Flipped (Chapter 18)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Kesempatan

“Krystal…”

Krystal menoleh tak kala ibunya memanggil dirinya dengan lembut.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya ibunya masih dengan nada lembut.

Krystal cepat-cepat mengangguk, “Tentu. Aku baik-baik saja.” Ia tersenyum. Hanya ada hal yang terganjal di benak ku.. Lanjutnya dalam hati. “Oemma tidak jadi ke tempat Imo?”

Oemma Krystal memandang anaknya ragu, “Bagaimana episode Criminal Minds nya?” Tanyanya karena Krystal sedari tadi asyik menonton tv di kamar rumah sakitnya.

“Oh, Reid tetap yang paling ganteng…” Jawab Krystal memuji salah satu tokoh di film tersebut, Dokter Spencer Reid.

“Kau tahu jika Spencer Reid tidak ada di situ. Ia pergi mengunjungi Oemma nya…”

“Oh?” Krystal mengerjap bingung sebelum ia menjawab, “Oemma tahu jika tidak ada yang paling ganteng kecuali Reid bukan?”

Oemma Krystal menghela nafasnya. Ia mengeluarkan handphone-nya, “Oemma akan pergi ke rumah Imo besok saja.”

“Aku tidak apa-apa….” Kata Krystal dengan nada sungguh-sungguh. “Oemma tidak perlu ragu untuk meninggalkan ku…”

Cklek~

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

“Luhan!” Sapa Krystal dengan ceria. Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum.

Luhan membalas lambaian tangan Krystal dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kiri memegang bunga. Kemudian matanya menatap Oemma Krystal, “Ah, Anyeonghaseyo bibi…”

Ibu Krystal ikut tersenyum, “Hai Luhan…. Kau sangat rapih hari ini… Habis dari kampus?”

Luhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia berpakaian rapih ini hanya untuk bertemu Krystal sebenarnya. Juga, ia masih dalam penyembuhan tipes.

“Kau sudah pergi ke kampus? Bukannya kau masih dalam masa penyembuhan? Bagaimana jika kau sakit lagi?” Krystal menatap Luhan dengan mata menyipit.

“Aku baru saja dari dokter ku. Sebelum kesini aku membelikan bunga angrek untuk Krystal.” Elak Luhan.

“Angrek?” Tangan Oemma Krystal terulur ke angrek Luhan. Angrek yang Luhan bawa bewarna ungu, “Sangat indah bukan?”

“Dalam filosofi China angrek artinya ‘Semoga cepat sembuh.’” Seru Luhan sambil tersenyum. Ia berdehem, menghilangkan kegugupannya.

“Sangat indah…” Komentar Oemma Krystal. Ia pun masih asyik memandangi anggrek pemberian Luhan yang sekarang ia taruh di meja dekat kaca.

Hening sejenak, jujur Luhan bukan orang yang bisa memulai percakapan dengan orang baru dan di ruangan ini adalah ibunya Krystal.

“Luhan,” Seru Oemma Krystal tiba-tiba, “Bisakah kamu menjaga Krystal sebentar? Bibi ingin pergi sebentar saja. Sekitar satu jam.”

“Tentu.” Jawab Luhan tanpa berpikir dua kali. Sebuah kesempatan yang tidak akan ia sia-siakan. Dengan ini dia dapat leluasa berbicara dengan Krystal. Termasuk mengutarakan perasaanya.

Oemma Krystal kembali tersenyum lebar. Ia mengambil tasnya dan berjalan ke arah Krystal, “Oemma pergi dulu ya… Tidak akan lama. Oemma janji.” Ibunya kemudian mengecup kedua pipi Krystal. Tak lupa mengucapkan terimakasih ke Luhan sebelum pergi dari kamar.

Terdengar helaan nafas dari Krystal, “Akhirnya…. Aku bosan disini! Aku juga tidak mengerti kenapa aku disini. Ku rasa aku baik-baik saja!” Cerocosnya kemudian ia mengerjapkan matanya. Pipinya merona, “Hey, duduklah… Aku lupa menyuruh mu duduk. Kau masih berdiri tepat di tempat dirimu masuk.”

Luhan terkekeh melihat raut wajah Krystal. Ia menurut dan duduk di sofa yang letaknya tepat di ranjang Krystal.

“Bagaimana denganmu? Bukannya kau seharusnya lebih membutuhkan istirahat daripada ku?” Lanjut Krystal lagi.

Gadis itu tidak terlihat sakit sama sekali jika dilihat dari rupanya yang tidak pucat dan suaranya yang riang. “Tubuhku sudah lumayan sekarang. Tubuhmu lebih membutuhkan istirahat sepertinya. Kau mengalami shock kau tahu itu?”

Tatapan Krystal tiba-tiba meredup. “Ah, jadi kau tahu itu…” Itu menunjukan tentang kasus hilang ingatannya akibat kejadian ia meloncat dari sekolahnya.

“Aku…” Suara Luhan berubah panik.

“Tidak apa-apa.” Potong Krystal. Ia kemudian tersenyum walau menurut Luhan ia tetap terlihat sedih, “Itu terlalu memalukan bagiku sampai aku bingung bagaimana mengatakannya kepada mu. Aku selalu terlihat ceria ketika dulu dan aku ingin kau melihatku dengan cara itu.”

“Mungkin tidak seperti itu. Ketika aku datang aku tidak memikirkan adanya perubahan. Aku masuk dan bertindak seperti biasanya. Seperti dulu. Dan kau sebagai sahabatku tidak ingin menyakitiku sehingga seperti itu—“

“Tidak Luhan.” Potong Krystal lagi. “Aku membenci bagian dari masa itu. Makanya aku tidak ingin memberi tahu hal itu kepada siapa-siapa. Kau adalah orang dari masa yang paling membahagiakan dari ku dan aku tidak ingin menghancurkan masa-masa itu. Sejujurnya, Sehun bukan bagian dari itu. Aku dan Sehun terlibat sesuatu sehingga kami memutuskan komunikasi. Kedatanganmu membuat kami kembali bersatu dan sejujurnya aku senang akan hal itu. Karena kalian sahabat ku…”

Luhan tergugu sejenak mendengar penjelasan Krystal. Nafasnya memberat. Kata-kata Krystal hampir sama seperti kata-kata Sehun. Dia jadi semakin tambah salah. Segitu dia tidak peka terhadap sahabatnya?

“Luhan….” Suara lembut Krystal kembali menyadarkan Luhan. Ia mengeluarkan senyumannya lagi. Tapi kali ini terlihat tulus, “Jangan terlalu dipikirkan kata-kata ku. Kau adalah sahabat yang baik.”

“Kalau aku melebihi sahabat boleh tidak?” Tanya Luhan tiba-tiba. “Maksudku menjadi pacar mu?”

Kali ini Krystal yang terdiam. Jadi benar selama ini Luhan menyukainya? Dia melihatnya dengan jelas dan semua orang melihatnya dengan jelas. Entah mengapa hatinya tidak ingin Luhan mengatakannya. Dan dia tidak tahu alasannya.

Luhan kembali berbicara, “Aku menyukai mu dari dulu. Jika ingin jujur, aku menyukai mu sejak SD. Ketika Sehun mengenalkan dirimu padaku aku biasa saja. Tiba-tiba perasaanku kepada muncul saja. Tanpa alasan yang jelas. Aku telah jatuh cinta kepada mu. Dilain sisi aku juga tidak ingin menghancurkan persahabatan kita sehingga aku berjanji akan memberitahu mu ketika perasaan ku tidak berubah ketika dewasa. Dan perasaan ku tidak berubah ketika dewasa.” Luhan berhenti sejenak, “Maukah kau menjadi pacar ku?”

Luhan menyukainya sedari dulu? Kenapa dia tidak menyadarinya sedari dulu? Apakah dia terlalu buta karena Sehun sehingga dia tidak melihat Luhan? Kalau dipikir-pikir, alasan Luhan tidak mengungkapkan perasaannya dulu juga sama seperti dia tidak mengungkapkannya kepada Sehun. Dia hanya ingin dia yakin sebelum ia memberi tahu Sehun tentang hal itu.

Setidaknya ia yakin pada satu hal sekarang. Sehun tidak menyukainya dan kemungkinan ia bersama dengan Sehun juga kecil. Laki-laki itu akan terus menolaknya dengan alasan yang tidak akan Krystal ketahui sampai entah kapan. Sejujurnya, kenapa dia harus menunggu yang tidak pasti sedangkan yang pasti ada? Sudah seharusnya bukan ia menutup segala hal yang berhubungan dengan Sehun? Apalagi dengan ia mengingat semuanya, itu sudah sangat jelas.

Krystal menatap Luhan, “Ya, aku mau.”

.

.

.

.

.

Chanyeol mengerjap-ngerjapkan matanya ketika mendapati benda yang di lempar dari Sehun. “Bunga?!”   Tanyanya dengan alis berkerut.

“Kau sakit bukan?” Kata Sehun acuh tak acuh kemudian segera merebahkan dirinya ke kasur Chanyeol.

“Cih, Apa-apaan itu?!” Chanyeol dengan asal melemparkan bunga pemberian Sehun ke lantai. Ia juga merebahkan dirinya lagi ke kasur. Tak lama kemudian matanya menatap Sehun tajam, “Apa maksudmu dengan aku sakit?”

“Sakit hati…” Balas Sehun sambil menerawang ke atas.

Chanyeol berdecak, “Bisakah kau tidak membahas hal itu?!” Ia kemudian menghela nafasnya.

“Jangan menjadi pengecut. Minta maaflah karena dirimu masih ada kesempatan.” Kata Sehun lagi dengan masih dengan tidak melihat Chanyeol.

Chanyeol mendengus, “Bagaimana bisa aku meminta maaf kalau ia tidak mengangkat teleponku? Atau kabur setiap kali aku ingin bertemu dengannya?” Chanyeol mengerang frustasi, “Itu sebenarnya hanya masalah kecil Oh Sehun. Aku tidak mengangkat teleponnya dua kali karena saat itu sedang di ruangan Professor Jung. Bagaimana bisa aku mengalihkan fokusku dari dosen galak itu?! Bisa-bisa skripsi ku tidak diterima olehnya dan harus mengulang lagi tahun depan. Seperti yang Junmyeon alami. Tapi dia berteriak marah-marah dan itu membuatku bingung. Tidak biasanya dia seperti itu. Ini pertama kalinya dia seperti itu.”

“Mungkin ada suatu hal yang membuatnya seperti itu. Seperti dia sedang mengalami hal yang buruk. Habis dimarahi oleh dokternya. Atau tersinggung oleh kalimat mu.”

Chanyeol terkesiap. “Tersinggung…..” Ia terlihat berpikir. “Aku hanya mengatakan jika waktu itu aku sedang menghadap Professor Jung. Tiba-tiba ia marah-marah. Sudah kubilang, itu bukan sangat dirinya.”

“Dan ini bukan sangat dirimu Park Chanyeol. Kau sangat pesimis. Ini baru dua hari kau mencoba meminta maaf dengan Sulli dan kau sudah menyerah sekarang? Ayolah…. Kau bisa lebih baik daripada itu.”
“Aku memberikan ia waktu agar ia agak tenangan. Baru aku muncul lagi. Lagipula kesempatan esok atau lusa pasti ada.”

Sehun mengubah posisinya menjadi duduk. Dia menatap gumpalan awan yang dihiasi keemasan matahari dari jendela kamar Chanyeol. “Tidak ada yang tahu mengenai kesempatan. Tidak ada jaminan kau yang mengenalnya sejak dulu bisa bersamanya. Karena kesempatan bukan di tentukan oleh itu. Bukan di tentukan oleh waktu dan tempat. Tapi kesempatan ada karena adanya sebuah usaha. Seseorang yang lebih cerdas bisa memiliki kesempatan lebih besar daripada yang mempunyai segalanya tapi tidak tahu menggunakannya. Itulah kesempatan.”

Chanyeol menatap Sehun dalam. Suara Sehun yang tidak ada main-mainnya, tegas membuat ia menyeringit. Apa yang terjadi dengan temannya?

“Hey, kau juga punya masalah? Kau bisa bercerita padaku kau tahu itu?”

Sehun kemudian berdiri. “Bukan masalah besar sebenarnya. Lupakanlah. Masalahnya sebentar lagi akan selesai.”

“Apa ini tentang Krystal? Kau kehilangan kesempatan dari Luhan?”

Sehun seperti tidak mendengarkan pertanyaan Chanyeol. Ia hanya diam dan memakai jaketnya. Bersiap-siap untuk pulang.

Sebelum membuka pintu Sehun pun berkata, “Pada akhirnya, bukan aku yang tidak ingin menjilat ludahku sendiri. Tapi memang sudah terlambat bahkan harus menjilat ludahku sendiri.”

Pintu berdebum dan Chanyeol kembali sendiri ke kamarnya. Tatapannya masih tetap berada di tempat Sehun sebelumnya. “Ck! Apaan sih… Aku tidak mengerti!”

Dengan malas ia bangun dan mengambil bunga pemberian Sehun. ‘Oh, ada kartu ucapan rupanya.’ Chanyeol segera membaca kartu itu dengan cepat dan secepat itu pula dia menggeram, “Sialan! Aku tahu dia tidak pernah niat datang kepadaku untuk mendengarkan curhatan ku!”

Ia kembali melempar bunga pemberian Sehun ke lantai.

“Untuk Krystal, ku harap kau cepat sembuh. -Oh Sehun-“

.TBC.

Haiiii….

Sebelumnya aku minta maaf karena lama banget updated-nya.  Ada beberapa hal yang buat aku lama updated yang salah satunya adalah karena aku baru naik ke kelas 12 dan rasanya 😫  Baru permulaan tapi udah ingin nangis.  Jadi karena aku udah mulai bimbel 5 hari dalam seminggu (😅)  pulang sekolah sekitar jam 4 dan lanjut bimbel, intinya sampe rumah jam 8, buat ngelanjutin cerita rasanya malas dan ngantuk.  Dua minggu ini aku berkutat di depan laptop yang unjung-unjungnya cuman nulis berapa baris.

Kemarin dapat feel lagi buat nulis…  doain aja ya dapat terus feel nya…

Have a nice day~ 😇☺️😊

Oh, ya,  State of Grace chapter 27 kalau gak besok lusa….😉

Flipped (Chapter 17)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Di luar Akal

Hanya satu dipikiran Luhan sekarang. Krystal. Krystal. Krystal. Gadis itu benar-benar membuatnya khawatir. Tadi pagi ia baik-baik saja. Entah mengapa, kemudian dia tidak sadarkan diri. Begitulah informasi yang Luhan dapat dari Sehun.

Luhan awalnya menelepon Sehun untuk menanyakan kabar Krystal. Tapi malah digemparkan karena hal itu.

“UKS! UKS! Aku ingin ke UKS!” Kata Luhan ke perempuan di depannya.

“Oh, UKS?” Tanya perempuan di depannya bingung.

Luhan mengerang. Apa perempuan tadi tidak dengar? Ia akhirnya mengangguk.
“Di gedung itu lantai tiga…” Tunjuk perempuan tersebut ke sebuah gedung di samping kanan Luhan.

“Terimakasih!” Luhanpun segera berlari menuju gedung itu.   Bergerak cepat ke lantai tiga.

Dan….

Kosong…

Hanya ada satu perempuan yang tidak Luhan kenal. Dia terlihat panik sekali.

“Maaf….” Ucap Luhan memecah keheningan.

Perempuan tersebut yang tadi menatap jendela terlonjak kaget. Segera menoleh.

“Aku mencari Krystal Jung…” Kata Luhan lagi.

“Aku juga!!!” Teriak perempuan itu panik. “Tadi dia di sini. Sekarang menghilang! Benar-benar menghilang!”

“Apa?”

“Astaga! Aku harus mencari dia sebelum melakukan hal-hal aneh!”

“Apa maksudmu?”
“Kau tidak tahu? Krystal punya riwayat bunuh diri!” Seru perempuan itu histeris. “Astaga bagaimana jika sekarang dia ada di atap?! Aku harus ke atap sekarang juga!” Lanjutnya lagi.

Tangan Luhan menahan perempuan tersebut keluar, “Biar aku saja! Kau umumkan pencarian Krystal!”

Perempuan tersebut akhirnya mengangguk. Mereka berpisah. Perempuan itu ke bawah. Luhan ke atas, menuju atap.

Pikirannya sekarang terbebani satu hal lagi. Krystal punya riwayat bunuh diri? Tapi gadis itu terlihat baik-baik saja. Bahagia tanpa ada masalah apa-apa.

“Hosh… Hosh… Hosh…” Nafas Luhan tercekat ketika ia sampai di lantai atas. Masih lelah tetapi ia memaksakan diri berjalan lagi. Tangannya terulur ke pintu. Dia akan membuka pintu itu.

Deg!

Gerakan tangan Luhan terhenti. Pintu itu memiliki kaca kecil. Luhan dapat melihat dengan jelas jika Krystal dan Sehun berpelukan. Cengkraman tangannya mengencang. Krystal sesenggukan di pelukan Sehun. Sehun memeluk Krystal dengan mata terpejam.

Tidak tahu salah atau benar, Luhan benar-benar merasa cemburu akan hal itu. Ia menahan nafasnya. Ia harus menahan diri agar tidak membuka pintu dan menunjukan kecemburannya. Luhan tetap di pintu menunggu kadar kecemburuannya turun. Dia melihat Krystal dan Sehun. Entah berapa lama. Sampai isakan Krystal mengecil.

Sehun menunduk, berbicara sesuatu ke Krystal. Krystal sejenak menatap Sehun sebelum mengangguk. Dan mereka akhirnya berbalik, berjalan menuju pintu.

Luhan memutuskan untuk keluar.

“Luhan?” Ucap Sehun ketika menemukan Luhan tiba-tiba berada di situ.

Luhan menutup pintu. Memaksakan muka ceria, “Hey, aku mencari kalian dari tadi! Kalian tidak tahu berapa banyak tangga yang ku naiki agar sampai disini?” Kata Luhan dengan nadanya yang paling ia buat santai.

“Kau berhasil masuk rupanya…” Komentar Sehun.

Luhan menyunggingkan senyumnya, “Kau meragukan ku bukan?”

“Aku ingin pulang!” Seru Krystal tiba-tiba.

“Kau harus ke dokter terlebih dahulu… Memeriksa keadaan mu.” Balas Sehun membuat Luhan semakin tertegun.

Jadi Sehun mengetahuinya? Kenapa ia tidak bilang apa-apa? Dia merasa seperti yang paling bodoh di sini.

Luhan akhirnya membuka suaranya, “Biar aku temani dirimu ke dokter.”

“Bukannya kau harus istirahat?” Tanya Sehun tiba-tiba.

Luhan mendengus. Kenapa juga harus di ingatkan pada hal itu?

“Aku bisa menemaninya. Sakit ku tidak akan parah.” Kata Luhan masih bersikeras. “Kau akan ku temani ke dokter.” Lanjut Luhan ke Krystal.

“Ayo!”

Luhan diam sesaat mendengar jawaban Krystal.

“Kau bilang kau ingin menemani ku ke dokter bukan?” Krystal menoleh ke Luhan yang diam saja.
Luhan cepat-cepat mengangguk, “Baiklah tapi ada orang yang mencari mu tadi! Kurasa—“

“Biar aku saja yang mengurusnya. Kau pergi menemani Krystal.” Potong Sehun.

Luhan mengangguk. Ia dan Krystal akhirnya menjauh dari Sehun.

.

.

.

.

.

Cklek~

Pintu ruangan terbuka. Dokter Kim masuk dengan senyuman khasnya. Terlihat sangat gembira.

“Keadaan alat vital mu baik-baik saja.” Jelas Dokter Kim sambil melihat-lihat kertas yang dipegangnya. “Kau bilang kau pingsan tadi?”

Krystal mengangguk, “Ya. Ketika aku mengingat semuanya.”

“Itu hal lumrah. Tubuh anda mengalami shock sehingga Anda pingsan. Berapa lama Anda pingsan?”

“Entahlah. Satu jam mungkin?”

“Mengesankan!”

“Mengesankan?!”

Dokter Kim tersenyum ke Krystal, “Biasanya orang-orang akan pingsan selama berhari-hari. Itu mengesankan Krystal Jung. Apalagi alat vital mu baik-baik saja…”

Krystal menghela nafasnya, “Jadi aku boleh pulang?”

Dokter Kim menggeleng, “Tidak!”

“Tidak?!”

“Aku ingin melihat keadaan mu sampai tiga hari kedepan. Aku tidak ingin kau jatuh pingsan lagi secara tiba-tiba.”

“Aku tidak mau!”

“Krystal… Kau harus mengerti… Tubuhmu pasti masih bingung sekarang. Kau mengingat hal yang tidak ingin kau ingat. Apa kau lupa apa perkataan mu? Kau mengalami Repressed Memory. Amnesia karena tubuh mu tidak ingin mengingat hal itu dan sekarang kau mengingatnya! Kau tidak baik-baik saja! Hanya tiga hari dan sehabis itu kau boleh pulang!”

Krystal menghela nafasnya, lagi, “Baiklah…”

“Bagus!” Seru Dokter Kim. “Orangtua mu sudah menunggu di luar. Sebaiknya kau menjenguk mereka dulu!”

Krystal tersentak. Orangtuanya? Rasanya ia tidak ada menelepon orangtuanya tadi.

“Mereka?” Tanyanya memastikan.

Dokter Kim menoleh, “Iya. Mereka terlihat begitu khawatir tetapi juga senang.” Kemudian keluar dari ruangan.

Krystal menoleh ke arah pintu. Ia akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Dokter Kim.
“Krystal kau membuat kami khawatir!” Cecar ibunya dan langsung memeluk Krystal.

“Oemma…” Krystal membalas pelukan ibunya.

Ibu Krystal melepaskan pelukannya, “Kau kenapa tidak menghubungi kami tadi?! Untung saja Sehun menelepon kami!”

Sehun?!

.

.

.

.

.

Suasana hati Luhan sama sekali tidak membaik. Dia masih dipenuhi dengan perasaan cemburu. Apalagi ketika orangtua Krystal datang karena Sehun menelepon mereka. Bodoh juga karena ia tidak mengingat hal itu, menelepon orangtua Krystal. Tapi ia benar-benar sedang cemburu ke Sehun.

“Aku tidak ingin mengkhawatirkan kalian!” Kata Krystal menjawab pertanyaan ibunya. “Lagipula keadaanku tidak apa-apa.”

“Luhan terimakasih telah mengantarkan Krystal!”

Luhan terkejut setengah mati mendengar ayah Krystal berbicara.

“Tidak apa-apa Samchon. Aku dengan senang hati melakukannya.”

“Kau benar-benar teman yang baik!”

Luhan tersenyum menanggapi perkataan ayahnya Krystal.

“Ku dengar dari Krystal kau sedang sakit. Sebaiknya kau pulang Luhan!” Kata ayah Krystal lagi.

Luhan mengangguk tak ingin membantah. Pastinya dengan ada orangtua Krystal keadaan Krystal baik-baik saja. Jadi, Luhan dapat mengurus hal lain. Termasuk menanyakan tentang hal-hal yang ia tidak ketahui mengenai Krystal ke Sehun.

.

.

.

.

.

Suara dentingan pintu menyebabkan Luhan menoleh. Ia mengangkat tangannya sebagai tanda agar Sehun datang kepadanya.

“Aku terlambat?” Tanya Sehun ketika duduk.

“Aku yang terlalu cepat.” Jawab Luhan pendek. “Ngomong-ngomong, kau tidak ingin memesan terlebih dahulu?”

Sehun menggeleng, “Aku tahu kenapa kau memanggil diriku disini. Jujur, aku sangat lelah. Jadi aku tidak ingin berlama-lama disini.”

“Kenapa?” Tanya Luhan menatap Sehun.
Sehun menghela nafasnya, “Kenapa aku tidak memberi tahu mu tentang Krystal?”

Luhan mengangguk, “Kau harus tahu aku seperti orang bodoh tadi!”

“Kau harus tahu banyak yang terjadi ketika dirimu pergi.” Sehun mengangkat tangannya ketika Luhan ingin berbicara, “Tunggu. Jangan bantah aku dulu. Banyak hal terjadi. Termasuk kepada Krystal dan aku.”

“Tapi Krystal mencoba untuk bunuh diri sebanyak dua kali. Kau seharusnya memberi tahu kepada ku!”
“Kenapa aku harus memberi tahu kepada mu?” Sehun mendesah. “Kau ingin aku jujur?”

Luhan terdiam.

“Baiklah. Aku dan Krystal tidak pernah berhubungan selama dua tahun. Kami berhubungan kembali sejak kau datang. Gadis itu terlihat baik-baik saja. Tidak ada masalah. Jadi, apakah aku harus mengatakan kepada mu? Di saat aku dan dia harus bertingkah baik-baik saja di hadapan mu?”

Sehun kembali berbicara, “Lagipula jika aku mengatakan sebenarnya kepadamu, tentang hal ini, kau akan percaya kepadaku?

“Kau seharusnya tetap memberi tahu ku!” Luhan tetap bersikeras.

“Apa yang terjadi pada mu?!” Sehun berteriak frustasi.

“Yang terjadi pada ku?!” Balas Luhan sambil berteriak. Beberapa pelanggan melihat ke arah mereka. “Aku frustasi Sehun. Aku sendiri yang tidak tahu apa-apa tadi! Kau tahu! Sedangkan aku hanya diam mengikuti alur!”

Terdengar dengusan, “Kau cemburu dengan ku?” Tanya Sehun tajam. Wajahnya memerah menahan amarah. Terdengar gertakan giginya. “Bagaimana bisa?”

Luhan seketika memandang Sehun bingung.

“Bagaimana bisa kau cemburu pada ku? Apa belum cukup?”

“Belum cukup?”

“Iya!! Belum cukup!!” Teriak Sehun kepada Luhan. “Apa belum cukup? Kau pernah tidak menghargai ku Luhan? Sebaiknya mulai sekarang kau harus. Kau bisa saja sekarang berjalan di belakang ku dan Krystal sedangkan aku disampingnya. Tapi lihat!! Kau berada di sampingnya dan aku berada di belakangnya!”

Setelah itu, Sehun segera meninggalkan Luhan yang terdiam cukup lama. Luhan memandang kepergian Sehun. Astaga! Apa yang baru ia lakukan kepada sahabatnya Oh Sehun?!

.

.

.

.

.

Sehun mengerang frustasi. Matanya yang ia coba ia pejamkan tidak bisa terpejam secara sempurna. Ia bangkit dari tempat tidurnya, mengambil hp, dan melihat jam. Astaga…. Masih jam satu! Ini semua karena ia tertidur sangat cepat. Jam lima sore. Mungkin karena rasa lelah akibat hari ini. Salah, hari kemarin! Intinya, ia tertidur begitu ia menghempaskan tubuhnya di kasur, tentunya setelah berganti pakaian.

Dahinya berkerut ketika ia juga menemukan missed call dari Luhan. Luhan ternyata mencoba menghubunginya dari pukul enam sore sampai… Lima menit yang lalu?!

Ting!

Sehun tersentak ketika handphone-nya berdenting.

From: Luhan

            Sudah tidur?!

Untuk kedua kalinya, handphone berdenting.

            From: Luhan

            Jika belum aku telepon lagi..

Dan benar, Luhan kembali meneleponnya.

“Belum tidur?” Kata Luhan ketika Sehun mengangkatnya.

Sudah. Sudah bangun malah. Kau bukan yang belum tidur?” Sehun kembali merentangkan tubuhnya di kasur.

Belum…” Jawab Luhan jujur. “Aku memikirkan kata-kata mu…”

Sehun menghela nafas. “Kau tahu aku tidak bersungguh-sungguh.”

“Aku juga maksud ku…” Luhan terdiam sejenak, “Aku menganggap mu sahabat bukan bahkan melebihi itu. Aku sangat mempercayai mu. Aku hanya cemburu. Kelewat cemburu. Juga tidak berpikir jernih.”

“Aku tahu.”

“Maka dari itu aku ingin meminta maaf…”

“Kau tidak perlu meminta maaf.”

“Tapi kau terlihat sangat tersinggung ketika aku bilang aku cemburu kepada mu. Ketika kau mengutarakan alasan mu kau benar Sehun.”

“Luhan…” Sehun berusaha menghentikan omongan Luhan. Ia memejamkan matanya, “Aku juga minta maaf.”

“Kau tidak perlu melakukannya. Karena jujur, kau tidak pernah melakukan kesalahan.”

Sehun menarik sudut bibirnya. Tidak pernah melakukan kesalahan? Justru ia rasa ia tidak pernah melakukan hal yang benar.

Hening beberapa saat.

“Aku juga ingin memberi tahu mu sesuatu….” Kata Luhan tiba-tiba. “Karena kau sahabat ku,” Katanya lagi, “Aku ingin memberi tahu jika aku akan menyatakan perasaan ku pada Krystal secepatnya. Mungkin lusa? Atau besok?”

Sehun tiba-tiba mencengkram handphone-nya, “Kau yakin?”

“Aku yakin!”

Terdiam beberapa saat, Sehun berdehem, “Wow, aku senang mendengarnya…” Ujarnya dengan datar. “Aku mendoakan yang terbaik kau tahu?”

.TBC.

A/N:

Cerita apa ini….  🙈  Saya akhir-akhir ini sedikit bermasalah sama ide cerita di semua ff… Saya akan bersemedi sebentar untuk menemukan ide ☺️😇

Flipped (Chapter 16)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Kenangan dan Ingatan Masa Lalu

Dia tidak pernah merasakan seputus asa ini. Semuanya.

Dia pikir dia bisa mengatasi semuanya. Tetapi seharusnya ia tahu. Ia bahkan tidak bisa mengatasi hal yang terjadi sekarang. Apalagi hal-hal yang berkaitan dengan masa lalunya yang terbungkus rapi.

Ingatan mu adalah pertahanan dirimu. Jika itu hancur maka kau juga akan hancur! Disinilah dia sekarang. Kembali lagi ke titik awal kehancurannya. Ia, benar-benar akan hancur.

“Krystal tunggu!”

Selamat tinggal dunia!

***

Krystal sampai di tempat reunian sedikit terlambat. Dia men-silent hp-nya karena Sooyoung, sahabatnya, tadi meneleponnya di jalan. Tepat pukul 12 siang, waktu acara reunian dimulai. Karena kesal, Krystal langsung menolak telepon Sooyoung dan segera men-silent handphone-nya.

“Krystal Jung!” Seru seseorang yang sangat Krystal kenal.

“Aku datang. Kau puas?!” Seru Krystal ketika Sooyoung tepat berada di depannya.

Sooyoung terbelak kaget, “Ya ampun…. Kau baru datang sudah sangat sewot! Ini banyak kakak kelas. Jaga sikap mu… Bagaimana jika—“

Krystal memutar bola matanya. Malas mendengar rentetan omongan Sooyoung, “Aku mengerti. Tapi dirimu tidak perlu seperti tadi pagi. Mengesalkan!” Potong Krystal seenak jidat.

Sooyoung memberengut, “Kau kan pemalas. Aku hanya memastikan!”

“Apa kau bilang?” Delik Krystal marah.

“Selamat menikmati acara Krystal Jung!” Sooyoung kembali ceria dan kabur dari Krystal. Sebelum sahabatnya mencakar wajahnya yang cantik.

“Dia sahabtku atau bukan sih?” Keluh Krystal melihat kepergian Sooyoung.

“Krys….” Seseorang lagi-lagi memanggil Krystal.

Krystal menoleh ke belakang dan tersenyum lembut, “Sehun?!” Katanya sepertinya tidak menyangka dapat melihat Sehun disini.

“Ku lihat kau terlambat datang.” Sehun berjalan mendekati Krystal. Ia kemudian tersenyum kecil.

Krystal terkekeh, “Aku sedikit malas datang sebenarnya.”

“Tapi kau datang.” Kata Sehun santai.

Krystal mengangkat kedua bahunya, “Aku berjanji datang untuk mu. Tapi Sooyoung, sahabatku, mencecar jika aku harus datang dan itu sedikit membuatku kesal.”

Sehun mengangguk-anggukan kepalanya.

Kenapa masih canggung? Keluh Krystal dalam hati. Karena mereka baik-baik saja jika teleponan.

Tepat pada saat itu, segerombolan orang datang berjalan melewati mereka. Dari arahnya, mereka baru saja dari aula sekolah dan sepertinya akan menuju taman. Tapi mereka sedikit berhenti melihat Krystal dan Sehun berbicara.

Krystal tiba-tiba merasa hawa aneh. Ada apa sebenarnya? Jangan-jangan mereka teman-teman seangkatannya dan Sehun. Sekarang mereka sedang melihat Sehun dan Krystal berbicara karena pasti merasa aneh. Apalagi dengan latar belakang Krystal di bully.

Sehun sepertinya menyadari tatapan mereka, karena ia berkata, “Kurasa aku akan ke teman-teman ku. Sebaiknya kau juga ke teman-teman mu.”

Krystal menganggukan kepalanya. “Sampai jumpa lagi.”

Sehun menganggukan kepalanya juga, “Sampai jumpa lagi juga….”

.

.

.

.

.

Sehun tertawa lebar melihat Kai dan Kyungsoo berdebat. Sahabat tetapi selalu bertengkar.

“Baiklah, lanjutkan pertengkaran kalian. Aku ingin mengambil minuman lagi.” Seru Sehun dan bangkit dari tempat duduknya.

Ia berjalan melinatasi taman sekolah. Banyak yang menyapanya. Rata-rata adik kelas perempuan. Sehun membalasnya pendek, sekedar ramah-tamah saja.

“Sehun…”

Sehun menghentikan kegiatannya yang sedang ingin meminum soda. Sedetik lagi saja, soda ini pasti sudah mengalir ke tenggorokannya. Ia segera berbalik, “Suzy?” Tanyanya tidak percaya.

Suzy menganggukan kepalanya, “Sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?”

Sehun sebenarnya merasakan suasana canggung, “Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan dirimu? Ku dengar kau sekarang menjadi model.”

Suzy tertawa kecil, “Ya begitula. Aku memang menjadi model sekarang. Dan kau masuk ke teknik mesin?”

Sehun menganggukan kepalanya, “Berusaha menggapai cita-cita ku. Bagaimana dengan dirimu? Bukannya impian mu sekarang tercapai? Kau menjadi model?”

“Seperti yang kau lihat.” Ujar Suzy membanggakan dirinya. Sedetik kemudian Suzy tertawa kecil.

Sehun ikut terkekeh melihatnya.

AAAAAHHH~

Sehun dan Suzy langsung menoleh ke asal suara teriakan.

“Seseorang tolong teman ku!” Teriak wanita berambut pendek. Temannya sedang terduduk dan menunduk dan terlihat tidak berdaya. Ia terus memegangi kepalanya yang sangat sakit.

“Krystal?!” Seru Sehun tanpa sadar. Astaga! Itu memang Krystal Jung! Langsung saja Sehun berlari ke arah Krystal. “Krystal!” Seru Sehun mensejajarkan dirinya dengan Krystal. “Krystal Jung!” Panggil Sehun panik karena Krystal terus menunduk dan merintih kesakitan.

Krystal merintih berusaha mengangkat kepalanya, “Argh!” Rintih Krystal ketika melihat cahaya yang sangat terang.

“Krystal!” Teriak Sehun panik karena tiba-tiba Krystal jatuh ke belakang.

.

.

.

.

.

“Kau sudah sadar? Astaga! Kau membuat panik seluruh sekolah kau tahu?” Sooyoung berjingkat-jingkat kegirangan dan memeluk Krystal.

Krystal hanya menatap Sooyoung datar.

“Tunggu sebentar. Aku akan memanggil Sehun sunbaenim. Tadi aku berjanji kepadanya agar segera memberi tahunya jika kau sudah sadar. Tungg sebentar dan jangan kemana-kemana.” Kata Sooyoung panjang lebar dan tanpa jeda nafas. Ia segera berlari keluar dari UKS.

Krystal memandang sekeliling UKS dengan tatapan datar. Hanya ada dirinya disini, sendiri.

Tes!

Tes!

Air matanya tiba-tiba turun. Bagaimana ini? Kenapa semuanya jadi seperti ini? Krystal cepat-cepat turun dari ranjang.   Ia segera keluar dari UKS.

Ia lelah dengan semuanya. Kenapa dia harus hidup? Kenapa dia harus selamat dan tidak mati saja waktu itu? Kenapa dia tidak melupakan segala hal dalam hidupnya ketika tersadar? Kenapa dia hanya melupakan hal menyakitkan dan mengingat hal yang membahagiakan?   Kenapa yang dulu tidak sama seperti sekarang? Kenapa dia tidak mengerti semuanya? Kenapa?

Hushh…

Hembusan angin menerpa rambut panjang Krystal. Ia melihat ke bawah. Disinilah dia sekarang. Kembali lagi ke titik awal kehancurannya.

.

.

.

.

.

Sehun sebenarnya tidak ingin meninggalkan Krystal. Tapi karena Luhan tadi meneleponnya dan rasanya ia harus berteriak-teriak agar Luhan mengerti, Sehun akhirnya meninggalkan ruangan UKS.

“Sunbae! Sunbae!”

Siapa lagi yang berteriak-teriak? Umpat Sehun dalam hati.

“Oh Sehun sunbaenim!”

Sehun langsung menoleh dan mendapati teman Krystal mengatur nafasnya, “Krystal… Krystal…” Ia masih berusaha mengatur nafasnya, “Krystal sudah sadar!” Serunya dengan nada gembira yang membuat Sehun terlonjak kaget karena sangking melengking suaranya.

“Oh, baiklah. Terimakasih telah memberi tahuku…”

Sooyoung mengangguk mantap. “Aku permisi dulu sunbaenim…”

Sehun membalas sapa Sooyoung.

Drrt.. Drrt…

Sehun melihat sejenak dan menganggkat dengan malas, “Apa?”

“Aku akan kesana. Apapun yang terjadi!” Seru Luhan tidak sabaran. “Aku ingin melihat Krystal baik-baik saja atau tidak. Bagaimanapun aku ini calon dokter…”

Sehun menerawang ke atas, ke arah langit yang sejuk. Tertutupi awan tetapi tidak juga mendung. Sangat pas untuk kegiatan outdoor. “Kalau kau bisa masuk kesini silahkan saja. Sudah kubilang aku akan memastikan Krystal baik-baik saja atau tidak. Kenapa kau tidak percaya kepadaku?”

“Bukannya tidak percaya. Tapi aku—“

Sehun kembali menghela nafas.

Deg!

Itu… Kalau tidak salah…. Tangan Sehun mencengkram handphone dengan erat. Oh, jangan lagi…

“Terserah dirimu saja!” Seru Sehun panik dan segera mematikan telepon. Ia segera berlari.

“Krys!” Serunya ketika sampai di UKS. Krystal tidak ada di situ. Gadis itu menghilang. Berarti…. Berarti yang tadi ia lihat di atap gedung adalah….

Sehun segera berlari menuju atap gedung.

“Krystal Jung!” Seru Sehun ketika melihat Krystal Jung semakin dekat ke ujung. Hanya beberapa langkah lagi, Krystal pasti akan jatuh.

Krystal sendiri sama sekali tidak menoleh dan semakin mendekat.

.

.

.

.

.

Hugh~

Krystal membuka matanya.   Ia masih di atap. Ia tidak jatuh.

“Krystal Jung! Apa yang ingin kau lakukan?!” Geram Sehun dengan suara sangat marah.

Krystal menoleh,

Plak!

Tangannya dengan cepat menampar Sehun. “Kenapa? Kenapa kau tidak membiarkan aku tidak mati saja? Kenapa? Hanya satu langkah lagi dan semua penderitaan ku akan hilang. Kenapa?”

“Krys…” Gumam Sehun tidak percaya melihat tingkah laku Krystal. “Ada apa? Kenapa tiba-tiba kau seperti ini?” Tanyanya dengan nada tertahan. Berusaha agar semuanya terkontrol.

Tes!

Tes!
Air mata Krystal mengalir dengan deras, “Aku tidak mengerti semua ini! Kenapa aku bisa selamat?! Kenapa kita bisa kembali lagi bersatu?! Kenapa?!”

“Krys…” Hanya itu respon yang bisa Sehun katakan akibat kebingungannya.

“Ku kira, dengan semua hal yang ku lakukan aku akan mati! Memotong urat nadiku sebelum loncat. Tapi kenapa? Kenapa aku harus selamat? Kenapa ketika aku selamat aku masih harus mengingat mu, walaupun tidak semuanya? Kenapa ketika selamat juga kau masih dingin kepadaku, walau tidak seperti dulu lagi?” Lanjut Krystla dengan cepat di tengah tangisannya.

“Kau…” Sehun terdiam beberapa saat. “Kau sudah ingat semuanya?”

Krystal tidak menjawab. Tetapi ia kembali berkata, “Aku tidak tahu harus sedih atau tidak. Apa aku harus senang karena kita jadi dekat lagi?   Atau aku harus sedih, karena dirimu tetap menghentikan perjodohan? Aku merasa begitu bingung dan tidak berdaya. Aku bahkan 2 kali mencoba bunuh diri karena dirimu. Karena rasa frustasi akibat dirimu. Kenapa?” Krystal berhenti sejenak. Mengatur nafasnya, “Kenapa aku masih mencintai mu? Ketika ingatanku hanya muncul sebagian. Ketika ingatanku kembali. Aku masih sangat mencintai mu….”

Sehun berusaha mengulurkan tangannya ke Krystal, “Krys, aku…”

Tak!

Krystal dengan cepat menangkis uluran tangan Sehun. “Sebenarnya aku bodoh atau apa? Lihatlah dirimu! Kau memutuskan perjodohan. Kau menjodohkan ku dengan Luhan. Kau sama sekali tidak mencintai ku! Sedikitpun!”

Sehun berusaha mengulurkan tangannya lagi. Krystal dengan cepat menghindar. Tetapi Sehun bergerak lebih cepat sehingga ia dapat menggapai tangan Krystal. Secepat kilat, Sehun menarik Krystal ke dalam pelukannya.

“Kenapa?” Tanya Krystal lagi putus asa. Tangisannya semakin membesar.

Sehun terdiam. Memejamkan matanya. Ia hanya diam memeluk Krystal sampai tangisan Krystal mengecil.

“Kita kembali ke bawah.” Putus Sehun ketika Krystal sudah agak tenang.

Krystal menatap Sehun sejenak. Melihat Sehun yang hanya diam dan tidak bergeming sedikitpun ketika ia menangis membuat Krystal menghela nafasnya. Sudah pasti Sehun memang tidak ada perasaan sedikitpun padanya kan? Akhirnya ia mengangguk.

“Luhan?” Ucap Sehun ketika menemukan Luhan tiba-tiba berada di situ.

Luhan terlihat baru menutup pintu. Kelihatannya ia baru sampai, “Hey, aku mencari kalian dari tadi! Kalian tidak tahu berapa banyak tangga yang ku naiki agar sampai disini?” Kata Luhan dengan nada santai. Sama sekali tidak tahu apa yang baru saja terjadi.

 

 

.TBC.

Flipped (Chapter 15)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Janggal

Tok! Tok! Tok!

Bocah busuk! Hey! Buka pintunya!” Chanyeol terlihat kesal menatap pintu kamar Sehun. Merasa kesal karena tidak diberi tanggapan, ia kembali mengetuk pintunya.

Cklek~

“Chanyeol-ah, ada apa?” Suara serak Luhan mengangetkan Chanyeol.

Luhan masih sakit. Sudah tiga hari ini dia tergeletak di kamarnya. Kemarin ia sudah pergi ke dokter dengan Krystal. Dia terkena penyakit tipes dan wajib berisitirahat selama dua pekan full.

Chanyeol tersenyum malu karena telah membangunkan Luhan, “Tidak apa-apa. Seperti biasa, hari ini Sehun yang bertugas membeli makanan. Tapi dia tidak bangun-bangun.”

“Mungkin dia sakit. Kemarin ketika aku baru pulang dari rumah sakit Sehun terlihat sangat lemas.”

Chanyeol akhirnya menghela nafasnya, “Mungkin saja. Baiklah aku akan membelikan makanan. Kau seperti biasa bukan?”

Luhan mendengus, “Aku hanya memakan bubur selama dua pekan tidak selamanya.”

Chanyeol terkekeh kecil, “Sampai dua pekan kedepan seperti biasa bukan?”

Luhan menganggukan kepalanya.

.

.

.

.

Sehun tidak tertidur. Ia memang di tempat tidur, tetapi dia hanya tidur-tiduran di atas tempat tidurnya. Sehun mendengar ketukan pintu, ia mendengar obrolan Chanyeol dan Luhan, intinya ia mendengar semuanya. Tetapi dia malas membuka pintu. Setelah kejadian empat hari lalu, dia selalu focus terhadap satu hal.

“Aku tidak yakin kau mengerti perasaanmu karena mengerti perasaan orang saja tidak!”

Sehun mendesis tajam. Sial! Dia tidak bisa menghilangkan nada suara Krystal dari pikirannya ketika mengatakan hal itu. Tajam dan begitu menusuk. Ekspresinya yang berapi-api juga selalu terpatri di benak Sehun.

Apakah ia tidak mengerti dirinya sendiri?

Sehun bertanya-tanya mulai dari saat itu. Apakah dia mengerti dirinya sendiri?

Entahlah.

Dia tinggal di sini karena malu kepada orangtuanya. Tetapi ia merindukan orangtuanya. Jauh dilubuk hatinya, ia ingin berbaikan dengan orangtuanya. Dia menjadi seperti dirinya sekarang juga karena kebodohannya sendiri.

Jadi, apakah dia mengerti dirinya sendiri?

Sehun memejamkan matanya.

Tidak!

Dia tidak mengerti dirinya sendiri. Krystal benar. Dia hanyalah orang bodoh dan egois. Sehun kembali menghela nafasnya. Sepertinya dia harus melakukan hal penting agar bisa mengerti dirinya sendiri. Atau ia akan terpuruk kedalam kegelapan semakin dalam.

.

.

.

.

.

Tok! Tok! Tok!

Krystal meringis ketika mendengar suara ketukan pintu. Ia meringis karena hari ini hari minggu. Jam juga masih menunjukan pukul 7 pagi dan seseorang sudah menganggu tidurnya.

Ck!

Krystal mendecakan lidahnya, “Tunggu!” Teriaknya dan segera bangkit.

Trek~
“Oemma?!”
Mata Krystal terbelak melihat orang di depannya.

Oemma tersenyum lembut ke Krystal, “Hai, Princess…”

Oemma?!” Kata Krystal lagi masih tidak percaya.

Nyonya Jung masih tersenyum lembut, “Bagaimana tidurmu? Bangunlah dan cepatlah siap-siap. Oemma sudah membuatkan mu sarapan. Oemma tunggu di ruang makan ya?” Tanpa menunggu jawaban Krystal, Nyonya Jung berbalik.

Krystal terdiam beberapa saat, Apa yang sedang terjadi?

.

.

.

.

.

“Krystal Jung!”

Krystal tersentak ketika Luhan memanggil namanya. Ia mengerjapkan matanya, tersadar dari lamunannya. Menoleh dan tersenyum, “Maaf aku melamun.”

Luhan menghela nafasnya, “Akhir-akhir ini kau sering melamun. Ada yang ingin kau ceritakan?”

Krystal menarik nafasnya. Cerita? Tentu ada. Dia sedang pusing dengan kehidupannya belakangan ini. Semuanya sempurna tetapi membingungkan. Entah mengapa orangtuanya menjadi baik kepadanya lagi. Secara tiba-tiba tanpa menjelaskan alasan yang jelas. Itulah yang membuat diri Krystal gusar.

“Krys…”

Suara rendah Luhan membuat Krystal kembali tersentak. Ia kembali mengerjap kemudian menggeleng lemah, “Kurasa semuanya baik-baik saja.” Kemudian ia tersenyum kecil. “Kemana Sehun? Aku tidak melihatnya beberapa hari ini?” Tanya Krystal kemudian berusaha untuk mengalihkan topic.

“Oh?!” Luhan menatap Krystal seakan baru ingat akan sesuatu. “Sehun?!”
Krystal menganggukan kepalanya.

“Sehun pindah! Astaga bagaimana aku lupa memberi tahu dirimu!” Luhan tiba-tiba heboh. “Dia kembali lagi ke rumahnya. Sudah lima hari ini.”

“Apa?!” Tanya Krystal terkejut. Sehun kembali lagi kerumahnya? Bagaimana bisa? Bukannya hubungan Sehun dan orangtuanya juga tidak baik? Jangan-jangan…
“Krys…”

Krystal menoleh ketika Luhan memanggil namanya, “Iya?”

“Apa kau yakin kau tidak apa-apa?” Luhan menatap Krystal lembut. Nada suaranya tidak ada paksaan sama sekali.

Krystal lagi-lagi menggeleng lemah, “Tenang saja. Bukan apa-apa.” Kemudian ia kembali berkata, “Ku rasa aku harus pulang sekarang. Kau tidak keberatan bukan?”

Luhan mengerjap bingung sebelum mengulas senyum, “Tentu tidak. Terimakasih telah menemani orang sakit di tengah dirimu yang sedang sibuk-sibuknya kuliah. Jangan lupa meneleponku ketika sampai rumah, Okay?”

.

.

.

.

.

Krystal meletakan tasnya sembarangan ketika ia sampai rumah. Segera saja, ia menghempaskan tubuhnya ke kasur.

Drrrt~

Hufh!

Krystal menghela nafas bersamaan hp-nya bergetar. Dengan malas, ia mencoba untuk bangkit dan mengambil handphone-nya.

“Kau sudah sampai di rumah?”

Krystal mengulas sebuah senyum ketika mendengar suara Luhan, “Baru saja.”

“Syukurlah kau baik-baik saja.”

“Aku hanya pulang ke rumah. Tidak akan terjadi hal yang mengerikan Xi Luhan…”

Terdengar kekehan dari Luhan. Ia geli ketika Krystal memanggil dirinya “Xi Luhan”. Panggilannya dulu berarti rusa kecil karena larinya yang sangat cepat, “Tidak ada yang tahu bukan? Lagipula, tidak apa-apa jika aku mengkhawatirkan mu bukan?”
“Eh?” Krystal mengerjap bingung. “Ak—“

“Ku tutup dulu! Selamat malam Krystal Jung!” Luhan segera memotong omongan Krystal dan memutuskan telepon secara sepihak.

Krystal kembali mengerjap bingung. Keheningan mendadak menyelimuti dirinya. Aneh. Akhir-akhir ini Luhan juga aneh. Dia seperti orang yang ragu. Terkadang mengeluarkan gombalan yang sangat manis untuk Krystal, tetapi langsung mundur ketika selesai mengatakan hal itu.

Krystal memandang hp-nya. Menyipit selanjutnya menggelengkan kepalanya dengan keras. Dia juga aneh kali ini. Apa-apaan?! Ia terpikir untuk menelepon Sehun demi menanyakan hal ini. Hal apakah Sehun berhubungan dengan membaiknya hubungan orangtuanya dengan Krystal. Karena, kalau dipikir-pikir, kembalinya Sehun kerumah hampir sama dengan berbaiknya hubungan orangtuanya dengan dia, selama empat hari.

Ah, masa bodoh!

Pikir Krystal dan mulai memencet nomor Sehun. Masa bodoh dengan semua keanehan yang menyeliputinya. Sekali Krystal sudah memikirkannya, jarang dia bisa mundur dari pemikiran itu.

“Anyeonghaseyo?”
Krystal langsung berdehem ketika mendengar suara Sehun, “Eh… Ini aku…” Katanya ragu-ragu.

Terdengar suara kekehan dari seberang, “Aku tahu ini dirimu Krystal Jung.”

Krystal menghembuskan nafasnya, “Maaf menganggu.” Kata Krystal pendek. Dia terdiam sejenak, masih bingung ingin berbicara apa.

“Ada apa?” Tanya Sehun karena Krystal terdiam selama 15 detik penuh.

“Ah…. Kau baik-baik saja?”

Sedetik setelah berkata itu Krystal langsung merutuki dirinya. Ya ampun…. Kenapa dia tidak bisa mengatakan secara langsung? Malah sekarang ia berputar-putar.

“Aku?” Terdengar nada suara bingung. “Tentu. Aku baik-baik saja.”

Krystal memaksakan tawa hambar, “Aku tidak melihat mu 5 hari ini di apartment. Luhan berkata jika kau kembali ke rumah mu. Maka dari itu aku menanyakan hal ini.”

“Oh…” Sehun hanya mengunggam. “Aku memang kembali ke rumah ku. Maaf tidak memberi tahu mu tentang hal itu.”

“Ah, tidak apa-apa. Lagipula, kenapa aku harus tahu?”

Sehun tertawa, “Kau benar.”

Entah mengapa, jawaban Sehun yang sangat jujur membuat Krystal mendengus, “Oh ya, aku boleh bertanya sesuatu kepada mu?” Tanya Krystal dengan suara yang kembali serius.

“Euhm, tentu.” Jawab Sehun cepat dengan nada santai.

“Kenapa…” Krystal terlihat ragu. “Jika boleh tahu, kenapa kau kembali ke rumah mu?”

“Itu…” Terdengar helaan nafas, “Akan ku kasih tahu. Tapi ini rahasia.”
“Eh?” Krystal mengerjap bingung. Jantung langsung berdetak lebih keras.

Appa sakit.” Jawab Sehun pendek dengan nada yang sangat serius. Appa terkena gejala stroke. Lumayan parah. Oemma memberi tahu hal ini dan berharap jika aku dan Appa kembali berbaikan.”

“Ketika Oemma mu datang ke apartment itu ya?” Pikiran Krystal kembali ke hari itu. Sekitar dua minggu yang lalu. Ketika ia mendengar suara lembut Yura. Ketika ia membentak Sehun.

Ya.” Jawab Sehun pendek.

Krystal menghela nafasnya, “Aku minta maaf.”

“Huh?” Nada suara Sehun berubah menjadi bingung. “Maaf ? Kenapa?”

“Karena membentak mu pada waktu itu. Juga karena memancing kemarahan mu. Kau benar, seharusnya aku tidak ikut campur dalam masalah itu.”

Terdengar helaan nafas dari Sehun. Tapi entah mengapa, Krystal senang mendengarnya, “Aku juga minta maaf karena tidak dapat menahan emosi ku.” Berhenti sejenak, “Dan kau tidak perlu minta maaf. Aku senang kau ikut campur karena aku tersadar karena itu. Jadi terimakasih.”

Deg!

Deg!

Deg!

Krystal merasa detakan jantungnya tidak terbendung lagi, “Aku senang jika aku membantu.” Katanya menjadi gugup. Krystal berdehem, “Ngomong-ngomong, ada hal lain yang ingin aku bicarakan.”

“Tentu tentang apa?”

Nada suara Sehun yang begitu santai membuat Krystal rilex, “Jangan mentertawakan aku.”
“Aku tidak akan mengetawai mu…” Tapi Krystal sendiri mendengar Sehun terkekeh.

“Ini tentang orangtua kita. Jadi, kau berbaikan dengan orangtua mu? Kau menceritakan sesuatu kepada orangtua mu?”

“Kenapa?” Sehun bertanya dengan nada yang berubah. Menjadi sedikit gugup.

“Karena entah mengapa orangtua ku menjadi lebih baik pada ku. Bukan! Hubungan ku menjadi kembali seperti semula dan aku bertanya-tanya akan hal itu.”

“Ah yang itu…”

Respon Sehun yang pendek membuat Krystal bertambah penasaran, Jadi….”

Aku mengatakan yang sejujurnya kepada orangtuaku. Mengenai masalah itu. Bahwa aku yang memang tidak ingin dan kau hanya mengikuti ku. Entahlah. Kurasa Oemma ku telah berbicara kepada Oemma mu…” Jelas Sehun pada akhirnya.

“Kau mengatakan yang sejujurnya?”

Sehun hanya mengunggam.

Krystal tersenyum, “Kau mengatakan yang sejujurnya?”

“Ck! Iya. Iya.”

Krystal terkekeh kecil mendengar suara sebal Sehun, “Terimakasih…” Ucap Krystal tulus. Dia bersyukur karena dia tidak harus berbohong kepada orangtuanya lagi.

Bagai pembuka jalan dari semua kedinginan mereka, Krystal dan Sehun akhirnya berbicara panjang pada malam itu. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun yang lalu. Semua jurang kecanggungan tertimbun dan sepertinya keadaan kembali seperti semula.

“Jadi bagaimana keadaan Luhan? Aku belum sempat menghubunginya sejak pindah.”

“Oh? Dia baik-baik saja. Sudah seperti biasa walaupun masih harus beristirahat. Malah akhir-akhir ini dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya yang datang ke apartment.”

“Dia itu cerdas atau bodoh? Jelas-jelas disuruh beristirahat….”

Krystal tertawa kecil, “Itu yang ku katakan padanya. Tapi ia bersikeras jika sakit bukan penghalang dalam mendapatkan nilai sempurna.”

Sehun berdehem, “Sekarang boleh aku bertanya?”

Krystal menganggukan kepalanya, “Tentu boleh.”

“Kau dan Luhan… Bagaimana?”

Mengerti arah bicara Sehun, Krystal menerawang langit-langit kamarnya, “Kenapa kau ingin tahu?”

“Kenapa kau tidak ingin aku tahu?”

“Karena…” Krystal terdiam. Menggigit bibirnya. Karena tidak terjadi apa-apa! “Itu rahasia. Aku tidak membicarakan masalah hati ke cowok. Aku membicarakannya ke cewek!”

“Aku mengerti. Tapi jika boleh aku berkata—“

Tidak! Aku tidak ingin mendengarnya! Krystal tahu apa yang akan Sehun katakan dan dia sangat berharap Sehun tidak mengatakannya. “Sehun—“

“Kau cocok dengan Luhan. Luhan sangat perhatian kepada mu. Aku yakin, dia akan melakukan apa saja untuk untuk mu dan segalanya agar bisa bersama mu.”

Suara Sehun membuat dada Krystal nyeri. Bukan suara menjengkelkan seperti yang lalu. Seperti perkataan yang berasal dari hatinya.

“Krys?” Sehun memanggil Krystal karena tidak ada tanggapan. “Kau tertidur?”

“Uhm!” Krystal menghela nafasnya, “Sudah larut malam.”
“Kau benar. Jangan lupa reuni SMA lusa!”

Krystal tersentak. Dia melupakan segalanya ketika Sehun membahas Luhan. Mereka baru saja membicarakan tentang reuni SMA 20 angkatan. “Oh tentu.   Kau akan datang bukan?”

“Ya. Aku akan datang.”

Setelah Sehun berkata seperti itu, Krystal memutuskan teleponnya. Dengan lusuh, ia meletakan handphone-nya. Krystal mendesah. Sebaiknya ia harus tidur.

.

.

.

.

.

.TBC.

Hullaaaa i’m back!!!  Waktu itu saya sendiri yang bilang mau hiatus sampai Julli awal tapi udah post di Juni awal…  Hehehe maafkan…  Saya baru updated Flipped Chapter 15 nih..  Gimana ceritanya?  Wkwkwk, ribet atau bolak-balik? Bagaimanapun sebentar lagi Flipped udah mau habis juga sama seperti State of Grace…  Mentok-mentok sampai 25 chapter..  Dan saya lagi ngembangin beberapa cerita baru salah satunya Wind of Change…  Castnya sama, masih Sestal.

Atau ada yang mau cast lain?  Komen aja dibawah ya….

Warm Regards

Allamanda Zahra

Flipped (Chapter 14)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Blam~


Sehun kembali menutup pintunya ketika Krystal sudah masuk.

“Luhan ada di kamarnya. Dia sakit.” Kata Sehun di dapur. Sepertinya ia sedang masak sesuatu. Aroma makanan yang lezat tercium memenuhi apartment.

Krystal menyusul Sehun ke dapur, “Aku sudah tahu.”

“Tentu.” Jawab Sehun pendek tapi masih sibuk berkutat dengan buburnya.

Krystal sedikit berjinjit, ingin melihat dengan jelas apa yang Sehun buat. “Membuat bubur?”

“Seperti yang kau lihat.” Lagi-lagi Sehun masih berkutat dengan buburnya.

“Aku membawakan Luhan bubur.” Krystal kemudian mengeluarkan bekal yang ia simpan di dalam tasnya.

Mata Sehun langsung menyipit, “Aku tidak mau bubur itu dihidangkan ke Luhan.”
“Kenapa?!” Krystal membalas dengan mata menyipit.
“Kau lihat? Aku sudah membuat bubur. Jadi aku tidak ingin Luhan memakan bubur mu!”

“Kau bisa memberinya nanti!”
“Tentu tidak bisa! Aku lelah membuat bubur ini. Memangnya kau membuat buburmu sendiri?! Tidak kan!”

Kata-kata terakhir Sehun membuat Krystal tiba-tiba sedih. Kata-kata yang secara tidak langsung menghinanya. Dia memang tidak membuat bubur ini sendiri. Dia meminta bantuan Bibi Kwon. Tapi apa salahnya?

Sehun yang merasa Krystal diam akhirnya kembali menoleh ke Krystal, “Hey…” Ia memanggil Krystal pendek. Merasa bersalah setelah melihat Krystal yang menunduk. Mungkin karena perkataannya menyakitkan perasaan Krystal. “Hey… Aku….” Terdengar ragu. “Aku minta maaf karena perkataanku tadi. Okay?”

Krystal hanya tersenyum pendek. Sehun tahu Krystal masih bersedih.

“Baiklah…” Gumam Sehun pasrah. “Kasih buburmu ke Luhan. Aku bisa menyimpan buburku untuk makan malam. Dan kujamin setelah merasakan buburku, Luhan lebih memilih buburku daripada buburmu.”

`
Senyum Krystal kembali merekah. “Dimana letak piring? Kurasa lebih baik jika menyajikannya di piring daripada di tempat bekalku.”
Sehun menunjuk salah satu rak yang berada tepat di atas kirinya.

Krystal langsung menuju ke rak bewarna putih yang terbuat dari kayu tersebut. Tangannya membuka raknya dan mengambil satu piring. “Tapi kenapa dirimu berpikir jika Luhan akan memilih buburmu daripada buburku?” Tanya Krystal ketika ia menuangkan buburnya di piring.

“Dia pasti akan memilih buburmu. Diakan menyukaimu.”

Perkataan Sehun menghentikan gerakan Krystal. Krystal menatap Sehun. Tidak dengan tatapan tajam, tetapi dengan tatapan menyipit.

Sehun membalas tatapan Krystal, “Kau pasti buta jika tidak melihat hal tersebut.” Ia kemudian kembali berceloteh, “Dia sering bercerita tentang mu. Tentang apa saja kepadaku. Bahkan tentang dirimu yang menabrak dinding.”

Krystal melotot ke arah Sehun yang terkekeh kecil. Tapi sepertinya Sehun masih tidak menyadari tatapan Krystal.

“Dia juga sangat senang ketika menerima telepon mu. Astaga, bukan hanya saat menerima teleponmu. Saat kau datang. Saat kau bicara.”
“Dan kau baik-baik saja?” Tanya Krystal tiba-tiba. Tetapi sedetik kemudian ia menyadari kebodohannya.

Pabo! Tentu saja dia baik-baik saja dan tidak merasa terganggu jika kedua sahabatnya menjadi sepasang kekasih! Orang di samping kananya bahkan dengan tidak punya hati memutuskan perjodohan! Apalagi merasakan hal sekecil itu.

“Aku tidak sakit.” Jawab Sehun dengan nada bingung.
Krystal berdehem, “Lupakan saja kataku yang tadi.” Ia kemudian melanjutkan kegiatannya yang tertunda.

“Lagipula….” Sehun kembali bercerita. Entah apa maksudnya tapi itu membuat Kyrstal diam-diam mendengus, “Kalian terlihat cocok. Luhan bahagia. Kau bahagia.”

“Jadi, menurutmu aku harus menerimanya jika ia mengatakan perasaanya?” Mulut Krystal menjadi gatal jika tidak menanyakan hal itu. Tanpa ia sadari juga, kata-kata itu sudah terlanjur keluar.

“Tentu! Memangnya apa lagi yang harus kau lakukan jika ditembak oleh orang yang kau suka?”

Krystal sekarang menatap Sehun tajam, “Kau seperti menjodohkanku dengan Luhan.”

Sehun mengangkat kedua bahunya, “Memangnya salah? Lagipula itu hal yang bagus jika kalian berpacaran.”

Tok…. Tok… Tok…

Suara ketukan pintu seperti penyelamat bagi Krystal dari suasana di dapur yang akan panas sepanas bubur yang Sehun buat.

“Mungkin Chanyeol. Dia tadi keluar.” Sehun bergerak menuju pintu.
“Biar aku saja!” Kata Krystal bergerak lebih cepat dari Sehun. Tolong urus buburnya.” Lanjut Krystal sebelum ia berbalik menuju pintu.

Dalam hati, Krystal merasa harus memeluk Chanyeol karena telah menyelamatkannya dari situasi aneh bersama Sehun. Lagipula, apa yang dipikirkan oleh Sehun? Krystal menghela nafasnya… Jangan dengarkan orang yang seenak jidat memutuskan perjodohan karena egonya… Katanya dalam hati.

Iya benar! Kenapa harus termakan omongan Oh Sehun? Kalau Luhan benar menyukainya, itu akan terbukti suatu saat tanpa harus diceritakan seperti itu. Dan, tunggu… Apa maksud Sehun menceritakan hal ini? Apakah ia menceritakan hal ini karena ia pikir Krystal tidak melihat gerak-gerik Luhan? Benar-benar… Orang itu pikir ia adalah orang bodoh ya? Tanpa ia sadari, Krystal membuka pintu apartment dengan tenaga yang lebih besar dari seharusnya.

“Bibi?!”

“Sojonggie?!”

Krystal dan Oemma Sehun saling bertatap selama beberapa detik. Ya ampun… Apa yang harus ia katakan kepada Oemma Sehun?

“Eh, siapa yang datang?” Sehun dengan santainya berjalan dari dapur. “Oemma?!” Katanya ketika melihat ibunya.
“Kalian….” Oemma Sehun terlihat ragu. “Bagaimana bisa kalian bertemu kembali?”

“Ceritanya panjang.” Jawab Sehun pendek. “Masuklah terlebih dahulu… Di luar dingin!” Katanya sambil menarik tangan ibunya kemudian menutup pintu.

Krystal segera membungkukan badanya, “Anyeong bibi!” Kataknya kikuk.

“Ah, Anyeong Krystal-ssi…” Oemma Sehun tersenyum ramah ke Krystal.
“Luhan tinggal di apartment yang sama denganku. Krystal disini karena Luhan sakit.” Jelas Sehun cepat. “Krystal, kurasa kau bisa memberikan bubur untuk Luhan. Aku akan menemani Oemma-ku.”

Krystal segera mengangguk dan mengambil buburnya. Sebelum ia memasuki kamar Luhan, Krystal kembali berbicara, “Bibi, Anyeong!”

Oemma ingin teh? Akan kubuatkan teh.” Sehun segera berjalan ke dapur tetapi terhenti, “Eh… Maaf ruang tamunya berantakan. Oemma bisa duduk di bangku dapur.”

.

.

.

.

.

Koo Yura menatap lekat-lekat anak semata wayangnya. Sehun sudah berubah. Katanya dalam hati. Ia lebih mandiri. Tentu saja! Tinggal dua tahun sendiri tanpa kedua orangtua. Matanya meperhatikan apartment-nya.   Rasa sakit menjalar ketika melihat apartment anaknya yang kurang layak. Atapnya terlihat bocor. Cat dinding memudar. Seharusnya ia dapat melihatnya ketika tadi jalan di tangga. Benar-benar bencana mengerikan.

“Tehnya…” Suara lembut Sehun menyadarkan Yura.

Yura tersenyum dan menyeruput tehnya.

“Jadi….” Sehun membuka percakapan. “Ada apa Oemma datang?”

Yura kembali menatap anaknya. Senyumannya memudar. “Ah… Kesini?” Tanyanya tergagap. “Oemma hanya ingin.”

Sehun menganggukan kepalanya ragu. Yura kemudian meletakan cangkir tehnya.

Appa-mu… Appa-mu sakit. Gejala strok awal.” Sahut Yura tiba-tiba. “Dia ingin memperbaiki semuanya” Lanjut Yura tanpa melihat Sehun. “Dia tidak mengataknnya tapi Oemma tahu ia ingin. Jadi… Disinilah Oemma… Mencoba mengajakmu kembali pulang.”
Sehun terdiam cukup lama.

“Kau tidak harus pulang sekarang. Tapi pikirkanlah….” Lanjut Yura.

“Bibi?!” Suara yang sangat familiar bagi Yura membuat Yura menatap orang yang memanggilnya.
“Luhan?!” Sahut Yura dengan senyuman lebar. “Sejak kapan dirimu pulang? Dan dirimu tidak terlihat menua!”’
Luhan yang pucat pasi terkekeh kecil. “Dua bulan ini bi! Dan bibi juga tidak terlihat tua!” Balas Luhan dengan suara menggebu-gebu senang. Tidak terpancarkan ia sakit jika mendengar suaranya.

Yura tertawa, “Dirimu bisa saja! Tapi….” Yura melihat wajah Luhan dengan seksama, “Kamu terlihat pucat nak!”

Luhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Aku sedang flu berat dan sedikit demam. Tapi ku rasa itu bukan penghalang buat menyapa bibi bukan?”

Yura membulatkan matanya, “Tentu saja tidak! Kau masih seperti dulu tidak berubah! Masih sopan dan ramah.” Puji Yura sambil tersenyum lebar. “Bibi merasa sangat terkesan. Tetapi sebaiknya dirimu kembali saja ke kamar untuk beristirahat.”

Luhan menganggukan kepalanya. Bagaimanapun juga kepalanya masih sangat pusing. Dia berjalan dengan gontai ketika keluar dari kamarnya. Terpaksa mengatakan baik-baik saja kepada Krystal karena takut harga dirinya jatuh akibat dianggap lemah. Setidaknya menurut Luhan itu menunjukan dia lemah. Luhan akhirnya membungkukan badannya sekali lagi sebelum menghilang dari pintu.

Yura kembali menghadap Sehun, “Oemma senang kau masih dikelilingi oleh teman-teman yang hebat.”
Sehun hanya diam tidak tahu harus membalas apa.
“Masalah dua tahun yang lalu…. Masalah dirimu dengan Krystal…”
Oemma…” Potong Sehun dengan suara rendah, “kumohon jangan disini….” Sehn merasakan nafasnya tercekat entah bagaimana. Dia membenci perkara itu. Dia hanya ingin kejadian itu diketahui oleh enam orang, dirinya, Krystal, dan kedua orangtua mereka. Tidak ada lagi yang boleh mengetahui hal ini. Apalagi Luhan!

Yura seperti tidak mendengar Sehun. Ia kembali berbicara, “Masalah itu membuat kami syok hingga tidak dapat mempercayai mu lagi. Tapi keadaan bisa menjadi buruk sekarang, dengan keadaan Appa-mu. Appa-mu adalah orang keras kepala jadi ia pasti tidak akan memintamu pulang. Maka dari itu Oemma meminta tolong agar dirimu mengalah sedikit.” Yura menatap Sehun lurus-lurus. “Bisakah kau datang ke rumah, meminta maaf kepada Appa-mu. Oemma yakin sehabis itu akan kembali menjadi sangat mudah….”

Sehun lagi-lagi tidak dapat berbicara. Perasaan yang lama ia tahan kembali terbuka. Ia mengalihkan pandangannya ke tembok. Menatap tembok apartment yang kusam.

Yura tersenyum sedih. “Kau tidak harus menjawabnya sekarang. Oemma berharap jawabanmu ada ketika kau menginjakan kakimu kembali ke rumah.” Ia kemudian berdiri, “Oemma rasa Oemma harus pulang.”

Sehun menganggukan kepalanya. Ia ingin mengantar Oemma-nya,

“Tidak usah di antar.” Tolak Oemma dengan suara pelan.

Sehun menghentikan langkahnya dan hanya diam ketika Oemma keluar.

Anyeong bibi! Bibi ingin pulang?” Sapa Krystal dari pintu kamar Luhan. Sepertinya ia baru saja keluar.

Yura mengerjap kaget, “Oh, Anyeonghaseyo Krystal. Iya, bibi pulang duluan ya?”

Tanpa menunggu jawaban dari Krystal, Yura sudah menghilang dari balik pintu.

Sehun menghela nafas. Wajahnya tiba-tiba menjadi murung. Ia berjalan ke arah Krystal.

“Ingin mengambil sesuatu di dapur?” Tanyanya ketika sampai di depan Krystal, “Ambil saja sesukamu. Aku ingin ke kamar.” Sehun kembali melangkahkan kakinya ke kamarnya.
“Apakah dirimu akan pulang?” Tanya Krystal tepat sebelum Sehun memasuki kamarnya. Ia tidak berbalik menatap Sehun.

Sehun menoleh ke arah Krystal, “Kau mendengar pembicaraanku dengan ibuku?” Kentara dengan jelas nada tidak suka.

Krystal menghela nafasnya kemudian berbalik menghadap Sehun, “Aku tidak sengaja mendengarnya. Aku ingin menuju dapur tadi.”

“Itu bukan urusanmu!” Kata Sehun masih dengan nada tidak suka. Dengan cepat, ia berbalik memunggungi Krystal.

“Tapi Appa-mu sakit. Kau harus memikirkan Appa-mu!”

Sehun kembali menatap Krystal dengan kesal, “Aku tidak butuh simpatimu!”
“Jangan pura-pura baik menanyakan bagaimana kabarku.”

Krystal mengerjap beberapa kali ketika bayangan itu terlintas di benaknya. Ia menelan ludahnya. Tidak, dia tidak boleh mendapat ingatannya disini. Di tengah yang sedang Luhan sakit. Di tengah emosi Sehun yang tidak stabil. Dia tidak ingin menambah keributan karena ia tahu, jika ingatannya kembali maka sakit kepala yang hebat akan menyertainya. Ia menggelengkan kepalanya. Sehun menatap Krystal aneh.

Krystal berdehem, “Terserah padamu. Aku sebenarnya ingin mengambil minum sebelum pulang.”

“Pulang saja sana!” Usir Sehun dengan nada tajam.

Krystal mendecakan lidahnya, “Baiklah. Aku tidak ingin berlama-lama di dekatmu sebenarnya. Tapi, jangan lupa mengambilkan Luhan minum, okay? Juga men-check nya sekali-kali.”

“Apa kau berusaha mengajarkan hal-hal bodoh kepadaku?” Lagi-lagi, dengan nada tajam.

Krystal mengangkat kedua bahunya, “Sepertinya karena kau tidak mempunyai simpati.”
“Tidak butuh simpati bukan berarti aku tidak punya simpati!”
Kali ini, Krystal menatap Sehun dengan mata yang menyalak marah, “Kau egois. Aku tidak yakin kau mengerti perasaanmu karena mengerti perasaan orang saja tidak!” Setelah mengetakan kalimat dengan nada yang cukup tinggi dalam percakapan biasa, tetapi tidak sampai teriak-teriak karena hal itu dapat menganggu Luhan. Krystal segera berbalik dan membuka pintu apartment dengan kasar.

.TBC.

 

 

 

Flipped (Chapter 13)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Pertanyaan Membingungkan pt.1

Jadi apakah Krystal menyukainya? Ayolah…. Itu adalah pertanyaan yang mudah. Iya atau tidak. Seharusnya iya, karena sifatnya sangat perhatian dan romantis. Tetapi dia ragu. Ada bagian di hatinya yang terasa hampa bahkan dia-si romantis- tidak dapat menjangkaunya.

***

Suara tawa dari ujung sana membuat Luhan kembali tertawa kencang. “Aku tidak bermaksud seperti itu! Astaga, bisakah kau tidak tertawa terus menerus? Perutku sudah sangat sakit.” Luhan kemudian mengedarkan pandangannya ke arah dinding-dinding tua flat yang telah dia tempati satu bulan ini. Dia tersenyum singkat kepada dua teman satu flat nya yang menatapnya dengan kilatan penasaran.

“Aku mengerti…” Luhan kembali berbicara via telepon. “Baiklah… Baiklah… Aku tidak akan menjemputmu lagi di depan kelas mu. Dan tidak makan lagi di kafetaria fakultas mu… Oh? Baiklah. Anyeong Krystal Jung!”

“Ehm…” Chanyeol berdehem dan menatap ke arah Luhan, “Krystal Jung?” Tanyanya dengan nada menggoda.

Luhan terkekeh kecil, “Kenapa?”

“Kenapa?” Tanya Chanyeol lagi dengan nada menggoda.

“Kapan kau akan menyatakan perasaanmu kepada Krystal?”

“Wow! Wow! Wow!” Chanyeol langsung menatap Sehun,

Luhan menampilkan ekspresi terkejutnya, “Maksudmu?” Tanya Luhan seperti orang bodoh.

“Hey, kau sangat blakblakan Oh Sehun!” Protes Chanyeol kesal.

Luhan yang masih menampilkan ekspresi terkejut menghela nafas, “Tidak sekarang. Aku baru saja bertemu dengannya. Masih butuh pendekatan.”
“Kau mengenalnya sejak SD. Butuh pendekatan apa lagi?” Sehun menatap Luhan dengan tatapan datarnya.

Luhan terlihat berpikir, “Entahlah. Aku hanya takut di tolaknya.”

“Kurasa tidak ada laki-laki yang mendekatinya kecuali dirimu.”
Plak!

Chanyeol dengan cepat memukul kepala Sehun. Membuat laki-laki itu meringis dan menatap Chanyeol sebal.

Sehun mengangkat kedua bahunya, “Hey, aku hanya mengatakan yang sebenarnya!”
“Sudahlah…” Luhan menengahi Chanyeol dan Sehun. “Aku akan memikirkan usul Sehun, okay? Tapi aku harus kembali lagi ke kamar. Tugasku menumpuk!” Lanjut Luhan dan mengambil teh hangat yang tadi ia buat selagi menelepon Krystal.

Blam~

Setelah Luhan menghilang dari ruangan, Chanyeol menatap Sehun, “Kenapa kau berkata seperti itu ke Luhan? Ku kira kau menyukai Krystal?”

Sehun yang memusatkan perhatiannya untuk membaca buku menatap Chanyeol, “Di mimpi mu!”

“Apanya di mimpi ku?!” Seru Chanyeol sedikit tersinggung. “Kau memang dingin tetapi tatapanmu setiap kali Krystal ke sini menyiratkan perhatian yang sangat besar. Kau pasti menyukainya! Aku saja yang telah menjadi temanmu sejak awal kuliah tidak pernah di tatap seperti itu.”

Sehun mendesah keras. Ia menutup bukunya dan kembali menatap Chanyeol. Tangan kananya memeluk Chanyeol. Menarik Chanyeol agar semakin dekat ke Sehun, Tiba-tiba, wajah mereka menjadi sangat dekat. “Kau cemburu? Aku bisa menatap mu dengan tatapan yang penuh perhatian mulai dari sekarang.”

“Apa-apaan?!”

.

.

.

.

.

“Jadi…” Seulgi sudah bergelayut manja di siku Krystal, “Bisakah kau menjelaskan apa maksud Luhan tadi?”
“Maksud Luhan apa?” Tanya Krystal pura-pura tidak peduli walau ia tidak dapat menyembunyika senyumannya.
“Astaga Krystal Jung! Jangan pura-pura bodoh!” Seulgi menatap Krystal tidak sabaran.

Krystal menatap sahabatnya. Kemudian ia mendesah, “Dia hanya ingin menjemputku tidak kurang dan tidak lebih.”

“Aku tidak yakin akan hal itu…” Seulgi kemudian mendekat ke arah Krystal, “Kurasa ia menyukai mu.”
Krystal kembali mendengus. Baiklah… Baiklah… Dia tahu Luhan menyukainya. Maksudnya, itu semua terlihat dari perlakuan Luhan kepadanya. Seseorang pastilah buta jika tidak mengetahui hal itu. Dia diam saja bukan karena ia bodoh tidak mengetahuinya atau tidak memperdulikan perasaan Luhan. Ia hanya memberi Luhan waktu untuk menyatakan perasaannya sendiri. Krystal adalah teman Luhan sejak SD. Dia tahu, laki-laki itu pasti tidak menyukainya kalau ia memberi tahu perasaannya kepada Luhan duluan.

“Kau menyukainya?” Tanya Seulgi tiba-tiba ketika mereka sudah duduk di kelas dan menunggu Professor Choi datang.
“Tentu.” Jawab Krystal lugas.

Seulgi terlihat memutar bola matanya, “Aku tahu kau menyukainya sebagai teman. Yang kumaksud kau menyukainya sehingga ingin menjadikan dia kekasihnya? Kau tahu… Jatuh cinta kepadanya?”
“Tentu.” Jawab Krystal tetapi kali ini nadanya terdengar agak ragu. “Maksudku siapa yang tidak ingin menjadi kekasihnya melihat semua perilakunya? Dia sangat romantis.”
“Jadi kau ingin menjadi kekasihnya karena perilakunya yang sangat romantis?”
“Apa maksudmu?!” Tanya Krystal sedikit frustasi. Ia tidak marah kepada Seulgi, sungguh. Tetapi perkataan Seulgi membuat perasaan Krystal mulai terombang-ambing.

“Maksudku apakah kau jatuh cinta kepadanya? Ayolah, Jung itu adalah pertanyaan yang sangat mudah. Iya atau tidak?”

“Aku sudah menjawabnya tadi.”

“Tapi kau terlihat ragu.”

“Aku tidak mengerti maksud mu!” Seru Krystal dengan nada yang sedikit tinggi. Okay, dia mulai merasa sedikit kesal terhadap Seulgi.

“Baiklah, aku bukannya merendahkan dirimu. Tapi selama tiga tahun aku menjadi sahabatmu kau tidak pernah dekat dengan cowok. Tunggu, itu bukan karena dirimu tidak populer. Dirimu sendirilah yang menolak cowok-cowok yang datang kepadamu. Luhan hanyalah satu-satunya yang berhasil mendekatimu.

“Tapi Jung, setiap dirimu menceritakan Luhan dirimu pasti selalu berkata ‘Dia memang selalu baik kepadaku seperti dulu..’ atau ‘Dia persis yang ku ingat seperti dulu…’ atau kalimat semacam itu. Apa itu menyiratkan kau menyukainya-maksudku jatuh cinta- kepadanya? Astaga Krystal Jung, tidak! Jadi sekarang aku akan menegaskannya kepadamu, apakah kau jatuh cinta kepadanya?”

Krystal terlihat berpikir, “Apakah aku benar-benar berkata seperti itu ketika aku menceritakan Luhan?”

Seulgi menatap Krystal lekat-lekat, kemudian menganggukan kepalanya.

Krystal memejamkan matanya. Astaga…. Dia tidak bermaksud seperti itu. Luhan adalah seseorang yang sangat special untuknya. Dia tidak bermaksud membandingkan Luhan yang sekarang dengan yang dulu.

“Aku tidak bermaksud yang buruk ketika mengatakan hal tersebut. Kau tahu aku hanya…”

“Iya aku tahu.” Sela Seulgi. “Kau hanya memuji Luhan. Tapi kurasa kau terjebak dengan masa lalu mu. Kau bisa mengatakan kepadaku, ‘Dia laki-laki terhebat yang pernah ku temui.’ dan semacamnya.”
Krystal memijit pelipisnya. Ia memang terjebak dengan masa lalunya sendiri. Bagaimana seorang bisa melanjutkan hidup jika ia melupakan sebagian dari masa lalunya? Bisa saja dia melakukan dua kali kesalahan karena kesalahan pertama dia lupakan. “Pertanyaanmu lebih susah daripada soal ujian.”

Seulgi tersenyum, “Maaf memusingkanmu. Aku hanya khawatir kau akan tersandung masalah karena hal-hal kecil seperti ini.”

Krystal membalas senyuman Seulgi, “Aku tahu.”

Kemudian, mereka diam dalam pikiran masing-masing. Krystal kembali mencermati pertanyaan Seulgi. Apakah dia menyukai Luhan? Dia seharusnya menyukai Luhan. Tetapi ada bagian di dalam hatinya yang hampa bahkan Luhan tidak dapat menggapainya. Tanpa Krystal sadari, dia menyipitkan matanya. Dia sudah menyelesaikan masalahanya dengan Oh Sehun. Itu sudah sangat jelas dari kata-katanya ketika ia menangis di taman dan membentak Oh Sehun, mengatakan agar laki-laki itu menjauh darinya. Itu sudah sangat jelas. Tapi kenapa dia masih ragu dengan perasaannya terhadap Luhan?

Hufh….

Krystal hanya bisa menghela nafasnya.

.

.

.

.

.

Hujan sangat deras di luar sana. Udara yang tadi menghangat karena musim semi datang kembali menjadi dingin. Seseorang akan sangat malas untuk keluar pada jam tujuh pagi di hari minggu yang mendung ini. Menikamati kehangatan selimut dan keempukan bantal pasti lebih menyenangkan. Krystal sudah pasti melakukan hal tersebut. Jika saja ia tidak sengaja menerima telepon Luhan. Dan lelaki itu sedang sakit.!

Luhan berkata jika ia hanya kelelahan. Tapi hati kecil Krystal tersadar, Luhan kelelahan karena dirinya! Dengan jadwal kuliahnya yang padat dan masih gigih untuk menjemput Krystal membuat Luhan lelah. Krystal teringat jika kemarin malam, ketika Luhan menjemputnya laki-laki itu sudah menunjukan tanda-tanda flu. Tetapi ia masih ingin mengantarkan Krystal pulang ditambah menemani perempuan itu makan malam. Jadi, apakah perasaannya tidak memberontak begitu mengetahui Luhan sakit?

Tok… Tok… Tok…

Krystal dengan santai mengetuk pintu apartment Luhan. Dia sudah sangat sering mengunjungi apartment ini. Setiap minggu bisa dua kali. Ini karena dia dan Luhan sering pergi keluar jika tidak ada jadwal kuliah. Berakhir di apartment ini untuk makan malam atau ia kesini untuk menjemput Luhan. Krystal seperti penghuni tidak tetap apartment ini.

Cklek~

Pintu apartment terbuka. Krystal sedikit terkesiap melihat wajah orang yang membuka pintu.

“Oh, masuklah.” Jawab Sehun datar.

.TBC.

+Holla semuanya, I’m back 👋👋👋 dengan membawakan Flipped!  Khusus untuk ultah Sehun , eh D+2 ultah Sehun (wkwkwkwk) Flipped di update 2 chapter 😬…..  Stay tune untuk ff terbaru dan ngomong-ngomong ttg State of Grace, mungkin nanti🙈  Lagi stuck di chapter 20…  Bye bye See you soon

Flipped (Chapter 12)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Secercah Kebahagiaan

Mereka bertiga. Kenangan pahit terus mengalir dalam benaknya. Kenapa? Kenapa di setiap kebahagiaan yang ia miliki selalu tersisa kepahitan? Apakah dia sangat penting dalam hidupnya hingga dapat menyebabkan hal seperti itu? Krystal menggelengkan kepalanya. Ia hanyalah seseorang yang hanya lewat di kehidupannya. Pasti seperti itu.

.

.

.

.

Dingin. Udaranya. Suasananya. Tidak bisa diharapkan jika Sehun dan Krystal berbicara seperti biasa, walau tadi mereka terlihat baik-baik saja.

Tap!

Krystal menghentikan langkahnya kemudian bersin.

Tes!

Tes!

Bersamaan dengan hal itu, hujanpun turun. Krystal mengeluh. Halte tidak terlalu jauh lagi sih… Tapi ia akan basah kuyup ketika sampai di sana. Krystal menoleh ke arah Sehun, melihat keadaannya yang hanya diam walau hujan sudah turun. Kemudian, keluhan kembali keluar. Jantungnya mengeluh karena tindakan Sehun yang benar-benar tidak pernah terlintas di benak Krystal. Laki-laki itu menarik tangan Krystal, membuat Krystal berlari-lari kecil ke sebuah telepon umum. Dengan cepat membuka pintu telepon umum tersebut, mendorong Krystal masuk, dan terakhir menutup pintu telepon tersebut ketika ia sudah masuk. Membuat ruang gerak Krystal terbatasi oleh tubuh Sehun dan telepon.

Sehun melihat jam dari handphone-nya, “Kita tidak bisa sampai di halte tepat waktu.”

Krystal hanya diam. Mengalihkan pandangannya ke arah kiri. Melihat tetesan air yang terus turun. Membasahi kaca hingga membiaskan cahaya dari luar. Krystal kembali bersin.

Deg!

Lagi-lagi, jantung Krystal berdetak sangat kencang ketika Sehun tiba-tiba meletakan jaketnya ke pundak Krystal.

“Pakailah. Pakaianmu terlalu tipis untuk udara malam.”

Krystal mendengus. Sedikit tidak terima dengan pernyataan Sehun mengenai pakainnya. Tetapi Krystal menurut, ia memakaikan jaket Sehun ke tubuhnya.

Rasa pusing menyergapi Krystal. Bukan pusing akibat udara dingin, tetapi akibat perbuatan Sehun kepadanya. Entahlah, pertemuan ini benar-benar tidak seperti pertemuan seperti biasanya. Aneh. Dekat tetapi sesuatu menahan mereka untuk lebih dekat. Krystal akibat egonya. Sehun? Mungkin juga egonya. Tapi kalau Sehun setia kepada egonya mengapa ia begitu peduli kepada Krystal? Tanpa ia sadari, Krystal mendecakan lidahnya. Kesal terhadap masalahnya sendiri.

Sehun yang mendengar decakan Krystal menoleh ke arahnya. Menatap sebentar, seperti seorang yang sedang berpikir. Berpikir apa arti decakan lidah Krystal. Kesal mungkin karena terus berada di dekat Sehun? Sehun mengehela nafasnya.

“Bis sudah pasti tidak ada.” Sehun kembali berbicara, “Kau pulang naik taksi saja.”

“Eh, kau akan mencari taksi di tengah hujan deras?”

“Tidak.” Jawab Sehun pendek.

Krystal mengkerutkan kedua alisnya, “Terus bagaimana kau bisa mendapatkan taksi jika tidak mencarinya?”

Sehun mengeluarkan telepon genggamnya, “Memesannya secara online.” Tanpa menunggu respon dari Krystal, Sehun langsung memesan taksi.

Krystal hanya diam sehabis itu. Selama perjalanan menuju rumahnya. Ucapan terimakasih adalah satu-satunya kata yang ia ucapkan. Hanya ‘terimakasih…’ Sekian. Hanya jantungnya yang berdetak gila. Memompa udara terlalu banyak ke otaknya dan menyebabkan rasa pusing.

“Mungkin aku harus tidur.” Gumam Krystal ketika ia sudah melepaskan jaket Sehun.

Ia terdetak, Jaket Sehun?

.

.

.

.

Tok! Tok! Tok!

Krystal mengetuk pintu tersebut lagi. Ia mengetukan kakinya, tidak sabar menunggu pintu terbuka.

Tok! Tok! Tok!
Lagi, Krystal mengetuk kembali. Kali ini perasaan kesal menyertainya. Ayolah, dia sudah disini selama limabelas menit dan belum ada yang membukakan pintu. Sebenarnya mereka ada atau tidak sih?

Cklek~

Pintu terbuka. Dan…

“Aaaah!”

Blam!

Krystal hanya bisa terdiam melihat apa yang terjadi. Park Chanyeol membukakan pintu hanya menggunakan handuk. Terkejut, Krystal hanya terdiam dan Chanyeol berteriak sebelum Chanyeol membanting pintu.

“Krystal-sii?” Suara Chanyeol terdengar ragu-ragu.

“Ah, nde..” Jawab Krystal yang juga ragu-ragu. “Maaf menganggu. Aku hanya ingin mengembalikan jaket…” Krystal berhenti sejenak. Kembali ragu untuk berkata, “Mengembalikan jaket Sehun.”

Chanyeol tertawa canggung, “Aku juga minta maaf. Tunggu…”

Krystal mengira ia akan menunggu selama sepuluh atau limabelas menit? Ternyata tidak. Dengan hati-hati, Chanyeol membuka kembali pintu kamar. Tangannya keluar, terulur ke arah Krystal.

“Jaketnya…”

Krystal langsung mengerti. Ia segera meletakan jaket Sehun di tangan Chanyeol. Chanyeol langsung mengambilnya dan menutup pintu kamar.

“Terimakasih dan sekali lagi minta maaf.” Kata Krystal pamit untuk segera pergi.

“Aku juga!” Teriak Chanyeol-entah mengapa ia berteriak.

.

.

.

.

Setelah memastikan langkah kaki Krystal tidak terdengar lagi, Chanyeol berbalik. Ia bernafas lega. Sungguh, kejadian tadi adalah kejadian yang paling memalukan di hidupnya. Ini memang salahnya. Tetapi siapa yang akan menyangka? Biasanya yang akan mengetuk pintu apartment mereka adalah Yixing, Kyungsoo, Suho, atau Minseok. Semua adalah teman-teman Chanyeol dan Sehun. Masing-masing mereka sudah melihat bagian terlaknat teman-teman mereka.

“Kenapa kau bersender di pintu?” Sehun yang baru saja selesai mandi menatap aneh Chanyeol.

Chanyeol mendengus. Kesal kenapa Sehun tidak pernah mendengar perkataannya. Temannya yang satu ini setiap kali selesai mandi, dengan santainya keluar dari kamar mandi dengan handuk terkalung di lehernya. Setidaknya tutupi bagian pinggang kebawah. Begitulah perkataan Chanyeol yang tidak pernah didengar Sehun.

Chanyeol melempar jaket Sehun, “Dari Krystal.”

Sehun baru teringat jika jaketnya dipakai Krystal hingga Krystal turun dari taksi. Ia mengangguk. Ingin segera masuk kamar tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti, “Kau membuka pintu dengan hanya menggunakan itu?

Uhm… Mata Chanyeol menelisik Sehun. Temannya cemburu? Baru pertama kalinya Chanyeol mendengar nada tidak suka dari Sehun. Biasanya hanya nada datar. Ia pun mengangkat kedua bahunya, “Mau bagaimana lagi…”

Mendengar Sehun mendengus, walau masih dengan muka datar, Chanyeol menambahkan, “Seharusnya kau rajin sedikit. Ketika mendengar ketukan pintu kau hanya diam menungguku selesai mandi. Jadinya…”

Sehun diam tidak berkomentar. Ia segera berjalan menuju pintu kamarnya. Baru saja ingin masuk, Sehun kembali menoleh, “Akan kulaporkan kepada Sulli jika kau terang-terangan berbicara kepada seorang perempuan hanya memakai handuk!” Kata Sehun dengan nada datar.

Blam!

Pintu kamar Sehun tertutup.

Chanyeol langsung membulatkan matanya. Waduh, gawat!

.

.

.

.

Luhan pun terlihat ragu melihat universitas yang ia masuki. Apa benar ini universitasnya? Entahlah. Ia kesini menggunakan taksi setelah sebelumnya ia tidur di apartment Appa-nya. Appa-nya sendiri belum menjawab apakah ia suka atau tidak dengan apartment Luhan. Appa hanya berkata jika sebaiknya untuk 3 hari kedepan, hingga masalah administrasi selesai, Luhan tinggal bersamanya. Luhan berharap jika Appa-nya mengizinkannya. Ia terlalu lama dikekang Appa-nya. Ia ingin merasa bebas sedikit. Sedikit saja.

“Luhan-ssi?” Suara riang itu membuat detak jantung Luhan meningkat. Ia langsung menoleh ke asal suara.

“Krystal-sii?!” Balas Luhan terkejut. Luhan langsung tersenyum lebar, “Apa yang dirimu lakukan disini? Tunggu, kau berkuliah disini?”

Krystal mengulas sebuah senyum, “Iya. Kau juga berkuliah disini? Aku tidak menyangka.”

Senyuman Luhan semakin lebar ketika mendengar nada senang Krystal, “Ini benar Universitas Sungkyunkwan, kan?”

Tawa Krystal langsung meledak.

“Apanya yang lucu?” Tanya Luhan bingung.

Krystal menggelengkan kepalanya. Terlihat susah mengambil nafasnya, “Hanya saja… Hanya saja…. Astaga, kupikir kau tahu jika ini Universitas Sungkyunkwan.”

“Tentu saja aku tahu!” Kata Luhan tidak terima. Ia sedikit mem-pout bibirnya. Membuat dia seperti anak berumur 5 tahun. “Aku hanya ragu jika aku datang ke universitas yang benar. Sudah lama aku meninggalkan Seoul sehingga hampir melupakan semuanya yang tertinggal disini.”

Krystal terdiam. Tidak menyangka temannya mengeluarkan nada sedih, “Hey, jangan bersedih. Setidaknya kau sudah kembali bukan?” Melihat Luhan sedikit tersenyum, Krystal menambahkan, “Bagaimana jika aku mengantarkanmu ke fakultas mu? Kau tahu, jam kuliahku masih lama.”

Luhan segera mengangguk. Ide yang sangat menarik. “Tentu. Sepertinya aku memang harus ditunjukan. Ngomong-ngomong, kau kuliah dijurusan apa?”

“Sastra korea.” Jawab Krystal pendek.

Luhan menganggukan kepalanya, “Kau masih bercita-cita menjadi penulis sepertinya.” Krystal tersenyum mengiyakan. Ia mengikuti Krystal yang mulai berjalan.

Krystal kembali berbicara, “Kau berkuliah jurusan apa?”

“Kedokteran.” Mereka berbicara sambil berjalan menuju fakultas Luhan.
Krystal langsung membulatkan matanya, “Kedokteran?”

Luhan menganggukan kepalanya.

Mata Krystal terlihat berbinar, “Astaga… Kau sekarang menjadi orang yang pintar bukan? Kau tidak malas lagi belajar?”

Luhan mendengus mendengar perkataan Krystal yang sangat benar. Ia dulu adalah anak yang malas belajar dan hanya gila main bola. “Aku sudah berubah.”

Krystal mengangguk, “Aku bangga denganmu. Tapi… Bagaimana bisa kau tiba-tiba masuk jurusan kedokteran? Maksudku kau baru mendaftar atau…”

“Aku ikut program transfer. Program ini hanya 9 bulan tapi aku berharap jika universitas menawariku untuk sekolah disini, sehingga aku tidak perlu memutar otak lagi mencari cara agar bisa tinggal bersama Appa.”
Appa mu pindah kesini?” Tanya Krystal hati-hati.

Masalah Appa Luhan adalah masalah yang paling sensitive bagi Luhan. Krystal ingat bagaimana tangisan Luhan mendengar penuturan ibunya ketika ingin meninggalkan Luhan, dan itu semua karena Appa-nya.

Luhan menganggukan kepalanya pelan, “Dia berkata kepadaku jika butuh suasana baru. Kupikir aku akan tinggal di Eropa atau Jepang, ternyata…”

Krystal merasa bertambah salah ketika mendengar nada suara Luhan yang semakin sedih, “Sebelumnya kau berkuliah dimana?”

“Harvard.”

Dan satu kalimat itu, membuat Krystal menatap Luhan dengan tatapan tidak percaya untuk beberapa saat.

.

.

.

.

.

Hari yang menyenangkan… Gumam Krystal kepada dirinya sendiri.

Setelah mengantarkan Luhan ke kelasnya, bukan hanya fakultasnya. Juga ikut dengannya ke ruangan administrasi, Luhan berjanji kepada Krystal akan mentraktir Krystal makan setelah kuliah selesai. Krystal tidak berani berharap lebih ketika Luhan berkata seperti itu. Kedokteran adalah mata kuliah yang sulit. Bagaimana jika Luhan telat karena ada tugas? Dia hanya mengiyakan perkataan Luhan.

Terkadang realita bisa melebihi sebuah ekspektasi. Luhan menepati janjinya. Ia bahkan menunggu Krystal di depan kelasnya. Astaga! Krystal dapat mengingat bagaimana teman-teman perempuannya berteriak histeris-sedikit kepo mengenai Luhan. Bertanya-tanya siapa laki-laki yang sangat romantis itu. Hal itu sudah membuat Krystal sangat bahagia, yah sedikit tersipu juga sih…

Luhan dan Krystal makan di kantin fakultas sastra Korea. Kantin biasa yang selalu Krystal datangi. Kantin dimana Krystal hampir tidak merasakan kembali makanannya karena sudah sangat hapal terhadap rasanya. Tapi ia tidak perduli.   Krystal sudah terlalu senang dengan alasan Luhan. Luhan berkata kepadanya jika ia memiliki tugas sehingga tidak bisa mengajak Krystal makan di luar. Ya ampun…. Benar-benar. Krystal kembali merasa seperti dulu. Saat mereka bertiga selalu makan bersama.

Deg!

Krystal menurunkan senyumannya. Mereka bertiga…. Mereka bertiga… Krystal-Sehun-Luhan. Tiga. Kenapa harus ada Sehun? Krystal kembali menghela nafas. Kenapa harus ada Sehun?

Kenapa ia harus mengingat kembali masa-masa indah itu?

Hati Krystal mendadak nyeri. Ia harus bisa menatap ke depan. Merasakan semuanya tanpa membandingkan dengan yang lalu. Dia harus bisa. Harus….

.TBC.

Flipped (Chapter 11)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Tiga Serangkai

Itu semua karena satu orang, mereka akhirnya kembali bersatu. Tetapi dalam diam. Hanya menampakan sebuah topeng. Kalut dalam rahasia terpendam. Orang itu, terlalu berharga untuk dihancurkan oleh suatu hal. Orang itu, seharusnya tidak pernah kembali lagi daripada tersakiti oleh hal-hal yang terjadi ketika ia pergi….

***

Krystal sudah menolak di buatkan teh, tetapi pada akhirnya secangkir teh hangat tersaji di depannya. Luhan yang membuatnya, bukan Sehun.

“Lucu bukan aku akhirnya tinggal satu apartment dengan Sehun?”

Krystal tersenyum kecil, “Lebih tepatnya mengejutkan.” Jawabnya jujur.

“Mengejutkan dan aneh aku bisa tinggal bersama Sehun.”

Krystal hanya terdiam. Oh, berbicara tentang Sehun, lelaki itu sedang di kamarnya. Entah apa yang ia katakan pada Luhan sehingga bisa lolos dari Luhan yang meninginkan ia juga ikut meminum teh bersama Krystal. Hal ini membuat Krystal dapat bernafas lebih lega. Setidaknya Sehun menjauh darinya.

Satu lagi, Chanyeol. Laki-laki yang lucu. Setidaknya itu yang Krystal pikirkan ketika Chanyeol memperkenalkan dirinya. Juga nyetrik. Chanyeol juga sedang berada di kamarnya. Mereka berdua-Chanyeol dan Sehun sibuk menyelesaikan proposal penelitian mereka yang deadline-nya sebentar lagi.

“Bagaimana jika kita makan malam di sekitar sini? Sekaligus mengetahui daerah ini?”

Pertanyaan Luhan kembali menyadarkan Krystal dari lamunannya, “Ide yang bagus. Ayo!”

“Aku akan mengajak Sehun juga. Dia pasti sudah mengetahui daerah sini!”

Krystal membulatkan matanya. Tidak! Ide buruk! “Kenapa harus dengan Sehun?”

“Kenapa?” Luhan menatap Krystal aneh.

“Ah…” Krystal sedikit bingung ingin menjawab apa. Dengan satu tarikan nafas, ia menjawab, “Sehun sedang mengerjakan proposal penelitiannya.”

Luhan menganggukan kepalanya, “Kau benar juga…” Ia kemudian tersenyum, “Kalau begitu kita berdua saja. Tunggu, aku akan mengganti bajuku.” Luhan berjalan menuju kamarnya.

Krystal bernafas lega. Ia kembali meminum tehnya.

Trek~

Luhan dan Krystal langsung menoleh ke asal suara, pintu kamar Sehun.

Dengan tenang, Sehun keluar dari kamarnya. Ia menggunakan jaket tebal bewarna hitam dipadu dengan celana jeans dan sepatu hitam. Sehun berhenti sejenak menatap Luhan dan Krystal bergantian.

“Kenapa dengan kalian?” Tanya Sehun masih menatap Luhan dan Krystal bergantian.

“Kau ingin keluar?” Bukannya menjawab, Luhan malah bertanya kepada Sehun.

“Aku ingin makan di luar. Bosan berada di kamar.”

Luhan tersenyum lebar mendengar jawaban Sehun, “Kau harus ikut aku dan Krystal makan malam!”

.

.

.

.

.

Luhan-Krystal-Sehun. Mereka adalah sahabat akrab ketika sekolah dasar. Tiga serangkai adalah nama yang mereka berikan kepada mereka sendiri. Awalnya, Krystal dan Sehun terlebih dahulu yang bersahabat. Berawal dari duduk sebangku, Krystal dan Sehun menjadi teman yang tidak terpisahkan. Ini berlangsung dari kelas 1 hingga kelas 2.

Pada kelas 3, Sehun dan Krystal tidak berada di kelas yang sama. Walau begitu mereka tetap berteman. Tidak sedekat dulu, ditambah mereka berdua telah menemukan dunia mereka masing-masing. Krystal menemukan dunia menulis dan bercita-cita menjadi seorang novelis. Sehun sedang asik-asiknya bermain basket. Mereka hanya bertemu ketika saat makan siang, saat pulang sekolah dimana Sehun selalu menemani Krystal hingga gadis tersebut di jemput, dan saat dimana mereka datang di pesta teman orangtua mereka.

Saat kelas 3 lah Luhan masuk ke kehidupan mereka. Sehun mengenalkan Luhan sebagai teman sebangkunya di sebuah acara teman orangtua mereka. Sejak saat itu Luhan bergabung ke Sehun dan Krystal. Saat makan siang, saat pulang sekolah, dan tentunya saat ada pesta teman orangtua dari masing-masing mereka.

Persahabatan mereka sangat unik. Dimana Sehun adalah ketua basket dan Luhan adalah ketua futsal. Kedua tim yang selalu bertengkar karena masing-masing ingin menjadi penyumbang piala terbanyak di sekolah. Kali ini, dibawah Sehun dan Luhan mereka bersatu. Ditambah Krystal yang sangat membuat iri para perempuan karena bisa dekat dengan dua emas sekolah, Sehun dan Luhan. Bagi para cowok pun, Sehun dan Luhan membuat mereka iri karena bisa selalu di dekat Krystal, perempuan dengan kepribadian riang dan mudah bergaul, tak lupa wajahnya yang rupawan dari kecil. Persahabatan yang sempurna bukan?

Sempurna tetapi tidak selamanya. Semuanya berubah sejak orangtua Luhan memutuskan untuk bercerai. Saat Luhan meninggalkan mereka karena mengikuti ayahnya di Amerika Serikat. Saat-saat dimana Krystal berharap Sehun tidak meninggalkannya, saat itu juga persahabatan mereka hancur karena perjodohan mereka. Saat itulah tiga serangkai menjadi mati.

.

.

.

.

Hanya terdengar dua suara dari tiga orang yang sedang menunggu pesanan ramyun mereka. Luhan dan Krystal. Sehun hanya menatap kedua orang di depannya, sesekali tersenyum, selebihnya diam memainkan handphone-nya.

“Kau dulu memang pendiam tetapi setidaknya masih memperhatikan lingkungan sekitar.” Komentar Luhan kepada Sehun.

Sehun menurunkan handphone-nya dan menatap Luhan, “Semuanya sekarang terdapat pada handphone…”

Luhan mendecakan lidahnya, “Lucu.”

“Hahaha…” Sehun membuat suara ketawa dengan muka datar. Seakan menantang perkataan ‘lucu’ Luhan.

Krystal sedari tadi hanya berbicara kepada Luhan. Hampir tidak pernah melihat ke arah Sehun. Gugup? Atau tidak menyangka ingin bertemu? Entahlah. Tetapi karena melihat tingkah Sehun tadi, ia yang sedang minum tersedak ingin ketawa.

“Dasar receh!” Cibir Sehun.

Kemudian Luhan ikut tertawa. Mengetawai receh nya Krystal yang sedari dulu selalu tertawa karena hal kecil. Melihat kejadian tersebut, perasaan hangat menyusup ke hati Sehun. Sehun ikut terkekeh kecil.

“Pesanan anda…” Seorang pelayan datang membawa tiga mangkuk ramyun.

Krystal langsung mengambil sumpit dan mengaduk ramyunnya. Kemudian ia membelah dua telur rebus.

Grab~

Krystal yang ingin makan terhenti, menatap kuning telurnya yang diambil. Dibawa menuju mangkuk di depannya. Sedangkan Sehun, yang berada di depan Krystal menatap Krystal datar sebelum menghentikan kegiatan mengaduknya. Bagaimana Sehun bisa melakukan kebiasaannya ketika SD? Mengambil kuning telur Krystal otomatis ketika gadis tersebut membagi dua telur rebusnya.

Krystal terdiam sejenak. Begitupula Sehun yang kemudian langsung mengubah kembali tatapannya ke mode datar, “Bagi…”

Ck, kau selalu mengambil dahulu baru meminta.” Kata Luhan yang sudah memakan ramyunnya. Seakaan tidak memiliki kecurigaan dengan kesunyian yang tadi Sehun dan Krystal buat. Seakan-akan itu bukanlah hal yang penting. Setidaknya bukan bagi Luhan karena ia tidak mengetahui apapun tentang mereka.

Tidak ada lagi pembicaraan karena Sehun dan Krystal memutuskan untuk makan dalam diam.

.

.

.

.

.

Perempuan bersurai cokelat menunjuk seorang pemuda sebelum teman di samping kirinya memukul kepalanya. Membuat ia meringis kesakitan dan mulai berbisik-bisik kembali kepada kedua temannya.

Bukannya ia terlalu percaya diri, tetapi Sehun sangat yakin jika perempuan-perempuan tadi menunjuk dirinya. Karena apa? Karena ia mengenal wajah familiar mereka dari flat-nya. Mungkin…. Mungkin mereka sedang berbisik-bisik kenapa Sehun bisa bersabar jalan bersama dua manusia yang aneh di sampingnya.

Sejak dari kedai ramyun hingga hampir sampai di flat Luhan dan Krystal tidak pernah berhenti tertawa. Karena lucu pada awalnya, tetapi tidak juga terus ketawa sepanjang jalan.

“Lihatlah…” Krystal menunjuk Sehun, “Sehun sama sekali tidak mengerti….”

Tawa Luhan dan Krystal kembali meledak. Sedangkan Sehun kembali menghela nafas, “Ayolah… Sampai kapan kalian tertawa?” Gerutu Sehun kesal.

“Sehun kesal… Sehun kesal…”

Suara tertawa masih terdengar hingga mereka benar-benar sampai di depan flat. Krystal menarik nafasnya yang sangat tipis. Paru-paru meringis kesakitan. Tentunya tenggorokannya sangat kering. Luhan hampir sama, tetapi ia sambil melihat handphone-nya. Luhan kemudian mendekatkan handphone-nya ke telinga, “Appa dimana?”

Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, “Hah? Di belakang?”

Mendengar kata tersebut, Sehun, Krystal, dan Luhan segera berbalik.

Samchon!” Sapa Krystal riang menyambut Appa Luhan yang datang ke arah mereka menggunakan tongkat kayu. Sehun membungkukan badannya.

Appa Luhan membungkukan badannya.

Luhan, berjalan mendekat ke Appa-nya, “Appa sudah lama menunggu? Kenapa tidak telepon terlebih dahulu jika sudah sampai?”

Appa menelepon mu.”

Mendengar jawaban pendek Appa-nya Luhan menepuk pelan jidadnya, “Aku men-silence hp ku!”

“Aku pulang dulu ya…” Suara Krystal menginterupsi Luhan dan Appa-nya, “Samchon, aku pulang duluan ya… Sudah malam.” Tak lupa, ia menampilkan senyuman andalannya.

“Aku…” Luhan terlihat ragu. Memilih antara Appa atau Krystal, “Naiklah sebentar. Appa hanya sebentar setelah itu aku akan mengantar mu.”

“Tidak usah! Appa mu sudah menunggu sejak lama. Lagipula ini masih belum larut, bus masih ada.”

“Sebentar saja. Setelah itu aku akan mengantarmu ke halte.”

“Sehun saja yang mengantarku..” ; “Aku saja!”

Krystal dan Sehun sama-sama tersentak ketika kalimat itu mereka dengar. Sekuat tenaga mereka tidak saling menatap satu sama lain dan tetap melihat Luhan.

Luhan menganggukan kepalanya ragu, “Baiklah. Sampai jumpa lagi Krys….”

Krystal membalas lambaian kecil Luhan. Tak lupa membungkukan badan ke arah Appa Luhan yang di balas dengan anggukan kepala. Mereka masih mematung hingga sosok Luhan hilang dari balik pintu. Sehun berdehem, “Ayo…. Bus terakhir jam Sembilan malam, lima belas menit lagi.”

.TBC.

Note: Mungkin ini update -an terkahir di bulan January… Hehehe (?) Who Knows… #update lagi cepet #tapi gak tau besom #maafkan saya yang nulis tergantung mood

 

Flipped (Chapter 10)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Benang Merah yang Tak Pernah Putus

Krystal berhenti sejenak sambil menatap laptopnya.  Sebuah pertanyaan yang tidak terduga dan dari orang yang juga tak terduga.

***

Brak!
“Aaahhhh…..” Sehun meringis ketika Chanyeol melempar proposal penelitian setebal 50 halaman. “Park Chanyeol!” Geram Sehun dengan tatapan marah.

Bukannya meminta maaf, Chanyeol berbicara dengan suara yang lumayan kencang, “Bangun!!!! Hari ini bagian dirimu yang membeli sarapan!”
Sehun meringis. Pertama, karena kepalanya yang berdenyut. Kedua, karena ia tidak pernah menyangka harus tinggal selama dua tahun ini menghadapi Chanyeol, yang notabane-nya lebih cerewet daripada ibunya.

Dengan malas Sehun bangun. Tidak gosok gigi atau mencuci muka, ia mengambil coat-nya. Memakainya untuk menutup baju tidurnya.

“Setidaknya pakailah baju yang benar. Kau tidak takut sakit akibat angin musim gugur yang semakin dingin?”

“Yang penting aku mau membelinya.” Jawab Sehun. Cuek.

Sepanjang jalan keluar dari flat banyak yang menyapanya. Rata-rata adalah mahasiswi yang juga tinggal di flat mereka. Hanya dirinya, Chanyeol dan Jongdae yang mahasiswa. Tapi sekarang Jongdae sudah pindah, menyisakan satu kamar kosong.

Flat yang ia tempati dekat dengan kampusnya. Hanya satu kali naik bus. Banyak minimarket dan restaurant. Dan tentunya wifi dimana-mana. Membuat segalanya menjadi hemat.

Sudah dua tahun ini dia tinggal di Flat. Karena retaknya hubungan dia dan orangtuanya. Kedua terlihat sangat kecewa karena mereka berdua yakin Sehun ikut andil atau setidaknya tahu rencana malam itu.   Setelah hampir tiga bulan lamanya dia dan kedua orangtuanya saling diam, Sehun akhirnya memutuskan untuk pindah dari rumahnya. Menyewa flat yang sekarang ia tempati dengan Chanyeol dan Jongdae. Bahkan ia tidak pernah menerima uang saku dari kedua orangtuanya. Orantuanya hanya membayar uang kuliah.

Perlu dia akui jika tinggal di rumahnya jauh sangat-sangat-sangat nyaman daripada di flat. Apalagi dengan atap yang selalu bocor setiap hujan. Angin yang selalu menerobos karena jendala yang rusak. Jangan lupa, perjanjian konyol dirinya dan Chanyeol tentang pembagian tugas dirumah, yang entah mengapa ia setujui membuatnya sangat malas. Siapa yang menyangka jika Chanyeol orangnya sangat bersih? Sehingga mewajibkan seluruh orang yang tinggal di flat menyapu, mengepel, menyikat kamar mandi. Ia bahkan membuat jadwal piket. Barang siapa yang tidak melakukannya…. Buku atau teriakan kencang akan tersaji.

“Seperti biasa bukan?”
Sehun mengangguk. Ia langsung memberikan sejumlah uang kepada Bibi Koo, salah satu pemilik kedai makanan yang selalu menjual roti bakar setiap paginya.

“Kemana teman flat mu yang sangat manis itu? Aku tidak melihatnya beberapa minggu ini.”

Sehun tersenyum kecil mendengarnya. Pasti Jongdae. Ia mengenal beberapa panggilan kedua temannya di lingkungan ini. Chanyeol si cowok hiperaktif. Jongdae si manis. Sedangkan dia? Mungkin, Sehun si datar.

“Jongdae pindah. Dia tinggal bersama kakak perempuannya sekarang.”

“Sayang sekali…” Kata Bibi Koo dengan raut yang benar-benar sedih. Dia kemudian memberikan makanan yang dipesan dan uang kembalian.

“Terimakasih Bibi Koo.” Sehun membungkukan badannya sebelum pergi menjauhi kedai.

.

.

.

.

Sehun sudah agak segaran. Wajahnya tidak lagi seperti baru bangun tidur. Dia sudah mandi. Ia segera duduk di sofa yang terletak di tengah-tengah dari kamarnya, kamar Chanyeol, dan kamar Jongdae-dulunya. Mengambil rotinya. Kemudian melahapnya sambil melihat tv dengan Chanyeol.

Penampilan Chanyeol lebih rapi daripada Sehun. Sehun sudah mengetahui mengapa Chanyeol seperti itu. Chanyeol selalu mengunjungi orangtuanya setiap hari Sabtu. Menginap selama satu hari dan pada hari minggunya ia kembali ke flat-nya. Sebuah hal yang tidak pernah ia lakukan semenjak keluar dari rumahnya.

“Kau tidak kemana-manakan?”
Sehun menjawab pertanyaan Chanyeol dengan mengangguk.
“Bagus. Ada orang yang ingin melihat kamar Jongdae. Tolong urus dia.”

Sehun kini menatap Chanyeol, “Penyewa baru?” Tanya Sehun dengan antusias. Okay, ini adalah berita yang sangat bagus. Dengan tidak adanya Jongdae, dia dan Chanyeol membagi dua biaya sewa mereka dan itu hampir membuatnya putus asa. Harus menyesuaikan kondisi keuangannya.

Chanyeol mengangkat bahunya, “Belum tahu. Dia bilang jika ingin melihat terlebih dahulu. Menurutku sih, itu adalah hal yang sangat lumrah. Jadi urusin dia ya? Perlakukan ia dengan baik-“

“Ya, ya, ya.” Potong Sehun malas. Malas mendengarkan rentetan kalimat Chanyeol yang sangat panjang. Terlalu cerewet, gumam Sehun di dalam hatinya. Sehun kemudian berdehem, “Serahkan saja padaku.”

.

.

.

.

Krystal terhenti sejenak sambil menatap laptopnya. Sebuah pertanyaan yang tidak diduga-duga dan dari orang yang juga tak terduga.

“Bagaimana kabar Sehun juga? Kau tetap berhubungan bukan dengannya?”

Ia menghela nafas. Kemudian memberengut. Kenapa pula Sehun harus disebut-sebut? Setelah menimang-nimang sejenak, ia membalas email dari sahabat kecilnya.

“Kami sibuk dengan urusan kami masing-masing.”

Jarinya langsung menekan tanda sent dengan tenaga yang lebih kuat dari seharusnya. Tentunya tanpa ia sadari.

Krek~

Kali ini bukan sebuah email yang masuk melainkan bibi Kwon yang masuk. Bibi Kwon mengeluarkan sebuah senyum simpul. Terukir manis di balik garis wajah yang sudah tua. Meletakan sebuah nampan berisi makanan. Kemudian kembali keluar.

Krystal menoleh sedikit, menatap makanan apa yang di antar. Ia menghela nafas melihat makanan tersebut. Sup Ayam. Kenapa harus itu? Sup? Ayolah…. Dia bukanlah seorang yang sedang sakit.

Mungkin jika melihat seorang mengantarkan makanan kepadanya, ke kamarnya, juga makanan tersebut adalah Sup Ayam, sebagian besar mengira jika Krystal sedang sakit. Tetapi dia tidak sakit. Itu adalah peraturan di rumahnya. Peraturan tidak tertulis sejak kejadian sekitar dua tahun itu. Mungkin kedua orangtuanya terlalu kecewa kepadanya hingga melakukan hal ini. Mereka tidak pernah lagi berbicara. Ah, jangankan berbicara, bertatap muka lagipun tidak pernah. Semua perlengkapannya dikirim ke kamarnya. Termasuk makan pagi, siang, dan malam. Kehidupannya berjalan di sekolah dan kamarnya saja.

Tring!

Krystal tersentak dari lamunannya. Ia masih saja mengingat hubungan dirinya dengan kedua orangtuanya. Walaupun sudah ratusan kali atau bahkan ribuan, tetap saja dia merasa tersakiti dengan fakta tersebut.

Krystal kembali menatap laptopnya. Ia membuka pesan dari sahabatnya.

“Benarkah? Kurasa dunia perkuliahan memang sangat sibuk. Dimana kau kuliah? Oh, ya aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan dirimu lagi.”

Dengan cepat dia membalas,

“Aku juga tidak sabar untuk bertemu dengan dirimu lagi. Kapan dirimu sampai di Korea?”

Lagi-lagi ia memencet tombol kirim. Krystal berbalik, mengambil makan siangnya dan memakannya di depan laptopnya. Setelah 20 detik, sebuah email masuk.

“Hari ini. Aku sedang berada di dalam pesawat. Tapi kita mungkin baru bisa bertemu lusa atau minggu depan. Setelah aku menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah.”

“Astaga! Kau tadi berkata seakan-akan baru pulang minggu depan 😀 Hahahahaha … Tenang saja tentang kita bertemu. Yang penting dirimu merasa nyaman kembali di sini.”

“Aku merindukanmu Krystal.”

“Aku juga”

Setelah 15 menit tidak ada balasan lagi, Krystal keluar dari email-nya. Mematikan laptopnya. Kembali menyantap mangkuk berisi sup ayam yang hangat.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Hiks….. Hiks…. Hiks…” Krystal kembali menghapus airmatanya.

Kenapa dia harus menangis? Dia juga tidak tahu. Dia hanya bertemu dengan ibunya Sehun. Kenapa semuanya terasa menyakitkan?

Tring!

Krystal mengambil hp-nya yang ada di atas meja. Sms dari Luhan.

Kau mengecewakanku Krys~

Helaan nafas keluar. Luhan memang seseorang yang baik. Ditambah tampangnya yang sangat imut. Tetapi ia paling tidak suka dikhianati. Bahkan seseorang yang membatalkan janjinya saja ia sangat tidak suka. Intinya, sekali dirimu berbicara sesuatu maka harus ditepati.

Maaf… Ini benar-benar keadaan darurat. Ku harap kau bisa mengerti.

Krystal menekan tombol send. Hanya tiga detik, sebuah balasan masuk,

Aku mengerti…. Tetapi tetap saja, kau mengecewakanku.

Krystal mendecak sebal. Ya, ampun…. Apa tidak ada yang benar-benar mengerti dirinya? Menuntut dan menuntut! Dengan kesal, Krystal membalas pesan Luhan,

Kalau dirimu mengerti setidaknya dirimu tidak akan mengatakan kecewa kepadaku! Kau seharusnya mengatakan, ‘Tidak apa-apa, Krys.. Ini bukan masalah penting’.

Send~

Tidak lama kemudian, Krystal kembali mendecak. Kesal, terhadap dirinya sendiri yang terlalu terbawa emosi. Luhan memang seperti itu, seharusnya ia mengerti.

Luhan….

Krystal mengirim pesan baru. Berharap Luhan membalasnya, walau ia yakin Luhan akan menyapanya beberapa hari kemudian.

Luhan….

Krystal kembali mengirim pesan 10 menit kemudian.

Luhan….

Pesan ketiga terkirim. Setelah limabelas menit berlalu, Krystal menutup harapan jika Luhan akan membalas pesannya.

Tring~

Krystal tersentak. Dengan penuh harap, ia membuka pesan yang masuk dari Luhan.

Temui aku di apartment ku… Kau harus menjemputku sebelum kita pergi bersama, mengerti?

Krystal tersenyum lega. Tanpa maaf ia tahu, Luhan telah memaafkannya.

.

.

.

.

Hufh~

Sebuah uap keluar dari mulut Krystal. Ia mengeluarkan lipbalm dari kantong jaketnya, menempelkannya di bibirnya yang kering. Setelah selesai, ia menaruhnya kembali dan mengambil handphone-nya. Yang juga berada di dalam kantong jaketnya. Mengecek nomor yang tertera di sebuah gedung dengan yang ada di pesan Luhan. Sama. Krystal melihat gedung dengan seksama, terlalu sederhana untuk di tempati oleh anak seperti Luhan, yang notabane-nya anak orang kaya.

“Hahahahaha…. Ia kelihatan sangat culun bukan?”

“Ini apartment-mu?”

“Eum, benar!”
Krystal menoleh ke arah dua perempuan yang sedang berjalan ke arahnya. Sebuah ide pun muncul. Sebuah senyuman terukir dari bibirnya. Kedua perempuan tidak menyadari keadaan Krystal. Salah seorang dari mereka, yang memakai jaket hitam mengeluarkan kunci dan membuka pintu. Saat mereka berdua masuk, Krystal diam-diam menahan pintunya dan juga ikut masuk.

“Astaga!” Krystal tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebuah tangga yang…. Errr… Dia tidak bisa membayangkan untuk menge-check setiap kamar untuk mengetahui kamar Luhan di setiap lantai dengan tangga seperti ini.

“Lantai lima bukan?”

Lagi-lagi Krystal menoleh dan mendapati dua orang perempuan masuk. Ia menarik sudut bibirnya. Sebuah ide muncul.

“Permisi…” Sapa Krystal kepada dua orang perempuan yang baru saja masuk. “Sahabatku berada disini. Namanya Luhan, ia baru saja pindah ke sini. Tadi dia mengizinkan ku masuk tapi lupa memberi tahu letak kamarnya. Ia bilang cari saja sendiri nanti juga ketemu. Tapi aku tidak yakin, aku selalu tersesat. Bisakah kalian menunjukannya pada ku?” Krystal mengulas senyumannya di akhir kalimat. Memberi polesan terakhir untuk aktingnya yang apik.

“Luhan…” Perempuan yang membawa buku terlihat berpikir, “Aku tidak pernah mendengarnya. Apakah dia laki-laki?”

Krystal merasa aneh, tetapi ia hanya mengangguk pelan.
“Hey, kudengar ada yang baru saja menggantikan Jongdae. Mungkin itu dia?”

Perempuan yang pertama kali bicara menghadap temannya, “Oh, benarkah? Aku tidak mengetahui hal itu.” Ia kemudian menoleh ke arah Krystal, “Kalau begitu kamar 309. Di lantai tiga. Nanti dari tangga belok ke kiri. Kamarnya tidak jauh dari tangga tersebut. Letaknya di bagian kanan.”

Krystal mengucapkan terimakasih kepada dua orang tersebut. Bersama-sama, mereka menaiki tangga. Tetapi Krystal membiarkan mereka berdua lewat. Ia tidak yakin tangga kuat menopang tiga orang karena, dua orang saja tangga terasa goyang. Ia bersandar di dinding menahan rasa takut.

Saat ia rasa tangga tidak terlalu goyang, Krystal mulai melangkah. Cepat tetapi tidak sampai membuat tangga bergoyang. Dia selalu berdoa agar tidak jatuh setiap kali beberapa perempuan terburu-buru melewati tangga mengerikan ini.

Tap!

Krystal bernafas lega ketika sudah sampai di lantai tiga. Mengikuti petunjuk dari dua orang tadi, Krystal dengan mudah menemukan kamar Luhan. Sesuai dikatakan perempuan tadi, belok kiri dari tangga, tidak jauh dari situ kamarnya di sebelah kanan. Dengan yakin Krystal mengetok pintu kamarnya.

Tok~ Tok~ Tok~

Ketuk Krystal untuk kedua kalinya.

Trek~

Pintu terbuka. Krystal langsung memasang senyum lebarnya.

“Krystal?!”

“Sehun…” Ucap Krystal lirih. “Apa yang kau lakukan di flat milik Luhan?”

Sehun sedikit terkejut. “Ini juga flat-ku.”

Krystal terdiam. Menundukan kepalanya. Kemudian menghela nafas, “Aku ingin bertemu dengan Luhan.”

Sehun menganggukan kepalanya, “Luhan tadi pergi bersama Chanyeol. Masuklah. Tunggu sebentar di dalam. Kau tidak mungkin menunggu di luar bukan?”

Krystal menelan ludahnya. Ide yang buruk. Sangat buruk. Apa yang Sehun lakukan? Dia kira semua keadaan sudah baik-baik saja?

“Aku tidak ada maksud lebih apalagi menganggap semua keadaan baik-baik saja. Aku hanya menawarkan dirimu masuk ke flat agar tidak kedinginan di luar. Itupun kalau dirimu mau.”

Krystal masih diam. Hanya menatap Sehun.
“Kau terlalu banyak berpikir. Baiklah akan ku tutup.” Sehun kemudian mundur dari pintu. Tangan kanannya mendorong untuk menutup pintu.

“Tunggu! Aku masuk!”

Krystal langsung mendorong pintu.

Deg!

Krystal sangat terkejut ketika tangan Sehun tiba-tiba mencegat dirinya di depan pintu. “Kamar ini sangat berantakan. Jangan protes.” Sehun langsung berbalik dan membiarkan Krystal masuk, juga menutup pintunya.

“Hah?!”

Sehun mencebik, “Bukannya sudah ku bilang jangan protes?”

Krystal kembali menatap Sehun dan tidak bisa berkata apa-apa. “Ini… Dimana aku bisa duduk?” Tanya Krystal sambil melihat tumpukan kertas di mana-mana. Termasuk di sofa.

“Duduklah di ruang makan.” Jawab Sehun cuek. “Kau perlu aku buatkan teh? Jika tidak, aku akan masuk ke kamarku.”

Krystal hanya menggeleng lemah.

.TBC.