Unwanted Reverie (Chapter 2)

unwantedreverie

Poster By : NJXAEM@ POSTERCHANNEL

Author: Ally

Cast: f(x)’s Krystal Jung | EXO’s Oh Sehun | RV’s Bae Irene |

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

***

Unwanted #2: Unwise Advised

“Jadi bagaimana Krystal, apakah kau ingin menggoda Oh Sehun?” Joohyun kembali berkata setelah Krystal menatapnya tanpa berkedip hampir tiga menit. Dia mengigit bibirnya.

“Oennie gila bukan? Aku adalah sahabat mu. Oh Sehun adalah tunagan mu. Apa yang ada dipikiran Oennie?” Krystal berangsur-angsur mundur. “Oennie… Astaga! Kau membuatku takut!”

Joohyun menghela nafasnya, “Kumohon Krystal…. Pikirkanlah!”

.

.

.

.

.

Krystal tidak tahu perasaannya sejak ia pulang dari butik Joohyun. Hal yang dijanjikan Joohyun hampir berhasil membuatnya ingin menyetujui. Tapi apakah hal itu benar?

Sebelum Krystal pulang, Joohyun masih menatapnya sambil berharap. Joohyun juga berkata alasan ia memilih Krystal karena ia mempercayai Krystal sebagai sahabatnya. Sahabat yang selalu berada disampingnya. Hal itu bukan membuat Krystal tenang. Malah semakin membuat ia resah, bagaimana jika ia kelewat batas?   Bagaimana jika ia mengkhianati Joohyun pada akhirnya? Semuanya pasti dapat terjadi.

Lagipula, apakah Krystal semurah itu? Menggoda tunangan-lebih tepatnya calon tunangan- terdengar murahan bagi Krystal. Tentu Joohyun tidak bermaksud seperti itu. Gadis itu hanya terluka dan itu satu-satunya hal yang ia pikirkan. Krystal satu-satunya orang yang ia pikir cocok untuk melakukannya.

Helaan nafas terdengar dari bibir Krystal. Ia memijit pelipisnya yang sedari tadi pusing karena berbagai masalah. Ia bangkit dari tempat tidurnya. Ia tidak bisa tidur. Padahal jam sudah menunjuk pukul sebelas malam. Dia lelah tapi pikirannya tetap berkelana. Krystal berjalan menuju jendela kamarnya. Membukanya. Membiarkan bunyi mobil yang masih ramai dari kota New York masuk ke apartment-nya.

Banyak orang tidak ingin tinggal di apartment yang berada tepat di tengah kota New York. Selain karena macet, apartment disitu sangat bising. Kota yang tak pernah tidur ini terlihat dari jalananannya yang tidak pernah sepi. Tapi itulah yang membuat Krystal tinggal di apartment-nya. Ia menyukai suara bising dari mobil yang terkadang di warnai oleh suara klakson. Itu mengisi kekosongan di apartment-nya. Mengisi kekosongan dirinya juga.

Ia tidak pernah mempunyai teman. Krystal menghabiskan masa hidupnya di apartment orangtuanya. Ia tidak bersekolah seperti anak pada umumnya. Ia homeschooling. Dia hanya bersekolah tiga bulan lamanya. Sebelum teman-temannya membulli dirinya dan orangtuanya memutuskan untuk mensekolahkannya dirumah.

Sepupunya adalah temannya. Minho dan Junmyeon. Tapi sekarang mereka tidak dekat lagi. Setelah Junmyeon putus dari Joohyun dan ia lebih memihak Joohyun. Setelah Junmeyon menikah dengan Park Chorong, perempuan yang ia pilih melebihi Joohyun. Minho masih bersikap baik terhadapnya. Apalagi Choi Sulli, istrinya. Tapi entahlah… Krystal menjauhi Minho. Karena dimana ada Minho disitu juga ada Junmyeon. Jika Junmyeon ada, maka ia dan Krystal pasti akan bertengkar.

Krystal menatap jalanan yang tak pernah sepi itu. Di tengah hingar bingar ini ia masih merasakan sepi.

.

.

.

.

.

Tidak mempunyai teman bukan berarti Krystal tidak mempunyai seseorang yang bisa diajak berbicara. Ibunya selalu berada disampingnya. Ibunya lebih dari sekedar ibu baginya. Ia adalah saudaar perempuan Krystal dan juga sahabatnya. Ibunya menjadi tempat Krystal ketika ia bingung.

Kebetulan yang menakjubkan adalah hari ini, sehari setelah Joohyun dan Krystal berbicara, Krystal dari minggu lalu sudah mempunyai janji dengan ibunya. Ibunya baru saja pulang dari dinas kerjanya dan baru hari ini, setelah dua minggu, ia dapat bertemu dengan ibunya.

Krystal asyik menunggu di restaurant italia dekat kantor ibunya. Ketika hampir 15 menit menunggu, ibunya datang. Dengan pakaian formal kantor dan rambut yang digulung ke atas. Wanita yang menginjak akhir 40 ini terlihat tersenyum ke Krystal. “Apakah sudah menunggu lama?” Tanya ibunya dan mulai melihat menu.

Krystal juga ikut melihat menu, “Tidak juga. Aku pikir Oemma akan lebih lama lagi.”

“Rapatnya selesai lebih cepat.” Ujar Jessica pendek. “Ah… Oemma melihat macaroni disini jadi teringat Mac and Cheese di Chichago. Itu sangat lezat.”

Oemma tidak membawakannya untuk ku.” Kata Krystal dengan nada yang pura-pura kesal.

Jessica tertawa, “Oemma pernah membawakan mu makanan tapi kau dan Appa tidak pernah memakannya. Lagipula Oemma dibayarin makan disana.”

Krystal kemudian berdehem, “Kita pesan Lasagna saja bagaimana? Aku bosan dengan spaghetti.”

“Oemma ikut saja dengan mu.”

Krystal dan Jessica memesan Lasagna dengan minuman mereka. Krystal terdiam sejenak. Haruskah ia mengatakannya? Meminta saran Oemma-nya?

“Bagaimana kuliah mu? Apakah rancanganmu diterima oleh Professor Clark?”

Krystal menatap Oemma-nya sejenak, “Tidak. Dia menolaknya. Tapi aku sudah mendapatkan inspirasi baru.”

Jessica menganggukan kepalanya, “Dan bagaimana rencana mu ketika selesai kuliah? Kau sudah mempertimbangkan saran Appa dan Oemma kan?”

Saran Appa dan Oemma membuat Krystal tambah frustasi. Kedua orangtuanya sudah mengetahui jika Krystal langsung ingin membuat brand pakaian. Tapi mereka khawatir. Mereka khawatir karena Krystal harus meminjam uang dari bank. Menurut mereka itu terlalu beresiko. Mereka juga tidak dapat membantu Krystal. Hidup di New York hampir 20 tahun, gaji mereka masih dikatakan terlalu pas-pasan. Mereka ingin Krystal bekerja dulu di boutique seseorang baru membuat brand sendiri.

“Krystal!” Jessica memanggil Krystal yang terdiam. Ia tersenyum sedih, “Kau tidak setuju bukan?”

Krystal berdehem, “Aku mendapat kesempatan lain. Bukan meminjam uang dari bank. Joohyun menawariku bekerja sama untuk pakaian musim panasnya. Itu dapat membuat namaku terkenal dikalangan investor.”

“Itu hal yang bagus sayang!” Jessica bersorak senang. Ia mengenggam kedua tangan Krystal, “Apa kau menerimanya?”

“Belum. Aku masih memikirkan syaratnya.”

Jessica menghela nafasnya dan memijit pelipisnya, “Syarat…. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Jadi katakan kepada Oemma. Apa syaratnya? Apa syaratnya kau harus membagi pendapatan mu atau kau membangun brand dibawah perusahaan miliknya atau apa?”

Krystal menggelengkan kepalanya, “Bukan syarat seperti itu.”

“Bagus! Apa lagi yang kau tunggu Krystal Jung? Atau ia memberikan syarat yang melanggar hukum?”

“Astaga Oemma tentu tidak! Oemma berkata seakan Joohyun orang jahat.”

Jessica kembali mengenggam tangan Krystal, “Kalau begitu apalagi yang harus kau tunggu? Dengar, Oemma tidak tahu persis apa syaratnya tapi menurut Oemma kalau syaratnya tidak merugikan mu, tidak membuat mu melanggar hukum, Joohyun juga mempercayaimu, dan satu lagi Joohyun senang jika kau melakukannya kenapa tidak? Oemma tidak akan bohong kepada mu Krystal, ini adalah kesempatan terbaik mu.”

“Permisi!” Suara dari pelayan wanita mengejutkan mereka berdua. “Pesanan kalian…”

Hmm.. Lasagna datang pada waktu yang tepat.” Ujar Jessica dan mulai memotong Lasagna-nya.

.

.

.

.

.

Berbicara dengan ibunya tidak membuat Krystal sedikitpun tenang. Akhirnya, ketika jam menunjukan pukul 12 malam, ia memutuskan keluar dari apartment-nya menuju bar di sekitar apartment-nya. Dengan pakian tidur tipisnya dilapisi oleh jaket tebal dan panjang. Yang Krystal inginkan saat ini adalah minum-minum.

“Lady… Aku sudah lama tidak melihatmu datang disini.” Seru bartender bar ke Krystal.

Krystal tersenyum kecil, “Hai Micheal! Aku tidak melihat Nick!”

“Oh Nick keluar dari 2 minggu yang lalu. Kekasihnya tidak setuju dia bekerja disini.”

“Sayang sekali… Aku pesan seperti biasa.” Krystal duduk dan melihat layar tv menampilkan tv series berjudul entah apa. Dia sudah lama tidak melihat tv. “Bar sangat sepi malam ini.”

“Ini jam 12 malam Lady… Tentu sudah sepi. Aku mau tutup jika saja kau tidak datang.” Michael kemudian memberikan minumannya. Krystal tersenyum dan meneguk dengan sekali.

“Hai Micheal!” Seseorang datang dan terlihat menjabat tangannya dengan Micheal. “Ku kira bar mu sudah tutup.”

“Hai Kai! Sebenarnya aku sudah ingin tutup jika saja Krystal tidak datang.”

Krystal yang mendengar namanya disebut menoleh ke arah teman Micheal.

“Ini teman ku Kai, Krystal. Dia juga berasal dari Asia seperti mu. Tepatnya dari Korea Selatan.”

Krystal terpaksa mengeluarkan senyumannya. Kalau ingin berdebat, dia akan berkata jika dia benar-benar orang Amerika asli karena lahir dan dibesarkan disini. Keluarganya sudah tiga generasi berada di Amerika. “Aku pesan lagi.”

“Aku seperti biasa.” Ujar Kai dan duduk disamping Krystal.

Mereka terdiam. Krystal benar-benar ingin sendiri kali ini. Ketika minuman datang, ia kembali meneguknya dengan sekali teguk.

“Hari yang buruk?” Tanya Kai menatap Krystal. “Atau masalah yang berat?”

“Masalah yang berat.” Sahut Krystal enteng. Ia mengangkat tangannya untuk memesan lagi.

Kai meneguk minumannya.

“Hari yang buruk atau masalah yang berat?” Tanya Krystal melihat Kai yang juga meminum alkoholnya dengan cepat.

Kai tersenyum, “Dua-duanya.”

“Ku kira aku saja yang menderita.” Kata Krystal kemudian menyesap minumannya.

Kai tertawa, “Tidak bisakah kau memberi simpati kepadaku?”
Krystal menatap Kai. Menyadari jika laki-laki itu memiliki wajah rupawan dengan mata bulat sempurna, hidung yang mancung, dan bibir yang tebal. Ia berdehem, “Aku tidak dapat memberikan simpati karena aku sendiri kekurangan akan hal itu. Mungkin kau bisa memberikan simpati kepadaku?”

Kai menyesap minumannya, “Apakah kau pernah berpikir jika semua hal tidak ada yang sesuai dengan ekspektasi mu? Hari ini aku menyadarinya. Kau mengenalku?”

“Apa kau model yang tidak terlalu terkenal?”

Kai tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban lugas Krystal, “Kau bukan yang pertama yang mengatakan pekerjaan ku model. Tapi kau yang pertama yang mengatakan jika aku model yang tidak terlalu terkenal.” Kai mendekatkan wajahnya ke Krystal, “Aku penari terkenal.”

“Itu bukan duniaku.” Seru Krystal dan lagi-lagi meneguk alkoholnya. Satu-satunya penari yang ia kenal Oh Sehun. Oh, Krystal jadi bertambah muram mengingat hal tersebut.

“Intinya, aku membuat koreagrafer dan berharap koreagrafer ku di pilih untuk acara pembukaan. Tapi tidak malah koreagrafer teman ku. Kemudian teman ku dipilih sebagai center, itu biasanya posisi ku. Dan teman ku, orang yang sama dengan koreagrafernya dipilih dan sebagai center, diberikan durasi solo performance terlama. Kau tahu kenapa begitu? Itu karena dia mempunyai wajah yang tampan.”

“Kau tampan.”

Kai tersenyum mendengar perkataan Krystal, “Dia lebih tampan. Kata murid-murid perempuan yang lain wajahnya membuat mu tidak bisa bernafas.” Ia kembali berkata, “Jadi bagaimana dengan mu?”

Krystal akhirnya bercerita, “Aku mempunyai masalah besar. Teman ku, tiba-tiba berkata kepadaku jika ia akan membantuku. Tapi dengan sebuah syarat. Dan aku pusing dengan syarat itu. Sebelum kau berkata jika syaratnya merugikan diriku atau melanggar hukum maka aku akan menjawab tidak. Syaratnya sedikit gila tapi tidak melanggar hukum.”

“Apa syaratnya?”

Krystal menyesap minumannya dengan muram, “Dia ingin aku menggoda calon tunagannya. Bisakah kau pikirkan itu?! Hidupku memang susah tapi aku tidak semurahan itu!”

“Jauhi saja teman mu. Ku rasa dia meremehkan mu.”

“Aku tidak bisa. Dia mempunyai masa lalu yang buruk tentang tunangan dan pernikahan. Itu yang bisa ia pikirkan dan hanya aku yang ia percaya. Masalah utamanya adalah aku butuh hal yang ia janjikan.”

“Hey, kau ma dengar saran ku?”

Krystal kembali menatap Kai, “Saran dari seseorang yang mabuk?”

Kai mendekatkan wajahnya ke Krystal, “Jika kau menerima saran dari seseorang yang tidak mabuk kau pasti tidak akan mabuk-mabukan.”

Krystal menghela nafas mendegar kalimat Kai yang mengindikasi dia sudah mabuk. Tapi ia tetap diam mendengarkannya.

“Menurutku, kau setuju saja dengan syaratnya. Tapi kau tidak menggoda calon tunangannya. Kau mungkin dekat dengan calon tunagannya tapi tidak sampai menggodanya. Ketika ia bertanya apakah calon tunagannya tergoda olehmu kau tinggal menjawab tidak. Dia pasti percaya padamu. Dan dia pasti tidak akan bertanya kepada calon tunagannya.”

Krystal melihat alkoholnya sejenak sebelum kembali meminumnya. “Kau tahu, kurasa kau teman yang enak diajak ngobrol.” Krystal mengeluarkan uangnya dan memanggil Micheal, “Ambil saja kembaliannya.”

Kai yang melihat Krystal akan pergi juga ikut membayar. “Kenapa kau berhenti minum? Kita bisa mengobrol lagi.”

“Aku ingin tidur.” Jawab Krystal pendek.

“Biar ku antar. Kau mabuk.”

Krystal tertawa dan ia mengibaskan tangannya, “Kau juga mabuk. Lagipula tempat tinggal ku dekat.” Ia berbalik keluar dari bar.

Kai mengikuti Krystal. “Hey, aku rasa aku bisa menemanimu berjalan.” Krystal masih berjalan tanpa menoleh dan Kai mengikuti Krystal. Ia dengan cepat mensejajarkan langkahnya dengan Krystal, kemudian mencekal tangan Krystal, “Atau kita bisa bersenang-senang sedikit? Kau tahu… Aku sedang kesepian. Kau juga.”

Krystal mendekat ke arah Kai dan berbisik, “You’re not lonely. You can ask your fiancée or your wife to company you.” Ia kemudian menatap Kai dengan tatapan tajam, “Lain kali simpan terlebih dahulu cincin mu sebelum menggoda seseorang. Looser!” Ia segera berjalan menjauhi Kai.

Kai menatap punggung Krystal yang semakin menjauh kemudian tersenyum. Dia menyukai gadis itu.

.TBC.

Haiiii… Aku updated agak cepat kali ini. Tapi gak tahu kedepannya soalnya aku udah masuk sekolah lagi. Agak liar bukan? Ya, soalnya mereka hidup di Amerika alias New York jadi aku buat latar kehidupan Krystal agak liar.

Well, Kim Jongin atau Kai sudah muncul menjadi playboy kelas kakap. Sedangkan Oh Sehun belum. Kayaknya sih Sehun muncul di chapter depan.

Okay, See you soon~

Advertisements

Unwanted Reverie (Chapter 1)

unwantedreverie

Poster By : NJXAEM@ POSTERCHANNEL

Author: Ally

Cast: f(x)’s Krystal Jung | EXO’s Oh Sehun | RV’s Bae Irene |

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

***

Unwanted #1 : Making A Brand

Kertas-ketas sudah bertebaran dimana-mana. Banyak dari kertas sudah tak berbentuk lagi akibat dari emosi sang gadis yang asyik mencoret-coret sesuatu. Tak lama kemudian ia kembali meremas kertas, lagi, dan melemparnya sembarangan. Krystal merengut. Ini benar-benar sial! Ide-idenya yang tadi pagi sudah keluar hilang entah kemana. Belum lagi mood nya yang benar-benar buruk.

Sudah dua jam ini gadis yang berambut blonde ini berkutat menyelasaikan satu model pakaian. Satu model saja. Tadinya Krystal sudah memiliki banyak ide bahkan sudah menghubungi pembimbingnya. Mahasiswi semester terakhir yang sedang membuat karya sebagai pembuktian dia siap bekerja merasa yakin dengan karyanya. Yah gitu deh akhirnya… Pembimbing Krystal benar-benar marah dan menolak ide Krystal. Mengatakan jika diri Krystal tidak pernah berkembang. Hanya gambar gadis ini saja yang bagus.

Pembimbingnya mengancam jika dalam tiga minggu Krystal tidak menyelesaikan model pakaiannya ia harus menunggu tahun depan. Belum lagi ia bertemu dengan teman kampusnya yang mengejek dirinya. Mengatakan jika sedari awal Krystal keluar saja dari jurusan mode dan banting setir menjadi seorang pelukis. Jika ia tahu waktunya banyak, Krystal pasti akan membalas omongan gadis sialan itu.

Krystal memijit pelipisnya. Ia meletakan buku sketsanya dan beranjak dari tempat tidurnya. Keluar dari kamarnya untuk memasak makan siangnya sendiri. Krystal mengeluarkan dua bungkus ramyun instan dan mulai memasaknya.

Ting!

Krystal yang sedang asyik melamun tersentak hebat mendengar bunyi yang tak lain dari handphone-nya. Gadis itu menggarukan kepalanya yang tidak gatal. Mencoba mengingat dimana handphone-nya.

Ting!

Bunyi pesan masuk terdengar lagi. Krystal mengecilkan kompornya dan mulai mencari handphone-nya. Pasti ada yang penting. Kalau bukan pekerjaannya sebagai seorang kolomnis disebuah majalah fashion pasti mengenai kedua orangtuanya. Atau dari seseoarang yang dari tadi memang ia tunggu kabarnya.

Gadis itu tersenyum senang ketika menemukan handphone-nya yang tergeletak di ruang tv yang kadang merangkap menjadi ruang tamu. Krystal melihat isi pesan. Beberapa detik kemudian senyuman Krystal langsung merekah. Ia bahkan tersenyum lebar sampai matanya terlihat mengecil. Mood-nya mulai kembali. Dia yakin dia akan menemukan inspirasinya sebentar lagi.

.

.

.

.

.

Jalanan Manhattan yang benar-benar ramai kali ini benar-benar menguji kesabaran Krystal. Setelah terjebak macet hampir sepanjang jalan ia akhirnya memarkirkan mobilnya di depan butik terkenal dengan susah payah. Itupun seetelah berkeliling-keliling tiga kali. Ia keluar dari mobilnya dengan merapikan rambutnya yang sedari tadi ia acak-acak karena kesal. Memasuki butik bernama Red Velvet by Bae Joohyun dan sedikit menyeringit melihat banyaknya pengunjung. Itu pasti karena butik ini sedang memberikan diskon besar-besaran.

“Krystal!”

Krystal menoleh dan melambaikan tangannya kepada Suzy, sekertaris dari Joohyun. Suzy menghampiri Krystal dengan senyuman manisnya.

“Ini gila!” Seru Krystal melihat keadaan sekitar.

Suzy tertawa, “Kau tahu… Kami mengadakan diskon besar-besaran hingga 85%. Ayo kita ke lantai tiga. Disana lebih nyaman.”

Krystal mengikuti Suzy yang membawa dirinya memasuki sebuah lift yang dilapisi kaca, sehingga Krystal masih melihat banyaknya orang ketika ia naik.

“Joohyun Oennie masih ada rapat dengan klien. Ia menyuruh mu bersantai di lantai tiga terlebih dahulu.”

Lift pun mulai naik, Butik ini terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama dan kedua adalah butiknya. Sedangkan lantai tiga adalah ruang kerja para designer. Lantai pertama bisa dijangkau oleh semua orang. Rata-rata orang yang menggesekan kartu kreditnya tanpa berpikir panjang berbelanja dilantai dua, lantai yang diperuntukan untuk pengunjung VIP. Dengan memasuki lift sudah benar-benar berkah bagi Krystal. Dari lift-nya Krystal dapat melihat jika lantai keduanya juga penuh.

Krystal mengeluarkan komentarnya, “Aku tidak tahu orang kaya butuh diskon untuk berbelanja.”

Suzy tersenyum kecil, “Bagi anak kaya yang uangnya masih terbatas mereka membutuhkan diskon. Kau lihat muka mereka semua? Aku lebih memilih melayani orang-orang di lantai bawah daripada melayani mereka. Sombong sekali!”

Bunyi Ting! terdengar dan mereka akhirnya keluar dari lift. Di lantai tiga ini juga sangat ramai.

“Wow! Sepertinya butik ini sangat sibuk sekali!”

“Ini sudah memasuki musim dingin. Kami mengadakan diskon besar-besaran agar baju musim gugur dan panas kami habis. Belum lagi minggu depan kami akan mengeluarkan line musim dingin.” Jelas Suzy. “Joohyun Oennie menyuruhku untuk mengajakmu melihat-lihat line musim dingin. Dia mengatakan kau membutuhkan inspirasi untuk tugas akhir.”

“Dia mengizinkannya?” Tanya Krystal tidak percaya. Melihat line musim dingin pertama kali? Apa?

Suzy tertawa melihat ekspresi terkejut Krystal. “Hei… Kau sangat jelek dengan ekspresi terkejutmu itu.”

Krystal menutup mulutnya yang tadi sempat terbuka. Ia berdehem tapi matanya tetap sangat berbinar.

“Kurasa kau sudah tidak sabar bukan? Ayo ikuti aku….” Suzy membawanya ke tempat yang belum pernah Krystal masuki ketika ia mengunjungi Joohyun. Ia sudah beberapa kali ini mengunjungi Joohyun. Kebanyakan berhubungan dengan tugas kuliahnya. Tapi ia tidak pernah berpikiran ia akan masuk ke ruangan dimana baju-baju indah belum pernah dilihat banyak orang akan ia lihat.

Ketika Suzy ingin membuka ruangan itu dengan kartu ID nya ia bertanya, “Kau baik-baik saja?” Suzy melihat Krystal dengan sorot mata geli. Krysal sangt gugup hingga terdapat bulir-bulir keringat di dahinya. “Yang akan kita temui baju Krystal Jung bukan bos baru mu.”
“Aku hanya terlalu excited Suzy…”

Suzy tersenyum dan menempekan kartu ID. Pintu terbuka. Ruangan itu penuh dengan baju baru yang membuat mata Krystal membesar. Ia mendekat ke salah satu rak baju dan mengambil sebuah gaun bewarna pelangi.

“Sehabis Red Summer dan Autum in Red, kami berpikir jika musim dingin harus memberikan kesan lembut. Nama katalog musim dingin kami adalah Perfect Velvet.   Gaun yang dirimu pegang saat ini adalah gaun untuk makan malam bersama keluarga. Bagaimana menurutmu Krystal?”

“Genius! Merah terlalu membosankan untuk pakaian natal! Begitu juga putih! Atau hitam! Pelangi?!” Krystal terkekeh. “Bae Joohyun memang yang terbaik. Tidak heran baru-baru ini dia berhasil membuka tokonya di Paris.”

Suzy menggelengkan kepalanya melihat Krystal yang masih kagum. “Seperti yang kau lihat sekarang ini. Pakaian kami terdiri dari banyak gliter. Ini karena kami ingin pemakainya bersinar dengan memakainya. Desember merupakan musim libur yang sangat penting. Baju-baju terdiri dari warna lembut tapi juga ada warna yang mencerminkan Desember seperti hijau, gold dan silver. Pakaian bewarna merah tetap ada, tetapi tidak sebanyak pakaian bewarna lembut.

Krystal tidak menjawab karena matanya masih sibuk melihat pakaian-pakaian indah yang ada di ruangan ini. “Menakjubkan bukan?”

Suzy kembali menggelengkan kepalanya..

.

.

.

.

.

Krystal menghabiskan waktu satu setengah jam di ruangan itu dan sekarang inspirasi benar-benar memenuhi kepalanya. Mood-nya juga jauh lebih baik. Melihat rancangan Joohyun membuat ia juga sadar akan satu hal. Pembimbingnya benar., design-nya tadi sangat payah. Suzy sedari tadi terus menemaninya dan memberikan semua jawaban dari pertanyaan Krystal. Seperti untuk apa pakaian tersebut, apa bahannya, bagaimana cara menjahitnya.

Sekarang Krystal masih menunggu Joohyun yang rapatnya belum selesai juga. Suzy berkata jika rapat ini adalah penentuan kontrak dengan para investor. Para investor berdebat mengenai catatan penjualan Joohyun tahun lalu yang memang buruk dibandingkan tahun ini.

Sekarang, Krystal sedang di ruangan kerja Joohyun menikmati jus nanas yang dibawakan oleh pegawai, masih ditemani Suzy. Sejujurnya Krystal akan memilih wine jika ia punya supir yang akan mengantar ia pulang.

“Joohyun Oennie baru saja mengirimkan pesan kepada ku. Ia sudah selesai rapat dan ia akan segera ke sini.”

“Suruh dia untuk tenang saja. Aku yakin otaknya masih panas sehabis berdebat denga para investor.” Krystal kembali meminum jusnya. “Tapi itu artinya kau akan semakin lama dengan ku. Kau sangat bersabar tadi di ruangan itu bersama dengan ku. Jadi terimakasih.”

Suzy mengeluarkan senyumannya, “Tidak usah berterimakasih. Sejujurnya akulah yang harus berterima kasih. Aku tidak tahan harus mendengar perdebatan para investor.”

Krystal dan Suzy sama-sama tertawa.

Brak!
Suara pintu terbuka mengejutkan mereka berdua. Tapi Krystal semakin terkejut menemukan siapa yang datang.

“Joohyun Oennie!” Serunya masih terkaget dengan penampilan Joohyun. “Aku tidak melihat mu selama sebulan dan sekarang rambutnya bewarna pirang?”

Joohyun berlari kecil dan memeluk Krystal. Sedikit susah karena barang yang ia bawa. “Dan kau juga berubah. Rambut mu juga pirang dengan sama dengan ku. Terakhir kali kita betemu rambut mu bewarna merah Jung Soojung.”

Krystal menggaruk kepalanya, “Aku selalu mengganti warna rambut ku jika butuh inspirasi.”

“Jadi apakah kau mendapatkan inspirasi?” Krystal baru saja ingin menjawab tetapi Joohyun kembali berbicara, “Oh, tunggu! Cerita ini pasti sangat panjang dan aku sangat kelaparan dari tadi. Sebaiknya kita mengobrol sambil makan. Aku sempat membelikan makanan untuk dirimu dan Suzy. Kita bisa makan sambil mengobrol.”

“Aku akan sangat senang mendapatkan makanannya. Tapi aku harus menyusun jadwal mu untuk lusa. Jika boleh aku akan memakan sendiri nanti.”

Joohyun menepuk jidadnya pelan, pertanda ia lupa. “Jadwal ku lusa ya… Baiklah ini makanan mu. Terimakasih sudah bersama Soojung sejak tadi.”

Suzy menerima makanan dari Joohyun dengan senang hati. Setelah berpamitan dengan Krystal ia keluar dari ruangan Joohyun.

Joohyun membuka makanannya dan Krystal kemudian kembali bertanya, “Sudah dapat inspirasi?”

“Tentu. Aku mendapat ide gila jika aku akan membuat gaun saja.” Krystal mulai memasukan potongan daging ke mulutnya. “Guru Clark tadi memarahi ku dan mengatakan jika aku tidak berkembang. Membandingkan dengan rancangan Oennie kurasa ia benar.”

“Jangan bersedih… Guru Clark adalah orang yang keras. Ketika aku di semester akhir juga ia mengatan jika rancanganku cocok dipakai di film alien.”

Krystal tersedak mendengar perkataan Joohyun. Ia berusaha untuk tidak tertawa.

Joohyun tertawa geli, “Tertawalah. Jika mengingat perkataannya aku juga menganggap itu lucu. Awalnya memang menjengkelkan. Aku membuat rancangan ku dengan tidak tidur dengan benar selama tiga hari. Ia menolak rancangan ku tak sampai sepuluh menit. Tapi sekarang aku menganggap ia ada benarnya.”
“Oh astaga… Dia jenius tapi entah mengapa lebih memilih jadi guru.”

“Itu adalah passion ia sebenarnya. Nah, sekarang apa yang rencana mu setelah kau lulus?”

“Aku belum tahu hal yang pasti, Oennie. Entahlah… Aku berharap rancangan ku dapat menarik beberapa perusahaan besar sehingga mereka akan memperkejakan ku diperusahaan mereka. Setelah bekerja bertahun-tahun bekerja mungkin aku akan membuat brand ku sendiri. Seperti impian ku. Atau aku akan mendaftar di majalah yang bergerak di bidang fashion dan bekerja disana bertahun-tahun untuk dekat dengan orang-orang penting di bidang fashion sebelum membuat brand ku sendiri.”

Krystal menghela nafas panjang. Rencana yang sebenarnya adalah membuat brand-nya sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Joohyun ketika ia lulus. Tapi itu rencana yang paling tidak mungkin. Ia menatap makanannya dengan tidak berselera, “Atau langsung saja membuat brand ku sendiri seperti yang Oennie lakukan. Dengan kerja keras aku yakin suatu hari brand ku akan terkenal.”

Ya, Krystal harus bekerja sangat keras. Mungkin dengan meminjam uang dari bank? Dan percayalah, ia rasa ia butuh waktu lebih dari lima tahun untuk membuktikan apakah ia sukses atau tidak. Tidak seperti Joohyun dimana brand-nya langsung terkenal dan ia punya toko di pusat Manhattan yang harganya sangat mahal. Krystal perlu latar keluarga chaebol seperti Joohyun agar para investor tidak ragu memberi uang mereka. Sayangnya, satu-satunya yang dapat ia banggakan adalah ia mengenal Joohyun.

“Oennie…” Krystal memanggil Joohyun ketika menyadari Joohyun sedari tadi termenung.

“Oh, maaf.” Joohyun tersenyum malu kepada Krystal. “Ada yang suatu hal yang terus kupikirkan akhir-akhir ini.”

“Ku rasa aku menganggu mu bukan? Kau pasti lelah habis bertemu dengan para investor mu.”

Joohyun semakin tidak enak hati, “Bukan seperti itu Krystal. Kau tidak mungkin menganggu mu. Malah aku sengaja memanggilmu untuk meminta bantuan mu.”

Bantuan?

“Bantuan apa Oennie?

Joohyun meletakan makan siangnya. Ia menautkan kedua jarinya. “Aku ragu mengatakannya. Aku sangat gugup.”

“Oennie kau membuat ku takut…”

Joohyun menarik nafasnya. “Baiklah…” Ia menghembuskan nafasnya perlahan, “Sehun melamar ku….”

“Sehun?” Krystal sangat terkejut hingga ia meletakan makanannya dan bangkit dari kursinya, “Oh Sehun pacar mu selama satu setengah tahun itu? Dia melamar mu?”

“Dia melamar ku ketika anniversary kedua kami Krystal, sekitar tiga bulan yang lalu. Tapi aku belum menerimanya.” Joohyun menginggit bibirnya, “Aku takut…”

“Oh, Oennie…” Krystal mendekat ke Joohyun, “Aku tahu kau pernah gagal menikah dengan sepupu ku Kim Junmyeon. Tapi kau sendiri yang bilang jika Sehun berbeda dari Junmyeon. Dan juga, kau terlihat bahagia dengannya.”

“Krystal…. Aku tetap takut.” Joohyun terlihat seperti akan menangis. Krystal segara memeluknya. “Tapi yang paling membuatku takut adalah meminta bantuan kepada ku…”

“Oennie ingin meminta bantuan apa kepadaku? Oennie ingin aku datang kepadanya dan mengatakan Oennie belum siap?” Krystal melepas pelukannya dan memegang tangan Joohyun. “Katakan saja Oennie…”

“Aku… Aku ingin kau menguji kesetiaannya…”

“Kesetiaan?” Alis Krystal berkerut. Menguji kesetiaan? Bagaimana caranya? Oh, jangan-jangan, “Oennie ingin aku menggodanya agar tahu ia setia atau tidak?”

Joohyun menatap Krystal ragu tetapi ia menganggukan kepalanya, “Aku tahu ide ini terdengar sangat gila. Tapi aku hanya mempercayai mu.” Joohyun melanjutkan, “Aku akan pergi ke Eropa selama satu bulan ini untuk mengunjungi beberapa investor. Ketika aku pergi kau bisa tinggal di apartment ku dan Sehun. Kau juga dapat mengakses lemari ku.”

Mengakses lemari Joohyun? Itu hal yang bagus. Lemari Joohyun yang berisi brand-brand bermerek pasti akan membuat otaknya penuh akan ide.

“Dan juga aku akan membantu mewujudkan impian mu. Kau berkata kau ingin membuat sebuah brand bukan? Percayakan kepada ku. Aku akan mewujudkannya.”

Jadi Jooohyun tadi mendegar perkataannya? Kemudian ia akan membantu Krystal mewujudkan impiannya? Tunggu…

“Oennie…”

“Terakhir dan ini yang terpenting. Aku mempercayai mu karena kau tidak akan mengkhianati mu. Bagaimana?”

Mewujudkan impiannya. Kata-kata itu berhasil berputar di otak Krystal.

.TBC.

 

 

 

Unwanted Reverie (Prologue)

unwantedreverie

Poster By : NJXAEM@ POSTERCHANNEL

Author: Ally

Cast: f(x)’s Krystal Jung | EXO’s Oh Sehun | RV’s Bae Irene |

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

 

 

6a010f023c45bf4fe77409aa89be7311

 

“Selama hal itu tidak menyakiti seseorang aku akan melakukannya. Joohyun tidak akan tersakiti. Dia lebih tersakiti jika ia tidak mengetahui yang sebenarnya. Sehun, laki-laki itu akhirnya akan sadar kesalahannya dan berusaha memperbaiki nya. Dia tidak akan tersakiti olehku. Diriku? Seharusnya aku menghitung kemungkinan ini. Kenyataannya, akulah yang paling tersakiti dari hal ini. Janji, kebohongan, dan cinta yang seharusnya tidak tumbuh.”

––Krystsal Jung––

da1d92323ef979db8d43fc006f744d67--red-velvet-irene-irene-red-velvet-airport

“Perasaan ragu itu terus menghantui ku. Aku membutuhkan pembuktian, bukan didasari oleh perkataan tapi didasari oleh aksi. Hal ini memang gila, tapi walaupun pada akhirnya buruk sangka ku terbukti, aku yang akan meninggalkannya. Bukan ia yang akan meninggalkan ku, seperti dulu.”

––Bae Joohyun­­––

600247-monsieur-oh-sehun

“Aku tidak pernah merasa salah di hidupku. Pertemuan dengan mu merupakan kesalahan bagiku. Tapi, setelah kupikir-pikir, pertemuan dengan mu merupakan suatu yang benar Kau menyadarkanku bahwa yang kulakukan saat ini adalah sebuah kesalahan.”

––Oh Sehun––

.

 .

.

Di hidup Krystal, ia selalu mengimpikan banyak hal. Dia ingin menjadi designer terkenal. Mempunyai brand pakaian terkenal. Namanya menjadi sejarah di dunia fashion. Terdengar sangat mudah di ucapkan ketika ia menuliskan mimpi itu. Umurnya sepuluh tahun waktu itu. Sekarang, diumurnya yang menginjak 24 tahun, Krystal baru mengetahui betapa susah mimpinya tercapai.

Mimpi pertamanya, dia ingin menjadi designer. Itu sudah hampir tercapai. Mengingat dirinya sebentar lagi akan tamat kuliah dan mendapat gelar tersebut. Tapi dua mimpi lainnya seakan susah untuk di raih. Ada dua kemungkinan yang sudah ia susun jauh-jauh agar impian keduanya tercapai. Pertama, dia akan terus bekerja di majalah fashion agar dapat mengenal orang-orang penting di bidang fashion baru membuat brand-nya. Jika sudah membuat brand tinggal menunggu waktu hingga namanya tercatat di sejarah dunia fashion. Yang kedua dia akan meminjam uang dari bank untuk membuat brand-nya sendiri. Cara ini lebih cepat daripada harus bekerja di majalah fashion. Tapi cara dengan cara ini, Krystal harus bersusah payah terlebih dahulu sebelum brand-nya benar-benar dikenal.

Itu adalah dua kemungkinan mengingat ia hanya berasal dari keluarga yang sederhana. Bukan anak seorang kaya tujuh turunan. Bahkan, selama tigapuluh tahun pernikahan orangtuanya, orangtuanya tetap tinggal di apartment.

Sebenarnya, ada satu kemungkinan yang tidak pernah Krystal pikirkan sebelumnya. Kemungkinan itu datang dari Bae Joohyun, teman dekatnya yang umurnya 3 tahun lebih tua daripada Krystal dan bekerja sebagai designer terkenal.

Line

Bae Joohyun adalah seorang designer terkenal yang berhasil mencapai semua impian pada umurnya 25 tahun. Sekarang di umurnya 27 tahun, Bae Joohyun menghadapi masalah yang pelik, baginya. Ia dilamar oleh kekasihnya Oh Sehun. Lamaran itu membuat ia ketakutan dan masa lalu berhasil menghatuinya. Untungnya, selama tiga bulan dia berhasil menghindari Sehun karena sibuk dengan pekerjaannya.

Pada akhirnya, ia mengambil keputusan yang diluar akal. Dengan mempercayai Krystal, teman dekatnya. Joohyun dan Krystal bertemu ketika Joohyun berpacaran dengan Junmyeon, yang tak lain adalah sepupu Krystal. Junmyeon pada akhirnya meninggalkan Joohyun ketika ia lebih memilih berpacaran dengan salah satu rekan kerjanya. Berkata ia tidak bisa menyayangi Joohyun yang saat itu sedang di puncak karirnya. Hubungan dia dan Junmyeon hancur tak berbekas. Hanya saja menghantui Joohyun tentang pengkhianatan Junmyeon.

Lain halnya dengan hubungannya dan Krystal yang semakin kuat. Krystal gadis yang menyenangkan. Krystal gadis yang perduli. Walaupun tampang gadis itu sedingin es, ia sangat peka terhadap lingkungannya sekitar. Krystal adalah gadis yang selalu menepati janjinya dan jarang berbohong. Ia juga membantu Joohyun melewati masa terpuruknya dicampakan Junmyeon. Joohyun masih mengingat dengan jelas, Krystal marah-marah ke Junmyeon setelah ia mencampakan Joohyun.

Joohyun membalas kebaikan Krystal dengan memberikan gadis itu akses ketika gadis itu membutuhkan inspirasi. Ketika Krystal bingung tentang apa yang harus ia lakukan ketika ia lulus kuliah, Joohyun memberikan solusi dengan sebuah syarat yang tentunya didasari karena ia mempercayai Krystal.

Dia akan menggaet Krystal untuk rancangannya pada musim panas. Dengan itu, Krystal akan dapat dikenal oleh orang-orang fashion dengan cepat. Para investor juga mengenalnya dan kemudian tidak ragu berinvestasi untuk membuka brand pakaian Krystal. Syaratnya adalah Krystal menggoda kekasihnya, Oh Sehun.

Line

Oh Sehun. Kekasih Joohyun yang sama sekali tidak mengetahui apa-apa. Ia mencintai Joohyun, sangat. Dia adalah seorang dancer dan telah menari sejak kecil. Hidup untuk menari adalah motonya. Dulu dia adalah dancer yang berkeliling dunia menunjukan kebolehannya. Tapi setelah ia bertemu dengan Joohyun, disebuah pesta sponsornya, setelah ia jatuh cinta dengan Joohyun, Sehun memutuskan untuk menetap di New York agar lebih dekat dengan Joohyun. Memutuskan sebagai guru menari, tentunya di sekolah menari terkenal. Beberapa kali juga mencoba menjadi koreografer.

Bukan hanya kemampuan menarinya yang membuat orang tercengang. Atau wajah rupawannya yang membuat orang sulit bernafas. Sikap Sehun berhasil membuat Krystal ketar-ketir sedari awal. Sehun sendiri menganggap Krystal aneh dan tidak habis pikir bagaimana bisa Joohyun mempunyai teman seperti Krystal.

Keanehan itu berubah menjadi kejengkelan luar biasa. Apalagi Krystal tinggal di apartment-nya dan Joohyun. Joohyun berkata kepada Sehun jika Krystal membutuhkan inspirasi untuk pakaiannya, yang itu sangat benar. Tapi Joohyun tidak bilang ke Sehun bahwa itu juga caranya agar Krystal dapat menggoda Oh Sehun. Apa Krystal menggodanya? Yang jelas, pada akhirnya Sehun tidak tergoda oleh Krystal Jung. Tetapi ia telah jatuh cinta kepada gadis itu.

Line 2.png

 Aku deg-degan sekaleeeh mau publish cerita ini. Terakhir aku buat cerita baru cast utama Sestal tahun 2015, yaitu Flipped. Lama banget sumpah… Tapi gak kerasa aja udah dua tahun yang lalu… Tahun ini aku buat dua cerita tentang Sestal, satu ff judulnya The Wind of Change tapi cerita ini aku canceled sangking buntunya ide aku. Ternyata membuat cerita cinta segi empat tidaklah mudah….

So, aku buat cerita ini… Bagaimana menurut kalian?

 

In The Snow (Chapter 3/3)

inthesnow

Main Cast: Choi Minho, Choi Sulli, Lee Sungkyung, All Shinee’s member

Rating: T (Teen)

Length: Threeshoot

Author: Ally

Poster By: NJXAEM @ POSTER CHANNEL

Chapter 3

When the temperature goes to 20 up degree, i felt the snow replaced by the flower who blooms.

.

.

.

Seorang laki-laki dengan tergesa-gesa keluar dari sebuah apartment.

Aaah~

Teriakan kencang di susul ledakan besar dari apartment yang baru saja ia keluari membuat ia terdiam sejenak. Kibum menatap apartment tersebut dengan kosong. Segera berjalan menjauhi. Menabrak beberapa orang yang mendekat ke apartment yang terbakar itu. Beberapa menghubungi pemadam kebaran. Beberapa hanya melihat apartment itu sambil berbicara kepada orang disebelahnya apa yang sebenarnya terjadi.

Kibum melangkahkan kakinya dengan cepat menuju apartment-nya. Begitu masuk, ia menemukan ketiga temannya menatapnya penuh harap.

“Bagaimana?” Tanya Jonghyun.

Kibum menggeleng, “Mereka tidak ada.”

“Mereka? Minho dan targetnya?” Kali ini Taemin menatap Kibum khawatir.

“Ku rasa terjadi sesuatu di sana. Aku menemukan darah di lantai. Kaca yang pecah yang kurasa dari tembakan. Tetapi tidak ada sama sekali peluru.” Ia mengeluarkan hp-nya, “Aku memotretnya. Juga mengambil sample darahnya. Ku rasa itu darah dari 2 orang. “ Ia memberikan hp-nya. Tangan Kibum kemudian mengambil sesuatu dari kantongnya. Ia mengeluarkan kotak kecil. “Ini kedua sample darahnya.”

“Jonghyun tolong periksa sample-nya…” Jinki memberikan sample ke Jonghyun yang segera Jonghyun ambil. “Periksa kedua DNA darah kepada Minho. Baru kemudian periksa di database kita.” Jinki menatap Kibum, “Berikan aku ponselmu…”

Kibum menurut. Ia memberikan ke Jinki. Sekarang mereka ia, Kibum, dan Taemin melihat foto-foto yang diambil Kibum.

“Dari melihat fotonya ku rasa memang ada dua orang yang terluka. Satu masih bisa bergerak…” Taemin melihat fotonya dengan seksama. “Tetesan darahnya…”

“Itu mengarah ke lemari, ia mengambil handuk kalau tidak salah.” Kibum yang bersuara.

“Langsung ke lemari?” Kali ini Jinki yang bersuara.

“Mengapa?”

“Kenapa dia tahu jika handuk berada di lemari?”

“Okay, tunggu sebentar…” Kibum mengangkat salah satu tanganya. “Jangan bilang jika yang berjalan adalah Choi Jinri?”

“Minho tidak mungkin tahu dimana letak handuknya…”

“Tapi Minho tidur dengan Choi Jinri. Bisa jadi…” Taemin kembali melihat foto-foto yang Kibum ambil. Kibum dan Jingki menghela nafas lega mendengar perkataan Taemin.

“Hasilnya keluar!” Teriakan Jonghyun membuat mereka bertiga berlari ke sumber suara. “Sample A adalah darah Minho!”

“Sial!” Kibum menghela nafas kasar, “Sample A untuk genangan darah yang paling banyak. Yang tidak berjalan.”

“Bagaimana dengan Sample B?” Jinki menatap Jonghyun.

Jonghyun menatap komputernya, “Tidak ada hasilnya. Aku sudah memeriksa di data kita.”

Hyung…” Taemin mengusap mukanya kasar.

“Coba periksa di data perusahaan. Aku berpikir, bagaimana yang membantu Jinri selama ini bukan keluarga mafia tapi salah satu dari kita?”

“It’s worth to try….” Jari-jari Jonghyun dengan cepat menari di keyboard. Mengoperasikan program data base.

Ting!
“Kita mendapatkannya!” Teriak Jonghyun senang. “Dan ini menarik….”

Kibum melihat komputer dan berkata, “Aku setuju. Ini menarik….”

“Apa?”

“Tidak cocok 100% tapi cocok 55%. Hubungan saudara perempuan… Salah satu dari anggota kita. Namanya Lee Sungkyung. Ia bekerja sebagai dokter di perusahaan.”

“Alibi yang sempurna!” Taemin menggaruk kepala yang tidak gatal, “Coba pikirkan ini… Sungkyung menjadi dokter. Dokter di perusahaan mempunyai kelonggaran. Tugasnya hanya mengobati kita yang terluka. Tapi ia juga boleh cuti jika ia mau. Sungkyung bekerja di perusahaan kita itu artinya ia tahu yang terjadi di perusahaan kita!”

Jinki berbicara, “Dia tahu kapan nama adik perempuannya keluar… Ia tahu kapan adik perempuannya akan dibunuh. Dan ketika ingin di bunuh, Sungkyung mengambil cuti dan dialah yang menghentikannya sendiri.”

“Walau dia dokter tapi ia pasti dilatih untuk menjadi pembunuh bayaran terlebih dahulu. Setidaknya dia bisa menembak bukan?” Kibum mengeluarkan pendapatnya.
“Cari file tentang Sungkyung dan kirim file nya ke hp kami!” Perintah Jinki dan Jonghyun segera melakukannya.

“Di mulai menjadi anggota sejak umur 20 tahun. Merupakan mahasiswi kedokteran ketika masuk ke organisasi dan menjalankan pelatihan selama tiga tahun tetapi tetap memilih jadi dokter. Mendapat nilai tertinggi di menembak dan ahli dalam menembak. Latar belakang berasal dari panti asuhan di kota Mokpo dan diangkat saat umur lima tahun. Kedua orangtua angkat meninggal sejak ia berumur 16 tahun. Meninggalkan ia dan dana tunjangan yang cukup besar untuk membiyai kuliahnya.”

“Aku menemukan sesuatu lagi!” Jonghyun kembali mengirimkan data yang ia dapat ke handphone teman-temannya.

“Ya ini menakjubkan…” Taemin kembali berkata, “Tempat cuti dan tanggal cuti tepat ketika Choi Jinri ingin di bunuh.”

Jinki kembali menatap Jonghyun, “Dimana Lee Sungkyung sekarang?”
Jonghyun segera mencari dan ia tersenyum melihat hasilnya, “Lee Sungkyung sekarang di kota ini. Dia tinggal di apartment sama dengan Jinri dan juga ia bekerja di rumah sakit yang sama dengan Jinri. Satu lagi, sebentar lagi shift kerjanya selesai.”

“Mari kita temui dia….”

.

.

.

.

.

“Hai nyonya Lee Sungkyung…” Kibum membuka tutup kepala Sungkyung.

Sungkyung masih meringis ketika sinar yang begitu terang masuk ke matanya. Ia memejamkan matanya. Kembali membuka ketika tersadar tangannya juga diikat.

“Maafkan kami yang harus memukul kepala Anda. Anda melawan cukup sengit tadi.” Taemin menatap Sungkyung dingin.

“Siapa kalian?” Tanya Sungkyung mencoba untuk tenang.

“Dia pintar berpura-pura bukan? Kau tidak tahu siapa kami?” Jinki menghela nafasnya kasar. Menatap Sungkyung tajam.

“Jangan lupakan ia juga sama seperti kita…” Jonghyun menatap Sungkyung sinis, “Kami satu perusahaan dengan Anda.” Lanjutnya masih sinis.

“Satu perusahaan…. Kalian dokter?”

Keempat orang di depan Sungkyung langsung tertawa keras. “Dia begitu hebat bukan?” Jinki mengeluarkan pistolnya. “Hentikan basa-basi ini. Katakan dimana Choi Minho sebelum kesabaran ku habis…”

“Bagaimana jika kesabaran mu habis? Kau akan menembak ku? Atau menyiksa ku terlebih dahulu?”

Mereka terdiam mendengar omongan Sungkyung. Sungkyung menatap mereka berempat dengan tenang. Terlalu tenang sebenarnya.

“Kau ingin bermain…” Kali ini Taemin bersuara. “Baiklah…” Ia mengeluarkan file Sungkyung, “Kau lihat logo ini… Kau bekerja disini. Sama seperti kita.”

Sungkyung menghembuskan nafasnya kasar, “Baiklah. Aku bekerja untuk ALC sama seperti kalian. Jadi apa sekarang?”

Taemin melemparkan file ke lantai, “Jawab pertanyaan teman ku. Dimana Choi Minho!”

“Aku tidak tahu dimana Choi Minho.”

“Mungkin kita harus memperjelas suatu.” Jinki kembali berbicara. Ia menurunkan pistolnya, “Kau pikir kita tidak tahu siapa kau sebenarnya… Tapi kita tahu! Kau adalah saudara perempuan Choi Jinri yang bekerja di perusahaan ini. Dari mana kami tahu? Kami mencocokan darah Jinri dengan DNA mu. Itu yang mengatakan jika kau saudara perempuannya.

Kau lah yang menghentikan setiap orang yang membunuhnya selama ini. Kami yakin, kau yang membuat teman kami sekarang menghilang. Kau pasti membunuhnya kemarin siang dan membawa mayatnya entah kemana saat ia coba membunuh saudara perempuan mu!”

Sungkyung menatap mereka berempat dengan tatapan tidak percaya, “Kalian membuatku khawatir sekarang! Apakah kalian baik-baik saja?”

Jinki mengarahkan senjatanya ke Sungkyung. Menatap Sungkyung datar. “Katakan yang penting atau kau akan menyesal. Teman ku menghilang dari kemarin siang. Itu petunjuk selanjutnya.”

“Baiklah… Baiklah….” Sungkyung menghela nfasnya, “Aku bekerja sebagai dokter di ALC dan tugasku mengobati pegawai ALC yang terluka. Tapi samaranku selalu sama menjadi dokter di gawat darurat. Sekarang katakan kepada ku, bagaimana aku bisa membunuh teman mu jika kemarin siang ada operasi gawat darurat dan aku baru pulang jam tujuh malam?”

Jinki, Kibum, Jonghyun, dan Taemin saling menatap.

“Aku tidak berbohong. Kau bisa mengeceknya sendiri.”

Jonghyun langsung mundur untuk mengeceknya.

“Ku harap kau tidak berbohong.” Ujar Kibum dingin.

Mereka terdiam hingga cukup lama. Sungkyung tiba-tiba berbicara, “Setelah ini usai aku akan melaporkan hal ini kepada atasan kalian.”
Jinki baru saja ingin menjawab tetapi Jonghyun sudah datang. Mendatangi mereka semua yang berada di ruang tamu. “Alibinya terbukti…”

Sungkyung kali ini tersenyum, “Kalau dipikir-pikir sekarang…. Aku bisa menjawab bagaiman aku bisa bersaudara perempuan dengan Choi Jinri. Ini hanya kemungkinan. Mungkin ayahnya Jinri mempunyai hubungan gelap dengan banyak wanita dan salah satu itu adalah perempuan yang melahirkan ku. Kemudian ayahnya tidak mau bertanggung jawab dan perempuan itu menganggapku sebagai kesialan yang luar biasa dan membuangku di pantai asuhan. Bagaimana?”

Mereka tidak menjawab omongan Sungkyung. Kibum maju dan melepaskan ikatan tangan Sungkyung. Memotong tali dengan pisau lipatnya.

Sungkyung meringis akibat nyeri bekas ikatan. “Barang-barang ku sekarang!”

Taemin mengambil barang-barangnya. Memberikan jaket Sungkyung dan Sungkyung segera memakainya. Kemudian tasnya.

“Selamat tinggal.” Seru Sungkyung dingin. Sungkyung segera berbalik. Ingin mencari jalan keluarnya sendiri. Baru beberapa langkah, tangannya dicekal oleh Jinki yang membuat ia meringis.

“Kami hanya mencoba menyalamtkan teman kami. Tolong pertimbangkan lagi tentang Anda yang ingin melaporkan kami…”

Sungkyung mendekat ke arah Jinki, ia menatap Jinki tajam, “Kau seharusnya mempertimbangkan segala hal termasuk alibi ku sebelum menyertku ke sini!” Sungkyung segera menghentakan tangannya kasar. Berbalik dan menghilang dari apartment.

Mereka terdiam memandang kepergian Sungkyung. Apa sekarang mereka harus menyerah?

.

.

.

.

.

Tidak ada yang berubah sama sekali. Setidaknya selama beberapa jam terakhir. Walau dokter sudah mengatakan ia akan selamat, tapi dirinya masih merasa tidak yakin. Ia menghela nafas. Merasa pengap berada di ruang bawah tanah, tempat persembunyiannya. Untuk beberapa saat disana, beberapa waktu lalu, ia sangat yakin orang yang sedang tidur ini akan pergi meninggalkannya. “Bangunlah….” Ujarnya lirih.

Trek~

Pintu kamar terbuka. Seorang laki-laki berperawakan tinggi masuk. Ia tersenyum sedih melihat orang yang ia sayangi menatap nanar seseorang yang sama sekali tidak ia kenal. “Jinri…” Katanya lirih kepada gadis yang terus menerus menatap laki-laki yang bernama Choi Minho. “Istirahtlah… Kau juga lelah bukan? Jika terjadi apa-apa aku akan merasa sangat bersalah.”

Jinri menggeleng, “Aku tidak bisa Chanyeol! Aku tidak bisa!”

Chanyeol menghela nafasnya. Ia tidak menyangka hasilnya bisa seperti ini. Sungkyung dua hari yang lalu meneleponnya. Mengatakan jika ia butuh bantuan Chanyeol untuk mengurusi orang yang menargetkan Jinri. Ini untuk pertama kalinya bagi Chanyeol. Setahu Chanyeol Sungkyung selalu melakukan hal ini sendiri. Chanyeol akhirnya setuju karena Jinri. Sedikit tidak menyangka ia menembak Jinri yang untungnya terkena di bahu. Chanyeol ingin menembak laki-laki itu tepat di jantung yang meleset ke lehernya. Intinya sama saja buruk, lelaki itu akan meninggal dengan cepat.

Setelah itu Chanyeol segera ke kamar Jinri dan menemukan Jinri sedang menyelamatkan laki-laki itu. Ia melihat untuk pertama kalinya Jinri menangis. Untuk pertama kalinya Jinri mengatakan ia mencintai laki-laki itu. Chanyeol pun luluh. Dia akhirnya menyelamatkan laki-laki itu juga. Demi Jinri, sahabatnya yang pernah membantu Chanyeol dimasa-masa sulit.

“Aku tidak pernah menyalahkan mu Chanyeol…” Jinri berkata lirih. “Kalian semua melakukan ini demi kebaikan ku.”

Chanyeol mendekat dan menggenggam tangan Jinri, “Terimakasih…. Tapi bisakah kau lakukan hal itu untuk ku? Beristirahat?” Chanyeol tersenyum kecil, “Aku ada ide! Bagaimana aku menyediakan kasur disini tapi kau harus tetap di kasur tersebut huh?”

Jinri mengangguk, “Terimakasih…”

“Tidak usah berterimakasih kepadaku…” Chanyeol berbalik. Tapi baru beberapa langkah Jinri kembali memanggilnya. Menanyakan kabar Oennie-nya, “Oennie mu tadi menelepon ku. Ia baik-baik saja. Tapi teman-teman Choi Minho tadi mendatanginya. Untungnya ia punya alibi di rumah sakit.” Setelah itu, Chanyeol meninggalkan ruangan untuk mengambil kasur untuk Jinri.

.

.

.

.

.

Jinri berteriak senang ketika Minho dengan perlahan membuka matanya. Ia baru saja membuka jendela. Membiarkan angin musim semi masuk. Tiga bulan sudah berlalu. Mereka, ia dan Minho tidak lagi berada di bassmen bangunan di Jerman. Tetapi sekarang sudah kembali ke Jindo. Teman-teman Jinri, Sehun, Kai, dan Chanyeol melindunginya saat ini. Memberikan mereka sebuah rumah kecil.

Keadaan juga masih terkontrol untuk saat ini. Terakhir Sungkyung menginformasikan bahwa nama Jinri tidak muncul lagi di perusahaannya. Sungkyung mengatakan jika ada rapat untuk menghilangkan nama Jinri dari target untuk selamanya. Ini dikarenakan Jinri selalu bisa kabur dan Jinri berhasil menghilangkan Choi Minho, yang notabane-nya agen terbaik mereka.

“Minho… Minho kau sadar…” Suara Jinri begitu senang. Airmata menetes tanpa ia sadari.

Perlahan, karena tenaganya yang belum pulih, Minho mengangkat tangannya dan menghapus air mata Jinri. Bibirnya terbuka. Hal itu membuat Jinri mendekatkan wajahnya. “Kau… Cantik dengan rambut pendek mu.”

Jinri tertawa riang. Ia memang memotong rambutnya sangat pendek bermodel bob yang ia cat bewarna strawberry blonde. Untuk menutupi jejaknya.

“Bibirku tidak pedas Choi Jinri…”

Jinri kembali tertawa riang dan dengan cepat mencium bibir Minho.

Ketika Jinri dan Minho sedang berciuman, Chanyeol dan Sungkyung yang baru masuk terperanjat melihat mereka.

“Aku bersumpah dia baru saja sadar.” Bisik Chanyeol ke Sungkyung.

Sungkyung diam menatap Jinri dan Minho datar.

Ehm… Ehm….” Kata Sungkyung ketika Jinri dan Minho melepas tautan bibir mereka.

Jinri menoleh ke Oennie-nya, “Oh, Oennie…

Minho menoleh dengan perlahan, “Oennie?”

Sungkyung belum menjawab. Tetapi Chanyeol berjalan mendekati mereka. Menuju jendela kemudian menutupnya. Tak lupa juga gorden.

“Ada apa ini?” Minho menatap Chanyeol dan Sungkyung was-was. Ia butuh beberapa saat untuk mengenali Park Chanyeol.

“Tidak ada apa-apa. Ini Oennie-ku…” Jinri tersenyum ke arah Minho. Mengenalkan Minho ke Sungkyung yang masih berdiri tak bergeming. Melihat respon Oennie-nya yang masih tidak mempercayai Minho, Jinri memutuskan untuk mengenalkan Minho ke Chanyeol, “Ini sahabatku, Park Chanyeol.”

Chanyeol mengangkat tangan kanannya, “Aku laki-laki yang menembakan peluru ke leher mu.”

Jinri menatap panik kedua orang yang belum menyambut Minho dengan baik.

“Aku mengenal mu Park Chanyeol.” Minho berkata lirih. Masih belum mempunyai tenaga.

“Jinri, kurasa… Kurasa Choi Minho membutuhkan minuman. Bagaimana kau mengambilkannya?” Sungkyung berkata tanpa melihat Jinri. Tatapannya lurus ke Minho.

“Oh….” Jinri ragu meninggalkan Minho kepada Oennie-nya. Bukan karena ia tidak percaya kepada Oennie-nya. Tapi dia takut bagaimana respon Minho nantinya.

“Tidak apa-apa…” Ujar Minho kepada Jinri. Minho dapat menangkap keraguan Jinri. Dia akhirnya berkata seperti itu. Pemikiran dasarnya? Jika orang-orang dekat Jinri ingin ia mati, ia pasti sudah mati dari lama.

Jinri kemudian tersenyum ke Minho, “Baiklah. Aku juga akan membawa makanan. Kau pasti lapar bukan?”

Ketika Jinri melangkah keluar. Chanyeol yang merasa di tatap tajam oleh Sungkyung mengerti ia juga harus keluar. Dengan tenang ia merangkul Jinri dan berkata, “Krystal mengirimkan mu cupcake. Dia berkata jika Olivia senang membuat cupcake akhir-akhir ini.”

“Benarkah?” Setelah itu percakapan mereka tidak terdengar lagi. Mereka sudah keluar dari kamar.

Sungkyung sedikit tersenyum ketika melihat Minho yang mendelik tajam ke Chanyeol dan Jinri. Ia benar-benar mencintai adik ku…
“Choi Minho…” Suara Sungkyung memanggil Minho. “Apakah kau benar-benar mencintai adik ku?”

Minho mengangguk mantap. “Ya.” Katanya untuk tambah meyakinkan Sungkyung.

“Apa yang akan terjadi selanjutnya?”

Minho berpikir sejenak, “Aku akan keluar dari dunia ku agar bisa bersamanya. Aku ingin bersamanya…. Meski itu berarti aku kehilangan dunia ku.”

Mata Sungkyung membesar mendengar jawaban lugas Minho. Ia menganggukan kepalanya, “Kau tidak perlu keluar dari dunia mu. Perusahaan sudah menganggap mu mati. Kau tinggal membuat identitas baru saja.”

“Maksudmu?”

“Aku bekerja di perusahaan mu Minho. Aku menjaga Jinri adik ku dari ALC langsung. Aku memantau namamu dan Jinri. Untukmu, kau sudah aman.”

“Jadi selama ini percobaan pembunuhan Jinri gagal karena dirimu?”

“Ya!”

“Dan kau tidak pernah tertangkap sekalipun?”
Sungkyung menghembuskan nafasnya, “Sekali. Oleh teman mu. Mereka memeriksa darah Jinri dan menemukan kecocokan DNA dengan ku. Mereka menyeretku dan menanyakan dirimu kepada ku.”

“Kau memberi tahu mereka?”

Sungkyung menggeleng, “Tentu tidak. Pertama, itu karena aku sudah berjanji dengan Jinri untuk merahasiakan mu. Kedua, aku berpikir jika mereka mengetahuinya itu bahaya bagi mereka.”

“Apa yang terjadi pada mereka?”

“Aku melaporkan mereka. Mereka mendapat hukuman tapi mereka tetap menjadi agent. Mereka sekarang berpencar.”

“Berpencar? Apakah kau mencari mereka dimana?”

“Apakah aku pembantu mu?”

Minho terdiam mendengar jawaban dingin Sungkyung.

Sungkyung sendiri merasa perkataannya terlalu kasar. Ia menghela nafasnya, “Buat adik ku bahagia. Okay?”

Minho menganggukan kepalanya mantap, “Kau bisa memegang kata-kataku.”

.

.

.

.

.

~ 4 years later ~

Jinki merasa tubuhnya sangat lelah. Ia memasuki apartment yang telah ia tempati selama 4 tahun ini dengan mengusap-ngusap tenguknya. Begitu memasuki, ia merasa sedikit aneh karena ada paket yang tergeletak di meja ruang tamunya. Jinki mengeluarkan pistolnya dan mulai mengecek setiap sudut apartment-nya.

Aneh. Tidak ada seorang pun. Ia menghampiri paket yang merupakan amplop besar. Duduk di bangku sambil memperhatikan amplop tersebut. Terdapat tulisan di amplop tersebut, Untuk Charles Cho. Tangan Jinki bergetar. Tidak mungkin.

Ia segera menyobek amplop tersebut dan mendapati sebuah handphone layar sentuh. Jinki menghidupkan handphone-nya.Tidak ada apa-apa di handphone-nya. Hanya satu aplikasi dan itu merupakan video call. Jinki membuka aplikasi video call dan mendapati hanya ada satu nomor. Jinki menekan nomor tersebut.

“Anyeong hyung….”

Jinki tidak menyangka siapa yang ia lihat sekarang, “Minho…” Suara tercekat. “Itukah dirimu?”

Minho menganggukan kepalanya, “Ini aku.

“Kau selamat! Astaga! Bagaimana bisa?”

Isteri ku yang menyelamatkan ku…”

“Isteri mu?”

Choi Jinri hyung…”
Jinki terkekeh kecil.
Aku tidak bercanda hyung…”

“Aku tahu kau tidak bercanda. Aku hanya tidak menyangka. Hidup ini penuh misteri bukan?” Jinki kembali berbicara, “Jadi Minho, bagaimana bisa kau menyeludupkan amplop ini ke dalam apartment ku?”

Itu dulu apartment ku juga. Aku masih mempunyai kuncinya. Tapi aku meminta bantuan Sungkyung untuk menaruhnya di apartment mu.”

“Sungkyung… Lee Sungkyung?”

Minho mengangguk mantap, “Dia benar-benar saudara perempuan Jinri. Dan semua pemikiran mu terhadapnya benar.

“Jadi dia berbohong ketika menceritakan kemungkinan ia dapat bersaudara dengan Jinri?”

Minho terkekeh kecil dan mengangguk, “Dia berasal dari orangtua yang sama dengan Jinri.” Minho kemudian berkata, “Hyung ada yang ingin ku bicarakan dengan mu. Apakah kau tidak pernah pergi dari kota ini karena menunggu ku pulang? Aku meminta bantuan Sungkyung untuk mengkabari ku tentang kalian.

“Aku tahu setelah aku menghilang kalian tidak lagi menjadi satu tim. Aku tahu kau sudah diminta pindah beberapa kali tapi selalu menolaknya.Apakah karena diriku? Kau menunggu diriku? Apakah karena kau merasa bersalah kepada ku akibat memaksaku menutaskan kasus Jinri dengan segera?

Jinki menatap Minho lembut, “Aku tidak bisa menerima jika aku meninggalkan kota ini.”

Kau melakukan yang bisa kau lakukan. Kata-kata mu waktu itu adalah hal yang benar. Hanya saja hal-hal terjadi tidak sesuai dengan perkiraan. Hidup ini penuh misteri bukan? Jangan terlalu keras kepada dirimu.

Jinki tersenyum, “Setelah menikah kau jadi sangat bijak kau tahu itu?”

“Bisakah hyung keluar dari balkon? Kau bisa melihat ku duduk di café depan apartment yang aku sendiri tidak tahu kapan ini berdiri. Banyak yang berubah dari kota ini dan aku sekarang menganggap kota ini sebenarnya indah.”

Jinki melangkahkan kakinya menuju balkon. Ia tersenyum lebar ketika benar-benar melihat Minho. “Minho!”

Minho tersenyum dan melambaikan tangannya. Jinri juga berada di situ dan ikut menoleh ke arah Jinki. Sambil menggendong bayi, ia tersenyum ke Jinki. Ditengah-tengah Minho dan Jinri terdapat batita yang asyik memakan buburnya.

Hyung… Aku sudah bahagia dengan dunia ku. Bahagialah sekarang….”

.THE END.

A/N:

  • Cerita ini dibuat sebelum tanggal 18/12. Ketika tanggal itu saya sedikit ragu untuk memakai Kim Jonghyun sebagai cast. Tapi setelah saya pikir-pikir, rasanya akan aneh melihat dalam satu tim hanya terdiri dari 4 orang sehingga saya tidak menghilangkan cast Kim Jonghyun. Maaf jika ada yang tersinggung dengan ada cast Kim Jonghyun di cerita ini……
  • Pernah di post di wattpad dalam rangka memperingati ulang tahun Choi Minho di akun author Acil Choi.

 

 

In The Snow (Chapter 2/3)

inthesnow

Main Cast: Choi Minho, Choi Sulli, Lee Sungkyung, All Shinee’s member

Rating: T (Teen)

Length: Threeshoot

Author: Ally

Poster By: NJXAEM @ POSTER CHANNEL

Chapter 2

When the temperature goes up, the snow is gone but i hope you’re not gone.

.

.

.

Apa yang Minho pikirkan pertama kali ketika melihat tulisan Choi Jinri? Dia merasa tidak bernafas. Tercekat. Seluruh udara seketika menghilang dan dia terpaku sejenak. Minho melirik foto targetnya dan informasi targetnya. Baru tiga baris, Minho langsung menutupnya. Ia tidak sanggup. Itu benar-benar Choi Jinri.

Choi Jinri si gadis aneh. Choi Jinri gadis yang tak takut keluar ketika mabuk. Choi Jinri yang mencium bibirnya. Choi Jinri yang menghabiskan waktu bersamanya kemarin malam. Minho meletakan file ke atas meja. Dia terdiam. Red tag, huh?

Red tag dimana ia bisa kabur sebanyak lima kali dan semua yang ingin membunuhnyalah yang mati. Red tag…

Tapi Jinri tidak seperti itu. Dia gadis yang ceroboh. Dia gadis yang aneh. Dia tidak terlihat seperti Minho yang kejam tak berperasaan. Dia gadis yang mempunyai mata polos dengan matanyalah Minho tertarik kepadanya. Dia… Dia berhasil membuat Choi Minho jatuh cinta kepadanya.

Minho menggigit bibirnya. Menatap papan tulisnya yang kosong. Sial!

.

.

.

.

.

Mentari mulai bisa dirasakan. Sinarnya tidak terlalu terang. Suhu dingin juga masih mendominasi. Tetapi sinarnya membuat tumpukan salju mulai meleleh. Burung berkicau sudah mulai terdengar. Minho menyesap kopi hitamnya perlahan. Kembali terdiam.

Sudah hampir empat minggu ia pergi menjauh untuk sementara. Dia tidak bisa menerima yang terjadi saat ini. Hal menakjubkan adalah tidak ada teman satu timnya yang mengetahui hal ini. Hal dimana ia pergi menjauh. Teman-temannya berpikir dia sedang asyik mengintai. Padahal ia sedang menghabiskan waktu di tempat yang jauhnya dua jam dari kota suram itu.

“Ingin menambah kopi lagi?”

Minho tertegun mendengar suara laki-laki di belakangnya.

“Minho…” Jinki kemudian duduk di depan Minho. Tersenyum lembut dan mulai menyesap kopi.

Hyung…” Minho masih bingung kenapa Jinki bisa ada disini. “Kau disini karena kasus baru?” Tanyanya berusaha santai.

Jinki tersenyum, “Aku kesini karena dirimu.”

Minho tertawa kecil, “Aku baik-baik saja. Sedang asyik mengintai.” Bohongnya. Tidak ada yang perlu mengetahui masalah ini. Tidak ada. Dia pasti tidak akan selamat jika ada yang mengetahui masalah ini.

“Benarkah?” Jinki menurunkan senyumannya. “Jadi dimana targetmu?”

Minho kali ini tidak bisa menjawabnya. Ia menyeruput kopi yang tidak hangat lagi.

“Aku datang kesini karena bos menanyakan kepadaku tentang dirimu. Dia ingin kabar kasus terbaru dari mu.”

Minho menghela nafasnya, “Hanya itu?”

“Choi Minho!” Suara Jinki mulai berubah menjadi serius. “Target mu… Aku membaca file nya dan sedikit mengikutinya.”

Kali ini Minho menatap Jinki, “Mengikutinya?”

“Dia tidak tinggal terlalu jauh dari mini market apartment kita. Dia bekerja sebagai perawat di rumah sakit di kota kita.   Dia tidak terlihat bahaya. Tapi aku mulai berpikir kenapa hal itu membuat mu…. Menjauh… Kemudian aku menyelidiki dari mini market dan berhasil mendapatkana informasi dari José. Kau tahu José bukan? Si Penjaga mini market? Dia mengatakan jika target mu dan dirimu mengobrol jauh sebelum dia menjadi target mu. Sebuah pemikiran masuk. Apakah dia yang bersama mu ketika malam tahun baru?”

Minho memejamkan matanya mendengar penjelasan Jinki yang sangat cerdik. Jinki mendesis, “Sial Minho! Jangan katakan aku benar!” Nada suaranya semakin serius.

“Itu benar!”

Jinki menghela nafasnya, “Sial! Aku terkadang benci dengan pemikiranku!”
“Aku butuh menjauh sedikit. Ini gila hyung! Aku bukan hanya tidur dengannya! Aku mengobrol dengannya beberapa kali dan dia—“

“Aku tahu!” Potong Jinki. “Kau memang bisa dikatakan brengsek karena tidur dengan setiap wanita dari kota yang kita singgahi. Tapi aku tahu kau menganggap wanita yang kau tiduri tidak bahaya. Kau berhati-hati dengan itu. Tapi target kita sudah berhasil kabur sebanyak lima kali!”
Minho mengusap mukanya kasar, “Maksudmu ia sengaja mendekati ku karena tahu aku yang akan membunuhnya?”

“Bukan! Bukan itu maksud ku! Target ke kita terpilih secara acak. Satu-satunya cara untuk mengetahui siapa pembunuhnya adalah ketika file nya dikeluarkan. Dia tidak mungkin tahu siapa yang akan membunuhnya. Intinya adalah, dia sudah melakukan ini sejak lama dan dia terbiasa menyamar sebagai orang biasa. Dimatamu mungkin dia aneh atau ceroboh atau bodoh. Tapi itu tidak menunjukan dia tidak tahu dia akan dibunuh. Dia pasti tahu. Entah bagaimana caranya.”

Minho menggeram kesal.

“Minho…” Jinki kali ini memanggil Minho lembut, “Kau sudah membaca file sampai tuntas?”

Minho menggeleng, “Aku tidak bisa.”

“Bacalah kumohon… Bacalah sampai tuntas. Kau harus menghadapi ini.”

Hyung aku—“

“Yang bisa menyelamatkan dirimu sendiri adalah dirimu.” Jinki kembali memotong. “Aku tidak bisa. Tidak ada yang bisa dan kau tahu itu!” Jinki menyeruput kopinya yang sudah dingin, “Aku akan berbohong kepada bos untuk kali ini. Mengatakan jika kau sedang menyamar dan aku sudah mengirimkan pesan untuk mu agar menghubunginya. Paling lambat besok kau akan menghubungi bos. Itu artinya kau harus kembali ke apartment paling lambat besok. Ku harap ketika kau kembali kau juga sudah siap untuk membunuh gadis itu. Jika tidak… Aku akan lepas tangan dari masalah ini.”

Minho terdiam mendengar penjelasan Jinki.

“Aku balik. Berpikirlah dengan jernih Minho!” Ia bangkit dari kursi dan menepuk pundak Minho pelan.
Tak lama setelah kepergian Jinki, Minho memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Berjalan keluar dari restaurant di hotelnya dan menuju lantai tiga. Masuk kekamar 329. Mengambil file yang terletak di tasnya.

Minho memejamkan mata sejenak sebelum mulai membacanya.

Choi Jinri. Jenis Kelamin: Perempuan. Umur: 24 tahun. DOB: Busan, 29 Maret. Lulusan ilmu keperawatan Universitas Sungkyunkwan 2 tahun lalu. Lahir di Busan dan menghabiskan waktu disana sampai berumur 3 tahun, ia dan keluarganya pindah ke kota kecil bernama Jindo dan bekerja sama dengan keluarga mafia lainnya, Keluarga Oh, Keluarga Kim, Keluarga Park, dan Keluarga Tuan. Ia tinggal disana hingga berumur 15 tahun, yaitu saat Choi Enterprise, perusahaan keluarganya bangkrut akibat Skema Ponzi. Ayahnya, Choi Jinsil meninggal di penjara karena dibunuh. Ibunya, Shim Haemin bunuh diri. Keempat anaknya termasuk Jinri melarikan diri. Dua telah berhasil dibunuh sisa dua lagi yang kabur, dimana satu anak sampai saat ini belum diketahui identitasnya. Jinri selama ini berhasil kabur entah bagaimana caranya. Semua orang yang menyelidikinya hilang. Semua orang yang bertugas membunuhnya malah berakhir dibunuh. Kemungkinan terbesar sampai sekarang ia berhasil selamat sampai saat ini karena dibantu oleh keluarga mafia lain.

Minho menghela nafasnya ketika selesai membaca halaman pertama dari file Jinri. Perkataan Jinki berputar di benaknya, Jinri sudah lama berada hidup dengan menyamar.

Minho membuka halaman kedua.

Nama lainnya: Koo Hyunah, Cho JungAh, Yoo Hain, Bae Yunmi. Dia berhasil lulus dari Universitas Sungkyunkwan dengan nama Park Anna dan 2 tahun belakangan ini dia memakai nama lahirnya kembali, Choi Jinri. Dia merupakan sahabat dari Oh Sehun, Kim Jongin, dan Park Chanyeol. Juga sempat mempunyai hubungan dengan Nam Joo Hyuk untuk waktu yang lama. Dari umurnya 14 tahun hinggal 20 tahun.

Setelah itu, tidak ada lagi tulisan. Tetapi semuanya foto-foto. Foto-foto ketika Jinri kecil. Bersama teman-temannya, Oh Sehun, Kim Jongin, dan Park Chanyeol.

Minho tahu mereka. Trio Bangsat. Nama yang disematkan kepada mereka bertiga. Mereka bertiga merupakan pemimpin dari keluarga mafia yang paling merugikan pemerintahan Korea Selatan, tapi tidak bisa ditangkap. Juga ada foto-foto Jinri dengan Nam Joohyuk. Lagi-lagi Minho mengenal Nam Joohyuk. Dia merupakan salah satu anggota keluarga mafia. Well, hidup gadis ini ternyata dikelilingi oleh mafia. Gadis ini terbiasa dengan lingkungan suram.

Minho menutup file nya dan menaruh file dalam tasnya. Baiklah, ia akan mengakhiri ini.

.

.

.

.

.

Minho menunggu Jinri di depan apartment-nya. Di ayunan depan apartment, lebih tepatnya. Setelah membaca file-nya Minho langsung pulang. Memberi tahu bosnya dia akan menyerang Jinri malam ini setelah gadis itu pulang kerja. Minho menatap ke arah depan. Bersiap-siap untuk menembak dengan pistol yang sudah di kasih peredam.

Kriett~

Minho memainkan ayunannya. Mengisi kekosongan dengan suara nyaring besi.

Kriett~

Kriett~

Kemudian Minho dapat mendengar langkah kaki mendekat. Ia melirik jam tangannya sekilas, jam setengah delapan. Jinri pernah bilang jika ia biasa pulang jam tujuh malam bukan? Minho siap-siap berdiri. Mengambil pistolnya ketika ia melihat perempuan berambut hitam panjang yang tak lain adalah Jinri.

“Minho!” Gerakan Minho terhenti. Ia meletakan pistol dengan pelan.

Sial! Jinri melihatnya dan sekarang ia sedang tersenyum ke arah Minho.

“Minho!” Jinri berjalan mendekati Minho dengan tersenyum lebar.

Jangan! Jangan! Jinri harus berbalik sekarang atau tidak Minho tidak akan bisa menembak gadis itu. Jinri harus tidak melihatnya. Minho hanya bisa terdiam ketika Jinri sampai di depannya. Jinri tersenyum sangat lebar di depannya. Mata polosnya berkilat senang.
“Aku tidak melihat mu untuk waktu yang sangat lama!” Seru Jinri senang. Minho dapat merasakan jika Jinri benar-benar senang melihatnya.

Minho terdiam. Sekarang perasan rindu mulai membanjirinya. Merendam rencana yang sudah ia susun tadi. Minho berpikir keras. Bagaimana ia bisa menyelesaikan tugasnya sekarang?

“Aku… Aku merindukan mu…” Lagi-lagi, Minho dapat melihat rona merah menjalar di pipi Jinri. “Kenapa diam saja?”

Minho menarik Jinri kedalam pelukannya. Dengan pikiran buntunya sekarang, ia akan mengeluarkan pistolnya sekarang kemudian akan menggunakannya untuk menembak Jinri. Dengan itu ia dapat menyelesaikan tugas nya dengan cepat. Juga ia tidak harus melihat wajah Jinri.
“Minho!” Lagi-lagi gerakan Minho ingin mengambil pisto terhenti. Jinri melepaskan pelukannya. Memegang wajah Minho dengan kedua tangannya, “Kenapa diam saja? Kau membuatku khawatir?”

Minho bernafas dengan sangat berat sekarang. Ia meletakan kedua tangannya di pinggang Jinri. Mengeratkan pelukannya. “Bolehkah?” Tanyanya sambil melihat bibir Jinri.

Jinri langsung menjawab dengan mencium bibir Minho. Minho membalasnya tak kalah cepat.

“Kau kenapa?” Tanya Jinri ketika tautan bibir mereka terlepas. Nafas Jinri terengah-engah.

Minho mengelus wajah Jinri perlahan, “Aku merindukan mu…” Ia mulai mencium Jinri kembali. Melupakan tujuan awalnya.

.

.

.

.

.

Jinri bangun dan mendapati Minho tidak ada. Ini kedua kalinya Minho menghilang tanpa membangunkannya sedikitpun. Apa ia terlalu lelah hingga Minho berpikir untuk tak membangunaknnya? Jinri ingin ketika ia bangun Minho berada di sampingnya.

Ketika bangun dan melihat apartment seksama, Jinri mendapati Sungkyung duduk di meja dapurnya, yang tak jauh dari tempat tidurnya. Menatap Jinri datang.

“Oennie…”

Sungkyung bangun dan mendekati Jinri.

Plak!

Jinri terperanjat ketika kakak perempuan menampar dirinya, “Oennie…”

“Kau tidak tahu apa yang kau lakukan Choi Jinri!” Sunkyung berteriak di depan muka Jinri, “Apa yang kau lakukan dengna Choi Minho?!”
Oennie dengarkan… Hubungan aku—“

“Tidak kau yang dengarkan!” Sungkyung memotong omongan Jinri. Mukanya merah menahan emosi, “Choi Minho adalah orang yang akan membunuh mu dan kau menidurinya sekarang!”

Oennie pasti bercanda bukan?!”
“Apa aku terlihat sedang bercanda?!” Sungkyun menghela nafasnya kasar, “Aku tidak bercanda! Dia kemarin malam berada di luar apartment mu untuk membunuh mu! Aku sudah bersiap-siap untuk membunuhnya! Jika saja kau tidak mendatanginya kemudian memeluknya sehabis itu berciuman dengannya dan sekarang kau berada di tempat tidur tanpa pakaian!”

Air mata Jinri sudah menetes. Hatinya sakit. “Oennie…” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Jinri. “Dia… Dia tidak seperti itu…”

“Apa yang kau tahu tentang dia Choi Jinri? Hidupnya sebagai pembunuh bayaran seperti ini. Kata apapun yang ia ucapkan adalah kebohongan karena ia hidup di kebohongan!”

“Oennie…”

“Katakan kepadaku… Apa yang kau ketahui tentang dia?”

Jinri terdiam. Tidak ada… Yang dia ingat adalah Minho pernah mengatakan kepadanya jika ia sedang mengekspansi perusahaan jasanya. Yang sekarang terdengar sangat rancu kalau bisa dibilang. Kemudian kedua orangtuanya yang entah mengapa Jinri tidak mempercayainya sekarang.

Jinri memejamkan matanya, “Tidak ada…”

“Bagus.” Sungkyung tersenyum sinis. “Kau pergi sekarang Choi Jinri! Pergi dari kota ini! Dia pasti akan mengejarmu! Serahkan saja ia kepada ku!” Sungkyung berbalik dan berjalan ke arah lemari. Membukanya dan mulai mengeluarkan baju-baju Jinri.

“Kau harus selamat. Hanya kau satu-satunya yang selamat dari keluarga kita!”

Air mata Jinri tidak bisa berhenti menetes. Ia menundukan kepalanya, menatap bulir-bulir terjatuh dan membasahi selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya. Kedua tanganya yang terletak di dadanya meremas selimut dengan kencang. Dia tidak akan berbohong, rasanya sakit… Sakit yang tak pernah ia rasakan. Sakit yang berbeda ketika ia tahu keluarganya satu-satu meninggalkannya.

“Aku tidak ingin…”

Sungkyung menghentikan gerakannya yang mengeluarkan pakaian Jinri ketika mendengar suara lirih. Ia menatap Jinri dengan tatapan tajam.

Jinri menatap Sungkyung, bibirnya bergetar ketika ia mengatakan, “Aku tidak ingin tanpa dirimu… Ayo selesaikan ini bersama-sama!”

.

.

.

.

.

Setelah misi Minho gagal, yang itu merupakan pertama kalinya bagi seorang Choi Minho. Tanpa jeda sedikitpun, ia berencana menyelesaikan misi yang tertunda kemarin hari ini. Minho memasuki mini market untuk membeli 4 sandwich. Rencananya dia akan membawa sandwich ke apartment Jinri. Berbasa-basi sejenak, mengatakan ingin makan siang bersama. Ketika Jinri membuka pintu apartment-nya dan Bam! Semuanya selesai. Misi tercapai!

Ngomong-ngomong, Minho mengetahui Jinri ada di apartment-nya karena ia tidak sengaja membaca jadwal agenda Jinri, yang gadis itu pampangkan di dinding apartment-nya, mengatakan jika hari Jum’at ia libur.

“Porsi makan teman-teman mu berkurang sekarang?”

Minho tersenyum mendengar perkataan José. Dia rasa laki-laki itu sebenarnya ramah, hanya pelanggan saja yang tidak ramah kepadanya. “Ini bukan untuk teman-teman ku. Aku punya rencana lain.”

José mengangungk-anggukan kepalanya seakan dia sudah bisa menebak apa yang terjadi. Penjaga mini market pun menyebutkan harga 4 sandwich dan segera saja Minho membayarnya.

Setelah itu, Minho melangkahkan kakinya menuju apartment Jinri. Ia melangkah dengan pasti. Berharap yang terbaik.

Tok! Tok! Tok!

Minho dengan segala kepercayaan diri yang tersisa mengetuk pintu apartment Jinri.

Tok! Tok! Tok!

“Jinri….”

Tok! Tok! Tok!

Ketika ia mengetuk untuk ketiga kalinya, Minho mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Apa Jinri keluar? Tangannya terulur ke gagang pintu. Membukanya perlahan dan…. Pintu apartment nya tidak di kunci?

Minho mulai memikirkan scenario terburuk. Jinri sudah mengetahui bahwa Minho mengincarnya. Sekarang dia sedang menunggu di dalam dengan memanfaatkan kepanikan Minho karena Jinri tidak membukakan pintu denganya.

Brak!
Minho mendobrak pintu apartment Jinri dan mengacungkan pistolnya. Ia menelan ludahnya ketika melihat Jinri duduk di depan meja rias. Tak jauh dari apartment tidurnya. Memandangi dirinya di depan cermin. Sama sekali tidak bergeming mendengar suara keras tadi. Apartment gadis itu juga agak gelap karena Jinri menutup gordennya.

Perlahan, Minho menurunkan pistolnya. Memperhatikan Jinri seksama. Gadis itu… Rambutnya yang hitam panjang ia biarkan tergerai. Ia memakai kemeja putih dilengkapi oleh celana panjang putih.

“Bisakah kau tutup pintunya? Aku tidak suka pintu yang terbuka.”

Suara dingin Jinri membuat Minho terdiam sesaat. Tetapi ia tetap menutup pintu untuk Jinri.

Jinri sekarang menatap Minho. Tatapan gadis itu dingin. Minho bersumpah ia lebih baik melihat senyuman misteriusnya daripada tatapan dinginnya.

“Kau ingin mendengar sebuah cerita dari ku?” Jinri bertanya tanpa benar-benar menatap Minho. Tatapan gadis itu menarawang ke suatu tempat yang sangat gelap, “Aku membenci pekerjaan mu. Pekerjaan mu merebut semua orang yang ku cintai.” Ia menghela nafasnya, “Ayahku adalah orang terhebat di dunia. Dia mungkin di jalan yang salah, tetapi ia menyayangi keluarganya. Dia hanya ingin anaknya bahagia walau itu tidak sejalan dengannya. Sayang, ia terlibat dengan skema ponzi dan entah kenapa, dia!” Suara Jinri sedikit menjadi lebih tinggi, “Dia… Dia yang tidak bersalah dibunuh oleh pelaku yang sebenarnya… Tunggu, pelaku yang sebenarnya menyewa seseorang untuk membunuhnya lebih tepatnya. Ketika ia pergi, ibuku yang tidak sanggup akhirnya memilih ikut dengannya. Kalian… Kalian membunuh kedua orangtuaku!

“Kalian juga membunuh oppa ku! Oppa ku yang sampai sekarang mayatnya tidak tahu dimana! Dan kalian juga membunuh dongsaeng ku… Dia tidak bersalah… Dia saat itu hanya kelas dua SD…” Air mata Jinri menetes. Ia menghapusnya kasar, “Bagian terhebatnya adalah, karena kalian mengejarku, aku tidak pernah mengenang mereka! Memberikan perpisahan yang layak untuk orang-orang yang meninggalkan ku!”

“Kau masih punya saudara satu lagi. Dan identitas dia masih menjadi misteri hingga saat ini…” Ujar Minho berusaha untuk tenang.

“Aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang! Semuanya kosong! Aku sering menanyakan kenapa aku bisa hidup sampai sekarang? Kenapa tidak ada yang bisa membunuh ku?”

“Cerita sedih mu tidak akan menghentikan ku untuk membunuh mu.” Minho mulai mengacungkan pistol yang tadi sempat ia turunkan.

“Kau tahu sudah berapa lama aku kabur seperti ini? Aku kabur sejak umur 16 tahun. Sudah delapan tahun hidupku menggantung seperti ini.” Jinri mendekat ke arah Minho. Hal itu membuat Minho berekasi. Ia benar-benar mengarahkan pistolnya ke Sulli. Tapi ia tidak menembaknya. Minho berjalan mundur, menjauhi Jinri Kakinya melangkah cepat hingga mereka terpisahkan oleh tempat tidur Jinri.

“Akhiri penderitaan ku kumohon… Tembak aku sekarang… Aku lelah…” Jinri berkata lirh. Sangat lirih. Ia mendekat ke arah Minho yang terdiam. Berhenti ketika jarak mereka sudah tak terlalu jauh, tapi juga tak terlalu dekat.

“Kenapa aku? Kenapa harus aku yang mengakhiri hidup mu?” Suara Minho sekarang mulai bergetar. Dia juga sudah mulai ragu untuk menuntaskan misi ini.

“Impian ku sedari kecil adalah meninggal dikelilingi oleh orang yang kucintai. Mereka sudah pergi sekarang. Tapi… Tapi aku mencintai mu… Kurasa itu yang terbaik.”

“Choi Jinri…” Tangan Minho sekarang sudah bergetar, “Apa kau menantang ku sekarang? Kau pikir aku tidak akan menembakan pistol ini ke arahmu?”

“Aku tahu kau akan menembakannya. Kau yang terbaik dalam eksekusi. Aku tahu…. Aku tidak pernah ragu kepada mu…”

“Akan kulakukan!” Minho membuka gorden apartment Jinri. Membiarkan cahaya masuk agar ia dapat melihat Jinri lebih jelas. Ia mundur dua langkah dan menyiapkan pistolnya.

“Ini mungkin terdengar berlebihan. Tapi bisakah kau memelukku setelah kau menembak ku?” Jinri mulai tersenyum. Senyum itu bukan senyum misterius. Senyum itu merupakan senyum bahagia. “Terimakasih….” Jinri memejamkan matanya.

Tangan Minho mulai bergetar hebat. Ia menelan ludahnya. Sekarang ia ragu. Benar-benar ragu. “Aku tidak bisa!” Minho menurunkan pistolnya. “Aku juga mencintai mu…”

Jinri membuka matanya. Ia menatap Minho tidak percaya. Ia maju selangkah, ingin menggapai Minho. Tetapi terganggu oleh suara nyaring dari kaca jendela kamarnya yang pecah.

“Ah!” Minho terkejut bukan main ketika Jinri dengan sigap memeluknya. Membiarkan dirinya terkena peluru entah dari mana. Jinri mengerang kesakitan dan ia terjatuh. Minho menahan tubuh Jinri.

“Jinri…” Minho menekan luka Jinri yang berada di bahunya.

“Kabur… Lari sekarang Choi Minho…”

“Tidak! Tidak! Aku akan menyelamatkan mu! Tunggu!” Minho mengendong tubuh ringkih Jinri. Ingin membawanya segera ke rumah sakit. Melupakan semua misi bodohnya. Dia tidak akan menyelesaikan misi bodohnya ini.

Tapi Minho tidak melihat, sebuah peluru mengarah kepadanya.

Akh!

“Minho…”

.TBC.

A/N: Pernah di post di wattpad dalam rangka memperingati ulang tahun Choi Minho di akun author Acil Choi.

 

 

In The Snow (Chapter 1/3)

inthesnow

Main Cast: Choi Minho, Choi Sulli, Lee Sungkyung, All Shinee’s member

Rating: T (Teen)

Length: Threeshoot

Author: Ally

Poster By: NJXAEM @ POSTER CHANNEL

Chapter 1

When the temperature goes to minus degree, the snow fall so does you

.

.

.

Minho merapatkan jaketnya. Mulutnya berasa kebas karena terlalu banyak mengumpat. Sial!

Lagi-lagi, ia mengumpat. Minho menghela nafasnya. Membuat udara putih keluar. Dia kembali berjalan melintasi bangunan yang rata-rata sudah mau tutup. Jika ia tadi tidak bertaruh dengan Kibum, Minho tidak akan keluar di suhu minus derajat ini. Sayang, ia tadi terlalu bosan hingga bodohnya memilih untuk bermain dan akhirnya kalah. Minho harus pergi ke mini market terdekat dari asrama mereka dan membeli sandwich.

Teman-teman mengidam-ngidamkan sandwich yang berisi Coronation Chicken di musim dingin yang mencengkam ini. Tidak ada satupun dari mereka yang pulang ke rumah mereka. Mereka tetap melanjutkan pekerjaan mereka. Pekerjaan yang tidak mengenal hari libur.

Suara bel berdenting membawa susasana hangat yang membuat Minho menghela nafas lega. Penjaga toko menatap Minho datar sebentar dan kemudian lanjut menonton tv dimana para artis menyanyi. Tidak ada ramah sama sekali.

Minho sama sekali belum terbiasa dengan ketidak ramahan masyarakat Jerman. Padahal sudah tiga bulan ia disini. Tetapi tetap saja rasa jengkel kerap menghampirinya ketika melihat sikap mereka yang seperti itu.

Ia segera menuju tempat sandwich berada. Mengambil 10 sandwich beku dan menyerahkannya ke kasir untuk dihangatkannya.

Penjaga mini market melihat sandwich malas, “Kau mengadakan pesta anak muda?”

Minho tahu itu sindiran untuknya. Siapa yang membeli sandwich beku sebanyak ini?

“Untuk cadangan makanan di rumah.” Jawabnya malas.

“Cadangan yang banyak.”

“Kau tidak tahu betapa banyak porsi makan teman-teman ku.”

“Sekarang terlihat berapa besarnya dari sandwich yang kau beli. Tunggulah terlebih dahulu… microwave kecilku hanya bisa menghangatkan tiga sandwich.”

Minho hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia memilih duduk di bangku yang disediakan mini market. Bangku beserta meja untuk orang yang memilih makan di mini market ini. Minho mengamati jalanan yang sepi. Mencekam. Tidak ada harapan sama sekali. Hanya dia berharap dia akan pulang secepatnya. Ditarik ke tempat yang lebih hangat. Atau setidaknya lebih ramai.

Ting!

Suara bel, yang bukan dari microwave, tetapi dari pintu mini market berhasil menyadarkan Minho dari lamunannya.

“Hai, José!”

Lady, kau datang lagi…”

Okay, ini menarik. Apakah penjaga mini market yang tidak pernah berbicara itu baru saja membuka mulutnya dan mengeluarkan suara? Minho sedikit menoleh dan mendapati José-yang ternyata namanya- sedang berbincang dengan gadis berambut hitam. Hitam? Ini lebih menarik. Kota kecil ini rata-rata memiliki penduduk dengan rambut cokelat tua.

“Ku harap kau masih ada sandwich dan beberapa kerpik kentang.” Suara gadis itu halus dan entah mengapa Minho bisa menangkap gadis itu sedang tersenyum.

“Tentu. Ada hotdog mana tahu kau bosan.”

“Sempurna…” Gadis itu segera berbalik. Disitulah Minho dapat melihat rupa gadis itu yang ternyata berasa dari Asia, sama sepertinya. Gadis itu langsung saja menuju wilayah makanan ringan.

Merasa ia terlalu banyak memperhatikan orang, yang merupakan kebiasaan yang dianggap buruk disini, Minho memilih memandang jalanan lagi.

“Yang benar saja, Lady…” Suara José kembali terdengar. “Kau membeli 4 sandwich? Apakah kau ingin mengadakan pesta? Jangan lupa keripik kentang dan soda yang juga kau beli!”

Gadis itu tertawa riang, “Teman ku memang datang kesini.”

“Kau ingin sandwich-nya di hangatkan bukan? Kau harus menunggu agak lama. Kau lihat lelaki yang sedang duduk itu? Dia membeli 10 sandwich dan aku baru menghangatkan tiga.”

“Aku akan menunggu nya.”

“Tunggulah…”

Minho dapat mendengar langkah gadis itu mendekat. Dia merasa jika gadis itu duduk tepat di sebelahnya. Menatap jalan yang suram. Kemudian ia menoleh melihat Minho yang mau tidak mau membuat Minho ikut menoleh juga.

“Asia?” Tanya gadis itu sedikit terkejut. “Ku pikir hanya aku saja yang tinggal disini.” Lanjutnya dengan bahasa Jerman kelewat lancar.

Minho sedikit tersenyum, “Aku juga berpikir seperti itu. Selain teman-teman serumahku yang juga berasal dari Asia.”

“Setidaknya kau tidak tinggal sendiri…” Nada suara menggantung di udara. Ia menghela nafasnya, “Senang bertemu dengan mu. Aku Jinri.”

“Apakah kau selalu seperti ini jika bertemu dengan orang? Maksudku kau sangat akrab dengan José tadi.” Minho tidak bersikap kasar. Tidak. Ia hanya bersikap sewajarnya. Kota ini aneh dan lebih bagus jangan terlalu baik dengan orang.

Jinri menarik kedua ujung bibirnya, membentuk senyuman yang Minho tidak tahu apa artinya itu, “Kau pasti menganggap ku aneh bukan? Aku rasa aku memang sedikit gila ketika terdampar disini tanpa mempunyai teman.”

“Bukan itu maksudku…” Sekarang ia merasa bersalah. Minho melihat Jinri sudah menatap kembali jalan. Terdiam. Ia menghela nafas dan juga memilih menatap jalan. “Aku Choi Minho.” Kata Minho akhirnya dengan bahasa korea, “Kau dari Korea bukan?”

“Aku tidak menyangka menemukan seseorang yang berasal dari negara ku di kota kecil ini.” Jinri melebarkan senyumannya. “Choi Jinri.”

“Kita mempunyai nama marga yang sama. Kebetulan yang luar biasa.”

“Ya. Kebetulan yang luar biasa.” Lagi-lagi, suara Jinri menggantung di udara. Ia masih menatap jalan.

“Aku tidak bermaksud bersikap kasar tadi.”

“Aku tahu.” Jawab Jinri pendek. “Aku memang aneh.”

“Bukan itu—“

“Aku mengerti…” Jinri kembali menatap Minho dan tersenyum. “Aku memang aneh.”

Minho menjadi bingung ingin bicara apa. Beruntungnya, kalau bisa dibilang, ia diselamatkan oleh José yang memanggil dirinya mengatakan sandwich sudah hangat.

“Aku duluan…” Ujar Minho pendek dan segera ke kasir. José memasukan sandwich Minho ke kantung belanja dan mengatakan harganya. Minho membayar dalam diam.

“Gadis itu gadis yang baik. Selama menjadi penjaga disini tidak ada yang menyapaku sehangat dia.” José tiba-tiba berbicara kepada Minho, yang dimana itu baru pertama kalinya, diluar konteks beli-membeli, dan dia memberikan kembalian kepada Minho.

“Terimakasih…” Minho sedikit tersenyum ke José. Berbalik dan melambaikan tangannya ke Jinri. Kemudian keluar. Tidak berniat membalas ucapan José. Tidak berniat mengingat siapa Jinri itu.

.

.

.

.

.

Ini kali kedua Minho menuju minimarket. Kali ini ia tidak membeli makanan untuk temannya. Tetapi untuk dirinya sendiri. Setelah teman-temannya menghabiskan satu porsi pizza berukuran besar tanpa menyimpan satupun untuknya. Sama seperti sebelumnya, ia mengutuk kesal teman-temannya. Bingung kenapa bisa ia bertahun-tahun satu tim dengan mereka. Bingung kenapa pekerjaannya lebih berat daripada mereka.

Kau yang terhebat Minho…

Ya. Itu kata atasannya tapi entah mengapa ia malah terdampar disini. Bahkan ketua tim tidak dijabat oleh dia tetapi oleh Jinki. Memasuki minimarket tanpa menyapa dan kemudian langsung mencebik ketika melihat sandwich habis. Satu-satunya pilihan Minho adalah hotdog yang harganya lebih mahal. Tapi daripada lapar, akhirnya ia memilih hotdog. Begitu selesai membayar, Minho segera memakannya.

Rasanya lebih lezat. Entah karena perutnya yang lapar. Atau karena hangatnya hotdog ketika melewati kerongkongannya dan tetap terasa hangat di perutnya. Menyenangkan. Ia Sibuk mengunyah sambil berjalan. Minho asyik memakan hotdog-nya.

Kriett—

Suara besi berkarat terasa begitu keras hingga Minho mengalihkan pandangannya. Menemukan gadis berambut hitam, si Jinri, kalau tidak salah. Menaiki ayunan dengan baju tebalnya sambil menunduk. Apakah gadis itu tidak takut? Ini sudah jam sepuluh malam dan dia masih bermain ayunan tidak jelas. Anehnya, bukannya berjalan tidak peduli, Minho mendekati Jinri. Ia memasukan hotdog ke kantung jaketnya.

“Hai, gadis aneh….” Sapa Minho ketika memasuki taman dipenuhi salju. Tengah-tengahnya terdapat ayunan yang diduduki Jinri.

Jinri dengan pelan menoleh. Mendapati Minho tak jauh darinya sambil tersenyum, Jinri mengeluarkan senyumannya. Minho dapat menyadari jika muka gadis itu memerah akibat alkohol.

“Hai laki-laki kasar…”

Minho tertawa mendengar panggilan Jinri untuknya. “Gadis aneh… Apa yang kau lakukan disini? Kau mabuk?”

Jinri menganggukan kepalanya polos dan mengangkat sekaleng bir, “Aku bosan…”

Minho menghela nafas, ia memilih duduk di ayunan sebelah Jinri, “Apa yang membuat mu datang ke sini? Ke kota membosankan ini?”

Jinri terlihat memejamkan matanya, “Apa ya?”

Astaga… Gadis aneh ini memang mabuk dan dengan tenangnya ia keluar. Dia benar-benar tidak takut? Minho ingin menanyakan bagaimana Jinri bisa sampai disini, sayangnya Jinri berbicara lagi.
“Aku dikirim ke sini…”

Minho menatap Jinri dengan serius, kali ini. “Dikirim ke sini?”

Jinri mengangguk polos, “Iya. Membosankan sekali. Walaupun cuman enam bulan.” Jinri kemudian memiringkan kepalanya, melihat raut wajah Minho dan tersenyum cerah, “Sebelum kau berpikir macam-macam, aku perawat rumah sakit di kota ini. Dikirim dari pusat untuk mengabdi.”

Minho tertawa canggung. Bodoh! Gadis ini terlalu aneh kalau bisa dibilang. “Kau membuatku berpikir macam-macam. Kau tahu apa yang ku pikirkan?” Ia mendekat ke Jinri dan berbisik kecil di depan mukanya, “Kau seorang mata-mata.”

Kali ini Jinri yang tertawa riang, bukang canggung. “Bagaimana dengan mu? Apakah kau mata-mata?”

Minho tersenyum, “Aku bukan mata-mata. Aku bersama teman ku sedang mengekspansi perusahaan jasa kami.” Jasa untuk membunuh lebih tepatnya. Lanjut Minho dalam hati.

“Tempat aneh untuk mengekspansi perusahaan.”

“Ini adalah kota ibu ku. Ayahku berasal dari Korea Selatan dan ibuku berasal dari sini.” Bohong. Minho berbohong. Kedua orantuanya sudah mati atau entahlah…. Dia berasal dari panti asuhan.

Wajah Jinri tiba-tiba semakin mendekat, “Itu menjelaskan satu hal. Kau rupawan.”

Minho tidak bisa berkata-kata untuk beberapa saat. Baru saja ia ingin berkata, Jinri tiba-tiba menciumnya. Menggerakan bibirnya dengan pelan diatas bibir Minho. Hebatnya, Minho membalas ciuman Jinri.

Ketika pautan mereka terlepas, Jinri terkekeh. Masih di depan wajah Minho ia berkata, “Bibir mu… Pedas.”

Minho lagi-lagi butuh beberapa detik untuk mengetahui maksud Jinri sebenarnya. Dia habis memakan hotdog, apa yang bisa diharapkan?

Jinri tiba-tiba berdiri, menunjuk gedung di depan taman, “Kau lihat? Itu flat ku… Aku harus pulang…” Jinri berjalan dengan sempoyongan. Menuju flat yang tadi ia tunjuk.

Minho ikut berdiri. Mengamati gadis aneh dari jauh, untuk mengetahui apakah ia benar-benar ke apartment-nya.

Kemudian Jinri kembali berhenti. Berbalik menatap Minho dengan seyuman misteriusnya, “Lain kali gunakanlah saus tomat. Itu manis kau tahu…”

Jinri kembali berjalan tanpa berniat menoleh. Terlihat tidak berniat mengingat kejadian ini.

Minho mematung. Kembali mengingat bibir Jinri tadi. Manis dan ia bisa merasakan sari-sari alkohol dari bibir Jinri. Memabukan. Bibirnya, bukan alkoholnya.

.

.

.

.

.

“Target berhasil dijatuhkan. Aku segera menuju apartment. Apa? Baiklah aku akan membeli pizza.” Minho segera mematikan handphone-nya dan masuk ke dalam mobil. Tiga hari ini dia sedang tidak ingin kembali ke apartment-nya kalau bisa. Menyusuri kota sepi yang membosankan itu, hanya mengingatkannya kepada kejadian dimana Jinri yang menciumnya. Begitu membakar diri Minho. Jika saja ia hanya orang normal bukan pembunuh bayaran, Minho pasti akan mendatangi tempat kerja Jinri dan mengajaknya untuk kencan.

Setelah melewati perjalanan dua jam plus 45 menit utuk membeli pizza, Minho sampai di apartment-nya dimana teman-temannya tengah duduk menonton tv.

“Kau sudah datang… Cepatlah mandi dan sehabis itu baru makan.” Kata Kibum yang kemudian kembali menonton tv.

Tidak ingin pizza habis kembali, Minho menuju kamarnya dengan pizza. Tak lupa mengunci pintu.

Sepuluh menit kemudian, Minho baru ikut bergabung dengan pizza diikuti kemarahan Kibum akibat pertunya yang sudah keroncongan. Mereka semua makan sambil menonton tv yang menampilkan pesta tahun baru. Menghitung beberapa jam lagi tahun berganti.

Sejujurnya, Minho merasa bodoh karena mengikuti acara itu hingga menit-menit terakhir jam 12, yang artinya sebentar lagi tahun baru.

“Aku mendengar suara banyak orang dari luar.” Kata Jonghyun tiba-tiba. Ia meminum kembali bir-nya.

“Biasa… Orang-orang di kota ini mengadakan pesta tahun baru.” Kibum menjawab pendek. Meminum bir-nya juga.

Kedua temannya, Jinki dan si maknae Taemin sudah tepar karena alkohol juga. Pikiran Minho langsung berterbangan kemana-mana dengan satu tujuan, Jinri. Apakah gadis itu juga ikut pesta? Apakah gadis itu juga bersenang-senang?
“Hey, Minho, kau mau bir lagi tidak?”

Minho bangkit. Sama sekali tidak mengubris pertanyaan Kibum.

“Kau ingin kemana?” Lagi-lagi Kibum bertanya.
“Aku bosan.” Jawab Minho pada akhirnya dan memakai jaket tebalnya.

“Jangan pergi terlalu jauh.” Ucap Kibum lagi.

Minho mengangguk dan keluar dari kamarnya. Berjalan menuruni tangga kemudian keluar dari apartment. Orang-orang banyak berjalan menuju pusat kota. Minho berjalan menjauhinya. Ia menuju taman. Taman tepat di depan apartment Jinri.

Dia bodoh bukan? Dia ingin bertemu Jinri dan Jinri pasti sedang berpesta di tengah kota. Tetapi ia malah menjauhi kota menuju kota mati, bisa dibilang begitu. Toko-toko tutup dan hanya lampu jalan menerangi. Minho hanya berharap dia dapat melihat Jinri baik-baik saja ketika pulang. Itu saja dia sudah lega.

Ia memilih duduk di ayunan. Memainkan ayunan berkarat itu. Meringis ketika mendengar bunyi besi berkarat terdengar jelas.

Kriett—

Kriett—

Kriett—

Duar~

Minho menghentikan ayunannya dan melihat ke langit. Cerah, dipenuhi oleh kembang api bewarna-warni. Ia tersenyum melihatnya. Terus melihatnya hingga kembang api berhenti. Itu artinya pesta tahun baru dimulai. Banyak alkohol pasti disana. Kota ini menyukai alkohol.

Minho menghela nafasnya. Mengeluarkan udara putih dari mulutnya. Memilih memainkan ayunan tua itu lagi. Menunduk menatap sepatu cokelatnya.

“Minho…” Minho terkejut ketika menemukan Jinri sedang berjongkok, dimana ia dapat melihat wajahnya dengan jelas. “Jangan bilang kau mabuk disini.” Lanjutnya dengan nada suara geli.

Minho mengangkat kepalanya. Menatap Jinri lama. Dia… Dia merindukan gadis ini.

“Hey…” Jinri mengibaskan tangannya. “Apakah kau masih sadar?”

“Aku tidak mabuk disini.” Minho kemudian tersenyum lembut. “Kau tidak ikut pesta jinri?”

Jinri mengkerucutkan bibirnya. “Sayangnya tidak…” Terdapat nada kesal disana. “Karena aku orang baru, mereka menukarkan jadwal ku seenaknya. Padahal aku sudah dapat pulang dari jam tujuh tadi… Bagaimana dirimu? Kau tidak ikut berpesta?”

“Aku merasa ini adalah tempat yang pas untuk melihat kembang api. Diantara gedung-gedung ini, cahayanya juga minim, ini tempat yang pas.” Pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran yang kadang merangkap mata-mata membuat Minho pintar beralasan. Ia menyunggingkan sebuah senyum untuk meyakinkan Jinri.

Jinri menatap langit. Ia berbalik badan membelakangi Minho. “Uhm… Aku tidak melihat kembang api sama sekali. Tapi kurasa kau benar.” Ia berbalik dan tersenyum ke Minho

Minho membalas senyuman Jinri, “Kau bilang kau tidak melihat kembang api…”

Mata Jinri berkilat senang entah mengapa. “Aku hampir lupa!” Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan bungku kembang api. Kembang api berbeda yang dimana terdapat tangkai besi untuk memegang. “Aku mendapatkan ini dari pasien ku tadi. Kau ingin ikut menyalakannya?”

Minho tanpa ragu menjawab iya. Mereka menghabiskan seluruh kembang api sambil tertawa. Bercerita. Dimana hampir semua cerita Minho bohong. Ia tidak punya cerita bahagia. Hidupnya penuh dengan darah… Sejujurnya.

Ketika jam berdentang satu kali, pukul satu malam, Minho mengantarkan Jinri ke apartment-nya. Apartment yang terletak tepat di depan ayunan, hanya beberapa langkah darinya. Dia bisa saja duduk dan melihat Jinri dari ayunan jika ia mau.

“Terimakasih…” Ucap Jinri sedikit kikuk.

“Kau menjadi kikuk sekarang? Pertemuan terakhir kita kau bahkan langsung meninggalkan ku.”

Jinri menatap Minho sejenak. Berusaha mengingat, “Ketika—“ Matanya membesar. “Di ayunan itu bukan?”

Kali ini Minho menatap Jinri dengan melotot, “Kau bahkan tidak ingat kejadian itu?”

Jinri terdiam sebentar, “Aku ingat. Tapi tidak semuanya. Hanya sedikit kurasa…”

“Sedikit?” Minho masih melotot.

Jinri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mendekat ke Minho, “Bibirmu… Apa masih pedas?”

Sekarang, Minho lah yang terdiam, “Apa?”

“Kau tahu…” Jinri tersenyum. Senyum yang bagi Minho misterius. Senyum yang tidak dapat diartikan bahagia. Senyum yang sekarang seakaan menggodanya.

Minho berdehem. Menghilangkan kegugupannya akibat kalimat frontal Jinri, “Aku makan pizza dengan saus tomat sekarang. Kupastikan rasanya manis.”

“Kau mengikuti kata ku bukan?” Minho menelan ludahnya gugup. Suara Jinri begitu halus dan serak seakan memanggilnya. Senyuman gadis itu membakar Minho. “Bolehkah?” Jinri melihat bibir Minho sekilas.

Astaga! Gadis ini sedang menatap Minho polos tetapi itulah yang membuat Minho nyaris gila. Minho segera menarik Jinri kedalam pelukannya. Mencium Jinri. Tidak memberikan gadis itu sedikitpun kesempatan. Sepertinya, ia akan lepas kendali.

.

.

.

.

.

Hal pertama yang Minho dapati ketika ia memasuki apartment-nya adalah Kibum, Jonghyun, Jinki, dan Taemin sedang membaca file kasus baru. Sepertinya mereka semua mendapat kasus baru. Ia pulang ke apartment pukul 11 siang.

“Selamat siang Minho.” Jinki yang pertama menyadari kehadirannya. “Aku mungkin mabuk hingga tidak sadarkan diri kemarin malam, tapi Jonghyun atau Kibum mengingatkan dirimu untuk tidak pergi jauh bukan?”

“Kibum mengingatkan ku. Dan aku tidak pergi jauh.” Minho melangkah mendekati teman-temannya.

“Sabun. Kau habis mandi. Dan itu sabun perempuan.” Taemin berkata dengan mata yang tetap fokus membaca.

“Oh!” Ketiga temannya-–Jonghyun, Kibum, dan Jinki–menatap Minho serempak.

“Kau menggunakan wajah rupawan mu untuk meniduri gadis dari setiap kota yang kita singgahi.” Cibir Jonghyun.

Minho mengangkat bahunya, “Bukan salah ku memiliki wajah seperti ini.”

Jinki berdecak kesal. Segera ia melemparkan sebuah file kepada Minho, “Kau mendapat misi baru juga. Batas akhir mu ketika memasuki musim semi, bulan April.”

Minho menatap Jinki heran, “Itu cukup lama.”

Red tag Minho.”

Minho mengerti. Setiap kasus mereka diberi tag berdasarkan targetnya. Jika targetnya orang bodoh yang tidak tahu ia akan dibunuh, kalaupun tahu ia hanya bisa bersembunyi, itu green tag. Target termudah. Kalau targetnya tahu ia akan dibunuh dan menyewa semaca body guard, itu blue tag. Tidak terlalu mudah karena ia harus menyusun rencana terlebih dahulu. Jika targetnya bukan hanya tahu dan menyewa body guard, dia juga berhasil kabur itu diberi red tag. Target tersusah dan biasanya harus mengintai terlebih dahulu agar target benar-benar mati kali ini.

“Ku dengar wanita itu sudah kabur sebanyak 5 kali. Lima orang yang bertugas membunuhnya malah mati.” Kibum kali ini bersuara. “Kau harus menggunakan kesempatan dengan baik atau kau juga akan mati.”

Minho memutuskan untuk berbasa-basi sejenak sebelum ke kamarnya. Mempelajari targetnya. Ia tidak bisa mempelajari targetnya disuasana ramai. Minho menghapus papan tulisnya berkas kasusnya kemarin. Membuka file-nya. Dan menemukan nama….   Choi Jinri?!

.TBC.

A/N: Pernah di post di wattpad dalam rangka memperingati ulang tahun Choi Minho di akun author Acil Choi.

 

 

 

Flipped (Chapter 20)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Salah Paham


Suara bel diikuti oleh suara perintah membuat semua kegiatan di ruangan tersebut berhenti.

“Taruh saja kertasnya di meja dan silahkan keluar.” Begitulah suara wanita paruh baya–Profesor Yuri- terdengar lagi.

Sehun keluar dari ruangan. Ia menghela nafasnya. Ini merupakan keputusan yang berat. Sampai sekarang ini juga, ia masih ragu akan keputusannya.

“Sehun…” Suara perempuan yang akhir-akhir ini sering menemaninya membuat Sehun tersenyum lembut –menyapa- ke Irene.

“Hai Irene…” Sapanya pada Irene yang sudah menunggu di depan ruagan.

Irene menatap ke Sehun ragu sebelum akhirnya berkata, “Jadi benar?”
Sehun tersenyum kecil. Mengetahui apa maksud Irene, “Ya.” Jawab Sehun pendek.

“Kenapa?”

“Kenapa gak?”

Irene menghela nafasnya, “Kamu udah bicara sama orangtua kamu?”

“Mereka udah setuju, Irene…”
Jawaban singkat dan padat Sehun membuat Irene kembali menghela nafasnya, “Tapi udah yakin?”

Sebelum Sehun menjawab, Irene kembali berkata, “Sudah bicarain sama teman yang lain?”

“Aku udah bicarain sama Chanheol, Junmyeon, dan Xiumin.”

Melihat Irene sekarang tertunduk, Sehun menhela nafasnya, “Kita udah bicarain hal ini bukan?”

“Iya, tapi..”
“Dan kamu udah janji sama aku.”

“Tapi..”

“Tapi apa?”

Irene kini mendongak, matanya sudah berair, “Tapi aku pikir kamu gak akan ngelakuin hal ini.”

“Aku ngelakuin hal ini bukan karena kamu.”

Jawaban Sehun sukses membuat air mata Irene jatuh.

“Irene….”
“Ya, aku tahu! Aku bukan siapa-siapa bagi kamu! Kamu bahkan gak mau nerima persaan aku.”

“Irene…”
“Karena kamu bilang kamu lebih milih perasaan Junmyeon –teman kamu- yang minta ke kamu jangan pacarin mantan pacarnya.”
“Aku gak pernah ngomong kayak gitu.”

“Iya, gak! Tapi aku tahu maksud kamu Sehun…”

Setelah itu Irene berbalik dan meninggalkan Sehun. Sehun lagi-lagi hanya bisa menghela nafasnya.

.

.

.

.

Ada orang yang berkata jika hidup ini bagaikan roda yang berputar. Terkadang kau merasa di atas. Terkadang kau juga merasakan di bawah. Membaca buku-buku kuliahnya yang sedang membahas majas membuat Krystal kembali menghela nafasnya. Kenapa semua majas disini berhubungan dengan penyesalan cinta? Pikirannya semakin kalut.

Ia menutup bukunya dan memejamkan matanya. Sekarang, ia sedang berada di perpustakaan. Tidak ada tugas sama sekali. Dia sedang ini menghabiskan waktunya di perpustakaan, sekaligus menghindari Luhan. Entahlah…. Dia tidak sanggup bertemu dengan Luhan semenjak ia bertemu dengan Sehun. Perasaan cemburunya kepada Sehun menjadi perasaan bersalah ketika melihat Luhan tersenyum.

Drrrt~

Krystal terkesiap ketika handphone-nya berdering. Segera saja ia tersadar dari lamunanya dan mengangkat telepon.

“Hai…” 

Krystal tercekat mendengar suara yang meneleponnya, “Oh, Hai Luhan…” Sapanya berusaha ceria.

Aku tadi mencoba ke kelasmu. Tapi sepertinya dirimu sudah pulang.”

Duh… Krystal jadi merasa bersalahkan.

“Sudah lama kita tidak pulang bersama. Aku rindu padamu…. Kau sedang sibuk-sibuknya ya?”

“Tidak juga.” Krystal berhenti sejenak. Ragu ingin berkata apa. “Uhmmm, Luhan…”

“Iya?”

“Nanti malam co-ass gak?”

“Ada apa?” Tanya Luhan dan Krystal bisa menangkap nada kegembiraan di situ.

“Mau makan malam bersama?”

“Sebenarnya aku sudah ada janji dengan Chanyeol.”

“Oh, kalau begitu tidak usah.”

“Tunggu dulu… Chanyeol akan merayakan ulang tahunnya dan mengundangku.”

“Oh, baiklah…” Krystal masih ragu, “Jadi…”

“Kau ingin menemaniku Krystal Jung? Sebenarnya tadi aku datang ke kelasmu untuk mengajak mu? Kalau kau tidak ingin kita bisa makan malam bersama.”

“Tentu aku ingin menemani mu. Dimana?”
“Aku akan menjemput mu dirumah mu…..”

Setelah itu teleponnya terputus. Kenapa ia dan Luhan menjadi seperti ini? Pikiran Krystal berkelabat mengenai pertemuan nanti malam. Pesta ulang tahun Chanyeol ya? Apakah Sehun ada disana?

.

.

.

.

.

Krystal dan Luhan sampai di tempat acara sedikit terlambat. Ketika mereka memasuki ruangan pesta, yang tak lain adalah apartment Chanyeol, banyak wajah asing yang mereka lihat.

“Krystal!!!” Spa seseorang yang membuat Krystal terpana beberapa saat.

“Sulli!” Seru Krystal dan langsung memeluk Sulli. “Sudah lama tidak bertemu dengan mu.:

“Aku tahu!” Pekik Sulli senang. “Bagaimana kabarmu?” Lanjutnya ketika melepas pelukan.

“Baik… Sangat baik…”

“Jadi, kau temannya Chanyeol?”
Krystal tertawa kecil, “Bisa dibilang begitu… Sebenarnya Luhanlah yang merupakan temannya Chanyeol.”

“Luhan?” Sulli langsung menoleh ke Luhan, seakan baru tersadar Luhan disamping Krystal. “Luhan! Astaga!! Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu!”

Luhan tertawa melihat antusiasme Sulli, “Senang melihatmu juga Sullli ”
“Bagaiman dengan dirimu? Kau juga temannya Chanyeol?” Tanya Krystal membuat Sulli kembali menoleh kepadanya.

Sulli tiba-tiba tersenyum lebar dan mengangkat tangan kannya, “Tunangan..”
Krystal terdiam sesaat, “Ya, ampun… Bagaimana bisa?”
Melihat kedua perempuan itu akan asyik mengobrol, Luhan menyentuh siku Krystal, menghentikan Krystal yang asyik mengobrol dan menoleh ke Luhan, “Aku ke Chanyeol dulu.” Kata Luhan sambl tersenyum.

“Baiklah…” Jawab Krystal pendek dengan senyuman tersungging di bibirnya.

Luhan berjalan melintasi ruang depan menju pintu kamarnya yang entah mengapa sekarang banyak balon, “Chanyeol!”

“Hai, Luhan!” Chanyeol melambaikan tangannya. Ia tersenyum seperti anak 18 tahun daripada umrunya sekarang.

“‘Selamat ulang tahun dan selamat juga untuk pertunaganmu!”

“Terimakasih! Kau datang sendiri kesini?”

“Tidak. Krystal ikut tapi sedang mengobrol dengan Sulli..”

“Aku tahu jika mereka teman SD!”
“Yah.. Dan banyak yang akan mereka bicarakan.”
Chanyeol tertawa kecil mendengar hal itu.

“Bagaiman dengan Sehun? Apakah ia kan datang? Tanya Luhan tiba-tiba.

Chanyeol terdiam sebentar, “Dia ada sedikit masalah di kampus. Tapi dia bialng dia kan datang.”  Ekspres Chanyeol yang sedikit kaku membuat Luhan bertanya-tanya tentang Sehun. Tapi sepertinya tidak baik menyakan hal ini. “Oh, baiklah..” Respon Luhan pada akhirnya.

“Chanyeol!” Suara orang lain membuat mereka berdua menoleh.

“Jongdae!!” Chnayeol kembali tersenyum, “Aku terkesan kau datang kesini. Oh, perkenalkan ini Luhan. Orang yang sekarang menempati kamarmu!”

Luhan akhirnya sibuk mengobrol dengan orang-orang yang dikenalkan Chanyeol. Begitupula dengan Krystal yang asyik bercerita ke Sulli, terutama bagaimana dia bisa berpacaran dengan Luhan. Oh, tentu Krystal tidak menceritakan bahwa ia masih menyukai Sehun. Rasanya memalukan.

“Hai Sulli…” Suara berat yang lagi Krystal coba hindari terdengar. Sontak saja, Krystal dan Sulli berbalik.

“Sehun… Kau terlambat!” Seru Sulli pura-pura kesal.

“Aaah… Ada sedikit masalah dikampus.”

“Alasan.. Sebentar lagikan mau diwisuda! Gak ada tugas-tugas lagi!” Sulli masih bersikeras.

“Ayolah… Jangan sering marah-marah. Kasihan nanti suami mu!”

Dengan sigap, Sulli memukul lengan Sehun dan mereka berdua tertawa.

“Sehun lihatlah.. Krystal ada disini…” Sulli merangkul Krystal. Tetapi, sebelum Sehun menanggapi, Sulli memekik, “Oh! Kau juga tidak datang sendiri! Kenapa tidak memperkenalkannya kepadaku?!”

Krystal yang sedari tadi diam menunduk menoleh ke arah seseorang yang disamping Sehun, “Irene…” Katanya otomatis.

Selama beberapa detik, Krystal menahan nafasnya. Jadi Irene kesini bersama Sehun? Apakah hubungan mereka sudah sangat serius?

Menyadari tatapan Irene yang bingung, Krystal kemudian tersenyum, “Aku mendengar namamu dari Sehun.”

Irene bergumam kecil dan menundukan kepalanya. Terlihat semburat merah di wajahnya.

“Aku Krystal Jung…” Krystal mengulurkan tangannya.

Dengan malu-malu Irene membals uluran tangan Krystal, “Irene Bae.”

Melihat sikap Irene yang entah mengapa sedang berbunga-bunga membuat Krystal sediki merengut. Irene tersentak karena cengkraman tangan Krystal mengeras.

“Senang sekali bisa bertemu dengan mu langsung…” Oh katakanlah Krystal munafik karena memang benar, bukan? Ia sama sekali tidak senang.

“Aku juga.” Sahut Irene sambil tersenyum lebar.

“Kalau gitu Irene harus mengobrol dengan kita, bukan?” Sulli terlihat sangat antusias. “Oh, aku Sulli!”

“Oh…” Irene melirik ke Sehun.

“Aku akan menyampaikan salam mu ke Chanyeol.” Sahut Sehun santai. Ia sedikit tersenyum ke Irene.

“Kau temannya Chanyeol juga? Baiklah kita harus mengobrol. Dan tenang saja! Chanyeol tidak akan marah jika kita mengborol karena aku adalah tuangannya.”
“Mengobrol lah dengan Sulli. Akan kusampaikan.” Sehun kembali tersenyum dan berjalan menghilang dari pandangan mereka.

“Jadi…” Seru Sulli masih antusias.

.

.

.

.

.

Pesta berlangsung sangat lama. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Tidak ada tanda-tanda orang mau pulang. Malah masih ada yang datang. Krystal tersenyum kemudian menyesap minumannya, fruit punch. Tanpa alkohol tentunya. Keadaan pasti sudah chaoss jika alkohol terlibat.

Irene dan Sulli sedang tertawa mengenai sesuatu yang tidak Krystal dengar. Dia benar-benar setengah hati ikut duduk disini sejak Irene ada. Apalagi melihat raut wajah Irena yang sangat bahagia. Entahlah… Lagipula kenapa dia harus cemburu? Tanpa benar-benar Krystal sadari, ia menghembuskan nafasnya.
“Ada apa sayang?” Tanya Sulli khawatir. Melihat temannya menjadi pendiam seperti ini sebenarnya sudah membuat Sulli bingung sedari tadi. Tapi ia mengenyahkannya. Krystal memang pendiam jika bertemu dengan orang baru.

“Bisakah aku bertemu dengan Luhan sebentar? Ada yang harus aku tanyakan kepadanya.” Lagi-lagi ia berbohong. Krystal harus menyingkir sejenak memperbaiki mood-nya sebelum ia membuat semua orang bingung.
“Oh, tentu. Aku tetap setia pada bangku ini.”

Krystal tertawa kecil. Begitupula dengan Irene.

Setelah Krystal menghilang, Irene berkata kepada Sulli, “Aku ingin bertemu dengan Sehun juga kalau boleh.”

.

.

.

.

.

Krystal berjalan menuju ke dapur. Tidak ada hal khusus sebenarnya. Ia hanya perlu berada di sekitar orang asing. Menatap orang asing tidak suka sebagai penyalur mood-nya yang sedang buruk. Krystal asyik menyesap minuman lain, sejenis soda.

“Kau seperti orang yang sedang kesal.”

Suara Luhan yang berasal dari belakang membuat Krystal menoleh dan tersenyum kecil, “Sama sekali tidak. Aku hanya menyukai ini.”

“Ingin kuambilkan lagi?”

Krystal mengangguk kecil dan Luhan terlihat menghilang di antara tamu. Kemudian matanya menyapu kerumunan.

“Sehun!”

Ia merengut ketika dirinya melihat Irene memanggil Sehun. Dan ia semakin merengut karena ia merasa dia tidak pantas menunjukan emosi seperti tadi.

“Ini dia!”

Sontak, Krystal mengambil soda dari tangan Luhan dan meminumnya. “Kau memang yang terbaik!”

“Aku tahu!” Luhan kembali berkata, “Sepertinya kau sangat asyik berbicara dengan Sulli.”

“Kau juga Luhan! Kau menghilang beberapa jam!”

“Krystal Jung juga melakukan hal yang sama!”

“Oh, jadi ini semua salahku?”

Mengobrol dengan Luhan sejenak berhasil mengalihkan pikiran dan perasaan Krystal. Pikirannya sekarang lebih tenang. Perasaannya juga lebih ringan. Krystal tertawa karena senang untuk pertama kalinya semenjak Sehun datang.

“Krystal!” Dari jauh tampak Sulli memanggilnya. Raut wajahnya menyiratkan kegusaran tetapi ia tetap tersenyum.

“Oh, sepertinya ada yang penting. Aku harus kembali ke Sulli!” Krystal kembali menyeruput sodanya. Sedangkan Luhan membiarkan Krystal pergi. Lain kali ia akan membuat pembalasan agar Krystal selalu berada di sampingnya.

“Ada apa Sulli?”

Sulli mengigit bibirnya, “Dengar… Euhm….” Ia terlihat sangat ragu.

“Katakan saja pada ku, Sulli.”

“Sehun tadi datang kepadaku dengan raut wajah yang sedikit menakutkan.”

“Maksudmu?”

“Dia ingin berbicara dengan aku dan dirimu. Jadi..”

“Sulli…”

Sulli memegang tangan Krystal, “Aku tahu kau bingung dan aku juga begitu. Tapi kita harus bertemu dengan Sehun segera.”

“Aku harus pulang.” Elak Krystal.

“Sepuluh menit saja. Walau aku yakin ini tidak akan lama.”

Krystal menghela nafasnya dan mengangguk. “Dimana dia sekarang?”

“Dikamarnya dulu. Katanya kita membutuhkan sedikit privasi.”

Alis Krystal berkerut. Tapi ia mengikuti Sulli yang menuntun mereka ketempat Sehun.
“Sulli sayang!”

“Chanyeol!”

“Kemarilah sebentar!”

Sulli menatap Krystal. Ia begitu ragu meninggalkan Krystal.

“Pergilah. Nanti setelah urusanmu dengan Chanyeol selesai kau bisa menyusul.” Krystal tersenyum tipis. Melihat Sulli yang ragu, Krystal kali ini memegang dan meremas tangannya, “Tidak ada hal buruk yang terjadi. Percayalah.”

Sulli seperti tidak punya pilihan lain. Ia memutuskan untuk mengangguk dan pergi bersama Chanyeol.

Krystal memejamkan matanya untuk mengumpulkan keberanian. Dan..

Trek~
Pintu kamar terbuka. Sehun tengah duduk di tempat tidurnya. Menunggu Krystal dan Sulli.

Melihat Krystal datang, Sehun bangkit, “Dimana Sulli?”

“Chanyeol memanggilnya sebentar. ” Krystal masuk dan menutup pintu kamar. “Kata Sulli kau ingin berbicara padaku dan dia.”

“Iya. Aku ingin berbicara mengenai Irene.”

Krystal terdiam. Tidak tahu ingin berbicara apa.

Sehun kembali berbicara, “Apa yang kalian bicarakan dengan Irene?”

“Maksudmu?”

“Dengar… Hubungan ku dengan Irene tidak seperti yang terlihat.”

Krystal terdiam. Selain tidak tahu ingin berakata apa, ia juga tidak mempercayai pendengarannya.

“Aku tidak mempunyai hubungan khusus dengannya dan kedatangan kami tadi tidak menunjukan apa-apa.”

“Kenapa kau mengatakan ini kepada Sulli dan aku? Kami hanya mengobrol biasa.”

“Iya, tapi respon kalian. Kau berkata pernah mendengar namanya dari ku—”

“—Dan itu benar…” Potong Krystal.
“Tapi..” Sehun kembali memotong, “Respon Sulli juga memperparah keadaan.”

“Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.” Ayolah… Krystal benar-benar bingung dengan keadaan. Dan ia yakin bukan hanya dirinya. “Bisakah kau memberi tahu apa yang terjadi?”

Sehun memejamkan matanya sebelum berkata, “Irene adalah mantan pacar teman ku. Teman akrab ku. Dan ia meminta ku jangan mendekatinya. Kurasa kau sudah mengerti bukan?”

“Apakah kau menyukainya?” Krystal menatap Sehun dalam. Ini benar-benar di luar dugaannya. Tapi masih ada yang menganjal di hatinya.
“Itu tidak penting.”

“Kenapa kau selalu seperti ini?” Suara Krystal tiba-tiba naik. Ia maju dan mencengkram bahu Sehun, “Bersikaplah seperti laki-laki.”

Sehun kaget, tidak menyangka Krystal akan melakukan hal ini.

“Jika kau memang menyukainya, berbicaralah kepada mantan pacarnya. Jangan seperti ini.”

“Krystal….” Sehun memgang kedua tangannya. “Lepaskan!”
“Kau menyukainya?”

Sehun memejamkan matanya. “Ayo kita keluar.”

“Kau menyukainya Oh Sehun?”

“Krystal!”

“Apakah kau menyukai diriku?” Kata-kata itu kembali keluar dari mulut Krystal. Suaranya agak bergetar. “Aku sekarang penasaran. Apa yang membuat dirimu menolak ku?”

“Kau hanyalah sahabatku.”

Cengkraman di bahu Sehun menguat, “Sayang, kau tidak memperlakukanku sebagai sahabat, Oh Sehun. Kau menjauhi ku seakan aku virus.”

“Itu tidak benar.”

“Ingatan ku sudah kembali.”

Sehun sekarang menatap mata Krystal, “Tidak ada gunanya, Krystal. Semuanya telah terlambat.” Dengan kasar, Sehun melepaskan cengkraman Krystal.

“Sehun…” Krystal menghalangi Sehun untuk keluar dari pintu. “Katakan…”

“Kau sudah bersama Luhan. Itu tidak penting.”

“Aku… masih… menyukaimu…” Hancurlah pertahan Krystal yang beberapa bulan ini ia buat. Air matanya menetes, “Ya, jadi itu penting.”

Helaan nafas terdengar, “Perasaanmu kepadaku hanyalah sebuah klise. Atau bahkan hanyalah sebuah rasa penasaran. Sekarang ku tanya kepadamu, apa yang akan kau lakukan jika aku memberi tahu mu? Kurasa tidak ada. Kau pasti akan menganggap hal yang sepele karena sejujurnya perasaan mu tidaklah sedalam yang kau kira. Kau pasti—”

Omongan Sehun terputus dan ia membulatkan matanya. Kedua tangannya bergetar. Krystal Jung sedang menciumnya. Dengan pelan, ia mengangkat tangannya dan mengarahkan ke bahu Krystal, ingin melepaskan ciuman mereka. Tapi dengan pelan juga, bibir Krystal bergerak membuat Sehun menahan nafasnya dan tangannya terhenti tepat di bahu Krystal. Ia meremas bahu Krystal. Ketika bibir Krystal kembali bergerak, Sehun mendorong Krystal hingga kepintu dan ia mulai memejamkan matanya. Nafas mereka memburu ketika mereka melepaskan tautan bibir mereka.

“Hentikan!” Teriak Sehun menatap Krystal dengan tatapan menyalak. “Hentikan, Krystal Jung!” Lanjutnya penuh penekanan.

Krystal menelan ludahnya. Jantungnya berdebar tidak karuan. Sesaat tadi dia benar-benar tidak berpikir. Semuanya mengalir seperti air. Benarkah ini terjadi? Dia belum gila bukan?

“Kurasa… Kau yang tidak tahu pasti Oh Sehun.” Ujar Krystal dengna suaranya yang tiba-tiba serak.

“Kau tidak akan mengkhianati Luhan, Krys….” Seru Sehun masih penuh penekanan dan… Misterius?

“Oh!” Krystal tersentak hebat ketika ada yang membuka pintu kamar. Dia melupakan jika pintu kamar terkunci.
Sehun sedikit menjauh dari Krystal. Begitupula Krystal yang menjauh dari pintu.

“Hallo! Apakah aku terlambat?” Sulli datang dengan santainya. Ia kemudian menurunkan senyumannya melihat Sehun dan Krystal yang berada di dekat pintu. “Atau kalian sudah ingin selesai?”

“Aku harus pulang.” Sahut Sehun dingin. Membuat Sulli menyingkir dari pintu. Tanpa mengucapkan apa-apa, ia pergi meninggalkan Krystal dan Sulli.

“Ternyata sudah selesai.” Sulli masih belum mengerti situasi berusaha mengeluarkan candaannya.

“Aku juga. Ini sudah malam bukan?”

Sulli menatap bingung Krystal, sepertinya banyak yang terjadi di dalam sana bukan?

.TBC.

I know bagian ‘Sulli menatap bingung Krystal’ bukanlah ending yang bagus tapi saya kehabisan ide. Lagipula ini udah 2400 kata… Panjang ya?  Aneh? Membuka krtik dan saran dengan tangan terbuka guys..

And… How about the kiss part? I give you a surprised didn’t i?  Another surprise will be you found in the next chapter… 2 chapter lagi dan Flipped akan selesai, i guess…

State of Grace (Chapter 27)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

“Krys…”

Krystal belum bisa menjawab. Air matanya terus turun dan semakin deras. Manik matanya menatap Sehun dengan tatapan panik.

“Sayang….” Kata Sehun. Lagi. Ia mengenggam tangan Krystal yang dingin. Mencoba menyalurkan ketenangan. Menatap mata Krystal.

“Tetap disini….” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Krystal.

Sehun tidak mengerti apapun. Tetapi ia mengangguk dan menarik Krystal ke dalam pelukannya. “Aku akan selalu disini… Disebelah mu….”

.

.

.

.

.

Sehun terus memeluk Krystal sampai Krystal kembali tertidur pulas. Saat Krystal tertidur pulas, Sehun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan saja. Mereka sudah setengah perjalanan ke busan. Waktu sudah menunjukan pukul 2 pagi. Itu artinya, mereka kira-kira akan sampai Busan pada pukul 5 pagi, untungnya mereka sampai disana tepat pukul 5 pagi.

Seojoon menyewa sebuah villa untuk keluarga Sohee. Semuanya sedang tertidur pulas ketika mereka sampai. Hanya Seojoon dan Sohee yang menyambut Sehun. Itu juga mereka terbangun karena Sohee yang sedang mengidam.

“Krystal kelihatannya sangat lelah. Ku rasa kau harus menggendongnya Sehun-ah.” Begitulah yang kira-kira Sohee noona katakan. Sebenarnya, Sehun juga punya niatan untuk mengendong Krystal. Dengan sukarela ia menggendong Krystal ala bridal style ke kamar yang telah dipersiapkan.

Setelah membawa barang-barang ke atas, Sohee noona kembali berkata, “Kamar mu bukan di sini. Tapi di sebelah.” Kentara sekali ada nada ancaman di situ. Memangnya Sehun mau ngapain sih?

Walau sudah di ancam Sehun tetap nakal. Dia menidurkan dirinya di samping Krystal, pelan-pelan menutup matanya sambil memeluk kekasihnya.

.

.

.

.

.

Ketika bangun, Krystal merasa jika kepalanya sangat berat. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan menemukan wajah Sehun yang sedang tertidur dengan damai. Tangan Sehun yang melingkar memeluk tubuhnya juga mulai terasa. Krystal menyunggingkan senyumnya. Pelan-pelan ia menyentuh pipi Sehun.

“Pagi..”

Krystal terasa terjungkal dari tempat tidur sangking terkejutnya. Sehun tidak dapat untuk tidak tersenyum mendengar bunyi nafas Krystal yang begitu tercekat.

“Mencuri kesempatan ya?” Matanya tiba-tiba terbuka dan mendapati Krystal masih dengan wajah syoknya.

Krystal hanya mendengus. Rona merah sudah terdapat di wajahnya.

Lagi-lagi, Sehun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa.

“Apaan sih?” Gerutu Krystal dan mendorong Sehun pelan. Ia kemudian bangkit dari tempat tidurnya dengan wajah tertekuk.

“Jangan begitu…” Sehun dengan sigap kembali menarik Krystal ke dalam pelukannya. “Biarkan seperti ini untuk berapa saat.” Lanjutnya pelan.

Krystal lagi-lagi pasrah. Habisnya ia juga menyukai berada di pelukan Sehun.

Tok! Tok! Tok!

“Krystal….”

Sehun mengerang mendengar suara Sohee noona.

“Krystal…. Ayo bangun…. Sudah jam 07.30…”

Gantian, Krystal lah yang tertawa melihat raut wajah Sehun. Lagi-lagi ia mendorong Sehun dan bangun. Dengan santai berjalan menuju pintu,”Iya, oennie!”

Cklek~
“Krystal sayang…”   Sohee langsung memeluk tubuh Krystal, “Aku sangat senang kau bisa datang. Bersemangatlah! Kau harus fitting baju dan menemaniku seharian ini.”

“Apa-apaan…” Suara protes Sehun membuat Krystal dan Sohee menoleh.

Melihat Sehun yang berada di tempat tidur membuat Sohee melotot, “Yak, Oh Sehun! Sudah kubilang kamar mu disebelah!”

“Tapi noona tidak menyuruhku untuk tidur di kamar ku bukan?”
Sohee noona kembali melotot ke arah Sehun, “Benar-benar! Cepat sekarang keluar dan pergi ke kamar mu! Kau juga harus bersiap-siap karena akan menemani Seojoon!”

“Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapi!” Potong Sohee tegas. “Cepat!”

Sehun merengut. Aduh… Padahal Sehun berharap hari ini dia akan bersama terus dengan Krystal. Kenapa malah terpisahkan oleh dua calon pengantin ini?

.

.

.

.

.

“Fitting baju jam sembilan dan sehabis itu Krystal akan membantu noona mengurusi beberapa hal. Seperti bunga dan tata letak ruangan. Kau bisa bukan?”

“Tidak!”

Jawaban spontan Sehun membuat Krystal dan Sohee melotot. Mereka sedikit kesal dengan sifat blakblakannya Sehun.

“Tentu eonnie. Aku senang bisa membantu.” Kata Krystal pada akhirnya.

“Tapi—“

“Oh, senangnya…” Sohee noona memotong omongan Sehun. “Terimakasih Krystal…”

Sehun kembali menghela nafasnya. “Noona, kau membuat mood ku hancur.”

“Aku hanya meminjam kekasih mu hari ini saja. Besok-besok ia akan terus di sebelah mu.” Bela Sohee noona.

Sehun ingin melontarkan pembelaannya. Sayang, seseorang memanggil Sohee noona yang membuat ia dengan enaknya melenggang pergi meninggalkan Sehun dan Krystal.

“Sifat asal-asalannya sangat sama seperti hyung. Aku bingung bagaimana mereka menghadapi anak-anak mereka nantinya.” Gerutu Sehun kemudian meminum kopinya.

“Hush, jangan berbicara seperti itu!” Gumam Krystal. “Sohee noona tadi sudah bilang kepadaku dengan yang cara baik-baik kok. Entah mengapa ketika bertemu denganmu berbicaranya menjadi seperti itu.”

Sehun memberengut mendengar penjelasan Krystal. Krystal pun tertawa lepas melihat hal tersebut. Tertawa yang sangat lepas. Sehun melirik Krystal sekilas. Jika gadis itu bisa tertawa selepas itu sekarang, apa yang membuat ia menangis sangat ketakutan kemarin malam?

.

.

.

.

.

Rasa penasaran Sehun belum terjawab juga.. Dua hari dari kedatangan mereka ke Busan dan Sehun hampir tidak mempunyai waktu bersama Krystal. Bukannya ia seorang yang lagi kasmaran yang tidak ingin dipisahkan, hanya saja rasanya aneh karena ia ingin tahu mengenai kejadian malam mereka datang ke Busan.

Krystal dan Sehun menemani calon pengantin secara terpisah. Sohee mengurus ruangan sedangkan Seojoon kerjanya pergian ke tempat catering atau apapun itu. Barulah malam hari mereka bertemu, itupun ketika ingin tidur.   Malam pertama mereka di Busan, Krystal terlihat sangat lelah. Gadis itu benar-benar menemani Sohee mengurusi tata letak.

Sehun yang saat itu ingin bertanya, mengurungkan niatnya dan pada akhirnya hanya melihat Krystal yang mulai terlelap di kasurnya. Saat ingin keluar menuju kamarnya, baru saja ia membuka pintu, Krystal berteriak dan rupanya ia sedang mengalami mimpi buruk. Mata gadis itu terbelak ketakutan yang membuat Sehun entah mengapa sakit dan hanya bisa memeluknya hingga Krystal kembali tertidur. Sehun pun akhirnya kembali lagi tertidur di kamar Krystal.

Begitupula keesokan harinya, Krystal yang sangat lelah kembali dilanda mimpi buruk dan gadis itu sesenggukan akibat mimpinya. Mulutnya yang gatal terdiam karena ia tahu, Krystal tidak akan bisa menceritakannya sekarang. Dan dia berharap gadis itu ingin menceritaknnya nanti.

“Sehun!”

Sehun tersentak kaget ketika Kai memukul kepalanya. Ia menoleh menatap Kai tajam. Begitupula dengan Kai.

“Apa yang kau pikirkan bodoh?! Acara pernikahannya sudah mau di mulai!” Seru Kai tertahan.

Sehun menarik nafasnya dan berjalan dengan pelan menuju tempat pernikahan kakaknya. Ia tidak boleh mengecewakan kedua pengantin yang menunjuknya sebagai their best man.

.

.

.

.

.

Sorak tepuk tangan men-sahkan ikatan Sohee dan Seojoon. Semuanya bersorak senang dan tersenyum lebar. Panasnya mentari terkalahkan dengan semangat para hadirin.

Seojoon dan Sohee menggelar pernikahan mereka di salah satu pantai di Busan. Nuansa putih dan hiasan bunga yang banyak, pernikahan mereka adalah salah satu pernikahan terindah, menurut Sehun. Dan itu bukan hanya Seojoon sebagai kakaknya. Sehun tidak dapat menahan senyumannya. Ia mengerjapkan matanya ketika air matanya mendesak untuk turun. Tidak pernah terpikirkan di benaknya dapat melihat hyung-nya kembali. Atau dapat hadir di pernikahan hyung-nya.

Sohee dan Seojoon kemudian berbalik, melambaikan tangannya kepada para tamu. Tanpa aba-aba, Sohee melemparkan bunganya.

“Wuhuuu~” Sorai para tamu bertepuk tangan ketika bunga sampai di tangan Seulgi.

Seulgi tampak syok kemudian menunduk, menyembunyikan rona di pipinya. Krystal yang berada di samping Seulgi ikut bertepuk tangan juga tersenyum lebar.

Perhatian Sehun sekarang tertuju ke Krystal. Gadis itu selalu cantik dimanapun dan kapanpun. Tapi entah mengapa, rasanya sangat berbeda ketika Krystal, yang kala itu menggunakan gaun bewarna putih pemberian Sohee, tersenyum lebar sambil berbisik-bisik bersama Seulgi.

Acara pernikahan berlanjut. Sehun dengan setia, yang tentunya di dampingi oleh Krystal, menemani Seojoon menyapa keluarga Sohee yang jumlahnya lumayan. Sehun juga bertemu dengan orangtua Sohee yang terbilang sangat santai dan lebih tepatnya tidak mengungkit-ungkit masalah keluarga Sehun. Mereka juga sangat ramah. Jangan lupakan keponakan Sohee yang berjumlah 4 orang masing-masing berumur 3 tahun. Sedari tadi sibuk menyapa Sohee dan Seojoon. Juga ikut bercanda bersama Krystal.

Langit mulai senja saat semua tamu pada pulang. Menyisakan pengantin yang sibuk mengurusi tempat pernikahan mereka kemudian Sehun dan Krystal. Sehun menarik tangan Krystal perlahan menjauhi tempat pernikahan. Menyusuri pantai Busan yang indah dan masih terjaga. Melihat deburan ombak yang tenang. Angin sisa-sisa musim dingin masih terasa dan semakin terasa dengan redupnya sinar mentari.

“Apa kakimu sakit?” Tanya Sehun ke arah Krystal.

Krystal melihat ke arah kakinya yang terbalut high heels putih, “Sedikit.”

Sehun berhenti berjalan dan sedikit membungkukkan badanya. Pelan-pelan ia melepas high heels Krystal.
“Sehun!” Teriak Krystal terkejut karena Sehun tiba-tiba mengendongnya.

“Lihatlah… Kakimu kembali membiru.”

Krystal tidak sempat membalas. Lagi-lagi Sehun berlari menuju bibir pantai. Membuat Krystal tertawa lepas. Ia mengalungkan lengannya ke leher Sehun.

“Kyaaa…” Sehun menjatuhkan Krystal ke pasir lagi dan membuat Krystal kali ini terkena ombak.

Krystal yang kesal mendorong kaki Sehun dan ia juga ikut terjatuh. Mereka akhirnya bermain air hingga Krystal memutuskan untuk menjauh karena kedinginan.

“Menggelikan…” Gumam Krystal kesal.

Sehun hanya tertawa, “Tapi kau senang.” Ia kemudian mengalungkan jasnya ke bahu Krystal. “Sebentar lagi matahari akan terbenam. Kau ingin pulang?”

Krystal menoleh ke arah Sehun, “Bisakah kita melihat matahari terbenam terlebih dahulu? Sudah lama aku tidak melihatnya.”

Sehun mengiyakan. Akhirnya mereka terduduk di pantai. Tepat di depan mereka, matahari siap-siap terbenam.

“Aku jarang sekali ke pantai.” Krystal kembali berbicara. “Aku membenci pantai. Intinya, aku membenci hal-hal yang membuatku bahagia bersama ibu ku.” Ia menghela nafasnya. Sedangkan Sehun diam mendengarkan.

“Merayakan ulang tahun, pergi ke pantai, bernyanyi bersama-sama,” Omongan Krystal terhenti saat air matanya turun. Sehun dengan pelan menarik Krystal ke dalam pelukannya. Krystal mulai lagi berbicara, “Terkadang aku suka bertanya-tanya. Apa yang akan terjadi ketika aku bertemu dengan ibu ku lagi? Apakah aku akan marah dan tetap membencinya? Apakah aku langsung membalikan badan ku dan berjalan seoalah-olah aku sudah melupakannya? Bertahun-tahun aku memupuk rasa benci ku kepada ibu ku. Tapi… Tapi tidak ada satupun yang benar. Aku tercekat nyaris ketakutan ketika melihatnya.”

“Krys…” Sehun pun merasa aneh dengan akhir kalimat Krystal. Ia menatap wajah Krystal yang sedari tadi menempel di dada bidangnya.

Krystal menatap mata Sehun lamat-lamat sebelum ia berkata, “Aku bertemu dengannya. Ketika aku menangis dan mengatakan kepada mu agar jangan meninggalkan ku. Waktu itu semua kenanganku dengannya mengalir begitu saja. Dan aku merasa sudah menemukan jawaban dari pertanyaan ku. Pertanyaan ketika aku bertemu dengannya. Aku tidak akan siap bertemu dengannya. Sampai kapapun. Sampai aku bisa memaafkannya. Dan sayang, aku belum memaafkannya.”

“Aku akan berada di sebelah mu dan tidak akan pernah melepaskan mu.” Ucap Sehun sungguh-sungguh.

Air mata Krystal kembali meleleh. Krystal kembali berbicara. Menggumamkan sebuah kalimat yang tak diduga-duga, “Apakah aku akan menjadi ibu yang baik?”

“Tentu saja Krystal. Tentu saja.” Jawab Sehun cepat dan yakin. “Kau akan menjadi ibu yang baik. Aku yakin itu. Jangan pernah meragukan dirimu hanya karena masa lalumu. Itu sudah berlalu. Lihatlah dirimu yang sekarang.”

Krystal masih terdiam dan meneteskan air matanya.

Dengan lembut, Sehun menghapus air mata Krystal, “Semua akan baik-baik saja.”

Krystal kembali bersandar di dada bidang Sehun. Matanya terpejam menikmati dinginnya angin pantai. Sejenak hanya terdengar deburan ombak.

“Anak laki-laki atau anak perempuan?”

Sehun menoleh ke Krystal, “Apa?”

“Maunya anak laki-laki atau anak perempuan?”

Sebuah senyum tipis tersungging dibibir Sehun, “Bagiku, yang terpenting anak tersebut dilahirkan dari seseorang ibu yang aku cintai dan ibu tersebut sehat. Itu yang terpenting.”

Dalam sunyinya deburan ombak, Sehun kembali mengecup bibir Krystal.

Yah… Gak jadi ngeliat matahari terbenam dong…

.TBC.

Tenang-tenang…  Untuk beberapa chapter ke depan gak ada konflik berat..  Tapi gak tau nanti.  Target nyelesain ini adalah bulan desember/januari tapi kira-kira masih ada 10 chapter lebih (jika tidak ada perubahan konflik) Chapter selanjutnya akan di publish secepatnya *kaburrrrr

Flipped (Chapter 19)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

KHIANAT

Lima bulan. Ya, lima bulan. Hari ini tepat lima bulan sejak Luhan dan Krystal memutuskan untuk pacaran. Krystal melihat hp-nya yang sudah dipenuhi oleh chat dari Luhan. Salah satunya berisi tentang hari jadi mereka. Hp Krystal kembali berdering. Tapi kali ini bukan sebuah chat yang masuk, melainkan sebuah telepon dari Luhan.

“Hallo…” Jawab Krystal dengan suara khas bangun tidur, menjawab telepon Luhan.

“Happy five month anniversary…”

Krystal tidak dapat menahan senyumannya ketika mendengar suara Luhan, “Happy five month anniversary too….” Balasnya ceria. Ia mulai bangkit dari tempat tidurnya.

“Apa yang ingin kau lakukan hari ini?”

“Ke kampus tentu saja. Aku pulang siang hari ini.”

“Baguslah…”

“Kenapa?”

“Aku akan mengajak mu ke suatu tempat sehabis pulang.”

“Makan?” Tanya Krystal main-main. Ia hanya bercanda. Luhan bukan tipikal orang yang suka pergi ke restaurant jika ingin merayakan sesuatu. Lima bulan bersama dan Luhan suka mengajak Krystal ke tempat sedikt aneh untuk merayakan hari jadi mereka. Seperti taman, museum, atau pernah ke perpustakaan umum. Aneh, tapi Krystal menyukainya.

“Aku akan selalu mengajak mu makan. Ke tempat lain. Rahasia.”

Krystal tertawa mendengar jawaban Luhan yang selalu mengajaknya ke tempat makan. Lucu? Salahkan dia yang terlalu receh. “Baiklah. Dimana kita akan bertemu?”

“Kau tahu aku akan selalu dimana menunggu mu. Sampai nanti Krystal Jung.”

Lagi-lagi, Krystal tidak dapat menahan senyuman dan gejolak hatinya, “Baiklah. Sampai nanti.” Setelah sambungan telepon terputus Krystal memejamkan matanya. Rasanya damai. Keputusannya untuk bersama Luhan sepertinya tidak buruk, bukan?

.

.

.

.

.

Seulgi menatap Krystal yang sangat bahagia hari ini. “Happy five month anniversary…” Kata Seulgi pada akhirnya.

Krystal menoleh dengan tatapan terkejut, “Bagaimana kau tahu jika hari ini adalah—“

“Tentu aku tahu.” Potong Seulgi. “Sudah berkali-kali kau bahagia seperti ini. Tentu lama kelamaan aku juga hafal tanggal jadian mu. Kemana dia akan mengajak mu?”

Seulgi adalah orang yang tahu segalanya. Segalanya tentang hubungan Krystal dan Luhan.

“Oh, entahlah. Dia merahasiakannya.” Kemudian Krystal tersenyum. “Dia pasti sudah menunggu di luar.”

Seulgi mengangguk-angguk malas. “Yang lagi bahagia-bahagianya…”

“Kau iri bukan?” Krystal menatap Seulgi jahil.
Seulgi mendengus, “Apa kau bilang?” Katanya dengan nada yang diusahakan galak. Ayolah… Dia tahu jika Krystal hanya bercanda. Lagipula dia bukanlah seorang jomblo ngenes. “Aku sudah punya pacar…”

“Aku tahu. Aku tahu.”

Tepat setelah Krystal berkata seperti itu, bel pulang berbunyi. Langsung saja Krystal dan Seulgi memasukan novel yang daritadi mereka baca. Dosen Kwan sedang tidak masuk dan mahasiswa yang lain malas mencari guru pengganti. Dosen satu itu sudah sering membuat ulah karena sering tidak masuk sehingga dosen-dosen yang lain menjadi malas menggantikan kelasnya. Daripada mahasiswa-mahasiswa mendengar curhatan dosen yang lain mengenai Dosen Kwan, lebih baik tidak usah. Toh, pada akhirnya Dosen Kwan akan memberi nilai yang bagus karena tidak ingin ribet.

Sambil berbicara Seulgi dan Krystal berjalan keluar. Mata Krystal langsung mencari dimana Luhan ketika ia baru saja keluar dari kelasnya.

“Kemana Luhan?” Seru Seulgi karena Luhan tidak ada di tempat biasanya, di depan kelas Krystal.

Tepat setelah itu, handphone Krystal kembali berdering.

.

.

.

.

.

Benar dugaan Krystal sedari awal. Perayaan mereka bukan di tempat romantis. Malah di tempat yang sangat-sangat Krystal benci, rumah sakit. Walaupun alasan dia berada disini bukan karena niat Luhan.

Luhan mengalami kecelakaan kecil saat sedang co-ass. Seorang pasien yang mabuk mendorongnya dan kepalanya terbentur dinding. Benar-benar suatu hal yang tidak di rencanakan. Untungnya keadaan laki-laki itu baik-baik saja. Bahkan sudah di bolehkan pulang dengan beberapa jahitan di kepalanya.

“Maafkan aku…” Kata Luhan setelah kepalanya selesai di jahit kepada Krystal. Krystal sedari tadi menunggui Luhan. Dari kepala laki-laki itu masih dibersihkan hingga dijahit seperti ini.

Krystal menghela nafas mendengar permintaan maaf Luhan. “Tidak apa-apa Luhan. Sungguh. Apa aku terlihat marah? Tidak bukan?”

“Tapi aku sudah berjanji.”

“Aku tahu. Tapi siapa yang akan menduga ini? Lagipula, sehabis ini kita bisa berjalan-jalan sebentar dan baru pulang. Rencana mu belum sepenuhnya hancur.”

“Astaga…” Luhan menghela nafas lega. “Kukira kau akan menyuruhku pulang ke rumah dan berisitirahat sedangkan aku ingin mengajak mu jalan-jalan.”

Krystal tertawa mendengar hal itu. Satu hal yang ia suka mengenai Luhan adalah bagaimana laki-laki itu menjaga perasaannya dengan sangat baik.

“Tentu saja tidak.” Jawab Krystal. “Dokter tadi bilang jika keadaan mu baik-baik saja. Apa aku salah?”

“Tidak.” Luhan kemudian bangkit, “Aku akan mengurus izin untuk besok. Ingin tunggu di kantin? Biasanya ini memakan waktu setengah jam.”

Krystal dengan senang hati mengiyakan permintaan Luhan. Bagaimanapun juga perutnya sudah meminta jatah. Ia langsung berjalan menuju kantin yang terletak di sisi utara rumah sakit.

Dentingan bel terdengar ketika Krystal memasuki café. Penjaga kantin yang menggunakan seragam suster menyapanya dengan ramah.

“Aku pesan nasi goreng kimchi.” Kata Krystal yang langsung dicatat oleh penjaga kantin ber-name tag Park Hyein. “Minumnya ice lemon tea.”

Ketika Krystal ingin berbalik, terdapat seorang perempuan di belakangnya. Perempuan tersebut sangat cantik. Rambutnya tergerai dan dia menggunakan atasan yang sedikit terbuka, menurut Krystal. Memperlihatkan bahunya yang indah. Perempuan tersebut melihat ke arah Krystal dan tersenyum kecil. Krystal membalas senyuman perempuan itu. Baru setelah itu ia memutuskan untuk duduk di bangku yang terletak di sebelah jendela. Hanya tempat parkir sebagai pemandangannya, tetapi Krystal menyukainya.

“Aku pesan nasi gorengnya satu dan nasi tim. Untuk minumannya satu teh hangat dan satu lagi milkshake strawberry.” Suara perempuan tadi terdengar dengan jelas. Suasana kantin yang sepi dengan beberapa orang membuat apapun terdengar dengan jelas.

DB3Nl1pVoAAGfOG

Krystal yang sedang memandangi mobil lewat langsung menoleh ke pintu ketika terdengar bunyi dentingan. Dia pikir itu adalah Luhan. Tapi melihat siapa yang datang, ia langsung terkesiap keras.

Laki-laki itu menggunakan pakaian bewarna hitam dengan celana jeans. Wajahnya terlihat pucat dan kantung mata dengan jelas tercetak di wajahnya.

“Sehun!” Panggilan dari seseorang membuat Sehun datang mendekat. Krystal sama sekali belum bisa melepaskan pandangannya mengikuti arah gerak Sehun.

Ketika melihat bersama siapa Sehun duduk, ia langsung mengepalkan kedua tangannya hingga jari-jemarinya memutih. Sehun duduk bersama perempuan yang tadi tersenyum ke Krystal. Bersusah payah mengalihkan pandangannya kembali menuju mobil. Krystal menegukan ludah. Bersamaan dengan detak jantungnya yang berdebar keras.

“Aku sudah memesankanmu nasi tim. Kuharap kau suka.” Suara perempuan terdengar kembali.
“Oh, tentu Irene-ah. Tidak usah repot-repot. Kau sudah cukup bersusah payah menemaniku berobat.” Suara berat itu terdengar. Krystal semakin menahan nafasnya.

Rasanya, ia ingin tuli saat itu juga agar ia tidak dapat mendengar percakapan dua orang tersebut. Apalagi saat mendengar suara Sehun kepada perempuan itu.

He’s so care to her. Itu terlihat dari kata-kata yang Sehun ucapkan. And she’s also care to him. Perempuan tersebut-Irene- juga sama perdulinya dengan Sehun. Dia sangat santai membalas pernyataan Sehun yang sedikit keberatan dengan perlakuan Irene.

Unfortunately, he even doesn’t relize there’s you in here, Krystal Jung. Krystal berusaha tidak melihat Sehun lagi sehabis itu dan pura-pura sibuk menatap ke arah jendela.

.

.

.

.

.

Krystal merasa mengkhianati Luhan. Bagaimana dia masih bisa memiliki perasaan suka ke Sehun? Dia tidak menikmati sisa harinya setelah kejadian di café rumah sakit. Dia tersenyum dan tertawa kepada Luhan, tapi dia tidak bisa mengeyahkan kejadian café dalam pikirannya.

Krystal mencoba memejamkan matanya untuk tidur. Tetapi malah berbagai pikiran menyergapinya. Ia mendsah keras akibat kepalanya yang pusing. Segera saja ia mengambil handphone-nya dan menelepon Seulgi.

Halo…” Jawab Seulgi di dering pertama. Nada suaranya belum terdengar mengantuk sama sekali. Mungkin teman dekatnya sedang menonton drama marathon.

“Seulgi…” Ucap Krystal lirih. “Apa aku menganggu mu?”

“Mendengar suara mu sepertinya kau sedang butuh bantuan ku. Ada apa?”

Krystal menarik nafasnya lalu mulai bercerita. Mengenai hari ini yang dicapnya gagal karena bertemu dengan Sehun. Ia menceritakan semua detail. Untuk apa ia datang ke rumah sakit, saat kejadian di café, dan bagaimana perasaannya.

Ku rasa kau sudah harus memutuskannya dari sekarang.” Gumam Seulgi ketika Krystal sudah selesai bercerita.
“Memutuskan?”

“Ya. Memutuskan untuk apa kau berpacaran dengan Luhan. Sebagai pelampiasan Sehun atau hal lainnya.”
“Tentu saja bukan sebagai pelampiasan!” Gerutu Krystal mendadak kesal mendengar Seulgi. “Aku benar-benar ingin serius dengan Luhan.”

“Aku tahu… Jika kau ingin serius maka jangan mudah goyah Krystal Jung. Sekarang kau mempunyai seseorang yang sangat mencintai mu. Apakah kau ingin mencampakkannya demi seseorang yang tidak pernah melihat mu?”

“Rasanya sangat sulit untuk melepaskannya.” Kata Krystal lirih. Matanya terpejam beriringan dengan detak jantungnya yang meningkat, “Aku terkadang membenci diriku yang lembek di hadapan Sehun.”

“Kau mencintai Sehun dalam waktu yang sangat lama. Wajar jika kau tidak bisa melupakannya dengan cepat. Kau ingin saran ku?”

“Tentu.”

“Bandingkan lah keadaan mu dulu ketika mengejar Sehun dibandingkan sekarang, ketika kau mengejar Luhan. Jika kau ingin merasakan sakitnya mengejar Sehun mungkin kau bisa mengingat detail-detail kecil dengan membaca buku diary mu.”

Dahi Krystal mengerut, buku diary nya? Kemana bukunya itu?

.

.

.

.

.

Berbicara mengenai buku diary-nya, Krystal sama sekali belum menemukan buku itu.   Entah dimana buku itu. Gadis tersebut bahkan tidak mengingat dimana ia menyimpan buku tersebut. Bibi Kwon tidak tahu. Padahal biasanya bibi Kwon tahu hal-hal seperti ini. Krystal menghela nafasnya. Setidaknya pikiran dia beralih dari Sehun ke buku diary-nya.

“Bagaimana kabar buku diary mu?”

Suara Seulgi membuat Krystal menoleh kepadanya saat ia mengunyah pada jam makan siang. “Belum.” Jawabnya setelah menelan makanannya. “Aku bahkan tidak dapat mengingat dimana aku menyimpannya.”

Sebelum Seulgi dapat berkomtentar, hp Krystal berbunyi dan dengan sigap ia mengangkatnya. “Hallo…”

Hai…” Suara di ujung seberang membuat Krystal membulatkan matanya. Ia langsung melihat layar handphone untuk memastikan yang meneleponnya adalah Sehun. Dan benar, laki-laki itu meneleponnya.

“Oh, Hai. Ada apa?” Ujar Krystal dengan suara yang diusahakan ceria.

“Aku ingin bertemu dengan mu.”

Hah? Ada apa lagi ini?

“Bertemu dengan ku?”

“Ada hal yang ingin ku sampaikan kepada mu.”

Krystal menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aduh…. Bagaimana ini?

“Aku berada di depan kelas mu.” Perkataa Sehun membuat Krystal melongo. “Tapi kata teman mu kau keluar.”

“Di taman. Ayo kita bertemu di taman.” Ujar Krystal cepat pada akhirnya. Entah apa alasan Sehun, tapi ia harus dengan cepat menuntaskan hal ini.

“Ada apa?” Tanya Seulgi ketika Krystal menutup handphone-nya.

“Nanti akan ku ceritakan.” Krystal langsung lari meninggalkan Seulgi.

.

.

.

.

.

Sepuluh menit kemudian Krystal sampai di taman fakultasnya. Sehun sudah menunggu di situ sambil duduk. Ketika ia melihat Krystal, Sehun pun bangkit dan berjalan mendekat ke arah Krystal. Tangannya membuka tas punggungya dan dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Buku diary mu.” Kata Sehun dan memberikan buku diary milik Krystal.

“Bagaimana bisa?” Tanya Krystal bingung. Tangannya dengan pelan mengulur mengambil buku diary nya. Ia kemudian menatap Sehun, “Bagaimana bisa?”

Sehun menghela nafasnya. “Aku menyimpan buku mu. Tentu saja atas perintah Dokter Kim. Dokter Kim berkata jika ia menginginkan dirimu mengingat secara perlahan akibat masalah amnesia mu.”

Krystal masih menatap Sehun bingung, “Tapi… Itu bisa saja…” Kemudian ia memekik, “Bagaimana kau tahu tentang buku diary ku?”

“Itu tidak sengaja.” Kata Sehun pelan dan wajah datar. Astaga… Laki-laki di depannya hanya memasang wajah sangat santai dan dengan santainya menatap manik mata Krystal. “Banyak hal yang terjadi ketika kau koma. Termasuk saat aku harus tidur di kamar mu ketika orangtua kita masih sibuk berdiskusi. Saat aku ingin tertidur, aku tidak sengaja menemukan buku diary mu di bawah bantal.   Sebenarnya, bisa saja aku menyuruh Bibi Kwon untuk menyimpannya. Tetapi Bibi Kwon tidak enak sehingga aku yang menyimpannya.”

Krystal mengerjapkan matanya beberapa kali saat ia rasa ia tidak dapat menemukan kebohongan dalam kalimat Sehun. Entah Sehun tidak berbohong atau ia terlalu pandai berbohong. Ia berdehem, “Oh, terimakasih.”

Sehun mengangguk, “Aku pamit dulu. Aku harus ke kampus.”

Krystal tidak menjawab. Sehun berbalik. Jadi Sehun sehabis ini akan ke kampus. Pikir Krystal. Tetapi matanya kembali menyipit.

“Tunggu!” Teriak Krystal karena ia mengingat sesuatu, “Bukankah dirimu sakit?”

Sehun yang sudah berbalik ketika Krystal memanggilnya terdiam sejenak. “Oh…” Ia kemudian tertawa kecil, “Itu sudah tidak apa-apa kok.”

“Aku sebenarnya melihatmu bersama teman mu. Tapi aku merasa tidak enak menyapa mu. Kau sedang terlihat mengobrol asyik.” Hening sejenak, kemudian Krystal menambahkan, “Siapa namanya?”

Entah mengapa Sehun tersenyum sangat lebar, “Irene…”

Krystal mencengkram buku diary-nya.

He’s now in front of you, still his thought only for her. Guess, he’s not really ‘looking’ at you.

.TBC.

Hohoho…  Sudah beberapa lama saya absent-kan ff ini?  State of Grace chapter  terbaru udah selesai.  Tapi nanti aja saya publish yaaa..  *evil laugh*  Flipped chapter 20  juga lagi di tulis…  Tape baru 3/4 dan saya lagi males…  See you soon guys….

State of Grace (Chapter 26)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Helaan nafas kembali terdengar. Krystal lagi-lagi menghela nafasnya. Milktea-nya sudah mendingin sejak tiga puluh menit yang lalu. Begitu pula dengan Milktea Seulgi. Seulgi sendiri sudah mengundurkan diri sejak setengah jam yang lalu. Bersama Kai.

Seulgi dan Kai datang ke apartment Krystal tadi. Seulgi untuk mengajaknya berbaikan dengan Sehun. Kai sepertinya hanya mengantar Seulgi ke apartment Krystal. Dan meminjam kamar mandinya. Laki-laki tersebut bahkan langsung pergi menunggu di mobil setelah selesai dari toilet. Mungkin karena Seulgi menginginkan hanya dia dan Krystal di ruangan itu.

“Aku adalah orang yang jahat.”

Krystal menyeringit samar mendengar perkataan Seulgi. Seulgi meletakan tehnya dan menatap Krystal.

“Aku minta maaf karena itu.”

Krystal sendiri terdiam sangking bingungnya.

“Teman tidak seharusnya datang ke rumah temannya dengan membawa masalah. Tapi aku datang ke tempat mu dengan membawa masalah.”

Krystal masih terdiam. Menunggu kata-kata Seulgi.

“Masalah mu dan Sehun lebih tepatnya…”

Krystal sudah menebak sedari awal kedatangan Seulgi. Tapi ia diam saja. Toh rasanya memarahi Seulgi atau jutek ke Seulgi tidak baik. Seulgi sama sekali tidak bersalah dalam masalah ini. Krystal pun berusaha meyakinkan Seulgi dengan cara yang ia tempuh. Ia mendiamkan Sehun agar ia dapat berpikir sejenak.

“Kau ingin sebuah rahasia dari ku?”

Krystal bingung setengah mati mendengar pertanyaan Seulgi. Ia terdiam sehingga Seulgi menceritakan keseluruhannya.

“Aku menyukai Kai sejak SMA.”

Rasanya Krystal bingung setengah mati. Sejak SMA? Itu berarti jauh sebelum Kai berpacaran dengan Sulli! Perasaan Seulgi sama sekali tidak berubah hingga sekarang. Tatapan Seulgi meredup seiring ia menceritakan seluruhnya. Gadis itu juga tidak dapat membendung air matanya di sela-sela cerita.

“Dengar Krys, Sehun pasti juga akan memaksamu keluar dari apartment ini. Tapi dia hanya diam dan menunggu mu karena dirimu. Tapi aku tahu jika mengambil sebuah keputusan di tengah kegalauan jarang yang berhasil. Kegalauan muncul akibat adanya resiko. Tapi mengambil resiko bagiku terlihat lebih baik daripada diam seperti menjauhi masalah. Dan kau seharusnya mengambil resiko itu.”

Genggaman Seulgi mengerat seiring nafas Krystal yang juga mulai memberat saat itu. Seulgi tersenyum kepadanya dan kembali berkata,

“Yang harus kau lakukan adalah tetap memegang tangannya a.k.a berada disampingnya…”

Perkataan Seulgi adalah sebuah déjà vu bagi Krystal. Perkataan yang sama seperti Sohee ucapkan.

“Yang perlu kau lakukan adalah mengenggam tangannya apapun yang terjadi.”

Lagi-lagi Krystal menghela nafas. Air matanya kembali turun. Dia selalu mengatakan kepada dirinya sendiri, berhenti menjadi orang cengeng! Tapi dia tidak bisa. Dia melanggarnya. Tatapan Krystal terarah kepada jam yang menggantung di dinding. Sebelum Seulgi pulang, ia menyampaikan agar Krystal dapat pergi bersama Sehun ke pesta pernikahan Seojoon Oppa dan Sohee Oennie. Sehun akan berangkat pukul 10 malam ini.

Jam sendiri menunjukan pukul 9. Apa yang harus ia lakukan?

.

.

.

.

.

Suara hujan deras tak terdengar sama sekali. Suara Sohee noona yang sedang membujuk Sehun agar pergi ke Busan benar-benar mengalahkan segalanya.

“Sehun harus datang loh….”

Sehun memijit pelipisnya, “Iya, noona aku akan datang…. Ini aku sudah bersiap-siap.”

“Seulgi bilang kau tidak ingin pergi karena Krystal. Apa aku harus menelepon Krystal?”

“Tidak apa-apa Sohee noona. Lagipula, Krystal tidak ingin di ganggu. Bagaimanapun juga kalian mempersiapkan pesta ini karena aku bukan? Tentu aku datang.”

“Baiklah…. Tapi beneran loh…”

“Aku tidak akan menarik omongan ku noona…”

“Baiklah. Noona tunggu ya……”

Telepon pun langsung terputus. Sehun memasukan handphone-nya. Dengan malas-malasan ia mematikan seluruh lampu di apartment-nya. Sepertinya ia harus berangkat sendiri. Sepertinya juga ia akan memberi tahu Krystal pergi besok pagi. Gadis terbsebut pasti sudah tidur sekarang. Memperhatikan Krystal dari jauh membuat Sehun tahu beberapa kebiasaan Krystal, termasuk kebiasaan tidurnya.

Dengan ogah-ogahan ia juga menyeret kopernya keluar. Rasanya begitu lambat ketika ia membuka pintu apartement-nya. Seluruh tenaga Sehun terarah untuk membuka pintu apartment-nya.

Nafas Sehun tercekat ketika melihat seseorang yang ia kenal tiba-tiba berhambur ke pelukannya. Memeluk tubuh Sehun dengan tangannya yang mungil.

“Krystal…” Ucap Sehun lirih.

.

.

.

.

.

Tekad Krystal sudah bulat. Ia memutuskan untuk melanggar semua batas. Menembus semua keraguannya. Secepat kilat ia membuka lemarinya. Mengeluarkan baju secara asal, yang terpenting cukup selama empat hari di busan. Dua hari sebelum menikah, hari H menikah, dan H+1 menikah. Segera memasukan kedalam kopernya. Jam menunjukan pukul 21.15.

Sial!
Rutuk Krystal dalam hati. Lingkungan apartment-nya jarang dilewati oleh taksi. Secara semua orang disini adalah kalangan menengah yang lebih suka menggunakan kereta. Krystal berusaha secepat mungkin berjalan menuju ke stasiun. Ketika ia masuk ke kereta, jam menunjukan pukul 21.25. Kereta sampai di stasiun tujuannya tigapuluh menit kemudian. Itupun Krystal harus berjalan cukup jauh untuk sampai di apartment Sehun. Berbeda dengan apartment Krystal yang untuk kalangan menengah, apartment Sehun untuk kalangan ke atas yang menggunakan mobil sebagai transportasi utama.

Krystal ingat, di tengah-tengah perjalanan hujan tiba-tiba turun. Dan dia menangis di tengah-tengah ia berlari ke apartment Sehun. Ia tiba-tiba merasa takut. Bagaimana jika Sehun sudah pergi? Apakah keadaan akan sama setelah Sehun pulang dari Busan? Dua hal itu terus menghantuinya.

Keadaan Krystal cukup mengenaskan ketika ia sampai di apartment Sehun. Jika saja Krystal hanya sekali ke situ, dia pasti dicekal oleh petugas keamanan apartment. Untungnya mereka tahu dan membiarkan Krystal masuk walaupun diiringi tatapan aneh. Beberapa orang yang satu lift dengan dia juga memberikan tatapan aneh. Dia sama sekali tidak peduli.

Entah apa yang sedang terjadi, semuanya sangat pas. Ketika Krystal baru saja sampai di depan pintu dan bersamaan dengan itu Sehun juga membuka pintu apartment-nya. Krystal langsung menghamburkan diri ke pelukan Sehun. Memeluk tubuh tegap Sehun dengan tangannya yang ia rasa kecil dibandingkan tubuh Sehun. Dia kembali menangis.

“Krystal…”   Suara Sehun yang lembut seakan oksigen yang membuat Krystal bisa bernafas dengan lega. Krystal tetap memeluk Sehun. Ia membenamkan wajahnya di dada Sehun.

Perlahan, tangan Sehun juga ikut melingkar ke tubuhnya. Sehun menarik Krystal ke dalam pelukannya. Tangan kananya mengelus pelan kepala Krystal.

Sehun kemudian melonggarkan pelukannya. Tangannya terlepas dari pinggang Krystal. Dia menyentuh lembut wajah Krystal dengan kedua tangannya. “Jangan menangis… Ayo masuk. Kau kehujanan.”
Krystal diam menurut. Dia belum bisa berbicara apa-apa ke Sehun. Dia hanya diam ketika Sehun menyuruhnya untuk mandi dengan air hangat dan memberikan baju ganti yang layak untuk Krystal, sebuah sweater kebesaran bewarna navy blue dan celana dengan panjangnya menutupi paha Krystal. Krystal sebenarnya membawa baju dan dia bisa saja memakai bajunya. Tapi entah mengapa tatapannya hanya tertuju ke Sehun. Dan pikirannya yang menerawang bagaimana cara meminta maaf kepada Sehun.

Sepuluh menit kemudian Krystal keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju Sehun. Dirinya menggusap rambutnya yang basah dengan handuk yang lagi-lagi Sehun berikan. Kemudian berjalan melintasi kamar Sehun untuk mencari Sehun.

Astaga… Apa yang Seulgi lakukan hingga kalian semua seperti ini?”

Suara Sehun terdengar ketika ia membuka pintunya. Krystal langsung menuju ke sumber suara, yaitu dapur. Disana dia juga dapat melihat secangkir teh hangat dan roti yang baru saja dipanggang. Sehun membelakangi dirinya sambil memengang hp.

“Aku. Akan. Datang.” Seru Sehun tidak sabaran. “Aku berjanji akan hal itu….” Setelah itu Sehun kembali berbicara, “Ya. Tenang saja. Jam duabelas pun aku akan menyetir kesana. Pokoknya ketika waktunya fiting aku akan berada di tempat!” Sehun pun kemudian memutuskan telepon dengan kasar. Ketika dia berbalik, Sehun tersenyum mendapati Krystal sudah ada di dapur. Dia berjalan mendekat ke arah Krystal, mengenggam lembut tangan Krystal. “Aku lupa membawa koper mu tadi. Tapi tenang saja, aku sudah memasukannya…”

Perkataan tak terduga dari Sehun membuat pipi Krystal memerah. Bodohnya dirinya yang juga tidak mengingat kopernya. Sehun seperti menghinoptis dirinya dan yang ia inginkan saat itu adalah menatap Sehun. “Ah… Aku…” Hening sejenak, “Aku minta maaf…”

Senyuman Sehun semakin merekah, “Minta maaf karena apa?” Tanyanya dengan suara ringan. Dia terlalu bahagia karena mendengar suara Krystal. “Kau tidak bersalah Krys… Seharusnya aku yang meminta maaf. Aku kembali melanggar janjiku. Aku membuat dirimu tersakiti.”

“Tetap saja….” Suara Krystal bergetar lagi. “Aku membuat kesusahan dalam beberapa hari ini. Aku menjauh. Tidak ingin mendengarkan apapun dari mu.”

“Ssssttt… Tidak apa-apa. Aku akan melakukan apapun untuk mu. Walau harus membelikan bulan. Walau harus terbang ke Mars. Walau harus menjauh darimu. Asalkan kau menginkannya…”

Air mata Krystal kembali menetes.

“Jangan menangis ku mohon… Aku tidak ingin kau bersedih….”

Bodoh! Krystal bahagia…. Sangat bahagia hingga ia seperti ini. Krystal melepaskan tangannya dari Sehun dan segera menghapus air matanya. Sayang air matanya tetap tidak ingin berhenti. Sehun yang melihat hal itu menarik tubuh Krystal dan tiba-tiba menciumnya.

Sebuah perlakuan yang lagi-lagi tak terduga. Krystal pikir Sehun akan memeluknya. Tapi Krystal sama sekali tidak mempermasalahkannya. Dia menerima perlakuan Sehun.

Drrt~

Handphone Sehun kembali berbunyi. Tetapi sepertinya Sehun sama sekali tidak mempunyai niat untuk mengangkatnya.

Drrrt~

“Sehun….” Kata Krystal setelah mendorong Sehun, “Ada telepon.”

Sehun tidak mengatakan apa-apa. Tapi dari wajahnya terpampang kekesalan, “Halo.” Katanya asal-asalan.

“Kau dimana? Sudah berangkat belum?”

Sehun mengerang mendengar suara Seojoon yang sudah dua kali meneleponnya, “Tenang saja… Aku pasti akan berangkat. Krystal juga sudah datang…”

“Cih, aku tidak percaya hanya karena kau mengatakan Krystal sudah datang. Aku akan terus menelepon mu hingga kau sampai, mengerti? Aku sebenarnya ragu kau datang makanya seperti ini—“

Sehun hanya bisa menghela nafas mendengar rentetan kalimat Seojoon. Ia kemudian melirik ke arah Krystal, “Hyung ingin aku membuktikannya? Baiklah…” Sehun memberi hp nya ke Krystal. “Seojoon hyung… Bicaralah dengan ia sebentar.”

Krystal menerimanya, “Seojoon oppa?”

“Astaga Krystal!” Suara Seojoon terdengar sangat kaget, “Aku tidak menyangka kau akan datang malam ini. Tapi baguslah jadinya Sehun bisa semangat datang ke pesta pernikahanku. Ingat ya, kalian harus berangkat malam ini juga!”

“Baik oppa…”

“Eh, ngomong-ngomong apa yang Seulgi lakukan sehingga kau mau merubah pemikiran mu?” Belum sempat Krystal menjawab Seojoon kembali berbicara, “Tapi biarkan aku saja yang memikirkannya. Kalian cepat-cepatlah ke sini…” Sambungan telepon terputus.

“Kurasa kita harus berangkat sekarang…” Putus Sehun dan Krystal hanya mengangguk.

.

.

.

.

.

Krystal mengerjapkan matanya. Dimana dia sekarang? Ia melihat keadaan sekitar dan menemukan Sehun sedang tertidur pulas di samping kirinya. Sepertinya Sehun memutuskan untuk tidur di tempat peristirahatan karena mengantuk. Pelan-pelan, tidak ingin membuat Sehun bangun ia membangkitkan sandaran kursinya. Ia rasa ia akan berjaga sebentar sampai Sehun bangun.

Mata Krystal menelisik lingkungan sekitar. Sehun memilih pom bensin dan banyak mobil lain yang juga memarkir disana. Beberapa di antara mereka keluar membeli snack dan sehabis itu pergi. Adapula yang hanya keluar entah ngapain, kemungkinan besar ke toilet kemudian pergi.

Hampir lama Krystal memandangi mobil yang datang dan pergi. Tersisa tiga mobil di sana. Mobil Sehun, satu mobil sedan yang kira-kira tiga meter dari Krystal, dan tepat di samping mobil sedan ada mobil SUV.

Pelan-pelan, ia melihat seorang laki-laki berjalan sambil memegang kopi di tangan kirinya. Tangan kanannya sedikit ke belakang karena ada yang menarik. Kemudian seorang perempuan yang memegang tangan lelaki berlari kecil kedepan. Mensejajarkan posisinya dengan laki-laki itu. Tersenyum lembut.

Deg!

Krystal menahan nafasnya. Tangannya bergetar secara tiba-tiba. Keringat dingin bermunculan di pelipisnya.

“Sehun…” Panggil Krystal dengan suara serak. Air matanya sudah turun. “Sehun…” Panggilnya lagi karena Sehun belum terbangun. “Oh Sehun!” Serunya agak keras diiringi oleh isak tangis.

Sehun pun akhirnya bangun. Ia langsung panik setengah mati menemukan Krystal yang tiba-tiba menangis. “Ada apa Krys? Ada apa?”

.TBC.

 Hullaaa  i’m back as soon as i can….  maaf ya saya lama updated nya lagi kelas dua belas nihhh  (alasan!).  Tapi ciusan rasanya belajar itu udah gumoh bawaannya…  Special double updated sama Flipped.

And saya punya akun wattpad…  Boleh atuh di follow…  xospringsflowerxo