghilang dari balik pintu kamar mandi, Sehun diam-diam kembali melihat hp-nya. Sebuah pesan masuk lagi, dan masih dari Kai.

            Jangan lupa membayarnya ya!

Sehun mendengus, ia segera membalasnya,

Iya, pelit!

.

.

.

.

Tifanny menuangkan secangkir kopi kepada Siwon. Ia menghela nafas untuk yang kebeberapa kalinya di pagi yang cerah ini. Keadaan di rumah sangat mencekam. Sehun juga tidak pulang kemarin malam.

“Apa kau sudah menyelidiki kemana Sehun pergi?” Tifanny lagi-lagi bertanya kepada Siwon.

Siwon yang masih sibuk dengan tablet-nya menganggukan kepalanya, “Dia tidak ada di rumah Kai ataupun di hotel Seojoon. Dia juga tidak memakai kartu kreditnya kecuali membeli bensin di pom bensin dekat rumah sakit.”

“Adakah yang lebih detail daripada itu? Setidaknya mengatakan jika ia baik-baik saja.”
Siwon menghela nafasnya. Ia meletakan tabletnya dan menatap Tifanny, “Umurnya sudah 23 tahun Tifanny. Dia sudah menyelasaikan kuliah dan sebentar lagi akan di wisuda. Sudah mendapat perkejaan. Dia pasti akan baik-baik saja.”

“Aku tidak mengerti mengapa dirimu sama sekali tidak panik karena dia menghilang.” Kata Tifanny dengan nada sinis.

Siwon kembali menghela nafasnya, “Berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Dia sudah besar dan dia akan kembali kepada kita. Aku yakin jika dia menghilang selama satu hari saja. Hari ini dia pasti akan kembali.”

“Aku masih tidak tenang!”

Siwon menyesap kopinya, “Dengar, aku tetap menyuruh orang untuk mencarinya. Aku juga akan terus memantaunya. Tetapi aku harus berangkat kerja. Ada rapat bersama kolegaku, Tuan Kwon mengenai pembangunan hotel terbaru di Bali dan aku harus menghadirinya.”

Tifanny mendelik, “Tidak bisakah kau lupakan pekerjaan mu sebentar dan mengurusi keluargamu? Ini masalah yang lebih penting Siwon-ah!”

“Masalah penting apa? Sehun hanya kabur seperti biasanya. Dan kamu yang baru keluar dari rumah sakit karena stress. Seojoon yang tiba-tiba muncul tapi aku yakin dia tidak berani macam-macam ke kita. Tidak ada masalah yang penting. Aku yakin kau bisa mengurusnya.” Siwon segera mengurusi barang-barangnya. Memasukan tablet-nya ke dalam tasnya.

Tifanny menunduk. Dia merasa ingin menangis. “Uhm… Pergilah!” Katanya dengan suara yang diusahakan ceria. “Pergilah!”

Siwon menghampiri Tifanny, “Aku akan pulang lusa.” Mengecup singkat pipi Tifanny dan melangkah keluar dari dapur.

Hiks!

Hiks!

Bersamaan dengan itu, air mata Tifanny mengalir.

.

.

.

.

Sehun masih sibuk mengunyah sarapannya, tetapi matanya tidak lepas dari handphone-nya.

“Kau terlihat sangat sibuk.” Gumam Krystal sambil menyesap tehnya.

Sehun menoleh ke arah Krystal, “Mungkin.” Ia kemudian menghentikan kegiatan makannya dan melihat ke arah Krystal, “Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan.”

Melihat sikap Sehun yang sangat gugup membuat Krystal juga ikutan gugup. Ia pun menganggukan kepalanya perlahan.

“Aku…” Sehun diam sejenak. Menghela nafas. “Aku akan pindah ke sebuah apartment. Baru saja aku rencanakan, bukan, maksudku aku merencanakannya tadi malam dan sudah mendapatkan apartment yang bagus dengan harga yang terjangkau, juga dekat dengan kantorku. Oh, apakah aku lupa bilang kepada mu jika aku diterima disuatu biro hukum? Jadi, kurasa mulai dari sekarang aku akan tinggal di apartment.”

Apartment?” Krystal hanya bisa menatap Sehun, “Maksudku tidak tinggal lagi dengan orangtua mu?”
Sehun menganggukan kepalanya.
Terdengar helaan nafas dari Krystal, “Bukannya itu artinya kau melarikan diri dari sebuah masalah? Masalah dengan orangtuamu belum selesai tetapi dirimu sudah memutuskan berpisah dari mereka?”
Sehun terlihat berpikir, “Kau benar.” Akunya. “Aku memang selalu kabur jika bertengkar dengan mereka. Tetapi mengubah seseorang dengan satu malam bukanlah suatu yang mudah. Orangtuaku tetaplah orangtuaku. Aku adalah aku. Kami terbiasa dengan situasi seperti ini, tidak peduli jika Mom akan sangat panik ketika aku menghilang. Ia tetap tidak mengubah kebiasaannya untuk terus menahan pendapatnya hingga aku lelah dan memutuskan untuk kabur.”

“Tetapi ini bukanlah sesuatu yang dapat dibenarkan, kabur dari sebuah masalah.”

“Okay, bagaimana jika seperti ini, aku akan menyelesaikan masalah denganku dengan orangtuaku tetapi tetap tinggal di apartment?”

Krystal akhirnya mengangukan kepalanya, “Baiklah. Itu adalah ide yang bagus.”

Krystal teringat sesuatu, “Tapi kau harus mengatakannya kepada orangtuamu.”

“Apa?!”

“Iya, maksudku memberi tahu orangtuamu mengenai dirimu yang akan pindah ke apartment.” Krystal tiba-tiba mengkerutkan keningnya, “Kau tidak berpikir jika kau pindah tanpa memberi tahu mereka bukan?”

Sehun mendengus, “Memberi tahu mereka adalah ide yang sangat buruk.”

“Sehun…” Baiklah, kali ini Krystal benar-benar menghentikan kegiatan sarapannya  dan menatap ke Sehun, “Bagaimana bisa kau tidak memberi tahu mereka?”

“Tentu saja bisa!”

Krystal berkacak pinggang, “Sesuatu yang buruk dimulai dari sebuah prasangka yang juga buruk. Kau sudah berpikir yang buruk-buruk mengenai kedua orangtua mu. Bagaimana bisa mereka bisa mempercayai mu jika kau juga tidak mempercayai mereka? Bicaralah baik-baik dengan mereka. Katakan jika kau harus pindah ke sana untuk memudahkan pekerjaan mu. Mereka pasti akan mengerti, walaupun tidak pada hari itu juga.”

Sehun terdiam mendengar penjelasan Krystal. Dalam hati Sehun mengakui jika Krystal benar. Ia kembali mendengus, “Baiklah. Aku akan mengatakan pada orangtua ku.” Sehun kemudian berdehem, “Aku akan pulang sekarang.”

“Maksudmu? Tunggu, kau tidak marah kepadaku bukan?” Krystal menghampiri Sehun. Raut wajahnya terlihat khawatir.
Sehun menggeleng, “Tentu saja tidak.” Ia kemudian tersenyum, “Aku benar-benar akan pulang. Kemudian memberi tahu ibuku mengenai hal ini.”

Krystal tetap diam. Bingung ingin berbicara apa, “Aku tidak mengerti dirimu sama sekali.”
Sehun mengangkat kedua bahunya, “Lebih cepat lebih baik. Pemilik apartment menunggu kepastian ku siang ini.   Aku memberi orangtuaku, ke pemilik apartment, dan kita bisa menghias apartment.”

“Apa?” Nada suara Krystal tambah bingung. “Apa-Astaga! Aku sama sekali tidak mengerti dirimu!”

Sehun tersenyum licik, “Bersiaplah jatuh ke dalam pesonaku yang itu Nyonya Oh!”
Tap!

Krystal segera memukul bahu Sehun. Pipinya bersemu merah. Ini memalukan. Tetapi, ini juga membuat dirinya bahagia.

.TBC.

 

 

 

 

 

 

 

 

State of Grace (Chapter 18)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Sehun kembali tersenyum. Tidak pernah lelah melihat Krystal yang sedari tadi sibuk memasak makanan untuknya. Perempuan di depannya sibuk ke kanan dan ke kiri. Memotong beberapa sayuran. Mencicipi setiap masakannya. Sebelum akhirnya meletakan makanannya ke meja makan, dimana Sehun dengan setia menunggunya.

Sehun mengambil sebuah sumpit. Ia menunggu Krystal yang sedang mengambilkan nasi untuknya, “Aku sudah tidak sabar untuk menghabiskannya…”

Jantung Krystal berdetak lebih cepat mendengar kalimat yang dilontarkan Sehun. Ia berdehem kemudiam memberi sebuah mangkuk nasi ke Sehun.

“Tentu saja ini pasti sempurna. Yang membuatnya saja sudah sempurna…”

“Cepat habiskan sebelum dingin!” Kata Krystal dengan nada sedikit tinggi. Ia tidak marah. Hanya saja… Hanya saja dia berharap Sehun bisa menghentikan semua gombalannya dan membiarkan jantungnya kembali tenang.

“Yak, kenapa tiba-tiba marah kepadaku? Lagipula aku tidak memakannya karena masih sangat panas!”

Krystal menatap tajam Sehun. Tidak terima jika perkataan Sehun tadi hanya sebuah selingan untuk menunggu makanan menjadi dingin. Dengan cepat Krystal mengambil sumpit dan memakan telur dadarnya, sekedar ingin mebuktikan ucapan Sehun.

“Hey, kau menghabiskan seluruh telur dadarnya!” Pekik Sehun menunjuk piring kosong yang tadinya berisi telur dadar.

Krystal yang sibuk mengunyah makanan tersadar, “Aku… Aku akan membuatkannya lagi. Tenang saja!” Krystal segera bangkit dan berjalan kembali menuju dapur. Menyalakan kompor, menuangkan sedikit minyak ke wajan penggorengan, dan mengambil telur sisa tadi ia memasak.

Hug!

Krystal tersentak ketika sebuah tangan melingkar di pinggangnya. “Sehun…” Kata Krystal tercekat.

“Hmmm…” Sehun memejamkan matanya. Dagunya ia taruh di bahu Krystal.

“Aku tidak bisa memasak jika kau seperti ini….” Krystal bergerak ke samping kanan dan kiri. Berusaha melepaskan dirinya dari Sehun.

Tangan Sehun dengan pelan mengambil telur yang ada di tangan Krystal, kemudian membukanya dan menaruh telur tersebut ke wajan penggorengan. Masih dengan posisi yang sama, tangan kananannya menyentuh tangan kanan Krystal yang memegang sumpit, mengangkat tangan kanan Krystal menuju wajan penggorengan, “Bagaimana? Kau masih belum bisa memasak jika aku memelukmu dari belakang?”

Krystal hanya diam tidak bisa beraksi. Menggelengkan kepala seperti orang bodoh karena perlakuan Sehun. Dengan diam, Krystal memasak telur dadar. Dengan posisi yang masih sama. Tidak beberapa lama, tangan Krystal terulur, ingin mengambil piring yang masih berada di rak pencucian piring.

“Ini…” Tangan kekar Sehun dengan sigap mengambil piring bewarna putih duluan. Memberinya kepada Krystal.

Untuk kedua kalinya, Krystal tidak berkomentar apa-apa dan hanya mengangguk. Ia mematikan kompor dan menaruh telur dadar di piring yang telah diambilkan oleh Sehun. Pelukan Sehun terasa melonggar, Krystal berbalik menghadap Sehun.

Chu!

Dengan lembut dan penuh penekanan, Sehun mencium bibir Krystal. Lagi-lagi Krystal tidak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti alur yang Sehun buat. “Aku mencintai mu…” Ucap Sehun ketika ia melepaskan tautan bibirnya dengan Krystal.

Krystal hanya tersenyum lembut, Aku juga… Katanya dalam hati.

.

.

.

.

Donghae menatap perempuan di depannya dengan raut bingung, “Apakah saya mengenal Anda?”

Perempuan tadi juga menatap Donghae di raut bingung, “Tidak sepertinya. Saya Wendy Son.” Wendy membungkukan badannya.

Wendy Son?! Mantan pacaranya Sehun?! “Ah, sepertinya saya pernah mendengar tentang Anda. Saya Lee Donghae, dokter yang menangani Tifanny.” Donghae membalas bungkukan badan Wendy. “Mari saya antarkan ke kamar Tifanny…” Lanjut Donghae dan Wendy dari belakang mengikutinya.

Sebenarnya Donghae bukanlah seorang yang terlalu perduli dengan setiap orang yang datang menjenguk pasiennya. Tetapi perempuan yang mengikutinya dari belakang berbeda. Dia membawa sebuket bunga yang sangat besar. Bajunya juga sangat rapi, seperti ingin makan malam dengan orang penting daripada menjenguk orang sakit. Yang terakhir adalah permpuan tersebut mencari Tifanny, dimana ia menanyakan ke perawat baru yang tidak mengerti cara mengoperasikan komputer rumah sakit, dan perawat tersebut menuntun Wendy ke Donghae dimana dia langsung menyemburkan pertanyaan yang sama dengan percaya diri dan tanpa rasa malu. Akhirnya adalah reaksi Donghae, “Apakah saya mengenal Anda?”. Bukan bermaksud apa-apa, hanya aneh saja ada orang yang ingin menjenguk Tifanny tetapi Donghae tidak mengenalnya.

Cklek!

Donghae membukakan pintu kamar Tifanny. Wendy mengucapkan terimakasih kepada Donghae.

“Wendy-ah?! Kau menjenguk bibi?” Suara Tiffany terdengar riang dan antusias membuat Donghae yang tadi langsung ingin meninggalkan mereka mengurungkan niatnya.

“Oh, bibi… Apakah bibi baik-baik saja?” Wendy meletakan buket bunga di atas meja yang tidak terlalu jauh dari sofa. Kemudian ia berjalan ke arah Tifanny dan memeluknya.

Tiffany dengan senang membalas pelukan Wendy, “Iya, bibi baik-baik saja…. Sebenarnya sudah lebih baik…”

“Bibi membuatku sangat khawatir…”
Tiffany hanya bisa tertawa kecil dan melepaskan pelukan Wendy. Matanya kemudian menatap Donghae, “Wendy sayang, apakah kau sudah berkenalan dengan Dokter Lee Donghae?”

Donghae tersenyum ke arah Wendy, “Sudah. Tadi kami sudah berkenalan.”

Tiffany menganggukan kepalanya sambil tersenyum, “Tapi tidak ada salahnya jika aku mengenalkan kalian untuk kedua kalinya, kan?”

Donghae dan Wendy hanya bisa tertawa mendengar perkataan Tiffany.

“Perkenalkan ini Lee Donghae. Dokter terbaik pada bidang syaraf di Korea Selatan dan juga Paman Sehun.”

Wendy kembali membungkukan badannya dengan perasaan terkejut. Paman Sehun? Wendy selalu pikir jika Kang Seulong-ayahnya Seulgi adalah satu-satunya Paman Sehun.

“Dan Donghae, perkenalkan ini Wendy Son. Anak dari Ran Miran dan juga kekasihnya Sehun.”

Mata Donghae langsung terbelak. Tetapi cepat-cepat ia membungkukan badannya. Bukankah kekasih Sehun adalah Krystal Jung dan Wendy Son adalah mantan Sehun? Donghae pun kemudian berdehem, “Kurasa aku akan memberikan waktu untuk kalian berdua…” Kemudian Donghae langsung meninggalkan kamar Tiffany.

.

.

.

.

Donghae tidak bisa berpikir tenang selama sisa waktu pekerjaannya. Ia ingin sekali tetap di kamar Tiffany dan mendengarkan baik-baik apa yang Tiffany dan Wendy bicarakan. Semoga pikirannya tidak menjadi kenyataan. Apa ia harus mengundang Yoonah kemari agar Yoonah bisa ikut berbicara dengan Tiffany dan Wendy? Donghae yang hanya diam di ruang kerjanya langsung menggelengkan kepalanya. Ide buruk. Siwon akan kemari. Siwon sendiri yang berkata seperti itu jika hari ini, walaupun belum tahu jam berapa, ia akan kemari. Bagaimana jika Siwon datang ketika Yoonah sedang asyik-asyikanya mengobrol dengan Tiffany? Ia tidak ingin membuka luka Yoonah kembali. Wanita itu sudah bahagia.

Tok! Tok! Tok!

Donghae langsung terkesiap keras ketika seorang mengetuk pintunya. Ia berdehem, “Masuk!” Titahnya.

Seorang perawat ber-tag name Park Inha masuk, “Maaf menganggu Anda, Dokter Donghae. Ini sudah waktunya pengecheckan pasien Tiffany sekaligus pemberian obatnya.”

Donghae melihat jam yang terletak di ruangan kerjanya dan tersadar. Sudah satu setengah jam dia melamun di ruangan kerjanya. Ia kembali menatap perawat, “Terimakasih.”

Perawat tersebut membungkukan badannya sebelum menutup pintu ruangan kerja Donghae. Donghae bangun dari tempat duduknya dan menghela nafas. Saatnya meinggalkan masalah pribadinya.

.

.

.

.

Bukan sekali Wendy dibuat terkejut oleh fakta baru. Selama hampir dua jam disini, ia banyak dikejutkan oleh beberapa fakta baru.   Seperti Tiffany yang sudah mengetahui hubungan Sehun-Krystal. Juga, ucapan dari Tiffany yang benar-benar melambungkan harapannya.

“Apapun yang terjadi bibi akan mendukung dirimu dan Sehun.”

“Bibi….” Wendy menatap Tiffany tidak percaya, “Apa bibi yakin dengan apa yang bibi ucapkan?”

Mata Tiffany menerawang ke langit biru, tetapi suaranya terdengar yakin, “Aku yakin jika hanya dirimulah yang cocok buat Sehun.”

“Bibi….” Lagi-lagi, hanya itu yang bisa Wendy katakan.

“Kau tenang saja, Wendy-ah. Bibi akan selalu berada di samping mu. Mendukung hubungan kalian.” Kali ini, Tiffany menatap Wendy dan mengulum sebuah senyuman.

Senyuman Wendy mulai merekah, “Terimakasih bibi. Ini sangat berharga buatku…”

“Akulah yang seharusnya berterimakasih kepada mu.”

Wendy kembali terdiam. Bingung dengan perkataan Tiffany. Jika boleh jujur, semua yang Tiffany katakan membuat ia kebingungan. Terlalu abstrak. Acak. Penuh kejutan. Twisted. Tapi biarkanlah. Ini sebanding dengan apa yang Wendy harapkan.

Cklek!

Pintu kamar Tiffany terbuka. Dokter Donghae masuk dengan tenang. “Apa aku menganggu acara kalian?”

Wendy dan Tiffany sama-sama menggeleng.

“Baiklah. Aku hanya ingin melakukan pengecekan rutin dan memberi Tiffany,” Donghae terdiam sebentar, “Maksudku pasien Tiffany obat.”

Wendy hanya mengangguk. Handphone-nya yang tiba-tiba berdering menyentekan Wendy. Ia segera membuka hp-nya dan membaca sebuah pesan dari ibunya. Sebuah dengusan langsung terdengar.

“Bibi maafkan aku…” Kata Wendy lembut. “Tapi aku harus pergi sekarang. Oemma mengajak ku makan.”

Tiffany mengangguk lemah, “Titipkan salamku kepada Oemma-mu ya?”

Wendy mengangguk. Ia segera bangkit dari tempat tidurnya dan mengecup pipi kanan Tiffany, menyapa Donghae sejenak, dan menutup pintu ruangan ketika ia keluar.

Donghae menghela nafasnya, sedikit tersenyum kepada Tiffany. Ia berjalan ke arah Tiffany. Dia harus bersikap professional. Harus!

.TBC.

State of Grace (Chapter 17)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Tifanny mengaduk-ngaduk buburnya. Ia tidak nafsu makan. Terlalu banyak yang membuat pikirannya pusing. Termasuk bubur hambar satu ini. Ia berdecak kesal.

Trek~

Ia menoleh ke arah pintu dan langsung mendecak sebal, “Oh, datang menjenguk Mommy?” Desis Tifanny melihat ke arah Sehun.

Sehun menghela nafasnya. Ini baru permulaan tetapi rasanya ia ingin membuang muka dari ibunya. Rasa bencinya terhadap ibunya sudah sangat mendominasi saat ini.

“Itu bukannya pertanda bagus?” Sehun kemudian duduk di kursi dekat ranjang ibunya.

Tak!

Tifanny meletakan sendoknya dengan keras, “Hahahahaa lucu…”

Tiiit… Tiiit….

Sehun menoleh ketika detak jantung ibunya naik. Ia menghela nafasnya, “Dengar Mom, Sehun hanya ingin melihat keadaan Mom.”

“Kau menginginkan aku cepat mati bukan?”

Mom!” Sehun menatap Tifanny tajam. Ia memejamkan matanya, mencoba menenangkan dirinya, “Aku hanya khawatir dengan keadaan Mom. Okay? Dan aku mengakui jika aku salah…”

Tifanny menghela nafasnya bersamaan dengan detak jantungnya yang menurun, “Kau sepertinya sudah sadar akan hal itu. Jadi, kau sudah putus dengan Krystal?”

“Apa?!” Sehun kembali menatap Tifanny tajam. “Putus? Tunggu… Jangan pikir…” Sehun menghentikan omongannya sebelum menghela nafas panjang, “Astaga! Aku memang mengakui jika aku salah tetapi itu bukan berarti Mom juga tidak salah!”

“Apa? Bagaimana bisa aku salah? Aku ini hanya korban dari kekhawatiran akan anak satu-satunya yang sedang dipengaruhi oleh orang aneh. Aku juga jadi seperti ini karena shock mendengar anakku dikelilingi oleh orang yang tidak pantas.”

“Apa maksud Mom?” Tanya Sehun dengan setengah berteriak, “Tidak pantas? Siapa yang tidak pantas? Krystal? Atau Seojoon hyung?”

Prang!

“Cukup keluar!” Tifanny dan Sehun sama-sama tersentak ketika suara dingin Donghae terdengar. Rupanya Donghae telah berada di dalam kamar dan menatap mereka dengan tatapan marah.

“Aku tahu ini akan terjadi jika kalian dipertemukan. Sehun, apa yang telah ku sampaikan?”
Sehun menundukan kepalanya, “Aku tahu….”

“Keluar!” Perintah Donghae kepada Sehun.

“Tung-“ Tifanny terhenti ketika Donghae menatapnya tajam.

“Yang dirimu butuhkan saat ini adalah beristirahat sampai pulih!” Titah Donghae kepada Tifanny.

.

.

.

Krystal mencoba untuk memulai harinya seperti biasa. Mencoba bangun pagi dengan pikiran positif. Mencoba untuk berangkat kerja dengan pakaian terbaik. Mencoba untuk tidak terlambat ke gallery. Yang terakhir dan yang paling menegangkan, mencoba menginjakan kakinya ke gallery setelah apa yang terjadi kemarin malam. Setelah ia melihat reaksi Tifanny.

Persiapan untuk grand opening sudah mendekati 85%. Lukisan yang Krystal buat sudah selesai. Sudah dua minggu ini pekerjaan Krystal membantu teman-temannya yang lain. Mendekor gallery. Teman-temannya bercanda kepadanya jika ini hanya sementara karena menurut rumor yang beredar Krystal akan diangkat menjadi sekertaris kedua Tifanny. Krystal hanya menanggapi mereka dengan tersenyum. Ia tidak berani berharap.

Jam menunjukan pukul 12 siang, waktunya makan siang. Waktu istirahat makan siang cukup lama, yaitu sampai jam 2 siang. Krystal mengambil hp-nya dari loker. Ia sudah memutuskan akan mengirim sebuah pesan ke Sehun ketika istirahat. Menanyakan kabar lelaki itu. Bagaimanapun juga, Sehunlah yang menghadapi masalah terberat.

Kau baik-baik saja?

Tidak sampai satu menit, sebuah balasan masuk.

Semuanya berjalan baik-baik saja. Aku baru saja menyelesaikan pertemuanku dengan dosen ku.

Aku tidak menanyakan semua keadaan baik-baik saja. Aku menanyakan apakah kau baik-baik saja?

Aku akan makan siang.

Krystal merasakan nafasnya tercekat melihat balasan Sehun. Apakah Sehun mulai menjauhi dirinya? Ia menyandarkan punggungnya ke dinding loker.

Tolong jawab pertanyaan ku… Kau membuatku khawatir.

            Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir….

Sebuah helaan nafas keluar dari bibir mungil Krystal. Jari-jemarinya dengan lincah mengantarkan Krystal keluar dari chat room dan menekan nomor Sehun. Diam sejenak. Mencekam menunggu Sehun membalas teleponnya.

“Hallo…”

“Sehun!” Teriak Krystal ketika Sehun menganggkat teleponnya.

.

.

.

.

.

Tes~

Sebuah air mata jatuh. Dengan cepat jemari putih susu itu menghapus jejak-jejak air mata dari wajahnya. Ia berdehem.

Tes~

Air matanya kembali turun. Malah semakin deras. Ia menggeram. Ia tidak boleh terlihat lemah. Ia adalah pelindung gadis itu. Suara tangisan tak dapat ia tahan. Bersamaan dengan suara lembut yang terdengar di telinganya.

“Yang membuat diriku khawatir adalah kau menutup dirimu dari orang lain, termasuk diriku. Kau harus berbagi kesakitan mu Sehun. Percayalah, itu adalah satu-satunya cara melewati masa tersebut. Karena aku bisa melewati masa tersebut ketika aku melakukan hal itu. Melakukan hal tersebut bukan berarti dirimu lemah, itu menunjukan jika dirimu ingin melakukan sebuah perubahan. Ingin orang lain membantu mu dari masalah itu.”

Rasa nyaman mengalir dalam diri Sehun. Akhirnya, dia mempunyai seseorang sebagai tempat bersendernya. Seharusnya ia senang—- Nyatanya ia senang. Ia hanya tidak menyangka jika ia bisa merasakan hal itu.

“Aku mencintaimu…” Hanya itu yang kata yang terucap dari mulut Sehun. Ia mengatakannya di sela tangisan dia, dengan suara serak. Nafasnya sudah tercekat akibat tangisannya. Dengan lunglai, ia menjatuhkan dirinya untuk duduk di lantai dingin rumah sakit.

.

.

.

.

Donghae menghela nafasnya. Rasa sesak memenuhi dadanya melihat Sehun seperti itu. Dengan cepat, ia kembali melangkah menuju kantornya. Berusaha menghilangkan bayangan Sehun. Ini adalah hal yang sangat berat, bagi Sehun dan juga dirinya. Apalagi ketika mendengar semua cerita dari Seojoon. Dia tidak seharusnya masuk ke masalah ini.

“Paman!” Suara Seojoon membuat langkah Donghae terhenti.

Donghae menoleh ke sumber suara. Sebuah senyuman muncul, “Seojoon-ah!” Balas Donghae dengan suara bersahaja, “Ada apa datang ke kesini?”

Seojoon tersenyum kecil, “Aku ingin meminta sebuah bantuan ke paman.”

“Tentu saja bisa.”

Tertawa kecil terdengar, “Tapi aku ingin membicarakannya di tempat yang tidak umum.”

“Tentu. Mari kita bicarakan di ruanganku.”

.

.

.

.

Sehun mengkerutkan keningnya ketika mendapati Seojoon keluar dari ruangan Donghae. Apa yang dilakukan oleh kakaknya? Dengan cepat Sehun menghampiri Seojoon dan Donghae.

“Hyung!” Panggil Sehun tak jauh dari mereka.

Seojoon dan Donghae sama-sama terkejut. “Sehun-ah?!” Kata Seojoon tidak percaya melihat Sehun disini.

“Apa yang hyung lakukan disini?” Sehun langsung bertanya tanpa menghiraukan sapaan Seojoon.

“Seojoon memintaku untuk menjadi saksinya dalam pernikahannya.”
“Apa?!”

Seojoon menghela nafasnya. Masalah baru lagi. “Aku ingin memberi tahu mu ketika aku pulang. Tapi kau tahu apa yang terjadi… Awalnya aku ingin mengadakannya di Amerika.”

“Bagus!” Desis Sehun menatap Seojoon tajam.

“Aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun kepadamu…”
“Ya, aku mengerti!” Lanjut Sehun masih menatap Seojoon tajam.

Seojoon mengangkat kedua tangannya, “Dengar Sehun, aku ingin memperbaiki hubungan ku dengan mu tapi aku tidak tahu ingin mulai darimana. Jadi aku melakukan sebuah pendekatan, memulai lagi dari awal. Aku hanya memberi tahumu dengan pemikiran kau melihatku sudah mulai terbuka sehingga kau kembali lagi terbuka kepadaku. Jika aku menyuruhmu datang, pasti akan tegang dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”

“Tapi kenapa kau melakukannya disini?”

Sebuah helaan nafas keluar, “Sohye hamil. Orangtuanya menuntut pernikahan secepatnya. Penundaan kepulanganku ke Amerika menunda pernikahan kami. Jadi keluarganya memutuskan untuk mengadakan pernikahan di Korea saja.”

“Bagaimana bisa hyung mengadakan pernikahan dengan keluarga hyung yang seperti ini?”
“Sehun!” Terdengar teguran dari Donghae. Dokter itu menatap tajam Sehun.

“Sohye mengetahui tentang keluargaku. Seperti ku bilang sebelumnya, keluarganya menuntut pernikahan kami secepatnya. Tidak peduli harus seperti apa, yang terpenting adalah sebuah pernikahan.”

“Jadi kau hanya ingin mengadkan sebuah ucapan janji dan mendaftarkan pernikahan mu begitu? Tanpa pesta?”

“Iya. Itu dilakukan di kantor sipil. Aku butuh sebuah saksi.”

Sehun terlihat berpikir, “Jadikan aku sebagai saksi mu!”

Seojoon membulatkan matanya, merasa tidak menyangka dengan ucapan Sehun.

“Kau bilang kau ingin memperbaiki hubungan kita. Jika kau ingin memperbaikinya, kau harus mengikuti ku kedalam hal-hal penting dalam hidupmu.”

Hug!

Seojoon langsung menarik Sehun kedalam pelukannya, “Terimakasih…”

Sehun membalas pelukan Seojoon. Ia tersenyum, “Oh, hyung!” Kata Sehun tiba-tiba, “Kau harus mengadakan pesta kecil. Setidaknya sebuah makan malam dengan ku!”

.

.

.

.

“Hati-hati ketika ingin berjalan!”
Krystal hanya bisa mengucapkan permintaan maaf berkali-kali. Dia yang salah dalam hal ini. Menabrak seorang ibu-ibu di depannya dan menyebabkan dia harus menahan malu. Ini bukan yang pertama kalinya Krystal membuat kesalahan. Sejak dari kejadian Sehun menangis ketika ia menelepon Sehun, yang sebenarnya ia sangat jelas mendengarnya tetapi pura-pura tidak tahu, pikiran Krystal melayang kepada laki-laki itu. Membuat kesabaran Sekertaris Ahn diambang batas melihat tingkah lakunya. Konsekuensinya, ia disuruh istirahat oleh Sekertaris Ahn dan diizinkan masuk jika jika sudah siap kerja. Di stasiun kereta tadi saja ia tidak fokus hingga harus diteriaki oleh orang-orang agar cepat membayar tiket.

Hufhh~

Krystal menghela nafasnya. Fokus! Fokus! Fokus! Ucap Krystal kepada dirinya sendiri. Dengan cepat ia berjalan menyebrangi sebuah jalan raya. Jalan raya penghubung ke apartment-nya. Tangan Krystal langsung memasukan password apartment-nya.

“Kau tidak apa-apa?”

Krystal langsung menoleh dengan cepat. Terdiam beberapa saat ketika melihat siapa yang di depannya. Tidak mungkin! Tanpa Krystal sadari ia menggelengkan kepalanya.

“Hey, kau tidak apa-apa?”

Krystal mengerjapkan matanya. “Sehun!” Pekiknya langsung memeluk Sehun.

Sehun harus menahan dirinya agar tidak terjungkal akibat Krystal yang tiba-tiba melemparkan dirinya ke Sehun. Ia terkekeh kecil, “Ada apa hmm?” Tanyanya lembut.

Krystal melepaskan pelukannya, “Apakah kau baik-baik saja?”

Sehun menganggukan kepalanya, “Dan lapar.” Sehun kemudian mendekat ke arah Krystal, “Ingin membuatkanku sebuah makan sore menjelang malam?”

Krystal mendengus. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikan senyumannya, “Kau terlihat aneh!”

“Kenapa aneh?!”

Krystal hanya diam dan kembali melanjutkan aktifitas sebelumnya, membuka pintu apartment-nya. “Ayo masuk. Akan ku buatkan makanan…”

.TBC.

A/N:

Apa kabar semuanya??? 😬  Saya sendiri tidak baik-baik saja (?) #gak ada yang nanya.  Gak disangka-sangka State of Grace udah mau tamat…  And i can smell the ending …..  Tinggal tunggu beberapa chapter yang kira-kira (?) akan saya update dengan cepat (Karena ide lagi mengucur deras dan tangan gatal mau nulis) hinga ff ini tamat…  Well, tapi resikonya adalah Flipped akan kehambat 😔…  Mianhae untuk memberi tahu hal ini.  Tapi saya akan berusaha untuk meng-update Flipped disela-sela menamatkan State of Grace…  See you really soon guys 🤓

Flipped (Chapter 11)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Tiga Serangkai

Itu semua karena satu orang, mereka akhirnya kembali bersatu. Tetapi dalam diam. Hanya menampakan sebuah topeng. Kalut dalam rahasia terpendam. Orang itu, terlalu berharga untuk dihancurkan oleh suatu hal. Orang itu, seharusnya tidak pernah kembali lagi daripada tersakiti oleh hal-hal yang terjadi ketika ia pergi….

***

Krystal sudah menolak di buatkan teh, tetapi pada akhirnya secangkir teh hangat tersaji di depannya. Luhan yang membuatnya, bukan Sehun.

“Lucu bukan aku akhirnya tinggal satu apartment dengan Sehun?”

Krystal tersenyum kecil, “Lebih tepatnya mengejutkan.” Jawabnya jujur.

“Mengejutkan dan aneh aku bisa tinggal bersama Sehun.”

Krystal hanya terdiam. Oh, berbicara tentang Sehun, lelaki itu sedang di kamarnya. Entah apa yang ia katakan pada Luhan sehingga bisa lolos dari Luhan yang meninginkan ia juga ikut meminum teh bersama Krystal. Hal ini membuat Krystal dapat bernafas lebih lega. Setidaknya Sehun menjauh darinya.

Satu lagi, Chanyeol. Laki-laki yang lucu. Setidaknya itu yang Krystal pikirkan ketika Chanyeol memperkenalkan dirinya. Juga nyetrik. Chanyeol juga sedang berada di kamarnya. Mereka berdua-Chanyeol dan Sehun sibuk menyelesaikan proposal penelitian mereka yang deadline-nya sebentar lagi.

“Bagaimana jika kita makan malam di sekitar sini? Sekaligus mengetahui daerah ini?”

Pertanyaan Luhan kembali menyadarkan Krystal dari lamunannya, “Ide yang bagus. Ayo!”

“Aku akan mengajak Sehun juga. Dia pasti sudah mengetahui daerah sini!”

Krystal membulatkan matanya. Tidak! Ide buruk! “Kenapa harus dengan Sehun?”

“Kenapa?” Luhan menatap Krystal aneh.

“Ah…” Krystal sedikit bingung ingin menjawab apa. Dengan satu tarikan nafas, ia menjawab, “Sehun sedang mengerjakan proposal penelitiannya.”

Luhan menganggukan kepalanya, “Kau benar juga…” Ia kemudian tersenyum, “Kalau begitu kita berdua saja. Tunggu, aku akan mengganti bajuku.” Luhan berjalan menuju kamarnya.

Krystal bernafas lega. Ia kembali meminum tehnya.

Trek~

Luhan dan Krystal langsung menoleh ke asal suara, pintu kamar Sehun.

Dengan tenang, Sehun keluar dari kamarnya. Ia menggunakan jaket tebal bewarna hitam dipadu dengan celana jeans dan sepatu hitam. Sehun berhenti sejenak menatap Luhan dan Krystal bergantian.

“Kenapa dengan kalian?” Tanya Sehun masih menatap Luhan dan Krystal bergantian.

“Kau ingin keluar?” Bukannya menjawab, Luhan malah bertanya kepada Sehun.

“Aku ingin makan di luar. Bosan berada di kamar.”

Luhan tersenyum lebar mendengar jawaban Sehun, “Kau harus ikut aku dan Krystal makan malam!”

.

.

.

.

.

Luhan-Krystal-Sehun. Mereka adalah sahabat akrab ketika sekolah dasar. Tiga serangkai adalah nama yang mereka berikan kepada mereka sendiri. Awalnya, Krystal dan Sehun terlebih dahulu yang bersahabat. Berawal dari duduk sebangku, Krystal dan Sehun menjadi teman yang tidak terpisahkan. Ini berlangsung dari kelas 1 hingga kelas 2.

Pada kelas 3, Sehun dan Krystal tidak berada di kelas yang sama. Walau begitu mereka tetap berteman. Tidak sedekat dulu, ditambah mereka berdua telah menemukan dunia mereka masing-masing. Krystal menemukan dunia menulis dan bercita-cita menjadi seorang novelis. Sehun sedang asik-asiknya bermain basket. Mereka hanya bertemu ketika saat makan siang, saat pulang sekolah dimana Sehun selalu menemani Krystal hingga gadis tersebut di jemput, dan saat dimana mereka datang di pesta teman orangtua mereka.

Saat kelas 3 lah Luhan masuk ke kehidupan mereka. Sehun mengenalkan Luhan sebagai teman sebangkunya di sebuah acara teman orangtua mereka. Sejak saat itu Luhan bergabung ke Sehun dan Krystal. Saat makan siang, saat pulang sekolah, dan tentunya saat ada pesta teman orangtua dari masing-masing mereka.

Persahabatan mereka sangat unik. Dimana Sehun adalah ketua basket dan Luhan adalah ketua futsal. Kedua tim yang selalu bertengkar karena masing-masing ingin menjadi penyumbang piala terbanyak di sekolah. Kali ini, dibawah Sehun dan Luhan mereka bersatu. Ditambah Krystal yang sangat membuat iri para perempuan karena bisa dekat dengan dua emas sekolah, Sehun dan Luhan. Bagi para cowok pun, Sehun dan Luhan membuat mereka iri karena bisa selalu di dekat Krystal, perempuan dengan kepribadian riang dan mudah bergaul, tak lupa wajahnya yang rupawan dari kecil. Persahabatan yang sempurna bukan?

Sempurna tetapi tidak selamanya. Semuanya berubah sejak orangtua Luhan memutuskan untuk bercerai. Saat Luhan meninggalkan mereka karena mengikuti ayahnya di Amerika Serikat. Saat-saat dimana Krystal berharap Sehun tidak meninggalkannya, saat itu juga persahabatan mereka hancur karena perjodohan mereka. Saat itulah tiga serangkai menjadi mati.

.

.

.

.

Hanya terdengar dua suara dari tiga orang yang sedang menunggu pesanan ramyun mereka. Luhan dan Krystal. Sehun hanya menatap kedua orang di depannya, sesekali tersenyum, selebihnya diam memainkan handphone-nya.

“Kau dulu memang pendiam tetapi setidaknya masih memperhatikan lingkungan sekitar.” Komentar Luhan kepada Sehun.

Sehun menurunkan handphone-nya dan menatap Luhan, “Semuanya sekarang terdapat pada handphone…”

Luhan mendecakan lidahnya, “Lucu.”

“Hahaha…” Sehun membuat suara ketawa dengan muka datar. Seakan menantang perkataan ‘lucu’ Luhan.

Krystal sedari tadi hanya berbicara kepada Luhan. Hampir tidak pernah melihat ke arah Sehun. Gugup? Atau tidak menyangka ingin bertemu? Entahlah. Tetapi karena melihat tingkah Sehun tadi, ia yang sedang minum tersedak ingin ketawa.

“Dasar receh!” Cibir Sehun.

Kemudian Luhan ikut tertawa. Mengetawai receh nya Krystal yang sedari dulu selalu tertawa karena hal kecil. Melihat kejadian tersebut, perasaan hangat menyusup ke hati Sehun. Sehun ikut terkekeh kecil.

“Pesanan anda…” Seorang pelayan datang membawa tiga mangkuk ramyun.

Krystal langsung mengambil sumpit dan mengaduk ramyunnya. Kemudian ia membelah dua telur rebus.

Grab~

Krystal yang ingin makan terhenti, menatap kuning telurnya yang diambil. Dibawa menuju mangkuk di depannya. Sedangkan Sehun, yang berada di depan Krystal menatap Krystal datar sebelum menghentikan kegiatan mengaduknya. Bagaimana Sehun bisa melakukan kebiasaannya ketika SD? Mengambil kuning telur Krystal otomatis ketika gadis tersebut membagi dua telur rebusnya.

Krystal terdiam sejenak. Begitupula Sehun yang kemudian langsung mengubah kembali tatapannya ke mode datar, “Bagi…”

Ck, kau selalu mengambil dahulu baru meminta.” Kata Luhan yang sudah memakan ramyunnya. Seakaan tidak memiliki kecurigaan dengan kesunyian yang tadi Sehun dan Krystal buat. Seakan-akan itu bukanlah hal yang penting. Setidaknya bukan bagi Luhan karena ia tidak mengetahui apapun tentang mereka.

Tidak ada lagi pembicaraan karena Sehun dan Krystal memutuskan untuk makan dalam diam.

.

.

.

.

.

Perempuan bersurai cokelat menunjuk seorang pemuda sebelum teman di samping kirinya memukul kepalanya. Membuat ia meringis kesakitan dan mulai berbisik-bisik kembali kepada kedua temannya.

Bukannya ia terlalu percaya diri, tetapi Sehun sangat yakin jika perempuan-perempuan tadi menunjuk dirinya. Karena apa? Karena ia mengenal wajah familiar mereka dari flat-nya. Mungkin…. Mungkin mereka sedang berbisik-bisik kenapa Sehun bisa bersabar jalan bersama dua manusia yang aneh di sampingnya.

Sejak dari kedai ramyun hingga hampir sampai di flat Luhan dan Krystal tidak pernah berhenti tertawa. Karena lucu pada awalnya, tetapi tidak juga terus ketawa sepanjang jalan.

“Lihatlah…” Krystal menunjuk Sehun, “Sehun sama sekali tidak mengerti….”

Tawa Luhan dan Krystal kembali meledak. Sedangkan Sehun kembali menghela nafas, “Ayolah… Sampai kapan kalian tertawa?” Gerutu Sehun kesal.

“Sehun kesal… Sehun kesal…”

Suara tertawa masih terdengar hingga mereka benar-benar sampai di depan flat. Krystal menarik nafasnya yang sangat tipis. Paru-paru meringis kesakitan. Tentunya tenggorokannya sangat kering. Luhan hampir sama, tetapi ia sambil melihat handphone-nya. Luhan kemudian mendekatkan handphone-nya ke telinga, “Appa dimana?”

Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, “Hah? Di belakang?”

Mendengar kata tersebut, Sehun, Krystal, dan Luhan segera berbalik.

Samchon!” Sapa Krystal riang menyambut Appa Luhan yang datang ke arah mereka menggunakan tongkat kayu. Sehun membungkukan badannya.

Appa Luhan membungkukan badannya.

Luhan, berjalan mendekat ke Appa-nya, “Appa sudah lama menunggu? Kenapa tidak telepon terlebih dahulu jika sudah sampai?”

Appa menelepon mu.”

Mendengar jawaban pendek Appa-nya Luhan menepuk pelan jidadnya, “Aku men-silence hp ku!”

“Aku pulang dulu ya…” Suara Krystal menginterupsi Luhan dan Appa-nya, “Samchon, aku pulang duluan ya… Sudah malam.” Tak lupa, ia menampilkan senyuman andalannya.

“Aku…” Luhan terlihat ragu. Memilih antara Appa atau Krystal, “Naiklah sebentar. Appa hanya sebentar setelah itu aku akan mengantar mu.”

“Tidak usah! Appa mu sudah menunggu sejak lama. Lagipula ini masih belum larut, bus masih ada.”

“Sebentar saja. Setelah itu aku akan mengantarmu ke halte.”

“Sehun saja yang mengantarku..” ; “Aku saja!”

Krystal dan Sehun sama-sama tersentak ketika kalimat itu mereka dengar. Sekuat tenaga mereka tidak saling menatap satu sama lain dan tetap melihat Luhan.

Luhan menganggukan kepalanya ragu, “Baiklah. Sampai jumpa lagi Krys….”

Krystal membalas lambaian kecil Luhan. Tak lupa membungkukan badan ke arah Appa Luhan yang di balas dengan anggukan kepala. Mereka masih mematung hingga sosok Luhan hilang dari balik pintu. Sehun berdehem, “Ayo…. Bus terakhir jam Sembilan malam, lima belas menit lagi.”

.TBC.

Note: Mungkin ini update -an terkahir di bulan January… Hehehe (?) Who Knows… #update lagi cepet #tapi gak tau besom #maafkan saya yang nulis tergantung mood

 

Flipped (Chapter 10)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Benang Merah yang Tak Pernah Putus

Krystal berhenti sejenak sambil menatap laptopnya.  Sebuah pertanyaan yang tidak terduga dan dari orang yang juga tak terduga.

***

Brak!
“Aaahhhh…..” Sehun meringis ketika Chanyeol melempar proposal penelitian setebal 50 halaman. “Park Chanyeol!” Geram Sehun dengan tatapan marah.

Bukannya meminta maaf, Chanyeol berbicara dengan suara yang lumayan kencang, “Bangun!!!! Hari ini bagian dirimu yang membeli sarapan!”
Sehun meringis. Pertama, karena kepalanya yang berdenyut. Kedua, karena ia tidak pernah menyangka harus tinggal selama dua tahun ini menghadapi Chanyeol, yang notabane-nya lebih cerewet daripada ibunya.

Dengan malas Sehun bangun. Tidak gosok gigi atau mencuci muka, ia mengambil coat-nya. Memakainya untuk menutup baju tidurnya.

“Setidaknya pakailah baju yang benar. Kau tidak takut sakit akibat angin musim gugur yang semakin dingin?”

“Yang penting aku mau membelinya.” Jawab Sehun. Cuek.

Sepanjang jalan keluar dari flat banyak yang menyapanya. Rata-rata adalah mahasiswi yang juga tinggal di flat mereka. Hanya dirinya, Chanyeol dan Jongdae yang mahasiswa. Tapi sekarang Jongdae sudah pindah, menyisakan satu kamar kosong.

Flat yang ia tempati dekat dengan kampusnya. Hanya satu kali naik bus. Banyak minimarket dan restaurant. Dan tentunya wifi dimana-mana. Membuat segalanya menjadi hemat.

Sudah dua tahun ini dia tinggal di Flat. Karena retaknya hubungan dia dan orangtuanya. Kedua terlihat sangat kecewa karena mereka berdua yakin Sehun ikut andil atau setidaknya tahu rencana malam itu.   Setelah hampir tiga bulan lamanya dia dan kedua orangtuanya saling diam, Sehun akhirnya memutuskan untuk pindah dari rumahnya. Menyewa flat yang sekarang ia tempati dengan Chanyeol dan Jongdae. Bahkan ia tidak pernah menerima uang saku dari kedua orangtuanya. Orantuanya hanya membayar uang kuliah.

Perlu dia akui jika tinggal di rumahnya jauh sangat-sangat-sangat nyaman daripada di flat. Apalagi dengan atap yang selalu bocor setiap hujan. Angin yang selalu menerobos karena jendala yang rusak. Jangan lupa, perjanjian konyol dirinya dan Chanyeol tentang pembagian tugas dirumah, yang entah mengapa ia setujui membuatnya sangat malas. Siapa yang menyangka jika Chanyeol orangnya sangat bersih? Sehingga mewajibkan seluruh orang yang tinggal di flat menyapu, mengepel, menyikat kamar mandi. Ia bahkan membuat jadwal piket. Barang siapa yang tidak melakukannya…. Buku atau teriakan kencang akan tersaji.

“Seperti biasa bukan?”
Sehun mengangguk. Ia langsung memberikan sejumlah uang kepada Bibi Koo, salah satu pemilik kedai makanan yang selalu menjual roti bakar setiap paginya.

“Kemana teman flat mu yang sangat manis itu? Aku tidak melihatnya beberapa minggu ini.”

Sehun tersenyum kecil mendengarnya. Pasti Jongdae. Ia mengenal beberapa panggilan kedua temannya di lingkungan ini. Chanyeol si cowok hiperaktif. Jongdae si manis. Sedangkan dia? Mungkin, Sehun si datar.

“Jongdae pindah. Dia tinggal bersama kakak perempuannya sekarang.”

“Sayang sekali…” Kata Bibi Koo dengan raut yang benar-benar sedih. Dia kemudian memberikan makanan yang dipesan dan uang kembalian.

“Terimakasih Bibi Koo.” Sehun membungkukan badannya sebelum pergi menjauhi kedai.

.

.

.

.

Sehun sudah agak segaran. Wajahnya tidak lagi seperti baru bangun tidur. Dia sudah mandi. Ia segera duduk di sofa yang terletak di tengah-tengah dari kamarnya, kamar Chanyeol, dan kamar Jongdae-dulunya. Mengambil rotinya. Kemudian melahapnya sambil melihat tv dengan Chanyeol.

Penampilan Chanyeol lebih rapi daripada Sehun. Sehun sudah mengetahui mengapa Chanyeol seperti itu. Chanyeol selalu mengunjungi orangtuanya setiap hari Sabtu. Menginap selama satu hari dan pada hari minggunya ia kembali ke flat-nya. Sebuah hal yang tidak pernah ia lakukan semenjak keluar dari rumahnya.

“Kau tidak kemana-manakan?”
Sehun menjawab pertanyaan Chanyeol dengan mengangguk.
“Bagus. Ada orang yang ingin melihat kamar Jongdae. Tolong urus dia.”

Sehun kini menatap Chanyeol, “Penyewa baru?” Tanya Sehun dengan antusias. Okay, ini adalah berita yang sangat bagus. Dengan tidak adanya Jongdae, dia dan Chanyeol membagi dua biaya sewa mereka dan itu hampir membuatnya putus asa. Harus menyesuaikan kondisi keuangannya.

Chanyeol mengangkat bahunya, “Belum tahu. Dia bilang jika ingin melihat terlebih dahulu. Menurutku sih, itu adalah hal yang sangat lumrah. Jadi urusin dia ya? Perlakukan ia dengan baik-“

“Ya, ya, ya.” Potong Sehun malas. Malas mendengarkan rentetan kalimat Chanyeol yang sangat panjang. Terlalu cerewet, gumam Sehun di dalam hatinya. Sehun kemudian berdehem, “Serahkan saja padaku.”

.

.

.

.

Krystal terhenti sejenak sambil menatap laptopnya. Sebuah pertanyaan yang tidak diduga-duga dan dari orang yang juga tak terduga.

“Bagaimana kabar Sehun juga? Kau tetap berhubungan bukan dengannya?”

Ia menghela nafas. Kemudian memberengut. Kenapa pula Sehun harus disebut-sebut? Setelah menimang-nimang sejenak, ia membalas email dari sahabat kecilnya.

“Kami sibuk dengan urusan kami masing-masing.”

Jarinya langsung menekan tanda sent dengan tenaga yang lebih kuat dari seharusnya. Tentunya tanpa ia sadari.

Krek~

Kali ini bukan sebuah email yang masuk melainkan bibi Kwon yang masuk. Bibi Kwon mengeluarkan sebuah senyum simpul. Terukir manis di balik garis wajah yang sudah tua. Meletakan sebuah nampan berisi makanan. Kemudian kembali keluar.

Krystal menoleh sedikit, menatap makanan apa yang di antar. Ia menghela nafas melihat makanan tersebut. Sup Ayam. Kenapa harus itu? Sup? Ayolah…. Dia bukanlah seorang yang sedang sakit.

Mungkin jika melihat seorang mengantarkan makanan kepadanya, ke kamarnya, juga makanan tersebut adalah Sup Ayam, sebagian besar mengira jika Krystal sedang sakit. Tetapi dia tidak sakit. Itu adalah peraturan di rumahnya. Peraturan tidak tertulis sejak kejadian sekitar dua tahun itu. Mungkin kedua orangtuanya terlalu kecewa kepadanya hingga melakukan hal ini. Mereka tidak pernah lagi berbicara. Ah, jangankan berbicara, bertatap muka lagipun tidak pernah. Semua perlengkapannya dikirim ke kamarnya. Termasuk makan pagi, siang, dan malam. Kehidupannya berjalan di sekolah dan kamarnya saja.

Tring!

Krystal tersentak dari lamunannya. Ia masih saja mengingat hubungan dirinya dengan kedua orangtuanya. Walaupun sudah ratusan kali atau bahkan ribuan, tetap saja dia merasa tersakiti dengan fakta tersebut.

Krystal kembali menatap laptopnya. Ia membuka pesan dari sahabatnya.

“Benarkah? Kurasa dunia perkuliahan memang sangat sibuk. Dimana kau kuliah? Oh, ya aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan dirimu lagi.”

Dengan cepat dia membalas,

“Aku juga tidak sabar untuk bertemu dengan dirimu lagi. Kapan dirimu sampai di Korea?”

Lagi-lagi ia memencet tombol kirim. Krystal berbalik, mengambil makan siangnya dan memakannya di depan laptopnya. Setelah 20 detik, sebuah email masuk.

“Hari ini. Aku sedang berada di dalam pesawat. Tapi kita mungkin baru bisa bertemu lusa atau minggu depan. Setelah aku menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah.”

“Astaga! Kau tadi berkata seakan-akan baru pulang minggu depan 😀 Hahahahaha … Tenang saja tentang kita bertemu. Yang penting dirimu merasa nyaman kembali di sini.”

“Aku merindukanmu Krystal.”

“Aku juga”

Setelah 15 menit tidak ada balasan lagi, Krystal keluar dari email-nya. Mematikan laptopnya. Kembali menyantap mangkuk berisi sup ayam yang hangat.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Hiks….. Hiks…. Hiks…” Krystal kembali menghapus airmatanya.

Kenapa dia harus menangis? Dia juga tidak tahu. Dia hanya bertemu dengan ibunya Sehun. Kenapa semuanya terasa menyakitkan?

Tring!

Krystal mengambil hp-nya yang ada di atas meja. Sms dari Luhan.

Kau mengecewakanku Krys~

Helaan nafas keluar. Luhan memang seseorang yang baik. Ditambah tampangnya yang sangat imut. Tetapi ia paling tidak suka dikhianati. Bahkan seseorang yang membatalkan janjinya saja ia sangat tidak suka. Intinya, sekali dirimu berbicara sesuatu maka harus ditepati.

Maaf… Ini benar-benar keadaan darurat. Ku harap kau bisa mengerti.

Krystal menekan tombol send. Hanya tiga detik, sebuah balasan masuk,

Aku mengerti…. Tetapi tetap saja, kau mengecewakanku.

Krystal mendecak sebal. Ya, ampun…. Apa tidak ada yang benar-benar mengerti dirinya? Menuntut dan menuntut! Dengan kesal, Krystal membalas pesan Luhan,

Kalau dirimu mengerti setidaknya dirimu tidak akan mengatakan kecewa kepadaku! Kau seharusnya mengatakan, ‘Tidak apa-apa, Krys.. Ini bukan masalah penting’.

Send~

Tidak lama kemudian, Krystal kembali mendecak. Kesal, terhadap dirinya sendiri yang terlalu terbawa emosi. Luhan memang seperti itu, seharusnya ia mengerti.

Luhan….

Krystal mengirim pesan baru. Berharap Luhan membalasnya, walau ia yakin Luhan akan menyapanya beberapa hari kemudian.

Luhan….

Krystal kembali mengirim pesan 10 menit kemudian.

Luhan….

Pesan ketiga terkirim. Setelah limabelas menit berlalu, Krystal menutup harapan jika Luhan akan membalas pesannya.

Tring~

Krystal tersentak. Dengan penuh harap, ia membuka pesan yang masuk dari Luhan.

Temui aku di apartment ku… Kau harus menjemputku sebelum kita pergi bersama, mengerti?

Krystal tersenyum lega. Tanpa maaf ia tahu, Luhan telah memaafkannya.

.

.

.

.

Hufh~

Sebuah uap keluar dari mulut Krystal. Ia mengeluarkan lipbalm dari kantong jaketnya, menempelkannya di bibirnya yang kering. Setelah selesai, ia menaruhnya kembali dan mengambil handphone-nya. Yang juga berada di dalam kantong jaketnya. Mengecek nomor yang tertera di sebuah gedung dengan yang ada di pesan Luhan. Sama. Krystal melihat gedung dengan seksama, terlalu sederhana untuk di tempati oleh anak seperti Luhan, yang notabane-nya anak orang kaya.

“Hahahahaha…. Ia kelihatan sangat culun bukan?”

“Ini apartment-mu?”

“Eum, benar!”
Krystal menoleh ke arah dua perempuan yang sedang berjalan ke arahnya. Sebuah ide pun muncul. Sebuah senyuman terukir dari bibirnya. Kedua perempuan tidak menyadari keadaan Krystal. Salah seorang dari mereka, yang memakai jaket hitam mengeluarkan kunci dan membuka pintu. Saat mereka berdua masuk, Krystal diam-diam menahan pintunya dan juga ikut masuk.

“Astaga!” Krystal tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebuah tangga yang…. Errr… Dia tidak bisa membayangkan untuk menge-check setiap kamar untuk mengetahui kamar Luhan di setiap lantai dengan tangga seperti ini.

“Lantai lima bukan?”

Lagi-lagi Krystal menoleh dan mendapati dua orang perempuan masuk. Ia menarik sudut bibirnya. Sebuah ide muncul.

“Permisi…” Sapa Krystal kepada dua orang perempuan yang baru saja masuk. “Sahabatku berada disini. Namanya Luhan, ia baru saja pindah ke sini. Tadi dia mengizinkan ku masuk tapi lupa memberi tahu letak kamarnya. Ia bilang cari saja sendiri nanti juga ketemu. Tapi aku tidak yakin, aku selalu tersesat. Bisakah kalian menunjukannya pada ku?” Krystal mengulas senyumannya di akhir kalimat. Memberi polesan terakhir untuk aktingnya yang apik.

“Luhan…” Perempuan yang membawa buku terlihat berpikir, “Aku tidak pernah mendengarnya. Apakah dia laki-laki?”

Krystal merasa aneh, tetapi ia hanya mengangguk pelan.
“Hey, kudengar ada yang baru saja menggantikan Jongdae. Mungkin itu dia?”

Perempuan yang pertama kali bicara menghadap temannya, “Oh, benarkah? Aku tidak mengetahui hal itu.” Ia kemudian menoleh ke arah Krystal, “Kalau begitu kamar 309. Di lantai tiga. Nanti dari tangga belok ke kiri. Kamarnya tidak jauh dari tangga tersebut. Letaknya di bagian kanan.”

Krystal mengucapkan terimakasih kepada dua orang tersebut. Bersama-sama, mereka menaiki tangga. Tetapi Krystal membiarkan mereka berdua lewat. Ia tidak yakin tangga kuat menopang tiga orang karena, dua orang saja tangga terasa goyang. Ia bersandar di dinding menahan rasa takut.

Saat ia rasa tangga tidak terlalu goyang, Krystal mulai melangkah. Cepat tetapi tidak sampai membuat tangga bergoyang. Dia selalu berdoa agar tidak jatuh setiap kali beberapa perempuan terburu-buru melewati tangga mengerikan ini.

Tap!

Krystal bernafas lega ketika sudah sampai di lantai tiga. Mengikuti petunjuk dari dua orang tadi, Krystal dengan mudah menemukan kamar Luhan. Sesuai dikatakan perempuan tadi, belok kiri dari tangga, tidak jauh dari situ kamarnya di sebelah kanan. Dengan yakin Krystal mengetok pintu kamarnya.

Tok~ Tok~ Tok~

Ketuk Krystal untuk kedua kalinya.

Trek~

Pintu terbuka. Krystal langsung memasang senyum lebarnya.

“Krystal?!”

“Sehun…” Ucap Krystal lirih. “Apa yang kau lakukan di flat milik Luhan?”

Sehun sedikit terkejut. “Ini juga flat-ku.”

Krystal terdiam. Menundukan kepalanya. Kemudian menghela nafas, “Aku ingin bertemu dengan Luhan.”

Sehun menganggukan kepalanya, “Luhan tadi pergi bersama Chanyeol. Masuklah. Tunggu sebentar di dalam. Kau tidak mungkin menunggu di luar bukan?”

Krystal menelan ludahnya. Ide yang buruk. Sangat buruk. Apa yang Sehun lakukan? Dia kira semua keadaan sudah baik-baik saja?

“Aku tidak ada maksud lebih apalagi menganggap semua keadaan baik-baik saja. Aku hanya menawarkan dirimu masuk ke flat agar tidak kedinginan di luar. Itupun kalau dirimu mau.”

Krystal masih diam. Hanya menatap Sehun.
“Kau terlalu banyak berpikir. Baiklah akan ku tutup.” Sehun kemudian mundur dari pintu. Tangan kanannya mendorong untuk menutup pintu.

“Tunggu! Aku masuk!”

Krystal langsung mendorong pintu.

Deg!

Krystal sangat terkejut ketika tangan Sehun tiba-tiba mencegat dirinya di depan pintu. “Kamar ini sangat berantakan. Jangan protes.” Sehun langsung berbalik dan membiarkan Krystal masuk, juga menutup pintunya.

“Hah?!”

Sehun mencebik, “Bukannya sudah ku bilang jangan protes?”

Krystal kembali menatap Sehun dan tidak bisa berkata apa-apa. “Ini… Dimana aku bisa duduk?” Tanya Krystal sambil melihat tumpukan kertas di mana-mana. Termasuk di sofa.

“Duduklah di ruang makan.” Jawab Sehun cuek. “Kau perlu aku buatkan teh? Jika tidak, aku akan masuk ke kamarku.”

Krystal hanya menggeleng lemah.

.TBC.

State of Grace (Chapter 16)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Seojoon terpaksa membatalkan kepulangannya ke Amerika. Menunda sampai waktu yang tidak di tentukan. Sampai ia melihat ibunya tersadar dan Sehun baik-baik saja.

Krystal sendiri masih menemani Sehun di rumah sakit, tentunya bersama Seojoon. Sehun terlihat linglung, tetapi dokter yang memeriksanya mengatakan jika keadaannya baik-baik saja. Sehun hanya butuh beristirahat.

Tifanny beda cerita. Ia masih tidak sadarkan diri. Dokter berkata jika dia mengalami kelelahan akibat stress yang berlebihan. Tifanny memang kelihatan kuat dari luar, tetapi dia rapuh dari dalam. Saat ini harapan terbesarnya adalah menunggu Tifanny sadar dengan sendirinya. Tindakan lebih lanjut akan dilakukan jika besok pagi ia belum sadar.

“Pulanglah.” Kata Sehun kepada Krystal. “Kau pasti lelah. Aku seharusnya tidak membawa dirimu ke dalam hal ini.”

Krystal tersenyum lemah, “Tidak apa-apa.” Katanya pendek. Bingung ingin mengatakan apa. Ia sangat ingin menamani Sehun tetapi keadaan tidak memungkinkan. Bagaimana jika ayah Sehun yang tiba-tiba datang? Atau reaksi pertama Tifanny ketika sudah bangun?”

“Aku akan mengantarnya.” Seojoon berkata tiba-tiba. Ia menatap Sehun, meminta kepercayaan.

Dengan pelan Sehun mengangguk, “Baiklah. Kita akan berbicara lagi nanti.”
Seojoon mengangguk, “Hubungi saja diriku. Dan yang pasti aku akan berpindah hotel.”
Sehun kembali mengangguk. Ia menatap Krystal, “Pulang dan istirahatlah.”

Krystal hanya bisa mengangguk.

.

.

.

.

.

Aroma kopi yang pekat membuat Krystal sedikit pusing. Ia tidak menyukai kopi. Dengan pelan, ia meminum hot chocolate nya. Seojoon yang didepannya sedang asik memakan cheese cake.

Krystal menguap karena sudah mengantuk. Hari ini memang hari yang melelahkan. Seharusnya ia langsung pulang saja tidak menyetujui permintaan Seojoon yang mengajaknya meminum kopi. Tetapi, nada suara Seojoon terdengar begitu serius hingga ia tidak bisa menolak.

Seojoon berdehem membuat Krystal membenarkan posisi duduknya. “Maaf sebelumnya jika harus membuat dirimu terlibat dengan hal ini sangat dalam. Hal ini sangat sensitive.” Berhenti sejenak, Seojoon mulai berbicara kembali, “Kau sudah mendengar hal tadi jadi sepertinya aku tidak perlu menjelaskan banyak hal. Hanya beberapa. Diantaranya keluargaku bukanlah keluarga yang sempurna. Bahkan jauh dikatakan dari sempurna. Yang kedua, aku adalah kakak kandung Sehun, mau kau percayai atau tidak.”

Krystal hanya menganggukan kepalanya.

“Aku tidak ada maksud apa-apa denganmu. Aku tidak akan men-judge mu. Aku hanya ingin mengenal dirimu lebih lanjut.”

“Kenapa?”
Seojoon menatap Krystal dalam, “Karena Sehun mempercayaimu. Itu sangat terlihat dari tatapan matanya. Dan yang terpenting kau juga percaya kepadanya. Aku bisa melihat itu dari segala tindakanmu.”

Krystal menghela nafasnya. Dari mana dia harus cerita? “Tidak banyak tentang diriku.”

Seojoon tersenyum kecil, “Baiklah. Bagaimana jika aku saja yang bercerita lebih dahulu. Ada yang ingin kau tanyakan?”

Krystal terdiam sejenak, kemudian mengangguk pelan, “Jinri. Aku ingin mengetahui tentang Jinri.”

“Jinri adalah adik kecil kami, aku dan Sehun. Dia yang paling muda diantara kami. Meningga karena tenggelam di danau tempat kami biasa rekreasi. Hal itu menimbulkan luka yang dalam. Ditambah dengan diriku yang disitu ketika ia ditemukan meninggal dengan hanya melihat ke arah kolam. Mommy bahkana tidak ingin melihatku lagi dan mengirimkan diriku ke Amerika. Tinggal bersama tante ku disana.”

“Dan kehidupanmu di Amerika?”

“Baik. Tanteku bahkan mengajak diriku ke psikolog. Itulah ketertarikan awalku kepada dunia psikolog dan karena itu mengambil jurusan psikolog ketika kuliah.”

Krystal mengangguk. “Kenapa kembali ke Korea?” Krystal kemudian tersentak, “Tunggu. Aku minta maaf. Itu terlalu lancang.”

Seojoon mengangkat kedua tangannya. Ia merasa sangat tenang dan tersenyum kecil, “Tidak apa-apa. Justru ini adalah hal yang paling ingin ku katakan kepada keluargaku. Tapi kau tahu… Bagaimana kondisinya. Well, aku akan menikah. Jadi aku perlu mengurus beberapa hal disini agar bisa menikah di Amerika. Kau tahu, ini mungkin aneh, ingin membangun sebuah keluarga baru.”
Krystal mengangkat kedua bahunya, “Well, tidak juga. Aku yakin kau pasti akan jadi ayah yang hebat. Walau tidak bersama keluarga intimu tetapi keluargamu di Amerika sangat baik kepadamu. Mereka pasti memberikan contoh yang sangat baik kepadamu juga.”
“Kau tidak tinggal bersama kedua orangtuamu?”

“Hah?!” Krystal menaikan kedua alisnya mendengar pertanyaan Seojoon.

Seojoon mengangkat kedua tangannya, “Maaf. Ini karena kerjaku sebagai psikolog yang mengorek hal yang tidak di inginkan orang. Tapi maaf lagi karena aku harus bertanya tentang hal ini.”

“Aku tinggal bersama orangtuaku.”

“Tapi bukan orangtua kandungmu bukan?”

Krystal menggigit bibirnya, “Aku tidak terlalu suka membahas kedua orangtua kandungku atau apapun yang menyangkut kedua orangtua.”

“Orangtua mu meninggalkanmu?”

Hufh… Dengan perlahan Krystal menganggukan kepalanya, “Yang pertama ayahku yang meninggalkan aku dan ibuku. Kemudian ibuku yang meninggalkanku di panti asuhan.”

“Dan orangtua angkatmu?”

“Mereka baik. Dari segi ekonomi kurang tetapi mereka berusaha mewujudkan impianku. Sekarang mereka tinggal di Tokyo karena beberapa hal. Meninggalkanku dengan saudara angkatku, Amber.”

“Kau juga takut dengan ibuku?”
Krystal menahan nafasnya, “Itu karena latar belakangku.”

“Kau takut ibuku tidak setuju?”

“Aku hanyalah karyawan darinya. Tentu tidak sebanding apa-apa dengan Sehun. Ya, jadi itu mengkhawatirkan ku. Tapi bukan itu yang paling mengkhawatirkanku…” Krystal mulai melihat jari-jarinya. Dengan pelan, dia menyusuri retakan meja dengan ujung telunjuknya, “Aku takut pendapat keluarga Sehun atau orang yang mengenal Sehun kepadaku. Aku takut akan pendapat mereka yang mengaggap diriku mendekati Sehun untuk pekerjaanku. Padahal…. Padahal aku bertemunya sebelum mendapat pekerjaanku bersama Tifanny Sangjanim.” Krystal menghela nafas panjang, ia menggigit bibirnya, “Dan aku takut aku tidak bisa bertahan di sampingnya menghadapi cemoohan dari mereka….”

Seojoon diam, menikmati cangkir kopinya.

Krystal perlahan-lahan tersenyum, “Ini adalah yang pertama kalinya aku membicarakan hal ini. Rasanya lebih tenang.”

“Itu gunanya psikolog.” Seojoon mengangkat kedua bahunya.

“Tapi kita disini bukan untuk sebuah sesi.”

“Anggap saja sebuah acara perkenalan dan sesi.” Seojoon kemudian meminum kembali kopinya, “Kau bilang kau bertemu dengannya sebelum bekerja dengan ibuku. Bisakah kau menceritakan hal tersebut?”

“Ceritanya panjang.”

Seojoon tersenyum kecil, “Percayalah padaku, seberapa panjang ceritamu, aku sudah mendengar cerita yang lebih panjang. Aku akan bersabar mendengar cerita mu dari awal sampai akhir.”

“Baiklah….”

.

.

.

.

.

Sehun terbangun ketika sebuah tangan menepuk pundaknya. Ia menatap orang tersebut dengan wajah mengantuk sebelum mengeluarkan senyum kecilnya.

“Paman…” Sahut Sehun kecil.

Paman atau Lee Donghae, salah satu dokter yang menangani Tifanny juga tersenyum kecil. Ia kemudian duduk di samping Sehun membawakan secangkir teh.

“Hari yang berat?” Tanya Donghae sambil mengulurkan secangkir teh hangat ke Sehun.

Sehun menerima teh terebut dan langsung meminumnya, “Lebih berat hari esok.”

Donghae tersenyum kecil mengerti apa yang Sehun katakan. Pasti akan lebih susah ketika Tifanny tersadar daripada sekarang.

Oemma-mu sangat tertekan hingga ia seperti ini. Aku khawatir, jika ia kembali tertekan ketika bangun, ini akan mempengaruhi sistem syarafnya.”

“Mau bagaimana lagi….” Sehun menatap Donghae, “Keluarga kami sangat unik sampai tidak ingin berbicara masalah dari hati ke hati. Ujung-ujungnya hanya sebuah ledakan dahsyat dan masing-masing dari kami tidak ingin saling mengalah.”

Donghae menganggukan kepalanya, “Aku mengerti bagaimana keluargamu. Tapi aku mempunyai satu permintaan kepadamu. Jika ibumu bangun, jangan buat ia marah. Ketika detak jantungnya naik, tolong mengalah saja padanya. Okay?

Sehun mengangguk patuh ke arah pamannya. Jujur, dia lebih nyaman ketika bersama Donghae, saudara tiri ayahnya daripada dengan ayahnya sendiri.

“Ayahmu bagaimana? Kapan ia akan sampai?” Tanya Donghae tiba-tiba.

Sehun tersenyum kecut, “Mungkin ia tidak akan kerumah sakit. Trafik kenaikan saham lebih berharga daripada keluarganya sendiri.”

.

.

.

.

.

“Eungh…” Lenguh Tifanny ketika ia merasa sebuah cahaya sangat terang. Ia memejamkan matanya. Kemudian kembali membukanya. Mengerjap beberapa kali sebelum tersadar jika ini bukan kamarnya.

Kepalanya sangat berat, tapi ia memaksakan diri untuk menoleh ke sekitar. Putih. Beberapa peralatan rumah sakit.   Tunggu…

“Sudah sadar?”

“Ouhhh…” Tifanny tersentak, “Yak! Lee Donghae!”

Donghae tidak bisa menahan senyum gelinya melihat kelakuan Tifanny.

“Kenapa kau ketawa?!” Tanya Tifanny dengan tajam.

Donghae mengangkat kedua bahunya dan berdehem, “Bagaimana keadaanmu? Pusing? Mual?”

“Apa aku perlu menjawabmu?” Tanya Tifanny yang masih sewot.

“Aku ini seorang dokter yang merawatmu. Jadi tentu kau harus menjawabku…”

Tifanny menghembuskan nafasnya, “Ketika bangun sedikit pusing….” Tifanny diam sebentar sebelum melanjutkannya dengan berapi-api, “Tapi sekarang semuanya hilang ketika kau mengangetkanku!”

Deg!

Tifanny kembali tersentak ketika tangan Donghae menyentuh dahinya, “Panas mu sudah turun. Kurasa dirimu benar-benar sudah baikan. Aku akan terus menge-check mu hingga siang. Jika semuanya baik-baik saja kau bisa pulang hari ini juga.”

“Apa aku baik-baik saja?”

Donghae menghentikan kegiatan mencatatnya, “Tenang saja Tif… Kau tidak terkena penyakit terkutuk itu. Tidak ada yang perlu di khawatirkan…”

Tifanny tersenyum kecil, “Baiklah….”

“Aku akan kembali ke ruanganku.” Donghae membungkukan badannya.

“Donghae-ya…” Tifanny memanggil Donghae pelan, “Apakah Siwon berada disini?”

Donghae terkejut dengan pertanyaan Tifanny, “Ah… Dia…”

Tifanny menghela nafasnya, “Ia pasti tidak datang bukan?”

“Tenang saja Tifanny-ah dia-“

“Tidak apa-apa…” Potong Tifanny. Tifannypun kemudian tertawa hambar, “Walaupun tidak bisa datang ia pasti mengkhawatirkanku.” Kata Tifanny lebih meyakinkan dirinya sendiri.

Donghae hanya diam dan mengangguk. Ia kembali berjalan keluar lagi.

“Donghae-ya…” Panggil Tifanny lagi. Donghae kembali menoleh.

“Titip salam buat Yoona ya…”

Donghae lagi-lagi dibuat terkejut dengan pernyataan Tifanny. Dadanya berdesir hebat. Dengan cepat, ia tersenyum kecil, “Akan kusampaikan. Yoona pasti akan sangat senang mendengarnya.”

.TBC.

 

 

Runaway (Prolog)

seasonal-florist1

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

 

“Hiks…. Hiks… Hiks…” Isak tangis seorang gadis mengisi kekosongan kamarnya. Sang gadis mengusap kasar air matanya. Ia memejamkan matanya.

Tes!

Air matanya kembali turun.

“Apakah kau mau menikah denganku?”

Lagi-lagi, air matanya kembali turun. Ia mencoba mengatur pernafasannya. Menghirup udara dan mengeluarkannya dengan perlahan, mencoba membuat dirinya tenang.

Hufh~

Sulli-gadis tersebut sudah mulai merasa tenang. Ia bangkit dari tempat tidurnya, berjalan menuju cermin. Menatap bayangan dirinya.

Kemudian, kembali memejamkan matanya kembali. Rasa frustasi kembali menjalari dirinya. Sulli masih mencoba mengatur pernafasannya.

Tenang Sulli… Kau pasti bisa melewati hal ini….

Dengan perlahan, tangannya membuka laci dan mengambil kotak kecil bewarna merah. Sulli membuka kotak tersebut, sebuah cincin bertaburkan berlian terdapat di kotak tersebut.

“Aku tahu ini bukan cincin pernikahan seperti biasanya. Tetapi aku tahu ini akan cocok untukmu.”

Sulli mengambil cincin tersebut. Melihatnya dengan seksama.

Mungkin pernikahan ini adalah jalan keluarku?

Ia kembali menghembuskan nafasnya, sebelum akhirnya menyematkan cicin tersebut ke jari manisnya.

tumblr_static_original

.

.

.

.

.

Sulli menahan nafasnya. Ia begitu terkejut dengan semua ini. Kedatangan Jonghyun yang tiba-tiba. Tatapan Jonghyun yang marah. Suaranya yang dingin. Ia juga memegang kedua bahu Sulli. Membuat jarak mereka menjadi sangat dekat.

“Apa benar kau akan menikah dengan Jongin?! Sulli jawab aku!”

Suara Jonghyun kembali mengembalikan fokus Sulli yang tadi hilang entah kemana. Sulli mengerjap, “Euhm… Kenapa?”

Jonghyun melepaskan kedua tangannya. Ia menjambak rambutnya frustasi, “Bagaimana bisa?”
“Tentu saja bisa.”

“Bukan maksudku…” Jonghyun menghela nafasnya, mencoa menghilangkan rasa frustasi, “Bagaimana dengan…. Kau tahu…. Kau baru saja bertemu dengan Minho dan sekarang memutuskan menikah dengan Jongin.”

Sulli menghembuskan nafasnya, “Aku memikirkan keputusan ini dengan matang-matang Jonghyun-ah….” Ia mengenggam tangan Jonghyun, “Ini adalah keputusan yang terbaik.”

“Bukan begitu…. Aku merasa ragu… Kau baru saja berhubungan dengan Minho kembali.”

Sulli mengangkat tangannya, “Lupakan Minho. Ku mohon. Sekarang hanya ada Jongin tidak ada lagi Minho.”

“Bagaimana jika dia masih menyukai mu Sulli-yah? Kau juga masih menyukainya bukan?”
Air mata Sulli turun perlahan. Ia menggelengkan kepalanya, “Ia tidak akan pergi lagi jika masih mencintai ku.”

“Aku akan mencari dirinya. Membawa dirinya kembali ke sini. Ja-“

“Itu tidak cukup!” Teriak Sulli tiba-tiba. “Itu tidak cukup! Kau butuh waktu berapa lama untuk membawanya kesini? Berhari-hari? Berminggu-minggu? Atau bahkan berbulan-bulan? Atau ia tidak ingin kembali kepadaku?”

“Sulli…”

“Aku hamil anaknya.”

“Apa?!”
Sulli mulai terisak. Ia menggigit bibirnya, berusaha mengontrol isakannya, “Aku hamil anak Minho, Jonghyun-ah. Aku kalang kabut ketika pertama kali mengetahuinya. Maksudku… Maksudku apa yang akan kulakukan? Minho sudah pergi melanjutkan sekolahnya keluar negeri. Ia jelas-jelas mengatakan kepadaku jika itu merupakan pertemuan terakhir mereka. Aku tidak bisa mengatakannya kepada siapapun. Aku bisa kehilangan segalanya karena hal ini-hal yang mereka anggap memalukan. Di tengah kekalutanku Jongin tiba-tiba melamarku. Menurutmu apa yang harus kulakukan? Menolaknya?” Sulli menghapus air matanya, “Sudah kubilang, aku sudah memikirkan hal ini dengan baik-baik.”

Jonghyun menghela nafasnya, “Maaf. Aku benar-benar tidak tahu. Aku pikir kau gegabah.”
“Tidak apa-apa. Terimakasih karena telah mengkhawatirkanku.”

.

.

.

.

.

.

Choi Sulli namanya. Ia masih muda. Masih sangat muda. Umurnya baru 23 tahun. Tetapi dia memutuskan untuk menikahi kekasihnya, Kim Jongin. Sayangnya, kekasihnya bukan pemilik hatinya. Pemilik hatinya adalah Choi Minho. Kakak kelasnya di fakultas sama dengannya. Kalau Sulli mengambil jurusan mendesign baju atau fashion designer makan Minho memilih jurusan seni murni.

Jujur, Sulli hanya berpura-pura saja ingin berpacaran dengan Minho. Karena tantangan dari teman-temannya jika Minho menyukai Sulli. Benar saja, laki-laki tersebut sangat menyukainya. Selama enam bulan Sulli menjadi pacarnya, laki-laki itu selalu melakukan yang terbaik kepada Sulli. Kadang-kadang memang sedikit mengecewakan, tetapi sorot laki-laki itu sangat jujur, menyanyanginya sehingga Sulli melupakan rasa tersebut. Rasa cinta muncul kepadanya secara tiba-tiba. Ia terjerat dalam cinta itu.

Lain seperti Minho yang memang mencintai Sulli dari awal dengan tulus, Sulli hanya ingin bermain-main dengan Minho pada awalnya. Itulah malapetaka dari jalan cerita mereka. Minho mengetahuinya dan memutuskannya. Ia terbelengu dengan cinta Minho, kesalahannya, juga kekesalannya kepada teman-temannya yang memberi tahu tentang ini.

Teman-temannya berkilah jika mereka memberi tahu Minho karena menurut mereka ada yang lebih baik dari Minho, seperti Oh Sehun atau Kim Jongin yang jelas-jelas menyukainya. Sulli mencebik, darimana mereka tahu?

Hatinya tambah meringis ketika mengetahui jika Minho memutuskan untuk mengambil beasiswa ke Belgia. Rasanya…. Entahlah… Dia merasa sangat sesak tidak terekspresikan. Kecewa terhadap dirinya. Sangat kecewa. Kim Jongin datang di kehidupannya. Sorot matanya sama seperti Minho sehingga Sulli berharap jika Jongin dapat menggantikan posisi Minho.

Tapi Jongin tidak dapat menggantikan Minho. Sorot matanya memberikan ketenangan kepada Sulli. Kata-kata dari mulutnya memberi kehangatan di hatinya. Tetapi jantungnya tidak berdebar-debar. Begitu tenang hingga rasanya tak berdetak seperti orang yang mati. Sulli belum bisa melupakan Minho. Ia masih terbelengu dalam cinta Minho.

Ketika mendengar Minho kembali, Sulli mencoba keberuntungannya. Ia ingin menjelaskan semuanya kepada Minho. Semuanya. Ketika bertemu dengan Minho, susah awalnya karena Minho menyambutnya dengan sangat-sangat dingin. Tetapi tak dapat dipungkiri, dengan sedikit saja memohon kepada Minho, laki-laki itu luluh kepadanya. Mereka berbicara berdua, di tempat yang lebih sepi dari sebuah café yang biasa Minho kunjungi.

Entah apa yang terjadi, Sulli tidak tahu. Mungkin dari efek Minho yang memeluknya ketika ia menangis. Atau otaknya yang tidak dapat berpikir jernih karena jantungnya berdetak sangat keras. Karena emosinya yang tidak stabil. Karena hatinya yang kacau. Malam itu benar-benar kelabu hingga Sulli tidak merasakan apapun. Hanya panik di pagi hari ketika ia mengetahui apa yang benar-benar terjadi.

Pagi itu, ketika ia bangun, Minho sudah berada di sampingnya. Menatapnya dengan lembut hingga ketakutan Sulli langsung senyap. Hanya menyisakan kegilaan akibat detak jantungnya yang berdegup sangat cepat karena tatapan Minho. Mereka berbicara dari hati ke hati sehabis itu.

“Aku… Aku minta maaf jika aku menyakitimu. Sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu. Kemarin terasa seperti, klise. Begitu cepat hingga kita terjatuh sangat dalam. Aku mencintaimu sungguh… Tidak peduli apa yang kau lakukan kepadaku. Tapi aku tidak bisa melepaskan mimpiku. Aku tidak boleh mundur untuk mengejar mimpiku.

Sulli langsung mengerti. Ia tidak dapat membuat Minho untuk tinggal. Maka dari itu, harapan dia pupus Minho ingin kembali kepadanya jika mendengar kabar tentang dirinya. Ia tidak bisa membayangkan Minho menolaknya. Sullipun hampir saja bunuh diri jika Jongin, yang entah mengapa melamarnya. Mengajak ia menikah.

Dan dari hal-hal bodoh yang ia lakukan, disinilah Sulli. Di ruang penuh tamu. Memaksakan sebuah senyum bahagia selagi ia menyapa tamu-tamu pernikahannya. Membalas ucapan para tamu dengan nada suara yang harus bahagia.

Disinilah Sulli, disamping Jongin.

.FIN.

State of Grace (Chapter 15)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

“Maaf ini semua salahku.” Wendy menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap orang di depannya.

Sehun mendengus, “Tentu ini salahmu!”

“Sehun-ah, aku ingin memberi tahu lebih awal-“
“Memberi tahu lebih awal?” Sehun menatap jengah Wendy. Kekesalan mulai terpancar dari wajahnya, “Wendy… Astaga!!! Itu bukan penyelesaian masalah! Kau jelas-jelas selingkuh di belakang ku dan bilang jika kau akan memberi tahu perselingkuhanmu lebih awal?”

“Bukan.” Wendy mulai menatap Sehun. Nafasnya tercekat, tetapi dengan pelan-pelan, sebuah kalimat terluncur dari bibir tipisnya, “Aku ingin memberi tahu mu jika hubungan kita sebaiknya tidak dilanjutkan.”

Sehun terdiam cukup lama. Sebuah kalimat yang tidak pernah disangkanya. Setelah diam beberapa detik, Sehun tersenyum sinis. “Tidak kusangka….” Ia kemudian menatap Wendy, “Tapi apalagi yang bisa kulakukan? Menahanmu? Lakukanlah terserah dirimu… Aku juga tidak ingin bersama dirimu lagi!”

Deg!

Wendy langsung membuka matanya. Ia meletakan tangannya di atas dada, merasakan jantungnya yang masih berdetak kencang. Kenapa dia harus bermimpi hal itu?

Tring~

Wendy kembali tersentak ketika hp-nya berbunyi. Merasa bodoh karena hal itu, ia mengambil handphone-nya dengan merengut.

Hari ini narasumber kita datang. Tolong wawancara dia. Aku telah mengirimkan email mengenai dirinya.

“Astaga… Di hari minggu yang cerah ini?” Wendy menatap malas hp-nya. Dengan tenang, ia kembali menarik selimut meliputi tubuhnya dan kembali terlelap.

.

.

.

.

“Ini? Atau ini?”
“Kau cantik dengan apapun yang kau pakai…” Amber kembali menatap malas Krystal. “Dan berhenti mengeluarkan semua baju dari lemari mu!”

Krystal teriak frustasi. “Aku harus menemukan baju yang cantik. Ini adalah makan siang ku bersama teman-teman Sehun.”

“Mereka hanya teman-teman Sehun Soojung-ah.”
“Tetap saja…”

Tangan Krystal masih sibuk memilih-milih baju dari lemarinya. Sedangkan Amber kembali menatap handphone-nya.

“Apa yang harus kupilih?” Tanya Krystal lebih ke dirinya.

“Amber! Menurutmu apakah aku cantik menggunakan warna pink?”

“Apa?!” Amber langsung menatap Krystal dengan tatapan tidak percaya. “Sejak kapan kau suka menggunakan warna pink?”

Krystal mengangkat kedua bahunya, “Hanya mencoba hal baru. Ayolah…. Bantu aku memilih bajunya…”

Amber mendecak sebal tetapi ia bangkit dari tempat tidur Krystal. Berjalan ke arah lemari, “Kurasa jangan memakai hiasan di rambutmu karena itu akan membuat dirimu sangat manis. Kau harus kelihatan cantik. Jadi…. Bagaimana ini?” Amber memperlihatkan sebuah blouse bewarna putih, “Tidak. Ini terlalu simple…” Lanjut Amber dengan sendirinya, “Ini? Ini?” Amber ikut-ikutan mengeluarkan baju seperti Krystal, “Bagaimana dengan yang ini?” Sebuah kemeja bewarna biru tersodorkan ke depan Krystal.

“Jangan!” Kata Amber lagi, mendahului Krystal yang baru saja ingin berbicara. “Atau kau memakai kaus oblong saja?” Amber terlihat berpikir keras, kemudian menghela nafas. “Kau saja yang pilih. Aku lelah.”
“Yak!” Tangan kanan Krystal dengan cepat memukul bahu Amber.

.

.

.

Slurp~

Sehun mendesah lega ketika hot chocolate melewati tenggorokannya. Mengusir rasa dingin yang dari tadi ia rasakan. Sehun menoleh ke sebelah kiri, dan ia tersenyum lebar melihat Krystal yang sibuk tertawa bersama Seulgi. Agak kesal memang karena Krystal lebih banyak mengobrol dengan teman-temannya, tetapi ia tidak dapat memungkiri, senyuman dan tawa gadis itu menghilangkan segalanya.

“Oh Sehun…”

“Hm…” Respon Sehun pendek. Karena ia tahu siapa yang memanggilnya-Kai.

“Yak! Bocah busuk!” Kai memukul kepala Sehun. Membuat Sehun meringis, “Cepat bantu kami mengambil bahan makanan untuk makan malam!”

“Tidak usah memukul kepalaku!” Desis Sehun geram. Ia segera bangkit, mengikuti arah Kai pergi.

Dilain pihak, Krystal dan Seulgi masih berbicara tentang melukis. Terlihat, mereka nyaman dengan lawan bicara mereka.

“Benarkah?” Tanya Seulgi antusias. “Wow! Kau seharusnya mengikuti lomba melukis internasional. Aku yakin kau akan menang.”
Krystal tertawa kecil, “Kau terlalu berlebihan Seulgi-yah. Lukisanmu itu sangat bagus. Apalagi yang ….. itu sangat menakjubkan!”
“Dan lukisan abstrak-mu juga sangat-sangat menakjubkan! Ah, pokoknya aku yakin dirimu pasti akan menang!”

Krystal dan Seulgi kemudian saling diam. Bingung ingin berbicara apa lagi.

“Bagaimana jika besok aku datang ke rumahmu? Kau tau… Kita bisa saling berbagi pengalaman tentang melukis.”

“Seulgi-yah..” Krystal menatap Seulgi dengan tatapan yang hampir tidak percaya.

“Jika kau mau.” Lanjut Seulgi dengan tersenyum lebar. “Atau jika dirimu tidak sabar kita bisa memulai malam ini. Dengan dirimu yang menginap di rumahku terlebih dahulu. Untuk baju, tenang saja, kau bisa meminjam baju ku dulu. Paginya kita akan berangkat kerumah mu. Bagaimana?” Kedua alis Seulgi terangkat. Senyum jahil tertampil di wajahnya.

“Seulgi-yah…” Kali ini, tawa Krystal kembali meledak. Ia kalah menghadapi Seulgi yang orangnya menggampangkan segala hal. Berbeda dengan dirinya. Juga berbeda dengan Sehun, dimana dia baru menyadari hal ini ketika berbincang dengan Seulgi.

Seulgi juga ikut tertawa. Menurutnya, Krystal memiliki tampang dingin seperti sepupunya-Sehun yang membuatnya sedikit…. Tidak ingin berbicara padanya karena takut akan seperti sepupunya yang sangat irit berbicara. Tetapi, ketika berbicara dengan Krystal, gadis ini membalasnya. Bahkan Krystal orang yang mudah hanyut dalam pembicaraan.

“Krystal!”
Seulgi dan Krystal tersentak ketika suara Sehun menginterupsi. Entah dari kapan Sehun berada di depan mereka.

“Aku butuh berbicara dengan Krystal.” Tanga Sehun melingkar di pergelangan tangan Krystal. Sebelum Seulgi merespon, ia sudah menarik Krystal menjauh dari Seulgi

.

.

.

Mereka masih saling diam- Krystal dan Sehun. Krystal sendiri bingung ingin berbicara apa ke Sehun. Laki-laki disampingnya ini terkesan menutupi sesuatu. Tegang bercampur cemas terlihat di wajahnya. Sayangnya, setiap Krystal ingin bertanya Sehun hanya menjawab ‘Jangan khawatirkan aku,’; atau ‘Tidak ada apa-apa. Aku hanya harus pulang cepat.’.

Dalam keheningan mereka, mobil sudah memasuki jalan besar Seoul. Memotong ke segala arah untuk mencapai tujuan. Alis Krystal sedikit bertaut ketika mobil Sehun melewati f(x).

Krystal menoleh, ingin bertanya. Tetapi kembali diam ketika melihat Sehun yang sedikit panik.

….. (Mobil berhenti).

“Aku akan keluar sebentar.” Sehun segera membuka seatbelt.

Grab!

Tangan Krystal menahan tangan Sehun. Krystal tersenyum lembut, “Aku akan berada di sini.”

Sehun bernafas lega untuk pertama kalinya sejak ia menerima telepon tersebut. Nada suara Krystal begitu lembut. Juga makna dari katanya yang memiliki arti lebih-baginya. Sebuah senyuman terbentuk dari bibirnya. Sehun mengangguk dan keluar dari mobil.

.

.

.

.

.

Mata Krystal sedari tadi terus melihat gerak-gerik Sehun. Sehun rupanya bertemu dengan laki-laki yang ia temui di café ketika terakhir kali dia ke sana. Kalau tidak salah nama laki-laki ini adalah Seojoon. Mereka sedang berbicara di trotoar jalan depan sebuah hotel. Sedikit tegang karena sepertinya mereka membicarakan suatu yang sangat serius. Seojoon lebih tenang dari Sehun. Sehun seperti terburu-buru, bukan! Lebih benar dikatakan ia menuntut sesuatu dari Seojoon.

Sehun dan Seojoon terus berbicara hingga ada orang yang menghampiri mereka. Seketika, Krystal langsung membulatkan matanya. Tifanny Sangjanim. Ibu dari Sehun. Wanita itu terlihat sangat tidak baik. Ia benar-benar marah. Langsung berdiri di tengah-tengah mereka.

Keadaanpun menjadi sangat tidak baik. Sehun berubah menjadi emosi. Krystal? Dia hanya bisa menyaksikan semua ini dari balik jendela mobil. Tidak mungkin ia turun. Pasti hal ini akan menambah sebuah masalah. Krystal hanya bisa melihat tanpa membantu sedikitpun.

Tes!

Air mata Krystal menetas dikarenakan hal tersebut.

.

.

.

.

.

Seojoon merasa kepala berkedut. Apakah ia salah memberi tahu Sehun jika ia ingin kembali ke Amerika? Apakah salah jika ia memberi tahu berita ini kepada adik kandungnya sendiri?

Yang jelas, salah atau tidak sepertinya ibunya menganggap hal ini salah.   Jelas terlihat bagaimaan perdebatan panas antara Sehun dan ibunya.

Mommy tidak pernah sudi sampai kapanpun!” Teriak Tifanny. “Jangan pernah dekat lagi dengan dia!”

Seojoon tersentak. Bahkan ibunya tidak memanggil namanya

“Dia?” Sehun sekarang berteriak, “Dia itu punya nama! Bagaimana Mommy tidak pernah memanggil namanya?!”
Sudah! Teriak Seojoon dalam hati. Jangan mempertanyakan hal yang sudah jelas.

Tifanny mendengus, “Suatu saat dirimu bersyukur karena telah berjauhan dari dia!” Ia menatap Seojoon tajam sebelum kembali menatap Sehun, “Ayo kita pulang! Mom akan pastikan dirimu pulang! Jadi kita akan pulang bersama!” Tifanny berbalik, bukan ke mobilnya melainkan ke mobil Sehun.

Melihat hal tersebut Sehun langsung menahan ibunya. Wajahnya terlihat sangat panik. Seperti tidak ingin ibunya berjalan menuju mobilnya.

Mom…” Panggil Sehun kepada ibunya yang terus berusaha jalan menuju mobilnya.

Seojoon membuang nafas. Tangannya terulur menyentuh tangan ibunya setelah bertahun-tahun lamanya.

“Lepaskan Sehun, dia tidak bersalah!” Kata Seojoon dalam.

Tifanny menatap Seojoon dengan sangat marah, “Lepaskan Sehun?!” Ulang Tifanny dengan nada suara mengejek. Ia kemudian tertawa kencang, “Jadi sekarang dirimu melindunginya?!” Sekarang, posisi Tifanny benar-benar berbalik,badannya benar-benar menghadap Seojoon.

Seojoon kembali menghela nafas, “Dia adalah adik ku.”

Plak!

Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Seojoon, “Kau tak pantas bilang itu kepada siapapun!” Desis Tifanny tajam. “Tidak setelah perbuatanmu terhadap Jinri.”
“Apa yang terjadi kepada Jinri?” Tanya Sehun tiba-tiba.

Tifanny tersenyum sinis, “Kau tidak tahu yang terjadi? Oh, mungkin ini saatnya dirimu tahu yang terjadi.”
“Hentikan semua ini!” Teriak Seojoon tiba-tiba.
“Lihatlah dia, dia tidak ingin kebenaran terungkap.”

“Aku tidak bersalah!”
“Dengarkan Mommy, dia berada di situ dan hanya melihat Jinri tenggelam. Dia tidak melakukan apapun kecuali menangis!”

Sehun terhuyung ke belakang. Kenyataan pahit ini…

Seojoon berjalan mendakiti Sehun. Berusaha menggapainya.

Tak!

Sehun menepis tangan Seojoon.

“Dengarkan aku terlebih dahulu….” Pinta Seojoon.

“Aku memang melihatnya tenggelam, tapi aku mencoba mencari pertolongan. Aku berteriak meminta tolong. Tidak ada yang datang.” Seojoon menceritakan kejadian terburuknya untuk pertama kalinya kepada adik kandungnya.

“Pembohong!” Teriak Tifanny yang tidak terima, “Itu semua bohong!”
Dengan sigap, Seojoon berbalik ke arah Tifanny, “Aku tidak bohong! Bukankah semua ini adalah salahmu? Membiarkan Jinri bermain tanpa pengawasan sehingga ia jatuh ke kolam?”

Plak!

Lagi-lagi Tifanny menampar Seojoon. “Jangan pernah mengajariku bagaimana cara merawat anak. Aku tahu cara itu.”

Brak~

Tifanny dan Seojoon berbalik karena suara tersebut. Sehun menabrak pintu mobilnya sendiri. Ia terlihat sangat kosong. Dengan sisa tenaga terakhir, Sehun membuka pintu mobilnya. Satu detik lagi Sehun akan jatuh.

“Sehun-ah!”

“Krystal?”
.

.

.

.

.

Krystal tidak dapat menahan dirinya lagi untuk diam. Melihat keadaan Sehun yang sangat shock. Dia bergegas keluar. Segera menahan tubuh Sehun.

“Sehun-ah!”

“Krystal?”

Suara Tifanny membekukan Krystal. Dia hanya dapat melihat Tifanny dengan segenap rasa takut, “Sangjanim…

Tifanny masih terkejut. Tetapi kemudian ia tersenyum sinis. “Ini adalah hal yang paling tidak mungkin terjadi. Mengapa dirimu disini? Apakah….” Tifanny terdiam sejenak. Terlihat takut dengan apa yang ia utarakan, takut akan apa yang ia rasakan benar. “Apakah kau berpacaran dengan Sehun?”

Jari-jemari Krystal mencengkram lengan Sehun. Dia begitu takut dan merasa sangat dipermalukan. Krystal kembali menunduk.
“Ayolah, hanya jawab tidak apakah itu susah?” Tanya Tifanny lagi. Tidak ada jawaban dari Krystal Tifanny menatap Sehun, “Apakah benar dia pacarmu?”

“Iya.”

Pengakuan Sehun membuat Krystal mendongak. Ketika ia mendongak, ia menemukan Tifanny terhuyung ke belakang. Yang pasti badan sangjanim-nya akan membentur aspal jika saja Seojoon tidak menangkapnya.

.TBC.

State of Grace (Chapter 14)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

`Seorang laki-laki menapakan kakinya ke dalam sebuah tempat makan.

“Aku tidak yakin dengan tempat ini. Terlalu sederhana.” Gumamnya pelan. Ia kemudian melangkahkan kakinya. Mencari sebuah tempat duduk ketika matanya menemukan seseorang yang mungkin ia kenali. Dan orang tersebut duduk di seorang wanita yang tidak ia kenali. Aneh. Pikirnya.

Ia mendekat ke arah tempat mereka duduk. Mencoba mencari tahu karena rasa penasaran.

“Yak! Bukan itu maksudku!” Suara yang menyerupai gerutu dari wanita misterius terdengar.

“Katakan saja. Kau pasti akan cemburu.”

Deg! Tidak salah lagi.

“Sehun?” Ucap Seojoon pada akhirnya.

Kedua orang tersebut tersentak dan menatap Seojoon.
Hyung?” Ucap Sehun yang sama-sama tidak percaya dengan orang yang ia tatap.

Wanita di depannya menatap ke arah Sehun bingung. Kemudian menatap kearahnya.
“Oh, aku Oh Seojoon. Senang bertemu dengan Anda.” Seojoon mengambil alih keadaan. Ia mengulurkan tangannya ke Krystal.
Krystal membalas ulurang tangan Seojoon, “Krystal Jung.”

Keadaan tidak membaik. Masing-masing dari mereka terdiam. Masing-masing dari mereka bingung dengan keadaan ini.

“Aku akan mengambil sauce terlebih dahulu.” Krystal akhirnya bangkit dari tempat duduknya. Mencoba memberikan ruang agar keadaan mencair.

Seojoon tertawa kecil ketika Krystal pergi, “Dia sengaja membiarkan kita berdua.”

Sehun mengangguk, “Ya, dia mengambil alih keadaan.”

Seojoon kemudian menarik kursi dan duduk di sebelah Sehun, “Maaf. Kurasa aku muncul diwaktu yang kurang tepat.”

Sehun menggeleng, “Tidak sama sekali tidak.”

“Aku merusak rencamu sepertinya.”
Sehun kembali menggeleng, “Tidak. Aku hanya terkejut dan tidak tahu harus bersikap bagaimana.”

“Kurasa kau belum meberitahukan hal ini kepada dia? Siapa dia? Aku tidak pernah mengenalnya. Ku pikir kau masih berpacaran dengan Wendy.”

“Aku juga mengambil menu.” Krystal datang membawa sauce dan sebuah menu.

“Terimakasih Krystal-ssi. Kurasa aku akan meninggalkan kalian berdua karena sebenarnya aku tidak ingin makan disini, aku ingin take away saja.”
“Oh, baiklah.” Ujar Krystal dengna nada yang masih canggung. Meskipun Seojoon sudah ramah keapadanya.

“Sampai berjumpa lagi.” Ucap Seojoon sekali lagi sebelum dia benar-benar meninggalkan Sehun dan Krystal.

Krystal tersenyum kepada Sehun. Sehun membalasnya. Kemdian mereka kembali melanjutkan makan malam mereka.

.

.

.

.

“Hanya salad?” Wendy menatap protes Oemma-nya. Yang ditatap hanya mengangkat kedua bahunya.

Vegan. Kau tahu ibu sudah menjadi seorang vegetarian.”
“Tapi seharusnya ibu memesan sesuatu yang hidup juga bukan hanya yang tumbuh.” Wendy masih protes. Ia mengangkat tangan kanannya.

“Oh, jangan pesan seafood. Itu menjijikan.”

Wendy menghela nafas mendengar ibunya, “Tenderloin satu.” Ucapnya kepada pelayan. Pelayan tersebut mencatat kemudian pergi.

“Mana ayah?” Tanya Wendy menatap ibunya yang mulai memakan Caesar Salad.

“Pergi ke Minesotta. Urusan kantor tiba-tiba. Akan kembali minggu ini.”
Wendy diam tidak menanggapi. Ia kemudian kembali menatap ibunya, “Ada apa Mom?” Tanyanya menggunakan bahasa inggris. “Kenapa tiba-tiba mengundangku makan malam?”

Dia dan orangtuanya dekat. Hanya saja mereka tidak terbiasa untuk makan malam bersama. Terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ayahnya yang selalu bolak-balik ke Amerika Serikat-Korea. Ibunya yang selalu pergi untuk menghadiri exhibition dimana-mana. Dan dia yang selalu tidak betah di rumah. Benar-benar bsa dihitung kapan dia dan orangtuanya bisa makan bersama.

“Jangan menggunakan bahasa inggris ketika berbicara dengan ibu!” Gumam Ibu Wendy tajam. Memperingatkan putri semata wayangnya.

Wendy menghela nafasnya, “Maaf. Tapi ada apa?” Tanyanya lagi kali ini menggunakan bahasa Korea.

Ibu Wendy tersenyum. “Kita akan membahas sesuatu Wendy.”

Oh, Wendy tidak menyukai hal ini.

“Apa?” Tanya Wendy masih dengan tersenyum. Sebentar lagi keadaan pasti akan panas. Semoga saja dia tidak membuat kegaduhan di restaurant ini.

“Ibu mendengar jika Mark kembali ke Korea.”
Seketika badan Wendy lemas. Ia menjatuhkan dirinya ke kursi. Menatap ibunya malas, “Hubunganku dengan Mark sudah berakhir.”

“Ibu tahu. Tapi Mark masih menyukai mu.”

Wendy bangkit bersamaan dengan kekesalan yang terbit, “Jangan membahas dia.” Kata Wendy sedikit menahan suaranya. “Ayolah….. Ibu tidak perlu mencampuri masalah ini. Aku bisa mengaturnya.”

Ibu Wendy semakin menatap intents anaknya, “Ibu tahu. Tapi ibu tidak suka dengan pengaturan mu.”

Wendy memutar bola matanya. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai kayu restaurant. Berharap bisa pergi meninggalkan ibunya.

“Kau mengejar Sehun dengan cara yang ibu tidak disukai.”
“Hentikan!” Potong Wendy dengan kesal.

“Kau tahu apa yang ibu rasakan ketika Taeyeon bercerita tentang makan siang bersamamu? Itu memalukan.”

“Jadi ibu merasa malu karena hal itu? Itu tidak ada hubungannya dengan masalah yang kita bahas.” Seloroh Wendy yang semakin menahan kekesalannya.
“Oh, tentu saja ada. Kau sangat putus asa mengejar Sehun.”
“Aku tidak putus asa!” Kegeraman sangat terdengar di suara Wendy. “Menjaulah dari masalah ini.” Perintah Wendy kepada ibunya.

“Dengar, jika Sehun masih ingin bersamamu kau pasti tidak repot-repot menempel dengan ibunya.”
Brak!

Wendy memukul meja. Ia menatap ibunya dengan sangat marah, “Sekali lagi akan aku perjelas, menjauhlah dari masalah ini.”
“Tidak. Lakukanlah sesuka mu, anakku sayang. Ibu pasti akan terus mengawasi mu. Jangan sampai Ibu turun tangan terhadap masalah ini.” Ibu Wendy kembali mengeluarkan senyumannya. Tapi Wendy tahu itu merupakan ancaman yang sangat keras.

Wendy menghembuskan nafasnya kasar, “Untung saja ibu hanya memesan sayur-sayuran. Karena aku sama sekali tidak ingin makan.” Dan Wendy langsung pergi meninggalkan ibunya.

Ibunya juga menghembuskan nafasnya kasar. “Dasar keras kepala.” Kemudian kembali melanjutkan makan malamnya.

.

.

.

.

Tadi pagi, Wendy berjanji akan menjauhi tempat ini. Tidak akan mengulangi kejadian tadi malam. Tetapi ia tidak dapat berbohong, lebih baik lari dari kenyataan daripada menghadapinya.

“Berapa kali harus kubilang? Kau itu sudah sangat mabuk!” Seru sang bartender dengan nada suara lelah. Kewalahan menghadapi Wendy.

Wendy menatap sang bartender sinis, “Kenapa memangnya? Apa urusanmu?! Cepat ambil lagi!”

Sang bartender menggelengkan kepalanya. Ia menjauhi Wendy. Tetapi bukan menuruti permintaan Wendy, dia akan menelepon anak bosnya. Melaporkan tentang Wendy. Dia pasti akan dimarahi lagi jika tidak melaporkan. Contohnya saja seperti kejadian kemarin malam.

“Ya, saya Chanhyung.” Chanhyung menyapa anak bosnya dengan formal. Ia mendengar serentetan kata dari anak bosnya. Terdengar pasrah, mengetahui apa yang telah terjadi. “Iya. Saya akan awasi Nona Son. Baik.” Chanhyung menutup telpon dan kembali lagi ke Wendy. Ingin memberikannya segelas air putih.

“Astaga!” Chanhyung terkesiap melihat Wendy yang sekarang telah tertidur pulas. Ia menghela nafas. Bukan berarti masalahnya selesai dengan Wendy yang tidak sadarkan diri. Dia juga harus menjaga Wendy dari tangan-tangan orang berpikiran kotor. Chanhyung keluar dari tempat kerjanya. Hendak membawa Wendy ke ruangan VIP agar perempuan ini bisa tidur nyenyak.

Bugh!

Chanhyung meringis. Seseorang tiba-tiba memukulnya.

“Apa yang kau lakukan? Kau ingin membawa ia kemana?”
Chanhyung masih meringis. Pukulan tadi membuat ia oleng hingga terjerembab ke lantai. Dengan terhuyung, Chanhyung bangkit mencoba membalas. Tapi apa daya, dia kembali mendapat pukulan.

“Cankam kata-kataku. Jangan sekali-kali kau menyentuh dia lagi!”

Chanhyung tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya. Yang jelas, ketika ia bangkit, laki-laki yang memukulnya sudah tidak ada. Astaga, apa yang harus ia bilang kepada anak bosnya?

.

.

.

.

Keeseokan paginya,

Wendy memasuki rumahnya dengan hati-hati. Pelan-pelan, ia melangkahkan kakinya ke kamarnya.

Cklek~

“AAAH!!!” Teriak Wendy histeris melihat wanita yang berada di kamarnya. “Oemma! Astaga!” Jantungnya berdetak sangat kencang.   Ia menatap Oemma-nya dengan tatapan horror.
Oemma tersenyum sinis, “Dua hari berturut-turut tidak pulang ke rumah! Taehyun baru saja melaporkan jika dua hari ini kau selalu datang ke club-nya!”

Kepala Wendy yang masih pusing akibat pengaruh alcohol semakin bertambah pusing, “Oooh, astaga…. Izinkan Wendy untuk mandi terlebih dahulu. Atau setidaknya berganti baju. Kepala Wendy masih pusing.”
“Itu karena dirimu terlalu banyak minum alcohol! Kemana saja dirimu?! Pergi bersama siapa?! Menginap di rumah siapa?! Apakah dirimu bersama orang baru dua hari ini?!”
Wendy menatap Oemma-nya dengan jengah, “Keluarlah terlebih dahulu…” Pintanya dengan nada merengek.

“Ini tidak bisa dibiarkan!” Lanjut Oemma. “Bagaiaman jika Appa-mu tahu?! Dia pasti akan memarahi Oemma! Apa karena perdebatan kita kemarin malam?!   Cih, kenapa kekanakan sekali!”
“Ouuh.. Oemma! Keluarlah terlebih dahulu!”
“Apa susahnya menjawab pertanyaan Oemma? Hanya satu pertanyaan saja tidak bisa dijawab! Hanya pertanyaan sama siapa dirimu tidak bisa di jawab! Bagaimana Oemma bisa membiarkan mu! Baga-“

“Mark!” Teriak Wendy frustasi.

Oemma menghentikan rentetan kalimat. Menatap Wendy tidak percaya, “Mark? Kau bersama Mark dua hari ini?” Nada heran sekaligus penasaran tertera di kalimat tersebut.

Wendy menghembuskan nafasnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi kecuali berkata jujur. “Iya. Mark.”

“Mark Tuan?” Tanya ibu Wendy dengan nafas tertahan.

Lagi-lagi Wendy hanya mengangguk perlahan.

.

.

.

.

Tangan Mark terulur mengambil sebuah remote tv. Hari yang melelahkan. Seharian ini Mark mengurus surat izin tinggal disini bersama ibunya. Membuat ia harus meninggalkan Wendy di pagi buta. Senyuman Mark terukir mengingat Wendy.

Setidaknya Wendy mengucapkan terimakasih kepadanya. Gadis itu juga tidak menunjukan permusuhan kepadanya. Tidak seperti hubungan mantan pacar pada umumnya. Hanya satu yang menjadi permasalahan, Wendy kembali mengharapkan Sehun.

Sehun…

Oh Sehun…

Mark tidak pernah bertemu dengan Sehun secara langsung. Ia hanya pernah melihat Sehun sekali. Saat-saat moment terbahagianya. Karena saat itu Wendy lebih memilih dirinya daripada Sehun. Saat itu juga, ia merasa yakin jika Wendy tidak akan memikirkan Sehun lagi.

Setidaknya itu yang Mark pikirkan….

.TBC.

UAAAHH~  Rough October guys!  Huffhhh #lapkeringatdulu Maaf ya untuk update sedikit di bulan Oktber, hanya satu…  Untuk lanjutan ini akan saya post di minggu-minggu pertama bulan November…  Dan untuk Filpped… Hehehe, di tunggu aja ya…  Di usahain secepatnya #jalanpikiranbuntu…

Terimakasih yang sudah membaca fanfiction saya ^^