In The Snow (Chapter 2/3)

inthesnow

Main Cast: Choi Minho, Choi Sulli, Lee Sungkyung, All Shinee’s member

Rating: T (Teen)

Length: Threeshoot

Author: Ally

Poster By: NJXAEM @ POSTER CHANNEL

Chapter 2

When the temperature goes up, the snow is gone but i hope you’re not gone.

.

.

.

Apa yang Minho pikirkan pertama kali ketika melihat tulisan Choi Jinri? Dia merasa tidak bernafas. Tercekat. Seluruh udara seketika menghilang dan dia terpaku sejenak. Minho melirik foto targetnya dan informasi targetnya. Baru tiga baris, Minho langsung menutupnya. Ia tidak sanggup. Itu benar-benar Choi Jinri.

Choi Jinri si gadis aneh. Choi Jinri gadis yang tak takut keluar ketika mabuk. Choi Jinri yang mencium bibirnya. Choi Jinri yang menghabiskan waktu bersamanya kemarin malam. Minho meletakan file ke atas meja. Dia terdiam. Red tag, huh?

Red tag dimana ia bisa kabur sebanyak lima kali dan semua yang ingin membunuhnyalah yang mati. Red tag…

Tapi Jinri tidak seperti itu. Dia gadis yang ceroboh. Dia gadis yang aneh. Dia tidak terlihat seperti Minho yang kejam tak berperasaan. Dia gadis yang mempunyai mata polos dengan matanyalah Minho tertarik kepadanya. Dia… Dia berhasil membuat Choi Minho jatuh cinta kepadanya.

Minho menggigit bibirnya. Menatap papan tulisnya yang kosong. Sial!

.

.

.

.

.

Mentari mulai bisa dirasakan. Sinarnya tidak terlalu terang. Suhu dingin juga masih mendominasi. Tetapi sinarnya membuat tumpukan salju mulai meleleh. Burung berkicau sudah mulai terdengar. Minho menyesap kopi hitamnya perlahan. Kembali terdiam.

Sudah hampir empat minggu ia pergi menjauh untuk sementara. Dia tidak bisa menerima yang terjadi saat ini. Hal menakjubkan adalah tidak ada teman satu timnya yang mengetahui hal ini. Hal dimana ia pergi menjauh. Teman-temannya berpikir dia sedang asyik mengintai. Padahal ia sedang menghabiskan waktu di tempat yang jauhnya dua jam dari kota suram itu.

“Ingin menambah kopi lagi?”

Minho tertegun mendengar suara laki-laki di belakangnya.

“Minho…” Jinki kemudian duduk di depan Minho. Tersenyum lembut dan mulai menyesap kopi.

Hyung…” Minho masih bingung kenapa Jinki bisa ada disini. “Kau disini karena kasus baru?” Tanyanya berusaha santai.

Jinki tersenyum, “Aku kesini karena dirimu.”

Minho tertawa kecil, “Aku baik-baik saja. Sedang asyik mengintai.” Bohongnya. Tidak ada yang perlu mengetahui masalah ini. Tidak ada. Dia pasti tidak akan selamat jika ada yang mengetahui masalah ini.

“Benarkah?” Jinki menurunkan senyumannya. “Jadi dimana targetmu?”

Minho kali ini tidak bisa menjawabnya. Ia menyeruput kopi yang tidak hangat lagi.

“Aku datang kesini karena bos menanyakan kepadaku tentang dirimu. Dia ingin kabar kasus terbaru dari mu.”

Minho menghela nafasnya, “Hanya itu?”

“Choi Minho!” Suara Jinki mulai berubah menjadi serius. “Target mu… Aku membaca file nya dan sedikit mengikutinya.”

Kali ini Minho menatap Jinki, “Mengikutinya?”

“Dia tidak tinggal terlalu jauh dari mini market apartment kita. Dia bekerja sebagai perawat di rumah sakit di kota kita.   Dia tidak terlihat bahaya. Tapi aku mulai berpikir kenapa hal itu membuat mu…. Menjauh… Kemudian aku menyelidiki dari mini market dan berhasil mendapatkana informasi dari José. Kau tahu José bukan? Si Penjaga mini market? Dia mengatakan jika target mu dan dirimu mengobrol jauh sebelum dia menjadi target mu. Sebuah pemikiran masuk. Apakah dia yang bersama mu ketika malam tahun baru?”

Minho memejamkan matanya mendengar penjelasan Jinki yang sangat cerdik. Jinki mendesis, “Sial Minho! Jangan katakan aku benar!” Nada suaranya semakin serius.

“Itu benar!”

Jinki menghela nafasnya, “Sial! Aku terkadang benci dengan pemikiranku!”
“Aku butuh menjauh sedikit. Ini gila hyung! Aku bukan hanya tidur dengannya! Aku mengobrol dengannya beberapa kali dan dia—“

“Aku tahu!” Potong Jinki. “Kau memang bisa dikatakan brengsek karena tidur dengan setiap wanita dari kota yang kita singgahi. Tapi aku tahu kau menganggap wanita yang kau tiduri tidak bahaya. Kau berhati-hati dengan itu. Tapi target kita sudah berhasil kabur sebanyak lima kali!”
Minho mengusap mukanya kasar, “Maksudmu ia sengaja mendekati ku karena tahu aku yang akan membunuhnya?”

“Bukan! Bukan itu maksud ku! Target ke kita terpilih secara acak. Satu-satunya cara untuk mengetahui siapa pembunuhnya adalah ketika file nya dikeluarkan. Dia tidak mungkin tahu siapa yang akan membunuhnya. Intinya adalah, dia sudah melakukan ini sejak lama dan dia terbiasa menyamar sebagai orang biasa. Dimatamu mungkin dia aneh atau ceroboh atau bodoh. Tapi itu tidak menunjukan dia tidak tahu dia akan dibunuh. Dia pasti tahu. Entah bagaimana caranya.”

Minho menggeram kesal.

“Minho…” Jinki kali ini memanggil Minho lembut, “Kau sudah membaca file sampai tuntas?”

Minho menggeleng, “Aku tidak bisa.”

“Bacalah kumohon… Bacalah sampai tuntas. Kau harus menghadapi ini.”

Hyung aku—“

“Yang bisa menyelamatkan dirimu sendiri adalah dirimu.” Jinki kembali memotong. “Aku tidak bisa. Tidak ada yang bisa dan kau tahu itu!” Jinki menyeruput kopinya yang sudah dingin, “Aku akan berbohong kepada bos untuk kali ini. Mengatakan jika kau sedang menyamar dan aku sudah mengirimkan pesan untuk mu agar menghubunginya. Paling lambat besok kau akan menghubungi bos. Itu artinya kau harus kembali ke apartment paling lambat besok. Ku harap ketika kau kembali kau juga sudah siap untuk membunuh gadis itu. Jika tidak… Aku akan lepas tangan dari masalah ini.”

Minho terdiam mendengar penjelasan Jinki.

“Aku balik. Berpikirlah dengan jernih Minho!” Ia bangkit dari kursi dan menepuk pundak Minho pelan.
Tak lama setelah kepergian Jinki, Minho memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Berjalan keluar dari restaurant di hotelnya dan menuju lantai tiga. Masuk kekamar 329. Mengambil file yang terletak di tasnya.

Minho memejamkan mata sejenak sebelum mulai membacanya.

Choi Jinri. Jenis Kelamin: Perempuan. Umur: 24 tahun. DOB: Busan, 29 Maret. Lulusan ilmu keperawatan Universitas Sungkyunkwan 2 tahun lalu. Lahir di Busan dan menghabiskan waktu disana sampai berumur 3 tahun, ia dan keluarganya pindah ke kota kecil bernama Jindo dan bekerja sama dengan keluarga mafia lainnya, Keluarga Oh, Keluarga Kim, Keluarga Park, dan Keluarga Tuan. Ia tinggal disana hingga berumur 15 tahun, yaitu saat Choi Enterprise, perusahaan keluarganya bangkrut akibat Skema Ponzi. Ayahnya, Choi Jinsil meninggal di penjara karena dibunuh. Ibunya, Shim Haemin bunuh diri. Keempat anaknya termasuk Jinri melarikan diri. Dua telah berhasil dibunuh sisa dua lagi yang kabur, dimana satu anak sampai saat ini belum diketahui identitasnya. Jinri selama ini berhasil kabur entah bagaimana caranya. Semua orang yang menyelidikinya hilang. Semua orang yang bertugas membunuhnya malah berakhir dibunuh. Kemungkinan terbesar sampai sekarang ia berhasil selamat sampai saat ini karena dibantu oleh keluarga mafia lain.

Minho menghela nafasnya ketika selesai membaca halaman pertama dari file Jinri. Perkataan Jinki berputar di benaknya, Jinri sudah lama berada hidup dengan menyamar.

Minho membuka halaman kedua.

Nama lainnya: Koo Hyunah, Cho JungAh, Yoo Hain, Bae Yunmi. Dia berhasil lulus dari Universitas Sungkyunkwan dengan nama Park Anna dan 2 tahun belakangan ini dia memakai nama lahirnya kembali, Choi Jinri. Dia merupakan sahabat dari Oh Sehun, Kim Jongin, dan Park Chanyeol. Juga sempat mempunyai hubungan dengan Nam Joo Hyuk untuk waktu yang lama. Dari umurnya 14 tahun hinggal 20 tahun.

Setelah itu, tidak ada lagi tulisan. Tetapi semuanya foto-foto. Foto-foto ketika Jinri kecil. Bersama teman-temannya, Oh Sehun, Kim Jongin, dan Park Chanyeol.

Minho tahu mereka. Trio Bangsat. Nama yang disematkan kepada mereka bertiga. Mereka bertiga merupakan pemimpin dari keluarga mafia yang paling merugikan pemerintahan Korea Selatan, tapi tidak bisa ditangkap. Juga ada foto-foto Jinri dengan Nam Joohyuk. Lagi-lagi Minho mengenal Nam Joohyuk. Dia merupakan salah satu anggota keluarga mafia. Well, hidup gadis ini ternyata dikelilingi oleh mafia. Gadis ini terbiasa dengan lingkungan suram.

Minho menutup file nya dan menaruh file dalam tasnya. Baiklah, ia akan mengakhiri ini.

.

.

.

.

.

Minho menunggu Jinri di depan apartment-nya. Di ayunan depan apartment, lebih tepatnya. Setelah membaca file-nya Minho langsung pulang. Memberi tahu bosnya dia akan menyerang Jinri malam ini setelah gadis itu pulang kerja. Minho menatap ke arah depan. Bersiap-siap untuk menembak dengan pistol yang sudah di kasih peredam.

Kriett~

Minho memainkan ayunannya. Mengisi kekosongan dengan suara nyaring besi.

Kriett~

Kriett~

Kemudian Minho dapat mendengar langkah kaki mendekat. Ia melirik jam tangannya sekilas, jam setengah delapan. Jinri pernah bilang jika ia biasa pulang jam tujuh malam bukan? Minho siap-siap berdiri. Mengambil pistolnya ketika ia melihat perempuan berambut hitam panjang yang tak lain adalah Jinri.

“Minho!” Gerakan Minho terhenti. Ia meletakan pistol dengan pelan.

Sial! Jinri melihatnya dan sekarang ia sedang tersenyum ke arah Minho.

“Minho!” Jinri berjalan mendekati Minho dengan tersenyum lebar.

Jangan! Jangan! Jinri harus berbalik sekarang atau tidak Minho tidak akan bisa menembak gadis itu. Jinri harus tidak melihatnya. Minho hanya bisa terdiam ketika Jinri sampai di depannya. Jinri tersenyum sangat lebar di depannya. Mata polosnya berkilat senang.
“Aku tidak melihat mu untuk waktu yang sangat lama!” Seru Jinri senang. Minho dapat merasakan jika Jinri benar-benar senang melihatnya.

Minho terdiam. Sekarang perasan rindu mulai membanjirinya. Merendam rencana yang sudah ia susun tadi. Minho berpikir keras. Bagaimana ia bisa menyelesaikan tugasnya sekarang?

“Aku… Aku merindukan mu…” Lagi-lagi, Minho dapat melihat rona merah menjalar di pipi Jinri. “Kenapa diam saja?”

Minho menarik Jinri kedalam pelukannya. Dengan pikiran buntunya sekarang, ia akan mengeluarkan pistolnya sekarang kemudian akan menggunakannya untuk menembak Jinri. Dengan itu ia dapat menyelesaikan tugas nya dengan cepat. Juga ia tidak harus melihat wajah Jinri.
“Minho!” Lagi-lagi gerakan Minho ingin mengambil pisto terhenti. Jinri melepaskan pelukannya. Memegang wajah Minho dengan kedua tangannya, “Kenapa diam saja? Kau membuatku khawatir?”

Minho bernafas dengan sangat berat sekarang. Ia meletakan kedua tangannya di pinggang Jinri. Mengeratkan pelukannya. “Bolehkah?” Tanyanya sambil melihat bibir Jinri.

Jinri langsung menjawab dengan mencium bibir Minho. Minho membalasnya tak kalah cepat.

“Kau kenapa?” Tanya Jinri ketika tautan bibir mereka terlepas. Nafas Jinri terengah-engah.

Minho mengelus wajah Jinri perlahan, “Aku merindukan mu…” Ia mulai mencium Jinri kembali. Melupakan tujuan awalnya.

.

.

.

.

.

Jinri bangun dan mendapati Minho tidak ada. Ini kedua kalinya Minho menghilang tanpa membangunkannya sedikitpun. Apa ia terlalu lelah hingga Minho berpikir untuk tak membangunaknnya? Jinri ingin ketika ia bangun Minho berada di sampingnya.

Ketika bangun dan melihat apartment seksama, Jinri mendapati Sungkyung duduk di meja dapurnya, yang tak jauh dari tempat tidurnya. Menatap Jinri datang.

“Oennie…”

Sungkyung bangun dan mendekati Jinri.

Plak!

Jinri terperanjat ketika kakak perempuan menampar dirinya, “Oennie…”

“Kau tidak tahu apa yang kau lakukan Choi Jinri!” Sunkyung berteriak di depan muka Jinri, “Apa yang kau lakukan dengna Choi Minho?!”
Oennie dengarkan… Hubungan aku—“

“Tidak kau yang dengarkan!” Sungkyung memotong omongan Jinri. Mukanya merah menahan emosi, “Choi Minho adalah orang yang akan membunuh mu dan kau menidurinya sekarang!”

Oennie pasti bercanda bukan?!”
“Apa aku terlihat sedang bercanda?!” Sungkyun menghela nafasnya kasar, “Aku tidak bercanda! Dia kemarin malam berada di luar apartment mu untuk membunuh mu! Aku sudah bersiap-siap untuk membunuhnya! Jika saja kau tidak mendatanginya kemudian memeluknya sehabis itu berciuman dengannya dan sekarang kau berada di tempat tidur tanpa pakaian!”

Air mata Jinri sudah menetes. Hatinya sakit. “Oennie…” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Jinri. “Dia… Dia tidak seperti itu…”

“Apa yang kau tahu tentang dia Choi Jinri? Hidupnya sebagai pembunuh bayaran seperti ini. Kata apapun yang ia ucapkan adalah kebohongan karena ia hidup di kebohongan!”

“Oennie…”

“Katakan kepadaku… Apa yang kau ketahui tentang dia?”

Jinri terdiam. Tidak ada… Yang dia ingat adalah Minho pernah mengatakan kepadanya jika ia sedang mengekspansi perusahaan jasanya. Yang sekarang terdengar sangat rancu kalau bisa dibilang. Kemudian kedua orangtuanya yang entah mengapa Jinri tidak mempercayainya sekarang.

Jinri memejamkan matanya, “Tidak ada…”

“Bagus.” Sungkyung tersenyum sinis. “Kau pergi sekarang Choi Jinri! Pergi dari kota ini! Dia pasti akan mengejarmu! Serahkan saja ia kepada ku!” Sungkyung berbalik dan berjalan ke arah lemari. Membukanya dan mulai mengeluarkan baju-baju Jinri.

“Kau harus selamat. Hanya kau satu-satunya yang selamat dari keluarga kita!”

Air mata Jinri tidak bisa berhenti menetes. Ia menundukan kepalanya, menatap bulir-bulir terjatuh dan membasahi selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya. Kedua tanganya yang terletak di dadanya meremas selimut dengan kencang. Dia tidak akan berbohong, rasanya sakit… Sakit yang tak pernah ia rasakan. Sakit yang berbeda ketika ia tahu keluarganya satu-satu meninggalkannya.

“Aku tidak ingin…”

Sungkyung menghentikan gerakannya yang mengeluarkan pakaian Jinri ketika mendengar suara lirih. Ia menatap Jinri dengan tatapan tajam.

Jinri menatap Sungkyung, bibirnya bergetar ketika ia mengatakan, “Aku tidak ingin tanpa dirimu… Ayo selesaikan ini bersama-sama!”

.

.

.

.

.

Setelah misi Minho gagal, yang itu merupakan pertama kalinya bagi seorang Choi Minho. Tanpa jeda sedikitpun, ia berencana menyelesaikan misi yang tertunda kemarin hari ini. Minho memasuki mini market untuk membeli 4 sandwich. Rencananya dia akan membawa sandwich ke apartment Jinri. Berbasa-basi sejenak, mengatakan ingin makan siang bersama. Ketika Jinri membuka pintu apartment-nya dan Bam! Semuanya selesai. Misi tercapai!

Ngomong-ngomong, Minho mengetahui Jinri ada di apartment-nya karena ia tidak sengaja membaca jadwal agenda Jinri, yang gadis itu pampangkan di dinding apartment-nya, mengatakan jika hari Jum’at ia libur.

“Porsi makan teman-teman mu berkurang sekarang?”

Minho tersenyum mendengar perkataan José. Dia rasa laki-laki itu sebenarnya ramah, hanya pelanggan saja yang tidak ramah kepadanya. “Ini bukan untuk teman-teman ku. Aku punya rencana lain.”

José mengangungk-anggukan kepalanya seakan dia sudah bisa menebak apa yang terjadi. Penjaga mini market pun menyebutkan harga 4 sandwich dan segera saja Minho membayarnya.

Setelah itu, Minho melangkahkan kakinya menuju apartment Jinri. Ia melangkah dengan pasti. Berharap yang terbaik.

Tok! Tok! Tok!

Minho dengan segala kepercayaan diri yang tersisa mengetuk pintu apartment Jinri.

Tok! Tok! Tok!

“Jinri….”

Tok! Tok! Tok!

Ketika ia mengetuk untuk ketiga kalinya, Minho mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Apa Jinri keluar? Tangannya terulur ke gagang pintu. Membukanya perlahan dan…. Pintu apartment nya tidak di kunci?

Minho mulai memikirkan scenario terburuk. Jinri sudah mengetahui bahwa Minho mengincarnya. Sekarang dia sedang menunggu di dalam dengan memanfaatkan kepanikan Minho karena Jinri tidak membukakan pintu denganya.

Brak!
Minho mendobrak pintu apartment Jinri dan mengacungkan pistolnya. Ia menelan ludahnya ketika melihat Jinri duduk di depan meja rias. Tak jauh dari apartment tidurnya. Memandangi dirinya di depan cermin. Sama sekali tidak bergeming mendengar suara keras tadi. Apartment gadis itu juga agak gelap karena Jinri menutup gordennya.

Perlahan, Minho menurunkan pistolnya. Memperhatikan Jinri seksama. Gadis itu… Rambutnya yang hitam panjang ia biarkan tergerai. Ia memakai kemeja putih dilengkapi oleh celana panjang putih.

“Bisakah kau tutup pintunya? Aku tidak suka pintu yang terbuka.”

Suara dingin Jinri membuat Minho terdiam sesaat. Tetapi ia tetap menutup pintu untuk Jinri.

Jinri sekarang menatap Minho. Tatapan gadis itu dingin. Minho bersumpah ia lebih baik melihat senyuman misteriusnya daripada tatapan dinginnya.

“Kau ingin mendengar sebuah cerita dari ku?” Jinri bertanya tanpa benar-benar menatap Minho. Tatapan gadis itu menarawang ke suatu tempat yang sangat gelap, “Aku membenci pekerjaan mu. Pekerjaan mu merebut semua orang yang ku cintai.” Ia menghela nafasnya, “Ayahku adalah orang terhebat di dunia. Dia mungkin di jalan yang salah, tetapi ia menyayangi keluarganya. Dia hanya ingin anaknya bahagia walau itu tidak sejalan dengannya. Sayang, ia terlibat dengan skema ponzi dan entah kenapa, dia!” Suara Jinri sedikit menjadi lebih tinggi, “Dia… Dia yang tidak bersalah dibunuh oleh pelaku yang sebenarnya… Tunggu, pelaku yang sebenarnya menyewa seseorang untuk membunuhnya lebih tepatnya. Ketika ia pergi, ibuku yang tidak sanggup akhirnya memilih ikut dengannya. Kalian… Kalian membunuh kedua orangtuaku!

“Kalian juga membunuh oppa ku! Oppa ku yang sampai sekarang mayatnya tidak tahu dimana! Dan kalian juga membunuh dongsaeng ku… Dia tidak bersalah… Dia saat itu hanya kelas dua SD…” Air mata Jinri menetes. Ia menghapusnya kasar, “Bagian terhebatnya adalah, karena kalian mengejarku, aku tidak pernah mengenang mereka! Memberikan perpisahan yang layak untuk orang-orang yang meninggalkan ku!”

“Kau masih punya saudara satu lagi. Dan identitas dia masih menjadi misteri hingga saat ini…” Ujar Minho berusaha untuk tenang.

“Aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang! Semuanya kosong! Aku sering menanyakan kenapa aku bisa hidup sampai sekarang? Kenapa tidak ada yang bisa membunuh ku?”

“Cerita sedih mu tidak akan menghentikan ku untuk membunuh mu.” Minho mulai mengacungkan pistol yang tadi sempat ia turunkan.

“Kau tahu sudah berapa lama aku kabur seperti ini? Aku kabur sejak umur 16 tahun. Sudah delapan tahun hidupku menggantung seperti ini.” Jinri mendekat ke arah Minho. Hal itu membuat Minho berekasi. Ia benar-benar mengarahkan pistolnya ke Sulli. Tapi ia tidak menembaknya. Minho berjalan mundur, menjauhi Jinri Kakinya melangkah cepat hingga mereka terpisahkan oleh tempat tidur Jinri.

“Akhiri penderitaan ku kumohon… Tembak aku sekarang… Aku lelah…” Jinri berkata lirh. Sangat lirih. Ia mendekat ke arah Minho yang terdiam. Berhenti ketika jarak mereka sudah tak terlalu jauh, tapi juga tak terlalu dekat.

“Kenapa aku? Kenapa harus aku yang mengakhiri hidup mu?” Suara Minho sekarang mulai bergetar. Dia juga sudah mulai ragu untuk menuntaskan misi ini.

“Impian ku sedari kecil adalah meninggal dikelilingi oleh orang yang kucintai. Mereka sudah pergi sekarang. Tapi… Tapi aku mencintai mu… Kurasa itu yang terbaik.”

“Choi Jinri…” Tangan Minho sekarang sudah bergetar, “Apa kau menantang ku sekarang? Kau pikir aku tidak akan menembakan pistol ini ke arahmu?”

“Aku tahu kau akan menembakannya. Kau yang terbaik dalam eksekusi. Aku tahu…. Aku tidak pernah ragu kepada mu…”

“Akan kulakukan!” Minho membuka gorden apartment Jinri. Membiarkan cahaya masuk agar ia dapat melihat Jinri lebih jelas. Ia mundur dua langkah dan menyiapkan pistolnya.

“Ini mungkin terdengar berlebihan. Tapi bisakah kau memelukku setelah kau menembak ku?” Jinri mulai tersenyum. Senyum itu bukan senyum misterius. Senyum itu merupakan senyum bahagia. “Terimakasih….” Jinri memejamkan matanya.

Tangan Minho mulai bergetar hebat. Ia menelan ludahnya. Sekarang ia ragu. Benar-benar ragu. “Aku tidak bisa!” Minho menurunkan pistolnya. “Aku juga mencintai mu…”

Jinri membuka matanya. Ia menatap Minho tidak percaya. Ia maju selangkah, ingin menggapai Minho. Tetapi terganggu oleh suara nyaring dari kaca jendela kamarnya yang pecah.

“Ah!” Minho terkejut bukan main ketika Jinri dengan sigap memeluknya. Membiarkan dirinya terkena peluru entah dari mana. Jinri mengerang kesakitan dan ia terjatuh. Minho menahan tubuh Jinri.

“Jinri…” Minho menekan luka Jinri yang berada di bahunya.

“Kabur… Lari sekarang Choi Minho…”

“Tidak! Tidak! Aku akan menyelamatkan mu! Tunggu!” Minho mengendong tubuh ringkih Jinri. Ingin membawanya segera ke rumah sakit. Melupakan semua misi bodohnya. Dia tidak akan menyelesaikan misi bodohnya ini.

Tapi Minho tidak melihat, sebuah peluru mengarah kepadanya.

Akh!

“Minho…”

.TBC.

A/N: Pernah di post di wattpad dalam rangka memperingati ulang tahun Choi Minho di akun author Acil Choi.

 

 

Advertisements

In The Snow (Chapter 1/3)

inthesnow

Main Cast: Choi Minho, Choi Sulli, Lee Sungkyung, All Shinee’s member

Rating: T (Teen)

Length: Threeshoot

Author: Ally

Poster By: NJXAEM @ POSTER CHANNEL

Chapter 1

When the temperature goes to minus degree, the snow fall so does you

.

.

.

Minho merapatkan jaketnya. Mulutnya berasa kebas karena terlalu banyak mengumpat. Sial!

Lagi-lagi, ia mengumpat. Minho menghela nafasnya. Membuat udara putih keluar. Dia kembali berjalan melintasi bangunan yang rata-rata sudah mau tutup. Jika ia tadi tidak bertaruh dengan Kibum, Minho tidak akan keluar di suhu minus derajat ini. Sayang, ia tadi terlalu bosan hingga bodohnya memilih untuk bermain dan akhirnya kalah. Minho harus pergi ke mini market terdekat dari asrama mereka dan membeli sandwich.

Teman-teman mengidam-ngidamkan sandwich yang berisi Coronation Chicken di musim dingin yang mencengkam ini. Tidak ada satupun dari mereka yang pulang ke rumah mereka. Mereka tetap melanjutkan pekerjaan mereka. Pekerjaan yang tidak mengenal hari libur.

Suara bel berdenting membawa susasana hangat yang membuat Minho menghela nafas lega. Penjaga toko menatap Minho datar sebentar dan kemudian lanjut menonton tv dimana para artis menyanyi. Tidak ada ramah sama sekali.

Minho sama sekali belum terbiasa dengan ketidak ramahan masyarakat Jerman. Padahal sudah tiga bulan ia disini. Tetapi tetap saja rasa jengkel kerap menghampirinya ketika melihat sikap mereka yang seperti itu.

Ia segera menuju tempat sandwich berada. Mengambil 10 sandwich beku dan menyerahkannya ke kasir untuk dihangatkannya.

Penjaga mini market melihat sandwich malas, “Kau mengadakan pesta anak muda?”

Minho tahu itu sindiran untuknya. Siapa yang membeli sandwich beku sebanyak ini?

“Untuk cadangan makanan di rumah.” Jawabnya malas.

“Cadangan yang banyak.”

“Kau tidak tahu betapa banyak porsi makan teman-teman ku.”

“Sekarang terlihat berapa besarnya dari sandwich yang kau beli. Tunggulah terlebih dahulu… microwave kecilku hanya bisa menghangatkan tiga sandwich.”

Minho hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia memilih duduk di bangku yang disediakan mini market. Bangku beserta meja untuk orang yang memilih makan di mini market ini. Minho mengamati jalanan yang sepi. Mencekam. Tidak ada harapan sama sekali. Hanya dia berharap dia akan pulang secepatnya. Ditarik ke tempat yang lebih hangat. Atau setidaknya lebih ramai.

Ting!

Suara bel, yang bukan dari microwave, tetapi dari pintu mini market berhasil menyadarkan Minho dari lamunannya.

“Hai, José!”

Lady, kau datang lagi…”

Okay, ini menarik. Apakah penjaga mini market yang tidak pernah berbicara itu baru saja membuka mulutnya dan mengeluarkan suara? Minho sedikit menoleh dan mendapati José-yang ternyata namanya- sedang berbincang dengan gadis berambut hitam. Hitam? Ini lebih menarik. Kota kecil ini rata-rata memiliki penduduk dengan rambut cokelat tua.

“Ku harap kau masih ada sandwich dan beberapa kerpik kentang.” Suara gadis itu halus dan entah mengapa Minho bisa menangkap gadis itu sedang tersenyum.

“Tentu. Ada hotdog mana tahu kau bosan.”

“Sempurna…” Gadis itu segera berbalik. Disitulah Minho dapat melihat rupa gadis itu yang ternyata berasa dari Asia, sama sepertinya. Gadis itu langsung saja menuju wilayah makanan ringan.

Merasa ia terlalu banyak memperhatikan orang, yang merupakan kebiasaan yang dianggap buruk disini, Minho memilih memandang jalanan lagi.

“Yang benar saja, Lady…” Suara José kembali terdengar. “Kau membeli 4 sandwich? Apakah kau ingin mengadakan pesta? Jangan lupa keripik kentang dan soda yang juga kau beli!”

Gadis itu tertawa riang, “Teman ku memang datang kesini.”

“Kau ingin sandwich-nya di hangatkan bukan? Kau harus menunggu agak lama. Kau lihat lelaki yang sedang duduk itu? Dia membeli 10 sandwich dan aku baru menghangatkan tiga.”

“Aku akan menunggu nya.”

“Tunggulah…”

Minho dapat mendengar langkah gadis itu mendekat. Dia merasa jika gadis itu duduk tepat di sebelahnya. Menatap jalan yang suram. Kemudian ia menoleh melihat Minho yang mau tidak mau membuat Minho ikut menoleh juga.

“Asia?” Tanya gadis itu sedikit terkejut. “Ku pikir hanya aku saja yang tinggal disini.” Lanjutnya dengan bahasa Jerman kelewat lancar.

Minho sedikit tersenyum, “Aku juga berpikir seperti itu. Selain teman-teman serumahku yang juga berasal dari Asia.”

“Setidaknya kau tidak tinggal sendiri…” Nada suara menggantung di udara. Ia menghela nafasnya, “Senang bertemu dengan mu. Aku Jinri.”

“Apakah kau selalu seperti ini jika bertemu dengan orang? Maksudku kau sangat akrab dengan José tadi.” Minho tidak bersikap kasar. Tidak. Ia hanya bersikap sewajarnya. Kota ini aneh dan lebih bagus jangan terlalu baik dengan orang.

Jinri menarik kedua ujung bibirnya, membentuk senyuman yang Minho tidak tahu apa artinya itu, “Kau pasti menganggap ku aneh bukan? Aku rasa aku memang sedikit gila ketika terdampar disini tanpa mempunyai teman.”

“Bukan itu maksudku…” Sekarang ia merasa bersalah. Minho melihat Jinri sudah menatap kembali jalan. Terdiam. Ia menghela nafas dan juga memilih menatap jalan. “Aku Choi Minho.” Kata Minho akhirnya dengan bahasa korea, “Kau dari Korea bukan?”

“Aku tidak menyangka menemukan seseorang yang berasal dari negara ku di kota kecil ini.” Jinri melebarkan senyumannya. “Choi Jinri.”

“Kita mempunyai nama marga yang sama. Kebetulan yang luar biasa.”

“Ya. Kebetulan yang luar biasa.” Lagi-lagi, suara Jinri menggantung di udara. Ia masih menatap jalan.

“Aku tidak bermaksud bersikap kasar tadi.”

“Aku tahu.” Jawab Jinri pendek. “Aku memang aneh.”

“Bukan itu—“

“Aku mengerti…” Jinri kembali menatap Minho dan tersenyum. “Aku memang aneh.”

Minho menjadi bingung ingin bicara apa. Beruntungnya, kalau bisa dibilang, ia diselamatkan oleh José yang memanggil dirinya mengatakan sandwich sudah hangat.

“Aku duluan…” Ujar Minho pendek dan segera ke kasir. José memasukan sandwich Minho ke kantung belanja dan mengatakan harganya. Minho membayar dalam diam.

“Gadis itu gadis yang baik. Selama menjadi penjaga disini tidak ada yang menyapaku sehangat dia.” José tiba-tiba berbicara kepada Minho, yang dimana itu baru pertama kalinya, diluar konteks beli-membeli, dan dia memberikan kembalian kepada Minho.

“Terimakasih…” Minho sedikit tersenyum ke José. Berbalik dan melambaikan tangannya ke Jinri. Kemudian keluar. Tidak berniat membalas ucapan José. Tidak berniat mengingat siapa Jinri itu.

.

.

.

.

.

Ini kali kedua Minho menuju minimarket. Kali ini ia tidak membeli makanan untuk temannya. Tetapi untuk dirinya sendiri. Setelah teman-temannya menghabiskan satu porsi pizza berukuran besar tanpa menyimpan satupun untuknya. Sama seperti sebelumnya, ia mengutuk kesal teman-temannya. Bingung kenapa bisa ia bertahun-tahun satu tim dengan mereka. Bingung kenapa pekerjaannya lebih berat daripada mereka.

Kau yang terhebat Minho…

Ya. Itu kata atasannya tapi entah mengapa ia malah terdampar disini. Bahkan ketua tim tidak dijabat oleh dia tetapi oleh Jinki. Memasuki minimarket tanpa menyapa dan kemudian langsung mencebik ketika melihat sandwich habis. Satu-satunya pilihan Minho adalah hotdog yang harganya lebih mahal. Tapi daripada lapar, akhirnya ia memilih hotdog. Begitu selesai membayar, Minho segera memakannya.

Rasanya lebih lezat. Entah karena perutnya yang lapar. Atau karena hangatnya hotdog ketika melewati kerongkongannya dan tetap terasa hangat di perutnya. Menyenangkan. Ia Sibuk mengunyah sambil berjalan. Minho asyik memakan hotdog-nya.

Kriett—

Suara besi berkarat terasa begitu keras hingga Minho mengalihkan pandangannya. Menemukan gadis berambut hitam, si Jinri, kalau tidak salah. Menaiki ayunan dengan baju tebalnya sambil menunduk. Apakah gadis itu tidak takut? Ini sudah jam sepuluh malam dan dia masih bermain ayunan tidak jelas. Anehnya, bukannya berjalan tidak peduli, Minho mendekati Jinri. Ia memasukan hotdog ke kantung jaketnya.

“Hai, gadis aneh….” Sapa Minho ketika memasuki taman dipenuhi salju. Tengah-tengahnya terdapat ayunan yang diduduki Jinri.

Jinri dengan pelan menoleh. Mendapati Minho tak jauh darinya sambil tersenyum, Jinri mengeluarkan senyumannya. Minho dapat menyadari jika muka gadis itu memerah akibat alkohol.

“Hai laki-laki kasar…”

Minho tertawa mendengar panggilan Jinri untuknya. “Gadis aneh… Apa yang kau lakukan disini? Kau mabuk?”

Jinri menganggukan kepalanya polos dan mengangkat sekaleng bir, “Aku bosan…”

Minho menghela nafas, ia memilih duduk di ayunan sebelah Jinri, “Apa yang membuat mu datang ke sini? Ke kota membosankan ini?”

Jinri terlihat memejamkan matanya, “Apa ya?”

Astaga… Gadis aneh ini memang mabuk dan dengan tenangnya ia keluar. Dia benar-benar tidak takut? Minho ingin menanyakan bagaimana Jinri bisa sampai disini, sayangnya Jinri berbicara lagi.
“Aku dikirim ke sini…”

Minho menatap Jinri dengan serius, kali ini. “Dikirim ke sini?”

Jinri mengangguk polos, “Iya. Membosankan sekali. Walaupun cuman enam bulan.” Jinri kemudian memiringkan kepalanya, melihat raut wajah Minho dan tersenyum cerah, “Sebelum kau berpikir macam-macam, aku perawat rumah sakit di kota ini. Dikirim dari pusat untuk mengabdi.”

Minho tertawa canggung. Bodoh! Gadis ini terlalu aneh kalau bisa dibilang. “Kau membuatku berpikir macam-macam. Kau tahu apa yang ku pikirkan?” Ia mendekat ke Jinri dan berbisik kecil di depan mukanya, “Kau seorang mata-mata.”

Kali ini Jinri yang tertawa riang, bukang canggung. “Bagaimana dengan mu? Apakah kau mata-mata?”

Minho tersenyum, “Aku bukan mata-mata. Aku bersama teman ku sedang mengekspansi perusahaan jasa kami.” Jasa untuk membunuh lebih tepatnya. Lanjut Minho dalam hati.

“Tempat aneh untuk mengekspansi perusahaan.”

“Ini adalah kota ibu ku. Ayahku berasal dari Korea Selatan dan ibuku berasal dari sini.” Bohong. Minho berbohong. Kedua orantuanya sudah mati atau entahlah…. Dia berasal dari panti asuhan.

Wajah Jinri tiba-tiba semakin mendekat, “Itu menjelaskan satu hal. Kau rupawan.”

Minho tidak bisa berkata-kata untuk beberapa saat. Baru saja ia ingin berkata, Jinri tiba-tiba menciumnya. Menggerakan bibirnya dengan pelan diatas bibir Minho. Hebatnya, Minho membalas ciuman Jinri.

Ketika pautan mereka terlepas, Jinri terkekeh. Masih di depan wajah Minho ia berkata, “Bibir mu… Pedas.”

Minho lagi-lagi butuh beberapa detik untuk mengetahui maksud Jinri sebenarnya. Dia habis memakan hotdog, apa yang bisa diharapkan?

Jinri tiba-tiba berdiri, menunjuk gedung di depan taman, “Kau lihat? Itu flat ku… Aku harus pulang…” Jinri berjalan dengan sempoyongan. Menuju flat yang tadi ia tunjuk.

Minho ikut berdiri. Mengamati gadis aneh dari jauh, untuk mengetahui apakah ia benar-benar ke apartment-nya.

Kemudian Jinri kembali berhenti. Berbalik menatap Minho dengan seyuman misteriusnya, “Lain kali gunakanlah saus tomat. Itu manis kau tahu…”

Jinri kembali berjalan tanpa berniat menoleh. Terlihat tidak berniat mengingat kejadian ini.

Minho mematung. Kembali mengingat bibir Jinri tadi. Manis dan ia bisa merasakan sari-sari alkohol dari bibir Jinri. Memabukan. Bibirnya, bukan alkoholnya.

.

.

.

.

.

“Target berhasil dijatuhkan. Aku segera menuju apartment. Apa? Baiklah aku akan membeli pizza.” Minho segera mematikan handphone-nya dan masuk ke dalam mobil. Tiga hari ini dia sedang tidak ingin kembali ke apartment-nya kalau bisa. Menyusuri kota sepi yang membosankan itu, hanya mengingatkannya kepada kejadian dimana Jinri yang menciumnya. Begitu membakar diri Minho. Jika saja ia hanya orang normal bukan pembunuh bayaran, Minho pasti akan mendatangi tempat kerja Jinri dan mengajaknya untuk kencan.

Setelah melewati perjalanan dua jam plus 45 menit utuk membeli pizza, Minho sampai di apartment-nya dimana teman-temannya tengah duduk menonton tv.

“Kau sudah datang… Cepatlah mandi dan sehabis itu baru makan.” Kata Kibum yang kemudian kembali menonton tv.

Tidak ingin pizza habis kembali, Minho menuju kamarnya dengan pizza. Tak lupa mengunci pintu.

Sepuluh menit kemudian, Minho baru ikut bergabung dengan pizza diikuti kemarahan Kibum akibat pertunya yang sudah keroncongan. Mereka semua makan sambil menonton tv yang menampilkan pesta tahun baru. Menghitung beberapa jam lagi tahun berganti.

Sejujurnya, Minho merasa bodoh karena mengikuti acara itu hingga menit-menit terakhir jam 12, yang artinya sebentar lagi tahun baru.

“Aku mendengar suara banyak orang dari luar.” Kata Jonghyun tiba-tiba. Ia meminum kembali bir-nya.

“Biasa… Orang-orang di kota ini mengadakan pesta tahun baru.” Kibum menjawab pendek. Meminum bir-nya juga.

Kedua temannya, Jinki dan si maknae Taemin sudah tepar karena alkohol juga. Pikiran Minho langsung berterbangan kemana-mana dengan satu tujuan, Jinri. Apakah gadis itu juga ikut pesta? Apakah gadis itu juga bersenang-senang?
“Hey, Minho, kau mau bir lagi tidak?”

Minho bangkit. Sama sekali tidak mengubris pertanyaan Kibum.

“Kau ingin kemana?” Lagi-lagi Kibum bertanya.
“Aku bosan.” Jawab Minho pada akhirnya dan memakai jaket tebalnya.

“Jangan pergi terlalu jauh.” Ucap Kibum lagi.

Minho mengangguk dan keluar dari kamarnya. Berjalan menuruni tangga kemudian keluar dari apartment. Orang-orang banyak berjalan menuju pusat kota. Minho berjalan menjauhinya. Ia menuju taman. Taman tepat di depan apartment Jinri.

Dia bodoh bukan? Dia ingin bertemu Jinri dan Jinri pasti sedang berpesta di tengah kota. Tetapi ia malah menjauhi kota menuju kota mati, bisa dibilang begitu. Toko-toko tutup dan hanya lampu jalan menerangi. Minho hanya berharap dia dapat melihat Jinri baik-baik saja ketika pulang. Itu saja dia sudah lega.

Ia memilih duduk di ayunan. Memainkan ayunan berkarat itu. Meringis ketika mendengar bunyi besi berkarat terdengar jelas.

Kriett—

Kriett—

Kriett—

Duar~

Minho menghentikan ayunannya dan melihat ke langit. Cerah, dipenuhi oleh kembang api bewarna-warni. Ia tersenyum melihatnya. Terus melihatnya hingga kembang api berhenti. Itu artinya pesta tahun baru dimulai. Banyak alkohol pasti disana. Kota ini menyukai alkohol.

Minho menghela nafasnya. Mengeluarkan udara putih dari mulutnya. Memilih memainkan ayunan tua itu lagi. Menunduk menatap sepatu cokelatnya.

“Minho…” Minho terkejut ketika menemukan Jinri sedang berjongkok, dimana ia dapat melihat wajahnya dengan jelas. “Jangan bilang kau mabuk disini.” Lanjutnya dengan nada suara geli.

Minho mengangkat kepalanya. Menatap Jinri lama. Dia… Dia merindukan gadis ini.

“Hey…” Jinri mengibaskan tangannya. “Apakah kau masih sadar?”

“Aku tidak mabuk disini.” Minho kemudian tersenyum lembut. “Kau tidak ikut pesta jinri?”

Jinri mengkerucutkan bibirnya. “Sayangnya tidak…” Terdapat nada kesal disana. “Karena aku orang baru, mereka menukarkan jadwal ku seenaknya. Padahal aku sudah dapat pulang dari jam tujuh tadi… Bagaimana dirimu? Kau tidak ikut berpesta?”

“Aku merasa ini adalah tempat yang pas untuk melihat kembang api. Diantara gedung-gedung ini, cahayanya juga minim, ini tempat yang pas.” Pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran yang kadang merangkap mata-mata membuat Minho pintar beralasan. Ia menyunggingkan sebuah senyum untuk meyakinkan Jinri.

Jinri menatap langit. Ia berbalik badan membelakangi Minho. “Uhm… Aku tidak melihat kembang api sama sekali. Tapi kurasa kau benar.” Ia berbalik dan tersenyum ke Minho

Minho membalas senyuman Jinri, “Kau bilang kau tidak melihat kembang api…”

Mata Jinri berkilat senang entah mengapa. “Aku hampir lupa!” Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan bungku kembang api. Kembang api berbeda yang dimana terdapat tangkai besi untuk memegang. “Aku mendapatkan ini dari pasien ku tadi. Kau ingin ikut menyalakannya?”

Minho tanpa ragu menjawab iya. Mereka menghabiskan seluruh kembang api sambil tertawa. Bercerita. Dimana hampir semua cerita Minho bohong. Ia tidak punya cerita bahagia. Hidupnya penuh dengan darah… Sejujurnya.

Ketika jam berdentang satu kali, pukul satu malam, Minho mengantarkan Jinri ke apartment-nya. Apartment yang terletak tepat di depan ayunan, hanya beberapa langkah darinya. Dia bisa saja duduk dan melihat Jinri dari ayunan jika ia mau.

“Terimakasih…” Ucap Jinri sedikit kikuk.

“Kau menjadi kikuk sekarang? Pertemuan terakhir kita kau bahkan langsung meninggalkan ku.”

Jinri menatap Minho sejenak. Berusaha mengingat, “Ketika—“ Matanya membesar. “Di ayunan itu bukan?”

Kali ini Minho menatap Jinri dengan melotot, “Kau bahkan tidak ingat kejadian itu?”

Jinri terdiam sebentar, “Aku ingat. Tapi tidak semuanya. Hanya sedikit kurasa…”

“Sedikit?” Minho masih melotot.

Jinri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mendekat ke Minho, “Bibirmu… Apa masih pedas?”

Sekarang, Minho lah yang terdiam, “Apa?”

“Kau tahu…” Jinri tersenyum. Senyum yang bagi Minho misterius. Senyum yang tidak dapat diartikan bahagia. Senyum yang sekarang seakaan menggodanya.

Minho berdehem. Menghilangkan kegugupannya akibat kalimat frontal Jinri, “Aku makan pizza dengan saus tomat sekarang. Kupastikan rasanya manis.”

“Kau mengikuti kata ku bukan?” Minho menelan ludahnya gugup. Suara Jinri begitu halus dan serak seakan memanggilnya. Senyuman gadis itu membakar Minho. “Bolehkah?” Jinri melihat bibir Minho sekilas.

Astaga! Gadis ini sedang menatap Minho polos tetapi itulah yang membuat Minho nyaris gila. Minho segera menarik Jinri kedalam pelukannya. Mencium Jinri. Tidak memberikan gadis itu sedikitpun kesempatan. Sepertinya, ia akan lepas kendali.

.

.

.

.

.

Hal pertama yang Minho dapati ketika ia memasuki apartment-nya adalah Kibum, Jonghyun, Jinki, dan Taemin sedang membaca file kasus baru. Sepertinya mereka semua mendapat kasus baru. Ia pulang ke apartment pukul 11 siang.

“Selamat siang Minho.” Jinki yang pertama menyadari kehadirannya. “Aku mungkin mabuk hingga tidak sadarkan diri kemarin malam, tapi Jonghyun atau Kibum mengingatkan dirimu untuk tidak pergi jauh bukan?”

“Kibum mengingatkan ku. Dan aku tidak pergi jauh.” Minho melangkah mendekati teman-temannya.

“Sabun. Kau habis mandi. Dan itu sabun perempuan.” Taemin berkata dengan mata yang tetap fokus membaca.

“Oh!” Ketiga temannya-–Jonghyun, Kibum, dan Jinki–menatap Minho serempak.

“Kau menggunakan wajah rupawan mu untuk meniduri gadis dari setiap kota yang kita singgahi.” Cibir Jonghyun.

Minho mengangkat bahunya, “Bukan salah ku memiliki wajah seperti ini.”

Jinki berdecak kesal. Segera ia melemparkan sebuah file kepada Minho, “Kau mendapat misi baru juga. Batas akhir mu ketika memasuki musim semi, bulan April.”

Minho menatap Jinki heran, “Itu cukup lama.”

Red tag Minho.”

Minho mengerti. Setiap kasus mereka diberi tag berdasarkan targetnya. Jika targetnya orang bodoh yang tidak tahu ia akan dibunuh, kalaupun tahu ia hanya bisa bersembunyi, itu green tag. Target termudah. Kalau targetnya tahu ia akan dibunuh dan menyewa semaca body guard, itu blue tag. Tidak terlalu mudah karena ia harus menyusun rencana terlebih dahulu. Jika targetnya bukan hanya tahu dan menyewa body guard, dia juga berhasil kabur itu diberi red tag. Target tersusah dan biasanya harus mengintai terlebih dahulu agar target benar-benar mati kali ini.

“Ku dengar wanita itu sudah kabur sebanyak 5 kali. Lima orang yang bertugas membunuhnya malah mati.” Kibum kali ini bersuara. “Kau harus menggunakan kesempatan dengan baik atau kau juga akan mati.”

Minho memutuskan untuk berbasa-basi sejenak sebelum ke kamarnya. Mempelajari targetnya. Ia tidak bisa mempelajari targetnya disuasana ramai. Minho menghapus papan tulisnya berkas kasusnya kemarin. Membuka file-nya. Dan menemukan nama….   Choi Jinri?!

.TBC.

A/N: Pernah di post di wattpad dalam rangka memperingati ulang tahun Choi Minho di akun author Acil Choi.

 

 

 

Runaway (Chapter 1)

seasonal-florist1

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Kring…. Kring… Kring…

Perlahan tapi pasti, Sulli membuka matanya. Mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum ia mengambil handphone-nya dan mematikan alarm.

Jongin juga ikut bangun. Ia menyibakan selimutnya, “Sudah jam enam pagi?”

Sulli mengangguk pelan menjawab pertanyaan Jongin. Kemudian, mereka berdua turun dari tempat tidur. Jongin bersegera mandi. Sulli pergi ke kamar Taemin, anaknya untuk membangunkannya. Setelah itu Sulli akan bergegas membuat sarapan untuk Jongin dan Taemin. Saat Taemin dan Jongin sarapan, Sulli baru akan mandi. Dia baru akan memakan sarapannya di kantornya, butik pakaiannya Seoul-Ri sesudah ia mengantar Taemin terlebih dahulu.

Inilah rutinitas Sulli setelah menjadi istri Jongin. Berusaha menjadi ibu yang baik bagi Taemin. Juga membangun karirnya sebagai fashion designer.

.

.

.

.

“Tentu saja kau harus ikut pertemuan ini. Astaga Sul…” Krystal menarik nafasnya yang sudah habis. Kemudian kembali berbicara dengan nada mendesak, “ Dengan pertemuan ini, butik kita dikenal oleh orang-orang penting dari majalah di Seoul. Jika mereka tertarik dengan rancangan kita, mereka bisa mengontrak kita. Itu adalah hal yang sangat-sangat-sangat-sangat-sangat sangat sangat sangat-“

Sulli meringis mendengar rentetan kalimat Krystal, sekertarisnya juga teman masa kecilnya yang baru menyelesaikan kuliah fashion designer-nya di Paris. Yang entah mengapa ingin bekerja dengan Sulli, dibawah kendali Sulli. Padahal gadis ini lebih cocok disebut co-worker sangking berkuasanya. Secara, tidak ada sekertaris yang berani menentang dan menyuruh-nyuruh atasannya.

Helaan nafas keluar dari mulut Sulli. Ia memijit pelipisnya yang sudah berdenyut sebelum pukul sepuluh pagi, “Aku mengerti… Tapi siapa yang akan menjaga Taemin? Pertemuan ini akan diadakan selama 5 hari….”

“Ayolah Sul…” Pinta Krystal dengan nada memohon, “Kau itu diundang oleh mereka. Jika kau menolaknya entah apa yang terjadi dengan butik kita. Juga, jika pakaianmu sudah digunakan di majalah, berarti dirimu sudah melangkah lebih dekat ke impian besarmu, runaway fashion!!

Kembali, Sulli menghela nafas. Sulli juga menatap Krystal dengan tatapan memohon, “Kau harus mengerti…”

“Kau bisa mengajaknya bukan? Ayolah dia masih TK. Bukan sebuah masalah jika ia bolos selama lima hari…. Benarkan?”

“Jongin tidak mengizinkannya…”
“Apa?!” Nada suara Krystal meninggi bersamaan dengan emosi yang meningkat, “Maksudmu…” Krystal mendelik, “Bagaimana bisa dia…”

Sulli menunggu Krystal dengan was-was. Takut jika emosi Krystal meledak.
Krystal mulai berbicara kembali, “Bagaimana….”

“Aku akan membicarakan ini dengan Jongin, okay? Kau tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja.” Sulli kemudian memasang senyum manisnya.

Krystal hanya bisa mendengus, “Awas saja jika Jongin tidak ingin menjaga Taemin.”

Sulli mengangkat kedua bahunya, “Kau kan bisa.”

“Apa?!” Krystal kembali mendelik ke arah Sulli. Dia sangat tidak menyukai anak-anak. No… No… No…

“Cepat kembali ke ruanganmu. Pekerjaan sudah menunggu!” Titah Sulli putus asa. Tidak berani menaikan emosi Krystal. Dasar, sekertaris terburuk! Untung saja teman dekat.

.

.

.

.

.

Flash kamera menyambut Sulli dan Krystal ketika mereka keluar dari mobil. Panasnya busan langsung terasa, seakan menyambut mereka. Perkumpulan para fashion designer seluruh Korea, baik yang sudah terkenal hingga ke mancanegara sampai yang seperti Sulli, beberapa kalangan saja diadakan. Acara selama lima hari ini dimaksudkan sebagai ajang berbagi pengalaman juga mengenalkan koleksi mereka ke khalayak yang lebih luas.

Mereka berdua, Krystal dan Sulli menggunakan koleksi S/S Collection terbaru butik Seoul-Ri. Sulli menggunakan Summer Dress bermotif yang di dominasi oleh putih gading. Rambutnya ia ikat sederhana. Juga dilengkapi oleh makeup minimalis. Sedangkan Krystal menggunakan Jumpsuit bermotif bunga-bunga. Rambutnya ia biarkan tergerai, dengan make up yang juga tidak terlalu tebal. Gelang di tangan kanannya melengkapi gaya chick nya.

Nafas Sulli mulai memendek ketika ia mulai berjalan mendekati wartawan. Ia menghembuskan nafasnya secara perlahan. Tidak boleh gugup! Tidak boleh gugup! Tidak boleh gugup! Ucapnya dalam hati menyemangati dirinya.

“Bisa di wawancarai sebentar….” Sulli bersumpah jika detik itu juga, tanggannya langsung menjadi dingin.

.

.

.

.

.

Oemma! Oemma!” Suara riang Taemin berhasil menyadarkan Sulli kembali. Perlahan, ia memukul kecil pipinya agar tersadar.

Nde….” Jawab Sulli mengantuk berbalik dengan Taemin yang masih sangat riang. Sulli menggerutu. Pasti Taemin sekarang sedang di jaga oleh Eunso, adik tirinya Jongin. Sedangkan Jongin pasti belum pulang. Hal ini melanggar perjanjian mereka dimana Jongin akan selalu menemani Taemin dari jam lima sore. Karena Taemin orangnya sangat rewel dan tidak bisa diatur kecuali oleh Sulli dan Jongin.

“Tadi di sekolah Taemin kedatangan guru baru. Guru yang menggantikan Jung Seongsangnim!”

“Taemin semangat sekali menceritakannya. Padahalkan Taemin sedih ketika Jung Seongsangnim keluar.”

“Iya itu karena gurunya lebih asik dan seru! Terus perhatian, ramah, gak pernah marah…. Pokoknya seru banget! Habis itu dia ngerti lagi apa yang Taemin tanyakan. Lukisannya juga bagus… Pokoknya Taemin seneng banget!”

“Taemin tahu dari mana jika gurunya gak pernah marah? Nanti kalau dia marah gimana?”
“Ih… Gak. Pokoknya Min Seongsangnim gak pernah marah!”

Sulli terkekeh kecil. Namanya juga anak kecil.

.

.

.

.

.

Sekarang Sulli bertanya-tanya. Ia bingung dengan Taemin. Selama lima hari di Busan selama itu pula Taemin menceritakan guru barunya.

“Taemin entah mengapa sangat menyukai Min Seongsangnim.”

“Melebihi suka Taemin kepada Appa?”

“Iya. Melebihi Appa!”
Itulah yang membuat Sulli bingung. Apa sih yang dilakukan oleh guru baru itu hingga Taemin sangat menyukainya? Pikiran Sulli kembali melayang ke hari selanjutnya, dengan tema yang masih sama, Min Seongsangnim.

Kenapa Taemin sangat menyukai Min Seongsangnim? Memangnya Min Seongsangnim pernah melakukan hal-hal berbeda yang tidak dilakukan oleh guru-guru yang lainnya?”
“Gak ada sih… Sama seperti yang lain. Tapi begini
Oemma, Taemin itu suka aja ngeliat Min Seongsangnim. Inginnya dekat-dekat dengan dia.

Tambah bingung kan? Krystal bercanda mengatakan jika Taemin mungkin tertarik dengan guru barunya. Yang membuat Sulli langsung tak bisa tidur nyenyak selama di Busan. Amit-amit deh…. Sulli belum bisa membayangkan jika anaknya memiliki perilaku seksual yang menyimpang.

Tidak dapat dipungkiri, Sulli mulai mempercayai perkataan Krystal. Ia sampai-sampai membayangkan jika guru baru itu juga tertarik dengan Taemin. Amit-amit…. Maka dari itu, hari ini, Sulli yang baru saja menginjakan kakinya ke Seoul langsung memutuskan untuk menjemput Taemin.

Krystal hanya tersenyum jahil kepada Sulli. Sangat bahagia karena Sulli masuk ke dalam perangkapnya. Sulli sih masa bodoh. Mau Krystal anggap dia apapun hingga disebut terlalu parno Sulli tidak peduli. Soalnya ini masalah anaknya. #Eaaa

.

.

.

.

Terlalu bersemangat hingga Sulli terlalu cepat sampai. Ia mendesah. Bingung ingin melakukan apa. Akhirnya Sulli memutuskan untuk memainkan hp-nya. Mengabari info ini kepada Krystal yang menyebabkan gadis itu kembali mengetawai Sulli. Sulli hanya bisa mendengus dan membalas, ‘Kau akan seperti diriku jika sudah punya anak!” dan Krystal langsung menjawab dengan satu kata, “Diamlah!”

Berganti, Sulli-lah yang tertawa. Temannya itu sangat tidak menyukai anak kecil, bahkan sampai tidak mau punya anak. Menurutnya mereka itu rewel, berisik, cengeng, intinya menganggu. Benar sih… Tapikan beda rasa antara anak sendiri dengan orang lain.

“Yeaaayy…”

Suara ramai menandakan anak-anak sudah pulang. Sulli segera menutup chat-nya, meletakan handphone-nya, dan keluar dari mobilnya. Menunggu Taemin dengan hati yang berdebar-debar. Menahan rindunya kepada Taemin. Ia menunggu cukup lama karena Taemin selalu keluar yang paling terakhir. Taemin sangat suka bermain di TK-nya hingga harus diseret pulang oleh guru-gurunya.

Akhirnya Taemin datang. Taemin melambaikan tanggannya kepada Sulli. Sulli langsung tersenyum sangat lebar dan membalas lambaian tangan Sulli. Tetapi Taemin tiba-tiba berbalik. Kemudian mendengus.

Oemma tunggu sebentar ya!”

Dahi Sulli bekerut. Kenapa Taemin tiba-tiba berbalik? Ia menghela nafasnya dan berjalan searah dengan Taemin.

“Tapi Min Seongsangnim harus bertemu dengan Oemma! Taemin tidak mau tahu!” Suara Taemin langsung terdengar dari lorong-lorong TK yang sepi. Remang-remang, tetapi Sulli bisa melihat Taemin berbicara dengan seseorang. Orang tersebut berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Taemin sehingga Sulli tidak dapat melihat wajahnya yang tertutup dengan badan Taemin.
“Taemin…” Panggil Sulli lembut.

Taemin segera berbalik dengan senyum lebarnya, “Oemma ayo berkenalan dengan Min Seongsangnim!

Sulli langsung tersenyum excited . Akhirnya rasa penasaran terjawab.

Dengan pelan, orang yang dipanggil Min Seongsangnim berdiri.

“Minho?!” Gumam Sulli tanpa sadar.

.TBC.