State of Grace (Chapter 22)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Rasanya semuanya berubah dengan cepat.

Rasanya Krystal baru kemarin menerima amarah Tifanny karena Sehun.

Rasanya baru kemarin Krystal melihat Sehun begitu gigih mengejarnya ke restaurant Jonghyun.

Rasanya Krystal tidak akan pernah siap untuk hal ini.

“Sehun…” Panggil Krystal takut karena Sehun menutup matanya. “Kau menakutiku kau tahu…” Lanjutnya.

“Tunggu!” Teriak Sehun entah dari mana.

Tap!

Tap!

Tap!

Suara kaki Sehun mendekat. “Ikutlah dengan ku…” Kata Sehun terdengar dari samping kanan.

“Bagaimana aku bisa mengikuti mu kalau melihat saja tidak bisa?” Gerutu Krystal.

Sehun terkekeh kecil dan menarik tangan Krystal. Membawanya pelan-pelan.

“Stop! Stop disini…” Kata Sehun tiba-tiba. Krystal bingung tetapi ia hanya diam.

Krystal kemudian merasa tutupan matanya melonggar. Ah, Sehun melepaskan tutupan matanya rupanya.

“Jangan melihat dulu… Jangan… Pejamkan matamu….”

Krystal mendengus. Walaupun begitu, ia tetap menutup matanya.

“Sekarang bukalah…” Bisik Sehun tepat di telinga Krystal.

Krystal perlahan membuka matanya dan….

“Sehun!” Ucap Krystal nyaris tidak percaya apa yang ia lihat. “Ini….” Katanya terputus tidak bisa melanjutkannya.

Tada! Hadiah bagimu…” Sahut Sehun gembira. “Aku tahu kau akhir-akhir ini pasti tertekan. Karena kejadian kemarin. Karena kejadian tadi pagi.” Lanjut Sehun sambil tersenyum lebar.

Krystal mendekatkan dirinya ke arah piano putih di tengah-tengah ruangan keluarga Sehun. Sehun bahkan mengubah ruangannya gar piano putih ini bisa berada di sini. Hanya untuknya.

“Aku tahu kau menyukai musik. Aku juga dapat melihat kau bahagia ketika memainkannya. Walau aku baru-baru ini menyadarinya kemarin.” Sehun terkekeh mengingat hal itu, “jadi aku ingin kau melakukan sesuatu yang membuat mu bahagia. Bukan hanya dengan melukis. Apalagi setelah ibuku memecat dirimu. Aku tahu itu sangat berat.”

Dada Krystal tiba-tiba terasa nyeri mengingat ia baru saja dipecat. Krystal tahu, tadi pagi, ketika mendapat telfon dari Sekertaris Ahn, itu adalah sebuah panggilan untuk pemecatannya. Ia benar rupanya. Ketika sampai, tanpa basa-basi Tifanny langsung memecatnya. Melemparkan dua amplop. Satu amplop surat pemecatan dan gaji terakhir. Satu lagi surat undangan. Krystal di undang untuk acara opening gallery. Sepertinya Tifanny tidak ingin orang-orang berprasangka buruk. Jika Krystal dipecat sebelum Grand opening, ada rumor kenapa hal itu terjadi. Tetapi jika setelah Grand opening, orang akan menganggap hal itu biasa –Krystal tidak cocok disitu- dan tidak akan mempersalahkannya.

“Krys…”

Suara Sehun membuat Krystal menoleh, “Kau tidak perlu melakukan hal ini kau tahu?” Katanya kepada Sehun.

“Aku harus melakukannya. Kau adalah sumber kebahagiaanku.”

Entah mengapa jantung Krystal berdetak lebih cepat. Sehun menyeringai melihat Krystal yang gugup. Tangannya tiba-tiba melingkar di pinggang Krystal dan dengan cepat, menarik Krystal menjadi sangat dekat dengannya dan membuat Krystal menghadap ke Sehun.

“Sekarang hukuman mu!” Seru Sehun dan segera mencium bibir Krystal, sebelum gadis itu dapat berpikir lebih jauh.

.

.

.

.

.

Sinar matahari yang terik masuk melalui tirai-tirai tipis kamar Sehun. Sehun menyeringit, merasakan panas menerpa wajahnya. Siapa yang membuka tirai kamarnya? Jam berapa sekarang?

Sehun mengambil hp nya dan mengecek jam. Jam delapan. Siapa yang membuka tirai kamar secepat ini? Sehun bangun. Ketika udara menerpa bagian atas tubuhnya, dia mengingat apa yang terjadi semalam.

“Krys?!” Serunya ragu. Takut Krystal sudah pulang. Ia cepat-cepat keluar kamar setelah sebelumnya menggunakan pakaian.

Ketika keluar, terdengar alunan piano mengalun lembut.

“Krys…” Panggil Sehun lagi. Langkah Sehun mengarah ke ruang pribadinya. Dimana ada tv dan piano untuk Krystal.

Ketika sampai disana, ia melihat Krystal memunggungingya. Asyik memainkan piano menggunakan sweater marun miliknya yang sangat kebesaran baginya. Apalagi untuk Krystal.

“Hai…” Sapa Sehun sekali lagi. Ia menyentuh lembut pundak Krystal. Krystal terkejut.

“Oh, maaf aku tidak mendengar mu datang. Aku sudah membuatkan mu sarapan.” Kata Krystal lembut.

Sehun tersenyum. Tetapi senyum dengan artian lain, “Sweater nya bagus.”

Pipi Krystal langsung memerah, “Ah…. Maaf aku tidak minta izin sebelumnya.”

Sehun mengangkat kedua bahunya, ia berbalik, melangkahkan kakinya menuju dapur, “Tidak apa-apa. Pakaian ku sekarang sudah menjadi milikmu. Semuanya. Asalkan jangan memakai pakaian dalam ku saja.” Sehun berbalik menghadap Krystal dan menyeringai.

Pipi Krystal semakin memerah dan pasti sudah seperti kepiting rebus.

“Ngomong-ngomong, kenapa harus memakai sweater? Apakah kau kedinginan jika memakai kaus ku?” Tanya Sehun tanpa menghadap karena sekarang ia sedang mengambil roti bakar yang Krystal buat.

“Kau tahu kenapa!” Pekik Krystal geram karena sangat malu. “Apa hanya aku yang mengingat hal itu?” Lanjutnya dengan sebal.

Alis Sehun terangkat. Astaga! Sepertinya ia melupakan detail-detail kecil. Termasuk ketika ia merobek pakaian dalam Krystal bagian atas. Sehun menghadap Krystal, “Maaf.” katanya sungguh-sungguh.

Krystal menghela nafasnya. Ini benar-benar memalukan. Kenapa ia tidak pulang saja ketika bangun? Sepertinya keputusannya untuk tinggal berakibat buruk.

“Hey…” Panggil Sehun karena Krystal terdiam. “Apa aku menyakiti mu?” Sehun mengenggam tangan Krystal.

Krystal menunduk sejenak. Perlahan ia menggeleng. “Tidak.” Sebelum Sehun senyum karena senang, Krystal kembali berkata, “Tapi berhentilah membahas kejadian tadi malam!”

Sehun mengangguk mantap, “Baiklah!”

.

.

.

.

.

Alunan music mengalun dengan lembut. Dentingan dari bunyi alat-alat makan terdengar dengan jelas. Juga percakapan orang-orang yang duduk di sekitar Krystal. Yang sedang menyeruput minuman mereka sambil mengobrol. Lagi-lagi, Krystal merasa sesuatu terjadi dengan sangat cepat. Kemarin dia baru saja dipecat. Kemarin dia baru saja diberi hadiah oleh Sehun. Sekarang, dia sedang menikmati makan malam bersama Sehun dan Seojoon.

Krystal bodoh bukan? Kenapa ia malah terjerat lebih dalam di kehidupan Sehun? Bertemu dengan kakaknya dan istri kakaknya kelak.

“Apakah kau baik-baik saja?” Suara lembut Sohee sukses membuat Krystal tersadar.

Krystal mengerjap sebelum akhirnya mengangguk, “Aku tidak apa-apa.” Jawabnya berusaha agar terdengar ceria.

Sohee tertawa lembut. Parasnya yang cantik ditambah dengan pakaiannya yang menawan, ia terlihat sempurna malam ini. Belum lagi ketajaman Sohee menangkap cerita, ia dan Seojoon sama-sama seorang Psikiater.

“Aku mengerti apa yang kau khawatirkan.” Lanjut Sohee. Nadanya mengalun dengan santai, tanpa ada tuduhan sedikitpun. “Tapi aku tahu sesuatu setelah bertemu Seojoon. Aku tahu seberapa besar cinta seorang pria kepada wanita dari cara memandangnya. Aku tahu, setelah melihat Sehun memandang mu, tidak akan ada yang bisa memisahkan kalian…”

Krystal tertawa kecil, “Oennie terlalu berlebihan.”

“Tidak… Tidak….” Kata Sohee dengan cepat, “Satu-satunya yang akan memisahkan kalian adalah diri kalian sendiri. Satu dari kalian memutuskan untuk berpisah.”

Krystal terdiam mendengarnya. Ia tiba-tiba menjadi gugup. Dengan cepat, ia meneguk Wine-nya.
“Yang perlu kau lakukan adalah mengenggam tangannya apapun yang terjadi.” Lanjut Sohee kemudian mengenggam tangan Krystal. Menatap Krystal dengan sungguh-sungguh.

Bagai semilir angin di musim kemarau, Krystal merasakan kententraman yang luar biasa. “Terimakasih Oennie…” Kata Krystal pada akhirnya. Memecah keheningan.

Sohee mengangguk mantap dan melepaskan genggaman tangannya. “Ngomong-ngomong…” Gumam Sohee sambil melihat sekeliling restaurant, “Kemana pasangan kita? Aku yakin kita sudah hampir satu jam ditinggal di sini.”

Krystal juga baru tersadar, “Entahlah… Kurasa aku akan menelepon Sehun.”

Sohee cepat-cepat menggeleng, “Kurasa tidak. Bagaimana jika kau tunggu disini sebentar dan aku akan mencari mereka. Tubuhku juga sudah terlalu pegal duduk di bangku bar ini.”

Krystal mengangguk setuju. Berbeda dengan Sohee, ia terlalu malas untuk bergerak. Sudah nyaman rasanya duduk disini dan menikmati sebuah wine.

Sohee keluar dari bar restaurant. Tadi, setelah berdansa, Seojoon tiba-tiba menarik Sehun. Katanya ada hal penting yang harus dibicarakan. Meninggalkan Sohee dan Krystal di bar restaurant. Waktu rasanya tidak terasa karena ia dan Krystal hanya diam saja. Bukan karena Sohee tidak punya ide bicara, hanya saja ia ingin memerhatikan Krystal Jung lebih dalam sesuai dengan perintah Seojoon.

Segera saja Sohee melambaikan tangannya ketika melihat Seojoon dan Sehun yang baru masuk. Ia merasa lega. Sangking senangnya, ia hampir berteriak ‘Kalian’. Tertahan karena ini di restaurant.

“Maaf sudah membuatmu menunggu lama.” Kata Seojoon dan langsung melingkarkan jemarinya ke jemari Sohee.

Sohee menghela nafas, “Aku sudah menunggu lama kau tahu? Krystal sendirian disana. Kurasa ia lelah.” Jawab Sohee sambil tersenyum.

Mereka bertiga akhirnya kembali lagi ke bar. Ketika sampai di bar, mereka menemukan Krystal tidak lagi sendirian. Ia terlihat berbicara dengan seorang laki-laki. Harus Sohee akui, sepertinya mereka telah kenal sebelumnya, terlihat dari bahasa tubuh mereka yang sama-sama nyaman. Walaupun ekspresi Krystal seperti menahan sesuatu. Terpaksa harus tersenyum. Krystal juga mengetukan kakinya, pertanda ia ingin mengakhiri obrolan mereka. Sudah kenal tetapi ingin dihindari? Mantan pacar?

.

.

.

.

.

Krystal meneguk Wine untuk terakhir kali. Masih menyunggingkan senyuman paksa.
“Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan mu lagi disini…” Suara bass dari laki-laki di depannya kembali terdengar.

Krystal mengangguk untuk kelima kalinya dalam satu menit ini. Ayolah, Jinyoung harus berhenti mengatakan hal itu sebelum ia menyemburkan wine-nya ke muka Jinyoung.

“Aku senang melihat kau bahagia.” Kata Jinyoung lagi karena Krystal sedari tadi hanya tersenyum.

Krystal tersenyum tetapi menahan untuk tidak mendengus. Cih, dia kelihatan baik sekali pada Krystal. Rasa kesalnya muncul bersamaan dengan fakta Jinyoung memutuskannya karena cewek lain.

“Jadi bagaimana dengan dirimu dengna Jisoo?” Tanya Krystal to the point.

“Ah…” Jinyoung menggaruk kepalanya tidak gatal, “Kami sudah lama putus.” Kemdian ia tertawa canggung. “Bagaimana dengan mu? Masih sendiri?”

Baiklah, kali ini Krystal mendengus. “Untuk apa aku kesini sendiri tanpa pasangan?” Katanya tajam tetapi masih tersenyum, “Bagaimana dengan mu sekarang? Kau sudah punya pengganti Jinsoo?” Tanya Krystal balik karena melihat Jinyoung sendiri.

“Tidak ada. Aku ingin fokus ke karir musik ku dulu.” Ia mengangkat gitarnya yang ia pegang. “Teman ku hari ini ulang tahun dan mengajak aku juga beberapa teman yang lain makan. Jadi aku kesini.”

Krystal menganggukan kepalanya, “Kurasa kau harus segera kembali ke teman-teman mu. Aku permisi dulu!”

Grab!

Krystal mendelik tajam ketika Jinyoung memegang tangannya. “Ada apa?” Tanya Krystal dengan nada tajam plus tanpa senyuman.

“Ah.. Aku…” Jinyoung terlihat berpikir.
“Maaf, dia bersama ku…” Entah darimana, Sehun melepaskan tangan Jinyoung dari tangan Krystal. Kemudian mengenggam tangan Krystal. “Maaf membuatmu menunggu lama.” Katanya kepada Krystal.

Krystal tidak dapat menahan senyumannya, “Syukurlah kau datang.”

“Oh, kau sudah bersama pasangan?” Tanya Jinyoung lagi padahal tadi Krystal sudah bilang. Dia tidak menyangka Krystal tidak berbohong ketika mengatakan dirinya bersama pasangan.

“Seperti yang kau lihat sendiri.” Kata Sehun dengan nada dingin.

“Kami permisi dulu.” Putus Krystal sebelum Jinyoung berbicara lagi. Sehun menyetujuinya dan menarik tangan Krystal dari hadapan Jinyoung.

“Oh Sehun?!”

Gerakan Sehun berhenti ketika mendengar suara laki-laki dari belakang Krystal dan Sehun. Krystal tidak mengenal suara itu, tetapi sepertinya Sehun mengenal suara itu karena cengkraman Sehun tiba-tiba mengencang.

“Aku benar! Itu dirimu…” Kata laki-laki tersebut lagi.

.

.

.

.

.

Sehun segara menarik Krystal sejajar dengan dirinya. Berbalik dan menyembunyikan tubuh Krystal di belakang bahunya yang lebar.

“Mark Tuan….” Kata Sehun dengan nada dingin. “Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan dirimu di Korea…”

“Aku pindah ke sini.” Ujar Mark santai. “Makan malam dengan kekasih baru mu?” Tambah Mark yang membuat Krystal terkejut.

“Apa urusanmu?” Balas Sehun dingin.

“Tidak ada. Hanya penasaran. Apalagi setelah melihat kau mencampakan Wendy.”

Sehun menggertakan giginya, “Aku malas berurusan dengan mu. Maka dari itu akan ku katakan sekarang! Aku berpacaran dengan Krystal jauh sebelum Wendy datang. Dan darimana aku mencampakan Wendy? Pakai otak mu karena dirimulah dalang dibalik putusnya aku dan dia!”
Mark tertawa mengejek, “Kau masih dendam dengan masalah itu bukan? Kenapa kau tidak memperkenalkan aku dan kekasih baru mu itu?   Kau takut aku akan merebutnya seperti aku merebut Wendy?”
“Bajingan!”

Sehun baru saja akan memukul Mark jika Seojoon tiba-tiba menahan tangan Sehun.

“Kita pulang sekarang!” Kata Seojoon cepat. Menjauhkan Sehun dari Mark dan menyeretnya keluar dari restaurant.

“Wow! Aku tidak menyangka kau bisa membuat orang kesal!” Seru Jinyoung ke Mark.

Mark hanya menghela nafasnya, “Ayo kita kembali ke teman-teman kita!” Katanya mengajak Jinyoung.

.

.

.

.

.

Krystal lagi-lagi tidak tahu apa yang akan terjadi. Semaunya menjadi tambah runyam. Sehun diam setelah dikeluarkan oleh Seojoon. Ia juga mendiami Krystal, sama sekali tidak membuka pembicaraan selama mereka di dalam mobil. Sehun hanya diam ketika mengantar Krystal pulang ke apartment-nya.

Krystal berdehem. Mengetahui ia telah sampai di apartment-nya. “Terimakasih…” Kata Krystal pada akhirnya.

“Tunggu…” Sehun menahan tangan Krystal. Tatapannya masih ke depan. Kemudian ia menghela nafas, “Maafkan aku…”

“Kau tidak salah apa-apa Oh Sehun….” Krystal kemudian tersenyum.

Sehun menatap Krystal, “Aku salah. Aku lagi-lagi tidak bisa mengontrol emosi ku…”

“Sehun…” Krystal mengenggam tangan Sehun. “Tidak apa-apa.”

“Aku bisa membuat keributan jika tidak dihentikan. Bagaimana jika aku membuat keributan?” Sehun balik mengenggam tangan Krystal, “Aku merasa bersalah padamu. Seharusnya aku bisa bersikap gentle. Tapi apa?”

“Hey, kau hanya manusia biasa bukan? Makhluk ceroboh yang suka membuat salah. Tidak ada yang namanya kesempurnaan datang dari dirinya sendiri. Ada orang lain yang akan membuat dirimu sempurna…”

Sudut-sudut bibir Sehun tertarik ke atas, “Kau adalah kesempurnaan ku…” Katanya dengan lembut dan melihat Krystal sungguh-sungguh.

Krystal juga ikut tersenyum, “Kau juga kesempurnaan ku…”

.TBC.

Ya Allah ini cerita apa?  Chapter kali ini jauh dari perkiraan saya…  Wkwkwk…  Kalian tau ff terbaru aku gak, yang “The Wind of Change”?  Chapter duanya aku sambung kalau “Flipped” atau gak “State of Grace” tamat ya…  Maaf banget…  Soalnya ff-ff yang lain keteteran terutama ff Minsul aku “Runaway”.  

Terimakasih untuk pengertiannya 🙏🏻🙏🏻☺️

Warm Regards

 

Allamanda Zahra

Advertisements