Unwanted Reverie (Chapter 2)

unwantedreverie

Poster By : NJXAEM@ POSTERCHANNEL

Author: Ally

Cast: f(x)’s Krystal Jung | EXO’s Oh Sehun | RV’s Bae Irene |

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

***

Unwanted #2: Unwise Advised

“Jadi bagaimana Krystal, apakah kau ingin menggoda Oh Sehun?” Joohyun kembali berkata setelah Krystal menatapnya tanpa berkedip hampir tiga menit. Dia mengigit bibirnya.

“Oennie gila bukan? Aku adalah sahabat mu. Oh Sehun adalah tunagan mu. Apa yang ada dipikiran Oennie?” Krystal berangsur-angsur mundur. “Oennie… Astaga! Kau membuatku takut!”

Joohyun menghela nafasnya, “Kumohon Krystal…. Pikirkanlah!”

.

.

.

.

.

Krystal tidak tahu perasaannya sejak ia pulang dari butik Joohyun. Hal yang dijanjikan Joohyun hampir berhasil membuatnya ingin menyetujui. Tapi apakah hal itu benar?

Sebelum Krystal pulang, Joohyun masih menatapnya sambil berharap. Joohyun juga berkata alasan ia memilih Krystal karena ia mempercayai Krystal sebagai sahabatnya. Sahabat yang selalu berada disampingnya. Hal itu bukan membuat Krystal tenang. Malah semakin membuat ia resah, bagaimana jika ia kelewat batas?   Bagaimana jika ia mengkhianati Joohyun pada akhirnya? Semuanya pasti dapat terjadi.

Lagipula, apakah Krystal semurah itu? Menggoda tunangan-lebih tepatnya calon tunangan- terdengar murahan bagi Krystal. Tentu Joohyun tidak bermaksud seperti itu. Gadis itu hanya terluka dan itu satu-satunya hal yang ia pikirkan. Krystal satu-satunya orang yang ia pikir cocok untuk melakukannya.

Helaan nafas terdengar dari bibir Krystal. Ia memijit pelipisnya yang sedari tadi pusing karena berbagai masalah. Ia bangkit dari tempat tidurnya. Ia tidak bisa tidur. Padahal jam sudah menunjuk pukul sebelas malam. Dia lelah tapi pikirannya tetap berkelana. Krystal berjalan menuju jendela kamarnya. Membukanya. Membiarkan bunyi mobil yang masih ramai dari kota New York masuk ke apartment-nya.

Banyak orang tidak ingin tinggal di apartment yang berada tepat di tengah kota New York. Selain karena macet, apartment disitu sangat bising. Kota yang tak pernah tidur ini terlihat dari jalananannya yang tidak pernah sepi. Tapi itulah yang membuat Krystal tinggal di apartment-nya. Ia menyukai suara bising dari mobil yang terkadang di warnai oleh suara klakson. Itu mengisi kekosongan di apartment-nya. Mengisi kekosongan dirinya juga.

Ia tidak pernah mempunyai teman. Krystal menghabiskan masa hidupnya di apartment orangtuanya. Ia tidak bersekolah seperti anak pada umumnya. Ia homeschooling. Dia hanya bersekolah tiga bulan lamanya. Sebelum teman-temannya membulli dirinya dan orangtuanya memutuskan untuk mensekolahkannya dirumah.

Sepupunya adalah temannya. Minho dan Junmyeon. Tapi sekarang mereka tidak dekat lagi. Setelah Junmyeon putus dari Joohyun dan ia lebih memihak Joohyun. Setelah Junmeyon menikah dengan Park Chorong, perempuan yang ia pilih melebihi Joohyun. Minho masih bersikap baik terhadapnya. Apalagi Choi Sulli, istrinya. Tapi entahlah… Krystal menjauhi Minho. Karena dimana ada Minho disitu juga ada Junmyeon. Jika Junmyeon ada, maka ia dan Krystal pasti akan bertengkar.

Krystal menatap jalanan yang tak pernah sepi itu. Di tengah hingar bingar ini ia masih merasakan sepi.

.

.

.

.

.

Tidak mempunyai teman bukan berarti Krystal tidak mempunyai seseorang yang bisa diajak berbicara. Ibunya selalu berada disampingnya. Ibunya lebih dari sekedar ibu baginya. Ia adalah saudaar perempuan Krystal dan juga sahabatnya. Ibunya menjadi tempat Krystal ketika ia bingung.

Kebetulan yang menakjubkan adalah hari ini, sehari setelah Joohyun dan Krystal berbicara, Krystal dari minggu lalu sudah mempunyai janji dengan ibunya. Ibunya baru saja pulang dari dinas kerjanya dan baru hari ini, setelah dua minggu, ia dapat bertemu dengan ibunya.

Krystal asyik menunggu di restaurant italia dekat kantor ibunya. Ketika hampir 15 menit menunggu, ibunya datang. Dengan pakaian formal kantor dan rambut yang digulung ke atas. Wanita yang menginjak akhir 40 ini terlihat tersenyum ke Krystal. “Apakah sudah menunggu lama?” Tanya ibunya dan mulai melihat menu.

Krystal juga ikut melihat menu, “Tidak juga. Aku pikir Oemma akan lebih lama lagi.”

“Rapatnya selesai lebih cepat.” Ujar Jessica pendek. “Ah… Oemma melihat macaroni disini jadi teringat Mac and Cheese di Chichago. Itu sangat lezat.”

Oemma tidak membawakannya untuk ku.” Kata Krystal dengan nada yang pura-pura kesal.

Jessica tertawa, “Oemma pernah membawakan mu makanan tapi kau dan Appa tidak pernah memakannya. Lagipula Oemma dibayarin makan disana.”

Krystal kemudian berdehem, “Kita pesan Lasagna saja bagaimana? Aku bosan dengan spaghetti.”

“Oemma ikut saja dengan mu.”

Krystal dan Jessica memesan Lasagna dengan minuman mereka. Krystal terdiam sejenak. Haruskah ia mengatakannya? Meminta saran Oemma-nya?

“Bagaimana kuliah mu? Apakah rancanganmu diterima oleh Professor Clark?”

Krystal menatap Oemma-nya sejenak, “Tidak. Dia menolaknya. Tapi aku sudah mendapatkan inspirasi baru.”

Jessica menganggukan kepalanya, “Dan bagaimana rencana mu ketika selesai kuliah? Kau sudah mempertimbangkan saran Appa dan Oemma kan?”

Saran Appa dan Oemma membuat Krystal tambah frustasi. Kedua orangtuanya sudah mengetahui jika Krystal langsung ingin membuat brand pakaian. Tapi mereka khawatir. Mereka khawatir karena Krystal harus meminjam uang dari bank. Menurut mereka itu terlalu beresiko. Mereka juga tidak dapat membantu Krystal. Hidup di New York hampir 20 tahun, gaji mereka masih dikatakan terlalu pas-pasan. Mereka ingin Krystal bekerja dulu di boutique seseorang baru membuat brand sendiri.

“Krystal!” Jessica memanggil Krystal yang terdiam. Ia tersenyum sedih, “Kau tidak setuju bukan?”

Krystal berdehem, “Aku mendapat kesempatan lain. Bukan meminjam uang dari bank. Joohyun menawariku bekerja sama untuk pakaian musim panasnya. Itu dapat membuat namaku terkenal dikalangan investor.”

“Itu hal yang bagus sayang!” Jessica bersorak senang. Ia mengenggam kedua tangan Krystal, “Apa kau menerimanya?”

“Belum. Aku masih memikirkan syaratnya.”

Jessica menghela nafasnya dan memijit pelipisnya, “Syarat…. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Jadi katakan kepada Oemma. Apa syaratnya? Apa syaratnya kau harus membagi pendapatan mu atau kau membangun brand dibawah perusahaan miliknya atau apa?”

Krystal menggelengkan kepalanya, “Bukan syarat seperti itu.”

“Bagus! Apa lagi yang kau tunggu Krystal Jung? Atau ia memberikan syarat yang melanggar hukum?”

“Astaga Oemma tentu tidak! Oemma berkata seakan Joohyun orang jahat.”

Jessica kembali mengenggam tangan Krystal, “Kalau begitu apalagi yang harus kau tunggu? Dengar, Oemma tidak tahu persis apa syaratnya tapi menurut Oemma kalau syaratnya tidak merugikan mu, tidak membuat mu melanggar hukum, Joohyun juga mempercayaimu, dan satu lagi Joohyun senang jika kau melakukannya kenapa tidak? Oemma tidak akan bohong kepada mu Krystal, ini adalah kesempatan terbaik mu.”

“Permisi!” Suara dari pelayan wanita mengejutkan mereka berdua. “Pesanan kalian…”

Hmm.. Lasagna datang pada waktu yang tepat.” Ujar Jessica dan mulai memotong Lasagna-nya.

.

.

.

.

.

Berbicara dengan ibunya tidak membuat Krystal sedikitpun tenang. Akhirnya, ketika jam menunjukan pukul 12 malam, ia memutuskan keluar dari apartment-nya menuju bar di sekitar apartment-nya. Dengan pakian tidur tipisnya dilapisi oleh jaket tebal dan panjang. Yang Krystal inginkan saat ini adalah minum-minum.

“Lady… Aku sudah lama tidak melihatmu datang disini.” Seru bartender bar ke Krystal.

Krystal tersenyum kecil, “Hai Micheal! Aku tidak melihat Nick!”

“Oh Nick keluar dari 2 minggu yang lalu. Kekasihnya tidak setuju dia bekerja disini.”

“Sayang sekali… Aku pesan seperti biasa.” Krystal duduk dan melihat layar tv menampilkan tv series berjudul entah apa. Dia sudah lama tidak melihat tv. “Bar sangat sepi malam ini.”

“Ini jam 12 malam Lady… Tentu sudah sepi. Aku mau tutup jika saja kau tidak datang.” Michael kemudian memberikan minumannya. Krystal tersenyum dan meneguk dengan sekali.

“Hai Micheal!” Seseorang datang dan terlihat menjabat tangannya dengan Micheal. “Ku kira bar mu sudah tutup.”

“Hai Kai! Sebenarnya aku sudah ingin tutup jika saja Krystal tidak datang.”

Krystal yang mendengar namanya disebut menoleh ke arah teman Micheal.

“Ini teman ku Kai, Krystal. Dia juga berasal dari Asia seperti mu. Tepatnya dari Korea Selatan.”

Krystal terpaksa mengeluarkan senyumannya. Kalau ingin berdebat, dia akan berkata jika dia benar-benar orang Amerika asli karena lahir dan dibesarkan disini. Keluarganya sudah tiga generasi berada di Amerika. “Aku pesan lagi.”

“Aku seperti biasa.” Ujar Kai dan duduk disamping Krystal.

Mereka terdiam. Krystal benar-benar ingin sendiri kali ini. Ketika minuman datang, ia kembali meneguknya dengan sekali teguk.

“Hari yang buruk?” Tanya Kai menatap Krystal. “Atau masalah yang berat?”

“Masalah yang berat.” Sahut Krystal enteng. Ia mengangkat tangannya untuk memesan lagi.

Kai meneguk minumannya.

“Hari yang buruk atau masalah yang berat?” Tanya Krystal melihat Kai yang juga meminum alkoholnya dengan cepat.

Kai tersenyum, “Dua-duanya.”

“Ku kira aku saja yang menderita.” Kata Krystal kemudian menyesap minumannya.

Kai tertawa, “Tidak bisakah kau memberi simpati kepadaku?”
Krystal menatap Kai. Menyadari jika laki-laki itu memiliki wajah rupawan dengan mata bulat sempurna, hidung yang mancung, dan bibir yang tebal. Ia berdehem, “Aku tidak dapat memberikan simpati karena aku sendiri kekurangan akan hal itu. Mungkin kau bisa memberikan simpati kepadaku?”

Kai menyesap minumannya, “Apakah kau pernah berpikir jika semua hal tidak ada yang sesuai dengan ekspektasi mu? Hari ini aku menyadarinya. Kau mengenalku?”

“Apa kau model yang tidak terlalu terkenal?”

Kai tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban lugas Krystal, “Kau bukan yang pertama yang mengatakan pekerjaan ku model. Tapi kau yang pertama yang mengatakan jika aku model yang tidak terlalu terkenal.” Kai mendekatkan wajahnya ke Krystal, “Aku penari terkenal.”

“Itu bukan duniaku.” Seru Krystal dan lagi-lagi meneguk alkoholnya. Satu-satunya penari yang ia kenal Oh Sehun. Oh, Krystal jadi bertambah muram mengingat hal tersebut.

“Intinya, aku membuat koreagrafer dan berharap koreagrafer ku di pilih untuk acara pembukaan. Tapi tidak malah koreagrafer teman ku. Kemudian teman ku dipilih sebagai center, itu biasanya posisi ku. Dan teman ku, orang yang sama dengan koreagrafernya dipilih dan sebagai center, diberikan durasi solo performance terlama. Kau tahu kenapa begitu? Itu karena dia mempunyai wajah yang tampan.”

“Kau tampan.”

Kai tersenyum mendengar perkataan Krystal, “Dia lebih tampan. Kata murid-murid perempuan yang lain wajahnya membuat mu tidak bisa bernafas.” Ia kembali berkata, “Jadi bagaimana dengan mu?”

Krystal akhirnya bercerita, “Aku mempunyai masalah besar. Teman ku, tiba-tiba berkata kepadaku jika ia akan membantuku. Tapi dengan sebuah syarat. Dan aku pusing dengan syarat itu. Sebelum kau berkata jika syaratnya merugikan diriku atau melanggar hukum maka aku akan menjawab tidak. Syaratnya sedikit gila tapi tidak melanggar hukum.”

“Apa syaratnya?”

Krystal menyesap minumannya dengan muram, “Dia ingin aku menggoda calon tunagannya. Bisakah kau pikirkan itu?! Hidupku memang susah tapi aku tidak semurahan itu!”

“Jauhi saja teman mu. Ku rasa dia meremehkan mu.”

“Aku tidak bisa. Dia mempunyai masa lalu yang buruk tentang tunangan dan pernikahan. Itu yang bisa ia pikirkan dan hanya aku yang ia percaya. Masalah utamanya adalah aku butuh hal yang ia janjikan.”

“Hey, kau ma dengar saran ku?”

Krystal kembali menatap Kai, “Saran dari seseorang yang mabuk?”

Kai mendekatkan wajahnya ke Krystal, “Jika kau menerima saran dari seseorang yang tidak mabuk kau pasti tidak akan mabuk-mabukan.”

Krystal menghela nafas mendegar kalimat Kai yang mengindikasi dia sudah mabuk. Tapi ia tetap diam mendengarkannya.

“Menurutku, kau setuju saja dengan syaratnya. Tapi kau tidak menggoda calon tunangannya. Kau mungkin dekat dengan calon tunagannya tapi tidak sampai menggodanya. Ketika ia bertanya apakah calon tunagannya tergoda olehmu kau tinggal menjawab tidak. Dia pasti percaya padamu. Dan dia pasti tidak akan bertanya kepada calon tunagannya.”

Krystal melihat alkoholnya sejenak sebelum kembali meminumnya. “Kau tahu, kurasa kau teman yang enak diajak ngobrol.” Krystal mengeluarkan uangnya dan memanggil Micheal, “Ambil saja kembaliannya.”

Kai yang melihat Krystal akan pergi juga ikut membayar. “Kenapa kau berhenti minum? Kita bisa mengobrol lagi.”

“Aku ingin tidur.” Jawab Krystal pendek.

“Biar ku antar. Kau mabuk.”

Krystal tertawa dan ia mengibaskan tangannya, “Kau juga mabuk. Lagipula tempat tinggal ku dekat.” Ia berbalik keluar dari bar.

Kai mengikuti Krystal. “Hey, aku rasa aku bisa menemanimu berjalan.” Krystal masih berjalan tanpa menoleh dan Kai mengikuti Krystal. Ia dengan cepat mensejajarkan langkahnya dengan Krystal, kemudian mencekal tangan Krystal, “Atau kita bisa bersenang-senang sedikit? Kau tahu… Aku sedang kesepian. Kau juga.”

Krystal mendekat ke arah Kai dan berbisik, “You’re not lonely. You can ask your fiancée or your wife to company you.” Ia kemudian menatap Kai dengan tatapan tajam, “Lain kali simpan terlebih dahulu cincin mu sebelum menggoda seseorang. Looser!” Ia segera berjalan menjauhi Kai.

Kai menatap punggung Krystal yang semakin menjauh kemudian tersenyum. Dia menyukai gadis itu.

.TBC.

Haiiii… Aku updated agak cepat kali ini. Tapi gak tahu kedepannya soalnya aku udah masuk sekolah lagi. Agak liar bukan? Ya, soalnya mereka hidup di Amerika alias New York jadi aku buat latar kehidupan Krystal agak liar.

Well, Kim Jongin atau Kai sudah muncul menjadi playboy kelas kakap. Sedangkan Oh Sehun belum. Kayaknya sih Sehun muncul di chapter depan.

Okay, See you soon~

Advertisements

Unwanted Reverie (Chapter 1)

unwantedreverie

Poster By : NJXAEM@ POSTERCHANNEL

Author: Ally

Cast: f(x)’s Krystal Jung | EXO’s Oh Sehun | RV’s Bae Irene |

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

***

Unwanted #1 : Making A Brand

Kertas-ketas sudah bertebaran dimana-mana. Banyak dari kertas sudah tak berbentuk lagi akibat dari emosi sang gadis yang asyik mencoret-coret sesuatu. Tak lama kemudian ia kembali meremas kertas, lagi, dan melemparnya sembarangan. Krystal merengut. Ini benar-benar sial! Ide-idenya yang tadi pagi sudah keluar hilang entah kemana. Belum lagi mood nya yang benar-benar buruk.

Sudah dua jam ini gadis yang berambut blonde ini berkutat menyelasaikan satu model pakaian. Satu model saja. Tadinya Krystal sudah memiliki banyak ide bahkan sudah menghubungi pembimbingnya. Mahasiswi semester terakhir yang sedang membuat karya sebagai pembuktian dia siap bekerja merasa yakin dengan karyanya. Yah gitu deh akhirnya… Pembimbing Krystal benar-benar marah dan menolak ide Krystal. Mengatakan jika diri Krystal tidak pernah berkembang. Hanya gambar gadis ini saja yang bagus.

Pembimbingnya mengancam jika dalam tiga minggu Krystal tidak menyelesaikan model pakaiannya ia harus menunggu tahun depan. Belum lagi ia bertemu dengan teman kampusnya yang mengejek dirinya. Mengatakan jika sedari awal Krystal keluar saja dari jurusan mode dan banting setir menjadi seorang pelukis. Jika ia tahu waktunya banyak, Krystal pasti akan membalas omongan gadis sialan itu.

Krystal memijit pelipisnya. Ia meletakan buku sketsanya dan beranjak dari tempat tidurnya. Keluar dari kamarnya untuk memasak makan siangnya sendiri. Krystal mengeluarkan dua bungkus ramyun instan dan mulai memasaknya.

Ting!

Krystal yang sedang asyik melamun tersentak hebat mendengar bunyi yang tak lain dari handphone-nya. Gadis itu menggarukan kepalanya yang tidak gatal. Mencoba mengingat dimana handphone-nya.

Ting!

Bunyi pesan masuk terdengar lagi. Krystal mengecilkan kompornya dan mulai mencari handphone-nya. Pasti ada yang penting. Kalau bukan pekerjaannya sebagai seorang kolomnis disebuah majalah fashion pasti mengenai kedua orangtuanya. Atau dari seseoarang yang dari tadi memang ia tunggu kabarnya.

Gadis itu tersenyum senang ketika menemukan handphone-nya yang tergeletak di ruang tv yang kadang merangkap menjadi ruang tamu. Krystal melihat isi pesan. Beberapa detik kemudian senyuman Krystal langsung merekah. Ia bahkan tersenyum lebar sampai matanya terlihat mengecil. Mood-nya mulai kembali. Dia yakin dia akan menemukan inspirasinya sebentar lagi.

.

.

.

.

.

Jalanan Manhattan yang benar-benar ramai kali ini benar-benar menguji kesabaran Krystal. Setelah terjebak macet hampir sepanjang jalan ia akhirnya memarkirkan mobilnya di depan butik terkenal dengan susah payah. Itupun seetelah berkeliling-keliling tiga kali. Ia keluar dari mobilnya dengan merapikan rambutnya yang sedari tadi ia acak-acak karena kesal. Memasuki butik bernama Red Velvet by Bae Joohyun dan sedikit menyeringit melihat banyaknya pengunjung. Itu pasti karena butik ini sedang memberikan diskon besar-besaran.

“Krystal!”

Krystal menoleh dan melambaikan tangannya kepada Suzy, sekertaris dari Joohyun. Suzy menghampiri Krystal dengan senyuman manisnya.

“Ini gila!” Seru Krystal melihat keadaan sekitar.

Suzy tertawa, “Kau tahu… Kami mengadakan diskon besar-besaran hingga 85%. Ayo kita ke lantai tiga. Disana lebih nyaman.”

Krystal mengikuti Suzy yang membawa dirinya memasuki sebuah lift yang dilapisi kaca, sehingga Krystal masih melihat banyaknya orang ketika ia naik.

“Joohyun Oennie masih ada rapat dengan klien. Ia menyuruh mu bersantai di lantai tiga terlebih dahulu.”

Lift pun mulai naik, Butik ini terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama dan kedua adalah butiknya. Sedangkan lantai tiga adalah ruang kerja para designer. Lantai pertama bisa dijangkau oleh semua orang. Rata-rata orang yang menggesekan kartu kreditnya tanpa berpikir panjang berbelanja dilantai dua, lantai yang diperuntukan untuk pengunjung VIP. Dengan memasuki lift sudah benar-benar berkah bagi Krystal. Dari lift-nya Krystal dapat melihat jika lantai keduanya juga penuh.

Krystal mengeluarkan komentarnya, “Aku tidak tahu orang kaya butuh diskon untuk berbelanja.”

Suzy tersenyum kecil, “Bagi anak kaya yang uangnya masih terbatas mereka membutuhkan diskon. Kau lihat muka mereka semua? Aku lebih memilih melayani orang-orang di lantai bawah daripada melayani mereka. Sombong sekali!”

Bunyi Ting! terdengar dan mereka akhirnya keluar dari lift. Di lantai tiga ini juga sangat ramai.

“Wow! Sepertinya butik ini sangat sibuk sekali!”

“Ini sudah memasuki musim dingin. Kami mengadakan diskon besar-besaran agar baju musim gugur dan panas kami habis. Belum lagi minggu depan kami akan mengeluarkan line musim dingin.” Jelas Suzy. “Joohyun Oennie menyuruhku untuk mengajakmu melihat-lihat line musim dingin. Dia mengatakan kau membutuhkan inspirasi untuk tugas akhir.”

“Dia mengizinkannya?” Tanya Krystal tidak percaya. Melihat line musim dingin pertama kali? Apa?

Suzy tertawa melihat ekspresi terkejut Krystal. “Hei… Kau sangat jelek dengan ekspresi terkejutmu itu.”

Krystal menutup mulutnya yang tadi sempat terbuka. Ia berdehem tapi matanya tetap sangat berbinar.

“Kurasa kau sudah tidak sabar bukan? Ayo ikuti aku….” Suzy membawanya ke tempat yang belum pernah Krystal masuki ketika ia mengunjungi Joohyun. Ia sudah beberapa kali ini mengunjungi Joohyun. Kebanyakan berhubungan dengan tugas kuliahnya. Tapi ia tidak pernah berpikiran ia akan masuk ke ruangan dimana baju-baju indah belum pernah dilihat banyak orang akan ia lihat.

Ketika Suzy ingin membuka ruangan itu dengan kartu ID nya ia bertanya, “Kau baik-baik saja?” Suzy melihat Krystal dengan sorot mata geli. Krysal sangt gugup hingga terdapat bulir-bulir keringat di dahinya. “Yang akan kita temui baju Krystal Jung bukan bos baru mu.”
“Aku hanya terlalu excited Suzy…”

Suzy tersenyum dan menempekan kartu ID. Pintu terbuka. Ruangan itu penuh dengan baju baru yang membuat mata Krystal membesar. Ia mendekat ke salah satu rak baju dan mengambil sebuah gaun bewarna pelangi.

“Sehabis Red Summer dan Autum in Red, kami berpikir jika musim dingin harus memberikan kesan lembut. Nama katalog musim dingin kami adalah Perfect Velvet.   Gaun yang dirimu pegang saat ini adalah gaun untuk makan malam bersama keluarga. Bagaimana menurutmu Krystal?”

“Genius! Merah terlalu membosankan untuk pakaian natal! Begitu juga putih! Atau hitam! Pelangi?!” Krystal terkekeh. “Bae Joohyun memang yang terbaik. Tidak heran baru-baru ini dia berhasil membuka tokonya di Paris.”

Suzy menggelengkan kepalanya melihat Krystal yang masih kagum. “Seperti yang kau lihat sekarang ini. Pakaian kami terdiri dari banyak gliter. Ini karena kami ingin pemakainya bersinar dengan memakainya. Desember merupakan musim libur yang sangat penting. Baju-baju terdiri dari warna lembut tapi juga ada warna yang mencerminkan Desember seperti hijau, gold dan silver. Pakaian bewarna merah tetap ada, tetapi tidak sebanyak pakaian bewarna lembut.

Krystal tidak menjawab karena matanya masih sibuk melihat pakaian-pakaian indah yang ada di ruangan ini. “Menakjubkan bukan?”

Suzy kembali menggelengkan kepalanya..

.

.

.

.

.

Krystal menghabiskan waktu satu setengah jam di ruangan itu dan sekarang inspirasi benar-benar memenuhi kepalanya. Mood-nya juga jauh lebih baik. Melihat rancangan Joohyun membuat ia juga sadar akan satu hal. Pembimbingnya benar., design-nya tadi sangat payah. Suzy sedari tadi terus menemaninya dan memberikan semua jawaban dari pertanyaan Krystal. Seperti untuk apa pakaian tersebut, apa bahannya, bagaimana cara menjahitnya.

Sekarang Krystal masih menunggu Joohyun yang rapatnya belum selesai juga. Suzy berkata jika rapat ini adalah penentuan kontrak dengan para investor. Para investor berdebat mengenai catatan penjualan Joohyun tahun lalu yang memang buruk dibandingkan tahun ini.

Sekarang, Krystal sedang di ruangan kerja Joohyun menikmati jus nanas yang dibawakan oleh pegawai, masih ditemani Suzy. Sejujurnya Krystal akan memilih wine jika ia punya supir yang akan mengantar ia pulang.

“Joohyun Oennie baru saja mengirimkan pesan kepada ku. Ia sudah selesai rapat dan ia akan segera ke sini.”

“Suruh dia untuk tenang saja. Aku yakin otaknya masih panas sehabis berdebat denga para investor.” Krystal kembali meminum jusnya. “Tapi itu artinya kau akan semakin lama dengan ku. Kau sangat bersabar tadi di ruangan itu bersama dengan ku. Jadi terimakasih.”

Suzy mengeluarkan senyumannya, “Tidak usah berterimakasih. Sejujurnya akulah yang harus berterima kasih. Aku tidak tahan harus mendengar perdebatan para investor.”

Krystal dan Suzy sama-sama tertawa.

Brak!
Suara pintu terbuka mengejutkan mereka berdua. Tapi Krystal semakin terkejut menemukan siapa yang datang.

“Joohyun Oennie!” Serunya masih terkaget dengan penampilan Joohyun. “Aku tidak melihat mu selama sebulan dan sekarang rambutnya bewarna pirang?”

Joohyun berlari kecil dan memeluk Krystal. Sedikit susah karena barang yang ia bawa. “Dan kau juga berubah. Rambut mu juga pirang dengan sama dengan ku. Terakhir kali kita betemu rambut mu bewarna merah Jung Soojung.”

Krystal menggaruk kepalanya, “Aku selalu mengganti warna rambut ku jika butuh inspirasi.”

“Jadi apakah kau mendapatkan inspirasi?” Krystal baru saja ingin menjawab tetapi Joohyun kembali berbicara, “Oh, tunggu! Cerita ini pasti sangat panjang dan aku sangat kelaparan dari tadi. Sebaiknya kita mengobrol sambil makan. Aku sempat membelikan makanan untuk dirimu dan Suzy. Kita bisa makan sambil mengobrol.”

“Aku akan sangat senang mendapatkan makanannya. Tapi aku harus menyusun jadwal mu untuk lusa. Jika boleh aku akan memakan sendiri nanti.”

Joohyun menepuk jidadnya pelan, pertanda ia lupa. “Jadwal ku lusa ya… Baiklah ini makanan mu. Terimakasih sudah bersama Soojung sejak tadi.”

Suzy menerima makanan dari Joohyun dengan senang hati. Setelah berpamitan dengan Krystal ia keluar dari ruangan Joohyun.

Joohyun membuka makanannya dan Krystal kemudian kembali bertanya, “Sudah dapat inspirasi?”

“Tentu. Aku mendapat ide gila jika aku akan membuat gaun saja.” Krystal mulai memasukan potongan daging ke mulutnya. “Guru Clark tadi memarahi ku dan mengatakan jika aku tidak berkembang. Membandingkan dengan rancangan Oennie kurasa ia benar.”

“Jangan bersedih… Guru Clark adalah orang yang keras. Ketika aku di semester akhir juga ia mengatan jika rancanganku cocok dipakai di film alien.”

Krystal tersedak mendengar perkataan Joohyun. Ia berusaha untuk tidak tertawa.

Joohyun tertawa geli, “Tertawalah. Jika mengingat perkataannya aku juga menganggap itu lucu. Awalnya memang menjengkelkan. Aku membuat rancangan ku dengan tidak tidur dengan benar selama tiga hari. Ia menolak rancangan ku tak sampai sepuluh menit. Tapi sekarang aku menganggap ia ada benarnya.”
“Oh astaga… Dia jenius tapi entah mengapa lebih memilih jadi guru.”

“Itu adalah passion ia sebenarnya. Nah, sekarang apa yang rencana mu setelah kau lulus?”

“Aku belum tahu hal yang pasti, Oennie. Entahlah… Aku berharap rancangan ku dapat menarik beberapa perusahaan besar sehingga mereka akan memperkejakan ku diperusahaan mereka. Setelah bekerja bertahun-tahun bekerja mungkin aku akan membuat brand ku sendiri. Seperti impian ku. Atau aku akan mendaftar di majalah yang bergerak di bidang fashion dan bekerja disana bertahun-tahun untuk dekat dengan orang-orang penting di bidang fashion sebelum membuat brand ku sendiri.”

Krystal menghela nafas panjang. Rencana yang sebenarnya adalah membuat brand-nya sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Joohyun ketika ia lulus. Tapi itu rencana yang paling tidak mungkin. Ia menatap makanannya dengan tidak berselera, “Atau langsung saja membuat brand ku sendiri seperti yang Oennie lakukan. Dengan kerja keras aku yakin suatu hari brand ku akan terkenal.”

Ya, Krystal harus bekerja sangat keras. Mungkin dengan meminjam uang dari bank? Dan percayalah, ia rasa ia butuh waktu lebih dari lima tahun untuk membuktikan apakah ia sukses atau tidak. Tidak seperti Joohyun dimana brand-nya langsung terkenal dan ia punya toko di pusat Manhattan yang harganya sangat mahal. Krystal perlu latar keluarga chaebol seperti Joohyun agar para investor tidak ragu memberi uang mereka. Sayangnya, satu-satunya yang dapat ia banggakan adalah ia mengenal Joohyun.

“Oennie…” Krystal memanggil Joohyun ketika menyadari Joohyun sedari tadi termenung.

“Oh, maaf.” Joohyun tersenyum malu kepada Krystal. “Ada yang suatu hal yang terus kupikirkan akhir-akhir ini.”

“Ku rasa aku menganggu mu bukan? Kau pasti lelah habis bertemu dengan para investor mu.”

Joohyun semakin tidak enak hati, “Bukan seperti itu Krystal. Kau tidak mungkin menganggu mu. Malah aku sengaja memanggilmu untuk meminta bantuan mu.”

Bantuan?

“Bantuan apa Oennie?

Joohyun meletakan makan siangnya. Ia menautkan kedua jarinya. “Aku ragu mengatakannya. Aku sangat gugup.”

“Oennie kau membuat ku takut…”

Joohyun menarik nafasnya. “Baiklah…” Ia menghembuskan nafasnya perlahan, “Sehun melamar ku….”

“Sehun?” Krystal sangat terkejut hingga ia meletakan makanannya dan bangkit dari kursinya, “Oh Sehun pacar mu selama satu setengah tahun itu? Dia melamar mu?”

“Dia melamar ku ketika anniversary kedua kami Krystal, sekitar tiga bulan yang lalu. Tapi aku belum menerimanya.” Joohyun menginggit bibirnya, “Aku takut…”

“Oh, Oennie…” Krystal mendekat ke Joohyun, “Aku tahu kau pernah gagal menikah dengan sepupu ku Kim Junmyeon. Tapi kau sendiri yang bilang jika Sehun berbeda dari Junmyeon. Dan juga, kau terlihat bahagia dengannya.”

“Krystal…. Aku tetap takut.” Joohyun terlihat seperti akan menangis. Krystal segara memeluknya. “Tapi yang paling membuatku takut adalah meminta bantuan kepada ku…”

“Oennie ingin meminta bantuan apa kepadaku? Oennie ingin aku datang kepadanya dan mengatakan Oennie belum siap?” Krystal melepas pelukannya dan memegang tangan Joohyun. “Katakan saja Oennie…”

“Aku… Aku ingin kau menguji kesetiaannya…”

“Kesetiaan?” Alis Krystal berkerut. Menguji kesetiaan? Bagaimana caranya? Oh, jangan-jangan, “Oennie ingin aku menggodanya agar tahu ia setia atau tidak?”

Joohyun menatap Krystal ragu tetapi ia menganggukan kepalanya, “Aku tahu ide ini terdengar sangat gila. Tapi aku hanya mempercayai mu.” Joohyun melanjutkan, “Aku akan pergi ke Eropa selama satu bulan ini untuk mengunjungi beberapa investor. Ketika aku pergi kau bisa tinggal di apartment ku dan Sehun. Kau juga dapat mengakses lemari ku.”

Mengakses lemari Joohyun? Itu hal yang bagus. Lemari Joohyun yang berisi brand-brand bermerek pasti akan membuat otaknya penuh akan ide.

“Dan juga aku akan membantu mewujudkan impian mu. Kau berkata kau ingin membuat sebuah brand bukan? Percayakan kepada ku. Aku akan mewujudkannya.”

Jadi Jooohyun tadi mendegar perkataannya? Kemudian ia akan membantu Krystal mewujudkan impiannya? Tunggu…

“Oennie…”

“Terakhir dan ini yang terpenting. Aku mempercayai mu karena kau tidak akan mengkhianati mu. Bagaimana?”

Mewujudkan impiannya. Kata-kata itu berhasil berputar di otak Krystal.

.TBC.

 

 

 

Unwanted Reverie (Prologue)

unwantedreverie

Poster By : NJXAEM@ POSTERCHANNEL

Author: Ally

Cast: f(x)’s Krystal Jung | EXO’s Oh Sehun | RV’s Bae Irene |

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

 

 

6a010f023c45bf4fe77409aa89be7311

 

“Selama hal itu tidak menyakiti seseorang aku akan melakukannya. Joohyun tidak akan tersakiti. Dia lebih tersakiti jika ia tidak mengetahui yang sebenarnya. Sehun, laki-laki itu akhirnya akan sadar kesalahannya dan berusaha memperbaiki nya. Dia tidak akan tersakiti olehku. Diriku? Seharusnya aku menghitung kemungkinan ini. Kenyataannya, akulah yang paling tersakiti dari hal ini. Janji, kebohongan, dan cinta yang seharusnya tidak tumbuh.”

––Krystsal Jung––

da1d92323ef979db8d43fc006f744d67--red-velvet-irene-irene-red-velvet-airport

“Perasaan ragu itu terus menghantui ku. Aku membutuhkan pembuktian, bukan didasari oleh perkataan tapi didasari oleh aksi. Hal ini memang gila, tapi walaupun pada akhirnya buruk sangka ku terbukti, aku yang akan meninggalkannya. Bukan ia yang akan meninggalkan ku, seperti dulu.”

––Bae Joohyun­­––

600247-monsieur-oh-sehun

“Aku tidak pernah merasa salah di hidupku. Pertemuan dengan mu merupakan kesalahan bagiku. Tapi, setelah kupikir-pikir, pertemuan dengan mu merupakan suatu yang benar Kau menyadarkanku bahwa yang kulakukan saat ini adalah sebuah kesalahan.”

––Oh Sehun––

.

 .

.

Di hidup Krystal, ia selalu mengimpikan banyak hal. Dia ingin menjadi designer terkenal. Mempunyai brand pakaian terkenal. Namanya menjadi sejarah di dunia fashion. Terdengar sangat mudah di ucapkan ketika ia menuliskan mimpi itu. Umurnya sepuluh tahun waktu itu. Sekarang, diumurnya yang menginjak 24 tahun, Krystal baru mengetahui betapa susah mimpinya tercapai.

Mimpi pertamanya, dia ingin menjadi designer. Itu sudah hampir tercapai. Mengingat dirinya sebentar lagi akan tamat kuliah dan mendapat gelar tersebut. Tapi dua mimpi lainnya seakan susah untuk di raih. Ada dua kemungkinan yang sudah ia susun jauh-jauh agar impian keduanya tercapai. Pertama, dia akan terus bekerja di majalah fashion agar dapat mengenal orang-orang penting di bidang fashion baru membuat brand-nya. Jika sudah membuat brand tinggal menunggu waktu hingga namanya tercatat di sejarah dunia fashion. Yang kedua dia akan meminjam uang dari bank untuk membuat brand-nya sendiri. Cara ini lebih cepat daripada harus bekerja di majalah fashion. Tapi cara dengan cara ini, Krystal harus bersusah payah terlebih dahulu sebelum brand-nya benar-benar dikenal.

Itu adalah dua kemungkinan mengingat ia hanya berasal dari keluarga yang sederhana. Bukan anak seorang kaya tujuh turunan. Bahkan, selama tigapuluh tahun pernikahan orangtuanya, orangtuanya tetap tinggal di apartment.

Sebenarnya, ada satu kemungkinan yang tidak pernah Krystal pikirkan sebelumnya. Kemungkinan itu datang dari Bae Joohyun, teman dekatnya yang umurnya 3 tahun lebih tua daripada Krystal dan bekerja sebagai designer terkenal.

Line

Bae Joohyun adalah seorang designer terkenal yang berhasil mencapai semua impian pada umurnya 25 tahun. Sekarang di umurnya 27 tahun, Bae Joohyun menghadapi masalah yang pelik, baginya. Ia dilamar oleh kekasihnya Oh Sehun. Lamaran itu membuat ia ketakutan dan masa lalu berhasil menghatuinya. Untungnya, selama tiga bulan dia berhasil menghindari Sehun karena sibuk dengan pekerjaannya.

Pada akhirnya, ia mengambil keputusan yang diluar akal. Dengan mempercayai Krystal, teman dekatnya. Joohyun dan Krystal bertemu ketika Joohyun berpacaran dengan Junmyeon, yang tak lain adalah sepupu Krystal. Junmyeon pada akhirnya meninggalkan Joohyun ketika ia lebih memilih berpacaran dengan salah satu rekan kerjanya. Berkata ia tidak bisa menyayangi Joohyun yang saat itu sedang di puncak karirnya. Hubungan dia dan Junmyeon hancur tak berbekas. Hanya saja menghantui Joohyun tentang pengkhianatan Junmyeon.

Lain halnya dengan hubungannya dan Krystal yang semakin kuat. Krystal gadis yang menyenangkan. Krystal gadis yang perduli. Walaupun tampang gadis itu sedingin es, ia sangat peka terhadap lingkungannya sekitar. Krystal adalah gadis yang selalu menepati janjinya dan jarang berbohong. Ia juga membantu Joohyun melewati masa terpuruknya dicampakan Junmyeon. Joohyun masih mengingat dengan jelas, Krystal marah-marah ke Junmyeon setelah ia mencampakan Joohyun.

Joohyun membalas kebaikan Krystal dengan memberikan gadis itu akses ketika gadis itu membutuhkan inspirasi. Ketika Krystal bingung tentang apa yang harus ia lakukan ketika ia lulus kuliah, Joohyun memberikan solusi dengan sebuah syarat yang tentunya didasari karena ia mempercayai Krystal.

Dia akan menggaet Krystal untuk rancangannya pada musim panas. Dengan itu, Krystal akan dapat dikenal oleh orang-orang fashion dengan cepat. Para investor juga mengenalnya dan kemudian tidak ragu berinvestasi untuk membuka brand pakaian Krystal. Syaratnya adalah Krystal menggoda kekasihnya, Oh Sehun.

Line

Oh Sehun. Kekasih Joohyun yang sama sekali tidak mengetahui apa-apa. Ia mencintai Joohyun, sangat. Dia adalah seorang dancer dan telah menari sejak kecil. Hidup untuk menari adalah motonya. Dulu dia adalah dancer yang berkeliling dunia menunjukan kebolehannya. Tapi setelah ia bertemu dengan Joohyun, disebuah pesta sponsornya, setelah ia jatuh cinta dengan Joohyun, Sehun memutuskan untuk menetap di New York agar lebih dekat dengan Joohyun. Memutuskan sebagai guru menari, tentunya di sekolah menari terkenal. Beberapa kali juga mencoba menjadi koreografer.

Bukan hanya kemampuan menarinya yang membuat orang tercengang. Atau wajah rupawannya yang membuat orang sulit bernafas. Sikap Sehun berhasil membuat Krystal ketar-ketir sedari awal. Sehun sendiri menganggap Krystal aneh dan tidak habis pikir bagaimana bisa Joohyun mempunyai teman seperti Krystal.

Keanehan itu berubah menjadi kejengkelan luar biasa. Apalagi Krystal tinggal di apartment-nya dan Joohyun. Joohyun berkata kepada Sehun jika Krystal membutuhkan inspirasi untuk pakaiannya, yang itu sangat benar. Tapi Joohyun tidak bilang ke Sehun bahwa itu juga caranya agar Krystal dapat menggoda Oh Sehun. Apa Krystal menggodanya? Yang jelas, pada akhirnya Sehun tidak tergoda oleh Krystal Jung. Tetapi ia telah jatuh cinta kepada gadis itu.

Line 2.png

 Aku deg-degan sekaleeeh mau publish cerita ini. Terakhir aku buat cerita baru cast utama Sestal tahun 2015, yaitu Flipped. Lama banget sumpah… Tapi gak kerasa aja udah dua tahun yang lalu… Tahun ini aku buat dua cerita tentang Sestal, satu ff judulnya The Wind of Change tapi cerita ini aku canceled sangking buntunya ide aku. Ternyata membuat cerita cinta segi empat tidaklah mudah….

So, aku buat cerita ini… Bagaimana menurut kalian?

 

Flipped (Chapter 22) (END)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Kebenaran

 

Luhan merasa ayahnya adalah orang yang paling egois di dunia. Keegoisan ayahnya membuat Luhan harus berpisah dari ibunya. Sampai sekarangpun ia tidak dapat bertemu dengan ibunya karena keputusan ayahnya. Sekali ayahnya memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa mengubahnya. Banyak keputusan ayahnya hanya berorientasi kepada dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain. Luhan tahu jika ayahnya sangat mencintai Luhan. Ayahnya ingin Luhan tetap bersamanya makanya ia menjauhkan Luhan dari ibunya yang jelas-jelas juga ingin bersama Luhan. Karena pengaruh ayahnya yang lumayan kuat, akhirnya Luhan bisa bersama ayahnya. Memori yang Luhan ingat terakhir kali bersama ibunya adalah ketika ibunya menyuruh ia menjadi anak baik sambil menangis. Luhan sampai sekarang menyesal ia hanya bisa terdiam melihat ibunya. Sekali saja ia ingin memeluk ibunya kalau bisa.

Apakah Luhan membenci ayahnya? Sayang, ia tidak bisa. Luhan tidak bisa membenci ayahnya walaupun ayahnya memisahkan ia dengan ibunya. Luhan benci terhadap dirinya yang tidak bisa membenci ayahnya. Cita-citanya ketika ayahnya membawanya pergi menjauhi Korea yang juga untuk menjauhi ibunya adalah lepas dari cengkraman ayahnya. Luhan menyusun mimpinya. Itulah yang membuat ia selama bertahun-tahun fokus belajar demi menggapai cita-citanya. Teman-temannya di Amerika menganggap dia sangat dingin dan anti sosial karena ketidak pedulian. Yang hanya ia pedulikan adalah belajar. Kurangnya interaksi sesama teman membuat nama Krystal selalu di hatinya meski mereka lama tidak bertemu. Dia menganggap suatu hari dia dapat kembali bertemu Krystal dan mungkin dapat menjalin hubungan lebih dari pertemanan. Setidaknya musuh terberat –dalam mendekati Krystal- juga sahabat terdekatnya sudah berjanji tidak akan mendekati Krystal.

Ketika menemukan Krystal menangis di taman. Menanyakan janjinya dengan Sehun untuk tidak mendekati Krystal, Luhan tersadar akan satu hal. Buah tidak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya. Ia memiliki keegoisan yang sama dengan ayahnya. Semua yang ia lakukan juga penuh dengan keegoisan. Tentang bagaimana cita-citanya lepas dari cengkraman ayahnya. Tentang Krystal. Tentang Sehun. Apakah dia tidak pernah berpikir untuk melihat keadaan sekitarnya sekali saja? Apakah dia tidak pernah berpikir jika orang tersebut tersenyum bukan berarti orang tersebut baik-baik saja?

Akhirnya, disini Luhan. Terdiam dan menyandarkan tubuhnya ke mobilnya. Disampingnya ada Sehun yang sama-sama terdiam.

“Dia masih di taman. Aku bahkan tidak berhasil memdekatinya.” Luhan berkata lirih. Menundukan pandangannya. “Ku rasa kau yang harus kesana dan membujuknya.”

“Luhan…”
“Kau adalah orang yang baik. Aku tahu itu dan aku sangat mempercayai mu. Tentang perjanjian konyol kita belasan tahun yang lalu, ku rasa itu sudah berakhir. Kau berhak mendekati seseorang siapapun itu. Kau tidak seharusnya dilarang. Aku salah melarang mu mendekati Krystal.”

“Luhan….”

“Aku hanya ingin Krystal untuk ku. Karena aku bahagia jika di dekatnya. Sifat riang dan recehnya… Tapi ia tidak pernah bahagia berada di dekat ku. Sedikit pun.” Luhan mengerjapkan matanya. Menahan air matanya yang ingin jatuh.

“Luhan ak—”

Luhan berdehem dan lagi-lagi memotong omongan Sehun, “Sekali saja aku ingin melakukan sesuatu untuk orang lain. Bukan hanya untuk diriku sendiri. Aku ingin Krystal bahagia. Karena seseorang dapat bahagia ketika melihat orang yang ia cintai bahagia.” Luhan menghela nafasnya. “Aku harus masuk. Jam istirahatku sudah habis dari tadi. Aku duluan.” Ia segera berjalan memasuki rumah sakit. Tanpa melihat Sehun sedikit pun. Ia tidak bisa.

“Luhan tunggu!”

Luhan berhenti. Tapi badanya tidak berbalik sedikitpun. Air matanya sudah menetes.

Sehun menghela nafasnya sebelum berkata, “Beritahu tahu aku ketika kau ingin di wisuda Aku akan senang melihat dirimu lulus dengan cita-cita mu sejak kecil. Atau setidaknya aku ingin ada karangan bunga dari ku.”

Mendengar hal itu Luhan menghela nafas gusar. Kalimat yang Sehun ucapkan membuat hatinya bergetar. Laki-laki itu terlalu baik. Sungguh. Dan Luhan pernah menyalahgunakan kebaikan laki-laki itu karena ke egoisannya. Karena keegoisannya pula Luhan tidak bisa berbalik ke Sehun dengan air mata berlinang. Ia hanya bisa mengangguk dan kembali melanjutkan jalannya.

Kau adalah dan tetap sahabatku…

.

.

.

.

.

Langit sudah menunjukan warna jingga menyala ketika Sehun sampai di taman. Taman tersebut berjarak duapuluh menit dari rumah sakit Luhan. Dia hampir saja putus asa ketika selama hampir dua jam berkeliling Seoul tidak bisa menemukan Krystal. Tiba-tiba saja, sekitar pukul empat sore Luhan meneleponnya. Mengatakan jika ia tahu dimana Krystal tapi mengajaknya untuk bertemu terlebih dahulu. Luhan mengajak bertemu di rumah sakit tempatnya bekerja. Sehun sedari tadi berusaha menghalau pikiran buruknya yang mengatakan Krystal di rumah sakit. Ia ingin mencengkram kerah Luhan dan menanyakan dimana Krystal jika saja Luhan tidak berkata lirih, ‘Aku memiliki sifat egois yang sama dengan ayah ku.’

Sehabis mendengar hal itu, Sehun memutuskan untuk mendengar Luhan berbicara terlebih dahulu. Ia tahu…. Sudah saatnya mereka membicarakan perjanjian konyol ketika mereka berumur sepuluh tahun itu. Dia ingin berbicara baik-baik. Tidak menyangka dengan keputusan Luhan. Satu-satu harapannya adalah Luhan dapat mengerti dari kalimat yang ia ucapkan tadi, ketika ia ingin hadir di wisuda Luhan, menunjukan jika ia tidak membenci Luhan. Tidak sedikitpun.

Sehun mengehla nafas. Sudah waktunya ia keluar dan bertemu Krystal. Langkah Sehun terasa berat. Dia berhenti ketika menemukan Krystal menundukan kepalanya.

“Krys…” Kata Sehun lirih.

Krystal menatapnya dengan mata yang berair dan sudah sangat merah. “Sehun…” Setelah mengatakan hal tersebut Krystal menangis lagi.

Sehun segera mendekat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia mendekap Krystal. “Maaf.”

“Bodoh! Bodoh!” Krysta memukul-mukul dada Sehun. “Bodoh!”

“Maaf…”

Lagi-lagi Krystal menangis. Sehun semakin mempererat pelukannya. “Maaf….” Kata Sehun lagi.

Krystal mendorong Sehun perlahan. Tangan kanannya ia gunakan untuk menghapus air matanya, “Jangan pergi…”

“Aku….”

Sehun menatap Krystal ragu. Itu bukan suatu hal yang ia harapkan.  Jangan pergi?  Seberapa besar Krystal menyukai Sehun, bukan, mencintai Sehun?
“Kau tidak ingin menanyakan apa yang terjadi sebenarnya?”

Krystal sangat mengerti pertanyaan Sehun. Ia dengan cepat menggeleng. “Aku takut.”

Sehun dengan pelan mengenggam kedua Krystal. Membuat Krystal terpaksa melihatnya kemudian mengunci tatapan Krystal.

“Luhan tiba-tiba datang kepada ku. Itu saat ulang tahun keluarga Song. Ketika kakimu patah kau ingat? Kau melihatku berbicara dengan Luhan saat itu. Saat itulah aku dan dirinya membuat perjanjian konyol itu. Kita masih terlalu muda saat itu. Saat itu juga semua hal berubah dengan cepat. Orangtua Luhan bercerai. Luhan yang tiba-tiba pergi dan meninggalkan kita. Aku bahkan masih ingat tangisan mu ketika Luhan pergi.”

“Itu karena dia sahabatku!” Pekik Krystal kesal.

Tidak ingin menjawab, Sehun kembali melanjutkan ceritanya, “…. Puncaknya adalah ketika kita dijodohkan. Aku sempat menolak perjodohan ini mentah-mentah dibelakang. Tapi kedua orantuaku tidak peduli. Yang aku ingat saat itu adalah aku mempunyai janji pada Luhan dan tangisan mu ketika Luhan pergi. Aku sangat optimis kau menyukai Luhan. Tapi tidak setelah kau mengatakan kau juga menyukai ku. Bahkan saat itu aku masih mengingat janji ku kepada Luhan. Aku dengan bodohnya lebih mementingkan janji itu.” Sehun menghentikan ceritanya sejenak. Menarik nafasnya dengan berat.

“Aku pikir dengan aku berpacaran kau akan menyerah.” Lanjutnya lagi. “Kurasa aku terlalu bodoh hingga hanya mengingat perjanjianku dengan Luhan dan semua yang ku katakan hingga menyebabkan dirimu melakukan… Kau tahu, loncat dari gedung sekolah…” Air mata Sehun mulai turun. “Saat kejadian itu dan kau koma, aku merasa bersalah tetapi masih mengingat perjanjian itu. Tidak sampai kau membaca buku diary mu dan entah mengapa aku merasa sangat-sangat bodoh…

“Kemudian rasa bersalah yang sangat besar muncul dan aku merasa tidak pantas bersama mu. Aku tidak bisa melihat mu lagi atas perbuatanku sehingga, lagi-lagi, aku menyakitimu dengan menghentikan perjodohan kita. Saat kita bertemu lagi dengan Luhan dan ambisi Luhan, aku tahu aku sudah cukup bodoh selama ini. Tapi menghentikan semua ini rasanya juga sudah sangat terlambat. Aku senang ketika kau berpacaran dengan Luhan karena… Itu rasanya memudahkan ku untuk melepaskan mu.

“Anehnya aku malah tidak nyaman melihat mu dan Luhan bersama. Aku mulai berpikir lagi, jika aku tidak melihat kalian pasti semuanya akan lebih mudah. Dan satu-satunya cara adalah dengan mengambil sekolah di luar negeri.”

Krystal kali ini memeluk Sehun. Ia berbisik, “Jangan pergi kumohon…”

“Setelah apa yang kulakukan?”

“Semua itu bukan salah mu Sehun…. Kau masih bodoh saat itu. Luhan masih bodoh. Aku juga masih bodoh. Itu salah kita. Tidak semuanya salah mu. Kau pernah berkata jika aku juga tidak peka dalam kondisi mu yang masih syok akibat perjodohan bodoh kita. Jangan terlalu menyalahkan dirimu.” Lanjut Krystal masih berbisik. Air matanya kembali turun.

Mendengar Krystal yang sudah mulai menangis, Sehun melepaskan pelukan mereka dan memegang wajah Krystal, “Berapa banyak kau menangis karena diriku?”

“Berapa kali aku membuat mu stress Oh Sehun? Ini semua bukan salah mu. Jangan pergi…”

Sehun menggelengkan kepalanya. Itu membuat tangisan Krystal langsung membesar. “Kita butuh waktu…” Ujar Sehun lirih. Ia mencoba memberikan senyumannya.

“Aku mencintai mu Oh Sehun.”

“Aku juga mencintai mu Krysal Jung.”

Satu baris kalimat yang selalu Krystal tunggu bertahun-tahun lamanya. Satu kalimat yang terus ia harapkan. Krystal mengeluarkan senyumnya. Melupakan seketika rasa sakit yang ia rasakan. Ia memejamkan matanya ketika Sehun dengan lembut menyatukan bibir mereka.

.

.

.

.

.

Sehun akhirnya pergi. Ia melanjutkan sekolahnya ke Jepang. Laki-laki itu pergi tepat dua hari setelah semuanya terungkap. Tidak ada Luhan yang mengantarnya. Krystal berharap Luhan juga tidak ada. Ia masih membenci Luhan. Walau ia sendiri berkata itu karena kebodohan masa kecil mereka. Sehun juga meyakinkannya seperti itu.

Hubungan ia dan Sehun sebelum pergi bisa dibilang baik-baik saja. Mereka tidak dalam hubungan berpacaran. Tidak. Krystal merasakan mereka seperti sahabat lagi. Meskipun tidak ada sahabat yang berciuman dan Sehun dengan bodohnya mencium Krystal di depan kedua orangtua mereka dan membuat Krystal menanggung malu setelah itu. Tunggu, apakah itu pertanda untuk kedua orangtua mereka?

“Woy!”

Krystal tersentak ketika melihat Kang Seulgi menaruh beberapa buku tebal yang pastinya buku sastra tingkat tinggi.

“Sedang apa?” Tanya Seulgi duduk dan memakai kacamatanya.

Krystal terkekeh, “Entahlah…”

Seulgi menggelengkan kepalanya dan membuka salah satu buku, “Galau? Aku tidak melihat Luhan beberapa hari ini. Bertengkar?”

“Kami sudah tidak ada hubungan lagi.”

Mendengar jawaban Krystal, Seulgi menghentikan kegiatan membacanya, “Okay.” Dan ia lanjut membaca bukunya.

Kali ini Krystal yang menggelengkan kepalanya, “Apa yang kau pikirkan Kang Seulgi?”

“Kau terlihat tidak seperti seseorang yang habis putus. Hahahahaha… Atau perasaan ku saja. Bagaimana dengan tuan brengsek Oh Sehun?”

“Jangan panggil dia brengsek. Hubungan kami sudah baik-baik saja.”

Seulgi kali ini menatap Krystal dengan tatapan terkejut. “Jadi…”

“Aku jamin itu tidak seperti yang kau pikirkan.” Seru Krystal yang sebenarnya tidak ingin mendengarkan teori menakjubkan Kang Seulgi. Ketika hp-nya berdering, Krysal tersenyum senang karena ia mempunyai cara untuk menghindari Kang Seulgi, “Aku harus mengangkat ini.”

“Dan kemudian bilang aku harus pergi karena ada urusan. Klasik.” Seulgi kemudian mendengus, “Sialan Professor Yang! Jika karena bukan salah sangka aku tidak akan bekerja rodi seperti ini selama dua minggu. Tidur saja tidak bisa apalagi berbicara dengan Soojung!” Sambil bersungut-sungut, ia kembali membaca buku.

“Seulgi, ingin ke mall? Aku ingin menonton…” Krystal sudah berbalik dan menatap Seulgi penuh harap.

“Kau tahu jika bukan karena salah sangka yang berhubungan dengan Im Jaebum aku tidak akan tetap disini dan membaca buku sialan ini? Aku memang pecinta sastra tapi tidak dengan harus membaca buku sastra selama dua minggu berturut-turut. Aku butuh hal-hal lain seperti tidur atau pergi ke mall atau apapun yang tidak berhubungan dengan buku dan laptop.” Setelah mengeluarkan unek-uneknya Seulgi mulai tersenyum, “Ayo.”

Ia mengambil tasnya dan merasa sangat malas harus mengembalikan buku-bukunya. “Biarkan saja…. Aku malas mengembalikannya.”

Krystal terkekeh melihat kelakuan temannya. “Terserah dirimu saja.” Jawabnya dengna lirih karena mereka di perpustakaan.

Seulgi mengandeng tangan Krystal dan menatap Krystal dengan penasaran, “Jadi katakan kepadaku Krystal Jung, apakah hubungan mu dengan Sehun hanya sebatas sahabat atau kau ingin lebih?”

Krystal mendengus. Lupakan teori menakjubkan Kang Seulgi jika temannya bisa menyimpulkan sendiri. Krystal dulu sempat bertanya-tanya kenapa temannya dapat menyimpulkan segala hal dengan luar biasa. Dan jawaban Seulgi sangat mudah, ‘Aku hanya menebak.’ Karena itulah Krystal menoleh dan tersenyum kepada Seulgi. Membiarkan temannya menebak.

.END.

Calm down guys…  There’s an epilogue, yang pasting di bayangan aku udah ada 3 epilog.  Dimana di 3 epilog terdapat sudut pandang tiga tokoh utama, Krystal, Sehun, dan Luhan.

First epilogue goes to Luhan….

And, i wanna say thank you to you guys…  All of you who already read this ff…  Thankyou so much!  See you soon…

Flipped (Chapter 21)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Meluruskan Kesalah Pahaman

 

Krystal terbangun pada pagi hari dengan rasa pusing menyerang kepalanya. Matanya juga bengkak. Ketika pulang, yaitu pada pukul sebelas malam, yang Krystal lakukan adalah menuju tempat tidurnya dan menangis sepuasnya hingga terlelap. Krystal menatap dirinya di cermin dan menggerutu pelan. Kemarin hari yang buruk! Tetapi jantungnya berdetak lebih kencang mengingat apa yang terjadi pada hari kemarin juga. Hal gila yang ia lakukan kepada Sehun. Krystal memejamkan matanya dan mulai bangkit dari tempat tidurnya. Setelah lebih dari sepuluh menit melihat dirinya melalui kamera hp di atas tempat tidur.

Ia menuju kamar mandi. Berpikir air segar dapat menyegarkan pikirannya. Krystal terbiasa mandi dengan air hangat. Entah itu musim semi, musim panas, musim gugur, ataupun musim dingin. Ia selalu menggunakan air hangat. Untuk kali ini saja Krystal ingin mencoba menggunakan air dingin. Mungkin sebuah perubahan dapat merubah sesuatu dari dirinya, terutama masalah hatinya.

Cukup lama Krystal berada di kamar mandi dengan terdiam di shower menikmati air dingin lebih dari setengah jam, ia keluar dari dan segera mengenakan pakaian rumah. Perasaannya mungkin kacau. Tetapi pikirinnya masih jernih. Ia mengingat dengan baik jika hari ini tidak ada jadwal kuliah. Selesai berpakaian ia kembali ke kasur dan melihat handphone-nya.

Mencari kesibukan. Melihat materi kuliahnya hingga chat dari Luhan masuk. Krystal tersenyum tipis membaca chat dari Luhan. Dia segera membalas. Berharap setelah ini Luhan akan meneleponnya. Ketika hp-nya berdering, tangan Krystal berasa agar. Bukan Luhan yang meneleponnya, melainkan Sehun. Dengan tangan bergetar, Krystal mengangkatnya.

“Apa aku menganggu?”

Suara berat itu selalu berhasil membuat ia kesulitan bernafas. Krystal menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab, “Tidak. Ada apa menelepon ku?” Itu bukanlah suara ramah. Ataupun suara antusias. Nada suara Krystal penuh dengan ke kakuan yang pasti membuat Sehun berpikir jika Krystal tidak ingin berbicara dengannya.

“Soal kemarin…”

Mata Krystal terpejam. Nafasnya semakin tidak beraturan. “Oh…”

“Aku minta maaf.”

Jantung Krystal langsung berhenti berdetak. Perkataan berikutnya semakin membuat jantungnya berdetak lebih lambat.

“Tentang ciuman kemarin, aku merasa bersalah telah membalasnya.”

Air mata Krystal turun. Ia tahu yang Sehun katakan benar. Ia juga berpikir jika Sehun terbayang-bayang oleh rasa bersalah tersebut. Tapi sayangnya Krystal sama sekali tidak. Itulah yang membuat dirinya sedih. Ia merasa ia sama sekali tidak mempunyai harapan apa-apa terhadap Sehun.

“Krysta, kau masih disana?”

.

.

.

.

Lagu Too Good at Goodbyes Sam Smith mengalun di sudut café. Café yang terletak tak jauh dari kampus orang yang Krystal tunggu. Mengingat orang tersebut mempunyai jadwal kuliah. Kalau tidak salah laki-laki tersebut sudah mau di wiusda. Tapi entah mengapa Sehun berkata jika ia masih harus ke kampus.

Krystal yang sibuk menatap hp-nya, mencoba menetralisir gejolak hatinya. Kue yang ia pesan tadi sama sekali tidak mengunggah seleranya. Dia mendapat pesan dari Seulgi. Seulgi berkata jika keputusan Krystal bertemu dengan Sehun adalah keputusan yang tidak masuk akal. Setidaknya Seulgi belum tahu kejadian Krystal mencium Sehun. Jika tahu dia sudah di cap gila oleh Seulgi.

Luhan juga mengirimkannya pesan. Berkata untuk makan siang bersama. Laki-laki itu tahu jika Krystal menemui Sehun. Krystal yang mengatakannya ketika Luhan meneleponnya tak lama setelah Sehun meneleponnya. Krystal hanya berkata jika ia ingin bertemu dengan Sehun karena ingin menyelasaikan kesalah pahaman. Alasan yang sama kenapa Sehun ingin mengajak Krystal bertemu.

“Hei.” Sapa orang yang ditunggunya membuat Krystal mendongak. Sehun tersenyum tipis, mencoba untuk ramah, pikir Krystal akibat kakunya senyuman Sehun.

Krystal menjawab dengan senyuman. Dengan canggung, Sehun menarik kursi di depan Krystal dan duduk disana.

Sehun berdehem. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Krystal masih menatap Sehun dengan tangannya yang mulai dingin mencengkram hp.

“Soal kemarin…” Akhirnya, setelah keheningan mencekam Sehun membuka suaranya.

“Ada yang ingin ku katakan.” Sela Krystal menatap lurus ke arah Sehun. Ia sudah memikirkan hal ini sejak Sehun meneleponnya untuk meluruskan kesalah pahaman mereka. Rencana-rencana telah ia susun. Semua ia yang memutuskan. Memberi tahu Seulgi hanyalah sebuah cara untuk menetralisir detak jantung Krystal. Kali ini dia yang memutuskan semuanya dengan hati-hati.

“Baiklah. Kau duluan saja yang berbicara.” Ujar Sehun pendek.

“Ku rasa kau benar. Perasaanku mungkin hanyalah sebuah fatamorgana. Tidak sedalam yang ku kira. Aku mempunyai Luhan sekarang, jadi semuanya telah berubah. Kemarin…” Krystal berhenti sejenak. Menarik nafas sebelum kembali berkata, “Aku hanya pensaran, kurasa. Tapi yang pasti itu adalah kesalahan. Dan aku minta maaf telah membuat dirimu merasa bersalah.”

Sehun terpekur untuk beberapa saaat. Krystal memandang Sehun dengan tatapan ragu. Sorot mata Sehun berubah. Sehun mengerjap beberapa kali sebelum ia kembali menatap mata Krystal. Tatapannya aneh membuat Krystal seakan sulit bernafas.

“Kurasa itu salahku.” Kata Sehun pada akhirnya. Melihat Krystal akan memprotes, Sehun berucap, “Dengarkan aku dulu.”

Krystal menghela nafasnya dan mengangguk.

“Aku seharusnya menjelaskan masalah kita ketika dirimu terbangun dari koma. Aku hanya merasa sejak aku memilih diam dan bersikap kepadamu layaknya seorang sahabat, hubungan kita semakin rumit. Tidak ada yang membenarkan perbuatan aku kepadamu ketika masa-masa SMA.”

“Lupakan hal tersebut. Aku tidak ingin mengingatnya.” Potong Krystal dengan nada yang tegas dan dingin.

“Aku bahkan tidak pernah meminta maaf kepadamu tentang perbuatan ku kepadamu. Jadi, aku minta maaf untuk hal itu. Kemudian pada akhirnya, kita seperti kucing dan tikus. Ada sesuatu yang membuat kita tidak ingin saling bertemu. Aku hanya ingin meluruskan hubungan kita, tidak harus sampai bersahabat seperti dulu. Setidaknya tidak ada lagi yang kita pendam.”

Mereka sama-sama terdiam. Memikirkan dengan baik apa yang harus dikatakan.

“Kau berkata seperti akan pergi.” Kata Krystal pada akhirnya. “Ini terlalu tiba-tiba dan rasanya aneh.”

Sehun lagi-lagi terpekur. Tapi kali ini ekspresi wajahnya terlihat lesu.

“Kau benar-benar akan pergi?” Krystal bertanya dengan nada khawatir sekarang.

“Aku mendapat beasiswa S2 di Jepang.” Kata Sehun pada akhirnya. “Kau benar ini terlalu tiba-tiba dan aneh. Sebenarnya, aku hanya berpikir akan lebih aneh jika tiba-tiba aku pergi tanpa bilang apa-apa.”

Krystal menundukan wajahnya. “Ah…”

“Krys…”

“Selamat…” Menampilkan senyum lebarnya. Sayang, matanya juga tidak ikut tersenyum.

Sehun lagi-lagi terdiam. “Terimakasih…” Kata Sehun pada akhirnya.

Krystal mengigit bibirnya, terlihat memikirkan sesuatu. “Jadi…. Apakah setelah ini kita akan seperti orang yang tidak mengenal?”

“Aku tidak tahu..” Jawab Sehun seadanya. “Kurasa semuanya menjadi sangat rumit.”

Krystal mengangkat tangan kanannya. Menelengkupkan semau jari-jarinya kecuali jari kelingkingnya, “Sahabat lagi?”

Sehun menatap Krystal dengan tatapan tidak percaya. “Kau yakin? Setelah apa yang ku lakukan?”

“Bukankah kita sudah meluruskannya?”

Sehun lagi-lagi terdiam. Ia memejamkan matanya sebelum membalas tautan kelingking Krystal, “Sahabat….” Ucapnya ragu.

Pinky promise!”

Sehun hanya bisa menghela nafas melihat Krystal tersenyum lebar. Tapi ia ikut tersenyum. “Kau tidak pernah berubah Krystal Jung.”

“Kapan kau akan berangkat? Aku ingin mengantarmu. Boleh tidak?” Lanjut Krystal dengan nada yang berbeda. Nadanya ringan dan ia terlihat lebih ceria.

“Tiga hari lagi aku akan berangkat.” Sehun tersenyum kecil.

“Baiklah.” Krystal mengangguk.

Dia akan mengatar Sehun pergi ke Jepang. Dia akan melepaskan Sehun. Sahabat? Itu sudah cukup baginya. Krystal jadi bertanya-tanya. Apakah mereka memang ditakdirkan sebagai sahabat?

.

.

.

.

.

Akhirnya hari keberangkatan Sehun tiba. Krystal tengah duduk anggun menunggu Oemma Sehun yang sedang membuatkan minuman. Luhan tidak ikut mengantar karena bentrok dengan jadwal co-ass nya.

“Ini sirupnya Krystal..” Oemma Sehun datang membawakan sirup leci yang membuat Krystal tersenyum lebar.

“Terimakasih bibi!” Ia segera meminumnya. “Jadi, Sehun belum siap?”

“Oh, anak itu baru dari kampusnya dengan badan penuh dengan krim. Jok mobil sampai kotor karena ia terlalu malas membersihkan diri. Ia sedang mandi di kamarnya.”  Oemma Sehun menceritakan dengan semangat. “Pesawat akan berangkat dua jam lagi dan dia masih dirumah.  Awas saja ia memindahkan jam terbangnya karena akan terlambat.”

Krystal tertawa kecil. “Aku tidak tahu ia mandi dengan sangat lama.”

Oemma Krystal terdiam sejenak, “Iya ya… Aneh. Oemma akan mengecek Sehun terlebih dahulu.”  Oemma Sehun bangkit tetapi ia kemudian menghentikan langkahnya, “Kau ingin menonton tv atau apa? Pasti membosankan menunggu Sehun.”

“Tidak apa-apa bibi. Aku disini saja.”
Oemma Sehun mendengus mendengar jawaban Krystal, “Kenapa malu-malu? Ayo sini menonton tv saja! Tidak ada penolakan!”

Krystal yang tidak enak hati akhirnya tersenyum dan mengikuti ibu Sehun. Ia tersadar jika cat rumah Sehun telah berubah.  Ahhh..  Sudah lama sejak terakhir kali ia datang ke rumah Sehun.

“Sayang…” Suara berat yang merupakan suara Appa Sehun membuat Krystal tersenyum.

“Paman!!!” Sapa Krystal dan ia melambaikan tangannya.

“Krystal!”  Appa Sehun tidak dapat menyembunyikan senyumannya.

“Krystal akan mengantar Sehun ke bandara.” Jelas Oemma Sehun. “Bersama Luhan sebenarnya. Tapi tadi Krystal mengatakan jika Luhan ada jadwal co-ass.”

“Wah… Sudah lama sekali tidak melihat Luhan.” Komentar Appa Sehun. “Apakah wajahnya berubah?”

“Dia sangat awet muda paman.” Jawab Krystal sambil tersenyum.

“Sayang sekali aku tidak bisa melihatnya.”

Mendengar jawaban dari Appa Sehun, Krystal tertawa kecil.

“Ada apa tadi memanggil?” Tanya Oemma Sehun.

“Melihat kaca mata coklat ku?”

Oemma Sehun kembali mendengus. “Di atas tv kamar.”

“Tidak ada!”

“Di atas tv kamar!” Oemma Sehun masih kekeh.

Appa Sehun yang kali ini menghela nafasnya, “Tidak ada, sayang…

“Baiklah… Akan dibantu mencarikannya.”  Oemma Krystal kemudian berteriak, “Bibi Ahn!” Tapi langsung saja ia menepuk jidadnya, “Bibi Ahn sudah pulang tadi.” Ia kemudian menoleh, “Krystal…”

Krystal tersenyum menunggu perkataan Oemma Sehun. Jangan bilang jika harus ia yang datang ke kamar Sehun.

“Bisakah kau datang ke kamar Sehun?” Astaga!

“Iya, bibi?” Krystal tidak salah dengar bukan.

“Tolong bibi ya… Atau Krystal ingin membantu paman mencari kaca mata?”

“Akan ku beri tahu bibi.” Putus Krystal pada akhirnya.

Oemma Sehun tersenyum dan segera menghilang ke lantai atas. Krystal menghela nafasnya dan mulai menaiku tangga.

Ia memegang jantungnya yang berdegup kencang. Tenang…. Tangan mengetuk pintu kamar Sehun. “Sehun…” Tidak ada jawaban. Atau jangan-jangan Sehun masih di kamar mandi? Haruskah ia masuk? Tidak ingin lancang sebenarnya. Ia kembali mengetuk.

“Krystal masuk saja. Sepertinya ia masih di kamar mandi.” Suara Appa Sehun menyentakan Krystal.  Appa baru saja keluar dari kamar dan turun ke bawah.

Dengan ragu-ragu, Krystal memasuki kamar Sehun. “Sehun…” Benar saja. Sehun masih mandi karena ia mendengar suara air. “Sehun…” Teriak Krystal lebih kencang. Ia sudah masuk ke kamar Sehun.

“Bentar Oemma! Aku sedang mencuci rambut ku!” Teriak Sehun dari kamar mandi.

Krystal tertawa kecil mendengar jawaban Sehun. Apakah teriakan Krystal seperti Oemma-nya? Ia menatap sekeliling kamar Sehun. Terlalu rapih untuk ukuran cowok. Mungkin saja ini karena Sehun ingin pergi ke Jepang. Mata Krystal tidak sengaja menangkap sebuah buku besar terletak di atas meja Sehun. Ia tidak tahu apakah lancang, Krystal mendekat ke arah meja Sehun. Memperhatikan jika di buku ini terdapat beberapa foto dan sebuah kertas. Tanpa bisa ia cegah, Krystal membaca isi kertas tersebut.

Rabu, 29 Oktober 2014

Ada orang yang pernah bilang, kebahagiaan itu sederhana, asal melihat orang yang dicintainya bahagia, dia akan bahagia.

Ah… itu merupakan potongan diary Krystal. Tapi mengapa bisa ada di Sehun? Dia tidak melihat diary-nya sama sekali setelah Sehun mengembalikannya. Krystal meletakan kertas itu. Ingin menanyakan kepada Sehun nantinya. Saat meletakan kertasnya, mata Krystal menangkap jika di buku itu juga terdapat foto-foto yang berserakan. Ia tidak terlalu memperhatikan tadi. Tapi setelah ia memperhatikannya, semua itu adalah foto Krystal bersama Sehun dulu…

Tangan Krystal mengambil foto-foto tersebut sebelum ia memutuskan untuk membaca buku yang sengaja Sehun biarkan terbuka. Krystal membacanya sebaris dan ia langsung tercekat. Tangannya bergetar hingga foto yang ia pegang jatuh. Ia dengan cepat membuka halaman di belakangnya. Membacanya dengan cepat. Kemudian kembali membuka halaman belakang. Kembali membacanya dengan cepat. Ia membuka halaman buku tersebut dengan asal hingga sampai di halaman yang Sehun lipat, membacanya sejenak, hingga tak tersadar air matanya telah menetes.

.

.

.

.

.

Sehun keluar dari kamar mandi dengan perasaan aneh. Entah mengapa. Ia melemparkan handuknya sembarangan dan segera memakai bajunya. Tak sampai lima menit, ia sudah siap dan memutuskan untuk keluar.
“Sehun!”  Oemma nya telah di depan pintu dengan wajah panik. “Apakah dirimu melihat Krystal?”

“Krystal?” Sehun mengeretukan alisnya.

“Krystal datang. Apakah ia ada di kamar mu?”

Jangan-jangan.. Sial! Ia lupa sesuatu!

“Sehun!”  Oemma-nya kembali memanggil.

“Krystal tidak ada di bawah?” Tanya Sehun pada akhirnya.

“Berarti dia tidak ada di kamarmu?”  Oemma Sehun benar-benar panik sekarang.

“Tenanglah Oemma. Aku akan mengecek hp ku terlebih dahulu. Mungkin tadi dia ada urusan mendadak yang membuatnya langsung pergi.”
“Baiklah. Kabari Oemma segera.  Oemma harus mengurusi kopermu terlebih dahulu.”

Sehun kembali masuk kamar. Ia mengambil handphone-nya. Tapi ia tidak langsung menelepon Krystal. Ia berjalan ke arah meja belajarnya. Menyadari jika foto-foto yang tadi terletak rapih di atas bukunya terjatuh, Sehun segera mengambilnya dan memejamkan matanya. Bodoh! Rutuknya dalam hati. Ia meletakan foto tersebut di samping bukunya dan melihat buku tersebut. Melihat halaman yang terakhir Krystal baca. Sehun segera mencengkram hp-nya. Tapi itu tak lama. Tangannya dengan cepat menelepon seseorang.

“Luhan! Kau melihat Krystal?! Atau kau dengar kabar darinya?! Kumohon cari dia sekarang! Aku takut ia melakukan hal-hal bodoh seperti bunuh diri lagi…”

Sehun langsung keluar dari kamarnya.

“Sehun ada apa? Dimana Krystal?”  Oemma Sehun melihat anaknya aneh karena Sehun berlari ke arah pintu rumah.

Sehun menghentikan langkahnya, menatap Oemma nya, “Tolong tunda keberangkatan Sehun terlebih dahulu. Krystal dalam bahaya.”

“Apa?!”  Oemma Krystal berteriak panik. Tapi sebelum ia bisa mengatakan hal lain, Sehun telah menghilang dari pandangannya. Kemudian ia mendengar suara mobil.

.

.

.

.

.

Luhan terdiam sejenak setelah panggilan Sehun terputus. Ia masih mencoba untuk focus dalam menyetir mobilnya. Suara Sehun yang panik membuatnya bingung. Dia bingung apa yang terjadi dengan Krystal. Krystal sebenarnya telah meneleponnya. Jauh sebelum Sehun meneleponnnya. Suara gadis itu berbeda. Ia meminta Luhan untuk menemuinya di taman tak jauh dari rumah sakit Luhan. Ada yang ingin ia bicarakan. Penting katanya. Luhan berpikir Krystal hanya ingin berbicara biasa. Tapi tidak setelah gadis itu mengatakan jangan beritahu Sehun jika ia menanyakan dimana dirinya.

Memantapkan diri, Luhan membuka seatbelt-nya dan turun dari mobil. Dari lapangan parkir pun, Luhan dapat melihat Krystal yang sedang duduk menatap lalu lintas. Luhan mempercepat langkahnya hingga ia sampai tepat di depan Krystal. Agak jauh dari Krystal tapi Krystal pasti melihatnya. Ia ingin mengeluarkan senyumannya. Tapi entah mengapa, melihat ekspresi dingin Krystal, bibirnya tidak bisa terangkat membentuk sebuah lengkungan.

“Berhenti!” Seru Krystal tiba-tiba. “Jangan mendekat kumohon…” Suaranya tidak dingin. Tetapi sarat akan kesedihan.

“Krystal..” Luhan semakin bertambah bingung. “Apa yang terjadi?”

“Ada yang ingin ku tanyakan kepadamu.” Krystal kembali berkata. Tidak punya niat sedikitpun menjawab pertanyaan Luhan. “Apakah… Apakah…” Suara Krystal agak bergetar. Ia memejamkan matanya dan berkata lirih, “Apakah kau melarang Sehun untuk menyukai ku?”

“Aku…” Luhan tercekat. Tapi ia maju kedepan.

“Berhenti Luhan! Jangan mendekat!” Krystal berdiri dari kursinya dan mundur kebelakang. Menjauh dari Luhan. “Kenapa kau melarangnya? Apakah itu karena kau juga menyukai ku?”

“Krystal aku bisa jelaskan—”

“Aku tidak butuh penjelasan mu Luhan!” Potong Krystal. Sekarang ia benar-benar menangis. “Apakah kau melarang Sehun untuk menyukai ku?”

“Jawab Luhan!” Krystal berteriak. “Jawab! Apakah kau tidak tahu aku menyukai nya?”

Tangisan Krystal membesar. Ia terjatuh. Menutupi mukanya dengan tangisan yang semakin membesar.

“Sehun menyukai mu dari dulu. Tidakkah kau sadar? Dia selalu berada di samping mu. Bahkan ketika kalian beda kelas. Dia selalu datang ke kelasmu mengajak mu ke kantin. Menunggu mu sampai dirimu di jemput. Selalu mendengar ocehan mu tanpa sekalipun memotong atau berkata ia bosan mendengar dirimu bercerita. Apakah kau tahu banyak gadis yang menyatakan perasaannya tapi ia menolaknya. Karena ia berkata jika ia menyukai mu. Itulah tatapan iri dari para gadis setiap mereka melihatmu.”

.TBC.

Next chapter will be the end…  See you soon guys

 

Flipped (Chapter 20)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Salah Paham


Suara bel diikuti oleh suara perintah membuat semua kegiatan di ruangan tersebut berhenti.

“Taruh saja kertasnya di meja dan silahkan keluar.” Begitulah suara wanita paruh baya–Profesor Yuri- terdengar lagi.

Sehun keluar dari ruangan. Ia menghela nafasnya. Ini merupakan keputusan yang berat. Sampai sekarang ini juga, ia masih ragu akan keputusannya.

“Sehun…” Suara perempuan yang akhir-akhir ini sering menemaninya membuat Sehun tersenyum lembut –menyapa- ke Irene.

“Hai Irene…” Sapanya pada Irene yang sudah menunggu di depan ruagan.

Irene menatap ke Sehun ragu sebelum akhirnya berkata, “Jadi benar?”
Sehun tersenyum kecil. Mengetahui apa maksud Irene, “Ya.” Jawab Sehun pendek.

“Kenapa?”

“Kenapa gak?”

Irene menghela nafasnya, “Kamu udah bicara sama orangtua kamu?”

“Mereka udah setuju, Irene…”
Jawaban singkat dan padat Sehun membuat Irene kembali menghela nafasnya, “Tapi udah yakin?”

Sebelum Sehun menjawab, Irene kembali berkata, “Sudah bicarain sama teman yang lain?”

“Aku udah bicarain sama Chanheol, Junmyeon, dan Xiumin.”

Melihat Irene sekarang tertunduk, Sehun menhela nafasnya, “Kita udah bicarain hal ini bukan?”

“Iya, tapi..”
“Dan kamu udah janji sama aku.”

“Tapi..”

“Tapi apa?”

Irene kini mendongak, matanya sudah berair, “Tapi aku pikir kamu gak akan ngelakuin hal ini.”

“Aku ngelakuin hal ini bukan karena kamu.”

Jawaban Sehun sukses membuat air mata Irene jatuh.

“Irene….”
“Ya, aku tahu! Aku bukan siapa-siapa bagi kamu! Kamu bahkan gak mau nerima persaan aku.”

“Irene…”
“Karena kamu bilang kamu lebih milih perasaan Junmyeon –teman kamu- yang minta ke kamu jangan pacarin mantan pacarnya.”
“Aku gak pernah ngomong kayak gitu.”

“Iya, gak! Tapi aku tahu maksud kamu Sehun…”

Setelah itu Irene berbalik dan meninggalkan Sehun. Sehun lagi-lagi hanya bisa menghela nafasnya.

.

.

.

.

Ada orang yang berkata jika hidup ini bagaikan roda yang berputar. Terkadang kau merasa di atas. Terkadang kau juga merasakan di bawah. Membaca buku-buku kuliahnya yang sedang membahas majas membuat Krystal kembali menghela nafasnya. Kenapa semua majas disini berhubungan dengan penyesalan cinta? Pikirannya semakin kalut.

Ia menutup bukunya dan memejamkan matanya. Sekarang, ia sedang berada di perpustakaan. Tidak ada tugas sama sekali. Dia sedang ini menghabiskan waktunya di perpustakaan, sekaligus menghindari Luhan. Entahlah…. Dia tidak sanggup bertemu dengan Luhan semenjak ia bertemu dengan Sehun. Perasaan cemburunya kepada Sehun menjadi perasaan bersalah ketika melihat Luhan tersenyum.

Drrrt~

Krystal terkesiap ketika handphone-nya berdering. Segera saja ia tersadar dari lamunanya dan mengangkat telepon.

“Hai…” 

Krystal tercekat mendengar suara yang meneleponnya, “Oh, Hai Luhan…” Sapanya berusaha ceria.

Aku tadi mencoba ke kelasmu. Tapi sepertinya dirimu sudah pulang.”

Duh… Krystal jadi merasa bersalahkan.

“Sudah lama kita tidak pulang bersama. Aku rindu padamu…. Kau sedang sibuk-sibuknya ya?”

“Tidak juga.” Krystal berhenti sejenak. Ragu ingin berkata apa. “Uhmmm, Luhan…”

“Iya?”

“Nanti malam co-ass gak?”

“Ada apa?” Tanya Luhan dan Krystal bisa menangkap nada kegembiraan di situ.

“Mau makan malam bersama?”

“Sebenarnya aku sudah ada janji dengan Chanyeol.”

“Oh, kalau begitu tidak usah.”

“Tunggu dulu… Chanyeol akan merayakan ulang tahunnya dan mengundangku.”

“Oh, baiklah…” Krystal masih ragu, “Jadi…”

“Kau ingin menemaniku Krystal Jung? Sebenarnya tadi aku datang ke kelasmu untuk mengajak mu? Kalau kau tidak ingin kita bisa makan malam bersama.”

“Tentu aku ingin menemani mu. Dimana?”
“Aku akan menjemput mu dirumah mu…..”

Setelah itu teleponnya terputus. Kenapa ia dan Luhan menjadi seperti ini? Pikiran Krystal berkelabat mengenai pertemuan nanti malam. Pesta ulang tahun Chanyeol ya? Apakah Sehun ada disana?

.

.

.

.

.

Krystal dan Luhan sampai di tempat acara sedikit terlambat. Ketika mereka memasuki ruangan pesta, yang tak lain adalah apartment Chanyeol, banyak wajah asing yang mereka lihat.

“Krystal!!!” Spa seseorang yang membuat Krystal terpana beberapa saat.

“Sulli!” Seru Krystal dan langsung memeluk Sulli. “Sudah lama tidak bertemu dengan mu.:

“Aku tahu!” Pekik Sulli senang. “Bagaimana kabarmu?” Lanjutnya ketika melepas pelukan.

“Baik… Sangat baik…”

“Jadi, kau temannya Chanyeol?”
Krystal tertawa kecil, “Bisa dibilang begitu… Sebenarnya Luhanlah yang merupakan temannya Chanyeol.”

“Luhan?” Sulli langsung menoleh ke Luhan, seakan baru tersadar Luhan disamping Krystal. “Luhan! Astaga!! Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu!”

Luhan tertawa melihat antusiasme Sulli, “Senang melihatmu juga Sullli ”
“Bagaiman dengan dirimu? Kau juga temannya Chanyeol?” Tanya Krystal membuat Sulli kembali menoleh kepadanya.

Sulli tiba-tiba tersenyum lebar dan mengangkat tangan kannya, “Tunangan..”
Krystal terdiam sesaat, “Ya, ampun… Bagaimana bisa?”
Melihat kedua perempuan itu akan asyik mengobrol, Luhan menyentuh siku Krystal, menghentikan Krystal yang asyik mengobrol dan menoleh ke Luhan, “Aku ke Chanyeol dulu.” Kata Luhan sambl tersenyum.

“Baiklah…” Jawab Krystal pendek dengan senyuman tersungging di bibirnya.

Luhan berjalan melintasi ruang depan menju pintu kamarnya yang entah mengapa sekarang banyak balon, “Chanyeol!”

“Hai, Luhan!” Chanyeol melambaikan tangannya. Ia tersenyum seperti anak 18 tahun daripada umrunya sekarang.

“‘Selamat ulang tahun dan selamat juga untuk pertunaganmu!”

“Terimakasih! Kau datang sendiri kesini?”

“Tidak. Krystal ikut tapi sedang mengobrol dengan Sulli..”

“Aku tahu jika mereka teman SD!”
“Yah.. Dan banyak yang akan mereka bicarakan.”
Chanyeol tertawa kecil mendengar hal itu.

“Bagaiman dengan Sehun? Apakah ia kan datang? Tanya Luhan tiba-tiba.

Chanyeol terdiam sebentar, “Dia ada sedikit masalah di kampus. Tapi dia bialng dia kan datang.”  Ekspres Chanyeol yang sedikit kaku membuat Luhan bertanya-tanya tentang Sehun. Tapi sepertinya tidak baik menyakan hal ini. “Oh, baiklah..” Respon Luhan pada akhirnya.

“Chanyeol!” Suara orang lain membuat mereka berdua menoleh.

“Jongdae!!” Chnayeol kembali tersenyum, “Aku terkesan kau datang kesini. Oh, perkenalkan ini Luhan. Orang yang sekarang menempati kamarmu!”

Luhan akhirnya sibuk mengobrol dengan orang-orang yang dikenalkan Chanyeol. Begitupula dengan Krystal yang asyik bercerita ke Sulli, terutama bagaimana dia bisa berpacaran dengan Luhan. Oh, tentu Krystal tidak menceritakan bahwa ia masih menyukai Sehun. Rasanya memalukan.

“Hai Sulli…” Suara berat yang lagi Krystal coba hindari terdengar. Sontak saja, Krystal dan Sulli berbalik.

“Sehun… Kau terlambat!” Seru Sulli pura-pura kesal.

“Aaah… Ada sedikit masalah dikampus.”

“Alasan.. Sebentar lagikan mau diwisuda! Gak ada tugas-tugas lagi!” Sulli masih bersikeras.

“Ayolah… Jangan sering marah-marah. Kasihan nanti suami mu!”

Dengan sigap, Sulli memukul lengan Sehun dan mereka berdua tertawa.

“Sehun lihatlah.. Krystal ada disini…” Sulli merangkul Krystal. Tetapi, sebelum Sehun menanggapi, Sulli memekik, “Oh! Kau juga tidak datang sendiri! Kenapa tidak memperkenalkannya kepadaku?!”

Krystal yang sedari tadi diam menunduk menoleh ke arah seseorang yang disamping Sehun, “Irene…” Katanya otomatis.

Selama beberapa detik, Krystal menahan nafasnya. Jadi Irene kesini bersama Sehun? Apakah hubungan mereka sudah sangat serius?

Menyadari tatapan Irene yang bingung, Krystal kemudian tersenyum, “Aku mendengar namamu dari Sehun.”

Irene bergumam kecil dan menundukan kepalanya. Terlihat semburat merah di wajahnya.

“Aku Krystal Jung…” Krystal mengulurkan tangannya.

Dengan malu-malu Irene membals uluran tangan Krystal, “Irene Bae.”

Melihat sikap Irene yang entah mengapa sedang berbunga-bunga membuat Krystal sediki merengut. Irene tersentak karena cengkraman tangan Krystal mengeras.

“Senang sekali bisa bertemu dengan mu langsung…” Oh katakanlah Krystal munafik karena memang benar, bukan? Ia sama sekali tidak senang.

“Aku juga.” Sahut Irene sambil tersenyum lebar.

“Kalau gitu Irene harus mengobrol dengan kita, bukan?” Sulli terlihat sangat antusias. “Oh, aku Sulli!”

“Oh…” Irene melirik ke Sehun.

“Aku akan menyampaikan salam mu ke Chanyeol.” Sahut Sehun santai. Ia sedikit tersenyum ke Irene.

“Kau temannya Chanyeol juga? Baiklah kita harus mengobrol. Dan tenang saja! Chanyeol tidak akan marah jika kita mengborol karena aku adalah tuangannya.”
“Mengobrol lah dengan Sulli. Akan kusampaikan.” Sehun kembali tersenyum dan berjalan menghilang dari pandangan mereka.

“Jadi…” Seru Sulli masih antusias.

.

.

.

.

.

Pesta berlangsung sangat lama. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Tidak ada tanda-tanda orang mau pulang. Malah masih ada yang datang. Krystal tersenyum kemudian menyesap minumannya, fruit punch. Tanpa alkohol tentunya. Keadaan pasti sudah chaoss jika alkohol terlibat.

Irene dan Sulli sedang tertawa mengenai sesuatu yang tidak Krystal dengar. Dia benar-benar setengah hati ikut duduk disini sejak Irene ada. Apalagi melihat raut wajah Irena yang sangat bahagia. Entahlah… Lagipula kenapa dia harus cemburu? Tanpa benar-benar Krystal sadari, ia menghembuskan nafasnya.
“Ada apa sayang?” Tanya Sulli khawatir. Melihat temannya menjadi pendiam seperti ini sebenarnya sudah membuat Sulli bingung sedari tadi. Tapi ia mengenyahkannya. Krystal memang pendiam jika bertemu dengan orang baru.

“Bisakah aku bertemu dengan Luhan sebentar? Ada yang harus aku tanyakan kepadanya.” Lagi-lagi ia berbohong. Krystal harus menyingkir sejenak memperbaiki mood-nya sebelum ia membuat semua orang bingung.
“Oh, tentu. Aku tetap setia pada bangku ini.”

Krystal tertawa kecil. Begitupula dengan Irene.

Setelah Krystal menghilang, Irene berkata kepada Sulli, “Aku ingin bertemu dengan Sehun juga kalau boleh.”

.

.

.

.

.

Krystal berjalan menuju ke dapur. Tidak ada hal khusus sebenarnya. Ia hanya perlu berada di sekitar orang asing. Menatap orang asing tidak suka sebagai penyalur mood-nya yang sedang buruk. Krystal asyik menyesap minuman lain, sejenis soda.

“Kau seperti orang yang sedang kesal.”

Suara Luhan yang berasal dari belakang membuat Krystal menoleh dan tersenyum kecil, “Sama sekali tidak. Aku hanya menyukai ini.”

“Ingin kuambilkan lagi?”

Krystal mengangguk kecil dan Luhan terlihat menghilang di antara tamu. Kemudian matanya menyapu kerumunan.

“Sehun!”

Ia merengut ketika dirinya melihat Irene memanggil Sehun. Dan ia semakin merengut karena ia merasa dia tidak pantas menunjukan emosi seperti tadi.

“Ini dia!”

Sontak, Krystal mengambil soda dari tangan Luhan dan meminumnya. “Kau memang yang terbaik!”

“Aku tahu!” Luhan kembali berkata, “Sepertinya kau sangat asyik berbicara dengan Sulli.”

“Kau juga Luhan! Kau menghilang beberapa jam!”

“Krystal Jung juga melakukan hal yang sama!”

“Oh, jadi ini semua salahku?”

Mengobrol dengan Luhan sejenak berhasil mengalihkan pikiran dan perasaan Krystal. Pikirannya sekarang lebih tenang. Perasaannya juga lebih ringan. Krystal tertawa karena senang untuk pertama kalinya semenjak Sehun datang.

“Krystal!” Dari jauh tampak Sulli memanggilnya. Raut wajahnya menyiratkan kegusaran tetapi ia tetap tersenyum.

“Oh, sepertinya ada yang penting. Aku harus kembali ke Sulli!” Krystal kembali menyeruput sodanya. Sedangkan Luhan membiarkan Krystal pergi. Lain kali ia akan membuat pembalasan agar Krystal selalu berada di sampingnya.

“Ada apa Sulli?”

Sulli mengigit bibirnya, “Dengar… Euhm….” Ia terlihat sangat ragu.

“Katakan saja pada ku, Sulli.”

“Sehun tadi datang kepadaku dengan raut wajah yang sedikit menakutkan.”

“Maksudmu?”

“Dia ingin berbicara dengan aku dan dirimu. Jadi..”

“Sulli…”

Sulli memegang tangan Krystal, “Aku tahu kau bingung dan aku juga begitu. Tapi kita harus bertemu dengan Sehun segera.”

“Aku harus pulang.” Elak Krystal.

“Sepuluh menit saja. Walau aku yakin ini tidak akan lama.”

Krystal menghela nafasnya dan mengangguk. “Dimana dia sekarang?”

“Dikamarnya dulu. Katanya kita membutuhkan sedikit privasi.”

Alis Krystal berkerut. Tapi ia mengikuti Sulli yang menuntun mereka ketempat Sehun.
“Sulli sayang!”

“Chanyeol!”

“Kemarilah sebentar!”

Sulli menatap Krystal. Ia begitu ragu meninggalkan Krystal.

“Pergilah. Nanti setelah urusanmu dengan Chanyeol selesai kau bisa menyusul.” Krystal tersenyum tipis. Melihat Sulli yang ragu, Krystal kali ini memegang dan meremas tangannya, “Tidak ada hal buruk yang terjadi. Percayalah.”

Sulli seperti tidak punya pilihan lain. Ia memutuskan untuk mengangguk dan pergi bersama Chanyeol.

Krystal memejamkan matanya untuk mengumpulkan keberanian. Dan..

Trek~
Pintu kamar terbuka. Sehun tengah duduk di tempat tidurnya. Menunggu Krystal dan Sulli.

Melihat Krystal datang, Sehun bangkit, “Dimana Sulli?”

“Chanyeol memanggilnya sebentar. ” Krystal masuk dan menutup pintu kamar. “Kata Sulli kau ingin berbicara padaku dan dia.”

“Iya. Aku ingin berbicara mengenai Irene.”

Krystal terdiam. Tidak tahu ingin berbicara apa.

Sehun kembali berbicara, “Apa yang kalian bicarakan dengan Irene?”

“Maksudmu?”

“Dengar… Hubungan ku dengan Irene tidak seperti yang terlihat.”

Krystal terdiam. Selain tidak tahu ingin berakata apa, ia juga tidak mempercayai pendengarannya.

“Aku tidak mempunyai hubungan khusus dengannya dan kedatangan kami tadi tidak menunjukan apa-apa.”

“Kenapa kau mengatakan ini kepada Sulli dan aku? Kami hanya mengobrol biasa.”

“Iya, tapi respon kalian. Kau berkata pernah mendengar namanya dari ku—”

“—Dan itu benar…” Potong Krystal.
“Tapi..” Sehun kembali memotong, “Respon Sulli juga memperparah keadaan.”

“Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.” Ayolah… Krystal benar-benar bingung dengan keadaan. Dan ia yakin bukan hanya dirinya. “Bisakah kau memberi tahu apa yang terjadi?”

Sehun memejamkan matanya sebelum berkata, “Irene adalah mantan pacar teman ku. Teman akrab ku. Dan ia meminta ku jangan mendekatinya. Kurasa kau sudah mengerti bukan?”

“Apakah kau menyukainya?” Krystal menatap Sehun dalam. Ini benar-benar di luar dugaannya. Tapi masih ada yang menganjal di hatinya.
“Itu tidak penting.”

“Kenapa kau selalu seperti ini?” Suara Krystal tiba-tiba naik. Ia maju dan mencengkram bahu Sehun, “Bersikaplah seperti laki-laki.”

Sehun kaget, tidak menyangka Krystal akan melakukan hal ini.

“Jika kau memang menyukainya, berbicaralah kepada mantan pacarnya. Jangan seperti ini.”

“Krystal….” Sehun memgang kedua tangannya. “Lepaskan!”
“Kau menyukainya?”

Sehun memejamkan matanya. “Ayo kita keluar.”

“Kau menyukainya Oh Sehun?”

“Krystal!”

“Apakah kau menyukai diriku?” Kata-kata itu kembali keluar dari mulut Krystal. Suaranya agak bergetar. “Aku sekarang penasaran. Apa yang membuat dirimu menolak ku?”

“Kau hanyalah sahabatku.”

Cengkraman di bahu Sehun menguat, “Sayang, kau tidak memperlakukanku sebagai sahabat, Oh Sehun. Kau menjauhi ku seakan aku virus.”

“Itu tidak benar.”

“Ingatan ku sudah kembali.”

Sehun sekarang menatap mata Krystal, “Tidak ada gunanya, Krystal. Semuanya telah terlambat.” Dengan kasar, Sehun melepaskan cengkraman Krystal.

“Sehun…” Krystal menghalangi Sehun untuk keluar dari pintu. “Katakan…”

“Kau sudah bersama Luhan. Itu tidak penting.”

“Aku… masih… menyukaimu…” Hancurlah pertahan Krystal yang beberapa bulan ini ia buat. Air matanya menetes, “Ya, jadi itu penting.”

Helaan nafas terdengar, “Perasaanmu kepadaku hanyalah sebuah klise. Atau bahkan hanyalah sebuah rasa penasaran. Sekarang ku tanya kepadamu, apa yang akan kau lakukan jika aku memberi tahu mu? Kurasa tidak ada. Kau pasti akan menganggap hal yang sepele karena sejujurnya perasaan mu tidaklah sedalam yang kau kira. Kau pasti—”

Omongan Sehun terputus dan ia membulatkan matanya. Kedua tangannya bergetar. Krystal Jung sedang menciumnya. Dengan pelan, ia mengangkat tangannya dan mengarahkan ke bahu Krystal, ingin melepaskan ciuman mereka. Tapi dengan pelan juga, bibir Krystal bergerak membuat Sehun menahan nafasnya dan tangannya terhenti tepat di bahu Krystal. Ia meremas bahu Krystal. Ketika bibir Krystal kembali bergerak, Sehun mendorong Krystal hingga kepintu dan ia mulai memejamkan matanya. Nafas mereka memburu ketika mereka melepaskan tautan bibir mereka.

“Hentikan!” Teriak Sehun menatap Krystal dengan tatapan menyalak. “Hentikan, Krystal Jung!” Lanjutnya penuh penekanan.

Krystal menelan ludahnya. Jantungnya berdebar tidak karuan. Sesaat tadi dia benar-benar tidak berpikir. Semuanya mengalir seperti air. Benarkah ini terjadi? Dia belum gila bukan?

“Kurasa… Kau yang tidak tahu pasti Oh Sehun.” Ujar Krystal dengna suaranya yang tiba-tiba serak.

“Kau tidak akan mengkhianati Luhan, Krys….” Seru Sehun masih penuh penekanan dan… Misterius?

“Oh!” Krystal tersentak hebat ketika ada yang membuka pintu kamar. Dia melupakan jika pintu kamar terkunci.
Sehun sedikit menjauh dari Krystal. Begitupula Krystal yang menjauh dari pintu.

“Hallo! Apakah aku terlambat?” Sulli datang dengan santainya. Ia kemudian menurunkan senyumannya melihat Sehun dan Krystal yang berada di dekat pintu. “Atau kalian sudah ingin selesai?”

“Aku harus pulang.” Sahut Sehun dingin. Membuat Sulli menyingkir dari pintu. Tanpa mengucapkan apa-apa, ia pergi meninggalkan Krystal dan Sulli.

“Ternyata sudah selesai.” Sulli masih belum mengerti situasi berusaha mengeluarkan candaannya.

“Aku juga. Ini sudah malam bukan?”

Sulli menatap bingung Krystal, sepertinya banyak yang terjadi di dalam sana bukan?

.TBC.

I know bagian ‘Sulli menatap bingung Krystal’ bukanlah ending yang bagus tapi saya kehabisan ide. Lagipula ini udah 2400 kata… Panjang ya?  Aneh? Membuka krtik dan saran dengan tangan terbuka guys..

And… How about the kiss part? I give you a surprised didn’t i?  Another surprise will be you found in the next chapter… 2 chapter lagi dan Flipped akan selesai, i guess…

Flipped (Chapter 19)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

KHIANAT

Lima bulan. Ya, lima bulan. Hari ini tepat lima bulan sejak Luhan dan Krystal memutuskan untuk pacaran. Krystal melihat hp-nya yang sudah dipenuhi oleh chat dari Luhan. Salah satunya berisi tentang hari jadi mereka. Hp Krystal kembali berdering. Tapi kali ini bukan sebuah chat yang masuk, melainkan sebuah telepon dari Luhan.

“Hallo…” Jawab Krystal dengan suara khas bangun tidur, menjawab telepon Luhan.

“Happy five month anniversary…”

Krystal tidak dapat menahan senyumannya ketika mendengar suara Luhan, “Happy five month anniversary too….” Balasnya ceria. Ia mulai bangkit dari tempat tidurnya.

“Apa yang ingin kau lakukan hari ini?”

“Ke kampus tentu saja. Aku pulang siang hari ini.”

“Baguslah…”

“Kenapa?”

“Aku akan mengajak mu ke suatu tempat sehabis pulang.”

“Makan?” Tanya Krystal main-main. Ia hanya bercanda. Luhan bukan tipikal orang yang suka pergi ke restaurant jika ingin merayakan sesuatu. Lima bulan bersama dan Luhan suka mengajak Krystal ke tempat sedikt aneh untuk merayakan hari jadi mereka. Seperti taman, museum, atau pernah ke perpustakaan umum. Aneh, tapi Krystal menyukainya.

“Aku akan selalu mengajak mu makan. Ke tempat lain. Rahasia.”

Krystal tertawa mendengar jawaban Luhan yang selalu mengajaknya ke tempat makan. Lucu? Salahkan dia yang terlalu receh. “Baiklah. Dimana kita akan bertemu?”

“Kau tahu aku akan selalu dimana menunggu mu. Sampai nanti Krystal Jung.”

Lagi-lagi, Krystal tidak dapat menahan senyuman dan gejolak hatinya, “Baiklah. Sampai nanti.” Setelah sambungan telepon terputus Krystal memejamkan matanya. Rasanya damai. Keputusannya untuk bersama Luhan sepertinya tidak buruk, bukan?

.

.

.

.

.

Seulgi menatap Krystal yang sangat bahagia hari ini. “Happy five month anniversary…” Kata Seulgi pada akhirnya.

Krystal menoleh dengan tatapan terkejut, “Bagaimana kau tahu jika hari ini adalah—“

“Tentu aku tahu.” Potong Seulgi. “Sudah berkali-kali kau bahagia seperti ini. Tentu lama kelamaan aku juga hafal tanggal jadian mu. Kemana dia akan mengajak mu?”

Seulgi adalah orang yang tahu segalanya. Segalanya tentang hubungan Krystal dan Luhan.

“Oh, entahlah. Dia merahasiakannya.” Kemudian Krystal tersenyum. “Dia pasti sudah menunggu di luar.”

Seulgi mengangguk-angguk malas. “Yang lagi bahagia-bahagianya…”

“Kau iri bukan?” Krystal menatap Seulgi jahil.
Seulgi mendengus, “Apa kau bilang?” Katanya dengan nada yang diusahakan galak. Ayolah… Dia tahu jika Krystal hanya bercanda. Lagipula dia bukanlah seorang jomblo ngenes. “Aku sudah punya pacar…”

“Aku tahu. Aku tahu.”

Tepat setelah Krystal berkata seperti itu, bel pulang berbunyi. Langsung saja Krystal dan Seulgi memasukan novel yang daritadi mereka baca. Dosen Kwan sedang tidak masuk dan mahasiswa yang lain malas mencari guru pengganti. Dosen satu itu sudah sering membuat ulah karena sering tidak masuk sehingga dosen-dosen yang lain menjadi malas menggantikan kelasnya. Daripada mahasiswa-mahasiswa mendengar curhatan dosen yang lain mengenai Dosen Kwan, lebih baik tidak usah. Toh, pada akhirnya Dosen Kwan akan memberi nilai yang bagus karena tidak ingin ribet.

Sambil berbicara Seulgi dan Krystal berjalan keluar. Mata Krystal langsung mencari dimana Luhan ketika ia baru saja keluar dari kelasnya.

“Kemana Luhan?” Seru Seulgi karena Luhan tidak ada di tempat biasanya, di depan kelas Krystal.

Tepat setelah itu, handphone Krystal kembali berdering.

.

.

.

.

.

Benar dugaan Krystal sedari awal. Perayaan mereka bukan di tempat romantis. Malah di tempat yang sangat-sangat Krystal benci, rumah sakit. Walaupun alasan dia berada disini bukan karena niat Luhan.

Luhan mengalami kecelakaan kecil saat sedang co-ass. Seorang pasien yang mabuk mendorongnya dan kepalanya terbentur dinding. Benar-benar suatu hal yang tidak di rencanakan. Untungnya keadaan laki-laki itu baik-baik saja. Bahkan sudah di bolehkan pulang dengan beberapa jahitan di kepalanya.

“Maafkan aku…” Kata Luhan setelah kepalanya selesai di jahit kepada Krystal. Krystal sedari tadi menunggui Luhan. Dari kepala laki-laki itu masih dibersihkan hingga dijahit seperti ini.

Krystal menghela nafas mendengar permintaan maaf Luhan. “Tidak apa-apa Luhan. Sungguh. Apa aku terlihat marah? Tidak bukan?”

“Tapi aku sudah berjanji.”

“Aku tahu. Tapi siapa yang akan menduga ini? Lagipula, sehabis ini kita bisa berjalan-jalan sebentar dan baru pulang. Rencana mu belum sepenuhnya hancur.”

“Astaga…” Luhan menghela nafas lega. “Kukira kau akan menyuruhku pulang ke rumah dan berisitirahat sedangkan aku ingin mengajak mu jalan-jalan.”

Krystal tertawa mendengar hal itu. Satu hal yang ia suka mengenai Luhan adalah bagaimana laki-laki itu menjaga perasaannya dengan sangat baik.

“Tentu saja tidak.” Jawab Krystal. “Dokter tadi bilang jika keadaan mu baik-baik saja. Apa aku salah?”

“Tidak.” Luhan kemudian bangkit, “Aku akan mengurus izin untuk besok. Ingin tunggu di kantin? Biasanya ini memakan waktu setengah jam.”

Krystal dengan senang hati mengiyakan permintaan Luhan. Bagaimanapun juga perutnya sudah meminta jatah. Ia langsung berjalan menuju kantin yang terletak di sisi utara rumah sakit.

Dentingan bel terdengar ketika Krystal memasuki café. Penjaga kantin yang menggunakan seragam suster menyapanya dengan ramah.

“Aku pesan nasi goreng kimchi.” Kata Krystal yang langsung dicatat oleh penjaga kantin ber-name tag Park Hyein. “Minumnya ice lemon tea.”

Ketika Krystal ingin berbalik, terdapat seorang perempuan di belakangnya. Perempuan tersebut sangat cantik. Rambutnya tergerai dan dia menggunakan atasan yang sedikit terbuka, menurut Krystal. Memperlihatkan bahunya yang indah. Perempuan tersebut melihat ke arah Krystal dan tersenyum kecil. Krystal membalas senyuman perempuan itu. Baru setelah itu ia memutuskan untuk duduk di bangku yang terletak di sebelah jendela. Hanya tempat parkir sebagai pemandangannya, tetapi Krystal menyukainya.

“Aku pesan nasi gorengnya satu dan nasi tim. Untuk minumannya satu teh hangat dan satu lagi milkshake strawberry.” Suara perempuan tadi terdengar dengan jelas. Suasana kantin yang sepi dengan beberapa orang membuat apapun terdengar dengan jelas.

DB3Nl1pVoAAGfOG

Krystal yang sedang memandangi mobil lewat langsung menoleh ke pintu ketika terdengar bunyi dentingan. Dia pikir itu adalah Luhan. Tapi melihat siapa yang datang, ia langsung terkesiap keras.

Laki-laki itu menggunakan pakaian bewarna hitam dengan celana jeans. Wajahnya terlihat pucat dan kantung mata dengan jelas tercetak di wajahnya.

“Sehun!” Panggilan dari seseorang membuat Sehun datang mendekat. Krystal sama sekali belum bisa melepaskan pandangannya mengikuti arah gerak Sehun.

Ketika melihat bersama siapa Sehun duduk, ia langsung mengepalkan kedua tangannya hingga jari-jemarinya memutih. Sehun duduk bersama perempuan yang tadi tersenyum ke Krystal. Bersusah payah mengalihkan pandangannya kembali menuju mobil. Krystal menegukan ludah. Bersamaan dengan detak jantungnya yang berdebar keras.

“Aku sudah memesankanmu nasi tim. Kuharap kau suka.” Suara perempuan terdengar kembali.
“Oh, tentu Irene-ah. Tidak usah repot-repot. Kau sudah cukup bersusah payah menemaniku berobat.” Suara berat itu terdengar. Krystal semakin menahan nafasnya.

Rasanya, ia ingin tuli saat itu juga agar ia tidak dapat mendengar percakapan dua orang tersebut. Apalagi saat mendengar suara Sehun kepada perempuan itu.

He’s so care to her. Itu terlihat dari kata-kata yang Sehun ucapkan. And she’s also care to him. Perempuan tersebut-Irene- juga sama perdulinya dengan Sehun. Dia sangat santai membalas pernyataan Sehun yang sedikit keberatan dengan perlakuan Irene.

Unfortunately, he even doesn’t relize there’s you in here, Krystal Jung. Krystal berusaha tidak melihat Sehun lagi sehabis itu dan pura-pura sibuk menatap ke arah jendela.

.

.

.

.

.

Krystal merasa mengkhianati Luhan. Bagaimana dia masih bisa memiliki perasaan suka ke Sehun? Dia tidak menikmati sisa harinya setelah kejadian di café rumah sakit. Dia tersenyum dan tertawa kepada Luhan, tapi dia tidak bisa mengeyahkan kejadian café dalam pikirannya.

Krystal mencoba memejamkan matanya untuk tidur. Tetapi malah berbagai pikiran menyergapinya. Ia mendsah keras akibat kepalanya yang pusing. Segera saja ia mengambil handphone-nya dan menelepon Seulgi.

Halo…” Jawab Seulgi di dering pertama. Nada suaranya belum terdengar mengantuk sama sekali. Mungkin teman dekatnya sedang menonton drama marathon.

“Seulgi…” Ucap Krystal lirih. “Apa aku menganggu mu?”

“Mendengar suara mu sepertinya kau sedang butuh bantuan ku. Ada apa?”

Krystal menarik nafasnya lalu mulai bercerita. Mengenai hari ini yang dicapnya gagal karena bertemu dengan Sehun. Ia menceritakan semua detail. Untuk apa ia datang ke rumah sakit, saat kejadian di café, dan bagaimana perasaannya.

Ku rasa kau sudah harus memutuskannya dari sekarang.” Gumam Seulgi ketika Krystal sudah selesai bercerita.
“Memutuskan?”

“Ya. Memutuskan untuk apa kau berpacaran dengan Luhan. Sebagai pelampiasan Sehun atau hal lainnya.”
“Tentu saja bukan sebagai pelampiasan!” Gerutu Krystal mendadak kesal mendengar Seulgi. “Aku benar-benar ingin serius dengan Luhan.”

“Aku tahu… Jika kau ingin serius maka jangan mudah goyah Krystal Jung. Sekarang kau mempunyai seseorang yang sangat mencintai mu. Apakah kau ingin mencampakkannya demi seseorang yang tidak pernah melihat mu?”

“Rasanya sangat sulit untuk melepaskannya.” Kata Krystal lirih. Matanya terpejam beriringan dengan detak jantungnya yang meningkat, “Aku terkadang membenci diriku yang lembek di hadapan Sehun.”

“Kau mencintai Sehun dalam waktu yang sangat lama. Wajar jika kau tidak bisa melupakannya dengan cepat. Kau ingin saran ku?”

“Tentu.”

“Bandingkan lah keadaan mu dulu ketika mengejar Sehun dibandingkan sekarang, ketika kau mengejar Luhan. Jika kau ingin merasakan sakitnya mengejar Sehun mungkin kau bisa mengingat detail-detail kecil dengan membaca buku diary mu.”

Dahi Krystal mengerut, buku diary nya? Kemana bukunya itu?

.

.

.

.

.

Berbicara mengenai buku diary-nya, Krystal sama sekali belum menemukan buku itu.   Entah dimana buku itu. Gadis tersebut bahkan tidak mengingat dimana ia menyimpan buku tersebut. Bibi Kwon tidak tahu. Padahal biasanya bibi Kwon tahu hal-hal seperti ini. Krystal menghela nafasnya. Setidaknya pikiran dia beralih dari Sehun ke buku diary-nya.

“Bagaimana kabar buku diary mu?”

Suara Seulgi membuat Krystal menoleh kepadanya saat ia mengunyah pada jam makan siang. “Belum.” Jawabnya setelah menelan makanannya. “Aku bahkan tidak dapat mengingat dimana aku menyimpannya.”

Sebelum Seulgi dapat berkomtentar, hp Krystal berbunyi dan dengan sigap ia mengangkatnya. “Hallo…”

Hai…” Suara di ujung seberang membuat Krystal membulatkan matanya. Ia langsung melihat layar handphone untuk memastikan yang meneleponnya adalah Sehun. Dan benar, laki-laki itu meneleponnya.

“Oh, Hai. Ada apa?” Ujar Krystal dengan suara yang diusahakan ceria.

“Aku ingin bertemu dengan mu.”

Hah? Ada apa lagi ini?

“Bertemu dengan ku?”

“Ada hal yang ingin ku sampaikan kepada mu.”

Krystal menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aduh…. Bagaimana ini?

“Aku berada di depan kelas mu.” Perkataa Sehun membuat Krystal melongo. “Tapi kata teman mu kau keluar.”

“Di taman. Ayo kita bertemu di taman.” Ujar Krystal cepat pada akhirnya. Entah apa alasan Sehun, tapi ia harus dengan cepat menuntaskan hal ini.

“Ada apa?” Tanya Seulgi ketika Krystal menutup handphone-nya.

“Nanti akan ku ceritakan.” Krystal langsung lari meninggalkan Seulgi.

.

.

.

.

.

Sepuluh menit kemudian Krystal sampai di taman fakultasnya. Sehun sudah menunggu di situ sambil duduk. Ketika ia melihat Krystal, Sehun pun bangkit dan berjalan mendekat ke arah Krystal. Tangannya membuka tas punggungya dan dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Buku diary mu.” Kata Sehun dan memberikan buku diary milik Krystal.

“Bagaimana bisa?” Tanya Krystal bingung. Tangannya dengan pelan mengulur mengambil buku diary nya. Ia kemudian menatap Sehun, “Bagaimana bisa?”

Sehun menghela nafasnya. “Aku menyimpan buku mu. Tentu saja atas perintah Dokter Kim. Dokter Kim berkata jika ia menginginkan dirimu mengingat secara perlahan akibat masalah amnesia mu.”

Krystal masih menatap Sehun bingung, “Tapi… Itu bisa saja…” Kemudian ia memekik, “Bagaimana kau tahu tentang buku diary ku?”

“Itu tidak sengaja.” Kata Sehun pelan dan wajah datar. Astaga… Laki-laki di depannya hanya memasang wajah sangat santai dan dengan santainya menatap manik mata Krystal. “Banyak hal yang terjadi ketika kau koma. Termasuk saat aku harus tidur di kamar mu ketika orangtua kita masih sibuk berdiskusi. Saat aku ingin tertidur, aku tidak sengaja menemukan buku diary mu di bawah bantal.   Sebenarnya, bisa saja aku menyuruh Bibi Kwon untuk menyimpannya. Tetapi Bibi Kwon tidak enak sehingga aku yang menyimpannya.”

Krystal mengerjapkan matanya beberapa kali saat ia rasa ia tidak dapat menemukan kebohongan dalam kalimat Sehun. Entah Sehun tidak berbohong atau ia terlalu pandai berbohong. Ia berdehem, “Oh, terimakasih.”

Sehun mengangguk, “Aku pamit dulu. Aku harus ke kampus.”

Krystal tidak menjawab. Sehun berbalik. Jadi Sehun sehabis ini akan ke kampus. Pikir Krystal. Tetapi matanya kembali menyipit.

“Tunggu!” Teriak Krystal karena ia mengingat sesuatu, “Bukankah dirimu sakit?”

Sehun yang sudah berbalik ketika Krystal memanggilnya terdiam sejenak. “Oh…” Ia kemudian tertawa kecil, “Itu sudah tidak apa-apa kok.”

“Aku sebenarnya melihatmu bersama teman mu. Tapi aku merasa tidak enak menyapa mu. Kau sedang terlihat mengobrol asyik.” Hening sejenak, kemudian Krystal menambahkan, “Siapa namanya?”

Entah mengapa Sehun tersenyum sangat lebar, “Irene…”

Krystal mencengkram buku diary-nya.

He’s now in front of you, still his thought only for her. Guess, he’s not really ‘looking’ at you.

.TBC.

Hohoho…  Sudah beberapa lama saya absent-kan ff ini?  State of Grace chapter  terbaru udah selesai.  Tapi nanti aja saya publish yaaa..  *evil laugh*  Flipped chapter 20  juga lagi di tulis…  Tape baru 3/4 dan saya lagi males…  See you soon guys….

State of Grace (Chapter 25)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Suara sepatu Krystal sangat memperhatikan. Begitu pula dengan kakinya yang sudah membiru.

Brak!

Krystal akhirnya terjatuh ketika hak dari sepatu yang ia gunakan patah.

“Astaga, Krys!” Sehun yang mengejar Krystal langsung berjongkok. “Luruskan kaki mu…” Tanga Sehun terulur menyentuh kaki Krystal.

“Jangan!” Teriak Krystal parau. Menghentikan uluran tangan Sehun. “Jangan….” Katanya lagi.

Sehun terdetak melihatnya. “Krys…” Ia segera mendekat ke Krystal dimana Krystal mencoba untuk menjauh. “Ku mohon…” Katanya dan segera menarik Krystal ke dalam pelukannya.

Tangisan Krystal meledak. Ia menangis di dalam pelukan Sehun. Tersedu-sedu disana.

Tes!

Air mata Sehun juga ikut turun. Sial! Dia baru saja, baru saja berjanji kepada gadis itu agar gadis itu tak tersakit. Sekarang gadis itu menangis akibat tersakiti.

“Kalian!” Seojoon menyusul mereka. Nafasnya terengah-engah. Melihat keadaan Sehun dan Krystal ia menghela nafas. Tanganya terulur ke kaki Krystal. Ia meluruskan kaki Krystal dan melepaskan sepatu Krystal.

Krysal memandang Sehun, tangisannya tidak sekeras tadi.

“Ayo kita pulang!” Ajak Sehun.

“Biar aku yang mengantarnya…” Kata Seojoon tiba-tiba. “Oemma dan Appa panik mencari mu. Ku sarankan kau tetap tinggal demi kenyamanan pesta. Serahkan Krystal kepada ku.”

“Aku tidak perduli hyung… Krystal pulang bersama ku!”

“Aku akan pulang bersama Seojoon oppa…” Krystal meringis tak kala ia bangkit. Ketika berdiri ia tidak terlalu seimbang. Seojoon dan Sehun segera memeganginya.
“Tapi Krys…” Sehun menatap Krystal dengan tatapan memohon.

Krystal menggeleng lemah, “Ku mohon… Kembalilah ke pesta…”

Sehun hanya bisa menghela nafas. Ia menatap Seojoon, “Aku percaya kepada mu hyung…”

Seojoon mengangguk sebagai jawaban.

Sehun kembali menghela nafas dan segera menjauh dari Krystal dan Seojoon.

.

.

.

.

.

Seojoon melirik Krystal yang masih diam memandang jendela. Tatapan gadis itu kosong. Tetapi Seojoon yakin, pikiran gadis itu pasti tidak kosong.

Seojoon berdehem, “Sudah sampai.” Katanya ketika Krystal menoleh.

Krystal mengerjap beberapa kali, “Oh?” Tatapannya segera menyapu sekeliling. Sedikit terkesiap ketika Seojoon benar.

Seojoon menghela nafasnya, “Kau tahu jika aku peduli padamu, Krys…”

“Aku tahu oppa…” Ujar Krystal parau. “Terimakasih telah mengantarkan ku pulang.” Krystal ingin keluar, tetapi Seojoon sama sekali belum membuka pintu mobil.

“Dengarkan aku terlebih dahulu…” Ucapan Seojoon membuat Krystal kembali menoleh ke Seojoon, “Aku tahu kau tidak suka membicarakan masalah mu ke sembarangan orang. Hanya orang-orang terdekat dan pastinya aku bukan merupakan orang itu. Aku tidak memaksamu untuk bercerita sana-sini. Hanya katakan apa yang kau pikirkan. Kau terlihat tertekan Krys. Dan aku tahu, ada satu hal yang terus berputar di otak mu dari tadi.”

Krystal memejamkan matanya, “Entahlah…”

“Aku tidak akan membiarkan mu keluar dari mobil ini!” Ancam Seojoon.

Krystal akhirnya mendengus, “Kurasa…. Bisakah oppa menyampaikan ke Sehun agar menjauhi aku untuk beberapa hari ini? Maksudku—“

“Aku mengerti.” Potong Seojoon. “Aku mengerti maksud mu. Kau ingin waktu untuk berpikir dengan jernih bukan? Tentang masalah ini. Tentang ibu ku. Kau tahu jika Sehun mengejarmu malam ini, memohon minta maaf, kau akan luluh dan memaafkannya. Dan kau tidak ingin itu terjadi sehingga kau ingin waktu untuk meyakinkan perasaan mu bukan?”

“Aku yakin dengan perasaan ku!” Ucap Krystal masih parau. Air matanya mulai menggenang di matanya. Satu kerjapan akan membuat butiran-butiran jernih turun, “Hanya saja—“

“Aku mengerti.” Potong Seojoon lagi. “Sekarang masuklah ke dalam apartment-mu dan berpikir dengan waktu sebanyak yang kau inginkan. Akan ku sampaikan ke Sehun agar menjaga jarak dengan mu.”

“Terimakasih oppa…”

.

.

.

.

.

Hyung!” Teriak Sehun frustasi ketika Seojoon dengan santai keluar dari lift apartment membawa kopi di tangan kananya.

“Wow adik kecilku! Jangan bilang sedari tadi kau menunggu ku dengan mondar-mandir di depan lift?” Tanyanya santai.

Sehun menggaruk kepalanya frustasi, “Mana Krystal?”

“Oh…” Respon Seojoon santai. “Mana apartment mu?”

Sehun semakin bingung. Mau tidak mau dia mengikuti langkah Seojoon yang sok tahu tentang kamarnya.

“Sebelah kanan hyung!” Ucapnya dan menarik tangan Seojoon tepat di depan pintu apartment nya. “Sekarang mana Krystal?”

“Di dalam.”

“Hah?” Sehun tidak percaya tetapi cepat-cepat membuka pintu apartment nya dan masuk. Bodoh! Mana mungkin Krystal bisa disini?

Cklek~
Sehun berbalik ketika mendengar Seojoon mengunci pintu apartment nya, “Bercanda……” Ucapnya datar.

Sehun melongo sesaat. Rasa frustasi dan kesalnya hilang melihat tingkah laku kakaknya. “Maksud hyung…”

“Tentu saja Krystal di apartment nya. Kau cepat ganti baju sana dan siap-siap tidur.”

“Hyung…” Sehun mengerang frustasi, “Aku harus menemuinya segera. Apa maksud hyung menjauhkan ku dengan dia? Itu tidak masuk akal hyung. Sekarang cepat minggir dari pintu—“

“Jangan berlagak seperti anak kecil berumur lima tahun yang kehilangan mainannya.” Lagi-lagi Sehun terdiam melihat Seojoon. Seojoon melipat tangannya tepat di depan dadanya, “Dengar adik kecil ku, Krystal sangat tertekan akibat kejadian tadi dan kurasa ia mempertanyakan perasaannya.”

Sehun menatap Seojoon datar, “Jangan bercanda hyung.”

“Apa kau melihatku bercanda?” Seojoon kembali berkata, “Maka dari itu kusarankan kau mengikuti perkataan ku. Menjauhlah dari dia untuk beberapa saat. Tunjukan kepadanya kau menghargainya juga karena dia memintaku untuk mengatakan kepada mu agar kau menjauhinya.”

“Hyung… Jangan bercanda bisa?” Suara Sehun sangat melas sekarang.

Seojoon menggeleng mantap, “Tidak. Aku tidak bercanda. Kasihlah ia waktu. Aku percaya dia masih mencintai mu. Tapi perasaan ragu menyerangnya. Kalau kau mengikuti permintaan dia itu malah membuatnya lebih memikirkan mu kau tahu?”

Sehun sekarang menatap Seojoon tidak mengerti.

Seojoon menghela nafas, “Krystal masih mencintai mu. Dan aku tahu, kalau kau memohon kepadanya malam ini dia pasti akan memaafkan mu. Tapi itu memunculkan perasaan ragu di hatinya karena ia masih terbayang-bayang oleh Mommy.

Jika kau mengikuti permintaanya, aku memprediksi jika ia pasti menghitung hal itu dan itu mengalihkan perasaan ragu dari Mommy ke dirimu. Ia ragu karena dirimu begitu memperhatikannya. Makanya aku menyetujui permintaannya. Aku tidak seceroboh itu kau tahu? Hanya karena ia tertekan dan memohon kepadaku maka aku akan menurutinya? Aku juga mempertimbangkan dirimu…”

Sehun menghela nafasnya. Jujur, dia tidak tahu harus senang atau sedih. Menurutnya tetap saja hubungan dia dan Krystal tetap di ambang batas.

“Sekarang kau berganti baju dan tidur! Aku yakin sekali tubuh mu membutuhkan hal tersebut!”

.

.

.

.

.

Sehun tahu Seojoon menyuruhnya untuk menjauhkan diri dari Krystal. Tapi ia tidak bisa menahannya. Kalau ia menjauhkan diri butuh berapa lama Krystal kembali padanya? Ia tidak bisa berlama-lama. Apalagi pernikahan Seojoon empat hari lagi. Dipikirannya, ia dan Krystal akan hadir di pernikahan Seojoon dan dia tidak bisa menerima jika Krystal tidak hadir.

“Ingat pernikahan ku! Awas kalau tidak hadir! Sohee pasti akan marah besar kepada mu. Kami sudah bersusah-susah membuat pesta kecil. Mencari baju, makanan yang lezat, tempat indah, bunga-bunga cantik karena dirimu. Jadi kau harus hadir!”

Begitulah yang dikatakan Seojoon kemarin malam. Sebelum hyung nya pulang karena ditunggu oleh Sohee di kamar hotel. Menggelikan!

Sehun menyeruput kopinya dan menghela nafas. Kenapa ia lebih menyukai rasa greentea Krystal? Ia segera menghabiskan kopinya. Jam masih menunjukan pukul enam pagi dan dia masuk kerja jam sembilan. Kenapa ia buru-buru? Karena ia ingin ke suatu tempat sebelum ke kantornya.

Tigapuluh menit kemudian Sehun sudah sampai di depan apartment Krystal. Ia berdiam diri di dalam mobil. Haruskah? Kemudian ia menghela nafas dan mengambil handphone-nya. Langsung tersambung ke kotak suara.

“Hai… Apakah kau masih tidur?” Kata Sehun mencoba untuk biasa saja.

.

.

.

.

.

Krystal bangun dengan mata bengkak. Ia melihat ke kaca, Astaga! Apa yang harus ia lakukan agar bengkaknya hilang? Tidak mungkin ia muncul di f(x) dengan mata sebengkak ini! Krystal segera mencuci muka. Memanaskan air untuk membuat teh. Kemudian membakar roti. Sambil menunggu, ia memilih pakaian yang akan ia gunakan hari ini.

Ting~

Suara nyaring dari pemanggang roti membuat ia segera mengangkat rotinya. Tak berapa lama kemudian suara nyaring dari kompornya. Ia segera mamatikan kompornya dan menuangkan air ke greentea nya. Sambil menunggu makanannya dingin ia memutskan untuk bersiap-siap. Mengganti bajunya dan memubuhkan make up di wajahnya. Terutama dibagian matanya.

Drrrt~
Krystal tersentak hebat ketika mendengar handphone nya berbunyi. Ia segera mencari handphone nya ditumpukan bantal tempat tidurnya.

Sehun.

Tangan Krystal terasa lemas seketika. Ia hanya melihati ponselnya hingga berhenti bergetar. Dan merasakan kelegaan luar biasa ketika handphone nya berhenti bergetar. Krystal segera meninggalkan handphone nya. Dia harus segera makan dan mengejar kereta bukan? Dia tidak ingin berdesak-desakan di rush hour.

Limabelas menit kemudian ia benar-benar siap. Krystal kembali melihat handphone nya. Merasa ragu ketika melihat ada pesan suara, dari Sehun tentunya. Ia menghela nafas kemudian membukanya,

“Hai… Apakah kau masih tidur?” Suara Sehun terdengar ringan seperti biasa. Krystal menahan nafasnya. “Aku tahu kau memintaku untuk menjauh Krys…. Aku minta maaf. Aku berjanji pada mu tetapi aku melanggarnya. Aku…” Terdengar hening sejenak, “Kau tidak harus membalas telepon ku atau sms ku atau apapun yang berhubungan dengan ku. Lakukanlah apa yang membuat mu nyaman. Kau tahu dimana aku akan selalu berada bukan?” Sambungan teleponnya terputus.

Krystal memejamkan matanya ketika bulir-bulir air matanya mendesak keluar.

.

.

.

.

.

“Aku… Tidak… Ingin… Pergi…”

Kai memijit pelipisnya melihat kelakuan temannya yang asyik meringkuk di tempat tidur. “Hey bodoh! Apa kau ingin merengek di depan seorang wanita?”

Yup! Ada Seulgi disini yang juga sibuk menghela nafasnya. Astaga, sejak kapan sepupu ‘tersayangnya’ ini jadi sangat baperan? Okay, Seulgi tahu jika Sehun menangis ketika putus dengan Wendy. Menurut Seulgi itu adalah hal yang wajar karena….   Sehun ketika itu diselingkuhi oleh Wendy. Tetapi uring-uringan di tempat tidur merengek karena Krystal adalah hal yang sedikit…. Bukan! Sangat memalukan!

“Ayolah Sehun…” Seulgi akhirnya membuka suaranya. “Kau tidak memikirkan perasaan Seojoon oppa dan Sohee oennie? Mereka mengadakan pesta ini karena dirimu ingat? Jangan mengecewakan mereka…”

Sehun akhirnya bangun dengan wajah sebal. “Tidaklah kalian mengerti? Aku galau karena Krystal!”

“Huahahaaahahaaa!!!” Kai memegang perutnya yang nyeri akibat tertawa. “Haaahaahaaaa!!!” Lanjutnya tidak mengindahkan tatapan horror Sehun dan Seulgi.

“Dengar Sehun…” Seulgi berbicara kembali. “Bisakah kau memikirkan perasaan Oppa dan Oennie sedikit saja? Jika begini caranya kau pasti yang akan disalahkan bukan Krystal. Karena kau yang tidak ingin datang.”

“Aku akan datang besok pagi!”

Seulgi menggeleng, “Tidak! Harus hari ini! Pernikahan mereka memang dua hari lagi tapi Sohee oennie meminta kita datang pada hari ini. Kau seharusnya bersyukur boleh pergi dari Seoul malam hari bukannya siang seperti yang direncanakan. Dan juga, apa maksudmu besok? Kau ingin berangkat pagi jam berapa? Dari Seoul ke Busan butuh waktu 4-5 jam! Mau jam berapa berangkatnya? Jam enam?! Asalkan acara fitting baju jam 9 pagi!”

Sehun berdecak sebal, “Kenapa mereka mengadakannya di Busan sih? Tidak bisa di Seoul–Arghhhh, yak! Kang Seulgi!” Sehun tidak bisa menyelesaikan omongannya karena Seulgi tiba-tiba menarik kuping Sehun.

“Jangan seperti bocah berumur lima tahun yang merengek karena tidak mendapatkan yang ia inginkan!” Seru Seulgi dengan nada dingin. Itu membuat Kai terkejut dan diam-diam meneguk ludahnya sendiri. Wow! Tipikal calon ibu yang tegas! Pikir Kai.

“Pokoknya aku tidak mau tahu! Kau harus pergi malam ini juga! Paling lama jam sepuluh malam! Aku akan membawa Seojoon oppa atau Sohee oennie pokoknya! Aku akan buat mereka marah-marah kepada mu!” Lanjut Seulgi mengeluarkan death glare nya.

Sehun meringis, “Yak Kang Seulgi…”

Seulgi melepaskan tangannya, “Aku pergi dulu ya!!!” Katanya kemudian tersenyum. “Ayo Kai! Kita tinggalkan dia!”

Kai menatap Seulgi bingung tetapi akhirnya menurut karena Seulgi menatapnya tajam. “Euhm…. Aku pergi dulu!” Ucap Kai ke Sehun.

Sehun menghela nafasnya. Ia mengacak rambutnya frustasi. Apa yang harus ia lakukan? Menelepon Krystal? Gadis itu pasti tidak mengangkatnya. Apalagi Krystal benar-benar mendiami Sehun dua hari ini. Sehun akhirnya menghempaskan dirinya lagi ke kasur. Menyebalkan!

.

.

.

.

.

Krystal menatap handphone-nya. Tidak ada telepon. Tidak ada sms. Hari ini benar-benar tidak ada apapun dari Oh Sehun. Ia menghela nafas. Sekarang ia harus bagaimana? Dia berjauhan dari Sehun karena ia pikir ia dapat berpikir rasional. Memutuskan hal yang tepat. Tetapi itu sama sekali tidak berdampak apapun terhadap hidupnya. Krystal masih ragu antara bayang-bayang Tifanny dan Sehun sendiri.

Krystal mengigit bibirnya, Kenapa ia mengharapkan Sehun menghubunginya? Krystal mendengus. Ini sangat irrasional.

“Hey Krys!” Amber tiba-tiba telah berada di sampingnya.

“Oh, Hai!” Balas Krystal kemudian tersenyum.

“Kau tidak ingin pulang? Jam kerjamu sudah habis bukan? Atau hari ini kau akan tampil di Café Onew Oppa?”

Krystal menggeleng, “Tidak aku akan langsung pulang.”

“Ada apa dengan mu?”

“Heh?” Krystal menatap Amber bingung.

“Kau selalu melihat handphone mu dua hari ini. Sesuatu terjadi?” Ucap Amber menjawab kebingungan Krystal.

“Oh…” Krystal kemudian terkekeh kecil, “Tidak apa-apa. Aku pulang dulu ya…” Putus Krystal. Amber terlihat diam saja. Tahu jika sahabatnya tidak ingin diganggu.

Krystal sampai dirumah satu jam kemudian. Setelah memutuskan mandi ia pun langsung menuju ke jendela kamarnya. Gila, tapi Sehun selalu menunggu di bawah hingga pukul sepuluh malam. Katanya, ia ingin melihat wajah Krystal dan berharap Krystal ingin menyisikan sedikit waktunya untuk melihat ke bawah melalui jendela kamarnya. Awalnya Krystal tidak menghiraukannya dan memutuskan untuk tidur. Iseng-iseng mengintip, Sehun berada disitu dengan posisi kepala mendongak. Tersenyum ke Krystal dan melambaikan tangan. Yang membuat Krystal terkejut setengah mati dan langsung menutup kembali gordennya.

Jujur, pada saat itu ia ingin turun ke bawah dan menanyakan kenapa Sehun melakukan hal bodoh? Di luar selama berjam-jam. Bagaiana jika ia sakit? Tapi Krystal tidak bisa karena keraguannya.

Itu terjadi selama dua hari ini. Bukan itu saja. Sehun meneleponnya pagi hari. Mengingatkan dia untuk makan siang. Benar-benar… Krystal merasa Sehun tidak akan melepaskannya dengan mudah. Itu membuatnya bertambah pusing.

Ting tong~

Krystal mengerjapkan matanya ketika mendengar bel pintu. Siapa yang datang malam-malam begini? Sehun? Krystal kembali melihat ke arah jendela kamarnya. Tidak ada mobil Sehun. Kemudian ia melihat dari jendela ruang tamunya, tetap ia tidak melihat mobil Sehun.

“Krystal-ssi…”

“Oh Seulgi-yah?” Ujar Krystal ketika mendengar suara dari pintu. Seulgi? Kenapa dia ke sini? Sudahlah ia harus berpikiran positif. Seulgi pasti datang kesini sendiri bukan? Ia segera berjalan menuju pintu.

Cklek~

“Krystal!” Pekik Seulgi dan segera memeluknya.

Krystal terlonjak kaget. Tetapi dia membalas pelukan Seulgi. Setelah beberapa detik memeluk Seugli Krystal baru tersadar. Bahwa Seulgi kesini tidak sendiri.

.TBC.

Yang manis-manis ada di chapter depan.  See you there….

Flipped (Chapter 18)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Kesempatan

“Krystal…”

Krystal menoleh tak kala ibunya memanggil dirinya dengan lembut.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya ibunya masih dengan nada lembut.

Krystal cepat-cepat mengangguk, “Tentu. Aku baik-baik saja.” Ia tersenyum. Hanya ada hal yang terganjal di benak ku.. Lanjutnya dalam hati. “Oemma tidak jadi ke tempat Imo?”

Oemma Krystal memandang anaknya ragu, “Bagaimana episode Criminal Minds nya?” Tanyanya karena Krystal sedari tadi asyik menonton tv di kamar rumah sakitnya.

“Oh, Reid tetap yang paling ganteng…” Jawab Krystal memuji salah satu tokoh di film tersebut, Dokter Spencer Reid.

“Kau tahu jika Spencer Reid tidak ada di situ. Ia pergi mengunjungi Oemma nya…”

“Oh?” Krystal mengerjap bingung sebelum ia menjawab, “Oemma tahu jika tidak ada yang paling ganteng kecuali Reid bukan?”

Oemma Krystal menghela nafasnya. Ia mengeluarkan handphone-nya, “Oemma akan pergi ke rumah Imo besok saja.”

“Aku tidak apa-apa….” Kata Krystal dengan nada sungguh-sungguh. “Oemma tidak perlu ragu untuk meninggalkan ku…”

Cklek~

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

“Luhan!” Sapa Krystal dengan ceria. Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum.

Luhan membalas lambaian tangan Krystal dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kiri memegang bunga. Kemudian matanya menatap Oemma Krystal, “Ah, Anyeonghaseyo bibi…”

Ibu Krystal ikut tersenyum, “Hai Luhan…. Kau sangat rapih hari ini… Habis dari kampus?”

Luhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia berpakaian rapih ini hanya untuk bertemu Krystal sebenarnya. Juga, ia masih dalam penyembuhan tipes.

“Kau sudah pergi ke kampus? Bukannya kau masih dalam masa penyembuhan? Bagaimana jika kau sakit lagi?” Krystal menatap Luhan dengan mata menyipit.

“Aku baru saja dari dokter ku. Sebelum kesini aku membelikan bunga angrek untuk Krystal.” Elak Luhan.

“Angrek?” Tangan Oemma Krystal terulur ke angrek Luhan. Angrek yang Luhan bawa bewarna ungu, “Sangat indah bukan?”

“Dalam filosofi China angrek artinya ‘Semoga cepat sembuh.’” Seru Luhan sambil tersenyum. Ia berdehem, menghilangkan kegugupannya.

“Sangat indah…” Komentar Oemma Krystal. Ia pun masih asyik memandangi anggrek pemberian Luhan yang sekarang ia taruh di meja dekat kaca.

Hening sejenak, jujur Luhan bukan orang yang bisa memulai percakapan dengan orang baru dan di ruangan ini adalah ibunya Krystal.

“Luhan,” Seru Oemma Krystal tiba-tiba, “Bisakah kamu menjaga Krystal sebentar? Bibi ingin pergi sebentar saja. Sekitar satu jam.”

“Tentu.” Jawab Luhan tanpa berpikir dua kali. Sebuah kesempatan yang tidak akan ia sia-siakan. Dengan ini dia dapat leluasa berbicara dengan Krystal. Termasuk mengutarakan perasaanya.

Oemma Krystal kembali tersenyum lebar. Ia mengambil tasnya dan berjalan ke arah Krystal, “Oemma pergi dulu ya… Tidak akan lama. Oemma janji.” Ibunya kemudian mengecup kedua pipi Krystal. Tak lupa mengucapkan terimakasih ke Luhan sebelum pergi dari kamar.

Terdengar helaan nafas dari Krystal, “Akhirnya…. Aku bosan disini! Aku juga tidak mengerti kenapa aku disini. Ku rasa aku baik-baik saja!” Cerocosnya kemudian ia mengerjapkan matanya. Pipinya merona, “Hey, duduklah… Aku lupa menyuruh mu duduk. Kau masih berdiri tepat di tempat dirimu masuk.”

Luhan terkekeh melihat raut wajah Krystal. Ia menurut dan duduk di sofa yang letaknya tepat di ranjang Krystal.

“Bagaimana denganmu? Bukannya kau seharusnya lebih membutuhkan istirahat daripada ku?” Lanjut Krystal lagi.

Gadis itu tidak terlihat sakit sama sekali jika dilihat dari rupanya yang tidak pucat dan suaranya yang riang. “Tubuhku sudah lumayan sekarang. Tubuhmu lebih membutuhkan istirahat sepertinya. Kau mengalami shock kau tahu itu?”

Tatapan Krystal tiba-tiba meredup. “Ah, jadi kau tahu itu…” Itu menunjukan tentang kasus hilang ingatannya akibat kejadian ia meloncat dari sekolahnya.

“Aku…” Suara Luhan berubah panik.

“Tidak apa-apa.” Potong Krystal. Ia kemudian tersenyum walau menurut Luhan ia tetap terlihat sedih, “Itu terlalu memalukan bagiku sampai aku bingung bagaimana mengatakannya kepada mu. Aku selalu terlihat ceria ketika dulu dan aku ingin kau melihatku dengan cara itu.”

“Mungkin tidak seperti itu. Ketika aku datang aku tidak memikirkan adanya perubahan. Aku masuk dan bertindak seperti biasanya. Seperti dulu. Dan kau sebagai sahabatku tidak ingin menyakitiku sehingga seperti itu—“

“Tidak Luhan.” Potong Krystal lagi. “Aku membenci bagian dari masa itu. Makanya aku tidak ingin memberi tahu hal itu kepada siapa-siapa. Kau adalah orang dari masa yang paling membahagiakan dari ku dan aku tidak ingin menghancurkan masa-masa itu. Sejujurnya, Sehun bukan bagian dari itu. Aku dan Sehun terlibat sesuatu sehingga kami memutuskan komunikasi. Kedatanganmu membuat kami kembali bersatu dan sejujurnya aku senang akan hal itu. Karena kalian sahabat ku…”

Luhan tergugu sejenak mendengar penjelasan Krystal. Nafasnya memberat. Kata-kata Krystal hampir sama seperti kata-kata Sehun. Dia jadi semakin tambah salah. Segitu dia tidak peka terhadap sahabatnya?

“Luhan….” Suara lembut Krystal kembali menyadarkan Luhan. Ia mengeluarkan senyumannya lagi. Tapi kali ini terlihat tulus, “Jangan terlalu dipikirkan kata-kata ku. Kau adalah sahabat yang baik.”

“Kalau aku melebihi sahabat boleh tidak?” Tanya Luhan tiba-tiba. “Maksudku menjadi pacar mu?”

Kali ini Krystal yang terdiam. Jadi benar selama ini Luhan menyukainya? Dia melihatnya dengan jelas dan semua orang melihatnya dengan jelas. Entah mengapa hatinya tidak ingin Luhan mengatakannya. Dan dia tidak tahu alasannya.

Luhan kembali berbicara, “Aku menyukai mu dari dulu. Jika ingin jujur, aku menyukai mu sejak SD. Ketika Sehun mengenalkan dirimu padaku aku biasa saja. Tiba-tiba perasaanku kepada muncul saja. Tanpa alasan yang jelas. Aku telah jatuh cinta kepada mu. Dilain sisi aku juga tidak ingin menghancurkan persahabatan kita sehingga aku berjanji akan memberitahu mu ketika perasaan ku tidak berubah ketika dewasa. Dan perasaan ku tidak berubah ketika dewasa.” Luhan berhenti sejenak, “Maukah kau menjadi pacar ku?”

Luhan menyukainya sedari dulu? Kenapa dia tidak menyadarinya sedari dulu? Apakah dia terlalu buta karena Sehun sehingga dia tidak melihat Luhan? Kalau dipikir-pikir, alasan Luhan tidak mengungkapkan perasaannya dulu juga sama seperti dia tidak mengungkapkannya kepada Sehun. Dia hanya ingin dia yakin sebelum ia memberi tahu Sehun tentang hal itu.

Setidaknya ia yakin pada satu hal sekarang. Sehun tidak menyukainya dan kemungkinan ia bersama dengan Sehun juga kecil. Laki-laki itu akan terus menolaknya dengan alasan yang tidak akan Krystal ketahui sampai entah kapan. Sejujurnya, kenapa dia harus menunggu yang tidak pasti sedangkan yang pasti ada? Sudah seharusnya bukan ia menutup segala hal yang berhubungan dengan Sehun? Apalagi dengan ia mengingat semuanya, itu sudah sangat jelas.

Krystal menatap Luhan, “Ya, aku mau.”

.

.

.

.

.

Chanyeol mengerjap-ngerjapkan matanya ketika mendapati benda yang di lempar dari Sehun. “Bunga?!”   Tanyanya dengan alis berkerut.

“Kau sakit bukan?” Kata Sehun acuh tak acuh kemudian segera merebahkan dirinya ke kasur Chanyeol.

“Cih, Apa-apaan itu?!” Chanyeol dengan asal melemparkan bunga pemberian Sehun ke lantai. Ia juga merebahkan dirinya lagi ke kasur. Tak lama kemudian matanya menatap Sehun tajam, “Apa maksudmu dengan aku sakit?”

“Sakit hati…” Balas Sehun sambil menerawang ke atas.

Chanyeol berdecak, “Bisakah kau tidak membahas hal itu?!” Ia kemudian menghela nafasnya.

“Jangan menjadi pengecut. Minta maaflah karena dirimu masih ada kesempatan.” Kata Sehun lagi dengan masih dengan tidak melihat Chanyeol.

Chanyeol mendengus, “Bagaimana bisa aku meminta maaf kalau ia tidak mengangkat teleponku? Atau kabur setiap kali aku ingin bertemu dengannya?” Chanyeol mengerang frustasi, “Itu sebenarnya hanya masalah kecil Oh Sehun. Aku tidak mengangkat teleponnya dua kali karena saat itu sedang di ruangan Professor Jung. Bagaimana bisa aku mengalihkan fokusku dari dosen galak itu?! Bisa-bisa skripsi ku tidak diterima olehnya dan harus mengulang lagi tahun depan. Seperti yang Junmyeon alami. Tapi dia berteriak marah-marah dan itu membuatku bingung. Tidak biasanya dia seperti itu. Ini pertama kalinya dia seperti itu.”

“Mungkin ada suatu hal yang membuatnya seperti itu. Seperti dia sedang mengalami hal yang buruk. Habis dimarahi oleh dokternya. Atau tersinggung oleh kalimat mu.”

Chanyeol terkesiap. “Tersinggung…..” Ia terlihat berpikir. “Aku hanya mengatakan jika waktu itu aku sedang menghadap Professor Jung. Tiba-tiba ia marah-marah. Sudah kubilang, itu bukan sangat dirinya.”

“Dan ini bukan sangat dirimu Park Chanyeol. Kau sangat pesimis. Ini baru dua hari kau mencoba meminta maaf dengan Sulli dan kau sudah menyerah sekarang? Ayolah…. Kau bisa lebih baik daripada itu.”
“Aku memberikan ia waktu agar ia agak tenangan. Baru aku muncul lagi. Lagipula kesempatan esok atau lusa pasti ada.”

Sehun mengubah posisinya menjadi duduk. Dia menatap gumpalan awan yang dihiasi keemasan matahari dari jendela kamar Chanyeol. “Tidak ada yang tahu mengenai kesempatan. Tidak ada jaminan kau yang mengenalnya sejak dulu bisa bersamanya. Karena kesempatan bukan di tentukan oleh itu. Bukan di tentukan oleh waktu dan tempat. Tapi kesempatan ada karena adanya sebuah usaha. Seseorang yang lebih cerdas bisa memiliki kesempatan lebih besar daripada yang mempunyai segalanya tapi tidak tahu menggunakannya. Itulah kesempatan.”

Chanyeol menatap Sehun dalam. Suara Sehun yang tidak ada main-mainnya, tegas membuat ia menyeringit. Apa yang terjadi dengan temannya?

“Hey, kau juga punya masalah? Kau bisa bercerita padaku kau tahu itu?”

Sehun kemudian berdiri. “Bukan masalah besar sebenarnya. Lupakanlah. Masalahnya sebentar lagi akan selesai.”

“Apa ini tentang Krystal? Kau kehilangan kesempatan dari Luhan?”

Sehun seperti tidak mendengarkan pertanyaan Chanyeol. Ia hanya diam dan memakai jaketnya. Bersiap-siap untuk pulang.

Sebelum membuka pintu Sehun pun berkata, “Pada akhirnya, bukan aku yang tidak ingin menjilat ludahku sendiri. Tapi memang sudah terlambat bahkan harus menjilat ludahku sendiri.”

Pintu berdebum dan Chanyeol kembali sendiri ke kamarnya. Tatapannya masih tetap berada di tempat Sehun sebelumnya. “Ck! Apaan sih… Aku tidak mengerti!”

Dengan malas ia bangun dan mengambil bunga pemberian Sehun. ‘Oh, ada kartu ucapan rupanya.’ Chanyeol segera membaca kartu itu dengan cepat dan secepat itu pula dia menggeram, “Sialan! Aku tahu dia tidak pernah niat datang kepadaku untuk mendengarkan curhatan ku!”

Ia kembali melempar bunga pemberian Sehun ke lantai.

“Untuk Krystal, ku harap kau cepat sembuh. -Oh Sehun-“

.TBC.

Haiiii….

Sebelumnya aku minta maaf karena lama banget updated-nya.  Ada beberapa hal yang buat aku lama updated yang salah satunya adalah karena aku baru naik ke kelas 12 dan rasanya 😫  Baru permulaan tapi udah ingin nangis.  Jadi karena aku udah mulai bimbel 5 hari dalam seminggu (😅)  pulang sekolah sekitar jam 4 dan lanjut bimbel, intinya sampe rumah jam 8, buat ngelanjutin cerita rasanya malas dan ngantuk.  Dua minggu ini aku berkutat di depan laptop yang unjung-unjungnya cuman nulis berapa baris.

Kemarin dapat feel lagi buat nulis…  doain aja ya dapat terus feel nya…

Have a nice day~ 😇☺️😊

Oh, ya,  State of Grace chapter 27 kalau gak besok lusa….😉

Flipped (Chapter 17)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Di luar Akal

Hanya satu dipikiran Luhan sekarang. Krystal. Krystal. Krystal. Gadis itu benar-benar membuatnya khawatir. Tadi pagi ia baik-baik saja. Entah mengapa, kemudian dia tidak sadarkan diri. Begitulah informasi yang Luhan dapat dari Sehun.

Luhan awalnya menelepon Sehun untuk menanyakan kabar Krystal. Tapi malah digemparkan karena hal itu.

“UKS! UKS! Aku ingin ke UKS!” Kata Luhan ke perempuan di depannya.

“Oh, UKS?” Tanya perempuan di depannya bingung.

Luhan mengerang. Apa perempuan tadi tidak dengar? Ia akhirnya mengangguk.
“Di gedung itu lantai tiga…” Tunjuk perempuan tersebut ke sebuah gedung di samping kanan Luhan.

“Terimakasih!” Luhanpun segera berlari menuju gedung itu.   Bergerak cepat ke lantai tiga.

Dan….

Kosong…

Hanya ada satu perempuan yang tidak Luhan kenal. Dia terlihat panik sekali.

“Maaf….” Ucap Luhan memecah keheningan.

Perempuan tersebut yang tadi menatap jendela terlonjak kaget. Segera menoleh.

“Aku mencari Krystal Jung…” Kata Luhan lagi.

“Aku juga!!!” Teriak perempuan itu panik. “Tadi dia di sini. Sekarang menghilang! Benar-benar menghilang!”

“Apa?”

“Astaga! Aku harus mencari dia sebelum melakukan hal-hal aneh!”

“Apa maksudmu?”
“Kau tidak tahu? Krystal punya riwayat bunuh diri!” Seru perempuan itu histeris. “Astaga bagaimana jika sekarang dia ada di atap?! Aku harus ke atap sekarang juga!” Lanjutnya lagi.

Tangan Luhan menahan perempuan tersebut keluar, “Biar aku saja! Kau umumkan pencarian Krystal!”

Perempuan tersebut akhirnya mengangguk. Mereka berpisah. Perempuan itu ke bawah. Luhan ke atas, menuju atap.

Pikirannya sekarang terbebani satu hal lagi. Krystal punya riwayat bunuh diri? Tapi gadis itu terlihat baik-baik saja. Bahagia tanpa ada masalah apa-apa.

“Hosh… Hosh… Hosh…” Nafas Luhan tercekat ketika ia sampai di lantai atas. Masih lelah tetapi ia memaksakan diri berjalan lagi. Tangannya terulur ke pintu. Dia akan membuka pintu itu.

Deg!

Gerakan tangan Luhan terhenti. Pintu itu memiliki kaca kecil. Luhan dapat melihat dengan jelas jika Krystal dan Sehun berpelukan. Cengkraman tangannya mengencang. Krystal sesenggukan di pelukan Sehun. Sehun memeluk Krystal dengan mata terpejam.

Tidak tahu salah atau benar, Luhan benar-benar merasa cemburu akan hal itu. Ia menahan nafasnya. Ia harus menahan diri agar tidak membuka pintu dan menunjukan kecemburannya. Luhan tetap di pintu menunggu kadar kecemburuannya turun. Dia melihat Krystal dan Sehun. Entah berapa lama. Sampai isakan Krystal mengecil.

Sehun menunduk, berbicara sesuatu ke Krystal. Krystal sejenak menatap Sehun sebelum mengangguk. Dan mereka akhirnya berbalik, berjalan menuju pintu.

Luhan memutuskan untuk keluar.

“Luhan?” Ucap Sehun ketika menemukan Luhan tiba-tiba berada di situ.

Luhan menutup pintu. Memaksakan muka ceria, “Hey, aku mencari kalian dari tadi! Kalian tidak tahu berapa banyak tangga yang ku naiki agar sampai disini?” Kata Luhan dengan nadanya yang paling ia buat santai.

“Kau berhasil masuk rupanya…” Komentar Sehun.

Luhan menyunggingkan senyumnya, “Kau meragukan ku bukan?”

“Aku ingin pulang!” Seru Krystal tiba-tiba.

“Kau harus ke dokter terlebih dahulu… Memeriksa keadaan mu.” Balas Sehun membuat Luhan semakin tertegun.

Jadi Sehun mengetahuinya? Kenapa ia tidak bilang apa-apa? Dia merasa seperti yang paling bodoh di sini.

Luhan akhirnya membuka suaranya, “Biar aku temani dirimu ke dokter.”

“Bukannya kau harus istirahat?” Tanya Sehun tiba-tiba.

Luhan mendengus. Kenapa juga harus di ingatkan pada hal itu?

“Aku bisa menemaninya. Sakit ku tidak akan parah.” Kata Luhan masih bersikeras. “Kau akan ku temani ke dokter.” Lanjut Luhan ke Krystal.

“Ayo!”

Luhan diam sesaat mendengar jawaban Krystal.

“Kau bilang kau ingin menemani ku ke dokter bukan?” Krystal menoleh ke Luhan yang diam saja.
Luhan cepat-cepat mengangguk, “Baiklah tapi ada orang yang mencari mu tadi! Kurasa—“

“Biar aku saja yang mengurusnya. Kau pergi menemani Krystal.” Potong Sehun.

Luhan mengangguk. Ia dan Krystal akhirnya menjauh dari Sehun.

.

.

.

.

.

Cklek~

Pintu ruangan terbuka. Dokter Kim masuk dengan senyuman khasnya. Terlihat sangat gembira.

“Keadaan alat vital mu baik-baik saja.” Jelas Dokter Kim sambil melihat-lihat kertas yang dipegangnya. “Kau bilang kau pingsan tadi?”

Krystal mengangguk, “Ya. Ketika aku mengingat semuanya.”

“Itu hal lumrah. Tubuh anda mengalami shock sehingga Anda pingsan. Berapa lama Anda pingsan?”

“Entahlah. Satu jam mungkin?”

“Mengesankan!”

“Mengesankan?!”

Dokter Kim tersenyum ke Krystal, “Biasanya orang-orang akan pingsan selama berhari-hari. Itu mengesankan Krystal Jung. Apalagi alat vital mu baik-baik saja…”

Krystal menghela nafasnya, “Jadi aku boleh pulang?”

Dokter Kim menggeleng, “Tidak!”

“Tidak?!”

“Aku ingin melihat keadaan mu sampai tiga hari kedepan. Aku tidak ingin kau jatuh pingsan lagi secara tiba-tiba.”

“Aku tidak mau!”

“Krystal… Kau harus mengerti… Tubuhmu pasti masih bingung sekarang. Kau mengingat hal yang tidak ingin kau ingat. Apa kau lupa apa perkataan mu? Kau mengalami Repressed Memory. Amnesia karena tubuh mu tidak ingin mengingat hal itu dan sekarang kau mengingatnya! Kau tidak baik-baik saja! Hanya tiga hari dan sehabis itu kau boleh pulang!”

Krystal menghela nafasnya, lagi, “Baiklah…”

“Bagus!” Seru Dokter Kim. “Orangtua mu sudah menunggu di luar. Sebaiknya kau menjenguk mereka dulu!”

Krystal tersentak. Orangtuanya? Rasanya ia tidak ada menelepon orangtuanya tadi.

“Mereka?” Tanyanya memastikan.

Dokter Kim menoleh, “Iya. Mereka terlihat begitu khawatir tetapi juga senang.” Kemudian keluar dari ruangan.

Krystal menoleh ke arah pintu. Ia akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Dokter Kim.
“Krystal kau membuat kami khawatir!” Cecar ibunya dan langsung memeluk Krystal.

“Oemma…” Krystal membalas pelukan ibunya.

Ibu Krystal melepaskan pelukannya, “Kau kenapa tidak menghubungi kami tadi?! Untung saja Sehun menelepon kami!”

Sehun?!

.

.

.

.

.

Suasana hati Luhan sama sekali tidak membaik. Dia masih dipenuhi dengan perasaan cemburu. Apalagi ketika orangtua Krystal datang karena Sehun menelepon mereka. Bodoh juga karena ia tidak mengingat hal itu, menelepon orangtua Krystal. Tapi ia benar-benar sedang cemburu ke Sehun.

“Aku tidak ingin mengkhawatirkan kalian!” Kata Krystal menjawab pertanyaan ibunya. “Lagipula keadaanku tidak apa-apa.”

“Luhan terimakasih telah mengantarkan Krystal!”

Luhan terkejut setengah mati mendengar ayah Krystal berbicara.

“Tidak apa-apa Samchon. Aku dengan senang hati melakukannya.”

“Kau benar-benar teman yang baik!”

Luhan tersenyum menanggapi perkataan ayahnya Krystal.

“Ku dengar dari Krystal kau sedang sakit. Sebaiknya kau pulang Luhan!” Kata ayah Krystal lagi.

Luhan mengangguk tak ingin membantah. Pastinya dengan ada orangtua Krystal keadaan Krystal baik-baik saja. Jadi, Luhan dapat mengurus hal lain. Termasuk menanyakan tentang hal-hal yang ia tidak ketahui mengenai Krystal ke Sehun.

.

.

.

.

.

Suara dentingan pintu menyebabkan Luhan menoleh. Ia mengangkat tangannya sebagai tanda agar Sehun datang kepadanya.

“Aku terlambat?” Tanya Sehun ketika duduk.

“Aku yang terlalu cepat.” Jawab Luhan pendek. “Ngomong-ngomong, kau tidak ingin memesan terlebih dahulu?”

Sehun menggeleng, “Aku tahu kenapa kau memanggil diriku disini. Jujur, aku sangat lelah. Jadi aku tidak ingin berlama-lama disini.”

“Kenapa?” Tanya Luhan menatap Sehun.
Sehun menghela nafasnya, “Kenapa aku tidak memberi tahu mu tentang Krystal?”

Luhan mengangguk, “Kau harus tahu aku seperti orang bodoh tadi!”

“Kau harus tahu banyak yang terjadi ketika dirimu pergi.” Sehun mengangkat tangannya ketika Luhan ingin berbicara, “Tunggu. Jangan bantah aku dulu. Banyak hal terjadi. Termasuk kepada Krystal dan aku.”

“Tapi Krystal mencoba untuk bunuh diri sebanyak dua kali. Kau seharusnya memberi tahu kepada ku!”
“Kenapa aku harus memberi tahu kepada mu?” Sehun mendesah. “Kau ingin aku jujur?”

Luhan terdiam.

“Baiklah. Aku dan Krystal tidak pernah berhubungan selama dua tahun. Kami berhubungan kembali sejak kau datang. Gadis itu terlihat baik-baik saja. Tidak ada masalah. Jadi, apakah aku harus mengatakan kepada mu? Di saat aku dan dia harus bertingkah baik-baik saja di hadapan mu?”

Sehun kembali berbicara, “Lagipula jika aku mengatakan sebenarnya kepadamu, tentang hal ini, kau akan percaya kepadaku?

“Kau seharusnya tetap memberi tahu ku!” Luhan tetap bersikeras.

“Apa yang terjadi pada mu?!” Sehun berteriak frustasi.

“Yang terjadi pada ku?!” Balas Luhan sambil berteriak. Beberapa pelanggan melihat ke arah mereka. “Aku frustasi Sehun. Aku sendiri yang tidak tahu apa-apa tadi! Kau tahu! Sedangkan aku hanya diam mengikuti alur!”

Terdengar dengusan, “Kau cemburu dengan ku?” Tanya Sehun tajam. Wajahnya memerah menahan amarah. Terdengar gertakan giginya. “Bagaimana bisa?”

Luhan seketika memandang Sehun bingung.

“Bagaimana bisa kau cemburu pada ku? Apa belum cukup?”

“Belum cukup?”

“Iya!! Belum cukup!!” Teriak Sehun kepada Luhan. “Apa belum cukup? Kau pernah tidak menghargai ku Luhan? Sebaiknya mulai sekarang kau harus. Kau bisa saja sekarang berjalan di belakang ku dan Krystal sedangkan aku disampingnya. Tapi lihat!! Kau berada di sampingnya dan aku berada di belakangnya!”

Setelah itu, Sehun segera meninggalkan Luhan yang terdiam cukup lama. Luhan memandang kepergian Sehun. Astaga! Apa yang baru ia lakukan kepada sahabatnya Oh Sehun?!

.

.

.

.

.

Sehun mengerang frustasi. Matanya yang ia coba ia pejamkan tidak bisa terpejam secara sempurna. Ia bangkit dari tempat tidurnya, mengambil hp, dan melihat jam. Astaga…. Masih jam satu! Ini semua karena ia tertidur sangat cepat. Jam lima sore. Mungkin karena rasa lelah akibat hari ini. Salah, hari kemarin! Intinya, ia tertidur begitu ia menghempaskan tubuhnya di kasur, tentunya setelah berganti pakaian.

Dahinya berkerut ketika ia juga menemukan missed call dari Luhan. Luhan ternyata mencoba menghubunginya dari pukul enam sore sampai… Lima menit yang lalu?!

Ting!

Sehun tersentak ketika handphone-nya berdenting.

From: Luhan

            Sudah tidur?!

Untuk kedua kalinya, handphone berdenting.

            From: Luhan

            Jika belum aku telepon lagi..

Dan benar, Luhan kembali meneleponnya.

“Belum tidur?” Kata Luhan ketika Sehun mengangkatnya.

Sudah. Sudah bangun malah. Kau bukan yang belum tidur?” Sehun kembali merentangkan tubuhnya di kasur.

Belum…” Jawab Luhan jujur. “Aku memikirkan kata-kata mu…”

Sehun menghela nafas. “Kau tahu aku tidak bersungguh-sungguh.”

“Aku juga maksud ku…” Luhan terdiam sejenak, “Aku menganggap mu sahabat bukan bahkan melebihi itu. Aku sangat mempercayai mu. Aku hanya cemburu. Kelewat cemburu. Juga tidak berpikir jernih.”

“Aku tahu.”

“Maka dari itu aku ingin meminta maaf…”

“Kau tidak perlu meminta maaf.”

“Tapi kau terlihat sangat tersinggung ketika aku bilang aku cemburu kepada mu. Ketika kau mengutarakan alasan mu kau benar Sehun.”

“Luhan…” Sehun berusaha menghentikan omongan Luhan. Ia memejamkan matanya, “Aku juga minta maaf.”

“Kau tidak perlu melakukannya. Karena jujur, kau tidak pernah melakukan kesalahan.”

Sehun menarik sudut bibirnya. Tidak pernah melakukan kesalahan? Justru ia rasa ia tidak pernah melakukan hal yang benar.

Hening beberapa saat.

“Aku juga ingin memberi tahu mu sesuatu….” Kata Luhan tiba-tiba. “Karena kau sahabat ku,” Katanya lagi, “Aku ingin memberi tahu jika aku akan menyatakan perasaan ku pada Krystal secepatnya. Mungkin lusa? Atau besok?”

Sehun tiba-tiba mencengkram handphone-nya, “Kau yakin?”

“Aku yakin!”

Terdiam beberapa saat, Sehun berdehem, “Wow, aku senang mendengarnya…” Ujarnya dengan datar. “Aku mendoakan yang terbaik kau tahu?”

.TBC.

A/N:

Cerita apa ini….  🙈  Saya akhir-akhir ini sedikit bermasalah sama ide cerita di semua ff… Saya akan bersemedi sebentar untuk menemukan ide ☺️😇